• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan hukum pidana islam terhadap putusan nomor 243/Pid.Sus/2014/PN.Sbg tentang illegal logging di Tapanuli Tengah.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Tinjauan hukum pidana islam terhadap putusan nomor 243/Pid.Sus/2014/PN.Sbg tentang illegal logging di Tapanuli Tengah."

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN HUKUM PIDANA ISLAM TERHADAP PUTUSAN NOMOR

243/Pid.Sus/2014/PN.Sbg TENTANG

ILLEGAL LOGGING

DI TAPANULI

TENGAH

SKRIPSI

Oleh Yofik Aprianto NIM. C73213103

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Fakultas Syariah dan Hukum

Jurusan Hukum Publik Islam Program Studi Hukum Pidana Islam SURABAYA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul “Tinjauan Hukum Pidana Islam terhadap Putusan Nomor: 243/Pid.Sus/2014/PN.Sbg Tentang Illegal Logging di Tapanuli Tengah”. Skripsi ini adalah hasil penelitian pustaka untuk menjawab bagaimana pertimbangan Hakim dalam Putusan Nomor: 243/Pid.Sus/2014/PN.Sbg tentang tindak pidana Illegal Logging di Tapanuli Tengah serta bagaimana tinjauan hukum pidana Islam terhadap pertimbangan hukum Hakim dalam Direktori Putusan Nomor 243/Pid.Sus/2014/PN.Sbg tentang tindak pidana Illegal Logging.

Data penelitian diperoleh dengan mengumpulkan data dengan teknik studi dokumen, yaitu dengan cara membaca, mengkaji, merangkum, menulis dan mengumpulkan data yang berkaitan dengan Putusan Nomor 243/Pid.Sus/2014/PN.Sbg tentang tindak pidana Illegal Logging. Selanjutnya data diolah dan dianalisis untuk diambil kesimpulan.

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa dasar pertimbangan hukum Hakim mengenai tindak pidana Illegal Logging dalam Direktori Putusan Nomor 243/Pid.Sus/2014/PN.Sbg seharusnya diberikan hukuman yag maksimal yaitu menurut UU 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, bahwa seorang pelaku tindak pidana khusus Illegal Logging di Tapnuli Tengah diancam dengan penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp. 5.000.000.000 (lima miliyar rupiah). Illegal Logging atau dalam hal ini dikategorikan sebagai pencurian aset milik negara yaitu pembalakan hutan termasuk dalam ketegori hukuman jarimah ta’zi<r dan tidak ada ketentuan nas yang mengatur secara eksplisit tentang hukuman bagi pelaku tindak pidana Illegal Logging, sehingga dalam menjatuhkan hukuman diberikan sepenuhnya kepada Hakim atau dalam hal ini ulil amri.

(7)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

x

DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DALAM ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PENGESAHAN ... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TRANSLITERASI ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 7

C. Batasan Masalah ... 8

D. Rumusan Masalah ... 8

E. Kajian Pustaka ... 9

F. Tujuan Penelitian ... 11

G. Kegunaan Hasil Penelitian ... 11

H. Definisi Operasional ... 12

I. Metode Penelitian ... 13

(8)

BAB II TINJAUAN UMUM JARIMAH TA’ZI<R ... 20

A. Pengertian Tindak Pidana atau Jarimah Fiqih Jinayah ... 20

B. Pengertian Jarimah Ta’zi<r ... 22

C. Dasar Hukum Ta’zi>r ... 26

D. Macam-macam Sanksi Hukum Ta’zi<r ... 29

E. Tujuan dan Syarat-Syarat Ta’zi<r ... 33

F. Macam-macam Jarimah Ta’zi<r ... 34

G. Hukum Sanksi Ta’zi<r ... 37

H. Hikmah Diisyaratkannya Ta’zi<r ... 39

BAB III DASAR HUKUM DAN PERTIMBANGAN HUKUM HAKIM DALAM DIREKTORI PUTUSAN PENGADILAN NEGERI SIBOLGA NOMOR 243/Pid.Sus/2014/PN. Sbg TENTANG TINDAK PIDANA ILLEGAL LOGGING ... 41

A. Deskripsi Kasus Tindak Pidana Illegal Logging di Tapanuli Tengah dalam Putusan Nomor 243/Pid.Sus/2014/PN. Sbg ... 41

B. Landasan Hukum Hakim Pengadilan Negeri Sibolga dalam Menyelesaikan Kasus Tindak Pidana Illegal Logging di Tapanuli Tengah dalam Putusan Nomor 243/Pid.Sus/2014/PN. Sbg... 61

C. Pertimbangan Hukum yang dipakai oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sibolga ... 68

D. Amar Putusan Hakim ... 71

BAB IV ANALISA HUKUM PIDANA ISLAM TERHADAP PERTIMBANGAN HAKIM DALAM TINDAK PIDANA ILLEGAL LOGGING DI TAPANULI TENGAH ... 73

(9)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

xii

B. Tinjauan Hukum Pidana Islam terhadap Pertimbangan Hukum Hakim dalam Putusan Nomor 243/Pid.Sus/2014/PN.Sbg Tentang Tindak Pidana Illegal

Logging di Tapanuli Tengah ... 79

BAB V PENUTUP ... 84

A. Kesimpulan ... 84

B. Saran ... 85

DAFTAR PUSTAKA ... 86

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hutan merupakan sumber daya yang sangat penting tidak hanya sebagai sumber daya kayu, tetapi lebih sebagai salah satu bagian komponen lingkungan hidup.1 Sehingga Hutan Indonesia merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati di dunia, dimana Indonesia merupakan urutan ketiga dari ketujuh Negara yang disebut Megadiversity Country.

Penebangan hutan di Indonesia yang tidak terkendali selama puluhan

tahun dan menyebabkan terjadinya penyusutan hutan tropis secara besar-besaran. Laju kerusakan hutan periode 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektar per

tahun, sedangkan pada periode 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Ini menjadikan Indonesia merupakan salah satu tempat dengan tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia. Di Indonesia berdasarkan hasil penafsiran citra landsat tahun 2000 terdapat 101,73 juta hektar hutan dan lahan rusak, diantaranya seluas 59,62 juta hektar berada dalam kawasan hutan.2 Data demikian dikuatkan laporan World Resource (2005) yang dimuat dalam Koran

1Siswanto Sunarso,’Hukum Pidana Lingkungan Hidup dan Strategi Penyelesaian Sengketa, (Jakarta: Rineka Cipta, 6.

(11)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

2

Harian Kompas melaporkan, dalam kurun waktu 20 tahun kerusakan hutan di Indonesia telah mencapai 43 juta hektar atau setara dengan seluruh luas gabungan Negara Jerman dan Belanda.3

Dalam hal ini Negara dirugikan hingga Rp 45 trilyun per tahun. Setiap tahunnya kerusakan hutan di Indonesia akibat penebangan liar mencapai 1,6 juta hingga 2,4 juta hektar. Sedangkan menurut Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) konservasi lingkungan, Wetlands International, ada sekitar 48% lahan gambut di Indonesia sudah dirusak, dan sebagian besar pengrusakan disebabkan penebangan hutan secara liar. Bahkan dari pembersihan sampah dalam penebangan liar di lahan gambut saja, Indonesia menghasilkan 632 juta ton CO2 setiap tahunnya.4

Oleh karena itu dalam kedudukannya hutan sebagai salah satu penentu sistem penyangga kehidupan harus dijaga kelestariannya. Sebagaimana landasan konstitusional Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang berbunyi : “Bumi air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara untuk kemakmuran rakyat”.5

Aktifitas penebangan kayu, pencurian kayu dan pembalakan kayu yang diambil dari kawasan hutan dengan tidak sah atau tanpa ijin yang sah dari

3 Koran Harian Kompas, 30 Oktober 2006, hal 5.

4 Sholihin Hasan, Menakar Illegal Loging, Fiqih Lingkungan Hidup, Jurnal Hukum Islam, Kopertais

Wilayah IV Surabaya, Vol.01, N0.01, Maret 2009, hal 60.

(12)

3

pemerintah kemudian berdasarkan hasil beberapa kali seminar dikenal dengan istilah Illegal Logging. Dalam kasus ini penebangan hutan secara liar yang dilakukan oleh Saparuddin Simatupang alias Capalo tahun 2006 silam, di Desa Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Tapteng yang proses hukumnya sempat bergulir sejak tahun 2007 dan hingga 2014 dilanjutkan kembali, karena banyak kejanggalan adalah kawasan hutan milik negara. Kawasan hutan6 adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan /atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap. Kawasan hutan negara, statusnya secara hukum bahwa hutan tersebut hutan milik negara. Lambatnya proses hukum seperti yang terjadi terhadap perkara Caapalo yang berlarut-larut tidak ada kepastian hukum terhadap Capalo, merupakan pertanda bahwa lemahnya penegakan hukum terhadap yang memiliki power.7 Penebangan hutan secara liar yang dilakukan oleh Capalo merupkan hutan

Terdapat pula informasi bahwa terdapat dua orang yang bernama Sahirun Bakara dan Jhon Monggo Tinambunan sebagai pekerja yang disuruh Capalo dulunya telah dihukum pidana penjara dengan sanksi hukuman masing-masing satu tahun penjara, disamping itu dalam kasus ini Capalo yang bertindak sebagai otak dibalik kegiatan penebangan hutan milik negara ini tetap saja dapat bebas dalam jeratan hukum.

