• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENELITIAN HIBAH UNGGULAN PROGRAM STUDI MAGISTER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LAPORAN PENELITIAN HIBAH UNGGULAN PROGRAM STUDI MAGISTER"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Bidang Unggulan : Budaya dan Lingkungan Kode/Nama Bidang Ilmu : Kajian Budaya

LAPORAN PENELITIAN

HIBAH UNGGULAN PROGRAM STUDI MAGISTER

FAKTOR RASIONALITAS EKONOMI DAN PERILAKU MIGRAN DALAM PEMBUANGAN SAMPAH DI DESA

PADANGSAMBIAN KLOD DENPASAR

Peneliti: Dr. Industri Ginting Suka, M.S/NIDN. /0004125504

PROGRAM STUDI MAGISTER KAJIAN BUDAYA FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS UDAYANA

(3)

HALAMAN PENGESAHAN PENELITIAN HIBAH UNGGULAN PROGRAM STUDI

1. Judul Penelitian : Faktor Rasionalitas Ekonomi dari Perilaku Migran dalam Pembuangan Sampah di Desa Padang Sambian Klod Denpasar Barat 2. Bidang Unggulan : Ekologi Manusia

3. Topik Unggulan : Dampak Lingkungan 4. Ketua Peneliti

a. Nama Lengkap : Dr. Industri Ginting Suka, M.S b. Jenis Kelamin : Laki-laki

c. NIP/NIDN : 195512041983031001/0004125504 d. Jabatan Fungsional : Dosen

e. Fakultas/Jurusan : Ilmu Budaya/antropologi f. Pusat Penelitian : Prodi Magister Kajian Budaya g. Alamat : Jl. Nias no. 13 Denpasar h. Tlp/Fax : Hp. 085228098333 5. Jumlah Anggota Peneliti : 2 (dua) orang 6. Jumlah Mahasiswa : 2 (dua) orang 7. Pembiayaan : 5.000.000.-

Jumlah biaya yang diajukan ke FIB UNUD Rp. 5.000.000.-

Mengetahui, Denpasar, 5 November 2018

Koordinator Program Studi Ketua Peneliti

(I MADE SUARKA) ( Industri Ginting Suka)

NIP. 196102121988031001 NIP. 195512041983031001

Mengetahui,

Dekan Fakultas Ilmu Budaya

(NI LUH SUTJIATI BERATHA) NIP.19590917 19840320 02

(4)

DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL MUKA ………..…1

HALAMAN PENGESAHAN ………2

DAFTAR ISI ………..3

RINGKASAN ………4

BAB I. PENDAHULUAN ……….5

BAB II. PERUMUSAN MASALAH, TUJUAN, DAN LUARAN PENELITIAN ………..8

BAB III. TINJUAN PUSTAKA ……….14

BAB IV. METODE PENELITIAN ………18

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN ………23

DAFTAR PUSTAKA ……….31

LAMPIRAN ………36

Lampiran 1. Justifikasi anggaran ………37

Lampiran 2. Dukungan sarana prasarana ………38

Lampiran 3. Susunan organisasi tim peneliti ………..39

Lampiran 4. Biodata ketua dan anggota tim peneliti ………...40

Lampiran 5. Surat pernyataan personalia ………41

Lampiran 6. Pernyataan Mahasiswa ………42

(5)

RINGKASAN

Kota Denpasar merupakan sebuah kota di Pulau Bali sekaligus menjadi ibukota Provinsi Bali,Indonesia. Tingginya pertumbuhan industri pariwisata di Pulau Bali mendorong Kota Denpasar menjadi pusat kegiatan bisnis dan menempatkan kota ini sebagai salah satu daerah yang memiliki pendapatan perkapita dan pertumbuhan tinggi di Provinsi Bali.

Pepatah lama mengatakan: di mana ada gula di situ ada semut, maka hal itu terjadi di kota Denpasar di mana karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan kesempatan kerja cukup tersedia maka datang para migran dari berbagai pulau di Indonesia untuk mencari keberuntungan. Jumlah pendatang (migran) yang paling banyak adalah dari pulau Jawa, karena letak pulau bali sangat dekat dengan Jawa. Kehadiran mereka tentu membawa sejumlah masalah terutama masalah pengelolaan sampah rumah tangga yang cenderung tidak diperhatikan cara pembuangannya sehingga dapat mengganggu kebersihan lingkungan perkotaan. Ada faktor rasionalitas ekonomi dalam pengelolaan sampah oleh para migran, artinya mereka mempertimbangkan untung dan rugi dalam membayar redistribusi sampah rumah tangganya.

Para migran atau pendatang dalam mengelola sampahnya juga mengarah pada rasionalitas ekonomi yaitu tujuan penghematan dalam pengeluaran uang khususnya untuk membayar iyuran sampah di desa, sehingga menimbulkan perilaku membuang sampat sembarangan atau tidak pada tempat yang telah disediakan sehingga berdampak kepada lingkungan.

Kata kunci: rasionalitas ekonomi, migran, sampah padat

(6)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Meningkatnya urbanisasi di kota akan membawa akibat terhadap keseimbangan lingkungan hidup kota melalui berbagai masalahnya, di antaranya adalah masalah penataan pemukiman dan kebersihan lingkungan. Pada umumnya kota-kota besar seperti halnya Denpasar, dalam jangka waktu singkat, seringkali tumbuh pemukiman liar sebagai akibat banyaknya migran yang datang dari luar kota atau daerah lain. Membangun pemukiman liar, maka timbullah daerah kumuh dalam lingkungan kota. Munculnya daerah kumuh sangat mengganggu eksistensi kota, terutama bila dilihat dari segi fisiknya, yaitu menghilangnya estetika kota. Bila ditinjau dari aspek sosial timbulnya kawasan kumuh dan kotor, disebabkan perilaku dari para migran penghuni kawasan kumuh itu membuat limbah atau sampah rumah tangganya secara sembarangan dan bukan di tempat yang telah ditentukan.

Di desa Padangsambian Klod, sebagai salah satu contoh kawasan banyak pendatang yang berada di Kota Madya Denpasar, sebagian besar penduduknya merupakan migran yang berasal dari Pulau Jawa. Kebanyakan migran ini bermata pencaharian sebagai penjual makanan seperti bakso, nasi goreng dan lain sebagainya. Perilaku mereka dalam membuang sampah rumah tangganya, memperlihatkan perilaku yang berbeda. Banyak faktor penyebab perbedaan perilaku mmigran tersebut, yang salah satunya di antaranya ialah bertumpu pada rasionalitas ekonomi semata-mata.

Perilaku adalah segala perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh mahluk hidup.

Sementara menurut dengan mengutip pendapat dari R.Y. Rwick (1974) mengatakan bahwa

(7)

perilaku adalah tindakan dan perbuatan organisme, yang dapat diamati bahkan dipelajari.

Namun setiap tindakan manusia sangat dipengaruhi oleh sistem nilai dan tidak terlepas dari kepribadiannya, yang telah terinternalisasi melalui proses sosialisasi yang panjang dan rumit.

Perilaku ada yang menguntungkan dan ada pula yang merugikan, dimana perilaku tersebut ada yang disadari dan ada yang tidak disadari. Dalam menjelaskan perilaku tersebut Kangi (1984) menggolongkan menjadi 4 (empat) golongan, yaitu:

a. Perilaku yang sadar dan sengaja tetapi menguntungkan.

b. Perilaku yang sadar dan sengaja tetapi merugikan.

c. Perilaku yang tidak disadari dan tidak disengaja tetapi merugikan atau mengganggu.

d. Perilaku yang tidak disadari dan tidak disengaja tetapi menguntungkan.

Melalui pengamatan sementara, yang dikuatkan juga dengan keterangan aparat pemerintah Desa, di kawasan ini pernah ada proyek kebersihan lingkungan dari pemerintah.

Proyek ini bukan hanya memperbaiki kondisi rumah, akan tetapi juga perbaikan sarana dan pra-sarana umum yang ada. Salah satunya ialah pengadaan tempat pembuangan sampah sementara. Tampaknya proyek tersebut tidak mendapat respon positif dari para migran.

