SASTRA DAN KULINARI:
EVOLUSI DARI GASTRONOMI KE GASTROSOFI
Bramantio
Prolog
Dari waktu ke waktu dunia sastra Indonesia memperlihatkan perkembangan ke arah
yang bahkan tidak terbayangkan sebelumnya. Sejumlah karya yang muncul dalam satu dasawarsa terakhir mampu memberikan warna tersendiri dengan gayanya masing-‐ masing. Di antara karya-‐karya tersebut, meskipun tidak dalam jumlah besar, makanan dan minuman (food and beverage), atau dengan kata lain kulinari, ternyata muncul menjadi sesuatu yang menarik dan berperan signifikan membangun struktur cerita dan dunia fiktif.
Sejauh pengamatan saya, setidaknya ada tiga cerpen yang mengusung kulinari sebagai poin sentral cerita dan telah dimuat di media cetak atau diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen. Jumlah ini kemungkinan besar bertambah apabila cerpen-‐cerpen yang muncul di dalam blog-‐blog pribadi di internet juga dihitung. Meskipun demikian, penelitian ini hanya difokuskan pada cerpen-‐cerpen cetak dengan alasan efisiensi. Cerpen-‐cerpen yang dimaksud yaitu “Filosofi Kopi” dan “Madre” karya Dewi Lestari (masing-‐masing dalam buku kumpulan cerita Filosofi Kopi, 2006 dan Madre, 2011) serta “Smokol” karya Nukila Amal (pernah dimuat di Kompas, Minggu, 29 Juni 2008, diterbitkan kembali dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008, 2009).
“Filosofi Kopi” menceritakan sepenggal perjalanan hidup tokoh bernama Ben dan kedai kopi bernama Filosofi Kopi. Cerpen yang diceritakan melalui sudut pandang Jody sebagai sahabat sekaligus rekan kerja dan pemilik modal Filosofi Kopi ini berfokus pada jatuh-‐bangun mereka menghidupi kedai dan menemukan racikan terbaik minuman kopi yang kemudian diberi nama Ben’s Perfecto hingga pertemuan mereka dengan
kopi tiwus di pelosok Jawa Tengah. Sepintas cerpen ini tampak berpusat pada Ben sebagai motor Filosofi Kopi. Meskipun demikian, kopi dan aspek filosofisnyalah yang sesungguhnya menjadi sentral cerita melalui perspektif Ben dan Jody.
Senada dengan “Filosofi Kopi”, cerpen “Madre” menceritakan beberapa minggu krusial dalam kehidupan tokoh bernama Tansen. Berawal dari wasiat yang dialamatkan kepadanya oleh seseorang yang tidak dikenalnya, Tansen terlibat dalam sebuah sejarah panjang adonan biang bernama Madre yang telah berusia tujuh puluh tahun. Tansen yang pada awalnya adalah sosok antikemapanan, hidup dengan bekerja secara serabutan di Bali, seiring berlalunya waktu menjelma lelaki yang bahkan memilih untuk
tinggal bersama sebuah keluarga baru yang tidak direkatkan oleh pertalian darah, tetapi oleh toko roti tua yang menjadi rumah bagi Madre. Tidak hanya menceritakan pencarian diri seorang lelaki bernama Tansen, cerpen ini melalui Madre menghadirkan sejumlah hal lain yang memiliki jangkauan lebih luas dan bermakna daripada sekadar usaha produksi roti.
Nuansa yang sama juga dijumpai pada cerpen “Smokol”. Cerpen dengan durasi penceritaan yang lebih pendek dibandingkan dua cerpen sebelumnya ini menjadikan lelaki bernama Batara alias Batre sebagai poros cerita yang memiliki arena bermain bernama smokol, sebuah tradisi makan dalam budaya Minahasa. Cerita yang geraknya tidak pernah jauh dari aktivitas di seputar meja makan ini ternyata tidak sekadar berisi tentang kenikmatan yang terlahir dari masakan-‐masakan Batara, tetapi sekaligus mengandung renungan-‐renungan yang tersembunyi di balik santap smokol.
Berkaitan dengan uraian tersebut, ada tiga hal yang menarik perhatian saya untuk menjadikan “Filosofi Kopi”, “Madre”, dan “Smokol” sebagai objek penelitian. Pertama, cerpen-‐cerpen tersebut menjadikan kulinari tidak sebagai sekadar ornamen, tetapi sebagai sentral cerita. Kedua, berkaitan dengan poin pertama, cerpen-‐cerpen tersebut dapat diasumsikan memiliki pandangannya masing-‐masing dalam menyikapi kulinari yang berperan menjadi motor penggerak cerita. Ketiga, sebagai konsekuensi poin pertama dan kedua, cerpen-‐cerpen tersebut tentu memiliki makna yang tersembunyi di dalam kulinari yang mereka usung. Hal inilah yang menjadi pokok permasalahan di
dalam penelitian ini.
Tinjauan Pustaka
Dalam esai pembuka buku kumpulan cerita Filosofi Kopi, Goenawan Mohamad menyatakan bahwa Dewi Lestari (Dee) memiliki kepekaan pada ritme kalimat yang kemudian menjadikan kalimatnya berarti, bagaikan ada eseis unggul yang bersembunyi di balik seorang pencerita. Filosofi Kopi pun dianggapnya mampu menghidupkan yang cerkas (wit) dalam sastra Indonesia.
Hal senada dinyatakan oleh Sitok Srengenge dalam esai pembuka kumpulan cerita
Madre. Di dalam Madre Dee melesapkan pandangan kritisnya terhadap perbedaan etnik, budaya, dan iman, bukan sebagai benih konflik sosial, tetapi menegaskannya sebagai harta karun yang tidak berhingga nilainya. Madre adalah semacam miniatur Indonesia.
Rocky Gerung dalam prolog kumpulan cerpen Smokol menganggap “Smokol” memiliki sudut pandang pascarealisme, tetapi dengan intensi sosiologi politik yang teguh, yaitu protes sosial. Tema ini adalah khas garapan estetika kontemporer yang hendak memulihkan konsep seni ke dalam kesatuan koordinasi cita-‐cita politik, yaitu keadilan, kesetaraan, dan kebebasan.
Tanggapan atas ketiga cerpen tersebut telah memperlihatkan hal-‐hal yang terkandung di dalamnya. Meskipun demikian, hal tersebut belum memperlihatkan relasi unsur-‐ unsur di dalam ketiga cerpen secara detail hingga menghasilkan makna dalam kaitannya dengan kulinari. Hal tersebut nantinya dapat dipahami melalui penelitian ini dengan memanfaatkan semiotik Barthesian.
Semiotik mempostulasikan suatu hubungan antara dua terma, penanda (signifier) dan petanda (signified). Hubungan ini berkaitan dengan objek-‐objek yang termasuk dalam kategori-‐kategori yang berbeda, dan karena itulah hubungan ini tidak bersifat
berbeda: penanda, petanda, dan tanda yang merupakan totalitas asosiatif dari kedua terma yang pertama (Barthes, 2007:300—301).
Menurut Barthes, walaupun merupakan sifat asli tanda, konotasi membutuhkan keaktifan pembaca agar dapat berfungsi. Konotasi berkaitan dengan sistem pemaknaan tahap kedua yang dibangun di atas bahasa sebagai sistem yang pertama.
