commit to user
KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
GALERI ARSITEKTUR NUSANTARA DI YOGYAKARTA
TUGAS AKHIR
Diajukan Sebagai Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana Teknik Arsitektur
Universitas Sebelas Maret
DISUSUN OLEH:
ANINDITA PRASASTI ISWARI I 0207006
DOSEN PEMBIMBING: Ir. Widi Suroto, MT Fauzan Ali Ikhsan, ST, MT
JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET
commit to user ii
MATA KULIAH : TUGAS AKHIR
PERIODE : JULI-SEPTEMBER 2011
JUDUL : GALERI ARSITEKTUR NUSANTARA DI
YOGYAKARTA
PENYUSUN : ANINDITA PRASASTI ISWARI ( I 0207006 )
Menyetujui,
Surakarta, 10 Oktober 2011
Mengesahkan,
Pembimbing I
Ir. Widi Suroto, MT NIP. 19560905 198601 1 001
Pembimbing II
Fauzan Ali Ikhsan, ST, MT NIP. 197312272 00003 1 003
Pembantu Dekan I Fakultas Teknik UNS
Kusno Adi Sambowo, ST, M.Sc, Ph.D NIP. 19691026 199503 1 002
Ketua Jurusan Arsitektur FT UNS
Dr. Ir. Mohamad Muqoffa, MT NIP. 19620610 199103 1 002 Ketua Prodi Arsitektur FT UNS
commit to user iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Allah SWT yang menguasai alam semesta dan dengan kemurahan-Nya telah memberikan kesempatan dan kesehatan dalam menyelesaikan pengerjaan Tugas Akhir ini.
Tugas Akhir ini penulis susun sebagai syarat untuk memperoleh gelar kesarjanaan strata satu pada Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penulis menyadari bahwa proses Tugas akhir ini hanya merupakan sebagian kecil ribuan kilometer jalan yang harus penulis tempuh. Semoga dengan terselesaikannya Tugas Akhir ini dapat memberikan manfaat untuk menapaki jalan selanjutnya.
Tugas Akhir ini tidak mungkin terwujud tanpa bantuan, bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis menyampaikan terimakasih yang tulus kepada : 1. Dr. Ir. Mohamad Muqoffa, MT selaku Ketua Jurusan Arsitektru Fakultas
Teknik UNS
2. Kahar Sunoko, ST, MT, selau Ketua Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik UNS
3. Sri Yuli, ST, MT dan Yosafat Winarno, ST, MT selaku Panitia Tugas Akhir 4. Ir. Widi Suroto, MT selaku pembimbing I yang telah dengan sabar
memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis
5. Fauzan Ali Ikhsan, ST, MT, selaku pembimbing II. Terima kasih atas pencerahan-pencerahan yang telah diberikan
6. Ir. Musyawaroh, MT selaku Pembimbing akademik yang telah memberikan bimbingan dan arahannya
7. Dr. Ir. Mohamad Muqoffa, MT dan Avi Marlina, ST, MT, selaku dosen penguji. Terimakasih atas segala masukan sebagai penyempurna tugas saya 8. Seluruh Bapak dan Ibu dosen serta staff pengajar Jurusan Arsitektur, Fakultas
Teknik Universitas Sebelas Maret yang telah memberikan ilmunya
commit to user iv
Menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna dan akan keterbatasan kemampuan, maka tentu terdapat kelemahan-kelemahan dan kekurangan dari tulisan ini. Untuk itu kritik dan saran yang dapat menambah serta memperluas lingkup pengetahuan penulis akan diterima dengan senang hati. Akhir kata semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Surakarta, Oktober 2011
commit to user vi
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PENGESAHAN ii
KATA PENGANTAR iii
SPECIAL THANKS TO v
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL xi
DAFTAR GAMBAR xii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Judul 1
B. Pemahaman Judul
1. Galeri 1
2. Arsitektur Nusantara 1
3. Yogyakarta 1
C. Latar Belakang
1. Melestarikan Arsitektur Nusantara 2
2. Bentuk Apresiasi terhadap Karya-karya Arsitektur 3
3. Arsitektur merupakan Karya Seni 4
4. Arsitektur terus Berkembang 5
D. Permasalahan dan Pesoalan
1. Permasalahan 6
2. Persoalan 6
E. Tujuan dan Sasaran
1. Tujuan 7
2. Sasaran 7
F. Batasan dan Lingkup Pembahasan
1. Batasan 7
2. Lingkup Pembahasan 8
commit to user vii
1. Metode Penemuan Masalah 8
2. Metode Mencari Data 8
3. Metode Pengolahan Data 9
4. Metode Pemecahan Masalah 9
5. Metode Penulisan 9
H. Sistematika dan Kerangka Penulisan 10
BAB II. TINJAUAN GALERI SENI DAN KOTA YOGYAKARTA SEBAGAI LOKASI TERPILIH
A. Galeri Seni
1. Pemahaman Galeri 11
2. Sejarah Galeri 11
3. Perkembangan Fungsi Galeri 12
4. Tipe Galeri 15
5. Macam Galeri Seni 17
6. Lingkup Kegiatan Galeri 19
7. Macam Seni dalam Arsitektur 20
8. Ruang Pamer 23
B. Yogyakarta sebagai Lokasi Terpilih
1. Kondisi Fisik 25
2. Kondisi Non Fisik 27
C. Beberapa Pameran Arsitektur di Yogyakarta
1. Jogja Istimewa Merangkul Dunia 28
2. Seminar dan Workshop GIS “Urban Thermal Comfort” 29
3. Pameran Arsitektur “Urbanizing World” 30
4. Pameran Arsitektur UAJY Warner Sobek-Designing the
Future 30
5. Pameran Karya Lomba Fotografi dan Desain Poster Sepekan
Arsitektur 2011 31
6. Pameran “Architecture for All” di FTSP UII 31
commit to user viii
D. Studi Banding
1. Empiris
Selasar Sunaryo Art Space 32
2. Preseden
Rumah Seni Cemeti Yogyakarta 37
Museum Soekarno di Blitar 39
BAB III. TINJAUAN ARSITEKTUR NUSANTARA A. Arsitektur Nusantara
1. Pemahaman Arsitektur Nusantara 42
2. Sejarah Nusantara 42
3. Nusantara dan Jaringan Asia 45
4. Sejarah Perkembangan Arsitektur Indonesia 46
B. Arsitektur di Nusantara
1. Arsitektur Nusantara pada Masa Kerajaan Hindu-Buddha 46 2. Arsitektur Nusantara pada Masa Kerajaan Islam 55
3. Arsitektur Vernakuler Indonesia 62
C. Konsepsi Arsitektur Nusantara 77
D. Arsitektur Nusantara sebagai Tampilan Fisik Bangunan 79
BAB IV. GAGASAN GALERI YANG DIRENCANAKAN
A. Pemahaman Galeri 82
B. Fungsi, Visi dan Misi Galeri
1. Fungsi 82
2. Visi 83
3. Misi 83
C. Jenis Galeri 84
D. Status Galeri 84
E. Pengelola Galeri 84
F. Lingkup Kegiatan 84
commit to user ix
H. Sasaran Pengguna 86
I. Frekuensi Kegiatan 88
J. Bentuk dan Sistem Pelayanan
1. Bentuk Pelayanan 88
2. Sistem Pelayanan 88
BAB V. ANALISA PENDEKATAN PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GALERI ARSITEKTUR NUSANTARA
A. Analisa Makro
1. Proses Penentuan Pemilihan Lokasi 89
2. Analisa Tapak
a) Klimatologi 97
b) Pencapaian 98
c) Sirkulasi 98
d) View 101
e) Noise 101
f) Tampilan Fisik Bangunan Sekitar 102
g) Vegetasi 102
B. Analisa Mikro
1. Analisa Pola Kegiatan 104
2. Analisa Peruangan
a) Analisa Kebutuhan Ruang 106
b) Analisa Besaran Ruang 108
3. Analisa Pola Hubungan Ruang 113
4. Analisa Persyaratan dan Perencanaan Ruang 115
5. Analisa Zonifikasi Kelompok Kegiatan 119
6. Analisa Gubahan Massa 120
7. Analisa Bentuk dan Tampilan Bangunan 124
8. Proses Penentuan Landscape Bangunan 127
9. Analisa Struktur dan Utilitas
commit to user x
b) Utilitas 131
BAB VI. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GALERI ARSITEKTUR NUSANTARA DI YOGYAKARTA
A. Konsep Makro
1. Penentuan Pemilihan Lokasi 136
2. Tapak
a) Klimatologi 138
b) Pencapaian 138
c) Sirkulasi 138
d) View 139
e) Noise 140
f) Tampilan Fisik Bangunan Sekitar 141
g) Vegetasi 141
B. Konsep Mikro
1. Pola Kegiatan 142
2. Peruangan
a) Kebutuhan Ruang 143
b) Besaran Ruang 145
3. Pola Hubungan Ruang 147
4. Persyaratan dan Perencanaan Ruang 150
5. Zonifikasi Kelompok Kegiatan 153
6. Gubahan Massa 154
7. Bentuk dan Tampilan Bangunan 156
8. Penentuan Landscape Bangunan 157
9. Struktur dan Utilitas
c) Struktur 157
d) Utilitas 158
commit to user xi
DAFTAR TABEL
Tabel ii.1. Nama Perguruan Tinggi di Yogyakarta yang Memiliki Jurusan
Arsitektur 27
Tabel ii.2. Aktifitas dan Fasilitas Selasar Sunaryo Art Space 37 Tabel iii.1. Tinggalan Sejarah Kerajaan-kerajaan selama Era
Hindu-Buddha 47
Tabel iii.2. Perbedaan Bentuk dan Langgam Candi Jawa Tengah dan Jawa
Timur 54
Tabel iii.3. Rumah Tradisional di Indonesia 74
Tabel iv.1. Jumlah Rumah Tradisional Indonesia 86
Tabel iv.2. Jumlah Tinggalan Sejarah Kerajaan era Hindu-Buddha 86
Tabel v.1. Data Pusat Pertumbuhan Kabupaten Sleman 91
Tabel v.2. Data Potensi Tiap Kecamatan di Kabupaten Sleman 92
Tabel v.3. Penilaian masing-masing Site 95
Tabel v.4. Alternatif Jenis Sirkulasi 99
