• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Sari Mutiara Indonesia.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2 Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Sari Mutiara Indonesia."

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Page | 542 ojs-unita.com

PENERAPAN MODEL MIND MAPPING DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR

MATEMATIKA MATERI BILANGAN BULAT SISWA KELAS 4 SD PERKUMPULAN

AMAL BAKTI 15 KLAMBIR LIMA PTPN II KECAMATAN HAMPARAN PERAK

KABUPATEN DELI SERDANG T.A 2018/2019

Ade Cahyati 1), Taruli Marito Silalahi 2)

1Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Sari Mutiara Indonesia Email : [email protected]

2Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Sari Mutiara Indonesia Email : [email protected]

Abstract - The results of the study showed that the mathematics learning outcomes of the addition and reduction of integer material had increased after learning using the mind mapping models. This is indicated in the pre cycle stage, of 46 students there are 7 people 15,21% students who complete and students who complete with a class average value of 45,87%. So that the first cycle needs to be held, namely from 46 students there are 27 people 58,69% students who complete and students who complete with an average grade of 65%. But learning in cycle 1 has not yet achieved success so it needs to be carried out in cycle 2 which is 46 students, There are 39 people 48,78% students who complete and students who complete with an average value of 75%, The results obtained in cycle 2 have achieved the success criteria in this study. So this study was not continued the next cycle.

Keywords: Integer and subtraction math learning outcomes, Mind Mapping models.

1. PENDAHULUAN

Perkembangan ilmu teknologi dan komunikasi menuntut sekolah agar menghasilkan produk-produk yang unggul, memiliki kemampuan bernalar dan berkomunikasi yang baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Depdiknas (Antonius Cahya Prihandoko, 2006: 18) matematika berfungsi mengembangkan kemampuan bernalar melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi dan eksperimen, sebagai alat pemecahan masalah melalui pola pikir dan model matematika serta sebagai alat komunikasi melalui simbol, grafik, diagram dalam menjelaskan gagasan. Selain hal tersebut, matematika juga berfungsi untuk melatih siswa berfikir secara logis, urut dan disiplin. Matematika mengandung nilai kedisiplinan artinya

dengan belajar matematika akan melatih siswa untuk berfikir logis dan runtut.

Menurut Ruseffendi (dalam Antonius, 2006:1), mengatakan bahwa matematika merupakan telaah pola dan hubungan, suatu jalan atau pola berpikir, suatu seni, suatu bahasa dan suatu alat. Sedangkan hakikat matematika menurut soedjadi (2000) (dalam Heruman, 2010:1) yaitu memiliki objek tujuan abstrak, bertumpu pada kesepakatan, dan pola pikir yang deduktif. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa matematika merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari dikatakan bahwa matematika merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari struktur yang abstrak dan pola hubungan yang ada didalamnya.

(2)

Page | 543 ojs-unita.com

Berdasarkan hasil observasi dikelas IV SD PAB 15 Klambir Lima menunjukkan sebagian besar siswa kesulitan dalam mempelajari matematika. Namun, hasil pengamatan menunjukkan bahwa antusias siswa untuk menjawab pertanyaan yangdisampaikan guru masih rendah,mengerjakan soal yang berhubungan dengan operasi hitung ditemukan banyaksiswa yang masih mengalami kesulitan , siswa kurang aktif dalam memberi pendapat. Selain itu, pembelajaran matematika yang dilakukan guru menggunakan metode ceramah sehingga membuat siswa menjadi cepat bosan dan kurang tertarik saat dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa dikelas IV SD PAB 15 Klambir Lima masih rendah.

Oleh karna itu, peneliti ingin memberikan solusi yang diharapkan dapat membantu guru dalam memperbaiki proses belajar mengajar, serta membantu guru dalam mengembangkan hasil belajar siswa untuk pembelajaran matematika bilangan bulat. Menurut Wina Sanjaya (2006;63) mengatakan kegiatan pembelajaran yang dibangun oleh guru dan siswa adalah kegiatan yang berhasil. Sebagai kegiatan yang berhasil, maka segala sesuatu yang dilakukan guru dan siswa hendaknya diarahkan untuk mencapai hasil yang telah ditentukan.Dengan demikian dalam setting pembelajaran, hasil merupakan pengikat segala aktivitas guru dan siswa.

