JIKA, Vol. I, No. 2, Juni 2013 35
VOLUME I Juni 2013 NOMOR 2
Mortalitas Sindrom Gawat Pernapasan Akut Neonatus
di Unit Perawatan Intensif Neonatus RSUP Sanglah
Imanuel Yulius Malino, Wayan Dharma Artana
Abstrak
Latar belakang. Salah satu penyebab kematian neonatus
adalah Sindrom Gawat Pernapasan Akut (SGPA) yang kontribusinya masih jarang diteliti.
Tujuan Penelitian. Penelitian ini bertujuan mengetahui
proporsi dan mortalitas SGPA terhadap mortalitas neonatus di Unit Perawatan Intensif Neonatus (UPIN) RSUP Sanglah Denpasar.
Metode. Penelitian ini merupakan penelitian kasus
Kontrol. Data diambil dari rekam medis. Kasus adalah neonatus yang meninggal sedangkan kontrol adalah neonatus yang hidup yang ditelusuri secara retrospektif untuk mengetahui adanya SGPA.
Hasil. Enam puluh delapan bayi yang dirawat di UPIN
mulai bulan Januari-Desember 2010 yang memenuhi persyaratan diikutsertakan dalam penelitian, terdiri dari 34 kelompok kasus dan 34 kelompok kontrol. Sebagian besar subyek merupakan laki-laki (66,2%) dengan rerata berat badan lahir 3075 (2500-4500) gram. Lama MRS 5 (1-36) hari dengan masalah paru terutama pneumonia neonatal (75%), diikuti sindrom aspirasi mekonium (23,5%), dan pneumonia aspirasi (1,5%). Rerata rasio PaO2/FiO2 adalah 252,7±115,6. Proporsi SGPA 38,2%. Sepsis dengan kultur darah positif pada 42.6% subyek. SGPA secara statistik bermakna meningkatkan mortalitis neonatus dengan adjusted OR = 22,0 kali (p<0,001; IK 95%; 5,19 s.d. 93,22) dibandingkan bayi tanpa SGPA. Neonatus dengan jenis kelamin laki-laki meningkatkan mortalitas dengan adjusted OR = 1,9 (p=0,33; IK 95%; 0,52 s.d. 7,4), sedangkan sepsis dengan kultur darah positif berisiko dengan adjusted OR = 0,8 (p=0,66; IK 95%; 0,22 s.d. 2,6) terhadap kematian neonatus, namun kedua.penemuan ini tidak bermakna secara statistik.Kesimpulan. SGPA bermakna meningkatkan kematian pada neonatus. (JIKA. 2013;I: 35-44])
Kata kunci. SGPA, kematian neonatus, UPIN. Abstract
Background. Study in Acute Respiratory Distress Syndrome
(ARDS) in neonate still rare.
Objective. To know proportion and mortality of ARDS in
neonatal mortality at Sanglah Hospital’s NICU.
Methods. This was case-control study. Data of eligible
subjects was obtained from medical record January-December 2010. Case was death neonate and control was survived neonate who was followed retrospectively to obtain ALI and ARDS.
Results. 68 eligible subjects was involved, 34 case and 34
control. Most were male (66.2%) with birth weight 3075 (2500-4500) gram. Median of hospitalization was 5 (1-36) days with most frequent lung problems were neonatal pneumonia (75%), meconium aspiration syndrome (23.5%) and aspiration pneumonia (1.5%). Mean ratio PaO2/FiO2 was 252.7±115.6. ARDS proportion was 38,2%. Blood culture was positive in 42.6% subjects. ARDS was statistically significant in increasing neonatal mortality with adjusted OR = 22.0 (p<0.001; 95%CI; 5.19 to 93.22) than neonate without ARDS. Male neonate increased mortality with adjusted OR = 1.9 (p=0.33; IK 95%; 0.52 s.d. 7.4), meanwhile sepsis with positive blood culture risk neonatal mortality with adjusted OR = 0.8 (p=0.66; IK 95%; 0.22 s.d. 2.6), but both findings was not statistically significant.
Conclusion. ARDS significantly increased neonatal
mortality. (JIKA. 2013;I: 35-44])
Keywords. ARDS, neonatal mortality, NICU.
