• Tidak ada hasil yang ditemukan

BahanAjar Politik Hukum

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BahanAjar Politik Hukum"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

Pedoman Perkuliahan

(Hand Out)

POLITIK HUKUM

BAGIAN HUKUM TATA NEGARA

(2)
(3)

Alasan pembelajaran Politik Hukum

Dinamisasi kebijakan hukum;

Perkembangan dan pembentukan

hukum

(ius constituendum)

.

Teori akan cenderung tertinggal

dengan perkembangan masyarakat

(Maurice Duvenger)

Hukum sebagai alat rekayasa sosial

(4)

Perkembangan Mata Kuliah Politik

Hukum

24 Juni 1994 SK Dirjen Dikti No. 165/DIKTI/Kep/1994

tertanggal 24 Juni 1994, mata kuliah politik hukum

ditetapkan sebagai salah satu dari enam mata ujian wajib

yang empat diantaranya harus dipilih untuk ujian di

Program Magister Hukum Pascasarjana.

3 Januari 1996, SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

No. 002/U/1996 tentang kurikulum yang berlaku secara

nasional pada program Magister Ilmu Hukum di program

pascasarjana yang didalamnya memasukan mata kuliah

politik hukum sebagai mata kuliah wajib.

4 Agustus 1998, Dirjen Dikti mengeluarkan SK No.

(5)

Pengantar awal

• Hukum dan politik memang sulit dipisahkan, khususnya hukum tertulis yangmempunyai kaitan langsung dengan negara.

•  L.B. Curzon; “...the close connections between law and politics, between legal principles and the institutionals of law, between political ideologies and government institutions are obvious...” (koneksi yang dekat antara hukum dan politik, antara prinsip perundang-undangan dan kelembagaan hukum, antara institusi pemerintah dan ideologi politis adalah jelas nyata)

 Satjipto Rahardjo, hukum juga berhadapan dengan masalah “politik hukum” yaitu adanya keharusan yang menentukan suatu pilihan mengenai tujuan maupun cara-cara yang hendak dipakai untuk mencapai tujuan

tersebut

Lalu, Sejauh mana hukum itu dapat dijadikan sebagai “alat politik”?

(6)

Pengantar.... (2)

Tiada negara tanpa politik hukum.

Politik hukum ada yang bersifat tetap (permanen) dan

ada yang temporer.

Yang tetap, berkaitan dengan sikap hukum yang akan

selalu menjadi dasar kebijakan pembentukan dan

penegakan hukum

Politik hukum temporer sebagai kebijaksanaan yang

ditetapkan dari waktu ke waktu sesuai dengan

kebutuhan. Termasuk ke dalam kategori ini hal-hal

seperti penentuan prioritas pembentukan peraturan

(7)

Menurut Mahfud MD

Studi politik hukum terbagi menjadi tiga kelompok.

(1) arah resmi tentang hukum yang akan

diberlakuan atau tidak akan diberlakukan

(legal

policy)

guna mencapai tujuan negara yang

mencakup penggantian hukum lama dan

pembentukan hukum-hukum yang baru sama sekali.

(2) latar belakang politik dan subsistem

kemasyarakatan lainnya di balik lahirnya hukum,

(8)

• Moh. Mahfud MD, dalam disertasinya menulis;

Tidak sedikit dari para mahasiswa hukum yang heran dan masygul ketika melihat bahwa hukum ternyata tidak seperti dipahami dan dibayangkan ketika di bangku kuliah. Mereka heran ketika melihat bahwa hukum tidak selalu dapat dilihat sebagai penjamin kepastian hukum, penegak hak-hak masyarakat, penjamin keadilan. Banyak sekali peraturan hukum yang tumpul, tidak mempan memotong kesewenang-wenangan, tidak mampu menegakkan keadilan dan tidak dapat menampilkan dirinya sebagai

pedoman yang harus diikuti dalam menyelesaikan berbagai kasus yang seharusnya bisa dijawab oleh hukum. Bahkan banyak produk hukum yang lebih banyak diwarnai oleh kepentingan-kepentingan politik pemegang kekuasaan dominan. Mereka bertanya : mengapa hal itu harus terjadi?

