• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUKUM SUMBER DAYA ALAM diatur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HUKUM SUMBER DAYA ALAM diatur"

Copied!
78
0
0

Teks penuh

(1)

HUKUM

SUMBER DAYA ALAM

Diterbitkan Oleh

R.A.De.Rozarie

(Anggota Ikatan Penerbit Indonesia)

(2)

Hukum Sumber Daya Alam © Juli 2014

Eklektikus: Dr. Kadarsyah, Drs., M.H. Editor: Dr. Fajar Sugianto, S.H., M.H.

Master Desain Tata Letak: Krisna Budi Restanto

Angka Buku Standar Internasional: 9786021176122

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Katalog Dalam Terbitan

Sebagian atau seluruh isi buku ini dilarang digunakan atau

direproduksi dengan tujuan komersial dalam bentuk apapun

tanpa izin tertulis dari R.A.De.Rozarie kecuali dalam hal

penukilan untuk keperluan artikel atau karangan ilmiah dengan

menyebutkan judul dan penerbit buku ini secara lengkap

sebagai sumber referensi.

Terima kasih

(3)

PRAKATA

Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara yang memiliki sumber daya alam melimpah tentu saja wajib menjaganya dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Berawal dari kegalauan tersebut, saya ingin menunjukkan eksistensi diri dalam

karya ilmiah berjudul “Hukum Sumber Daya Alam”. Di dalam karya

ilmiah ini, menyajikan konstelasi pemikiran yang dapat digunakan dalam menyelesaikan pelbagai permasalahan terkait sumber daya alam.

Saya berharap karya ilmiah ini bagai ex caelis oblatus.

Surabaya, Juni 2014

(4)

SENARAI ISI

BAB I

PENDAHULUAN 1

BAB II

KAJIAN HUKUM TENTANG PENGELOLAAN SUMBER

DAYA ALAM 12

BAB III

PENGUASAAN NEGARA TERHADAP SUMBER DAYA

ALAM 31

BAB IV

PENYELESAIAN KONFLIK PENGELOLAAN SUMBER

DAYA ALAM 47

BAB V

PERAN KELEMBAGAAN DALAM PENGELOLAAN

SUMBER DAYA ALAM 56

BAB VI

KAJIAN HUKUM DAN KEBIJAKAN PENGELOLAAN

KAWASAN KONSERVASI 60

(5)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Pengantar

Sumber daya alam merupakan karunia dari Tuhan Yang Maha Esa yang dianugerahkan kepada bangsa Indonesia sebagai kekayaan yang tak ternilai harganya. Oleh karena itu sumber daya alam wajib dikelolah secara bijaksana agar dapat dimanfaatkan secara berdaya guna, berhasil guna dan berkelanjutan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, baik generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Ketersediaan sumber daya alam baik hayati maupun non-hayati sangat terbatas, oleh karena itu pemanfaatannya baik sebagai modal alam maupun komoditas harus dilakukan secara bijaksana sesuai dengan karakteristiknya.

Sejalan dengan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menentukan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, maka pengelolaan sumber daya alam harus berorientasi kepada konservasi sumber daya alam (natural resource oriented) untuk menjamin kelestarian dan keberlanjutan fungsi sumber daya alam, dengan menggunakan pendekatan yang bercorak komprehensif dan terpadu.

(6)

hukum yang muncul dan melingkupi sumber daya alam di Indonesia.

1.2. Istilah Dan Pengertian

Istilah Sumber Daya Alam sendiri secara yuridis dapat ditemukan di Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor IV/MPR RI/1999 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara Tahun 1999-2004, khususnya Bab IV Arah Kebijakan Huruf H Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup angka 4, yang

menyatakan “Mendayagunakan sumber daya alam untuk sebesar -besarnya kemakmuran rakyat dengan memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup, pembangunan yang berkelanjutan, kepentingan ekonomi dan budaya masyarakat lokal, serta penataan ruang, yang pengusahaannya diatur dengan

undang-undang”.

Demikian juga pada ketentuan Ketetapan Majelis

Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam,

khususnya Pasal 6 yang menyatakan “Menugaskan kepada Dewan

Perwakilan Rakyat bersama Presiden Republik Indonesia untuk segera mengatur lebih lanjut pelaksanaan pembaruan agraria dan pengelolaan sumber daya alam serta mencabut, mengubah dan/atau mengganti semua undang-undang dan peraturan pelaksanaannya yang tidak sejalan dengan dengan Ketetapan ini”.

Pengertian sumber daya alam sendiri secara yuridis cukup sulit ditemukan, namun kita dapat meminjam pengertian sumber daya alam ini dari Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Sumber Daya Alam yang memberikan batasan/pengertian sebagai berikut

“Sumber daya alam adalah semua benda, daya, keadaan, fungsi

alam, dan makhluk hidup, yang merupakan hasil proses alamiah, baik hayati maupun non hayati, terbarukan maupun tidak

terbarukan”.

(7)

tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2001 (UU No. 35-2000), khususnya Lampiran Bab VIII Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Butir VIII.2.4.

Program Penataan Kelembagaan dan Penegakan Hukum Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Lingkungan Hidup,

yang menyatakan “Kegiatan pokok program ini dalam tahun 2001

diantaranya adalah Penyusunan undang-undang sumber daya alam berikut perangkat peraturannya”. Namun demikian penjelasan dan pengertian atas istilah Hukum Sumber Daya Alam pada UU No. 35-2000 tersebut juga belum memberikan pemahaman yang tuntas.

Penjelasan yang agak cukup gamblang dapat kita pahami dari

pendapat Siti Sundari Rangkuti, yang menyatakan “Pada

pengelolaan lingkungan kita berhadapan dengan hukum sebagai

sarana pemenuhan kepentingan”. Berdasarkan

kepentingan-kepentingan lingkungan yang bermacam-macam dapat dibedakan bagian-bagian hukum lingkungan:

Hukum Bencana (Ramperenrecht);

Hukum Kesehatan Lingkungan (Milieuhygienerecht);

Hukum tentang Sumber Daya Alam (Recht betreffende natuurlijke

rijkdommen) atau Hukum Konservasi (Natural Resources Law);

Hukum tentang Pembagian Pemakaian Ruang (Recht betreffende de

verdeling van het ruimtegebruik) atau Hukum Tata Ruang;

Hukum Perlindungan Lingkungan (Milieu beschermingsrecht)”. Dari penjelasan itu tampak bahwa sebetulnya Hukum Sumber Daya Alam merupakan bagian dari Hukum Lingkungan. Menurut Rangkuti, Hukum Lingkungan menyangkut penetapan nilai-nilai

(waardenbeoordelen), yaitu nilai yang sedang berlaku dan

nilai-nilai yang diharapkan diberlakukan di masa mendatang serta dapat

disebut “hukum yang mengatur tatanan lingkungan hidup”.

Dengan demikian Hukum Lingkungan adalah hukum yang mengatur hubungan timbal balik antara manusia dengan mahluk hidup lainnya yang apabila dilanggar dapat dikenakan sanksi.

(8)

dalam hal soal sumber daya alam, yang apabila dilanggar dapat dikenakan sanksi.

1.3. Bidang Sumber Daya Alam Dan Kelembagaan Pengelolaannya Bidang-bidang yang terkait dan melingkupi persoalan sumber daya alam di Indonesia antara lain adalah:

Q Bidang Agraria yang telah diatur oleh Undang-Undang Republik

Indonesia Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UU No. 5-1960);

Q Bidang Pertambangan yang telah diatur oleh Undang-Undang

Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1967 tentang Pertambangan (UU No. 11-1967);

Q Bidang Pengairan yang telah diatur oleh Undang-Undang

Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (UU No. 7-2004);

Q Bidang Perikanan yang telah diatur oleh Undang-Undang

Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (UU No. 31-2004);

Q Bidang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya yang

telah diatur oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya (UU No. 5-1990);

Q Bidang Kehutanan yang telah diatur oleh Undang-Undang

Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (UU No. 41-1999).

Masing-masing bidang itu secara kelembagaan dikelolah oleh lembaga-lembaga sektoral yang berada di lingkup departemen yang menanganinya diantaranya adalah Departemen Dalam Negeri melalui Badan Pertanahan; Departemen Pertambangan dan Energi; Departemen Pekerjaan Umum; Departemen Perikanan dan Kelautan; dan Departemen Kehutanan.

(9)

Hal ini sebagaimana amanat yang diatur di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU No. 23-1997) Pasal 8 hingga Pasal 11. (Kenyataannya sampai hari ini persoalan sumber daya alam masih secara sektoral, oleh karena itu kemudian sekarang sedang diupayakan bahwa sumber daya alam dikelolah secara terpadu dan diatur tidak lagi secara sektoral. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sedang menggodok undang-undang pengelolaan sumber daya alam yang mengatur sumber daya alam secara terpadu).