Pemilihan model pembelajaran Mind mapping, dapat memudahkan siswa untuk melihat kembali sekaligus mengulang-ulang ide atau gagasan, siswa dapat memaksimalkan sistem kerja otak dan siswa dapat memacu hasil belajar dalam pembelajaran matematika. Tony Buzan (2008: 4) menyatakan “Mind mapping adalah cara mengembengkan kegiatan berfikir ke segala arah, menangkap berbagai pikiran dalam berbagai sudut”. Sedangkan Rijal Darusman (2014:169) yang menyatakan

bahwa “Model pembelajaran Mind mapping adalah model pembelajaran yang dirancang untuk mengembangkan pengetahuan siswa dengan kegiatan hasil belajar menyusun ide-ide pokok dari sebuah konsep menjadi sebuah peta pikiran yang mudah dipahami oleh siswa sehingga pembelajaran lebih efisien dan efektif”. Selain itu, dengan pemilihan model pembelajaran Mind mapping ini, diharapkan siswa dapat mengoptimalkan kedua belah otak siswa dalam proses belajar mengajar. Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa Mind mapping merupakan pembelajaran yang dirancang untuk siswa menjadi lebih kreatif, berkomunikasi, menyelesaikan masalah, memusatkan perhatian mengingat dengan baik, belajar lebih cepat dan efisien serta melatih mengingat gambar secara keseluruhan.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Penerapan Model Mind mapping dalam meningkatkan hasil belajar Matematika materi bilangan bulat siswa kelas 4 SD Pekumpulan Amal Bakti 15 Klambir Lima TA.2018-2019”.

2. TINJAUAN PUSTAKA

Model Pembelajaran Mind Mapping

Mind mapping dalam bahasa Indonesia berarti peta pikiran (dari kata mind = pikiran, dan map = peta). Mind mapping (pemetaan pikiran) diciptakan oleh Michael Gelb, namun dipopulerkan oleh Tony Buzan yang merupakan seorang ahli psikologi dari Inggris, memiliki peranan yang sangat besar dalam mengembangkan konsep Mind mapping.Ia membuat konsep tersebut karena terinspirasi oleh diagram sebuah buku novel fiksi. Dengan menggunakan diagram, pembaca lebih mudah untuk mengetahui isi novel fiksi tersebut.Namun, berdasarkan hasil penelitian, konsep Mind mappingernyata telah digunakan pada sekitar abad ke-3 Masehi.Pada saat

(3)

Page | 544 ojs-unita.com

itu, konsep Mind mapping dikembangkan oleh Porphyry dari Tyos.Ia membuat semacam diagram yang sederhana untuk menggambarkan sebuah konsep dari Aritoteles. Menjelang tahun 1960, Dr. Allan Collins dan M.Ross Quilian berhasil mengembangkan konsep Mind mapping.Meskipun tetap memiliki kata kunci sebagai tema, ide, atau gagasan utama, namun diagram dibuat lebih tersusun secara sistematis sehingga lebih mudah untuk digunakan. Atas segala usahanya dalam mengembangkan konsep Mind mapping ini, Dr. Allan Collins dianggap sebagai “ Bapak Mind mapping modern”.

Mind mapping merupakan cara untuk menempatkan sebuah informasi ke dalam otak atau mengambilnya kembali ke luar otak. Bentuk Mind mapping seperti peta pada sebuah jalan yang ada dikota yang mempunyai banyak cabang. Seperti halnya dalam peta jalan kita bisa membuat sebuah pandangan secara menyeluruh tentang pokok masalahdalam suatu area yang sangat luas. Dengan sebuah peta kita bisa merencanakan sebuah rute yang tercepat dan tepat mengetahui kemana kita akan pergi dan dimana kita berada.Mind mapping bisa disebut sebuah peta rute yang digunakan dalam ingatan, membuat kita bisa meyusun fikiran dan fakta sedemikian rupa sehingga cara kerja otak kita yang alami akan dilibatkan sejak awal sehingga mengingat sebuah informasi bisa diandalkan dan lebih mudah dari pada menggunakan teknik mencatat biasa.