(9)

Menurut Mahfud MD

(lanjutan...)

bahwa hukum merupakan produk politik yang

memandang hukum sebagai formalisasi atau

kristalisasi dari kehendakkehendak politik yang

saling berinteraksi dan saling bersaingan.

Politik hukum merupakan bagian dari ilmu hukum.

Jika ilmu hukum diibaratkan sebagai sebuah pohon,

maka filsafat merupakan akarnya, sedangkan

politik merupakan pohonnya yang kemudian

melahirkan cabang-cabang berupa berbagai bidang

hukum seperti hukum pidana, hukum perdata,

(10)

Menurut Mahmud MD

(lanjutan...)

membedakan produk hukum dalam dua kategori, yaitu

Produk hukum responsif dan produk hukum konservatif.

Produk hukum responsif adalah produk hukum yang

mencerminkan rasa keadilan dan memenuhi harapan

masyarakat, yang dalam proses pembuatannya

memberikan peranan besar dan partisipasi penuh kepada

kelompok-kelompok sosial individu di dalam masyarakat.

Hasilnya akan bersifat responsif terhadap tuntutan-tuntutan

kelompok sosial atau individu dalam masyarakat.

Produk hukum konservatif adalah produk hukum yang isinya

lebih mencerminkan visi sosial elit politik, lebih

mencerminkan keinginan pemerintah, bersifat

(11)

Menurut Bagir Manan

politik hukum tidak terlepas dari

kebijaksanaan di bidang lain. Penyusunan

politik hukum harus diusahakan selalu

seiring dengan aspek-aspek

kebijaksanaan di bidang ekonomi, politik,

sosial dan sebagainya.

Bagir Manan membagi politik hukum

menjadi dua lingkup utama, yaitu (1)

(12)

Politik pembentukan

hukum

adalah kebijaksanaan yang bersangkutan

dengan penciptaan, pembaharuan dan

pengembangan hukum. Politik

pembentukan hukum mencakup;

Kebijaksanaan (pembentukan)

perundang-undangan;

Kebijaksanaan (pembentukan) hukum

yurisprudensi atau putusan hakim;

Kebijaksanaan terhadap peraturan tidak

(13)

Politik penegakkan

hukum

adalah kebijaksanaan yang bersangkutan dengan Kebijaksanaan di

bidang peradilan dan kebijaksanaan di bidang pelayanan hukum.

Antara dua aspek politik hukum tersebut, sekedar dibedakan tetapi

tidak dapat dipisahkan karena;

–Keberhasilan suatu peraturan perundang-undangan tergantung pada penerapannya. Apalagi penegakan hukum tidak dapat berfungsi dengan baik, peraturan perundang-undangan yang bagaimanapun sempurnanya tidak atau kurang memberikan arti sesuai dengan tujuannya.

–Putusan-putusan dalam rangka penegakkan hukum merupakan intrumen kontrol bagi ketepatan atau kekurangan suatu peraturan

perundang-undangan.

–Penegakan hukum merupakan dinamisator peraturan

perundangan-undangan melalui putusan dalam rangka penegakan hukum, peraturan perundang-undangan menjadi hidup dan diterapkan sesuai dengan

(14)

Pengertian Politik

Hukum

Samidjo  sebagai suatu

kebijakan

(policy)

dari

penguasa Republik Indonesia

mengenai hukum

yang berlaku di suatu negara.

Teuku Mohamad Radie  pernyataan kehendak penguasa negara

mengenai hukum yang berlaku diwilayahnya, dan mengenai arah kemana hukum hendak dikembangkan.

Padmo Wahyono  sebagai suatu kebijaksaan dasar yang menentukan arah, bentuk maupun isi dari hukum yang akan dibentuk.