1.4. Kondisi Faktual Sumber Daya Alam Di Indonesia

Sumber daya alam selain dapat dikategorikan dalam bentuk modal alam (natural resources stock) seperti daerah aliran sungai, danau, kawasan lindung, pesisir dan lain-lain. Juga dalam bentuk faktor produksi atau komoditas seperti kayu, rotan, air, mineral, ikan, dan lain-lain. Upaya pelestarian kedua kategori sumber daya alam tersebut sangat ditentukan oleh daya dukungnya, karena memiliki keterbatasan untuk menghasilkan komoditas secara berkelanjutan. Selain itu, sumber daya alam dapat dikategorisasi menjadi sumber daya alam yang terbarukan dan tidak terbarukan, sehingga pemanfaatan sumber daya alam perlu ada perlakuan yang berbeda sesuai dengan karakteristiknya.

Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Di sektor kelautan dan perikanan, total garis pantai mencapai 81 ribu km. Total perairan darat seluas 5.500.000 km persegi, sedangkan total perairan laut seluas 5.800.000 km persegi. Potensi maksimum perikanan laut sebesar 6.700.000 sampai 7.700.000 metrik ton sedangkan untuk perikanan darat sebesar 3.600.000 metrik ton dan baru dapat dimanfaatkan sebesar 30%. Terumbu karang di Indonesia mengandung lebih dari 70 (tujuh puluh) genus dan merupakan salah satu negara yang mempunyai keragaman karang

(coral) paling tinggi di dunia.

(10)

kurang dari 1.000.000 ton per tahun, pada akhir tahun 1990-an telah mencapai kurang lebih 80.000.000 ton per tahun. Produksi pertambangan yang lain seperti emas, tembaga, dan nikel juga meningkat dengan tajam. Dengan demikian, pertumbuhan produksi di bidang pertambangan merupakan sektor yang tertinggi dari seluruh industri primer dalam lima tahun terakhir.

Kegiatan pertambangan yang dilakukan secara besar-besaran telah mengubah bentang alam yang selain merusak tanah juga menghilangkan vegetasi yang berada diatasnya. Lahan-lahan bekas pertambangan membentuk kubangan-kubangan raksasa, sehingga hamparan tanah menjadi gersang dan bersifat asam akibat limbah tailing dan batuan limbah yang dihasilkan dari kegiatan pertambangan. Dalam kurun waktu tiga dekade sejarah pertambangan banyak diwarnai konflik dengan masyarakat lokal karena ketidakpuasan unsur-unsur masyarakat di daerah. Salah satu penyebabnya adalah sistem perijinan pertambangan yang dikelolah secara tersentralisasi, sehingga menciptakan ketidakadilan bagi masyarakat adat/lokal. Manajemen pertambangan yang sentralistis juga menimbulkan benturan kepentingan antara pertambangan dengan sektor lain. Wilayah pertambangan yang diberikan kepada para investor melalui sistem kontrak karya sebagian besar terletak dalam kawasan hutan lindung atau bahkan dalam kawasan taman nasional, sehingga menimbulkan kerusakan kawasan hutan dan taman nasional.

Dalam kondisi krisis, pemerintah mengharapkan ekspor pertambangan di pasar global akan menambah pendapatan negara dan menstabilkan nilai tukar asing serta mengontrol defisit. Namun dari pengelolaan pertambangan di Indonesia saat ini, akan sukar untuk mengandalkan industri pertambangan yang eksis saat ini. Peningkatan pendapatan negara hanya akan terjadi jika industri yang ada saat ini meningkatkan produksi atau profit. Artinya, akan terjadi berbagai implikasi yang terkait dengan lingkungan.

Peningkatan aktivitas pertambangan tentunya akan

(11)

pengaturan untuk pertambangan skala kecil ini akan mempercepat kerusakan lingkungan. Selain itu juga dengan adanya pemotongan biaya di setiap departemen akan berimplikasi pada pengawasan aktivitas pertambangan serta penegakan hukum yang mengabaikan aspek lingkungan.

Untuk sumber daya hutan, hutan tropis Indonesia sejak tahun 1967 telah dieksploitasi untuk meningkatkan pendapatan dan menghasilkan devisa negara, sehingga laju kerusakan hutan di Indonesia mencapai 1.800.000 ha per tahunnya. Kawasan hutan yang sudah ditebang oleh para pemegang HPH mengalami kerusakan mencapai 55% atau hampir mencapai 23.000.000 ha.

Selain itu, kerusakan hutan juga terjadi di kawasan hutan konservasi, sehingga Indonesia yang dikenal sebagai negara yang memiliki keanekaragaman hayati terkaya di dunia, yaitu 10.000 jenis tumbuh-tumbuhan, 1.500 jenis burung, 500 jenis mamalia, 21 jenis reptil, 65 jenis ikan air tawar, pada satu dekade terakhir ini terancam semakin punah. Kebakaran hutan tahun 1997-1998 akibat pembukaan lahan (konversi hutan) untuk perkebunan besar kelapa sawit dengan cara bakar, mencapai hampir 5 ha luas hutan dengan kerugian ekonomi sebesar US$ 8 milyar.

(12)

kehutanan, dimana US$ 2.7 milyar masuk ke dalam kelas non

performing.

Di sektor perikanan, hampir 70% terumbu karang mengalami rusak berat akibat endapan erosi, pengambilan batu karang, penangkapan ikan dengan menggunakan bom atau racun, dan pencemaran laut oleh limbah industri. Dari total hutan bakau seluas 3.000.000 ha, hanya terdapat 36% yang hidup dalam kondisi baik. Sedangkan sisanya telah mengalami kerusakan yang serius akibat penebangan untuk kayu bakar dan telah dikonversi menjadi tambak.

Di bawah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (UU No. 22-1999), sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (UU No. 23-2014), Menteri Kehutanan dilanjutkan kewenangannya untuk mengelolah seluruh kawasan lindung seperti taman nasional, cagar alam, suaka margasatwa dan kawasan buru. Pemerintah daerah dilibatkan dalam alokasi dan pengelolaan kawasan hutan lainnya, seperti daerah resapan air dan perlindungan hutan, hutan produksi dan kawasan lindung terbatas untuk konservasi, seperi taman hutan raya dan taman wisata.

Banyak kawasan lindung mencakup wilayah yang sangat luas, seperti dikemukakan oleh T N Lorentz luasnya 2.500.000 ha, hampir 60% mencakup wilayah administrasi satu kabupaten. Dengan adanya desentralisasi, maka tanggung jawab pemeliharaan kawasan lindung tersebut ada pada pemerintah daerah. Persoalan di pemerintah daerah adalah menambah anggaran bagi biaya operasional kawasan tersebut.

Kegiatan pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam yang dilaksanakan sejauh ini belum didasarkan pada prinsip keadilan, keberlanjutan dan demokrasi, karena lebih diorientasikan

untuk mengejar pertumbuhan ekonomi sehingga kurang

memperhatikan kaidah-kaidah keadilan, pelestarian, konservasi, dan keberlanjutan fungsi sumber daya alam.

(13)

dilakukan JICA, ternyata 73% sumur penduduk telah terkontaminasi oleh zat kimia amoniak yang bersumber dari limbah industri.

Tingkat konsentrasi pencemaran kimia juga terhitung tinggi di sebagian besar sumur penduduk, karena sekitar 13% dari sumur-sumur penduduk yang diperiksa di wilayah Jakarta Selatan mengandung zat kimia jenis merkuri, yang berasal dari bakteri coli dan amoniak dari limbah tinja, organo chloride dan organo phospor yang berasal dari pupuk kimia, detergen, pestisida, limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) dari industri.

Kondisi lingkungan seperti ini juga menyebabkan sebagian besar air sungai di Pulau Jawa menjadi tidak layak lagi diproses dan diproduksi menjadi air minum. Hasil pemantauan BAPEDAL terhadap kualitas air sungai memperlihatkan sebanyak 25-50% dari polutan yang mencemari air sungai ternyata berasal dari industri-industri yang membuang limbahnya ke sungai. Setiap tahun diperkirakan lebih dari 2.200.000 ton limbah B3 telah dibuang ke sungai-sungai di wilayah Jakarta dan Jawa Barat.

Sampai satu dekade ke depan, perekonomian Indonesia masih akan tergantung pada sektor sumber daya alam, seperti hutan, tambang, perikanan, yang tentunya akan menjadi peluang maupun risiko. Dalam situasi krisis ekonomi dan ketidakpastian politik serta banyaknya pelanggaran hukum, risiko yang mungkin terjadi dengan adanya desentralisasi di bidang sumber daya alam akan mempercepat penurunan kualitas lingkungan.

