PENGARUH MEDIA PEMBELAJARAN “KOMIK” DAN AKTIVASI
HEMISFER OTAK DOMINAN TERHADAP KEMAMPUAN MENULIS
KARYA ILMIAH
(Eksperimen Pada Siswa Sekolah Menengah Atas Di Jakarta Timur)
Randi Ramliyana 085711032191 [email protected]
Dosen Bahasa Indonesia Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik, Matematika, dan IPA
Universitas Indraprasta PGRI
Abstrak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatan hasil kemampuan menulis karya ilmiah siswa dalam mata pelajaran bahasa Indonesia dengan perbandingan menggunakan media pembelajaran komik dan media pembelajaran konvensional pada siswa kelas XI Sekolah Menengah Atas di Jakarta Timur. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimen dan jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Sementara desain penelitian eksperimen ini menggunakan Anava dua jalur, kemudian penelitian dilakukan di dua tempat berbeda, yaitu di SMA Negeri 93 Jakarta sebagai kelas eksperimen dan di SMA Negeri 39 Jakarta sebagai kelas kontrol. Proses penelitian ini berlangsung hampir sebulan, di mana peneliti mengajar langsung di kedua kelas tersebut. Selesai dari pembelajaran dilakukan tes psikotes untuk mengelompokkan siswa yang memiliki aktivasi hemisfer otak dominan kanan dan kiri sebagai variabel atributifnya. Akhirnya peneliti memperoleh hasil penelitian: (1) bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara media pembelajaran terhadap kemampuan menulis karya ilmiah siswa; (2) menunjukkan tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara aktivasi hemisfer otak dominan terhadap kemampuan menulis karya ilmiah siswa; (3) membuktikan bahwa tidak terdapat pengaruh interaksi yang signifikan antara media pembelajaran dan aktivasi hemisfer otak dominan terhadap kemampuan menulis karya ilmiah siswa.
Kata Kunci: media pembelajaran, komik, menulis karya ilmiah, aktivasi hemisfer otak dominan.
Abstract. The purpose of this research is to describe the increase in student’s ability to writing scientific papers in Bahasa subject with by comparison using comic as a textbook and conventional textbook in grade XI public high school in East Jakarta. Method in this research using the experimental approach and the kind of the research is quantitative. While the design in this research using Anova two lines, then the research is done in two different places, namely at 93 public high schools Jakarta as the eksperimental class and 39 public high schools as control class. This research process lasted nearly a month, in which researchers directly taught in both the classroom. Completion of the classroom conducted psychological tests to classify students who had dominant hemisphere activation of the right and left as a variable attributive. Eventually researchers obtained results: (1) that there is a significant relationship between instructional media on the students ability to write scientific papers; (2) showed no significant effect between brain hemisphere dominant activation of the ability of student’s to writing scientific papers; (3) prove that there is no significant interaction effect between instructional media and dominant brain hemisphere activation of the ability to writing scientific paper and dominant brain hemisphere activation and the ability of student to write scientific papers.
PENDAHULUAN
Kemampuan berbahasa terdiri atas empat kemampuan yang berkesinambungan satu dengan yang lainnya. Empat kemampuan tersebut ialah kemampuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Dalam pembelajaran bahasa, siswa dituntut untuk menguasai semua kemampuan berbahasa. Mata pelajaran bahasa tidak seperti mata pelajaran lainnya yang menuntut siswa untuk hafal dan paham saja, tetapi mata pelajaran bahasa menuntut siswa untuk terampil dan mampu berbahasa dengan baik. Di sinilah guru bertugas menyediakan dan menciptakan suasana menyenangkan selama proses pembelajaran. Oleh karena itu, guru bahasa tidak dapat memperlakukan seluruh siswanya sama, karena setiap siswa adalah individu yang berbeda dan unik.
Banyak cara menciptakan suasana yang menyenangkan ke dalam proses pembelajaran. Salah satunya dengan menggunakan media pembelajaran yang disukai anak-anak, yaitu komik. Anak-anak menyukai komik karena sangat menyenangkan untuk dibaca. Selain itu, komik juga memberikan beragam informasi di dalamnya. Oleh karena itu, komik dapat menjadi media pembelajaran yang efektif, karena anak-anak senang membacanya dan mendapatkan materi pembelajaran (edukatif) di dalamnya.
Komik sebagai media pembelajaran sudah lama diterapkan dan memberikan dampak yang positif selama proses pembelajaran. Media komik selain menyenangkan, juga selalu dikaitkan dapat meningkatkan minat membaca, serta mengembangkan perbendaharaan kosakata dalam berbahasa. Komik digunakan sebagai langkah awal untuk membangkitkan minat membaca siswa, terutama yang tidak suka membaca. Selain karena komik menghibur, menyenangkan dan edukatif, komik juga merupakan jembatan untuk membaca buku yang lebih serius. Jadi, dapat disimpulkan bahwa media komik memiliki kaitan yang erat dengan pembelajaran bahasa, karena selalu dikaitkan dengan peningkatan keterampilan berbahasa. Oleh karena itu, jika membicarakan tentang media komik yang berpengaruh penting dalam peningkatan minat membaca siswa, maka secara otomatis kemampuan siswa dalam menulis pun akan meningkat.