F. Sugeng Sutanto bagian dari ilmu hukum yang membahas perubahan hukum yang berlaku (ius constitutum) menjadi hukum yang seharusnya (ius constituendum) untuk memenuhi perubahan kehidupan dalam masyarakat;

(15)

Pengertian

Satjipto Rahardjo . Politik Hukum adalah aktivitas untuk

menentukan suatu pilihan mengenai tujuan dan cara –

cara yang hendak dipakai untuk mencapai tujuan hukum

dalam masyarakat.

Padmo Wahjono. Politik Hukum adalah kebijaksanaan

penyelenggara Negara tentang apa yang dijadikan criteria

untuk menghukumkan sesuatu ( menjadikan sesuatu

sebagai Hukum ). Kebijaksanaan tersebut dapat berkaitan

dengan pembentukan hukum dan penerapannya.

L. J. Van Apeldorn. Politik hukum sebagai politik perundang

– undangan . Politik Hukum berarti menetapkan tujuan

(16)

Lanjutan,...

Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto. Politik

Hukum sebagai kegiatan-kegiatan memilih

nilai-nilai dan menerapkan nilai-nilai-nilai-nilai.

Moh. Mahfud MD. Politik Hukum ( dikaitkan di

Indonesia ) adalah sebagai berikut :

Bahwa definisi atau pengertian hukum juga bervariasi

namun dengan meyakini adanya persamaan substansif

antara berbagai pengertian yang ada atau tidak sesuai

dengan kebutuhan penciptaan hukum yang diperlukan.

Pelaksanaan ketentuan hukum yang telah ada ,

termasuk penegasan Bellefroid dalam bukunya

(17)

Ruang Lingkup Politik

Hukum

Politik hukum sebagai terjemahan

dari

rechtspolitiek

,

Politik hukum bukan sebagai

terjemahan dari

rechtspolitiek,

Politik hukum membahas

public

(18)

Objek Politik Hukum

• Dogmatika Hukum.  Memberikan penjelasan mengenai isi ( in houd ) hukum , makna ketentuan – ketentuan hukum , dan menyusunnya sesuai dengan asas – asas dalam suatu sistem hukum.

• Sejarah Hukum .  Mempelajari susunan hukum yang lama yang mempunyai pengaruh dan peranan terhadap pembentukan hukum sekarang. Sejarah Hukum mempunyai arti penting apabila kita ingin memperoleh pemahaman yang baik tentang hukum yang berlaku sekarang .

• Ilmu Perbandingan Hukum.  Mengadkan perbandingan hukum yang berlaku diberbagai negara , meneliti kesamaan, dan perbedaanya.

• Politik Hukum.  Politik Hukum bertugas untuk meneliti perubahan – perubahan mana yang perlu diadakan terhadap hukum yang ada agar memenuhi kebutuhan – kebutuhan baru didalam kehidupan masyarakat.

• Ilmu Hukum Umum.  Tidak mempelajari suatu tertib hukum tertentu , tetapi melihat hukum itu sebagai suatu hal sendiri, lepas dari kekhususan yang berkaitan dengan waktu dan tempat. Ilmu Hukum umum berusaha untuk

(19)

Berdasarkan atas posisi ilmu politik hukum dalam

dunia ilmu pengetahuan seperti yang telah diuraikan ,

maka objek ilmu politik hukum adalah “HUKUM “.

Hukum yang berlaku sekarang , yang berlaku diwaktu

yang lalu, maupun yang seharusnya berlaku diwaktu

yang akan datang.

 Yang dipakai untuk mendekati / mempelajari objek

politik hukum adalah praktis ilmiah bukan teoritis

ilmiah.

Penggolongan lap Hukum yang klasik/tradisional

(20)

Pembagian Hukum secara tradisional antara lain :

Hukum Nasional terbagi mejadi 6 bagian diantaranya :

Hukum Tata Negara

Hukum adminitrasi Negara

Hukum Perdata

Hukum Pidana

Hukum Acara Perdata

Hukum Acara Pidana

Hukum Nasional tradisional Mengandung “ Ide ”, “

asas ”, “ nilai “, sumber hukum ketika semua itu

(21)

Tujuan Politik Hukum

Adanya Politik Hukum menunjukkan eksistensi

hukum negara tertentu , bergitu pula sebaliknya,

eksistensi hukum menunjukkan eksistensi Politik

Hukum dari negara tertentu.