* Dari Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, RSUP Sanglah, Denpasar, Indonesia. Permintaan Cetak ulang ditujukan kepada: Imanuel Yulius Malino. Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana / RSUP Sanglah , Jl . P. Nias , Denpasar , Bali, Indonesia . Telepon / Fax . +62-361-244034 / 244038 .E-mail: [email protected]
JIKA, Vol. I, No. 2, Juni 2013 36 Pendahuluan
Angka kelahiran, morbiditas dan
mortalitas neonatus masih merupakan masalah yang cukup serius terutama di Negara berkembang.1 Kurang lebih ¾ kematian neonatus ini terjadi pada tujuh
hari pertama kehidupan. Masalah
respirasi mengambil peranan penting dalam tingginya kematian pada minggu pertama ini.1,2 Indonesia masih memiliki Angka Kematian Bayi (AKB) yang sangat tinggi pada era 60an yaitu sebesar 216 per 1000 kelahiran hidup. Namun dari tahun ke tahun, angka ini terus menurun hingga pada 2002-2003 (berdasarkan Survei Dasar Kependudukan Indonesia 2002-2003) adalah 35 per 1000 kelahiran hidup.3 Salah satu masalah respirasi yang jarang diteliti adalah sindrom gawat pernapasan akut (SGPA) neonatus. SGPA memiliki mortalitas 28,6% dan 2-40 kali lebih besar dibandingkan tanpa masalah ini.4,5
American European Consensus Conference on ARDS mendefinisikan
sindrom gawat pernapasan akut sebagai onset akut infiltrat bilateral pada gambaran paru tanpa adanya bukti hipertensi atrium kiri dengan tekanan
parsial oksigen (PaO2) dibagi fraksi oksigen (FiO2) yang dihirup kurang dari 200.4,5,6 Rekomendasi konsensus maupun penelitian di bidang ini telah banyak digunakan pada dewasa dan kemudian pada anak yang awalnya menjadi kontroversi karena paru yang masih berkembang pada masa ini. Penggunaan rekomendasi konsensus ini pada anak telah berperan dalam deteksi dan tatalaksana, sehingga meningkatkan kelangsungan hidup pada anak dengan masalah respirasi, serta prognosis.
Penggunaan rekomendasi ini pada
neonatus menjadi perdebatan,
sehubungan dengan perkembangan paru-paru pada masa ini. Flori4 pada 2005
melakukan penelitian dengan
menggunakan rekomendasi American
European Consensus Conference on ARDS
yang melibatkan neonatus. Penelitian ini menyimpulkan tingginya mortalitas akibat cidera paru akut dan sindrom gawat
pernapasan akut serta deteksinya
memberikan nilai prognosis utama. Flori juga menyimpulkan bahwa hipoksemia arterial sangat berhubungan dengan mortalitas. Kami memakai definisi
JIKA, Vol. I, No. 2, Juni 2013 37 on ARDS dalam mengetahui kejadian
ARDS di Unit Perawatan Intensif Neonatus (UPIN) RSUP Sanglah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi dan risiko kematian neonatus dengan onset SGPA di UPIN RSUP Sanglah Denpasar dengan memakai definisi American European Consensus
Conference on ARDS. Pengetahuan atas
tingkat risiko ini akan berimplikasi pada pentingnya peranan terapi oksigen sebagai tatalaksana SGPA.
Metode
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kasus kontrol untuk melihat mortalitas neonatus di UPIN RSUP Sanglah Denpasar. Kasus adalah neonatus cukup bulan yang meninggal di UPIN, sedangkan kontrol adalah neonatus yang hidup di UPIN kemudian dilakukan penelusuran secara retrospektif ada tidaknya SGPA baik pada kelompok kasus maupun kontrol. Data diambil dari catatan medis penderita UPIN periode Januari 2010 sampai dengan Desember 2010.
Kriteria inklusi pada penelitian ini antara lain: neonatus laki-laki atau perempuan, umur 0–28 hari, bayi cukup
bulan, pernah dirawat di UPIN,
mengalami gawat napas, dan berat lahir lahir ≥ 2500. Kriteria eksklusi pada penelitian ini antara lain: data catatan medis tidak lengkap, pulang paksa, adanya kelainan jantung.