Masalah yang terjadi di dunia pendidikan Indonesia saat ini adalah kurangnya minat membaca yang mengakibatkan rendahnya keterampilan menulis siswa. Kurangnya minat membaca pada siswa dikarenakan mereka tidak terbiasa dengan budaya membaca sejak usia dini. Sementara membaca merupakan jendela semua ilmu pengetahuan, dengan membaca banyak informasi yang didapat.
Selain kurangnya minat membaca juga ditemukan berbagai penyebab masalah yang mengakibatkan rendahnya keterampilan menulis siswa. Berbagai masalah tersebut antara lain terkait dengan keunikan otak setiap individu siswa, menyebabkan perbedaan kemampuan siswa sendiri dalam mengolah beragam informasi yang mereka dapat selama pembelajaran.
Komik dan bahasa memang memiliki kaitan yang erat, tetapi proses pengolahan diterima dari media komik akan dikelolah di dalam hemisfer otak yang berbeda, sehingga dapat memaksimalkan kedua fungsi hemisfer otak.
Dunia pendidikan telah menyejajarkan langkah dengan ledakan penelitian terhadap otak selama dua dekade terakhir yang terbukti memang menantang. Namun, para pendidik yang cakap telah mengaplikasikan berbagai penemuan tersebut dengan kesuksesan yang mengagumkan. Wawasan ilmiah yang semakin mendalam tentang fungsi otak manusia menumbuhkan kegairahan besar di kalangan pendidik. Namun, proses menerapkan temuan bidang neurobiologis dalam dunia pendidikan sejauh ini masih belum konsisten.
ilmiah siswa kelas XI Sekolah Menengah Atas (SMA) di Jakarta Timur. Peneliti berharap penelitian ini akan berguna bagi dunia pendidikan di Indonesia dan memberikan solusi baru dengan menggunakan komik sebagai media pembelajaran yang menyenangkan dan tepat bagi semua siswa baik yang didominasi hemisfer otak sebelah kanan maupun sebelah kiri.
TINJAUAN PUSTAKA
Hakikat Menulis Karya Ilmiah
Menulis pada umunya merupakan proses kreatif. Seperti pendapat Syihabuddin (dalam Widjono, 2007:237) mengatakan: pertama, tahap persiapan yaitu mengumpulkan informasi, merumuskan masalah, menentukan arah dan fokus penulis, mengamati objek yang akan ditulis, dan memperkaya pengalaman kognitif untuk proses selanjutnya. Misalnya, penentuan topik yang kreatif, unik, menarik, memikat, dan menimbulkan dorongan pembaca untuk mengembangkan potensinya sehingga menghasilkan daya cipta baik bagi pembaca maupun penulisnya. Kedua, tahap inkubasi (pendadaran) yaitu proses logis dengan memanfaatkan seluruh informasi yang dikumpulkan dari sebab ke akibat. Ketiga, tahap ilumnasi atau kejelasan yang ditandai dengan adanya inspirasi pemecahan masalah. Keempat, tahap verifikasi yaitu mengevaluasi, memeriksa kembali, atau menyeleksi seluruh tahapan, dan menyusunnya kembali sesuai dengan fokus tujuan penulisan. Ini berarti setiap bahasan penulisan menghendaki adanya pemikiran dengan kesungguhan, semangat penuh, dan serius sehingga menghasilkan kreativitas yang terus mengalir.
Menurut Dalman (2012:5), “Karya ilmiah merupakan karya tulis yang menyajikan gagasan, deskripsi atau pemecahan masalah secara sistematis, disajikan secara objektif dan jujur, dengan menggunakan bahasa baku, serta didukung oleh fakta, teori, dan bukti-bukti empirik.”
Dalam hal ini, karya tulis ilmiah dapat dikatakan sebagai hasil rangkaian gagasan yang merupakan hasil pemikiran yang didasarkan pada fakta, peristiwa, dan gejala yang disampaikan secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Karya ilmiah merupakan karya tulis yang isinya berusaha memaparkan suatu pembahasan secara ilmiah yang dilakukan oleh seorang penulis atau peneliti. Tujuannya untuk memberitahukan sesuatu hal secara logis dan sistematis kepada para pembaca. Karya ilmiah biasanya ditulis untuk mencari jawaban mengenai sesuatu yang terdapat dalam objek tulisan. Oleh sebab itu, tulisan ilmiah sering mengangkat tema seputar hal-hal yang baru (aktual) dan belum pernah ditulis orang lain. Meskipun tulisan tersebut sudah pernah ditulis dengan tema yang sama. Namun, tujuannya adalah sebagai upaya pengembangan dari tema terdahulu. Hal itu disebut dengan penelitian lanjutan.
Finoza (dalam Dalman, 2012:6) “Mengklasifikasikan karangan menurut bobot isinya atas tiga jenis: karangan ilmiah, karangan semi ilmiah atau ilmiah populer, dan karangan nonilmiah. Yang tergolong ke dalam karangan ilmiah, antara lain: makalah, laporan, skripsi, tesis, disertasi; yang tergolong ke dalam karangan semi ilmiah atau ilmiah populer, antara lain: artikel, editorial, opini, feuture, reportase; yang tergolong ke dalam karangan nonilmiah, antara lain: anekdot, hikayat, dongeng, cerpen, novel, roman, dan naskah drama.”
