• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI DALAM PROSES INDUSTRIALISASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI DALAM PROSES INDUSTRIALISASI"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI DALAM

PROSES INDUSTRIALISASI

Suatu kelaziman dalam mengukur perubahan struktur ekonomi bagi

negara berkembang disamping menganalisis kineja output ekonomi juga

menganalisis secara rinci perubahan kineja sektoral sehingga dapat

digambarkan perubahan struktur ekonomi secara keseluruhan. Bagi ekonomi

Indonesia perubahan peranan sektor menuju industrialisasi dapat ditampilkan

melalui besamya sumbangan sektor manufaktur dan sektor-sektor lain dalam

pembentukan PDB.

Pada Bab ini dibahas sampai berapa jauh perubahan peranan sektor

dalam pembentukan total output, termasuk juga struktur komponen total output

dan struktur Input-Output secara keseluruhan.

4.1

Perubahan Struktur Sektoral Total Output

Biasanya perubahan struktur ekonomi dianalisis berdasarkan penjabaran

menurut industry-mix atau peranan (share) masing-masing sektor dalam

menghasilkan output dalam ekonomi. Konsep ini bukan merupakan konsep

lengkap untuk analisis struktur ekonomi suatu negara, karena tidak

mencerminkan peranan input antara dan permintaan akhir dalam total output,

dan juga tidak mencerminkan peranan masing-masing komponen permintaan

(2)

indikator ini tetap dirasakan penting untuk menunjukkan perubahan jangka

panjang ekonomi suatu negara. Oleh sebab itu pada bagian ini dianalisis

perubahan struktur ekonomi Indonesia berdasarkan perubahan peranan industry-

mix terhadap total output.

4.1 .I Perubahan Industry-mix Total O u t ~ u t

Mengacu pada model analisis yang dikembangkan Bulmer-Thomas (1982)

dengan menggunakan harga pasar berlaku, menunjukkan bahwa total output

dalam ekonomi meningkat dari 76.3 milyar rupiah pada tahun 1980 menjadi

166.4 milyar rupiah pada tahun 1985; 368.3 milyar pada tahun 1990 dan menjadi 591.9 milyar rupiah pada tahun 1993 dengan rata-rata peningkatan sebesar 52

persen setahunnya. Peningkatan output yang cukup tinggi

ini

menyebabkan terjadinya perubahan struktur ekonomi antara lain perubahan struktur output

yang disajikan berikut ini.

Secara keseluruhan kondisi peningkatan output apabila diagregasi

menjadi 3 sektor besar seperti disajikan pada Gambar 7. Dari Gambar tersebut

tampak bahwa peranan sektor pertanian turun secara terus menerus, peranan

sektor manufaktur (yang meliputi sektor pertambangan, industri, listrik-gas-air,

dan bangunan) juga sektor jasa-jasa (termasuk sektor perdagangan, angkutan,

lernbaga keuangan dan jasa) meningkat cukup berarti selama periode 1980-

1993.

Dari tahun 1980 sampai tahun 1993, peranan sektor pertanian menurun

dari 20 persen menjadi 13 persen, sedangkan peranan sektor manufaktur

(3)

1980 1985 1990 1993 Tahun

l - ~ p e r t a n i a n (A) +ManufaMur (M) + J a w = (S)

I

Garnbar 7 : Peranan Tiga Sektor dalam Pernbentukan Total Output, 1980-1993

meningkat cukup berarti dari 28 persen menjadi 34 persen. Meskipun sektor

pertanian menunjukkan peranan yang semakin menunm, sektor ini masih

rnerupakan surnber pendapatan dan kesempatan kerja bagi lebih dari separuh

angkatan kerja. Peranan sektor ini masih dianggap penting karena akan

rnenstimulasi permintaan dalarn negeri terhadap produk-produk sektor non

pertanian. Seperti dalam studinya Booth (1992) mengernukakan bahwa turunnya

peranan sektor pertanian ini disebabkan karena berbagai sebab antara lain

ketatnya pemasaran produk pertanian, sulitnya pengembangan lahan pertanian,

terbatasnya ekologi yang sesuai untuk peningkatan intensifikasi pertanian, dan

revolusi-hijau yang berkaitan dengan padi (beras) sudah mencapai tahap akhir.

Hill (1996) juga menyebutkan bahwa turunnya sektor pertanian selain disebabkan

karena kejenuhan areal pertanian di Pulau Jawa juga disebabkan karena

(4)

pekebunan di luar Pulau Jawa. Hill (1992) dalam tulisannya mengatakan bahwa

peningkatan yang tidak begitu tajam pada sektor manufaktur selama periode

1980-1993 sangat dipengawhi oleh adanya resesi yang masih tejadi sampai

pertengahan tahun 1980-an, meskipun banyak sub-sektor pada periode tersebut

mengalami tingkat pertumbuhan yang cukup tinggi. Sektor jasa mernpunyai

peranan yang cukup tinggi dalam ekonomi sejalan dengan semakin matangnya

tingkat pembangunan ekonomi menuju pada tahapan pembangunan yang lebih

tinggi yaitu 'high mass consumption economies'. Pemyataan tersebut dapat dilihat

dalam Alexander & Booth (1992).

Uraian diatas apabila dirinci berdasarkan pengelompokan 17 sektor, maka

peranan masing-masing sektor dalam pembentukan output nasional selama

periode 1980-1993 adalah sebagai ditampilkan pada Gambar 8.

20 18 16 14 s 12 6 4 2 C P

-

E 91 4 i Sektor el880 811985 01990 .I993

(5)

Yang rnenarik dalarn penornena perubahan struktur ini adalah adanya

peningkatan peranan industri kirnia, minyak bumi, batu bara, karet dan plastik

dari kurang lebih 4 persen pada tahun 1980 menjadi 8.7 persen pada tahun

1993. Peningkatan yang cukup tinggi dari peranan industri kimia ini sejalan

dengan kebutuhan penggunaan bahan kimia ini untuk pengolahan minyak bumi,

sarana produksi (seperti pupuk dan insektisida) dan untuk pernenuhan kebutuhan

industri semen untuk pernbangunan fisik. Peningkatan peranan industri rnakanan

dan rninuman, lernbaga keuangan dan industri angkutan, penggudangan dan

komunikasi masing-masing dari 9.4 persen rnenjadi 12.7 persen, dari 3.6 persen

rnenjadi 6.5 persen, dan dari 5.1 persen rnenjadi 7.1 persen pada periode 1980-

1993 juga perlu diperhitungkan karena selain akan mernpengaruhi output

nasional juga berkaitan dengan penciptaan kesernpatan kerja. Memang hampir

semua sektor dalam perekonornian menunjukkan peranan yang rneningkat dalarn

pernbentukan total output nasional, rneskipun dua sektor besar yaitu sektor

pertarnbangan dan sektor pertanian rnenunjukkan kecenderungan peranan yang

semakin rnenurun masing-masing dari 18.4 persen menjadi 6.0 persen dan dari.

19.7 persen rnenjadi 12.6 persen selarna periode 1980 sarnpai 1993. Penurunan

peranan sektor pertarnbangan terutarna rninyak sangat dipengaruhi oleh faktor

harga yang tergantung pada fluktuasi harga di luar negeri. Azis (1992) dalarn

tulisannya rnenyebutkan bahwa kornoditi primer untuk perdagangan sangat

dipengaruhi oleh mernburuknya terms of trade dan ketidak stabilan ekspor.

Menurut Aziz, rnernburuknya terms of trade biasanya dipengaruhi oleh tiga faktor

yaitu : (1) elatisitas pendapatan untuk perrnintaan barang-barang primer

umurnnya lebih rendah dari satu; (2) eksistensi teknologi baru yang berhasil

(6)

menurunnya permintaan barang-barang primer; (3) peningkatan produktivitas di

negara-negara berkembang dan sedang berkembang mempunyai dampak yang

berbeda karena faktor persaingan bebas yang berpengaruh pada produk hasil

pertanian, sementara kekuatan monopoli menguasai sektor industri.

4.1 2 Perubahan Industrv-mix Permintaan Akhir

Permintaan akhir dari suatu ekonomi menurut struktur analisis Input-

Output biasanya di dekomposisi dalam empat komponen, yaitu : konsumsi.

investasi, ekspor dan impor. Dalam ha1 ini pada komponen konsumsi termasuk

konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah berupa pengeluaran

(expenditure) pemerintah. Karena setiap komoditi mempunyai elastisitas

pendapatan yang berbeda, maka secara logika dapat dikatakan bahwa apabila

pendapatan suatu negara meningkat maka industry-mix dari konsumsi dalam

negeri akan meningkat pula. Banyak ahli ekonomi yang menggunakan hipotesa

ini karena mereka menyadari bahwa keberadaan sektor jasa lebih cenderung.

mengacu pada "keinginan" (want) dan bukan pada "kebutuhan dasar" (basic

need). Dengan demikian biasanya elastisitas pendapatan dari jasa-jasa lebih

tinggi dibandingkan dengan elastisitas pendapatan dari sektor-sektor produksi

(pertanian dan manufaktur). Jadi, pada saat suatu negara menjadi lebih

berkembang dan lebih maju, biasanya peran sektor jasa semakin tinggi untuk

mengimbangi peningkatan kebutuhan konsumsi masyarakatnya. Gambar 9

menunjukkan perubahan tingkat konsurnsi yang dilihat berdasarkan peranan 17

(7)

Gambar 9 : Peranan 17 SeMor dalam Pemenuhan Konsumsi Masyarakat, .