Tabel v.5. Penentuan Kelompok Kegiatan dan Pelaku Kegiatan 106 Tabel v.6. Kebutuhan Ruang berdasar Pelaku dan Kelompok Kegiatan 106
Tabel v.7. Besaran Ruang 109
Tabel v.8. Perencanaan Ruang Dalam 115
Tabel v.9. Perencanaan Ruang Luar 118
Tabel v.10. Analisa Zonifikasi Kelompok Kegaiatan 120
Tabel v.11. Alternatif Massa Dasar Bangunan 121
Tabel v.12. Alternatif Tata Massa Bangunan 121
Tabel v.13. Alternatif Organisasi Massa Bangunan 122
Tabel v.14. Ciri khas Langgam/ Gaya Arsitektur Nusantara di Indonesia 124 Tabel vi.1. Penentuan Kelompok Kegiatan dan Pelaku Kegiatan 143 Tabel vi.2. Kebutuhan Ruang berdasar pelaku dan Kelompok Kegiatan 143
Tabel vi.3. Besaran Ruang 145
Tabel vi.4. Perencanaan Ruang Dalam 150
commit to user xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar ii.1. Pengumpulan Karya Seni 13
Gambar ii.2. Pameran Karya Maket 13
Gambar ii.3. Pemeliharaan Karya Seni 14
Gambar ii.4. Apresiasi Karya Maket 14
Gambar ii.5. Transaksi Jual Beli Produk 14
Gambar ii.6. National Gallerry, London 15
Gambar ii.7. Neue Staatsgalirie, Jerman 16
Gambar ii.8. Wexner Centre, Ohio 16
Gambar ii.9. Seni Grafik 20
Gambar ii.10. Fotografi Arsitektur 20
Gambar ii.11. Sketsa 21
Gambar ii.12. Maket 21
Gambar ii.13. Seni Instalasi 22
Gambar ii.14. Furniture dan Properti 22
Gambar ii.15. Seni Pertunjukkan Film 22
Gambar ii.16. Ruang Pamer berupa Ruang 23
Gambar ii.17. Ruang Pamer Hall 23
Gambar ii.18. Ruang Pamer Koridor 23
Gambar ii.19. Replika 1:1 24
Gambar ii.20. Miniatur Candi Prambanan 25
Gambar ii.21. Miniatur Ruamh Tradisional 25
Gambar ii.22. Enlargement Kursi 25
Gambar ii.23. Peta Yogyakarta 26
Gambar ii.24. 1.Seminar, 2.Pameran Karya, 3.Pameran Foto dan Sketsa, 4.
Maket 29
Gambar ii.25. Pameran Urbanizing World 30
Gambar ii.26. Pameran Architecture for All 31
Gambar ii.27. Selasar Sunaryo Art Space 32
commit to user xiii
Gambar ii.29. Stone Garden 34
Gambar ii.30. Wing Gallery 34
Gambar ii.31. Gallery B 34
Gambar ii.32. Kopi Selasar 34
Gambar ii.33. Selasar Shop 34
Gambar ii.34. Amphiteater 35
Gambar ii.35. Bamboo House 35
Gambar ii.36. Bale Handap 35
Gambar ii.37. Bale Tonggoh 36
Gambar ii.38. Pustaka Selasar 36
Gambar ii.39. Mushola 36
Gambar ii.40. Area Parkir 37
Gambar ii.41. Denah dan Interior Rumah Seni Cemeti 38
Gambar ii.42. 1.Museum Soekarno, 2.Menuju Museum, 3.Gerbang
Museum, 4.Rumah Makam Soekarno 39
Gambar ii.43. Bangsal dan Gerbang Candi Bentar 39
Gambar ii.44. Patung Bung Karno dan Relief Dinding 41
Gambar ii.45. 3D Siteplan Museum Soekarno 41
Gambar iii.1. Indonesia dan Jaringan Asia 45
Gambar iii.2. Struktur Candi 49
Gambar iii.3. Teknik Konstruksi Dinding Berdaun Ganda 50
Gambar iii.4. Tata Cara Urutan Pembangunan Candi 51
Gambar iii.5. Peta Pengelompokan Candi 51
Gambar iii.6. Candi Gedong Songo dan Candi Badut 52
Gambar iii.7. Candi-candi di Jawa Tengah Selatan 52
Gambar iii.8. Candi Penataran dan Candi Jago 53
Gambar iii.9. Salah Satu Tipe Denah Candi 53
Gambar iii.10. Candi Biara Bahal 1, Padang Lawas, Sumatera 54
Gambar iii.11. Candi pada Masa Klasik Akhir 55
Gambar iii.12. Persebaran Kota-kota Islam Awal di Nusantara 56
commit to user xiv
Gambar iii.14. Bentuk Batu Nisan di Beberapa Daerah 58
Gambar iii.15. Masjid yang Mendapat Pengaruh Arsitektur Candi dan
Arsitektur Vernakuler 59
Gambar iii.16. Masjid yang Mendapat Pengaruh India (Arsitektur Moghul) 60 Gambar iii.17. Masjid yang Mendapat Pengaruh Arsitektur Kolonial
(Modern Eropa) 60
Gambar iii.18. Kompleks Kraton Yogyakarta 61
Gambar iii.19. Bekas Istana Ternate (awal abad ke-18) 62
Gambar iii.20. Lokasi Persebaran Austronesia 62
Gambar iii.21. Arsitektur Vernakuler Indonesia yang Menggunakan
Tanduk Kerbau dan Atap Pelana 63
Gambar iii.22. Sebaran Lokasi Arsitektur Vernakuler Indonesia 65 Gambar iii.23. Macam Ragam Arsitektur Vernakuler Indonesia 65
Gambar iii.24. Pembagian Pola Perkampungan 67
Gambar iii.25. Pembagian horizontal Bangunan Vernakuler 68
Gambar iii.26. Tipe Rumah Komunal 69
Gambar iii.27. Penyambungan Tiang dan Balok di Tanah 69
Gambar iii.28. Teknik Konstruksi Rumah Vernakuler 70
Gambar iii.29. Batang Silang X dan V pada Rumah Nias 70
Gambar iii.30. Bangunan Lumbung di Indonesia 70
Gambar iii.31. Upacara Pendirian Bangunan 71
Gambar iii.32. Raga-raga yang digantung di Bawah Atap Rumah Batak
Toba 72
Gambar iii.33. Perwujudan Jagad Kecil dikaitkan dengan Mata Angin 72
Gambar iii.34. Pembagian Jagad Kecil Rumah Batak Toba 73
Gambar iv.1. Struktur Organisasi Galeri Arsitektru Nusantara 84
Gambar v.1. Peta Kabupaten Sleman 90
Gambar v.2. Daerah sepanjang Ringroad Utara 93
Gambar v.3. Site Alternatif 1 93
Gambar v.4. Site Alternatif 2 94
commit to user xv
Gambar v.6. Site Terpilih 96
Gambar v.7. Eksisting Site 96
Gambar v.8. Analisa Klimatologi 97
Gambar v.9. Analiosa Pencapaian 98
Gambar v.10. Alternatif jalan keluar-masuk site 98
Gambar v.11. Sirkulasi dalam Site 99
Gambar v.12. Kantong Parkir 100
Gambar v.13. Analisa View 101
Gambar v.14. Analisa Noise 101
Gambar v.15. Tampilan Fisik Bangunan Sekitar 102
Gambar v.16. Analisa Perletakan Vegetasi 104
Gambar v.17. Skema Pola Kegiatan Galeri Arsitektur Nusantara 105
Gambar v.18. Bagan Hubungan Ruang Makro 113
Gambar v.19. Bagan Hubungan Ruang Mikro 115
Gambar v.20. Zonifikasi Kelompok Kegiatan 120
Gambar v.21. Tata Massa pada Denah 125
Gambar v.22. Gubahan Massa Analogi Candi 126
Gambar v.23. Gubahan Massa bangunan Tradisional 126
Gambar v.24. Keadaan terhadap Ancaman Bencana 129
Gambar v.25. Skema Sistem Penyediaan Listrik 131
Gambar v.26. Skema Sistem Penyediaan Telekomunikasi 133
Gambar v.27. Skema Sistem Penyediaan Air Bersih 133
Gambar v.28. Skema Sistem Pengolahan Sanitasi 134
Gambar v.29. Skema Sistem Pengolahan Air Hujan 134
Gambar v.30. Skema Sistem Penyediaan AC 134
Gambar v.31. Skema Sistem Pengolahan Sampah 135
Gambar vi.1. Peta Kabupaten Sleman 136
Gambar vi.2. Daerah sepanjang Ringroad Utara 136
Gambar vi.3. Site Terpilih 137
Gambar vi.4. Eksisting Site 137
commit to user xvi
Gambar vi.6. Jalan keluar-masuk site 138
Gambar vi.7. Hasil analisa Sirkulasi 139
Gambar vi.8. Kantong Parkir 139
Gambar vi.9. Hasil alternative parkir 139
Gambar vi.10. Hasil Analisa View 140
Gambar vi.11. Hasil Analisa Noise 140
Gambar vi.12. Perletakan Vegetasi 141
Gambar vi.13. Skema Pola Kegiatan Galeri Arsitektur Nusantara 143
Gambar vi.14. Bagan Hubungan Ruang Makro 147
Gambar vi.15. Bagan Hubungan Ruang Mikro 149
Gambar vi.16. Zoning Horizontal 153
Gambar vi.17. Zoning Vertikal bangunan utama dan pendukung 154
Gambar vi.18. Massa Dasar 154
Gambar vi.19. Tata massa 155
Gambar vi.20. Organisasi Massa 155
Gambar vi.21. Tata massa pada Denah 156
Gambar vi.22. Gubahan Massa Bangunan Utama 156
Gambar vi.23. Gubahan Massa Bangunan Pendukung 156
Gambar vi.24. Skema Sistem Penyediaan Listrik 158
Gambar vi.25. Skema Sistem Penyediaan Telekomunikasi 158
Gambar vi.26. Skema Sistem Penyediaan Air Bersih 159
Gambar vi.27. Skema Sistem Pengolahan Sanitasi 159
Gambar vi.28. Skema Sistem Pengolahan Air Hujan 159
Gambar vi.29. Skema Sistem Penyediaan AC 160
commit to user
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Judul
Galeri Arsitektur Nusantara di Yogyakarta
B. Pemahaman Judul 1. Galeri
sebuah ruang yang digunakan untuk menyajikan hasil karya seni, sebuah
area memajang aktifitas publik, area publik yang kadangkala digunakan
untuk keperluan khusus.1
2. Arsitektur Nusantara
adalah semua karya arsitektur yang ada di Indonesia dan untuk menampilkan satu ciri tidak dapat digunakan parameter kedaerahan (dengan memasukkan sisi kultur, religi dan adat istiadat yang spesifik), tapi dengan menonjolkan ciri arsitektur tropisnya sebagai jiwa atau ciri dari arsitektur Nusantara.2
3. Yogyakarta
merupakan salah satu kota yang terletak di sebelah selatan Pulau Jawa. Kota Yogyakarta dan sekitarnya merupakan jangkauan radius pelayanan galeri yang akan dihadirkan.