Besar Sampel dihitung dengan menggunakan rumus uji hipotesis 2 proporsi7 dengan nilai Z untuk α tertentu, kesalahan tipe I = 5%, hipotesis satu arah, Zα = 1,64, nilai Z untuk power ( 1-β ), kesalahan tipe II = 20%, Zβ = 0,84 sehingga didapatkan jumlah sampel minimal masing-masing kelompok sebesar 31 subyek. Subyek diambil dengan cara
simple random sampling dari neonatus
yang memenuhi kriteria inklusi baik dari kelompok kasus maupun dari kelompok kontrol.
Sindrom Gawat Pernapasan Akut (SGPA): didefinisikan sebagai onset akut infiltrat bilateral tanpa adanya bukti
hipertensi atrium kiri dengan
perbandingan PaO2/FiO2 kurang dan sama
dengan dari 200 (tanpa memperhatikan PEEP).4,8,9 Tekanan parsial oksigen (PaO2) diperoleh dari hasil analisa gas darah (AGD) pertama kali saat gawat napas muncul saat masuk rumah sakit atau selama perawatan. Fraksi oksigen (FiO2)
JIKA, Vol. I, No. 2, Juni 2013 38 yang diserap yang dihitung berdasarkan
besar FiO2 yang diberikan pada sistem oksigen aliran tinggi (ventilator atau CPAP (Continous Possitive Airway Pressure)) saat pasien dilakukan AGD. Pasien yang yang tidak memakai CPAP atau ventilator maka FiO2 diperkirakan sesuai dengan rekomendasi American Association of
Respiratory Care guidelines.4,8,9
Penelitian ini telah disetujui oleh Komisi Etik FK Unud/RSUP Sanglah.
Hasil
Sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi 92 kasus, terdiri dari 44 kasus hidup dan 48 kasus meninggal. Sebanyak 22 kasus (8 hidup, 14 meninggal) dieksklusi dari penelitian karena rekam medis yang tidak lengkap, kelainan jantung, dan kelainan kongenital yang menyertai. Karakteristik subyek penelitian diringkas dalam tabel 1 sebagai berikut: Tabel 1. Karakteristik subyek penelitian
Karakteristik subyek Kasus (n=68)
Jenis Kelamin, Laki-laki n (%) 45 (66,2%)
Berat Badan Lahir, (median (interkuartil)) gram* 3075 (2500-4500)
Lama MRS (median (interkuartil)), hari* 5 (1-36)
Masalah Paru
Pneumonia neonatal 51 (75,0%)
Sindrom aspirasi mekonium 16 (23,5%)
Pneumonia aspirasi 1 (1,5%)
Alat Bantu Napas
Headbox 31 (45,6%)
CPAP 19 (27,9%)
Ventilator 18 (26,5%)
PaO2/FiO2 252,7±115,6
SGPA 26 (38,2%)
Sepsis dengan kultur darah (+) 29 (42,6%)
Subyek penelitian sebagian besar neonatus laki-laki (66,2%), dengan rerata berat badan, rerata rawat inap, dan rerata rasio PaO2/FiO2 berturut-turut 3075 (2500-4500) gram, 13,8±9,6 hari, dan 252,7±115,6. Kami menemukan proporsi SGPA pada penelitian ini sebesar 38,2%
dari seluruh kasus dengan gawat napas. Masalah paru terutama antara lain: pneumonia neonatal (75%), diikuti sindrom aspirasi mekonium (23,5%), dan pneumonia aspirasi (1,5%). Sepsis dengan kultur darah positif pada 42.6% subyek.
JIKA, Vol. I, No. 2, Juni 2013 39
Karakteristik subyek pada
kelompok kasus dan kontrol diringkas
dalam tabel 2 sebagai berikut:
Tabel 2. Karakteristik kelompok kasus dan kontrol *Distribusi tidak normal
Penelitian ini menunjukkan bayi laki-laki lebih banyak mengalami SGPA dibandingkan perempuan baik pada kelompok kasus maupun kontrol. Berat badan pada kedua kelompok tidak terlalu berbeda. Kelompok kontrol memiliki median masa rawat inap yang lebih panjang dari pada kasus (17(8-35) vs
5(1-36)), menunjukkan kematian pada
kelompok kasus lebih banyak terjadi pada minggu pertama. Masalah paru terutama pada kedua kelompok antara lain: pneumonia neonatal, sindrom aspirasi mekonium, dan pneumonia aspirasi. Rerata PaO2/FiO2 pada kedua kelompok
sebesar 251±116,3. Penelitian ini menemukan proporsi SGPA pada kedua kelompok sebesar 38,2%. SGPA lebih banyak terjadi pada kelompok kasus dibandingkan kelompok kontrol (67,6% vs 8,8%), sesuai dengan rerata PaO2/FiO2 yang ditemukan lebih rendah pada kelompok kasus dibandingkan kontrol (186,1±115,2 vs 319,8±68,8). Hasil yang serupa tampak pada karakteristik sampel dengan SGPA dan Non-SGPA sebagaimana diringkas pada tabel 3.
