• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Al Amar Vol.1 No.3, Mei 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Al Amar Vol.1 No.3, Mei 2020"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN MANUSIA DALAM KEHIDUPAN FATALISME I.Solihin

Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung

Email : [email protected] Koko Adya Winata Email : [email protected] Andewi Suhartini Email : [email protected] Nurwadjah Email : [email protected] Abstrak

Bangsa-bangsa di dunia, termasuk Indonesia saat ini mengalami masa-masa sulit karena Covid 19, sebagai dampak dari itu, krisis social, krisis ekonomi sampai pada krisis mental tak dapat terhindarkan, karena sangat bersinggungan dengan masalah pemenuhan kebutuhan hidup, baik sandang maupun pangan, terutama masyarakat berlabel tingkat menengah ke bawah. Dampak lain yang dihawatirkan muncul adalah sikap fatalisme, yaitu sikap atau paham seseorang putus asa dalam segala hal, dan ia mengatakan sudah ditentukan oleh nasib, hingga ia apriori dan stagnan. Sikap inilah yang harus di warpadai, karena dapat mengganggu terhadap berbagai upaya yang dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid 19. Penanganan ini tidak bisa bersipat farsial, tapi harus menyeluruh, kompak dan bersama-sama. Oleh karena itu di butuhkan peran-peran orang atau manusia apakah sebagai Abdullah, sebagai mahluk social atau sebagai halifah ? Melalui peran-peran tersebut kesalihan sebagai hamba akan nampak dalam kepribadiannya sebagai orang yang kuat keimanannya, sebagai mahluk social, akan tampak kesaleh sosialnya yang ditunjukan salah satunya dengan kepedulian terhadap orang lain atau pada kondisi yang ada, sedangkan jiwa kehalifahan dapat menjamin ketenangan, kenyaman bagi warga masyarakat dengan keteladanan, pengayoman untuk membuat hidup tertib dan teratur sesuai dengan norma social yang berlaku saat ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang bagaimana peranan manusia dalam kehidupan fatalis, hingga mengetahui secara detail dan rinci apa yang harus diperbuat dalam menghadapi kehidupan yang fatalis, hingga ia tetap dapat bertahan hidup istiqomah. Penelitian termasuk kedalam penelitian deskriptif kualitatif. Adapun metode pengumpulan datanya penulis menggunakan metode studi pustaka dan studi dokumentasi. Studi pustaka, artinya penulis langsung penelaahan terhadap buku-buku, litertur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dikaji. Sedangkan metode dokumentasi adalah pengumpulan data dengan cara melihat langsung sumber-sumber dokumen yang terkait. Dengan arti lain bahwa dokumentasi sebagai Pengambilan data melalui dokumen tertulis maupun elektronik. Digunakan untuk mendukung kelengkapan data yang lain.

(2)

Abstract

The nations of the world, including Indonesia, are currently experiencing hard times because of Covid 19, as a result of that, social crises, economic crises to mental crises are unavoidable, because they are deeply in contact with the problem of meeting the needs of life, both clothing and food , especially those labeled with lower middle level. Another impact that is feared to emerge is the attitude of fatalism, which is the attitude or understanding of a person who is hopeless in everything, and he says it is determined by fate, until he is a priori and stagnant. This attitude must be watched out, because it can interfere with the various efforts made to prevent the spread of Covid 19. This treatment cannot be compounded farsial, but must be thorough, compact and together. Therefore we need the roles of people or humans as Abdullah, as social beings or as khalifah? Through these roles, transgression as a servant will appear in his personality as a person of strong faith, as a social being, his social piety will be shown, one of which is shown by caring for others or in existing conditions, while the soul of the Caliphate can guarantee calm, comfort for community members with exemplary, patronized ways to make life orderly and orderly in accordance with current social norms. The purpose of this research is to find out about how the role of humans in fatalist life, to know in detail what must be done in the face of a fatalist life, so he can still survive istiqomah. Research included in the descriptive qualitative research. The method of collecting data the author uses literature study and documentation studies. Literature study, meaning that the writer directly reviews the books, literature, notes, and reports that are related to the problem under study. While the documentation method is collecting data by looking directly at the sources of related documents. With another meaning that the documentation as data retrieval through written and electronic documents. Used to support the completeness of other data.

Keywords: Human, Life, Fatalism

Pendahuluan

Kamus besar bahasa Indonesia, mengartikan manusia sebagai makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain) [1] Dalam bahasa Inggris disebut man (asal kata dari bahasa Anglo Saxon, man). Mens (Latin), yang berarti ada yang berpikir. Demikian halnya arti kata anthropos (Yunani) tidak begitu jelas. Semua antrophos berarti seseorang yang melihat ke atas. Namun saat ini, kata itu dipakai untuk mengartikan wajah manusia.[2]

Manusia dalam Islam disebut sebagai, al-Insan, al-basyar dan Duriyat Adam[3]. Ketiga istilah itu menggambarkan eksistensinnya sebagai mahluk Allah yang lengkap, baik rohani maupun jasmani, termasuk akal dan hati yang menjadi pembeda dan kelebihan dari mahluk lain.

