BAB I
MANAJEMEN RISIKO PERBANKAN
Manajemen risiko adalah suatu pendekatan terstruktur dalam mengelola keti-dakpastian yang berkaitan dengan ancaman, suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk Penilaian resiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan miti-gasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan/pengelolaan sumberdaya. Ma-najemen Risiko dalam operasional bank meliputi identifikasi risiko, pengukuran dan penilaian, dan tujuannya adalah untuk meminimalkan efek negatif risiko ter-hadap hasil keuangan dan modal bank. Bank wajib membentuk unit organisasi khusus untuk tujuan manajemen risiko.
Risiko bank yang terbesar dalam operasinya adalah resiko pasar (resiko suku bunga, resiko valuta asing, resiko dari perubahan harga pasar sekuritas, de-rivatif keuangan dan komoditas), resiko kredit, resiko likuiditas, resiko eksposur, resiko investasi , resiko operasional, resiko hukum, resiko strategis. Resiko ini sa-ngat inter-independen. Peristiwa yang mempengaruhi satu area resiko dapat me-miliki konsekuensi untuk berbagai kategori resiko lainnya.
MANAJEMEN RESIKO KREDIT
Risiko kredit didefinisikan sebagai potensi dari bank peminjam atau pihak coun-ter yang akan gagal memenuhi kewajibannya sesuai dengan syarat yang disepa-kati. Tujuan dari manajemen risiko kredit adalah untuk memaksimalkan tingkat pengembalian kepada bank dengan menjaga resiko pemberian kredit supaya berada di parameter yang dapat diterima. Bank perlu mengelola risiko kredit dari seluruh portofolio serta risiko dari individu atau kredit atau transaksi. Bagi seba-gian besar bank, pinjaman adalah yang terbesar dan juga sumber resiko kredit , namun sumber-sumber risiko kredit lain juga terdapat di seluruh kegiatan bank, termasuk pembukuan perbankan dan pembukuan perdagangan baik yang di da-lam atau di luar neraca. Resiko kredit perbankan semakin meningkat (atau resiko dari pihak lainnya ) di berbagai instrumen keuangan selain pinjaman termasuk penerimaan, transaksi antar bank, pembiayaan perdagangan, transaksi valuta asing, masa depan keuangan, swap, obligasi, ekuitas, opsi dan perluasan komit-men dan jaminan, penyelesaian transaksi.
BASEL II TENTANG RESIKO KREDIT
Komunitas basal tentang kepemimpinan perbankan mengeluarkan dokumen kon-sultatif tentang Kerangka Pemenuhan Modal Baru untuk menggantikan perjanjian 1988. Dokumen ini mengajukan tiga pilar untuk perjanjian yang baru :
• Disiplin Pasar
Kesepakatan yang baru berlanjut dengan rasio kecukupan modal minimum sebe-sar 8% dari risiko aset tunggu. Atur pilihan untuk memperkirakan modal sebagai-mana diusulkan dalam dokumen termasuk pendekatan standar. Dalam pendekat-an ini, risiko preferensial bebpendekat-an di kisarpendekat-an 0%, 20%, 50%, 100%, dpendekat-an 150% diper-kirakan akan ditetapkan atas dasar penilaian kredit eksternal. Di bawah organi-sasi Internal Rating Based (IRB), masyarakat mengusulkan pemenuhan tingkat kredit minimal untuk mengukur Probabilitas Default (PD) sementara preferensial menetapkan bobot risikonya, dengan informasi yang diberikan oleh supervisor pada kerugian standar nasional yang diberikan ( LGD) sebagai eksposur default. Adopsi Kesepakatan Modal Baru oleh bank-bank di pernyataan yang diusulkan memerlukan perubahan yang lengkap dalam sistem manajemen risiko yang ada.
