A. Latar Belakang
Tanah Air Indonesia, sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa, memiliki kekayaan yang berlimpah akan sumber daya alam hayati, berupa keanekaragaman jenis hewan, ikan, dan tumbuhan yang perlu dijaga serta dilindungi kelestariannya. Pemanfaatan serta perlindungan ini sesuai dengan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi: “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.”
Berbagai kalangan masyarakat di Indonesia kini memiliki hewan, baik hewan peliharaan, hewan yang ditangkarkan dengan disertai ijin, maupun hewan ternak dan budi daya. Kepemilikan atas hewan-hewan ini dijamin oleh perundang-undangan yang berlaku. Usaha masyarakat dalam bidang budi daya juga meninggi, yaitu usaha untuk menghasilkan hewan peliharaan, bibit hewan untuk dikembangbiakkan, serta produk-produk yang berasal dari hewan.
Dengan bertambah banyaknya masyarakat yang memelihara hewan ini, akhirnya bermunculan usaha-usaha baru di bidang ekonomi, terutama dalam bidang penyediaan jasa. Penyediaan jasa ini biasanya dilakukan oleh para pengusaha Pet Shop. Mereka menawarkan jasa mulai dari menyiapkan dan menjual pakan serta kelengkapannya, jasa pemeliharaan sementara (penitipan), serta pengiriman hewan antar area. Untuk pengiriman hewan antar area,
kewajiban pengusaha biasanya dimulai dari pengandangan, penyediaan makanan dan minuman selama dalam perjalanan, hingga akhirnya sampai di tempat tujuan.
Mobilitas yang tinggi atas pengangkutan hewan antar tempat di dalam negeri maupun antar negara membuka peluang tersebarnya penyakit-penyakit yang berbahaya. Hal ini disebabkan oleh beragamnya kondisi kesehatan hewan di setiap daerah, maupun di setiap negara.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, mewabahnya penyakit menular pada hewan di Indonesia sendiri ditandai dengan adanya penyakit flu burung, hog cholera, dan anthrax. Penyakit flu burung yang disebabkan oleh virus H5N1 telah banyak menjangkiti korban hingga meninggal dunia. Hog cholera juga dilaporkan telah menimbulkan kematian ratusan ekor babi di pulau Bulan, Riau, pada tahun 1995.
Pengadaan aturan yang ketat dalam pengiriman hewan merupakan jawaban atas urgensi tinggi pencegahan penularan penyakit antar wilayah. Untuk mempermudah pencegahan penularan penyakit hewan tertentu di Indonesia, setiap daerah dibedakan dengan pemberian status sebagai daerah bebas penyakit atau daerah yang tertular. Penyelundupan hewan yang sakit dari daerah yang tertular ke daerah bebas penyakit dapat menimbulkan masalah di daerah tujuan serta mempersulit upaya pemberantasan penyakit tersebut, baik dalam skala nasional maupun internasional. Selain kedua status tersebut, ada juga status daerah terkarantina yang diberikan bagi daerah yang sedang dalam pemulihan intensif dari penyakit tertentu. Misalnya, Provinsi Bali yang sedang dikarantina sebagai upaya pemberantasan penyakit rabies. Oleh karena itu, hewan anjing, kucing,
monyet, dan sebangsanya yang berpotensi menjadi media pembawa penyakit rabies dilarang pemasukan maupun pengeluarannya dari provinsi Bali.
Secara umum, pengangkutan hewan dapat dilakukan melalui 3 (tiga) jalur, yaitu jalur darat, laut, dan udara. Pengangkutan hewan melalui jalur laut dan udara mewajibkan hewan yang akan dikirim ke tempat tujuan, agar melalui sistem karantina terlebih dahulu sebelum akhirnya diperbolehkan untuk diangkut menggunakan pesawat udara maupun kapal laut. Tindakan karantina ini merupakan wewenang dari Balai Karantina dan Pertanian yang tersebar di setiap bandar udara dan pelabuhan di seluruh wilayah Indonesia.