1980-1 993

Dari Gambar 9 tampak bahwa selama periode lebih dari 10 tahun tampak terjadi

peningkatan peranan industri makanan minuman, industri kimia, minyak bumi.

batubara, karet dan plastik, industri logam mesin, industri pengolahan lain, listrik-

gas-air, sektor angkutan, lembaga keuangan dan jasa-jasa kemasyarakatan.

sosial dan perorangan dalam konsumsi domestik masyarakat. Menurut Sundrum

(1986) pertumbuhan pesat yang dicapai sektor industri manufaktur ini tidak hanya

disebabkan oleh kenaikan dalam proporsi pengeluaran konsumsi swasta yang

dibelanjakan untuk hasil-hasil industri manufaktur, tetapi juga karena kenaikan

tajam perrnintaan akan hasil-hasil industri manufaktur sebagai akibat kenaikan

pangsa penanaman modal. Selain itu pula pertumbuhan pesat sektor industri

manufaktur dimungkinkan oleh adanya impor besar-besaran bahan baku dan

(8)

Sektor-sektor yang mengalami penurunan peranan dalam pemenuhan

konsumsi nasional adalah sektor pertanian, pertambangan, industri tekstil,

industri kayu, industri kertas dan sektor perdagangan. lndustri logam dasar dan

bangunan tidak mempunyai peranan sama sekali dalam pembentukan konsumsi

domestik masyarakat pada periode dimaksud. Pada periode 1980-1993, sektor

jasa keuangan menunjukkan peningkatan peranan yang paling tinggi, tetapi

apabila dihitung berdasarkan rasio peranan sektor-sektor tersebut, maka sektor

industri pengolahan bukan logam mempunyai rasio peningkatan tertinggi

mencapai hampir 5.0 selama periode 1980-1993.

Secara agregasi tiga sektor, peranan sektor pertanian sebagai sektor

primer pendukung konsumsi menurun dari 22.3 persen menjadi hampi; 14.0

persen, peranan sektor manufaktur sebagai sektor sekunder meningkat dari 39.1

menjadi 41.9 persen. dan peranan sektor jasa sebagai sektor tersier meningkat

dari 38.7 persen menjadi 44.1 persen. Kecenderungan ini sesuai dengan

tahapan transformasi dari Chenery, Robinson dan Syrquin (1986) yang

mengemukakan bahwa peranan sektor primer (biasanya mengacu pada sektor,

pertanian) pada konsumsi masyarakat akan sernakin menurun sedangkan

peranan sektor sekunder (mengacu pada sektor manufaktur) dan tersier (sektor

jasa-jasa) akan semakin meningkat dan semakin penting artinya dalam

pertumbuhan ekonomi untuk menuju era industrialisasi.

Komponen permintaan akhir selanjutnya yang mempengaruhi perubahan

struktur ekonomi adalah investasi. Perubahan peranan 17 sektor dalam investasi

di lndonesia pada periode tahun 1980-1993 disajikan pada Gambar 10. Pada

periode tersebut konsentrasi investasi di lndonesia adalah pada tiga sektor

(9)

Gambar 10 : Peranan 17 Sektordalam Pembentukan lnvestasi Nasional.

1980-1993

meskipun investasi pada tahun 1985 nampaknya merata disemua sektor

termasuk sektor pertanian, industri makanan-minuman, industri kimia,

perdagangan, angkutan, keuangan dan jasa. Secara bersama-sama ketiga

sektor dominan menyerap 90.8 persen investasi pada tahun 1980 dan 79.9

persen pada tahun 1993, meskipun dominasi industri logam dan mesin

menunjukkan penurunan peranan pada tahun 1993. Kondisi tersebut sesuai

dengan arah dan kebijaksanaan perindustrian saat itu bahwa konsentrasi

pembangunan selain diarahkan untuk memenuhi kesejahteraan masyarakat

melalui pemenuhan kebutuhan perumahan juga diarahkan pada pengembangan

industri dasar yang antara lain adalah industri logam mesin, lihat Soehoed

(10)

Kegiatan infrastuktur yang ditandai dengan besarnya peranan sektor

bangunan yang mencapai 57.6 persen pada tahun 1980 secara relatif

menunjukkan kecenderungan yang menurun menjadi 56.4 persen pada tahun

1993 rneskipun jumlah ini tetap mendominasi eksistensi investasi di Indonesia.

Menurut Soehoed (1988), penurunan peranan sektor ini dipengaruhi oleh

rendahnya perkembangan sektor konstruksi dan bangunan sipil (civil engineer

sect03 dan dipengaruhi pula oleh munculnya investasi-investasi baru di sektor

lain terutama bagi pengembangan industri dasar. Sementara itu industri logam

mesin juga mengalami penurunan yang cukup berarti dari 25.6 persen pada

tahun 1980 menjadi 18.5 penen pada tahun 1993. Penurunan peranan investasi

secara relatif ini tidak berarti nilai absolut dari investasinya menurun bahkan

menunjukkan peningkatan yang cukup berarti.

Memang secara keseluruhan nilai absolut investasi dalam ekonomi

meningkat lebih dari 9 kali lipat dari 11.9 trilyun rupiah pada tahun 1980 menjadi

109.6 trilyun rupiah pada tahun 1993. Yang menarik lagi dari investasi ini adalah

bahwa industri makanan minurnan mengalami peningkatan investasi yang cukup '

pesat dengan kenaikan mencapai lebih dari 250 kali dari 24 milyar rupiah pada

tahun 1980 menjadi 6.1 trilyun rupiah pada tahun 1993. Dernikian juga industri

tekstil dan kulit mengalami kenaikan lebih dari 28 kali dan industri angkutan

mencapai lebih dari 20 kali peningkatannya. Oiperkirakan nilai investasi yang

besar dari sektor-sektor ini bukan saja telah menyumbang produksi nasional,

tetapi juga telah mampu menciptakan lapangan ke j a dalam ekonomi.

Pergeseran peranan sektor pada investasi memberi indikasi adanya

peningkatan kapasitas produksi dalam ekonomi secara keseluruhan. Kondisi ini

(11)

lndonesia yang sebagian besar disebabkan karena perturnbuhan output phisik

atau produksi didukung pula dengan peningkatan kapasitas produksi. ltulah

sebabnya dalarn ekonomi lndonesia peranan investasi didorninasi oleh

pernbangunan sarana-infrastruktur (sektor bangunan) pada periode 1980-1993.

Komponen pennintaan akhir dalam ekonorni adalah berkaitan langsung

dengan perdagangan. Tidak hanya struktur perrnintaan akhir domestik saja yang

berubah dalarn proses pernbangunan ekonomi Indonesia, tetapi struktur

perdagangan juga berubah. Garnbar 11 rnenunjukkan struktur peranan 17 sektor

dalarn ekspor Indonesia.

80 70 80 50

2

30 20 10 m P 4 -I Sektor m1980 MI985 01990 1993

Gambar 11 : Peranan 17 Sektor dalarn Ekspor, 1980-1 993

Pada tahun 1980 ekspor lndonesia di dorninasi oleh sektor pertarnbangan

terutama minyak burni. Produk pertanian pun rnenjadi andalan ekspor pada tahun

(12)

ekspor sektor pertambangan menurun drastis dari 70.1 persen pada tahun 1980

menjadi hanya 14.7 persen saja pada tahun 1993. Demikian pula halnya dengan

produk pertanian turun peranannya dalam ekpsor dari 12.3 persen pada tahun

1980 menjadi hanya 2.6 persen pada tahun 1993. Seperti yang diungkapkan Azis

(1992) turunnya peranan ekspor komoditi primer ini lebih dipengaruhi oleh resesi

ekonomi dunia sehingga term of trade memburuk dan tingkat harga dunia

berfluktuasi. Selain itu menurut MacBean (1966) penyebab ketidak stabilan

ekspor adalah karena kendala produksi komoditi primer (pertanian dan

pertambangan) yang mengandalkan tersedianya sumber daya alam.

Penurunan peranan ekspor produk sektor-sektor pertanian dan

pertambangan diimbangi dengan kenaikan peranan ekspor dari produk sektor

lain diantaranya industri kimia naik peranannya dari 4.6 persen pada tahun 1980

menjadi 16.2 persen pada tahun 1993; industri tekstil dan kulit naik dari 0.5

persen pada tahun 1980 menjadi 14.6 persen pada tahun 1993; perdagangan

naik dari 5.0 persen pada tahun 1980 menjadi 14.5 persen pada tahun 1993; dan

industri kayu naik dari 1.0 persen pada tahun 1980 menjadi 12.8 persen pada

tahun 1993. Kondisi ini sesuai dengan kebijakan deregulasi perdagangan yang

dimulai tahun 1985, dimana pada saat itu nilai tarif diturunkan hampir untuk

semua komoditi yang potensial untuk ekspor, lihat Azis (1992). Selain itu adanya

peningkatan peranan ekspor juga sebagai akibat devaluasi yang dilaksanakan

dua kali, yaitu pada bulan Maret 1983 sebesar 28.0 persen, dan pada bulan

September 1986 sebesar 31.0 persen. Menurut Azis (1992), dampak devaluasi

ini relatif lebih besar dibandingkan dengan dampak deregulasi perdagangan

(13)

Jadi, dapat disimpulkan bahwa perubahan struktur ekspor pada periode

1980-1993 ditandai dengan penurunan ekspor minyak dan produk pertanian,

tetapi diimbangi dengan peningkatan ekspor yang cukup berarti dari produk

sektor-sektor non-minyak dan non-pertanian.

