• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 14 RANCANGAN PENELITIAN TEORI GROUNDED - BAB TEORI GROUNDED. OK BANGET

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BAB 14 RANCANGAN PENELITIAN TEORI GROUNDED - BAB TEORI GROUNDED. OK BANGET"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 14

R

ANCANGAN PENELITIAN TEORI GROUNDED

Teori grounded memungkinkan anda menghasilkan teori umum tentang fenomena sentral yang grounded (bertumpu) pada data. Sebagai prosedur yang sistematis, ia menarik minat bermacam ragam peneliti dalam bidang pendidikan. Bab ini mendefenisikan penelitian teori grounded, mengidentifkasinya kalau ia digunakan, menilai karakteristik kuncinya, dan mengusulkan langkah-langkah dalam melakukan dan mengevaluasi rancangannya.

Pada akhir bab ini, anda diharapkan akan mampu:

 Mendefenisikan teori grounded dan mengidentifkasinya kalau ia digunakan dalam sebuah penelitian,

 Membedakan di antara tiga jenis rancangan teori gounded,

 Mengidentifkasi proses yang diteliti dalam penelitian teori grounded,

 Mengilustrasikan bagaimana pengambilan sampel teoritis dilakukan dalam penelitian teori grounded,

 Mendeskripsikan proses melakukan analisis data melalui perbandingan berketerusan,

 Mengidentifkasi kategori inti dalam model teori grounded,  Menyimpulkan teori yang dihasilkan oleh analisis data,

 Menjelaskan pentingnya memoing (pembuatan memo) dalam penelitian teori grounded,

 Mendeskripsikan bagaimana melakukan penelitian teori grounded,

 Mengevaluasi kualitas dari penelitian teori grounded,

(2)

senjata oleh para siswa di sekolah menengah atas?”. Untuk mengkaji pertanyaan ini, ia berencana menelusuri sebuah proses, yakni proses pemahaman terhadap para siswa yang membawa senjata. Penelitian tentang proses ini akan membantunya memahami salah satu aspek dari membawa senjata ke sekolah. Ia mengidentifkasi 10 orang yang akan diwawancarai: 5 orang siswa yang tertangkap membawa senjata dan 5 orang guru atau administrator sekolah yang ikut merasa prihatin. Setelah mewawancarai individu-individu ini, Maria menganalisis data-data guna menemukan tema-tema (atau kategori). Ia menyusun kategori-kategori ini menjadi model dari proses tersebut secara visual. Ia kembangkan sebuah teori tentang proses “pemahaman” terhadap kepemilikan senjata dengan harapan bahwa teori ini akan memberikan sebuah penjelasan yang dapat digunakan oleh para pejabat sekolah untuk bisa mengidenfkasi tanda-tanda sebagai “peringatan awal” dari para siswa yang cenderung memilki senjata di sekolah. Maria membangun teori gounded melalui penelitian kualitatif.

Apa yang dimaksud dengan Penelitian Teori Grounded?

Rancangan penelitian grounded adalah prosedur kualitatif yang sistematik yang digunakan untuk menghasilkan sebuah teori yang menjelaskan, pada tataran konsep, sebuah proses, kegiatan, atau interaksi tentang sesuatu topik substantif. Dalam penelitian teori grounded, yang dimaksud dengan teori adalah suatu penjelasan tentang “proses”—ia menjelaskan proses dari suatu peristiwa, kegiatan, perbuatan, dan interaksi yang terjadi pada suatu waktu tertentu. Penelitian teori grounded ini dilaksanakan melalui prosedur pengumpulan data yang sistematis, pengidentifkasian kategori-kategori (sama maknanya dengan tema-tema), mengaitkan kategori-kategori ini, dan membangun teori yang menjelaskan suatu proses.

Kapan Teori Grounded Digunakan?

(3)

grounded melahirkan sebuah teori apabila teori yang ada tidak mengena dengan masalah atau partisipan yang rencananya akan anda teliti. Karena teori itu berakar dari data, maka ia bisa memberikan penjelasan yang lebih baik dari teori yang diperoleh dari literatur, karena teori tersebut cocok dengan situasi, wujud dalam praktek, sensitif terhadap individu-individu pada sebuah seting, dan boleh jadi merepresentasikan semua kompleksitas yang sebenarnya ditemukan di dalam proses. Contoh, dalam meneliti populasi pendidikan tertentu (anak-anak dengan gangguan konsentrasi), teori yang ada boleh jadi sedikit sekali yang bisa diterapkan terhadap populasi khusus seperti ini.

Anda juga bisa menggunakan penelitian teori grounded apabila anda ingin meneliti sesuatu proses, seperti bagaimana anak-anak bisa mengembangkan kemampuannya sebagai penulis (Nef, 1998) atau bagaimana anak-anak Afrika-Amerika yang berprestasi tinggi atau wanita karir berketurunan Kaukasia bertumbuh dan berkembang (Richie, Fassingers, Linn, & Johnson, 1997). Ia juga digunakan untuk menjelaskan perbuatan orang, seperti proses partisipasi di dalam pendidikan orang dewasa (Courtney, Jha, & Babchuck, 1994), atau interaksi antara orang-orang, seperti dukungan yang diberikan oleh pembantu dekan bidang ademik atau ketua jurusan di sebuah perguruan tinggi kepada para dosen-peneliti (Creswll & Brown, 1992).

(4)

ke insiden lainnya dan dari insiden ke kategori. Dengan cara begini, si peneliti akan selalu “dekat” dengan data pada setiap saat dalam analisis yang dilakukannya.

Bagaimana teori grounded berkembang?

Dua orang sosiolog, Barney G. Glaser dan almarhum Anselm L. Strauss, mengembangkan teori grounded pada penghujung tahun 1962. Teori ini muncul dari karya mereka di University of California di San Francisco, Medical Center dengan para pasien yang yang sedang menderita sakit. Dalam meneliti pasien-pasien ini, Glaser dan Strauss merekam dan mempublikasikan metoda penelitian mereka. Ini menyebabkan banyak individu yang menghubungi mereka untuk mengetahui lebih banyak tentang metoda penelitian mereka ini. Glaser dan Strauss menyusun buku perintis yang menguraikan secara rinci prosedur-prosedur teori grounded, The Discovery of Grounded Theory (1967). Buku ini meletakkan dasar-dasar dari gagasan utama tentang teori grounded (alas) yang digunakan saat ini, dan menjadi petunjuk prosedural bagi bermacam ragam disertasi dan laporan-laporan penelitian. Dalam buku tersebut, Glaser dan Strauss menyatakan bahwa teori yang ada saat ini dalam sosiologi terlampau menekankan pada memverifkasi dan mengetes teori ketimbang menemukan konsep-konsep (variabel-variabel) dan hipotesis berdasarkan data aktual di lapangan dari para partisipan. Sebuah teori yang ditemukan selama pengumpulan data akan “cocok dengan situasi yang sedang diteliti dan akan berfungsi apabila dipraktekkan” (Glaser & Strauss, 1967, halaman 3) dan akan lebih baik dari teori yang sudah diidentifkasi terlebih dahulu sebelum penelitian dimulai.

(5)

penelitian. Walaupun demikian, Strauss “memasuki” teori grounded ini dari University of Chicago, dengan sejarah dan tradisi yang kuat dalam penelitian lapangan kualitatif. Latar belakang ini menyebabkan Strauss memberi penekanan pada pentingnya penelitian lapangan, yakni pergi menemui individu-individu dan mendengarkan secara cermat gagasan-gagasan para partisipan.

Pada tahun-tahun setelah terbitnya buku Discovery itu, Glaser dan Strauss, secara terpisah, mengarang beberapa buku yang menjernihkan dan menjelaskan metoda-metoda awal mereka tersebut (Glaser, 1978, 1992; Strauss, 19987). Pada tahun 1990 dan kemudian pada tahun 1998, Strauss bekerja dalam satu tim dengan peneliti perawatan kesehatan masyarakat, Juliet Corbin, membawa teknik dan prosedur teori grounded ke tingkat-tingkat yang lebih baru. Mereka memperkenalkan bentuk teori grounded yang lebih berperspektif lagi, dengan kategori-kategori yang terlebih dahulu ditetapkan dan dengan memberi perhatian terhadap masalah-masalah validitas dan reliabilitas.

Pendekatan mereka yang sistematis, walau dirangkul oleh para peneliti kualitatif baru (Charmaz, 2000), memancing tanggapan kritis dari Glaser (1992), yang beliau rinci dalam sebuah buku guna “mendorong para peneliti memakai teori grounded pada jalur yang benar” (halaman 3). Glaser terutama sekali memberi perhatian pada bagaimana Strauss menggunakan kategori-kateori dan kerangka-kerangka yang sudah ditentukan terlebih dahulu yang tidak akan memungkinkan teori muncul selama penelitian berlangsung. Beliau juga mengetengahkan isu berkaitan dengan apa yang beliau lihat sebagai penekanan semata-mata pada pendeskripsian perbuatan-perbuatan ketimbang secara aktif mengkonseptualisasikan pola-pola atau hubungan-hubungan yang terdapat di dalam data yang mengarah pada sebuah teori.