(13)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

4

Oleh karenanya sesuai Pasal 78 ayat (5) Jo Pasal 50 ayat (3) huruf e Undang-undang No. 41 tahun 1999 tentang kehutanan Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP yang berbunyi : “Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan dan yang turut serta melakukan perbuatan”.8

Adapun juga dasar hukum yang telah mengatur tentang Illegal Logging

yaitu undang-undang No. 41 tahun 1999 tentang kehutanan yang menyatakan “Setiap orang dilarang menerima, membeli atau menjual, menerima tukar, menerima titipan, menyimpan atau memiliki hasil hutan yang diketahui atau patut diduga berasal dari kawasan hutan yang diambil atau dipungut secara tidak sah”.9 Adapun sanksi yang diberikan bagi pelaku yang melanggar peraturan tersebut yaitu: Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf a, huruf b, atau huruf c, diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah). Undang-undang tersebut sebagai instrumen hukum untuk menanggulangi tindak pidana Illegal

Logging.

Secara normatif, setiap pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat di dalam dan di luar hutan, maka kepadanya dikenakan sanksi-sanksi hukum baik sanksi administratif maupun sanksi pidana

8 KUHP, Penyertaan Dalam Tindak Pidana, Pasal 55 ayat (1).

(14)

5

sebagaimana yang tertera dalam ketentuan di atas. Hukum pidana Indonesia memandang, bahwa Illegal Logging merupakan perbuatan yang dapat dipidana, karena telah memenuhi unsur-unsur perbuatan pidana.10 Pertama, unsur subjektif, yakni unsur yang berasal dalam diri pelaku yang meliputi perbuatan yang disengaja (dolus). Kedua, unsur Objektif, yakni faktor-faktor penunjang, atau akibat perbuatan manusia, keadaan-keadaan, adanya sifat melawan hukum.11

Hukum pidana Islam memandang bahwa suatu perbuatan baru dianggap sebagai tindak pidana apabila unsur-unsurnya telah terpenuhi. Jarimah adalah perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh syara’, yang diancam dengan hukuman had atau ta’zi<r (hukuman yang dijatuhkan atas dasar kebijakan hakim karena tidak terdapat dalam al-Quran dan al-sunnah).12

Tindak pidana Illegal Logging yang dilakukan masyarakat Desa Datu Sigiring-giring Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara belum diatur dalam hukum pidana Islam. Oleh karena itu, tindak pidana tersebut termasuk dalam kategori jarimah ta’zi<r karena tidak ditentukan di dalam Al-Qur’an ataupun Al-Sunnah, sehingga penetapan

10 Siti Sundari Rangkuti, Hukum Lingkungan dan Kebijakan Lingkungan Nasional,

(Surabaya: Airlangga University Press, 2005), 333

(15)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

6

hukuman jarimah adalah wewenang ulil al-amr (penguasa) berdasarkan kemaslahatan umat.

Hukuman ta’zi<r adalah hukuman yang bersifat mencegah, menolak timbulnya bahaya. Apabila tujuan diadakannya ta’zi<r itu demikian, maka jelas sekali hal itu ada dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah, karena setiap perbuatan yang merusak dan merugikan orang lain hukumnya dilarang. Ta’zi<r

Adalah bentuk hukuman yang tidak disebutkan ketentuan kadar hukumannya oleh syara’ (seperangkat peraturan berdasarkan ketentuan Allah tentang tingkah laku manusia yang diyakini berlaku serta mengikat untuk semua umat yang beragama islam) dan menjadi kekuasaan ulil al-amr atau hakim. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Q.S.28 Al-Qashas:77.

ِﻎْﺒَـﺗ ﻻَو َﻚْﻴَﻟ ِإ ُﱠ ا َﻦَﺴْﺣَأ ﺎَﻤَﻛ ْﻦِﺴْﺣَأَو ﺎَﻴْـﻧﱡﺪﻟا َﻦِﻣ َﻚَﺒﻴِﺼَﻧ َﺲْﻨَـﺗ ﻻَو َةَﺮِﺧﻵا َراﱠﺪﻟا ُﱠا َكَ'آ ﺎَﻤﻴِﻓ ِﻎَﺘْـﺑاَو

َﻦﻳِﺪِﺴْﻔُﻤْﻟا ﱡﺐُِﳛ ﻻ َﱠ ا ﱠنِإ ِضْرﻷا ِﰲ َدﺎَﺴَﻔْﻟا

Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan‛.13

Dengan kata lain, ta’zi<r adalah hukuman yang bersifat edukatif yang ditentukan hakim atas pelaku tindak pidana atau pelaku yang berbuat maksiat

(16)

7

yang hukumannya belum ditentukan oleh syariat atau kepastian hukumnya belum ada.14

Dan peranan ulil al-amr dalam menghukum jarimah ta’zi<r sangatlah penting. Tingkat kejahatan jelas akan meningkat bila tidak ada alat yang menjeratnya. Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti dan menganalisis lebih lanjut mengenai putusan terkait kasus Illegal Logging yang terjadi di Desa Datu Sigiring-giring Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara tersebut dengan judul penelitian ‚”Tinjauan Hukum Pidana Islam Terhadap Putusan Pengadilan Negeri Nomor 243/Pid.Sus/2014/PN.Sbg Tentang IllegalLogging Di Tapanuli Tengah”.

B. Identifikasi Masalah

Berangkat dari uraian pada latar belakang masalah diatas, dapat diidentifikasi beberapa masalah yang timbul sebagai berikut :

1. Perrtimbangan Hakim tentang tindak pidana Illegal Logging di Tapanuli Tengah dalam putusan 243/Pid.Sus/2014/PN.Sbg dalam perspektif hukum positif.

2. Sanksi pidana terhadap pelaku Illegal Logging di Tapanuli Tengah dalam perspektif hukum pidana Islam.

(17)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

8

3. Disparitas pengenaan hukuman dalam putusan Pengadilan Negeri Tapanuli Tengah.

4. Tinjauan hukum pidana Islam terhadap putusan Pengadilan Negeri Nomor: 243/Pid.Sus/2014/PN.Sbg tentang Illegal Logging di Tapanuli Tengah.

C. Batasan Masalah

Melihat pembahasan analisis hukum pidana Islam terhadap tindak pidana Illegal Logging dalam putusan Pengadilan Negeri Nomor 243/Pid.Sus/2014/PN.Sbg maka permasalahan ini dibatasi dengan:

1. Pertimbangan Hakim dalam putusan Pengadilan Negeri Nomor 243/Pid.Sus/2014/PN.Sbg terhadap tindak pidana Illegal Logging di Tapanuli Tengah.

2. Tinjauan hukum pidana Islam terhadap putusan Pengadilan Negeri Nomor 243/Pid.Sus/2014 PN.Sbg tindak pidana Illegal Logging di Tapanuli Tengah.

D. Rumusan Masalah

(18)

9

2. Bagaimana tinjauan hukum pidana Islam terhadap putusan Pengadilan Negeri Nomor 243/Pid.Sus/2014/PN.Sbg tentang Illegal Logging di Tapanuli Tengah?

E. Kajian Pustaka

Adapun referensi mengenai Illegal Logging diantaranya adalah Gatot P. Soemartono, Hukum Lingkungan Indonesia, (Jakarta, Sinar Grafika, 1996), Dr. Iskandar, SH., M.Hum., Hukum Kehutanan, (Bandung, Mandar Maju, 2015), Dr. Zarof Ricar, S.H., S.Sos., M.Hum., Disparitas Pemidanaan Pembalakan Liar dan Pengaruhnya Terhadap Penegakan Hukum di Indonesia, (Bandung, P.T. Alumni, 2012) dan penelitian yang terkait dengan pelanggaran Illegal logging diantaranya telah diteliti oleh Muhammad Abdul Ghoni pada tahun 2013 Jurusan Siyasah Jinayah dengan judul “Sanksi Pelanggaran Illegal Logging di Kecamatan Kedung Adem Kabupaten

Bojonegro Menurut Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 4 Tahun

2003 Dalam Perspektif Fikih Jinayah ”.15 Objek atau titik fokus dalam

penelitian tersebut adalah yang dimaksud tindak pidana Illegal Logging

adalah suatu tindakan penebangan, perambahan, pemanfaatan, perdagangan hasil hutan secara tidak sah dan melanggar undang-undang, dengan dasar

15 Muhammad Abdul Ghoni, Sanksi Pelanggaran Illegal Logging di Kecamatan Kedung Adem

(19)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

10

UUD (Undang-Undang Dasar) 1945 pasal 33 ayat 3, pasal 362-364 KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana), pasal 50 junto 78 UU (Undang-Undang) No.41 Tahun 1999 tentang kehutanan, dan inpres (instruksi presiden) no.4 tahun 2005 tentang pemberantasan penebangan kayu secara ilegal di kawasan hutan dan peredarannya di seluruh wilayah republik indonesia.