Ketiga jenis karangan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Karangan ilmiah memiliki aturan baku dan sejumlah persyaratan khusus yang menyangkut metode dan penggunaan bahasa, sedangkan karangan nonilmiah adalah karangan yang tidak terikat pada karangan baku. Sementara itu, karangan semi ilmiah berada di antara keduannya.
subjek dan predikat kemungkinan besar merupakan informasi yang tidak jelas. Penggunaan kata harus dilakukan secara tepat artinya kita harus memilih kata-kata yang sesuai dengan pesan apa yang harus disampaikannya.
Dalam penelitian, yang digunakan sebagai bahan penulisan karya ilmiah dapat berupa kutipan atas pernyataan orang lain sebagai dasar atau sebagai landasan penyususnan penelitian. Pernyataan ilmiah ini digunakan untuk bermacam-macam tujuan sesuai dengan bentuk argumentasi yang diajukan. Pernyataan tersebut dapat digunakan sebagai definisi dalam menjelaskan suatu konsep, atau dapat digunakan sebagai premis dalam pengambilan simpulan pada suatu argumentasi. Isi karya ilmiah harus mengandung kajian pengetahuan ilmiah dengan menggunakan metode berpikir keilmuan dan membentuk tulisan keilmuan pula seperti logis dan empiris (berdasarkan fakta), sistematis, lugas, jelas, dan objektif.
Tulisan ilmiah pada dasarnya dapat berwujud artikel, makalah, naskah siaran radio, dan berbagai wujud yang lain. Karya ilmiah dapat dibagi menjadi karya ilmiah murni dan karya ilmiah populer. Karya ilmiah murni disebut juga dengan karya ilmiah akademik, yaitu karya ilmiah yang ditulis oleh para ilmuwan dan akademisi berdasarkan hasil penelitian dan hasil pemikiran atau kajian pustaka untuk tujuan tertentu dengan menaati aturan keilmiahan dan disajikan dengan menggunakan bahasa baku atau bahasa keilmuan. Karya ilmiah populer adalah karya ilmiah yang disajikan dengan gaya bahasa yang populer atau santai sehingga mudah dipahami oleh masyarakat dan menarik untuk dibaca.
Dalam karya ilmiah murni, penulis harus memperhatikan metode penulisan karya ilmiah. Misalnya, untuk menulis karya ilmiah berdasarkan hasil penelitian, kita harus menggunakan metode berpikir ilmiah atau metode keilmuan. Dalam hal ini, Dalman (2012:10) mengatakan: metode ilmiah penelitian dan pengembangan adalah suatu cara perencanaan yang sistematik dan objektif yang mengikuti tahap-tahap sebagai berikut: melakukan observasi dan menetapkan masalah dan tujuan; menyusun hipotesis; menyusun rencana penelitian; melaksanakan percobaan berdasarkan metode yang direncanakan; melaksanakan pengamatan dan pengumpulan data; menganalisis dan menginterpretasikan data; merumuskan simpulan dan teori.
Metode keilmuan merupakan cara berpikir yang spesifik menggabungkan cara berpikir deduktif dan induktif. Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dengan ciri yang khusus. Ilmu di antaranya diperoleh dari penelitian yang dilakukan melalui metode spesifik yang umum disebut sebagai metode (berpikir) keilmuan. Penelitian merupakan suatu kegiatan pengkajian terhadap suatu permasalahan yang dilakukan berdasarkan metode ilmiah yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan ilmiah dari hal yang dipermasalahkannya.
Sistematika suatu karya ilmiah sangat perlu disesuaikan dengan sistematika yang diminta oleh media publikasi (jurnal atau majalah ilmiah), sebab bila tidak sesuai akan sulit untuk dimuat. Suatu karya ilmiah tidak ada artinya sebelum dipublikasikan. Walaupun ada keragaman permintaan penerbit tentang sistematika karya ilmiah yang akan dipublikasikan. Namun, pada umunya penerbit meminta penulis untuk menjawab lima pertanyaan berikut: apa yang menjadi masalah; kerangka acuan teoretik apa yang dipakai untuk memecahkan masalah; bagaimana cara yang telah dilakukan untuk memecahkan masalah itu; apa yang ditemukan; makna apa yang dapat diambil dari temuan itu.
Tentu saja sistematika ini tidak baku atau harga mati. Sistematika karya ilmiah sangat bergantung pada tradisi masyarakat keilmuan dalam bidang terkait, jenis karya ilmiah (makalah, laporan penelitian, skripsi, tesis, disertasi, dan lain-lain). Dalam suatu karya ilmiah yang mempunyai tingkat kefromalan yang tinggi, seperti skripsi, sistematika penulisan lebih baku, dan beberapa paparan lainnya sering diminta dari mahasiswa, seperti simpulan dan rekomendasi (saran-saran) pada bagian akhir, atau kata pengantar pada bagian awal.
Dalam menulis karya ilmiah, peneliti tidak boleh menggunakan bahasa ragam santai. Oleh sebab itu, bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia ragam formal, yaitu bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Ciri-ciri penulisan karya ilmiah di atas harus diperhatikan bagi penulis karya ilmiah. Dalam hal ini, karya tulis ilmiah berbeda dengan karya tulis nonilmiah. Dalam karya tulis ilmiah ciri keobjektifannya sangat tinggi, sedangkan pada karya tulis nonilmiah ciri kesubjektifannya yang sangat tinggi.