Manusia dalam kehidupannya saat ini berhadapan dengan kehidupan yang sangat komplek, sebagai akibat dari tututan kehidupan yang konsumtif, materialistik

(3)

dan pragmatisme, sehingga memunculkan sebuah gejala fatalisme[3], yang digambarkan sebagai manusia yang putus asa karena menghadapi kompleknya persoalan hidup yang dihadapinya , termasuk bencana Covid 19 yang meluluh lantahkan tata kehidupan masyarakat. Karena kondisi seperti itu tidak sedikit pada era sekarang orang yang bunuh diri, hilang keseimbangan, prustasi apriori dan semua itu terjadi karena kerasnya kehidupan dan mereka tidak tahan megnhadapinya, sehingga muncul sikap-sikap a moralis yang membuat dirinya terjerumus pada paham tiada daya dan kekuatan untuk bertahan dan beristiqomah dengan ajaran agamanya khusunya Islam, tidak lagi berpikir bahwa Allah tidak akan memberikan beban kepada hambanya kecuali sesuai dengan kemampuannya.

Oleh karena itu, berbicara peran manusia dalam hidupanya tidak akan lepas dari tugas, fungsi dan tanggung jawabnya sebagi mahluk ciptaan Tuhan yang lengkap, baik fisiknya maupun ruhaninya.

Namun apa bentuk konkrit peran manusia dalam menghadapi kehidupan yang fatalis di dunia saat ini, penulis akan menjelaskan rinci konsep peran tersebut yang merujuk kepada sumber ajaran Islam, yaitu al-Quran dan hadits.

PEMBAHASAN

1. Konsep Manusia dalam Islam

Memahami konsep manusia menurut Islam, dapat dipahami bagaimana al-Qur’an menuturkanya. Menurut Muin Salim, ada dua cara yang dapat digunakan, pertama, dengan menelusuri arti kata-kata yang dipergunakan Al-Qur’an untuk menunjukan makna manusia (analisis etimologis). Kedua, menelusuri pernyataan Al-Qur’an yang berhubungan dengan kedudukan dan potensi yang dimiliki manusia (Terminologis)[4].

Secara etimologis ungkapan yang dipergunakan Al-Qur’an untuk menunjukan konsep manusia dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu : a) al insan,; b) al-basyar; dan c) Banu Adam dan Dzuriyat Adam.

Istilah al-Insân dalam Alquran umumnya digunakan untuk menggambarkan keistimewaan manusia. Manusia merupakan makhluk yang berilmu serta memiliki kemampuan untuk mengembangkan ilmunya karena Allah

(4)

memberi manusia potensi untuk itu [5] Manusia merupakan makhluk Allah yang paling sempurna. Ia memiliki potensi yang berbeda dengan makhluk Allah lainnya, yaitu dengan diberikannya akal. Melalui akal Allah berharap manusia memiliki kemampuan untuk memimikirkan ayat-ayat sebagai bukti kebesaran-Nya. Allah berfirman :

ٍتاَي َلَآ ِ لَآيَاتٍراَهَّنلاَوِِ لَآيَاتٍلْيَّللا ِِ لَآيَاتٍف َلَاِ لَآيَاتٍتْخاَو ِِ لَآيَاتٍضْرَ ْلْأَاَو ِ لَآيَاتٍتاَواَمَّسلا ِ لَآيَاتٍقْلَخ ِ لَآيَاتٍف َّنِ لَآيَاتٍإِ ِ لَآيَاتٍباَبْلَ ْلْأَا ِ لَآيَاتٍلو# ِ لَآيَاتٍلْأَ

Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal “(Qs, Ali Imran : 190) [6].

Itulah Allah memberikan nama kepada manusia dengan kalimat al-Insan yang memiliki makna sangat dalam karena percaya bahwa manusia dapat melaksanakan apa yang telah menjadi tugasnya dalam hidup di dunia.

Selain kalimat Insan, sebutan manusia dalam Islam sebagaimana terdapat dalam al-Quraan adalah al-Basyar, Kata al-Basyar dalam al-quran umumnya digunakan dalam menggambarkan manusia sebagai makhluk biologis yang mempunyai sifat-sifat biologis seperti suka makan, minum, hubungan seksual, dll. Penamaan kata ini menunjukkan makna bahwa secara biologis mendominasi manusia adalah pada kulitnya. Pada aspek ini terlihat perbedaan umum biologis manusia dengan hewan yang lebih didominasi oleh bulu atau rambut. [7] Implikasi dari pengistilahan ini, adalah setiap manusia harus menyadari bahwa dirinya memiliki nafsu, yaitu mengembangkan dorongan nafsu positif dan mengurangi dorongan nafsu negatif agar hidupnya tetap terarah. Tiap manusia juga harus menyadari adanya perkembangan pada dirinya serta tidak boleh membahayakan baik secara fisik maupun mental. Jika manusia keluar dari implikasi ini, maka manusia telah keluar dari kodrat aslinya. [8] Seperti halnnya Allah menggambarkan dalam al-Quran ketika Maryam di datangi Malaikat membawa pesan Tuhan bahwa ia akan dikaruniai seorang anak.