Hasil penelitian yang telah disebutkan di atas memang mempunyai kesamaan dengan objek yang akan diteliti. Diantara persamaannya adalah sanksi yang dikenakan terhadap pelaku pelanggaran Illegal Logging. Perbedaannya, jika pada tulisan Muhammad Abdul Ghoni menganalisis sanksi hukuman dari sudut pandang fiqih jinayah dan Peraturan Daerah Jawa Timur No.4 Tahun 2003 tentang pengelolan hutan sedangkan pada skripsi ini penulis menganalisis dari sisi pertimbangan Hakim pada putusan Nomor 243/Pid.Sus/2014/PN.Sbg dan sudut pandang hukum pidana Islam..

(20)

11

F. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka secara garis besar penelitian ini dilakukan dengan berbagai tujuan antara lain sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui pertimbangan Hakim dalam putusan Pengadilan Negeri

Nomor 243/Pid.Sus/2014/PN.Sbg tentang Illegal Logging di Tapanuli Tengah.

2. Untuk mengetahui tinjauan hukum pidana Islam terhadap putusan Pengadilan Negeri Nomor 243/Pid.Sus/2014/PN.Sbg tentang Illegal

Logging di Tapanuli Tengah.

G. Kegunaan Hasil Penelitian

Sesuai dengan tujuan penelitian, penulis ingin mempertegas kegunaan hasil penelitian yang ingin dicapai dalam skripsi ini sekurang-kurangnya dalam dua aspek yaitu :

1. Aspek Teoritis

a. Sebagai upaya bagi menambah dan memperkaya khazanah keilmuan, khususnya dibidang tindak pidana Islam yang berkaitan dengan masalah tindak pidana Illegal Logging di Tapanuli Tengah.

(21)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

12

2. Aspek Praktis

a. Hasil studi ini dapat dijadikan sebagai sumbangan informasi bagi masyarakat, para pejabat, lembaga atau instansi terkait dalam upaya pemberantasan tindak pidana Illegal Logging di Indonesia, khususnya masyarakat Tapanuli Tengah.

b. Dapat dijadikan sebagai acuan untuk mewujudkan kesadaran masyarakat yang berdasarkan hukum.

H. Definisi Oprasional

Menghindari kesalahpahaman dalam memahami judul skripsi ini, maka perlu dijelaskan beberapa istilah-istilah atau kata-kata di dalam judul tersebut :

1. Tinjauan hukum pidana Islam adalah analisis dari kacamata ketentuan-ketentuan hukum pidana Islam, hukum yang mengatur perbuatan yang

dilarang oleh syara’ dan dapat meimbulkan hukuman ta’zi<r16, serta nilai-nilai keadilan yang menyangkut tentang putusan hakim. Lingkup hukum Islam yang menyangkut tentang hukuman ta’zi<r dipakai untuk meninjau atau menilai, yaitu aspek keadilan yang ditimbulkan dari putusan, sebagai konsekuensi pemberian hukuman pada pelaku Illegal Logging.

(22)

13

2. Tindak pidana Illegal Logging adalah suatu tindakan penebangan, perambahan, pemanfaatan, perdagangan hasil hutan secara tidak sah dan melanggar undang-undang, dengan dasar UUD (Undang-Undang Dasar) 1945 pasal 33 ayat 3, pasal 362-364 KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana), pasal 50 junto 78 UU (Undang-Undang) No.41 Tahun 1999 tentang kehutanan, dan inpres (instruksi presiden) no.4 tahun 2005 tentang pemberantasan penebangan kayu secara ilegal di kawasan hutan dan peredarannya di seluruh wilayah Republik Indonesia.17

I. Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Penelitian sendiri berarti sarana yang dipergunakan oleh manusia untuk memperkuat, membina, serta mengembangkan ilmu pengetahuan.18 Dalam hal ini, dapat dipahami bahwa metode penelitian merupakan usaha untuk menemukan sesuatu serta bagaimana cara untuk menemukan sesuatu tersebut dengan menggunakan metode atau teori ilmiah sehingga mendapat kesimpulan yang sesuai dengan kebenaran ilmiah untuk menjawab isu hukum yang dihadapi, pada akhirnya dapat ditarik kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

17 Saiful Bahri, Sanksi Tindak Pidana Illegal Logging Dalam Perspektif Hukum Islam, Jurusan

Siyasah Jinayah Tahun 2006

(23)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

14

Metode penelitian dalam hal ini akan mengarahkan penelitian tersebut sehingga penelitian dapat mengungkap kebenaran secara sistematis dan konsisten.

1. Data yang dikumpulkan

Sesuai dengan permasalahan yang diangkat, maka jenis penelitian ini merupakan penelitian pustaka yaitu metode penelitian hukum yang dilakukan dengan meneliti bahan pustaka, dokumentasi dan wawancara.19 Dalam hal ini penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi pertimbangan Hakim terhadap putusan Pengadilan Negeri Nomor 243/Pid.Sus/2014/PN.Sbg tentang Illegal Logging di Tapanuli Tengah. Metode berfikir yang digunakan adalah metode berfikir deduktif (cara berfikir dalam penarikan kesimpulan yang ditarik dari sesuatu yang sifatnya umum yang sudah dibuktikan bahwa dia benar dan kesimpulan itu ditujukan untuk sesuatu yang sifatnya khusus).20 Penelitian dilakukan terhadap buku-buku rujukan yang membicarakan tentang tinjauan hukum pidana Islam terhadap direktori putusan Pengadilan Negeri Nomor 243/Pid.Sus/2014/PN.Sbg tentang Illegal Logging di Tapanuli Tengah. Hal ini dilakukan guna meninjau pertimbangan hakim terhadap tindak pidana Illegal Logging di Tapanuli Tengah berdasarkan Pasal 78 Ayat (5)

19 Soerjono Sukanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, (Jakarta: RajaGrafindo, 1994),

13.

20 Johnny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, (Malang: Bayumedia, 2007),

(24)

15

Jo Pasal 50 Ayat (3) huruf f Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Jo Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP dan sanksi berdasarkan hukum pidana Islam.

2. Sumber Data a. Sumber primer

Data primer penelitian ini adalah dokumen putusan dari Pengadilan Negeri terhadap pelaku tindak pidana Illegal Logging di Tapanuli Tengah, yang meliputi:

1) Putusan Pengadilan Negeri Tapanuli Tengah tentang tindak pidana

Illegal Logging.

2) Sanksi yang diputus Pengadilan Negeri tentang tindak pidana Illegal

Logging di Tapanuli Tengah.

3) Wawancara terhadap Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sibolga. Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data21.

b. Sumber sekunder

Sumber sekunder adalah sumber tidak langsung yang berfungsi sebagai pendukung terhadap kelengkapan penelitian yang berasal dari kamus, ensiklopedia, jurnal, surat kabar, dan sebagainya.22 Diantaranya:

(25)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

16

1) Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2005).

2) Abdul Majid, Mujizat Al-Qur’an dan Al-Sunnah.

3) Achmad Djazulli, Fikih Jinayah, (PT. Raja Grafindo Persada, 2000). 4) Achmad Djazulli, Kaidah Fikih Jinayah, (Bandug: Pustaka Bani

Quraisy, 2004).

5) Dr. Iskandar, SH., M.Hum., Hukum Kehutanan, (Bandung: Mandar Maju, 2015).

6) Moeljatno, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008).

7) M. Nurul Irfan dan Masyrofah, Fikih Jinayah, (Jakarta: AMZAH, 2014).

3. Teknik Pengumpulan Data

(26)

17

4. Teknik Pengolahan Data

Setelah semua data yang terkait dengan permasalahan tersebut kemudian akan diolah dengan beberapa teknik sebagai berikut:

a. Editing, yaitu pemeriksaan kembali data-data yang berkaitan dengan

tindak pidana Illegal Logging yang diperoleh dari berbagai buku dan dokumen-dokumen mengenai topik penelitian terutama kejelasan makna, dan keselarasan antara data satu dengan yang lainnya.

b. Organizing, yaitu menyusun dan mensistematikan data yang berkaitan

dengan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dan fiqih jinayah yang diperoleh dalam kerangka uraian yang telah direncanakan.

c. Analizing, yaitu melakukan terhadap putusan Hakim Pengadilan Negeri

Tapanuli Tengah Nomor: 243/Pid.Sus/2014/PN.Sbg dan fiqih jinayah dengan hasil pengorganisasian dalam data dengan menggunakan kaidah, teori, dalil hingga diperoleh kesimpulan akhir sebagai jawaban dari permasalahan yang dipertanyakan.