Bagan 1
Tanda Denotasi dan Konotasi
Penanda (signifier)
(1)
Petanda (signified)
(2)
Tanda denotatif (denotative sign)
(3)
Penanda konotatif (connotative signifier)
(4)
Petanda konotatif (connotative signified)
(5) Tanda konotatif
(connotative sign) (6)
Pada bagan tersebut tampak bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda (1) dan petanda (2). Pada saat yang bersamaan, tanda denotatif juga merupakan penanda konotatif (4). Dengan kata lain, hal tersebut merupakan unsur material: hanya jika seseorang mengenal tanda “singa”, barulah konotasi seperti harga diri, kegarangan, dan keberanian menjadi mungkin. Jadi, dalam konsep Barthes, tanda konotatif tidak
sekadar memiliki makna tambahan, namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya (Cobley & Jansz, 1999 dalam Sobur, 2009:69).
Cerpen “Filosofi Kopi”: Sihir Kopi, Redefinisi Kesempurnaan, dan Kesadaran Personal
tampak langsung menghadirkan dua hal yang menjadi fokus cerita, yaitu kopi dan Ben. Kalimat “Memikirkan sihir apa yang dimilikinya” menjadi tanda yang berkolaborasi dengan judul cerpen ini dalam membentuk citra tentang kopi sebagai lebih daripada sekadar bebijian dan minuman. Hal tersebut langsung disusul dengan bagian berikutnya yang berisi tentang kegigihan Ben dalam mempelajari lebih banyak tentang kopi,
Ben pergi berkeliling dunia, mencari koresponden di mana-‐mana demi mendapatkan kopi-‐kopi terbaik dari seluruh negeri. Dia berkonsultasi dengan pakar-‐pakar peramu kopi dari Roma, Paris, Amsterdam, London, New York, bahkan Moskow.
Ben, dengan kemampuan berbahasa pas-‐pasan, mengemis-‐ngemis agar bisa menyelusup dapur, menyelinap ke bar saja, mengorek-‐ngorek rahasia ramuan kopi dari barista-‐barista kaliber kakap demi mengetahui takaran paling pas untuk membuat café latte, cappuccino, espresso, russian coffee, irish coffee, macchiato, dan lain-‐lain. Sampai tibalah saatnya Ben siap membuka kedai kopinya sendiri. Kedai kopi idealis (hlm. 1—2).
Kalimat “mengorek-‐ngorek rahasia ramuan kopi” pada kutipan tersebut selain dapat dibaca sebagai usaha menemukan racikan terbaik, juga memperkuat citra “lebih daripada sekadar kopi” yang sebelumnya dihadirkan oleh judul cerpen dan kalimat “Memikirkan sihir apa yang dimilikinya.” Kalimat terakhir “Kedai kopi idealis” pun turut melengkapi citra tersebut karena kata “idealis” memercikkan citra tentang sesuatu yang tidak biasa atau tidak umum.
Kopi dan Ben sebagai fokus cerita kembali diperkuat dengan cerita tentang cikal-‐bakal rencana berdirinya kedai kopi, “Setahun lalu aku resmi menjadi partner kerjanya. Berdasarkan asas saling percaya antarsahabat ditambah kenekatan berspekulasi, kuserahkan seluruh tabunganku menjadi saham di kedainya. Selain modal dalam bentuk uang dan ilmu administrasi, aku tak tahu apa-‐apa tentang kopi. Itu menjadi modal Ben seutuhnya” (hlm. 2). Melalui kutipan tersebut tampak bahwa terlepas dari modal usaha yang disediakan Jody, sejak awal telah diketahui bahwa jatuh-‐bangun
kedai kopi mereka kelak ditentukan oleh Ben sebagai pihak yang memiliki pengetahuan tentang kopi dan cara pengolahannya. Hal tersebut semakin jelas dengan status Ben sebagai salah satu barista terbaik di Jakarta dan posisi Ben sehari-‐hari di
peramu kopi atau barista terandal di Jakarta. Dan ia menikmati setiap detik kariernya. Di kedai kami ini, Ben tidak mengambil tempat di pojok, melainkan dalam sebuah bar yang terletak di tengah-‐tengah sehingga pengunjung bisa menontoni aksinya membuat kopi” (hlm. 2). Lagi-‐lagi Ben dihadirkan sebagai pusat cerita berduet bersama kopi.
Tidak sakadar citra kopi, hal-‐hal lain berkaitan dengan kopi atau yang mendukung citra
kopi pun hadir dengan intens sekaligus mendukung citra “idealis” di dalam cerpen ini, Tempat kami tidak besar dan sederhana dibandingkan kafe-‐kafe lain di Jakarta. Namun di sini, setiap inci dipersiapkan dengan intensitas. Ben memilih setiap kursi dan meja—yang semuanya berbeda—dengan mengetesnya satu-‐satu, paling tidak seperempat jam per barang. Ia mencobanya sambil menghirup kopi, dan merasa-‐rasa dengan instingnya, apakah furnitur itu cukup ‘sejiwa’ dengan pengalaman minum kopi. Begitu juga dengan gelas, cangkir, bush kettle, poci, dan lain-‐lain (hlm. 3).
Cerpen ini semakin menarik ketika cerita mulai menginjak pada hal-‐hal yang melampaui kopi itu sendiri. Kopi tidak lagi sekadar minuman dengan berbagai citarasa yang bisa tersaji panas atau dingin di kedai milik Ben dan Jody, tetapi menjelma sesuatu yang memiliki nilai lebih,
Tapi, yang benar-‐benar membuat tempat ini istimewa adalah pengalaman ngopi-‐ngopi yang diciptakan Ben. Ia tidak sekadar meramu, mengecap rasa, tapi juga merenungkan kopi yang ia buat. Ben menarik arti, membuat analogi, hingga terciptalah satu filosofi untuk setiap jenis ramuan kopi.
‘Itu yang membuat saya mencintai minuman ini. Kopi itu sangat berakarakter.’ Kudengar sayup-‐sayup Ben berkata pada salah satu pengunjung perempuan yang duduk di bar.
‘Seperti pilihan Anda ini, cappucino. Ini untuk orang yang menyukai kelembutan sekaligus keindahan.’ Ben tersenyum seraya menyorongkan cangkir. ‘Anda tahu, cappucino ini kopi paling genit?’
Perempuan itu tertawa kecil.
‘Berbeda dengan café latte, meski penampilannya cukup mirip. Untuk cappucino dibutuhkan standar penampilan yang tinggi. Mereka tidak boleh kelihatan sembarangan, kalau bisa terlihat seindah mungkin.’
‘Oh, ya?’
‘Seorang penikmat cappucino sejati, pasti akan memandangi penampilan yang terlihat di cangkirnya sebelum mencicip. Kalau dari pertama sudah kelihata acak-‐acakan dan tak terkonsep, bisa-‐bisa mereka nggak mau minum.’ Sambil menjelaskan, dengan terampil Ben membentuk buih cappucino yang mengapung di cangkir itu menjadi bentuk hati yang apik.
‘Lugu, sederhana, tapi sangat memikat kalau kita mengenalnya lebih dalam,’ Ben menjawab cepat. ‘Kopi tubruk tidak peduli penampilang, kasar, membuatnya pun sangat cepat. Seolah-‐olah tidak membutuhkan skill khusus. Tapi, tunggu sampai Anda mencium aromanya,’ bak pemain sirkus Ben menghidangkan secangkir kopi tubruk, ‘silakan, komplimen untuk Anda’ (hlm. 4—5).
