• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KELIMPAHAN SEL MIKROALGAE AIR TAWAR (Chlorella sp.) TERHADAP PENAMBATAN KARBONDIOKSIDA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH KELIMPAHAN SEL MIKROALGAE AIR TAWAR (Chlorella sp.) TERHADAP PENAMBATAN KARBONDIOKSIDA"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KELIMPAHAN SEL MIKROALGAE AIR

TAWAR

(Chlorella sp.)

TERHADAP PENAMBATAN

KARBONDIOKSIDA

Effect of Microalgae Cell Density (Chlorella sp) on Absorption of

Carbondioxide

Nida Sopiah, Adi Mulyanto, Sindi Sehabudin

Balai Teknologi Lingkungan

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi,

Gedung Geostech 820 Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Banten 15314 Email: [email protected]

Diterima: 16 Agustus 2012; Dikoreksi: 31 Agustus 2012; Disetujui: 08 September 2012

Abstract

Chlorella sp. is a single-cell microalgae that lives in aquatic environment. It grows and develops by making use of sunlight as an energy source and carbon dioxide (CO2) as carbon source.

Chlorella sp. can be utilized as biological agents in reducing CO2 gas emissions in the

atmosphere. The purpose of this experiment was to assess the influence of microalgae’s increasing density to its capability in absorbing CO2.The air which contains CO2 was injected to a

closed photobioreactor intermittently by an aerator. The flow rate applied was 2.5 liters/minute. Research result identified that amount of CO2 sequestered by Chlorella sp. in photobioreactor

system was equal with increasing of microalgae biomass density. Sequestration of CO2 in

photobioreactor significantly increased at the afternoon because occurring of photosynthesis process. This phenomenon was identified by difference of CO2 concentration during morning and

afternoon toward photobioreactor number 1, 2, and 3. The difference was in between 0.15 % - 2.40 %; 0.05 % - 2.30 %; and 0.51 % - 2.74 % respectively. Capability of cell on sequestering of CO2 increased amounting of 102 – 167.2 % per day.

Keywords: Chlorella sp, carbondioxide, sequestration, microalgae abundance

Abstrak

Chlorella sp. merupakan mikroalgae bersel tunggal yang hidup di lingkungan perairan, tumbuh dan berkembang dengan memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber energi dan

karbondioksida sebagai sumber karbon. Chlorella sp. dapat dimanfaatkan sebagai agensia hayati

dalam menurunkan emisi gas CO2 di atmosfer. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengkaji

pengaruh kelimpahan Chlorella sp. terhadap penambatan karbon dioksida dalam mereduksi

emisi karbondioksida. Pada penelitian ini, gas CO2 diinjeksikan ke dalam fotobioreaktor sistem tertutup dengan sistem intermiten dan supply oksigen menggunakan aerator dengan debit sebesar 2,5 liter/menit. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa jumlah karbondioksida yang

ditambat oleh Chlorella sp. dalam sistem fotobioreaktor setara dengan penambahan kelimpahan

biomassa mikroalgae. Panambatan karbondioksida pada fotobioreaktor mengalami peningkatan sangat signifikan pada siang hari karena adanya proses fotosintesis yang ditunjukkan dengan adanya selisih konsentrasi CO2 saat pagi dan sore hari pada masing-masing fotobioreaktor 1, 2 dan 3 berkisar antara 0,15 % - 2,40 %; 0,05 % - 2,30 % dan 0,51 % - 2,74 %. Sedangkan efisiensi kemampuan penambatan CO2 oleh setiap sel Chlorella sp. selama 21 hari dibandingkan terhadap inokulasi hari pertama menunjukkan peningkatan yang signifikan dengan nilai efisiensi masing-masing 67,2 %; 144,6 %; 222,6 %; 308,8 %; 364,2 %; 416,1 %; 447,0 %; 470,8 %; 505,9 %; 555,0 %; 571,4 %; 581,0 %; 587,7 %; 612,6 %; 626,6 %; 656,6 %; 684,7 %; 715,3 %; 733,9 %; dan pada hari ke-21 meningkat sebesar 750,5 %. Dan kemampuan setiap sel dalam

menambat CO2 setiap hari mampu meningkatkan sebesar 102 % -167,2 %.