(22)

Ruang Lingkup (objek) Politik Hukum

Ruang Lingkup artinya

situasi/tempat/faktor “lain yang

berada di sekitar Politik Hukum yang

berlaku sekarang, Hukum yang

sudah berlaku dan Hukum yang akan

berlaku.

Obyek yang dipelajari dalam Politik

Hukum adalah Hukum-hukum yang

bagaimana itu bisa berbeda-beda

atau Hukum ini dihubung atau

(23)

POLITIK HUKUM dan ASAS-ASAS

HUKUM

Politik Hukum di negara manapun juga termasuk

di Indonesia tidak bisa lepas dari asas Hukum.

diantara asas”itu terhadap asas yang dijadikan

sumber tertib hukum bagi suatu negara.

Asas hukum yang dijadikan sumber tertib

Huykum/dasar Negara di sebut : GRUND NORM

Di Indonesia yang dijadikan dasar negara adalah

PANCASILA

Asas hukum yang dijadikan dasar negara ini

(24)

SIFAT POLITIK HUKUM

Politik Hukum yang bersifat tetap

(permanen)

Berkaitan dengan sikap hukum yang

akan selalu menjadi dasar

kebijaksanaan pembentukan dan

penegakkan hukum.

Politik Hukum yang bersifat

temporer.

Dimaksudkan sebagai kebijaksanaan

(25)

SISTEM HUKUM

NASIONAL

Hukum nasional suatu negara merupakan

gambaran dasar mengenai tatanan hukum nasional

yang dianggap sesuai dengan kondisi masyarakat

yang bersangkutan. Bagi Indonesia, tatanan hukum

nasional yang sesuai dengan masyarakat Indonesia

adalah yang berdasarkan Pancasila.

Sumber dasar Hukum Nasional  Adalah kesadaran

atau perasaan hukum masyarakat yang

menentukan isi suatu kaedah hukum. Dengan

demikian sumber dasar tatanan hukum Indonesia

adalah perasaan hukum masyarakat Indonesia

(26)

Lanjutan,...

Politik hukum yang dilakukan oleh

pemerintah berkaitan erat dengan

wawasan nasional bidang hukum

yakni cara pandang bangsa

Indonesia mengenai kebijaksanaan

politik yang harus ditempuh dalam

rangka pembinaan hukum di

Indonesia. Adapun arah

(27)

Politik Hukum Perundang-undangan :

Tertulis adalah Undang-undang yang bersifat

Permanen.

Tidak tertulis adalah Kebijakan Publik (bisa berubah

“setiap saat sesuai dengan kebutuhan dan keadaan”)

Sehingga keadaan dan kebutuhan yang

berubah-ubah inilah yang menyebabkan

pembicaraan Politik Hukum menjadi sangat

(28)

Demokrasi

Arti harafiah dari Demokrasi adalah pemerintah dari rakyat, arti

ini merupakan arti yang mendasar dan mungkin merupakan

defenisi yang umumnya secara luas dipakai perubahan besar

terjadi ketika kita membicarakan tentang demokrasi dalam

tingkat nasional dalam sekala negara modern yakni tindakan

dari pemerintah yang pada umumnya tidak dinyatakan

langsung oleh warga negaranya tetapi oleh perwakilan yang

dipilih secara bebas dan dengan dasar yang sama.

Demokrasi, sebagai tata cara “governance” tidaklah sempurna.

Kendati demikian, di antara ragam tata cara memerintah

lainnya, demokrasi kiranya yang paling terbuka dan bersedia

untuk dikritik. Publik memiliki kesempatan yang cukup besar

dalam mengkritisi kinerja pemerintah lewat mekanisme

(29)

Lanjutan,...

