WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
KEYNOTE SPEECH WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA K.H. MA’RUF AMIN
PADA ACARA HIMPUNAN PENGUSAHA MUDA INDONESIA (HIPMI) SHARIA CONFERENCE 2022
29 MARET 2022
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, bismillah walhamdulillah washalatu wassalamu ‘ala rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi wa mawwala.
Yang saya hormati Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), pendiri Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Pak Abdul Latief, Ketua Panitia HIPMI Sharia Conference 2022, para Ketua dan Badan Pengurus Daerah HIPMI, pemimpin-pemimpin masa depan Indonesia.
Hadirin dan undangan yang saya hormati, syukur alhamdulillah kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kita dapat hadir pada acara HIPMI Sharia Conference 2022.
Tahun 2022 masih menjadi tahun yang penuh ketidakpastian yang harus kita navigasi dengan keberanian sekaligus juga kehati-hatian. Perekonomian dunia berada pada zona pemulihan, tetapi sekaligus dibayangi dengan kenaikan inflasi dan hutang, ketimpangan pendapatan supply shock, krisis perubahan iklim, dan lain- lain. Semua negara dituntut mampu memitigasi berbagai risiko secara memadai, tidak terkecuali juga kita Indonesia.
Pada satu sisi kita mencermati berbagai indikator ekonomi yang membaik pada tahun 2021. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi global masih diproyeksikan tersendat hingga 2023. Dari 5,5 persen di 2021, menjadi 4,1 persen di 2022, dan 3,2 persen di 2023. Itu menurut sumber dari World Bank Global Economics Prospect.
Sedangkan, Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini berkisar 4,7 sampai 5,5 persen. Oleh karenanya, momentum pemulihan ekonomi tidak boleh kita abaikan. Kita membutuhkan setidaknya tiga hal sebagai komponen penggerak laju perekonomian, pengendalian pandemi, kebijakan yang akomodatif, serta pengusaha, pejuang atau pejuang pengusaha seperti HIPMI. Dan ketiganya harus kita sinergikan. Pertama, pemerintah terus meningkatkan capaian vaksinasi sebagai salah satu upaya membentuk kekebalan komunal, termasuk
komitmen vaksin booster gratis bagi masyarakat. Yang kedua, yaitu berbagai kebijakan akomodatif dan inklusif yang diterapkan pemerintah dan lembaga otoritas.
Pada kesempatan ini, secara khusus yang saya ingin garisbawahi adalah peran dan ekonomi keuangan syariah dalam pemulihan ekonomi yang inklusif.
Ekonomi dan keuangan syariah yang kita arusutamakan dalam perekonomian nasional tidak luput dari konteks tantangan global. Potensi besarnya harus dapat kita manfaatkan sebagai daya ungkit perekonomian, seperti populasi dan demand, serta halal lifestyle yang semakin membumi di Indonesia, maupun juga di berbagai belahan dunia.
Kita tidak memiliki sektor unggulan ekonomi dan keuangan syariah, justru kita memiliki sektor unggulan ekonomi dan keuangan syariah, seperti pertanian, makanan dan minuman halal, fesyen muslim, pariwisata yang ramah muslim, serta keuangan syariah. Sektor-sektor ini tidak saja bertahan, tapi mampu menyangga ekonomi Indonesia selama pandemi.
Secara keseluruhan, pangsa sektor unggulan halal value chain tersebut menopang 25 persen lebih dari ekonomi nasional. Peringkat pertama yaitu sektor pertanian dengan kontribusi mencapai 51 persen. Selanjutnya, diikuti sektor makanan halal sekitar 27 persen, pariwisata ramah muslim 16 persen, dan fesyen muslim hampir 6 persen. Itu dari LEKSI (Laporan Ekonomi dan Keuangan Syariah) 2021, Bank Indonesia.
Kemudian, komponen penggerak terakhir adalah para pengusaha muda yang berdaya juang tinggi, ini dari HIPMI ini, dan aktif mendorong ekonomi Indonesia kembali bangkit. Kuncinya terletak pada kemauan dan kejelian untuk mengubah berbagai tantangan yang ada menjadi peluang-peluang baru. Demikian pula potensi besar ekonomi dan keuangan syariah di tangan Saudara-Saudara sekalian, niscaya akan menjadi lentera yang akan menerangi pembangunan ekonomi di masa yang akan datang.
Hadirin sekalian, dalam forum yang sangat baik ini, saya mengajak para pengusaha muda yang berhimpun dalam HIPMI untuk mulai membangun usaha- usaha yang sesuai dengan kaidah syariah pada berbagai sektor unggulan.
