BUDAYA NUSANTARA
KEBUDAYAAN JAWA
Disusun oleh :
Ainul Fuadi 02/3B
Cory Denies Kartika 08/3B
Fransiscus Asisi Edo HS 14/3B
Irvan Widi Santoso 15/3B
Laila Sahajah 18/3B
DIPLOMA III PENILAI / PBB
SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA
2007
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI...i
PENDAHULUAN...1
PEMBAHASAN ...2
A. IDENTIFIKASI...2
B. MITOLOGI KEBUDAYAAN JAWA...4
C. BAHASA DAN AKSARA JAWA...7
C.1. Bahasa Jawa...7 C.2. Aksara Jawa...14 D. MATA PENCAHARIAN...22 E. SISTEM KEMASYARAKATAN...26 F. SISTEM KEKERABATAN...28 G. RELIGI ...43 H. PRODUK BUDAYA...63 H.1. Seni Tari...63 H.2. Seni Musik...80 H.3. Kalender Jawa...89 H.4. Rumah Adat...95 H.5. Karya Sastra...102 H.6. Wayang...108 H.7. Pakaian Adat...115 H.8. Keris...125 H.9. Makanan Khas...133
H.10. Ketoprak dan Ludruk...138
H.11. Reog...139
H.12. Kidung/Puisi...140
H.13. Lagu Adat Jawa...141
I. SUB SUKU JAWA...154
I. 1. Suku Osing...154
I. 2. Suku Tengger...156
J. UNGKAPAN-UNGKAPAN JAWA...157
K. PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI...159
PENUTUP...161 DAFTAR PUSTAKA
BAB I PENDAHULUAN
Masyarakat Jawa merupakan “ladang” potensial yang masih memendam segudang informasi budaya untuk dapat digali seiring dengan perkembangan waktu. Harus diakui bahwa usaha untuk mengungkap alam pikiran, pandangan, dan kehidupan orang Jawa tidak akan pernah tuntas dan bahkan diperlukan cara-cara baru dalam mengungkap “misteri” kebudayaan Jawa tersebut. Magnis-Suseno (1984:1), mengatakan bahwa kebudayaan Jawa mempunyai ciri khas yaitu terletak dalam kemampuan luar biasa untuk membiarkan diri dibanjiri oleh gelombang-gelombang kebudayaan yang datang dari luar dan dalam banjir tersebut dapat mempertahankan keasliannya. Lebih lanjut dikatakan bahwa kebudayaan Jawa justru tidak menemukan diri dan berkembang kekhasannya dalam isolasi, melainkan dalam mencerna masukan-masukan budaya dari luar. Hal tersebut menjadikan kebudayaan Jawa kaya akan unsur-unsur budaya yang kemudian menyatu dan kemudian menjadi milik kebudayaan Jawa seperti sekarang ini, di mana berbagai macam persilangan budaya justru telah memberikan warna terhadap kedinamisan budaya Jawa.
Walaupun terpaan ideologi modern cukup kuat, namun manusia Jawa yang hidup dalam bayang-bayang Kasultanan Yogyakarta dan Surakarta masih tetap menyimpan dan memegang teguh pandangan budayanya misalnya tentang keberadaan makhluk supranatural, mitos, adat istiadat dan lain-lain. Tentunya pandangan-pandangan tersebut mengandung suatu makna yang dalam dan mempunyai keeratan hubungan dengan konsepsi manusia Jawa tentang dunia. Peta kognitif ini merupakan dokumen dan khazanah pengetahuan penting dalam usaha memahami budaya Jawa saat ini, apabila budaya dipandang sebagai sesuatu yang secara internal heterogen dan muncul dari peristiwa-peristiwa yang paling mendasarinya.
BAB II PEMBAHASAN A. IDENTIFIKASI
Daerah kebudayaan Jawa sangatlah luas meliputi seluruh bagian tengah dan timur pulau Jawa. Ada daerah yang disebut daerah Kejawen yaitu Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Malang dan Kediri. Daerah di luar yang tersebut di atas disebut daerah Pesisir dan Ujung Timur. Sehubungan dengan itu, maka dalam rangka seluruh kebudayan Jawa ini, dua daerah luas bekas kerajaan Mataram sebelum terpecah yakni Yogyakarta dan Surakarta merupakan pusat kebudayaan Jawa. Sudah barang tentu terdapat berbagai variasi dan perbedaan yang bersifat lokal dalam beberapa unsur kebudayaannya di daerah yang tercakup dalam kebudayaan Jawa. Namun, variasi dan perbedaan tersebut tidaklah besar karena apabila diteliti, hal-hal itu masih menunjukkan satu pola ataupun satu sistim kebudayaan Jawa.
Sama halnya dengan daerah Kejawen lainnya, di dalam wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta sebelah selatan terdapat kelompok-kelompok masyarakat orang Jawa yang masih mengikuti atau mendukung kebudayaan Jawa ini. Pada umumnya, mereka itu membentuk kesatuan-kesatuan hidup yang menetap di desa-desa.
Penduduk
Suku bangsa Jawa, adalah suku bangsa terbesar di Indonesia. Jumlahnya mungkin ada sekitar 90 juta data pada tahun 2004. Mereka berasal dari pulau Jawa dan terutama ditemukan di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tetapi di provinsi Jawa Barat, Banten dan tentu saja Jakarta mereka banyak ditemukan. Selain suku Jawa baku terdapat subsuku Osing dan Tengger.
Orang Jawa memiliki stereotipe sebagai suku bangsa yang sopan dan halus.Tetapi mereka juga terkenal sebagai suku bangsa yang tertutup dan tidak mau terus terang. Sifat ini konon berdasarkan watak orang Jawa yang ingin menjaga harmoni atau keserasian dan menghindari konflik, karena itulah mereka cenderung untuk diam dan tidak membantah apabila terjadi perbedaan pendapat.
Orang Jawa sebagian besar secara nominal menganut agama Islam. Tetapi yang menganut agama Kristen; Protestan dan Katholik juga banyak. Mereka juga terdapat di daerah pedesaan. Penganut agama Buddha dan Hindu juga ditemukan pula di antara masyarakat Jawa. Ada pula agama kepercayaan suku Jawa yang disebut sebagai agama Kejawen. Kepercayaan ini terutama berdasarkan kepercayaan animisme dengan pengaruh Hindu-Buddha yang kuat. Masyarakat Jawa terkenal akan sifat sinkretisme kepercayaannya. Semua budaya luar diserap dan ditafsirkan menurut nilai-nilai Jawa sehingga kepercayaan seseorang kadangkala menjadi kabur.
Di dalam pergaulan hidup maupun perhubungan-perhubungan sosial sehari-hari mereka berbahasa Jawa. Pada waktu mengucapkan bahasa daerah ini, seseorang harus memperhatikan dan membeda-bedakan keadaan orang yang diajak berbicara atau yang sedang dibicarakan, berdasarkan usia ataupun status sosialnya. Demikian pada prinsipnya ada dua macam bahasa Jawa apabila ditinjau dari kriteria tingkatannya yaitu bahasa Jawa Ngoko dan Jawa Krama. Bahasa Jawa Ngoko dipakai untuk orang yang sudah dikenal akrab, dan terhadap orang yang lebih muda usianya serta lebih rendah tingkatannya atau status sosialnya. Bahasa Jawa Krama digunakan untuk berbicara dengan orang yang belum dikenal tetapi yang sebaya dalam umur dan derajat, juga terhadap orang yang umurnya lebih tua atau status sosialnya lebih tinggi.
Bentuk Desa
Desa sebagai tempat kediaman yang tetap pada masyarakat orang Jawa, di daerah pedalaman, adalah suatu wilayah hukum yang sekaligus menjadi pusat pemerintahan tingkat daerah paling rendah. Secara adminstratif desa langsung berada di bawah kekuasaan pemerintah kecamatan dan terdiri dari dukuh-dukuh. Tiap-tiap wilayah bagian desa ini diketuai oleh seorang Kepala Dukuh. Di sini dijumpai sejumlah perumahan penduduk beserta tanah-tanah pekarangannya, yang satu sama lain dipisah-pisahkan dengan pagar-pagar bambu atau tumbuh-tumbuhan. Ada di antara rumah-rumah itu yang dilengkapi dengan lumbung padi, kandang-kandang ternak dan perigi, yang dibangun di dekat-dekat rumah atau di halaman pekarangannya. Kemudian sebuah dukuh dengan dukuh lainnya, dihubungkan oleh jalan-jalan desa, yang luasnya sering tidak lebih dari 2 meter. Selain rumah-rumah tersebut yang tampak berkelompok, dan yang sebagian berjajar menghadap jalan desa itu, ada juga Balai Desa, tempat pemerintahan desa
berkumpul, atau mengadakan rapat-rapat desa, yang diadakan tiap-tiap 35 hari sekali. Untuk menampung kegiatan-kegiatan pendidikan keagamaan, dan sosial ekonomi rakyat, biasanya ada sekolah-sekolah, langgar atau masjid. Kecuali itu ada pasar yang kelihatan ramai pada hari pasaran. Adapun kuburan desa berada di lingkungan wilayah salah satu sebuah dukuh, sedangkan tanah pertanian berupa sawah-sawah atau ladang-ladang terbentang di sekeliling desa.
