• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH KEBUDAYAAN PAPUA.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAKALAH KEBUDAYAAN PAPUA.docx"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR  KATA PENGANTAR 

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena rahmat dan karunia Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena rahmat dan karunia  Nya

 Nya kami kami dapat dapat menyelesaikan menyelesaikan makalah makalah yang yang berjudul berjudul “Kebudayaan “Kebudayaan Papua” Papua” ini ini dengan dengan tepattepat waktu. Selama proses penulisan makalah ini, tentunya banyak pihak yang terlibat baik secara waktu. Selama proses penulisan makalah ini, tentunya banyak pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam memberikan bimbingan, bantuan, dan dukungan yang langsung maupun tidak langsung dalam memberikan bimbingan, bantuan, dan dukungan yang sangat berarti bagi kami. Oleh karena itu kami berterimakasih kepada :

sangat berarti bagi kami. Oleh karena itu kami berterimakasih kepada : 1.

1. Ibu dosen pembimbing kami yaitu Hj.Harianti,M.PdIbu dosen pembimbing kami yaitu Hj.Harianti,M.Pd 2.

2. Orangtua kami yang telah memberikan dukunganOrangtua kami yang telah memberikan dukungan 3.

3. Teman-teman yang telah membantu menyelesaikan makalah ini.Teman-teman yang telah membantu menyelesaikan makalah ini.

Kami berharap agar makalah ini dapat berguna dalam menambah wawasan dan ilmu Kami berharap agar makalah ini dapat berguna dalam menambah wawasan dan ilmu  pengetahuan

 pengetahuan mengenai mengenai bukti-bukti bukti-bukti peninggalan peninggalan zaman zaman prasejarah prasejarah di di Indonesia Indonesia terutamaterutama mengenai alat-alat serpih dan tulang. Tentunya makalah ini masih terdapat banyak kekurangan mengenai alat-alat serpih dan tulang. Tentunya makalah ini masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan. Maka dari itu, penulis sangat menerima dengan senang hati apabila ada kritik atau dan kesalahan. Maka dari itu, penulis sangat menerima dengan senang hati apabila ada kritik atau saran demi kesempurnaannya makalah ini.

saran demi kesempurnaannya makalah ini.

Penulis Penulis

(2)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar... 1

Daftar Isi...2

BAB I Pendahuluan a. Latar Belakang Masalah... 2

 b. Tujuan Penulisan ... ... 3

c. Rumusan Masalah... ... . 3

d. Sistematika Penulisan... ... 4

BAB II Pembahasan a. Kondisi dan Letak Geografis Papua... 4

 b. Kesenian dan Kebudayaan Papua...,... 5

BAB III Penutup a. Kesimpulan... 11

(3)

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan berbudaya, tentunya Indonesia sebagai Negara kepulauan yang begitu luas, dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 didunia, yang dibatasi oleh lautan, memiliki keragaman kebudayaan yang berbeda satu sama lainnya. Hal ini tentu tak mesti menjadi sebuah  perbedaan yang akhirnya menjadi konflik diantara sesama bangsa Indonesia. Justru hal tersebut harus dianggap khazanah kekayaan kebudayaan di Indonesia yang akan menjadi pemersatu  bangsa, seperti halnya semboyan Negara kita, “ Bhineka Tunggal Ika “ yang berarti berbeda- beda namun tetap satu jua, Salah satu daerah di Indonesia yang memilki kebudayaan yang cukup

terkenal serta memiliki kebudayaan yang sangat kaya serta masih memiliki keasliannya di tengah aliran globalisasi adalah salah satunya di daerah irian. Seperti yang kita tahu bagaimana Begitu kayanya daerah irian ini. Ditambah lagi dengan kekayaan kebudayaan begitu beragam serta jauh  berbeda dengan kebudayaan yang ada didaerah Indonesia lainya, bagaimana mereka masih  berpegang teguh terhadap ajaran nenek moyang mereka serta masih tertutup dari budaya luar. B. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui letak geografis serta demografis dari kebudayaan irian.

2. Mengetahui perlengkapan serta peralatan yang digunakan oleh kebudayaan irian untuk biasa  bertahan hidup.

3. Mengetahui sistem mata pencahariannya.

4. Mengetahui sistem kekerabatan dan organisasi sosial yang ada di kebudayaan tersebut. 5. Mengetahui bahasa daerah yang sehari-hari digunakan.

