• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PERADABAN DAN KEBUDAYAAN TENTANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH PERADABAN DAN KEBUDAYAAN TENTANG"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

Pandangan Mahasiswa Pendidikan Khusus Reguler dan Aceh 2014 terhadap Gaya Berpakaian Remaja Kota Yang Minim Masa Kini

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan Sosial Budaya

Dosen Pengampu : Dr. Cik Suabuana, M.Pd.

Heny Mulyani, M.Pd.

Oleh :

Eka Afriyanti 1406529

Firda Aini 1404177

Nida Salma Ruum Abdillah 1405078 Syahril Hudori 1403869

DEPARTEMEN PENDIDIKAN KHUSUS

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT atas berkat rahmat dan karunia-Nya penyusun dapat menyelesaikan makalah yang diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan Sosial Budaya dengan tema Kebudayaan dan Peradaban yang berjudul ”

Pandangan Mahasiswa Pendidikan Khusus Reguler dan Aceh 2014 terhadap Gaya Berpakaian Remaja Kota Yang Minim Masa Kini”.

Mengingat keterbatasan pengetahuan, kemampuan dan waktu yang dimiliki, penyusun menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna, namun penyusun berharap sekecil apapun makalah ini dapat memberikan manfaat bagi penyusun maupun bagi siapa pun yang sempat membaca makalah ini.

Makalah ini masih jauh dari sempurna, diharap kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Bandung, November 2015

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... i

DAFTAR ISI... ii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1

B. Identifikasi Masalah... 1

C. Rumusan Masalah... 1

D. Pendekatan dan Metode Pemecahan Masalah... 1

E. Sistematika Makalah ... 2

BAB II KAJIAN TEORI A. Pengertian Kebudayaan ... 3

B. Wujud dan Unsur Kebudayaan ... 3

C. Tahap-Tahap Perkembangan Kebudayaan... 5

D. Manusia sebagai Pencipta dan Pengguna Kebudayaan ... 6

E. Pengaruh Budaya Terhadap Lingkungan... 7F. Peradaban... 8

G. Problematika Kebudayaan dan Peradaban... 9

BAB III PEMBAHASAN A. Faktor Penyebab Minimnya Gaya Berpakaian Remaja Kota Masa Kini... 13

B. Solusi Mengatasi Permasalahan Minimnya Gaya Berpakaian Remaja Kota Masa Kini ... 15

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 17

B. Saran... 18

DAFTAR PUSTAKA... 19

(4)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Koentjaraningrat (dalam Tim Dosen MKDU FPIPS UPI, PSB 2015, hlm. 75) mengemukakan bahwa “Kebudayaan merupakan sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar. Tindakan yang merupakan nalurinya (seperti makan, minum, dan berjalan) telah dirombak oleh manusia itu sendiri menjadi tindakan kebudayaan”.

Setiap bangsa dan negara mempunyai budaya yang beragam dan unik. Menjunjung tinggi nilai kesopanan merupakan salah satu ciri dari bangsa Indonesia, baik dari tata bahasa, perilaku, gaya hidup seperti style/fashion yang telah menjadi budaya. Adapun gaya hidup khususnya gaya berpakaian orang Indonesia sangatlah sopan, mengikuti budaya timur yaitu mayoritas berkerudung, utamanya menutup aurat atau istilah kasarnya tidak buka-bukaan, sesuai norma keagamaan dan norma kesopanan.

Pada era globalisasi ini, banyak warga Indonesia yang gaya berpakaiannya mengikuti budaya barat, tidak seharusnya diikuti seluruhnya karena budaya barat tidak sesuai dengan budaya timur. Remaja masa kini yang mendominasi gaya berpakaiannya mengikuti gaya berpakaian barat. Hal tersebut terbukti dari hasil observasi kepada remaja Bandung terdekatnya. Hubungannya dengan peradaban, kasus ini terjadi pengaruh dari globalisasi. Kebudayaan dan peradaban merupakan kesatuan yang saling berkaitan. B. Identifikasi Masalah

Pengaruh globalisasi sangat berdampak bagi kehidupan masa kini. Salah satunya terlihat dari gaya berpakaian remaja masa kini sebagai hasil imitasi dari budaya barat. Layaknya masyarkat Indonesia memfilter terlebih dahulu budaya asing yag masuk, tidak asal menerima dan mengaplikasikan ke kehidupan sehari-hari. Masalah ini muncul juga terjadi karena beberapa faktor, seperti kurangnya iman dan taqwa, pengaruh media sosial, kurangnya kontrol orangtua dan masyarakat, serta masih banyak faktor yang mempengaruhinya.

(5)

a. Apa faktor penyebab gaya berpakaian remaja masa kini menjadi minim dalam arti bertentangan dengan norma keagamaan dan kesopanan?

b. Bagaimana solusi untuk mengatasi permasalahan diatas? D. Pendekatan Dan Metode Pemecahan Masalah

Metode yang digunakan pada kasus ini yaitu metode kuantitatif. Adapun metode kuantitatif dilakukan dengan cara menyebarkan angket, dan observasi.