(6)

Corbin) terlampau sistematis dalam prosedur mereka. Para teoritisi teori grounded perlu memberi penekanan pada strategi-strategi yang feksibel, memberi penekanan pada makna yang diberikan oleh para partisipan terhadap situasi, mengakui peranan peneliti dan individu-individu yang diteliti, dan memperluas cakrawala flosofsnya melebihi orientasi kuantitatif terhadap penelitian.

TIPE-TIPE RANCANGAN TEORI GROUNDED

Kita bisa lihat bahwa perspektif dalam pelaksanaan penelitian teori grounded berbeda tergantung pada pengikut dari pendekatan tertentu. Walaupun demikian, tiga jenis rancangan yang dominan dapat dibedakan: prosedur yang sistematis berada dibawah panji-panji Strauss dan Corbin (1998); rancangan yang emerging (muncul secara alamiah) di bawah panji-panji Glaser (1992); dan pendekatan constructivists dIdukung oleh Charmaz (1990, 2000, 2006).

Rancangan Sistematis

Rancangan sistematis dari teori grounded digunakan secara meluas dalam penelitian penddikan, dan ia terkait dengan prosedur yang rinci dan ketat sebagaimana diidentifkasi oleh Strauss dan Corbin pada tahun 1990 dan dielaborasi lagi pada edisi kedua tentang tekhnik dan prosedur mengembangkan teori grounded (1998). Prosedur tersebut jauh lebih terbimbing dibandingkan dengan konseptualisasi awal tentang teori grounded yang dikembangkan pada tahun 1967 (Glaser& Strauss, 1967). Rancangan yang sistematis dari teori grounded memberi penekanan pada penggunaan langkah-langkah analisis data, pengkodean terbuka, axial, dan selektif, serta pengembangan paradigma logis atau gambaran visual dari teori yang dilahirkan. Dalam defenisi ini, tiga tahapan pengkodean terjadi.

(7)

wawancara, observasi, dan memo serta catatan-catatan si peneliti. Biasanya, para peneliti mengidentifkasi kategori-kategori dan sub-sub kategori, seperti terlihat dalam penelitian teori grounded yang dilakukan oleh Knapp (1995). Ia meneliti pengembangan karir dari 27 orang pelatih kependidikan. Dalam wawancara dengan tiga orang pelatih tersebut, ia pelajari adaptabilitas dan feksibilitas mereka. Satu halaman dari penelitiannya itu, seperti terlihat pada Diagram 14.1, menggambarkan beberapa kategori yang diidentifkasi oleh Knapp dari data-datanya, seperti spesialisasi, ketrampilan mengajar, menemukan fokus, dan pembelajaran dalam jabatan. Dalam menyajikan pengkodean ini, kita melihat bahwa Knapp juga mengidentifkasi sumber-sumber informasi yang mendukung kategori-kategori tersebut, seperti wawancara, wawancara kelompok terfokus, jurnal, memo, dan observasi.

(8)

pemberian dana kepada para dosen (sub-kategori), yang memiliki dua ujung kontinum yang ekstrim, pemberian dana mulai dari yang berjangka panjang sampai pada uang jalan berjangka pendek (sub-kategori yang dimensional).

Pada tahap kedua, pengkodean aksial (bersumbu), seorang pakar teori grounded memilih satu buah kategori dalam pengkodean terbuka, meletakkannya pada posisi sentral dari proses yang sedang dikaji (sebagai inti dari fenomena), dan kemudian mengaitkan kategori-kategori yang lain dengan kategori tersebut. Kategori-kategori yang lain ini merupakan kondisi penyebab (faktor-faktor yang mempengaruhi kategori inti), strategi (aksi yang dilakukan dalam rangka memberikan respon terhadap kategori inti), kondisi-kondisi kontekstual dan pengganggu (faktor-faktor spesifk dan umum yang berpengaruh terhadap strategi), dan konsekuensi (hasil/akibat dari penggunaan strategi). Tahap ini mencakup pembuatan diagram, yang disebut coding paradigm (paradigma pengkodean), yang memggambarkan hubungan timbal balik antara kondisi-kondisi penyebab, strategi, kondisi-kondisi kontekstual dan pengganggu, dan konseuensi-konsekuensi.

Untuk mengilustrasikan proses ini, mula-mula lihat Diagram 14.3. Dalam diagram ini, kita dapati kategori-kategori pengkodean terbuka pada sisi sebelah kiri dan paradigma pengkoden aksial pada sisi sebelah kanan. Peneliti teori grounded mengidentifkasi satu kategori pengkodean terbuka sebagai kategori inti yang merupakan sentral dari teori yang akan dikembangkan (nanti akan kita bicara kriteria yang digunakan untuk memilih kategori inti). Kemudian, kategori inti ini menjadi titik pusat dari paradigma pengkodean aksial. Perhatikan paradigma ini! Akan anda lihat ada enam kotak (kategori) informasi:

1. Kondisi penyebab – kategori-kategori kondisi yang berpengaruh terhadap

kategori inti

2. Konteks __ kondisi-kondisi spesifk yang berpengaruh terhadap strategi

3. Kategori inti __ fenomena sentral dari proses

4. Kondisi-kondisi yang mengganggu __ kondisi-kondisi kontekstual umum yang

(9)

5. Strategi __ Kegiatan khusus atau interaksi yang merupakan hasil dari fenomena inti

6. Konsekuensi __ hasil dari penggunaan strategi

Disamping itu, meninjau paradigma pengkodean dari kiri ke kanan, terlihat bahwa kondisi-kondisi penyebab berpengaruh terhadap fenomena inti, fenomena inti dan konteks serta kondisi-kondisi pengganggu berpengaruh terhadap strategi, dan strategi berpengaruh terhadap konsekuensi.

Tahap ketiga, adalah pengkodean selektif. Di dalam selective coding (pengkodean selektif), pakar grounded menyusun teori dari kesalinghubungan antara kategori-kategori di dalam model pengkodean aksial. Pada tataran dasar, kategori ini memberikan penjelasan abstak tentang proses yang sedang dikaji dalam sesuatu penelitian. Proses itu adalah proses memadukan dan memperhalus teori (Strauss 7 Corbin, 1998) melalui teknik-teknik seperti menuliskan alur cerita yang mengaikan kategori-kategori satu sama lainnya dan menyortir memo-memo pribadi berkenaan dengan gagasan-gagasan teoritis (lihat pembicaraan tentang memo pada bahagian lain dalam bab ini). Di dalam alur cerita, seorang peneliti boleh jadi mengkaji bagaimana faktor-faktor tertentu berpengaruh terhadap fenomena yang menyebabkan digunakannya strategi-strategi tertentu yang pada akhirnya membawa suatu hasil atau konsekuenasi tertentu pula.

Penggunaan ketiga jenis prosedur pengkodean ini bermakna bahwa para pakar teori grounded menggunakan satu set prosedur untuk mengembangkan teori mereka. Mereka mengandalkan penganalisisan data untuk menemukan tipe-tipe kategori yang spesifk pada pengkodean aksial dan penggunaan diagram-diagram untuk menyajikan teori mereka. Teori grounded yang menggunakan pendekatan ini boleh jadi berakhir dengan hipotesis (yang disebut proposisi oleh Strauss dan Corbin, 1998 ) yang membuat hubungan diantara kategori-kategorri dalam paradigma pengkodean aksial itu menjadi eksplisit.

(10)

Dalam penelitian ini kita mengetahui bahwa para wanita tersebut merasa ketakutan, putus asa, dan tak berdaya, akan tetapi mereka selamat dan mampu mengatasi semuanya itu dengan jalan “mengelola” perasaan mereka (menjauhkan atau menghindari perasaan-perasaan, tidak mau mengingat-ngingat apa-apa yang sudah dialami). Mereka juga mengatasi perasaan-perasaan keputusasaan dan ketidakberdayaan dengan menggunakan strategi-strategi seperti mencari imbangannya dalam bidang-bidang kehidupan lainnya, membingkai kembali kekerasan seksual yang mereka alami ke dalam suatu ilusi kendali, atau semata-mata menolak isu-isu berkaitan dengan kekuasaan. Sebagai sebuah contoh dari prosedur sistematis yang dikembangkan oleh Strauss dan Corbin (1990, 1998), peneliti mencantumkan proses pengkodean terbuka, pengkodean aksial, dan pengembangan sebuah model teoritis. Mereka secara jelas mengidentifkasi bahagian-bahagian di dalam penelitian mereka yang berbicara tentang masing-masing komponen dari pengkodean aksial (seperti penyebab timbulnya perasaan-perasaan dan ketidakberdayaan, strategi-strategi yang digunakan, dan konsekuensi-konsekuensinya. Sebuah diagram yang mengilustrasikan “model teoritis” untuk bisa selamat dan bertahan, dan mereka menjelaskan bahwa diagram ini adalah sebuah urutan dari langkah-langkah di dalam proses pembentukan kemampuan untuk bisa selamat dan bertahan tersebut.