5. Teknik Analisis Data

(27)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

18

tentang sanksi\ hukuman di Tapanuli Tengah secara keseluruhan, mulai dari deskripsi kasus, landasan hukum yang dipakai oleh Hakim, isi putusan kemudian dilakukan analisis berdasarkan berkas-berkas yang ada dan menilai secara hukum Islam.

J. Sistematika Pembahasan

Penelitian ini membutuhkan pembahasan yang sistematis agar lebih mudah dalam memahami dalam penulisan skripsi. Oleh karena itu, penulis akan menyusun penelitian ini ke dalam 5 (lima) bab pembahasan. Adapun sistematika pembahasan skripsi tersebut secara umum adalah sebagai berikut:

Bab I, tentang pendahuluan yaitu meliputi latar belakang masalah, identifikasi dan batasan masalah, rumusan masalah, kajian pustaka, tujuan penelitian, kegunaan hasil penelitian, definisi operasional, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.

Bab II, bab ini akan mengemukakan Illegal Logging dan sanksi hukumnya menurut fiqih jinayah. Dan paparan singkat konsep sanksi menurut fiqih jinayah terhadap pelaku Illegal Logging yang berupa ta’zi<r

dalam hukum pidana Islam yang meliputi: pengertian tindak pidana atau jarimah menurut hukum pidana Islam, pengertian jarimah ta’zi<r, dasar hukum

(28)

19

macam jarimah ta’zi<r, hukum sanksi ta’zi<r, dan hikmah disyariatkannya hukuman ta’zi<r

Bab III, bab ini membahas tentang putusan hakim terhadap pelaku tindak pidana Illegal Logging didalam direktori putusan Pengadilan Negeri Nomor 243/Pid.Sus/2014/PN.Sbg tentang Illegal Logging di Tapanuli Tengah yang meliputi: deskripsi kasus tindak pidana Illegal Logging, landasan hukum yang digunakan Hakim dalam menyelesaikan kasus tindak pidana Illegal Logging, pertimbangan hukum yang dipakai Hakim, dan amar putusan Hakim.

Bab IV, bab ini mengemukakan tentang analisa pertimbangan Hakim dan pandangan hukum pidana Islam terhadap direktori putusan Pengadilan Negeri Nomor 243/Pid.Sus/2014/PN.Sbg Tentang Illegal Logging di Tapanuli Tengah.

(29)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

20

BAB II

TINJAUAN UMUM JARIMAH TA’ZI<R

A. Pengertian Tindak Pidana atau Jarimah menurut Hukum Pidana Islam

Adapun istilah tindak pidana dalam hukum Islam, seperti yang

terdapat dalam kitab-kitab fiqih Islam disebut dengan “jarimah atau

jinayah”. Adapun definisi dari istilah jarimah yang dikemukakan oleh para

ulama ialah :

ْﻨَﻋ ِّﻲِﻬْﻨَﻣ ٍﻞْﻌِﻓ ٌنﺎَﻴْـﺗِإﺎﱠﻣِإ َﻲِﻫ ُتاَرْﻮُﻈْﺤُﳌاَوٍﺮْﻳِﺰْﻌَـﺗْوَأ

ِّﺪَِﲝﺎَﻬْـﻨَﻋ ُﷲَﺮَﺟَز ُﺔﱠﻴِﻋْﺮَﺷ ُتاَرْﻮُﻈَْﳏ

ُكْﺮَـﺗْوَا ُﻪ

ِﻪِﺑٍرْﻮُﻣْﺄَﻣ ٍﻞْﻌِﻓ

Artinya: Segala larangan-larangan yang haram karena dilarang oleh Allah dan diancam dengan hukum baik had maupun ta’zi<r, maksud al-mahdhurat ialah baik mengerjakan perbuatan yang dilarang maupun meninggalkan perbuatan yang diperintahkan.1

Secara etimologis jinayah ialah :

ﻪُﺒَﺴَﺘْﻛاﺎَﻣَوِّﺮَﺷ ْﻦِﻣُءْﺮَﳌا ِﻪَﻴِﻨَْﳚﺎَﻤ

ِﻟ ٌﻢْﺳِإ ُﺔَﻳﺎَﻨِﳉا

ُ◌

Artinya: Jinayah adalah suatu nama untuk perbuatan atau tindakan pidana yang dilakukan seseorang.2

Sedangkan secara terminologi jinayah adalah nama perbuatan yang

diharamkan oleh syara’ (hukum) baik perbuatan itu atas jiwa, harta atau

selain jiwa dan harta.3

1 Juhaya S. Praja dan Ahmad Syihabuddin, Delik Agama Dalam Hukum Pidana di Indonesia,

(Bandung: Angkasa, 1993), 77.

(30)

21

Menurut Dede Rosyada, fiqih jinayah adalah segala ketentuan hukum

mengenai tindak pidana atau perbuatan kriminal yang dilakukan oleh

orang-orang mukallaf (orang-orang yang dapat dibebani kewajiban), sebagai hasil dari

pemahaman atas dalil-dalil hukum yang terperinci dari Al-Qur’an dan hadis.4

Sedangkan menurut Makhrus Munajat, jinayah merupakan suatu

tindakan yang dilarang oleh syarak karena dapat menimbulkan bahaya bagi

agama, jiwa, harta, keturunan, dan akal. Sebagian fuqaha menggunakan kata

jinayah untuk perbuatan yang berkaitan dengan jiwa atau anggota badan,

seperti membunuh, melukai, menggugurkan kandungan dan lain sebagainya.

Dengan demikian istilah fiqih jinayah sama dengan hukum pidana.5

Larangan-larangan tersebut, ada kalanya berupa mengerjakan

perbuatan-perbuatan yang dilarang, atau meninggalkan perbuatan yang

diperintahkan. Dengan kata-kata syara’ pada pengertian tersebut di atas,

yang dimaksud ialah bahwa sesuatu perbuatan baru dianggap jarimah apabila

dilarang oleh syara’.6

Selanjutnya agama Islam menganggap sebagian perbuatan-perbuatan manusia itu merupakan tindak pidana jarimah yang oleh karenanya dikenakan sanksi. Hal ini memelihara kemaslahatan masyarakat, serta memelihara peraturan-peraturan yang merupakan tiang berdirinya masyarakat yang kuat dan berakhlak sempurna.

4 Dede Rosyada, Hukum Islam dan Pranata Sosial, (Jakarta: Lembaga Studi Islam dan

Kemasyarakatan, 1992), 86.

5 Makhrus Munajat, Dekontruksi Fikih Jinayah, (Sleman: Logung Pustaka, 2004), 2.

6 Mardani, Hukum Islam: Pengantar Ilmu Hukum Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka

(31)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

22

B. Pengertian Jarimah Ta’zi<r

Jarimah ta’zi<r secara harfiah bermakna memuliakan atau menolong.

Namun pengertian berdasarkan istilah hukum Islam, yaitu ta’zi<r adalah

hukuman yang bersifat mendidik yang tidak mengharuskan pelakunya

dikenai had dan tidak pula harus membayar kafarat atau diat.7

Ta’zi<r adalah bentuk masdar dari kata ُرِﺰْﻌَـﻳ- َرَﺰَﻋ yang secara etimologis

berarti ُﻊْﻨﳌْاَو ﱡدﱠﺮﻟا, yaitu menolak dan mencegah. Kata ini juga memiliki arti ُ◌ﻩَﺮَﺼَﻧ

menolong atau menguatkan.8 Hal ini seperti dalam firman Allah Swt. dalam

Surah Al-Fath Ayat 9 :

ﺆُﺘِّﻟ

ۡ

ِﻪِﻟﻮُﺳَرَو ِﱠEﭑِﺑ ْاﻮُﻨِﻣ

ۦ

ُﻩوُﺮِّﻗَﻮُـﺗَو ُﻩوُرِّﺰَﻌُـﺗَو

ۚ

ﻚُﺑ ُﻩﻮُﺤِّﺒَﺴُﺗَو

ۡ

ةَر

ٗ

ًﻼﻴِﺻَأَو

٩

Artinya : Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Rasul-Nya, membesarkan-Rasul-Nya, dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.9

Kata ta’zi<r dalam ayat ini juga berarti ُﻩاَﻮَـﻗَو ُﻪَﻧﺎَﻋَأَو ُﻩَﺮﱠـﻗَوَو ُﻪَﻤﱠﻈَﻋ, yaitu

membesarkan, memperhatikan, membantu, dan menguatkan (agama Allah).