(2)

1. PENDAHULUAN

Pemanasan global merupakan issue terhangat

saat ini. Dalam kurun tiga dasawarsa terakhir iklim di Indonesia mengalami perubahan yang cukup dinamis. Salah satu kondisi yang bisa dirasakan adalah semakin naiknya suhu serta kian beragamnya pola iklim saat ini. Suhu yang

makin tinggi berpengaruh terhadap

meningkatnya evaporasi dan evapotranspirasi, yang berujung pada kian menipisnya cadangan ketersediaan air. Salah satu indikator yang digunakan untuk menganalisa issue pemanasan global adalah bertambahnya gas rumah kaca, terutama gas CO2 secara cepat akibat kegiatan manusia. Sejauh ini berbagai upaya telah mulai dilakukan oleh manusia untuk mengurangi dampak pemanasan global, seperti program penanaman kembali (reboisasi), penghematan energi, penggunaan energi baru dan terbarukan,

dan pemanfaatan berbagai teknologi

penambatan dan penyimpanan karbon atau

carbon capture and storage(CCS)[1].

Mikroalga sebagai tumbuhan mikroskopis bersel tunggal yang hidup di lingkungan perairan, tumbuh dan berkembang dengan memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber energi dan nutrien anorganik seperti CO2,

komponen nitrogen terlarut dan fosfat.

Kemampuan fitoplankton (mikroalga) untuk berfotosintesis, seperti tumbuhan darat lainnya, dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk menyerap CO2. Selain potensinya yang besar sebagai sumber bahan baku energi baru dan terbarukan, mikroalga juga dapat berperan

dalam menurunkan emisi gas CO2 di atmosfer.

Alasan utama pemilihan mikroalga sebagai biota yang dapat dimanfaatkan secara optimal

untuk mengurangi emisi CO2 adalah karena

meskipun jumlah biomassa mikroalga hanya 0,05 % biomassa tumbuhan darat, namun jumlah C yang dapat digunakan dalam proses fotosintesis sama dengan jumlah C yang difiksasi oleh tumbuhan darat. Selain itu sistem

kultur alga mampu menghilangkan CO2 dan NOx

dari cerobong asap dimana untuk keperluan itu diperlukan budidaya alga berupa fotobioreaktor. Dengan teknologi fotobioreaktor ini, tingkat produktivitas alga dapat ditingkatkan menjadi 2 hingga 5 kali lebih tinggi dari kondisi normalnya[1].

Chlorella sp. merupakan kelompok organisme protista autotrof, yakni protista yang

mampu membuat makanannya sendiri, karena

organisme ini mempunyai pigmen klorofil,

sehingga dapat melakukan fotosintesis.

Chlorella sp. termasuk salah satu kelompok alga hijau yang paling banyak jumlahnya diantara alga hijau lainnya, 90% chlorella hidup di air tawar dan 10% chlorella sp. hidup di air laut[2]. Dalam kegiatan penelitian ini, Chlorella sp.

digunakan sebagai agensia hayati karena kelimpahannya di perairan tawar, mampu

memfiksasi CO2, kecepatan tumbuhnya yang

cepat juga produksi biomassa yang dihasilkan sangat bermanfaat bagi kehidupan.

Tujuan dari penelitian adalah untuk mengkaji pengaruh peningkatan biomassa (Chlorella sp)

terhadap kemampuan penambatan

karbondioksida dalam mereduksi emisi

karbondioksida. .

2. BAHAN DAN METODE 2.1. Alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah fotobioreaktor, detector gas analyzer

Riken RX-515, Spektrofotometer UV-Vis Jasco V-530, Spektrometri Serapan Atom Shimadzu

AA-6800, aerator DRAGON dengan debit 2,5

liter/menit dan Air pump YASUNAGA LP-40A

dengan debit 80 liter/menit, flow meter ONDA,

motor penggerak baling-baling JY2B-4, Timer

Legrand, gelas ukur, Labu Erlenmeyer.