Peta pikiran memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak yang terdapat didalam diri seseorang.Setiap manusia lahir dengan segala potensi yang dimiliki, termasuk potensi pikiran.Namun, pada praktik pembelajaran penggunaannya masih jauh dari optimal.Hal ini tercermin dari berbagai kesulitan yang muncul pada pembelajaran, seperti kesulitan dalam memusatkan perhatian atau mengingat, yang berujung pada rendahnya pemahaman siswa. Untuk mengatasi

berbagai kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran, maka dibutuhkan variasi model pembelajaran yang dapat memegang rasa ingin tahu siswa.

Hasil Belajar

Hasil pembelajaran dapat membantu dalam mendesain sistem pembelajaran. Artinya dengan hasil yang jelas dapat membantu guru dalam menentukan materi pembelajaran, metode atau strategi pembelajaran, alat, media, sumber belajar, serta dalam menentukan alat evaluasi untuk melihat keberhasilan belajar siswa. (wina Sanjaya, 2008;64).

Hamzah B. Uno (2007;21) mengatakan pada tingkat yang amat umum sekali, hasil pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu:1).Keefektifan (effectiveness); 2). Efesiensi (efficiency); 3). Daya Tarik (appeal).

3. METODE PENELITIAN

Bentuk penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berasal dari bahasa inggris yaitu Classroom Action Research (CAR) yang mana peneliti melakukan suatu tindakan dalam proses pembelajaran karena rendahnya hasil pembelajaran matematika sehingga diharapkan hasil belajar siswa terhadap matematika semakin tinggi sehingga akhirnya dapat memberikan hasil yang memuaskan. Penelitian ini dilaksanakan dikelas IV SD PAB 15 Klambir Lima. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 01 April sampai tanggal 09 April 2019. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dan kualitatif dengan menggunakan model Mind Mapping dan rancangan peneliti menggunakan model spiral Kemmis danTaggart. Penelitian akan dilaksanakan dalam 2 siklus. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah selurug siswa kelas IV SD PAB 15 Klambir Lima dengan 46 siswa, untuk pengambilan data menggunakan teknik

(4)

Page | 545 ojs-unita.com

pengumpulan data yang digunakan, yaitu: 1. Tes, 2. Observasi aktivitas guru dan Observasi aktivitas siswa, 3. Lembar Kerja Siswa, 4. Dokumentasi.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini terdiri dari 2 siklus.Masing-masing siklus terdiri dari 2 pertemuan.Materi yang dibahas adalah Operasi Bilangan Bulat. Penelitian dilakukanpada tanggal 01 April-09 April 2019, dibantu oleh seorang collaborator yang berfungsi dalam tahap refleksi.

Deskripsi Hasil Pelaksanaan Pra Siklus

Bahwa nilai rata-rata prestasi siswa kelas IV SD pada tahap pra siklus yaitu sebesar 45,87. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa masih rendah di bawah KKM yaitu 70. Jumlah siswa yang telah tuntas atau mencapai nilai ≥ 70 adalah 7 siswa dengan persentase 15,21%, sedangkan siswa yang belum tuntas atau mendapatkan nilai ≤70 adalah 39 siswa dengan presentase sebesar 84,78%. Nilai tertinggi yang diperoleh pada tahap pra tindakan adalah sebesar 80 dengan nilai terendah dicapai pada angka 20. Kemudian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa mendapatkan nilai dalam kriteria cukup yaitu sejumlah 9 siswa. Siswa yang mencapai nilai sangat baik sejumlah 0 siswa, baik sejumlah 7 siswa, kurang sejumlah 14 siswa dan sangat kurang sejumlah 16 siswa. Diperoleh kesimpulan bahawa rata-rata kemampuan awal siswa masih berada pada kriteria sangat kurang yaitu sejumlah 16 siswa. Maka dalam hal ini peneliti akan melaksanakan tahap selanjutnya yaitu siklus I.

