Press
Release
PT
PENILAI
HARGA
EFEK
INDONESIA
(IBPA)
Dalam
Rangka
Tutup
Tahun
2015
Pasar
Obligasi
2015
Bullish
dengan
Return
+4,2
%ytd
Kinerja Pasar Surat Utang Indonesia Positif
Indonesia Composite Bond Index (ICBI) yang menggambarkan kinerja pasar obligasi Indonesia di
tahun 2015 tampak bergerak positif. ICBI pada tahun 2015 mencatatkan positive return tahun
berjalan sebesar +4,2%ytd dari level 175,8939 menjadi 183,2759. Angka tersebut jauh lebih rendah
dari positive return tahun berjalan di tahun 2014 yang sebesar +12,6%ytd. Secara spesifik, di tahun
2015 kinerja obligasi korporasi yang tercermin dari INDOBeXC‐Total Return mencatatkan kinerja
terbaik dengan positive return tahun berjalan sebesar +9,9%ytd dari level 178,8612 ke level
196,4885. Sedangkan kinerja obligasi pemerintah atau INDOBeXG‐Total Return menghasilkan
positive return tahun berjalan sebesar +3,3%ytd dari 174,6143 menjadi 180,3825. Berbeda halnya
dengan pasar obligasi, pasar saham di tahun 2015 mencatatkan kinerja yang negatif. Di tahun 2015,
IHSG mencatatkan negative return tahun berjalan sebesar ‐12,1%ytd dari sebelumnya menghasilkan
positive return tahun berjalan sebesar +22,3%ytd di tahun 2014. IHSG di akhir tahun 2015 berada di
level 4.593,01 dari sebelumnya berada di level 5.226,95 di akhir tahun 2014.
Gambar 1. Kinerja ICBI dan Perbandingan Dengan IHSG
Composite Government
Bond
Corporate Bond Sukuk IHSG 4.20% 3.30% 9.86% 5.95% ‐12.13% 2015Ytd 4,000 4,600 5,200 5,800 150 165 180 195
Jan‐15 Feb‐15Mar‐15 Apr‐15 May‐15 Jun‐15 Jul‐15 Aug‐15 Sep‐15 Oct‐15 Nov‐15 Dec‐15 Indeks Harga Saham Gabungan‐IHSG Indonesia Composite Bond Index ‐ICBI
Sumber: IBPA, IDX,diolah Sumber: IBPA per 31 Desember 2015, IDX per 30 Desember 2015,
diolah.
Kurva Imbal Hasil Obligasi Indonesia Bearish, Tenor Pendek Tertekan Naik Paling Tinggi Hingga +114,0 Basis Points
Kurva imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia pada akhir tahun 2015 mencatatkan bearish dengan
rentang kenaikan yield terjadi pada rentang +62,7bps s/d +114,8bps pada tenor 1‐30 tahun. Bearish
tenor menengah (5‐7 tahun) dan tenor panjang (8‐30 tahun) masing‐masing mencatatkan kenaikan
rata‐rata yield sebesar +108,6bps dan +75,9bps.