ر َشَب يِن ْس َسْمَي ْمَلَو ٌدَلَو يِل ُنوُكَي ىَّنَأ ِّبَر ْتَلاَق

“Maryam berkata: Tuhanku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak padahal aku tidak pernah disentuh manusia (basyar)”. (Q.S.Ali Imran : 47) [9]

(5)

Maryam berkata demikian karena ia tahu bahwa anak adalah buah dari hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan . Nalar Maryam tidak menerima, bagaimana mungkin dia akan punya anak padahal dia tidak pernah berhubungan dengan laki-laki. Kontek ini menunjukan kata basyar menunjukan bahwa manusia itu betul-betul sebagai mahluk biologis.

Selain al-Insan dan al-Basyar, ada juga istilah Banî damȂdam atau Dzurriyat dam yang memiliki arti anak cucu atau keturunan Adam. Kedua istilah ini Ȃdam

digunakan al-Quran untuk menunjukkan bahwa setiap manusia merupakan keturunan dari Nabi Adam dan asal usul setiap manusia pun berasal darinya.

Implikasi dari pengistilahan Banî damȂdam atau Dzurriyat, yaitu bahwa setiap manusia harus menyadari bahwa dirinya mempunyai keluarga dan keturunan yang jelas dan itu merupakan kelebihan serta keistimewaan manusia karena kejelasan keluarga dan keturunan hanya dimiliki oleh manusia. Selain itu, manusia harus menetapkan adanya keluarga dan keturunannya harus ditempuh melalui pernikahan yang sah, setiap aktifitas untuk keperluan keluarga dan keturunan selama tidak bertentangan dengan syari‘at maka statusnya adalah amal shalih dan ibadah, setiap anggota keluarga dan keturunanya memiliki tugas, kewajibann dan fungsi masing-masing. Jika manusia keluar dari implikasi ini, maka manusia telah keluar dari kodrat aslinya. [10]

Demikian gambaran konsep manusia dalam Islam baik sebagai al insan, al-basyar, maupun Banu Adam dan Dzurriyat adam menunjukan kesempurnaan manusia yang berbeda dengan mahluk lain, sehingga dapat diprediksi bahwa ketika Allah menugaskan manusia untuk hidup di dunia ia akan mampu melaksanakannya dengan baik selama mengikuti norma dan nilai-nilai syraiah yang telah ditentukan-Nya. Murtadha Mutahari dalam bukunya Manusia dan Alam Semesta mengatakan, bahwa dari sudut pandang al-Quran, manusia adalah mahluk yang dipilih Allah SWT untuk menjadi khalifah-Nya di muka bumi. Manusia adalah mahluk setengah malaikat dan setengah materi. Secara naluriah manusia sadar akan Allah SWT. Manusia merdeka, memegang amanah Allah SWT, bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan atas dunia. Manusia

(6)

mengendalikan alam, bumi dan langit. Manusia bisa bersemangat karena kebaikan atau karena kejahatan. [11]

2. Peranan Manusia dalam Kehidupan menurut Islam

Secara garis besar terdapat tiga peran esensial manusia dalam kehidupan di Dunia : Pertama, Manusia sebagai hamba Allah SWT. Barometer peran ini adalah Tauhid. Kedua, Manusia sebagai makhluk sosial. Barometer peran ini adalah sikap egalitarianisme, tolong menolong, dan toleransi. Ketiga, peran sebagai khalifah fil-ardl yang merupakan pengejawantahan dari peran profetik manusia. [12]

1. Manusia sebagai Hamba Allah SWT(‘Abdullah)

Term Abdi dalam bahasa Arab untuk Abdullah dan pengabdian merupakan kata-kata yang biasa dipergunankan sehari-hari. Tetapi dalam konteks al-Qur’an kata ‘abd –yang darinya bahasa Indonesia abdi dan pengabdian mengandung pegertian yang luas dan dalam, baik secara teologis maupun filosofis. [13]

Terlepas dari itu, sebagai hamba Allah, manusia wajib mengabdi dan taat kepada Allah selaku Pencipta karena adalah hak Allah untuk disembah dan tidak disekutukan. Bentuk pengabdian manusia sebagai hamba Allah tidak terbatas hanya pada ucapan dan perbuatan saja, melainkan juga harus dengan keikhlasan hati, seperti yang diperintahkan dalam QS.Al Bayyinah: 5 ;

َةاَكَّزلاِاو#تْؤْ#يَو َِة َلَاَّصلا ِاو#ميِ لَآيَاتٍق#يَو َِءاَفَن#ح َِنيِّدلا ِ#هَل َِنيِ لَآيَاتٍصِ لَآيَاتٍلْخ#م َِهَّللا ِاو#د#بْعَيِ لَآيَاتٍل َّ6ِ لَآيَاتٍإِ ِاو#رِ لَآيَاتٍم #أُ ِاَمَو ِ لَآيَاتٍةَمِّيَقْلا #نيِ لَآيَاتٍد َكِ لَآيَاتٍلَذَو

Artinya : Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. [14]

Ketika hamba Allah dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan beperan penting dalam memeliharanya, maka lambat laun keimanan

(7)

(ketauhidan) akan menguat, karena modal ketaqwaan sesorang adalah keimananya yang kuat.