Adapun pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan multi aspek. E. Sistematika Makalah

Bab I Pendahuluan

a. Latar Belakang Masalah b. Identifikasi Masalah c. Rumusan Masalah

d. Pendekatan dan Metode Pemecahan Masalah e. Sistematika Makalah

Bab II Kajian Teori Bab III Pembahasan

Bab IV Kesimpulan dan Saran Daftar Pustaka

Daftar Lampiran

(6)

Secara etimologis istilah kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta, yaitu

budhaya yang merupakan bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Koentjaraningrat (dalam Tim Dosen MKDU FPIPS UPI, PSB 2015, hlm. 73) mengemukakan bahwa “kebudayaan sebagai seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar. Sehingga menurutnya, hampir semua tindakan manusia adalah kebudayaan”.

Kebudayaan menurut penuyusun merupakan hasil pemikiran sekelompok masyarakat yang berkenaan dengan nilai-nilai dan adat yang berlaku.

B. Wujud Dan Unsur Kebudayaan 1. Wujud kebudayaan

Koentjaraningrat (dalam Tim Dosen MKDU FPIPS UPI, PSB 2015, hlm. 75) mengemukakan bahwa “kebudayaan dibagi menjadi 4 wujud, adalah sebagai berikut”.

a. Wujud kebudayaan sebagai artifact atau benda-benda fisik.

Kebudayaan dalam wujud ini yaitu semua benda hasil karya manusia bersifat konkrit dan dapat diraba serta difoto.

b. Wujud kebudayaan sebagai sistem tingkah laku dan tindakan yang berpola.

Kebudayaan dalam wujud ini bersifat konkrit dapat difoto dan dapat difilm. Semua gerak-gerik yang dilakukan dari hari ke hari dan masa ke masa merupakan pola-pola tingkah laku yang dilakukan berdasarkan sistem.

c. Wujud kebudayaan sebagai gagasan

Kebudayaan dalam wujud ini menggambarakan wujud gagasan dari kebudayaan, dan tempatnya adalah dalam kepala tiap induk hidup warga kebudayaan yang bersangkutan yang dibawanya, kemanapun ia pergi. Kebudayaan dalam wujud ini bersifat abstrak, hanya dapat diketahui serta dipahami setelah ia mempelajarinya dengan mendalam.

d. Wujud kebudayaan sebagai sistem gagasan yang ideologis

Wujud kebudayaan ni merupakan gagasan-gagasan yang telah dipelajari para wrga suatu kebudayaan sejak usia dini, dank arena itu sangat sukar diubah. Istilah untuk menyebut unsur-unsur kebudayaan yang merupakan pusat dari semua unsure yang lain itu adalah “nilai-nilai budaya”, yang menentukan sifat dan corak dari pikiran, cara berpikir serta tingkah laku manusia suatu kebudayaan.

2. Unsur kebudayaan

Unsur kebudayaan menurut Koentjaraningrat (dalam Tim Dosen MKDU FPIPS UPI, PSB 2015, hlm. 76 ) sebagai berikut.

1. Kepercayaan

(7)

sekarang, bisa .berupa prediksi – prediksi tentang masa depan, dan bisa juga berdasarkan common sense, akal sehat, kebijaksanaan yang dimiliki suatu bangsa, agama, ilmu pengetahuan, atau suatu kombinasi antara semua hal tersebk ut. Kepercayaanmembentuk pengalaman, baik pengalaman pribadi maupun pengalaman sosial. Orang Barat, misalnya percaya bahwa waktu tidak dapat berbalik atau berulang. Mereka mempunyai persepsi waktu linear, yakni bahwa waktu bergerak lurus ke depan. Waktu bergerak dari suatu titik awal menuju ke suatu titik tujuan (akhir). Waktu bergerak ke depan, karena itu ada kemajuan. Disini orang tidak percaya pada nasib ataupun takdir. Kemajuan dan perubahan masyarakat tergantung pada usaha dan kerja keras manusia.

2. Nilai

Jika kepercayaan menjelaskan apa itu sesuatu, nilai menjelaskan apa yang seharusnya terjadi, Nilai itu luas, abstrak, standar kebenaran yang harus dimiliki, yang diinginkan, dan yang layak dihormati. Meskipun mendapat pengakuan luas, nila-nilai pun jarang ditaati oleh setiap anggota masyarakat. Namun nilai lah yang menentukan suasana kehidupan kebudayaan dan masyarakat. Nilai mengacu pada apa atau sesuatu yang oleh manusia dan masyarakat dipandang sebagai yang paling berharga. Dengan perkataan lain, nilai itu berasal dari pandangan hidup suatu masyarakat. Pandangan hidup itu berasal dari sikap manusia terhadap Tuhan, terhadap alam semasta, dan terhadap sesamanya. Sikap ini dibentuk melalui pelbagai pengalaman yang menandai sejarah kehidupan masyarakat yang bersangkutan. 3. Norma dan Sanksi

Jika nilai itu cita – cita abstrak, norma adalah suatu aturan khusus, atau seperangkat peraturan tentang apa yang harus dan apa yang tidak harus dilakukan oleh manusia. Norma mengungkapkan bagaimana manusia seharusnya berperilaku atau bertindak. Norma adalah standar yang ditetapkan sebagai garis pedoman bagi setup aktivitas manusia – lahir dan kematian, bercinta dan berperang, apa yang harus dimakan, apa yang harus dipakai dan sebagainya. Sanksi – sanksi merupakan kekuatan penggerak daripada norma. Sanksi adalah ganjaran ataupun hukuman yang memungkinkan orang mematuhi norma. Sanksi – sanksi itu bisa bersifat formal bisa juga bersifat informal. Pelanggaran terhadap norma mendatangkan sanksi – sanksi tertentu. Tanpa sanksi, norma kehilangan kekuatan.

