1 Anju Ramos Pasaribu (Mahasiswa Praktik Lapangan STT Jakarta)
eksistensi Manusia
Pendahuluan
Berbicara tentang eksistensi manusia tentu perlu memahami apa itu eksistensi sendiri. Eksistensi sendiri berasal dari bahasa Yunani Existere yang artinya muncul, timbul, ada, dan memiliki keberadaan (Bagus 1996, 183). Existere berasal dari kata Ex (Keluar) Sistere (Tampil, Muncul). Dari penjelasan di atas, kita mengetahui bahwa arti eksistensi adalah keberadaan atau ada.
Saya melihat, berbicara tentang eksistensi ada hubungannya dengan esensi. Esensi memiliki pengertian hakikat. Hakikat yang dimaksud dalam hal ini adalah hakikat eksistensi itu sendiri.
Ada banyak filsuf yang menganut paham eksistensialis, yang melahirkan kata eksistensialisme, salah satunya adalah Jean-Paul Sartre. Dalam paper ini, apa yang menjadi pandangan Sartre tentang eksistensialisme akan dibahas. Pandangan Sartre khususnya difokuskan untuk eksistensi manusia. Saya juga akan mencoba
menghubungkannya dengan masalah LGBTIQ yang menjadi bagian dari manusia yang eksis.
Jean-Paul Sartre Riwayat
2 ESENSI DARI EKSISTENSI
Pandangan Sarte menyatakan, “man is nothing else but what he makes of himself” (Sartre 1947, 18). Jadi manusia adalah apa yang diperlihatkan atau dilakukan olehnya. Manusia adalah akan menjadi kelihatan manusia jika dia berlaku atau bersifat apa yang sebenarnya adalah dirinya. Oleh sebab itu, manusia adalah subjek. Manusia berhak atau berperan utama dalam menidak/mengobjekkan dan ditidak/diobjekkan (Suseno 2011, 8). Artinya, manusia bisa bebas saat menidak dan tidak bebas saat ditidak. Bebas menidak akan terjadi, apabila manusia mengambil posisi sebagai pemberi makna terhadap sesuatu yang lain. Tidak bebas saat ditidak akan terjadi apabila manusia lain telah terlebih dahulu menidak manusia itu sendiri, sehingga manusia lain adalah manusia dan manusia yang ditidak bukan lagi manusia tetapi sesuatu benda atau objek. Posisi ini bisa berganti tergantung dari segi manusia mana kita mau melihat subjek pertama.
Dalam hal menidak dan ditidak ini, saya memahami bahwa manusia itu adalah subjek, memang benar. Kalaupun dia dalam posisi ditidak, dia juga sebenarnya adalah subjek ketika dia berbalik menidak manusia lain. Dalam hal ini manusia adalah aktif. Oleh karena itu, manusia adalah satu-satunya mahkluk yang eksistensinya mendahului esensinya (Suseno 2011, 8). Eksistensi manusia adalah keberadaannya sendiri sebagai manusia dan esensi adalah hakikat dari keberadaannya tersebut.
Eksistensi dari Esensi
Awal Sartre berfilsafat eksistensi dari esensi dipengaruhi oleh pengalaman kecilnya (Wibowo 2011, 15). Dia yang dulu tampan dengan rambut pirangnya yang panjang menjadi pusat perhatian. Setelah pangkas, dia menemukan dirinya yang jelek. Hal ini yang membuat dia sadar bahwa eksitensi dia jelek dan tampan, lahir dari ensensi yang ada padanya melalui penglihatan orang lain.
3 Eksistensi dari esensi hanya berlaku bagi benda (yang adalah objek) dan bukan manusia. Jika hal itu berlaku bagi manusia, manusia itu bukan lagi manusia tetapi dia telah menjadi benda sama seperti benda lain yang bukan manusia. Misalnya meja, meja akan disebut manusia yang adalah subjek “meja” jika meja memperlihatkan dirinya sebagai meja. Manusia menyebut suatu benda meja jika benda itu dipakai sebagai benda yang berfungsi sebagai meja dan benda itu akan menjadi sebuah meja jika apa yang diperlihatkannya sama dengan benda lain yang disebut meja.
Konsekuensi Etis POSITIF
Manusia adalah mahkluk yang eksistensinya mendahului esensinya
menunjukkan bahwa manusia adalah mahkluk yang bertanggung jawab atas dirinya. Oleh karena manusia bertanggung jawab atas dirinya sendiri maka manusia itu
bertanggung jawab atas dunia (Suseno 2011, 9). Mengapa manusia bertanggung jawab atas semuanya atau dunia? Tentu ini dipengaruhi karena manusialah yang menjadi subjek atas segalanya. Jadi, apa yang ada pada benda lain yang bukan manusia adalah hasil dari pemberian makna terhadapnya oleh manusia berdasarkan esensi yang lahir dari eksistensi benda tersebut. Oleh karena tiap manusia adalah subjek maka semuanya punya hak yang sama sebagai sesama manusia sehingga Sartre menekankan sebuah sosialisme netral bagi semua manusia (Suseno 2011, 10).