Melalui kutipan tersebut tampak secara eksplisit filosofi setiap racikan kopi dalam pandangan Ben. Minuman berbahan dasar kopi yang disajikan Ben tidak sekadar sebuah sintesis dari biji-‐biji kopi, teknik pengolahan, dan cara penyajian, tetapi juga memiliki filosofinya masing. Bahkan, kopi tubruk yang secara penampilan paling biasa dan terkesan kasar dibandingkan racikan kopi lain di kedai kopi, ternyata memiliki kedalaman makna. Hal tersebut semakin diperkuat dengan diskusi antara Ben dan Jody tentang perjalanan mereka memelihara dan membesarkan kedai kopi,
‘Tidak terasa, kita sudah punya kedai ini setahun lebih.’ Mataku berputar bersama putaran kayu manis, lamunanku terisap pusaran kopi dalam cangkir sendiri.
‘Sekian banyak manusia sudah datang dan pergi…’ nada bicara Ben tiba-‐tiba melonjak, seolah sesuatu menyengatnya, ‘dan kamu tahu apa kesimpulanku?’
‘Kita akan kaya raya?’
‘Belum tentu. Tapi semua karakter dan arti kehidupan ada di sini.’ ‘Di dalam daftar minuman ini?’ Aku menunjuk buku tipis yang tergeletak di meja.
Mantap, Ben mengangguk.
‘Bagaimana kamu bisa mengkondens jumlah yang tak terhingga itu ke dalam sebuah daftar minuman?’ aku menatapnya geli, ‘Ben… Ben…’
‘Jody… Jody…’ ia malah ikutan geleng-‐geleng. ‘Buku ini adalah buku yang hidup, daftar yang akan terus berkembang. Selama masih ada yang namnya biji kopi, orang-‐orang akan menemukan dirinya di sini.’ Ben mengacungkan daftar ramuan kopinya tepat di depan hidungku (hlm. 6).
Melalui kutipan teresebut tampak bahwa menjadi kaya bukanlah target bagi Ben. Masa satu tahun yang berhasil dilewati oleh kedai kopi mereka ternyata tidak membuat Ben berpikir untuk melakukan semacam ekspansi usaha, tetapi ia seolah merasa memperoleh kepuasan tersendiri justru dari mengenal manusia-‐manusia pelanggan kedai kopinya dan dari pemahaman bahwa Kedai Koffie Ben & Jody adalah
kedai kopi kami menjadi: F I L O S O F I K O P I Temukan Diri Anda di Sini” (hlm. 7). Seiring dengan pergantian nama, kedai kopi mereka pun meraup keuntungan yang berlipat. Tetapi, hal inilah yang justru menggeser kecintaan Ben pada kopi menjadi sebuah obsesi. Hal tersebut berawal dari sebuah tantangan yang diterima Ben untuk menciptakan sebuah kopi dengan citarasa yang mencerminkan kesuksesan,
‘Di kedai ini, ada tidak kopi yang punya arti: kesuksesan adalah wujud kesempurnaan hidup! Ada tidak? Kalau ada, saya pesan satu cangkir besar.’
Ben menjawa sopan, ‘Silakan lihat saja di daftar, barangkali ada yang cocok.’
Pria itu menggeleng. ‘Barusan sudah saya baca. Tidak ada yang artinya itu.’
‘Yang mendekati, mungkin?’
Ucapan Ben justru memancingnya tertawa. ‘Maaf, tapi dalam hidup saya tidak ada istilah mendekati. Saya ingin kopi yang rasanya sempurna tidak bercacat.’
Ben mulai menggaruk kepalanya yang tak gatal.
‘Berarti Anda belum bisa pasang slogan seperti itu di depan,’ pria itu menunjuk kaca jendela. ‘Saya ke mari karena ingin menemukan gambaran diri….’ Selanjutnya ia bercerita panjang lebar mengenai kesuksesan hidupnya sebagai pemilik perusahaan importir mobil, istrinya seorang aktris cantik yang sedang di puncak karier, dan di usianya yang masih di bawah 40 dia sudah menjadi salah satu pebisnis paling berpengaruh versi beberapa majalah ekonomi terkenal.
Kepalaku terasa pening. Entah karena tonjokan kafein atau cerita sukses itu.
Ben lanjut bercerita. Ia ditantang pria itu untuk membuat kopi dengan rasa sesempurna mungkin. ‘Kopi yang apabila diminum akan membuat kita menahan napas saking takjubnya, dan cuma bisa berkata: hidup ini sempurna.’ Pria itu menjelaskan dengan ekspresi kagum yang mendalam, kemungkinan besar sedang membayangkan dirinya sendiri. Dan, gongnya, ia menawarkan imbalah sebesar 50 juta.
Seketika mataku terbeliak. Ini baru menarik. ’50 juta?!’ ‘Dan aku menerima tantangannya’ (hlm. 9—10).
Obsesi Ben tersebut jika dicermati tidak berasal dari dirinya sendiri, tetapi disulut oleh pihak eksternal yang dari tuturannya dapat dikatakan memiliki kecenderungan mengukur citarasa kopi berdasarkan dirinya sebagai standar, bukan berdasarkan
Belakangan aku tahu maksudnya. Tak ada lagi bincang-‐bincang malam hari seperti yang biasa kami lakukan. Ketika kedai sudah tutup, Ben tetap tak beranjak dari dalam bar. Pemandanganku setiap malam kini berganti Ben dikelilingi gelas-‐gelas ukur, tabung-‐tabung reaksi, timbangan, sendok takar, dan aneka benda yang rasanya lebih cocok ada di laboratorium kimia daripada di kedai kopi.
Rambut Ben gondrong berantakan, pipinya kasar kelupaan bercukur, lingkaran hitam membundari matanya akibat terlalu banya begadang, tubuhnya menipis karena sering lupa makan. Sahabatku bermutasi menjadi versi lain dari dokter Frankenstein. The Mad Barista
(hlm. 10—11).
Obsesi Ben untuk menciptakan “kesempurnaan” ditambah pernyataan Jody bahwa sahabatnya bermutasi menjadi versi lain Frankenstein menghadirkan semacam impresi bahwa yang dilakukan Ben akan bermuara pada sesuatu yang di luar harapannya, serupa Frankenstein yang terobsesi untuk menciptakan manusia yang justru mendatangkan kehancuran bagi dirinya sendiri. Bagaimanapun, transformasi Ben menjadi yang oleh Jody disebut Mad Barista pada akhirnya melahirkan racikan yang di kemudian hari menjadi suguhan terbaik Filosofi Kopi,
Minggu-‐minggu berlalu sudah. Sekitar tengah malam, Ben tahu-‐tahu meneleponku, memaksaku datang ke kedai.
Aku tiba sambil bersungut-‐sungut. ‘Urusan apa yang sebegitu pentingnya sampai tidak bisa menunggu besok?’
Ben tidak menjawab. Namun kutangkap kilau mata yang menyala terang, terpancar dari wajahnya yang kusut berantakan.
Ke depan batang hidungku, ia menyodorkan sebuah gelas ukur. Ada kopi hangat di dalamya. ‘Coba cium…’
Aku mengendus. Wangi. Sangat wangi. ‘Coba minum…’
Dengan sedikit ragu aku menyeruput. Sebuah kombinasi rasa merambati lidahku. Hmm… ini… ‘Ben, kopi ini…’ aku mengangkat wajahku, ‘SEMPURNA!’
Kujabat tangan Ben keras-‐keras sampai badannya terguncang-‐ guncang. Kami berdua tertawa-‐tawa. Lama sekali. Seakan-‐akan ada beban berat yang tahu-‐tahu terangkat. Seolah-‐olah sudah tahunan kami tidak tertawa.
‘Ini kopi yang paling enak!’ seruku lagi, takjub.
