• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENCIPTAAN NUANSA RELIGIUS DI MADRASAH/ SEKOLAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENCIPTAAN NUANSA RELIGIUS DI MADRASAH/ SEKOLAH"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PENCIPTAAN NUANSA RELIGIUS DI MADRASAH/SEKOLAH Qurrata Akyuni

Fakultas Agama Islam Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Kajian ini membahas pentingnya penciptaan nuansa religius di suatu madrasah/sekolah. Kita mengetahui bahwa nilai agama tidak hanya cukup didapat oleh siswa dalam pembelajaran agama saja. Tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama di sekolah baik itu dari guru, pimpinan dan semua yang terlibat didalamnya. Nuansa religius penting diterapkan karena madrsasah/sekolah merupakan lembaga yang mentransformasikan nilai atau melakukan pendidikan nilai. Sedangkan nuansa religius dapat menjadi wahana untuk mentransfer nilai kepada siswa. Penciptaan nuansa religius dapat dilakukan yaitu dengan penerapan peraturan, contoh teladan, pembiasaan dan lain sebagainya.

Kata Kunci : Nuansa, Religius dan Madrasah/Sekolah

A. PENDAHULUAN

Hal yang penting dalam pembahasan mengenai nuansa religius di madrasah/sekolah adalah bagaimana menciptakan nuansa religius sehingga dapat mempengaruhi perubahan sikap siswa di suatu madrasah/sekolah. Akhir-akhir ini kita sedang dihadapkan pada masalah krisis moral yang sangat memprihatinkan sehingga mengakibatkan semakin merosotnya moral yang cukup signifikan.

(3)

Krisis moral tersebut tidak hanya melanda masyarakat lapisan bawah (grass root), tetapi juga meracuni atmosfir birokrasi negara mulai dari level paling atas sampai paling bawah. (Sahlan, 2010: 65). Hal tersebut mendorong munculnya berbagai kritikan terhadap efektifitas pendidikan agama di sekolah/madrasah yang dianggap telah gagal mengembangkan sikap siswa dengan nilai-nilai yang mampu menjadi solusi terhadap permasalahan sekarang ini.

Namun membahas mengenai moral siswa bukanlah menjadi tanggung jawab guru yang memegang pendidikan agama saja, tetapi menjadi tanggung jawab semua guru dan perangkat sekolah karena untuk merubah moral/sikap seseorang tindakan yang kompleks mulai dari keteladanan, pembiasaan, pengawasan dan lain sebagainya yang didapat siswa selama berada di madrasah/sekolah.

Berdasarkan permasalahan di atas, maka yang hendak dikaji adalah penciptaan nuansa religius di madrasah/sekolah. Adapun sistematika penulisan diawali dengan pengertian penciptaan nuansa religius, urgensi penciptaan nuansa religius, proses penciptaan nuansa religius, dan strategi penciptaan nuansa religius di madrasah/sekolah.

B. PEMBAHASAN

1. Pengertian Penciptaan Nuansa Religius

Religius dapat diartikan dengan kata agama, agama merupakan sistem kepercayaan yang senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan sesuai dengan tingkat kognisi seseorang. (Nuruddin, 2003: 126). Menurut Nurcholis Madjid, agama bukan hanya kepercayaan kepada yang ghaib dan melaksanakan ritual-tual tertentu. Agama adalah keseluruhan tingkah laku manusia yang terpuji yang dilakukan demi memperoleh ridha Allah. Agama

(4)

dengan kata lain meliputi keseluruhan tingkah laku dalam hidup ini yang tingkah laku itu membentuk keutuhan manusia berakhlakul karimah atas dasar percaya atau iman kepada Allah dan bertanggung jawab pribadi di hari kemudian. (Madjid, 2010: 90)

Jadi dalam hal ini agama mencakup totalitas tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari yang dilandasi dengan iman kepada Allah, sehingga seluruh tingkah lakunya berlandaskan keimanan dan akan membentuk akhlak karimah yang terbiasa dalam pribadi dan perilaku sehari-hari.