Sementara itu, Al-Fayyumi dalam Al-Misbah Al-Munir mengatakan bahwa

ta’zi<r adalah pengajaran dan tidak termasuk ke dalam kelompok had.10

Penjelasan Al-Fayyumi ini sudah mengarah pada definisi ta’zi<r secara

syariat sebab ia sudah menyebut istilah had. Begitu pula dengan beberapa

definisi di bawah ini :11

7 Zainuddin Ali, Hukum Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), 129.

8 M. Nurul Irfan dan Masyrofah, Fiqh Jinayah, (Jakarta: AMZAH, 2013), 136. 9 Departement Agama RI, Alqur’an dan Terjemahannya..., 838.

(32)

23

1. Ibrahim Anis, dkk., tim penyusun kamus Al-Mu’jam Al-Wasit

Ta’zi<r ialah pengajaran yang tidak sampai pada ketentuan had

syar’i, seperti pengajaran terhadap seseorang yang mencaci-maki (pihak

lain) tetapi bukan menuduh (orang lain berbuat zina).

Dalam definisi ini terdapat kalimat tidak sampai pada ketentuan

had syar’i. Hal ini sesuai dengan pernyataan Al-Fayyumi dalam definisi di

atas, yaitu ta’zi<r adalah pengajaran dan tidak termasuk dalam kelompok

had. Dengan demikian, ta’zi<r tidak termasuk ke dalam kategori hukuman

hudud. Namun, bukan berarti tidak lebih keras dari hudud, bahkan sangat

mungkin berupa hukuman mati.

2. Al-Mawardi dalam kitabAl-Akhkam Al-Sultaniyyah

Ta’zi<r adalah pengajaran (terhadap pelaku) dosa-dosa yang tidak

diatur oleh hudud. Status hukumnya berbeda-beda sesuai dengan keadaan

dosa dan pelakunya. Ta’zi<r sama dengan hudud dari satu sisi, yaitu

sebagai pengajaran (untuk menciptakan) kesejahteraan dan untuk

melaksanakan ancaman yang jenisnya berbeda-beda sesuai dengan yang

(dikerjakan). Definisi ta’zi<r yang dikemukakan oleh Al-Mawardi ini

dikutip oleh Abu Ya’la.

3. Abdullah bin Abdul Muhsin Thariqi dalam jarimah Risywah fi

Al-Syari’ah Al-Islamiyyah

Ta’zi<r ialah sanksi hukum yang wajib diberlakukan sebagai hak

Allah atau hak manusia karena melakukan kemaksiatan yang tidak ada

(33)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

24

adalah bahwa ta’zi<r bukan sebagai sanksi yang masuk dalam jenis sanksi

hudud dan kafarat, karena ta’zi<r merupakan kebijakan penguasa setempat.

4. Abdul Aziz Amir dalam Al-Ta’zir fi Al-Syari’ah Al-Islamiyyah

Ta’zi<r ialah sanksi yang tidak ada ketentuannya. Hukumnya wajib

sebagai hak Allah atau manusia karena melakukan kemaksiatan yang

tidak termasuk ke dalam sanksi had dan kafarat. Ta’zi<r sama dengan

hudud dalam hal fungsi, yaitu sebagai pengajaran (untuk menciptakan)

kesejahteraan dan sebagai ancaman. Definisi ini memiliki kesamaan

dengan definisi ta’zi<r Al-Mawardi.

5. Abdul Qadir Audah dalam Al-Tasyri Al-Jina’i Al-Islami Muqaranan bi

Al-Qanun Al-Wad’i

Ta’zi<r ialah pengajaran yang tidak diatur oleh hudud dan

merupakan jenis sanksi yang diberlakukan karena melakukan beberapa

tindak pidana yang oleh syariat tidak ditentukan dengan sebuah sanksi

hukuman tertentu.

6. Ibnu Manzhur dalam kitab Lisan Al-‘Arab

Ta’zi<r adalah hukuman yang tidak termasuk had, berfungsi

mencegah pelaku tindak pidana dari melakukan kejahatan dan

menghalanginya dari melakukan maksiat. Kata al-Ta’zi<r makna dasarnya

adalah pengajaran. Oleh sebab itu, jenis hukuman yang tidak termasuk

had ini disebut ta’zi<r, karena berfungsi sebagai pengajaran. Arti lain dari

kata al-Ta’zi<r adalah mencegah dan menghalangi. Oleh sebab itu,

(34)

25

musuh-musuhnya dan menghalangi siapa pun yang akan menyakitinya.

Dari sinilah pengajaran yang tidak termasuk ke dalam ranah had itu

disebut ta’zi<r.

7. Abu Zahrah dalam kitab Al-Jarimah wa Al-Uqubah fi Fiqh Al-Islami

Ta’zi<r ialah sanksi-sanksi hukum yang tidak disebutkan oleh syar’i

(Allah dan Rasulullah) tentang jenis dan ukurannya. Syar’i menyerahkan

penentuan ukurannya kepada ulil amri atau Hakim yang mampu menggali

hukum, sebagaimana perkara-perkara yang ditangani oleh Hakim-Hakim

periode awal, seperti Abu Musa Al-Asy’ari, Syuraih, Ibnu Abi Laila, Ibnu

Syibrimah, Utsman Al-Batti, Abu Yusuf, teman Abu Hanifah,

Muhammad, murid Abu Hanifah, dan Zufar bin Al-Hudzail, murid Abu

Hanifah yang termasyhur.

8. Wahbah Al-Zuhaili dalam kitab Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuh

Sanksi-sanksi ta’zir adalah hukuman-hukuman yang secara syarak

tidak ditegaskan mengenai ukurannya. Syariat Islam menyerahkannya

kepada penguasa negara untuk menentukan sanksi terhadap pelaku tindak

pidana yang sesuai dengan kejahatannya. Selain itu untuk menumpas

permusuhan, mewujudkan situasi aman terkendali dan perbaikan, serta

melindungi masyarakat kapan saja dan di mana saja. Sanksi-sanksi ta’zi<r

ini sangat beragam sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat, taraf

pendidikan masyarakat, dan berbagai keadaan lain manusia dalam

(35)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

26

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ta’zi<r ialah sanksi yang

diberlakukan kepada pelaku jarimah yang melakukan pelanggaran, baik

berkaitan dengan hak Allah maupun hak manusia dan tidak termasuk ke

dalam kategori hukuman hudud atau kafarat.12

Dalam ta’zi<r, hukuman itu tidak ditetapkan dengan ketentuan (dari

Allah dan Rasul-Nya, dan kadi diperkenankan untuk mempertimbangkan

baik bentuk hukuman yang akan dikenakan maupun kadarnya). Bentuk

hukuman dengan kebijaksanaan ini diberikan dengan pertimbangan khusus

tentang berbagai faktor yang mempengaruhi perubahan sosial dalam

peradaban manusia dan bervariasi berdasarkan pada keanekaragaman metode

yang dipergunakan pengadilan ataupun jenis tindak pidana yang dapat

ditunjukkan dalam Undang-undang. Pelanggaran yang dapat dihukum

dengan metode ini adalah yang mengganggu kehidupan dan harta orang serta

kedamaian dan ketentraman masyarakat.13

C. Dasar Hukum Ta’zi<r

Pada jarimah ta’zi<r Al-Qur’an dan al-Hadits tidak menerapkan secara

terperinci, baik dari segi bentuk jarimah maupun hukumannya.14 Dasar

hukum disyariatkannya sanksi bagi pelaku jarimah ta’zi<r adalah at-ta’zi<r

yadurru ma’a mashlahah artinya, hukum ta’zi<r didasarkan pada

12 Ibid., 136-140.

13 Jaih Mubarok dan Eceng Arif Faizal, Kaidah Fiqh Jinayah: Asas-asas Hukum Pidana Islam,

(Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004), 14.

(36)

27

pertimbangan kemashlahatan dengan tetap mengacu kepada prinsip keadilan

dalam masyarakat.15

Menurut Syarbini Al-Khatib, bahwa ayat Al-Qur’an yang dijadikan

landasan adanya jarimah ta’zi<r adalah Q.S. al-Fath ayat 8-9 yang artinya :

ا

ًﺮﻳِﺬَﻧَو اًﺮ ِّﺸَﺒُﻣَو اًﺪِﻫﺎَﺷ َكﺎَﻨْﻠَﺳْرَأ ﱠQِإ

Aritinya: Sesungguhnya kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.

ًﻼﻴِﺻَأَو ًةَﺮْﻜُﺑ ُﻩﻮُﺤِّﺒَﺴُﺗَو ُﻩوُﺮِّﻗَﻮُـﺗَو ُﻩوُرِّﺰَﻌُـﺗَو ِﻪِﻟﻮُﺳَرَو ِﱠEِS اﻮُﻨِﻣْﺆُـﺘِﻟ

Artinya: Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.

Dari terjemahan tersebut diatas A. Hasan menterjemahkan

:watu’aziruhu sebagaimana dikutip oleh Haliman dengan: dan supaya kamu

teguhkan (agamanya) dan untuk mencapai tujuan ini, satu diantaranya ialah

dengan mencegah musuh-musuh Allah, sebagaimana yang telah

dikemukakan oleh Syarbini al-Khatib.