Rancangan yang mencuat (secara alamiah)

(11)

kategori-kategori spesifk dan yang ditentukan sebelumnya seperti yang kita lihat dalam paradigma pengkodean aksial (kondisi penyebab, konteks, kondisi pengganggu, strategi dan konsekuensiI). Selanjutnya, bagi Glaser, tujuan dari penelitian teori grounded adalah agar peneliti menjelaskan sebuah “proses sosial mendasar”. Penjelasan tersebut mencakup prosedur pengkodean komparatif yang berketerusan dalam rangka membandingkan insiden yang satu dengan insiden yang lain, insiden dengan kategori, dan kategori yang satu dengan kategori yang lain. Fokusnya adalah pada pengaitan kategori-kategori dan pemunculan teori, bukan semata-mata pendeskripsian kategori-kategori. Pada akhirnya, si peneliti membangun sebuah teori dan memperlihatkan hubungan antara kategori-kategori tanpa mengacu pada diagram atau gambar.

Penelitian teori grounded yang lebih feksibel dan lebih longgar sebagaimana diajukan oleh Glaser (1992) terdiri dari beberapa gagasan utama:

1. Teori grounded wujud pada tataran konseptual yang paling abstrak bukan pada tataran yang kongkrit seperti paradigma pengkodean.

2. Sebuah teori berakar pada data dan tidak dipaksa-paksakan menjadi kategori-kategori.

3. Sebuah teori gounded yang baik harus memenuhi empat kriteria pokok: ft (tepat), workable (bisa dilaksanakan), relevan, dan bisa dimodifkasi. Mendapatkan teori melalui proses induksi yang cermat dari bidang kajian substantif tertentu, teori tersebut akan cocok dengan realitas menurut pandangan para partisipan, praktisi, dan peneliti. Apabila teori grounded jalan, tentulah ia akan relevan. Teori itu seharusnya “tidaklah ditulis di batu” (Glaser, 1992, halaman 15) dan seharusnya dimodifkasi ketika masuk data-data baru.

(12)

berkenaan dengan konsepsi para guru IPS di sekolah menengah tentang diskusi di dalam kelas mereka. Contoh dari emerging design (rancangan yang mencuat) ini membawa para pembacanya melalui enam konsepsi yang muncul dari data: diskusi sebagai bentuk hafalan, sebagai percakapan yang dibimbing guru, sebagai percakapan yang terbuka, sebagai penyajian pertanyaan-pertanyaan yang menantang, sebagai pemindahan pengetahuan yang terpimpin terhadap dunia di luar ruang kelas, dan sebagai latihan interaksi verbal. Larson juga mengidentifkasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap konsepsi-konsepsi ini, seperi keberagaman siswa dan tujuan pelajaran.

Di dalam pendekatan teori grounded dengan emerging design ini, perhatian Larson difokuskan pada pengembangan penjelasan tentang diskusi di dalam kelas-kelas IPS di sekolah menengah. Prosedurnya adalah untuk menghasilkan kategori-kategori melalui pengkajian data-data, penyaringan kategori-kategori tersebut menjadi makin lama makin sedikit jumlahnya, membandingkan data-data dengan kategori-kategori yang muncul, dan merumuskan teori tentang proses-proses yang terjadi dalam diskusi-diskusi di dalam kelas. Larson mengembangkan kategori-kategori, akan tetapi tidak menyajikan diagram untuk teorinya tersebut.

Rancangan Constructivist

(13)

merupakan upaya untuk membuat penggunaan istilah-istiah dan sebagainya itu menjadi lebih dominan. Menggunakan kode-kode yang aktif, seperti “recasting life” (melakoni kembali kehidupan) menangkap lebih baik pengalaman-pengalaman individu. Walupun demikian, prosedur teori grounded tidak mengecilkan peranan si peneliti dalam proses tersebut. Si penelitilah yang membuat keputusan berkenaan dengan kategori-kategori itu dalam keseluruhan proses dimaksud (Charmas, 1990). Si peneliti membawa pertanyaan-pertanyaan tertentu pada data, bersama-sama dengan “ sejumlah konsep-sosiologis” (halaman 1165). Si peneliti juga membawa nilai-niai, pengalaman-pengalaman, dan prioritas-prioritas. Setiap konklusi yang dikembangkan semuanya bersifat sugesti, belum lengkap, dan belum konklusif.

Dalam menerapkan pendekatan ini, seorang pakar grounded menjelaskan perasaan-perasaan individu ketika ia mengalami sebuah fenomena atau proses. Penelitian dengan rancangan konstruktivist ini mengungkapkan keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai yang dipegang oleh si peneliti dan menghindarkan diri dari penggunaan predetermined categories (kategori-kategori yag sudah ditentukan sebelumnya), seperti yang ditemui dalam pengkodean aksial. Narasinya dituliskan lebih eksplanatori, lebih discursive (berkesinambungan), dan lebih memancing banyak asumsi dan makna dari sisi pandang individu-individu dalam penelitian.

(14)

sendiri. Dilema-dilema ini mengelompok dalam beberapa proses yang dialami oleh pria-pria itu – kesadaran akan mati, menyesuaikan diri dengan ketidakpastian, pasrah dengan penyakit dan ketidakmampuan, melindungi diri sendiri.

Untuk menggunakan pendekatan konstruktivist terhadap teori grounded, Charmaz menyatakan bahwa tujuannya adalah untuk memahami “apa maknanya menjadi sakit” (1994, halaman 284). Ia melaporkan perasaan orang-orang tersebut, dengan menggunakan label kode aktif, seperti “awakening” (kesadaran), “accomodating” (penyesuaian), “defning” (kepasrahan), dan “preservng” (perlindungan). Kode-kode ini melambangkan proses-proses yang dialami oleh pria-pria tersebut. Charmaz mengait-ngaitkan pengalaman-pengalaman mereka, kondisi-kondisi mereka, konsekuensi-konsekunsi yang mereka alami dalam suatu narasi pembicaraan tanpa penggunaan diagram atau gambar untuk menyarikan proses-proses dimaksud. Ia mengakhirinya dengan pemikiran seperti “Apa-apa saja kondisi yang berpengaruh terhadap sikap apakah seorang pria akan membentuk identitas positif dalam dirinya atau akan tenggelam ke dalam depresi?” (halaman 283 – 284), lebih bersifat sugesti dan mempertanyaan data ketimbang konklusif.

Memilih rancangan teori grounded

Memilih satu diantara tiga pendekatan ini memerlukan beberapa pertimbangan. Ketika anda berencana akan menggunakan penelitian teori grounded, anda perlu menimbang-nimbang sejauh mana anda akan memberikan penekanan pada prosedur, menggunakan kategori-kategori yang pre-determined dalam analisis data, memposisikan diri anda sebagai peneliti, dan menetapkan bagaimana penelitian akan diakhiri, apakah dengan pertanyaan-pertanyaan tentatif atau hipotesis yang spesifk.

(15)

yang teridentifkasi dengan jelas dan model pengkodean aksial dengan tipe-tipe kategorinya yang sudah ditentukan dan yang masing-masingnya harus dikait-kaitkan, maka prosedur yang sistematis lagi-lagi merupakan prosedur yang ideal.

Dalam memiilih satu dari ketiga pendekatan ini, pertimbangkan pula bahwa prosedur yang diajukan oleh Strauss dan Corbin (1998) boleh jadi menjurus pada komitmen yang gegabah guna melahirkan kategori-kategori analitis (Robrecht, 1995) dan kurangnya kedalaman konseptual (Becker, 1993). Disamping itu, dalam setiap tipenya, teori grounded memiliki bahasa yang berbeda yang beberapa pendidik bisa jadi menganggapnya sebagai jargon dan karenanya memerlukan defenisi yang cermat (seperti perbandingan berkelanjutan, pengkodean terbuka, pengkodean aksial). Satu kritikan yang diajukan adalah bahwa istilah-istilah ini tidak selalu didefenisikan secara jelas (Charmaz, 2000), walaupun Strauss dan Corbin (1998) telah memberikan berbagai defenisi pada awal masing-masing bab dalam buku mereka. Akhirnya, dengan beragam pendekatan dan terus bermunculannya perspektif-perspektif baru, para pembaca menjadi bingung dan tidak tahu prosedur mana yang paling mangkus melahirkan teori yang baik.