Dalam penulisannya, karya ilmiah memiliki syarat-syarat tertentu. Menurut Zulfikar (dalam Dalman, 2012:14) syarat-syarat karya ilmiah adalah sebagai berikut.
1. Karya tulis ilmiah memuat gagasan ilmiah lewat pikiran dan alur pikiran.
2. Keindahan karya tulis ilmiah terletak pada bangun pikir dengan unsur-unsur yang menyangganya.
3. Alur pikir dituangkan dalam sistematika dan notasi.
4. Karya tulis ilmiah terdiri atas unsur-unsur: kata, angka, tabel, dan gambar, yang tersusun mendukung alur pikir yang tertentu.
5. Karya tulis ilmiah harus mampu mengekspresikan asas-asas yang terkandung dalam hakikat ilmu dengan mengindahkan kaidah-kaidah kebahasaan.
6. Karya tulis ilmiah terdiri atas serangkaian narasi (penceritaan), eksposisi (paparan), deskripsi (lukisan), dan argumentasi (alasan).
Di dalam menulis karya ilmiah, persyaratan di atas sebaiknya diperhatikan oleh penulis agar ide atau gagasan yang dituangkannya dalam bentuk tulisan dapat terarah dan tersusun secara sistematis sehingga enak dibaca dan mudah dipahami maksud dan tujuannya.
Karya ilmiah memiliki banyak sekali fungsi terutama bagi seorang penulis. Menulis karya ilmiah bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis. Berlatih menintegrasikan berbagai gagasan dan menyajikannya secara sistematis, memperluas wawasan, serta memberi kepuasan intelektual. Sejalan dengan hal tersebut, Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (2008:9), karya tulis ilmiah hasil penelitian berfungsi mengomunikasikan ikhwal gagasan atau hasil penelitian yang telah dilakukan, khususnya:
1. gagasan: apa yang menjadi permasalahan, dan bagaimana gagasan yang dikemukakan dalam memecahkan masalah,
2. penelitian: apa yang diteliti, mengapa penelitian dilakukan dan apa yang menjadi fokusnya, apa yang menjadi acuan konseptualnya, bagaimana desainnya, bagaimana data dikumpulkan dan dianalisis, temuan apa yang diperoleh, apa simpulan akhirnya, dan apa rekomendasi yang dinyatakan dengan temuan tersebut bagi kepentingan praktis dan pengembangan ilmu.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa seorang penulis dituntut untuk berpikir secara ilmiah dalam mencari solusi atas masalah yang muncul baik yang diperoleh baik dari data empiris maupun yang berasal dari kajian pustaka. Hasil penelitian tersebut dapat dijadikan sebagai karya tulis ilmiah yang memiliki manfaat bagi orang banyak. Dengan demikian, karya tulis ilmiah berfungsi untuk memublikasikan gagasan seserang atau sekelompok orang berupa hasil penelitian dan hasil pemikiran (kajian pustaka) yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pengalaman pembaca. Dalam hal ini, menulis karya ilmiah bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis, berlatih mengintegrasikan berbagai gagasan dan menyajikannya secara sistematis, memperluas wawasan atau cakrawala pengetahuan, serta memberi kepuasan intelektual bagi penulis.
Hakikat Otak
berpikir, merasa, melihat, berbicara, dan mencipta. Di situlah pusat utama kecerdasan manusia berada.
Otak manusia merupakan benda paling kompleks yang pernah dikenal di alam semesta ini. Muhammad (2011:7) mengatakan, “Otak manusia adalah satu-satunya organ yang sangat berkembang, sehingga dapat mempelajari dirinya sendiri. Bahkan, jika dirawat oleh tubuh yang sehat dan lingkungan yang menimbulkan rangsangan, otak manusia dapat tetap aktif dan reaktif selama lebih dari seratus tahun.”
Otak inilah yang dipakai oleh manusia untuk berpikir dan sekaligus menjadi salah satu tanda perbedaan manusia dengan makhluk lainnya. Manusia menggunakan otak sebagai alat untuk mengetahui segala sesuatu meskipun sangat rumit. Selain itu, otak juga sebagai media berpikir untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang kemudian diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Hal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.
Otak merupakan struktur yang sangat kompleks. Para filsuf, ilmuwan, penjelajah, pemimpin dunia, peraih Nobel, dan orang-orang terbaik dalam setiap aspek kehidupan hanya memfungsikan sedikit dari sekian banyak sel yang terdapat di dalam otak mereka.
Berbagai studi menunjukkan betapa hebatnya otak yang dimiliki manusia. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa otak manusia terdiri atas dua hemisfer atau belahan, yakni hemisfer otak kiri dan hemisfer otak kanan. Kedua hemisfer tersebut memiliki fungsi dan peran yang berbeda, akan tetapi keduanya saling melengkapi satu sama lain. Walaupun demikian, setiap orang memiliki kecenderungan untuk dominan pada salah satu hemisfer otak tersebut. Kondisi yang merugikan adalah apabila dominasi itu menyebabkan fungsi belahan otak lainnya menjadi lemah. Hal itu tentunya akan membuat kemampuan berpikir kita menjadi kurang optimal. Yang paling bagus adalah dapat memanfaatkan kedua belahan otak tersebut secara keseluruhan.