Penciptaan nuansa religius merupakan berkembangnya suatu pandangan hidup yang bernafaskan atau dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai agama yang diwujudkan dalam sikap hidup oleh setiap warga sekolah.

2. Urgensi Penciptaan Nuansa Religius di Madrasah/Sekolah

Nuansa religius merupakan hal yang sangat penting untuk diciptakan di madrasah/sekolah, karena sekolah merupakan salah satu lembaga yang mentransformasikan nilai atau melakukan pendidikan nilai. Sedangkan nuansa religius di sekolah dapat menjadi wahana untuk mentransfer nilai kepada siswa. Dengan adanya penciptaan nuansa religius maka seorang guru akan dengan mudah melakukan transfer nilai kepada siswa dan transfer tersebut tidak cukup hanya dengan mengandalkan pembelajaran di dalam kelas. Karena pembelajaran di dalam kelas lebih banyak menyangkut aspek kognitif. Untuk membentuk peserta didik menjadi yang beriman dan bertakwa serta berakhlak mulia tidaklah semudah yang dibayangkan serta tidak bisa hanya mengandalkan pada mata pelajaran pendidikan

(5)

agama yang hanya 2 jam pelajaran, tetapi perlu internalisasi nilai religiusitas, pemberian keteladanan, pembinaan secara terus menerus serta berkelanjutan di luar jam pelajaran pendidikan agama, baik dalam kelas maupun di luar kelas, atau di luar sekolah/madrasah melalui penciptaan nuansa religius.

Dengan menciptakan nuansa religius dapat meningkatkan daya nalar dan juga hasil belajar. Hal tersebut dikarenakan daya nalar dan hasil belajar akan meningkat jika emosi mengalami ketenangan. Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah problem pribadi yaitu emosi. (Yahya Khan, 2010: 12). Hal itu bisa ditenangkan dengan suasana religius karena menurut Muhaimin (2012: 299) kegiatan keagamaan seperti khatmil al-Qur’an dan istighasah dapat menciptakan suasana ketenangan dan kedamaian di kalangan civitas akademika sekolah. Maka dari itu sudah seharusnya di madrasah/sekolah adanya nuansa religius untuk menciptakan ketenangan dan ketentraman bagi siswa. Apabila semua anggota yang ada di sekolah tersebut mengalami ketentraman emosinya, maka secara otomatis semuanya mampu berpikir dengan tenang dan itu mampu menemukan sesuatu yang baru.

3. Proses Penciptaan Nuansa Religius di Madrasah/Sekolah

Penciptaan nuansa religius di madrasah/sekolah bersifat vertikal dan horizontal. Penciptaan nuansa religius yang bersifat vertikal dapat diwujudkan dalam bentuk meningkatkan hubungan dengan Allah melalui peningkatan secara kuantitas maupun kualitas kegiatan-kegiatan keagamaan di madrasah/sekolah yang bersifat ‘ubudiyah seperti shalat berjamaah, membaca al-Qur’an, membaca do’a, melaksanakan puasa sunnah dan lain sebagainya. Sedangkan

(6)

penciptaan nuansa religius yang bersifat horizontal berwujud hubungan antar warga sekolah dan lingkungannya. Nilai-nilai religius itu seperti rasa persaudaraan, kejujuran, sikap saling menghormati, saling tolong menolong dan lain sebagainya.

Adapun konsep pengembangan kegiatan dan lingkungan sekolah/madrasah bernuansa religius meliputi:

1) Internalisasi nilai. Internalisasi nilai dilakukan dengan memberikan pemahaman tentang nilai-nilai keberagamaan kepada para peserta didik, terutama tentang tanggung jawab manusia sebagai pemimpin (khalifah) yang harus arif dan bijaksana. Penanaman dan menumbuhkembangkan nilai tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan dan pengajaran. Internalisasi nilai, dapat dirumuskan secara bersama terkait nilai-nilai keberagamaan yang disepakati

dan perlu dikembangkan dalam lingkungan

sekolah/madrasah, untuk selanjutnya dibangun komitmen bersama diantara semua civitas sekolah/madrasah khususnya peserta didik terhadap pengembangan nilai-nilai yang telah disepakati. Nilai-nilai-nilai tersebut ada yang bersifat vertikal dan horizontal. (Muhaimin, 2009: 325). 2) Keteladanan. Anak dalam pertumbuhannya memerlukan

contoh. Dalam Islam percontohan yang diperlukan itu disebut uswah hasanah, atau keteladanan. Secara ideal, untuk melacak keteladanan dapat mengacu kepada Nabi Muhammad SAW, karena beliaulah satu-satunya pendidik yang berhasil.