MANAJEMEN RISIKO PASAR
Bank dihadapkan pada risiko pasar melalui kegiatan perdagangan mereka dan neraca mereka. Dua jenis risiko yang dianggap risiko pasar untuk bank seperti ri-siko suku bunga dan riri-siko valuta asing. Bank menghadapi riri-siko valuta asing ka-rena adanya fluktuasi nilai tukar dan suku bunga adalah risiko yang paling umum dihadapi semua bank dalam mengelola semua produk-produk keuangan yang di-keluarkan oleh bank dengan tingkat bunga sensitif.
RESIKO TINGKAT BUNGA
Risiko Suku Bunga adalah risiko efek negatif pada hasil keuangan dan modal bank yang disebabkan oleh perubahan suku bunga. Tujuan yang menyeluruh dari manajemen risiko suku bunga adalah untuk memastikan mekanisme arus kas yang besar tanpa adanya ketidaksesuaian dalam aset dan kewajiban segmen. Sebagai perantara keuangan, bank menghadapi risiko suku bunga dalam bebera-pa cara seperti:
Risiko Re-Pricing: bentuk utama risiko suku bunga naik adakah perbedaan waktu jatuh tempo (untuk suku bunga tetap) dan re-pricing (untuk suku bunga meng-ambang) dari aset, posisi kewajiban off-balance-sheet (OBS). Mereka dapat mengekspos bank “pendapatan dan aset” mendasari nilai ekonomi yang tak ter-duga tentang fluktuasi tingkat bunga yang cenderung terlalu sering dan tidak stabil.
Risiko Dasar: Risiko bahwa tingkat bunga untuk aktiva dan kewajiban yang ber-beda dapat berubah dalam besaran yang berber-beda maka disebut risiko dasar. Ri-siko tersebut timbul karena korelasi tidak sempurna dalam penyesuaian dari tarif yang diterima dan dibayarkan pada instrumen yang berbeda dengan karakteris-tik penentuan ulang harga yang bijaksana.
Resiko Pilihan Bawaan: Sebuah opsi memberikan pemegang hak (namun bukan-lah kewajiban) untuk membeli, menjual atau dalam beberapa cara mengubah arus kas instrumen atau kontrak keuangan. Pilihan instrumen yang mungkin ber-diri senber-diri seperti pertukaran-opsi dan kontrak perdagangan over-the-counter (OTC), atau mereka mungkin akan tertanam di dalam instrumen standar sebalik-nya. Saat bank menggunakan nilai tukar dan pilihan OTC- di kedua bidang perda-gangan dan akun non-trading, instrumen dengan pilihan bawaan biasanya hal paling penting dalam kegiatan non-perdagangan.
Resiko investasi ulang: ketidakpastian tentang masa depan tingkat suku bunga menimbulkan risiko investasi ulang sebagai arus kas masa depan yang akan diin-vestasikan kembali pada tingkat yang tidak diketahui saat ini. Kurva dengan hasil biasa, tanpa bootstrap, tidak diperhitungkan sebagai risiko investasi ulang.
RESIKO OPERASIONAL
Ini adalah salah satu babak baru dari kesepakan modal Basel II. Risiko operasio-nal didefinisikan sebagai “risiko kerugian yang dihasilkan dari cukupnya atau ke-gagalan proses internal, orang dan sistem atau dari peristiwa eksternal.” Definisi ini mencakup risiko hukum, tapi mengecualikan risiko strategis dan risiko reputa-si. Di sisi lain, Reserve Bank of India telah mendefinisikan risiko operasional, se-bagai ‘resiko apapun, yang tidak dikategorikan sese-bagai pasar atau risiko kredit, atau risiko kerugian yang timbul dari berbagai jenis kesalahan manusia dan kesa-lahan teknis’.