Terdapat beberapa implikasi yang tampak dalam kehdupan sehari-hari ketika hamba Allah melakukan pengabdian dengan penuh keihlasan dan kepasrahan , antara lain :

1) Hamba Allah senantiasa Beriman dan Beramal shalih : ِةَّي ِرَبْلا ُرْي َخ ْمُه َكِئَلوُأ ِتا َحِلا َّصلا اوُلِم َعَو اوُنَمآ َنيِذَّلا َّنِإ

Artinya : “ Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk” . (QS. Al Bayyinah: 7)

2) Ketka di timpa ujian (penyakit, miskin, musibah) tetap Bersabar dan Taat ٌباَّوَأ ُهَّنِإ ُدْبَعْلا َمْعِن اًرِبا َص ُهاَنْد َجَو اَّنِإ

Artinya : Sesungguhnya Kami dapati Dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya Dia Amat taat (kepada Tuhan-nya). (QS. Shad: 44)

3) Senantiasa Mengikuti Jejak Para Nabi dan Rasul 4) Menjadi ummat yang terbaik

َِّللَّهاِب َنوُنِمْؤُتَو ِرَكْنُمْلا ِن َع َنْوَهْنَتَو ِفوُرْعَمْلاِب َنوُرُمْأَت ِساَّنلِل ْت َجِر ْخُأ ٍةَّمُأ َرْي َخ ْمُتْنُك

Artinya : Kalian adalah umat yang terbaik dikeluarkan untuk manusia, memerintahkan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali ‘Imran: 110)

5) Konsisten terhadap kewajiban »ًءا َضَق ْمُكُن َس ْحَأ ْمُك َراَي ِخ َّنِإ«

Artinya : Sesungguhnya yang terbaik di antara kamu adalah yang paling bagus qadha-nya. (HR. Bukhari No. 2305, Muslim No. 1601, dari Abu Hurairah)

6) Paling Bagus Akhlaknya

»اًقَلا ْخَأ ْمُكَن َس ْحَأ ْمُك ِراَي ِخ ْنِم َّنِإ«

Artinya : Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya. (HR. Bukhari No. 3559, dari Ibnu Umar, Muslim No. 2321, dari Ibnu Amr. Ini lafaz Bukhari)

(8)

7) Paling tenang, khusyu, dan tuma’ninah ketika shalat َنوُع ِشا َخ ْمِهِت َلا َص يِف ْمُه َنيِذَّلا

Artinya : (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,

2. Manusia sebagai makhluk sosial.

Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk individu, ia memiliki karakter yang unik –berbeda satu dengan yang lain, bahkan kalaupun merupakan hasil cloning, dengan pikiran dan kehendaknya yang bebas. Sebagai makhluk sosial ia membutuhkan manusia lain, membutuhkan sebuah kelompok dalam bentuknya yang minimal, yang mengakui keberadaannya, dan dalam bentuknya yang maksimal kelompok di mana dia dapat bergantung kepadanya.

Mmenurut Paul Ernes dan Enda M.C hubungan sosial adalah “Hubungan individu dalam sebuah komunitas dan bagaimana cara mereka menjalin hubungan antar sesama dalam berbagai kegiatan bersama dan hubungan ini merupakan inti dari sebuah interaksi di antara mereka di lingkungan masing-masing dan tidak terikat oleh sebuah pola tertentu” [15]

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendiri. Manusia membutuhkan kebersamaan dalam kehidupannya. Semua itu adalah dalam rangka saling memberi dan saling mengambil manfaat. Orang kaya tidak dapat hidup tanpa orang miskin yang menjadi pembantunya, pegawainya, sopirnya, dan seterusnya. Allah berfirman :

ىَماَتَيْلاَوِىَبْر#قْلا ِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَىِ لَآيَاتٍذِ لَآيَاتٍبَو ِاًناَسْحِ لَآيَاتٍإِ ِِ لَآيَاتٍنْيَدِ لَآيَاتٍلاَوْلاِ لَآيَاتٍبَو ِاًئًْي َش ِِ لَآيَاتٍهِ لَآيَاتٍب ِاو#كِ لَآيَاتٍر ْش#ت َ6َو َِهَّللا ِاو#د#بْعاَو ىَبْر#قْلا ي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَىِ لَآيَاتٍذ ِ لَآيَاتٍراَجْلاَو ِ لَآيَاتٍنيِ لَآيَاتٍكاَسَمْلاَو

ْنَم ُّ مَنْبِ لَآيَاتٍح#ي َ6 َهَّللا َّنِ لَآيَاتٍإِ ْم#ك#ناَمْي َأُ ْتَكَلَم اَمَو ِ لَآيَاتٍليِ لَآيَاتٍبَّسلا ِ لَآيَاتٍنْباَو ِ لَآيَاتٍبْنَجْلاِ لَآيَاتٍب ِ لَآيَاتٍبِ لَآيَاتٍحاَّصلاَو ِ لَآيَاتٍب#ن#جْلا ِ لَآيَاتٍراَجْلاَو اًرو#خَف ً6اَتْخ#م َناَك

Artinya : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”,QS : An-Nisa : 36. [16]

(9)

Ayat ini mengandung dua perintah ibadah yaitu perintah menyembah Allah, dan kedua adalah konsekuensi-konsekuensi dari beribadah kepada Allah yaitu berbuat baik kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dan yang lainnya, sebagai bukti konkrit bahwa Allah memerintahkan manusia tidak hanya memenuhi kewajiban dirinnya tetapi juga harus memenuhi kewajiban sebagi mahluk sosialnya, yakni memelihat dan memperhatikan kondisi lingkungannya.