Jenis demokrasi;

Demokrasi secara Konstitusional

(constitutional)

Demokrasi secara Substantif

(substantive)

Demokrasi secara Prosedural

(procedural)

Demokrasi secara Orientasi Proses

(30)

Lanjutan,...

Substantif. Demokrasi secara substantif fokusnya pada

kondisi kehidupan dan politik yang dikembangkan suatu

rezim. Apakah rezim tersebut mempromosikan

kesejahteraan warganegara, kebebasan individual,

keamanan, kesetaraan, kesetaraan social, pilihan public,

atau resolusi konflik secara damai? Itu merupakan

pertanyaan yang diajukan kalangan yang mengartikan

demokrasi secara substansial.

Prosedural. Demokrasi secara Prosedural adalah perhatian

pada prosedur-prosedur pemerintahan yang dilakukan

pemerintah. Kajian ini utamanya terfokus pada aspek

Pemilihan Umum. Titik perhatiannya pada pemilihan

(31)

Cita negara hukum

Gagasan, cita, atau ide Negara Hukum, selain

terkait dengan konsep ‘

rechtsstaat’

dan ‘

the rule of

law’, juga berkaitan dengan konsep ‘nomocracy’

yang berasal dari

perkataan

‘nomos’ dan ‘cratos’.

Di zaman modern, konsep Negara Hukum di Eropah

Kontinental dikembangkan antara lain oleh

Immanuel Kant, Paul Laband, Julius Stahl, Fichte,

dan lain-lain dengan menggunakan istilah Jerman,

yaitu

“rechtsstaat’. Sedangkan dalam tradisi Anglo

(32)

Konfigurasi politik

(33)

Konfigurasi politik yang demokratis akan

menghasilkan produk hukum yang berkarakter

responsif atau otonom.

Politik yang otoriter akan menghasilkan produk

hukum yang berkarakter ortodoks atau

(34)

3 Indikator

Konsep konfigurasi politik demokratis

dan/atau konsep otoriter ditentukan

berdasarkan tiga indikator: (1) Sistem

kepartaian dan peranan lembaga

perwakilan rakyat atau parlemen, (2)

dominasi peranan eksekutif, dan (3)

kebebasan pers.

Sedangkan konsep hukum

responsif/otonom diidentifikasi

berdasarkan; (1) proses pembuatan

(35)

Konfigurasi politik demokratis

adalah

konfigurasi yang membuka ruang bagi partisipasi

masyarakat untuk terlibat secara maksimal

dalam menentukan kebijakan negara. Konfigurasi

politik demikian menempatkan pemerintah lebih

berperan sebagai organisasi yang harus

melaksanakan kehendak masyarakatnya, yang

dirumuskan secara demokratis.

Oleh karena itu badan perwakilan rakyat dan

partai politik berfungsi secara proporsional dan

lebih menentukan dalam pembuatan kebijakan

negara. Pers terlibat dalam menjalankan

fungsinya dengan bebas tanpa ancaman

(36)

Konfigurasi politik otoriter

adalah

Konfigurasi politik yang menempatkan

pemerintah pada posisi yang sangat dominan

dengan sifat yang intervensionis dalam

penentuan dan pelaksanaan kebijakan negara,

sehingga potensi dan aspirasi masyarakat tidak

teragregasi dan terartikulasi secara proporsional.

Bahkan, dengan peran pemerintah yang sangat

dominan, badan perwakilan rakyat dan partai

politik tidak berfungsi dengan baik dan lebih

merupakan alat untuk justifikasi (

rubber stamp

)

atas kehendak pemerintah, sedangkan pers tidak

memiliki kebebasan dan senantiasa berada di

(37)

Teori Hukum Responsif Phillip

Nonet dan Philip Selznick

Kontek lahirnya teori ini dilatarbelakangi dengan munculnya

masalahmasalah sosial seperti protes sosial, kemiskinan,

kejahatan, pencemaran lingkungan, kerusuhan kaum urban, dan

penyalahgunaan kekuasaan oleh pemerintah yang melanda

Amerika Serikat pada tahun 1950-an. Hukum yang ada dan

digunakan pada saat itu ternyata tidak cukup mengatasi keadaan

tersebut.