Tabel 3. Karakteristik sampel dengan SGPA dan CPA
Karakteristik subyek Kasus (n=34) Kontrol (n=34)
Jenis Kelamin, Laki-laki n (%) 24 (70,6%) 21 (61,8%)
Berat Badan Lahir, gram (median (interkuartil))* 3075 (2500-3850) 3075 (2500-4500)
Lama MRS (median (interkuartil))* 5(1-36) 17(8-35)
Masalah Paru
Pneumonia neonatal 23 (67,6%) 28 (82,4%)
Sindrom aspirasi mekonium 10 (29,4%) 6 (17,6%)
Pneumonia aspirasi 1 (2,9%) 0
Alat Bantu Napas
Headbox 9 (26,5%) 22 (64,7%)
CPAP 8 (23,5%) 11 (32,4%)
Ventilator 17 (50,0%) 1 (2,9%)
PaO2/FiO2 186,1±115,2 319,8±68,8
SGPA 23 (67,6%) 3 (8,8%)
JIKA, Vol. I, No. 2, Juni 2013 2
Karakteristik subyek SGPA (n=26) Non-SGPA (n=42)
Jenis Kelamin, Laki-laki n (%) 17 (65,4%) 28 (66,7%)
Berat Badan Lahir, gram (mean±SD) 3005 (2500-3800) 3100 (2500-4500)
Lama MRS (median (interkuartil))* 5(1-36) 16(3-34)
Masalah Paru
Pneumonia neonatal 16 (61,5%) 35 (83,3%)
Sindrom aspirasi mekonium 9 (34,6%) 7 (16,7%)
Pneumonia aspirasi 1 (3,8%) 0
Alat Bantu Napas
Headbox 2 (7,7%) 25 (69,0%)
CPAP 7 (26,9%) 12 (28,6%)
Ventilator 17 (65,4%) 1 (2,4%)
PaO2/FiO2 (mean±SD) 124,1±52,4 332,3±56,4
Sepsis dengan kultur darah (+) 7 (26,9%) 22 (52,4%)
Luaran (meninggal) 23 (88,5%) 11 (26,2%)
*Distribusi tidak normal
Bayi laki-laki lebih banyak
mengalami SGPA dibandingkan
perempuan. Berat badan pada kedua kelompok tidak terlalu berbeda. Neonatus SGPA memiliki median masa rawat inap yang lebih pendek dari pada non-SGPA (5(1-36) vs 16(3-34)) menunjukkan neonatus dengan masalah respirasi sebagian besar mengalami kematian dalam minggu pertama. Masalah paru terutama pada kedua kelompok ini antara lain: pneumonia neonatal, sindrom aspirasi mekonium, dan pneumonia aspirasi. Sebagian besar bayi yang mengalami SGPA (88,5%) mengalami kematian.
Penelitian dan kepustakaan
sebelumnya mengungkapkan bahwa
beberapa faktor yang berperan
meningkatkan mortalitas neonatus antara lain: jenis kelamin laki-laki dan sepsis. Analisis univariat dilakukan untuk
mengetahui besarnya masing-masing
risiko terhadap mortalitas sebagaimana terlihat pada tabel 4.
Tabel 4. Rasio odds mortalitas akibat SGPA dibandingkan dengan Non-SGPA.
Faktor Risiko Kematian Odds Ratio (OR) p* SGPA 24,9 <0,001 Sepsis dengan kultur darah (+) 3,0 0,086 Jenis kelamin (laki-laki) 0,6 0,442
JIKA, Vol. I, No. 2, Juni 2013 41 *p < 0,05.