Tiga ha1 yang haws diperhatikan untuk menganalisis ekspor. Pertama,

pola ekspor andalan berubah. Pada tahun 1980 hanya ada satu sektor andalan

ekspor Indonesia yaitu sektor minyak, tetapi pada tahun 1993 muncul banyak

sektor non-minyak yang menjadi andalan ekspor Indonesia. Kedua, perubahan

yang cukup berarti dari pentingnya peranan sektor sebagai penyumbang terbesar

pada ekspor. Sektor minyak bumi tadinya menjadi primadona ekpor (peringkat

pertama) pada tahun 1980 turun menjadi sektor peringkat ke tiga penyumbang

ekspor pada tahun 1993. Sektor utama andalan ekspor pada tahun 1993 adalah

tekstil, industri bambu (yang pada tahun 1980 merupakan sektor andalan ekspor

peringkat 10 tetapi pada tahun 1993 menjadi peringkat ke 2) dan kilang minyak.

Ketiga, ekspor Indonesia beralih dari produk yang mengandalkan sumberdaya

alam yang relatif terbatas terbatas ke produk material, energy intensive, dan

.

menggunakan teknologi relative tinggi. Selain itu sektor jasa yang mengandalkan

kualitas sumberdaya manusia sudah menunjukkan dominasinya dalam ekspor

seperti ditunjukkan oleh adanya kontribusi sektor keuangan dan restoran yang

(14)

Apabila diamati kondisi impor dalam ekonomi, maka dapat dikatakan

bahwa struktur impor lndonesia sangat kontras apabila dibandingkan dengan

struktur ekspomya. Seperti terlihat pada Gambar 12 impor produk industri logam

mesin pada 17 sektor rnendominasi sebagian besar impor Indonesia, dan

mencapai hampir lebih dua kali ripat dari produk kedua terbesar yang di impor

-

yaitu produk kimia pada periode tahun 1980-1993 meskipun terjadi sedikit

fluktuasi menurun pada periode 1985-1 990.

45 40 35 30 15 10 5 7 Sektor elm 61985 01990 81993

Gambar 12 : Peranan 17 Sektor dalam lmpor Indonesia. 1980-1993

lmpor dari produk industri logam mesin mencapai 38.5 persen dari seluruh impor

lndonesia pada tahun 1980, dan terus meningkat mencapai 38.9 persen pada

tahun 1985, mencapai 44.0 persen pada tahun 1990 dan sedikit menurun

menjadi 41.1 persen pada tahun 1993. Peningkatan ini sesuai dengan kondisi

(15)

ringan dan engineering. Seperti yang diungkapkan oleh Hill (1992) dalarn

studinya, bahwa peranan industri engineering meningkat sekitar tahun 1980an

sebagai akibat dari adanya kebijaksanaan pernerintah berkaitan dengan proteksi

besar-besaran pada industri yang baru berdiri (infant industries) dan memberi

kesempatan serta kemudahan untuk melakukan investasi dalarn bidang ini.

Selain itu, belum rnernadainya produksi logam rnesin dalam negeri juga memacu

tingginya impor kornoditi ini.

Apabila perubahan struktur impor dikaitkan dengan perubahan struktur

ekspor, maka dapat dikatakan bahwa struktur perdagangan intemasional

bergeser dari perdagangan bahan baku (dirnana ekspor didorninasi oleh rninyak

bumi), kepada perdagangan yang rnengandalkan proses industri didalarn negeri

(didukung oleh impor bahan baku, rnesin, dan bahan kirnia). Komoditi asal irnpor

tersebut kemudian di proses di dalam negeri yang selanjutnya akan

diperdagangkan didalam negeri, dan juga akan mengekspornya sebagai produk

jadi (final product) sehingga diharapkan akan rnenyumbang lebih banyak lagi nilai

tambah sektor manufaktur pada pernbentukan pendapatan nasional.

4.2

Perubahan Struktur Input

-

Output

Setiap ekonorni rnempunyai aktivitas produksi dan konsurnsi pada waktu

bersamaan. Sarnpai berapa banyak barang dan jasa yang tersedia untuk di

konsurnsi dalam ekonomi tidak hanya tergantung dari kemarnpuan ekonorni itu

untuk rnernproduksi barang dan jasa dirnaksud, tetapi juga tergantung pada

tingkat efisiensi dari ekonorni untuk rnemproduksi barang dan jasa, karena

(16)

proses produksi selanjutnya. Sudah pula diketahui bahwa tingkat teknologi

tertentu merupakan kunci untuk meningkatkan efisiensi produksi dan merupakan

salah satu faktor penentu untuk pertumbuhan dan pembangunan suatu ekonomi.

Walaupun tidak dapat dikatakan bahwa perubahan struktur ekonomi suatu

negara sangat ditentukan oleh perubahan teknologi dalam proses produksinya,

tetapi kenyataannya adalah bahwa perubahan struktural suatu ekonomi selalu

didukung oleh tingkat teknologi yang digunakan dalam proses produksi. Dalam

analisis terdahulu, dikemukakan bahwa produktivitas-netto dari input antara

dalam ekonomi lndonesia menurun antara tahun 1980 dan 1993. Pada bagian ini

dianalisis lebih lanjut lagi struktur Input-Output ekonomi lndonesia secara rinci.

4.2.1 Perubahan Struktur Biava Produksi

Struktur biaya produksi dari 17 sektor utama yang diukur dengan per unit

output disajikan pada Gambar 13. Yang termasuk dalam biaya produksi adalah

biaya tenaga kerja, biaya kapital, biaya input antara, surplus usaha dan biaya

lain-lain (biaya penyusutan, pajak tak langsung dan subsidi). Apabila diperhatikan

struktur biaya masing-masing sektor, maka ditemukan dua perbedaan utama dari

sektor yang termasuk dalam kelompok sektor pertanian, manufaktur

(pertambangan, industri, listrik dan bangunan) dan jasa (perdagangan, angkutan.

lembaga keuangan dan jasa-jasa). Pertama, biaya input antara untuk sektor

manufaktur (kecuali untuk sektor pertambangan) relatif lebih tinggi dibandingkan

dengan biaya input antara untuk sektor pertanian dan jasa. Biaya input antara

untuk sektor manufaktur mencapai lebih dari 50.0 persen pada periode 1980 dan

(17)

Sektor & Tahun

E U p h & Gad ESurplus Blaya lain2 Q Kapital E Input Antara

..

-

100% 80% 80% 40% 20% 0% -20%

Sektor & Tahun

-

U p h S Gaji Surplus OBiaya Lain2 Kapitai ll lnput Antara

E Upah & Gaji ESurplus Biaya Lain2 El Kapital lnput Antara

7

(18)
(19)

sumber-sumberdaya lainnya. Dengan demikian. biaya input antara kedua sektor

ini relatif kecil yang dihitung per rupiah output.

Dadi dimensi waktu, dapat dilihat dua persamaan dan dua perbedaan

pola perubahan struktur biaya produksi yang secara grafis disajikan pada

Gambar 14, Gambar 15 dan Gambar 16. Persamaan pettama dari perubahan ini

adalah bahwa biaya kapital per unit output (capital output mtio

=

COR) rata-rata meningkat disemua sektor dari tahun 1980-1993. Besaran COR ini digunakan

untuk melihat apakah dalam proses produksi diperlukan lebih banyak kapital

(capital intensive) yang ditunjukkan dengan peningkatan nilai COR yaitu

peningkatan biaya kapital per unit output yang dihasilkan. Peningkatan tertinggi

pada periode 1980-1993 ditemui pada sektor pertanian naik dari 0.02 menjadi

0.04; sektor manufaktur dari 0.3 menjadi 0.31; dan sektor jasa-jasa dari 0.03

menjadi 0.04. Data yang digunakan dalam analisis ini berdasarkan harga berlaku,

maka tingginya biaya kapital tidak sepenuhnya mencerrninkan lebih banyak

kapital untuk melaksanakan suatu proses produksi. Dalam ha1 ini peningkatan

biaya kapital per unit output yang diproduksi tidak sepenuhnya memberikan

.

indikasi bahwa ekonomi Indonesia menjadi lebih capital intensive pada periode

1980-1 993.

Persamaan kedua adalah bahwa rasio surplus usaha dan biaya total

output rata-rata menurun antara periode 1980 dan 1993. Memang ada beberapa

sektor yang mengalami peningkatan surplus usaha pada periode 1980 ke 1993

seperti sektor jasa dari 0.1 rnenjadi 0.13, angkutan dari 0.27 menjadi 0.28,

industri logam dasar dari 0.2 menjadi 0.21, industri kertas dari 0.16 menjadi 0.19,

industri makanan minuman dari 0.13 menjadi 0.15 dan sektor pettanian dari 0.60

(20)

Garnbar 14 : Perkembangan Biaya Tenaga Kerja per Unit Output. 1980-1993

(21)

Sektor

I

Garnbar 16 : Perkembangan Tingkat Upah Rata-rata. ?980-1993

pada sektor pertanian mencerrninkan adanya bias dari sistem perhitungan dalam

Input-Output Indonesia, dirnana kornpensasi untuk tenaga kerja yang bekerja

sendiri (self-employed workers) dihitung sebagai surplus usaha. Sektor pertanian

masih merupakan sektor terbesar dalam pernbentukan total output yaitu sebesar

kurang lebih 20 persen pada tahun 1980 dan rnenjadi

13

persen pada tahun

1993; dan sekitar 60 persen dari seluruh tenaga kerja disektor pertanian ini

merupakan tenaga kerja yang bekerja sendiri dan atau bekerja dibantu dengan

anggota rumah tangga lainnya.