Padahal, hukum dituntut untuk bisa memecahkan dan

memberikan solusi atas persoalan-persoalan tersebut. Nonet dan

Selznick berpikir dan berupaya untuk menemukan jalan menuju

perubahan supaya hukum bisa mengatasi persoalan-persoalan itu.

Selama itu, hukum hanya dipahami sebagai aturan-aturan yang

bersifat kaku dan terlalu menekankan pada aspek the legal

system tanpa melihat kaitan antara ilmu hukum tersebut dengan

persoalan-persoalan yang harus ditangani, seperti dalam hal ini

adalah masalah-masalah sosial. Hukum identik dengan ketertiban

sebagai cermin pengaturan dari penguasa, di sisi lain ada juga

pemahaman mengenai hukum yang lebih menekankan pada

aspek legitimasi dari peraturan-peraturan itu sendiri. Padahal

semestinya teori hukum hendaknya tidak buta terhadap

(38)

Lanjutan,…

Memahami kenyataan itu, Nonet dan Selznick kemudian mencoba

memasukkan unsur-unsur dan pengaruh ilmu sosial ke dalam ilmu

hukum dengan menggunakan strategi ilmu sosial. Ada perspektif

ilmu sosial yang harus diperhatikan untuk bekerjanya hukum

secara keseluruhan sehingga hukum tidak hanya mengandung

unsur pemaksaan dan penindasan semata.

Pendekatan ilmu sosial memperlakukan pengalaman hukum

sebagai sesuatu yang berubah-ubah dan kontekstual, sesuai

dengan kondisi sosial masyarakat yang melingkupinya.

Nonet dan Selznick membedakan tiga klasifikasi dasar dari

hukum dalam masyarakat, yaitu: hukum sebagai pelayan

kekuasaan represif (hukum represif), hukum sebagai

(39)

Philipe Nonet dan Philip Selznick. (1978).

Law and Society in Transition Toward

(40)
(41)

Hukum responsif berorientasi pada hasil,

yaitu pada tujuan-tujuan yang akan

dicapai di luar hukum. Dalam hukum

responsif, tatanan hukum dinegosiasikan,

bukan dimenangkan melalui subordinasi

atau dipaksakan. Ciri khas hukum

responsif adalah mencari nilai-nilai tersirat

yang terdapat dalam peraturan dan

kebijakan.

Dalam model hukum responsif ini, mereka

(42)
(43)

Prinsip Pembangunan

Hukum

Pembangunan dan pengembangan budaya hukum diarahkan untuk

membentuk sikap dan perilaku anggota masyarakat termasuk para

penyelenggara negara sesuai dengan nilai dan norma Pancasila agar

budaya hukum lebih dihayati dalam kehidupan masyarakat, sehingga

kesadaran, ketaatan serta kepatuhan hukum makin meningkat dan

hak asasi manusia makin dihormati dan dijunjung tinggi.

Kesadaran untuk makin menghormati dan menjunjung tinggi hak

asasi manusia sebagai pengamalan Pancasila dan UUD 1945

diarahkan pada pencerahan harkat dan martabat manusia serta

untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan

kehidupan bangsa.

Pembangunan dan pengembangan budaya hukum ditujukan untuk

terciptanya ketentraman serta ketertiban dan tegaknya hukum yang

berintikan kejujuran, kebenaran dan keadilan untuk mewujudkan

(44)

Lanjutan,...