SGPA meningkatkan risiko
kematian sebesar 24,1 kali lebih besar dibandingkan dengan non-SGPA dan secara statistik bermakna (p<0,001). Neonatus dengan sepsis meningkatkan kematian 3,0 (p=0,086) kali dibandingkan kultur yang negatif walaupun secara statistik tidak bermakna. Pada penelitian ini, neonatus dengan jenis kelamin laki-laki memiliki risiko 0,6 kali (p=0,442) atau
menjadi faktor protektif ini dibandingkan dengan perempuan, namun hasil ini tidak bermakna secara statistik.
Analisis multivariat dilakukan untuk mengetahui faktor risiko mortalitas yang bermakna diantara ketiga variabel
ketika ketiga variabel ditemukan
bersama-sama sebagaimana ditunjukkan pada tabel 5. Tabel 5. Analisis multivariat mortalitas akibat SGPA, jenis kelamin
laki-laki, dan
kultur positif
Faktor Risiko Kematian Adjusted Odds Ratio p* IK 95%
SGPA 22,0 <0,001 5,19 s.d. 93,22
Sepsis dengan kultur darah (+) 0,8 0,66 0,22 s.d. 2,6
Jenis kelamin (laki-laki) 1,9 0,33 0,52 s.d. 7,4
*p < 0,05.
Pada penelitian ini kami
menemukan bahwa setelah mengalami penyesuaian dengan kedua variabel lainnya, SGPA pada neonatus secara statistik bermakna meningkatkan risiko kematian (adjusted OR) sebesar 22,0 kali (p<0,001; IK 95%; 5,19 s.d. 93,22)
dibandingkan subyek yang tidak
mengalami SGPA. Neonatus berjenis kelamin laki-laki berisiko terhadap kematian dengan adjusted OR 1,9 (p=0,33; IK 95%; 0,52 s.d. 7,4), sedangkan pasien dengan sepsis menjadi beresiko 0,8 (p=0,66; IK 95%; 0,22 s.d. 2,6), namun
kedua penemuan ini tidak bermakna secara statistik.
Diskusi
Pada penelitian ini kami menemukan proporsi SGPA 38,2% atau lebih dari sepertiga kasus neonatus yang mengalami gawat napas. Penelitian ini juga menemukan sebagian besar neonatus dengan SGPA meninggal (88,5%) dalam minggu pertama (median (interkuartil) = 5(1-36)). Proporsi yang kami temukan pada penelitian ini lebih besar dari apa yang ditemukan oleh Flori dengan prevalen SGPA 22%.4,13 Kematian akibat SGPA juga lebih besar dari yang
JIKA, Vol. I, No. 2, Juni 2013 42 ditemukan pada Flori 2005 dan Sharma
20104,8 dimana kematian akibat SGPA berkisar 20-75%. Hal ini menunjukkan pentingnya penilaian SGPA pada neonatus dengan sesak. Penilaian dan tatalaksana gawat napas terutama pemakaian alat
bantu napas diharapkan mampu
meningkatkan kelangsungan hidup
neonatus. Penilaian SGPA juga menjadi penting dalam mengetahui prognosis
yang berperan dalam pemberian
informasi pada keluarga.
Kami menemukan bahwa SGPA pada neonatus secara statistik bermakna meningkatkan risiko kematian (OR) sebesar 22,0 kali (p<0,001; IK 95%; 5,19 s.d. 93,22) dibandingkan subyek yang tidak mengalami SGPA. Hasil ini hampir 10 kali lebih tinggi dari yang ditemukan oleh Flori 2005 (OR 2,36; IK 95% 1,25-4,47).4 Rubenfeld 20056 mengungkapkan bahwa di Amerika Serikat kejadian SGPA antara 2-40 kali lebih tinggi dari penelitian sebelumnya. Penemuan ini juga menjadi petunjuk buruknya prognosis neonatus dengan SGPA. Sarana dan prasarana yang berbeda dalam mendukung tata laksana SGPA dapat menjadi penyebab besarnya perbedaan risiko. Keterbatasan alat bantu
napas bertekanan positif dapat
meningkatkan mortalitas bayi dengan SGPA selain dari beratnya kelainan dasar yang menyertai. Neonatus laki-laki, pada peneliian ini, lebih banyak mengalami SGPA respirasi dengan risiko hampir sebesar 2 kali, (OR = 1,9 (p=0,33; IK 95%; 0,52 s.d. 7,4)) walaupun secara statistik
tidak bermakna. Penemuan serupa
ditemukan dari berbagai penelitian terutama pada minggu-minggu awal dan bulan-bulan awal kehidupan. jenis kelamin berpengaruh terhadap kematian bayi dalam berbagai karakteristik. Faktor biologis yang berpengaruh terhadap tingginya morbiditas dan mortalitas ini
antara lain: imunodefisiensi,
meningkatnya risiko infeksi,
keterlambatan maturitas yang
menyebabkan meningkatknya gangguan respirasi dan malformasi kongenital.11,12
Neonatus SGPA memiliki median masa rawat inap yang lebih pendek dari pada non-SGPA (5(1-36) vs 16(3-34)) menunjukkan neonatus dengan masalah respirasi sebagian besar mengalami
kematian dalam minggu pertama.