B. MITOLOGI KEBUDAYAAN JAWA MITOLOGI KANGJENG RATU KIDUL Pemahaman Tentang Mitos
Masyarakat Jawa merupakan ladang potensial yang masih memendam segudang informasi budaya untuk dapat digali seiring dengan perkembangan waktu. Harus diakui bahwa usaha untuk mengungkapkan alam pikiran, pandangan, dan kehidupan orang Jawa tidak akan pernah tuntas dan bahkan masih diperlukan cara-cara baru dalam mengungkap misteri kebudayaan Jawa tersebut. Magnis-Suseno (1984:1), mengatakan bahwa kebudayaan Jawa mempunyai ciri khasaitu terletak dalam kemampuan luar biasa untuk membiarkan diri dibanjiri oleh gelombang-gelombang kebudayaan yang datang dari luar dan dalam banjir tersebut dapat mempertahankan keasliannya. Lebih lanjut dikatakan bahwa kebudayaan Jawa justru tidak menemukan diri dan berkembang kekhasannya dalam isolasi, melainkan dalam mencerna masukan-masukan budaya dari luar. Hal tersebut menjadikan kebudayaan Jawa kaya akan unsur-unsur budaya yang kemudian menyatu dan menjadi milik kebudayaan Jawa sekarang ini di mana berbagai macam persilangan budaya justru telah memberikan warna terhadap kedinamisan budaya Jawa.
Pandangan manusia Jawa terhadap dunia mengisyaratkan bahwa baik dunia yang secara fisik kelihatan maupun dunia yang tidak kelihatan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Hubungan manusia dengan makhluk alam nyata dengan makhluk supranatural tidak dibedakan. Manusia yang hidup di dunia ini tidak hanya menjalin komunikasi dengan sesama saja melainkan dengan makhluk supranatural. Dengan demikian tidak mengherankan apabila dalam masyarakat Jawa terdapat perilaku-perilaku yang menandai hubungan antara manusia dan makhluk supranatural. Jong (1985:10) menekankan bahwa di alam pikiran mistik dan
mitos dapat tercermin suatu sikap hidup. Selain itu, mistik merupakan salah satu bentuk, bahkan isi dasar Javanisme.
Menurut William R. Bascom, prosa rakyat dapat dibagi dalam tiga golongan besar yaitu mite (myte), legenda (legend), dan dongeng (folktale). Di dalam masyarakat Jawa ada mitologi religius yang hampir diterima secara universal, yang menyebabkan ketaatan emosional dan intelektual yang mendalam, yaitu mitologi wayang. Sebenarnya masih banyak mitologi lainnya yang hidup dalam alam pikiran orang Jawa misalnya mitologi Kanjeng Ratu Kidul, penguasa gunung, penguasa hutan dan lain-lain. Menurut Mircea Eliade (dalam Susanto, 1987:91), mitos berarti suatu cerita yang benar dan cerita ini menjadi milik mereka yang paling berharga, karena memiliki sesuatu yang suci, bermakna, menjadi contoh model bagi tindakan manusia, memberikan makna dan nilai pada kehidupan ini. Sedangkan Levi-Strauss (1963:209), mengatakan bahwa mite adalah bahasa untuk diketahui. Mitos sebenarnya mempunyai arti secara tersirat yang perlu diketahui, yaitu merupakan model hubungan manusia dengan alam supranatural. Pada kesempatan ini, kami akan berfokus pada mitologi Kanjeng Ratu Kidul.
Menurut Choy (1976:13), Kanjeng Ratu Kidul tidak hanya merupakan legenda; untuk sebagian orang Jawa ia benar-benar ada. Tetapi karena keberadan alam supranatural yang dipahami orang Jawa sampai taraf tertentu tidak dapat diterangkan maka praktik-praktik keagamaan yang mengarah pada penghormatan penguasa dunia supranatural justru menjadi pintu masuk dalam memahami alam pikiran orang Jawa tersebut.
Ratu Kidul dalam Mitos
Di kalangan masyarakat Jawa, sebenarnya terdapat banyak cerita tentang Kanjeng Ratu Kidul. Salah satu cerita dalam Babad Tanah Jawi mengisahkan bahwa waktu kerajaan Pajajaran di bawah kekuasaan Prabu Mundingsari, ia mempunyai seorang putri bernama Ratna Suwidi. Putri tersebut mempunyai kebiasaan bertapa dengan meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi. Banyak sekali raja dan pangeran yang melamarnya, tetapi tidak satupun yang diterima karena ia lebih mementingkan segi kerohanian. Penolakan-penolakan itu membuat Sang Prabu marah dan prihatin terhadap putrinya. Akibatnya, ia mengusir putrinya sendiri dari kerajaan. Kemudian Ratna Suwidi mengembara seorang diri, naik turun gunung dan menembus lebatnya hutan menuju ke arah timur. Tujuannya adalah mencari tempat
yang cocok untuk bertapa. Akhirnya, ia menemukan puncak Gunung Kombang yang dirasa cocok untuk bertapa. Di puncak gunung itu ada sebatang cemara. Dengan kesaktiannya, ia mengubah diri menjadi lelaki. Pohon cemara yang berada di puncak gunung tersebut diabadikan menjadi nama samarannya yaitu Hajar Cemara Tunggal. Sang pertapa ini kemudian terkenal dengan kesaktiannya.
Pada suatu hari, Hajar Cemara Tungal didatangi dewa dan ditanya tentang keinginannya bertapa terus menerus. Ratna Suwidi menJawab bahwa ia ingin sekali tidak bisa meninggal dunia dan bisa hidup sepanjang zaman. Kemudian dewa berkata bahwa manusia tidak dapat hidup sepanjang zaman, tetapi keinginan Ratna Suwidi itu dapat terkabulkan apabila ia bersedia menjadi makhluk halus. Dengan menyetujui saran dewa tersebut, maka Ratna Suwidi kemudian berubah menjadi makhluk halus yang membawahi semua makhlus di seluruh tanah Jawa.
Dikisahkan pula waktu Hajar Cemara Tunggal masih berada di puncak Gunung Kombang, ia didatangi Raden Sesuruh, seorang putra mahkota kerajaan Pajajaran yang melarikan diri bersama pengikutnya karena terjadi perebutan kekuasan. Hajar Cemara Tunggal tahu maksud dan tujuan Raden Sesuruh yang datang menemuinya. Sang Hajar kemudian memberi petunjuk kepada Raden Sesuruh supaya berjalan terus ke arah timur. Apabila nanti di suatu tempat menemukan batang pohon Kemaja berbuah hanya satu dan rasanya pahit, maka tempat itulah yang dapat digunakan oleh Raden Sesuruh untuk memegang kekuasaan dan menurunkan raja di tanah Jawa. Dari tempat itulah Raden Sesuruh dapat membalas sakit hati atas perlakuan raja Pajajaran.
Hajar Cemara Tunggal kemudian menceritakan kisah pelariannya dan siapa sebenarnya dirinya. Berdasarkan garis keturunan, sebenarnya Hajar Cemara Tunggal adalah adik perempuan dari kakek Raden Sesuruh. Tetapi di tengah-tengah cerita tiba-tiba Sang Hajar berubah wujudnya, ia berubah menjadi putri cantik Ratna Suwidi. Berkat kesaktiannya, ia dapat mancala putra-mancala putri. Raden Sesuruh terpesona dan jatuh cinta kepada putri cantik yang ada di depannya tersebut kemudian ia mendekati dan merayunya. Seketika itu juga putri itu menghilang dari pandangan mata Raden Sesuruh dan menjelma menjadi Hajar Cemara Tunggal lagi. Dengan rasa malu, Raden Sesuruh segera bersujud di kaki Sang Hajar meminta maaf.
Sang Hajar melanjutkan ceritanya dengan nada menghibur, bahwa kelak apabila Raden Sesuruh telah dinobatkan sebagai raja Majapahit, mereka akan
bertemu kembali. Kelak setelah Raden Sesuruh memegang kekuasaan dan membawahi seluruh tanah Jawa, Hajar Cemara Tunggal tidak lagi bertapa di Gunung Kombang, melainkan pindah ke samudera pasir. Selama bertahta di samudera pasir atau Laut Selatan Jawa, ia akan berubah wujud seperti semula yaitu sebagai putri yang cantik jelita dengan sebutan Kanjeng Ratu Kidul. Pesan terakhir Sang Hajar kepada Raden Sesuruh adalah apabila Raden Sesuruh beserta keturunannya yang menjadi raja tanah Jawa menemui halangan, sebaiknya memanggil Sang Hajar. Dengan sekejap, Sang Hajar pasti akan datang bersama makhluk halus bawahannya. Selain itu, kelak akan ada keturunan Raden Sesuruh yang menjadi raja Jawa akan dapat mengawini Kanjeng Ratu Kidul
Peran Mitologi Kanjeng Ratu Kidul
Dalam modelnya, Leach (1981:82) menjelasan bahwa aktivitas-aktivitas ritual merupakan jembatan antara dunia yang tampak dengan dunia datan kasat mata. Praktik-praktik keagamaan seperti penyelenggaraan Tari Bedaya Lambang Sari dan Tari Bedaya Semang merupakan usaha dari para penguasa Mataram untuk berhubungan dengan alam supranatural.
Pada prinsipnya, mitologi Kanjeng Ratu Kidul digunakan oleh penguasa Kasultanan Yogyakarta sebagai kerangka acuan dalam menjalankan pemerintahan. Selain itu juga digunakan untuk menjamin keselamatan dan ketentraman hidup serta digunakan sebagai pengantara manusia dengan alam supranatural.