Apa-apa saja karakteristik dari Penelitian Teori Grounded?

Teori grounded bisa memadukan pendekatan yang sistematis, emerging design yang feksibel, dan penggunaan kode-kode aktif untuk memotret pengalaman-pengalaman para partisipan. Dalam keenam karakteristik berikut, anda bisa menemukan unsur-unsur dari pendekatan-pendekatan sistematis, emerging, dan konstruktivist. Karakteristik yang digunakan oleh para peneliti teori grounded dalam rancangan penelitian mereka adalah:

 Pendekatan proses  Sampel teoritis

 Analisis data melalui perbandingan berkelanjutan  Kategori inti

(16)

 Memo

Pendekatan proses

Walaupun para pakar teori grounded mengkaji gagasan tunggal (seperti ketrampilan-ketrampilan kepemimpinan), mereka seringkali mengkaji sebuah proses karena dunia sosial di mana kita hidup melibatkan interaksi antara orang dengan orang. Para pakar grounded menghasilkan pemahaman tentang sebuah proses terkait dengan suatu substansi dalam lingkup suatu topik. Proses dalam penelitian teori grounded adalah sebuah urutan aksi dan interaksi diantara orang-orang dan peristiwa terkait dengan suatu topik (Strauss & Corbin, 1998). Topik pendidikan bisa jadi pencegahan AIDS, penilaian prestasi, atau konseling antara seorang konselor dan seorang siswa. Dalam kesemua topik ini, para peneliti bisa mengisolasi dan mengidentifkasi aksi dan interaksi diantara orang-orang. Para pakar grounded menyebut aspek-aspek yang diisolasi ini kategori. Kategori-kategri dalam rancangan teori grounded adalah tema-tema dari informasi dasar yang diidenfkasi di dalam data oleh si peneliti digunakan untuk memahami sebuah proses. Sebuah kategori dari proses konseling antara konselor sekolah dengan seorang siswa, umpamanya, adalah pemahaman siswa tentang apa maknanya “sukses” dalam sesi itu.

(17)

partisipan boleh jadi menyebutnya “menaiki anak tangga”. Dengan menggunakan pengkodean in vivo, si peneliti akan menggunakan ungkapan “menaiki anak tangga” untuk mendeskripsikan kategori tersebut. Karena kategori merupakan judul-judul utama dalam laporan penelitian, ungkapan ini akan menjadi judul untuk pembicaraan tentang kategori kode terbuka “menaiki anak tangga”.

(18)

menjelaskan proses menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan pribadi. Dalam contoh ini, proses tersebut muncul dari masalah dan kebutuhan untuk mengkali fenomena sentral, dan kategori-kategoripun dikembangkan dari data.

Ketika para peneliti teori grounded melakukan sebuah penelitian, mereka sering menggunakan ungkapan untuk menyatakan proses ini dengan kata kerja (dalam B. Inggeris kata kerja berakhiran _ING) (disarankan oleh Charmaz, 200). Sebagai sebuah ungkapan yang terdapat di dalam judul dan rumusan tujuan, ia menandakan bahwa itu adalah aktivitas dari sebuah penelitian. Di bawah ini adalah judul-judul dari penelitian teori grounded yang di dalamnya bisa kita lihat penggunaan kata kerja dimaksud, sebuah kategori kunci yang menjadi minat, dan topik yang lebih luas lingkupya yang akan diteliti.

 “Mendidik Setiap Guru, Setiap Tahun: Sekolah-sekolah Negeri dan Orang Tua Murid bekerja sama dengan ADHD” (Reid dkk., 1996) – proses mendidik para guru, kategori-kategori yang tersirat antara para orang tua dan sekolah, topik tentang anak-anak dengan ADHD

 “Menemukan Penyakit Kronis: Penggunaan Teori Grounded” (Charmaz, 1990) – proses yang dilalui oleh para pasien menemukan penyakit mereka, kategori penyakit kronis, dan topik penyakit yang tersirat

Penyampelan Teoritis

(19)

pendekatan yang sejalan dengan posisi yang dianut oleh para pengikut konstruktivist (Charmaz, 2000; Creswell, 2007).

Dalam memilih individu-individu untuk wawancara atau observasi dengan menggunakan pemilihan sampel bertujuan, para peneliti teori grounded menerapkan perspektif yang unik yang membedakannya dengan pendekatan-pendekatan kualitatif yang lain dalam hal pengmpulan data. Para peneliti teori grounded melakukan pemilihan sampel secara teoritis dengan menggunakan proses pengumpulan dan analisis data secara berurutan dan simultan. Penyampelan teoritis dalam teori grounded bermakna bahwa si peneliti memilih bentuk-bentuk pengumpulan data yang akan menghasilkan teks dan gambar yang berguna untuk menelurkan sebuah teori. Ini bermakna bahwa pemilihan sampel memiliki tujuan dan terfokus pada melahirkan teori. Contoh, ketika si peneliti teori grounded berkeinginan meneliti pilihan sekolah, para siswa dan orang tua mereka merupakan calon-calon yang paling baik untuk diwawancarai karena mereka yang secara aktif terlibat dalam proses pemilihan sekolah dan bisa berbicara dari pengalaman pertama. Walaupun demikian, staf sekolah (misalnya kepala sekolah) boleh jadi memiliki informasi yang berguna bagi proses ini, akan tetapi mereka kurang penting dibandingkan dengan para siswa dan orang tua mereka, yang justru mereka itulah yang membuat pilihan-pilihan tersebut. Dalam proyek ini, para peneliti teori grounded, akan mulai dengan para siswa dan orang tua mereka, yang sebenarnya membuat plihan-pilihan itu.

(20)

data wawancara awal), menganalisisnya untuk mendapatkan kategori-kategori awal, dan kemudian mencari rambu-rambu tentang data-data tambahan yang harus dikumpulkan. Rambu-rambu ini boleh jadi berupa kategori-kategori yang masih mentah yang perlu dikembangkan lagi, informasi-informasi yang terputus dalam urutan proses, atau individu-individu baru yang bisa memberikan pemahaman tentang beberapa aspek dari proses dimaksud. Para peneliti teori grounded kemudian kembali ke lapangan mengumpulkan informasi tambahan. Di dalam prosedur ini, si peneliti menyempurnakan, mengembangkan, dan mengklarifkasi makna-makna dari kategori-kategori tersebut dalam rangka melahirkan teori. Proses ini berupaya merangkai secara ulang alik antara pengumpulan data dan analisis data, dan terus berlanjut sampai si peneliti akhirnya mencapai titik jenuh (saturation) untuk kategori tertentu. Saturation (penjenuhan) dalam penelitian teori grounded adalah suatu kondisi di mana si peneliti membuat sebuah penentuan subjektif bahwa data-data baru tidak lagi memberikan informasi atau pemahaman baru dalam rangka mengembangkan kategori-kategori.

Mengidentifkasi proses ini dalam penelitian teori grounded yang sudah dipublikasikan memerlukan pengujian yang cermat dalam hal proses pengumpulan dan anlisis data untuk melihat apakah si peneliti sudah melakukan proses ulang-alik (recycling) antara pengumpulan data dan analisis data tersebut. Contoh, dalam sebuah penelitian tentang proses yang dialami oleh pria-pria yang menderita penyakit kronis, Charmaz (1990) secara cermat mendokumentasikan bagaimana ia mewawancarai 7 dari 20 orang pria dalam penelitiannya lebih dari satu kali guna memperbaiki kategori-kategori yang mencuat (muncul(.

Analisis Data Melalui Perbandingan Berkelanjutan

(21)

dilakukan secara berangsur-angsur ini merupakan prosedur perbandingan berkelanjutan. Constant comparison (perbandingan berkelanjutan) adalah prosedur analisis data secara induktif (dari sesuatu yang spesifk ke sesuatu yang umum) dalam penelitian teori grounded dalam rangka menghasilkan dan mengaitkan kategori-kategori dengan jalan membandingkan insiden-insiden yang terdapat di dalam data dengan insiden-insiden lainnya, insiden-insiden dengan kategori-kategori, dan kategori-kategori yang satu dengan kategori-kategori lainnya. Tujuannya secara keseluruhan adalah untuk “to ground” (membumikan) kategori-kategori itu di dalam data. Seperti terlihat dalam Diagram 14.6, data-data mentah membentuk indikator-indikator (I; Glaer, 1978) – segment-segmen kecil dari informasi yang bersumber dari orang yang berbeda, sumber yang berbeda, orang yang sama pada waktu yang berbeda. Indikator-indikator ini, selanjutnya dikelompokkan ke dalam beberapa kode (misalnya, Kode A, Kode B, Kode C), dan kemudian membentuk kategori-kategori yang lebih abstrak (misalnya, Kategori 1, Kategori II). Di dalam keseluruhan proses ini, si peneliti secara terus menerus melakukan perbandingan antara indikator yang satu dengan indikator lainnya, kode yang satu dengan kode yang lainnya, dan kategori yang satu dengan kategori lainnya. Proses ini akan mengeliminasi ketumpang tindihan/keberulangan dan mengembangkan bukti-bukti dalam rangka mendukung kategori-kategori. Tambahan lagi, para peneliti teori grounded membandingkan pola yang mencuat (muncul) dengan data-data mentah dalam rangka membumikan kategori-kategori informasi yang terkumpul selama penelitian.