(7)

3) Pembiasaan. Selain keteladanan, dalam mengembangkan lingkungan sekolah/madrasah berbudaya religius, juga dibutuhkan pembiasaan. Imam Suprayogo (2004: 6) lebih lanjut menjelaskan bahwa secara sosiologis, perilaku seseorang tidak lebih dari hasil pembiasaan saja. Oleh karena itu, anak harus dibiasakan, misalnya dibiasakan mengucapkan salam tatkala bertemu maupun berpisah dengan orang lain, membaca basmalah sebelum makan dan mengakhirinya dengan membaca hamdalah, dibiasakan shalat berjama’ah, serta memperbanyak silaturrahim, dan sebagainya.

4) Membentuk sikap dan perilaku. Pembentukan sikap dan perilaku peserta didik berarti proses menanamkan dan menumbuhkembangkan suatu nilai atau budaya menjadi bagian diri (self) orang yang bersangkutan, melalui proses pendidikan, pengarahan, indoktrinasi, brain washing dan lain sebagainya. (Sahlan, 2010: 134). Pembentukan sikap dan perilaku peserta didik dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, misalnya dengan memberikan nasehat kepada peserta didik dan adab bertutur kata yang sopan dan bertatakrama baik terhadap pendidik maupun orang tua.

4. Strategi Penciptaan Nuansa Religius di Madrasah/Sekolah

Menurut Muhaimin strategi penciptaan nuansa religius dalam komunitas madrasah/sekolah perlu strategi yang meniscayakan adanya upaya pengembangan dalam tiga tataran, yaitu tataran nilai yang dianut, tataran praktik keseharian, dan tataran simbol-simbol

(8)

budaya. Pada tataran nilai yang dianut, perlu dirumuskan secara bersama-sama nilai-nilai agama yang disepakati dan perlu dikembangkan di sekolah, untuk selanjutnya dibangun komitmen dan loyalitas bersama di antara semua warga sekolah terhadap nilai-nilai

yang bersifat vertikal (hablumminallah) dan Horizontal

(hablumminannas), dan hubungan dengan alam sekitarnya. Dalam tataran praktik keseharian, nilai-nilai keagamaan yang telah disepakati tersebut diwujudkan dalam bentuk sikap dan perilaku keseharian oleh semua warga sekolah. (Muhaimin, 2006: 157).

Adapun strategi untuk membudayakan nilai-nilai agama di sekolah dapat dilakukan melalui:

a) Power strategy, yakni strategi pembudayaan agama di sekolah dengan cara menggunakan kekuasaan atau melalui

people’spower, dalam hal ini peran kepala sekolah dengan

segala kekuasaannya sangat dominan dalam melakukan perubahan.

b) Persuasive strategy, yang dijalankan lewat pembentukan opini dan pandangan masyarakat warga madrasah.

c) Normative re-educative. Artinya norma yang berlaku di masyarakat termasyarakatkan lewat pendidikan, dan mengganti paradigma berpikir masyarakat madrasah yang lama dengan yang baru. Pada strategi pertama tersebut dikembangkan melalui pendekatan perintah dan larangan atau reward dan punishment.