Sayangnya, sistem pendidikan formal yang ada, umumnya cenderung lebih menghargai kemampuan hemisfer otak kiri. Hal ini tentunya akan merugikan para siswa yang hemisfer otak kanannya lebih dominan. Pendidikan formal merugikan sebagian besar siswa karena hanya 15% dari semua anak yang diteliti diketahui dominan hemisfer otak kirinya.
Salah satu karakteristik menarik dari otak manusia adalah kemampuannya untuk mengintegrasikan aktivitas-aktivitas yang kelihatannya berbeda-beda dan tidak saling berhubungan, yang sedang berlangsung dalam area-area terspesialisasi pada otak, menjadi satu aktivitas yang bersatu secara utuh. Pemindaian otak memperlihatkan bagaimana area-area tertentu otak terlibat dalam pemprosesan dan pelaksanaan tugas-tugas tertentu. Sebagai contoh, korteks auditori merespon input berupa suara, lobus frontal merespons pengulangan kognitif, dan bagian-bagian hemisfer kiri merespons bahasa lisan. Kemampuan area-area tertentu otak untuk melakukan tugas-tugas tertentu diistilahkan sebagai spesialisasi otak. Jika aktivitas terutama terbatas hanya pada satu hemisfer, maka diistilahkan lateralisasi.
Tabel 1 Fungsi-Fungsi Hemisfer Otak Kanan dan Hemisfer Otak Kiri Fungsi-fungsi hemisfer kiri C
sebelah kanan Berhubungan dengan bagian tubuh sebelahkiri Memproses input dengan cara sekuensial
(berurutan) dan analitikal
Memproses input dengan cara yang cenderung holistik dan abstrak
Pengenalan waktu (sensitif terhadap
waktu) Pengenalan ruang (sensitif terhadap ruang)
Menghasilkan bahasa lisan
Menginterpretasikan bahasa melalui sikap, tubuh, mimik wajah, emosi, dan bahasa tubuh
Mengerjakan operasi-operasi aritmetika Mengerjakan operas-operasi matematika Terspesialisasi dalam mengenali kata dan
angka/bilangan (dalam bentuk kata)
L
Mencari penjelasan mengapa setiap peristiwa terjadi
Menempatkan berbagai peristiwa dalam pola spasial ruang
Baik dalam membangkitkan perhatian
untuk menghadapi stimulus luar Baik dalam pemprosesan internal
Hakikat Komik
Peneliti memilih komik sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan menulis karya ilmiah siswa, karena komik merupakan media yang menyenangkan dan dapat menjadi media edukatif selama proses pembelajaran berlangsung. Meskipun masyarakat masih beranggapan bahwa komik hanya cerita bergambar yang ringan dan menyenangkan. Banyak orang yang belum tahu definisi tentang komik. Oleh sebab itu, banyak yang telah mencoba mengemukakan definisi komik, di antaranya adalah sebagai berikut.
Menurut McCloud (2001:20), “Komik adalah gambar-gambar dan lambang-lambang lain yang terjuktaposisi dalam tuturan tertentu, bertujuan untuk memberikan informasi dan mencapai tanggapan estetis dari pembaca.”
Harvey (dalam McCloud, 2008:128) menyarankan, “Pernyataan kombinasi berseni dari kata dan gambar harus terliput dalam semua definisi tentang komik, McCloud menambahkan tentang kekuatan kata adalah bagian tak terpisahkan dari pesona karya seni yang disebut komik.”
Sudjana dan Rivai (2001:64) berpendapat, “Komik dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk kartun yang mengungkapkan karakter dan memerankan suatu cerita dalam urutan yang erat dihubungkan dengan gambar dan dirancang untuk memberikan hiburan kepada para pembaca.”
Masdiono (2001:9) mengatakan, “Komik adalah gamcer atau gambar bercerita atau sebuah dunia tutur gambar, suatu rentetan gambar yang bertutur menceritakan suatu kisah.” Kamus Umum Bahasa Indonesia (KBBI), “Komik adalah bacaan bergambar, cerita bergambar (dalam majalah, surat kabar, atau berbentuk buku).” Sementara dalam situs Wikipedia Indonesia menjelaskan tentang pengertian komik sebagai berikut.
Komik adalah suatu bentuk seni yang menggunakan gambar-gambar tidak bergerak yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk jalinan cerita. Biasanya, komik dicetak di atas kertas dan dilengkapi dengan teks. Komik dapat diterbitkan dalam berbagai bentuk, mulai dari strip dalam koran, dimuat dalam majalah, hingga berbentuk buku tersendiri (www.wikipedia.com)
Eisner (2002:123) mendefinisikan teknis dan struktur komik sebagai sequential art, “Susunan gambar dan kata-kata untuk menceritakan sesuatu atau mendramatisasi suatu ide.” Para ahli masih belum sependapat mengenai definisi komik, sebagian di antaranya berpendapat bahwa bentuk cetaknya perlu ditekankan, yang lain lebih mementingkan kesinambungan gambar dan kata, dan sebagian lain lebih menekankan sifat kesinambungannya (sequential).
Berdasarkan beberapa definisi tentang komik di atas, maka dapat disimpulkan bahwa komik adalah salah satu karya sastra bernilai estetis yang terdiri atas perpaduan antara gambar dan kata yang membentuk sebuah cerita. Selain itu, bertujuan untuk memberikan informasi dan hiburan kepada pembaca.