Dalam proses ini, para peneliti teori grounded mempertanyakan data. Glaser (1992), misalnya, menyarankan agar si peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut:

 Apa data-data penelitian ini?

 Kategori apa atau ciri-ciri kategori apa yang diindikasikan oleh insiden ini?

(22)

 Apa proses sosial psikologis yang mendasar atau proses sosial struktural yang

tercermin di dalam peristiwa tersebut? (halaman 51)

Di dalam penelitian teori grounded tentang proses menjadi seorang siswa dewasa di New Zealand, Chocklin (1996) mengumpulkan data-data observasi, wawancara, kisah-kisah keseharian partisipan, angket, dan bahan-bahan dokumen dari staf pengajar di sebuah sekolah menengah atas. Dalam penelitian ini, Chocklin mendeskripsikan proses melakukan perbaikan terhadap kategori-kategorinya (yang disebut tema) dengan jalan kembali pada data-datanya berkali-kali ketika tema-tema mencuat. Ia berkomentar

Sambil melakukan transkripsi dan pengorganisasian data, dan sebagai sebuah kegiatan yang saya lakukan pada akhir pekan, hari-hari libur resmi dan libur antar semester, saya terlibat dalam proses refeksi dan analisis yang terus menerus yang mencakup pemberian komentar-komentar interpretatif disamping data-data yang sudah ditranskripsikan (lihat Diagram 2). Komentar-komentar ini, erat kaitannya dengan pemunculan properties (ciri-ciri) dan hipotesis, saya juga menuruti analisis dan pengembangan berkelanjutan sejalan dengan berlalunya watu dan mencuatnya data ... (halaman 97)

Kategori Inti

(23)

1. Ia harus merupakan pusat; yakni, semua kategori utama terkait dengannya.

2. Ia harus sering muncul di dalam data. Ini bermakna bahwa di dalam atau hampir di dalam semua kasus, ada indikasi yang mengacu pada konsep tersebut.

3. Penjelasan yang tercermin dari kaitannya dengan kategori-kategori lain logis dan konsisten adanya. Tidak ada pemaksaan data.

4. Nama atau ungkapan yang digunakan untuk mendeskripsikan kategori sentral itu harus cukup abstrak.

5. Ketika konsep tersebut disempurnakan, maka teori berkembang secara mendalam dan memiliki kemampuan untuk menjelaskan. 6. Apabila kondisi berbeda, penjelasannya masih bisa berlaku,

walaupun cara di mana fenomena itu diungkapkan boleh jadi kelihatannya sedikit berbeda.

(24)

terbukanya pentingnya fenomena atau kategori inti, “tahapan”, walaupun “pemilihan label yang bisa menangkap proses bertahap ini terbukti cuma elusif” (59).

Pengembangan Teori

Untuk mengidentifkasi kategori inti dan kategori-kategori proses yang menjelaskannya, para pakar teori grounded telah melahirkan midle-range- theory (teori antara). Keseluruhan prosedur menuntun lahirnya teori yang bebasis data yang dikumpulkan oleh si peneliti. Teori dalam teori grounded ini adalah penjelasan atau pemahaman abstrak tentang proses yang berkaitan dengan topik substantif yang berakar di dalam data. Karena teori dekat dengan data, ia tidak memiliki penerapan atau ruang lingkup yang luas, seperti halnya “grand theories” (teori- teori besar) tentang motivasi manusia yang dapat diterapkan kepada banyak orang dan situasi. Ia bukanlah “hipotesis kerja minor” (Glaser & Strauss, 1967, halaman 33), seperti sebuah penjelasan tentang para siswa di sebuah sekolah atau ruang kelas. Sebaliknya teori itu adalah “middle range” (teori antara) (Charmaz, 2000), yang diperoleh dari beragam individu atau sumber-sumber data, yang memberikan penjelasan tentang sebuah topik substantif.

Perhatikan bagaimana para pakar teori grounded menyajikan teori mereka dalam tiga cara: sebagai paradigma pengkodean visual, sebagai serentetan proposisi (hipotesis), atau sebagai sebuah kisah yang ditulis dalam bentuk narasi.

(25)

berkulit hitam dan Hispanik selama 6 sampai 10 minggu pertama di universitas swasta yang didominasi oleh mereka yang berkulit putih di Midwest. Dalam penelitan ini, proses pembentukan komuinitas kampus yang dikembangkan secara induktif dari data-data. Teori atau model dari proses ini digambarkan dalam Diagram 14.8. Didasarkan pada kategori-kategori sistematis dan sudah ditentukan sebelumnya terkait dengan kondisi-kondisi pengganggu, strategi-strategi, kondisi-kondisi penyebab, dan fenomena, Brown mengembangkan sebuah gambar tentang proses ini sebagai kunci dari deskripsi teoritis tentang proses tersebut.

Penelitian Brown (1993) juga mengilustrasikan sebuah model visual dan penggunaan proposisi (hipotesis) teoritis untuk mengkomunikasilkan sebuah teori. Proposisi teorits dalam penelitian teori grounded adalah pernyataan-pernyataan yang menggambarkan hubungan antara kategori-kategori, seperti di dalam pendekatan sistematis, sampai pada pengkodean aksial yang mncakup kondisi-kondisi penyebab, kategori inti atau fenomena, konteks, kondisi-kondisi pengganggu, strategi-strategi, dan konsekuensi-konsekuensi. Setelah menyajikan model visualnya, Brown mengidentifkasi proposisi-proposisi dan sub-sub proposisi yang mengaitkan kategori-kategorinya di dalam model tersebut:

1. Interaksi antara teman sejawat berpengaruh terhadap pembentukan komunitas di lingkungan mahasiswa tahun pertama yang berkulit hitam dan Hispanik;

2. Makin banyak waktu yang dihabiskan bersama teman sejawat, akan makin besar dirasakan rasa berkomunitas itu. Makin banyak waktu lowong dihabiskan sendirian, makin besar dirasakan adanya perasaan ‘sunyi” dan “terpencil”;

3. Makin banyak waktu bebas dihabiskan oleh para mahasiswa di kampus berinteraksi dengan teman_teman sejawat di ruang-ruang tunggu atau “hall” di asrama, makin besar adanya rasa berkomunitas.

(26)

asrama tempat tinggal, kelompok-kelompok seminar diantara mahasiswa tahun pertama, tim-tim olah raga, klub-klub) akan memfasilitasi perasaan berkomunitas tersebut.

Kembali lagi pada Diagram 14.8, kita bisa lihat bahwa Brown mencoba mengait-ngaitkan kondisi-kondisi penyebab sehubungan dengan interaksi-interaksi dan teman-teman dalam proposisi dan sub-sub proposisi. Pada proposisi-proposisi tambahan di dalam penelitiannya, Brown terus mengidentifkasi proposisi-proposisi yang saling terkait dengan aspek-aspek lain dari modelnya tersebut.

Walaupun “teori” boleh jadi mudah diidentifkasi di dalam sebuah penelitian teori grounded apabila si peneliti menyajikannya sebagai paradigma pengkodean visual atau sebagai serentetan proposisi, diskusi yang ditulis dalam bentuk kisah (Strauss & Corbin, 1998) boleh jadi kurang kentara bagi para pembaca. Dalam proses memadukan kategori-kategori, para pakar teori grounded mengembangkan suatu pemahaman tentang apa yang sebenarnya diteliti dan mulai menulis sebuah cerita deskriptif tentang proses tersebut. Staruss dan Corbin (1998) menyarankan agar si peneliti:

... duduk dan menuliskan beberapa kalimat deskriptif tentang “apa sebenarnya yang sedang terjadi di sini”. Ini boleh jadi memerlukan dua, tiga atau bahkan lebih banyak lagi upaya untuk memulai ini untuk dapat mengartikulasikan pemikiran sendiri secara tepat. Selanjutnya, teori akan muncul (halaman 148).

Setelah disempurnakan dan dikerjakan kembali, para pakar teori grounded memasukkan cerita-cerita ini ke dalam laporan penelitian mereka sebagai alat untuk mendeskripsikan teori mereka tentang proses dimaksud. Sebuah contoh yang baik dari tipe tulisan seperti ini adalah cerita deskriptif tentang penggunaan narkoba oleh remaja yang dikutip oleh Strauss dan Corbin (1998):

(27)

penggunaan narkoba. Ini merupakan tingkah laku spesifk yang memisahan mereka dari keluarga mereka, akan tetapi, pada waktu yang sama, menjadikan mereka salah satu dari kelompok remaja (halaman 149).