2.2. Bahan-bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi bahan uji dan bahan pendukung. Bahan uji yang digunakan adalah stok bibit clhorella sp., sedangkan bahan pendukung meliputi air

ultra filtrasi, pupuk Dutatonik H-16 (N, P, K)3),

2.3. Prosedur Kerja Persiapan Fotobioreaktor

Kapasitas fotobioreaktor yang digunakan

sebesar 1200 liter, berbahan baja, berukuran 5 x 1,2 m, dan tinggi 20 cm, yang dilengkapi dengan aerasi dengan debit aerator sebesar 2,5 liter/ menit, dan dilengkapi pula dengan baling-baling, sebagai pengaduk.

Persiapan Gas Holder

Gas holder yang disiapkan terdiri dari satu buah

gas holder penampung dan gas holder

penyuplai. Gas holder ini terbuat dari bahan plastik tak berpori dengan volum 500 liter untuk

gas holder penampung, dan 200 liter untuk gas holder penyuplai. kedua ujungnya ditutup dengan pipa PVC dengan keran sebagai

pengalirnya. Fungsi gasholder menampung gas

karbon diokida yang akan disuplai ke

masing-masing fotobioreaktor. Masing-masing-masing gas

holder dilengkapi dengan aerator sebagai pendorong gas karbon dioksida dengan debit 80 liter/menit.

Persiapan Media

Media yang digunakan adalah air ultra filtrasi.

Air ultra filtrasi adalah air yang dibuat melalui penyaringan menggunakan filter berukuran 0,01

(3)

mikron dan 2 buah membran polyethilen. Untuk setiap 1200 mL bibit Chlorella sp. digunakan 20 liter air ultra filtrasi. Media ini digunakan untuk

pertumbuhan Chlorella sp. Pupuk yang

digunakan adalah pupuk Dutatonik H-16[3], yang memiliki komposisi nitrat, posfat, kalium, magnesium, kalsium, besi dan aluminium. (cantumkan konsentrasi nya dalam bentuk tabel).

2.3.4. Penebaran Bibit

Sebanyak 10 stok bibit Chlorella sp.

berkapasitas 600 ml dalam labu Erlenmeyer

1000 mL yang telah diinokulasi selama 2 minggu, dipindahkan ke dalam botol plastik berukuran 600 mL. Setiap 2 stok bibit Chlorella sp. dalam botol plastik berukuran 600 mL, dipindahkan ke dalam plastik transparan tak berpori berkapasitas 20 liter yang telah berisi air

ultra filtrasi. Selanjutnya ke-5 kantong plastik transparan tak berpori yang berisi stok bibit

Chlorella sp. tersebut diinokulasikan selama 2 minggu. Setelah 2 minggu ke-5 kantong plastik trasnparan yang berisi stok bibit Chlorella sp.

tersebut dimasukkan ke dalam fotobioreaktor. Selanjutnya aerator dan baling-baling diaktifkan.

2.3.5. Operasional Fotobioreaktor

Pada kegiatan ini, gas CO2 diinjeksikan ke dalam fotobioreaktor dengan sistem intermiten

(24 kali x 20 menit) untuk diketahui kecepatan penyerapannya per hari. Gas CO2 dialirkan ke dalam reaktor dengan sistem tertutup dari dasar reaktor dengan menggunakan aerator dengan debit sebesar 2,5 liter/menit.

2.3.6. Pengukuran dan Sampling

Pengukuran dan sampling dilakukan setiap hari dua kali, yaitu pukul 09.00 WIB dan pukul 15.00 WIB. Titik pengukuran gas CO2 berada pada posisi di atas posisi titik sampling dengan jarak 25 cm dari titik sampling larutan, dengan jarak 1 meter dari sudut fotobioreaktor. Titik sampling larutan alga, berada pada posisi di bawah titik pengukuran gas CO2, dengan jarak 1 meter dari sudut fotobioreaktor.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Analisis Kelimpahan Sel dan Populasi

Chlorella sp.