MANAJEMEN RESIKO LIQUIDITAS
Potensial resiko liquiditas. adalah ketidakmampuan untuk memenuhi kewajiban bankir saat mereka jatuh tempo. Ini muncul ketika bank tidak dapat menghasil-kan uang untuk memenuhi penarimenghasil-kan dana, komitmen kredit atau peningkatan aset. Hal tersebut berasal dari ketidaksesuaian pola aktiva dan kewajiban. Peng-ukuran dan pengelolaan kebutuhan likuiditas sangat penting bagi pengoperasian yang efektif untuk bank-bank komersial karena hal ini dapat menjadi sebab dan akibat dari risiko likuiditas terutama terkait dengan aset dan kewajiban bank. Bank harus terus memantau posisi likuiditas dalam jangka panjang dan terus menerus setiap hari. Ada dua pendekatan yang berhubungan dengan kedua ana-lisis situasi yaitu (1) Pendekatan Fundamental dan (2) Pendekatan Teknis.
me-ngendalikan posisi aset-kewajiban. Sebuah cara yang bijaksana untuk mengatasi situasi ini bisa dengan mengatur jatuh tempo aset dan kewajiban atau dengan melakukan diversifikasi dan memperluas sumber-sumber dana.
Pendekatan Teknis: Pendekatan ini berfokus pada posisi kewajiban bank dalam jangka pendek. Likuiditas dalam jangka pendek ini terutama terkait dengan arus kas yang timbul akibat transaksi operasional. Bank harus mengetahui persyarat-an dpersyarat-an upersyarat-ang tunai arus kas masuk dpersyarat-an menyesuaikpersyarat-an kedupersyarat-anya untuk memasti-kan tingkat yang aman untuk posisi likuiditas.
Skenario Manajemen Risiko akan semakin kuat karena liberalisasi, regulasi dan integrasi dengan pasar global. Manajemen risiko akan dilakukan secara proaktif dan kualitas kredit akan meningkat, yang menyebabkan sektor keuangan yang lebih kuat. Masa depan akan melihat perubahan struktural di sektor perbankan ditandai oleh konsolidasi dan perubahan di dalam sektor. Bank-bank yang lebih kecil tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk menahan persaingan yang ketat dari sektor ini. Bank akan berevolusi menjadi penyedia jasa keuangan yang lengkap dan utuh, melayani semua kebutuhan keuangan perekonomian. Arus modal akan meningkat dan melakukan pendirian basis-basis di negara-negara asing merupakan hal yang biasa.
Untuk meminimalisir risiko-risiko yang dihadapi oleh suatu bank, maka manaje-men bank harus memiliki keahlian dan kompetensi yang memadai sehingga se-gala macam risiko yang berpotensi untuk muncul dapat diantisipasi dari sejak awal dan dicarikan cara penanggulangannya
Pedoman Standar Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum, paling kurang memuat:
a. Penerapan Manajemen Risiko Secara Umum
yang mencakup mengenai pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi; kecu-kupan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit; kecukecu-kupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian Risiko, serta sistem informasi Ma-najemen Risiko; dan sistem pengendalian intern yang menyeluruh.
b. Penerapan Manajemen Risiko untuk Masing-Masing Risiko
c. Penilaian Profil Risiko
yang mencakup penilaian terhadap Risiko inheren dan penilaian terhadap kuali-tas penerapan Manajemen Risiko yang mencerminkan sistem pengendalian Risi-ko (risk control system), baik untuk Bank secara individual maupun untuk Bank secara konsolidasi. Penilaian tersebut dilakukan terhadap 8 (delapan) Risiko yaitu Risiko Kredit, Risiko Pasar, Risiko Likuiditas, Risiko Operasional, Risiko Hukum, Ri-siko Stratejik, RiRi-siko Kepatuhan, dan RiRi-siko Reputasi. Dalam melakukan penilaian profil Risiko, Bank wajib mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang menga-tur mengenai penilaian tingkat kesehatan Bank Umum.
BAB II
Manajemen Risiko Perusahaan Non Keuangan (Non-Financial Company) Pendekatan Manajemen Risiko
Manajemen risiko adalah penerapan dari empat fungsi manajemen (Planning, Or-ganizing, Actuating, Controlling) dari sebuah risiko penyelenggaraan suatu peru-sahaan terhadap ketidakpastian yang berpotensi menimbulkan kerugian. Dari pengertian tersebut dapat kita tarik kesimpulan bahwa manajemen risiko meru-pakan suatu sistem pengawasan risiko dan perlindungan harta benda, hak milik, keuntungan usaha atau prospek keuntungan suatu usaha dari perusahaan yang dapat menimbulkan kerugian karena ketidakpastian keadaan baik intern maupun
ekstern perusahaan yang bersangkutan.