Lebih jauh, saya menantikan meningkatnya sumbangan nyata HIPMI ke depan. Pertama, saya sampaikan apresiasi atas HIPMI Sharia Academy yang telah mengampanyekan halal lifestyle kepada masyarakat. Ikhtiar meningkatkan literasi masyarakat mengenai ekonomi dan keuangan syariah ini agar diakselerasi sehingga mendorong naiknya indeks ekonomi syariah yang masih tercatat baru 20,01 persen pada 2021. Ini sudah ada kenaikan dari 16 sekarang sudah 20,01 persen di 2021 dan supaya terus diakselerasi lagi.
Yang kedua, jejaring luas HIPMI diharapkan dapat memperkuat rantai nilai atau value chain industri halal yang efisien, sangat membutuhkan ekosistem yang
terintegrasi, mulai dari pasokan bahan baku, proses produksi, distribusi, pemasaran, hingga ke konsumen. Selain itu, HIPMI dapat terus berpartisipasi memperluas inkubasi bisnis syariah, khususnya dengan menggandeng UMKM halal.
Yang ketiga, pemerintah mengajak HIPMI untuk turut ambil bagian dalam modernisasi infrastruktur pada sektor-sekotor unggulan ekonomi dan keuangan syariah, seperti layanan keuangan syariah.
Yang keempatnya, pelajaran berharga yang kita petik dalam dua tahun pandemi, yakni pentingnya akselerasi digitalisasi. Bukan sekadar mengubah sistem analog menjadi digital, melainkan transformasi secara utuh dan terintegrasi.
Terakhir, pengembangan SDM yang andal dalam bidang ekonomi dan keuangan syariah, kolaborasi HIPMI dapat diperluas dengan menggandeng lembaga pendidikan dan perguruan tinggi, termasu juga agar link and match antara dunia pendidikan dan industri dapat tercipta sehingga kebangkitan ekonomi akan terus tumbuh dan berkelanjutan.
Saya ingin tegaskan bahwa memang Islam itu justru mendorong supaya kita mengembangkan masalah ekonomi. Di dalam Al-Qur’an Allah menyampaikan, “Wa ansya’akum minal ardhi wasta’marakum fiha,” Dia Allah yang menjadikan kamu dari bumi dan meminta kamu untuk memakmurkan bumi. Memakmurkan bumi oleh para ulama disebut sebagai kallafakum bi’amaratiha, memberi tanggung jawab kepada kamu untuk memakmurkan bumi.
Kunci memakmurkan bumi adalah tentu bidang ekonomi, baik itu industri maupun juga pertambangan, petanian, perdagangan. Dan itu adalah disebut sebagai mafatihul imarah, kunci-kunci kemakmuran. Tetapi, hanya agama itu memberikan pedoman supaya di dalam membangun kunci-kunci kemakmuran itu pertama, jangan sampai dunia itu melupakan kita dari pada ingat kepada Allah. Dan kedua, harus dijalankan sesuai prinsip-prinsip syariah. Itu catatannya. Karena apa? Karena syariah itu sebenarnya kata aturan, pedoman hidup yang diberikan oleh Allah SWT.
Ada dua aturan Allah itu, satu namanya nizamul qauni, tata aturan alam.
Manusia harus ikut alam, kalau tidak itu pasti akan terjadi kerusakan. Kita tidak bisa, alam itu tidak ada pilihan untuk tidak mengikuti. Kalau kita terjun ke air kalau tidak pakai alat, kita pasti tenggelam. Kalau memegang api kita terbakar, itu aturan alamnya begitu. Dan tidak ada pilihan.
Yang kedua, namanya nizam tasryi’i, tata aturan syariah. Jadi, itu sebenarnya tata aturan syariah itu manual book, buku pedoman, untuk manusia di dunia ini, seperti ada produk-produk semua motor, mesin, apa itu, semua ada manual booknya. Dari siapa? Dari yang membuatnya. Manusia ini yang membuatnya Allah SWT. Maka, manual book-nya juga dari Allah SWT. Itulah namanya syariah itu.
Makanya, kita harus sesuai. Hanya memang di dalam berbeda nizam qauni itu tidak ada pilihan, tapi nizam tasyri’i boleh pilih menjalankan atau tidak menjalankan, up to
you, tergantung kamu, tergantung kitta semua,. Mau menjalankan, tapi kalau tidak menjalankan tanggung akibatnya.