Konsep idealis mengenai “budaya hukum” dalam

GBHN 1998 itu di atas kertas cukup memberikan

janji dan pesan politik namun kelanjutannya, yang

seharusnya melalui pembuatan peraturan

Perundang-undangan (

law making)

dari

pelaksanaan aturan hukum itu (

law enforcement),

belum mampu

membuktikan konsistensi

penegakan hukum dalam arti hakiki, dan ini

terbukti dari produk-produk hukum terlebih-lebih

pada upaya penegakan hukum yang masih sangat

jauh dari idealisme pendekatan kultural melalui

(45)

Politik pembentukan hukum

Politik pembentukan hukum adalah

kebijaksanaan yang bersangkutan dengan

penciptaan, pembaharuan dan

pengembangan hukum. Politik pembentukan

hukum mencakup;

Kebijaksanaan (pembentukan)

perundang-undangan;

Kebijaksanaan (pembentukan) hukum

yurisprudensi atau putusan hakim;

Kebijaksanaan terhadap peraturan tidak tertulis

(46)

Politik penegakkan hukum

Pembentukan hukum dalam prinsip pembagian kekuasaan

(division

of powers principle)

merupakan fungsi

ketatanegaraan/pemerintahan yang dijalankan oleh badan

eksekutif, legislatif dan yudikatif untuk membentuk hukum, baik

hukum yang tertulis

(geschreven recht)

maupun hukum yang tidak

tertulis

(ongeschreven recht).

Dalam konsep pemisahan kekuasaan

(separation of powers)

, fungsi ini menjadi otoritas badan legislatif

saja, badan-badan kekuasaan lain tidak memiliki fungsi tersebut.

Sedangkan dalam konsep pembagian kekuasaan

(division of

powers),

fungsi ini dijalankan baik oleh badan legislatif, ekskutif

maupun yudikatif

Politik penegakkan hukum adalah kebijaksanaan yang

bersangkutan dengan;

– Kebijaksanaan di bidang peradilan;

(47)

Lanjutan,...

Keberhasilan suatu peraturan perundang-undangan tergantung

pada penerapannya. Apalagi penegakan hukum tidak dapat

berfungsi dengan baik, peraturan perundang-undangan yang

bagaimanapun sempurnanya tidak atau kurang memberikan arti

sesuai dengan tujuannya.

Putusan-putusan dalam rangka penegakkan hukum merupakan

intrumen kontrol bagi ketepatan atau kekurangan suatu

peraturan perundang-undangan.

Penegakan hukum merupakan dinamisator peraturan

perundangan-undangan melalui putusan dalam rangka

penegakan hukum, peraturan perundang-undangan menjadi

hidup dan diterapkan sesuai dengan kebutuhan dan

perkembangan masyarakat. Babak peraturan

(48)

Demokrasi

Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan politik yang kekuasaan pemerintahannya berasal dari rakyat, baik secara langsung (

demokrasi langsung) atau melalui perwakilan (demokrasi perwakilan).[1]

Istilah ini berasal dari bahasa Yunani (demokratía) "kekuasaan rakyat", yang dibentuk dari kata(demos) "rakyat" dan κράτος (Kratos) "kekuasaan",

merujuk pada sistem politik yang muncul pada pertengahan abad ke-5 dan ke-4 SM di negara kota Yunani Kuno, khususnya Athena, menyusul revolusi rakyat pada tahun 508 SM.

• Istilah demokrasi diperkenalkan pertama kali oleh Aristoteles sebagai suatu bentuk pemerintahan, yaitu pemerintahan yang menggariskan bahwa

kekuasaan berada di tangan orang banyak (rakyat).

• Abraham Lincoln dalam pidato Gettysburgnya mendefinisikan demokrasi sebagai "pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat“.

(49)

Prinsip demokrasi

Prinsip demokrasi dan prasyarat dari berdirinya negara demokrasi

telah terakomodasi dalam konstitusi Negara Kesatuan

Republik

Indonesia

.

Prinsip-prinsip demokrasi, dapat ditinjau dari pendapat

Almadudi

yang kemudian dikenal dengan "soko guru demokrasi".