Jadi pengertian dari judul adalah sebuah ruang atau gedung yang
digunakan untuk menyajikan hasil karya seni arsitektur di Indonesia serta
sebuah area memajang aktifitas publik yang kadangkala digunakan untuk
keperluan khusus dengan mengangkat potensi-potensi arsitektur nusantara
sebagai wujud galeri ini. Merancang dengan potensi arsitektur nusantara berarti mencari karakteristik arsitektur dari sebuah wilayah geografis pulau-pulau yang tidak terbatasi oleh luasnya wilayah satu negara. 3
Secara keseluruhan Galeri Arsitektur Nusantara di Yogyakarta diartikan sebagai galeri yang diselenggarakan untuk masyarakat umum
1
Dictionary of Architecture and Construction, 29 Maret 2011
2 Galih W.Pangarsa, Memaknai Kembali Arsitektur Nusantara, Univ. Brawijaya 3
commit to user
dari berbagai lapisan masyarakat dengan radius pelayanan yang meliputi kota Yogyakarta dan sekitarnya.
C. Latar Belakang
1. Melestarikan Arsitektur Nusantara
Arsitektur merupakan salah satu seni produk kebudayaan. Sementara kebudayaan nusantara berakar pada kebudayaan tradisionalnya, begitupun arsitektur tradisional juga merupakan akar dari arsitektur nusantara. Arsitektur tradisional sangat beraneka ragam di Indonesia, seiring dengan keanekaragaman suku bangsanya.4
Arsitektur nusantara tinggal remah-remah, bahkan nyaris punah. Sementara itu, kita perlu sadar sepenuhnya, betapa pentingnya identitas pribadi, baik bagi individu maupun bangsa, karena sudah menjadi kodrat manusia ia berperan sebagai subjek yang dimintai pertanggungjawaban.
Kebudayaan bukanlah hanya berarti sempit berupa kesenian. Kebudayaan dalam arti luas adalah pola pikir dan mentalitas suatu masyarakat. Arsitektur adalah bagian sangat kecil dari padanya. Karena itu, siapa pun berhak memaknai arsitektur, termasuk dan justru terutama generasi muda. Karena merekalah yang memiliki masa depan. Memaknai arsitektur bukan hak mutlak para arsitek. Benarkah bahwa kaum arsitek lepas dari pertanggung-jawabannya selaku bagian dari anak negeri yang tengah dikepung bencana ini? Jika tidak benar, lalu apa yang bermanfaat untuk disumbangkan mereka pada negeri ini?
Hancurnya identitas manusia dan masyarakat serta rusaknya alam lingkungan nusantara, pengembangan ilmu arsitektur di negeri ini mesti menanggapinya dengan berupaya menempatkan arsitektur di titik perimbangan yang adil-bijak. Arsitektur nusantara sebagai peradaban arsitektur lokal, nasional, regional dan sekaligus mondial. Itu akan tercapai bila nilai universalitas arsitektur negeri ini ditemu-kenali kembali, lalu ditumbuh-kembangkan sebagai rerumpunan kebudayaan yang tetap
4
commit to user 3
majemuk, yang terjagai oleh perangai dan sifat kasih-sayang masyarakatnya.5
Tidak dapat dipungkiri bahwa suatu wujud arsitektur tradisional dari suku bangsa tertentu pasti akan menimbulkan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat suku bangsa tersebut. Namun demikian, apakah suatu suku bangsa tertentu akan merasa bangga dengan arsitektur tradisional dari daerah lain?6 Bahkan mungkin saja masyarakat di daerah yang satu dengan yang lain tidak mengenal ataupun mengetahui macam rumah tradisional yang ada di Indonesia. Tentu perlu adanya upaya untuk melestarikan dan memperkenalkan berbagai macam rumah tradisional di Indonesia guna menahan tenggelamnya peradaban arsitektur nusantara.
2. Bentuk Apresiasi terhadap Karya-karya Arsitektur
Secara umum, apresiasi diterjemahkan sebagai penilaian atau penghargaan terhadap sesuatu. Jadi apresiasi arsitektur berarti penilaian atau penghargaan terhadap arsitektur. Untuk dapat menilai dan menghargai arsitektur, tentunya perlu modal pengetahuan yang tidak sederhana. Ketidak sederhanaan pengetahuan ini setara dengan kerumitan yang melekat pada arsitektur itu sendiri. Selain ilmu, seseorang yang berapresiasi dengan arsitektur membutuhkan alat, yaitu segenap indera yang dimiliki dan paling memungkinkan untuk digunakan dalam menilai atau menghargai arsitektur.7
Arsitektur merupakan sebuah karya yang dapat diapresiasi manusia. Agar dapat dibedakan nilainya, arsitektur bahkan perlu untuk diapresiasi baik secara nyata maupun maya. Sebuah karya arsitektur paling mudah diapresiasi menggunakan penglihatan dan rabaan kulit, selain itu karya tersebut juga memiliki dampak dalam menimbulkan suara, bau, suhu, kelembaban, tekanan udara yang mempengaruhi perasaan tertentu. Jauh atau dekatnya obyek arsitektur dengan manusia yang mengapresiasi
5
Galih W.Pangarsa, Arsitektur di Negeri Bencana, Univ. Brawijaya
6
Galih W.Pangarsa, Memaknai Kembali Arsitektur Nusantara, Univ. Brawijaya
7
commit to user
mempengaruhi indera mana yang berperan. Jika obyek tersebut memiliki jarak yang tidak dapat direkam oleh indera pendengar, pencium dan peraba, maka indera penglihatlah yang paling dominan dapat didayagunakan untuk berapresiasi. 8
Akhir-akhir ini cukup banyak diselenggarakannya berbagai macam
sayembara yang berhubungan dengan arsitektur mulai dari sayembara
perencanaan dan desain, sayembara fotografi maupun sayembara tugas
akhir yang akhir-akhir ini sedang banyak dibicarakan. Fenomena ini
membuktikan bahwa arsitektur sedang mulai berkembang. Salah satu yang
sedang disoroti adalah sayembara Tugas Akhir yang merupakan puncak akademis tertinggi bagi mahasiswa S1 jurusan Arsitektur. Sangat disayangkan karya-karya yang akan menjadi master pieces ini kurang mendapatkan wadah yang mampu menampung karya dengan tujuan untuk diperkenalkan kepada khalayak umum. Padahal seluruh kemampuan mahasiswa tercurah pada proyek tugas akhir ini, dengan demikian Tugas Akhir menentukan kualitas calon arsitek masa depan.9
3. Arsitektur merupakan Karya Seni
Keunikan dan nilai seni yang terkandung pada karya-karya arsitektur tersebut memunculkan pemahaman bahwa karya arsitektur juga dapat dikategorikan sebagai suatu karya seni karena mengandung unsur metafora, perumpamaan, keindahaan serta elemen-elemen artistik lainnya. Di sisi lain, untuk memahami suatu karya arsitektur itu tidak cukup hanya memahami dari sisi luar bangunan, tetapi juga harus memahami bagaimana karya arsitektur itu terbentuk, dengan kata lain kita harus memahami dari segi ilmiahnya juga barulah kita dapat memahami karya tersebut.10
Dari sebuah buku pula didapatkan sebuah kalimat yang semakin meyakinkan bahwa karya arsitektur juga merupakan sebuah karya seni,
‘Architecture as a fne art has nothing to do with arts of expression... The
8
www.iai-jateng.web.id 13 Maret 2011
9
Kompetisi Tugas Akhir Mahasiswa Arsitektur Tingkat Jawa Tengah 2009
10
commit to user 5
business of buildings is not to tell tales about the world… or of humanity,
or of technology’11
Sedangkan paham Vitruviuspun berujar, "Arsitektur adalah ilmu yang timbul dari ilmu-ilmu lainnya, dan dilengkapi dengan proses belajar:
dibantu dengan penilaian terhadap karya tersebut sebagai karya seni".12 Selayaknya sebuah karya seni arsitektur yang setara dengan karya seni lainnya seperti karya seni lukis, ukir, maupun patung yang telah banyak mendapat perhatian dan wadah khusus, tentu karya arsitektur sangat perlu diwadahi pula. Cukup banyak karya arsitektur nusantara hingga dunia yang layak untuk dipamerkan dan diketahui lebih jauh oleh masyarakat pada umumnya dan mahasiswa arsitektur pada khususnya.