Pemerintah sendiri memang mendorong untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah, bahkan ketuanya Presiden, namanya Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS). Wakil ketuanya Wakil Presiden, merangkap [Ketua] Harian, sekretarisnya Menteri Keuangan. Ada empat fokus yang kita kembangkan, pertama itu, industri halal, karena kita menganggap industri halal ini potensinya besar, pasarnya besar. Tapi selama ini kita hanya menjadi konsumen terbesar di dunia, bukan produsen. Jadi, produsennya justru ada negara-negara nonmuslim, Brasil, Australia, bahkan juga Cina, Korea. Oleh karena itu, kita, Presiden sudah mencanangkan 2024 Indonesia harus menjadi produsen halal terbesar di dunia.
Yang kedua, adalah industri keuangan. Oleh karena itu, kita benahi keuangan syariah, termasuk kita sudah me-merger tiga bank syariah himbara, mengembangkan juga kemudian lembaga-lembaga keuangan sampai ke tingkat yang mikro. Ada yang ultramikro itu bank wakaf mikro, ada baitul mal watamwil, ada koperasi syariah.
Yang ketiga itu, dana sosial Islam, zakat dan wakaf itu potensinya besar sekali. Zakat itu per tahun 370 triliun potensinya. Tapi baru 70-an triliun yang tergali, itupun yang resmi pemerintah baru 10 triliun, yang 60 triliun itu langsung masyarakat, para pemberi zakat langsung kepada penerima zakat. Jadi, kalau itu potensinya besar itu saya kira bisa menghilangkan kemiskinan. Yang kedua, wakaf.
Wakaf uang saja, belum wakaf yang lain itu 180 triliun per tahun. Dan wakaf itu tidak dibagikan, tapi terus akumulasi, dikembangkan. Jadi, dia akan menjadi dana sangat besar sekali kalau terus kita kembangkan, kita investasikan hasilnya yang diberikan kepada masyarakat. Itu adalah dana umat yang sangat besar, sekarang belum tergali. Ingin kita gali itu menjadi potensi dana abadi umat yang sangat besar.
Itu dua potensi namanya dana sosial masyarakat.
Nah, yang keempatnya adalah usaha, bisnis dan para pengusaha syariah. Ini yang kita ingin kembangkan. Karena apa? Karena semua instrumen yang ada itu tidak mungkin bisa termanfaatkan secara optimal manakala tidak ada pengusaha.
Kuncinya itu pengusaha. Ruhnya itu ada di pengusaha. Jadi, saya sering mengumpamakan semua infrastruktur yang ada, itu ibarat mobil. Isinya adalah penumpangnya itu adalah pengusaha, jadi kalau tidak ada pengusahanya, infrastrukturnya tidak akan ada isinya, bank syariah, asuransi, pasar modal tidak akan ada kalau tidak ada pengusaha.
Itulah sebabnya maka menurut saya, HIPMI memiliki peran strategis untuk menciptakan, menginkubasi pengusaha-pengusaha syariah di berbagai daerah ini.
Itu adalah kunci, sekaligus juga adalah memperbanyak jumlah pengusaha nasional yang tadi disampaikan oleh ketua umum. Pengusaha nasional yang syariah itu akan
kita perbesar. Saya minta ada inkubasi-inkubasi dimunculkan. Ada tiga program yang ingin kita lakukan, pertama , menginkubasi, menyemai yang belum ada.
Yang kedua, membesarkan pengusaha-pengusaha yang sudah eksis, supaya tidak menjadi pengusaha yang stunting. Jadi, pengusaha stunting itu pengusaha yang tidak gede-gede gitu, kerdil. Banyak pengusaha stunting kita ini, supaya didorong. Dan pemerintah menjadikan penanggulangan stunting itu program prioritas, bukan hanya pertumbuhan anak, pengusaha juga jangan jadi stunting.
Terus kembangkan.
Nah, yang ketiga itu menghijrahkan. Migrasi dari konvensional ke syariah.
Jadi, saya kira dengan demikian, dan itu saya kira tugas HIPMI itu. Jadi, ini yang akan menentukan kembali betul sekali adalah pengusaha. Itu kunci utamanya itu.
Akhir kata, pemahaman akan hal tersebut hendaknya semakin menumbuhkan semangat Saudara-Saudara sekalian untuk bergerak di bidang usaha atau bisnis syariah, maupun bidang-bidang lainnya. Dan dengan demikian, ekonomi dan keuangan syariah akan terus berkembang tidak hanya menjadi sebuah lentera tetapi akan menyala lebih besar menjadi obor penerang perekonomian nasional.
Bukan hanya lentera, tapi obor besar untuk penerang perekonomian nasional.
Akhirnya, dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, HIPMI Sharia Conference 2022 secara resmi saya nyatakan dibuka.
Terima kasih atas perhatiannya dan selamat mengikuti konferensi. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan inayah-Nya, pertolongannya, dan juga meridai semua upaya yang kita lakukan. Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
***