Seharusnya proyek yang bernilai mahal dan ditunjukan untuk kesejahteraan penduduk mendapat dukungan dari warga masyarakat, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Warga yang khususnya migran ini membuang sampahnya pada sembarangan tempat, seperti di depan rumah, bahkan membuang sampah rumah tangga dan bekas jualannya ke sungai.

Rasionalitas adalah suatu konsep yang sifatnya normatif yang merujuk pada keselarasan antara keyakinan seseorang dengan alasan orang tersebut untuk yakin, atau tindakan seseorang dengan alasannya untuk melakukan tindakan tersebut.

Tindakan rasionalitas ekonomi para migran dalam membuang sampah memang sudah diperhitungkan secara untung dan rugi dari fihak mereka tanpa memperdulikan pertimbangan

(8)

lingkungan. Selain itu para pendatang biasanya memiliki rasionalitas praktis adalah jalan hidup yang melihat serta menilai berbagai kesibukan duniawi dalam hubungannya dengan kebutuhan individu yang murni pragmatis serta egoistis.

Menurut Weber, secara garis besar ada dua jenis rasionalitas manusia, yaitu pertama rasionalitas tujuan dan kedua rasionalitas nilai. Rasionalitas tujuan adalah rasionalitas yang menyebabkan seseorang atau sekelompok orang dalam suatu tindakan berorientasi pada tujuan tindakan, cara mencapainya dan akibat-akibatnya. Ciri khas rasionalitas ini adalah bersifat formal, karena hanya mementingkan tujuan dan tidak mengindahkan pertimbangan nilai. Para migran dalam mengelola sampahnya juga mengarah pada rasionalitas tujuan yaitu tujuan penghematan dalam pengeluaran uang khususnya untuk membayar redistribusi sampah di desa.

(9)

BAB.II

PERUMUSAN MASALAH, TUJUAN DAN LUARAN PENELITIAN

2.1 Perumusan Masalah

Dari latar belakang yang terurai di atas, maka masalah yang hendak di teliti sebagai berikut:

1. Bagaimanakah pengaruh rasionalitas ekonomi terhadap perilaku migran dalam pembuangan sampah rumah tangga?

2. Bagaimanakah tingkat partisipasi migran terhadap program kebersihan lingkungan yang dilaksanakan pemerintah?

2.2 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui bagaimana perilaku migran di desa Padangsambian Klod dalam mengelola sampah yang dikaitkan dengan konsep rasionalitas ekonomi yang pada umumnya dimiliki oleh setiap migran.

2. Dengan mengetahui perilaku pembuang sampah maka diharapkan dapat dicarikan jalan keluar mengatasi perilaku yang tidak salah dalam membuang sampah..

Diharapkan juga dapat membantu penduduk lokal dan Pemerintah daerah untuk mendorong para migran berpartisipasi di lingkungan tempat tinggalnya sehingga mudah mensosialisasikan program kebersihan lingkungan.

2.3. Luaran Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat mengungkapkan peranan faktor rasionalitas ekonomi para migran dalam mengelola sampah padatnya, karena dengan mengungkapkan maka dapat dijadikan bahan untuk pengambilan kebijakan pengelolaan lingkungan yang tepat untuk pengarahan para migran dalam mengelola sampahnya. Denpasar sebagai kota utama dan

(10)

menjadi tujuan wisata dunia, maka perlu dijaga kebersihan lingkungannya agar tidak menjadi hambatan dalam membangun pariwisata yang bersih dan nyaman serta menjadikan Denpasar sebagai kota yang layak untuk dikunjungi setiap saat.

Kebersihan lingkungan merupakan salah satu tolok ukur kualitas hidup masyarakat.

Masyarakat yang telah mementingkan kebersihan lingkungan dipandang sebagai masyarakat yang kualitas hidupnya lebih tinggi dibandingkan masyarakat yang belum mementingkan kebersihan. Salah satu aspek yang dapat dijadikan indikator kebersihan lingkungan adalah sampah. Bersih atau kotornya suatu lingkungan tercipta melalui perilaku manusia dalam mengelola dan menanggulangi sampah yang mereka hasilkan

(11)

BAB.III

TINJAUAN PUSTAKA

Secara etimologi, rasionalitas berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu “rasio” yang artinya kemampuan kognitif untuk memilah antara yang benar dan salah dari yang ada dan dalam kenyataan.

Apa rasionalitas? Sebuah perilaku adalah pilihan individual. Pilihan rasional mengacu kepada situasi orang memilih tindakan sesuai dengan apa yang memberikan keuntungan bagi dirinya atau apa yang menjadi tujuannya. Rasional berarti ada kesesuaian antara tujuan dan alat. Seorang itu rasional jika ia memilih kegiatan karena ada tujuan tertentu. Rasional seseorang bermacam-macam. Maksud, niat, dan motivasi merupakan bagian dari rasionalitas. Seseorang dikatakan “tidak rasional” jika ia merokok tetapi tidak memiliki tujuan pribadi yang jelas terhadap perilaku itu. Perokok bisa sadar memiliki kenikmatan ketika menghisap rokok. Seseorang berhenti sebagai perokok karena hendak mencegah pengaruh buruk dari nikotin terhadap tubuhnya (Mubasysyir, Hasanbasri, 2012)

Agar lebih memahami pengertian rasionalitas, berikut ini beberapa penjelasan mengenai arti rasional:

1. Rasionalitas adalah suatu tendensi yang dilakukan untuk memenuhi rencana dalam rentang waktu tertentu.

2. Bertindak rasional adalah tindakan yang dilakukan berdasarkan pertimbangan yang baik dan untuk tujuan yang baik.

3. Memiliki kerangka berfikir tentang hal apa yang ingin dilakukan agar tidak salah dalam bertindak.

(12)

Bertindak dengan memperhitungkan segala manfaat dan risiko dari tindakan yang akan dilakukan.

3.1 Tipe-Tipe Rasionalitas adalah sebagai beikut:

1. Rasionalitas praktis

Rasionalitas praktis adalah jalan hidup yang melihat serta menilai berbagai kesibukan duniawi dalam hubungannya dengan kebutuhan individu yang murni pragmatis serta egoistis.

Type rasionalitas ini keluar bersamaan dengan longgarnya ikatan magi primitif, terdapat dalam semua peradaban serta melewati histori. Jadi dia tidak hanya sebatas pada tipe barat modern.

2. Rasionalitas Teoretis

Jenis rasionalitas ini digerakkan pada awal histori oleh tukang sihir serta pendeta ritual serta setelah itu oleh filsuf, hakim, serta lmuwan. Tidak seperti rasionalitas praktis, rasionalitas teoretis menggiring orang lain untuk melihat kenyataan keseharian dalam upayanya mengerti dunia sebagai kosmos yang memiliki kandungan arti. Rasionalitas teoretis sifatnya lintas peradaban serta lintas histori.

3. Rasionalitas Substantif

Inti dari rasionalitas ini mirip dengan rasionalitas praktis. Rasionalitas substantif melibatkan penentuan fasilitas untuk mewujudkan tu substantif tidak lebih rasional dari pada sistem yang lain. Tipe rasional substantif sifatnya lintas peradaban serta lintas sejarah, sepanjang ada nilai yang berkelanjutan.

4. Rasionalitas Ekonomi

Rasionalitas ekonomi bertumpu pada adanya pertimbangan manfaat atau tidak bermanfaat atas suatu tindakan yang diambil secara sadar. Pada umumnya rasionalitas ekonomi ini bersifat pertimbangan

Teori Pilihan Rasional.

(13)

Salah satu tokoh yang berbicara mengenai teori pilihan rasional adalah James S. Coleman.

James S. Coleman adalah seorang sosiolog yang menerima gelar Ph.D dari Universitas Columbia tahun 1995. Coleman mengatakan bahwa suatu tindakan bisa dianggap dijelaskan jika dan hanya tindakan itu dilakukan sebagai tindakan yang rasional. Jadi tindakan-tindakan rasional individu memiliki suatu daya tarik yang unik sebagai dasar bagi teori sosial.