6. Mengetahui sistem kepercayaan yang di anut oleh masyarakat yang ada di irian. C. Rumusan Masalah

1. Apa dan Bagaimana Sistem Religi Masyarakat Papua?

2. Apa dan Bagaimana Sistem Kemasyarakatan/Sosial Masyarakat Papua ? 3. Bagaimana sistem pengetahuan masyarakat Papua?

4. Bagaimana bahasa/alat komunikasi masyarakat Papua? 5. Apa dan Bagaimana kesenian masyarakat papua?

6. Apa dan Bagaimana sistem mata pencaharian masyarakat papua? 7. Bagaimana sistem peralatan dan tekhnologi masyarakat papua? D. Sistematika Penulisan

Dalam rangka mempermudah memahami penulisan laporan ini, maka penulis menyusun sistematika sebagai berikut :

(4)

BAB II PEMBAHASAN A. Kondisi dan Letak Geografis Papua

Papua adalah sebuah provinsi terluas Indonesia yang terletak di bagian timur Indonesia.Provinsi Papua dulu mencakup seluruh wilayah Papua. Pada masa pemerintahan kolonia Hindia-Belanda, wilayah ini dikenal sebagai Nugini Belanda (  Nederlands Nieuw-Guinea atau Dutch New Nieuw-Guinea ). Setelah belanda di bawah penguasaan Indonesia, wilayah ini dikenal sebagai Provinsi Irian Barat sejak tahun 1969 hingga 1973. Namanya kemudian diganti menjadi Irian Jaya oleh Soeharto pada saat meresmikan tambang tembaga dan emas Freeport, nama yang tetap secara resmi hingga tahun 2002.Nama provinsi ini diganti menjadi Papua sesuai UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua. Bagian timur tetap memakai nama  Papua sedangkan bagian baratnya menjadi Provinsi Papua Barat. Luas wilayah provinsi Papua adalah 317.062 ( Km2  ) dengan Kota Merauke yang terluas dan Kota Jayapura yang terkecil. Papua terletak diantara 130-141o Bujur Timur dan 2o25’ Lintang Utara –  9o Lintang Selatan. 1. Batas Wilayah

Sebelah Utara : Samudera Fasifik Sebelah Selatan : Laut Arafura

Sebelah Barat : Provinsi Papua Barat Sebelah Timur : Papua New Guinea 2. Iklim dan Cuaca

Kota Jayapura merupakan daerah dengan suhu udara tertinggi, mencapai 28,2oC ditahun 2005 sedangkan Wamena merupakan daerah dengan suhu udara terendah yang mencapai 19,4oC pada tahun 2004. Persentase kelembaban udara tertinggi mencapai 87% di Biak pada tahun 2005 dan terendah mencapai 77% di Serui pada tahun 2001.

B. Kesenian dan Kebudayaan Papua :

Papua memiliki banyak kesenian dan kebudayaan yang ada di dalamnya, kesenian dan kebudayaan tersebut sangat unik dan menarik. Berikut beberapa kesenian dan kebudayaan yang ada di Papua:

(5)

Terdapat ratusan bahasa daerah yang berkembang pada kelompok etnik yang ada di Papua. Aneka Berbagai bahasa ini menyebabkan kesulitan dalam berkomunikasi antara satu kelompok etnik dengan kelompok etnik lainya. Oleh sebab itu, Bahasa Indonesia digunakan secara resmi oleh masyarakat-masyarakat di Papua bahkan hingga ke pedalaman. Namun ada masyarakat yang tidak mengerti bahasa Indonesia karena minimnya pendidikan yang ada di Papua

2. Pakaian Tradisional

Pakaian adat Papua untuk pria dan wanita hampir sama bentuknya. Pakaian adat itu memakai hiasan-hiasan seperti hiasan kepala berupa bentuk burung cendrawasih, gelang, kalung, dan ikat pinggang dari manik-manik, serta rumbai-rumbai pada pergelangan kaki. Namun ada  juga masyarakat suku pedalaman Papua yang hanya menggunakan koteka dalam membalut

(6)

3. Rumah Adat

Rumah adat Papua memiliki nama Rumah Honai, dimana bahan yang diguanakan untuk membuat rumah Honai yaitu dari kayu dengan dan atapnya berbentuk kerucut yang terbuat dari  jerami atau ilalang. Rumah tradisional Honai mempunyai pintu yang kecil dan tidak berjendela..