Gambar 2. Pergerakan Yield Curve Obligasi Pemerintah
31‐Dec‐15 TW III‐2015 TW II‐2015 TW I‐2015 Early Year Last Year 0.1 7.4799 7.5707 6.5966 6.0485 6.0784 6.3806 1 8.1710 8.5765 7.3015 6.4931 6.3600 7.0368 2 8.5668 9.1693 7.7644 6.8084 6.5742 7.4193 3 8.7545 9.4649 8.0269 7.0082 6.7220 7.6093 4 8.8347 9.6030 8.1691 7.1354 6.8260 7.7023 5 8.8649 9.6631 8.2424 7.2187 6.9019 7.7526 6 8.8761 9.6892 8.2788 7.2768 6.9605 7.7893 7 8.8839 9.7038 8.2977 7.3218 7.0092 7.8264 8 8.8948 9.7173 8.3103 7.3607 7.0529 7.8695 9 8.9108 9.7340 8.3225 7.3977 7.0944 7.9193 10 8.9317 9.7542 8.3370 7.4348 7.1355 7.9745 11 8.9560 9.7774 8.3547 7.4729 7.1770 8.0329 12 8.9822 9.8022 8.3753 7.5119 7.2192 8.0922 13 9.0088 9.8273 8.3982 7.5517 7.2620 8.1504 14 9.0349 9.8516 8.4226 7.5915 7.3051 8.2061 15 9.0594 9.8744 8.4475 7.6309 7.3481 8.2580 16 9.0820 9.8953 8.4723 7.6693 7.3907 8.3055 17 9.1024 9.9139 8.4963 7.7063 7.4325 8.3484 18 9.1204 9.9303 8.5191 7.7414 7.4730 8.3865 19 9.1361 9.9444 8.5404 7.7744 7.5121 8.4199 20 9.1496 9.9565 8.5601 7.8052 7.5494 8.4490 21 9.1610 9.9667 8.5779 7.8336 7.5848 8.4741 22 9.1707 9.9752 8.5940 7.8596 7.6181 8.4956 23 9.1789 9.9822 8.6083 7.8833 7.6493 8.5138 24 9.1856 9.9880 8.6209 7.9046 7.6784 8.5291 25 9.1912 9.9927 8.6320 7.9239 7.7053 8.5420 26 9.1957 9.9966 8.6416 7.9410 7.7302 8.5528 27 9.1994 9.9997 8.6500 7.9563 7.7530 8.5618 28 9.2025 10.0022 8.6572 7.9699 7.7738 8.5692 29 9.2049 10.0042 8.6634 7.9818 7.7928 8.5753 30 9.2069 10.0057 8.6687 7.9923 7.8101 8.5803
INDONESIA GOVERNMENT BONDS YIELD CURVE Tenor
(Year) Yield (%) 4.75 6.25 7.75 9.25 10.75 0 5 10 15 20 25 30 Yi el d (% ) Maturity (Year) Last Year Early Year TW I‐2015 TW II‐2015 TW III‐2015 31‐Dec‐15
Sumber: IBPA per 31 Desember 2015, diolah
Kinerja Yield Kelompok SUN Seri Benchmark Negatif Secara Year to Date
Rata‐rata yield SUN seri benchmark di akhir tahun 2015 tampak tertekan naik secara tahun berjalan
jika dibandingkan dengan awal tahun 2015. Tertekan naiknya yield pada keempat seri benchmark
mulai terjadi di bulan Juni 2015. Sepanjang 2015, seri dengan time to maturity terpendek atau
FR0069 mencatatkan kenaikan rata‐rata yield terbesar yakni sebesar +140,8bps dari 7,2019%
menjadi 8,6095%. Sedangkan FR0071 mencatatkan kenaikan rata‐rata yield terkecil yakni +106,6bps
dari 7,7521% menjadi 8,8183%. Sementara untuk dua seri lainnya yakni FR0070 dan FR0068 masing‐
masing mengalami kenaikan rata‐rata yield sebesar +123,2bps (dari 7,4579% menjadi 8,6902%) dan
+106,7bps (dari 7,8831% menjadi 8,9502%).