Teori pilihan rasional dari Coleman tampak jelas dalam gagasan dasarnya bahwa tindakan perseorangan mengarah kepada suatu tujuan itu dan tujuan itu ditentukan oleh nilai atau pilihan. Ada dua unsur utama dalam teori Coleman yaitu, aktor dan sumber daya.

Sumber daya adalah sesuatu yang menarik perhatian dan yang dapat dikontrol oleh aktor.

Coleman menjelaskan interaksi antara aktor dan sumber daya ke tingkat sistem social. Basis minimal untuk sistem sosial tindakan adalah dua aktor, masing-masing mengendalikan sumber daya yang menarik perhatian pihak lain. Perhatian satu orang dengan sumber daya dengan sumber daya yang dikelola oleh orang lain itulah yang menyebabkan keduanya terlibat dalam dalam tindakan saling membutuhkan. Selaku aktor yang mempunyai tujuan, masing-masing bertujuan untuk memaksimalkan perwujudan kepentingannya, yang meberikan ciri saling tergantung atau cirri sistematik terhadap tindakan mereka.gan material dalam memenuhi kebutuhan hidupnya ( Ritzer, 2014).

3.2. Pengelolaan Sampah

Pengumpulan dan pembuangan sampah secara sistematik adalah suatu hal yang baru pada zaman sekarang, walaupun pembuangan sampah secara terbuka (open dumping) dan pembakaran sudah dikenal sejak dahulu kala. Bila dikaji dari sejarah pembuangan sampah, pengumpulan dan pembuangan sampah secara sistematik tidak dikenal di kota-kota besar di Eropa, sampai abad 19 mereka dihadapkan pada masalah bahwa banyak sampah-sampah

(14)

dijumpai di jalan-jalan dan selokan-selokan di seluruh kota, serta kemudian menimbulkan wabah sampar dan penyakit-penyakit epidemi lainnya di Eropa.

Timbul pemikiran akan adanya hubungan antara kesehatan dan keadaan lingkungan yang kotor, yang disebabkan karena pembuangan sampah yang sembarangan. Demikian juga telah terbukti adanya hubungan antara sampah dan penyakit-penyakit yang ditularkan oleh tikus, lalat, nyamuk, penyakit cacing, dan lain-lain.

Pembuangan sampah secara terbuka dan pembakaran adalah cara permulaan dari pengolahan sampah, di samping digunakan untuk makanan babi serta untuk menutup atau mengisi tempat-tempat yang rendah/berlubang. Pada perkembangan pengelolaan sampah padat selanjutnya, dikenal proses pengubahan sampah menjadi pupuk (composting).

Dengan berkembangnya ilmu dan teknologi, berkembang pula cara-cara lain dari pengelolaan sampah yang lebih higienis misalnya timbunan tanah saniter (sanitary landfill), cara pemadatan (compacting) dan cara penghalusan/penghancuran sampah (grinding).

1. Pengertian menurut American Public Health Association, sampah (waste) diartikan sebagai sesuatu yang tidak digunakan, tidak terpakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang, yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya.

Sedangkan FKM-UI mendifinisikan : sampah ialah sesuatu bahan/benda padat/yang terjadi karena berhubungan dengan aktivitas manusia yang tak dipakai lagi, tak disenangi dan dibuang dengan cara-cara saniter, kecuali buangan yang berasal dari tubuh manusia.

Banyak lagi ahli-ahli yang mengajukan batasan-batasan lain, tapi pada umumnya mengandung prinsip-prinsip yang sama yaitu :

Adanya sesuatu benda atau zat padat atau bahan.

Adanya hubungan langsung/tak langsung dengan aktivitas manusia.

Benda atau bahan tersebut tidak dipakai lagi, tak disenangi dan

(15)

Dibuang dalam arti pembuangannya dengan cara cara yang diterima oleh umum (perlu pengelolaan yang baik).

2. Ruang Lingkup Pengertian Sampah

Sampah-sampah yang terjadi disekitar kita dikota-kota besar atau pedesaan di mana ada kegiatan manusia termasuk dalam pengertian sampah yang dimaksud.

Yang tidak termasuk atau bukan sampah misalnya kebakaran hutan, dimana abu sisa pembakaran tidak mengganggu hidup manusia. Contoh lain adalah bencana-bencana alam, misalnya meletusnya gunung berapi, banjir, gempa bumi dan lain-lain. Tetapi apabila bencana alam ini mempunyai hubungan dengan kehidupan manusia maka benda-benda yang dikelolah oleh manusia ini sajalah yang termasuk sampah.

Untuk jelasnya, apabila terjadi suatu bencana alam seperti tersebut di atas dan menghasilkan sejumlah sampah, maka benda-benda/sampah yang ada hubungannya dengan aktifitas manusia sajalah yang termsuk sampah, tetapi apabila akibat bencana alam tersebut misalnya: banyak pohon-pohon yang tumbang dihutan-hutan belantara, maka pohon-pohon/

daun-daun ini tidak termasuk sampah dan karena hal ini tidak dikelolah oleh manusia.

3.3. Sumber Sampah

1. Sampah yang berasal dari daerah pemukiman (Domestic Wastes).

Sampah ini terdiri dari sampah-sampah hasil kegiatan rumah tangga dirumah seperti sampah-sampah pengolahan makanan, dari halaman dan dari dalam rumah sendiri, sisa-sisa minyak, kardus bekas, pakaian bekas bahan bacaan, bekas lantai atau karpet tua, serta perabotan rumah tangga. Pada sepuluh tahun terakhir ini sampah-sampah dari alat-alat rumah tangga, kulkas, mesin cuci, alat pemanas air cenderung meningkat jumlahnya.

2. Sampah yang berasal dari daerah perdagangan

Sampah dari pusat perdagangan atau pasar biasanya terdiri dari: kardus-kardus yang besar, kotak-kotak pembungkus, kertas-kertas, karbon, pita mesin tik, dan pita-pita lainnya.

(16)

Dalam hal ini termasuk sampah makanan dari kantin dan restaurant.

3. Sampah yang berasal dari jalan raya

Sampah yang berasal dari pembersihan jalan-jalan biasanya terdiri dari kertas-kertas, kardus-kardus kecil bercampur dengan batu-batuan, debu, pasir, benda-benda yang jatuh dari truk/kendaraan, sobekan-sobekan ban atau onderdil-onderdil yang jatuh, juga daun-daunan, sampah-sampah yang dibuang dari mobil, kantong-kantong plastik dan lain-lain.

4. Sampah industri (Industrial Wastes)

Sampah-sampah yang berasal dari daerah industri termasuk sampah yang berasal dari pembangunan industri tersebut dan segala sampah dari proses-proses produksi yang terjadi dalam industri tersebut misalnya: sampah-sampah pengepakan barang, sampah bahan makanan, logam, plastik, kayu, potongan tekstil dan lain-lain.

Termasuk juga disini sampah-sampah dari rumah jagal serta industri daging kaleng.

Beberapa sampah industri dapat bersifat toksis dan berbahaya terhadap kesehatan manusia.

5. Sampah-Sampah yang berasal dari daerah pertanian dan perkebunan (Agriculture Wastes)

Sampah-sampah dari daerah ini dapat berupa sampah dari hasil perkebunan atau pertanian misalnya jerami, sisa sayur mayur, batang jagung, pohon kacang-kacangan dan lain-lain yang umum jumlahnya cukup besar sewaktu musim panen. Umumnya sampah- sampah ini dibakar dan dikembalikan pada tanah pertanian ataupun dijadikan pupuk untuk pertanian.

6. Sampah yang berasal dari daerah pertambangan

Pertambangan dapat menghasilkan sejumlah sampah yang tergantung pada jenis usaha tambangnya. Pengumpulan sejumlah mineral yang diproses maupun yang tidak diproses, mengandung zat-zat kontaminan, yang apabila ada hujan dapat merembes dan

(17)

membawa zat-zat yang toksik dan berbahaya ke suatu sumber air serta mencemari sumber air tersebut.