Sebenarnya struktur Honai dibangun sempit atau kecil dan tidak berjendela bertujuan untuk menahan hawa dingin pegunungan Papua.Umumnya rumah Honai terdiri dari 2 lantai yang terdiri dari lantai pertama untuk tempat tidur sedangkan lantai kedua digunakan sebagai tempat untuk bersantai, makan, serta untuk mengerjakan kerajinan tangan.

4. Tari Tradisional

Papua memiliki berbagai macam tarian yang unik dan menarik, seperti tari selamat datang yang merupakan tarian khas papua yang menggambarkan kegembiraan hati para  penduduk dalam menyabut para tamu terhormat yang datang ke wilayah mereka. Tari ini

memiliki gerakan yang menarik, dinamik dan dilakuakan dengan semangat 5. Senjata Tradisional

(7)

Papua memiliki senjata tradisional yang digunakan untuk melawan musuh. Seperti pisau  belati papua yang terbuat dari tulang kaki burung kasuari dan bulu burung tersebut yang menghiasi pinggiran belati tersebut. Namun ada senjata lain yang biasanya di gunakan yaitu  busur dan panah serta lembing yang digunakan untuk berburu.

6. Makanan Khas

Makanan khas papua yaitu sagu yang di buat jadi bubur atau yang dikenal dengan nama  papeda. Masyarakat papua biasanya menyantap papeda bersama kuah kuning, yang terbuat dari

ikan tongkol atau ikan mubara dan di bumbui kunyit dan jeruk nipis. Selain itu banyak olahan ikan khas papua sampai yang ekstrem yaitu sate ulat sagu.

7. Alat Musik 

Papua memiliki banyak alat musik tradisional salah satunya yaitu tifa. Tifa merupakan salah satu alat musik pukul yang bentuknya hampir mirip dengan gendang. Alat musik Tifa terbuat dari kayu yang mana pada bagian tengah kayu tersebut dibuat lubang besar yang dibersihkan. Lalu diujung salah satu kayu tersebut ditutup dengan mengunakan kulit rusa yang telah dikeringkan yang berfungsi agar alat musik Tifa ini bisa menghasilkan suara yang indah dan bagus

(8)

 Alat musik tifa 8. Kerajinan Tangan

Masyarakat papua biasanya membuat kerajinan tangan yang di buat dari bahan-bahan yang tersedia dialam. Seperti kerajinan tas yang bernama Noken. Kerajinan ini di buat dari kulit kayu yang di anyam, dan warna yang diguanakan berasal dari pewarna alami akar tumbuhan dan  buah-buahan. Noken ini biasa di gunakan dan di bawah dengan menyangkutkan noken di atas

kepala.

9. Sistem Kepercayaan/Religi

Sebagian masyarakat Papua masih memiliki kepercayaan totemisme, sebagai bentuk kepercayaan yang memandang asal-usul manusia berasal dari dewa-dewa nenek moyang, dan masih ada suku suku yang tertutup atau tidak mau berhubungan dengan dunia luar. mendiami tiga distrik yakni Merauke, Okaba dan Muting, Kabupaten Merauke, Papua. Namun walaupun  begitu sebagian dari mereka telah memeluk beberapa agama resmi yang diakui oleh  pemerintah.Di Papua Timur sebagian agamanya beragama Kristen dengan persentase sebagai  berikut :

 Protestan ( 51.2 % ), Katolik ( 25.42 % ), Islam ( 20% ), Hindu ( 3 % ) dan Buddha ( 0.13 % )

Sedangkan di Papua Barat :

 Kristen ( 50.7 % ), Islam ( 41.3 % ), Katolik ( 7.7% ), Hindu ( 0.1 % ), Buddha ( 0.1 % ) dan

(9)

10. Sistem Mata Pencarian

Sistem mata pencaharian di papua ini amat beragam, sesuai dengan dimana masyarakat itu tinggal. Penduduk daerah pantai dan kepulauan dengan ciri-ciri umum, rumah diatas tiang ( rumah panggung ), mata pencaharian menokok sagu dan menangkap ikan.Penduduk daerah  pedalaman yang hidup pada daerah sungai, rawa, danau dan lembah serta kaki gunung. Pada umumnya bermata pencahariannya menangkap ikan, berburu, binatang uatama yang diburu  biasanya Babi, tapi dalam perjalanan orang sering menangkap beraneka ragam binatang dan mengumpulkan hasil hutan. Penduduk daerah dataran tinggi dengan mata pencaharianya  berternak dan berkebun secara sederhana.