Dengan adanya kewenangan baru yang diberikan kepada pemerintah daerah maka kecenderungannya pemerintah daerah mengabaikan atau akan lebih intensif meningkatkan pendapatan asli daerah tanpa melihat keseimbangan dan keamanan lingkungan. Kurangnya kapasitas teknis pengelolaan serta ketidakberpihakan pada kebutuhan masyarakat lokal akan akses sumber daya alam, kemungkinan besar akan mengakibatkan hilangnya sumber daya alam dan kerusakan dalam jangka panjang dan mungkin juga tidak dapat dipulihkan bagi kebutuhan dasar akan sumber daya alam daerah tersebut.

(14)

juga karena pendekatan yang digunakan bersifat sektoral. Kebijakan Pemerintah yang bercorak sentralistik dan pendekatan yang bersifat sektoral dalam pengelolaan sumber daya alam pada pokoknya memiliki kelemahan-kelemahan mendasar sebagai berikut:

1. Orientasi produksi komoditas bersifat spesifik di setiap sektor (misalnya kayu dalam kehutanan, padi dalam pertanian). Pola ini tidak menghargai peran sumber daya alam sebagai fungsi publik misalnya hutan yang menjadi bagian penentuan kualitas dan keberlanjutan daerah aliran sungai. Semakin rendah keragaman pangan menyebabkan semakin rendah keamanan pangan. Secara inheren, pendekatan sektoral merupakan pendekatan reduksionis sehingga memiliki cacat bawaan karena ukuran kinerja pembangunan dirumuskan secara parsial. Dalam kondisi yang demikian, seandainya setiap sektor berhasil pun berbagai kebutuhan publik yang diperlukan seperti aspek lingkungan hidup, kebutuhan antar generasi, dan lain-lain tidak akan mampu terpenuhi.

2. Perwujudan efisiensi ekonomi lebih menonjol daripada equity yang berakibat minimnya perhatian terhadap penyelesaian masalah-masalah tenurial, terjadinya kesenjangan penyediaan infrastruktur ekonomi antar wilayah dan antar desa kota, dan rendahnya perhatian terhadap berbagai dampak negatif pembangunan terhadap sumber daya alam dan lingkungan hidup.

3. Terdapat kecenderungan bahwa pelaksanaan otonomi daerah

merupakan replikasi dari pendekatan sektor di daerah dengan orientasi pada peningkatan pendapatan asli daerah. Di sisi lain, pemerintah pusat yang memegang fungsi-fungsi pengendalian dengan kriteria, standar, dan pedoman yang ditetapkan secara sentralistik akan kehilangan sifat komprehensif, apabila fungsi-fungsi pengendalian tersebut didasarkan pada kepentingan masing-masing sektor.

4. Pola ini makin diperburuk oleh kondisi di mana tidak terdapat

departemen yang mengkoordinasikan pemanfaatan dan

pengelolaan sumber daya alam, sehingga setiap departemen berjalan sesuai dengan visi sektoralnya masing-masing tanpa

memperhatikan dan memperhitungkan pelestarian dan

(15)

5. Kebijakan hukum pengelolaan sumber daya alam yang bercorak sentralistik seperti yang digunakan sampai saat ini selain tidak memberikan perlindungan bagi kelestarian dan keberlanjutan fungsi sumber daya alam dan lingkungan hidup, juga kurang memberi ruang bagi akses, kepentingan, dan hak-hak masyarakat adat atas penguasaan, pemanfaatan, dan pengelolaan sumber daya alam.

(16)

BAB II

KAJIAN HUKUM TENTANG

PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM

2.1. Peraturan Perundang-Undangan Sumber Daya Alam

Sebagaimana yang telah disinggung di atas, undang-undang yang berkaitan dengan sumber daya alam pada pokoknya adalah UU No. 5-1960; UU No. 11-1967; UU No. 7-2004; UU No. 31-2004; UU No. 5-1990; dan UU No. 41-1999.

Pada bagian ini berbagai undang-undang tersebut dikaji

untuk melihat bagaimana pengaturan pada aspek-aspek

keberlanjutan, perlindungan pada masyarakat adat, partisipasi publik, daya penegakan hukum, hubungan negara dengan sumber daya alam, sinkronisasi dengan perundang-undangan lain, penghormatan hak asasi manusia, desentralisasi, dan kelembagaan. 1. UU No. 5-1960

UU No. 5-1960 adalah produk hukum nasional pertama yang mengatur tentang sumber daya alam. UU No. 5-1960 mengartikan sumber daya alam (agraria) sebagai bumi, air, ruang angkasa dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya. Pasal 1 ayat (2)

menyatakan bahwa “seluruh bumi, air dan ruang angkasa termasuk

kekayaan alam yang terkandung di dalamya dalam wilayah Republik Indonesia, sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa adalah bumi, air dan ruang angkasa bangsa Indonesia dan merupakan kekayaan

nasional”.

(17)

bahwa hak-hak atas tanah memberikan wewenang untuk mempergunakan tanah, tubuh bumi, air serta ruang yang ada diatasnya sekedar diperlukan untuk kepentingan yang langsung berhubungan dengan penggunaan tanah dan dalam batas-batas yang diatur oleh undang-undang.

UU No. 5-1960 lebih banyak mengatur tentang dasar-dasar penguasaan sumber daya alam.Hanya ada satu pasal yang mengatur tentang pengalokasian pemanfaatan sumber daya alam. Pasal 14 yang menjadi dasar bagi perencanaan pengalokasian dan pemanfaatan sumber daya alam menyatakan bahwa perencanaan pemanfataan sumber daya alam dilakukan untuk keperluan negara, peribadatan, pusat kehidupan sosial budaya dan kesejahteraan masyarakat, pengembangan produksi pertanian, peternakan, perikanan serta pengembangan industri, transmigrasi, dan pertambangan. Sementara itu, berkaitan dengan kelestarian pengelolaan sumber daya alam, UU No. 5-1960 hanya menyebutkan

di Pasal 15 bahwa “memelihara tanah, termasuk menambah

kesuburannya serta mencegah kerusakannya adalah kewajiban tiap-tiap orang, badan hukum, atau instansi yang mempunyai hubungan hukum dengan tanah itu, dengan memperhatikan pihak yang

ekonominya lemah.”

Namun demikian, selama tiga dekade terakhir ini kebijakan pertanahan selama pemerintahan orde baru yang bercorak sentralistik telah menimbulkan dampak bagi sumber daya alam, terutama degradasi kualitas tanah pertanian yang banyak

dialihfungsikan menjadi areal perumahan mewah (real estate),

kawasan industri, dan bahkan menjadi komoditi untuk investasi dan spekulasi para pemilik modal yang mengakibatkan tanah ditelantarkan dalam jangka waktu yang tidak tertentu. Implikasi sosial-budaya yang ditimbulkan adalah terjadinya berbagai konflik vertikal maupun horisontal di daerah antara masyarakat dengan pemerintah atau masyarakat dengan pemodal besar, karena terjadi penggusuran atau pengabaian atas hak-hak masyarakat adat/lokal dalam penguasaan dan pemanfaatan sumber daya alam.

(18)

ruang angkasa ialah hukum adat, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan negara, yang berdasarkan pada persatuan bangsa, dengan sosialisme Indonesia serta dengan peraturan-peraturan yang tercantum dalam UU No. 5-1960 dan dengan peraturan perundang-undangan lainnya, serta segala sesuatu yang mengindahkan unsur-unsur yang bersandarkan pada hukum agama.

Pilihan untuk menjadikan hukum adat sebagai dasar hukum agraria nasional dilakukan mengingat UU No. 5-1960 dimaksudkan sebagai undang-undang yang bersumber dari kesadaran hukum rakyat banyak. Dalam kenyataannya bagian terbesar dari rakyat Indonesia tunduk pada hukum adat. Namun, UU No. 5-1960 memandang bahwa hukum adat perlu disempurnakan karena dalam perkembangannya tidak terlepas dari pengaruh kolonial yang kapitalistik dan masyarakat swapraja yang feodal. Penyempurnaan hukum adat dilakukan melalui penyesuaian dengan kepentingan masyarakat dalam konteks negara modern dan hubungan negara dengan dunia internasional serta sosialisme Indonesia (penjelasan umum III angka 1).

Dalam kenyataannya tanpa kriteria yang jelas, kepentingan bangsa dan negara acapkali ditafsirkan sama dengan kepentingan beberapa kelompok orang yang sedang memegang kekuasaan (pemerintah). Dengan mengatasnamakan kepentingan bangsa dan negara maka hak-hak rakyat atas sumber daya alam yang bersumber dari hukum adat sering diabaikan.

Hak-hak rakyat yang dalam bahasa UU No. 5-1960 dikatakan sebagai hak ulayat dan hak serupa itu diberikan dalam konteks kesesuaiannya dengan kepentingan nasional dan kepentingan negara yang tidak terdefinisikan secara jelas serta kesesuaiannya dengan peraturan perundang-undangan lain yang pada kenyataannya justru mengingkari hak-hak masyarakat adat.