Kelimpahan sel di dalam kolam kultur merupakan salah satu faktor yang perlu

diperhatikan dalam penambatan CO2 karena

kelimpahan sel yang tidak seimbang dapat berpengaruh terhadap efisiensi penambatan dari sistem tersebut[3]. Transfer kultur mikroalgae

dalam rangka scale up dilakukan secara

bertahap setiap 2 minggu, sampai diperoleh kultur mikroalgae sebanyak 10% dengan

kelimpahan populasi Chlorella sp. sebelum

dimasukkan ke dalam masing-masing

fotobioreaktor sebesar 22.000.000 sel/mL Dari hasil pengamatan yang dilakukan selama 21 hari, menunjukkan terjadinya

peningkatan jumlah sel pada ketiga

fotobioreaktor. Pertumbuhan sel Chlorella sp.

pada ketiga fotobioreaktor hingga hari ke-12 tidak ada perbedaan yang nyata. Jumlah kelimpahan sel Chlorella sp .pada fotobioreaktor 1, 2 dan 3 berturut-turut mengalami peningkatan menjadi 49.030.000 sel/mL, 44.020.000 sel/mL dan 44.000.000 sel/mL. Pada hari ke-13 terjadi

penurunan jumlah sel Chlorella sp. pada

fotobioreaktor ke-2 menjadi 25.540.000 sel/mL (gambar 1).

Penurunan kelimpahan jumlah sel Chlorella

sp. Ini disebabkan adanya kerusakan mesin

baling-baling pemutar pada fotobioreaktor ke-2, sehingga proses suplai CO2 tidak merata, selain itu sirkulasi media kultur, penting untuk

mempertahankan temperatur agar tetap

homogen, tidak berfungsi, sehingga

menyebabkan kematian sebagian Chlorella sp.

pada fotobioreaktor ke-2. Sampai hari ke-16

penurunan kelimpahan sel Chlorella sp.

mencapai 19.750.000 sel/mL. Peningkatan

Chlorella sp pada fotobioreaktor ke-2 terjadi setelah dilakukan perbaikan pada mesin pompa.(gambar 1) Kelimpahan sel mengalami peningkatan yang cukup signifikan terjadi pada hari ke-21 dimana kelimpahan sel Chlorella sp.

pada masing-masing fotobioreaktor 1, 2 dan 3 berturut-turut mencapai 60.590.000 sel/mL, 34.070.000 sel/mL dan 56.920.000 sel/mL. Data di atas menunjukkan bahwa kelimpahan jumlah sel Chlorella sp. pada fotobioreaktor 2 hampir separuh dari fotobioreaktor 1 dan 3. Hal ini

dimungkinkan karena pertumbuhan Chlorella sp.

yang tidak merata dan adanya kematian sebagian pada Chlorella sp pada fotobioreaktor-2 menyebabkan terjadinya perbedaan jumlah populasi Chlorella sp. pada fotobioreaktor-2 dibandingkan dengan fotobioreaktor 1 dan 3. Hal ini membuktikan bahwa pengaruh pengadukan merupakan salah satu faktor yang

berpengaruh signifikan terhadap laju

peningkatan kelimpahan sel Chlorella sp, karena dengan adanya proses pengadukan suplai CO2 menjadi menjadi homogen.

Konsentrasi CO2 yang dialirkan melalui gas

holder mencapai 10 %, namun demikian, dari

hasil percobaan ini, Chlorella sp. mampu

beradaptsi dengan kondisi lingkungan yang

baru, dengan kemampuannya menambat CO2,

Hal ini ditunjukkan dengan jumlah sel Chlorella

sp. yang terus meningkat dan warna hijau

Chlorella sp. yang semakin pekat. Peningkatan jumlah sel juga berpengaruh terhadap pH.

(4)

Gambar 1. Pertumbuhan sel Chlorella sp. pada fotobioreaktor Perubahan nilai pH dipengaruhi oleh beberapa

faktor seperti aktivitas biologis seperti fotosintesis dan respirasi organisme, suhu, serta mineral dalam perairan.