4. Arsitektur terus Berkembang
Perkembangan yang terus menerus ini telah membawa karya arsitektur ke arah modern, dengan gaya yang semakin beragam dan ditunjang dengan perkembangan teknologi, hasil yang ditampilkan semakin unik dan beragam. Hal ini juga tidak lepas dari dorongan kebutuhan masyarakat akan sesuatu yang berbeda sehingga mampu meningkatkan kreatifitas para arsitektur dalam merancang suatu karya. Perkembangan teknologi rancang bangun juga memungkinkan para arsitek mengeksplorasi lebih jauh karyanya sehingga tiap bangunan memiliki keunikan dan ciri khas yang yang menjadi ikon bagi lingkungan sekitarnya. Meskipun tidak memiliki nilai historis yang tinggi seperti karya arsitektur pada masa lalu, tetapi karya-karya arsitektur pada masa ini tetap memiliki nilai seni dan kreatifitas yang tinggi sebagai cerminan perkembangan pemahaman teknologi dan ideologi pada masa itu.13
Melihat fenomena di atas, maka timbul pemikiran perlu adanya suatu wadah atau lembaga yang dapat digunakan sebagai tempat untuk melestarikan, menjaga, mendokumentasikan dan mengkomunikasikan
11
Rusell Sturgis, “Address,” in American Architect and building news, 1890
12
www.forumdesain.com 13 Maret 2011
13
commit to user
karya arsitektur yang ada. Sarana tersebut haruslah edukatif, karena sebagai salah satu produk yang terbentuk dari hasil pemikiran dan logika ilmiah, maka harus dapat mengkomunikasikan hal tersebut dengan baik sehingga bagi orang yang meninjau dapat memahami karya arsitektur secara lebih mendalam.
Di sisi lain karena arsitektur juga memiliki nilai seni maka sarana itu juga harus bersifat rekreatif dan menyenangkan, agar dapat menarik minat masyarakat untuk datang serta menunjang kemampuan pengamatan dan daya imajinasi bagi yang melihatnya.
Berdasarkan pemikiran di atas maka konsep berupa sebuah galeri dirasa tepat untuk mengomunikasikan suatu karya arsitektur. Sebuah galeri, seperti juga museum memiliki nilai edukatif, namun tidak terlalu intens seperti museum, sehingga pengunjung serta kegiatan-kegiatan lain yang terkait dapat dilakukan dengan lebih fleksibel.
Diharapkan dari Galeri Arsitektur Nusantara di Yogyakarta ini selain sebagai sarana untuk melestarikan, menjaga, mendokumentasikan dan mengkomunikasikan karya arsitektur, juga dapat mendorong ketertarikan masyrakat terhadap dunia arsitektur sehingga masyarakat dapat memahami pentingnya menjaga karya-karya arsitektur yang ada.
D. Permasalahan dan Persoalan 1. Permasalahan
Merancang dan mendesain suatu bangunan ‘Galeri Arsitektur Nusantara di Yogyakarta’ dengan mengangkat potensi-potensi arsitektur nusantara yaitu dengan mengambil ciri khas umum sebagai wujud galeri ini.
2. Persoalan
commit to user 7
b) Menentukan macam ruang, besaran ruang, serta organisasi ruang sebagai pola tata ruang yang mendukung mekanisme kegiatan, pengelola serta pengunjung
c) Menampilkan bangunan ‘Galeri Arsitektur Nusantara di Yogyakarta’ yang dapat mencerminkan kegiatan di dalamnya dan kesesuaian dengan lingkungan sekitarnya
E. Tujuan dan Sasaran 1. Tujuan
a) Menyusun konsep perencanaan dan perancangan fisik bangunan ‘Galeri Arsitektur Nusantara di Yogyakarta’ sebagai tempat untuk mewadahi hasil karya arsitektur serta yang berhubungan dengan arsitektur.
b) Menciptakan suasana yang nyaman untuk kegiatan pameran dan penunjang
2. Sasaran
Mewujudkan ‘Galeri Arsitektur Nusantara di Yogyakarta’ dengan pendekatan:
a) Menentukan site yang tepat untuk mendukung pengembangan kegiatan pameran
b) Menentukan pola tata ruang yang mendukung mekanisme kegiatan pameran yaitu macam, besaran, dan kegiatan ruang
c) Menampilkan bentuk ‘Galeri Arsitektur Nusantara di Yogyakarta’ yang sesuai dengan fungsi bangunan dan lingkungannya
F. Batasan dan Lingkup Pembahasan 1. Batasan
commit to user
2. Lingkup Pembahasan
Pembahasan ditekankan dalam lingkup mengangkat potensi-potensi asitektur nusantara pada visualisasi bangunan galeri untuk menentukan konsep perancangan dari Galeri Arsitektur Nusantara di Yogyakarta.
G. Metode Pembahasan
1. Metode Penemuan Masalah
Penemuan masalah berdasarkan realita yang ditemukan di lapangan yang diutarakan responden seperti sulitnya mencari informasi mengenai konsultan dan komunitas arsitektur yang ada, kurangnya fasilitas yang ada untuk mewadahi aktifitas pengembangan, padahal animo masyarakat terutama mahasiswa arsitektur yang cukup tinggi.
2. Metode mencari data
Dalam mencari data yang dibutuhkan, dilakukan beberapa cara yaitu: a) Survey lapangan
Metode yang dilakukan dengan mendatangi dan melihat tempat-tempat yang dapat memberikan informasi mengenai data-data yang dibutuhkan. Seperti data mengenai jumlah universitas yang memiliki jurusan Arsitektur di Yogyakarta, biro konsultan dan komunitas arsitektur yang ada di Yogyakarta, peminat karya seni arsitektur di Yogyakarta, dan mengenai data lokasi site.
b) Wawancara
commit to user 9
c) Literatur
Metode yang dilakukan dengan membaca buku-buku, tugas akhir yang berhubungan dengan judul, dan pencarian dari situs-situs internet sesuai batasan dan lingkup pembahasan untuk mendapatkan referensi berupa teori-teori seperti standar ukuran peruangan dan karakter ruang pamer, sejarah perkembangan arsitektur nusantara hingga arsitektur masa kini, jenis-jenis media pamer yang berhubungan dengan karya arsitektur, data kota Yogyakarta, event-event yang melibatkan karya arsitektur, banyaknya universitas yang memiliki jurusan Arsitektur di Yogyakarta, perkembangan jenis dan peminat arsitektur serta komunitas-komunitas arsitektur di Yogyakarta, penggabungan dalam lingkup arsitektur dan budaya.
3. Metode pengolahan data
Mengolah data yang ada sehingga mempermudah pemecahan masalah dengan mengidentifikasi data yang diperoleh, mengklasifikasi data, menyusun data secara sistematis, menganalisa data, dan mengaitkan data satu dengan yang lain untuk menunjang pembahasan tentang Galeri Arsitektur Nusantara di Yogyakarta.
4. Metode pemecahan masalah
Menganalisa dengan cara mencocokkan teori yang ada dengan eksisting kemudian menghasilkan alternatif penyelesaian masalah. Kemudian dipilih hasil analisa sebagai pemecahan masalah berdasarkan pedoman dan standar perancangan sehingga menghasilkan konsep perancangan Galeri Arsitektur Nusantara di Yogyakarta yang sesuai.
5. Metode penulisan
commit to user
H. Sistematika dan Kerangka Penulisan Tahap I
Mengungkapkan permasalahan dan persoalan dari latar belakang untuk mendapatkan tujuan dan sasaran yang akan dicapai, mengungkapkan batasan, lingkup pembahasan dan metode pembahasan yang digunakan serta sistematika penulisannya.
Tahap II
Mengungkapkan tinjauan galeri seni, tinjauan arsitektur nusantara yang akan diwadahi, keberadaan Yogyakarta dan minat masyarakat Yogyakarta akan karya arsitektur, geleri seni yang sudah ada di Yogyakarta, tinjauan lokasi, studi banding bangunan sejenis galeri.
Tahap III
Mengungkapkan tinjauan mengenai potensi arsitektur nusantara, hubungan antara arsitektur dan budaya, tinjauan penggabungan dan perwujudannya menjadi langgam arsitektur dalam wujud fisik.