 Penduduk pesisir pantai

Penduduk ini mata pencaharian utama sebagai Nelayan disamping berkebun dan meramu sagu yang disesuaikan dengan lingkungan pemukiman itu. Komunikasi dengan kota dan masyarakat luar sudah tidak asing bagi mereka.

 Penduduk pedalaman yang mendiami dataran rendah

Mereka termasuk peramu sagu, berkebun, menangkap ikan disungai, berburu dihuta disekeliling lingkungannya. Mereka senang mengembara dalam kelompok kecil. Mereka ada yang mendiami tanah kering dan ada yang mendiami rawa dan payau serta sepanjang aliran sungai.

 Penduduk pegunungan yang mendiami lembah

Mereka bercocok tanam, dan memelihara babi sebagai ternak utama, kadang kala mereka  berburu dan memetik hasil dari hutan

11. Peralatan dan Perlengkapan Hidup

Banyak senjata yang digunakan oleh masyarakat papua dalam bertahan hidup, seperti halnya pisau belati yang merupakan senjata tradisional Papua. Selain itu mereka juga sering menggunakan Tombak serta panah untuk berburu.

12. Sistem Kekerabatan dan Sistem Organisasi Sosial

Umumnya masyarakat papua hidup dalam system kekerabatan dengan menurut garis keturunan ayah ( Partrilinea ).Budaya setempat berasal dari Melanesia. Masyarakat  berpendudukan asli papua cenderung menggunakan bahasa daerah yang sangat dipengaruhi oleh

alam laut, hutan dan pegunungan.

Beberapa contoh sistem kekerabatan yang berlaku di Papua :

Masyarakat Dani tidak mengenal konsep keluarga batin, dimana bapak, ibu dan anak tinggal dalam satu rumah. Mereka adalah masyarakat komunal. Maka jika rumah dipandang

(10)

sebagai suatu kesatuan fisik yang menampung aktivitas-aktivitas pribadi para penghuninya. Dalam masyarakat Dani unit rumah tersebut adalah sili.Pada dasarnya silimo / sili merupakan komplek tempat kediaman yang terdiri dari beberapa unit bangunan beserta perangkat lainnya. Perkampungan tradisional di Wamena dengan rumah-rumah yang dibuat berbentuk bulat beratap ilalang dan dindingnya dibaut dari kayu tanpa jendela. Rumah seperti ini disebut Honai. Komplek bangunan biasanya terdiri dari unsur-unsur unit bangunan yang dinamakan : rumah laki-laki ( Honai / pilamo ), rumah perempuan ( ebe-ae / ebei ), dapur ( hunila ) dan kandang babi ( wamdabu / wamai ).

Sistem Kemasyarakatan

Kelompok asli di Papua terdiri atas 193 suku dengan 193 bahasa yang berbeda satu dengan lainnya, seperti, Suku Asmat, Suku Ka moro, Suku Dani dan Suku Sentani. Mengacu  pada perbedaan tofografi dan adat istiadat. Penduduk Papua dapat dibedakan menjadi tiga

kelompok besar, masing-masing:

• Penduduk daerah pantai dan kepulauan dengan ciri-ciri umum rumah di atas tiang (rumah  panggung) dengan mata pencaharian menokok sagu dan m enangkap ikan;

• Penduduk daerah pedalaman yang hidup di daerah sungai, rawa danau dan lembah serta kaki gunung. Umunya mata pencaharian mereka yaitu menangkap ikan, berburu dan mengumpulkan hasil hutan;

• Penduduk daerah dataran tinggi dengan mata pencaharian berkebun dan beternak secara sederhana.