Pada ke-3 fotobioreaktor terjadi penurunan pH larutan. pH larutan awal pada saat inokulasi sebesar 8 menjadi 6,98 pada fotobioreaktor 1; 7,21 pada fotobioreaktor 2; dan 6,96 pada pada fotobioreaktor 3.

Penurunan pH ini “DIDUGA” disebabkan terbentuknya asam lemah yang terbentuk dari karbondioksida dan air membentuk asam karbonat.

Berdasarkan penelusuran literatur pH tersebut

masih memenuhi syarat untuk budidaya Chlorella

sp. Berdasarkan penelusuran literatur pH

optimum untuk pertumbuhan Chlorella sp. adalah

6,6 – 8[4].

3.1. Pengukuran Gas Karbondioksida yang Keluar dan Oksigen yang Dihasilkan pada Sistem Fotobioreaktor

Chlorella sp. bersifat autotrof mampu mensintesis makanan langsung. dari senyawa anorganik.

Chlorella sp.menggunakan karbon dioksida dan air untuk menghasilkan gula dan oksigen yang diperlukan sebagai makanannya. Energi untuk menjalankan proses ini berasal dari fotosintesis, dengan persamaan reaksi sebagai berikut: 6H2O + 6CO2 + cahaya → C6H12O6 (glukosa) + 6O2...(1) Glukosa dapat digunakan untuk membentuk senyawa organik lain seperti selulosa dan dapat

pula digunakan sebagai bahan bakar. Proses ini berlangsung melalui respirasi seluler. Secara umum reaksi yang terjadi pada respirasi seluler berkebalikan dengan persamaan di atas. Pada respirasi, gula (glukosa) dan senyawa lain akan bereaksi dengan oksigen untuk menghasilkan karbon dioksida, air, dan energi kimia[5]

Fotosintesis adalah suatu proses biokimia yang dilakukan tumbuhan, mikroalgae, untuk memproduksi energi terpakai (nutrisi) dengan memanfaatkan energi cahaya. Hampir semua makhluk hidup bergantung dari energi yang

dihasilkan dalam fotosintesis. Akibatnya

fotosintesis menjadi sangat penting bagi kehidupan di bumi. Pada penelitian ini kemampuan fotobioreaktor dapat dipantau dari aktivitas fotosintesis Chlorella sp pada pagi dan sore hari. Data menunjukkan bahwa ke-3 fotobioreaktor mengalami penurunan gas CO2

pada sore hari. Ini menunjukkan bahwa gas

karbondioksida dimanfaatkan oleh Chlorella sp

untuk mengalami fotosintesis, sehingga terjadi penurunan gas karbondioksida pada sore hari. Hal yang berbeda terjadi pada pada konsentrasi O2 pada sore, terlihat bahwa nilai konsentrasi O2 pada sore hari lebih besar

dibandingkan pada pagi hari. Hal ini

menunjukkan bahwa dengan adanya cahaya matahari dan karbondioksida dihasilkan gas Oksigen sehingga konsentrasi gas Oksigen meningkat pada sore hari dibandingan pada pagi hari. Seperti tampak pada gambar 2, 3 dan 4. Hal ini membuktikan bahwa telah terjadi

proses penambatan CO2 melalui proses

(5)

penambatan CO2 pada sore hari, maka akan sedikit CO2 yang keluar dari sistem fotobioreaktor dan dihasilkan O2 sebagai hasil samping dari

pembentukan glukosa melalui proses

fotosintesis.

Gambar 2. Jumlah CO2 yang keluar dan O2 pada kolam 1

Gambar 3. Jumlah CO2 yang keluar dan O2 pada kolam 2

Gambar 4. Jumlah CO2 yang keluar dan O2 pada kolam 3

Proses penambatan CO2 lebih banyakterjadi pada siang hari atau sore hari, pada saat cahaya matahari berkisar antara 2-3 kilo lux, dimana

proses penambatan CO2 melalui proses

fotosintesis akan mudah berlangsung.