Tahap IV
Deskripsi Galeri Arsitektur Nusantara yang akan direncanakan di Yogyakarta meliputi pengertian dan fungsi, visi dan misi, status kepemilikan, lingkup kegiatan, karya terwadahi, sasaran pengguna, frekuensi kegiatan dan fasilitas-fasilitas yang ada dalam bangunan galeri tersebut.
Tahap V
Mengungkapkan alternatif-alternatif kebutuhan peruangan yang terdapat dalam bangunan galeri meliputi aktivitas dan fasilitas, kebutuhan ruang, besaran ruang, pola hubungan ruang, utilitas bangunan dan sistem struktur yang digunakan sebagai referensi untuk perwujudan bangunan galeri arsitektur nusantara di Yogyakarta dengan tampilan fisik yang merepresentasikan perpaduan potensi-potensi arsitektur nusantara.
Tahap VI
commit to user 11
BAB II
TINJAUAN GALERI SENI
DAN KOTA YOGYAKARTA SEBAGAI LOKASI TERPILIH
A. Galeri Seni
1. Pemahaman Galeri
Galeri diartikan sebagai ruangan, rangkaian ruangan atau bangunan yang disediakan untuk memamerkan dan juga menjual karya seni (Stein & Urdang, 1967:173), yang dimaksud dengan karya seni disini adalah karya-karya arsitektur.
Sebagai ruang pamer dapat berupa museum, galeri atau showroom. Bila museum khusus hanya memajang tanpa menjual, di showroom obyek dipajang untuk dijual karena fungsi komersial adalah yang paling utama. Dapat dikatakan bahwa galeri merupakan perpaduan antara museum dan
showroom, di mana kaya seni yang dipamerkan dapat dibeli.1
2. Sejarah Galeri
Galeri pada awalnya adalah bagian dari museum yang berfungsi sebagai ruang pamer. Robillard (1982) membagi ruang publik pada museum menjadi empat bagian, yaitu: entrance hall, jalur sirkulasi, galeri dan
lounge (ruang duduk).
Galeri adalah ruang utama dan paling penting dalam suatu bentuk pameran karena galeri berfungsi mewadahi karya-karya seni yang dipamerkan. Pada perkembangannya, galeri kemudian berdiri sendiri, menjadi institusi tersendiri dan terlepas dari keberadaan museum. Fungsi dari galeri tetap merupakan tempat untuk pameran tetapi mengalami perkembangan, bukan hanya sekedar sebagai tempat untuk memajang namun juga sebagai ruang untuk menjual karya seni.
Pada tahun 1950, para seniman Avan Garde dan neo-Dada meruntuhkan ‘kesakralan’ galeri dengan menjadikannya sebagai ruang
1
commit to user
publik barang seni. Galeri dan museum pada masa neo-Dada tidak lagi menjadi media seni bagi barang elit tetapi juga seni pemberontakan. Neo-Dada menyerang ekslisivisme dari galeri dan museum dengan mendudukinya dan membuat batasan baru pada galeri dan museum, yaitu sebagai media dari seni yang terbuka (Barbara Rose, 1974), Slogan L’art pour l’art (seni untuk seni) bergeser kepada L’art pour le’public (seni untuk publik). Seni tidak menjadi suatu kawasan elit, di mana semua orang bisa dan berhak untuk membuat dan menghasilkan karya seni. Seni untuk publik dipelopori oleh Joseph Beuys yang memajang seni pemberontakan di sebuah galeri. Karya seni yang berupa ‘Jambang Putih’ dianggap sebagai karya seni instalasi pertama dan sekaligus menjadikan galeri sebagai ‘ruang publik’ segala bentuk apresiasi seni.
3. Perkembangan Fungsi Galeri
Perkembangan galeri seni dapat dilihat bahwa fungsi awalnya adalah memamerkan hasil karya seni agar dapat dikenal oleh masyarakat (sebelum itu koleksi-koleksi seni hanya sebagai dekorasi ruang saja atau media bagi seni elit). Dengan demikian terlihat adanya usaha:
a) mengumpulkan hasil-hasil karya seni sebagai koleksi
b) memamerkan hasil-hasil karya seni agar dikenal masyarakat
c) memelihara hasil-hasil karya seni agar tidak rusak (bersifat memelihara atau konservasi)
Terjemahan dari fungsi baru yang terjadi adalah sebagai berikut:
commit to user 13
dengan penyimpanan karya arsitektur berupa maket, standar penyimpanan mengacu pada persyaratan penyimpanan karya seni rupa.
b) Sebagai tempat memamerkan hasil karya seni agar dikenal masyarakat. Ini merupakan fungsi utama sebuah galeri, sehingga pada umumnya ruang digunakan sebagai tempat memamerkan karya seni. Ruang-ruang di desain memiliki bentuk yang menarik baik dari segi pencahayaan yang menggunakan lampu-lampu spot, warna dinding yang kontras dengan karya seni yang akan dipamerkan sehingga membuat karya seni tersebut menjadi point of interest
c) Sebagai tempat memelihara karya seni agar tidak rusak. Ruang yang digunakan untuk memelihara karya seni ini biasa disebut dengan ruang restorasi-konservasi.
Gambar ii.1. Pengumpulan Karya Seni Sumber. http://www.galeri-nasional.or.id/galeri-nasional/data/upimages/collecting1.gif 3 Oktober 2011
Gambar ii.2. Pameran Karya Maket
commit to user
d) Sebagai tempat mengajak atau mendorong atau meningkatka apresiasi masyarakat terhadap karya seni yang dipamerkan tersebut memiliki sebuah arti yang ingin disampaikan oleh para seniman kepada masyarakat sehingga masyarakat dapat mengapresiasi karya-karya seni yang dipamerkan. Ruang-ruang yang digunakan merupakan ruang pameran untuk karya seni.
e) Sebagai tempat transaksi jual beli merupakan salah satu kegiatan utama pada galeri. Karya seni yang dipamerkan dalam kegiatan ini bersifat karya seni komersial berupa furniture, fotografi dengan obyek arsitektur
Gambar ii.3. Pemeliharaan Karya Seni
Sumber. http://suci-senikarya.blogspot.com/2010/01/perawatan-karya-seni-rupa-lukisan.html 3 Oktober 2011
Gambar ii.4. Apresiasi Karya Maket Sumber.
http://euro.okezone.com/images-data/photo/2009/05/09/1/2841/image0.jpg 3 Oktober 2011
Gambar ii.5. Transaksi jual beli produk
commit to user 15
Pada hakekatnya galeri seni berfungsi sebagai servis bagi publik. Servis pelayanan ini menunjukkan aktivitas utama yang mempengaruhi sifat dan yang menjadi dasar falsafahnya. Servis dimaksudkan dengan memberikan pelayanan bagi kepuasan public sebagai kelompok social maupun individu ataupun masyarakat umum. Oleh sebab itu servis harus memenuhi:
a) Kepuasan fisik: merupakan kepuasan yang dicapai melalui panca indera yaitu penglihatan, perasaan, dan peraba
b) Kepuasan psikis: merupakan kepuasan jiwa sebagai reaksi pada suasana dan kesan dari bangunan dan pelayanan yang diberikan baik oleh pengelola atau pegawai maupun materi seninya.
4. Tipe Galeri
a) Tipe Shrine
Galeri tipe ini menempatkan seni di atas banyak hal lain. Koleksinya sangat terpilih, di tata pada ruang yang memungkinkan pengunjung melakukan kontemplasi. Kasus perluasan National Gallery di London yang menganulir juara kompetisi perancangan akibat program ruang yang direncanakan telah mengakomodasi secara signifikan. Peran fasilitas komersial di dalamnya untuk menunjang pembiayaan galeri menunjukkan betapa tegarnya galeri tipe ini memisahkan dari kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan seni. Nilai koleksi dan penghargaan terhadap seni pada galeri ini sangatlah tinggi.
b) Tipe Warehouse
Galeri ini mewadahi berbagai koleksi yang bernilai, sedemikian beragamnya koleksi ini sehingga wadahnyapun memiliki fleksibilitas yang tinggi untuk menanggapi perubahan dan perkembangan yang
Gambar ii.6. National Gallery, London Sumber.
commit to user
dinamis. Contoh dari bangunan tipe warehouse adalah Pompi dou Centre di Paris, Perancis. Pengabdian diri pada kefleksibelan dalam galeri ini tercipta dalam bentuk dan artikulasi arsitekturnya. Segala fungsi selain fungsi pameran dialokasikan di luar untuk memperolah ruang dalam yang bebas dan karenanya mampu menjawab tuntutan fleksibilitas tersebut. Tipe galeri ini sangat populer dalam berbagai
bentuk dan strategi perancangan arsitektur. c) Tipe Cultural Shopping Mall
Strategi pemasaran galeri telah membaurkan distingsi mengenai seni dan komersial, antara lain melalui maraknya aktivitas komersial dalam galeri dengan bentuk yang elaborate. Strategi pameranpun tidak terbatas pada
display melainkan juga memberi takanan pada penjualan cinderamata yang lebih beragam ketimbang sekedar poster, kartu pos, dan katalog seperti halnya shopping mall memperluas layanan pemasaran lewat fasilitas gedung bioskop, pameran seni, ataupun konser-konser. Tipe baru galeri ini bahkan mencakup fasilitas-fasilitas seperti restoran, auditorium sampai gedung teater. Dalam hal ini galeri dan mall mempunyai satu kesamaan aktivitas utamanya adalah mendorong pemasukan melalui konsumsi termasuk ke dalam tipe galeri ini adalah Neue Staatsgalerie, Jerman karya James Starling Michael Wilford and Associateds, 1984
d) Tipe Spectacle
Gambar ii.7. Neue Staatsgalerie, Jerman Sumber. http://www.architecturememe.com/wp-
content/plugins/rss- poster/cache/71e2b_1301844710-staatsgalerie-flickr-user-pov-steve-528x396.jpg 3 Oktober 2011
Gambar ii.8. Wexner Centre, Ohio
commit to user 17
Kurt Foster mengidentifikasikan tipe galeri yang tidak lazim. Tipe baru galeri ini mendorong pengunjung untuk menikmati pengalaman estetik justru karena arsitektur bangunan galeri itu sendiri.