C. BAHASA DAN AKSARA JAWA C.1 Bahasa Jawa
Bahasa Jawa adalah bahasa pertuturan yang digunakan penduduk suku bangsa Jawa terutama di beberapa bagian Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah & Jawa Timur di Indonesia. Bahasa Jawa terbagi menjadi dua yaitu Ngoko dan Kromo. Ngoko sendiri dalam perkembangannya secara tidak langsung terbagi-bagi lagi menjadi ngoko kasar dan ngoko halus ( campuran ngoko dan kromo ). Selanjutnya Krama itu terbagi lagi menjadi Krama, Krama Madya, Krama Inggil ( Krama Halus ). Krama Madya inipun agak berbeda antara Krama yang dipergunakan dikota / Sala dengan Krama yang dipergunakan di pinggiran / desa. Sedangkan Krama Haluspun berbeda antara Krama Halus/Inggil yang dipergunakan oleh kalangan Kraton dengan kalangan rakyat biasa.
Bahasa Jawa dianggarkan digunakan sekitar dua per tiga penduduk pulau Jawa. Bahasa Jawa ini memiliki aksara-nya sendiri, yang dikembangkan dari huruf Pallava, dan juga huruf Pegon yang diubah sesuai dari huruf Arab.
Bahasa Jawa pada dasarnya terbagi atas dua klasifikasi dialek, yakni : • Dialek daerah, dan
• Dialek sosial
Karena bahasa ini terbentuk dari gradasi-gradasi yang sangat berbeda dengan Bahasa Indonesia maupun Melayu, meskipun tergolong rumpun Austronesia. Sedangkan dialek daerah ini didasarkan pada wilayah, karakter dan budaya setempat. Perbedaan antara dialek satu dengan dialek lainnya bisa antara 0-70%. Untuk klasifikasi berdasarkan dialek daerah, pengelompokannya mengacu kepada pendapat E.M. Uhlenbeck, 1964, di dalam bukunya : "A Critical Survey of Studies on the Languages of Java and Madura", The Hague: Martinus Nijhoff.
Kelompok Bahasa Jawa Bagian Barat : 1. Dialek Banten
2. Dialek Indramayu-Cirebon 3. Dialek Tegal
4. Dialek Banyumasan
5. Dialek Bumiayu (peralihan Tegal dan Banyumas)
Kelompok pertama di atas sering disebut bahasa Jawa ngapak-ngapak. Kelompok Bahasa Jawa Bagian Tengah :
1. Dialek Pekalongan 2. Dialek Kedu
3. Dialek Bagelen
4. Dialek Semarang
5. Dialek Pantai Utara Timur (Jepara, Rembang, Demak, Kudus, Pati) 6. Dialek Blora
7. Dialek Surakarta 8. Dialek Yogyakarta 9. Dialek Madiun
Kelompok kedua di atas sering disebut Bahasa Jawa Standar, khususnya dialek Surakarta dan Yogyakarta.
Kelompok Bahasa Jawa Bagian Timur :
1. Dialek Pantura Jawa Timur (Tuban, Bojonegoro) 2. Dialek Surabaya
3. Dialek Malang
4. Dialek Jombang
5. Dialek Tengger
6. Dialek Banyuwangi (atau disebut Bahasa Osing)
Kelompok ketiga di atas sering disebut Bahasa Jawa Timuran. Dialek sosial dalam Bahasa Jawa berbentuk sebagai berikut :
1. Ngoko 2. Ngoko Andhap 3. Madhya 4. Madhyantara 5. Kromo 6. Kromo Inggil
Kromo Inggil adalah suatu tingkatan kehalusan bahasa Jawa tutur. Dipakai oleh penutur untuk berkomunikasi dengan lawan bicara yang:
a. dianggap jelas lebih tua, seperti ayah, ibu, kakek. b. dihormati.
c. dianggap memiliki kedudukan/kekuasaan/pendidikan lebih tinggi, seperti majikan, Pak Guru, Pak Lurah.
7. Bagongan
8. Kedhaton
Kedua logat terakhir digunakan di kalangan keluarga Kraton dan sulit dipahami oleh orang Jawa kebanyakan.
* Bahasa Indonesia: “Maaf, saya mau tanya rumah kak Budi itu, di mana?” 1. Ngoko kasar: “Eh, aku arep takon, omahé Budi kuwi, nèng*ndi?’
2. Ngoko alus: “Aku nyuwun pirsa, dalemé mas Budi kuwi, nèng endi?”
3. Ngoko meninggikan diri sendiri: “Aku kersa ndangu, omahé mas Budi kuwi, nèng ndi?”
4. Madya: “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, griyané mas Budi niku, teng pundi?”
5. Madya alus: “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, dalemé mas Budi niku, teng pundi?”
6. Krama andhap: “Nuwun sèwu, dalem badhé nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?”
7. Krama: “Nuwun sewu, kula badhé takèn, griyanipun mas Budi punika, wonten pundi?”
8. Krama inggil: “Nuwun sewu, kula badhe nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?”
Beberapa jenis dialeg Jawa :
♦ Dialeg Surabaya atau lebih sering dikenal sebagai bahasa Suroboyoan adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Surabaya dan sekitarnya. Dialek ini berkembang dan digunakan oleh sebagian masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Secara struktural bahasa, bahasa Suroboyoan dapat dikatakan sebagai bahasa paling kasar. Meskipun demikian, bahasa dengan tingkatan yang lebih halus masih dipakai oleh beberapa orang Surabaya, sebagai bentuk penghormatan atas orang lain.
Pada umumnya menganggap dialek suroboyoan adalah yang terkasar tapi sebenarnya itu menunjukkan sikap tegas, lugas, dan terus terang. Sikap basa basi yang diagung-agungkan wong Jawa, tidak berlaku di kehidupan arek suroboyo. misalnya dalam berbicara, wong Jawa menekankan tidak boleh memandang mata lawan bicara yang lebih tua atau yang dituakan atau pemimpin, karena dianggap tidak sopan. Tapi dalam budaya arek suroboyo, itu tanda bahwa orang tersebut sejatinya pengecut, karena tidak berani memandang mata lawan bicara
♦ Dialek Semarang adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Semarang. Dialek ini tak banyak berbeda dengan dialek di daerah Jawa lainnya. Semarang termasuk daerah pesisir Jawa bagian utara, maka tak beda dengan daerah lainnya, Yogyakarta, Solo, Boyolali dan Salatiga. Walau letak daerah Semarang yang heterogan dari pesisir
(Pekalongan/Weleri, Kudus/Demak/Purwodadi) dan dari daerah bagian selatan/pegunungan membuat dialek yang dipakai memiliki kata ngoko, ngoko andhap dan madya di Semarang ada di zaman sekarang. Para pemakai dialek Semarang juga senang menyingkat frase, misalnya Lampu abang ijo (lampu lalu lintas) menjadi "Bang-Jo", Limang rupiah (5 rupiah) menjadi "mang-pi", kebun binatang menjadi "Bon-bin", seratus (100) menjadi "nyatus", dan sebagainya. Namun tak semua frasa bisa disingkat, sebab tergantung kepada kesepakatan dan minat para penduduk Semarang mengenai frasa mana yang disingkat. Jadi contohnya "Taman lele" tak bisa disingkat "Tam-lel" juga Gedung Batu tak bisa menjadi "Ge-bat", dsb.
♦ Dialek Banyumasan atau sering disebut Bahasa Ngapak Ngapak adalah kelompok bahasa Jawa yang dipergunakan di wilayah barat Jawa Tengah, Indonesia. Beberapa kosakata dan dialeknya juga dipergunakan di Banten utara serta daerah Cirebon-Indramayu. Logat bahasanya agak berbeda dibanding dialek bahasa Jawa lainnya. Hal ini disebabkan bahasa Banyumasan masih berhubungan erat dengan bahasa Jawa Kuna (Kawi). Dibandingkan dengan bahasa Jawa dialek Yogyakarta dan Surakarta, dialek Banyumasan banyak sekali bedanya. Perbedaan yang utama yakni akhiran 'a' tetap diucapkan 'a' bukan 'o'. Jadi jika di Solo orang makan 'sego' (nasi), di wilayah Banyumasan orang makan 'sega'. Selain itu, kata-kata yang berakhiran huruf mati dibaca penuh, misalnya kata enak oleh dialek lain bunyinya ena, sedangkan dalam dialek Banyumasan dibaca enak dengan suara huruf 'k' yang jelas, itulah sebabnya bahasa Banyumasan dikenal dengan bahasa Ngapak atau Ngapak-ngapak.
Sebagian besar kosakata asli dari bahasa ini tidak memiliki kesamaan dengan bahasa Jawa standar (Surakarta/Yogyakarta) baik secara morfologi maupun fonetik.
Banten
Utara Cirebonan Banyumasan & Tegalan Jawa Standar Indonesia
sire sira/rika sira/rika kowe kamu
pisan pisan Pisan banget sangat
keprimen kepriben keprimen/kepriben/kepriwe piye/kepriye/kepripun bagaimana
♦ Dialek Kedu
Dialek Kedu adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di daerah Kedu, tersebar di timur Kebumen: Prembun, Purworejo, Magelang dan khususnya Temanggung.