Di dalam tulisan ini, para pengarang mengidentifkasi sebuah kondisi penyebab (yakni fase perkembangan). Mereka juga menyebutkan akibatnya (yakni “menandai perubahan”) dan menciptakan konteks (yakni “memisahkan mereka dari keluarga mereka”). Melalui cerita deskriptif ini, para pengarang mengaitkan beberapa kategori dari pengkategorian aksial guna membangun diskusi teoritis tentang proses penggunaan narkoba oleh remaja – bentuk ketiga dari penulisan teori di dalam proyek penelitian teori grounded.

Memo

Dalam keseluruhan prosedur teori grounded, si peneliti membuat memo tentang data. Penulisan memo merupakan sebuah alat dalam penelitian teori grounded yang memberikan peluang kepada si peneliti untuk melakukan dialog terus menerus dengan dirinya sendiri berkenaan dengan teori yang muncul (Charmaz, 1990). Memo adalah catatan-catatan yang ditulis oleh si peneliti di sepanjang proses penelitian untuk mengelaborasi gagasan-gagasan tentang data dan kategori-kategori yang sudah dikode. Dalam memo, si peneliti menelusuri prasangka, ide-ide, dan pemikiran-pemikiran, dan kemudian memisah-misahkannya, terus mencari penjelasan yang lebih luas lagi yang mengena tentang proses yang diteliti. Memo membantu mengarahkan si penelti pada sumber-sumber data, menentukan ide-ide mana yang akan dikembangkan lebih lanjut, dan mencegah lumpuhnya tumpukan data yang sudah ada. Walaupun demikian, para peneliti teori grounded sering tidak melaporkan pembuatan memo, atau jika dilaporkan, ia tidak memberikan bukti bagaimana ia digunakan (Babchuck, 1997).

Kita bisa mengilustrasikan pembuatan memo dalam sebuah penelitian tentang proses kehilangan identitas yang dialami oleh individu-individu yang menderita penyakit Alzheimer. Orona (1997) mendiskusikan bagaimana pembuatan memo membantunya untuk:

1. Bebas berhubungan dan menuliskan pemikiran-pemikiran apa saja yang muncul dalam kesadarannya;

(28)

3. Mulai mengkonseptualisasikan dengan menelusuri ide-ide dari data-data mentah ke pengkodean dan kemudian menjadi kategori-kategori. Memo bisa panjang dan bisa juga pendek, bisa lebih rinci dan terkait dengan kode dan kategori atau lebih luas dan lebih abstrak. Berikut adalah ilustrasi tentang memo singkat dan rinci yang ditulis oleh Charmaz (1994) semasa penelitiannya berkenaan dengan para pasien yang dinyatakan sakit, dan “momen-momen mengidentifkasi diri” di rumah sakit ketika si pasien membangun pandangan terhadap diri mereka sendiri.

Sudah jelas bagi saya bahwa bagaimana pasien tertentu yang secara kronis sakit diidentiikasi oleh orang-orang lain kadang-kadang terbukti kepada mereka pada saat-saat bertemu atau berinteraksi. Momen-momen ini memberikan kepada individu yang sakit refeksi baru tentang dirinya, sering membuktikan kepada mereka bahwa ia bukanlah orang yang ia pikir orang yang sakit... Momen identifkasi negatif adalah momen-momen yang terbungkus dalam rasa malu dan tak berguna ... Seorang wanita mendeskripsikan sebuah pertemuan dengan seorang agen pelayanan masyarakat yang merendahkan martabatnya ketika pada moment tersebut, ia mlihat dirinya sendiri sebagai seseorang yang didefenisikan sebagai seseorang yang tidak layak dibantu. Ia berkata, “Sesuatu yang dapat saya lakukan adalah larut dalam tangisan – tidak ada sesuatu yang dapat saya lakukan. Saya tidak bisa bergerak... (halaman 110 – 111).

Tulisan ini mengilustrasikan bagaimana peneliti teori grounded menuliskan memo, menggunakannya di dalam penelitian, menggarisbawahi pemikiran-pemikiran refektifnya sendiri dengan cara-cara yang serasi dengan penelitian kualitatif, dan menggunakan memo itu untuk menggarisbawahi kategori-kategori informasi (yakni “momen-momen identifkasi negatif”).

Apa-apa Langkah dalam Melaksanakan Penelitian Teori Gounded?

Dengan perbedaan tipe-tipe prosedur penelitian teori grounded – sistematik, mencuak (uncul), dan konstruktivist – para peneliti boleh jadi terlibat dalam prosedur-prosedur alternatif dalam melaksanakan penelitian teori grounded. Pendekatan yang diambil di sini adalah bentuk sistematik karena ia terdiri dari langkah-langkah yang gampang diidentifkasi, sering digunakan dalam penelitian teori grounded, dan menawarkan prosedur yang bagi peneliti muda ternyata bermanfaat.

Langkah 1: Tetapkan apakah rancangan teori grounded yang paling mengena untuk masalah penelitian

(29)

mengembangkan abstraksi umum terkait dengan interaksi dan kegiatan orang. Ia menawarkan sebuah gambaran makro tentang situasi-situasi pendidikan ketimbang analisis mikro yang rinci. Karena melahirkan proses yang abstrak, rasanya akan cocok untuk topik-topik yang sensitif, seperti proses penanggulangan kekerasan seksual yang dialami oleh para wanita (Morrow & Smith, 1995), atau situasi masalah penelitian apapun di mana para individu memerlukan agar privasi mereka diproteksi. Penelitian teori grounded rasanya juga bagus untuk individu-individu yang terlatih dalam penelitian kuantitatif akan tetapi yang berkeinginan menelusuri prosedur kualitatif yang mantap dan sistematis. Contoh, dalam bidang pendidikan di mana penelitian kualitatif memiliki jalan yang lamban, seperti konseling dan psikologi belajar, para peneliti kembali menggunakan teori grounded sebagai prosedur yang bermanfaat (lihat satu dari sekian banyak contoh, seperti penelitian teori grunded oleh Frontman & Kunkel (1996) tentang bagaimana konselor telah mengukir keberhasilan dengan klien.

Langkah 2: Identifkasi Proses yang akan Diteliti

Karena tujuan dari penelitan teori grounded adalah untuk menjelaskan sebuah poses, anda perlu semenjak awal mengidenifkasi secara tentatf proses yang akan dikaji di dalam penelitian teori grounded anda. Poses tersebut boleh jadi berubah dan muncul ketika penelitian sedang berlangsung, akan tetapi anda perlu memiliki gagasan tentang proses pada tahap ini. Proses ini seharusnya secara wajar timbul dari masalah dan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang ingin anda jawab. Ia perlu melibatkan orang-orang yang sedang melakukan kegiatan atau berinteraksi dengan langkah-langkah dan urutan yang dapat diidentifkasi dalam interaksi mereka. Proses ini agaknya perlu dituliskan semenjak awal dalam rencana penelitian anda, seperti “Apa proses yang dilalui oleh guru-guru tahun pertama untuk bisa tetap bertahan dan sukses?” atau “Apa proses di mana para dosen berkembang menjadi para peneliti yang produktif?”.

Langkah 3: Mendapatkan Izin dan Akses

(30)

mengumpulkan data, memberikan apresiasi terhadap individu-individu yang telah membantu anda dalam penelitian anda, memberikan proteksi terhadap situs dan para partisipan ketika anda melakukan penelitian.

Jika anda berencana menggunakan pendekatan zigzag (berlika-liku) dalam pengumpulan dan analisis data, akan sukar merencanakan dan mendapatkan izin untuk pengumpulan data. Pendekatan ini banyak tergantung pada pengumpulan data, analisisnya, dan penggunaan informasi ini unuk menentukan langkah berikutnya dalam pengumpulan data. Dengan demikian, ketika anda berupaya mendapatkan izin untuk melakukan penelitian teori grounded, akan bermanfaat kiranya bila anda memberitahukan kepada si pemberi izin (reviewer) tentang proses ini dan tentang hakekat dari prosedur pengumpulan data pada awal penelitian tersebut.