Daya tarik berbagai jenis komik mengikuti pola yang dapat diprediksikan. Hurlock (2000:338) berpendapat bahwa anak-anak usia sekolah menyukai komik karena beberapa hal di antaranya:
1. melalui identifikasi dengan karakter di dalam komik, anak memperoleh kesempatan yang baik untuk mendapat wawasan mengenal masalah pribadi dan sosialnya. Hal ini akan membantu memecahkan masalahnya,
3. komik memberi anak pelarian sementara hirup-pikuk hidup
6. karena banyak komik yang menggairahkan, misterius, dan lucu, komik mendorong anak untuk membaca yang tidak banyak diberikan buku lain,
7. bila berbentuk serial, komik memberi sesuatu yang diharapkan, 8. dalam komik, tokoh sering melakukan atau mengatakan hal-hal
yang tidak berani mereka lakukan sendiri, walaupun mereka ingin melakukannya, ini memberikan kegembiraan,
9. tokoh dalam komik sering kuat, berani, dan berwajah tampan, jadi memberikan tokoh pahlawan bagi anak untuk mengidentifikasikannya,
10. gambar dalam komik berwarna-warni dan cukup sederhana untuk dimengerti anak-anak.
METODE
Penelitian ini dilakukan di dua sekolah di Jakarta Timur. Pertama, penelitian akan dilakukan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 39 Jakarta, Jl. Dr. Fadillah. Kedua, penelitian akan dilakukan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 93 Jakarta, Jl. SMA 93. Sementara waktu penelitian (dari pengajuan judul hingga pengetikan) dimulai dari Desember 2012 hingga akhir September 2013, dan penelitian ini dilakukan pada 15-30 September 2013. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain penelitian Anava dua arah. Pada penelitian ini menggunakan dua kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen diajarkan dengan menggunakan media pembelajaran “komik” sedangkan kelas kontrol diajarkan dengan media pembelajaran konvensional. Setelah penelitian dilakukan kedua kelas diuji dengan menggunakan tes psikotes dan tugas pembuatan makalah karya ilmiah dari kedua kelas tersebut. Konstelasi masalah yang akan diteliti dapat tergambar dalam desain penelitian seperti di bawah ini.
Tabel 2 Faktorial 2x2 Anava Dua Jalur Media
Adapun ringkasan hasil analisis data dengan menggunakan ANOVA dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 3 Ringkasan Hasil ANOVA Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Kemampuan Menulis Karya Ilmiah Source Type III Sum of
Squares
df Mean Square F Signifikan.
Corrected Model 1931,994a 3 643,998 4,331 ,007
Intercept 326739,730 1 326739,730 2197,259 ,000
MP 1467,489 1 1467,489 9,869 ,002
HOD 204,249 1 204,249 1,374 ,245
Error 10706,638 72 148,703
Total 376686,000 76
Corrected Total 12638,632 75
a. R Squared = .153 (Adjusted R Squared = .118)
Berdasarkan hasil perhitungan di atas dapat diketahui bahwa:
1. pengaruh media pembelajaran terhadap
kemampuan menulis karya ilmiah memiliki nilai F hitung sebesar 9,869 dengan sig 0,002 < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan media pembeljaran terhadap kemampuan menulis karya ilmiah.
2. pengaruh aktivasi hemisfer otak
dominan terhadap kemampuan menulis karya ilmiah siswa memiliki nilai F hitung sebesar 1,374 dengan sig 0,245 > 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan aktivasi hemisfer otak dominan terhadap kemampuan menulis karya ilmiah.
3. pengaruh interaksi antara media
pembelajaran dan aktivasi hemisfer otak dominan terhadap kemampuan menulis karya ilmiah memiliki F hitung sebesar 0,043 dengan sig 0,836 > 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan interaksi antara media pembelajaran dan aktivasi hemisfer otak dominan terhadap kemampuan menulis karya ilmiah.
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa kemampuan menulis karya ilmiah siswa dapat dipengaruhi oleh media pembelajaran “komik”, hal ini sejalan dengan Hurlock (2000:339) memberikan argumen yang menguntungkan untuk komik adalah sebagai berikut. 1. Komik membekali anak dengan kemampuan membaca yang
terbatas melalui pengalaman membaca yang menyenangkan.
2. Komik dapat digunakan untuk memotivasi anak mengembangkan kemampuan membaca.
3. Prestasi pendidikan yang dicapai anak yang sering membaca komik hampir identik dengan mereka yang jarang membacanya.
4. Anak diperkenalkan dengan kosakata yang luas.
5. Komik menyediakan teknis bagus untuk menyebarluaskan propaganda, terutama propaganda yang menentang prasangka.
6. Komik memberikan sumber katarsis emosional bagi emosi yang tertahan.
7. Anak mungkin mengidentifikasi dirinya dengan tokoh buku komik yang memiliki sifat yang dikaguminya.
Sehingga tidak heran jika media pembelajaran “komik” pada kelas eksperimen memberikan hasil yang jauh lebih baik daripada kelas kontrol yang menggunakan media pembelajaran konvensional.