(19)

hak guna bangunan, hak guna usaha, hak pakai, hak sewa, dan sebagainya.

UU No. 5-1960 menganut pandangan bahwa urusan agraria pada dasarnya adalah urusan pemerintah pusat. UU No. 5-1960 tidak mengatur secara rinci tentang kewenangan dan peran pemerintah daerah. Kewenangan pemerintah daerah adalah pelaksanaan dari tugas pembantuan.

Pemerintah, atau lebih khusus lagi pemerintah pusat menempati peran strategis dalam UU No. 5-1960. Dengan demikian dapat dipahami jika partisipasi publik tidak mendapat ruang dalam undang-undang ini.

Penegakan hukum dalam UU No. 5-1960 utamanya diarahkan pada pelanggaran kewajiban memelihara tanah dari para pemegang hak atas tanah, pendaftaran tanah, pelanggaran berkaitan dengan hak milik adat, penggunaan tanah bukan oleh pemilik, dan pelanggaran ketentuan peralihan hak atas tanah. UU No. 5-1960 tidak memberikan penjelasan mengapa penegakan hukum hanya diberikan pada hal-hal tersebut, tetapi tidak pada hal lain, seperti halnya pelanggaran dalam prosedur pencabutan hak atas tanah atau tidak terpenuhinya berbagai kewajiban pemerintah yang ditetapkan dalam UU No. 5-1960.

2. UU No. 11-1967

Pemahaman tentang sumber daya alam dalam UU No. 11-1967 bersifat reduksionis. Sumber daya alam lebih banyak dilihat sebagai komoditi. UU No. 11-1967 mengartikan sumber daya tambang sebagai bahan galian (unsur kimia, mineral, biji dan batuan yang merupakan endapan alam) yang merupakan kekayaan nasional yang dikuasai dan dipergunakan negara untuk kemakmuran rakyat. Pada saat ini UU No. 11-1967 telah diganti dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral Batu Bara (UU No. 4-2009).

Selain pandangan reduksionis tentang sumber daya alam, UU No. 11-1967 lebih menitikberatkan perhatian pada eksploitasi

(use-oriented) dari pada kelestarian sumber daya tambang.

(20)

Pengaturan tersebut bahkan hanya berlaku pada kegiatan pasca

penambangan, dengan menyatakan bahwa “apabila selesai

melakukan penambangan bahan galian pada suatu tempat pekerjaan, pemegang kuasa pertambangan yang bersangkutan diwajibkan mengembalikan tanah sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan

bahaya penyakit atau bahaya lain bagi masyarakat sekitarnya”. Dengan ketentuan semacam itu maka undang-undang ini kurang memberi perhatian pada upaya konservasi sumber daya alam dan lingkungannya.

Pemanfaatan sumber daya tambang diarahkan untuk meningkatkan pendapatan negara yang dilakukan dengan mengundang investor besar. Dengan demikian undang-undang ini sarat dengan orientasi ekonomi dan kapital (economic and capital oriented).

UU No. 4-2009 ini juga bersifat sentralistik. Penguasan, pemanfaatan, dan pengusahaan serta perijinan usaha pertambangan umum ditetapkan oleh pemerintah pusat (Menteri Pertambangan). Pemerintah daerah hanya berhak melaksanakan penguasaan negara dan mengatur usaha pertambangan untuk bahan galian golongan C seperti pasir, kapur, belerang, dan lain-lain yang kurang bernilai ekonomis tinggi. Sedangkan, bahan galian tambang golongan A dan B seperti emas, tembaga, nikel, minyak dan gas bumi, batu bara, timah, bauksit, dan lain-lain menjadi bagian dari kewenangan pemerintah pusat.

Dengan semangat sentralistik itu pula maka tidak ada ruang bagi pengaturan mengenai partisipasi publik dalam proses pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan pengelolaan sumber daya tambang. Kontrol publikpun dalam pengelolaan sumber daya tambang sejak awal tidak diatur dalam undang-undang ini. Masyarakat terutama yang berdiam di wilayah yang akan dilakukan kegiatan pertambangan tidak pernah diberi informasi dan dimintakan persetujuan bagi rencana pemberian ijin pertambangan. Hal ini mengabaikan satu prinsip penting dalam pengelolaan sumber daya alam yang dikenal sebagai prior informed-consent principle.

(21)

pertambangan dipastikan sebagai masyarakat yang terikat oleh hukum adat. Dalam kenyataannya, tidak semua rakyat setempat adalah masyarakat adat, dan tidak semua pertambangan rakyat dilakukan oleh masyarakat adat. Membatasi hak masyarakat adat hanya pada pengelolaan tambang skala kecil (pertambangan rakyat) merupakan wujud sikap diskriminatif pada masyarakat adat dalam penguasaan dan pemanfaatan sumber daya tambang.

Implikasi pengaturan pengelolaan sumber daya tambang yang bercorak sentralistik, sektoral, dan diskriminatif secara nyata menimbulkan dampak negatif bagi ekologi dan lingkungan hidup. Operasi dari usaha pertambangan menimbulkan kerusakan tanah, air, dan degradasi sumber daya alam hayati. Pasal 30 yang mengatur kewajiban pengusaha untuk melakukan reklamasi dan rehabilitasi ternyata bukan dimaksudkan sebagai upaya untuk konservasi, reklamasi, rehabilitasi, atau mengembalikan fungsi lingkungan hidup, tetapi hanya sekadar sebagai upaya untuk mencegah kemungkinan timbulnya penyakit.

3. UU No. 7-2004

Air yang dimaksudkan dalam UU No. 7-2004 ini adalah semua air yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang berada di darat. Meski tergolong relatif baru semangat yang ada di dalam UU No. 7-2004 ini adalah penguasaan air beserta sumber-sumbernya termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamya yang masih berpusat pada negara, semangat ini kemudian mendorong munculnya semangat privatisasi air yang lebih sekedar menguntungkan pihak swasta. Semangat privatisasi ini lebih melihat air sebagai komoditas yang jelas-jelas bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, hak-hak masyarakat termasuk didalamnya masyarakat adat tidak diakomodatif.

(22)

atas prinsip oronomi dan desentralisasi sebagaimana diatur dalam UU No. 31-2004.

4. UU No. 31-2004

UU No. 31-2004 ini terdiri dari 17 bab dan 110 pasal yang pada intinya mengatur dan meberikan landasan hukum bagi pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya perikanan secara optimal dan berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu aspek yang diatur dalam UU No. 31-2004 ini adalah wilayah dan pengelolaan perikanan. Disebutkan bahwa wilayah pengelolaan perikanan mencakup perairan Indonesia, Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI), dan sungai, danau, waduk, dan genangan air lainnya yang dapat digunakan untuk kegiatan pembudidayaan ikan.Dilihat dari sisi ini, cakupan UU No. 31-2004 ini sudah cukup memayungi semua kegiatan perikanan yang ada sehingga semua kegiatan pengelolaan perikanan diatur oleh UU No. 31-2004 ini.

Selanjutnya juga disebutkan bahwa kegiatan pengelolaan perikanan selain diatur oleh peraturan perundang-undangan yang

ada juga diselenggarakan berdasarkan peraturan standar

internasional yang diterima secara umum. Ciri sumber daya perikanan adalah terbuka dan milik bersama serta bersifat migratif. Dan, oleh kerja sama internasional memegang peranan penting dan menentukan dalam pengelolaan sumber daya perikanan. Kerja sama internasional baik secara bilateral maupun multilateral yang bersifat mengikat maupun sukarela akan menjadi dominan dalam pengelolaan sumber daya perikanan di masa mendatang.

Dengan dicantumkannya pasal ini yang merupakan ketentuan baru yang sebelumnya tidak diatur dalam UU terdahulu maka UU No. 31-2004 ini telah mengakomodasi dengan baik masalah kerja sama internasional ini. Pasal ini merupakan ketentuan penting yang menjadi bukti kesiapan Indonesia dalam menghadapi berbagai kerja sama dan kompetisi internasional dalam pengelolaan sumber daya perikanan. Dengan demikian UU No. 31-2004 telah secara baik mengantisipasi berbagai kecenderungan yang berkembang dewasa ini dalam dunia perikanan.

(23)

masyarakat. Ketentuan ini diatur dalam Pasal 6 ayat (2). Ayat sebelumnya dalam Pasal 6 tersebut menyebutkan bahwa pengelolaan perikanan dalam wilayah Republik Indonesia dilakukan untuk tercapainya manfaat yang optimal dan berkelanjutan, serta terjaminnya kelestarian sumber daya ikan.