Deskripsi Hasil Pelaksanaan Siklus I

Dapat diketahui dari 46 siswa kelas IVB SD PAB 15 Klambir Lima nilai tertinggi yang diperoleh 100 sedangkan nilai terendah adalah 40 disimpulkan bahwa terjadi peningkatan nilai rata-rata kelas dari

tahap pra siklus ke siklus I. Peningkatan terjadi sebesar 19,13 dari 45,87 menjadi 65. Sedangkan presentase jumlah siswa yang tuntas belajar pada pra siklus sebesar 15,21% meningkat menjadi 58,69% pada siklus I. Hal ini menunjukan terjadi peningkatan presentase ketuntasan belajar siswa sebesar 43,48%. Sedangkan persentase jumlah siswa yang belum tuntas pada pra tindakan sebesar 84,78% menjadi 41,30% pada siklus I. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan presentase siswa yang tidak tuntas sebesar 43,48%.

Deskripsi Hasil Pelaksanaan Siklus II

Hasil evaluasi siklus II mendapatkan rata-rata kelas sebesar 75 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 50. Jumlah siswa yang mencapai kriteria tuntas atau ≥ 70 adalah 39 siswa atau sebesar 84,78%, sedangkan jumlah siswa yang belum mencapai tuntas atau ≤70 sejumlah 7 anak dengan persentase sebesar 15,21%. Maka dapat diperoleh perbandingan dan presentase ketuntasan hasil belajar pada taham pra siklus, siklus I dengan siklus II sebagai berikut:

Tuntas 0,00%

100,00%

Pra SiklusSiklus ISiklus II

Pra Siklus Siklus I Siklus II

Tuntas 15,21% 58,69% 84,78%

Tidak Tuntas 84,78% 41,30% 15,21%

Presentase Ketuntasan

Hasil Belajar

Diagram 1. Persentase ketuntasan Hasil Belajar Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II

(5)

Page | 546 ojs-unita.com

Selanjutnya perbandingan rata-rata dari pra siklus, siklus I dan siklus II dapat diliahta pada tabel berikut:

Tabel 1. Perbandingan dan presentase Nilai Rata-rata Setiap Tindakan

Tahap Kreteria Pra Siklus Siklus I Siklus II Rata-Rata 45,87 65 75 Ketuntas an 7 27 39 Presentas e 15,21 % 58,69 % 84,78? %

Dapat dijelaskan bahwa terjadi peningkatan rata-rata kelas pada setiap tahap tindakan. Pada tahap pra siklus, siklus I dan siklus II, rata-rata kelas meningkat sebesar 19,13. Sedangkan peningkatan juga dialami pada siklus I dengan siklus II yaitu sebesar 10 meningkat pada kegiatan siklus II. 1. Aktivitas Siswa

Observasi aktivitas siswa dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Data hasil observasi aktivitas siswa siklus I dan II dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2. Presentase Rata-rata Peningkatan Aktivitas Siswa Sikl us Pertem uan Presen tase Aktivit as Kate gori I Pertam a 75% Baik Kedua 77% Sang at Baik II Pertam a 80% Sang at Baik Kedua 82% Sang at Baik

Aktivitas siswa setiap pertemuan terdapat peningkatan. Pada pertemuan I siklus I aktivitas siswa presentasenya adalah 75%. Pada pertemuan II siklus I meningkat 2% menjadi 77%. Pada pertemuan I siklus II meningkat 3% menjadi 80%. Pada Pertemuan II siklus II meningkat 2% menjadi 82%.

2. Aktivitas Guru

Observasi aktivitas guru dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan pembelajaran.Data hasil observasi aktivitas guru siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3. Presentase Rata-rata Peningkatan Aktivitas Guru Siklu s Pertemua n Presenta se Aktivitas Katego ri I Pertama 75% Baik Kedua 77% Sangat Baik II Pertama 77% Sangat Baik Kedua 80% Sangat Baik Aktivitas guru setiap pertemuan terdapat peningkatan. Pada pertemuan I siklus I aktivitas guru presentasenya adalah 75%. Pada pertemuan II siklus I meningkat 2% menjadi 77%. Pada pertemuan I siklus II 77%. Pada Pertemuan II siklus II meningkat 7% menjadi 80%.