Sampah-sampahnya berupa bahan-bahan tambang disamping sampah-ssampah dari aktivitas manusia pengelolanya.

7. Sampah-Sampah yang berasal dari gedung atau perkantoran (Intitutional Wastes)

Terdiri dari kertas-kertas, karbon-karbon, pita-pita mesin tik, klip, dan lain-lain, umumnya bersifat rubbish, kering dan mudah terbakar.

8. Sampah-sampah yang berasal dari daerah penghancuran Gedung dan pembangunan/pemugaran

Terdiri dari puing-puing, pipa plastik/besi, paku, kayu-kayu, kaca, kaleng-kaleng, potongan-potongan besi dan lain-lain.

9. Sampah yang berasal dari tempat Umum

Contohnya sampah dari tempat-tempat hiburan, tempat-tempat olahraga, tempat- tempat ibadah, dan lain-lain yang dapat berupa; kertas, sisa buah-buahan, plastik dan lain- lain.

10. Sampah yang berasal dari daerah kehutanan

Misalnya sampah hasil dari penebangan kayu ataupun kegiatan reboisasi hutan sebagian besar terdiri dari sampah daundan ranting.

11. Sampah yang berasal dari pusat pengolahan air buangan

Dengan adanya sampah-sampah yang terangkut oleh air maka sampah-sampah ini dapat diangkat dari air kotor pada sistem penyaluran atau pengolahan air kotor, misalnya pada saringan besi, sampah-sampah dapat berupa plastik, kertas, kayu, dan lain-lain.

Di samping itu dihasilkan juga lumpur dari proses pengolahan air buangan ini.

12. Dari daerah peternakan dan perikanan

(18)

Sampah-sampah dari sini dapat berupa kotoran ternak atau sisa-sisa makanannya atau bangkai-bangkai binatang. Dari perikanan misalnya: bangakai-bangkai ikan, sisa-sisa makanan ikan atau lumpur.

(19)

BAB. IV

METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa Padangsambian Klod Denpasar Barat. Pemilihan Desa ini sebagai obyek penelitian didasari oleh fakta bahwa Desa ini banyak terdapat pendatang (migran) yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Desa ini letaknya berdekatan dengan tujuan wisata terkenal yaitu Kuta dan pusat kota Denpasar itu sendiri.

4.2 Jenis Dan Sumber Data

Berdasarkan pada rancangan penelitian, jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif. Data kualitatif adalah data yang dinyatakan dalam bentuk kata-kata untuk menggambarkan fakta dan fenomena yang diamati. Perolehan data tersebut bersumber dari hasil wawancara terhadap informan, yang merupakan warga masyarakat dan data yang diperoleh dari pengamatan penulis yang melakukan penelitian ini.

Adapun sumber data yang digunakan yaitu sumber data primer serta sumber data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari sumber pertama karena kata-kata dan tindakan masyarakat yang diamati atau diwawancari merupakan sumber data utama. Data primer diperoleh dengan pengambilan dan wawancara. Sumber data primer adalah para informan terpilih yang memberikan berbagai informasi tentang masalah persampahan di desa ini dan data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui pemerintah desa, para pemuka masyarakat, dan para migran. Salah satu alasan dipilihnya para informan tersebut karena dianggap memahami dan mengetahui aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan masalah kebersihan kota.

Selanjutnya sumber data sekunder yang menunjang penelitian ini diperoleh dari buku- buku teks dan dokumen serta monografi desa bersangkutan yang dianggap relevan dengan

(20)

penelitian ini. Data sekunder digunakan untuk mendukungh konsep yang digunakan dan analisis permasalahan yang diperoleh dari buku, artikel, dan dokumen terkait profile desa.

Penggunaan kedua sumber data ini sangat penting untuk menutup celah subyektivitas peneliti dan mengungkap fenomena secra holistik, serta memperkaya penjelasan dalam proses penelitian ini.

4.3 Teknik Pengumpulan Data 4.3.1 Penentuan Informan

Para informan dalam kegiatan penelitian ini adalah warga masyarakt desa Padang sambian Klod yang ditunjuk secara proporsive, dengan dasar pertimbangan bahwa informan memiliki pengetahuan yang memadai tentang masalah yang akan diteliti, sehingga orang tersebut dianggap cukup layak dijadikan sebagai informan. Adapun informan kunci dalam penelitian ini yakni Bapak Kepala Desa. Selanjutnya, informan ditentukan dengan teknik snowball, yakni proses penentuan informan berdasarkan informan sebelumnya atau informan kunci, tanpa menentukan jumlahnya secara pasti dengan menggali informasi terkait topic penelitian yang diperlukan. Pencarian informan akan dihentikan setelah informasi penelitian dianggap sudah memadai. (Moleong, 2007: 157).

Penentuan informan dilakukan secara acak atas rekomendasi dari informan sebelumnya. Peneliti menentukan pemimpin adat yakni Bapak Kepala desa sebagai informan utama atau informan kunci, kemudian untuk selanjutnya peneliti mencari informan secara acak berdasarkan rekomendasi dari Bapak Klian banjar selaku informan utama. Teknik ini cukup efektif dilakukan karena masyarakat Desa Padangsambian Klod cenderung sulit untuk ditemui pada jam-jam produktif.

4.3.2 Teknik Observasi

Teknik observasi yang dilakukan oleh peneliti menggunakan dua metode, yaitu pertama pengamatan biasa yang bertujuan untuk memperoleh berbagai keterangan yang

(21)

berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Di mana peneliti mengamati keadaan lingkungan sekitar desa/banjar dan mendapat berbagai keterangan mengenai pengelolaan samaph yang ada disana. Kedua observasi partisipasi, dimana dalam proses pengamatannya, penulis ikut turut serta dan menjadi bagian daripada peristiwa yang diamati tersebut. Pada penelitian mengenai masalah persampahan ini peneliti turut serta dalam proses pengelolaan sampah di desa tersebut agar dapat mengamati peristiwa tersebut secara langsung. setelah itu peneliti juga melakukan wawancara terbuka terhadap beberapa informan yang merupakan penduduk migran yang ditemui di lokasi.

4.3.3 Teknik Wawancara

Menurut Koentjaraningrat (1979: 162), teknik wawancara adalah cara yang digunakan penulis untuk tujuan tugas tertentu, mencoba mendapatkan keterangan dan pendirian secara lisan dari seorang informan, dengan saling berbincang bertatap muka dengan responden tersebut. Wawancara dianggap dapat membantu metode observasi, dikarenakan wawancara dalam suatu penelitian dapat mengumpulkan keterangan tentang kehidupan manusia dalam suatu masyarakat, serta pandangan mereka. Jenis wawancara yang dilakukan pada penelitian ini adalah wawancara terbuka, di mana peneliti melakukan wawancara secara santai bersama informan sembari berjualan atau santai di rumah. Peneliti juga melakukan wawancara mendalam, tujuannya adalah untuk memperoleh data tentang pendapat dan pandangan informan. Wawancara mendalam ini dilakukan terhadap informan utama saat mereka memiliki waktu luang, seperti di sore atau malam hari sehingga dapat tercipta suasana dan kondisi yang mendukung untuk melakukan wawancara dalam jangka waktu yang lama tanpa hambatan.

4.3.4 Studi Pustaka

Teknik studi kepustakaan ini dalam penelitian sangat diperlukan sekali guna mengadakan penggalian terhadap sumber pustaka yang dilakukan, baik dalam bentuk buku,

(22)

majalah, artikel, jurnal, lontar dan sebagainya, sebagai referensi dalam membahas permasalahan yang bersifat ilmiah. Metode ini bersifat

ganda, yaitu untuk memperdalam dan memperluas wawasan tentang masalah yang akan dianalisis, mencari konsep-konsep yang relevan dan sebagai sumber informasi yang nantinya memberi informasi pembanding (Ngurah Bagus, 2002:9). Pada penelitian ini, teknik studi pustaka dilakukan peneliti untuk mencari teori yang tepat, guna menunjang penulisan penelitian. Selain itu, peneliti juga menggunakan referensi dari tulisan yang memiliki tema yang sama dengan apa yang peneliti angkat seperti referensi yang berhubungan dengan pengelolaan sampah di perkotaan. Teori dan referensi yang telah ditemukan kemudian dikutip ke dalam tulisan peneliti dengan tetap mencantumkan sumber awal secara lengkap.