Dari penjelasan tersebut mengandung arti, bahwa bentuk ketaatan seseorang kepada Allah dengan menjalankan ibadah-ibadah vertikal harus senantiasa disertai dengan ibadah-ibadah sosial horizontal. Tidak cukup jika seorang mukmin yang setiap hari melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa dan melaksanakan ibadah haji, tetapi di lain kesempatan ia menyakiti tetangga, menggunjing, menghardik anak yatim, tidak memberi makan orang miskin, memamerkan kebajikan [17]

Implementasi keyakinan bahwa manusia sebagai mahluk social akan tampak pada perilaku berikut ini :

1) Bermanfaat bagi manusia lainnya ِساَّنلِل ْمُهُعَفْنَأ ِساَّنلا ُرْي َخَو

Artinya : Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. (HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Awsath No. 5787. 2) Suami bersikap yang terbaik kepada istrinya

يلهلأ مكريخ انأو هلهلأ مكريخ

Artinya : Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik terhadap istrinya, dan aku yang terbaik terhadap istriku. (HR. At Tirmidzi No. 3895)

3) Tidak suka mengusik dan menyakiti saudaranya

»ِهِدَيَو ،ِهِنا َسِل ْنِم َنوُمِل ْسُملا َمِل َس ْنَم« : َلاَق ؟ ُل َضْفَأ ِمَلا ْسِلإا ُّيَأ ،َِّللَّها َلوُسَر اَي اوُلاَق Artinya : Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, Islam apakah yang paling

utama? Beliau bersabda: “Yaitu orang yang muslim lainnya aman dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari No. 11, Muslim No. 42, dari Abu Musa Al Asy’ari)

(10)

اوُف َراَعَتِل َلِئاَبَقَو اًبوُع ُش ْمُكاَنْلَع َجَو ىَثْنُأَو ٍرَكَذ ْنِم ْمُكاَنْقَل َخ اَّنِإ ُساَّنلا اَهُّيَأ اَي ٌريِب َخ ٌميِل َع ََّللَّها َّنِإ ْمُكاَقْتَأ َِّللَّها َدْن ِع ْمُكَمَرْكَأ َّنِإ

Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(QS, Al-Hujurat : 13)

5) Berbuat baik dan adil kepada sesama manusia

ْمُك ِراَيِد ْنِم ْمُكو ُجِر ْخُي ْمَلَو ِنيِّدلا يِف ْمُكوُلِتاَقُي ْمَل َنيِذَّلا ِن َع َُّللَّها ُمُكاَهْنَي َلَا

َني ِط ِسْقُمْلا ُّب ِحُي ََّللَّها َّنِإ ْمِهْيَلِإ او ُط ِسْقُتَو ْمُهوُّرَبَت ْنَأ Artinya : “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil

terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”.(QS, Al-Mumtahanah : 8)

3. Manusia sebagai Khalifah

Menurut Dawam Raharjo dalam bukunya Ensiklopedi al-Qur’an, kata khalifah mengandung makna ganda. Di satu pihak, khalifah dimengerti sebagai Kepala Negara dalam pemerintahan, seperti Kerajaan Islam di masa lalu, dan di lain pihak pula pengertian khalifah sebagai ‘wakil Tuhan” di muka bumi. [18]

Allah menegaskan dalam Quran surat Shad : 26, apa yang menjadi tugas manusia sebagi khalifah :

ىَوَهْلاِِ لَآيَاتٍعِ لَآيَاتٍبَّتَت َ6َو ِّقَحْلاِ لَآيَاتٍبِِ لَآيَاتٍساَّنلا َِنْيَب ِْم#كْحاَف ِِ لَآيَاتٍضْرَ ْلْأَا ِ ِ لَآيَاتٍف ًِةَفيِ لَآيَاتٍلَخ َِكاَنْلَعَج ِاَّنِ لَآيَاتٍإِ ِ#دو#واَد ِاَي

ِ لَآيَاتٍهَّللا ِ لَآيَاتٍليِ لَآيَاتٍبَس ْنَع َكَّلِ لَآيَاتٍض#يَف

او#سَن اَمِ لَآيَاتٍب ٌ بِمَا نَسُوا ديِ لَآيَاتٍد َش ٌ بِمَا نَسُوا باَذَع ْم#هَل ِ لَآيَاتٍهَّللا ِ لَآيَاتٍليِ لَآيَاتٍبَس ْنَع َنوُّ مَنْلِ لَآيَاتٍضَي َنيِ لَآيَاتٍذَّلا َّنِ لَآيَاتٍإِ ِ لَآيَاتٍباَسِ لَآيَاتٍحْلا َمْوَي

Artinya : “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat

(11)

darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan” [19]

Berdasarkan ayat di atas begitu jelas dan nampak, bahwa manusia sebagai khalifah harus menegakan keadilan dengan seadil-adilnya, karena itu menjadi awal dari sebuah proses menunju pada proses lain, artinya bila keadilan sudah dapat ditegakan maka secara otomatis hal-hal lain akan tecipta didunia ini, seperti kemakmuran, kesejahtraan, keamanan, kenyamanan , sehingga jadilah bumi yang baldatun toyyibatun warabbun ghofur.