‘… di dunia,’ sambung Ben. ‘Aku sudah keliling dunia dan mencoba semua kopi terenak, tapi belum ada yang rasanya seperti ini. Akhirnya aku bisa berkata bahwa ada ramuan kopi yang rasanya SEMPURNA.’
Aku mengangguk setuju. ‘Mau diberi nama apa ramuan ini?
Mahakarya Ben mendapat apresiasi yang tidak kalah menggemberikannya dari lelaki
penantangnya,
Disaksikan semua pelanggan yang sengaja kami undang, Ben menyuguhkan secangkir Ben’s Perfecto pertamanya dengan raut tegang.
Pria itu menyeruput, menahan napas, kemudian mengembuskannya lagi sambil berkata perlahan, ‘Hidup ini sempurna.’
Kedai mungil kami gegap gempita. Semua orang bersorak.
Pria itu mengeluarkan selembar cek. ‘Selamat. Kopi ini perfect.
Sempurna.’
Sebagai ganti, Ben memberikan kartu Filosofi Kopi. Kartu itu bertuliskan: KOPI YANG ANDA MINUM HARI INI: BEN’s PERFECTO. Artinya: Sukses adalah wujud kesempurnaan hidup (hlm. 13).
Keberhasilan Ben yang tampak gemilang ternyata tidak membuatnya berhenti dari obsesinya untuk menemukan kopi terbaik di dunia. Di satu sisi hal ini dapat dipahami sebagai usaha mencapai sesuatu yang lebih baik, tetapi di sisi lain ketidakpuasan Ben akan hasil kerjanya selama itu merupakan sebuah bentuk obsesi serupa kelaparan yang tidak pernah terpuaskan oleh berapa pun banyak yang ia peroleh,
‘First timer,’ Ben yang hafal semua muka pelanggannya berbisik ketika seorang pria setengah baya masuk.
[…]
Dia ikut tersenyum. Agak canggung dia membenarkan posisi duduknya, celingak-‐celinguk mempelajari tempat kami, lalu perlahan membuka koran yang ia kempit. Dari gelagatnya, aku menduga bapak satu ini tidak biasa minum kopi di kafe.
[…]
Dalam waktu singkat, Ben sudah menyuguhkan secangkir Ben’s Perfecto.
‘Nah, yang ini bukan sekadar enak, Pak. Tapi ini yang pualiiing… enak! Nomor satu di dunia,’ aku berpromosi.
‘Bapak memang hobi minum kopi?’ tanya Ben ramah. Pertanyaan rutinnya pada setiap pengunjung baru.
‘Kopi itu ibarat jamu sehatku setiap hari. Aku tahu bener, mana kopi yang enak dan mana yang tidak. Kata temenku, kopi di sini enak sekali,’ tuturnya bersemangat dalam logat Jawa kental.
Setelah meminum seteguk, bapak itu meletakkan cangkir dan kembali membuka halaman korannya.
Ben segera bertanya antusias, ‘Bagaimana, Pak?’ Bapak itu mendongak. ‘Apanya?’
‘Ya, kopinya.’
Dengan ekspresi sopan, bapak itu mengangguk-‐angguk, ‘Lumayan,’ jawabnya singkat lalu terus membaca.
‘Ya, maksudnya lumayan enak toh, Dik,’ ia membalas.
‘Pak, yang barusan Bapak minum itu kopi yang paling enak di dunia.’ Aku tak tahan untuk tidak menjelaskan.
‘Yang bener toh? Masa iya?’ Seperti mendengar lelucon bapak itu malah tertawa kecil.
Wajah Ben langsung mengeras. Tamu kami itu pun tersadar akan ketegangan yang ia ciptakan. ‘Aku bercanda kok, Dik. Kopinya uenak, uenak! Sungguh!’
‘Memangnya Bapak pernah coba yang lebih enak dari ini?’ Ben bertanya dengan otot-‐otot muka ditarik.
Tambah panik, bapak itu terkekeh-‐kekeh, ‘Tapi ndak jauhlah dengan yang Adik bikin.’
‘Tapi tetap lebih enak, kan?’ Suara Ben terus meninggi.
Jakun bapak itu bergerak gugup, ia melirikku, melirik Ben, dan akhirnya mengangguk.
‘Di mana Bapak coba kopi itu?’
‘Tapi… tapi… ndak jauh kok enaknya! Bedanya sedikiiit… sekali!’ Usahanya untuk menghibur malah memperparah keadaan. Beberapa pengunjung memanggil Ben, tapi tidak digubris sama sekali. Kaki Ben tertanam di lantai. Seluruh keberadaannya terpusat pada bapak itu. Dan bukan dalam konteks yang menyenangkan.
‘Di mana?’
‘Wah. Jauh tempatnya, Dik.’ ‘DI-‐MA-‐NA?’
Belum pernah kulihat Ben seperti itu. Seolah tidak satu hal pun di dunia ini yang bisa mengalihkan energinya, fokusnya (hlm. 15—17).
Melalui kutipan tersebut tampak bahwa seorang pengunjung setengah baya yang menurut pengamatan Jody tidak memiliki pengalaman minum kopi di kafe ternyata dengan kejujurannya mampu menghadirkan gelombang kekacauan di dalam benak Ben. Ben tampak tidak terima ketika mengetahui bahwa ada yang lebih enak daripada Ben’s Perfecto, meskipun pernyataan si pengunjung bersifat subjektif dan tidak serta-‐ merta dapat dianggap sebagai sebuah kebenaran.
Untuk kali kedua, obsesi Ben terhadap kopi digerakkan oleh pihak eksternal karena pertemuannya dengan pengunjung tersebut bermuara pada sebuah perjalanan ke Jawa Tengah untuk mencari kopi yang lebih enak daripada Ben’s Perfecto. Hal senada
diungkapkan oleh Jody, “Bagiku perjalanan ini hanya kekonyolan belaka, pemenuhan obsesi Ben terhadap kopi yang katanya paling enak menurut pendapat subjektif seorang bapak yang tidak berpengalaman di kafe—yang kemungkinannya 99% tak
dicermati menyimpan keraguan dan rasa tidak terima yang sama seperti yang dimiliki Ben. Mereka mencari kopi ke Jawa Tengah tidak dalam rangka mengungkapkan kecintaan mereka terhadap kopi, tetapi karena semacam usaha meyakinkan diri bahwa Ben’s Perfectolah yang terenak. Mereka pun berhasil menemukan kopi yang mereka cari,
Tepat di penghujung jalan, sebuah warung reot dari gubuk berdiri di atas bukit kecil, ternaungi pepohonan besar. Di halamannya terdapt tampi-‐ tampi berisi biji kopi yang baru dipetik. Di sekitar gubuk itu terdapat tanaman-‐tanaman perdu dengan bunga-‐bunga putih yang semarak bermunculan di sana-‐sini. Aku baru tersadar, seluruh bukit kecil itu ditanami tanaman kopi.
‘Tidak mungkin…’ desis Ben tak percaya. ‘Tempat dengan ketinggian seperti ini bukan tempat yang ideal ditanami kopi. Dan, lihat, mana ada petani kopi yang menanam dengan kuantitas sekecil ini’ (hlm. 20).