NEGATIF
Akibat fatal yang disebabkan oleh pemahaman manusia adalah subjek membuat manusia mengobjekkan manusia lainnya. Jadi, “neraka adalah orang-orang lain” (Lanur 2011, 74) atau dalam bahasa Inggris dikatakan “hell is the others”. Manusia akan
melakukan apa pun supaya yang lain dari dia adalah objek dan dia adalah subjek. Manusia yang diobjekkan oleh seorang manusia yang mengobjekkan juga akan
4 Eksistensi Kaum LGBTIQ
Saya sendiri masih merasa kurang memahami bagaimana itu LGBTIQ, dan karenanya saya tidak tahu mau menjawab, ketika ditanya apakah mau mendukung kaum LGBTIQ atau tidak. Menurut saya, yang salah bukanlah saya yang tidak mau menjawab, melainkan pertanyaannya. Dalam hal ini saya membela diri. Saya berdasarkan filsafat eksistensialisme Sartre, lebih memilih melihat kaum LGBTIQ
sebagai manusia yang sungguh eksis atau memiliki eksistensi daripada harus menjawab pertanyaan “Mendukung atau tidak LGBTIQ.”
Apakah kamu mendukung atau tidak LGBTIQ? Ketika pertanyaan ini yang muncul, terlihat seolah-olah kaum LGBTIQ adalah sesuatu yang dibuat oleh manusia. Jika sungguh hal ini yang terjadi maka manusia telah mengobjekkan kaum LGBTIQ. Saya, seorang yang beriman pada Kristus, berdasarkan pandangan Clark M. Williamson yang menyatakan salah satu eksistensi manusia adalah “Not all human beings are heterosexual” (Williamson 2003, 170), memilih untuk melihat kaum LGBTIQ sebagai manusia ciptaan Allah sama seperti kaum heteroseksual bukan kaum LGBTIQ yang diobjekkan oleh kaum heteroseksual.
Kaum LGBTIQ yang adalah manusia juga sama seperti kaum heteroseksual adalah subjek. Subjek dalam hal ini tidak untuk diobjekkan dan mengobjekkan yang lain. Di mana tindakan etis kita ketika mengobjekkan yang lain? Justru, yang terjadi, neraka adalah orang-orang lain. Oleh karena itu, tidak baik ketika seseorang yang heteroseksual menyalahkan kaum LBTiQ karena orientasi seksualnya dan sebaliknya.
Tindakan Tiap Eksistensi (Hetero dan Homo)
5 Dalam melihat bagaimana tindakan tiap manusia yang memiliki eksistensi, saya memakai apa yang menjadi pandangan Max Muller, “Dia yang mengetahui satu agama belum mengetahui agama” (Byrne 1991, 27). Memang dia berkata tentang agama, tetapi dari pernyataannya tersebut saya juga melihat bahwa “Dia yang mengetahui satu
orientasi seksual belum mengetahui orientasi seksual.” Oleh sebab itu, perlu belajar tentang yang lain.
Belajar tentang yang lain akan tercapai ketika kita belajar dari yang lain itu sendiri. Oleh karena itu, perlu ada dialog antar manusia yang berbeda. Dialog antara hetero dan homo adalah tindakan yang diperlukan untuk memahami keduanya. Ketika telah terjadi dialog yang membuat tiap manusia memahami manusia lain yang adalah sesasamanya manusia, tindakan yang lebih baik akan tercipta di luar tindakan yang hanya mengobjekkan yang lain. Tindakan yang terjadi akan lebih baik di luar tindakan yang menyalahkan yang lain. Tindakan ini tidak akan memunculkan tindakan yang menidak-adakan yang lain. Tindakan yang muncul justru saling menghargai.
Kesimpulan
Kaum LGBTIQ adalah subjek – yang artinya – eksistensi mendahului esesinsanya, bukan esensi yang mendahului eksistensinya. Dalam hal ini keberadaan kaum LGBTIQ adalah sama dengan yang lain sebagai subjek bukan sebagai objek. Oleh karenanya, perlu saling memahami dan menghargai antara heteroseksual dan homoseksual sebagai sesama manusia yang memiliki eksistensi.
Daftar Acuan
Bagus, Lorenz. 1996. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia
Byrne, Peter. 1991. Religion and The Religions. Dalam The World’s Religions: The Study of Religion Traditional and New Religion, peny. Stewart Sutherland dan Peter Clarke, hal. 3-28. London: Routledge.
Lanur, Alex. 2011. Relasi Antar-Manusia Menurut Jean-Paul Sartre, Beberapa Catatan. Dalam
Filsafat Eksistensialme, peny. A. Setyo Wibowo dkk., 73-85. Yogyakarta: Kanisius. Sartre, Jean-Paul. 1947. Existentialism. New York: The Philosophical Library.
6 Wibowo, A. Setyo. 2011. Eksistensi Kontingen: Satu Sudut Pandang membaca Kisah Hidup dan
Pemikiran Jean-Paul Sartre. Dalam Filsafat Eksistensialme, peny. A. Setyo Wibowo dkk., 13-56. Yogyakarta: Kanisius.
Williamson, Clark M. 2003. What’s Wrong With Us?: Human Nature and Human Sin. Dalam
7 Apakah anda mau mendukung LGBTIQ? Apakah anda mau bergabung dengan teman-teman
LGBTIQ?