Arsitektur pada tipe galeri ini diorganisasikan untuk mencapai pengharaagn dan kebanggan pada seni sama seperti yang terjadi pada tipe galeri shrine yang mengharap pengalaman estetik lebih pada pengamat yang bercitra tinggi. Namun secara tipikal sesungguhnya galeri ini juga seperti galeri yang bertipe cultural shopping mall. Gallery as Spectacle mengharap audiens yang melek artistik, hingga definisi estetika bahkan dapat diperluas dari sebelumnya. Termasuk di dalam tipe ini adalah Wexner Centre, karya Peter Einseman di Ohio, 1990. merupakan sebuah galeri yang lebih kepada tempat pameran dan pertunjukkan yang sangat luas untuk berbagai kegiatan pertunjukkan film atau video, teater dan pertunjukkan seni lainnya beserta perlengkapan pendukungnya. Galeri ini memiliki berbagai fasilitas seperti gedung teater, ruang pertunjukkan, concert hall, auditorium, perpustakaan seni, perpustakaan dan penelitian tempat kartun, lobby, retail atau toko perhiasan, aksesoris, buku-buku seni dan cafe.
5. Macam Galeri Seni
Sebenarnya belum ada klasifikasi yang jelas mengenai macam-macam galeri seni terlebih akan materi khusus yang dipublikasikan, akan tetapi dengan pendekatan bentuk, sifat dan isinya yang menonjol, maka akan digolongkan sebagai berikut:
a) Galeri seni berdasarkan bentuk
1) Traditional art gallery yaitu suatu galeri yang aktivitasnya diselenggarakan pada selasar-selasar atau lorong-lorong panjang. Walaupun bentuk galeri ini tradisional namun belum tentu juga karya yang dipamerkan berupa karya-karya yang dinilai kuno sehingga berkesan tradisional
commit to user
bangunan ini biasanya terdiri dari beberapa ruang pameran. Sebagai contoh adalah Galeri Nasional Indonesia yang memiliki beberapa massa bangunan dengan fungsi sebagai ruang pameran dan kegiatan pendukung lainnya. Karya-karya seni yang dipamerkan pada modern art gallery biasanya adalah sebuah karya seni yang modern atau kontemporer. Sehingga hal ini sesuai dengan perencanaan ruang.
b) Galeri seni berdasarkan sifat kepemilikan
1) Privat art gallery merupakan suatu galeri milik perseorangan atau sekelompok orang. Pada galeri ini biasanya karya-karya yang dipamerkan adalah karya pemiliki galeri ini sendiri yang juga merupakan seorang seniman. Seniman ini sudah tentu adalah seorang seiman terkenal sehingga mereka berani untuk membuka galeri karya mereka sendiri tanpa takut galeri tersebut akan dikunjungi banyak orang atau tidak karena setiap orang memiliki pandangan tersendiri terhadap karya mereka. Pemilik lain privat galeri ini biasanya merupakan sebuah institusi dimana karya-karya yang dipamerkan berasal dari institusi itu sendiri.
2) Public art gallery yaitu suatu galeri yang merupakan milik pemerintah dan terbuka untuk umum. Karya-karya yang dipamerkan pada galeri ini bermacam-macam sesuai dengan keinginan seniman. Sehingga karya yang dipamerkan biasanya sesuai dengan kondisi atau trend pada saat itu. Pengguna dari galeri ini dari berbagai macam seniman baik muda ataupun tua serta dengan berbagai macam bentuk aliran yang dianutnya.
c) Galeri seni berdasarkan isi atau materi seni
commit to user 19
luar dan dalam negeri. Bentuk seni ini masih natural dan belum terjamah dari luar pada saat budaya tersebut dulu ada.
2) Gallery of classic art yaitu suatu galeri yang menyelenggarakan aktivitas dibidang seni klasik. Seni ini menggambarkan bentuk-bentuk budaya tradisional di suatu bangsa.
3) Gallery of modern art yaitu suatu galeri yang menyelenggarakan aktivitas dibidang seni modern. Dalam seni modern, bentuk karya seni yang dipamerkan biasanya mengandung maksud atau arti yang mengkritik sesuatu baik itu budaya, social, ataupun politik suatu bangsa sehingga karya seni ini pasti sejalan beriringan dengan perkembangan jaman atau bisa disebut dengan karya seni kekinian. Dengan adanya karya ini seseorang dapat mengerti tujuan dari karya ini dibuat.
Berdasarkan macam seni yang disajikan beberapa galeri (yang sudah umum) biasanya merupakan galeri seni terwujud (2D atau 3D) dengan berbagai macam karya seni.
6. Lingkup Kegiatan Galeri
Ada beberapa penggolongan kegiatan yang biasa di jumpai pada galeri seni antara lain:
a) Kegiatan rekerasional
Pameran sebagai alternatif tujuan rekreasi yang mendidik bagi masyarakat, diadakan secara rutin dan manjadi kegiatan utama yang bertujuan untuk memperkenalkan dan menjual hasil karya seni
b) Kegiatan pendidikan
1) Diikuti oleh masyarakat umum peminat seni atau para arsitek muda lewat kursus pendalaman seni arsitektur
2) Para pengamat seni arsitektur yang ingin melakukan studi baik secara teori maupun praktek
commit to user
4) Eksperimen yang dapat dilakukan di workshop atau studio yang disediakan setelah menambah wawasan melalui studio demi memantapkan ide-ide baru para arsitek muda
c) Kegiatan Pendukung
Kegiatan yang mendukung saat akan pembukaan sebuah pameran galeri seperti art performance.
7. Macam Seni dalam Arsitektur
Seperti halnya seni secara umum, seni dalam bidang arsitektur dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar yaitu seni rupa (baik 2 dimensi maupun 3 dimensi) dan seni pertunjukkan
a) Seni Rupa 2 Dimensi 1) Seni Grafik
Seni membuat gambar 2 dimensi dengan alat cetak (klise). Seorang pencipta dapat memasukkan unsur-unsur estetis dalam karyanya. Representasi dapat melalui poster-poster yang berisi imbuhan atau kritik arsitektur.2
2) Seni Fotografi Arsitektur
Seni yang menggunakan alat sebuah kamera yang digunakan untuk mencari karya arsitektur yang unik, indah maupun kontroversial. Obyek utama yang diambil tentu saja adalah obyek bangunan.3
2
TGA Tomy Arief, Galeri Seni Urban di Yogyakarta, UNS, Surakarta, 2010
3
Ibid
Gambar ii.9. Seni Grafik
Sumber.http://www.hgd.com/gallery/images_gallery/art_ deco_lady_silver_250.jpg 3 Oktober 2011
Gambar ii.10. Fotografi Arsitektur
commit to user 21
3) Sketsa
Secara umum dapat juga diartikan sebagai seni gambar atau lukis dan memiliki pemahaman sebagai cakupan visual ekspresi seseorang.4 Secara lebih jelas dapat disebutkan bahwa seni lukis adalah penggunaan garis, warna, tekstur, ruang dan bentuk pada suatu bidang 2 dimensional yang disusun sedemikian rupa sehingga terbentuk sebuah harmoni. Hal ini bertujuan untuk menciptakan suatu image yang merupakan pengungkapan pengalaman artistik serta pengekspresian ide-ide dan emosional. Media yang biasa digunakan adalah kertas serta menggunakan alat tulis maupun pensil warna atau pewarna apapun. Pesan yang ingin disampaikan bisa seperti penggambaran sebuah bentuk bangunan, penyampaian suasana sebuah sketsa bangunan maupun kritik mengenai arsitektur.5
b) Seni Rupa 3 Dimensi 1) Maket
Maket adalah sebuah alat mempermudah orang awam mengenali dan mengerti apa yang dimaksud oleh para arsitek lewat setiap karyanya, dimana setiap orang dapat melihat dan merasakan secara langsung sebuah bangunan dalam bentuk ukuran mini, dengan ukuran terskala yang presisi tinggi.6
4
TGA Tomy Arief, Galeri Seni Urban di Yogyakarta, UNS, Surakarta, 2010
commit to user 2) Seni Instalasi
Merupakan seni 3 dimensi, dimana pada karya-karya instalasi ini memiliki maksud yang ingin disampaikan oleh pencipta walaupun dapat diartikan berbeda-beda oleh setiap orang. Seni instalasi adalah seni yang memasang, menyatukan dan mengkonstruksi sejumlah benda yang dianggap bisa merujuk pada suatu konteks kesadaran makna tertentu. Sebagai turunan seni rupa yang bersifat kontemporer, seni jenis ini memiliki keterkaitan erat dengan dunia arsitektur. Dengan sifatnya yang abstrak, instalasi bahkan mampu menciptakan identitas sebuah ruangan. 7
3) Furniture dan Properti
c) Seni Pertunjukan Film
7
Seni-Instalasi-Merdeka-Untuk-Merdesa-1103-id.html
Gambar ii.14. Furniture dan Properti Sumber.
http://bisnis- jabar.com/show_image_NpAdvSinglePhoto.php?filename=/2011/05/060511-AJB-BISNIS-02-FURNITUREb.jpg 3 Oktober 2011
Gambar ii.15. Seni Pertunjukkan Film Sumber.
http://bisnisukm.com/wp-content/uploads/2010/01/Bioskop-mini1.jpg
3 Oktober 2011 Gambar ii.13. Seni instalasi
commit to user 23
8. Ruang Pamer8
a) Model Ruang Pamer
Menurut bentuk ataupun kebutuhan dan perkembangan yang ada pada ruang pamer dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:
1) Ruang Pamer berupa ruang-ruang
Susunan ruang terdiri dari rangkaian kamar-kamar terbuka yang saling bersebelahan, dengan masing-masing mempunyai tema sendiri-sendiri sesuai dengan urutan periodesasi koleksi
2) Berupa hall
Merupakan susunan ruang cukup luas dan merupakan salah satu bentuk tertua serta banyak dijumpai pada museum yang bercorak lama seperti renaissance dan romawi.