4. Teknologi

Sebagai hasil penerapan ilmu, teknologi adalah cara kerja manusisa. Dengan teknologi manusia secara intensif berhubungan dengan alam dan membangun kebudayaan dunia sekunder yang erbeda dengan dunia primer (alam ). Dewasa ini teknologi mempunyai pengaruh yang besar erhadap manusia, tidak hanya terhadap cara hidup manusia tetapi juga menetukan knologi beriktnya.

5. Simbol

Simbol adalah sesuatu yang dapat mengekspresikan atau memberikan makna. Banyak simbol berupa objek – objek fisik yang telah memperoleh makna kultural dan dipergunakan untuk tujuan – tujuan yang lebih bersifat simbolik ketimbang tujuan – tujuan instrumental.

6. Bahasa

(8)

Kemampuan untuk melakukan komunikasi simbolik, khususnya melalui bahasa, membedakan manusia dari hewan.

7. Kesenian

Setiap kebudayaan memiliki ekspresi-ekspresi artistik. Itu tidak berarti bahwa semua bentuk seni dikembankan dalam setiap kebudayaan. Bagaimanapun kebutuhan akan ekspresi estetis berkaitan dengan karakteristik-karakteristik dasar masing-masing masyrakat. Tidak ada bangsa yang memiliki karakteristik-karakteristik dasar yang sama. Karena itu, setiap bangsa memiliki ekspersi-ekspresi estetis yang khas. Apa yangdisebut universalitas seni tidak terletak pada corak dan bentuk ekspresi seni, melainkan pada kenyataan bahwa ekspresi seni itu terdapat di setiap kebudayaan.

Sedangkan menurut Koentjaraningrat (dalam Tim Dosen MKDU FPIPS UPI, PSB 2015, hlm. 78 ) mengemukakan bahwa “unsur kebudayaan adalah sebagai berikut”.

a. Bahasa

b. Sistem pengetahuan c. Organisasi sosial

d. Sistem peralatan idup dan teknologi e. Sistem mata pencaharian hidup f. Sistem religi

g. Kesenia

C. Tahap-Tahap Perkembangan Kebudayaan

Kekayaan dan keanekaragaman sejarah kebudayaan manusia sangat sulit untuk digambarkan secara lengkap. C.A. Van Peursen (dalam Tim Dosen MKDU FPIPS UPI, PSB 2015, hlm. 79) mengemukakan bahwa “sejarah kebudayaan umat manusia ini dapat dipilah menjadi 3 tahap, yaitu:”

1. Tahap Mitis, yaitu sikap manusia yang merasakan dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib di sekitarnya, yaitu kekuasaan dewa-dewa alam raya atau kekkuasaan kesuburan, seperti dipentaskan dalam mitologi-mitologi yang dinamakan bangsa-bangsa primitif. Akan tetapi berbagai bentuk mitologi inipun dalam dunia modern masih dapat dilihat.

(9)

baru, suatu kebertautan yang baru terhadap segala sesuatu dalam lingkungannya. Beberapa aspek ciri tahapan fungsional yang digambarkan oleh van peursen adalah orang mencari hubungan-hubungan antara semua bidang; arti sebuah kata atau sebuah perbuatan maupun barang dipandang menurut peran atau fungsi yang dimainkan dalam keseluruhan yang saling bertautan.

D. Manusia Sebagai Pencipta dan Pengguna Kebudayaan

Tim Dosen MKDU FPIPS UPI, PSB (2015, hlm. 80) menyatakan bahwa;

Budaya tercipta atau terwujud merupakan hasil dari interaksi antara manusia dengan segala isi yang ada di alam raya ini. Manusia di ciptakan oleh tuhan dengan dibekali oleh akal pikiran sehingga mampu untuk berkarya di muka bumi ini dan secara hakikatnya menjadi khalifah di muka bumi ini. Disamping itu manusia juga memiliki akal, intelegensia, intuisi, perasaan, emosi, kemauan, fantasi dan perilaku. Dengan semua kemampuan yang dimiliki oleh manusia maka manusia bisa menciptakan kebudayaan. Ada hubungan dialektika antara manusia dan kebudayaan. Kebudayaan adalah produk manusia, namun manusia itu sendiri adalah produk kebudayaan. Dengan kata lain, kebudayaan ada karena manusia yang menciptakannya dan manusia dapat hidup ditengah kebudayaan yang diciptakannya. Kebudayaan akan terus hidup manakala ada manusia sebagai pendudukungnya.

Kebudayaan mempunyai kegunaan yang sangat besar bagi manusia. Hasil karya manusia menimbulkan teknologi yang mempunyai kegunaan utama dalam melindungi manusia terhadap lingkungan alamnya. Sehingga kebudayaan memiliki peran sebagai :

1. Suatu hubungan pedoman antarmanusia atau kelompoknya

2. Wadah untuk menyalurkan perasaan-perasaan dan kemampuan-kemampuan lain. 3. Sebagai pembimbing kehidupan dan penghidupan manusia

4. Pembeda manusia dan binatang

5. Petunjuk-petunjuk tentang bagaimana manusia harus bertindak dan berprilaku didalam pergaulan.

6. Pengatur agar manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat dan menentukan sikapnya jika berhubungan dengan orang lain.