Aktivasi hemisfer otak dominan kanan dan hemisfer otak dominan kiri memiliki fungsi yang berbeda. Sesuai dengan teori dari Souza (2012:135), “Hemisfer otak dominan kiri lebih unggul dalam hal logika dan hemisfer kanan lebih unggul dalam hal perasaan.” Hal tersebut tidak membedakan hasil menulis karya ilmiah siswa. Karena keduanya menghasilkan tulisan karya ilmiah dengan nilai yang tidak jauh berbeda. Terkadang siswa dengan hemisfer otak dominan kiri bisa lebih unggul bisa juga siswa dengan hemisfer otak dominan kanan jauh lebih unggul juga.
media pembelajaran konvensional yang selama ini digunakan tidak begitu memberikan peningkatan baik dengan siswa yang memiliki hemisfer otak dominan kanan maupun hemisfer otak dominan kiri.
Sesuai dengan teori Gunawan (dalam Muhammad, 2010:17-18) yang menjelaskan tentang sembilan prinsip genius learning berdasarkan pemahaman akan cara kerja otak dan memori. Kesembilan prinsip tersebut adalah sebagai berikut.
1.
Otak akan bekerja secara maksimal dalam lingkungan yang kaya akan stimulus multisensoris dan tantangan berpikir. Lingkungan demikian akan menghasilkan jumlah koneksi yang lebih besar di antara sel-sel otak.2.
Besarnya pengharapan berbanding lurus dengan hasil yang dicapai. Otak selalu berusaha mencari dan menciptakan arti dari suatu pembelajaran. Proses pembelajaran berlangsung pada tingkat pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Motivasi akan meningkat saat murid menetapkan tujuan pembelajaran yang positif dan bersifat pribadi.3.
Lingkungan belajar yang aman adalah lingkungan belajar yang memberikan tantangan tinggi. Namun, dengan tingkat ancaman yang rendah. Dalam kondisi ini, otak neocortex dapat diakses dengan maksimal sehingga proses berpikir dapat dijalankan dengan maksimal.4.
Otak sangat membutuhkan umpan balik yang bersifat segera dan mempunyai banyak pilihan.5.
Musik membantu proses pembelajaran dengan tiga cara. Pertama, musik membantu men-charge otak. Kedua, musik membantu merilekskan otak sehingga otak siap untuk belajar. Dan ketiga, musik dapat digunakan untuk membawa informasi yang ingin dimasukkan ke dalam memori.6.
Ada beberapa jenis memori yang berbeda di dalam otak kita. Dengan menggunakan teknik dan strategi yang khusus, kemampuan untuk mengingat dapat ditingkatkan.7.
Kondisi fisik dan emosi saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Untuk bisa mencapai hasil pembelajaran secara maksimal, kedua kondisi ini, yaitu kondisi fisik dan kondisi emosi, harus benar-benar diperhatikan.8.
Setiap otak adalah unik dengan kapasitas pengembangan yang berbeda berdasarkan pada pengalaman pribadi. Ada beberapa jenis kecerdasan. Kecerdasan dapat dikembangkan dengan proses pengajaran dan pembelajaran yang sesuai.9.
Walaupun terdapat perbedaan dan fungsi antara otak kanan dan kiri. Namun, keduanya dapat bekerja sama dalam mengolah suatu informasi.Berdasarkan teori tersebut dapat dijelaskan mengapa tidak terdapat pengaruh interkasi dikarenakan otak manusia memiliki sembilan prinsip genius learning berdasarkan pemahaman dan cara kerja otak dan memori. Meskipun dilakukan pengelompokkan siswa dengan aktivasi hemisfer otak dominan kanan dan hemisfer kiri dengan tujuan awal adalah untuk melihat siswa dengan hemisfer otak dominan mana yang lebih unggul. Ternyata itu tidak memberikan hasil yang jauh berbeda. Anak dengan aktivasi hemisfer otak dominan kiri tidak selalu memiliki nilai bahasa yang jauh lebih baik daripada siswa yang memiliki hemisfer otak dominan kanan. Begitupun sebaliknya, siswa yang emmiliki hemisfer otak dominan kanan bukan berarti memiliki kemampuan berbahasa yang buruk. Karena salah satu perbedaan fungsi hemisfer otak kanan dan kiri adalah pada sistem kerjanya. Hemisfer otak kanan lebih cenderung kepada kecerdasan spasial, kesenian, dan berpikir secara acak; sementara hemisfer otak kiri cenderung kepada berpikir secara sistematis, memiliki kemampuan berbahasa, dan kemampuan logika. Secara tidak langsung penelitian ini juga mematahkan paradigma yang ada jika anak denang hemisfer otak kiri jauh lebih unggul dibandingkan siswa dengan yang berhemisfer kanan. Sementara adanya perlakuan media pembelajaran itu berjalan sendiri dan tidak ada interaksi atau hubungan timbal balik dari media pembelajaran “komik” terhadap aktivasi hemisfer otak dominan.
Simpulan
Berdasarkan dari hasil pengujian hipotesis penelitian dan analisis pengolahan data pada bab IV, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Terdapat pengaruh signifikan media pembelajaran terhadap kemampuan menulis karya ilmiah siswa. Hasil pengujian diperoleh dari nilai signifikan untuk media pembelajaran (MP) sebesar 0,002 < 0,05, maka hipotesis nol (H0) ditolak dan hipotesis
alternatif (H1) diterima. Hal ini membuktikan bahwa perbedaan rerata (mean) siswa yang
diajar dengan media komik dan media konvensional adalah perbedaan yang signifikan. 2. Tidak terdapat pengaruh signifikan aktivasi hemisfer otak dominan terhadap
kemampuan menulis karya ilmiah siswa. Berdasarkan tabel mengenai ringkasan hasil ANOVA (output SPSS 21) terlihat bahwa signifikan untuk hemisfer otak dominan (HOD) sebesar 0,245 > 0,05, maka hipotesis nol (H0) diterima dan hipotesis alternatif (H1) ditolak.