4.4.4 Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara terus menerus dari awal hingga akhir penelitian. Dalam analisa penelitian ini data yang telah diperoleh disusun dan digolongkan dalam katagori tertentu dengan mengacu pada pokok-pokok bahasan yang telah ditetapkan. Penelitian ini menggunakan teknik

analisis interaktif . Miles dan Huberman yang didasari pada dasarnya terdiri dari 3 komponen, yaitu: reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan penarikan serta pengujian kesimpulan (drawing and verifying conclusion). Reduksi data tidak hanya membuang data yang tidak diperlukan, melainkan juga merupakan upaya yang dilakukan oleh peneliti selama analisis data yang dilakukan dan merupakan langkah yang tak terpisahkan dari analisis data.

Langkah reduksi melibatkan beberapa tahap.Tahap pertama, melibatkan langkah- langkah editing, pengelompokan, dan meringkas data baik yang diperoleh dari studi pustaka atau melalui observasi yang dilakukan di lokasi. Pada tahap kedua, peneliti menyusun kode dan catatan mengenai berbagai hal, termasuk yang berkenaan dengan aktifitas serta proses-

(23)

proses sehingga peneliti dapat menemukan tema-tema, kelompok, dan pola data. Catatan yang dimaksudkan disini tidak lain adalah gagasan-gagasan atau ungkapan yang mengarah pada teorisasi berkenaan dengan data yang ditemui. Kemudian pada tahap terakhir dari reduksi data, peneliti menyusun rancangan konsep serta penjelasan berkenaan dengan tema, pola, atau kelompok data yang bersangkutan. Komponen kedua analisis interaktif, yakni penyajian data melibatkan langkah-langkah mengorganisasi data, yakni menjalin (kelompok) data yang satu dengan data yang lainnya sehingga seluruh data yang dianalisis benar-benar dilibatkan dalam satu kesatuan karena dalam penelitian kualitatif data biasanya beraneka ragam perspektif dan terasa bertumpuk maka penyajian data pada umumnya diyakini sangat membantu proses analisis. Dalam hubungan ini, data yang tersaji berupa kelompok-kelompok atau gugusan yang kemudian saling dikaitkan sesuai dengan kerangka teori yang digunakan.

Penulis perlu mengkaitkan data yang diperoleh dari tokoh masyarakat Desa Padangsambian Klod serta masyakat setempat untuk menemukan bagaimana proses rangkaian pengelolaan sampah yang mereka lakukan.

Pada komponen terakhir yakni penarikan dan pengujian kesimpulan, peneliti pada dasarnya mengimplementasikan prinsip-prinsip induktif dengan mempertimbangkan pola- pola data yang ada dan atau kecenderungan dari display data yang telah dibuat. Ada kalanya kesimpulan final tidak pernah dapat dirumuskan secara memadai tanpa penelitian menyelesaikan analisis seluruh data yang ada. Penelitian yang dilakukan oleh penulis di desa ini diakhiri dengan mengkorfirmasi, mempertajam, dan merevisi kesimpulan-kesimpulan yang telah dibuat untuk disampaikan mendapat kesimpulan final berupa proposisi-proposisi ilmiah mengenai gejala atau realitas yang diteliti.

(24)

BAB. V.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Denpasar Barat adalah sebuah kecamatan di kota Denpasar, Bali, Indonesia. Luas wilayah Kecamatan Denpasar Barat sebesar 24.06 Ha atau 18,83 persen dari luas Kota Denpasar. Sedangkan bila dilihat dari penggunaan tanahnya, dari luas wilayah yang ada sekitar 245 Ha merupakan lahan sawah, 1871 Ha merupakan lahan pertanian bukan sawah dan sisanya seluas 290 Ha merupakan lahan bukan pertanian seperti jalan, pemukiman, perkantoran, sungai, dan lain-lain menurut letak geografis Kecamatan Denpasar Barat berada antara 08 36' 24" – 08 41" 59" lintang Selatan dan 115 10' 23"-115 14' 14" bujur timur.

Kecamatan Denpasar Barat merupakan bagian dari wilayah Kota Denpasar dengan luas wilayah hanya 24,13 Km2, terbagi dalam 11 desa/kelurahan, dan 119 dusun/banjar.

Seluruh desa/kelurahan di Kecamatan Denpasar Barat merupakan desa/kelurahan bukan pantai/pesisir. Menurut jenis desa, tiga desa/kelurahan diantaranya berstatus kelurahan, dan delapan desa/kelurahan berstatus desa dinas. Desa Tegal Kertha memiliki luas paling kecil dibanding desa/kelurahan di Kecamatan Denpasar Barat.

Kecamatan Denpasar Barat dibagi menjadi 8 desa dan 3 kelurahan sebagai berikut:

1. Desa Dauh Puri Kangin 2. Desa Dauh Puri Kauh 3. Desa Dauh Puri Klod 4. Desa Padangsambian Kaja 5. Desa Padangsambian Klod 6. Desa Pemecutan Klod 7. Desa Tegal Harum 8. Desa Tegal Kerta

(25)

9. Kelurahan Dauh Puri 10. Kelurahan Padang Sambian 11. Kelurahan Pemecutan

Berdasarkan hasil proyeksi penduduk, Kecamatan Denpasar Barat pada tahun 2016 jumlah penduduknya 225.160 jiwa, yang terdiri dari 130.400 laki-laki (57,91%) dan perempuan sebanyak 124.760 (55,40%). Sedangkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010 Jumlah Penduduk di Kecamatan Denpasar Barat sebanyak 229.434 jiwa, yang terdiri dari 117.416 laki-laki (51,18%) dan perempuan sebanyak 112.018 (48,82%).

Desa Padangsambian Kelod merupakan salah satu Desa yang ada di kecamatan Denpasar Barat, Kotamadya Denpasar, provinsi Bali, Indonesia. Penduduk desa Padangsambian Klod sampai dengan tahun 2016 berjumlah 29.594 jiwa.

Masyarakat migran atau pendatang yang menetap di Kota Denpasar khususnya di Desa Padang Sambian Klod adalah salah satu contoh masyarakat yang terstratifikasi menurut golongan etnis dan statusnya di sebuah wilayah. Hasil stratifikasi sosial ini dibuktikan dengan ditemukannya beberapa sistem nilai masyarakat Jawa dan non Jawa yang masih dibawa hingga saat ini,seperti budaya seni, dan pola perilaku kehidupan masyarakat dari daerah asalnya. Hal ini berarti, dalam konteks pembangunan wilayah, sistem dan nilai masyarakat migran tersebut akan mempunyai andil yang besar dalam menentukan arah kebijakan pembangunan wilayah, khususnya pembangunan lingkungan hidup.

Berdasarkan jenis migrasi seumur hidup pada tahun 2010, jumlah migran di Provinsi Bali sebesar 839.373 jiwa atau sebesar 21,57 persen dari total jumlah penduduk Provinsi Bali. Sebagai ibukota Provinsi Bali, Kota Denpasar ternyata merupakan daerah dengan jumlah penduduk dan penerima migran terbesar. Jumlah penduduk Kota Denpasar tahun 2010 sebesar 788.589 jiwa, di mana penduduk asli (non migran) berjumlah 373.172 jiwa sedangkan jumlah penduduk migran sebesar 415.417 jiwa atau sekitar 52,68 persen dari

(26)

jumlah penduduk total. Hal tersebut menunjukkan bahwa proporsi jumlah migran yang tinggal di Kota Denpasar lebih besar daripada penduduk asli yang tinggal di Kota Denpasar (Badan Pusat Statistik kota Denpasar, 2015).

Kondisi tersebut sangat memprihatinkan, karena dengan luas wilayah sebesar 127,78 km2 , kepadatan penduduk Kota Denpasar, telah mencapai angka sebesar 6.171,46 jiwa/km2.