Dialek ini terkenal dengan cara bicaranya yang khas, sebab merupakan pertemuan antara dialek "bandek" (Yogya-Solo) dan dialek "ngapak" (Banyumas). Contoh: Kata-katanya masih menggunakan dialek ngapak dalam tuturannya agak bandek:
"Nyong": aku, tetapi orang Magelang memakai "aku" orang Temanggung yang di kotanya juga menggunakan "aku" di Parakan juga sebagian kecil menggunakan "aku"
"njagong": duduk (bahasa Jawa standar: lungguh)
"Trus Priben": Lalu bagaimana (bahasa Jawa standar: "banjur piye" atau "terus piye")
"gandhul": pepaya ♦ Dialek Tegal
Tegal termasuk daerah Jawa Tengah di dekat perbatasan bagian barat. Letak Tegal yang ada di pesisir Jawa bagian utara, juga di daerah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat, menjadikan dialek yang ada di Tegal beda dengan daerah lainnya. Pengucapan kata dan kalimat agak kental. Dialek Tegal merupakan salah satu kekayaan bahasa Jawa, selain Banyumas. Meskipun memiliki kosa kata yang relatif sama dengan bahasa Banyumas, pengguna dialek Tegal tidak serta-merta mau disebut ngapak karena beberapa alasan antara lain: perbedaan intonasi, pengucapan, dan makna kata.
Selain pada intonasinya, dialek Tegal memiliki ciri khas pada pengucapan setiap frasanya, yakni apa yang terucap sama dengan yang tertulis. Untuk lebih jelas, mari kita amati beberapa contoh dan tabel berikut ini:
Dialek Tegal Bahasa Jawa Standar
padha Podho
saka Soko
sega Sego
apa Opo
tuwa Tuwo
Salah satu persoalan yang selalu dihadapi oleh para siswa sekolah (SD sampai SMA) adalah dalam hal mata pelajaran bahasa daerah (Jawa). Kurikulum yang mereka terima seolah-olah merupakan 'paksaan' agar menggunakan menggunakan dialek Jawa Tengah dan Yogyakarta yang bukan merupakan bahasa ibu mereka.
Bilangan dalam bahasa Jawa
Bila dibandingkan dengan bahasa Melayu atau Indonesia, bahasa Jawa memiliki system bilangan yang agak rumit.
Bahasa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Jawa Kuna sa rwa telu pat lima nem pitu wwalu sanga sapuluh
Kawi eka dwi tri catur panca sad sapta as.t.a nawa dasa
Krama setunggal kalih tiga sekawan gangsal nem pitu wolu sanga sedasa
Ngoko siji loro telu papat lima nem pitu wolu sanga sepuluh
Fraksi
• 1/2 setengah, separo, sepalih (Krama)
• 1/4 saprapat, seprasekawan (Krama)
• 3/4 telung prapat, tigang prasekawan (Krama) • 1,5 karo tengah, kalih tengah (Krama)
C.2 Aksara Jawa
Hanacaraka atau dikenal dengan nama caraka adalah abjad / alat tulis yang digunakan oleh suku Jawa (juga Madura, Sunda, Bali, Palembang, dan Sasak). Aksara Jawa bila diamati lebih lanjut memiliki sifat silabik (kesuku-kataan). Hal ini
bisa dilihat dengan struktur masing-masing huruf yang paling tidak mewakili 2 buah huruf (aksara) dalam huruf latin. Sebagai contoh aksara Ha yang mewakili dua huruf yakni H dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "hari". Aksara Na yang mewakili dua huruf yakni N dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "nabi".
Beberapa buah aksara itu bisa digabungkan secara langsung untuk membentuk sebuah kata. Sebagai contoh :
Bila diucapkan, susunan aksara tersebut dapat membentuk kalimat: Hana Caraka (Terdapat Pengawal); Data Sawala (Berbeda Pendapat); Padha Jayanya (Sama kuat/hebatnya); Maga Bathanga (Keduanya mati).
Adapula tafsir berbeda yang diajarkan oleh Pakubuwono IX, Raja Kasunanan Surakarta. Tafsir tersebut adalah:
Ha-Na-Ca-Ra-Ka
berarti ada " utusan " yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia ( sebagai ciptaan ).
Da-Ta-Sa-Wa-La
berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data " saatnya ( dipanggil ) " tidak boleh sawala " mengelak " manusia ( dengan segala atributnya ) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan.
Pa-Dha-Ja-Ya-Nya
berarti menyatunya zat pemberi hidup ( Khalik ) dengan yang diberi hidup ( makhluk ). Maksudnya padha " sama " atau sesuai, jumbuh, cocok " tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan
keutamaan. Jaya itu " menang, unggul " sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan " sekedar menang " atau menang tidak sportif.
Ma-Ga-Ba-Tha-Nga
berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.
Jumlah aksara / huruf pada hanacaraka berjumlah 20 buah tampak pada gambar berikut.
Makna Huruf
Ha Hana hurip wening suci - adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci
Na Nur candra, gaib candra, warsitaning candara - pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi
Ca Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi - arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal
Ra Rasaingsun handulusih - rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani Ka Karsaningsun memayu hayuning bawana - hasrat diarahkan untuk
kesejahteraan alam
Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan - menerima hidup apa adanya Ta Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa - mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian
dalam memandang hidup
Sa Sifat ingsun handulu sifatullah - membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan
Wa Wujud hana tan kena kinira - ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas
La Lir handaya paseban jati - mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi Pa Papan kang tanpa kiblat - Hakekat Allah yang ada disegala arah
Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane - Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar
Ja Jumbuhing kawula lan Gusti - Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya
Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi - yakin atas titah/kodrat Illahi
Nya Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki - memahami kodrat kehidupan Ma Madep mantep manembah mring Ilahi - yakin/mantap dalam menyembah
Ilahi
Ga Guru sejati sing muruki - belajar pada guru nurani
Ba Bayu sejati kang andalani - menyelaraskan diri pada gerak alam Tha Tukul saka niat - sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan
Nga Ngracut busananing manungso - melepaskan egoisme pribadi manusia
Pasangan
Jika Carakan / aksara Jawa lebih bersifat silabis (kesuku-kataan), bagaimana Carakan bisa menuliskan huruf mati. Hal ini bisa diJawab dengan adanya pasangan. Pasangan memiliki fungsi untuk menghubungkan suku kata yang tertutup (diakhiri) konsonan dengan suku kata berikutnya.
Sebagai contoh kata "banda" yang bila dipisahkan menurut silabiknya adalah "ban" dan "da". Suku kata yang pertama suku kata ban. Untuk menuliskan ban ini pertama-tama adalah dengan menuliskan aksara Ba terlebih dahulu. Kemudian menuliskan aksara Na karena aksara Na mewakili dua buah huruf latin yakni N dan A sehingga kita tidak bisa langsung menuliskan aksara da. Untuk mematikan huruf Na, maka kita harus menuliskan bentuk pasangan da.
Bentuk pasangan disebutkan memiliki fungsi untuk menghubungkan suku kata yang tertutup konsonan dengan suku kata berikutnya. Artinya bahwa huruf yang diikuti pasangan akan dimatikan sehingga menjadi konsonan. Pada kasus di atas aksara Na diikuti pasangan Da yang berarti Na akan dibaca sebagai N.
Semua aksara pokok yang ada di Carakan memiliki pasangannya masing-masing. Bentuk pasangan ini ada yang dituliskan di bawah dan ada juga yang di atas sejajar dengan aksara.
Bentuk-bentuk pasangan itu adalah:
Aksara Murda
Pada aksara hanacaraka memiliki bentuk murda (hampir setara dengan huruf kapital) yang seringkali digunakan untuk menuliskan kata-kata yang menunjukkan :
Nama Gelar
Nama Diri
Nama Geografi
Nama Lembaga Pemerintah
Dan Nama Lembaga Berbadan Hukum.
(Kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang menunjukkan hal-hal diatas biasanya diawali dengan huruf besar atau kapital. Untuk itulah pada perangkat lunak ini kita gunakan huruf kapital untuk menuliskan aksara murda atau pasangannya).
Aturan Pengunaan
Untuk aturan penulisan Aksara murda ini hampir sama dengan penulisan aksara-aksara pokok di Hanacaraka, ditambah dengan beberapa aturan tambahan yakni :
a. Murda tidak dapat dipakai sebagai sigeg (konsonan penutup suku kata). b. Bila ditemui aksara murda menjadi sigeg, maka dituliskan bentuk aksara
pokoknya.
c. Bila dalam satu kata atau satu kalimat ditemui lebih dari satu aksara murda, maka ada dua aturan yang dapat dipergunakan yakni dengan menuliskan aksara murda terdepannya saja, atau dengan menuliskan keseluruhan dari bentuk aksara mudra yang ditemui.
Contoh Pemakaian Aksara Murda
Untuk melengkapi aturan penggunaan aksara murda ini, contoh berikut bisa digunakan sebagai acuan untuk menuliskan Aksara Murda.
Contoh:
Kegunaan Aksara Swara
Aksara Swara sebagaimana aksara Murda memiliki fungsi dan kegunaan tertentu. Aksara Swara dalam penulisan Hanacaraka digunakan untuk menuliskan aksara vokal yang menjadi suku kata, terutama yang berasal dari bahasa asing, untuk mempertegas pelafalannya.
Bentuk Aksara Swara
Aksara Swara tidak seperti aksara-aksara yang lain. Aksara ini tidak dilengkapi dengan bentuk pasangan. adapun bentuk Aksara Swara ini adalah sebagai berikut :
Aturan Penulisan Aksara Swara
Dalam menuliskan Aksara Swara, diikuti aturan penulisan aksara swara sebagai berikut :
a. Aksara swara tidak dapat dijadikan sebagai aksara pasangan.
b. Bila aksara swara menemui sigegan (konsonan pada akhir suku kata sebelumnya), maka sigegan itu harus dimatikan dengan pangkon.
c. Aksara swara dapat diberikan sandangan wignyan, layar, cecak, suku, wulu dan lainnya.
Contoh Penggunaan Aksara Swara
Untuk melengkapi aturan penggunaan aksara murda ini, contoh berikut bisa digunakan sebagai acuan untuk menuliskan Aksara Murda.