Tabel 1. Rata‐Rata Yield SUN Seri Benchmark
Jan‐15 Feb‐15 Mar‐15 Apr‐15 May‐15 Jun‐15 Jul‐15 Aug‐15 Sep‐15 Oct‐15 Nov‐15 Dec‐15
FR0069 3.29 7.875 7.2019 6.8517 7.0446 7.3202 7.7762 8.2291 7.9705 8.3245 8.8708 8.5586 8.5092 8.6095 140.76 FR0070 8.21 8.375 7.4579 7.0499 7.3090 7.4210 8.0339 8.4235 8.3329 8.6674 9.2033 8.7309 8.6183 8.6902 123.23 FR0071 13.21 9.000 7.7521 7.1960 7.4991 7.6069 8.2146 8.5689 8.4460 8.9591 9.3741 8.9639 8.8310 8.8183 106.62 FR0068 18.22 8.375 7.8831 7.4020 7.6751 7.7784 8.3192 8.6026 8.5250 9.0278 9.4209 9.0532 8.8882 8.9502 106.71 Benchmark Series Time to Maturity (year) Coupon (%) Change (bps) 1 Jan ‐ 31 Dec
Rata‐Rata Yield (%)
Sumber: IBPA per 31 Desember 2015, diolah
Tabel 2. Pergerakan Rata‐Rata Yield SUN Seri Benchmark Selama Tahun Berjalan
Jan‐15 Feb‐15 Mar‐15 Apr‐15 May‐15 Jun‐15 Jul‐15 Aug‐15 Sep‐15 Oct‐15 Nov‐15 Dec‐15
FR0069 3.29 7.875 ‐59.86 ‐94.89 ‐75.60 ‐48.03 ‐2.44 42.85 17.00 52.39 107.03 75.80 70.86 80.90 FR0070 8.21 8.375 ‐49.35 ‐90.16 ‐64.25 ‐53.05 8.24 47.20 38.14 71.60 125.18 77.94 66.68 73.87 FR0071 13.21 9.000 ‐50.88 ‐106.49 ‐76.18 ‐65.40 ‐4.63 30.80 18.51 69.82 111.32 70.30 57.00 55.74 Benchmark Series Time to Maturity (year) Coupon (%) Pergerakan Yield (bps ytd)
Penerbitan SUN dan Surat Utang Korporasi Meningkat
Tahun 2015 pemerintah telah berhasil menerbitkan dana sebesar Rp502,4triliun dimana
Rp349,9triliun merupakan utang baru. Jumlah penerbitan utang baru (net issuance) tersebut naik
+27,5%yoy dari tahun sebelumnya. Untuk penerbitan obligasi korporasi sampai dengan akhir tahun
2015 juga mengalami peningkatan. Tercatat 117 seri baru diterbitkan dengan total nilai outstanding
sebesar Rp62,8triliun atau meningkat sebesar+39,2%yoy.
Gambar 3. Net Issuance Obligasi Pemerintah dan Obligasi Korporasi
Sumber: DJPPR per 29 Desember 2015, IBPA per 31 Desember 2015, diolah
Total Net Issuance (Rp Triliun) Total Corporate Bond Net Issuance (Rptrilion)
2011 2012 2013 2014 2015 126.65 159.59 235.78 274.39 349.94 2011 2012 2013 2014 2015 45.08 69.39 58.43 45.07 62.75
Transaksi Obligasi Pemerintah Dan Korporasi Meningkat
Rata‐rata volume perdagangan obligasi pemerintah di tahun 2015 mengalami peningkatan sebesar
+21,5%yoy menjadi Rp12,4triliun/hari dari sebelumnya sebesar Rp10,2triliun/hari di tahun 2014.
Peningkatan juga ditunjukkan dari rata‐rata total frekuensi harian yang naik menjadi 643 kali/hari di
tahun 2015 dari 576 kali/hari pada tahun 2014.
Tabel 3. Volume dan Frekuensi Harian Obligasi Pemerintah (2011 s/d 2015)
Sumber: Data PLTE IDX. Ket: * Data per 30 Desember 2015
2010 6.79 381 2011 7.95 433 2012 8.15 519 2013 6.86 453 2014 10.21 576 2015* 12.41 643 Tahun Volume (Triliun Rupiah/hari) Frekuensi (kali/hari)
Rata‐rata volume obligasi korporasi turut menunjukkan peningkatan di tahun 2015 yakni sebesar
+11,5%yoy dari sebelumnya Rp676,1miliar/hari menjadi Rp754,0miliar/hari. Sementara rata‐rata
frekuensi harian menunjukkan peningkatan dari 88 kali/hari pada tahun 2014 menjadi 90 kali/hari di
tahun 2015.