Salah satu dari perbedaan yang terlihat dalam perubahan biaya produksi

adalah bahwa biaya input antara meningkat untuk sektor manufaktur dan sektor

jasa, sementara untuk sektor pertanian menurun. Kondisi ini menunjukkan bahwa

dari sisi peningkatan teknologi sektor pertanian relati lebih efisien dibandingkan

dengan kedua sektor lainnya dalam penggunaan bahan baku untuk produksi

(22)

output yang diproduksi pada sektor jasa memberi indikasi bahwa jasa-jasa

menjadi lebih goods intensive. Mengingat pada analisis terdahulu biaya tenaga

kerja dalam sektor jasa-jasa ini juga meningkat, salah satu cara untuk

menurunkan biaya adalah dengan mensubstitusi komoditi input yang digunakan

sektor jasa dengan yang lebih murah dan melakukan diversifikasi terhadap

kualitas sumberdaya manusia.

Perbedaan kedua yang terjadi adalah adanya perubahan biaya tenaga

kerja dalam produksi. Hampir seluruh sektor mengalami kenaikan biaya tenaga

kerja per unit output yang diproduksi kecuali sektor-sektor kayu (turun 0.08),

industri bukan logam (turun 0.07), industri pengolahan (turun 0.06), listrik (turun

0.05), perdagangan (turun 0.01), angkutan (turun 0.05), dan jasa-jasa (turun

0.08) selama periode 1980-1993. Untuk sektor-sektor lainnya dalam kelompok

klasifikasi 17 sektor mengalami kenaikan biaya tenaga kerja per unit output

antara 0.01 sampai 0.07 pada periode 1980-1993. Analisis selanjutnya

menunjukkan bahwa produktivitas tenaga kerja (banyaknya output yang

dihasilkan per tenaga kerja) meningkat untuk seluruh sektor pada periode tahurv

1980-1990, dan beberapa sektor mengalami penurunan pada periode 1990-1993

seperti sektor industri kimia, industri logam dasar, industri logam mesin, dan

lembaga keuangan. Sementara itu tingkat upah rata-rata yang ditunjukkan

dengan biaya tenaga kerja dibagi dengan jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam

sektor bersangkutan menunjukkan peningkatan di semua sektor kecuali di sektor

industri kertas, kimia, logam dasar, dan logam mesin yang mengalami

peningkatan pada periode 1980-1990 dan kemudian mengalami penurunan pada

periode 1990-1993. Meskipun di sektor lembaga keuangan menunjukkan

(23)

tingkat upah yang sudah relatif tinggi dibandingkan dengan tingkat upah di sektor

lainnya.

Secara urnurn, perubahan tingkat produktivitas tenaga kerja dan

perubahan tingkat upah rnernpunyai dampak yang berlawanan dalarn

perhitungan biaya tenaga kerja per unit output. Peningkatan produktivitas tenaga

kerja akan mengurangi biaya tenaga kerja per unit output sedangkan

peningkatan upah akan rneningkatkan biaya tenaga kerja per unit output dan

pengaruh kedua faktor tersebut (produktivitas dan upah) saling berkaitan satu

sarna lain. Kondisi ini tidak sepenuhnya berlaku untuk ekonomi Indonesia.

Contohnya untuk sektor kimia. Dengan tingkat produktivitas tenaga kerja

menurun mernberi kontribusi pada peningkatan biaya tenaga kerja per unit

output, rneskipun argumen selanjutnya dapat digunakan bahwa peningkatan

biaya tenaga kerja terjadi karena peningkatan upah. Untuk sektor tersebut,

tingkat upah rata-ratanya pun menunjukkan penunrnan yang cukup berarti. Hal

yang sama terjadi pula di sektor kertas, industri industri logarn dasar, dan industri

mesin, dimana penurunan produktivitas disertai dengan penurunan tingkat upah'

rata-ratanya.

Secara urnurn, perubahan teknis yang ditarnpilkan oleh struktur input

antara telah menunjukkan adanya pergeseran dari input antara sektor pertanian

ke penggunaan yang lebih tinggj input antara berasal dari sektor manufaktur dan

sektor jasa selarna periode 1980-1993. Jadi dengan sernakin rneningkatnya

perturnbuhan ekonorni Indonesia, sektor jasa tidak hanya semakin penting

peranannya dalam konsumsi, tetapi juga sernakin penting peranannya dalarn

(24)

4.2.2 Perubahan Output Multiplier Sektoral

Input-input antara mengkaitkan berbagai sektor dalam ekonomi menjadi

satu kesatuan sistem produksi yang berkesinambungan. Meskipun tidak ada

hubungan permintaan dan penawaran input antara secara langsung diantara

beberapa sektor, seringkali sektor-sektor ini berkaitan satu dengan lainnya

secara tidak langsung. Jadi ada baiknya dianalisis hubungan langsung dan tidak

langsung untuk melihat secara lebih akurat dampak dari perubahan suatu sektor

terhadap keberadaan sektor lainnya dalarn ekonomi secara keseluruhan. Matriks

kebalikan Leontief, (I-A)-', dari matriks koefisien input antara, A, suatu ekonomi

merupakan rnatrik yang dapat rnenangkap perilaku kedua dampak ini baik secara

langsung maupun tidak langsung sebagai akibat adanya perubahan dalam

ekonomi yang disebabkan oleh aktivitas produksi maupun karena perubahan

permintaan akhir. Setiap elemen dari matriks kebalikan ini mengukur banyaknya

output sektor tertentu yang dibutuhkan secara langsung dan tidak langsung untuk

menghasilkan satu unit output sektor tertentu untuk memenuhi permintaan akhir.'

Sebagai contoh, koefisien kebalikan batubara untuk industri besi baja mengukur

jumlah batubara yang dibutuhkan secara langsung dan tidak langsung untuk

menghasilkan satu unit besi baja untuk memenuhi permintaan akhir. Batubara

akan dibutuhkan secara langsung dalam proses produksi besi baja, dan

dibutuhkan secara tidak langsung dalam produksi bahan kimia, listrik dan input

lain yang diperlukan dalarn proses produksi besi baja. Selain itu, batubara

tersebut secara tidak langsung juga diperlukan dalam proses produksi input lain

yang diperlukan untuk memproduksi bahan kimia, rnenghasilkan listrik dan input

(25)

Jumlah kolom dari matriks kebalikan, (LA)-', ini disebut sebagai output

multiplier analisis Input-Output, lihat Bufmer-Thomas (1982), Yotopoulos and

Nugent (1976). Output multiplier suatu sektor mencerminkan pengaruh baik

secara langsung maupun tidak langsung dari kenaikan satu unit permintaan akhir

yang terdiri dari konsumsi rumah tangga, pengeluaran pamerintah, pembentukan

modal, dan ekspor neto, terhadap nilai output pada sektor bersangkutan secara

keseluruhan. Semakin besar. output multiplier dari suatu sektor, semakin besar

pula dampak perubahan permintaan akhir sektor bersangkutan terhadap total

nilai output dalam ekonomi. Nilai dari output multiplier sektoral dipengaruhi oleh

dua faktor. Pertama adalah tergantung pada share biaya input antara dalam total

biaya produksi per unit output. Dengan membuat asumsi hal-ha1 lain tidak

berubah, semakin besar share tersebut, semakin besar pula output multiplier dari

sektor bersangkutan. Faktor kedua adalah tergantung dari industry-mix dari

sektor input antara. Untuk kasus dua sektor, yang mempunyai share biaya input

antara dalam total biaya produksi sama besar, output multiplier- dari sektor yang

menggunakan lebih banyak input berasal dari output sektor dengan multiplie;

relatif besar

-

akan menjadi lebih besar apabila dibandingkan dengan output multiplier dari sektor yang menggunakan input berasal dari output sektor dengan

multiplier relatif kecil.

Apabila dianalisis eksistensi sektor-sektor dalam ekonomi, maka

umumnya sektor pertanian (A) dan sektor jasa (S) mempunyai output multiplier

yang relatif lebih kecil apabila dibandingkan dengan sektor manufaktur (M),

mengingat kontribusi biaya input antara dari sektor pertanian dan sektor jasa

(26)

kedua sektor tersebut terdahulu secara relatif lebih banyak menggunakan tenaga

k e j a (labor intensive), dan dalam ha! ini biaya tenaga k e j a dianggap sebagai

nilai tambah.

Apabila dicoba untuk membandingkan sektor yang sama pada kondisi

ekonomi yang berbeda, maka umumnya sektor yang berada pada ekonomi maju

mempunyai output multiplier yang lebih besar. Ada tiga alasan mengapa output

multiplier dari sektor-sektor dinegara yang lebih maju ekonominya relatif lebih

besar. Pertama, apabila ekonomi semakin maju, maka struktur input antara

menjadi lebih kompleks. Seperti telah diuraikan terdahulu, sektor manufaktur

mempunyai keterkaitan input yang lebih panjang dan lebih kompleks

dibandingkan dengan sektor pertanian. Semakin banyak output dari sektor-sektor

yang termasuk dalam kelompok sektor manufektur yang digunakan sebagai input

oleh sektor-sektor lain dalam kelompok yang sama, akan lebih meningkatkan

lingkaran proses produksi dan tentu saja

-

dengan sendirinya akan meningkatkan output multiplier dari setiap sektor.