Contoh:
Sandangan adalah tanda yang dipakai sebagai pengubah bunyi di dalam tulisan Jawa. Di dalam tulisan Jawa, aksara yang tidak mendapat sandangan diucapkan sebagai gabungan anatara konsonan dan vokal a. Vokal a di dalam bahasa Jawa mempunya dua macam varian, yakni / / dan /a/.
Vokal a dilafalkan seperti o pada kata bom, pokok, tolong, tokoh doi dalam bahasa Indonesia, misalnya :
Vokal a dilafalkan /a/, seperti a pada kata pas, ada, siapa, semua di dalam bahasa Indonesia, misalnya :
Sandangan di dalam aksara Jawa dapat dibagi menjadi tiga golongan yakni sebagai berikut :
1. Sandangan Bunyi Vokal (Sandhangan Swara)
Sandangan bunyi vokal ada lima buah. Adapun bentuk dari sandangan bunyi vokal ini adalah :
Pemakaian Sandangan Wulu
Sandangan Wulu dipakai untuk melambangkan vokal ( i ) di dalam suatu suku kata. Sedangkan wulu ditulis di bagian atas akhir suatu aksara. Apabila selain wulu juga terdapat sandangan yang lain, maka sandangan wulu digeser sedikit ke kiri. Pemakaian Sandangan Suku
Penulisan sandangan suku dapat dituliskan dalam dua keadaan yaitu :
1. Penulisan sandangan suku pada aksara. Sandangan suku dipakai untuk melambangkan bunyi vokal u yang bergabung dengan bunyi konsonan di dalam suatu suku kata, atau vokal U yang tidak dituliskan dengan aksara swara.Sandangan suku dituliskan serangkai di bagian bawah akhir aksara yang mendapatkan sandangan itu.
2. Penulisan sandangan suku pada pasangan. Sandangan suku pada pasangan
dituliskan mengikuti letak penulisan pasangan itu. Letak sandangan sukunya sendiri tetap berada pada bagian bawah akhir dari pasangan. Apabila sandangan suku mengikuti pasangan aksara (ka), (ta), atau (la), maka pasangan ini harus dirubah dulu ke dalam bentuk aksara pokoknya dahulu, baru kemudian diberikan sandangan suku.
Pemakaian Sandangan Pepet
Kegunaannya untuk dipakai untuk melambangkan vokal e di dalam suatu suku kata. Aturan penulisan sandangan pepet tertera sebagai berikut:
Sandangan pepet ditulis di bagian atas akhir aksara. Apabila selain pepet juga terdapat sandangan layar, maka sandangan pepet digeser sedikit ke kiri dan sandangan layar ditulis di sebelah kanan pepet. Apabila selain pepet juga terdapat sandangan cecak, maka sandangan pepet digeser sedikit ke kiri dan sandangan cecak ditulis di dalam pepet. Penempatan sandangan pepet pada aksara yang mendapatkan pasangan dituliskan sesuai dengan aturan di atas, kecuali untuk aksara yang mendapatkan pasangan yang dituliskan di atas seperti sandangan (ha), (sa), dan (pa). Untuk aksara yang mendapatkan pasangan ini, maka penulisan pepet berada di atas pasangannya.
Pengecualian: Sandangan pepet tidak dipakai untuk menuliskan suku kata re dan le yang bukan sebagai pasangan. Sebab suku kata re dan le yang bukan pasangan dilambangkan dengan tanda pacerek (re) dan Nga lelet (le).
Pemakaian Sandangan Taling
Untuk membedakan penggunaan sandangan pepet dengan taling, maka dibedakan sebagai berikut ;
é untuk penulisan sandangan pepet
e untuk penulisan sandangan taling Pemaikaian Sandangan Taling Tarung
Sandangan taling tarung dipakai untuk melambangkan bunyi vokal O yang tidak dituliskan dengan aksara swara di dalam suatu suku kata. Untuk Sandangan taling tarung dituliskan mengapit aksara yang dibubuhi sandangan itu.
Sandangan taling tarung untuk aksara pasangan di tuliskan mengapit aksara yang dimatikan (yang menjadi sigeg). Untuk aksara pasangan yang ada di atas seperti pasangan (ha), (sa), dan (pa), maka taling ditaruh didepan aksara sigeg, sedangkan tarung ditaruh di belakang aksara pasangan.
2. Sandangan Konsonan Penutup Suku Kata (Sandhangan Panyigeging Wanda)
Sandangan penutup suku kata ada 4 buah. Pemakaian Sandangan Wignyan
Sandangan wignyan adalah pengganti sigegan ha (konsonan ha di akhir suku). Penulisan wignyan diletakkan di belakang aksara yang dibubuhi sandangan itu.
Pemakaian Sandangan Layar
Hampir sama dengan sandangan wignyan, sandangan layar digunakan untuk pengganti sigegan ra (konsonan ra di akhir suku). Penulisan layar ditulis dibagian atas akhir aksara yang mengikuti.
Pemakaian Sandangan Cecak
Sandangan cecak digunakan untuk menuliskan sigegan ng (sepasang konsonan nga di akhir suku kata). ada tiga buah kondisi dalam menuliskan sandangan cecak, yakni :
Sandangan cecak ditulis di atas aksara. Sandangan cecak dituliskan
menurut aturan ini bila menemui keadaan aksara yang diikuti tidak memiliki sandangan di atas aksara selain dirinya.
Sandangan cecak ditulis di atas aksara belakang sandangan wulu. Apa bila sandangan cecak mengikuti sandangan wulu, maka sandangan cecak dituliskan di belakang sandangan wulu.
Sandangan cecak ditulis di atas aksara di dalam pepet. Sandangan cecak apabila mengikuti sandangan pepet, maka penulisan cecak di taruh di dalam sandangan pepet.
Pemakaian Sandangan Pangkon
Tidak seperti ketiga sandangan sebelumnya, sandangan pangkong memiliki beberapa fungsi. Fungsi-fungsi itu adalah :
Sandangan pangkong dipakai sebagai penanda bahwa aksara yang dibubuhi sandangan pangkon itu merupakan aksara mati, aksara penutup suku kata, atau aksara penyigeging wanda. Sandangan pangkong ditulis di belakang aksara yang di bubuhi sandangan itu.
Sandangan pangkon dapat juga dipakai sebagai pembatas bagian kalimat
atau rincian yang belum selesai, senilai dengan pada lingsa, atau tanda koma (,) di dalam ejaan latin, di samping untuk mematikan aksara. Pada kasus ini pangkong berfungsi ganda.
o Contoh: bapak macul, aku angon sapi, adhiku dolanan ijen.
Sandangan pangkon dapat ditulis untuk menghindarkan penulisan aksara yang bersusun lebih dari dua tingkat.
3. Sandangan Gugus Konsonan
Gugus konsonan adalah kumpulan dari dua konsonan dalam Hanacaraka yang akan membentuk suatu suku kata. sebagai contoh kraton yang dapat dipisah menjadi kra-ton. suku kata kra memiliki gugus konsonan kr. Di dalam Hanacaraka ada lima buah gugus konsonan yang digunakan dalam bentuk sandangan.
Sandangan Cakra
Sandangan cakra merupakan penanda gugus konsonan yang unsur terakhirnya berwujud konsonan r. Tanda cakra ditulis serangkai di bawah bagian akhir aksara yang diberi tanda cakra itu.
Aksara yang sudah diberikan cakra dapat diberikan sandangan lagi selain sandangan cakra, cecak, cakra la, cakra wa. Dan apa bila sandangan itu adalah pepet, maka sandangan cakra dan pepet ditulis menjadi cakra keret.
Sandangan Cakra Keret
Sandangan Cakra Keret dipakai untuk melambangkan gugus konsonan yang berunsur akhir konsonan r dengan diikuti vokal e pepet. Dengan kata lain cakra keret digunakan sebagai ganti tanda cakra yang mendapatkan penambahan sandangan pepet. Tanda cakra keret ditulis serangkai di bawah bagian akhir aksara yang diberikan tanda keret itu.
Sandangan Pengkal
Sandangan Pengkal dipakai untuk melambangkan konsonan y yang bergabung dengan konsonan lain di dalam suatu suku kata. Tanda pengkal ditulis serangkai di belakang aksara yang diberi tanda pengkal.
Tanda Baca
Dalam Hanacaraka terdapat pula tanda-tanda baca yang digunakan dalam penulisan kalimat, paragraf dan lainnya. Bentuk tanda baca yang ditangani dalam perangkat lunak ini ada 4 buah yakni :
1) Adeg-adeg
Adeg adeg dipakai di depan kalimat pada tiap-tiap awal alinea. 2) Pada Lingsa
Pada lingsa dipakai pada akhir bagian kalimat sebagai tanda intonasi setengah selesai. Tanda ini hampir setara dengan penggunaan koma(,).
3) Pada Lungsi
Pada lungsi dipakai pada awal suatu kalimat. Tanda ini hampir setara dengan titik.
Contoh: wis meh jam telu esuk, sumini durung bisa turu. pikirane goreh. goreh amarga mikirna bojone kang wis telung dina iki durung mulih.
4) Pada Pangkat
Pada pangkat dipakai pada akhir pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian. Contoh: aku arep tuku bala pecah : mangkok, piring, lan gelas.
Pada pangkat dipakai untuk mengapit angka. Contoh: Ibu mundhut emas 75 gram.