Tabel 4. Volume dan Frekuensi Harian Obligasi Korporasi (2011 s/d 2015) 2010 418.43 70 2011 512.34 73 2012 931.39 112 2013 748.50 81 2014 676.13 88 2015* 754.02 90 Tahun Volume (Miliar Rupiah/hari) Frekuensi (kali/hari)
Sumber: Data PLTE IDX. Ket: * Data per 30 Desember 2015
FR0068 menjadi obligasi yang paling aktif diperdagangkan pada tahun 2015 dengan total frekuensi
sebanyak 22.121 kali transaksi dan total volume sebesar Rp372,5triliun. Obligasi dengan total
volume transaksi terbesar dipegang oleh FR0070 dengan nominal mencapai Rp594,4triliun.
Tabel 5. Top 10 Most Active Government Bond
Bond Code Bond Name TTM (Year) IBPA Fair Yield (%) Volume (Rp Bio) Frequency
FR0068 Obligasi Negara Republik Indonesia Seri FR0068 18.22 9.0509 372,537.74 22,121 SR007 Sukuk Negara Ritel Seri SR‐007 2.20 8.5718 100,677.30 20,163 FR0070 Obligasi Negara Republik Indonesia Seri FR0070 8.21 8.8053 594,370.08 17,207 FR0071 Obligasi Negara Republik Indonesia Seri FR0071 13.22 8.9356 300,499.42 13,680 ORI012 Obligasi Negara Ritel Republik Indonesia Seri ORI01 2.79 8.9001 23,925.75 11,339 ORI011 Obligasi Negara Ritel Republik Indonesia Seri ORI01 1.79 8.2381 47,134.37 8,323 FR0069 Obligasi Negara Republik Indonesia Seri FR0069 3.29 8.7718 274,688.70 7,388 FR0058 Obligasi Negara Republik Indonesia Seri FR0058 16.47 9.0814 58,086.98 6,094 FR0056 Obligasi Negara RI Seri FR0056 10.72 8.6763 142,938.41 4,700 SR006 Sukuk Negara Ritel Seri SR‐006 1.18 8.4053 76,958.02 4,681
Sumber: Data PLTE IDX per 30 Desember 2015
Obligasi I Express Transindo Utama Tahun 2014 (TAXI01) menjadi obligasi korporasi teraktif
diperdagangkan dengan total frekuensi sebanyak 419 transaksi dan total volume Rp1,1triliun.
Sedangkan total volume terbesar diraih oleh Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank I Tahap III
Tahun 2013 Seri B (BEXI01BCN3) yakni sebesar Rp5,3triliun.
Tabel 6. Top 10 Most Active Corporate Bond
Bond Code Bond Name TTM (Year) IBPA Fair Yield (%) Volume (Rp Bio) Frequency
TAXI01 Obligasi I Express Transindo Utama Tahun 2014 3.48 12.6052 1,131.27 419 PNBN04SB Obligasi Subordinasi Bank Panin III Tahun 2010 1.86 10.9084 3,136.03 406 SANF01CN2 Obligasi Berkelanjutan I SAN FINANCE Tahap II Tahun 2014 1.96 10.7137 918.74 328 BEXI01BCN3 Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank I Tahap III Tahun 2013 Seri B 0.40 8.9856 5,332.75 299 BNGA02SB Obligasi Subordinasi II Bank CIMB Niaga Tahun 2010 4.99 11.2928 1,845.10 282 APLN02 Obligasi II Agung Podomoro Land Tahun 2012 1.63 11.0005 1,495.88 274 MEDC01CN2 Obligasi Berkelanjutan I Medco Energi Internasional Tahap II Tahun 2013 2.21 10.9259 808.71 272
Obligasi pemerintah yang memberikan total return tertinggi di tahun 2015 dicatatkan oleh seri
ORI012 yakni sebesar 9,2%. ORI012 juga masuk kedalam 5 seri teraktif ditransaksikan sepanjang
tahun 2015 dengan total frekuensi sebanyak 11.339 kali. Di akhir tahun 2015, fair priced untuk
ORI012 berada di level 100,2359.
