BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan bahan berbahaya lainnya (untuk selanjutnya disebut sebagai narkoba) masih menjadi permasalahan yang menghawatirkan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di tingkat internasional.National Centre on Addiction and Substance Abuse (CASA) -Universitas Columbia mencatat bahwa pada tahun 2011 sejumlah 75% pelajar SLTA di Amerika pernah mengonsumsi alkohol, tembakau dan obat-obatan terlarang, 20% di antaranya mengalami adiksi (Park, 2011). Data ini diperkuat dengan hasil penelitian lebih lanjut yang menemukan bahwa 90% warga Amerika yang menderita adiksi pada mulanya diawali dengan merokok, mengonsumsi alkohol dan menggunakan obat-obatan yang berpotensi adiksi sebelum umur 18 tahun (NIDA, 2007).Kasus penyalahgunaan narkoba merupakan fenomena gunung es, artinya kasus yang teridentifikasi hanya sebagian kecil dari jumlah kasus yang sesungguhnya(WHO, 1993). Kasusyang tersembunyi di masyarakat jumlahnya bisa mencapai 10 kali lipat(Kaplan, 1994). Usia pemula pengonsumsi narkoba semakin muda. Di Amerika, remaja mulai mengonsumsi narkobajenis marijuana antara umur 12 sampai 17 tahun(Dube, 2007).
Prevalensi penyalahguna narkoba di Indonesia sendiri, pada tahun 2010 sebanyak 2% dari jumlah penduduk, 85% di antaranya adalah pelajar dan mahasiswa, persentase ini meningkat pada tahun 2011 menjadi 4,7% atau sekitar 921.695 orang pelajar dan mahasiswa, seperti diperlihatkan pada Tabel 1(BNN, 2011). Apabila dibiarkan, diprediksi jumlah penyalahguna narkoba pada tahun 2015 akan mencapai 2,8%. Hal ini cukup ironis mengingat Indonesia beserta negara-negara ASEAN bertekad mewujudkan kawasan bebas narkoba pada tahun tersebut (BNN, 2009).Tabel 1 menjelaskan bahwa peningkatan dan jumlah rata-rata kasus per tahun tertinggi pada pelajar SLTA. Peningkatan ini 3 kali lipat
dibandingkan dengan pada pelajar SLTP, 6 kali lipat dibandingkan dengan pelajar SD dan 26 kali lipat dibandingkan dengan mahasiswa.
Tabel 1. Kasus penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar di Indonesia tahun 2005-2008 Tingkat pendidikan Tahun Jumlah total Rata-rata per tahun 2005 2006 2007 2008 SD 2.542 3.247 4.138 4.404 14.331 2.866 SLTP 5.148 6.632 7.486 10.819 30.085 6.017 SLTA 14.341 20.977 23.727 28.470 87.515 17.503 PT 749 779 818 1.001 3.347 669 jumlah 22.780 31.635 36.169 44.694 135.278 27.056
Sumber : Dit IV/Narkoba. ( BNN, 2009)
Menurut Direktorat Reserse Narkoba (Ditreskoba) Polda Kalimantan Timur dalam Tribun Kaltimedisi Mei 2012,Provinsi Kalimantan Timur termasuk dalam 7 provinsi yang dianggap paling rawan dalam peredaran gelap narkoba setelah Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Bali, Sumatera Utara dan Riau. Kabupaten Kutai Kartanegara adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur yang terletak sangat strategis, yaitu berbatasan dengan 2 kota besar, yaitu Balikpapan dan Samarinda. Hal ini memudahkan akses peredaran gelap narkoba, karena didukung oleh sarana transportasi udara, darat dan air yang memadai.Pada tahun 2010 tercatat sebanyak 41kasus penyalahgunaan narkoba. Jumlah inimeningkat menjadi 76 kasus pada tahun 2011, merupakan tertinggi di Kalimantan Timur. Oleh karena itu, berbagai upaya dilakukan untuk menangkal peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba dengan melibatkan semua komponen masyarakat, dengan harapanbahaya penyalahgunaan narkoba dapat dikurangi (Ari, 2012).