Langkah 4: Lakukan Pengambilan Sampel Teoritis

Konsep kunci pengumpulan data dalam penelitian teori grounded adalah untuk menghimpun informasi yang dapat membantu dalam pengembangan teori (seperti para individu telah mengalami proses yang ingin anda teliti). Para peneliti teori grounded menggunakan banyak bentuk data (seperti yang diutarakan pada bab 8), akan tetapi banyak diantara para peneliti tersebut mengandalkan wawancara untuk menangkap pengalaman-pengalaman para individu dengan menggunakan kata-kata mereka sendiri. Walaupun demikian, salah satu karakteristik dari penelitian teori grounded adalah bahwa si peneliti mengumpulkan data-data lebih dari satu kali dan terus menerus mendatangi sumber-sumber data untuk mendapatkan lebih banyak informasi selama penelitiannya sampai akhirnya kategori-kategori menjadi jenuh dan teori berkembang secara utuh. Tidak ada batas waktu yang pasti bagi proses ini, dan para peneliti perlu membuat keputusan tentang kapan mereka merasa telah mengembangkan secara utuh kategori-kategori penelitian mereka dan teori mereka. Satu kebiasaan umum pada program pasca sarjana terkait dengan penelitian dan wawancara ini adalah mengumpulkan data dari sekurang-kurangnya 20 atau 30 wawancara selama pengumpulan data (Creswell, 1998). Tentu saja petunjuk umum ini boleh berubah jika anda mengumpulkan data dari sumber yang bermacam ragam, seperti observasi, dokumen, dan memo pribadi anda sendiri.

(31)

Proses pengkodean data dilakukan selama masa pengumpulan data sehingga anda dapat menentukan data apa lagi yang selanjutnya akan dikumpulkan. Biasanya ia dmulai dengan mengidentifkasi kateri-kategori pengkodean terbuka dan menggunakan pendekatan perbandiangan berkelanjutan untuk mencapai titik jenuh dengan jalan membandingkan data-data dengan insiden, dan insiden dengan kategori. Masuk akallah kiranya bila sepuluh buah kategori sudah memadai jumlahnya, walaupun jumlah ini tergantung pada data base anda dan kerumitan dari proses yang anda teliti. McCaslin (1993), misalnya, melakukan penelitian teori grounded berkenaan dengan pertanyaan yang rumit tentang kepemimpinan pada komunitas pedesaan. Dalam penelusurannya tentang “Apakah itu kepemimpinan?” ia mengidentifkasi sebanyak 50 buah kategori melalui observasi dan wawancara dengan inividu-individu yang berpartisipasi dalam program pengembangan kepemimpinan pendidikan pada enam buah kabupaten.

Dari pengkodean terbuka, anda lanjutkan dengan pengkodean aksial dan pengembangan paradigma pengkodean. Ini termasuk proses seperti diidentifkasi dalam Diagram 14.3, menseleksi kategori inti dari kemungkinan-kemungkinan yang ada pada pengkodean terbuka dan memposisikannya di pusat dari proses pengkodean aksial sebagai kategori inti. Dari sini anda mungkin harus kembali lagi ke pengumpulan data atau menganalisis kembali data-data untuk mengidentifkasi kondisi-kondisi penyebab, kategori-kategori pengganggu dan kontekstual, strategi-strategi, dan konsekuensi-konsekuensi dalam rangka mengembangkan proses pengkodean aksial. Anda bisa menghimpun informasi ini dalam bentuk paradigma pengkodean atau dalam bentuk gambar visual tentang proses yang dalam hal ini anda bisa menggunakan anak-anak panah guna memperlihatkan arah dari proses dimaksud.

Langkah 6: Gunaan Pengkodean Selektif dan Kembangkan Teori

(32)

penulisan sebuah cerita atau narasi yang mendeskripsikan kesalinghubungan antara kategori-ketegori itu satu sama lainnya.

Langkah 7: Memvalidasi Teori

Sangat penting diingat bahwa apakah penjelasan teoritis tentang proses yang anda teliti itu masuk akal bagi para partisipan dan merupakan terjemahan yang akurat dari peristiwa-peristiwa serta urutan peristiwa-peristwa tersebut dalam keseluruhan proses. Dalam penelitian teori grounded, validasi merupakan bahagian aktif dari proses penelitian (Creswell, 1998). Contohnya, selama prosedur pengkodean terbuka dengan menggunan teknik perbandingan berkelanjutan, si peneliti melakukan triangulasi data antara informasi dan kategori-kategori yang muncul. Proses yang sama juga dilakukan antara pengecekan data terhadap kategori-kategori pada tahap pengkodean aksial. Si peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan kategori-kategori, dan kemudian kembali ke data lagi dan cari bukti-bukti, insiden-insiden, dan peristiwa-peristiwa – suatu proses dalam penelitian teori grounded yang disebut

discriminant sampling . Setelah mengembangkan teori, peneliti teori grounded memvalidasi proses dengan jalan membandingkannya dengan proses yang saat ini ditentukan di dalam literatur (kepustakaan). Demikian juga, reviewer eksternal, seperti partisipan yang berpartisipasi dalam penelitian, yang menilai teori grounded dengan menggunakan prinsip-prinsip keilmuan yang baik boleh jadi mendukung teori itu, termasuk validitas dan kredibilitas data (Strauss & Corbin, 1998).

Langkah 8: Menulis Laporan Penelitian Teori Grounded

Struktur dari laporan penelitian teori grounded bervariasi mulai dari struktur yang feksibel yang tergambar dari emerging dan constructivist design sampai pada struktur yang lebih berorientasikan kuantitatif seperti tercermin dari rancangan sistematis. Dibandingkan dengan rancangan-rancangan kualitatif yang lain, seperti penelitian etnograf dan penelitian naratif, struktur dari penelitian teori grounded adalah ilmiah dan berisikan masalah, metoda, diskusi, dan hasil. Disamping itu, sudut pandang si peneliti pada pendekatan sistemats kadang-kadang orang ketiga tunggal dan bernuansa objektif. Walaupun demikian, semua penelitian teori grounded berujung pada teori yang dihasilkan oleh peneliti melaporkan abstraksi dari proses yang dia teliti.

(33)

Kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi penelitian teori grounded berandalkan pada penilaian tentang teori (Glaser, 1978, 1992) begitupun prosedur menyeluruh yang digunakan untuk menghasilkannya (Strauss & Corbin, 1990, 1998).

Ketika mengevaluasi kulitas sebuah penelitian teori grounded, ajukanlah pertanyaan terkait dengan teori itu sendiri:

 Apakah terdpat hubungan atau kecocokan yang nyata antara kategori-kategori dan data-data mentah?

 Aakah teori itu bermanfaat sebagai sebuah penjelasan konseptual terhadap proses yang diteliti? Dengan kata-kata lain, apakah penjelasan itu mengena?

 Apakah teori itu memberikan penjelasan yang relevan tentang masalah aktual dan proses yang mendasar?

 Apakah teori itu dimodifkasi ketika kondisi berubah atau si peneliti mengumpulkan data-data tambahan?

Selanjutnya, ajukan pertanyaan berkenaan dengan proses penelitian:  Apakah sebuah model teoritis dikembangkan atau dihasilkan? Apakah

tujuan dari model tersebut adalah untuk mengkoseptualisasikan sebuah proses, kejadian, atau interaksi?

 Apakah terdapat fenomena sentral (atau kategori inti) yang merupakan jantung model tersebut?

 Apakah model tersebut muncul melalui tahapan-tahapan pengkodean (seperti mulai dari kode-kode awal sampai pada kode-kode yang berorientasikan teori, atau dari pengkodean terbuka sampai pada pengkodean aksial dan terus ke pengkodean selektif)?

 Apakah si peneliti berupaya mengait-ngaitkan kategori-kategori (seperti membuat proposisi-proposisi, melakukan diskusi, membuat model atau diagram)?

 Apakah si peneliti mengumpulkan data-data secara ekstensif dalam rangka mengembangkan teori konseptual melalui penjenuhan data secara benar?

(34)

Menerapkan Apa yang telah anda Ketahui: Penelitian Teori Grounded

Untuk bisa menerapkan gagasan-gagasan yang ada dalam bab ini, mula-mula bacalah laporan penelitian teori grounded halaman 456 oleh Fen-Calligan (1999), dengan memperhatikan anotasi yang terdapat dalam marjin yang mengidentifkasi karakteristik penelitian teori grounded dan kualitatif. Penelitian ini dipilih karena ia memfokuskan diri pada proses (menjadi tercerahkan selama penyembuhan). Ia juga memanfaatkan prosedur-prosedur teori grounded yang solid yang sesuai dengan pendekatan Strauss dan Corbin (1998), dan ia mencoba “mendidik” para pembacanya tentang teori grounded dengan tetap menjaga agar para pembacanya memperhatikan masing-masing langkah dalam proses itu ketika langkah tersebut dilakukan. Artikel ini selanjutnya menggunakan sebuah tabel yang mengilustrasikan secara jelas kategori-kategori awal , dan sebuah diagram yang mepertunjukkan kesalinghubungan antara masing-masing kategori. Penelitian diakhiri dengan proposisi atau hipotesis yang membuat kaitan-kaitan antara kategori-kategori sesamanya dan emerging theory menjadi ekplisit. Peneliti tidak menyebutkan secara eksplisi pembuatan memo akan tetapi ia boleh jadi telah melakukan prosedur tersebut di dalam kgiatan penelitiannya.