Tabel 7. Top 10 Performance Government Bond
Sumber: Data IBPA 31 Desember 2015, diolah
Bond Code Bond Name Capital Gain/Loss Coupon Total Return
ORI012 Obligasi Negara Ritel Republik Indonesia Seri ORI012 0.24% 9.00% 9.24% FR0032 Obligasi Negara RI Seri FR0032 ‐6.74% 15.00% 8.26% IFR0005 SBSN Seri IFR0005 ‐0.99% 9.00% 8.01% PBS010 SBSN Seri PBS010 ‐0.83% 8.63% 7.79% SR007 Sukuk Negara Ritel Seri SR‐007 ‐0.61% 8.25% 7.64% ORI010 Obligasi Negara Ritel Republik Indonesia Seri ORI010 ‐0.96% 8.50% 7.54% SR006 Sukuk Negara Ritel Seri SR‐006 ‐1.28% 8.75% 7.47% FR0030 Obligasi Negara RI Seri FR0030 ‐3.31% 10.75% 7.44% ORI011 Obligasi Negara Ritel Republik Indonesia Seri ORI011 ‐1.28% 8.50% 7.22% IFR0002 SBSN Seri IFR0002 ‐4.73% 11.95% 7.22%
Obligasi korporasi yang memberikan total return tertinggi di akhir tahun 2015 dicatatkan oleh seri
GWSA01CN1 (Obligasi Berkelanjutan I Greenwood Sejahtera Tahap I Tahun 2014) yakni sebesar
15,3%. Fair priced untuk seri GWSA01CN1 di akhir tahun 2015 berada di level 100,9969.
Tabel 8. Top 10 Performance Corporate Bond
Bond Code Bond Name Capital Gain/Loss Coupon Total Return
GWSA01CN1 Obligasi Berkelanjutan I Greenwood Sejahtera Tahap I Tahun 2014 1.00% 14.25% 15.25%
SDRA01SB Obligasi Subordinasi Bank Saudara I Tahun 2012 2.05% 12.63% 14.67%
BIMF01BCN1 Obligasi Berkelanjutan I Bima Multi Finance Tahap I Tahun 2015 Seri B ‐0.12% 14.50% 14.38%
TLKM01DCN1 Obligasi Berkelanjutan I Telkom Tahap I Tahun 2015 Seri D 2.84% 11.00% 13.84%
MDLN01BCN1 Obligasi Berkelanjutan I Modernland Realty Tahap I Tahun 2015 Seri B 1.31% 12.50% 13.81%
ANTM01BCN1 Obligasi Berkelanjutan I Antam Tahap I Tahun 2011 Seri B 4.75% 9.05% 13.80%
BBKP01SBCN1 Obligasi Subordinasi Berkelanjutan I Bank Bukopin Tahap I Tahun 2012 4.44% 9.25% 13.69%
BNLI02SBCN2 Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Bank Permata Tahap II Tahun 2014 1.79% 11.75% 13.54%
BIMF01ACN1 Obligasi Berkelanjutan I Bima Multi Finance Tahap I Tahun 2015 Seri A ‐0.10% 13.50% 13.40%
APLN01CN3 Obligasi Berkelanjutan I Agung Podomoro Land Tahap III Tahun 2014 0.50% 12.50% 13.00%
Sumber: Data IBPA 31 Desember 2015, diolah
Kinerja Pasar Obligasi Syariah Di Tahun 2015 Positif
Indonesia Sukuk Index Composite ‐ Total Return (ISIXC‐Total Return) yang menggambarkan kinerja
pasar obligasi syariah atau sukuk Indonesia di tahun 2015 juga tampak bergerak positif. ISIXC‐TR
pada tahun 2015 mencatatkan positive return tahun berjalan sebesar +6,0%ytd dari level 160,5679
menjadi 170,1289. Secara spesifik, kinerja sukuk korporasi yang tercermin dari ICSIX‐Total Return
juga mencatatkan kinerja terbaik dengan positive return tahun berjalan sebesar +9,7%ytd dari level
172,2423 ke level 188,9204. Sedangkan kinerja sukuk negara atau IGSIX‐Total Return menghasilkan
positive return tahun berjalan sebesar +5,8%ytd dari 159,2040 menjadi 168,5013.