Menurutnya, prinsip-prinsip demokrasi adalah:

–Kedaulatan rakyat;

–Pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah;

–Kekuasaan mayoritas;

–Hak-hak minoritas;

–Jaminan hak asasi manusia;

–Pemilihan yang bebas dan jujur;

–Persamaan di depan hukum;

–Proses hukum yang wajar;

–Pembatasan pemerintah secara konstitusional;

–Pluralisme sosial, ekonomi, dan politik;

(50)

Demokrasi langsung

Demokrasi langsung merupakan suatu bentuk demokrasi dimana setiap

rakyat memberikan suara atau pendapat dalam menentukan suatu keputusan.

Dalam sistem ini, setiap rakyat mewakili dirinya sendiri dalam memilih

suatu kebijakan sehingga mereka memiliki pengaruh langsung terhadap keadaan politik yang terjadi.

Sistem demokrasi langsung digunakan pada masa awal terbentuknya

demokrasi di Athena dimana ketika terdapat suatu permasalahan yang harus diselesaikan, seluruh rakyat berkumpul untuk membahasnya.

Di era modern sistem ini menjadi tidak praktis karena umumnya

populasi suatu negara cukup besar dan mengumpulkan seluruh rakyat dalam satu forum merupakan hal yang sulit.

Selain itu, sistem ini menuntut partisipasi yang tinggi dari rakyat

(51)

Ciri-ciri pemerintahan

demokratis

• Dalam perkembangannya, demokrasi menjadi suatu tatanan yang diterima dan dipakai oleh hampir seluruh negara di dunia.

• Ciri-ciri suatu pemerintahan demokrasi adalah sebagai berikut:

– Adanya keterlibatan warga negara (rakyat) dalam pengambilan keputusan politik, baik langsung maupun tidak langsung (perwakilan).

– Adanya pengakuan, penghargaan, dan perlindungan terhadap hak-hak asasi rakyat (warga negara).

– Adanya persamaan hak bagi seluruh warga negara dalam segala bidang.

– Adanya lembaga peradilan dan kekuasaan kehakiman yang independen sebagai alat penegakan hukum

– Adanya kebebasan dan kemerdekaan bagi seluruh warga negara.

– Adanya pers (media massa) yang bebas untuk menyampaikan informasi dan mengontrol perilaku dan kebijakan pemerintah.

– Adanya pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat yang duduk di lembaga perwakilan rakyat.

– Adanya pemilihan umum yang bebas, jujur, adil untuk menentukan (memilih) pemimpin negara dan pemerintahan serta anggota lembaga perwakilan rakyat.

Referensi

Dokumen terkait

Sejak tahun 2005 Kepala Daerah dipilih secara langsung oleh rakyat hal ini merupakan perwujudan dari sebuah demokrasi di daerah dimana calon Kepala Daerah diusung oleh partai

kewarganegaraan ganda dalam arti luas (banyak kewarganegaraan/ mulitiple citizenship ), namun pengakuan kewarganegaraan ganda tersebut hanya dimungkinkan bagi warga negara

Seperti apa yang telah diuraikan di atas, bahwa Hukum Administrasi Negara merupakan si Negara merupakan bagian dari Hukum Tata Negara dalam arti luas, maka di antara pab. bagian

Menurut Georgi Dimitrov , seorang tokoh yang pernah menjabat sebagai perdana menteri Bulgaria, demokrasi rakyat merupakan: “Arah dalam masa transisi yang bertugas untuk

Padahal opossisi itu merupakan posisi yang diberikan demokrasi sebagai penyeimbang kekuassaan negara agar tidak otoriter.6 Diantara cendikiawan muslim kontra demokrasi syang

Pertama,aparatur demokrasi yang tertinggi di Indonesia adalah Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) .MPR yang selanjutnya disebut Majelis merupakan penjelemaan

Pada umumnya pelaku tindak pidana berusaha menyembunyikan atau menyamarkan asal usul Harta Kekayaan yang merupakan hasil dari tindak pidana dengan berbagai cara

Pemilihan Kepala Daerah merupakan salah satu bagian dari demokrasi dan merupakan lokomotif untuk menjalankan amanat reformasi dimana kekuasaan rakyat sampai pada