Selain apa yang tertera pada ayat tersebut di atas, maka pada tataran implementasi tugas kehalifahan yang harus tampak dalam kehidupan nyata antara lain :

1) Belajar, Mengajar dan Membudayakan Ilmu

a. Belajar (surat An Naml : 15-16 dan Al Mukmin :54) ; Belajar yang dinyatakan pada ayat pertama surat al Alaq adalah mempelajari ilmu Allah yaitu Al Qur’an.

b. Mengajarkan ilmu (al Baqoroh : 31-39) ; Khalifah yang telah diajarkan ilmu Allah maka wajib untuk mengajarkannya kepada manusia lain.Yang dimaksud dengan ilmu Allah adalah Al Quran dan juga Al Bayan

c. Membudayakan ilmu (al Mukmin : 35 ) ; Ilmu yang telah diketahui bukan hanya untuk disampaikan kepada orang lain melainkan dipergunakan untuk dirinya sendiri dahulu agar membudaya. Seperti apa yang telah dicontohkan oleh Nabi SAW.

2) Tamkin Dinillah (menegakkan agama Allah

َِّللَّها ىَلِإ يِرا َصْنَأ ْنَم َنيِّيِراَو َحْلِل َمَي ْرَم ُنْبا ى َسي ِع َلاَق اَمَك َِّللَّها َرا َصْنَأ اوُنوُك اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّيَأ اَي ٌةَفِئا َط ْت َرَفَكَو َليِئا َر ْسِإ يِنَب ْنِم ٌةَفِئا َط ْتَنَمآَف َِّللَّها ُرا َصْنَأ ُن ْحَن َنوُّيِراَو َحْلا َلاَق َني ِرِها َظ او ُحَب ْصَأَف ْمِهِّوُد َع ىَل َع اوُنَمآ َنيِذَّلا اَنْدَّيَأَف

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa Ibnu Maryam telah berkata kepada pengikutpengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolongpenolongku (untuk menegakkan agama) Allah?"

(12)

Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; Maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang (QS, Ashaf : 14)

3) Menciptakan keamanan bagi Umat

ىَلِإ ُهوُّدَر ْوَلَو ِهِب او ُعاَذَأ ِفْو َخْلا ِوَأ ِنْمَْلأا َنِم ٌرْمَأ ْمُهَءا َج اَذِإَو ُهَمِلَعَل ْمُهْنِم ِرْمَْلأا يِلوُأ ىَلِإَو ِلو ُسَّرلا

ًلايِلَق َّلَاِإ َنا َطْي َّشلا ُمُتْعَبَّت َلَا ُهُتَم ْحَرَو ْمُكْيَل َع َِّللَّها ُل ْضَف َلَاْوَلَو ْمُهْنِم ُهَنو ُطِبْنَت ْسَي َنيِذَّلا Artinya :” Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang

keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri[322] di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri)[323]. kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)”(QS, An-Nissa : 83).

4) Menegakan Kebenaran dan Keadilan

ٍمْوَق ُنآَن َش ْمُكَّنَمِر ْجَي َلَاَو ِط ْسِقْلاِب َءاَدَهُش َِِّللَّه َنيِماَّوَق اوُنوُك اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّيَأ اَي

اوُلِد ْعا اوُلِدْعَت َّلَاَأ ىَل َع نوُلَمْعَت اَمِب ٌريِب َخ ََّللَّها َّنِإ ََّللَّها اوُقَّتاَو ىَوْقَّتلِل ُبَرْقَأ َوُه

Artinya : “Hai orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS, Al-Maidah : 8)

5) Berjihad di Jalan Allah

َنو ُج ْرَي َكِئَلوُأ َِّللَّها ِليِب َس يِف اوُدَها َجَو اوُر َجاَه َنيِذَّلاَو اوُنَمآ َنيِذَّلا َّنِإ ٌمي ِح َر ٌروُف َغ َُّللَّهاَو َِّللَّها َتَم ْح َر

Artinya : “ Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS, Al-Baqarah : 218)

(13)

َءاَتيِإَو ِة َلا َّصلا َماَقِإَو ِتاَرْي َخْلا َلْعِف ْمِهْيَلِإ اَنْي َحْوَأَو اَنِرْمَأِب َنوُدْهَي ًةَّمِئَأ ْمُهاَنْلَع َجَو َنيِدِبا َع اَنَل اوُناَكَو ِةاَكَّزلا

Artinya:”Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka, mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah,” (QS, Al-Anbiya : 73)

4. Peran Manusia dalam Kehidupan yang Fatalis

Kata fatalisme berasal dari kata dasar fatal, [1] adalah sebuah sikap seseorang dalam menghadapi permasalahan atau hidup. Apabila paham seseorang dianggap sangat putus asa dalam segala hal, maka inilah disebut fatalisme. Dalam paham fatalisme, seseorang sudah dikuasai oleh nasib dan tidak bisa mengubahnya. [20] Colliers Encyclopedia Amerika menjelaskan fatalisme sebagai akibat dari "perasaan kosong teologis yang mengusai kaum Muslim pada awal terjadinya dekadensi sosial dan politik." [21] " Catholic Encyclopedia menjelaskan bahwa rasa kurang bersemangat dan malas [kecenderungan] yang berkaitan dengan semangat hidup yang biasa" berbeda dari "sikap nekad menghadapi bahaya yang terbukti menjadi unsur penting ciri militer seseorang." Pengamat politik Irak Kanan Makiya menemukan, "Pemikiran tentang penyerahan terdiri kepada kehendak Allah menjadi imbangan pasif dari upaya untuk mati sebagai syuhada seuai kehendakNya. "[22]

