• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Paradigma-Paradigma Ilmu Sosial - Konstruksi Berita Dalam Media Massa (Analisis Framing Pemberitaan Dua Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta “Jokowi-Basuki dan Fauzi-Nachrowi” Dalam Majalah Tempo)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Paradigma-Paradigma Ilmu Sosial - Konstruksi Berita Dalam Media Massa (Analisis Framing Pemberitaan Dua Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta “Jokowi-Basuki dan Fauzi-Nachrowi” Dalam Majalah Tempo)"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA 2.1. Paradigma-Paradigma Ilmu Sosial

Paradigma merupakan kekuatan dasar yang mampu mempertahankan keberadaan sebuah ilmu pengetahuan. Paradigma pada wilayah riset penelitian sebenarnya merupakan seperangkat konstruksi cara pandang dalam menetapkan nilai-nilai dan tujuan penelitian serta memberikan arah tentang bagaimana pengetahuan harus didapat dan teori-teori apa yang seharusnya digunakan dalam sebuah penelitian. Pada hakikatnya, paradigma memberikan batasan-batasan tertentu apa yang harus dikerjakan, dipilih dan diprioritaskan dalam sebuah penelitian. Pada aspek lain, paradigma akan memberikan rambu-rambu tentang apa yang harus dihindari dan tidak digunakan dalam penelitian. Menurut sebuah analisis yang dikutip dari Bogdan dan Biklen (1982), paradigma meupakan kumpulan longgar dari sejumlah asumsi yang dipegang bersama, konsep atau proposisi yang mengarahkan cara berpikir dan penelitian (Narwaya, 2006 : 110).

Paradigma ilmu komunikasi berdasarkan metodologi penelitiannya,

menurut Dedy N. Hidayat (1999) yang mengacu pada pemikiran Guba dan Lincoln (1994) ada tiga paradigma : (1) paradigma klasik yang mencakup positivisme dan postpositivisme (2) paradigme kritis dan (3) paradigma konstruktivisme (Bungin, 2008 : 237)

2.1.1. Paradigma Positivisme dan Postpositivisme

(2)

Kedua, fenomenalisme. Ilmu pengetahuan hanya membicarakan tentang semesta yang teramati. Ketiga, reduksionisme. Semesta direduksi menjadi fakta-fakta keras yang dapat diamati. Keempat, naturalisme. Alam semesta adalah objek-objek yang bergerak secara mekanis seperti bekerjanya jam. Positivisme memiliki pengaruh yang amat kuat terhadap berbagai disiplin ilmu bahkan sampai dewasa ini (Bungin, 2008:10).

Ketika para peneliti komunikasi pertama kali berkeinginan meneliti dunia sosial secara sistematis, mereka menggunakan ilmu pengetahuan fisik sebagai model. Kelompok ilmu yang tergolong dalam ilmu pengetahuan fisik meyakini positivisme sebagai suatu pandangan bahwa ilmu pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui fenomena yang empiris, dapat diamati dan diukur serta diuji dengan metode ilmiah. Akan tetapi, manusia bukanlah seperti gelas kimia yang berisi air. Akibatnya, para ilmuwan sosial berkomitmen dengan praktik metode ilmiah yang menggunakan teori postpositivis, yaitu teori yang didasarkan pada pengamatan empiris yang diarahkan oleh metode ilmiah, tetapi menyadari bahwa manusia dan perilaku manusia tidak sekonstan elemen yang ada didunia fisik

(Davis dkk, 2010 :14).

Namun dalam praktiknya, implikasi metodologi keduanya tidak jauh berbeda. Sehingga dalam tulisannya, Guba menyatukan nya dalam paradigma klasik (Bungin, 2008 : 238)

(3)

2.1.2. Paradigma Konstruktivisme

Dalam aliran Filsafat seperti yang dinyatakan oleh K. Bertens (1993), gagasan konstruktivisme telah muncul sejak Sokrates menemukan jiwa dalam tubuh manusia, sejak Plato menemukan akal budi dan ide. Dan gagasan itu lebih konkret lagi setelah Aristoteles mengenalkan istilah, informasi, relasi, individu, substansi, materi, esensi dan sebagainya. Ia juga mengatakan bahwa, manusia adalah mahluk sosial, setiap pernyataan harus dibuktikan dengan kebenarannya, bahwa kunci pengetahuan adalah logika dan dasar pengetahuan adalah fakta.