Kedua, organisasi struktur produksi secara internal berubah. Fungsi yang

sama dalam organisasi produksi yang berbeda biasanya dijumpai dalam

organisasi-organisasi produksi baru. Sebagai contoh jasa akuntansi dan jasa

bantuan hukum. Awalnya, organisasi ini berfungsi sebagai salah satu

departemen atau divisi atau unit dalam organisasi produksi. Tetapi, untuk

mencapai economy of scale, banyak dari unit akuntansi dan bantuan hukum ini

memisahkan diri dari induk organisasi produksi dan membentuk satu organisasi

tersendiri dengan spesialisasi memberikan konsultasi dalam bidang jasa

akuntansi atau bantuan hukum. Untuk organisasi-organisasi produksi yang

(27)

tadinya mempunyai unit jasa akuntansi dan bantuan hukum, keberadaan unit

tersebut dalam organisasi di anggap sebagai bagian dari internal input, dan

dengan adanya pemisahan unit-unit ini dari instansi induknya, maka unit-unit itu

menjadi ekstemal input. Artinya, keterkaitan secara horizontal dari ekonomi

semakin rneningkat.

Ketiga, apabila ekonomi suatu negara menjadi semakin berkembang dan

maju, biaya tenaga kerja akan meningkat relatif lebih cepat dan lebih tinggi dari

biaya material. Untuk memaksimalkan keuntungan, biasanya input tenaga kerja

akan disubstitusi dengan input materi, dengan demikian, akan meningkatkan

kontribusi biaya input antara dalam total biaya produksi. Salah satu faktor untuk

mengurangi output multiplier dari suatu sektor di dalam ekonomi yang telah maju

adalah dengan peningkatan teknologi. Jika peningkatan teknologi rnernpunyai

dampak penggunaan biaya input antara yang relatif lebih sedikit (ada saving)

dibandingkan dengan biaya tenaga kerja, maka peningkatan teknologi akan

mengurangi kontribusi biaya input antara dalam total biaya produksi, demikian

pula akan mengurangi output multiplier.

Output multiplier 17 sektor ekonomi Indonesia selama tahun 1980-1 993

disajikan pada Gambar 17. Seperti yang diharapkan, output multiplier dari sektor

manufaktur (kecuali pertambangan) relatif lebih tinggi dibandingkan dengan -

output multiplier sektor pertanian dan sektor jasa-jasa. Pada tahun 1980 industri

logam-mesin mempunyai output multiplier tertinggi (2.6) diantara 17 sektor

ekonomi. Dengan kata lain, penambahan setiap unit permintaan akhir akan

menciptakan 2.6 unit nilai output industri logam-mesin dalam ekonomi. Kondisi

(28)

Gambar 17 : Ouput Multiplier Indonesia. 1980-1993

Pada tahun ini oufput multipliertertinggi adalah pada industri tekstil dan kulit yaitu

2.5 sedangkan industri logam-mesin turun sedikit pengaruhnya menjadi 2.5.

lndustri pertambangan merupakan sektor yang mempunyai output multipliefi

terendah pada kedua periode tersebut yaitu hanya rnencapai 1.2 pada tahun

1980 dan hampir tidak berubah pada tahun 1993. Selama periode 1980-1993

sektor yang mengalami kenaikan output multiplier tertinggi adalah industri

pengolahan dari 1.8 menjadi 2.1, sedangkan sektor yang mengalami penurunan

output multiplier tertinggi adalah industri kimia dari 2.2 menjadi 2.0. Peningkatan

output multiplier yang tents menerus pada sektor perdagangan dan lembaga

keuangan mencerminkan peningkatan biaya input antara dari jasa produksi, dan

(29)

Sudah sejak lama output multiplier digunakan sebagai index untuk

menghitung peranan suatu sektor (sebagai driving force) dalam ekonomi menurut

versi analisis Input-Output. Hasil analisis lebih baik apabila dilaksanakan hanya

membandingkan berbagai sektor pada suatu saat saja. Tetapi, mungkin akan

memberikan kesimpulan yang tidak betul apabita membandingkan output

multiplier pada sektor yang sama untuk periode waktu berbeda. Ada yang

mengatakan bahwa tujuan dari suatu ekonomi adalah tidak hanya

memaksimumkan total output dari masyarakat, tetapi memaksimumkan PDB.

Sampai seberapa tinggi pendapatan bersih dapat diciptakan dengan

memproduksi sejumlah output tertentu

-

ditentukan secara umum oleh tingkat teknologi dari ekonomi tersebut. Suatu ekonomi akan menjadi lebih efisien jika

dapat menciptakan lebih banyak pendapatan bersih dengan memproduksi output

pada jumlah yang sama. Untuk sektor tertentu, kondisi tersebut memberi

pengertian bahwa efisiensi dapat dicapai dengan kontribusi biaya input antara

pada biaya total produksi yang lebih rendah dan dengan kontribusi nilai tambah

pada total biaya produksi yang lebih tinggi. Kontribusi input antara dalarn total'

biaya produksi rendah, artinya mempunyai output multiplier yang lebih rendah,

dan hal-ha1 lain dianggap tetap. Dengan demikian. penurunan output multiplier

dari suatu sektor pada periode tertentu tidak berarti bahwa driving force dari

sektor bersangkutan dalam ekonomi menjadi berkurang.

Kenyataan rnenunjukkan bahwa penurunan output multilpier dari sektor

komunikasi yang disebabkan oleh penurunan input antara yang dibutuhkan per

unit output memberi indikasi bahwa sektor ini mengalami perubahan teknologi

(30)

tersebut telah berhasil meningkatkan efisiensinya dalam input materi dan

kompetisi internasional dari ekonomi Indonesia.

4.3 Dekomposisi Perubahan Output Sektoral

Alat analisis yang digunakan pada bab ini adalah model dekomposisi

Input-Output seperti disajikan pada Bab 3. Model tersebut diimplementasikan

untuk ekonomi Indonesia dengan menggunakan Tabel Input-Output dan demand

driven. Pada sisi permintaan, delive~y barang-barang konsumen dan barang-

barang kapital baru dianggap sebagai bagian dari produk akhir dalam ekonomi

(PDB). Pada sisi penawaran, penawaran tenaga kerja dan penawaran barang-

barang kapital dianggap sebagai input-input eksogen. Lingkaran aktivitas

-

yang mengkaitkan penawaran tenaga kerja oleh rumah tangga dengan tenaga kerja

produksi, dan lingkaran aktivitas yang mengkaitkan penawaran barang-barang

kapital dan barang-barang produksi

-

tidak tertutup. Dikatakan bahwa model yang digunakan adalah demand driven dalam arti bahwa output yang diproduksi

dengan koefisien teknis tertentu, besarnya ditentukan oleh permintaan akhir yang

juga dipengaruhi oleh faktor-faktor eksogen. Tingkat dan struktur total output

tidak mempunyai pengaruh pada permintaan akhir. Kondisi ini membatasi tingkat

akurasi dari model sebagai alat untuk menangkap perilaku nyata.

Pada sub Bab ini dianalisis setiap perubahan total output secara

kuantitatif berdasarkan 14 dampak yaitu : (1) dampak pertumbuhan proporsional (DPP); (2) dampak perubahan koefisien teknis (DPKT); (3) dampak perubahan

(31)

pengeluaran pemerintah (DPIG); (5) dampak perubahan industry-mix dari

pembentukan modal tetap (DPIMT); (6) dampak perubahan industry-mix dari

perubahan stock (DPIS); (7) dampak perubahan industry-mix dari ekspor (DPIE);

(8) dampak perubahan industry-mix dari impor (DPIM); (9) darnpak perubahan struktur makro ekonomi dari konsumsi (DPMC); (10) dampak perubahan struktur

makro ekonomi dari pengeluaran pemerintah (DPMG); (1 1) dampak perubahan

struktur makro ekonomi dari pembentukan modal tetap (DPMMT); (12) dampak

perubahan struktur makro ekonomi dari perubahan stock (DPMS); (13) dampak

perubahan struktur makro ekonomi dari ekpor (DPME), dan (14) dampak

perubahan struktur makro ekonomi dari impor (DPMM).

Dampak-dampak tersebut merupakan dampak keseluruhan (langsung dan

tak langsung) karena adanya perubahan permintaan akhir terhadap output setiap

sektor. Sektor yang berbeda mempunyai struktur input antara yang berbeda dan

mempunyai output multilpier yang berbeda, maka perubahan yang sama dari

permintaan akhir sektor yang berbeda akan mempunyai dampak yang berbeda

pula pada total output. Jadi ke 14 dampak tersebut tidak berlaku proporsional,

terhadap perubahan permintaan akhir.