7. Sebagai modal dasar pembangunan.

Hubungan manusia dengan kebudayaan tidak akan terpisahkan, Budaya sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia karena kebudayaan tercipta dari hasil karya manusia melalui proses akal, pikiran, kemauan, dan prilaku. Dengan adanya keanekaragaman suku bangsa yang berbeda.

(10)

mengembangkan kebudayaannya sendiri, tanpa bertentangan dengan kebudayaan induk yang ada dalam masyarakat asli.

Hampir semua tindakan manusia itu merupakan kebudayaan. Hanya tindakan yang sifatnya naluriah saja yang bukan merupakan kebudayaan, tetapi tindakan demikian prosentasenya sangat kecil. Tindakan yang berupa kebudayaan tersebut dibiasakan dengan cara belajar. Terdapat beberapa proses belajar kebudayaan yaitu proses internalisasi, sosialisasi dan enkulturasi. Selanjutnya hubungan antara manusia dengan kebudayaan juga dapat dilihat dari kedudukan manusia tersebut terhadap kebudayaan. Manusia mempunyai empat kedudukan terhadap kebudayaan yaitu sebagai :

Tim Dosen MKDU FPIPS UPI, PSB (2015, hlm. 80) menyatakan bahwa;

Pembentukan kebudayaan dikarenakan manusia dihadapkan pada persoalan yang meminta pemecahan dan penyelesaian. Dalam rangka survive maka manusia harus mampu memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya sehingga manusia melakukan berbagai cara. Budaya yang dikembangkan oleh manusia akan berimplikasi pada lingkungan tempat kebudayaan itu berkembang. Suatu kebudayaan memancarkan suatu ciri khas dari masyarakatnya yang tampak dari luar. Dengan menganalisis pengaruh akibat budaya terhadap lingkungan seseorang dapat mengetahui, mengapa suatulingkungan tertentu akan berbeda dengan lingkungan lainnya dan mengasilkan kebudayaan yang berbeda pula.

Beberapa variabel yang berhubungan dengan masalah kebudayaan dan lingkungan:

1. Phisical Environment yaitu lingkungan fisik menunjuk kepada lingkungan natural seperti flora, fauna, iklim dan sebagainya.

2. Cultural Social Environment, meliputi aspek-aspek kebudayaan beserta proses sosialisanya seperti : norma-norma, adat istiadat dan nilai-nilai. 3. Environmental Orientation and Representation, mengacu pada persepsi

dan kepercayaan kognitif yang berbeda-beda pada setiap masyarakat mengenai lingkungannya.

4. Environmental Behaviordan and Process, meliputi bagaimana masyarakat menggunakan lingkungan dalam hubungan sosial.

5. Out Carries Produc, Meliputi hasil tindakan manusia seperti membangun rumah, komunitas dan sebagainya.

(11)

F.Peradaban

Tim Dosen MKDU FPIPS UPI, PSB (2015, hlm. 80) menyatakan bahwa “Peradaban memilik berbagai arti dalam kaitannya dengan masyarakat manusia yang berbudaya. Istilah ini digunakan untuk merujuk pada suatu masyarakat yang “kompleks” bercirikan kepada hasil cipta, karya, dan karsa manusia”.

Istilah peradaban menurut Sulismadi dan Sofwani (dalam Tim Dosen MKDU FPIPS UPI, 2015, hlm. 83-84) sering digunakan sebagai persamaan yang lebih luas dari istilah “budaya” yang populer dalam kalangan akademis.

1. Dimana setiap manusia dapat berpartisipasi dalam sebuah budaya, yang dapat diartikan sebagai “seni, adat istiadat, kebiasaan, kepercayaan, nilai, bahan perilaku dan kebiasaan dalam tradisi yng merupakan sebuah cara hidup masyarakat”

2. Namun, dalam definisi yang paling banyak digunakan, peradaban adalah istilah deskriptif yang relative dan kompleks untuk pertanian dan budaya kota.

3. “Peradaban” dapat juga digunakan dalam konteks luas untuk merujuk pada seluruh atau tingkat pencapaian manusia dan penyebarannya. Istilah peradaban sendiri sebenarnya bisa digunakan sebagai sebuah upaya manusia untuk mmakmurkan dirinya dan kehidupannya.

Berdasarkan pada pengertian diatas sekurang-kurangnya ada 3 inti, yaitu; (1)nilai, (2)kelompok tertentu, (3) tantangan zaman. Istilah peradaban dipakai untuk menunjukan pendapat dan penilaian terhadap perkembangan kebudayaan. Peradban adalah kebudayaan yang bernilai tinggi.

Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk beradab dan berbudaya yang tidak bisa hidup di luar adab dan budaya tertentu. Keberadaban manusia dapat dilhat dari budaya manusia itu sendiri secara individu.

Menurut Huntington (Sulismadi dan Sofwani, A. 2011 :60) “…sebuah peradaban disatukan dengan latar belakang sejarah, agama, budaya, dan dalam ukuran tertentu juga bahasa yang sama”.

G. Problematika Kebudayaan dan Peradaban

Tim Dosen MKDU FPIPS UPI, PSB (2015, hlm. 80) menyatakan bahwa; 1) Beberapa problematika kebudayaan antara lain :

a. Hambatan budaya yang berkaitan dengan pandangan hidup dan sistem kepercayaan.