Sejauh ini ada tiga macam konstruktivisme seperti yang diungkapkan oleh Suparno (1997): pertama, konstruktivisme radikal; kedua, realisme hipotesis; ketiga, konstruktivisme biasa. Konstrukstivisme radikal hanya dapat mengakui apa yang dibentuk oleh pikiran kita. Bentuk itu tidak selalu representasi dari dunia nyata. Pengetahuan bagi mereka merefleksi suatu realitas objektif, namun sebuah realitas yang dibentuk oleh pengalaman seseorang. Dalam pandangan realisme hipotetis, pengetahuan adalah sebuah hipotesis dari struktur realitas yang mendekati realitas dan menuju kepada pengetahuan yang hakiki. Sedangkan untuk konstruktivisme biasa memandang bahwa pengetahuan individu dipandang

sebagai suatu gambaran yang dibentuk dari realitas objek dalam dirinya sendiri.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa konstruktivisme dapat dilihat sebagai sebuah kerja kognitif individu untuk menafsirkan dunia realitas yang ada karena terjadi relasi sosial antara individu dengan lingkungan atau orang disekitarnya. Dan konstruksivisme semacam inilah yang oleh Berger dan Luckmann (1990) disebut dengan konstruksi sosial (Bungin, 2011:14).

Pendekatan paradigma konstruksionis mempunyai penilaian tersendiri bagaimana media, wartawan, dan berita dilihat, yaitu:

(4)

2. Media adalah agen konstruksi. Media bukanlah sekedar saluran yang bebas, ia juga subjek yang mengkonstruksi realitas, lengkap dengan pandangan bias dan pemihakannya. Lewat bahasa yang dipakai; media dapat menyebut mahasiswa sebagai pahlawan dapat juga menyebutnya sebagai perusuh.

3. Berita bukan refleksi dari realitas, ia hanya konstruksi dari realitas. Berita yang kita baca pada dasarnya adalah hasil dari konstruksi kerja jurnalis, bukan kaidah baku jurnalistik

4. Berita bersifat subjektif/konstruksi atas realitas opini tidak dapat dihilangkan karena ketika meliput, wartawan melihat dengan perspektif dan pertimbangan subjektif.

5. Wartawan bukan pelapor, ia agen konstruksi realitas. Wartawan sebagai partisipan yang menjembatani keragaman subjektifitas pelaku sosial.

6. Etika, pilihan moral, dan keberpihakan wartawan adalah bagian yang integral dalam produksi berita. Wartawan bukanlah robot yang meliput apa adanya, apa yang dia lihat. Etika dan moral yang dalam banyak hal berarti

keberpihakan satu kelompok atau nilai tertentu umumnya dilandasi oleh keyakinan tertentu, adalah bagian yang integral dan tidak terpisahkan dalam membentuk dan mengkonstruksi realitas.

7. Khalayak mempunyai penilaian tersendiri atas berita. Khalayak bukan dilihat sebagai subjek yang pasif, yang mempunyai tafsiran sendiri yang bisa saja berbeda dari pembuat berita (Zamroni, 2009:95)

2.1.3. Paradigma Kritis

Paradigma ini beranggapan bahwa realitas yang kita lihat adalah realitas semu, realitas yang telah terbentuk dan dipengaruhi oleh kekuatan sosial, politik, budaya, ekonomi, etnik, nilai gender, dan sebagianya, serta telah terkristalisasi dalam waktu yang panjang (Hamad, 2004:43).

(5)

kekuasaan yang inheren dalam setiap wacana, yang pada gilirannya berperan dalam membentuk jenis-jenis subjek tertentu berikut perilaku-perilakunya. Hal inilah yang melahirkan paradigma kritis. Analisis wacana tidak dipusatkan pada kebenaran/ketidakbenaran struktur tata bahasa atau proses penafsiran pada anlaisis konstruktivisme. Analisis wacana dalam paradigma ini menekannkan pada konstelasikekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna.