Melalui kutipan tersebut tampak bahwa fakta di lapangan yang dilihatnya telah menjungkirbalikkan sebagian pemahaman Ben tentang kopi, baik dalam kaitannya tentang ketinggian lokasi kebun kopi maupun kuantitas produksi. Sejak pertemuan Ben dan Jody dengan si pengunjung setengah baya, cerita dapat dikatakan mengalami pembelokan ke arah yang lebih membumi dan sedikit demi sedikit mengaburkan batas-‐batas yang dibangun oleh konsep-‐konsep perkedaikopian modern yang menjadi dunia Ben. Sebelumnya pemahaman Ben tentang kopi, perkedaikopian, dan produksi kopi tampak diarahkan oleh sebuah kultur yang di sini saya sebut sebagai kultur Starbucks. Di dalam kultur ini, kopi tidak lagi dipahami sebagai minuman yang disajikan sebagai dirinya sendiri seperti dalam bentuk kopi tubruk, tetapi diolah sedemikian rupa menjadi karya seni tersendiri, baik dalam segi racikan maupun penampilan, sekaligus bersifat kapitalistik karena membutuhkan sebuah ruang bernama kafe dengan segala perabotannya, alat-‐alat pengolahan kopi mutakhir, dan kopi yang didatangkan dari berbagai tempat. Pertemuan Ben dengan Pak Seno selaku pemilik kedai kopi ala kadarnya di pelosok Jawa Tengah menjadi titik kedua yang tidak sekadar membelokkan cerita, tetapi menjadikan cerita seperti mengalami banting setir tanpa diketahui arah perhentiannya.
Di dalam warung, seorang bapak tua menyambut kami dengan senyuman ramah. ‘Dari kota ya, Mas?’
Aku mengangguk, ‘Dari Jakarta, Pak.’
Ben langsung duduk di bangku panjang yang tersedia, mukanya masih ruwet, ‘Kopi tiwusnya dua.’
‘Jarang-‐jarang ada orang Jakarta yang ke mari. Paling-‐paling dari kota-‐kota kecil dekat sini,’ tuturnya sambil meraih dua gelas belimbing yang tertangkap di hadapan kami.
‘Bapak ini Pak Seno, ya?’ tanyaku. ‘Iya. Kok bisa tahu, toh?’
‘Bapak terkenal samapi ke Jakarta,’ jawabku sambil nyengir, berusaha menyindir Ben yang sama sekali tidak merasa tersindiri. Matanya tidak lepas mengamati seluruh gerak-‐gerak Pak Seno membuat kopi.
Pak Seno tertawa lepas. ‘Walaaah, ya mana mungkin!’
Di hadapan kami kini tersaji dua gelas berisikan kopi kental yang mengepul.
‘Gorengannya sekali dicoba, Mas. Monggo.’
Aku menyomot satu pisang goreng. Masih ada beberapa lagi piring-‐ piring berisi gorengan beraneka macam.
Ben tak banyak bicara. Ia cuma memandangi gelas di hadapannya, seolah menunggu benda itu bicara padanya.
‘Satu gelas harganya berapa, Pak?’
‘Kalau gorengannya 50 perak satu. Tapi kalau kopinya, sih, ya berapa saja terserah situ.’
‘Kenapa begitu, Pak?’ tiba-‐tiba Ben bersuara.
‘Habis Bapak punya buanyaaak… sekali. Kalau memang mau dijual biasanya langsung satu bakul. Kalai dibikin minuman begini, cuma-‐cuma juga ndak apa-‐apa. Tapi, orang-‐orang yang ke mari biasanya tetap saja mau bayar. Ada yang kasih 150 perak, 100, 200… ya, berapa sajalah.’
‘Mari diminum, Pak,’ aku bersiap menyeruput. ‘Oh, monggo, monggo.’
Ternyata Ben sudah duluan meneguk. Sejenak aku terpaku, menunggu reaksi yang muncul. Ben cuma membisa. Hanya matanya diliputi misteri. Perlahan, aku ikut menenggak. Dan…
Kami berdua tak bersuara. Teguk demi teguk berlalu dalam keheningan.
‘Tambah lagi, toh?’ Suara lembut Pak Seno menginterupsi.
Baik aku maupun Ben tidak berkata apa-‐apa, hanya membiarkan saja gelas-‐gelas kami diisi lagi.
‘Banyak sekali orang yang doyan kopi tiwus ini. Bapak sendiri ndak
ngerti kenapa. Ada yang bilang bikin seger, bikin tentrem, bikin sabar, bikin tenang, bikin kangen… hahaha! Macem-‐macem. Padahal kata Bapak sih biasa-‐biasa saja rasanya. Barangkali memang kopinya yang ajaib. Bapak
ndak pernah ngutak-‐ngutik, tapi berbuah terus. Dari pertama kali tinggal di sini, kopi itu sudah ada. Kalau ‘tiwus’ itu dari nama almarhumah anak gadis Bapak. Waktu kecil dulu, tiap dia lihat bunga kopi di sini, dia suka ngomong ‘tiwus, tiwus’ gitu’, dengan asyik Pak Seno mendongeng.
Tiba-‐tiba Ben mengambur keluar.
Melalui kutipan tersebut tampak bahwa semakin banyak hal-‐hal dalam kultur Starbucks yang selama itu menjadi tempat Ben berpijak dijungkirbalikkan oleh Pak Seno dan kopi tiwusnya, mulai dari harga per gelas hingga, cara pengolahan, hingga efek yang ditimbulkan kopi tiwus. Tidak seperti Ben’s Perfecto yang membuat peminumnya merasakan sensasi menjadi pemenang, kopi tiwus justru menghadirkan keanekaragaman perasaan positif dan semua itu terjadi tanpa adanya campur tangan
manusia untuk meraciknya. Rasa itu pula yang membuat Ben dan Jody tertegun pada tegukan pertama sehingga Ben pun merasa tidak tahan dan menghambur meninggalkan warung.
Matahari sudah menyala jingga. Aku menghampiri Ben. ‘Apa lagi yang kamu cari? Kita pulang sajalah.’
‘Aku kalah,’ desisnya lesu.
‘Kalah dari apa? Tidak ada kompetisi di sini.’
‘Berikan ini pada Pak Seno,’ Ben menyodorkan selembar kertas. Mataku siap meloncat keluar ketika tahu apa yang ia sodorkan. ‘Kamu sudah gila. Tidak bisa!’
‘Jo, kamu sendiri sudah mencoba rasa kopi tadi. Apa itu tidak cukup menjelaskan?’
Setengah mati aku berusaha memahaminya. ‘Oke, kopi itu memang unik. Lalu?’
‘Kamu masih tidak sadar?’ Ben menatapku prihatin. ‘Aku sudah diperalat oleh seseorang yang merasa punya segala-‐galanya, menjebakku dalam tantangan bodoh yang cuma jadi pemuas egonya saja, dan aku sendiri terperangkap dalam kesempurnaan palsu, artifisial! serunya gemas, ‘Aku malu pada diriku sendiri, pada semua orang yang kujejali dengan kegombalan Ben’s Perfecto.’
Gombal? Aku positif tidak mengerti.
‘Dan kamu tahu apa kehebatan kopi tiwus itu?’ katanya dengan tatapan kosong, ‘Pak Seno bilang, kopi itu mampu menghasilkan reaksi macam-‐macam. Dan dia benar. Kopi tiwus telah membuatku sadar, bahwa aku ini barista terburuk. Bukan cuma sok tahu, mencoba membuat filosofi dari kopi lalu memperdagangkannya, tapi yang paling parah, aku sudah membuat kopi paling sempurna di dunia. Bodoh! Bodoooh!’
‘Coba diingat-‐ingat, rencana pengembangan Filosofo Kopi yang sudah kususun. Dan semuanya itu membutuhkan kertas ini sebagai modal,’ bujukku.
‘Aku pensiun meramu kopi.’