Keterkaitan orang jawa terhadap tanah yang mereka temapti secara turun temurun diyakini sebagai pemberi berkah kehidupan. Mereka enggan meninggalkan kampung halamanya atau beralih ola hidup sebagai petani. Padahal hidup ereka umumnya miskin.

(12)

Keluarga Berencana atau KB semula ditolak masyarakat, mereka beranggapan bahwa anak anak banyak rezeki.

c. Hambatan budaya berkaitan dengan faktor psikologi atau kejiwaan.

Upaya untuk mentransmigrasikan penduduk dari daerah yang terkena bencana alam banyak mengalami kesulitan. Hal ini disebabkan karena adanya kekhawatiran penduduk bahwa di tempat yang baru hidup mereka akan lebih sengsara dibandingkan dengan hidup mereka di tempat yang lama.

d. Masyarakat yang terasing dan kurang komunikasi dengan masyarakat luar.

Masyarakat daerah-daerah terpencil yang kurang komunikasi dengan masyarakat luar, karena pengetahuannya serba terbatas, seolah-olah tertutp untuk menerima program-program pembangunan.

e. Sikap tradisionalisme yang berprasangka buruk terhadap hal-hal baru.

Sikap ini sangat menagung-agungkan budaya tradisional sedemikian rupa, yang menganggap hal-hal baru itu akan merusak tatanan hidup mereka yang sudah mereka miliki secara turun-temurun.

f. Sikap etnosentrisme.

Sikap etnosentrisme adalah sikap mengagungkan budaya suku bangsanya sendiri dan menganggap rendah budaya suku bangsa lain. Sikap semacam ini akan mudah memicu timbulnya kasus-kasus sara, yakni pertentangan suku, agama, ras, dan antar golongan. Sikap ini dapat menimbulkan kecenderungan perpecahan dengan sikapa kelakuan yang lebih tinggi terhadap budaya lain.

g. Perkembangan IPTEK sebgai hasil dari kebudayaan

Perkembangan IPTEK sebgai hasil dari kebudayaan sering kali disalahagunakan oleh manusia, sebagai contoh nuklir dan bom dibuat justru untuk menghancurkan manusia bukan untuk melestarikan suatu generasi, obat-obatan diciptakan untuk kesehatan tetapi pengunaannya banyak disalhgunkan yang justru mengganggu kesehatan manusia.

h. Pewarisan kebudayaan.

Dalam hal pewarisan kebudayaan bisa muncul masalah antara lain, sesuai atau tidaknya budaya warisan tersebut dengan dinamika masyarakat saat sekarang, penolakan generasi penerima terhadap warisan budaya tersebut, dan munculnya budaya baru yang tidak lagi sesuai dengan budaya warisan.

Dalam suatu kasus, ditemukan generasi muda menolak budaya yang hendak diwariskan oleh pendahulunya. Budaya itu dianggap tidak lagi sesuai dengan kepentingan hidup generasi tersebut, bahkan dianggap bertolak belakang dengan nilai-nilai budaya yang baru diterima sekarang ini.

i. Perubahan kebudayaan.

Perubahan kebudayaan yang terjadi bisa memunculkan masalah antara lain perubahan akan merugikan manusia jika perubahan itu bersifat regress(kemunduran) bukan progress (kemajuan), perubahan bisa berdampak buruk atau menjadi bencana jika dilakukan melalui revolusi, berlangsung cepat, dan diluar kendali manusia.

j. Penyebaran kebudayaan.

(13)

Barat pada era sekarang ini adalah masuknya nilai-nilai budaya global yang dapat memberi dampak negatif bagi perilaku sebagian masyarakat Indonesia. Misalnya pola hidup konsumtif, hedonisme, pragmatis, dan induvidualistik. Akibatnya nilai-nilai asli kebudayaan bangsa seperti rasa kebersamaan dan kekeluargaan lambat laun bisa hilang dari masyarakat Indonesia.

2) Faktor-faktor yang mempengaruhi peradaban suatu bangsa

Tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

a. Tingkat pendidikan

Rendahnya kualitas pemimpin dan kondisi politik yang akhirnya juga kembali lagi berdampak kepada proses pengembangan ilmu pengetahuan di masyarakat. Terlepas dari mana kita mencari sebab utama kelemahan, tapi yang jelas situasi yang yang tidak kondisi bagai pengembangan ilmu pengetahuan itu telah mengakibatkan lemahnya penguasaan masyarakat terhadap konsep konsep sentral dan fundamental yang digali dari dalam ajaran dan pandangan hidup.

b. Kemajuan teknologi dan ilmu pendidikan

Kondisi politik yang tidak kondusif untuk pengembangan ilmu, banyak orang yang harus berpindah dari satu tempat ketempat lain sehingga struktur masyarakat tidak lagi mendukung untuk kelanjutan tradisi intelektual. Meskipun kegiatan dalam skala kecil masih dapat terus berlangsung hingga kini.

c. Faktor eksternal

Dalam bidang pendidikan, misalnya, konsep pendidikan sekuler yang dibawa bersama dengan proses penjajahan membawa serta penyebaran prinsip-prinsip ilmu, filsafat dan pandangan hidup Barat.

d. Problematika peradaban dalam kehidupan manusia

(14)

BAB III PEMBAHASAN A. Keadaan Objektif Gaya Berpakaian Remaja Kota

Pada era globalisasi saat ini, kebudayaan sangat mudah masuk ke Indonesia termasuk budaya berpakaian layaknya orang barat. Indonesia yang memang mempunyai budaya terbuka akan mudah menerima budaya sehingga akan mengikuti budaya tersebut. Masyarakat metropolitan cenderung akan mengikuti budaya trend masa kini yang terus maju termasuk budaya dalam berpakaian.