Individu tidak dianggap sebagai subjek yang netral yang bisa menafsirkan secara bebas sesuai dengan pikirannya, karena sangat dipengaruhi dan berhubungan dengan kekuatan sosial yang ada dimasyarakat. Bahasa juga disini dianggap bukan sebagai medium yang netral yang terletak di luar diri si penulis. Bahasa dalam pandangan kritis dipahami sebagai representasi yang membentuk subjek tertentu, tema-tema tertentu, maupun strategi-strategi di dalamnya.

Oleh karena itu analisis teks dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa: batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi wacana, perspektif yang mesti digunakan, atau topik apa yang seharusnya dibicarakan. Dengan pandangan semacam ini, wacana melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan, terutama dalam pembentukan subjek, dan

berbagai tindakan representasiyang terdapat dalam masyarakat. (Eriyanto,2001:6)

2.2. Teori Konstruksi Sosial Realitas

Istilah konstruktivisme atau konstruksi atas realitas sosial terkenal sejak diperkenalkan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckman melalui bukunya yang berjudul The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociological of Knowledge tahun 1966 (Bungin, 2008:193).

(6)

lain yang merupakan makna subjektif, hal ini disebut tanda. Dalam konstruksi realitas, mobil adalah lambang (simbol) mobilitas, namun mobil dengan merek-merek tertentu, seperti Cadillac atau Mercedes Benz merupakan tanda kemakmuran atau kesuksesan (Morissan, dkk, 2010:135) .

Ketika teori ini diterapkan kepada komunikasi massa, teori ini akan membuat asumsi yang serupa dengan interaksionisme simbolik, yaitu asumsi bahwa khalayak adalah aktif. Khalayak tidak secara pasif mengambil dan menyimpan informasi di dalam laci mereka; mereka secara aktif mengolah informasi, mengubahnya, dan menyimpannya hanya yang mereka butuhkan secara kultural. Mereka aktif bahkan ketika aktifitas ini hanya menguatkan apa yang sudah mereka tahu untuk membuat mereka lebih percaya dan bertindak berdasarkan pandangan mengenai dunia sosial yang dikomunikasikan oleh media kepada mereka. Dengan demikian, media dapat bertindak sebagai cara yang penting bagi lembaga sosial untuk menyiarkan kebudayaan kepada kita (Davis, 2010:384).

Teori dan pendekatan konstruksi sosial atas realitas terjadi secara simultan melalui tiga proses sosial, yaitu eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi. Proses

dialektika ini, menurut Berger dan Luckmann berlangsung dengan tiga momen simultan.

Pertama, eksternalisasi (penyesuaian diri) dengan dunia sosiokultural sebagai produk manusia. Eksternalisasi terjadi pada tahp yang mendasar, dalam satu pola perilaku interaksi antara individu dengan produk-produk sosial masyarakatanya. Proses ini dimaksud adalah ketika sebuah produk sosial telah menjadi sebuah bagian penting dalam masyarakat yang setiap saat dibutuhkan oleh individu, maka produk sosial itu menjadi bagian penting dalam kehidupan seseorang untuk melihat dunia luar

(7)

Artinya, objektivasi itu bisa terjadi melalui penyebaran opini sebuah produk sosial yang berkembang di masyarakat melalui diskursus opini masyarakat tentang produk sosial, dan tanpa harus terjadi tatap muka antar individu dan pencipta produk sosial itu.

Ketiga, tahap internalisasi, yaitu proses di mana individu mengidentifikasi dirinya dengan lembaga-lembaga sosial atau organisasi sosial tempat individu menjadi anggotanya. Dengan demikian, internalisasi dalam arti umum merupakan dasar pemahaman mengenai sesama saya , yaitu pemahaman individu dengan orang lain dan pemahaman mengenai dunia sebagai sesuatu yang maknawi dari kenyataan sosial (Bungin, 2011:15).

Proses konstruksi realitas prinsipnya adalah setiap upaya “menceritakan” sebuah peristiwa, keadaan, atau benda. Karena media massa adalah sebuah institusi yang bertujuan untuk menceritakan peristiwa-peristiwa, maka kesibukan utama media massa adalah mengkonstruksikan berbagai realitas yang disiarkan. Media bertugas menyusun berbagai realitas-realitas yang ditemukannya di lapangan kemudian menyusun realitas tersebut hingga menjadi cerita atau wacana bermakna.