Kali ini ketidakpahamanku meledak. ‘Kenapa kamu harus membuat urusan kopi ini jadi kompleks? Romantis overdosis? Okelah, kamu cinta kopi, tapi tidak usah jadi berlebihan. Pakai rasio…’
Tinjuku sudah ingin mampir ke mukanya, tapi kutahan kuat-‐kuat. ‘Ben, kamu masih kalut. Jangan asal ngomong. Kita pulang ke Jakarta sekarang.’
‘Berikan dulu itu ke Pak Seno.’
‘Jangan tolol! Sampai kapan pun aku tidak akan kasih. Itu jelas bukan haknya, uang ini kamu dapat karena kerja kerasmu menciptakan Ben’s Perfecto.
Namun nama itu seperti penghinaan sampai ke kupingnya, membuat Ben malah bergidik jijik. ‘Jo, ingat,’ ancamnya, ‘uang itu hakku sepenuhnya.’
‘Tidak lagi, ketika kita sepakat memasukkannya ke dalam kapital yang akan digunakan untuk pengembangan kedai,’ bantahku cepat.
Kuat-‐kuat Ben menggeleng. ‘Ambil saja bagianku di kedai. Aku serius.’ ‘Bukan begitu…’
‘Kalau kamu memang sahabatku, jangan paksa aku apa-‐apa.’ Ia berkata lirih.
Mendengarnya, otakku seperti macet berargumentasi. Namun samapi langkah gontai kami berdua akhirnya menggiring masuk ke mobil, sampai lambaian Pak Seno mengantar kepergian kami kembali ke Jakarta, secarik kertas itu tetap kugenggam erat-‐erat (hlm. 23—25).
Melalui kutipan tersebut tampak bahwa efek kopi tiwus terhadap Ben adalah menghadirkan cara pandang baru dalam memahami dirinya sendiri, kopi, dan makna kesempurnaan. Bahkan, konsep filosofi kopi yang selama itu menjadi salah satu hal ikonik dari kedai milik mereka, di mata Ben tidak lebih daripada semacam arogansi. Perjalanan kedua sahabat mencari dan menemukan kopi tiwus itu pun menggoncang eksistensi Filosofi Kopi,
Ben benar. Aku tak bisa memaksanya. Tak ada yang bisa. Semangat hidupnya pupus seperti lilin yang tertiup angin, sama nasibnya seperti kedai kami yang padam. Tutup.
Tinggal aku yang kerepotan melayani telepon, surat-‐surat yang menanyakan kabar Filosofi Kopi, bahkan beberapa orang menawarkan bantuan kalau memang kami kesulitan finansial. Ada juga yang mengirimkan bunga dan parsel buah-‐buahan karena dikiranya Ben jatuh sakit.
Ben sehat-‐sehat saja, ia hanya tak mau berurusan dengan kopi, sekalipun setiap malam ia ada di sana, di dalam bar yang dibekukan oleh kesunyian.
Kuurut kedua pelipisku pelan. Sejujurnya, aku pun kalut, dan lama-‐ lama meragukan sikapku sendiri. Mungkin Ben benar. Yang kupikirkan hanyalah uang, profit, dan nasib yang entah apa jadinya tanpa Filosofi Kopi. Benlah sesungguhnya tungku tempat ini, dan aku malah memadamkannya dengan ketidakmengertianku (hlm.25).
Tidak hanya Ben yang memperoleh cara pandang baru dalam memahami dirinya sendiri, Jody pun demikian. Ia menyadari bahwa Filosofi Kopi ada karena Ben dan Filosofi Kopi bagi Ben bukan sekadar kedai kopi, uang, dan laba, tetapi sebentuk kecintaan terhadap kopi. Hal tersebut semakin kuat ketika Jody memutuskan membuat secangkir kopi tiwus dari biji-‐biji kopi yang mereka beli dari seorang pembeli sebelum mereka berhasil menemukan warung Pak Seno,
Tiba-‐tiba saja tanganku bergerak cepat meraih kantong itu, membuka simpulnya, meraup secukupnya, lalu memasukkannya ke dalam mesin penggiling. Tak lama kemudian, siap sudah secangkir kopo tiwus panas. Untuk pertama kalinya aku membuat kopi sendiri.
Kuhirup tegukan tiwusuku yang pertama… di benakku membayang wajah Ben. Saat ia datang padaku bersama setumpuk ide cemerlang mengenai kedai ini. Dua tahun yang lalu. Kuhirup tegukanku yang kedua… membayanglah potongan-‐potongan gambar, kerja keras kami berdua. Modal pas-‐pasan. Uang nyaris tak tersisa. Semuanya dikorbankan habis-‐ habisan untuk tempat ini. Membayang wajah Ben yang seperti gelandangan ketika pulang dari tur kopinya ke Eropa. Aku tersenyum, dia memang manusia gigih.
Tegukan yang ketiga… senyumku kian melebar. Kenangan suka-‐duka melintas: satu hari tanpa pengunjung hingga kami dengan frustrasinya meminum bercangkir-‐cangkir kopi sampai pusing… mesin penggiling bekas yang sering ngadat... tamu yang lupa bawa uang dan akhirnya meninggalkan sepatu sebagai jaminan… aku tertawa.
Teguk demi teguk berlalu. Semakin pada kenangan yang terkilas balik. Dan ketika tinggal tetes-‐tetes terakhir yang tersisa, ampas di cangkirku ternyata sebuah perasaan kehilangan. Aku kehilangan sahabatku (hlm. 26).
Kesadaran yang diperoleh Jody tersebut kemudian membuatnya memenuhi keinginan Ben berkaitan dengan cek senilai lima puluh juta dan Pak Seno,
Dua hari sudah aku meninggalkan Jakarta. Begitu tiba, aku singgah di kedai untuk mengambil kunci rumahku yang tertinggal.
Tidak kuduga akan bertemu Ben di dsana, padahal waktu sudah hampir tengah malam. Ia duduk sendirian, tak bereaksi apa-‐apa sekalipun telah mendengarku masuk dari tadi.
Dari dapur, aku keluar dan menyuuhkan secangkir kopi. ‘Tidak, terima kasih,’ gumamnya.
‘Jangan begitu. Kapan lagi aku yang cuma tahu menyeduh kopi
sachet ini nekat membikinkan kopi segar untuk seorang barista?’ kalakarku.
Ben menyunggingkan senyum kecil, lalu mencicipi kopi buatanku. Seketika air mukanya berubah.
Aku tak menjawab, hanya memberinya sebuah kartu. KOPI YANG ANDA MINUM HARI INI: KOPI TIWUS Artinya: Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya.
‘Pak Seno titip salam. Dia juga titip pesan, kita tidak bisa menyamakan kopi dengan air tebu. Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan. Dan di sanalah kehebatan kopi tiwus… memberikan sisi pahit yang membuatmu melangkah mundur, dan berpikir. Bahkan aku juga telah diberinya pelajarang,’ napasku harus dihela agar lega di dada ini, ‘bahwa uang puluhan juta sekalipun tidak akan membeli semua yang sudah kita lewati. Kesempurnaan itu memang palsu. Ben’s Perfecto tidak lebih dari sekadar ramuan kopi enak.’
‘Benar, kan,’ Ben menyunggingkan senyum getir, ‘kita memang cuma tukang gombal.’
‘Tapi masih banyak yang harus kamu pikirkan. Seperti ini…’ kutumpahkan kartu ucapan dan surat-‐surat ke meja, ‘orang-‐orang ini tidak menuntut kesempurnaan seperti Ben’s Perfecto. Mereka mencintaimu dan Filosofi Kopi apa adanya.’