Masalah respirasi menjadi penyebab kematian utama sehingga kurang lebih ¾
JIKA, Vol. I, No. 2, Juni 2013 43 kematian neonatus terjadi pada tujuh hari
pertama kehidupan.1,2 Perhatian khusus untuk meningkatkan kelangsungan hidup
diperlukan pada neonatus dengan
masalah respirasi, terutama pada minggu pertama. Panjangnya rawat inap pada
kelompok kontrol disebabkan oleh
tatalaksana kecurigaan infeksi pada neonatus selain masalah pernapasan yang ada.
Diagnosis saat onset SGPA
terbanyak adalah pneumonia neonatal (75%), diikuti dengan sindrom aspirasi mekonium (23,5%) dan pneumonia aspirasi (1,5%). Hasil ini sesuai dengan apa yang ditemukan oleh Flori 20054 dimana pneumonia yang tertinggi disusul oleh aspirasi dan sepsis. Sharma 20109 menemukan bahwa pneumonia dan sepsis terjadi pada 60% kasus dengan SGPA.14,15
Sindrom gawat napas selain menjadi bagian dari masalah respirasi, dapat juga menjadi penanda kejadian infeksi. Kedua keadaan ini sangat sulit dibedakan sehingga selalu menjadi diagnosis banding pada kasus-kasus
neonatus dengan gawat napas.
Perkembangan klinis sepsis dan atau
disertai hasil kultur yang positif menjadi petunjuk penegakan diagnosis sepsis. Pasien dengan sepsis kultur darah positif pada penelitian ini ditemukan pada 42,6% dari seluruh subyek penelitian dan memiliki risiko kematian sebesar 0,8 kali (p=0,66; IK 95%; 0,22 s.d. 2,6) yang secara
statistik tidak bermakna. Sepsis
merupakan salah satu faktor risiko mortalitas penting yang meningkatkan risiko kematian. Fajar pada 2009,10 di
tempat penelitian yang sama,
menemukan bahwa sepsis memiliki OR = 5.99 (IK 95% 1.6–21.7) dan secara statistik bermakna. Sepsis dengan kultur positif hanya ditemukan pada 22-50,4% kasus dengan sepsis.17-19 Penelitian ini meneliti sepsis yang dikonfirmasi hasil kultur darah positif dari subyek penelitian, sedangkan neonatus yang secara klinis mengalami sepsis tidak dimasukkan dalam penelitian ini. Penelitian prospektif yang lebih baik dibutuhkan untuk mengungkapkan hal ini sehingga rasio odds yang disesuaikan lebih mencerminkan rasio kematian setelah disesuaikan oleh faktor sepsis sebagai perancu. Penelitian ini memiliki
beberapa kelemahan, antara lain:
JIKA, Vol. I, No. 2, Juni 2013 44 kontrol yang merupakan penelitian
retrospektif, memiliki kekuatan
menjelaskan hubungan lebih lemah dari penelitian prospektif. Penelitian ini juga hanya mencantumkan hasil kultur positif dari subyek penelitian dalam penelusuran faktor risiko. Hasil kultur positif tentunya belum mencerminkan kejadian sepsis pada subyek. Penelitian ini memiliki rentang kepercayaan yang sangat lebar, sehingga penelitian yang lebih baik dengan jumlah sampel yang lebih besar sangat dibutuhkan. Penelitian prospektif yang lebih baik dibutuhkan untuk mengungkapkan hal ini sehingga rasio
odds yang disesuaikan lebih
mencerminkan rasio kematian setelah disesuaikan oleh faktor sepsis maupun faktor risiko kematian neonatus lainnya sebagai perancu.