Ibnu Hamad dalam bukunya mengatakan bahwa ada tiga tindakan yang

biasa dilakukan oleh pekerja media tatkala melakukan konstruksi realitas yang

berujung pada pembentukan citra sebuah kekuatan politik. Diantaranya sebagai

berikut:

Pertama, dalam hal pilihan kata (simbol) politik. Sekalipun media massa hanya bersifat melaporkan, namun telah menjadi sifat pembicaraan politik untuk selalu memperhitungkan simbol politik. Apapun simbol yang dipilih akan mempengaruhi makna yang muncul.

(8)

secara utuh mulai dari menit pertama hingga menit terakhir. Sehingga terjadi pemilihan fakta untuk ditonjolkan, disembunyikan, bahkan dihilangkan.

Ketiga, menyediakan ruang atau waktu untuk sebuah peristiwa politik (fungsi

agenda setting). Justru jika media massa memberi tempat pada sebuah peristiwa

politik, maka peristiwa tersebut akan memperoleh perhatian oleh masyarakat.

Semakin besar tempat yang diberikan, maka semakin besar pula perhatian yang

diberikan khalayak (Hamad, 2004:16-24).

Tabel 1. Kerangka Kerja Teori Studi Liputan Politik

Sumber: (Hamad, 2004:5)

Makna Dan Citra Partai/Aktor Politik

(9)

2.2. Teori Interaksionisme Simbolik

Ide dasar teori interaksionisme simbolik menyatakan bahwa lambang atau simbol kebudayaan dipelajari melalui interaksi, orang memberi makna terhadap segala hal yang akan mengontrol sikap tindak mereka. George Herbert Mead dipandang sebagai pembangun paham interaksi simbolik ini. Ia mengajarkan bahwa makna muncul sebagai interaksi di antara manusia, baik secara verbal maupun nonverbal. Melalui aksi dan respons yang terjadi, kita memberikan makna ke dalam kata-kata atau tindakan, dan karenanyakita dapat memahami suatu peristiwa dengan cara-cara tertentu (Morissan dkk, 2010:126).

Dalam perkembangan selanjutnya, teori interaksionisme simbolik ini dipengaruhi beberapa aliran diantaranya adalah mazhab Chicago, mazhab Iowa, pendekatan dramaturgis dan etnometodelogi, diilhami pandangan filsafat, khususnya behaviorisme. Pada awalnya Mead memang tidak pernah menerbitkan gagasannya secara sistematis dalam sebuah buku. Para mahasiswanyalah yang setelah kematian Mead kemudian menerbitkan pemikiran Mead tersebut dalam sebuah buku berjudul Mind, Self, and Society. Herbert Blumer, sejawat Mead, kemudian mengembangkan dan menyebutnya sebagai teori interaksionisme simbolik (Santoso, 2010:21).

Dalam bukunya tersebut, Mead (1934) berpendapat bahwa kita menggunakan simbol untuk menciptakan pengalaman kita akan pikiran sadar, pemahaman kita akan diri kita sendiri, dan pengetahuan kita akan tatanan dunia

sosial yang lebih besar (masyarakat). Dengan perkataan lain, simbol menjembatani dan membentuk seluruh pengalaman kita karena simbol membentuk kemampuan kita untuk merasakan dan menafsirkan apa yang terjadi disekeliling kita.

(10)

tidak melekat pada objek, melainkan dinegoisasikan melalui penggunaan bahasa. Bahasa adalah bentuk dari simbol. Berdasarkan makna yang dipahaminya, seseorang kemudian dapat memberi nama terhadap suatu objek, tindakan atau sifat. Thought (pemikiran) secara sederhana proses ini menjelaskan bahwa seseorang melakukan dialog dengan dirinya sendiri ketika berhadapan dengan sebuah situasi dan berusaha untuk memaknai situasi tersebut. Untuk bisa berpikir maka seseorang memerlukan bahasa dan harus mampu untuk berinteraksi secara simbolik (Santoso, 2010:23).

Sedangkan untuk penerapan pemikiran interaksionisme simbolik ini terhadap penggunaan media massa adalah sebuah buku yang berjudul Communication and Social Behavior: A Symbolic Interaction Perspective yang ditulis oleh Don F. Faules dan Dennis C. Alexander pada tahun 1978. Mendasarkan analisis mereka pada defenisi komunikasi sebagai “perilaku simbolik yang menghasilkan beragam tingkatan makna bersama dan nilai-nilai di antara partisipan”, mereka menawarkan tiga proposisi dasar atas interaksi simbolik dan komunikasi.