Dari pasal-pasal yang disebutkan tersebut tampak jelas bahwa konsepsi yang melatarbelakangi pengelolaan perikanan di Indonesia sebagaimana yang diatur dalam UU No. 31-2004 ini adalah memakai prinsip-prinsip dari sustainable development dalam arti yang sesungguhnya. Pada saat yang sama UU No. 31-2004 ini juga sangat berwawasan internasional dan berdimensi lokal. Dilihat dari sisi ini UU No. 31-2004 ini merupakan undang-undang yang sangat terbarui dan beorientasi jauh ke depan mengikuti perkembangan dan kecenderungan internasional yang ada.

UU No. 31-2004 juga mengatur ketentuan tentang usaha perikanan. Disebutkan bahwa usaha perikanan dilaksanakan dengan sistem bisnis perikanan yang meliputi kegiatan pra-produksi, produksi, pengolahan, dan pemasaran. Selanjutnya pasal-pasal lain dalam Bab Usaha Perikanan mengatur penyelenggaraan pembinaan dan pengaturan izin bagi para pelaku usaha perikanan. Satu hal yang menarik adalah bahwa UU No. 31-2004 tidak hanya mengatur aspek produksi tapi juga aspek pendukung lainnya seperti pengolahan dan pemasaran. Dengan demikian pembinaan terhadap usaha perikanan dilakukan secara bersama oleh instansi terkait.

Sebagaimana diketahui selama ini pembinaan terhadap aspek pengolahan dan pemasaran dilaksanakan oleh instansi yang bertanggung jawab di bidang perdagangan dan perindustrian yang terkadang kurang memiliki koordinasi dan keterkaitan dengan instansi yang bertanggung jawab di bidang pra-produksi dan produksi. Dengan adanya pengaturan ini maka diharapkan adanya koordinasi yang lebih baik sehingga pembinaan dan pengembangan usaha perikanan akan semakin tertata dengan baik dan menghasilkan sebuah industri yang kuat dan tangguh.

(24)

pemerintah untuk menyediakan skim kredit dan akses manajemen, penyelenggaraan pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan bagi nelayan dan pembudi daya ikan kecil. UU No. 31-2004 juga mengatur usaha kemitraan antara pengusaha perikanan dan

kelompok-kelompok nelayan kecil dalam suatu kerja sama yang

menguntungkan. Di sisi lain, nelayan-nelayan kecil pun diberikan akses yang sangat luas untuk menangkap dan mengelolah kegiatan perikanan di seluruh wilayah pengelolaan perikanan Indonesia.

Dilihat dari sisi ini tampak bahwa UU No. 31-2004 disusun

dengan semangat pemerataan yang kuat namun tanpa

mengorbankan pertumbuhan yang biasa didapat dari kegiatan ekonomi berskala besar. Aspek ini penting untuk dikedepankan agar pengalaman pahit dalam pengelolaan sumber daya hutan yang justru menimbulkan konflik-konflik sosial di masa lalu tidak terulang. Hal ini karena ketentuan dan peraturan yang ada tidak secara eksplisit

dan spesifik memberikan perhatian dan komitmen bagi

pemberdayaan masyarakat dan usaha berskala kecil. Dengan pengaturan sedemikian maka akan tercipta secara proporsional hak dan kewajiban berbagai pelaku usaha perikanan sehingga manfaat yang setara diperoleh para nelayan dan pembudidaya kecil maupun para pengusaha perikanan dari kegiatan pengelolaan sumber daya perikanan.

Selain dari aspek-aspek itu, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan (UU No. 45-2009) juga mengatur pengawasan dan ketentuan peradilan lainnya. Hal yang penting diatur dalam aspek ini adalah pembentukan pengadilan perikanan yang berada di lingkungan peradilan umum. Dalam aspek ini juga diatur kegiatan penyidikan dalam perkara tindak pidana yang ada dalam kewenangan Penyidik Pegawai Negeri Sipil Perikanan, Perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut, dan Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, serta berbagai sanksi pidana bagi pihak yang melakukan pelanggaran terhadap Undang-Undang Perikanan ini.

Sebagaimana diketahui praktik illegal, unregulated, dan

unreported (IUU) atau pencurian ikan merupakan salah satu faktor

(25)

membawa kerugian banyak kepada negara, dan diperkirakan jumlah kerugian yang diakibatkan oleh IUU sebesar 2-4 milliar dolar AS per tahun. Berbagai upaya telah banyak dilakukan untuk memberantas kegiatan ini, namun karena legal means yang ada belum cukup kuat dalam mengatur dan menangani kegiatan ini maka penyelesaiannya berjalan sangat lamban dan bertele-tele.

Di samping itu, koordinasi antara instansi juga belum terjalin dengan baik dalam penanganan masalah ini. Adanya ketentuan yang mengatur masalah ini sebagaimana tercantum dalam UU No. 31-2004 baik yang menyangkut kewenangan instansi dalam penyidikan, pembentukan peradilan perikanan, dan sanksi hukum yang cukup berat maka kini diharapkan penyelesaian kasus-kasus pencurian ikan dapat ditangani lebih cepat dan tidak ada alasan lagi bagi aparat hukum untuk berlindung dibalik ketiadaan dan kekurangkuatan landasan hukum. Dengan demikian kita mengharapkan kegiatan IUU dapat ditekan seminimal mungkin dan ketersediaan sumber daya perikanan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar lagi bagi masyarakat dan pemerintah. Meski UU No. 31-2004 ini cukup akomodatif dan visioner, namun sayang bahwa pengaturannya masih bersifat sektoral.

5. UU No. 5-1990

Penegasan tentang sifat keutuhan dan kesalingterkaitan sumber daya alam tampak dalam UU No. 5-1990. UU No. 5-1990 ini mengartikan sumber daya alam hayati sebagai unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumber daya alam nabati (tumbuhan) dan sumber daya alam hewani (satwa) yang bersama dengan unsur non hayati di sekitarnya yang secara keseluruhan membentuk ekosistem. Unsur-unsur dalam sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada dasarnya saling tergantung antara satu dengan yang lain dan saling mempengaruhi sehingga kerusakan dan kepunahan salah satu unsur akan berakibat terganggunya ekosistem.

UU No. 5-1990 lebih banyak memusatkan perhatian pada pengaturan tentang kelestarian sumber daya alam. Konservasi

sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bertujuan

(26)

peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Konservasi sumber daya alam dilakukan dengan kegiatan

perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan

keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam dan ekosistemnya.

Pasal 4 UU No. 5-1990 menyebutkan bahwa konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban pemerintah serta masyarakat. Namun, bagian terbesar dari isi undang-undang berkaitan dengan dominasi peran pemerintah. Pengaturan tentang peran masyarakat diberikan dalam Bab IX Pasal 37. Peran serta rakyat dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya diarahkan dan digerakkan oleh pemerintah melalui berbagai kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna (Pasal 37 ayat (1)). Dengan pengertian demikian, maka peran serta yang dimaksud bukan partisipasi sejati dari rakyat

(genuine public participation) melainkan mobilisasi yang dilakukan

pemerintah pada rakyat.

Peran pemerintah sangat besar dalam kegiatan-kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Pemerintah menetapkan wilayah tertentu sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan; menetapkan pola dasar pembinaan wilayah perlindungan dan sistem penyangga kehidupan; menetapkan pengaturan cara pemanfaatan wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan; mengatur dan menertibkan penggunaan dan pengelolaan tanah dan hak pengusahaan di perairan yang terletak dalam wilayah perlindungan dan sistem penyangga kehidupan; menetapkan dan mengelolah kawasan suaka alam (cagar alam dan suaka margasatwa) dan pelestarian alam (taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam). Dengan besarnya peran pemerintah itu maka ruang bagi masyarakat adat melakukan kegiatan konservasi sumber daya alam hampir tidak ada. UU No. 5-1990 tidak menyebutkan sedikitpun pengaturan tentang masyarakat adat, meskipun masyarakat adat di berbagai tempat mempunyai pranata, pengetahuan dan pengalaman konservasi sumber daya alam.

(27)

pada sumber daya alam (penjelasan Pasal 16 ayat (1) dan Pasal 34 ayat (1)). Karena itulah maka hak masyarakat adat tidak mendapat tempat yang memadai. Undang-undang ini bahkan lebih memilih menyerahkan pengelolaan zona pemanfaatan taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam melalui pemberian hak pengusahaan kepada koperasi, badan usaha milik negara, perusahaan swasta dan perorangan.

Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dalam pandangan UU No. 5-1990 ini adalah urusan negara yang kemudian dilaksanakan oleh pemerintah pusat. Pemerintah daerah hanya dapat menjalankan urusan ini jika mendapat pendelegasian wewenang ataupun menjalankannya sebagai tugas pembantuan dari pemerintah pusat. Meskipun memberi porsi besar bagi pemerintah pusat, tidak ada penjelasan tentang unsur pemerintahan mana yang bertanggung jawab secara kelembagaan untuk menjalankan undang-undang ini. Karena itu tidak ditemukan kegiatan konservasi sumber daya alam

hayati yang terpadu, karena masing-masing lembaga

menginterpretasikan sendiri mengenai konservasi ini sesuai dengan dasar-dasar kebijakannya yang bersifat sektoral.