Karantina hewan diatur secara umum dalam Undang-Undang No 16 Tahun 1992 Tentang Karantina Hewan, Ikan Dan Tumbuhan. Adanya Balai Karantina dan Pertanian ini bertujuan untuk mengatur, mengawasi, dan mengamankan segala sesuatu yang menyangkut masalah kesehatan masyarakat, hewan dan tumbuh-tumbuhan serta dampaknya terhadap lingkungan di suatu negara yang bersangkutan.
Setiap orang yang hendak melakukan penerbangan dengan membawa hewan wajib terlebih dulu mengikuti berbagai prosedur karantina, dimulai dari mengajukan surat izin pengangkutan ke Balai Karantina dan Pertanian di bandar udara setempat, serta beberapa ketentuan khusus yang disyaratkan oleh masing-masing maskapai penerbangan.
Berbeda dengan pengangkutan hewan melalui jalur laut dan udara, jalur darat tidak mengharuskan adanya tindakan karantina terlebih dahulu. Alat angkut yang biasanya digunakan adalah kendaraan pribadi, truk, mobil box, maupun
kereta api. Pelaksanaan aturan mengenai pengangkutan ini merupakan wewenang Dinas Peternakan yang tersebar di setiap wilayah di Indonesia.
Konflik-konflik juga sangat rentan terjadi dalam pengangkutan hewan melalui jalur darat. Salah satu contohnya adalah kasus kematian anjing Saint Bernard di Jakarta. Pada tahun 2011 kemarin, untuk pertama kalinya Pengadilan di Indonesia memproses sebuah perkara mengenai kematian hewan yang terjadi dalam tindakan pengangkutan. Christina, pemilik dari empat anjing Saint Bernard tersebut berencana untuk mengirimkan anjing-anjingnya dari Jakarta ke Yogyakarta pada tanggal 4 Desember 2011. Christina menggunakan jasa Planet Petshop yang bertempat di Gajah Mada Plaza, Jakarta Pusat untuk mengangkutnya. Johannes, pemilik Planet Petshop telah menyiapkan dua buah kandang. Setiap kandangnya akan diisi dengan dua ekor anjing, kemudian di bagian luarnya dililit dengan lakban. Anjing-anjing tersebut akan diangkut ke Yogyakarta menggunakan jasa pengiriman hewan oleh kereta api Herona Express.
Pada tanggal 5 Februari, paket pun tiba di Yogyakarta. Ketika paket tersebut dibongkar, ternyata tiga anjing Christina mati secara mengenaskan dengan darah mengalir melalui mata, hidung, dan mulut mereka. Hanya ada satu ekor yang masih hidup, namun dalam kondisi sekarat. Keempat ekor anjing tersebut mengalami kekurangan oksigen (hypoksia) sehingga paru-parunya meledak. Hal ini diakibatkan terlalu kecilnya ukuran kandang, kurangnya sirkulasi udara, serta tidak diberikannya makan dan minuman selama perjalanan panjang itu. Alhasil, gugatan atas perbuatan melawan hukum (Onrechtmatige daad) pun dilayangkan oleh Christina ke pengadilan.
Penegakan hak asasi hewan di Indonesia yang berbasis animal welfare memang masih sangat perlu digalakkan dalam penyelenggaraannya. Kasus-kasus yang telah disebutkan di atas hanyalah sebagian kecil dari kasus yang pernah terjadi dalam pengangkutan hewan di wilayah Indonesia. Mobilitas pengangkutan hewan yang semakin tinggi ini pun secara otomatis meningkatkan urgensi akan hak-hak keperdataan pemilik hewan yang wajib untuk diberikan perlindungan hukum.