Hal ini membuktikan bahwa perbedaan rerata (mean) responden yang mempunyai hemisfer otak dominan kanan dengan siswa yang mempunyai hemisfer otak dominan kiri tidak memiliki perbedaan yang signifikan.
3. Tidak terdapat pengaruh signifikan interaksi antara media pembelajaran dan aktivasi hemisfer otak dominan terhadap kemampuan menulis karya ilmiah siswa. Berdasarkan tabel mengenai ringkasan hasil ANOVA (output SPSS 21) terlihat bahwa signifikan untuk interaksi (MP*HOD) sebesar 0,836 > 0,05, maka hipotesis nol (H0)
diterima dan hipotesis alternatif (H1) ditolak.
Saran
Berdasarkan simpulan dan implikasi penelitian, maka beberapa saran terkait yang dapat penulis sampaikan pada penelitian ini.
1. Proses pembelajaran akan menjadi lebih baik jika guru dapat menciptakan atau memilih media pembelajaran yang menyenangkan di kelas selama proses pembelajaran. Dan media pembelajaran yang menyenangkan adalah media pembelajaran yang disukai oleh siswa dan dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Salah satunya adalah media pembelajaran komik. Buku komik dapat menjadi media pembelajaran yang baru yang menyenangkan dibandingkan media konvensional. Sehingga sudah ada beberapa negara yang mengganti buku pelajaran mereka menjadi buku komik.
2. Sebaik apapun media pembelajaran yang ada, semua itu tidak dapat dilepas begitu saja kepada siswa tanpa adanya seorang guru. Peranan guru di dalam kelas dengan menggunakan media pembelajaran adalah sebagai seorang fasilitator yang akan menjelaskan isi dari dalam media tersebut. Sehingga adanya media pembelajaran bukan berarti peranan seorang guru lepas begitu saja melainkan peranannya sedikit berkurang karena hanya sebagai fasilitator saja.
3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang efektivitas dari media pembelajaran komik ini, serta analisis terhadap faktor-faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi lebih lanjut hasil belajar bahasa Indonesia siswa untuk materi atau pokok bahasan serta tingkat pendidikan lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek . Jakarta. PT. Rineka Cipta.
Arysad, Azhar. 2005. Media Pembelajaran. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.
Bragdon, Allen D. dan David Gamin. 2005. Cara Baru Mengasah Otak dengan Asyik. Bandung: Kaifa PT Mizan Pustaka.
Eisner, Will. 1986. Comics and Sequential Art. Florida: Poorhouse Press
Enterprise, Jubilee. 2011. Melejitkan Otak Lewat Gaya Menulis Bebas. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Hurlock, Elizabeth B. 2000. Child Development. Jakarta: Erlangga. Jensen, Eric. 2008. Memperkaya Otak. Jakarta: Indeks.
---. 2008. Brain Based Learning. Jogjakarta: Pustaka Pelajar. Kadir, Abdul. 2010. Misteri Otak Kiri Manusia. Jogjakarta: Diva Press. Kountur, Ronny. 2001. Metode Penelitian. Jakarta: PMM
Masdiono, Toni. 2001. 14 Jurus Membuat Komik. Jakarta: Creativ Media McCloud, Scott. 2001. Understanding Comic. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
---. 2008. Membuat Komik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Muhammad, As’adi. 2010. Miliaran Keluarbiasaan Otak Kita. Jogjakarta: Flashbook.
Muhammad, Najmuddin. 2011. Memahami Cara Kerja Gelombang Otak Manusia. Jogjakarta: Diva Press.
Pink, Daniel. 2006. Otak Kanan Manusia. Jogjakarta: Think.
Poerwadarminta, W.J.S. 1982. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Rahayu, Minto. 2009. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. Jakarta: PT Grasindo. Riduwan. 2008. Belajar Mudah Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Sadiman, Arief. 2009. Media Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo. Stenberg, Robert J. 2008. Psikologi Kognitif. Jogjakarta: Pustaka Pelajar. Sudjana. 2002. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.
Sudjana, Nana dan Rivai Ahmad. 1991. Media Pengajaran. Bandung : C.V Sinar Baru Bandung.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian. Bandung: Alfabeta.
---. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Solso, Robert L., Otto H. Maclin, dan M. Kimberly Maclin. 2007. Psikologi Kognitif. Jakarta: Erlangga.
Sousa, David A. 2012. Bagaimana Otak yang Berbakat Belajar. Jakarta: PT Indeks. ---. 2012. Bagaimana Otak Belajar. Jakarta: PT Indeks.
Universitas Indraprasta PGRI. 2013. Buku Panduan Penulisan Tesis. Jakarta: Universitas Indraprasta PGRI.
U.S, Supardi. 2012. Aplikasi Statistk dalam Penelitian. Jakarta: Ufuk Press.
LAMPIRAN
Gambar 1 Halaman Buku Komik Tentang Teori Karya Ilmiah
Gambar 2 Halaman Buku Komik Tentang Pembuatan Halaman Sampul