Adapun Hadits yang dijadikan dasar adanya jarimah ta’zi<r adalah sebagai

berikut :

1. Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Bahz ibn Hakim yang artinya “ Dari

Bahz ibn Hakim dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Nabi SAW menahan

seseorang karena disangka melakukan kejahatan”.

15 Makhrus munajat, Reaktualisasi Pemikiran Hukum Pidana Islam, (Yogyakarta: Cakrawala,

(37)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

28

2. Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abi Burdah yang artinya “Dari Abu

Burdah Al-Anshari RA. Bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda

:Tidak boleh dijilid diatas sepuluh cambuk kecuali didalam hukuman yang

telah ditentukan oleh Allah ta’ala (Muttafaqun Alaih)”.

3. Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Aisyah yang artinya “Dari Aisyah

RA. Bahwa nabi bersabda : Ringankanlah hukuman bagi orang-orang

yang tidak pernah melakukan kejahatan atas perbuatan mereka, kecuali

dalam jarimah-jarimah hudud”.

Secara umum ketiga hadits tersebut menjelaskan tentang eksistensi

ta’zi<r dalam syariat Islam. Hadits pertama menjelaskan tentang tindakan

Nabi yang menahan seseorang yang diduga melakukan tindak pidana dengan

tujuan untuk memudahkan boleh lebih dari sepuluh cambukan untuk

membedakan dengan jarimah hudud. Dengan batas hukuman ini dapatlah

diketahui mana yang termasuk jarimah hudud dan mana yang termasuk

jarimah ta’zi<r. Menurut Al-Kahlani, para ulama sepakat bahwa yang

termasuk jarimah hudud adalah zina, pencurian, minum khamr, hirabah,

qadzaf, murtad dan pembunuhan. Selain dari jarimah-jarimah tersebut,

termasuk jarimah ta’zi<r meskipun ada juga beberapa jarimah yang

diperselisihkan oleh para fuqaha, seperti liwath, lesbian, dan sedangkan

hadits ketiga mengatur tentang tekhnis pelaksanaan hukuman ta’zi<r yang

bias berbeda antara satu satu pelaku lainnya, tergantung kepada status

(38)

29

Adapun tindakan sahabat yang dapat dijadikan dasar hukum untuk

jarimah dan hukuman ta’zi<r antara lain tindakan Sayyidina Umar ibn

Khattab yang melihat orang menelentangkan seekor kambing kemudian dia

mengasah pisaunya. Khalifah Umar memukul orang tersebut dengan cemeti

dan ia berkata : “Asah dulu pisau itu”.16

D. Macam-macam Sanksi Hukum Jarimah Ta’zi<r

Hukuman-hukuman ta’zi<r banyak jumlahnya, yang dimulai dari

hukuman paling ringan sampai hukuman yang terberat. Hakim diberi

wewenang untuk memilih diantara hukuman-hukuman tersebut, yaitu

hukuman yang sesuai dengan keadaan jarimah serta diri pembuatnya.17 Hukuman –hukuman ta’zi<r antara lain:

1. Hukuman Mati18

Pada dasarnya menurut syariah Islam, hukuman ta’zi<r adalah

untuk memberikan pengajaran (ta’di<b) dan tidak sampai membinasakan.

Oleh karena itu, dalam hukum ta’zi<r tidak boleh ada pemotongan anggota

badan atau penghilangan nyawa. Akan tetapi beberapa fuqoha

memberikan pengecualian dari aturan umum tersebut, yaitu kebolehan

dijatuhkan hukuman mati jika kepentingan umum menghendaki demikian,

atau kalau pemberntasan tidak bisa terlaksana kecuali dengan jaalan

16 Drs. Makhrus Munajat, Hukum Pidana Islam di Indonesia,(Yogyakarta: Teras, 2009). Hlm.

182-185.

17 Abdurrahman al-Maaliki, Sistem Sanksi Dalam Islam, (Bogor: Pustaka Thariqul Izzah,2002),

249.

(39)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

30

membunuhnya, seperti mata-mata, pembuat fitnah, residivis yang

membahayakan. Namun menurut sebagian fuqoha yang lain, di dalam

jarimah ta’zi<r tidak ada hukuman mati.

2. Hukuman Jilid

Dikalangan fuqoha terjadi perbedaan tentang batas tertinggi

hukuman jilid dalam ta’zi<r. Menurut pendapat yang terkenal dikalangan

ulama Maliki, batas tertinggi diserahkan kepada penguasa karena

hukuman ta’zi<r didasarkan atas kemaslahatan masyarakat dan atas dasar

berat ringannya jarimah. Imam Abu Hanifah dan Muhammad berpendapat

bahwa batas tertinggi hukuman jilid dalam ta’zi<r adalah 39 kali, dan

menurut Abu Yusuf adalah 75 kali.

Sedangakan diakalangan mazhab Syafi’i ada tiga pendapat.

Pendapat pertama sama dengan pendapat Imam Abu Hanifah dan

Muhammad. Pendapat kedua sama dengan pendapat Abu Yusuf.

Sedangkan pendapat ketiga, hukuman jilid pada ta’zi<r boleh lebih dari 75

kali, tetapi tidak sampai seratus kali, dengan syarat bahwa jarimah ta’zi<r

yang dilakukan hampir sejenis dengan jarimah hudud.

Dalam madzhab Hambali ada lima pendapat. Tiga diantaranya

sama dengan pendapat madzhab Syafi’i diatas. Pendapat ke empat

mengatakan bahwa jilid yang diancam atas sesuatu perbuatan jarimah

tidak boleh menyamai hukuman yang dijatuhkan terhadap jarimah lain

(40)

31

sejenisnya. Pendapat ke lima mengatakan bahwa hukuman ta’zi<r tidak

boleh lebih dari 10 kali.

3. Hukuman Kawalan (Penjara Kurungan)

Ada dua macam hukuman kawalan dalam hukum Islam.

Pembagian ini didasarkan pada lama waktu hukuman. Pertama, Hukuman

kawalan terbatas. Batas terendah hukuman ini adalah satu hari, sedang

batas tertinggi, ulama berbeda pendapat. Menurut pendapat beberapa

ulama menetapkan batas tertingginya satu tahun, karena mereka

mempersamakannya dengan pengasingan dalam jarimah zina. Sementara

ulama-ulama lain menyerahkan semuanya pada penguasa berdasarkan

maslahat. Kedua, Hukuman kawalan tidak terbatas. Sudah disepakati

bahwa hukuman kawalan ini tidak ditentukan masanya terlebih dahulu,

melainkan berlangsung terus sampai terhukum mati atau taubat dan baik

pribadinya. Orang yang dikenakan hukuman ini adalah penjahat yang

berbahaya atau orang yang berulang ulang melakukan jarimah-jarimah

yang berbahaya. Dan Allah SWT telah membatasi pemenjaraan dengan

kematian, seperti firman Allah SWT dalam Q.S. al-Nisa’: 15.

اوُﺪِﻬَﺷ ْنِﺈَﻓ ۖ◌ ْﻢُﻜْﻨِﻣ ًﺔَﻌَـﺑْرَأ ﱠﻦِﻬْﻴَﻠَﻋ اوُﺪِﻬْﺸَﺘْﺳﺎَﻓ ْﻢُﻜِﺋﺎَﺴِﻧ ْﻦِﻣ َﺔَﺸ ِﺣﺎَﻔْﻟا َﲔِﺗَْY ِﰐ ﱠﻼﻟاَو

ًﻼﻴِﺒَﺳ ﱠﻦَُﳍ ُﱠEا َﻞَﻌَْﳚ ْوَأ ُتْﻮَﻤْﻟا ﱠﻦُﻫﺎﱠﻓَﻮَـﺘَـﻳ ٰﱠﱴَﺣ ِتﻮُﻴُـﺒْﻟا ِﰲ ﱠﻦُﻫﻮُﻜ ِﺴْﻣَﺄَﻓ Artinya: “Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka karunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya”.19

(41)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

32

4. Hukuman Salib20

Hukuman salib sudah dibicarakan dalam jarimah gangguan

keamanan (hirobah), dan untuk jarimah ini hukuman tersebut meruapakan

hukuman hadd. Akan tetapi untuk jarimah ta'zi<r hukuman salib tidak

dibarengi atau didahului dengan oleh hukuman mati, melainkan si

terhukum si terhukum disalib hidup hidup dan tidak dilarang makan

minum, tidak dilarang mengerjakan wudhu, tetapi dalam menjalankan

shalat cukup dengan isyarat. Dalam penyaliban ini, menurut fuqaha tidak

lebih dari tiga hari.

5. Hukuman Ancaman, Teguran (Tanbih) dan Peringatan

Ancaman juga merupakan salah satu hukuman ta'zi<r, dengan

syarat akan membawa hasil dan bukan hanya ancaman kosong. Misalnya

dengan ancama akan dijilid, dipenjarakan atau dihukum dengan hukuman

yang lain jika pelaku mengulangi tindakannya lagi.