Dalam mempelajari manajemen risiko, kita dapat menggunakan setidaknya dua pendekatan. Pendelakatan tersebut adalah pendekatan finansial dan pendekatan non-finansial. Semua risiko perusahaan akan berdampak pada struktur dan kea-daan keuangan perusahaan, namun dampak yang terjadi dapat terjadi secara langsung dan risiko tidak langsung/lanjutan. Untuk lebih jelas dalam memahami perbedaan pendekatan finansial dan non-finansial, berikut adalah penjabaran dari kedua pendekatan tersebut.
PENDEKATAN FINANSIAL
Mempelajari manajemen risiko melalui pendekatan finansial artinya adalah mengelola atau me-manage risiko dalam penyelenggaraan kegiatan perusahaan yang berhubungan dan berdampak dengan keadaan keuangan perusahaan ter-sebut secara langsung. Artinya, pendekatan ini digunakan dalam mempelajari setiap risiko perusahaan yang berhubungan dan akan berdampak secara lang-sung pada keuangan perusahaan.
erat hubunganya dengan kebijakan-kebijakan keuangan perusahaan, contohnya adalah kebijakan pendanaan perusahaan, kebijakan investasi perusahaan (jang-ka panjang/jang(jang-ka pendek), dan kebija(jang-kan pengelolaan deviden/laba perusahaan oleh pemilik. Dalam kebijakan pendanaan, terdapat risiko-risiko atas penggunaan dana untuk membiayai operasi perusahaan seperti risiko jika perusahaan tidak dapat mengembalikan modal tersebut sehingga pada akhirnya perusahaan harus menerima risiko dari gagalnya mengembalikan modal tersebut yang akan lang-sung berdampak pada keuangan perusahaan. Risiko dalam kebijakan investasi seperti risiko gagalnya sebuah proyek yang dijalankan dan dibiayai oleh perusa-haan menjadikan keadaan keuangan perusaperusa-haan menjadi terganggu. Kebijakan pengelolaan deviden akan memepengaruhi kekuatan keuangan perusahaan. Se-makin banyak laba yang ditahan sebagai modal operasi perusahaan, maka akan semakin kuat kedudukan keuangan perusahaan. Sebaliknya, jika sebagian besar laba dibagi oleh pemilik, maka keuangan perusahaan tidak berubah dari posisi awal bahkan dapat turun jika nilai kurs lokal mengalami penurunan sehingga ni-lai perusahaan juga akan cenderung turun.
Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa pendekatan finansial digu-nakan untuk mempelajari dan mengelola risiko-risiko yang ada dalam an yang secara langsung berhubungan dengan manajemen keuangan perusaha-an itu sendiri dperusaha-an akperusaha-an berdampak pada struktur keuperusaha-angperusaha-an dperusaha-an nilai perusahaperusaha-an itu sendiri. Risiko-risiko keuangan perusahaan adalah semua risiko yang ada da-lam menajemen keuangan suatu perusahaan seperti risiko dada-lam pendanaan operasi perusahaan, risiko investasi perusahaan, dan risiko pembagian dan pena-hanan deviden di dalam perusahaan.
PENDEKATAN NON-FINANSIAL
Mempelajari manajemen risiko melalui pendekatan non-finansial artinya adalah mengelola atau me-manage risiko dalam penyelenggaraan kegiatan peru-sahaan yang tidak berhubungan dan berdampak dengan keadaan keuangan per-usahaan tersebut secara langsung. Artinya, pendekatan ini digunakan dalam mempelajari setiap risiko perusahaan yang memunculkan risiko awal sebelum damapak ahirnya yang akan berhubungan dan akan berdampak pada keuangan perusahaan.