Gambar 4. Pergerakan Indeks Sukuk Secara Komposit, Sukuk Negara dan Sukuk Korporasi 150 165 180 195 Jan ‐ 15 Fe b ‐ 15 Mar ‐ 15 Ap r ‐ 15 May ‐ 15 Ju n ‐ 15 Ju l ‐ 15 Au g ‐ 15 Se p ‐ 15 Oc t ‐ 15 No v ‐ 15 De c ‐ 15
ISIXC‐TR IGSIX‐TR ICSIX‐TR
Sumber: IBPA per 31 Desember 2015, diolah
Kepemilikan Asing Meningkat +19,4%ytd Di Tahun 2015
Kepemilikan asing di pasar SBN domestik mencatatkan peningkatan sebesar +21,0%ytd dari
Rp461,4triliun di akhir 2014 menjadi Rp558,1triliun per tanggal 28 Desember 2015, atau jauh lebih
rendah dibanding tahun 2014 yang tercatat sebesar 42,5%ytd. Menurunnya capital inflow lebih
disebabkan oleh ketidakpastian terkait kenaikan the Fed Rate yang mana hal tersebut turut
mendorong penguatan mata uang Dollar Amerika terhadap mata uang beberapa negara lain
termasuk Indonesia.
Gambar 5. Kepemilikan Asing Di Pasar SBN Domestik
400 440 480 520 560 De c ‐ 14 Jan ‐ 15 Fe b ‐ 15 Ma r ‐ 15 Ap r ‐ 15 May ‐ 15 Ju n ‐ 15 Ju l ‐ 15 Au g ‐ 15 Se p ‐ 15 Oc t ‐ 15 No v ‐ 15 De c ‐ 15 Rp Triliun
Sumber: DJPPR Kemenkeu, per 29 Desember 2015
Kondisi Pasar obligasi di Indonesia pada tahun 2015 banyak dipengaruhi oleh faktor ekonomi baik
dari global maupun dalam negeri.
uang dollar AS terhadap mata uang global termasuk rupiah. Tekanan penguatan mata uang dollar AS
juga diperkuat dengan ketidakpastian rencana kenaikan suku bunga The Fed yang kemudian baru
dinaikan ke level 0,25%‐0,50% pada akhir tahun 2015.
Tekanan bagi pasa r obligasi domestik juga dipengaruhi oleh devaluasi yuan dan kejatuhan bursa
saham Shanghai. Kondisi tersebut turut berimbas pada penguatan mata uang dollar AS terhadap
mata uang global. Sementara zona Eropa diwarnai dengan sentimen bangkrutnya Yunani dan
masuknya zona Eropa kedalam zona deflasi sehingga mendorong Bank Sentral Eropa untuk
meluncurkan program Quantitative Easing (QE) pada awal tahun 2015. Senada dengan zona Eropa,
Jepang masih bertahan dalam zona deflasi dan mendorong Bank of Japan untuk mempertahankan
program Quantitative Easing.
Ekspektasi Positif Dari Dalam Negeri Menopang Kinerja Pasar Obligasi
Berbagai tekanan dan gejolak eksternal turut menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang per
kuartal III‐2015 tumbuh 4,7%yoy. Namun demikian, komitmen pemerintah untuk memperbaiki
pertumbuhan ekonomi yang ditunjukkan melalu rilis paket kebijakan ekonomi I‐VIII menimbulkan
ekspektasi positif di pasar obligasi. Ekspektasi positif tersebut kemudian ditunjang dengan
membaiknya indikator inflasi yang dalam tren penurunan dan diperkirakan berada di sekitar 3,0%
pada akhir tahun 2015 serta membaiknya defisit neraca transaksi berjalan. Disamping itu, adanya
prospek naiknya peringkat sovereign rating Indonesia dari S&P di tahun 2016 setelah dinaikannya
outlook peringkat Indonesia dari stable menjadi positive di tahun 2015 turut menjadi katalis positif
pasar obligasi.
