BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori
1. Tinjauan tentang Hakim a. Pengertian Hakim
Hakim sebagaimana tertera dalam Pasal 1 butir 8 KUHAP adalah pejabat peradilan negara yang diberi wewenang oleh Undang-undang untuk mengadili. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (5) Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman bahwa yang dimaksud dengan hakim adalah hakim pada Mahkamah Agung dan hakim pada badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan Peradilan Militer, lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara, dan Hakim pada Pengadilan khusus yang berada dalam lingkungan peradilan tersebut.
Istilah Hakim artinya orang yang mengadili perkara dalam pengadilan atau Mahkamah ; Hakim juga berarti Pengadilan. Berhakim artinya minta diadili perkaranya; menghakimi artinya urusan hukum dan pengadilan, ada kalanya istilah hakim dipakai oleh orang budiman, ahli dan orang bijaksana (Lilik Mulyadi, 2010, 125). Dibidang hukum pidana, hakim bertugas menilai apakah perbuatan Terdakwa tersebut melanggar Hukum pidana atau tidak. Untuk menetapkan hal tersebut secara tepat, seorang Hakim harus dapat menentukan Hukum Pidana yang mana telah dilanggar (Wirjono Prodjodikoro, 1974 : 26-27).
b. Kewajiban Hakim
Hakim sebagai penegak hukum dan keadilan memiliki tugas dan kewajiban pokok dan bidang peradilan yang secara normatif telah diatur di
dalam Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Adapun kewajiban pokok hakim menurut pandangan beberapa ahli :
1) Hakim wajib mengadili, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. Peran hakim disini adalah sebagai “sense of justice of the people”yaitu hakim sebagai penegak hukum dan keadilan wajib untuk menggali, mengikuti, serta memahami nilai-nilai hukum yang berlaku di masyarakat (Roeslah Saleh ,1979 : 5).
2) Hakim wajib memperhatikan sifat-sifat yang baik dan jahat dari terdakwa dalam mempertimbangkan berat ringannya pidana yang akan dijatuhkan. Setiap putusan yang akan dijatuhkan hakim haruslah didasarkan pada argumentasi hukum dengan alasan serta dasar hukum yang tepat dan benar. Oleh karena itu hakim perlu memahami benar keadaan pribadi seseorang agar dapat dijatuhkan Putusan yang seadil-adilnya.
3) Hakim harus dapat menemukan kembali dan menemukan pembaharuan hukum. Dalam hal ini hakim waib melakukan reinvensi hukum (menemukan kembali) serta menemukan pembaharuan hukum yang compatible untuk dikonsumsi masyarakat. Oleh karena itu hakim yang ideal, selain memiliki kepekaan hukum terhadap nilai-nilai keadilan, mampu mengintegrasikan hukum positif ke dalam nilai-nilai religious, kesusilaan, dan proses peradatan yang hidup berdampingan dalam masyarakat melalui setiap putusan yang dikeluarkan ( Barda Nawawi Arief, 2010 : 43).
c. Tanggung jawab Hakim
Hakim memiliki posisi yang cukup sentral dalam mewujudkan kehidupan yang harmonis serta berkeadilan. Maka dengan posisinya yang cukup sentral tersebut maka seseorang yang diangkat menjadi hakim mempunyai tanggung jawab yang besar yang senantiasa dipegang oleh hakim. Tanggung jawab tersebut adalah :
1) Tanggung jawab Moral
Hakim dalam hal ini harus tunduk dan mematuhi nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam lingkungan kehakiman. Seorang hakim harus mampu untuk memanifestasikan rasa keadilan yang terdapat dalam kenyataan normatif (das sollen) ke dalam kenyataan keseharian (das sein) melalui putusan-putusannya. Hal tersebut sesuai dengan tujuan adanya hakim yaitu menjamin tegaknnya hukum dan keadilaan.
2) Tanggung jawab Hukum
Tanggung jawab hukum sebagai hakim diatur dalam Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang disebutkan sebagai tanggung jawab profesi yang harus ditaati oleh hakim yaitu : a) Pasal 28 ayat (1) menyebutkan bahwa hakim wajib menggali,
mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.
b) Pasal 28 ayat (2) menyebutkan banwa dalam mempertimbangkan berat ringannya pidana, hakim wajib memperhatikan pula sifat yang baik dan jahat dari terdakwa, dan
c) Pasal 29 ayat (3) menyebutkan bahwa hakim wajib mengundurkan diri dari persidangan apabila terikat hubungan keluarga sedarah atau semenda sampai derajat ketiga, atau hubungan suami istri meskipun telah bercerai, dengan ketua, salah seorang Hakim Anggota, Jaksa, Advokat, atau Panitera.
3) Tanggung jawab Teknis Profesi
Dalam hal ini hakim dituntut untuk mampu melaksanakan tanggungjawabnya dalam profesinya sebagai hakim. Penting bagi hakim untuk memahami secara mendalam aturan-aturan mengenai hukum acara di persidangan. Ketidakmampuan hakim dalam mempertanggungjawabkan
tindakannya secara teknis atau yang dikenal dengan istilah unprofessional conduct dapat dianggap sebagai suatu pelanggaran.
d. Dasar Pertimbangan Hakim dalam Menjatuhkan Putusan
Dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan pidana bersyarat perlu didasarkan kepada teori dan hasil penelitian yang saling berkaitan sehingga didapatkan hasil penelitian yang maksimal dan seimbang dalam tataran teori dan praktek. Salah satu usaha untuk mencapai kepastian hukum dengan penegakan hukum secara tegas adalah melalui kekuasaan kehakiman, di mana hakim merupakan aparat penegak hukum yang melalui putusannya dapat menjadi tolok ukur tercapainya suatu kepastian hukum.
Pertimbangan hakim merupakan salah satu aspek terpenting dalam menentukan terwujudnya nilai dari suatu putusan hakim yang mengandung keadilan (ex aequo et bono) dan mengandung kepastian hukum, di samping itu juga mengandung manfaat bagi para pihak yang bersangkutan sehingga pertimbangan hakim ini harus disikapi dengan teliti, baik, dan cermat. Apabila pertimbangan hakim tidak teliti, baik, dan cermat, maka putusan hakim yang berasal dari pertimbangan hakim tersebut akan dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi atau Mahkamah Agung (Mukti Arto,2004:140).
Menurut Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Pertimbangan Hakim adalah pemikiran-pemikiran atau pendapat hakim dalam menjatuhkan putusan dengan melihat hal-hal yang dapat meringankan atau memberatkan pelaku. Setiap hakim wajib menyampaikan pertimbangan atau pendapat terlulis terhadap perkara yang sedang diperiksa dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari putusan.
Hakim dalam pemeriksaan suatu perkara juga memerlukan adanya pembuktian, dimana hasil dari pembuktian itu kan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam memutus perkara. Pembuktian merupakan tahap yang paling penting dalam pemeriksaan di persidangan. Pembuktian bertujuan untuk
memperoleh kepastian bahwa suatu peristiwa/fakta yang diajukan itu benar-benar terjadi, guna