Kondisi dunia termasuk Indonesia saat ini sangatlah besar peluangnya untuk melahirkan sikap fatalisme, karena diguncang dengan Covid 19 yang begitu dahsyat, bidang ekonomi masyarakat terhenti, mulai dari industri, transportasi, sehingga masyarakat menengah kebawah sangat menghawatirkan, negara harus melakukan kondisi diskresi, menyediakan bantuan sosial yang cukup besar dalam kurun waktu tidak menentu, sehingga memunginkan munculnya krisis sosial yang melebar, merusak tatanan sosial yang sudah terbentuk dan tertata, dibutuhkan rekontruksi sosial kembali

(14)

dikemudian hari untuk memulihkan kepada keadaan normal kembali, bahkan di istilahkan dengan New Normal.

New Normal adalah kebijakan membuka kembali aktivitas ekonomi, sosial dan kegiatan publik secara terbatas dengan menggunakan standar kesehatan yg sebelumnya tidak ada sebelum pandemic, kebijakan stay at home atau work from home atau pembatasan sosial diberlakukan untuk mencegah penyebaran massif wabah virus corona. New Normal utamanya agar warga yg memerlukan aktivitas luar rumah dapat bekerja dengan menggunakan standar kesehatan yg ditetapkan. Jadi bukan sekedar bebas bergerombol atau keluyuran. Hal ini diberlakukan karena tidak mungkin warga terus menerus bersembunyi di rumah tanpa kepastian. Tidak mungkin seluruh aktivitas ekonomi berhenti tanpa kepastian yang menyebabkan kebangkrutan total, PHK massal dan kekacauan sosial.

Kondisi inilah dibutuhkan peran mausia, baik sebagai hamba hamba Allah, sebagai mahluk sosial dan sebagai khalifah, agar tidak terjerumus kepada fatalisme, yang membuat orang tidak lagi berdaya karena apriori, putusasa dan tidak memiliki semangat untuk berinovasi yang pada ahirnnya bangsa dan negara akan mengalami keterpurukan. Islam yang sudah menjelaskan terang benderang, bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menyelesaikan berbagai persoalan di dunia ini, seperti tergambarkan dalam al-Quran Surat Ar-Rum ayat 30 :

َِّللَّها ِقْل َخِل َليِدْبَت َلَا اَهْيَل َع َساَّنلا َر َطَف يِتَّلا َِّللَّها َتَر ْطِف اًفيِن َح ِنيِّدلِل َكَه ْجَو ْمِقَأَف

َنوُمَلْعَي َلَا ِساَّنلا َرَثْكَأ َّنِكَلَو ُمِّيَقْلا ُنيِّدلا َكِلَذ

Artinya :Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (Qs, Ar-Rum : 30).

Berdasarkan pada ayat trsebut, Allah menjelaskan bahwa manusia memilki fitrah yang telah diberikan Allah kepadanya, melalui fitrah itullah manusia bisa berkreasi, berinovasi untuk menyelesai berbagai persoalan dunia dengan

(15)

bingkai Dinull Qoyim, temasuk sikap fatalisme yang dapat muncul dalam situasi tertentu.

Fitrah manusia yang Allah berikan diantranya melalui sipat kesalehan sebagai abdillah, kesalehan soisil sebagai wujud kepedulian mahluk terhadap seksama, menjadi pemimpin yang baik sebagai kahalifah di bumi,baik di keluarga, masyarakat bangsa dan negara, seperti yang sudah di jelaskan pada bagian terdahulu.

Selanjutnya Allah berfirman :

ْنِم ِهِنوُد ْنِم ْمُهَل اَمَو ُهَل َّدَرَم َلاَف اًءو ُس ٍمْوَقِب ُللَّها َداَرَأ اَذِإَو ْمِه ِسُفْنَأِب اَم اوُرِّيَغُي ىَّت َح ٍمْوَقِب اَم ُرِّيَغُي َلَا َللَّها َّنِإ لاَو

Artinya:”…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (QS, Ar-Ra’d : 11)

Oleh karena itu, sifat fatalisme dapat dihindari, manakala manusia yang sudah dianggap sempurna mengimplementasikan keyakinanya dengan penuh kesungguhan tanpa sebuah keraguan dengan berpikir bahwa Allah akan memberikan jalan terbaik bila kita berusaha maksimal menyelesaikan masalah yang menimpa kita, termasuk dampak dari covid 19. Karena dengan kesungguhan insya-Allah diberikan kemudahan dan kita yakin betul, bahwa Allah tidak akan membebani ummat kecuali sesuai dengan tingkat kemampunnya sendiri. Allah berfirman : “… Faida ajamta fatawakal ‘ala-llah”, apabila kita telah mengambil keputusan dengan bulat, maka tinggal bertawakal kepada Allah. Kita hanya berusaha maksimal, masalah hasil itu urusan Allah.