Sementara itu, berdasarkan data yang diperoleh dari seluruh kecamatan di Kota Denpasar, diketahui bahwa pada periode tahun 2011-2013, jumlah penduduk pendatang (migran) yang masuk ke Kota Denpasar yang terdaftar berdasarkan kepemilikan KIPS, STPPTS, dan KTP sebesar 77.714 jiwa. Tingginya jumlah migrasi masuk akan meningkatkan masalah kepadatan penduduk dan dapat menimbulkan pengangguran yang tinggi (Martini, 2013). Kondisi tersebut dapat menimbulkan berbagai masalah sosial dan ekonomi, yang akhirnya mengurangi tingkat kesejahteraan penduduk di Kota Denpasar. Oleh karena itu menurut Djojohadikusumo (1994:210), banyak ahli ekonomi pembangunan yang berpendapat, bahwa pokok permasalahan yang dihadapi negara-negara berkembang di masa mendatang berkisar pada migrasi penduduk secara massal dari desa ke kota.

Kondisi informan di lokasi penelitian seperti table di bawah ini.

Tabel. 1. Asal informan Migran

Nomor Daerah Asal Jumlah Presentasi

1.

2.

3.

4.

Jawa Madura

Pulau Lombok Lainnya

13 5 1 1

65,00 25,00 5.00 5.00

20 100.00

(27)

Dari table di atas terlihat bahwa kebanyakan informan berasal dari pulau jawa (13KK) diikuti oleh migran yang berasal dari Madura (5 KK) dan pulau Lombok. Jikalau masuk ke beberapa pemikiman para pendatang ini terdapat kesan nuansa kesukuan kejawaan yang kuat, karena dalam berkomunikasi di antara mereka selalu memakai bahasa daerah jawa. Terdapat pula etnis Madura tetapi tidak terlalu banyak jumlahnya dan etnis Sasak juga tidak banyak jumlahnya. Walaupun demikian, rasa solidaritas dan integritas kelompoknya sangat kuat.

Tampaknya ikatan itu dilatar belakangi oleh adanya tujuan yang sama yaitu memperbaiki hidup diperantauan. Mengenai agama maka agama islam yang umumnya dipeluk oleh para migran itu.

Mengenai latar atau factor pendorong untuk bermigrasi ke pulau bali dapat dijelaskan di bawah ini.

Dari hasil wawancara terlihat bahwa faktor pendorong bermigrasi ke bali dikarenakan di daerah asal tidak punya pekerjaaan. Mereka tidak punya sawah garapan dan keterampilan lainnya yang dibutuhkan oleh sector pekerjaaan yang memerlukan keterampilan khusus, seperti montir motor, ahli bangunan dan lainnya. Hal ini disebabkan kabanyakan dari migran ini berpendidikan dasar dan menengah pertama, juga tidak memiliki keterampilan khusus sehingga memaksa mereka bermigrasi ke bali yang banyak menjanjikan lapangan pekerjaan sektor informal. Adapun jenis pekerjaan yang digeluti mereka adalah pedagang kuliner seperti menjual nasi goring, bakso, sate dan jajan, buruh dan lain sejenisnya. Pekerjaan serupa ini sesungguhnya tidak memerlukan pendidikan tinggi dan spesifik, hanya kebiasaan sehari-hari dan melihat secara sepintas saja maka kita dapat membuat makanan seperti itu.

Ada juga di antara mereka bekerja sebagai pemulung barang bekas, tetapi di lokasi ini jumlahnya tidak sebesar para pedagang makanan siap dimakan.

(28)

Mengenai tempat tinggal atau rumah mereka kebanyakan mengontrak tanah untuk kemudian membangun rumah dengan sangat sederhana dan mengelompok, membentuk suatu komunitas baru. Kepadatan huniannya tinggi dan lingkungan tidak tertata baik, maka pemukimannya terkesan kotor dan kumuh. Ada juga yang indekos, mengontrak kamar tinggal bersama keluarganya dan di situ juga dijadikan tempat memasak bahan dagangannya.

Tingkat pendapatan para migran setiap bulannya dapat dikatakan cukup tinggi. Ada yang di atas dua juta lima ratus ribu perbulan. Ini berarti dapat menghidupi keluarganya dan sisanya untuk membayar kontrak rumah bahkan hasil wawancara dengan responden mengatakan bahwa sebagian dari penghasilan bisa dikirim ke daerah asal dan sebagian lain disimpan.

Sementara ada juga yang berpenghasilan yang lebih rendah lagi yaitu satu juta rupiah per bulan karena mereka adalah pedagang nasi dan sayuran, jadi hanya dapat mencukupi kehidupan keluarganya.

Jadi bila dilihat dari tingkat penghasilannya, sesungguhnya para pendatang hidup sederhana dalam artian hanya cukup memenuhi konsumsi hidup primer, tetapi ada juga memiliki pendapatan yang cukup tinggi.. Faktor tingginya tingkat pendapatan ini membuat mereka dapat bertahan di daerah kota Denpasar.

Pemerintah kota Denpasar, khususnya desa Padangsambian Klod telah lama mencnangkan program kebersihan lingkungan melalui slogan menciptakan pulau bali yang bersih untuk kenyamanan pariwisata. Oleh karena itu di setiap wilayah desa Padangsambian klod, yang dekat dengan pusat kota, tidak luput dari pelaksanaan program kebersihan lingkungan.

Adanya program kebersihan lingkungan juga diketahui oleh para informa Di kelurahan Padangsambian telah mencoba merubah paradigma Ibu PKK terhadap sampah dan kontribusinya dalam pengentasan masalah kemiskinan. Pengelolaan sampah selama ini dilakukan dengan membuang ke TPA melalui DKP, jarang sekali dilakukan pemilahan

(29)

sampah pada skala rumah tangga. Jumlah sampah dapat dikendalikan jika rumah tangga (keluarga) aktif melakukan pemilahan sampah di rumah. Di mana selama ini pengelolaam sampah lebih berkutat pada pemindahan sampah, baik itu dari rumah ke TPS, TPA atau pun tempat penampungan sampah lainnya. Jika hal ini terus dilakukan, usaha pemerintah untuk mengurangi jumlah sampah tidak akan terwujud. Gerakan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) semestinya kembali digalakkan. Karena dengan 3R tersebut secara tidak langsung juga bisa mendatangkan hasil. Contohnya pengolahan, yaitu mendaur ulang kertas, plastik, dan sebagainya menjadi barang yang bernilai ekonomis. Program baru yang ditawarkan oleh Kelurahan Padangsambian dalam solusi mengatasi permasalahan kemiskinan melalui sampah (Pemkot Denpasar, 2018)

Frekuensi pembuangan sampah oleh para migran cukup tinggi, karena produksi sampahnya juga tinggi dengan jumlah dominan adalah sampah rumah tangga. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan terhadap beberapa informan menyatakan membuang sampah setiap hari sebanyak 2 kali, yang terdiri dari sampah rumah tangga dan sisa pengolahan jualannya. Seringkali dibuang pada bukan pada tempat yang telah disediakan, oleh karena itu seringkali kita melihat sampah berserakan di bantaran sungai atau diletakkan begitu saja di pinggir jalan. Penduduk yang tinggal di beberapa banjar yang ada sungainya, masih ada jugar membuang sampah di lokasi bantaran sungai. Jenis sampah yang dibuang adalah limbah rumah tangga yang bersifat padat sampai sisa hasil barang dagangan atau makanan yang dibungkus dalam plastik. Sebenarnya jenis sampah seperti ini masih dapat didaur ulang oleh alam, tetapi bila berupa sampah plastik maka sangat sukar hancur dan merusak estetika.

Pemerintah daerah melalui kebijaksanaan berupa program peremajaan lingkungan dianjurkan agar membuang sampah pada tempat yang telah disediakan di setiap pemukiman penduduk.