Pada pangkat dipakai untuk mengapit petikan langsung. Contoh: Ibu ngendika, "sapa kancamu"
D. MATA PENCAHARIAN
Di Indonesia, orang Jawa bisa ditemukan dalam segala bidang. Terutama bidang Administrasi Negara dan Militer banyak didominasi orang Jawa. Meski banyak pengusaha Indonesia yang sukses berasal dari suku Jawa, orang Jawa tidak menonjol dalam bidang Bisnis dan Industri, banyak diantara suku Jawa bekerja sebagai buruh kasar dan tenaga kerja indonesia seperti pembantu, dan buruh di hutan-hutan di luar negeri yang mencapai hampir 6 juta orang. Dan tentunya kini semakin bertambah banyak. Banyak variasi pekerjaan sesuai dengan keahlian dan keterampilan yang dimiliki.
Selain sumber penghidupan yang berasal dari pekerjaan-pekerjaan kepegawaian, pertukangan dan perdagangan, bertani adalah juga merupakan salah satu mata pencaharian hidup dari sebagian besar masyarakat orang Jawa di desa-desa. Di dalam melakukan pekerjaan pertanian ini, diantara mereka ada yang menggarap tanah pertaniannya untuk dibuat kebun kering ( tegalan ), terutama mereka yang hidup di daerah pegunungan. Sedangkan yang lain, yaitu yang bertempat tinggal di daerah-daerah yang lebih rendah mengolah tanah-tanah pertanian tersebut untuk dijadikan sawah. Biasanya disamping tanaman padi, beberapa jenis tanaman palawija juga ditumbuhkan baik sebagai tanaman utama di
tegalan maupun sebagai tanaman penyela di sawah pada waktu musim kemarau dimana air sangat kurang untuk pengairan sawah-saah itu. Tanaman penyela tersebut, diantaranya adalah ketela pohon, ketela rambat, kedelai, kacang tanah, kacang tunggak, kacang brol, dan lain-lain.
Sawah itu ada yang dimiliki sendiri dan sawah ini disebut sawah sanggan dan sawah yasan. Pemilik yang kelebihan dapat menjual sawah seperti itu kepada orang lain. Dalam hal ini dia bisa menjual secara adol tahunan, ialah hanya menyewakan sawahnya untuk satu tahun, atau secara adol ceplik, ialah menjual lepas sawahnya. Banyak orang di desa tidak memiliki tanah-tanah pertanian yang luas, bahakna banyak juga yang tidak mempunyaianya sama sekali. Orang seperti itu terpaksa bekerja menjadi buruh tani, menyewa tanah, bagi hasil atau menggadai tanah.
Orang yang menyewa tanah, karena ia kaya dapat memberikan sejumlah uangnya kepada orang pemilik sawah yang memerlukan, misalnya untuk satu masa panen, yang disebut adol oyodan. Apabila orang yang tidak mempunyai tanah ingin mendapat hasil dengan cara bagi hasil, artinya memperoleh separo bagian hasil panennya, maka sistem itu disebut maro. Kalau ia menerima sepertiga bagian saja, sistem itu disebut mertelu. Sudah barang tentu cara-cara bagi hasil ini tergantung kepada keadaantingkat kesuburan tanah pertanian tersebut. Terutama untuk bagi hasil tanaman palawija kacang brol, si pemilik sawah biasanya hanya akan menerima seperlima bagian dari seluruh hasil panenan sawahnya.
Akhirnya jika orang hendak menggadai tanah, maka ada yang disebut adol sende, artinya ia meminjamkan uang kepada orang lain, dimana ia mendapat tanha pertanian sebagai barang gadaian untuk diolah. Kemudian jika si peminjam uang dan pemilik sawah tersebut berhasil mengembaikan uang pinjamannya pada suatu waktu, maka tanha pertanian tadi diserahkan kembali kepadanya. Walaupun demikian ornag yang menggadai tanah itu sudah dapat memungut hasil pertaniannya setidak-tidaknya satu kali masa panen, sebagia bunganya. Hubungan transksi semacam ini, umumnya dilakukan oleh kedua belah pihak dengna disaksikan oleh salah seorang anggota Pamong Desa.
Selain sumber penghasilan dari lapangan pekerjaan pokok bertani tersebut, adapula beberapa sumber pendapatan lain yang diperoleh dari usaha-usaha kerja sambilan membuat makanna tempe, mencetak batu merah, mbotok atau membuat minyak goreng kelapa, membatik, menganyam tikar, dan menjadi tukang-tukang
kayu, batu atau reparasi sepeda dan lapangan-lapangan pekerjaan lain yang mungkin dikerjakan.
E. SISTEM KEMASYARAKATAN Lapisan sosial
priyayi
Kata priyayi konon berasal dari dua kata Jawa para dan yayi yang secara harafiah berarti "para adik". Yang dimaksud adalah para adik raja. Namun menurut Robson (1971) kata ini bisa pula berasal dari kata Sansekerta priyā, yang berarti kekasih
Dalam kebudayaan Jawa, istilah priyayi atau berdarah biru merupakan suatu kelas sosial yang mengacu kepada golongan bangsawan. Suatu golongan tertinggi dalam masyarakat karena memiliki keturunan dari keluarga kerajaan. Golongan priyayi tertinggi disebut Priayi Ageng (bangsawan tinggi). Gelar dalam golongan ini terbagi menjadi bermacam-macam berdasarkan tinggi rendahnya suatu kehormatan. Beberapa gelar dari yang tertinggi hingga dengan hanya satu gelar saja yaitu Raden.
Gelar seorang priyayi juga dapat meningkat seiring dari usianya. Misalnya ketika seorang anak laki-laki lahir diberi nama Bomantara, ia bergelar Raden Mas, jadi nama lengkapnya adalah Raden Mas Bomantara, ketika menginjak akil balik gelarnya bertambah satu kata menjadi Bandara Raden Mas, ketika menapak dewasa (18 atau 21 tahun) bertambah lagi menjadi Bandara Raden Mas Aryo. Pada saat dewasa dan telah memiliki jabatan dalam hierarki kebangsawanan, ia akan memiliki gelar yang berbeda dari gelar yang telah ia miliki. Misalnya ia menduduki jabatan pemimpin ksatrian maka gelarnya akan berubah menjadi Gusti Pangeran Adipati Haryo. Dan setiap kedudukan yang ia jabat ia akan memilki gelar tambahan atau gelar yang berubah nama.
Istilah priyayi menjadi terkenal saat Clifford Geertz melakukan penelitian tentang masyarakat Jawa pada tahun 1960-an, dan mengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga golongan: priyayi, santri dan abangan. Kelompok santri digunakan untuk mengacu pada orang yang memiliki pengetahuan dan mengamalkan agama. Abangan digunakan untuk mereka yang bukan priyayi dan juga bukan santri. Namun penggolongan ini tidaklah terlalu tepat, karena pengelompokkan priyayi-non priyayi adalah berdasarkan garis keturunan seseorang,
sedangkan pengelompokkan santri - abangan dibuat berdasarkan sikap dan perilaku seseorang dalam mengamalkan agamanya (Islam). Dalam realita, ada priyayi yang santri dan ada pula yang abangan, bahkan ada pula yang non muslim.
Ningrat
Adalah keluarga keraton dan keturunan bangsawan lainnya. Yang biasanya mempunyai gelar-gelar yang menandakan tingkat kebangsawanannya. Misalnya seorang laki-laki ningrat yang merupakan keturunan langsung (generasi pertama) dari raja/pemimpin yang memerintah akan mendapat tambahan Bandara (baca "bandoro") di depan gelarnya, sehingga menjadi Bandara Raden Mas (disingkat BRM).
Wong Cilik
Merupakan golongan masyarakat yang paling bawah, biasanya hidup didesa-desa dengan sesuai dengan mata pencaharian mereka sebagai petani, tukang dan pekerja kasar lainnya. Golongan ini juga dapat digolongkan lagi menjadi :
a. Wong baku
merupakan lapisan tertinggi dalam lingkungan desa di Jawa, mereka adalah keturunan orang-orang yang dahulu yang pertama kali menetap didesa, mereka memiliki sawah, rumah, serta pekarangannya.
b. Kuli gandok atau lindung
Mereka adalah orang laki-laki yang sudah kawin, akan tetapi tidak mempunyai tempat tinggal sendiri,sehingga terpaksa menetap di kediaman mertuanya.
c. Joko, sinoman, atau bujangan
Mereka semua belum menikah, dan masih tinggal bersama orang tuanya atau tinggal (ngenger) dirumah orang lain. akan tetapi golongan bujang ini bisa mempunyai tanah baik dari pembelian atau warisan.
Desa-desa di Jawa sering dibagi-bagi menjadi bagian-bagian yang disebut dukuh, oleh karena itu dalam susunan kepemimpinan desa tiap-tiap dukuh diketuai oleh kepala dukuh. Dalam hal memelihara dan membangun masyarakat desanya, para pamong desa harus sering menggerakkan
masyarakat dengan gugur gunung atau kerik desa guna bekerja sama membersihkan, memperbaiki dan membuat sarana fasilitsa pedesaan.
F. SISTEM KEKERABATAN
Sistem kekerabatan masyarakat Jawa berdasarkan prinsip keturunan bilateral. Semua kakak laki-laki atau wanita ayah dan ibu beserta istri atupun suami masing – masing diklasifikasikan menjadi satu dengan istilah siwa atau uwa. Adapun adik dari ayah dan ibu diklasifikasikan ke dalam dua golongan yang dibedakan menurut jenis kelamin menjadi paman dan bibi.