“The fundamental problem for animals is that our laws consider them things.” –Stephen Wells, Animal Legal Defense Fund
“The greatness of a nation and its moral progress can be judged by the way its animals are treated.” – Mahatma Gandhi
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis merumuskan beberapa masalah yang akan di bahas dalam penulisan karya ilmiah ini sebagai berikut:
1. Bagaimana pelaksanaan perjanjian pengangkutan hewan menggunakan jasa kereta api pada PT. Herona Express?
2. Bagaimana perlindungan hukum terhadap pemilik hewan sebagai konsumen dalam perjanjian pengangkutan hewan menggunakan jasa kereta api pada PT. Herona Express?
Tujuan yang ingin dicapai dalam Penulisan Karya Ilmiah di Bidang Hukum ini meliputi 2 (dua) hal, yaitu :
1. Tujuan Obyektif
Penelitian ini bertujuan :
a. Untuk mengetahui pelaksanaan perjanjian pengangkutan hewan menggunakan jasa kereta api pada PT. Herona Express.
b. Untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap pemilik hewan sebagai konsumen dalam perjanjian pengangkutan hewan menggunakan jasa kereta api pada PT. Herona Express. 2. Tujuan Subyektif
Penelitian ini dilaksanakan sebagai suatu tahapan proses belajar guna memenuhi salah satu syarat memperoleh Gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian yang dilakukan oleh penulis antara lain : 1. Manfaat Akademis
a. Untuk dapat mengetahui sinkronisasi antara ilmu yang diperoleh dalam dunia perkuliahan dengan kenyataan dan fakta-fakta yang terjadi di lapangan.
b. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi ilmu hukum khususnya Hukum Perdata, terutama yang terkait dengan perjanjian pengangkutan yang kini telah beredar dan digunakan secara meluas dalam bisnis pengiriman hewan di Indonesia.
c. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi dan sumbangsih nyata dalam pengembangan ilmu hukum di Indonesia yang berkaitan dengan Ilmu Perdata.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Penulis
Penelitian yang dilakukan ini akan memiliki manfaat bagi penulis sendiri yaitu menambah wawasan pengetahuan dari penulis terkait Perlindungan Hukum Terhadap Pemilik Hewan sebagai Konsumen dalam Perjanjian Pengangkutan Hewan Menggunakan Jasa Kereta Api Pada PT. Herona Express serta lebih meningkatkan semangat untuk melakukan penelitian terhadap permasalahan yang terjadi.
b. Bagi Ilmu Pengetahuan
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran yang bermanfaat dalam perkembangan hukum secara umum dan khususnya bagi pelaksanaan perjanjian pengangkutan pada praktik pengiriman hewan.
c. Bagi Penyedia dan Pemakai Jasa Pengangkutan Hewan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman hukum yang baik bagi penyedia dan pemakai jasa pengangkutan hewan di masa mendatang.
Penelitian ini diharapkan memiliki manfaat bagi masyarakat untuk dapat lebih mengetahui mengenai seluk beluk perjanjian pengangkutan yang digunakan dalam kegiatan pengiriman hewan.
E. Keaslian Penelitian
Melalui pencarian internet, Penulis menemukan sebuah tulisan dari Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro yang disusun oleh Gita Puspitasari Marganingtyas, Rinitami Njatrijani, dan Paramita Prananingtyas berjudul “Tanggung Jawab Pengangkut dalam Pengiriman Paket Barang dan Hewan oleh PT. Herona Express”. Tulisan tersebut membahas secara sangat singkat mengenai kewajiban PT. Herona Express dalam pengiriman, sedangkan dalam penulisan hukum ini, yang dibahas secara rinci adalah perlindungan hak-hak keperdataan pemilik hewan dalam pengangkutan hewan, baik dari segi hubungan PT. Herona dengan pemilik hewan sebagai end-user, maupun hubungan PT. Herona Express dengan pet shop sebagai penyedia jasa.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penulisan karya tulis di bidang hukum yang berjudul Perlindungan Hukum Terhadap Pemilik Hewan sebagai Konsumen dalam Perjanjian Pengangkutan Hewan Menggunakan Jasa Kereta Api Pada PT. Herona Express belum pernah ada.
Oleh karena itu, Penulis menyatakan bahwa penulisan hukum ini adalah asli.