6. Hukuman Pengucilan (al-Hajru)21

Hukuman pengucilan merupakan salah satu jenis hukuman ta'zi<r

yang disyariatkan oleh Islam. Dalam sejarah, Rasulullah pernah

melakukan hukuman pengucilan terhadap tiga orang yang tidak ikut serta

dalam perang tabuk, yaitu Ka'ab bin Malik, Miroroh bin Rubai'ah, dan

Hilal bin Umaiyah.

20 Ibid

(42)

33

7. Hukuman Denda (Tahdid)

Hukuman denda ditetapkan juga oleh syariat Islam sebagai

hukuman. Antara lain mengenai pencurian buah yang masih tergantung

dipohonnya, hukumannya didenda dengan lipat dua kali harga buah

tersebut, disamping hukuman lain yang sesuai dengan perbuatannya

tersebut. Hukuman yang sama juga dikenakan terhadap orang yang

menyembunyikan barang hilang.

E. Tujuan dan Syarat-Syarat Ta’zi<r

1. Preventif (pencegahan). Ditujukan bagi orang lain yang belum melakukan

jarimah.

2. Represif (membuat pelaku jera). Dimaksudkan agar pelaku tidak

mengulangi perbuatan jarimah dikemudian hari.

3. Kuratif (islah). Ta’zi<r harus membawa perbaikan perilaku terpidana

dikemudian hari.

4. Edukatif (pendidikan). Diharapkan dapat mengubah pola hidupnya ke

arah yang lebih baik.

Syara’tidak menentukan macam-macam hukuman untuk setiap

jarimah ta’zi<r, tetapi hanya menyebutkan sekumpulan hukuman, dari yang

paling ringan sampai yang paling berat. Hakim diberi kebebasan untuk

memilih hukuman mana yang sesuai. Dengan demikian, sanksi ta’zi<r tidak

(43)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

34

Ta’zi<r berlaku atas semua orang yang melakukan kejahatan.

Syaratnya adalah berakal sehat. Tidak ada perbedaan, baik laki-laki maupun

perempuan, dewasa maupun anak-anak, atau kafir maupun muslim. Setiap

orang yang melakukan kemungkaran atau mengganggu pihak lain dengan

alasan yang tidak dibenarkan, baik berbuat dengan perbuatan, ucapan, tau

isyarat perlu diberi sanksi ta’zi<r agar tidak mengulangi perbuatannya.22

F. Macam-macam Jarimah Ta’zi<r.

Berikut ini macam-macam jarimah ta’zi<r, yaitu sebagai berikut :23

1. Jarimah hudud atau qisas – diat yang terdapat syubhat, dialihkan ke

sanksi ta’zi<r, seperti :

a. Orang tua yang mencuri harta anaknya. Dalilnya yaitu :

َﻚْﻴِﺑَِﻷ َﻚُﻟﺎَﻣَو َﺖْﻧَأ

Artinya: Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

b. Orang tua yang membunuh anaknya. Dalilnya yaitu :

ِﻩِﺪَﻟَﻮِﺑُﺪِﻟاَﻮﻟاُدﺎَﻘُـﻳ َﻻ

Artinya: Orang tua tidak dapat dijatuhi hukuman kisas karena membunuh anaknya. (HR. Ahmad dan Al-Tirmidzi).

Kedua hadis tersebut melarang pelaksanaan kisas terhadap

seorang ayah yang membunuh anaknya. Begitu pula ayah yang mencuri

harta anaknya tidak akan dikenakan hukuman had potong tangan. Dengan

(44)

35

adanya kedua hadis itu menimbulkan syubhat bagi pelaksanaan kisas dan

had. Adapun mengenai syubhat, didasarkan atas hadis berikut :

ِتﺎَﻬُـﺒُﺸﻟِSَدوُﺪُﳊْااوُءَرْدا

Artinya: Hindarkanlah had, jika ada syubhat. (HR. Al-Baihaqi)

2. Jarimah hudud atau qisas – diat yang tidak memenuhi syarat akan dijatuhi

sanksi ta’zi<r. Contohnya percobaan pencurian, percobaan pembunuhan,

dan percobaan zina.

3. Jarimah yang ditentukan Al-quran dan Hadits, namun tidak ditentukan

sanksinya. Misalnya, penghinaan, tidak melaksanakan amanah, saksi

palsu, riba, suap, dan pembalakan liar.

4. Jarimah yang ditentukan ulil amri untuk kemaslahatan umat, seperti

penipuan, pencopetan, pornografi dan pornoaksi, penyelundupan,

pembajakan, human trafficking, dan money laundring.

Berdasarkan pelanggarannya, maka tindak pidana ta’zir terbagi

menjadi tujuh kelompok, yaitu sebagai berikut :24 1. Pelanggaran terhadap kehormatan, di antaranya :

a. Perbuatan-perbuatan yang melanggar kesusilaan.

b. Perbuatan-perbuatan yang melanggar kesopanan.

c. Perbuatan-perbuatan yang berhubungan dengan suami istri.

d. Peculikan.

2. Pelanggaran terhadap kemuliaan, di antaranya :

a. Tuduhan-tuduhan palsu.

(45)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

36

b. Pencemaran nama baik.

c. Penghinaan, hujatan, dan celaan.

3. Perbuatan yang merusak akal, di antaranya :

a. Perbuatan-perbuatan yang berhubungan dengan sesuatu yang dapat

merusak akal, seperti menjual, membeli, membuat, mengedarkan,

menyimpan, atau mempromosikan minuman khamar, narkotika,

psikotropika, dan sejenisnya.

b. Menjual bahan-bahan tertentu, seperti anggur, gandum, atau apapun

dengan maksud dibuat khamr oleh pembelinya.

4. Pelanggaran terhadap harta, di antaranya :

a. Penipuan dalam masalah muamalat.

b. Kecurangan dalam perdagangan.

c. Ghasab (meminjam tanpa izin).

d. Pengkhianatan terhadap amanah harta.

5. Gangguan keamanan, di antaranya :

a. Berbagai gangguan keamanan terhadap orang lain, selain dalam

perkara hudud dan kisas.

b. Menteror, mengancam, atau menakut-nakuti orang lain.

c. Penyalahgunaan kekuasaan atau jabatan untuk dirinya sendiri dan

merugikan orang lain.

6. Subversi/gangguan terhadap keamanan negara, di antaranya :

a. Makar, yang tidak melalui pemberontakan.

(46)

37

c. Membocorkan rahasia negara.

7. Perbuatan yang berhubungan dengan agama, di antaranya :

a. Menyebarkan ideologi dan pemikiran kufur.

b. Mencela salah satu dari risalah Islam, baik melalui lisan maupun

tulis.

c. Pelanggaran-pelanggaran terhadap ketentuan syariat, seperti

meninggalkan salat, terlambat membayar zakat, berbuka puasa siang

hari di bulan Ramadan tanpa uzur.

Jenis tindak pidana ta’zir tidak hanya terbatas pada macam-macam

tindak pidana di atas. Ta’zi<r sangat luas dan elastis, sehingga perbuatan

apapun (selain hudud dan jinayah) yang menyebabkan pelanggaran terhadap

agama, atau terhadap penguasa, atau terhadap masyarakat, atau terhadap

perorangan, maka dapat dikategorikan sebagai kejahatan ta’zi<r.

G. Hukum Sanksi Ta’zir

Ulama berbeda pendapat mengenai hukum sanksi ta’zi<r;25 1. Menurut

golongan Malikiyah dan Hanabilah, ta’zi<r hukumnya wajib sebagaimana

hudud karena merupakan teguran yang diisyaratkan untuk menegakkan hak

Allah dan seorang kepala negara atau kepala daerah tidak boleh

mengabaikannya, 2. Menurut madzhab Syafi’i, ta’zi<r hukumnya tidak wajib.

Seorang kepala negara atau kepala daerah boleh meninggalkannya jika

hukum itu tidak menyangkut hak adami, 3. Menurut madzhab Hanafiyah,

(47)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

38

ta’zi<r hukumnya wajib apabila berkaitan dengan hak adami. Tidak ada

pemberian maaf dari hakim karena hak hamba tidak dapat digugurkan,

kecuali oleh yang memiliki hak itu. Adapun jika berkenan dengan hak Allah,

keputusnnya terserah hakim. Jika hakim berpendapat ada kebaikan dalam

penegakannya maka ia melaksanakan keputusan itu. Akan tetapi, jika

menurut hakim tidak ada maslahat maka boleh meninggalkannya. Artinya, si

pelaku mendapat ampunan dari hakim. Sejalan dengan ini Ibnu Al-Hamam

berpendapat, “Apa yang diwajibkan kepada imam untuk menjalankan hukum

ta’zi<r berkenan dengan hak Allah adalah kewajiban yang menjadi

wewenangnya dan ia tidak boleh meninggalkannya, kecuali tidak ada

maslahat bagi pelaku kejahatan”.