Analisis pada bagian ini akan dimulai dengan mengidentifikasi apakah

dari ke 14 dampak tersebut diatas memberikan pengaruh yang sama pada setiap

output sektoral yang diukur dari peningkatan atau penurunan output sektor

bersangkutan. Dari analisis terdahulu diketahui bahwa total output dalam

ekonomi Indonesia meningkat sebanyak lebih dari 70 kali dari 76 trilyun rupiah

menjadi 592 trilyun rupiah selama periode 1980-1993. Artinya, kalau tidak terjadi

perubahan struktur sama sekali, maka secara togika setiap sektor akan

(32)

proporsional akan rnempunyai pengaruh peningkatan yang proporsional juga

terhadap output sektoral. Selain pertumbuhan proporsional, lima perubahan

dalam struktur makro ekonomi yaitu perubahan peranan konsurnsi, pengeluaran

pemerintah, investasi, ekspor dan impor, juga seharusnya memberikan dampak

proporsional yang sama terhadap output disemua sektor. Keadaan ini

dimungkinkan karena setiap komponen permintaan akhir mempunyai

kesempatan untuk berubah secara proporsional dengan tanda negatif atau

positif. Misalnya, output sektoral pada komponen ekspor berubah dengan tanda

positif. Artinya, jika proporsi ekspor pada total penintaan akhir meningkat, akan

mempengaruhi peningkatan pada setiap output sektoral, kecuali sektor

bersangkutan tidak mempunyai kaitan dengan ekspor, baik secara langsung

maupun tidak langsung.

Hasil aplikasi dari ke 14 model dekomposisi yang disebutkan terdahulu

untuk tahun 1980 dan 1993 hanya disajikan untuk empat subsektor sektor yaitu

pertanian (lo), sektor industri makanan dan minuman (31), sektor industri tekstil,

pakaian jadi dan barang dari kulit (32), sektor perdagangan, restoran dan hotel

(60) yang disajikan pada Gambar 18 sampai Gambar 21. Pemilihan sektor ini

dilakukan secara acak untuk dapat mewakili analisis sektor pertanian, manufaktur

dan jasa. Gambar 18 menyajikan komposisi perubahan output sektor pertanian

untuk tahun 1980-1993. Dari Gambar 18 terlihat bahwa sektor pertanian

menanggung dampak perubahan struktural yang besar selama periode tahun

(33)

'qt?!dn~ J ~ A I ! ~ ~ 8 6 P C Jesaqas ue!ueyad Jolyas

lndlno eAuun~n$ uey)eq!ye6uaur u!el ehep ~aqwns-~aqwns ueyeun66uaw 6ueA

Jolyas y n p o ~ d ay ue!ueuad Jolyas ynpo~d uep !surnsuoy ueJasa6Jad eAu!pe[lal

ju! Jolyas lndino d e p e ~ a l (31da) y!)sawop !sunsuoy x,u1-10~snpu! ueyeqn~ad

eAuepe qelepe y~e6au eJe3as ue!ueuad Jolyas ~ n d l n o ueqeqruad !yme6uadwaw

6ueA JesaqJa) enpay ueqeqnrad .eAuyn66unsas l n d ~ n o ueeld!wad uep

!el!u !y!qalaur 6ueA leuo!s~odwd ueqnqurnpad )!$!sod yedurep ue6uap 6ue!un)!p

!u! Jolyas eped s!uya$ ua!syaoy ueqeqruad uep j ~ e 6 a u yedwea ' ~ 6 6 ~ - 0 8 6 1

(34)

Perubahan industry-mix dari pengeluaran pemerintah (DPIG) juga menjadi

penyebab turunnya output sektor pertanian sebesar 109 milyar rupiah selarna

periode tahun 1980 dan 1993. Sisi positif yang rnernberi kontribusi paling besar

terhadap pertumbuhan sektor pertanian selain dampak pertumbuhan

proporsional (DPP) adalah dampak perubahan struktur industry-mix perubahan

stock (DPIS) dan juga dampak perubahan peranan perubahan stock (DPMS)

pada perrnintaan akhir. Selain itu perubahan industry-mix ekspor dan perubahan

industry-mix irnpor sektor pertanian memberi kontribusi terhadap perubahan output sektor pertanian kearah yang negatif. Jika tidak ada perubahan struktur

dalam ekonomi lndonesia pada periode 1980 dan 1993, pertumbuhan

proporsional akan rneningkatkan output sektor pertanian sebesar 85 485 milyar

rupiah. Kenyataan menunjukkan bahwa peranan impor dalam total perrnintaan

akhir dornestik (DPMM) adalah positif, artinya untuk memproduksi satu unit PDB

dibutuhkan lebih banyak input produk yang berasal dari impor dibandingkan

dengan input produk yang berasal dari dalam negeri; tetapi adanya perubahan

industrymix dari impor (DPIM) terhadap output sektor pertanian mernberikaw dampak yang negatif. Kondisi ini menyarankan bahwa adanya kegiatan

substitusi impor akan meningkatkan output sektor pertanian dan akan

menurunkan peranan impor dalam pembentukan PDB.

Berkaitan dengan adanya dampak negatif yang cukup tinggi dari

perubahan koefisien teknis terhadap output sektor pertanian, maka disarankan

untuk rnengurangi peranan output sektor pertanian yang digunakan sebagai input

produksi oleh sektor lain, dan juga berupaya mensubtitusi produk-produk impor

yang didatangkan untuk memenuhi permintaan akhir dengan produk-produk

(35)

pada komoditi impor. Secara keseluruhan perubahan struktur ekonomi

mempunyai dampak negatif yang relatif besar pada pertumbuhan sektor

pertanian, sehingga hanya menyebabkan peningkatan output sektor pertanian

sebesar 59 379 milyar rupiah selama periode 1980 dan 1993.

Komposisi perubahan output sektor industri makanan dan minuman (31)

disajikan pada Gambar 19. Selain dipengaruhi oleh perubahan pertumbuhan

proporsional

(DPP),

faktor-faktor dominan yang mempengaruhi secara positif

( 1 O . m )

-

1

10,m 20,000 30,000 40,m 50,000 60,000 70,000

Nilai (Milyar Rp.)

I

Gambar 19 : Komposisi Perubahan Output Sektor lndustri Makanan dan Minuman (31). 1980-1993

pertarnbahan output nasional sektor ini adalah dampak perubahan industry-mix

(36)

dampak perubahan industry-mix perubahan stock (DPIS), dampak perubahan

industry-mix ekspor (DPIS) dan dampak perubahan peranan konsumsi pada

pemenuhan permintaan akhir (DPMC). Faktor dampak perubahan industry-mix

impor (DPIM) untuk pembentukan total output sektor ini dan dampak perubahan

peranan ekspor pada pemenuhan permintaan akhir (DPME) adalah negatif.

Artinya kedua faktor ini telah rnengurangi pernbentukan total output nasional

sektor industri makanan dan minuman.

Gambar 20 menyajikan komposisi perubahan output sektor industri tekstil,

pakaian jadi dan barang dari kulit (32) selama periode 1980 dan 1993.

Gambar 20 : Komposisi Pembahan Output Sektor lndustri Tekstil. Pakaian Jadi dan Barang dari Kulit (32), 1980-1993

(37)

Yang rnenarik adalah bahwa sektor ini telah berhasil rnenyurnbangkan

nilai ekspor tertinggi (peringkat satu) dalarn perekonornian nasional yang

ditunjukkan dengan nilai darnpak perubahan industry-mix ekspor (DPIE) sebesar

19 548 milyar rupiah rneskipun keberhasilan ini juga diikuti dengan tingginya nilai

impor

-

ditunjukkan dengan darnpak perubahan industry-mix impor (DPIM)

-

yang rnencapai 6 456 rnilyar rupiah. Nilai ekspor sektor ini berhasil rnelebihi

pertambahan nilai dari total output yang marnpu dihasilkan oleh sektor selama

periode 1980 dan 1993. Artinya, ekspor sektor selain diperuntukkan bagi output

sektor ini sendiri, juga telah berhasil menarik output produk ikutan sebagai

sumber alternatif ekspor sektor. Contoh produk ikutan industri pakaian jadi

adalah asesoris (hiasan) yang rnelekat pada pakaian jadi seperti ikat pinggang,

dasi dan lain-lain. Darnpak perubahan industry-mix konsurnsi (DPIC) telah

rnengurangi pernbentukan output sektor ini sebesar 4 521 milyar rupiah.

Perubahan komposisi output sektor perdagangan, restoran, dan hotel

disajikan pada Gambar 21. Dibandingkan dengan dampak perubahan

proporsional (DPP) maka darnpak perubahan struktural sektor ini relatif kecil.

Diantaranya ada lima darnpak yang memberikan pengaruh cukup berarti pada

perubahan output.

Dampak perubahan industry-mix ekspor (DPIE) mendukung peningkatan

output sektor yang relatif besar sebanyak 12

008

rnilyar rupiah, tetapi perubahan

peranan ekspor untuk mernenuhi perrnintaan akhir (DPME) rnengakibatkan

penurunan pernbentukan total output sektor sebesar 1 612 rnilyar. Selain itu

(38)

4.4

Peranan Perubahan Perrnintaan Akhir

Tujuan bagian ini adalah untuk rnenganatisis bagaimana perubahan

S t ~ k t u r ekonorni Indonesia pada periode 1980 sampai 1993 dan menganalisis

driving forces dari percepatan pertumbuhan ekonomi. Pada bagian terdahulu

telah dianalisis komposisi perubahan output untuk setiap sektor pada

pengelompokan 17. Analisis yang diungkapkan berkaitan dengan perubahan

struktur yang dialami oleh masing-masing sektor dan peranan dari ke 13 faktor

yang mernpengaruhi perubahan struktur pada ekonomi secara keseluruhan.