Sebagaimana terlihat pada grafik di atas bahwa

terdapat perbedaan nilai CO2 yang keluar pada saat pagi hari dan sore hari.

Nilai CO2 pada pagi hari terlihat lebih besar dibandingkan nilai CO2 pada saat sore hari, hal ini karena pada saat pagi hari intensitas cahaya yang dibutuhkan dalam proses kurang dari 2 – 3 kilolux, sehingga nilai CO2 yang keluar pun akan

besar. Pada proses penambatan CO2 terdapat

beberapa kendala yang menyebabkan proses penambatan itu berjalan lambat. Diantaranya adalah cahaya matahari yang kurang saat cuaca mendung atau hujan. Hal ini menjadi kendala paling penting dalam penelitian yang berorientasi pada reduksi emisi polutan CO2 pabrik.

3.2. Efisiensi penambatan CO2 oleh

Chlorella spdalam Sistem Fotobioreaktor

Kelimpahan sel dalam sistem fotobioreaktor

sangat berperan dalam proses penambatan CO2

oleh Chlorella sp. Sehingga akan mempengaruhi

terhadap jumlah. Berdasarkan data hasil

penelitian menunjukkan bahwa selain

kelimpahan sel, waktu inokulasi berperan signifikan terhadap jumlah CO2 yang tertambat seperti yang ditunjukkan pada gambar 5.

Gambar 5. Pengaruh waktu inokulasi Chlorella

sp pada sistem fotobioreaktor terhadap

penambatan CO2

Dari grafik di atas diketahui bahwa efisiensi kemampuan penambatan CO2 oleh setiap sel

Chlorella sp. dalam sistem fotobioreaktor dipengaruhi oleh waktu inokulasi.

Pada fase pertumbuhan algae akan lebih

banyak membutuhkan CO2, sehingga proses

penambatan akan berlangsung lebih cepat[6].

Pengaruh waktu inokulasi terhadap

kemampuan penambatan CO2 mampu

meningkatkan kemampuan sel dalam menambat

(6)

inokulasi mikroalgae dibandingkan terhadap inokulasi hari pertama menunjukkan peningkatan yang signifikan seperti yang ditunjukkan data berikut ini. Pada hari pertama terjadi peningkatan sebesar 67,2 %; dan hari-hari berikutnya menunjukkan peningkatan sebesar 144,6 %; 222,6 %; 308,8 %; 364,2 %; 416,1 %; 447,0 %; 470,8 %; 505,9 %; 555,0 %; 571,4 %; 581,0 %; 587,7 %; 612,6 %; 626,6 %; 656,6 %; 684,7 %; 715,3 %; 733,9 %; dan pada hari ke-21 meningkat sebesar 750,5 %.

Gambar 6. Pengaruh waktu inokulasi pada sistem fotobioreaktor terhadap peningkatan

kemampuan penambatan CO2/sel Chlorella sp

Sedangkan kemampuan setiap sel dalam

menambat CO2 meningkat sebesar 167,2 %

pada hari pertama setelah inokulasi dan berturut-turut mengalami penurunan menjadi 146,2% pada hari ke-2, selanjutnya 131,9%, 126,7%, 113,6 %, 111,2 %; 106,0 % 106,2 %; 108,1 %; dan mulai stabil pada hari ke- 10 sampai hari terakhir (hari ke-21) masing-masing sebesar 104,4 %, 102,5 %, 101,4 %, 101,0 %, 103,6 %; 102,0 %; 104,1 %; 103,7 %; 103,9 %; 102,3 %; 102,0 %.

4. KESIMPULAN

Panambatan karbondioksida pada fotobioreaktor mengalami peningkatan sangat signifikan pada siang hari karena adanya proses fotosintesis yang ditunjukkan dengan adanya selisih konsentrasi CO2 saat pagi dan sore hari pada masing-masing fotobioreaktor 1, 2 dan 3 berkisar antara 0,15 % - 2,40 %; 0,05 % - 2,3 % dan 0,51 % - 2,74 %.