Ta’zi<r dilakukan untuk menegur atau memberikan pelajaran. Oleh

karena itu, keringanan dalam cambukan hanya terdapat pada jumlahnya,

bukan meniadakannya sama sekali.

Penetapan sanksi ta’zi<r dilakukan melalui pengakuan, bukti, serta

pengetahuan hakim dan saksi. Kesaksian dari kaum perempuan bersama

kaum laki-laki dibolehkan, namun tida diterima jika saksi dari kaum

perempuan saja.

Selain imam atau hakim, orang yang berhak memberikan sanksi ta’zi<r

kepada pelanggar hukum syar’i adalah ayah atau ibu untuk mendidik

anaknya, suami untuk mendidik istrinya, atau guru untuk mendidik

muridnya. Para pemberi sanksi itu tidak boleh mengabaikan keselamatan

(48)

39

Menurut imam Al-Syafi’i dan Abu Hanifah, pemberian sanksi ta’zi<r

oleh selain penguasa harus terikat dengan jaminan keselamatan. Karena

mendidik dan memberi peringatan bagi selain imam tidak boleh sama dengan

apa yang dilakukan oleh imam yang memang ditugaskan oleh syariat. Hal ini

sebagaimana hadits dari Abu Hurairah r.a yang mengatakan bahwa

Rasulullah Saw bersabda, “Imam (penguasa pemerintah) adalah perisai. Dari

belakangnya, musuh-musuh diperangi. Jika imam itu memerintah dengan

taqwa kepada Allah SWT dan ia betindak adil, maka baginya pahala; dan

jika ia memerintah dengan selain taqwa, maka baginya dosa dari

pemerintahnya.” (H.R. Muslim dalam kitab Al-Imarah).

Maksud dilakukannya ta’zi<r adalah agar si pelaku mau menghentikan

kejahatannya dan hukum Allah tidak dilarangnya. Pelaksanaan sanksi ta’zi<r

bagi imam sama dengan pelaksanaan sanksi hudud. Adapun orangtua

terhadap anaknya, suami terhadap istrinya, majikan terhadap budaknya,

hanya terbatas pada sanksi ta’zi<r, tidak sampai kepada sanksi hudud.

H. Hikmah Disyariatkannya Ta’zi<r

Islam mensyariatkan hukuman ta’zi<r sebagai tindakan edukatif

terhadap orang-orang yang berbuat maksiat atau orang-orang yang keluar

dari tatanan peraturan. Hikmahnya adalah sama dengan hikmah yang

terdapat dalam hukuman had. Hanya saja hukuman ta’zi<r ini berbeda dengan

hukuman hadd karena tiga hal berikut ini: 1. Pelaksanaan hukuman hadd

(49)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

40

berbeda sesuai dengan kondisi masing-masing orang, 2. Dalam kasus hadd

tidak diperkenankan meminta grasi sesudah kasusnya dilaporkan kepada

sang hakim, sedangkan dalam kasus hukuman ta’zi<r hal itu diperbolehkan, 3.

Sesungguhnya orang yang mati akibat hukuman ta’zi<r orang yang

melaksanakannya harus bertanggung jawab terhadap kematiannya. Pernah

terjadi Khalifah Umar menakut-nakuti seorang wanita sehingga wanita

tersebut mengalami keguguran karena merasa kaget dan ketakutan, akhirnya

Umar ra. Menanggung diat atas janinnya.26

(50)

BAB III

DASAR HUKUM DAN PERTIMBANGAN HUKUM HAKIM DALAM PUTUSAN PENGADILAN NEGERI SIBOLGA NOMOR

243/Pid.Sus/2014/PN.Sbg TENTANG TINDAK PIDANA ILLEGAL LOGGING

A. Deskripsi Kasus Tindak Pidana Illegal Logging dalam Putusan Nomor

243/Pid.Sus/2014/PN.Sbg

Dalam skripsi ini akan dijelaskan bagaimana terungkapnya terdakwa

melakukan tindak pidana Illegal Logging dan dengan cara apa kejadian tindak

pidana Illegal Logging tersebut, isi pokok dari deskripsi kasus tindak pidana

Illegal Logging ini adalah :

Bahwa dia terdakwa Ir. SAPARUDDIN SIMATUPANG Als CAPALO pada hari

dan tanggal yang sudah tidak diingat lagi pada bulan Mei 2006 sampai dengan

Juli 2006 atau setidak-tidaknya pada suatu waktu dalam tahun 2006 bertempat di

Hutan Datu Desa Sigiring-giring Kecamatan Tukka Kabupaten Tapanuli Tengah

atau setidak-tidaknya pada suatu tempat yang termasuk dalam Wilayah Hukum

Pengadilan Negeri Sibolga, sebagai orang yang melakukan atau turut melakukan,

dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 50 ayat

(3) huruf e Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan yang

menyatakan Setiap orang dilarang menebang pohon atau memanen atau

memungut hasil hutan didalam hutan tanpa memiliki hak atau izin dari pejabat

(51)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

42

Pada mulanya terdakwa menyuruh atau memerintahkan saksi JHON

MONGGO TINAMBUNAN dan SAHIRUN BAKARA (yang perkaranya

diajukan dalam berkas terpisah) selanjutnya terdakwa dengan perantaraan saksi

ASDIN SITOMPUL menunjukkan peralatan dan disepakati dari hasil hutan yang

dikerjakan oleh saksi JHON MONGGO TINAMBUNAN dan SAHIRUN

BAKARA maka mereka akan mendapat upah dari terdakwa dengan bayaran

sebesar Rp.150.000,-(seratus lima puluh ribu rupiah) per meter kubik dengan

ketentuan hasil hutan berupa kayu olahan akan diserahkan kepada terdakwa atau

diangkut ketempat pengetaman milik terdakwa, selanjutnya berdasarkan

kesepakatan itu maka saksi JHON MONGGO TINAMBUNAN dan SAHIRUN

BAKARA menerima peralatan berupa mesin chain saw dari terdakwa untuk

memulai bekerja.

Bahwa sejak bulan Mei 2006 saksi JHON MONGGO TINAMBUNAN

dan SAHIRUN BAKARA mulai bekerja dengan cara menebang, memanen atau

memungut hasil hutan berupa kayu di hutan Datu Desa Sigiring-giring

Kecamatan Tukka Kabupaten Tapanuli Tengah dan selanjutnya diolah menjadi

papan atau panel dengan ukuran untuk panel panjang = 4 meter, tebal =4 centi

meter dan lebar 20 centi meter dan untuk papan dengan ukuran =4 meter, lebar

25 centi meter, tebal 2 centi meter, sehingga hasil hutan yang ditebang, dipanen

atau dipungut oleh saksi JHON MONGGO TINAMBUNAN dan SAHIRUN

BAKARA yang telah diolah menjadi papan atau panel sebanyak 5 (lima) meter

(52)

43

telah menerima upah atas hasil pekerjaan tersebut adalah sebesar

Rp.400.000,-(empat ratus ribu rupiah) untuk saksi JHON MONGGO TINAMBUNAN dan

sebesar Rp.320.000,-(tiga ratus dua puluh ribu rupiah) untuk saksi SAHIRUN

Referensi

Dokumen terkait

Bagaimana Seharusnya Dasar Pertimbangan Hakim dalam Tindak Pidana Kegiatan Industri yang Illegal (Studi Putusan

masalah dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap pelaku tindak pidana illegal logging di Pengadilan Negeri Klas I A Padang. Untuk itu penulis akan

PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PUTUSAN PN JAKARTA PUSAT NOMOR : 54/PID.B/TPK/2012/ PN.JKT.PST, PUTUSAN.. PT JAKARTA NOMOR : 11/PID/TPK/2013/PT.DKI DAN PUTUSAN MA NOMOR :

ASPEK HUKUM TERHADAP PEMBELIAN KAYU DARI HASIL PENEBANGAN LIAR (Illegal Logging) (Studi Kasus Putusan Pengadilan Negeri Bangkalan Nomor 252/Pid B/2013/PN Bkl) Skripsi Diajukan Kepada

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pertimbangan hukum hakim pada putusan Nomor 52/Pid.Sus/2016/PN Wat setelah hakim memeriksa semua bukti-bukti yang diajukan

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa : pertama, putusan Pengadilan Negeri Padang Nomor: 20 Pid/Sus-Anak/2015/Pn.Pdg setelah mendengarkan keterangan saksi dan tuntutan

Hasil penelitian dari Pertimbangan hakim dalam putusan Pengadilan Ketapang No 359/Pid.Sus/2021/PN Ktp, hakim memberikan sanksi ringan pidana penjara selama 2 tahun terhadap pelaku

Terkait dengan putusan hakim dalam penjatuhan hukuman dalam putusan nomor 314/Pid.Sus/2017/PN Bls yang hanya menjatuhkan pidana denda kepada para pelaku tindak pidana illegal fishing