(11)

2.4. Analisis Framing

Analisis framing termasuk ke dalam paradigma konstruksionis, yang diperkenalkan sosiolog intepretatif, Peter L. Berger dan Thomas Luckman. Paradigma ini mempunyai posisi dan pandangan tersendiri terhadap media dan teks berita yang dihasilkannya (Zamroni, 2009:94).

Pada awalnya, analisis framing atau analisis bingkai merupakan versi terbaru dari pendekatan analisis wacana, khususnya untuk menganalisis teks media. Gagasan mengenai framing, pertama kali dilontarkan oleh Beterson tahun 1955. Mulanya frame dimaknai sebagai perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan, dan wacana, serta yang menyediakan kategori-kategori standar untuk mengapresiasi realitas. Konsep ini kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Goffman pada tahun 1974, yang mengandaikan frame sebagai kepingan-kepingan perilaku yang membimbing individu dalam membaca realitas (Sobur, 2004:161). Erving Goffman membangun analisis frame untuk memberikan pemahaman sistematis mengenai bagaiman kita menggunakan pengharapan untuk memaknai situasi sehari-hari dan orang-orang yang di dalamnya. Meskipun setuju dengan argumen konstruksionis sosial mengenai

perlambangan, Goffman menganggap bahwa hal tersebut terlalu sederhana. Ia berpendapat bahwa kita secara terus-menerus dan sering kali radikal mengubah cara kita mendefenisikan atau melambangkan situasi, tindakan, dan orang lain ketika kita bergerak melalui ruang dan waktu (Davis, 2010:392).

(12)

Gamson (1989) salah satu dari peneliti framing yang paling produktif menyebut cara pandang itu sebagai kemasan (package) yang mengandung konstruksi makna atas peristiwa yang akan diberitakan. Goffman mengamati bahwa kebanyakan berita adalah mengenai pelanggaran frame, yang membuat banyak peristiwa jadi bernilai berita. Pemberitaan mulai menyimpang dari kebiasaan “Anjing menggigit manusia”, bukanlah sebuah berita; tetapi “Manusia menggigit Anjing”, adalah berita. Teori framing menantang pemahaman mengenai jurnalisme yang sudah lama diterima dengan pendapat bahwa berita dapat dan harus objektif. Beberapa penelitian framing bahkan membahas mengenai strategi yang digunakan oleh elit politik dan sosial dalam memanipulasi cara jurnalis melakukan framing pada berita sehingga mengaburkan realitas konstektual yang mendasarinya (Davis, 2010:398).

(13)

Tabel 2.

Perangkat Analisis Framing Pan dan Kosicki

Gambar

Tabel 1. Kerangka Kerja Teori Studi Liputan Politik
gambar/foto, grafik

Referensi

Dokumen terkait

yang mereka ketahui. 2) Elaborasi - Menjelaskan pengertian satuan dan jenisnya - Menjelaskan konversi satuan metric dan british 3) Konfirmasi - Mengecek pemahaman siswa

Menurut Lies Suprapti (2002), telur yang pernah mengalami penurunan kualitas, ditandai dengan adanya perubahan – perubahan, antara lain isi telur yang semula terbagi 2 (kuning

Namun pandangan panwaslu mengenai formulir C1 yang dijelaskan di atas tidak sesuai dengan realita di lapangan, hal itu dapat di buktikan oleh penulis

Hasil analisis data kuantitatif menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar biologi.. siswa pada konsep protista antara yang diajarkan melalui pembelajaran

Pandangan Islam terhadap konsumen sangat moderat dan cukup bijaksana, yakni agar setiap konsumen dalam konsumsi barang-barang harus pada batas kewajaran, harus ada

A system of integrated computer-based tools for end-to- end processing (capture, storage, retrieval, analysis, display) of data using location on the earth’s surface

Dari hasil analisis regresi linier menunjukkan bahwa nilai R Square yang diperoleh adalah sebesar 0,345 yang berarti variable Pengamalan Keagamaan Siswa dapat

The research was aimed at improving students’ grammar mastery in using simple past tense through songs.. The method of the research was Classroom Action Research which was