UU No. 5-1990 sarat mengatur hak negara tetapi tidak banyak memberikan pengaturan tentang hak rakyat, apalagi dalam konteks pengakuan hak asasi manusia. Pengaturan yang diberikan kepada rakyat semata-mata berkaitan dengan kewajiban dan larangan-larangan yang diancam dengan hukuman pidana.

6. UU No. 41-1999

UU No. 41-1999 mendefinisikan hutan sebagai kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang di dominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungan yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Sumber daya hutan dengan demikian tidak dilihat sebagai sekumpulan komoditi tetapi juga ekosistem yang unsur-unsurnya saling terkait.

Penyelenggaraan kehutanan disebutkan berasaskan pada manfaat dan lestari, kerakyatan, keadilan, kebersamaan, keterbukaan, dan keterpaduan. Asas manfaat dan lestari dimaksudkan agar setiap

pelaksanaan penyelenggaraan kehutanan memperhatikan

(28)

ekonomi. Pengejawantahan asas itu kemudian dilakukan dengan mengalokasikan kawasan hutan sesuai fungsinya menjadi hutan lindung, hutan produksi, dan hutan konservasi. Secara khusus diatur pula tentang perlindungan hutan dan konservasi alam. Pengaturan ini dimaksudkan untuk menjaga agar fungsi hutan tetap lestari. Oleh karena itu, UU No. 41-1999 ini merinci berbagai perbuatan yang dianggap memberi kontribusi pada kerusakan fungsi hutan,

menetapkan larangan-larangan serta mekanisme penegakan

hukumnya.

Negara yang dalam hal ini ditafsirkan sebagai pemerintah memegang peran penting dalam penguasaan dan pengelolaan sumber daya hutan. Pasal 4 menyebutkan bahwa semua hutan termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamya dikuasai oleh negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Penguasaan hutan oleh negara memberikan wewenang kepada pemerintah (pusat) untuk mengatur dan mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan; menetapkan status wilayah tertentu sebagai kawasan hutan; mengatur dan menetapkan hubungan-hubungan hukum antara orang dengan hutan serta perbuatan hukum mengenai kehutanan.

Pengurusan hutan meliputi kegiatan perencanaan kehutanan, pengelolaan hutan, penelitian dan pengembangan, pendidikan dan latihan, penyuluhan kehutanan serta pengawasan. Dengan demikian, pemerintah berfungsi sebagai pengatur, pengalokasi, pemberi izin, perencana, pengelola, peneliti, pendidik, penyuluh sekaligus pengawas.

Pereduksian negara menjadi pemerintah dalam konteks hak menguasai sumber daya hutan bertentangan dengan UU No. 5-1960. Hak menguasai negara menurut UU No. 5-1960 bisa dilimpahkan kepada daerah swatantra dan masyarakat hukum adat tertentu. Dengan peran yang besar dari pemerintah itu maka paradigma pengelolan sumber daya alam yang berpusat pada negara (state-based

forest management) tetap dipegang oleh undang-undang ini. Kalaupun

(29)

paradigma pengelolaan sumber daya alam oleh masyarakat

(community-based forest management) menjadikan masyarakat sebagai

pelaku utama dalam pengelolaan hutan, sedangkan pemerintah hanya berperan sebagai fasilitator dan administrator untuk mendukung proses tersebut.

Perwujudan lain dari paradigma pengelolaan hutan oleh negara dalam UU No. 41-1999 tampak jelas dalam pengaturan tentang masyarakat adat. Hal ini dimulai dari ketentuan yang tidak mengakui adanya hutan adat sebagai hutan berdasarkan statusnya.

UU No. 41-1999 hanya mengakui hutan negara dan hutan hak sebagai hutan berdasarkan statusnya. Sedangkan, hutan adat dinyatakan sebagai bagian dari hutan negara yang berada dalam wilayah dan dikelolah oleh masyarakat adat. Sehubungan dengan itu, hak-hak masyarakat adat atas sumber daya hutan diposisikan sebagai bagian dari hak negara. Hutan adat ditetapkan pemerintah sepanjang dalam kenyataannya masyarakat hukum adat masih ada dan diakui keberadaannya. Pengukuhan keberadaan dan hapusnya hak masyarakat adat ditetapkan dengan peraturan daerah yang disusun dengan mempertimbangkan hasil penelitian para pakar hukum adat, aspirasi masyarakat dan tokoh adat serta instansi terkait.

Ketentuan yang sifatnya birokratik dan sangat mengandalkan ilmu pengetahuan dan teknologi ini berpotensi mengingkari keberadaan masyarakat adat secara faktual, dan pada gilirannya

kemudian mengingkari hak masyarakat adat untuk

mengidentifikasikan dirinya sendiri (self-identification) dan hak menentukan kehidupannya sendiri (self-determination).

UU No. 41-1999 juga mengingkari hak asasi masyarakat adat untuk memiliki sumber daya alamya. Hak-hak masyarakat adat yang diakui hanyalah hak memanfaatkan sumber daya alam dan mengelolah dalam skala terbatas untuk keperluan hidup sehari-hari.

(30)

informasi kehutanan, memberikan informasi dalam pembangunan kehutanan serta melakukan pengawasan secara langsung atau tidak langsung. Selain itu, masyarakat juga berhak mengajukan gugatan perwakilan (class action) terhadap tindakan yang merusak hutan dan merugikan kehidupan masyarakat.

UU No. 41-1999 belum mampu sepenuhnya menerjemahkan gagasan hutan untuk kesejahteraan rakyat. Meskipun kata-kata rakyat atau masyarakat banyak muncul, namun esensi pengelolaan hutan oleh masyarakat belum terwujud. Selain peran besar yang dimiliki pemerintah (mayoritas isi UU No. 41-1999 mengatur pelaksanaan hak menguasai negara), pengaturan sistem pengelolaan hutanpun tidak mendukung sistem pengelolaan oleh masyarakat. Satuan pengelolaan hutan ditetapkan berdasarkan fungsi (produksi, lindung dan konservasi), bukan berdasarkan satuan wilayah sebagaimana dikenal masyarakat.

Kelembagaan pengelolaan hutan oleh masyarakat dianggap terwakili oleh lembaga semacam koperasi. Koperasi dipandang

sebagai satu-satunya pilihan bagi masyarakat untuk

mengembangkan perekonomiannya seperti dipersepsikan oleh pemerintah. Karena itu, pengaturan seperti ini secara nyata mengabaikan keberadaan institusi-institusi lokal atau kelembagaan adat yang hidup dan berkembang dalam masyarakat adat/lokal.

Undang-undang ini juga tidak bisa diharapkan untuk menyelesaikan banyak kasus-kasus konflik kehutanan terutama antara masyarakat adat/lokal dan antara masyarakat adat/lokal demegang konsesi kehutanan. Konflik-konflik tersebut pada umumnya bersumber dari penguasaan atas wilayah masyarakat adat/lokal yang di kemudian hari ditetapkan pemerintah sebagai kawasan hutan. Proses penetapan kawasan hutan secara sepihak dengan tidak melibatkan seluruh masyarakat, terutama masyarakat yang mempunyai hak historis dan kultural pada kawasan hutan, merupakan akar konflik kehutanan yang terjadi di berbagai daerah.

(31)

itu, pada bagian menimbang huruf c disebutkan bahwa pengurusan hutan harus menampung dinamika aspirasi dan peran serta masyarakat, adat dan budaya serta tata nilai masyarakat yang berdasarkan pada norma hukum nasional.

Ketidakpuasan masyarakat adat pada proses penetapan kawasan hutan yang acapkali berujung pada konflik adalah salah satu bentuk aspirasi masyarakat dan pertentangan antara norma hukum nasional dengan norma-norma hukum adat dan nilai-nilai budaya yang dianut masyarakat. Dengan tetap diakuinya cara penunjukan dan penetapan kawasan hutan seperti dimaksud dalam pasal-pasal UU No. 41-1999 berarti telah terjadi kontradiksi internal, karena mengingkari pernyataan dalam huruf c konsiderans undang-undang tersebut.

Semangat desentralisasi dalam undang-undang ini dimuat dalam Pasal 66. Dalam rangka penyelenggaraan kehutanan pemerintah pusat menyerahkan sebagian kewenangannya kepada pemerintah daerah. Namun kewenangan yang diserahkan itu hanyalah kewenangan kebijakan yang bersifat operasional. Kebijakan umum dan mendasar tetap dipegang pemerintah pusat. Pemerintah daerahpun tidak terlibat dalam proses penyusunan kebijakan pusat. Ketentuan tentang desentralisasi semacam ini bertentangan dengan Pasal 7 ayat (1) dan Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (UU No. 22-1999).