Namun masih saja terlihat sampah berserakan di sekitar pemukinan penduduk. Juga mengenai teknik pembuangannya telah ditunjuk satu organisasi yang tugasnya mengangkut

(30)

dan membuang sampah ke tempat yang telah disediakan. Untuk itu, setiap keluarga dikenakan iyuran sampah 10.000-15.000 perbulan. Hasil wawancara menunjukkan bahwa informan masih berkeberatan mengeluarkan biaya untuk pembayaran sampah. Alasannya ialah produksi sampahnya tidak banyak dan dikaitkan dengan tingkat pendapatan per bulan dari para migran yang relative kecil. Namun pemerintah desa Padangsambian Klod sangat ketat menegakkan peraturan tentang kebersihan lingkungan, artinya semua penduduk harus taat pada peraturan yang telah disepakati.

Sebenarnya factor kurangnya kepedulian lingkungan yang menjadi penyebab dari perasaan mahalnya iyuran sampah itu. Di samping itu perilaku membuang sampah yang tidak benar tersebut semata mata dilandasi oleh pemikiran yang peraktis dan efisien. Inilah yang disebut dengan rasionalitas ekonomis, yaitu memperhitungkan untung dan rugi tanpa ada kepedulian kepada lingkungan. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya prinsip rasionalitas ekonomi yaitu praktis dan efisien dari para pendatang, padahal mereka mempunyai pendapatan yang cukup baik. Para migran ini beranggapan bahwa uang iyuran itu dapat digunakan untuk memenuhi tuntutan kehidupan yang lain daripada membayar iyuran demi kebersihan lingkungan. Pada umumnya para migran ini membuang sampah dengan cara mengumpulkan ke dalam kantong plastik untuk kemudian dibuang kesekitar areal pemukiman secara sembunyi, di jalanan atau di bantaran sungai.

Rasionalitas ekonomi yang mereka miliki itu kurang tepat bila diterapkan pada penjagaan kebersihan lingkungan. Konsep serba praktis dan efisien ini memberi tekanan dampak yang serius bagi lingkungan hidup dan kesehatan. Pemikiran yang dilandasi oleh rasionalitas ekonomi ini juga terlihat dari rendahnya tingkat partisipasi mereka untuk melakukan aktivitas gotong royong. Ada berbagai alasan yang dikemukakan seperti sibuk bekerja, berjualan membuat mereka enggan berpartisipasi. Pada umumnya mereka berjualan pada malam hari hingga pagi hari, sementara siang hari kebanyakan dari migran ini tidur dan kecapaian

(31)

mencari makan. Ada yang ikut membersihkan lingkungan tetapi itupun takut kepada aparat desa. Kesadaran untuk aktif bergotong royong perlu ditumbuhkan dengan cara yang persuasif agar lambat laun dapat ditumbuhkan kesadaran berpartisipasi aktif dalam membersihkan lingkungan.

(32)

BAB. VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

1. Meningkatnya arus migrasi masuk menuju di Denpasar, khususnya desa Padangsambian akan menyebabkan tidak seimbangnya penawaran dan permintaan tenaga kerja. Kelebihan tenaga kerja yang disebabkan oleh terbatasnya permintaan tenaga kerja akan mendorong semakin bertambahnya jumlah penduduk yang menganggur, baik yang tergolong pengangguran terbuka maupun setengah pengangguran.

2. Migrasi masuk yang semakin besar ikut memacu semakin banyaknya kaum migran yang menggeluti usaha sektor informal, yang umumnya memiliki penghasilan rendah. Kondisi ini menyebabkan mereka berupaya hidup hemat dan memilih tempat tinggal di pemukiman kumuh. Kondisi seperti ini tentu akan memicu terjadinya pencemaran lingkungan, berupa sampah rumah tangga yang berbahaya bagi kesehatan dan merusak estetika perkotaan.

3. Rasionalitas adalah cara berpikir menggunakan akal dalam mempertimbangkan sesuatu. Rasionalitas dapat menjadi sebuah tindakan sosial dalam memberi pertimbangan dalam memilih sesuatu tindakan. Dalam teori pilihan rasional bahwa yang memainkan peranan penting dalam pilihan rasional adalah aktor dan sumber daya. Aktor memainkan peranan penting dalam hal sumber daya. Sumber daya ini diperlukan oleh orang-orang sehingga terjadi suatu hubungan saling menguntungkan di antara keduanya, demikian pula yang dilakukan oleh para pendatang dalam mengelola sampah rumah tangganya.

(33)

4. Rasionalitas ekonomi para pendatang dalam mengelola atau membuang sampahnya bersifat instrumental, artinya tingkat rasional ini berhubungan dengan pertimbangan dan pilihan yang menentukan sebuah tujuan tindakan dan alat yang digunakan untuk dapat mencapainya. Individu mempunyai pilihan untuk tujuan yang diinginkannya dan atas dasar kriterium untuk menentukan suatu pilihan.

6.2. Saran-saran

1. Di desa Padangsambian telah ada peraturan desa atau awig-awig yang mengatur cara pengelolaan sampah, maka untuk itu perlu ditingkatkan penegakan aturan dan memberikan sangsi tegas bagi siapapun yang tidak mentaatinya, termasuk pada migran yang bermukim di desa ini.

2. Perlu ditingkatkan sosialisasi tentang semua program pengelolaan atau pemanfaatan sampah rumah tangga kepada semua penduduk pendatang agar mereka mengetahui program tersebut dan mau berpartisipasi dalam rangka mewujudkan kota Denpasar yang bersih dari sampah, sehingga menambah daya tarik kota sebagai daerah tujuan wisata.

(34)

DAFTAR PUSTAKA

Bryan S. Turner, 2012, Teori Sosial dari Klasik Sampai Postmoderen, Yogyakarta, Penerbit Pustaka Pelajar.

Gerrard, B. (1993). The Economics of Rationality. London & New York: Routledge.

Hadi, Sutrisno. 1991. Metodologi Research. Yogyakarta: ANDI OFFSET Iskandar. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Gaung Persada Press.

Johnson,Doyne Paul, 1994, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, PT Gramedia Pustaka Utama,

J Karl.Case. 2007,.Prinsip-prinsip Ekonomi, Terjemahan Y.Andri Zaimur.Jakarta:

Penerbit Erlangga.

Mantra. Ida Bagoes. 2013. Demografi Umum. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Moleong,Lexy J. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosadakarya. Offset.

Miriam Budiarjo,2008, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Saifuddin, Achmad Fedyani. 2006. Antropologi Kontemporer: Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma. Jakarta: Penerbit Kencana

Ritzer, George, 2014, Teori Sosiologi Moderen, Yogyakarta, Penerbit Kencana Perdaki, 1998, Kesehatan dan Perilaku Manusia, Jakarta, Majalah Bulanan.

Rimbaan, Dayuh, 1998, Pola dan Karakteristik Migran Kota, Denpasar, Penerbit Fakultas Ekonomi Unud.

Riyadi, Slamet, 2004, Kesehatan Lingkungan, Surabaya, Penerbit Karya Muda.

http://www.academia.edu/29706995/teori_pilihan_rasionalitas.pdf

(35)

LAMIRAN CURRICULUM VITAE

A. Identitas Diri

1. Nama Lengkap Dr. Drs. Industri Ginting Suka,MS (L) 2. Jabatan Fungsional Dosen Program Studi Antropologi

3. Jabatan Struktural -

4. NIP 195512041983031001

5. NIDN 0004125504

6. Tempat dan Tanggal Lahir Medan 04 Desember 1955

7. Alamat Rumah Perumahan Padang Indah VII/2 Denpasar 80117 8. Nomer telpon/HP 0361-420462/085228098333

9. Alamat Kantor Fakultas Ilmu Budaya Unud Jalan. Nias No. 13 Denpasar 10. NomorTelpon/Fax 0361-2241121

11. Alamat e-mail [email protected] 12. Core Competency Antropologi Ekologi

13. Networking 1. Asesor BAN-PT

2. NGO Pestiside Action Network (PAN) 3. International Green Island Forum (IGIF) B. Riwayat Pendidikan

Program S-1 S-2 S-3

Nama PerguruanTinggi Universitas Gadjah Mada

Universitas Indonesia Universitas Gadjah Mada

Bidang Ilmu Fakultas sastra Ilmu Lingkungan Filsafat Lingkungan

Tahun Masuk 1976 1985 2004

Tahun Lulus 1981 1989 2011

Judul

Skripsi/Tesis/Disertasi

Dampak Lingkungan dalam

Pembangunan Nasional:

Perspektif Budaya

Dampak Pembangunan Waduk Palasari

Terhadap Pola Kehidupan Sosial Budaya Petani Desa Ekasari di Jembrana, Bali

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan di Indonesia, Suatu Tinjauan Etika Ekosentrisme

Nama

Pembimbing/Promotor

Dr. Ali

Mudhofir,M.hum

Prof. Dr. Soerjono Soekamto,MA

Prof. Dr. Lasio, MA,MM

C. Pengalaman Penelitian dalam 5 TahunTerakhir No

.