(6)

Page | 547 ojs-unita.com

5. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pelaksanaan penelitian yang telah dilakukan disimpulkan bahwa:

1. Model pembelajaran Mind mapping dapat meningkatkan hasil belajar Matematika pada materi Bilangan Bulat kelas IVB SD PAB 15 Klambir Lima. Peningkatan hasil belajar siswa ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar siswa pada setiaptindakan, Nilai rata-rata pada siklus I adalah 65 dan nilai rata-rata pada Siklus II dengan nilai 75. Jumlah siswa yang mencapai KKM juga meningkat, pada siklus I terdapat 27 siswa dengan presentase 58,69% dan pada siklus II sebanyak 39 siswa dengan presentase 84,78%. Dengan demikian hal tersebut sudah memenuhi kreteria keberhasilan yang ditentukan yaitu 85%.

2. Meningkatnya hasil belajar matematika dengan penerapan model mind mappingapat dilihat dari langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan yaitu: 1). Peneliti menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai; 2). Peneliti mengemukakan konsep/permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban; 3). Membentuk kelompok 4-5 orang; 4). Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi; 5). Tiap kelompok (diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat dipapan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan peneliti; 6). Dari data-data dipapan peserta didik diminta membuat kesimpulan atau guru memberi perbandingan sesuai konsep yang disediakan guru

DAFTAR PUSTAKA

[1] Antonius Cahya Prihandoko, (2006:18). Memahami Konsep Matematika secara Benar

Dan Menyajikannya Dengan Menarik.Jakarta: Depdiknas.

[2] Antonius. 2006. Pemahaman Dan Penyajian Konsep Matematika Secara Benar Dan Menarik. Jakarta : Dapartemen Pendidikan Nasional.

[3] Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Asdi Mahasatya.

[4] Buzan, Tony.2008.Mind Mapping untuk anak. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. [5] Darusman Rijal. 2014. Penerapan Metode

Mind Mapping (Peta Pikiran) Untuk Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kreatif Matematika Siswa SMP. Jurnal Ilmiah Prodi Matematika STKIP Siliwangi Bandung. Vol. 3(2) 164-174.

[6] Hamzah B. Uno, Model Pembelajaran ( Menciptakan Proses: Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif ), Jakarta. Bumi Aksara, 2007.

[7] Heruman. 2010. Model Pembelajaran Matematika. Bandung : Remaja Rosdakarya. [8] Muhsetyo, Gatot. 2009.Materi pokok

pembelajaran Matematika SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

[9] Wina Sanjaya, Strategi pembelajaran Berorientasi Standar Proses

Pendidikan,Jakarta, Kencana Prenada Media Group, 2006.

Gambar

Diagram 1. Persentase ketuntasan Hasil Belajar  Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II
Tabel 3. Presentase Rata-rata Peningkatan  Aktivitas Guru  Siklu s  Pertemuan  Presentase  Aktivitas  Kategori  I  Pertama  75%  Baik  Kedua  77%  Sangat  Baik  II  Pertama  77%  Sangat  Baik  Kedua  80%  Sangat  Baik

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara motivasi belajar dan kepercayaan diri dengan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 3

Desa atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur

Sehubungan dengan hal tersebut kami mohon untuk dapat memenuhi undangan kami untuk Pembuktian Kualifikasi dan diwajibkan membawa dokumen asli/salinan (copy) yang tercantum pada

Ketiga : Dengan berlakunya Kode Etik Auditor Inspektorat Jenderal Departemen Agama yang ditetapkan dalam keputusan ini, maka ketentuan kode etik auditor yang diatur

4 Mabesad, Doktrin TNI AD KEP, Hal 64.. dan PP Nomor 21 tahun 2008 tentang penyelenggaraan penanggulangan bencana. 2) Ditinjau dari UU RI Nomor 24 tahun 2007 tentang

Pengamatan dengan DSC pada berbagai ukuran granula memperlihatkan nilai entalpi dan kisaran suhu gelatinisasi yang lebih rendah dari ukuran granula yang lebih

Budiman, ST., M.Comp.Sc., M.E.M beserta seluruh Staf Pengajar Pada Program Studi Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas MIPA Universitas Sumatera

Pertanyaan yang diajukan dalam wawancara adalah kondisi pengendalian internal, kinerja keuangan, permasalahan risiko internal dan eksterna,l serta potensi kecurangan