Tiap kelompok suku mengenal sistem strata dalam masyarakat. Penduduk diklasifikasikan berdasarkan faktor tertentu seperti keturunan dan kekayaan. Banyaknya macam suku di Papua juga mengakibatkan munculnya beberapa falsafah masyarakat yang unik dalam  perilaku sosial mereka masing-masing.

• Suku Komoro di Kabupaten Mimika, yang membuat gendering dengan menggunakan darah. • Suku Dani di Kabupaten Jayawijaya yang gemar melakukan perang-perangan, yang dalam  bahasa Dani disebut Win. Budaya ini merupakan warisan turun-temurun dan dijadikan festival  budaya Lembah Baliem. Ada juga rumah tradisional Honai, yang di dalamnya terdapat mummy yang diawetkan dengan ramuan tradisional. Terdapat tiga mummy di Wamena; Mummy Aikima  berusia 350 tahun, Mummy Jiwika 300 tahun, dan Mummy Pumo berusia 250 tahun.

• Suku Imeko di Kabupaten Sorong Selatan menampilkan tarian adat Imeko dengan budaya suku Maybrat dengan tarian adat memperingati hari tertentu seperti panen tebu, memasuki rumah baru dan lainnya.

• Suku Marin di Kabupaten Merauke, terdapat upacara Tanam Sasi, sejenis kayu yang dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian upacara kematian. Sasi ditanam 40 hari setelah hari kematian seseorang dan akan dicabut kembali setelah 1.000 hari.

13. Sistem Pengetahuan

Seperti yang sudah dijelaskan di bagian terdahulu bahwa Papua memiliki berbagai ragam suku, maka tak heran jika setiap suku juga memiliki sistem pengetahuan yang berbeda. Pada  bagian ini, kami akan memberi contoh sistem pengetahuan dari Suku Asmat dan Suku Dani. a. Pengetahuan Suku Asmat

 Pengetahuan mengenai alam sekitar

Orang Asmat berdiam di lingkungan alam terpencil dengan rawa-rawa berlumpur yang ditumbuhi pohon bakau, nipah, sagu dan lainnya. Perbedaan pasang dan surut mencapai 4-5

(11)

meter. Pengetahuan itu dimanfaatkan oleh orang Asmat untuk berlayar dari satu tempat ke tempat lain. Pada waktu pasang surut, orang berperahu ke arah hilir atau pantai dan kembali ke hulu ketika pasang sedang naik.

 Pengetahuan mengenai alam flora dan fauna di daerah tempat tinggal.

Pohon sagu banyak tumbuh di daerah dimana Suku Asmat tinggal. Oleh karenanya, makanan  pokok Suku Asmat adalah sagu dengan makanan tambahan seperti ubi-ubian dan berbagai jenis daun-daunan. Mereka juga memakan berbagai jenis binatang seperti, ulat sagu, babi hutan,  burung, telur ayam hutan, dan ikan. Selain itu, gigi-gigi anjing yangtelah mati biasa digunakan

sebagai perhiasan.

 b. Pengetahuan Suku Dani

Salah satu pengetahuan terbesar Suku Dani adalah bagaimana mereka bisa tetap bertahan hidup yaitu dengan sistem pengetahuan mereka untuk membuat tempat tinggal yang disebut dengan Honai.

Honai berbentuk bundar, berdindingkan kayu, beratap jerami, dan pintunya mungil sekali. Ukurannya tergolong mungil. Rumah bundar itu begitu kecil hingga kita tidak berdiri di dalamnya. Honai hanya mempunyai tinggi sekitar 1 meter. Di dalamnya hanya ada 1 perapian yang terletak persis di tengah. Tak ada perabotan seperti kasur, lemari, apalagi cermin.

Atap jerami dan dinding kayu berfungsi untuk mengatur suhu di dalam rumah. Hawa sejuk mampu masuk melalui celah-celah kayu ke dalam Honai. Ketika udara sangat dingin, mereka menyalakan api di perapian. Bagi mereka, asap dari kayu sudah tak aneh lagi dihisap dalam waktu lama. Oksigen akan selalu masuk melalui pintu rumah yang tidak pernah tertutup. Mereka pun meringkuk dalam kehangatan.