Remaja kota yang menjadi sasaran dalam permasalahan ini mempunyai kecenderungan untuk menerima begitu saja budaya yang masuk. Dapat terlihat dari gaya berpakaian remaja kota masa kini yang minim sebagai hasil imitasi dari budaya barat. B. Sampel Penyebaran Angket

Dalam kasus ini, penyusun menggunakan metode kuantitatif, yaitu dengan cara menyebar angket dan berdasarkan hasil pengamatan. Adapun, penyebaran angket diberikan kepada mahasiswa pendidikan khusus reguler dan Aceh 2014 dengan jumlah; - Kelas Reguler 2014 = 83 mahasiswa/i

(15)

Menurut Arikunto (http://widisudharta.weebly.com/metode-penelitian-skripsi.html) bahwa “Penentuan pengambilan Sample yaitu apabila kurang dari 100 lebih baik diambil semua hingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-55%”.

Teori ini lah yang mendasari penyusun mengambil sampel 10% dari jumlah populasi, sehingga:

Sampel= 10% x jumlah populasi Sampel=10% x 113 Sampel= 11,3 atau 11 mahasiswa

Jadi sampel dalam penyebaran angket terkait kasus ini sebanyak 11 mahasiswa, dengan 8 orang pendidikan khusus reguler 2014 dan 3 orang pendidikan khusus Aceh 2014.

C. Contoh Angket

Gaya hidup merupakan gambaran bagi setiap orang yang mengenakannya dan menggambarkan seberapa besar nilai moral orang tersebut dalam masyarakat disekitarnya. Gaya hidup adalah suatu seni yang dibudayakan oleh setiap orang. Gaya hidup juga sangat berkaitan dengan perkembangan zaman pengaruh dari peradaban. Gaya hidup salah satunya dapat dilihat dari gaya berpakaian. Kalangan remaja menjadi kalangan yang mendominasi sebagai hasil imitasi gaya berpakaian barat tak lagi memperhatikan norma keagamaan dan norma kesopanan, padahal budaya Indonesia terkenal dengan kesopanannya, namun dewasa ini hal itu tak lagi melekat erat didalam diri masyarakat Indonesia. Dampak negatif ini perlahan merubah budaya timur – budaya barat. Menurut teman-teman sekalian, faktor apa yang menyebabkan hal ini terjadi? (urutkan dari yang terbesar-terkecil)!

f. Kualitas pendidikan rendah

a. Pengaruh dari budaya asing g. Rendahnya kesadaran akan kesopanan b. Perkembangan teknologi yang pesat h. Kurangnya kontrol orangtua

c. Lingkungan masyarakat i. Lemahnya kontrol masyarakat d. Pergaulan j. (isi bila ada faktor lain)………. e. Kurangnya iman dan taqwa

Sertakan solusi yang dapat mengatasi atau meminimalisir permasalahan tersebut!

D. Hasil Angket

(16)

No Faktor Penyebab 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1. Pengaruh dari budaya asing 6 1 1 - 1 - 1 1 -2. Perkembangan teknologi yang

pesat

1 4 2 1 1 - - 1 1

3. Lingkungan masyarakat - - 1 4 2 1 1 - 2

4. Pergaulan 2 1 5 2 - - - - 1

5. Kurangnya kontrol orangtua - 1 1 2 - 4 3 - -6. Kurangnya iman dan taqwa 3 1 1 1 1 - - - 4 7. Kualitas pendidikan rendah - - - - 1 1 - 2 7 8. Rendahnya kesadaran akan

kesopanan

- 2 - - 4 2 2 1

-9. Lemahnya kontrol masyarakat - - - - 1 - 1 6 3

Faktor penyebab dari kasus ini didapatkan berdasarkan literatur yang mana faktor tersebut merupakan unsur kebudayaan. Berikut faktor terbesar hingga terkecil;

1. Pengaruh dari budaya asing

Budaya asing sangat berpengaruh terhadap perkembangan gaya hidup, khususnya di kota yang memang memiliki keterbukaan terhadap budaya asing. Budaya asing khusunya budaya barat menjadi trend dikalangan masyarakat Indonesia saat ini. Namun tak semua budaya tersebut cocok dan bisa di akulturasi dengan budaya di Indonesia. Sehingga terjadilah penyerapan budaya barat secara mentah dan menyebabkan maraknya pakaian minim.

Berdasarkan hasil penyebaran angket, pengaruh budaya asing merupakan faktor utama yang menjadi penyebab dalam kasus ini. Dari angket terlihat bahwa ada sebanyak 6 orang yang berpendapat bahwa pengaruh budaya asing merupakan faktor pertama yang menyebabkan permasalahan ini terjadi.

2. Perkembangan teknologi yang pesat

Pesatnya perkembangan IT menjadi salah satu penyebab masalah gaya hidup. Mudahnya mencari informasi membuat masyarakat bertransformasi mengubah gaya hidup mereka sesuai keinginannya agar tidak ketinggalan zaman.

(17)

bahwa ada 4 orang yang berpendapat bahwa perkembangan tekonologi yang pesat merupakan faktor kedua yang menyebabkan permasalahan ini terjadi.