3) Koridor sebagai ruang pamer
Bentuk lain dari ruang pamer yang berfungsi sebagai ruang meski tidak bisa disebut ruang karena pada awalnya hanya sebagai sirkulasi antar ruang.
8
Hatmadhi SP, Rhengo. 2008. ’Museum Wayang di Surakarta’. UNS. Surakarta
Gambar ii.16. Ruang Pamer berupa Ruang Sumber : http://1.bp.blogspot.com/_V7kM3Yd-i0c/TC4EKPuAE8I/AAAAAAAAAeI/QuSfAhOI2oQ/ s400/20090731100109Ruang%20sejarah%201.png
3 Oktober 2011
Gambar ii.17. Ruang pamer Hall Sumber : http://www.asianafrican-museum.org/images/Ruang_pameran.jpg
3Oktober 2011
Gambar ii.18. Ruang pamer koridor
commit to user b) Teknik Pameran
1) Berdasar Obyek
a. Teknik dasar untuk memamerkan dibagi dalam 3 jenis:
§ Open (meletakkan seluruh koleksi galeri pada ruang pamer) § Selective Display (menampilkan sebagian koleksi galeri)
§ Thematic Grouping (menampilkan dalam topik tertentu)
b. Bentuk dalam memameran adalah sebagai berikut:
§ Unsecured Object, cara ini diterapkan untuk benda-benda yang tidak butuh peragaan dan pengamanan khusus
§ Fastened Object, dengan cara mengikat benda-benda agar tidak berpindah tempat
§ Enclose Object, benda-benda yang dipamerkan dilindungi dengan pagar atau kaca
§ Hanging Object, benda-benda yang dipamerkan dengan cara
digantung
§ Animed Object, benda koleksi yang dipamerkan berupa
atraksi yang akan menarik pengunjung
§ Diorama, benda koleksi yang dipamerkan melalui tiruan miniatur atau seukuran benda aslinya
§ Recreated strees and villages, penyajian dengan
menggunakan artefak-artefak seperti aslinya untuk menggambarkansejarah aslinya.
2) Teknik Panel
Panel berfungsi dalam membantu mempresentasikan benda-benda yang dipamerkan
3) Teknik model
a. Suatu tiruan benda asli dengan skala 1:1
Gambar ii.19. Replika 1:1 Sumber:http://blog.firstari.com/i mages/chicago_fieldmuseum8.jpg
commit to user 25
b. Miniatur, suatu tiruan benda asli dengan ukuran lebih kecil
c. Enlargement, suatu tiruan benda asli dengan ukuran lebih besar
4) Teknik Simulasi
Bertujuan untuk mengajak pengunjung berpetualang atau menggambarkan kondisi aslinya dalam pameran
5) Teknik audiovisual
Teknik pameran menggunakan slide, film, video, dan sebagainya
B. Yogyakarta sebagai Lokasi Terpilih
Yogyakarta merupakan salah satu Daerah Istimewa yang memiliki banyak kekhasan dari berbagai sektor.
1) Kondisi Fisik
a) Letak geografis
Letak geografis Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terletak di antara 7o33’ – 8o15’ LS dan 110o5’ – 110o50’ BT. DIY merupakan salah satu provinsi yang memiliki luas 3.185,81 km2 atau sekitar 0,17% dari luas negara Indonesia, dan memiliki batas-batas wilayah:
Gambar ii.20. Miniatur candi Prambanan Sumber:http://tjokrosuharto.com/catalog/i mages/sepuhan/miniatur/emg-018-19x19x20.jpg 3 Oktober 2011
Gambar ii.21. Miniatur Rumah Tradisional Sumberz: http://www.tembi.org/museum-prev/images/candrakiranan/candrakiranan 3.jpg 3 Oktober 2011
Gambar ii.22. Enlargement kursi
commit to user Sebelah selatan : Lautan Indonesia Sebelah timur laut : kabupaten Klaten Sebelah tenggara : kabupaten Wonogiri Sebelah barat : kabupaten Purworejo Sebelah barat laut : kabupaten Magelang
Kotamadya Yogyakarta memiliki ketinggian 25 m sampai dengan 200 m diatas permukaan laut dengan tingkat kemiringan 0-2%. Kontur paling curam dapat ditemukan pada bantaran kali Code dan Winongo. b) Klimatologi
Secara umum keadaan iklim di Yogyakarta dipengaruhi oleh dua angin musim sebagai berikut:
§ Angin musim barat laut, bertiup pada bulan Desember hingga Maret, biasanya musim penghujan
§ Angin musim tenggara, bertiup pada bulan Mei hingga Oktober, biasanya merupakan musim kemarau
Temperatur rata-rata berkisar antara 26,6◦C dengan 28,8◦C sedangkan temperature minimum mencapai 18◦C dan temperatur maksimum dapat mencapai 35◦C. Kelembapan udara rata-rata adalah 74% dengan kelembaban minimum 65% dan maksimum 85%.
Curah hujan bervariasi antara 33 mm sampai dengan 496 mm. curah hujan di atas 300 mm terjadi pada bulan Januari, Februari dan April. Curah hujan tertinggi yaitu 496 mm biasa terjadi pada bulan Februari dan curah hujan terendah berkisar antara 3 mm sampai dengan 24 mm terjadi pada bulan Mei sampai Oktober. Curah hujan tahunan rata-rata adalah 1855 mm.
commit to user 27
2) Kondisi non fisik
Banyak predikat yang dimiliki oleh kota Yogyakarta, seperti kota pendidikan, kota budaya, kota pariwisata, dan lain-lain. Hal ini mengakibatkan banyaknya masyarakat yang melirik kota ini untuk berbagai kepentingan, bahkan menetap secara permanen maupun sementara. Masyarakat yang ada pun sangat heterogen, sehingga banyak sektor kegiatan-kegiatan yang ikut berkembang. Berikut potensi yang ada di Yogyakarta sehubungan dengan seni Arsitektur:
a) Pendidikan
Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan kota pelajar memiliki sarana pendidikan dengan kualitas baik. Jumlah perguruan tinggi dan sekolah terus bertambah. Dari data terakhir diketahui bahwa terdapat 55 perguruan tinggi, belum termasuk sarana pendidikan nonformal lainnya. Hal ini menarik masyarakat untuk bersekolah, menimba ilmu di Yogyakarta. Banyak masyarakat dari segala latar belakang berkumpul dan berbaur dengan masyarakat Yogyakarta. Jurusan Asitektur merupakan salah satu jurusan favorit yang menjadi pilihan di beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta. Berikut ini adalah tabel Perguruan Tinggi yang memiliki jurusan Arsitektur.
Tabel ii.1. Nama Perguruan Tinggi di Yogyakarta yang memiliki jurusan Arsitektur
Nama Perguruan Tinggi di Yogyakarta Swasta
1 Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta 2 Universitas Janabadra, Yogyakarta
3 Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta 4 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta 5 Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta 6 Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta 7 Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta 8 Universitas Teknologi Yogyakarta
Negeri
1 Universitas Gadjah mada
2 Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
commit to user b) Kebudayaan
Yogyakarta masih sangat kental dengan budaya Jawanya. Seni dan budaya merupakan bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta. Kesenian khas di Yogyakarta antara lain adalah kethoprak, jathilan, dan wayang kulit. Yogyakarta juga dikenal dengan perak dan gaya yang unik membuat batik kain dicelup serta musik gamelan. c) Sarana dan Prasarana
Kebutuhan akan listrik telah cukup mampu menjangkau seluruh wilayah kota. Sementara dari segi transportasi, terdiri dari transportasi darat (bus umum, taksi, kereta api, andong atau kereta berkuda, dan becak) serta udara (pesawat terbang) Bandar Udara Adi Sutjipto, akses menuju beberapa bagian utama kota pun sudah dapat dicapai dengan TransJogja. d) Pariwisata
Yogyakarta sebagai kota seni dan budaya memiliki banyak obyek wisata seni dan budaya yang menarik untuk dikunjungi. Peninggalan seni-budaya dapat disaksikan pada monumen-monumen peninggalan sejarah seperti Candi Prambanan, Candi Kalasan, Candi Borobudur, istana Sultan, tempat lain yang masih berkaitan dengan kehidupan istana, museum budaya serta galeri kesenian. Beberapa contoh obyek wisata budaya adalah Museum Sonobudoyo, Museum Sri Sultan HB IX, Museum Kereta dan Kraton. Sedangkan contoh obyek wisata kesenian antara lain Museum Batik Ulen Sentalu, Museum Batik, Museum Affandi, Galeri Seni Rupa Tembi, Museum Wayang ”Kekayon”, Rumah Seni Cemeti. Banyaknya obyek wisata di Yogyakarta membawa kota ini menempati peringkat kedua setelah Bali sebagai kota tujuan wisata.