Dari aspek kelembagaan, undang-undang ini memberikan kewenangan terlampau luas kepada Departemen Kehutanan. Departemen Kehutanan berwenang menetapkan status dan fungsi hutan. Khusus dalam penetapan status hutan yang berkaitan dengan penguasaan tanah tidak ada satupun ketentuan yang menyebutkan perlunya koordinasi antara Departemen Kehutanan dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN). Hal ini berpotensi menimbulkan perebutan kewenangan dalam pengaturan mengenai lahan hutan antar instansi pemerintah serta tumpang tindih pengaturan dalam wilayah yang sama.

(32)

kehutanan yang tidak hanya bisa dilakukan melalui pengadilan, tetapi juga upaya penyelesaian sengketa kehutanan melalui jalur luar pengadilan (alternative dispute resolution).

2.2. Esensi Peraturan Perundang-Undangan Sumber Daya Alam Dari hasil kajian peraturan perundang-undangan yang terkait dengan sumber daya alam dan lingkungan hidup di atas, memiliki karakteristik dan kelemahan substansial seperti berikut:

; Undang-undang tersebut berorientasi pada eksploitasi

(use-oriented) sehingga mengabaikan kepentingan konservasi dan

keberlanjutan fungsi sumber daya alam, karena semata-mata digunakan sebagai perangkat hukum untuk mendukung pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan pendapatan dan devisa negara.

; Orientasi pengelolaan sumber daya alam lebih berpihak pada pemodal-pemodal besar, sehingga mengabaikan kepentingan dan akses atas sumber daya alam serta mematikan potensi-potensi perekonomian masyarakat lokal.

; Ideologi penguasaan dan pemanfaatan sumber daya alam

berpusat pada negara, sehingga pengelolaan sumber daya alam bercorak sentralistik.

; Implementasi pengelolaan yang dilakukan Pemerintah bersifat sektoral, sehingga sumber daya alam tidak dilihat sebagai sistem ekologi yang terintegrasi. Implikasinya, bangunan kelembagaan dalam pengelolaan sumber daya alam menjadi tidak terintegrasi dan tidak terkoordinasi antara sektor yang satu dengan sektor yang lain, sehingga setiap sektor cenderung berjalan sendiri-sendiri sesuai dengan visi sektornya masing-masing.

; Undang-undang tersebut tidak mengatur secara proporsional

mengenai perlindungan hak asasi manusia dalam penguasaan, pemanfaatan, dan pengelolaan sumber daya alam.

(33)

7UU No. 5-1990;

7Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1992

tentang Penataan Ruang (UU No. 24-1992);

7Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1994 tentang

Pengesahan United Nations Convention On Biological Diversity

(Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai

Keanekaragaman Hayati) (UU No. 5-1994);

7UU No. 23-1997.

Walaupun demikian, jika dicermati dari substansi perundang-undangan tersebut di atas, maka masih ditemukan adanya kelemahan-kelemahan substansial terutama dalam pengaturan mengenai hal-hal sebagai berikut:

€ Peran Pemerintah yang masih mendominasi penguasaan dan

pengelolaan sumber daya alam (state-based resource management).

€ Keterpaduan dan Koordinasi antar sektor dalam pengelolaan

sumber daya alam yang masih lemah.

€ Hak-hak masyarakat adat atas penguasaan dan pengelolaan

sumber daya alam yang belum diakui secara utuh.

€ Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam yang

masih terbatas.

€ Transparansi dan demokratisasi dalam proses pengambilan

keputusan yang belum diatur secara utuh.

€ Akuntabilitas Pemerintah kepada publik dalam pengelolaan

sumber daya alam yang belum diatur secara tegas.

Selain itu, jika dicermati dari perkembangan pembangunan hukum pada satu dekade terakhir ini, setelah pemerintah meratifikasi Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati menjadi UU No. 5-1994, dan kemudian diberlakukannya (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (UU No. 39-1999); dan (2) UU No. 22-1999, maka prinsip-prinsip penting yang mendukung pengelolaan sumber daya alam yang adil, demokratis, dan berkelanjutan belum diakomodasikan dan diintegrasikan ke dalam perundang-undangan mengenai sumber daya alam dan lingkungan hidup yang telah ada.

(34)

sebagaimana termuat dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan

Rakyat Republik Indonesia Nomor IX/MPR/2001 tentang

Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam.

Persoalan pelik pengelolaan sumber daya alam yang diricikan antara lain dari tumpang tindih kewenangan antar sektor, ketidaksinkronan kebijakan, konflik, kerusakan sumber daya alam, kemiskinan, dan ketidakadilan, dicoba untuk diselesaikan melalui Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam.

Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam ini berangkat dari kesadaran bahwa pengelolaan sumber daya alam menimbulkan penurunan kualitas

lingkungan, ketimpangan struktur penguasaan, pemilikan,

penggunaan dan pemanfaatannya serta menimbulkan berbagai konflik.Oleh karena itu perlu arah pengelolaan sumber daya alam yang mampu menjawab semua persoalan tersebut. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam diharap memberikan arah yang dimaksud.

Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam merupakan landasan peraturan perundang-undangan mengenai pembaruan agraria dan pengelolaan sumber daya alam.

(35)

BAB III

PENGUASAAN NEGARA TERHADAP

SUMBER DAYA ALAM

3.1. Latar Belakang

Penguasaan Negara atas sumber daya alam berajak dalam penjabaran usaha perekonomian nasional yang ada dalam sejumlah undang-undang di bidang sumber daya alam. Dengan dasar yuridis formal undang-undang tersebut menunjuk Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3), UUD 1945. Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, menjadi pilar dasar berpikir, dengan meletakan perekonomian sebagai dasar bidang ekonomi, dalam hubungan Negara dan masyarakat terhadap sumber daya alam yang ada, sebagai komponen ekonomi .

Jika dikontruksikan Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, untuk menjawab bagaimana konsep penguasaan Negara atas sumber daya alam itu; bagaimana sumber daya alam itu ditujukan untuk menjamin kemakmuran rakyat dan bagaimana peran swasta/modal/investor dalam perekonomian berkaitan dengan sumber daya alam. Pasal 33 ini pada level supra struktur politik akan mengarahkan perdebatan yang membenturkan konsep penguasaan publik dengan konsep kepemilikan perdata dari negara terhadap sumber daya alam, beserta konsekuensi hubungan hukumnya.

Hak Menguasai Negara (HMN), yaitu suatu hak yang dimiliki negara secara mutlak dalam menguasai sesuatu. Dalam konteks sumber daya alam, HMN yang dimaksud adalah hak negara untuk menguasai bumi, air dan ruang angkasa sebagaimana termaktub Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bahwa “bumi dan air dan kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk

(36)

Tujuan utama dari UU No. 5-1960 adalah untuk melakukan redistribusi tanah dan melakukan pemerataan penguasaan tanah bagi rakyat. Menurut Mahfud M D, UU No. 5-1960 merupakan produk hukum yang sangat responsif, berwawasan kebangsaan, mendobrak watak kolonialis yang masih mencengkeram bangsa Indonesia hingga 15 tahun menjadi bangsa dan negara merdeka (tahun 1945 hingga tahun 1960). Pada masa itu, UU No. 5-1960 adalah aturan utama sebagai landasan pengaturan pertanahan, air, hutan, perkebunan, dan pertambangan.

Pada masa pemerintahan orde baru, pemerintah berusaha menata perekonomian dengan berkiblat kepada kepentingan modal. Hal ini terlihat pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (UU No. 1-1967), kemudian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan Pokok Kehutanan (UU No. 5-1967), UU No.

11-1967. Dalam ketiga undang-undang tersebut, pemerintah

menempatkan prioritas modal asing.

Hak menguasai Negara dalam sumber daya alam, khususnya pertambangan dan kehutanan, dijadikan alat untuk melegalisasi kekuasaan pemerintah terhadap sumber daya alam yang berlebihan terutama untuk mendukung kelompok-kelompok kepentingan modal asing waktu itu. Di sisi lain pemerintah tidak mengakui pentingnya perlindungan fungsi dan daya dukung ekosistem sumber daya alam. Lahirnya UU No. 5-1967 dan UU No. 4-2009, dimaknai sebagai satu bentuk pemisahaan pengaturan tersendiri pada sumber daya alam, tidak berpangkal pada UU No. 5-1960.

(37)

Fungsi penguasaan negara dalam menguasai sumber daya alam dalam UU No. 5-1960, penguasaan negara atas sumber daya alam dilembagakan dengan konsep HMN. Konsep tersebut memberikan wewenang kepada Pemerintah untuk:

Mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan bumi, air, dan ruang angkasa tersebut;

Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan bumi, air, dan ruang angkasa dan;

Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air, dan ruang angkasa.

Ini dasar yang penting dalam pengertian penguasaan negara atas sumber daya alam, dan menarik dikaji dalam hubungannya dengan putusan penguji Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan (UU No. 20-2002).