Media informasi yang sedang tren di kalangan remaja saat ini adalah jejaring sosial, yaitu sekelompok media yang aplikasinya berbasis internet. Pengguna internet di Indonesia meningkat25% setiap tahunnya, dan saat ini mencapai 38 juta pengguna. Diprediksi pada tahun 2015 mencapai 50% pengguna (Saputro,2011).Hal ini seiring dengan hasil deklarasi World Summit on Information Society (WSIS) tahun 2003, yang menyatakan bahwa pada tahun 2015, 50% penduduk dunia harus memiliki akses informasi yang terhubung dan
mampu menggunakan internet.Peningkatan jumlah pemakai layanan internet di Indonesia terlihat pada Gambar 1.
sumber: comScore,2010
Gambar 1. Peningkatan jumlah pemakai gadget di Indonesia tahun 2007-2010
Pengguna media sosial di Amerika didominasi oleh kalangan remaja (73%) dan hanya 40% oleh pengguna dewasa (Lenhartet al., 2010).Media sosial yangsedang tren antara lain: Facebook, MySpace, Twitter, game virtual, Club Penguin, Second Life, Sims, YouTube dan Blog lainnya. Jumlah facebookermencapai 46,06 juta di awal tahun 2012. Jumlah ini melebihi pengguna media sosial lainnya. Di Indonesia , facebooker menempati urutan ke 3 dunia, setelah AS dan India, dan ke 2 di Asia (Iswahyudi,2011). Jika dibedakan menurut kelompok umur, dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel2. Facebooker di Indonesia menurut kelompok umur tahun 2012
Kelompok umur Jumlah Persentase
13 – 15 tahun 5.078.440 12,3 16 – 17 tahun 6.177.060 15,0 18 – 24 tahun 17.417.600 42,3 Usia 13-24 tahun 28.673.100 69,6 Total pengguna 41.777.240 Sumber : comScore,Januari 2013 0 5000000 10000000 15000000 20000000 25000000 30000000 2007 2008 2009 2010 Ju m la h Tahun blogger facebooker
Tabel 2 memperlihatkan bahwa facebooker didominasi oleh kaum muda (13 - 24 tahun) yaitu 69,6%.Capaian ini menyamai Amerika dan Eropa.Tercatat sekitar 417 juta organisasi kesehatan dunia yang memanfaatkan facebooksebagai media promosi kesehatan, antara lain Clinical Diseases Center and Prevention (CDC), BioMedCentral Public Health (BMC-PH), IUHPE, WHO dan lain-lain. Dengan pertimbanganbahwafacebookcukup efektif dan interaktif dalam menyampaikan pesan dan informasi kesehatan yang aktual (Georgeet al., 2013).
Gold et al.(2011) melakukan kampanye yang menghimbaukalangan remaja Amerika untuk berperilaku seks sehat melalui pesan di beberapa jejaring sosial.Hasilnya adalah 84% responden mengapresiasi pesan melalui facebook, diikuti MySpace (17%) dan Twitter (44%).Hal ini membuktikan bahwa facebookadalah media sosial yang lebih digemari kawula muda dan paling sering digunakan dalam aktivitas promosi kesehatan.
Raviotta et al. (2011) melakukan kampanye dalam sosialisasi vaksinasi HPV di kalangan mahasiswa Amerika.Pesan motivasi disebarkan melalui berbagai media,baik konvensional maupun modern, bertujuan untuk mengevaluasi dan membandingkan efektivitasfacebook dengan media lain.Hasilnya menunjukkan bahwa 75,2% mahasiswa yang melakukan vaksinasi HPV mengaku memperoleh informasi melaluifacebook. Penelitian tersebut membuktikan bahwa facebookadalah media komunikasi yang potensial dan efektif untuk promosi kesehatan dalam mengubah perilaku kaummuda.
Penelitian senada dilakukan oleh Nauert & Grohol (2012)dari University of Southern California (USC). Memanfaatkan pesan motivasi melaui facebook untuk melakukan promosi diet sehat dengan sasaran remaja SMA yang mengalami obesitas.Hasil penelitian tersebut cukup bermakna bahwa responden termotivasi untuk mengubah perilaku menjadi lebih sehat, yang menunjukkan bahwa pesan motivasi melalui facebook efektif untuk merangsang perubahan perilaku remaja.
Beberapa penelitian tersebut membuktikan bahwa teknologi komunikasi adalah salah satu strategi yang efektif digunakan untuk kaummuda. Di lokasi penelitian ini, facebook sudah dipergunakan sebagai media berbagi informasi dalam beberapa kegiatan ekstrakurikuler. Namun, terbatas pada sesama anggota
kelompok saja, dan informasi yang disebarkan hanya bersifat pemberitahuan seperti : jadwal kegiatan dan ungkapan-ungkapan (status) anggota seputar kegiatan. Dengan kata lain, media ini sebagai bentuk hiburan semata yang dibentuk atas inisiatif siswa, tidak ada seseorang sebagai koordinator yang bertanggung jawab atas informasi di dalamnya. Hal ini dianggap lebih efektif dalam menyebarkan informasi kegiatan diantara mereka(komunikasi pribadi).