Kesimpulan
penelitian ini adalah proporsi SGPA sebesar 38,2% dan SGPA pada neonatus secara statistik bermakna meningkatkan mortalitas. Saran penelitian ini perlunya dilakukan penelitian kohort prospektif lanjutan dengan jumlah sampel yang lebih besar, sehingga keterlibatan faktor risiko kematian neonatus lainnya
dapat diteliti terutama yang berpotensi meningkatkan mortalitas SGPA.
Daftar Pustaka
1. Lawn JE, Cousens S, Zupan J. 4 Million neonatal deaths: when? where? why? Lancet. 2005; 365:891-900.
2. Andajani-Sutjahjo S, manderson L. Stillbirth, neonatal death and reproductive rights in Indonesia. Repr Health Matters. 2004; 12(24):181-8.
3. Tim penyusunan laporan tujuan pembangunan millennium (MDGs) Indonesia tahun 2007. Menurunkan kematian anak. Dalam: Suzetta P, penyunting. Laporan pencapaian millennium development goals Indonesia 2007. Jakarta: Kementrian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2007: h. 49-54.
4. Flori HR, Glidden DV, Rutherford GW, and Matthay MA. Pediatric acute lung injury prospective evaluation of risk factors associated with mortality. American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine. 2005:171;995-1001. 5. Rubenfeld GD, Caldwell E, Peabody E, Weaver J,
Martin DP, Neff M, et al. Incidence and outcomes of acute lung injury. NEJM. 2005;353(16):1685-93. 6. Harrison EA. Acute respiratory distress syndrome. Dalam: Harrison EA, penyunting. Neonatal Respiratory Care Handbook. Massachusetts: Jones and Bartlett Publishers; 2009. h. 1-35.
7. Dahlan MS. Menghitung Besar Sampel: Menggunakan Rumus Besar Sampel Secara Benar. Dalam: Dahlan MS, penyunting. Seri Evidence Based Medicine. Seri 2. Besar Sampel dalam Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Arkans; 2005. h.19-71.
8. Anderson MR. Update on pediatric acute respiratory distress syndrome. Respiratory Care. 2003;48(3):261-78.
9. Shapiro BA. Oxygen Therapy and Ventilation. Dalam: Shapiro BA, penyunting. Clinical application of blood gases. Chicago: Year Book Medical Publishers, Inc.; 1976. h. 105-12.
10. Frankel LR, Dicarlo JV. Acute (Adult) Respiratory Distress Syndrome (ARDS). Dalam: Behrman RE, Kleigman RM, Jenson HB, penyunting. Nelson Textbook of Pediactrics. Edisi ke-17. Philadelphia: WB Saunders Company, 2003. h.142-44.
11. Titaley CR, Dibley MJ, Agho K, Roberts CL, Hall J. Determinants of neonatal mortality in Indonesia. BMC Public Health. 2008;8(232):1-15.
12. Naeye RL, Burt LS, Wright DL, Blanc WA, Tatter D. Neonatal mortality, the male disadvantage. Pediatrics. 1971;48:902-6.
13. Sharma S. Acute repiratory distress syndrome. Clinical evidence. 2010;11:1511-29.
JIKA, Vol. I, No. 2, Juni 2013 45
14. Ware LB, Matthay MA. The acute respiratory distress syndrome. N Engl J Med. 2000;342:1334-49.
15. Udobi KF, Childs ED. Acute respiratory distress syndrome. Am Fam Physician. 2003;67(2):315- 22. 16. Fajar HP, Artana WD, Widiana IGR. Faktor Risiko
Kematian Neonatus di Unit Perawatan Intensif Neonatus (UPIN) RSUP Sanglah. Program Pendidikan Dokter Spesialis I Bagian/Smf Ilmu Kesehatan Anak FK Unud/RS Sanglah Denpasar. 2009.
17. Shah GS1, Budhathoki S2, Das BK3, Mandal RN. Risk factors in early neonatal sepsis. Kathmandu University Medical Journal. 2006;4(2):187-91. 18. Movahedian AH, Moniri R, Mosayebi Z. Bacterial
culture of neonatal sepsis. Iranian J Publ Health. 2006;35(4):84-9.
19. Sriram R. Correlation of blood culture results with the sepsis score and the sepsis screen in the diagnosis of neonatal septicemia. Int J Biol Med Res. 2011;2(1):360-8.