Risiko daam perusahaan : - Risiko operasional
Terjadi karana adanya penyimpangan dari hasil yang diharapkan, dan risiko ini terdiri dari risiko SDM, risiko produksi, risiko teknologi, risiko inovasi, risiko sistem
dan risiko proses.
- Risiko strategis
Terjadi karena telah mempengaruhi eksposure perusahaan ( terutama eksposure keuangan) akibat keputusan strategis yang tidak sesuai lingkungan eksternal dan internal. Risio ini terdiri dari risiko bisnis, risiko leverage operasi, risiko trans-aksi strategis.
- Risiko eksternalitas
Terjadi karena berkaitan dengan potensi penyimpangan hasil pada eksposure perusahaan dan bisa berdampak pada potensi penutupan usaha, karena penga-ruh dari faktor eksternal. Risiko ini terdiri dari risiko lingkungan, risiko reputasi, ri-siko hukum.
Bisa dikatakan resiko didalam suatu perusahaan itu tidak dapat kita hilangkan sepenuhnya ,akan
tetapi resiko tersebut dapat kita minimalisir sehingga tidak mengganggu proses yang ada dalam suatu perusahaan,adapun langkah-langkah yangdapat dilakukan perusahaan untuk mengelola resiko tersebut sehingga menciptakan peluang :
1. Mengidentifikasi Timbulnya Resiko
Di dalam perusahaan kita mengenal proses produksi,dalam hal ini perusahaan pasti membutuhkan tenaga kerja untuk mengoprasikan mesin-mesin yang ada dalam proses produksi,dengan adanya mesin-mesin tersebut perusahaan harus mampu mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kepada tenaga kerkja tersebut supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan sehing-ga merugikan perusahaan, oleh karena itu mengidentifikasi resiko sejak dini sa-ngat penting untuk memperhatikan potensi-potensi kecelakaan tenaga kerja yang berasal dari penggunaan mesin.
2. Mencegah Resiko
menghentikan oprasi tersebut dengan mengganti mesin yang lain sehingga resi-ko kecelakaan yang berasal dari penggunaan mesin mampu di minimalisir, Misal-nya didalam PT TJIWI tbk ,perusahaan tersebut memiliki mesin-mesin yang cukup besar terutama dalam proses pemotongan,bila mesin tersebut tidak dijalankan sesuai dengan prosedur yang ada kemungkinan resiko kecelakaan tenaga kerja yang akan terjadi cukup besar,oleh karena itu perusahaan melengkapi penga-manan baik pada operator mesin maupun system yang ada dalam mesin terse-but sehingga mampu mencegah kecelakaan yang kemungkinan akan terjadi.Ba-gaimanapun juga perusahaan akan lebih menyukai melanjutkan bisnis mereka sehingga mereka akan memerlukan jalan keluar yang terbaik untuk mencegah resiko yang ada.
3. Mengganti Resiko
Setelah perusahaan melakukan pencegahan ,perusahaan pasti tidak mengingin-kan kerugian yang cukup besar sehingga akibat terjadinya kecelakaan tadi.Oleh karena itu biasanya perusahaan membeli asuransi misalnya berupa asuransi property dan asuransi kecelakaan untuk menghindari kemungkinan-kemungkin-an ykemungkinan-kemungkin-ang fatal.setelah perusahakemungkinan-kemungkin-an tersebut bergabung dengkemungkinan-kemungkin-an asurkemungkinan-kemungkin-ansi tersebut maka perusahaan tersebut harus membayar premi asuransi tersebut,adapun be-sarnya premi ditentukan oleh bebe-sarnya kemungkinan kecelakaan yang terjadi,akan tetapi dengan mengikuti asuransi tersebut perusahaan tidak memi-kirkan lagi tentang resiko kecelakaan yang akan terjadi karena akan digantikan oleh pihak asuransi.
DAFTAR PUSTAKA www.studibisnis.com
Rajapresentasi.com