C. Beberapa Pameran Arsitektur di Yogyakarta 1) Jogja Istimewa Merangkul Dunia9
Sebuah persembahan dari para mahasiswa/i angkatan 2008 Teknik Arsitektur UGM berupa kegiatan pameran arsitektur yang menampilkan
commit to user 29
proposal desain dari tugu – km 0, yang menggunakan berbagai media, seperti poster, maket, animasi, foto, sketsa, dan sebagainya. Acara ini juga diramaikan dengan talkshow dan art performance. Pameran ini diselenggarakan pada tanggal 6-8 Mei 2011 di Monumen Serangan Umum Satu Maret Yogyakarta.
2) Seminar dan Workshop GIS “Urban Thermal Comfort”10
Program Studi Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta mengadakan seminar nasional yang bertemakan “Urban Thermal Comfort”. Seminar ini bertujuan untuk membangun sebuah pemahaman yang komprehensif mengenai pengaruh atau dampak berbagai elemen desain suatu kawasan terhadap kondisi termal atau klimatik lingkungan sekitar dan akhirnya akan menentukan tingkat kenyamanan manusia sebagai penghuni.
Seminar ini menghadirkan Keynote Speech Herry Zudianto (Walikota Yogyakarta), serta pembicara Djoko Widodo (Walikota Solo), M. Ridwan Kamil, ST., MUD (PT. Urbane Indonesia), Dr. Steve Kardinal Jusuf (Center for sustainable Asian Cities, National University of Singapore), Dr. I Wayan Runa, MT (Universitas Marwadewa), Prof. Ir. Prasasto Satwiko, MBSc., Ph. D ( Guru Besar Prodi Arsitektur, FT – UAJY)
10 http://www.uajy.ac.id/agenda/seminar-nasional-arsitektur-urban-thermal-comfort-scan12010/ 16 Mei 2011
commit to user
3) Pameran Arsitektur “Urbanizing World” 11
Program Studi Teknik Arsitektur Fakultas Arsitek dan Desain UKDW bekerjasama dengan Universitas Stuttgart Jerman serta Goethe Institut Jakarta menyelenggarakan Pameran
“Urbanizing World” di gedung Agape UKDW Yogyakarta, 18-22 Januari 2011.
Pameran ini menampilkan poster-poster besar horizontal yang berisi foto-foto dokumentasi yang sudah dicetak dalam printing media yang menggambarkan situasi perkembangan kota di negara-negara berkembang. Gambar-gambar berupa bangunan rumah, kehidupan masyarakat kota dalam poster tersebut merupakan hasil penelitian Prof. Dr.-ing Eckhart Ribbeck dari universitas Stuttgart Jerman yang telah melakukan penelitian mengenai persoalan urbanisasi di banyak negara berkembang serta mengerjakan proyek perencanaan kota.
Hasil penelitian ditampilkan dalam 40 hingga 50 panel, yang memuat perkembangan tata kota di 30 kota di dunia. Pameran juga menampilkan bangunan permukiman berusia 2500 tahun, hingga bangunan pencakar langit di kota besar. Terdapat bangunan cagar budaya dan historis yang memudar, tergerus, dan tergantikan oleh bangunan yang dibangun atas landasan kapitalistik.
4) Pameran Arsitektur UAJY Werner Sobek – Designing The Future12
Universitas Atma Jaya Yogyakarta(UAJY) menjadi tuan rumah penyelenggaraan pameran keliling WERNER SOBEK-designing the future. Pameran ini merupakan pameran keliling yang diselenggarakan UAJY bekerjasama dengan Goethe-Institut Jakarta dan Universitas Pelita Harapan Sumber. http://jogjanews.com/ 3 Oktober
commit to user 31
berlangsung pada tanggal 8 sampai 21 Juni 2009 di gedung Perpustakaan Pusat Jl. Babarsari No 5 Yogyakarta. Pameran ini menyorot secara khusus hasil riset yang telah dilakukan oleh Institut Werner Sobek mengenai struktur ringan dan design konseptual. Tujuan yang lebih penting dari pameran ini ialah, ingin menunjukkan kepada publik Indonesia, bahwa selain beton dan baja ada materi lain yang dapat digunakan untuk bangunan. Terutama di kota-kota besar, tampaknya fungsi bangunan bercampur dengan arsitektur yang tanpa fantasi.
5) Pameran Karya Lomba Fotografi dan Desain Poster Sepekan Arsitektur 201113
Pameran karya lomba fotografi dan desain poster peserta sepekan Arsitektur 2011 ditampilkan pada tanggal 6-12 Maret 2011 di Lobby dan selasar Kampus II Thomas Aquinas Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
6) Pameran “Architecture for All” di FTSP UII14
Waktu : 29 Agustus - 4 September 2006 Tempat: Hall FTSP UII
Pameran Karya Mahasiswa Trash.Arsitektur UII
· Panel Stupa (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7), Perancangan Tapak (1 dan 2), Lansekap, mata kuliah pilihan (Perumahan, Waterfront Building, Perancangan Ergonomis, Urban Desain, dan Trash.Arsitektur Bioklimatis) dan Simulasi Komputer
· Panel Dokumentasi Stupa (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7) · Panel Struktur
· Maket Stupa (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7)
13 http://www.fotografer.net/isi/forum/topik.php?id=319440639816 Mei 2011
commit to user
· Maket Struktur dari mata kuliah KBG (1, 2) serta Perancangan Struktur dan Konstruksi (1, 2, 3, 4)
Pameran Karya Dosen Trash.Arsitektur UII, Unit Pendukung FTSP, Diskusi,Pemutaran Film Trash.Arsitektur
7) Pameran dan Diskusi Arsitektur15
Dalam rangka Ulang Tahun Emas Ikatan Arsitek Indonesia (1959– 2009), IAI-DIY akan menggelar Pameran dan Diskusi Arsitektur bertempat di Hall Gedung Lama Bank Indonesia Jogja. Pergelaran tersebut bertemakan ”Jogja Kontemporer; Membaca Keragaman Arsitektur Jogja dengan Wawasan Global” dan dibuka untuk umum tanggal 26-30 November 2009.
Pameran ini berupaya menghadirkan apa yang telah dialami Jogja dalam berarsitektur. Menyajikan berbagai rupa ungkapan bentuk yang membuat ramai Jogja, dengan maksud agar semua kita merasakan betapa kaya dan besar toleransi dunia berkesenian dan berarsitektur Jogja. Pembicara adalah peserta pameran, penulis buku arsitektur serta arsitek.
D. Studi Banding 1. Empiris
Selasar Sunaryo Art Space16
Nama Selasar Sunaryo Art Space diambil dari nama seniman yang memiliki galeri ini yaitu Sunaryo. Istilah selasar mengacu pada filosofi
14 http://architecture.uii.ac.id/index.php/Daily-News/Pameran-Arsitektur-FTSP-UII16 Mei 2011
15
http://jogjanews.com/3 Oktober 2011
16
www.selasarsunaryo.net dan analisa studi pribadi
commit to user 33
bahwa karya seninya adalah suatu proses kreatif yang terus berjalan. Bangunan Art space terbangun pada satu tanah di Bukit Pakar Timur seluas kira-kira 5,000 meter2 . Bentuk dasar dari bangunan diilhami oleh bentuk "kuda lumping", satu artefak budaya tradisional Indonesia. Kata "Selasar" mencerminkan konsep desain: untuk satu ruang terbuka yang menghubungkan satu ruang dengan ruang lain, dan sebagai jembatan penghubung antar bangunan. Konsep terakhir dari "Selasar", juga mencerminkan arah dari ruang untuk menghubungkan artworks dengan pendengar dan untuk membawa budaya yang berbeda secara bersama-sama. Selasar adalah salah satu ' open’ space yang memberikan rasa ruang untuk bebas masuk dan galeri seni yang terbuka bagi para komunitas. Dalam perancangan penataan ruang dilakukan pemisahan massa bangunan berdasarkan pengelompokan fungsi aktifitas. Berikut pengelompokan massa bangunan berdasarkan fungsinya :
1) Fungsi Bangunan Utama, dengan dimensi sekitar 8,4x22 m2 yang terdiri atas tiga lantai yang berbeda dengan split level yang memanfaatkan pola kontur eksisting.
2) Fungsi Bangunan Penunjang, yang terdiri atas dua lantai yang berbeda dengan split level.
3) Ruang Amphiteater terbuka berbentuk setengah lingkaran dengan diameter sekitar 20m dari lingkar luar amphiteater dan 10m dari lingkar luar panggung.
Ruang A (Gallery A)
Ruang A (seluas ± 177 m2), dipergunakan untuk pondokkan karya Sunaryo. Ruang ini juga digunakan untuk pameran besar bagi seniman Indonesia dan asing untuk memperkenalkan karyanya.
Stone Garden
Taman batu (seluas ± 190 m2), satu ruang terbuka yang dipergunakan untuk memamerkan hasil karya Sunaryo yang terbuat dari bebatuan