Ben menatap berantak kertas di hadapannya. Kutunggu hingga tangan itu bergerak pelan, merih satu per satu kartu, surat. Sedikit demi sedikit kehidupan Filosofi Kopi mengembus lewat tulisan mereka. Ben kenal semuanya. Wajah-‐wajah hangat oleh kepulan uap kopi yang meruap dari cangkir-‐cangkir yang ia suguhkan setiap harinya dengan cinta.
Aku masih diam, menunggu Ben yang meraupkan kedua tangannya menutupi muka. Lama sekali. Dan ketika kusangka penantianku tak bakal usai, tiba-‐tiba Ben berdiri, tangannya mencengkeram bahuku, ‘Uang itu?’ desisnya.
‘Ada di tangan yang tepat.’
Kulihat Ben mengangguk samar. Dan di balik punggungnya, aku yakin ia akan tertawa lebar.
Pada kaca besar kedai, tampak siluet tangan yang kembali menari dalam bar, menyiapkan peralatan untuk esok hari, membangunkan Filosofi Kopi yang lama diam bagai bubuk kopi tanpa riak air. Seduhan secangkir kopi tiwus malam ini mengawinkan lagi keduanya (hlm. 27—29).
Berdasarkan seluruh uraian tentang “Filosofi Kopi” tersebut, seperti telah dinyatakan secara implisit oleh judul dan bagian awal cerita, semakin tampak bahwa kopi di dalam cerpen ini tidak berkedudukan sebagai sekadar pelengkap, tetapi inti cerita. Hal-‐hal berkaitan dengan kopi seperti kedai kopi Filosofi Kopi, Ben’s Perfecto, dan kopi tiwus
jika dicermati memiliki makna tersembunyi yang akan diterangjelaskan dengan memanfaatkan bagan Barthes.
Bagan 2 Konotasi Kedai Kopi
Penanda
Kafe
Petanda Sebuah bangunan
permanen yang digunakan untuk transaksi berbagai jenis
minuman hasil olahan biji kopi dengan penyajian modern.
Tanda denotatif Filosofi Kopi
Penanda konotatif
Kafe sederhana dan tidak sebesar kafe lain di Jakarta, dipersiapkan dengan intens, memberikan
pengalaman minum kopi serta merefleksikan diri melaluinya.
Petanda konotatif Idealisme dan pencarian diri.
Tanda konotatif
Kafe adalah tempat untuk menyalurkan kecintaan terhadap kopi serta merefleksikan diri melalui kopi. Kafe juga menjadi ruang bagi orang-‐orang untuk berjeda sejenak dari keramaian dunia, bertemu
orang lain untuk mendiskusikan sesuatu, atau merenungkan banyak hal dan semakin mengenali dirinya sendiri.
Melalui bagan tersebut tampak bahwa kedai kopi atau kafe tidak sekadar memiliki
makna praktis yaitu sebagai tempat transaksi berbagai jenis minuman hasil olahan biji kopi. Kafe memiliki konotasi dengan sebuah ruang renungan di tengah hiruk-‐pikuk dunia modern dengan geraknya yang cepat dan cenderung mangabaikan hal-‐hal personal dan kemanusiaan. Kafe memberikan pengalaman berupa kenikmatan dalam setiap cangkir atau gelas berisi kopi sekaligus memberi kesempatan bagi seseorang untuk rehat sejenak untuk memikirkan permasalahannya, keinginannya, imajinasinya, perasaannya, dan menemukan filosofi hidupnya sekaligus mengenali dirinya sendiri. Salah satu bentuknya terdapat pada Ben’s Perfecto.
Bagan 3 tantangan salah seorang pelanggan yang menjanjikannya cek senilai lima puluh juta
Kesempurnaan hidup diukur melalui kesuksesan dalam memperoleh hal-‐hal fisikal dan material.
Bagan 4 Konotasi Kopi Tiwus
Penanda
Kopi tubruk.
Petanda Minuman hasil-‐olahan
biji kopi.
Tanda denotatif Kopi tiwus.
Penanda konotatif
Kopi tubruk yang terbuat dari biji kopi yang tumbuh di perkebunan kopi alami milik Pak Seno
pada ketinggian tanah yang tidak semestinya menjadi perkebunan kopi, menghadirkan efek yang bermacam-‐macam kepada peminumnya.
Petanda konotatif Apa adanya dan realistis.
Tanda konotatif
Hidup adalah serangkaian perjalanan naik-‐turun dan dinamika pahit-‐manis.
Melalui bagan tersebut tampak bahwa kopi tiwus dengan asal-‐usul dan penampilannya yang sederhana ternyata mampu menempatkan dirinya pada sisi yang, meskipun tidak secara frontal, berlawanan dengan Ben’s Perfection. Jika Ben’s Perfection dan latar belakangnya menghadirkan konotasi kesempurnaan, kopi tiwus justru menginsafi bahwa hidup bukanlah sebuah kemutlakan, bukan hanya “naik” dan “manis” saji,
tetapi juga “turun” dan “pahit”. Penampilannya yang apa adanya justru memiliki nilai tersendiri karena mampu menghadirkan sensasi yang bermacam-‐macam bagi para peminumnya, seperti menajamkan rasa dan membuat mereka melihat banyak hal termasuk diri mereka sendiri melalui perspektif baru. Dengan kata lain, kopi tiwus adalah medium untuk kembali berpijak pada tanah, membumi, dan realistis. Kesempurnaan pun tidak lagi menjadi sebuah kemutlakan yang bersifat tunggal.
Ketiga bagan tersebut telah menerangjelaskan konotasi kedai kopi, Ben’s Perfection, dan kopi tiwus. Meskipun demikian, saya menganggap perlu sebuah bagan lagi untuk merangkum ketiganya sekaligus menemukan konotasi kopi di dalam “Filosofi Kopi”.
Bagan 5 dengan kekecewaan, kesedihan, keterpurukan, bahkan keputusasaan. Warnanya yang hitam pekat atau kehitaman menghadirkan kesan yang berkaitan dengan kegelapan atau masa-‐masa terberat sekaligus pemahaman bahwa penampilan luar bisa menipu. Kandungan kafeinnya memiliki kemampuan untuk merangsang peredaran darah dan membuat seseorang terjaga lebih lama untuk menyelesaikan urusan, menyusun rencana, membangkitkan imajinasi, merealisasikan impian, dan mengenali diri sendiri
medium bagi seseorang untuk mencapai kesadaran personal tentang dirinya sendiri, orang-‐orang yang dikenalnya, orang-‐orang yang tidak dikenalnya, semesta di sekelilingnya, dan kehidupan dalam skala luas yang tidak terus-‐menerus dalam kondisi terang gemilang tetapi juga gelap pekat. Hal inilah yang kemudian dapat dikatakan sebagai sihir yang dimiliki kopi seperti yang dipertanyakan Jody di awal cerita dan membuat Ben jatuh cinta.
Cerpen “Madre”: Hibriditas, Lintas Generasi, dan Penulisan Ulang Sejarah
Cerpen “Madre” dibuka dengan cerita tentang kematian yang membuat bingung si pencerita yang kelak diketahui bernama Tansen. “Awan hitam yang menggantung sejad dini hari akhirnya tumpah menjadi hujan lebat. Tepat saat aku tiba di pemakaman orang yang tak kukenal. Siapa dia? Itu pertanyaan pertama. Kenapa aku?
Itu pertanyaanku berikutnya. Keduanya akan terjawab pagi ini” (hlm. 1). Kebingungan tersebut diperkuat oleh Tansen pada bagian berikutnya, “Keganjilan ini pasti sebegitu mencoloknya. Di tengah TPU etnis Tionghoa, muncul seorang pria berkulit gelap, rambut gimbal, kaus tanpa lengan, jins sobek-‐sobek. Sendirian” […] “Kubaca nisan itu: “Tan Sin Gie.” Wafat pada usia 93 tahun. Dia telah hidup selama itu, mencantumkan namaku sebagai ahli warisnya, dan tak secuil pun aku mengetahui keberadaannya.