Pesan motivasi serta metode perubahan perilaku yang telah digunakan sebelumnya dapat dimodifikasi dan dimanfaatkan melalui teknologi ini, facebook salah satunya. Informasi dan pesan motivasi kesehatan yang bersifat mobile memiliki potensi dalam mengendalikan perilaku sehat remaja secara lebih personal.Keberadaanfacebook mudah diakses dari telepon seluler, sehingga motivasi dapat disebarkan kepada setiap orang setiap saat dan di setiap tempat, tanpa harus bertatap muka. Metode ini lebih interaktif dengan biaya relatif murah.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, facebookdigunakan sebagai media intervensi dalam penelitian ini. Pesan motivasi dibagikan pada responden melalui media ini. Oleh karena itu, rumusan permasalahan penelitian adalah :
“Apakah ceramah disertai pesan motivasi melalui facebookdapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan intensi remaja dalamperilaku pencegahan penyalahgunaan narkoba ?”
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum
Untuk menguji efektivitas ceramah disertai pesan motivasi melalui facebook dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan intensi remaja dalamperilakupencegahan penyalahgunaan narkoba.
2. Tujuan khusus
a. Untuk menguji peningkatan pengetahuan, sikap dan intensi remaja dalamperilakupencegahan penyalahgunaan narkoba, dengan metode ceramah disertai pesan motivasi melalui facebook
b. Untuk menguji perbedaan peningkatan pengetahuan, sikap dan intensiremaja dalam perilakupencegahan penyalahgunaan narkoba antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
D. Manfaat penelitian Hasil peneitian ini dapat dimanfaatkan oleh :
1. Bagi peneliti selanjutnya , dapat dijadikan rujukan untuk melakukan studi lanjutan mengenai potensi facebook sebagai media promosi kesehatan dengan sasaran remaja, dengan berbagai tema.
2. Bagi Dinas Kesehatan, dapat menjadi masukan bagi pemegang program promosi kesehatan untuk memanfaatkan facebook sebagai media promosi kesehatan tentang berbagai informasi kesehatanyang aktual.
3. Bagi Lintas sektor, sebagai masukan bagi Dinas Pendidikan bekerjasama dengan BNN Kabupaten Kukar, untuk optimasilasi upaya pencegahan penyalahgunaan narkobapada pelajar.
E. Keaslian penelitian
Penelitian ini didasari dan didukung oleh beberapa penelitian sebelumnya. Secara garis besar memiliki persamaan dalam rancangan penelitian, yaitu quasi experiment. Adapun perbedaan pada masing-masing penelitian antara lain : 1. Gold et al. (2011), dalam hasil penelitiannya menemukan bahwa
facebookadalah media promosi kesehatan yang paling digemari dibandingkan dengan twitter dan MySpace. Persamaan dengan penelitian ini adalah pada media promosi kesehatan, yaitu media sosialfacebook.Perbedaannya pada lokasi penelitian, tema pesan promosi kesehatan dan sasaran penelitian.
2. Raviotta et al. (2011) mengevaluasi efektivitas jangkauan pesan motivasi melalui facebook dengan media lain dalam kampanye vaksinasi HPV di kalangan mahasiswa Amerika. Hasilnya adalah facebook lebih efektif dan jangkauannya lebih luas dibandingkan dengan media lain. Persamaan dengan penelitian inipada pemanfaatan facebook sebagai media promosi kesehatan.Perbedaannya pada lokasi, sasaran serta isi pesan kesehatan.
3. Park (2011) dalam hasil penelitiannya menemukan bahwa intervensi berbasis internet cukup potensial dalam mempengaruhi perilaku diet sehat pada kaummuda. Promosi kesehatan dilakukan dengan memberikan pesan motivasi tentang manfaat diet dan makanan bergizi melalui internet. Ternyata hal ini cukup digemari remaja, sehingga meningkatkan pengetahuan, kepercayaan diri, dan motivasi dalam menerima perilaku diet. Perbedaannya pada tema, sasaran dan lokasi penelitian.
4. Dube (2007) meneliti faktor-faktor sosial yang mempengaruhi penyalahgunaan narkoba pada pelajar SLTA di Atteridgeville–Afrika Selatan. Dube menemukan bahwa penyalahgunaan narkoba dipengaruhi oleh faktor sosial budaya masyarakat. Keluarga dan tekanan teman sebaya merupakan faktor yang paling berpengaruh. Persamaannya adalah pada sasaran remaja SLTA. Perbedaannya pada tema penelitian, yaitu dari faktor sosial, sedangkan penelitian ini dari segi media promosi kesehatannya.