Konsentrasi analisis pada bagian ini, adalah pada analisis pentingnya peranan

setiap komponen dari lima komponen permintaan akhir dalam ekonomi. Ukuran

yang biasa digunakan untuk rnelihat peranan masing-masing komponen

permintaan akhir ini adalah dengan menghitung kontribusi kornponen permintaa~

akhir pada PDB (rasio ekspor dan PDB). Ukuran ini dianggap sebagai ukuran

'peranan langsung'. Darnpak tidak langsung dari komponen perrnintaan akhir

pada total output dalam ekonomi tidak diperhitungkan dalarn ukuran peranan

langsung. Setiap komponen permintaan akhir mernpunyai industry-mix yang

berbeda, dan masing-masing sektor perrnintaan akhir mempunyai output

multiplier yang berbeda pula, oleh sebab itu jumlah permintaan akhir yang sarna

dalarn komponen yang berbeda akan memberikan dampak tidak langsung yang

berbeda pada pernbentukan total output secara keseluruhan. Jadi, jika digunakan

(39)

menghasilkan peranan nilai satuan komponen permintaan akhir dalam total

output pada ekonomi secara keseluruhan, maka ukuran ini akan berbeda dengan

ukuran yang digunakan untuk menghitung 'peranan langsung' komponen

bersangkutan. Dengan menggunakan dasar model input-Output, dianalisis kedua

perubahan

-

peranan langsung dan peranan total

-

ke lima komponen perrnintaan akhir dalarn ekonomi Indonesia periode 1980 dan 1993.

Gambar 22 dan Gambar 23 menyajikan peranan langsung dan peranan

total ke lima komponen permintaan akhir 1980 dan 1993. Dari kedua Gambar

tenebut terlihat bahwa pola peranan kelima komponen permintaan akhir

terhadap PDB maupun terhadap total output menunjukkan kecenderungan yang

sama. Pada kedua p d o d e tahun, konsumsi domestik dalam ekonomi

mempunyai peranan terbesar baik secara langsung maupun secara total. Kalau

dianggap bahwa komponen ekspor dan komponen investasi mempunyai peranan

penting ke dua dan ke tiga, rnaka komponen pengeluaran pemerintah hanya

menunjukkan peranan yang relatif kecil saja dalam ekonomi keseluruhan pada

tahun 1980 maupun 1993. Meskipun dampak tidak langsung tidak cukup besar;

untuk merubah posisi kepentingan masing-masing komponen dalam ekonorni,

tetapi darnpak tidak langsung ini paling tidak telah berhasil mengurangi peranan

semua komponen pada ekonomi walaupun masih dapat mempertahankan

peringkat peranan masing-masing komponen. Dari sisi peranan langsung,

komponen konsumsi mempunyai angka indeks sebesar 53 persen, komponen

ekspor 33 persen, investasi 25 persen dan pengeluaran pemerintah 11 persen.

Dari sisi peranan total, indeks komponen konsumsi turun menjadi 34 persen,

ekspor 21 persen, investasi 16 persen dan pengeluaran pemerintah hanya

(40)

Konsumsi Pengel. lnvestasi Ekspor

(C) Pern. (G) (K) (E)

Komponen Permintaan Akhir

Gambar 22 : Peranan Komponen Permintaan Akhir pada PDB dan Total Output, 1980

Konsumsi Pengel. lnvestasi Ekspor Irnpor (M)

( C ) Pem. (G) (K) (E) Komponen Permintaan Akhir

(41)

pola peranan langsung maupun peranan total yang sama, tetapi harus

diperhatikan bahwa ada kenaikan dan ada pula penurunan peranan ini. Misafnya

peranan konsumsi meningkat menjadi 57 penen, peranan pengeluaran

pernerintah turun menjadi 9 persen, tetapi peranan investasi meningkat menjadi

34 persen. Selain itu komponen impor juga menunjukkan peningkatan

peranannya pada PDB rnenjadi 26 persen terutama untuk memenuhi perrnintaan

akhir.

Jika digunakan ukuran peranan ekspor pada PDB untuk rnenghitung

ketergantungan ekonomi Indonesia, maka ada dua kesimpulan penting. Pertama,

total ketergantungan ekspor dari ekonomi lndonesia relatif menurun dari 33

persen pada tahun 1980 rnenjadi 26 persen pada tahun 1993 terutama

disebabkan karena menurunnya peranan pertambangan minyak dalam ekspor

seperti ditunjukkan oleh Gambar 24. Kedua, ketergantungan ekspor ekonomi

lndonesia secara langsung maupun tidak langsung meningkat antara tahun 1980

dan 1993 seperti ditunjukkan oleh Garnbar 25 dan Gambar 26.

Kondisi yang ditampilkan pada Gambar 24 memperlihatkan turunnya

peranan sektor pertambangan dalam ekspor lndonesia dari 70.1 persen pada

tahun 1980 menjadi 14.7 persen pada tahun 1993. Meskipun demikian,

penurunan peranan kedua sektor ini dalam ekspor lndonesia didvkung dengan

meningkatnya ekspor manufaktur terutama industri kimia, minyak bumi, batu

bara, karet dan plastik, industri tekstil, pakaian jadi dan kulit, dan industri kayu,

bambu, rumput termasuk perabot rumah tangga, masing-masing dari 4.6 persen,

(42)

80.0 70.0 60.0 50.0

f

40.0 g 30.0 20.0 10.0 0.0 Sektor

Gambar 24 : Peranan 17 Sektor dalam Ekspor, 1980 dan 1993

I

Sektor

(43)

Gambar 26 : Distribusi Ekspor menurut Peranan Langsung dan Peranan Total. 1993

dan 12.8 persen pada tahun 1993. Secara jelas Gambar

ini

menunjukkan adanya pergeseran peranan sektor-sektor dalam mendukung ekspor Indonesia selama

periode 1980dan 1993.

Selanjutnya Gambar 25 dan Gambar 26 membandingkan peranan

langsung (WPDB) dan peranan total (&Output) dari ekspor Indonesia pada

klasifikasi 17 sektor untuk tahun 1980 dan 1993. Mengacu pada peranan

langsung dan peranan total, dapat dikatakan bahwa terjadi perubahan struktur

ekspor antara tahun 1980 dan 1993. Kalau pada tahun 1980, struktur ekspor

hanya didominasi oleh sektor yang merupakan resource based sector yaitu

sektor pertambangan, maka pada tahun 1993 struktur ekspor berubah

dorninasinya kepada sektor manufaktur rneskipun sektor pertambangan juga

(44)

4.5 Sumber-sumber Pertumbuhan Sektoral

Pada bagian ini, dianalisis faktor-faktor penentu perturnbuhan (leading

factors) berbagai sektor ekonomi dengan rnenggunakan tiga dirnensi analisis

secara bersarnaan. Ketiga dimensi analisis tersebut adalah : (1) berdasarkan 9 pengelompokkan; (2) berdasarkan ke dua pengelornpokkan darnpak perubahan

teknis, struktur dan perrnintaan akhir; dan (3) pengelornpokkan indeks

pertumbuhan sektor.

Dengan rnengacu pada teori perturnbuhan Rostow yang rnenggunakan

tiga kategori dalarn pengelompokan sektor ekonorni untuk mengidentifikasikan

perturnbuhan yaitu primary growth sector, supplementary growth sectors, dan

derived growth sector, maka Chenery dalarn rnenganalisis ekonorni Jepang

periode 1914 sampai 1954 mengklasifikasikan sektor ekonomi rnenjadi ernpat

kelornpok yaitu manufacturing industry, auxiliary sector, derived growfh sectors

dan resource limited sectors. Secara konsepsual, manufacturing sector berkaitan

dengan primary growth sector (dari Rostow); auxiliary sector sarna dengan

supplementary growth sectors dan derived growth sector sarna dengan

pengelornpokkan ketiga dari Rostow.

4

Seperti halnya Rostow, Chenery pun tarnpaknya belurn dapat secara

penuh mengungkapkan sumber-sumber pertumbuhan seperti yang dirnaksudkan

dalam konsep Rostow. Berarti pengelornpokkan sektor versi Chenery ini bukan

(45)

Tujuan penulisan pada bagian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-

faktor penentu pertumbuhan sektor. Oleh sebab itu, faktor penentu pertumbuhan

sektor merupakan kriteria penting dalam pengklasifikasian sektor. Untuk

menghindari ambisi analisis yang terlalu melebar dan dengan alasan praktis,

maka pada bagian ini, 66 sektor ekonomi berdasarkan klasifikasi tabel Input-

Ouput Indonesia dikelompokkan dalam 9 kategori berdasarkan dua dampak net0 yang dialami masing-masing sektor yaitu : (1) dampak perubahan teknis; dan (2)

dampak perubahan struktural dari permintaan akhir. Dampak perubahan teknis

akan menangkap semua perilaku perubahan yang terjadi dalam struktur input

antara disemua sektor, sedangkan dampak perubahan struktural permintaan

akhir akan menangkap semua perilaku perubahan dari sisi permintaan.

Selanjutnya, deviasi pertumbuhan aktual sektor terhadap pertumbuhan

proporsionalnya akan selalu dapat diidentifikasikan melalui dua faktor tadi.