Siapa kamu? Kenapa aku?” (hlm. 2). Bagian-‐bagian tersebut sebenarnya tidak hanya menghadirkan pernyataan eksplisit tentang kebingungan Tansen, tetapi bisa juga membersitkan pertanyaan implisit kepada pembaca mengingat adanya kemiripan bunyi pada nama Tansen dan Tan Sin Gie. Kedua hal tersebut memperoleh sedikit penjelasan ketika Tansen bertemu dan berbicara dengan seorang lelaki pengacara Tan Sin Gie,
“Kamu ini benar-‐benar nggak kenal sama Pak Tan?” “Sama sekali enggak.”
“Tapi namamu seperti nama Tionghoa. Tansen Wuisan.” Ia lalu menghamparkan berkas-‐berkas di meja.
“Wuisan itu fam Manado, Pak. Tansen itu nama India.” “Kamu turunan India?”
Nama “Tansen”, hidung panjang, dan mata besar berbulu lentik, adalah jejak India yang tersisa padaku (hlm. 2—3).
Melalui kutipan tersebut tampak bahwa nama Tansen Wuisan sama sekali tidak memiliki relasi dengan Tan Sin Gie karena Wuisan adalah nama marga Manado sedangkan Tansen adalah nama India. Pada titik ini, cerpen “Madre” mulai memperlihatkan kehibriditasan dan kemultikulturalan. Lebih lanjut, pernyataan Tansen
tentang latar belakang keluarganya dan dalam kaitannya dengan Tan Sin Gie menjadi penanda yang memberikan pemahaman awal bahwa cerita akan bergerak menuju usaha pencarian akar atau sejarah Tansen. Petunjuk ini diperjelas bagian berikutnya tentang masa kecil Tansen sesuai yang diingatnya atau diceritakan kepadanya,
Semasa kecil, aku punya beberapa teman dari keluarga India asli. Mereka jauh berbeda. keluargaku seperti tercerabut dari akarnya. Ditambah lagi ada semacam kutukan umur pendek atas kaum perempuan dalam garis keluargaku. Nenek meninggal tak lama setelah melahirkan Ibu. Ibu, anak nenek satu-‐satunya, meninggal tak lama setelah melahirkan aku, anak satu-‐satunya. Tak ada kerabat India yang kukenal. Ayahku, seorang yang berjiwa bebas, melepasku besar begitu saja. Seolah aku ini anak tumbuhan yang bisa cari makan sendiri tanpa diusuri. Masa remaja hingga kini kuhabiskan di Bali. Sendirian. Aku mewarisi jiwa bebas ayahku, kata orang-‐orang. Kendati batas antara kebebasan dan ketidakpedulian terkadang saru.
“Jadi, kamu ini anak tunggal, ya?” Pria itu mengonfirmasi. “Betul.”
“Kalau ibumu masih hidup, dia yang jadi ahli waris. Tapi karena beliau sudah nggak ada, jadi jatuhnya ke kamu” (hlm. 3—4).
Sekelumit latar belakang Tansen tersebut tidak serta-‐merta menjadikan misteri di balik kedatangan Tansen dari Bali ke Jakarta jelas karena belum ada penjelasan tentang relasi antara Tansen sebagai ahli waris Tan Sin Gie,
“Sebenarnya, ‘Pak Tan’ ini siapa, sih?’
Laki-‐laki itu memelorotkan kacamata bacanya. “Saya cuma pengacara yang disewa anaknya untuk menangani surat wasiat Pak Tan. Yang saya tahu, Pak itu dulu pengusaha. Entah bangkrut atau bagaimana. Beliau nggak meninggalkan apa-‐apa. Untung anak-‐anaknya kaya, punya bisnis sendiri, makanya soal warisan buatmu ini nggak diributkan.
“Warisannya pasti bukan uang kalau gitu,” tembakku langsung. Laki-‐laki itu mengeluarkan sehelai amplop cokelat bersegel lilin merah. “Saya nggak tahu apa isinya. Cuma kamu yang berhak buka.”
Kubuka amplop itu di hadapannya. Buka sendirian, buka nanti, toh isinya tak berubah. Sudah pasti bukan uang.
Kuletakkan di atas meja apa yang kurogoh dari dalam amplop: sebuah kunci. Dan secarik kertas bertulis tangan. Bukan surat. Hanya alamat.
“Bapak tahu ini di mana?” tanyaku.
Dia ikut membaca, “Itu dekat kantor saya. Kalau mau ke sana, bisa ikut saya. Sekalian saya ke kantor.”
Sebagai turis domestik terdampar di ibu kota, itu tawaran paling kunanti. Tak ada yang lebih kuinginkan selain segera menyelesaikan urusan ini. Pulang ke Bali. Keluar dari kota pengap bernama Jakarta (hlm. 4—5).
Pada bagian berikutnya, Tansen pun mengetahui bahwa kunci yang diwariskan kepadanya menjadi semacam kunci untuk membuka pintu ke masa lalu keluarganya,
Tempat itu adalah bekas toko tua tanpa plang di daerah Jakarta tua. Ruko kuno dua lantai yang tak terurus; cat mengelupas, tembok kehitaman oleh lembap dan jamur, plafon menganga di sana-‐sini, kayu-‐kayu melunak oleh rayap dan air hujan. Aku tidak yakin tempat ini dihuni. Tak ada tanda-‐ tanda kehidupan selain gerak-‐gerik laba-‐laba yang bersarang di mana-‐ mana.
Sesuatu yang kucurigai sebagai bel akhirnya kupencet. Terdengar bunyi “teeet” panjang yang sember. Kaget, aku sampai terlonjak. Tidak menyangka benda itu memang bel dan masih berbunyi.
Pintu besar di depanku membuka. Laki-‐laki Cina tua berbaju olahraga menyambutku. Usianya mungkin sudah 80-‐an, terbaca dari keriput mukanya yang sudah menyerupai lipatan, taburan vlek di seputar pipinya, dan kedua cuping telinga yang melebar. Meski bola matanya mulai kelabu, sorot tatapannya tetap tajam. Tubuhnya kecil rampin dan posturnya tegap. Anehnya, ia melihatku dengan muka bosan seolah kami sudah bertemu ratusan kali, atau sudah ratusan hari dia menungguku. “Masuk,” katanya pendek.
Begitu menginjakkan langkah pertama, sebuah aroma khas menyergap penciumanku. Aroma tua. Semacam kombinasi wangi cendana, serbuk kayu, debu, dan residu kapur barus.
“Kamu yang bernama Tan—sen?” ucapnya canggung. “Saya Hadi” (hlm. 5—6).
Melalui kutipan tersebut tampak bahwa setelah cerita singkat tentang sejarah keluarga Tansen yang berasal dari India, hal-‐hal yang berkaitan dengan keuzuran dan masa lalu yang diwakili oleh bekas toko roti dan Pak Hadi kembali hadir. Kesan kekinian sekaligus kelampauan pun secara otomatis terus terbawa sepanjang cerita, semacam cerita
lintas generasi. Hal tersebut kembali dinyatakan pada bagi berikutnya sehingga kesan kekinian sekaligus kelampauan semakin kuat, “Masih berjajar etalase kaca yang memburam, foto-‐foto hitam putih yang menguning, beberapa pasang meja dan