Dalam adat masyarakat Jawa dikenal adanya ngarang wulu serta wayuh. Perkawinan ngarang wulu adalah suatu perkawinan seorang duda dengan seorang wanita salah satu adik dari almarhum istrinya. Jadi merupakan pernikahan sororat. Adapun wayuh adalah suatu perkawinan lebih dari satu istri (poligami).
Masyarakat Jawa mengenal beberapa sistem pernikahan, yaitu : a. Pelamaran biasa
b. Magang atau ngenger, ialah seorang jejaka yang telah mengabdikan dirinya pada kerabat si gadis.
c. Triman, yaitu seorang yang mendapat istri sebagai pemberian atau penghadiahan dari salah satu lingkungan keluarga tertentu, misalnya keluarga keraton atau keluarga kyai agung.
d. Ngunggah-ngunggahi, yaitu pihak kerabat si gadis yang melamar si jejaka.
e. Paksa (peksan), yaitu suatu perkawinan seorang pria dan wanita atas kemauan kedua orang tua mereka.
Menurut adat Jawa apabila akan diadakan suatu perkawinan, terlebih dahulu diselenggarakan berbagai upacara-upacara sampai dilaksanakannya peresmian perkawinan. Upacara- upacara tersebut adalah
Nakokake
Seorang pria pertama-tama datang ke kediaman orang tua si gadis dengan didampingi oleh orang tua sendiri atau wakil orang tuanya untuk menanyakan
kepadanya, apakah si gadis sudah ada empunya atau belum (legan). Jika orang tua si gadis telah meninggal, hal itu yang disebut nakokake kepada wali, yakni anggota kerabat dekat menurut garis laki – laki (patrilineal).
Nontoni
Calon suami mendapat kesempatan untuk melihat calon istrinya.
Persiapan
Penunjukkan Pemaes, dukun pengantin perempuan di mana menjadi pemimpin dari acara pernikahan. Dia mengurus dandanan dan pakaian pengantin laki-laki dan pengantin perempuan yang bentuknya berbeda selama pesta pernikahan. Biasanya dia juga menyewakan pakaian pengantin, perhiasan dan perlengkapan lain untuk pesta pernikahan.
Banyak yang harus dipersiapkan untuk setiap upacara pesta pernikahan. Untuk itu dibentuk sebuah panitia kecil yang terdiri dari teman dekat, keluarga dari kedua mempelai. Besarnya panitia itu tergantung dari latar belakang dan berapa banyaknya tamu yang di undang (300, 500, 1000 atau lebih).
Panitia mengurus seluruh persiapan perkawinan: protokol, makanan dan minuman, musik gamelan dan tarian, dekorasi dari ruangan resepsi, pembawa acara, wali untuk Ijab, pidato pembuka, transportasi, komunikasi dan keamanan. Persiapan yang paling penting adalah Ijab (catatan agama dan catatan sipil), dimana tercatat sebagai pasangan suami istri.
Biasanya sehari sebelum pesta pernikahan, pintu gerbang dari rumah orangtua wanita dihias dengan Tarub (dekorasi tumbuhan), terdiri dari berbeda Tuwuhan (tanaman dan daun), yaitu :
• Dua pohon pisang dengan setandan pisang masak berarti: Suami akan menjadi pemimpin yang baik di keluarga. Pohon pisang sangat mudah tumbuh dimana saja. Pasangan pengantin akan hidup baik dan bahagia dimana saja.
• Sepasang Tebu Wulung berarti: Seluruh keluarga datang bersama untuk bantuan nikah.
• Cengkir Gading berarti: Pasangan pengantin cinta satu sama lain dan akan merawat keluarga mereka.
• Bentuk daun seperti beringin, mojo-koro, alang-alang, dadap srep berarti:
Pasangan pengantin akan hidup aman dan melindungi keluarga.
• Bekletepe
Bleketepe yang berada di atas pintu gerbang berarti menjauhkan dari gangguan roh jahat dan menunjukan di rumah mana pesta itu diadakan.
Selain pemasangan tarub juga dikenal adanya Kembar Mayang yang merupakan karangan dari bermacam daun (sebagian besar daun kelapa di dalam batang pohon pisang). Itu dekorasi sangat indah dan mempunyai arti yang luas.
• Mempunyai bentuk seperti gunung. Gunung itu tinggi dan besar, berarti laki-laki harus punya banyak pengetahuan, pengalaman dan kesabaran.
• Keris: Melukiskan bahwa pasangan pengantin berhati-hati dalam kehidupan, pintar dan bijaksana.
• Cemeti: Pasangan pengantin akan selalu hidup optimis dengan hasrat untuk kehidupan yang baik.
• Payung: Pasangan pengantin harus melindungi keluarganya.
• Belalang: Pasangan pengantin akan giat, cepat berpikir dalam mengambil keputusan untuk keluarganya.
• Burung: Pasangan pengantin mempunyai motivasi hidup yang tinggi.
• Daun Beringin: Pasangan pengantin akan selalu melindungi keluarganya dan masyarakat sekitarnya.
• Daun Kruton: Daun yang melindungi mereka dari gangguan setan.
• Daun Dadap srep: Daun yang dapat digunakan mengompres untuk menurunkan demam, berarti pasangan pengantin akan selalu mempunyai pikiran yang jernih dan tenang dalam mengadapi masalah.
• Daun Dlingo Benglé: Jamu untuk infeksi dan penyakit lainnya, itu digunakan untuk melindungi gangguan setan.
• Bunga Patra Manggala: Itu digunakan untuk memperindah karangan.
Sebelum memasang Tarub dan Bekletepe harus membuat hidangan spesial yang dinamakan Sajen. Tradisionil Sajen (persembahan) dalam pesta adat Jawa itu sangat penting. Itu adalah simbol yang sangat berarti, di mana Tuhan Pencipta melidungi kami. Sajen berarti untuk mendoakan leluhur dan untuk melindungi dari gangguan roh jahat. Sajen diletakan di semua tempat di mana pesta itu diadakan, diantaranya di kamar mandi, di dapur, di bawah pintu gerbang, di bawah dekorasi Tarub, di jalan dekat rumah, dan lain-lain.
Siraman sajen terdiri dari:
• Tumpeng Robyong, nasi kuning dengan hiasan.
• Tumpeng Gundul, nasi kuning tanpa hiasan.
• Makanan: ayam, daging, tahu, telur.
• Tujuh macam bubur.
• Pisang raja dan buah lainnya.
• Kue manis, lemper, cendol.
• Teh dan kopi pahit.
• Rokok dan kretek.
• Lantera.
• Buna Telon (kenanga, melati, magnolia) dengan air Suci.
Siraman.
Makna dari pesta Siraman adalah untuk membersihkan jiwa dan raga. Pesta Siraman ini biasanya diadakan di siang hari, sehari sebelum Ijab dan Panggih. Siraman di adakan di rumah orangtua pengantin masing-masing. Siraman biasanya dilakukan di kamar mandi atau di taman. Sekarang lebih banyak diadakan di taman. Daftar nama dari orang yang melakukan Siraman itu sangat penting. Tidak hanya orangtua, tetapi juga keluarga dekat dan orang yang dituakan. Mereka menyeleksi orang yang bermoral baik. Jumlah orang yang melakukan Siraman itu biasanya tujuh orang. Bahasa Jawa tujuh itu PITU, mereka memberi nama PITULUNGAN (berarti menolong). Yang harus dipersiapkan:
• Baskom untuk air, biasanya terbuat dari tembaga atau perunggu. Air dari
sumur atau mata air.
• Bunga Setaman - mawar, melati, magnolia dan kenanga - di campur dengan air.
• Aroma - lima warna - berfungsi seperti sabun.
• Tradisionil shampoo dan conditioner (abu dari merang, santan, air asam Jawa).
• gayung dari 2 kelapa, letakkan bersama.
• Tikar - kain putih - beberapa macam daun - dlingo benglé (tanaman untuk obat-obatan) - bango tulak (kain dengan 4 macam motif) - lurik (motif garis dengan potongan Yuyu Sekandang dan Pula Watu).
• Memakai kain putih selama Siraman.
• Kain batik dari Grompol dan potongan Nagasari.
• Handuk.
• Kendi.
Keluarga dari pengantin wanita mengirim utusan untuk membawa air-bunga ke keluarga dari pengantin laki-laki. Itu Banyu Suci Perwitosari, berarti air suci dan simbol dari intisari kehidupan. Air ini diletakan di rumah pengantin laki-laki.
Dalam pelaksanaan upacara Siraman Pengantin perempuan/laki-laki datang dari kamarnya dan bergabung dengan orangtuanya. Dia diantar ke tempat Siraman. Beberapa orang jalan di belakangnya dan membawa baki dengan kain batik, handuk, dan lain-lain. Dan ini akan digunakan setelah Siraman. Dia mendudukkan di kursi dan berdoa. Orang pertama yang menyiramkan air ke pengantin adalah ayah. Ibu boleh menyiramkan setalah ayah. Setelah mereka, orang lain boleh melakukan Siraman. Orang terakhir yang melakukan Siraman adalah Pemaes atau orang sepesial yang telah ditunjuk. Pengantin perempuan/laki-laki duduk dengan kedua tangan di atas dada dengan posisi berdoa. Mereka menyiramkan air ke tangannya dan membersihkan mulutnya tiga kali. Kemudian mereka menyiramkan air ke atas kepala, wajah, telinga, leher, tangan dan kaki juga sebanyak tiga kali. Pemaes menggunakan tradisionil shampoo dan conditioner. Setelah Kendi itu kosong, Pemaes atau orang yang ditunjuk memecahkan kendi ke lantai dan berkata: 'Wis Pecah Pamore' - berarti dia itu tampan (menjadi cantik dan siap untuk menikah).