3. Pergaulan

Faktor yang paling mempengaruhi remaja dalam mengadaptasi budaya barat dalam hal berpakaian adalah teman pergaulan. Bagi sebagian besar remaja, teman memiliki posisi yang lebih penting daripada orangtua. Oleh karena itu, muncullah suatu ketergantungan terhadap teman.

Berdasarkan penyebaran angket, pergaulan merupakan faktor ketiga yang menyebabkan permasalahan ini terjadi. Dari angket terlihat bahwa ada 5 orang yang berpendapat bahwa pergaulan merupakan faktor ketiga yang menyebabkan permasalahan ini terjadi.

4. Lingkungan masyarakat

Lingkungan masyarakat sekitar kota tidak berbeda dengan di desa. Namun kehidupan mereka berbeda. Setelah masuknya budaya asing dan mencontoh budaya tersebut, masyarakat kota akan membiasakan hal-hal tersebut. Umumnya lingkungan di sekitar kota akan terjadi kelatahan sosial. Ketika satu lingkungan melaksanakan sesuatu maka semua lingkungan tersebut cenderung akan mengikuti dan terbawa arus.

Berdasarkan hasil penyebaran angket, lingkungan masyarakat menjadi faktor selanjutnya yaitu faktor kelima yang menyebabkan permasalahan ini terjadi. Dari angket terlihat bahwa ada 4 orang yang berpendapat lingkungan masyarakat merupakan faktor keempat yang menyebabkan permasalahan ini terjadi.

5. Rendahnya kesadaran akan kesopanan

Rendahnya kesadaran akan kesopanan menjadi salah satu faktor penyebab permasalahan tersebut. Kesadaran akan kesopanan diakibatkan kurangnya pengajaran dari lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat sehingga menyebabkan rendahnya kesopananan dan kurangnya kesadaran dikarenakan kebiasaan lingkungan.

Berdasarkan hasil penyebaran angket, rendahnya kesadaran kesopanan menjadi faktor selanjutnya yaitu faktor kelima yang menyebabkan permasalahan ini terjadi. Dari angket terlihat bahwa ada 4 orang yang berpendapat rendahnya akan kesopanan merupakan faktor kelima yang menyebabkan permasalahan ini terjadi.

(18)

Kurangnya kontrol orangtua dapat berakibat fatal terhadap remaja khususnya dalam proses perkembangan remaja. Orangtua memiliki peran yang penting untuk mengontrol sejauh mana anaknya bergaul. Banyak orangtua dari masyarakat kota yang kurang mengontrol pergaulan anaknya sehingga anak merasa bebas karena tidak ada pengawasan orangtua dan berdampak pada pergaulan yang bebas.

Berdasarkan hasil penyebaran angket, kurangnya kontrol orangtua menjadi faktor selanjutnya yaitu faktor keenam yang menyebabkan permasalahan ini terjadi. Dari angket terlihat bahwa ada 4 orang yang berpendapat kurangnya kontrol orangtua merupakan faktor keenam yang menyebabkan permasalahan ini terjadi.

7. Lemahnya kontrol masyarakat

Masyarakat perkotaan dewasa ini kurang memiliki sifat peka terhadap lingkungan sekitar, salah satu contohnya terhadap remaja. Banyak remaja yang melanggar norma-norma yang berlaku dimasyarakat seperti adat dalam berpakaian, tetapi akibat lemahnya kontrol masyarakat mengakibatkan pengabaian terhadap pelanggaran-pelanggaran norma tersebut sehingga remaja yang berpakaian minim sekalipun dihiraukan.

Berdasarkan hasil penyebaran angket, lemahnya kontrol masyarakat menjadi faktor selanjutnya yaitu faktor ketujuh yang menyebabkan permasalahan ini terjadi. Hal ini juga didasari atas hasil angket yang mana untuk faktor yang paling banyak mengisi pada faktor ketujuh tidak ada, sehingga faktor yang paling banyak mengisi faktor kedelapan menjadi faktor ketujuh.

8. Kurangnya iman dan taqwa

Kurangnya iman dan taqwa menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya permasalahan minimnya gaya berpakaian remaja kota masa kini. Hal ini terkait dengan pengetahuan agama, semakin banyak ilmu agamanya maka semakin tahu pula ia dalam membedakan mana yang baik dan benar, serta mana yang dianggap sopan sesuai dengan budaya Indonesia. Didalam ilmu agama terkandung nilai-nilai keagamaan dan moral yang baik, seperti perempuan diwajibkan menutup aurat. Jika ilmu ini didalami oleh setiap orang mungkin sedikit atau bahkan tidak ada orang yang berpakaian terbuka layaknya budaya barat.

(19)

mengisi pada faktor ketujuh tidak ada, sehingga faktor yang paling banyak mengisi faktor kedelapan menjadi faktor ketujuh, dan yang paling banyak mengisi pada faktor nomor Sembilan menjadi faktor kedelapan.

9. Kualitas pendidikan rendah

Kualitas pendidikan rendah juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi permasalahan tersebut. Semakin tinggi kualitas pendidikan seseorang, maka semakin tinggi pula cara ia berpikir sehingga ia dapat memilah mana yang baik atau sesuai dengan mana yang kurang baik atau kurang sesuai. Semakin berpendidikan seseorang, maka semakin ia menyadari bahwa ia harus memegang teguh budaya yang tercipta oleh Indonesia termasuk kesopanan dalam berpakaian.