Kesembilan pengelompokan berdasarkan dua faktor tadi adalah:

1. Perubahan teknis mendominasi pertumbuhan (technical change

dominated growth):

Sektor yang terrnasuk dalam klasifikasi ini adalah sektor yang mengalami

dampak positif karena perubahan teknis dan dampak positif karena perubahan

struktur permintaan akhir. Total dampak bersih kedua faktor ini adalah positif dan

di dominasi oleh perubahan teknis.

2. Perubahan struktur permintaan akhir mendominasi pertumbuhan

(structural change dominated growth):

Sektor yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah sektor yang mengalami

(46)

struktur permintaan akhir. Total darnpak bersih kedua faktor ini adalah positif

tetapi didorninasi oleh perubahan struktur permintaan akhir.

3. Perubahan teknis penentu perturnbuhan (technical change led growth):

Sektor yang termasuk dalarn klasifikasi ini adalah sektor yang mengalarni

darnpak positif karena perubahan teknis, tetapi mengalami dampak negatif

karena struktur perrnintaan akhir. Total darnpak bersih kedua faktor ini adalah

positif.

4. Perubahan struktur penentu penurunan sektor (structural change led

declining sekiorj:

Sektor yang termasuk dalarn klasifikasi ini adalah sektor yang mengalami

darnpak positif karena perubahan teknis dan dampak negatif karena perubahan

struktur permintaan akhir. Total dampak bersih dari kedua faktor ini adalah

negatif.

5. Perubahan struktur penentu perturnbuhan (structural change led

growth):

Sektor yang termasuk dalarn klasifikasi ini adalah sektor yang mengalami

darnpak negatif karena perubahan teknis, tetapi mernpunyai darnpak positif

karena perubahan struktur permintaan akhir. Total dampak bersih dari kedua

faktor tersebut adalah positif.

6. Pembahan teknis penentu penurunan sektor (technical change led declining sector):

Sektor yang termasuk dalarn klasifikasi ini adalah sektor yang mengalarni

darnpak negatif karena perubahan teknis dan dampak positif karena karena

perubahan struktur permintaan akhir. Total dampak bersih dari kedua faktor

(47)

7. Sektor dengan sumber terbatas (source limited sector):

Sektor yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah sektor yang mengalami

dampak negatif karena perubahan teknis dan juga dampak negatif karena

perubahan struktur permintaan akhir. Total dampak bersih dari kedua faktor

tersebut adalah negatif dan di dominasi oleh perubahan teknis.

8. Sektor sun set :

Sektor yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah sektor yang rnengalami

dampak negatif karena perubahan teknis dan juga dampak negatif karena

perubahan perrnintaan akhir. Total dampak bersih kedua faktor adalah negatif,

tetapi didominasi perubahan struktur permintaan akhir.

9. Sektor pengendali perminlaan (demand controlled sectoo:

Sektor yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah sektor yang tidak

dipengaruhi oleh dampak perubahan teknis dalam ekonomi.

Aplikasi analisis sembilan pengelompokkan diatas untuk 66 sektor

ekonomi Indonesia pada periode 1980 dan 1993 disajikan pada Tabel 5.'

Ternyata ada 48 sektor ekonomi yang mengalami total dampak bersih (dampak 1

+

dampak 2) positif karena perubahan teknis dan perubahan struktur permintaan akhir. Apabila diperhatikan hasil perhitungan dengan menggunakan klasifikasi 17

sektor, maka dijumpai satu phenomena menarik. Total dampak bersih dari kedua

faktor pertumbuhan memberikan dampak positif pada 9 dari 21 sektor yang

termasuk sektor pertanian (kode

lo),

dan 26 dari 30 sektor yang termasuk sektor manufaktur (kode 20, 31-39, 40 dan

50).

Sektor manufaktur yang tidak

rnengalami total dampak bersih positif adalah sektor industri pengolahan lain,

(48)

Kel. 1 2 3 4 5 Teknis SeMor Kacangan Jagung Tserat Unggas Perikan Mbrlgm Galian Imlemak lgula lmknlain lrokok Pintal lbambu lkertas lpupuk Krtplastik Lgmdsr Restor KA Adarat LL Saybuah Pothewan Gilpadi lminum Kimia lmineral Logam Mlistrik llain Lgasair Bangun Audara Jsangkut Komunik Lkeug Jspsh Karet Tpetieb Kayu Aair Jssosiai Kopi Tepung Kiiangm Besbaja langkut Perdag Jslain Tabel 5 : Komponen Kategori Penyebab P e ~ b . Teknis mendominasi pertumbuhan Perub. Struktur Permintaan Akhir mendominasi pertumbuhan Perub. Teknis penentu pertumbuhan Perub. Str. penentu penurunan sektor Perub. Str. penentu pertumbuhan dan Kode 17 Sektw 10 10 10 10 10 20 20 31 31 31 31 32 33 34 35 35 37 50 70 70 90 t 0 31 31 31 35 36 37 38 39 40 50 70 70 70 80 80 10 10 10 70 90 10 31 35 37 38 60 90 Struktur P e r t u m b u h a n Dampak Perub. Teknis (I) ... ... ... .... milyar 71 I 945 235 91 4 37 738 911 279 1 356 116 775 734 3 048 396 1014888 468 971' 1 244 441 1 066 955 610 456 1 964 858 2190462 764 138 1417408 91 9 527 1 069 992 41 692 3 836 890 1 647 723 170 567 40 325 51 818 63 964 3 656 483 322 963 641 022 6 575 545 283 955 2 030 646 708 370 136 261 1426156 1 517 897 5 261 363 5 936 853 1 643 o n 310 761 1 313 988 1 795 409 579 462 217857 (82 821) (364 272) (1 938 531) (2 463 205) (1 434 558) (387 299) Sektor Dampak Perub. Str. Permin. AM. (2) Npiah ... ... ... ... 675 5%. 198 290 8 479 599 934 286 578 507 277 551 572 109210 236 270 492 583 589 486 350 872 560 005 668 767 351 108 708 869 576 929 892 393 25 625 1 554 782 256 860 663 351 334 504 2 447 451 67 435 4231 159 684 727 2 013 940 7 942 168 565 200 461 459 10591 710 145 737 321 868 130 143 597 321 1 302 467 (647 728) (26 930) (275 995) (50 860) (406 0%) (509 249) 365 425 2211 307 5 549 165 13 132622 5 262 734 954 987 Ekonomi, 1980-1993 Total dampak (1) + (2) , 1 3 8 7 W 454204 46 217 1511213 1 642693 1 283 01 0 3599967 1124098 705 241 1737024 1 656 441 961 326 2 524 861 2859249 . 1115246 2 126276 1 496 456 1 961 385 67 318 5 391 672 1 904 583 853918 374629 2 499269 131398 7 887642 1 W7 691 2654962 14517713 849155 2512105 11300079 281 998 1 748025 1648040 5 858684 7 239319 es5 349 283 631 1 037 993 1 744 549 173447 (291 392) 282 604 1 847 035 3 61 0 634 10 669 416 3 828 176 567688 (bersambung) Rasio ' (1) 1(2) 1105 t.19 4.45 1.52 4.73 1.53 5.53 9.29 1.98 2.53 1 .81 1.74 3.51 3.28 2.18 2.00 1.59 1.20 1.63 2.47 6.41 0.25 0.1 2 0.02 0.95 0.66 0.47 0.32 0.83 0.50 4.22 $0.07 0.93 4.43 11.66 8.81 4.56 (2.54) (1 1.54) (4.76) (35.30) (1.43) (0.43) (0.23) (0.16) (0.35) (0.19) (0.27) (0.41)

Gambar

Gambar 8  :  Peranan 17 Sektor dalam Pembentukan Total Output, 1980-1993
Gambar  9  :  Peranan  17  SeMor dalam Pemenuhan Konsumsi Masyarakat,  .  1980-1  993
Gambar  10  : Peranan  17  Sektordalam Pembentukan lnvestasi Nasional.
Gambar  11  :  Peranan  17  Sektor dalarn Ekspor,  1980-1 993
+7

Referensi

Dokumen terkait

Energi yang dilepaskan akibat reaksi dari proton dan elektron yang bersinggungan dengan atom-atom di atmosfer, dapat dilihat secara visual melalui pendar cahaya

Istilah Take and Give sering diartikan saling memberi dan saling menerima. Prinsip ini juga menjadi intisari dari model pembelajaran Take and Give. Take and Give

Dalam penelitian ini penulis hanya fokus kedalam latihan dribble slalom untuk meningkatkan keterampilan dribbling, karena karakteristik dribble slalom bahwa bola

Perkembangan mobile OS yang semakin meningkat dipicu oleh persaingan antara raksasa pengembang perangkat lunak yaitu Google, Microsoft dan Apple dalam menarik minat

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh penulis mengenai Analisis Pendayagunaan Zakat Produktif dalam Peningkatan Pendapatan Mustahik melalui Program Bangkit

Manfaat langsung yang dapat diambil oleh masyarakat misalnya dengan mengambil hasil kayu, daun, ranting, akar- akaran, dan hasil hutan lain yang dapat di- manfaatkan untuk

Variasi massa dan konstanta pegas yang digunakan antara lain, untuk sistem pegas sebuah massa dihubungkan dengan dua buah pegas tersusun seri: nilai konstanta

Kitosan berhasil di konversi dari kitin yang berasal dari cangkang udang hasil limbah industri ebi dengan menggunakan metode kimiawi.Semakin meningkatnya jumlah