Sedangkan menurut Ramayulis (2014: 144-147) penanaman dan pengembangan nilai-nilai religius (keislaman) oleh setiap tenaga pendidikan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

(9)

a. Mengenalkan kepada peserta didik semua perangkat tata nilai, institusi yang ada di dalam masyarakat serta peran yang harus dilakukan berdasarkan status yang dimiliki masing-masing di dalam lembaga masyarakat tersebut.

b. Mengupayakan agar setiap tenaga kependidikan bersikap

dan berperilaku sesuai dengan ajaran Islam.

c. Menciptakan hubungan yang Islami dalam bentuk rasa

saling toleransi (tasamuh), saling menghargai (takaarum), saling menyayangi (taraahuni), saling membantu (ta’aawun) dan mengakui akan eksistensi masing-masing, mengakui dan menyadari akan hak dan kewajiban masing-masing.

d. Menyediakan sarana pendidikan yang diperlukan dalam

menunjang terciptanya ciri khas agama Islam.

e. Adanya komitmen setiap warga sekolah menampilkan

citra Islami.

f. Melakukan pendekatan terpadu dalam proses pembelajaran

dengan memadukan secara serentak pendekatan.

g. Melakukan berbagai kegiatan yang dapat terciptanya

suasana keagamaan.

Strategi penciptaan nuansa religius di suatu

madrasah/sekolah sangatlah tergantung kepada situasi dan kondisi madrasah/sekolah tersebut. Karena setiap madrasah/sekolah pasti memiliki permasalahan dan kebutuhan yang berbeda-beda.

C. PENUTUP

Penciptaan nuansa religius merupakan berkembangnya suatu pandangan hidup yang bernafaskan atau dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai agama yang diwujudkan dalam sikap hidup oleh setiap warga

(10)

sekolah. Nuansa religius merupakan hal yang sangat penting untuk diciptakan di madrasah/sekolah, karena sekolah merupakan salah satu lembaga yang mentransformasikan nilai atau melakukan pendidikan nilai. Sedangkan nuansa religius di sekolah dapat menjadi wahana untuk mentransfer nilai kepada siswa. Untuk membentuk peserta didik menjadi yang beriman dan bertakwa serta berakhlak mulia tidaklah semudah yang dibayangkan serta tidak bisa hanya mengandalkan pada mata pelajaran pendidikan agama yang hanya 2 jam pelajaran. Tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama di sekolah baik itu dari guru, pimpinan dan semua yang terlibat didalamnya.

Penciptaan nuansa religius di madrasah/sekolah bersifat vertikal dan horizontal. Mengenai Adapun konsep pengembangan kegiatan dan lingkungan sekolah/madrasah bernuansa religius meliputi internalisasi nilai, keteladanan, pembiasaan dan membentuk sikap dan perilaku.

Strategi penciptaan nuansa religius dalam komunitas madrasah/sekolah perlu strategi yang meniscayakan adanya upaya pengembangan dalam tiga tataran, yaitu tataran nilai yang dianut, tataran praktik keseharian, dan tataran simbol-simbol budaya. Adapun strategi untuk membudayakan nilai-nilai religius di sekolah/madrasah dapat dilakukan melalui Power strategy, persuasive

strategy dan normative re-educative. DAFTAR PUSTAKA

Asmaun Sahlan. (2010). Mewujudkan Budaya Religius di Sekolah: Upaya

Mengembangkan PAI dari Teori ke Aksi. Malang: UIN Maliki

(11)

Idris, S., & Tabrani ZA. (2017). Realitas Konsep Pendidikan Humanisme dalam Konteks Pendidikan Islam. Jurnal Edukasi:

Jurnal Bimbingan Konseling, 3(1), 96–113.

https://doi.org/10.22373/je.v3i1.1420

Imam Suprayogo. (2004). Pendidikan Berparadigma al-Qur’an; Pergulatan

Membangun Tradisi dan Aksi Pendidikan Islam. Malang: UIN

Malang Press.

Kamal Muhammad. (1992). Manajemen Pendidikan Islam. Jakarta: Fikahari Aneska.

Koentjaraningrat. (1969). Rintangan-rintangan Mental dalam

Pembangunan Ekonomi di Indonesia. Jakarta: Lembaga Riset

Kebudayaan Nasional.