Outlook Pasar Obligasi 2016
Pasar obligasi domestik di tahun 2016 memiliki prospek membaik dari tahun 2015 seiring dengan
potensi membaiknya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan naik ke level 5,3%. Potensi
membaiknya pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut didorong oleh efek dari realisasi paket
kebijakan ekonomi I‐VIII. Adanya BI rate turun (kemungkinan) pada kuartal I‐2016 diperkirakan dapat
mendorong turun yield sehingga dapat memberikan dampak positif di pasar obligasi.
Namun demikian sejumlah risiko perlu dicermati oleh pasar obligasi di tahun 2016 diantaranya yakni
risiko penguatan mata uang dollar AS akibat divergensi kebijakan moneter global yakni agresif atau
tidaknya The Fed dalam menaikan suku bunga acuan lanjutan ditengah rendahnya suku bunga
acuan di zona Eropa, Jepang, dan Tiongkok. Selain itu, pasar obligasi juga perlu mencermati risiko
perlambatan ekonomi Tiongkok yang dapat kembali menekan harga komoditas global. Kemudian
dari dalam negeri, risiko kurang efektifnya implementasi paket kebijakan dan rendahnya serapan
anggaran dapat menjadi faktor penahan kinerja pasar obligasi.
TENTANG IBPA
Cakupan Valuasi Harga Pasar Wajar
Sampai dengan tanggal 31 Desember 2015, PHEI telah melakukan penilaian dan penetapan HPW
atas 528 seri jenis instrumen Efek bersifat utang dan Sukuk, dengan total jumlah outstanding
mencapai Rp. Rp2.299,946 Triliun. Dalam persentase, PHEI telah melakukan valuasi atas 97.03%
surat utang yang diterbitkan Pemerintah dan 98.93% obligasi dan sukuk korporasi dan 100% EBA
yang diperdagangan di pasar sekunder obligasi dalam negeri.
Adapun jenis instrumen yang telah divaluasi tersebut meliputi 118 seri surat utang yang diterbitkan
Pemerintah antara lain 14 seri Surat Perbendaharaan Negara (SPN), 54 seri Surat Berharga Negara
(SBN) denominasi Rupiah, 21 seri Surat Berharga Negara (SBN) denominasi US Dolar dan 29 seri
Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), dengan total nilai nominal mencapai Rp2.050,322
Trilliun.
Sementara itu untuk instrumen yang diterbikan oleh korporasi, PHEI telah melakukan penilaian dan
penetapan harga pasar wajar secara harian untuk 410 seri instrumen obligasi korporasi plain vanilla
dan Sukuk Ijarah korporasi, dengan peringkat (rating) investment grade dengan total nilai nominal
Rp249,624 Trilliun.
Tabel 9. Instrumen Surat Utang Yang Divaluasi PHEI sampai dengan 31 Desember 2015
ISIX dan ICBI sebagai Acuan Kinerja Pasar Surat Utang Indonesia
Pada tanggal 11 November 2015, IBPA meluncurkan rangkaian indeks obligasi bagi efek Sukuk
bernama Indonesia Sukuk Indexes (ISIX) dan indeks obligasi komposit bernama Indonesia Composite
Bond Index (ICBI) sebagai acuan kinerja pasar surat utang Indonesia. Kehadiran ISIX dan ICBI
merupakan lanjutan dari penerbitan INDOBeX pada tahun 2014 lalu, yang merupakan bagian dari
Pengembangan Pasar Surat Utang yang dicanangkan oleh Otoritas Jasa Keuangan. Penerbitan kedua
indeks tersebut juga merupakan bagian dari strategi pendalaman pasar keuangan (financial market
deepening) atas pasar surat utang Indonesia yang pelaksanaannya dilakukan oleh IBPA.