SIMPULAN

Konsep manusia dalam Islam, secara etimologi dan terminologis dapat disebut sebagai Insan, al-Basyar dan Banu Adam atau Dzuriyat Adam. Sebagai mahluk ciptaan Allah manusia termasuk katagori manusia yang baik dan sempurna di banding

(16)

mahluk lain, ia diberi hati, aqal dan indra untuk dapat memerankan dirinya hidup di dunia, sehingga ia hidup selamat dan sejahtra baik lahir maupun batin.

Peran manusia hidup di dunia secara garis besar dapat dikatagorikan kepada tiga bagian: Pertama, Manusia sebagai hamba Allah SWT. Barometer peran ini adalah Tauhid. Kedua, Manusia sebagai makhluk sosial. Barometer peran ini adalah sikap egalitarianisme, tolong menolong, dan toleransi. Ketiga, peran sebagai khalifah fil-ardl yang merupakan pengejawantahan dari peran profetik manusiaPeran-peran tersebut dapat diimplementasikan secara maksimal bila mereka (manusia) mampu mengendalikan diri dengan baik dan tidak tergoda oleh gemerlapnya kehidupan dunia yang dapat membawa manusia berprilaku melewati batas.

Melalui peran-peran itulah kehidupan yang fatalis dapat dikikis sedemikian rupa, karena yang diperan kan oleh manusia saat itu ada yang bersifat vertical da nada juga yang bersifat horizontal. Tinggal bagaimana optimalisasinnya yang sangat

DAFTAR PUSTAKA

[1]Kamus Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakata , Tahun 1997

[2] Kamus Bahsa Inggris, Jhon M. Ehkols,Hassan Shaddily , Penerbit, Gramedia Pustaka Utama , Tahu 2007

[3,4] Tita Rostitawati, Tuhan, Manusia dan Alam dalam Perspektif Filsafat Pendidikan

Islam, Jurnal Irfani, Volume 14 Nomor 1 Juni 2018Halaman 28-42

[5]Nasaruddin Umar, Kajian Tematik Al-Qur’an tentang Kemasyarakatan : Wanita dalam Perspektif Al-Qur’an, (Bandung: Angkasa, 2008), hal. 235.

[6,9]Al-Quran, Buhkhara,Tajwid dan terjemah, Tahu 2007, hal 75,47

[7]Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal. 2.

[8, 10]

alquran/ dipublikasikan pada kamis 16 Januari 2014 pukul 06:43, diakses pada 29 Desember 2014

[11 ]Murtadha Muthahari, Manusia dan Alam Semesta, Penerbit : Lentera Britama, 2002 Hal 2018

[12] Khairullah, tanpa tahun, Makalah tentang Peran Dan Tanggung Jawab Manusia

Dalam Al-Qur’an, hal 1

[13,17 ] Khairullah, tanpa tahun, Makalah tentang Peran Dan Tanggung Jawab Manusia Dalam Al-Qur’an, hal 4,5

(17)

[15

] M. Quraish Shihab, Tahun 2018, Esensi Manusia Sebagai Mahluk Sosial, Penerbit: Lentera Hati, Pusat Studi Al-Quran.hal 1

[18]M. Dawam Raharjo, Ensiklopedi Islam, TafsirSosial berdasarkan Konsep-konsep Kunci, (Jakarta: Paramadina, 2002), cet. II, h. 346.

[20] https://id.wikipedia.org/wiki/Fatalisme

[21] Colliers Encyclopedia on CD-ROM, r.v. "kismet"; Encarta Encyclopedia, diakses 6/4/15, s.v. "kismaayo

[22] Samir al-Khalil [pseud. of Kanan Makiya], Republic of Fear: The Politics of Modern Iraq (Berkeley: University of California Press, 1989), hal. 100.

Referensi

Dokumen terkait

Pengertian demokratis dimaksud berjalan aman dan tertib, juga pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah, baik gubernur dan wakilnya maupun bupati dan

Restrukturisasi juga menyangkut penyusunan skim asuransi deposito, perbaikan teknik dan prosedur Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), penguatan pengawasan bank, dan

Perasaan yang tidak seimbang ini sebagai disonansi kognitif; hal ini merupakan perasaan yang dimiliki orang ketika mereka menemukan diri mereka sendiri melakukan

Diperoleh total biaya operasional pendistribusian air Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) kabupaten Minahasa Utara sebelum dilakukan minimalisasi yaitu sebesar Rp. Biaya

Bahasa tersebut sejak lama digunakan sebagai bahasa perantara (lingua franca) atau.. Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia SMP Kelompok Kompetensi Profesional C 5 bahasa

Penyakit bercak hitam pada tanaman anggrek merupakan penyakit yang cepat menular melalui akar dan alat yang tidak steril, gejalanya timbul warna cokelat kehitaman pada bagian

Tak ada kesempatan lagi bagi si Cambuk Setan dan Iblis Pedang Perak untuk mengejar, karena lesatan Rangga begitu cepat Sehingga dalam waktu sekejap mata saja, Pendekar Rajawali

ƒ Mutasi/pindah ke luar daerah sementara gaji pegawai dimana debitur bekerja tidak disalurkan melalui Bank Jabar, atau hanya.. dilandasi perjanjian kerja sama. ƒ