Upacara Ngerik
Setelah Siraman, pengantin duduk di kamar pengantin. Pemaes mengeringkan rambutnya dengan handuk dan menberi pewangi (ratus) di seluruh rambutnya. Dia mengikat rambut ke belakang dan mengeraskannya (gelung). Setelah itu Pemaes membersihkan wajahnya dan lehernya, dia siap untuk di dandani. Pemaes sangat behati-hati dalam merias pengantin. Dandanan itu tergantun dari bentuk perkawinan. Akhirnya, pengantin wanita memakai kebaya dan kain batik dengan motif Sidomukti atau Sidoasih. Itu adalah simbol dari kemakmuran hidup.
Upacara Midodareni
Pelaksanaan pesta ini mengambil tempat sama dengan Ijab dan Panggih. Midodareni itu berasal dari kata Widodari yang berarti Dewi. Pada malam hari, calon pengantin wanita akan menjadi cantik sama seperti Dewi. Menurut kepercayaan kuno, Dewi akan datang dari kayangan. Pengantin wanita harus tinggal di kamar dari jam enam sore sampai tengah malam di temani dengan beberapa wanita yang dituakan. Biasanya mereka akan memberi saran dan nasihat. Keluarga dan teman dekat dari pengantin wanita akan datang berkunjung; semuanya harus wanita.
Orangtua dari pengantin wanita akan menyuapkan makanan untuk yang terakhir kalinya. Mulai dari besok, suaminya yang akan bertanggung Jawab.
Yang harus diletakan di kamar pengantin :
• Satu set Kembar Mayang.
• Dua kendi (diisi dengan bumbu, jamu, beras, kacang, dan lain-lain) di lapisi dengan kain Bango Tulak.
• Dua kendi (diisi dengan air suci) di lapisi dengan daun dadap srep.
• Ukub (baki dengan bermacam pewangi dari daun dan bunga) diletakan
di bawah tempat tidur. • Suruh Ayu (daun betel). • Kacang Areca.
• Tujuh macam kain dengan corak letrek.
Di tengah malam semua sajen di ambil dari kamar. Keluarga dan tamu dapat makan bersama. Di kamar lain, keluarga dan teman dekat dari pengantin wanita bertemu dengan keluarga dari pengantin laki-laki.
Peningsetan atau Srah-Srahan
Peningsetan berasal dari kata singset (berarti ikatan). Kedua keluarga menyetujui pernikahan. Mereka akan menjadi besan. Keluarga dari pengantin laki-laki berkunjung ke keluarga dari pengantin perempuan. Mereka membawa hadiah:
• Suruh Ayu (daun betel), mengharapkan untuk keselamatan.
•Beberapa kain batik dengan corak berbeda, mengharapkan untuk kebahagiaan dan kehidupan yang baik.
• Kain Kebaya.
• Setagen putih untuk tanda kekuatan.
• Buah-buahan, mengharapkan kesehatan.
•Beras, gula, garam, minyak, dan lain-lain, tanda dasar kehidupan.
• Cincin untuk pasangan pengantin.
• Sumbangan uang untuk pesta pernikahan.
Dalam kesempatan ini, kedua keluarga beramah tamah. Hanya pengantin laki-laki tidak bisa bertamu ke kamar pengantin perempuan yang sudah bagus di dekorasi. Pengantin laki-laki tiba bersama dengan keluarganya, tetapi dia tidak boleh masuk ke rumah. Hanya keluarganya boleh masuk ke rumah. Dia duduk di serambi depan rumah bersama dengan beberapa teman dan keluarga. Selama itu, dia hanya diberi segelas air dan
tidak boleh merokok. Dia boleh makan hanya setelah malam hari. Dengan maksud agar dia bisa menahan lapar dan godaan. Sebelum keluarganya meninggalkan rumah, utusan dari keluarga pengnatin laki-laki mengatakan kepada tuan rumah bahwa mereka akan mengambil alih tanggungJawab pengantin laki-laki. Utusan menyatakan bahwa pengantin laki-laki tidak kembali ke rumah. Setelah pengunjung meninggalkan rumah, pengantin laki-laki boleh masuk ke rumah, tetapi tidak ke kamar pengantin. Orangtua dari pengantin perempuan akan mengurus penginapannya.
Itu disebut Nyantri. Nyantri dilakukan untuk keamanan dan praktisnya, dengan pertimbangan bahwa besok dia harus berpakaian pengantin dan siap untuk Ijab dan upacara pernikahan lain.
Upacara Ijab
Upacara ijab merupakan syarat yang paling penting dalam mengesahkan pernikahan. Pelaksanaan dari Ijab sesuai dengan agama dari pasangan pengantin. Tempat di adakan Ijab diletakan Sanggan atau Sajen disekitarnya. Pengantin wanita dengan gelungan, minyak rambut mengkilap, perhiasan emas dan kebaya untuk saat ini. Pengantin laki-laki juga berpakaian khusus untuk upacara ini. Pasangan pengantin muncul terbaik. Mereka dihormati seperti Raja dan Ratu di hari itu.
Setelah selesainya rangkaian persiapan maka dilanjutkan dengan upacara perkawinan. Upacara perkawinan menurut adat Jawa terdiri dari beberapa tahapan yaitu :
Upacara Panggih
Suara sangat bagus dan mistik dari Gamelan digabungkan dengan tradisi Panggih atau Temu: pertemuan antara pengantin wanita yang cantik dengan pengantin laki-laki yang tampan di depan rumah yang di hias dengan
tanaman Tarub. Pengantin laki-laki di antar oleh keluarga dekatnya (tetapi bukan orangtuanya karena mereka tidak boleh berada selama upacara), tiba di rumah dari orangtua pengantin wanita dan berhenti di depan pintu gerbang. Pengantin wanita, di antar oleh dua wanita yang dituakan, berjalan keluar dari kamar pengantin. Orangtuanya dan keluarga dekat berjalan di belakangnya. Di depannya dua puteri disebut Patah, dengan membawa kipas. Dua wanita dituakan atau dua putera membawa dua Kembar Mayang yang tingginya sekitar satu meter atau lebih. Satu orang wanita dari keluarga pengantin laki-laki berjalan keluar dari barisan dan memberi Sanggan ke ibu pengantin perempuan, sebagai tanda dari penghargaan kepada tuan rumah dari upacara. Selama upacara Panggih, Kembar Mayang di bawa keluar rumah dan diletakan di persimpangan dekat rumah, melukiskan bahwa setan tidak akan menggangu selama upacara di rumah dan di sekitarnya. Untuk dekorasi, dua Kembar Mayang diletakan di samping kanan dan kiri dari kursi pasangan pengantin. Dekorasi itu hanya digunakan bila pasangan pengantin sebelumnya tidak pernah menikah.
Upacara Balangan Suruh
Pengantin wanita bertemu dengan pengantin laki-laki. Mereka mendekati satu sama lain, jaraknya sekitar tiga meter. Mereka mulia melempar sebundel daun betel dengan jeruk di dalamnya bersama dengan benang putih. Mereka melakukannya dengan keinginan besar dan kebahagian, semua orang tersenyum bahagia. Menurut kepercayaan kuno, daun betel mempunyai kekuatan untuk menolak dari gangguan buruk. Dengan melempar daun betel satu sama lain, itu akan mencoba bahwa mereka benar-benar orang yang sejati, bukan setan atau orang lain yang menganggap dirinya sebagai pengantin laki-laki atau perempuan.
Upacara Wiji Dadi
Pengantin laki-laki menginjak telur dengan kaki kanannya. Pengantin perempuan mencuci kaki pengantin laki-laki dengan menggunakan air dicampur dengan bermacam bunga. Itu melukiskan bahwa pengantin laki-laki siap untuk menjadi ayah yang bertangung Jawab dan pengantin perempuan akan melayani setia suaminya.
Upacara Sindur Binayang
Setelah upacara Wiji Dadi, ayah pengantin perempuan mengantar pasangan pengantin ke kursi pengantin, ibu pengantin perempuan menutup pundak pasangan pengantin dengan Sindur. Itu berarti bahwa ayah akan menunjukan jalan kebahagiaan. Ibu memberi dorongan moral.
Upacara Timbang
Kedua pasangan pengantin duduk di atas pangkuan ayah dari pengantin wanita, sementara dia bicara bahwa mereka sama beratnya, berarti dia cinta mereka sederajat.
Upacara Tanem
Ayah pengantin wanita mendudukan pasangan pengantin ke kursi pengantin. Itu melukiskan bahwa dia menyetujui perkawinan. Dia memberi restu.
Upacara Tukar Kalpika
Pertukaran cincin pengantin simbol dari tanda cinta.
Upacara Kacar Kucur atau Tampa Kaya
Dengan dibantu oleh Pemaes, pasangan pengantin berjalan bergandengan tangan dengan jari kelingking ke tempat upacara Kacar Kucur atau Tampa Kaya. Di sana, pengantin perempuan mendapat dari pengantin laki-laki beberapa kedelai, kacang, padi, jagung, beras kuning, jamu dlingo benglé, bunga, dan beberapa mata uang yang berbeda nilainya (jumlah dari mata uang harus genap). Itu melukiskan bahwa suami akan memberi semua gajinya ke istrinya. Pengantin perempuan sangat berhati-hati dalam menerima pemberiannya di dalam kain putih, di atas tikar yang sudah diletakan di pangkuannya. Dia akan mengurus dan menjadi ibu rumah tangga yang baik.