Valuasi Instrumen EBA‐SP
Pada tanggal 30 November 2015, IBPA resmi melakukan valuasi atas instrumen baru di pasar surat
utang yaitu Efek Beragun Aset berbentuk Surat Partisipasi. Hal ini merupakan tindak lanjut dari
penandatangan kerjasama antara SMF dan IBPA pada tanggal 11 November 2015. Penilaian dan
Penetapan Harga Pasar Wajar EBA‐SP melengkapi varian instrumen efek bersifat utang yang
dilakukan oleh IBPA. Keberadaan harga pasar wajar EBA‐SP diharapkan dapat menjadi acuan baik
bagi penilaian aset juga sebagai acuan transaksi pasar sekunder EBA‐SP. Hal ini diharapkan dapat
memacu investasi pada EBA‐SP serta mampu menciptakan EBA‐SP yang likuid. Selain itu, keberadaan
harga pasar wajar diharapkan juga mampu mendorong sekuritisasi KPR yang dapat berdampak
positif pada upaya pemerintah dalam menyediakan hunian yang layak bagi masyarakat.
Produk dan Value Added Services
TheNewBIPS merupakan media utama IBPA dalam mendistribusikan informasi harga pasar wajar
kepada pelaku pasar. Pengguna BIPS sampai dengan tanggal 31 Desember 2015 berjumlah 184
institusi, yang terdiri dari 61 institusi dana pensiun, 37 asset management, 31 perusahaan asuransi,
33 bank, 7 perusahaan sekuritas, 2 Money Broker dan 13 institusi lainnya.
TheNewBIPS berisi beragam informasi mulai dari harga pasar wajar, yield dan yield curves, varian
indeks obligasi, hasil riset berkali baik harian, mingguan maupun bulanan serta beragam aplikasi
yang mampu mendukung kegiatan pengguna TheNewBIPS dalam mengelola portofolionya. Aplikasi
tersebut antara lain Bond Calculator, ABS Calculator, MyPortfolio serta MyWatchlist.
Layanan Edukasi: School Of Bonds And Fixed Income (SoBFI)
Bentuk layanan lain yang diberikan PHEI kepada publik adalah penyelenggaraan training terkait
obligasi. Program yang bernama School Of Bonds And Fixed Income (SoBFI) disajikan melalui kelas
reguler maupun in‐house training. Mengambil tema Bond Market and Instruments dan Bond
Market Analysis, mulai tahun 2015 SoBFI memperkenalkan kelas baru yang mengambil tema Sukuk.
Sepanjang tahun 2015 telah diselenggarakan sebanyak 15 kelas reguler dengan 8 kelas Bond Market
and Instruments, 6 kelas Bond Market Analysis dan 1 kelas Sukuk. Selain itu, 7 kelas in‐house dengan
Otoritas Jasa Keuangan, Kementerian Keuangan, BNI, BRI dan Bank Mandiri juga telah
diselenggarakan dengan sukses. Total peserta yang telah mengikuti kelas reguler sebanyak 177
peserta dan 139 peserta yang mengikuti kelas in‐house.
Sekilas IBPA
PHEI adalah lembaga penilaian harga efek (LPHE) independen pertama dan satu‐satunya di Indonesia
yang fokus melakukan valuasi terhadap efek bersifat utang, sukuk dan efek lainnya. PHEI
mendapatkan izin sebagai LPHE dari Bapepam‐LK pada Agustus 2009. PHEI secara harian
menyediakan harga pasar wajar dan informasi imbal hasil untuk Surat Utang Negara dan Sukuk,
surat utang korporasi dan efek lainnya. PHEI bertujuan untuk mendukung pengembangan pasar
pendapatan tetap di Indonesia agar menjadi lebih teratur, efisien, likuid dan transparan.
Jakarta, 31 Desember 2015
Departemen Hukum dan Komunikasi Perusahaan
PT Penilai Harga Efek Indonesia
Menara Global Lantai 19
Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 27
Jakarta 12950
Telp: +6221 5270179 ext. 121