Ketika anda membaca artikel tersebut, perhatikan unsur-unsur dari proses penelitiannya:

 Masalah penelitian dan penggunaan penelitan kualitatif  Penggunaan literatur (kepustakaan)

 Rumusan tujuan penelitian dan pertanyaan-oertanyaan penelitian  Tipe-tipe dan prosedur-prosedur pengumpulan data dalam penelitian

teori grounded

 Tipe-tipe dan prosedur-prosedur analisis dan interpretasi data dalam penelitian teori grounded

 Keseluruhan struktur penulisan

Masalah Penelitian dan Penggunaan Penelitian Kualitatif Masalah penelitian --- lihat Paragraf 02 – 04

Penggunaan penelitian kualitatif – lihat anotasi pada marjin di sisi kiri halaman

(35)

penelitian ini: isu tentang kesehatan publik di dalam masyarakat terkait dengan “chemical addictions” (kecanduan narkoba). Diantara opsi-opsi pengobatan, satu pendekatan adalah terapi kesenian, dan si peneliti menyatakan bahwa tidak ada terapi yang bisa menjelaskan peranan terapi kesenian dalam mengobati kecanduan narkoba.

Artikel ini memiliki banyak sekali tanda-tanda penelitian kualitatif:

 Ia mengkaji sebuah proses terkait dengan peranan terapi kesenian guna membantu seseorang untuk menjadi tercerahkan (sadar) sebagai jawaban terhadap keteragantungan pada narkoba paragraf 04).

 Literatur yang digunakan difokuskan pada penanganan (pengobatan) terhadap ketergantungan akan narkoba (paragraf 03)

 Penulis menggunakan refeksi diri dengan memasukkan salah satu dari penelitiannya (paragraf 03)

 Tujuan penelitian diidentifkasi pada kalimat pertama (01)

 Data-data dikumpulkan dari sejumlah individu (N=19; paragraf 06, 08)  Sebuah koleksi kata-kata dan kalimat-kalimat yang diperoleh dari

wawancara ditampilkan (paragraf 08—09) dan gambar-gambar digunakan (gambar-gambar pasien; yakni Diagram 6.2 pada paragraf 27)

 Peneliti menggunakan formulir dia sendiri ketimbang menggunakan instrumen yang tersedia (paragraf 09)

 Peneliti menganalisis teks melalui pengkodean (paragraf 11 – 20)  Peneliti memberikan interpretasi pada temuan-temuannya dengan

mengacu pada nilai yang lebh bersifat umum dan lebih abstrak berkenaan terapi kesenian dan refeksi diri dan kesadaran diri (paragraf 56)

 Struktur penuisan yang feksibel digunakan untuk mengadakan refeksi terhadap topik-topik yang diteli di dalam penelitian teri grounded (paragraf 11 tentang pengkodean terbuka)

Penggunaan Literatur (Kepustakaan) Lihat paragra 02

(36)

penelitian kualitatif, literatur memainkan peranan yang kecil saja dan tidak berpengaruh terhadap pertanyaan-pertanyaan yang sedang diteliti.

Tujuan penelitian dan Pertanyaan-pertanyaan Penelitian Rumusan tujuan penlitian – lihat paragraf 01

Fenomena sentral – lihat paragraf 05

Pertantanyaan-pertanyaan wawancara –lihat paragraf 09

Penulis memulai dengan sebuah pernyataan tentang maksud penelitian: menelusuri peranan terapi kesenian dalam upaya penyembuhan individu-individu dari kecanduan narkoba. Si proses yang sedang diteliti terkait dengan penyembuhan atau penggunaan terapi kesenian.

Pertanyaan pokok dalam penelitian ini membantu menjelaskan beberapa diantara misteri ini. Si penulis mengajukan pertanyaan,”Apa teori yang dapat menjelaskan proses terapi kesenian dalam rangka mengobati kecanduan?” Pengembangan teori yang menjelaskan proses ini selanjutnya didukung oleh pertanyaan-pertanyaan wawancara khusus yang ditujukan pada pemahaman tentang peranan terapi kesenian, hasilnya, dan flsafat pengobatannya.

Tipe-tipe Prosedur Pengumpulan Data Penelitian Teopri Grounded Lihat paragraf 06 – 10

Data kualitatif dikumpulkan dari sejumlah kecil individu (N=19), akan tetapi ini adalah orang-orang yang dengan sengaja diilih karena mereka bisa memberikan informasi dalam rangka pengembangan teori. Mereka telah mengalami terapi kesenian pada situai-situasi interaktif antara terapist – klien. Tanpa terikat pada pendekatan berlika-liku (zigzag), maka si peneliti tidak melakukan kunjungan berkali-kali ke lapangan untuk mengumpulkan data kecuali untuk kontak kedua dengan para terapist guna mendapatkan rekomendasi tentang pasien yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian. Pengumpulan data terdiri dari mewawancarai dan mengumpulkan gambar-gambar seni ketimbang menggunakan sumber-sumber informasi tambahan (seperti jurnal-jurnal pribadi oleh para terapist dan para pasien).

Tipe-tipe Prosedur Analisis dan Interpretasi Data dalam Penelitian Teori Grounded

(37)

Si peneliti melaporkan bahwa ia melakukan tiga bentuk pengkodean data: pengkodean terbuka dalam rangka menghasilkan kategori-kategori awal, pengkodean aksial guna mencari kaitan-kaitan antara kategori-kategori sesamanya, dan pengkodean selektif guna membantu mengembangkan cerita yang mengaitkan kategori-kategori tersebut. Sejalan dengan prosedur-prosedur penelitian teori grounded, ia mengidentifkasi kategori intinya (fenomena sentral) setelah melakukan pengkodean awal. Secara khusus, dari keenam kategori yang diidentifkasi seperti terlihat dalam Table 6.1, ia memilih “pengungkapan diri” dan “kesadaran diri” sebagai tema pokok dan, dengan menggunakan kata-kata para partisipan dalam penelitian, ia sebuat kategori inti ini dengan “enlightenment” (pencerahan). Ia kemudian mencari hubungan antara kategori ini dengan kategori-kategri lainnya dan membuat diagram tentang proses tersebut (lihat Diagram 6.1, pengkodean aksial). Ia jelaskan masing-masing kategori dalam diagram ini dan menjadikan kaitan-kaitan tersebut eksplisit melalui enam buah hipotesis atau proposisi. Tambahan lagi, guna membantu para pembaca memahami kategori inti, ia tampilkan kategri inti tersebut dalam judul penelitian dan mencantumkannya dalam bahagian pendahuluan (paragraf 01). Tabel pengkodean terbuka yang dibuat oleh Feen-Calligan dan diagram pengkodean aksial merupakan model yang bermanfaat guna menyajikan temuan-temuan penelitian teori grounded.

Intrpretasi terhadap temuan-temuan disajikan dalam bahagian terakhir, di mana Feen-Calligan mengaitkan temuan-temuannya tentang pencerahan dengan nilai dari terapi kesenian dan kesadaran diri dan refeksi diri yaang membantu individu-individu dalam penyembuhan diri mereka.

Keseluruhan Struktur Penulisan

Lihat judul-judul yang digunakan dalam peneliian ini.

Referensi

Dokumen terkait

Pengkhotbah : Bagi setiap orang yang sungguh-sungguh menyesali dosa-dosanya dan bertobat, dengarkanlah berita anugerah dari Tuhan Yesus Kristus yang dicatat dalam Yohanes 5:24 “Aku

Sebaliknya, pembangunan kualitas sumber daya manusia juga tidak akan tercapai tanpa dukungan pertumbuhan ekonomi. Demikian pula pertumbuhan ekonomi

Sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia yang utuh, maka Kabupaten Maluku Tenggara Barat, dalam proses pembangunannya cenderung menjaga dan mengangkat wibawa budaya

Implementasi Lean Manufacturing Pada Lantai Produksi Box Filter Dengan Penggunaan Metode Value Stream Mapping (VSM) Untuk Mereduksi Inventory (Studi Kasus Pada

adalah upaya yang sistematis yang meliputi upaya pemecahan masalah kesehatan keluarga sebagai unit primer komunitas adalah masyarakat sebagai lokus penegakkan

• Manusia, materi atau kejadian yang mengkondisikan siswa dalam memper- oleh pengetahuan, keterampilan dan sikap (Gerlach & Ely, 1971).... • Lebih khusus: alat-alat grafis,

Selain meningkatkan kualitas lintasan Manado – Lota – Kali – Kinilow menjadi jalan yang representatif sesuai dengan peranan jalan Arteri, juga dengan

Madaeni dan Samieirad (2010) melaporkan bahwa pencucian memran RO aplikasi daur ulang air limbah yang menggunakan pencucian basa (NaOH-SDS) pada tahap pertama dan