Sedangkan efisiensi kemampuan penambatan CO2 oleh setiap sel Chlorella sp. selama 21 hari dibandingkan terhadap inokulasi hari pertama

menunjukkan peningkatan yang signifikan

dengan nilai efisiensi masing-masing 67,2 %; 144,6 %; 222,6 %; 308,8 %; 364,2 %; 416,1 %; 447,0 %; 470,8 %; 505,9 %; 555,0 %; 571,4 %;

581,0 %; 587,7 %; 612,6 %; 626,6 %; 656,6 %; 684,7 %; 715,3 %; 733,9 %; dan pada hari ke-21 meningkat sebesar 750,5 %. Dan kemampuan setiap sel dalam menambat CO2 setiap hari mampu meningkatkan sebesar 102 -167,2 % selama 21 hari.

DAFTAR PUSTAKA

1. Setiawan, A., 2008, Teknologi Penyerapan Karbondioksida dengan kultur Fitoplankton pada Fotobioreaktor, JTL-BPPT, Jakarta

2. Pitriana, P. Dan Rahmatia, D., 2008, Bioekspo, Menjelajah Alam dengan Biologi, Jatra Graphics: Solo

3. Adi, M., 2010, Mikroalga (Chlorella sp.) sebagai Agensia Penambat Gas Karbon Dioksida, J. Hidrosfir Indonesia, Vol 5(2), hal 13 -23

4. Yani dan Yosar, 2009, Pemanfaatan Algae Chlorella sp. Dan Eceng Gondok untuk Menurunkan Tembaga (Cu) pada industri Pelapisan Logam. Jurusan Teknik Kimia, FakultasTeknik, Universitas Diponegoro, Semarang

5. Cleon dan Frank, 1995, Fisiologi Tumbuhan, Jilid 2, Institut Teknologi Bandung, Bandung

6. Robert dan Kenneth, 2005, Carbon Sequestration, PEW Centre Global Climate Change: J.U.S 7. Mulia, R.M., 2005, Kesehatan Lingkungan, Graha

Ilmu UIEU – University Press: Yogyakarta

8. Razak, A, 2007, Kajian Yuridis Carbon Trade dalam Penyelesaian Efek Rumah Kaca, Makalah Etika dan Kebijakan Perundangan Lingkungan UGM

9. Rostini, I., 2007, Kultur Fitoplankton (Chlorella sp., dan Tetraselmis chuii) pada Skala Laboratorium, J. Universitas Padjadjaran Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Jatinangor.

10. Sidabutar, E., 1999, Pengaruh Jenis Medium Pertumbuhan Mikroalgae Chlorella sp. Terhadap Aktivitas Senyawa Pemacu Pertumbuhan yang Dihasilkan, Skripsi, Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor

11. Zame, K.K., 2010, Carbon Capture Using the Microalgae Chlorella Vulgaris in a Packed Bubble Column Photobioreactor, Thesis, Youngstown State University, hal. 25-26

Referensi

Dokumen terkait

4.1 Profil Tingkat Kematangan Karir Mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta Tahun Akademik 2015/2016

Lulusan dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah. Riduwan, Metode dan Teknik Menyusun Tesis Bandung, Alfabeta, 2006. Rohani, Ahmad, Pengelolaan Pengajaran,

Information systems play an important role helping companies optimize their business processes to achieve corporate objectives and increase competitive advantage in the face

Polimer adisi dapat terbentuk apabila monomer rantai karbon berikatan rangkap (senyawa tak jenuh). Pada pembentukan ini, jumlah mono- mer yang bergabung membentuk polimer jumlah

[r]

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara prokrastinasi akademik dengan prestasi belajar pada siswa yang

Dalam penelitian ini dilakukan penentuan Key Performanced Indicator (KPI) melalui 4 perspektif Balanced Scorecard untuk perbaikan sistem penilaian kinerja di departemen

dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional tentang Pembentukan Organisasi, Wilayah Kerja,