Berdasarkan hasil penyebaran angket, kualitas pendidikan rendah menjadi faktor selanjutnya yaitu faktor kesembilan yang menyebabkan permasalahan ini terjadi. Warna biru pada tabel tepatnya kolom tujuh merupakan disitulah seharusnya frekuensi terbesar dari responden, namun justru 0. Hal ini disebabkan oleh sedikitnya responden, sehingga sulit dalam mengolah data.

E. Solusi Mengatasi Permasalahan Minimnya Gaya Berpakaian Remaja Kota Masa Kini

Adapun solusi yang dikira dapat mengatasi permasalahan tersebut, yaitu:

1. Pengawasan dan peran orangtua sangat diperlukan untuk mencegah atau menanggulangi penggunaan pakaian minim. Dalam pencegahannya orangtua bisa mencontohkan cara berpakaian yang baik dan ada kedekatan harus ada peran konrol perkembangan anak, bisa dengan pengawasan dalam pergaulan anak,

2. Menumbuhkan kesadaran individu untuk dapat menyaring budaya asing yang masuk, dengan cara memilah mana yang baik dan benar. Untuk meningkatkan kesadaran tersebut harus ada penanaman pemahaman. Dalam hal ini diperlukan kesadaran masing-masing individu, peranan orangtua, lembaga pendidikan, serta ilmu agama. 3. Menanamkan prinsip pada individu agar tidak mudah terpengaruh dalam pergaulan

yang kurang baik, ini bisa terjadi degan mengikuti pengajian, majelis, dan adanya peran orangtua dalam hal tersebut.

(20)

5. Memberikan sosialisasi atau penyuluhan terkait gaya berpakaian yang sesuai dengan norma dan budaya Indonesia.

6. Seringnya dilaksanakan siraman rohani atau ceramah mengenai gaya berpakaian yang sesuai dengan norma agama.

7. Lebih selektif dan mensortir kembali budaya asing yang masuk, yang baik dicontohi, yang buruk tidak untuk ditiru.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN

(21)

1. Pengaruh budaya asing

Adapun rekomendasi solusi yang dapat mengatasi permasalahan tersebut, yaitu: 1) Pengawasan dan peran orangtua sangat diperlukan untuk mencegah atau

menanggulangi penggunaan pakaian minim. Dalam pencegahannya orangtua bisa mencontohkan cara berpakaian yang baik dan ada kedekatan harus ada peran kontrol perkembangan anak, bisa dengan pengawasan dalam pergaulan anak, 2) Menumbuhkan kesadaran individu untuk dapat menyaring budaya asing yang

masuk, dengan cara memilah mana yang baik dan benar. Untuk meningkatkan kesadaran tersebut harus ada penanaman pemahaman. Dalam hal ini diperlukan kesadaran masing-masing individu, peranan orangtua, lembaga pendidikan, serta ilmu agama.

3) Menanamkan prinsip pada individu agar tidak mudah terpengaruh dalam pergaulan yang kurang baik, ini bisa terjadi degan mengikuti pengajian, majelis, dan adanya peran orangtua dalam hal tersebut.

4) Adanya sanksi dari masyarakat terhadap individu yang terlibat masalah ini, seperti awalnya diberi teguran, kemudian jika masih diulangi maka diberi sanksi berupa pengucilan, dan lain-lain.

5) Memberikan sosialisasi atau penyuluhan terkait gaya berpakaian yang sesuai dengan norma dan budaya Indonesia.

6) Seringnya dilaksanakan siraman rohani atau ceramah mengenai gaya berpakaian yang sesuai dengan norma agama.

7) Lebih selektif dan menyortir kembali budaya asing yang masuk, yang baik dicontohi, yang buruk tidak untuk ditiru.

B. Saran

(22)

DAFTAR PUSTAKA

Tim Dosen MKDU FPIPS UPI. (2015). Pendidikan Sosial Budaya. Bumi Siliwangi: CV Maulana Media Grafika.

[ CITATION htt \m htt \l 1033 ]

(23)

Referensi

Dokumen terkait

Dari segi definisi mengenai tasawuf , membahas pendefinisian Tasawuf dari segi kata-kata yang didasari oleh sifat dan ciri-ciri yang dimiliki oleh kaum sufi. Secara hierarki

And Announcement of winners of 3-minute research competition 15.30 - 15.40

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran keluarga sangatlah penting bagi anak yang menderita TB paru dalam proses pengobatan, pengawasan minum obat (PMO) dan

Dalam mencapai keberhasilan proses belajar mengajar di Sekolah diperlukan metode pembelajaran yang aktif dan kreatif dalam proses belajar, namun keadaan SD

Fungsi : fungsi kelompok ilmu pemikiran islam termasuk ilmu tasawuf, ilmu islam dan filsafat adalah merupakan landasan bagi ilmu-ilmu terapan. Tujuan : ilmu tasawuf, ilmu kalam

Judul : Pengaruh pembelajaran dengan pendekatan berdasarkan masalah, dan agama terhadap kualitas hasil belajar pendidikan lingkungan hidup dan sikap terhadap pelestarian

A related critique originates in the context of discovery and is directed at the context of justification: If the theoretical assumptions are never proven in reality vis-à-vis

Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes dengan bentuk pilihan ganda untuk mendapatkan data besarnya pengaruh penggunaan metode Make a Match dalam pembelajaran