Lewis, M., & Ponzio, V. (2016). Character Education as the Primary Purpose of Schooling for the Future. Jurnal Ilmiah Peuradeun,

4(2), 137-146. doi:10.26811/peuradeun.v4i2.92

Muhaimin. (2006). Nuansa Baru Pendidikan Islam: Mengurai Benang

Kusut Dunia Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Muhaimin. (2009). Rekonstruksi Pendidikan Islam; Dari Paradigma

Pengembangan, Manajemen Kelembagaan, Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Muhaimin. (2012). Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan

Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung: Remaja

Rosdakarya.

Nufiar, N., & Idris, S. (2016). Teacher Competence Test of Islamic Primary Teachers Education in State Islamic Primary Schools (MIN) of Pidie Regency. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 4(3), 309-320. doi:10.26811/peuradeun.v4i3.105

Nurcholis Madjid. (2010). Masyarakat Religius: Membumikan Nilai-Nilai Islam dalam Kehidupan. Jakarta: Dian Rakyat.

Nuruddin, dkk. (2003). Agama Tradisional: Potret Kearifan Hidup Masyarakat Samin dan Tengger. Yogyakarta: LKIS.

Patimah, S. (2015). Pengaruh Rekrutmen dan Seleksi Terhadap Kinerja Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Sekota Bandar Lampung. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 3(1), 165-190.

(12)

Patimah, S., & Tabrani ZA. (2018). Counting Methodology on Educational Return Investment. Advanced Science Letters, 24(10), 7087–7089. https://doi.org/10.1166/asl.2018.12414

Ramayulis, (2014). Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Kalam Mulia.

Sulaiman, S. (2015). Classroom Management and the Implications to Quality of Learning. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 3(3), 431-440. Tabrani ZA. (2012). Future Life of Islamic Education in Indonesia.

International Journal of Democracy, 18(2), 271–284.

Tabrani ZA. (2014). Islamic Studies dalam Pendekatan Multidisipliner (Suatu Kajian Gradual Menuju Paradigma Global). Jurnal Ilmiah

Peuradeun, 2(2), 211–234.

Walidin, W., Idris, S., & Tabrani ZA. (2015). Metodologi Penelitian

Kualitatif & Grounded Theory. Banda Aceh: FTK Ar-Raniry Press.

Warisno, A., & Tabrani ZA. (2018). The Local Wisdom and Purpose of Tahlilan Tradition. Advanced Science Letters, 24(10), 7082–7086. https://doi.org/10.1166/asl.2018.12413

Yahya Khan. (2010). Pendidikan Karakter Berbasis Potensi Diri:

Mendongkrak Kualitas Pendidikan. Yogyakarta: Pelangi

(13)

Referensi

Dokumen terkait

Strategi sekolah dan guru dalam menanamkan sikap religius dalam pembelajaran matematika adalah (1) sekolah mengutamakan praktek-praktek keagamaan yang menjadikan

nilai-nilai religius melalui kegiatan keagamaan di Madrasah Aliyah Al-a. Ma’arif Pondok Pesantren Panggung Tulungagung, maka penulis

sekolah sebagai wadah pembiasaan untuk proses internalisasi nilai-nilai PAI kepada para siswa, yang mana kemudian budaya religius sekolah tersebut berisiskan tradisi

Menurut Nurcholish Madjid, nilai-nilai keagamaan yang mendasar tersebut antara lain: (l) Iman, yaitu sikap batin yang penuh kepercayaan ke- pada Tuhan, (2) Islam, yaitu sikap

Nilai dari tablih menjadi landasan praktik kepemimpinan oleh kepala madrasah, yaitu selalu menyampaikan kebijakan-kebijakan kepada para anggota madrasah dengan tidak bosan

Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses internalisasi nilai-nilai PAI melalui budaya religius sekolah, bentuk-bentuk budaya religius sekolah

• Nilai-nilai yang terkandung dalam sila Pancasila • Mengidentifikasi dan menganalisis sikap- sikap yang sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam sila Pancasila •

Dikatakan sebagai salah satu bentuk dari nilai religius atau keagamaan karena senyum, salam dan sapa pembelajaran pendidikan agama Islam sebagaimana semestinya, dan aspek materi yang