Mahkamah Konstitusi mengkonstruksikan makna ”dikuasai

negara” pada Pasal 33 ayat (2) dan (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dengan melihat 5 (lima) fungsi negara dalam hal menguasai cabang-cabang produksi penting yang menguasai hajat hidup orang banyak serta bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamya, antara lain:

OPengaturan (regelandaad); OPengelolaahan (beheersdaad); OKebijakan (beleid);

OPengurusan (bestuursdaad); dan OPengawasan (toezichthouensdaad).

Mahkamah Konstitusi menyatakan bahwa, konsep

penguasaan negara atas sumber daya alam lahir dari konsep hubungan publik. Konsepsi penguasan negara merupakan hukum publik yang berkaitan dengan prinsip kedaulatan rakyat yang dianut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, baik di bidang politik maupun ekonomi.

(38)

pemegang kekuasaan tertinggi dalam kehidupan bernegara, sesuai dengan doktrin dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Sedangkan konsep keperdataan penguasaan negara atas sumber daya alam, dalam hal ini melegalkan hubungan keperdataan. Hubungan keperdataan itu, tidak berarti bahwa pemerintah dapat menjual sumber daya alam kepada pihak swasta/investor, melainkan melakukan hubungan kontrak atau perjanjian dengan pihak swasta berkaitan dengan peralihan hak atas sumber daya alam. Di dalam hubungan keperdataan yang bersifat konsensual dari perjanjian atau kontrak antara kedua pihak atau lebih.

Konsep penguasaan negara atas sumber daya alam harus dilihat sebagai bagian dari sistem hak atas sumber daya alam. Hak dalam kontruksi politik, maka ia bersifat relasional yang mengaitkan seluruh pengembangan hak dalam suatu sistem hak.

Sistem hak tersebut dikatakan sebagai suatu sistem bila mengarah kepada satu tujuan. Tujuan yang digariskan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Sehingga rakyat adalah subjek yang seharusnya terlibat secara partisipatif dan menentukan dalam penguasaan serta pengeloalan sumber daya alam yang ada.

Rakyat dengan Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang utama dalam upaya untuk mendapatkan kemakmuran, dalam tataran ini setiap penguasaan terhadap sumber-sumber hajat orang banyak, dan penguasaan sumber daya alam. Rakyat yang seharusnya didepankan dalam konteks negara. Namun pasca orde baru, pergantian kepimpinan dan perubahan di berbagai sektor semangat refomasi berlangsung, terjadi perubahan yang mendasar.

Eskalasi perubahan untuk level hukum yang tertinggi terjadi dalam paket perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Untuk perubahaan di level undang-undang dan kebijakaan dibawahnya. Di bidang peraturan perundang-undangan sumber daya alam, masih mempertahankan pola fragmentasi dalam berbagai peraturan bergaya orde baru tetap dilanjutkan dan bersifat masif.

(39)

diantaranya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 tentang Jenis dan Tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berasal Dari Penggunaan Kawasan Hutan Untuk Kepentingan Pembangunan Di luas Kegiatan Kehutanan Yang Berlaku Pada Depertemen Kehutanan (PP No. 2-2008).

Ini mensyaratkan, bahwa peraturan yang dibuat dalam di bidang sumber daya alam, memberi ruang yang terbuka terjadinya kapalitas modal yang memandang sumber daya alam sebagai komoniti yang dijualbelikan untuk kepentingan investasi dan asing. Penguasaan sumber daya alam yang menguasai hajat orang banyak seperti air, listrik, panas bumi, minyak dan gas bumi, kehutanana, perkebunanan, perikanan dan penanaman modal. Dalam level undang-undang telah melegalisasikan sumber-sumber daya alam yang dikuasai negara, pada hakekitnya menjadi urusan privat dan pemilik modal. Penguasaan sumber daya alam yang dikuasai oleh korporat atau perusahaan swasta/asing, telah menyampingkan hak-hak masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam yang selama ini dikelolahnya. Kemudian rakyat yang menjadi korban atas kebijakan penguasaan negara atas sumber daya alam. Masyarakat diusir, digusur, dipinggirkan dan dijauhkan dari hidupnya dengan sumber alam yang ada.

Negara dalam hal ini gagal melindungi kepentingan rakyat dalam hubungan publik, negara telah menjual sumber daya alam ini pada korporat/swasta, mengarah pada hubungan privat antara negara. Sementara rakyat tidak terlibat didalamnya, akibatnya kemiskinan, masalah ekologi, dan bencana.1

Dasar hukum asas hak menguasai negara. Hak menguasai tanah oleh negara bersumber dari kekuasaan yang melekat pada negara, sebagaimana tercermin dalam ketentuan Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Selanjutnya dalam penjelasannya dinyatakan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi adalah

(40)

pokok pokok kemakmuran rakyat, sebab itu harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Pernyataan tersebut menjelaskan dua hal, yaitu bahwa secara konstitusional negara memiliki legitimasi yang kuat untuk menguasai tanah sebagai bagian dari bumi, namun penguasaan tersebut harus dalam kerangka untuk kemakmuran rakyat.

Penjabaran lebih jauh dari hak menguasai tanah oleh negara, terdapat pada Pasal 2 UU No. 5-1960 yang menyatakan bahwa bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamya itu pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh negara, sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat. asas ini sebenarnya memiliki semangat pengganti asas domein verklaring yang berlaku pada masa kolonial belanda, yang ternyata hanya memberikan keuntungan pada pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu. Hak menguasai dari negara memberi wewenang kepada negara untuk:

a. Mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan tanah

Hak-hak yang mengenai pengaturan peruntukan tersebut dijabarkan dalam berbagai produk peraturan dan perundang-undangan lainnya, dalam bidang-bidang seperti :

Penatagunaan tanah; Pengaturan tata ruang;

Pengadaan tanah untuk kepentingan umum.

b. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan tanah

Hak-hak yang mengenai pengaturan hubungan hukum tersebut dijabarkan dalam berbagai produk peraturan dan perundang-undangan lainnya, dalam bidang-bidang seperti:

Pembatasan jumlah bidang dan luas tanah yang boleh dikuasai

(land reform),

Pengaturan hak pengelolaan tanah.

c. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum atas tanah

(41)

Pendaftaran tanah, yaitu rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah secara terus menerus, berkesinambungan dan teratur, meliputi pengumpulan, pengolahan, pembukuan, dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis, dalam bentuk peta dan daftar, mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun, termasuk pemberian surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya.

Hak tanggungan, berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah (UU No. 4-1996), hak tanggungan adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah yang meliputi hak milik, hak guna usaha dan hak guna bangunan. Hak tanggungan dapat digolongkan ke dalam hubungan hukum antar orang dan perbuatan hukum atas tanah, karena pada dasarnya hak tanggungan adalah merupakan ikutan (asesoris) dari suatu perikatan pokok, seperti hubungan hutang piutang yang dijamin pelunasannya dengan hak tanggungan tersebut.

Penguasaan tanah oleh negara dalam konteks di atas adalah penguasaan yang otoritasnya menimbulkan tanggung jawab, yaitu untuk kemakmuran rakyat. Di sisi lain, rakyat juga dapat memiliki hak atas tanah. Hak milik adalah hak turun temurun, terkuat dan terpenuh yang dapat dimiliki orang atas tanah dengan mengingat fungsi sosial yang melekat pada kepemilikan tanah tersebut. Dengan perkataan lain hubungan individu dengan tanah adalah hubungan hukum yang melahirkan hak dan kewajiban. Sedangkan hubungan negara dengan tanah melahirkan kewenangan dan tanggung jawab.

Referensi

Dokumen terkait

20 Negara dalam konteks ini termanifestasi dalam kewenangan-kewenangan pelaksanaan (eksekutif) negara yang berada dalam kewenangan Pemerintah.Bahwa meskipun Pasal 33 ayat (3) UUD

Melalui Pasal 18B ayat 2 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945 ) yang berbunyi “Negara mengakui dan monghormati kesatuan masyarakat

Dengan adanya prinsip kebersamaan dalam Pasal 33 Ayat (4) tersebut, maka asas kekeluargaan dalam Pasal 33 Ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun

a) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.. d) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. e) Instruksi Presiden Republik

Dasar hukum keberadaan Koperasi di Indonesia adalah Undang-undang Nomor 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian dan Pasal 33 Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

Penguasaan negara terhadap sumber daya alam diatur dalam Pasal 33 ayat (2) UUD 1945 menyatakan, “cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup

Kewenangan Presiden dalam pengangkatan Duta Besar Republik Indonesia berdasarkan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 13 UUD 1945 yang

Pasal 33 ayat 4 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 UUD 1945 menyebutkan bahwa pembangunan ekonomi yang dilaksanakan di Indonesia adalah berdasarkan prinsip