Ada juga tempat tinggal yang disebut Ebei. Bentuknya mirip dengan Honai, hanya  perbedaannya terletak pada jenis kelamin penghuninya. Honai dihuni oleh laki-laki, sedangkan

Ebei dihuni oleh perempuan.

Selain berfungsi sebagai tempat tinggal, Honai juga memiliki beberapa fungsi lainnya. Ada Honai khusus untuk menyimpan umbi-umbian dan hasil ladang, ada pula yang khusus untuk  pengasapan mumi.

(12)

BAB III PENUTUP

A.

Kesimpulan

Papua adalah sebuah provinsi terluas Indonesia yang terletak di bagian tengah pulau  papua atau bagian paling timur West New Guinea(irian jaya). Belahan timurnya merupakan

negara papua nugini atau East New Guinea. Papua adalah salah satu provinsi yang memiliki  budaya yang bermacam-macam. Di tanah papua juga kita bisa temukan bermacam-macam suku

yang mendiami beberapa wilayah di daratan papua.

Keagamaan merupakan salah satu aspek yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat di Papua dan dalam hal kerukunan antar umat beragama di sana dapat dijadikan contoh bagi daerah lain. Kelompok asli di Papua terdiri atas 193 suku dengan 193 bahasa yang berbeda satu dengan lainnya, seperti, Suku Asmat, Suku Ka moro, Suku Dani dan Suku Sentani. Mengacu  pada perbedaan tofografi dan adat istiadat

Simpulan dari penjelasan-penjelasan di atas ialah bahwa kita harus bercermin pada masyarakat tradisional untuk menata hubungan kita dengan alam demi keberlanjutan hidup mahluk manusia. Masyarakat tradisional telah berhasil mewariskan bumi ini dalam keadaan tidak tercemar kepada kita diwaktu sekarang untuk memanfaatkannya dan menikmati kehidupan di atasnya. Keberhasilan itu merupakan perwujudan nyata dari ketaatan mereka terhadap nilai-nilai dan norma-norma serta sikap yang mereka kembangkan dalam kebudayaannya untuk menjaga dan melestarikan alam Berbagai sumber daya alam yang dinikmati sekarang sesungguhnya merupakan bukti nyata keberhasilan masyarakat tradisional pada masa lampau untuk menjaga, melestarikan dan mewariskannya bagi kita di waktu sekarang.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Koentjaraningrat.2004. manusia dan kebudayaan di Indonesia.  Jakarta: Djambatan. http://www.papuaweb.org/gb/foto/yaku-kuyawagi

http://exaltedx.blogspot.com/2010/01/kebudayaan-papua-di-indonesia.html

Referensi

Dokumen terkait

Phallus adalah benda peninggalan megalitik yang terbuat dari batu berbentuk lonjong dimana pada salah satu ujungnya dipahatkan bentuk alat kelamin laki – laki, menurut

randa nggasu 27 taam yang terbuat dari kayu yang digunakan sebagai wadah untuk menghidangkan makanan pada saat upacara adat dan biasanya hanya digunakan oleh tokoh-tokoh adat dan

• Pemilik tanah adat di Sorong, Provinsi Papua Barat, dieksploitasi oleh Kayu Lapis Indonesia Group (KLI) untuk pengembangan perkebunan - dengan ongkos mahal yang ditanggung

Rumah adat ncuhi ini terdapat beberapan bagian yakni atap bangunan yang berbentuk kerucut dan pada bagian depan dan belakang atap bangunan terdapat nggari nggonggo

Rangka atap baja ringan adalah rangka untuk atap rumah atau disebut kuda kuda yang terbuat dari baja sebagai pengganti rangka atap konvensional yang terbuat

Kebudayaan tradisional adat Toraja ini meliputi segala aspek yang berhubungan dengan masyarakat, ukiran kayu, rumah adat, upacara pemakaman, musik/tarian,

Pakaian Adat Indonesia Nama: Kelas : Banten DKI Jakarta Papua Kalimantan Sumatera Barat... Hubungkan gambar rumah adat dengan daerah

Adapun keunikan dari rumah adat Baileo yaitu : 1 Memiliki bentuk panggung, 2 Dindingnya terbuat dari kayu, 3 Lantai rumah terbuat dari papan yang disusun saling berdekatan tanpa paku, 4