Tahun Judul Penelitian Pendanaan

Sumber Jumlah

(juta Rp) 1. 2011 Pemberdayaan Perarem Desa Pekraman

Untuk Menurunkan Angka Hamil Di luar Nikah dan Kawin Usia Dini di Desa Pengotan Kabupaten Bangli

Kementerian Kesehatan RI 120 Juta

2. 2012 Menangani Kasus Perempuan Ngawen Menuju Kelestarian Hutan serta Kesetaraan dan Keadilan Gender di Kabupaten Jembrana, Bali

DIPA-PNBP Universitas Udayana

40 Juta

(36)

3. 2012 Inventarisasi KesenianTradisionil CACI di Manggarai Nusa Tenggara Timur

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI

178 Juta

4. 2013 Tradisi Menggantung Ari-ari pada Masyarakat Desa Bayung Gede dan Pengaruhnya terhadap Lingkungan Hutan di Desa Bayung Gede, Bangli

DIPA UNUD 32,5Juta

5 2016 Etnografi Dusun Sade, Lombok Tengah,

Nusa Tenggara Barat. DIPA UNUD

25 juta 6 2017 Monitoring dan Evaluasi Proses

Pembelajaran Fakultas Ilmu Budaya Unud

BPNP 5 juta

7 2018 Rasionalitas Migran dalam Pembuangan Sampah Rumah Tangga di Desa Padang Sambian, Denpasar barat

BPNP 5 juta

D. Pengalaman Pengabdian Pada Masyarakat 5 TahunTerakhir

No Tahun Judul Pengabdian Kepada Masyarakat Pendanaan

Sumber Jumlah (Juta

Rp) 1 2011 Penyuluhan Sadar Wisata Kepada

Masyarakat Desa Trunyan Kintamani Kabupaten Bangli

Jurusan Antropologi Fakultas Sastra Universitas Udayana

4 Juta

2 2012u Implementasi Nilai Nilai Tri Hita Karana Dalam Kegiatan Masyarakat Desa Blumbang Pada Bidang Usaha Penggemukan Sapi

DIPA BLU Universitas Udayana 4 Juta

3 2013 Sosialisasi Nilai Nilai Tri Hita Karana pada Murid Sekolah Dasar di Ayunan,

Kabupaten Badung

PNBP UNUD 5 Juta

P n u

Penlisan Arti kelIlmiah dalam Jurnal 5 TahunTerakhir

No. Judul Artikel Ilmiah Volume/Nomor Nama Jurnal 1. Ekofeminisme Sebagai Gerakan Moral

Lingkungan

Volume XI Nomor 1 Tahun 2011

Jurnal Studi Gender SRIKANDI

2. Dominasi dalam Perspektif Teori Kritis Volume XII Nomor 1 Tahun 2012

Jurnal Ilmu ilmu Budaya PUSTAKA 3. Implementasi Nilai Nilai Tri Hita

Karana Dalam Kegiatan Masyarakat Desa Blumbang Pada Bidang Usaha Penggemukan Sapi

Volume I Nomor. 2 Tahun 2013

Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Udayana Mengabdi 4 2017 Penyuluhan Pelestarian Nilai-nilai Budaya

bagi Generasi Muda di desa Sumerta, Denpadar.

PNBP UNUD 5 juta

(37)

4 Eksistensi Ritus Gawe Pati Pada Masyarakat Wetu Telu di Dusun Bayan Beleq, Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara

ISSN: 2302-920X Jurnal Humanis, Fakultas Ilmu Budaya Unud

Vol 22.1 Pebruari 2018: 57-65

Jurnal Humanis Unud

5 Pementasan Tari Mongah dalam Upacara Pangwangan di Desa Bunutin, Kecamatan Kintamani, Bangli

ISSN: 2302-920X Jurnal Humanis, Fakultas Ilmu Budaya Unud

Vol 22.1 Pebruari 2018: 66-74

Jurnal Humanis Unud

6 Konservasi Hutan Bambu Berbasis Kearifan Lokal di Desa Adat Penglipuran Kecamatan Bangli Kabupaten Bangli Provinsi Bali

ISSN: 2302-920X Jurnal Humanis, Fakultas

Budaya Unud vol 18.1 Januari 2017: 178-185

Jurnal Humanis Unud

E. Pengalaman Penyampaian Makalah secara Oral pada Pertemuan Ilmiah 5 TahunTerakhir No. Nama Pertemuan

Ilmiah/Seminar

Judul Artikel Ilmiah Tempat dan Waktu 1. Seminar Korupsi dalam Perpektif

Antropologi

Pandangan Antropologi tentang Korupsi

Fakultas Sastra Universitas Udayana tahun 2012

2. International Workshop Global Green Life Style. Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia dan HRD Korea.

Green Life Style, Learn from Penglipuran Village, Bangli

Bali Hotel, Denpasar, 2013

3 Workshop Inventarisasi Masyarakat Hukum Adat di Indonesia. Departemen Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Sistem Pengolahan Data Inventarisasi Masyarakat Hukum Adat di Indonesia

Plaza Hotel Bali Tahun 2013

4. Collequium Doktor Filsafat UGM Pentingnya Nilai Pancasila dalam Pelestarian

Lingkungan

Kampus UGM tahun 2017

F. Pengalaman Penulisan Buku dalam 5 TahunTerakhir

No Judul Buku Tahun Jumlah

Halaman

Penerbit 1 Etika Lingkungan :

Ekosentrisme,

Antroposentrisme dan Ekofemenisme

2011 110 Udayana University Press

2 Antropologi Ekologi 2016 225 Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana

(38)

3 What is Science 2017 25 Swasta Nulus

G. Pengalaman Perolehan HKI dalam 5-10 Tahun Terakhir

No Judul/Tema HKI Tahun Jenis No.P/ID

1 Etika Lingkungan : Ekosentrisme,

Antroposentrisme dan Ekofemenisme

2013 Penerbitan Buku ISBN 978-602- 9042-55-9

H. Pengalaman Merumuskan Kebijakan Publik/Rekayasa Sosial 5 TahunTerakhir

No Judul/Tema Tahun Tempat

1 Manajer Pemberdayaan Masyarakat pada Hutan Tanaman Industri (HTI) di Kawasan Hutan Lamboya Sumba Barat

2014-2017 Kabupaten Sumba Barat - NTT

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat

dipertanggung jawabkan secara hukum. Apabila dikemudian hari ternyata dijumpai ketidak sesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima resikonya. Demikian daftar riwayat hidup ini saya perbuat dengan sebenarnya untuk memenuhi permintaan pembuatan proposal.

Denpasar, 19 Pebruari 2018

(Dr. Drs. Industri Ginting Suka,MS) NIP. 195512041983031001

Lampiran 5. SURAT PERNYATAAN PERSONALIA PENELITIAN

(39)

Yang bertanda tangan di bawah ini kami:

Nama Lengkap : Dr. Industri Ginting Suka, M.S

NIP/NIDN : 195512041983031001/0004125504

Fakultas/P.S : Ilmu Budaya/Antropologii Status dalam Penelitian : Ketua Peneliti

Nama Lengkap : Dr. I Ketut Darmana, M.Hum

NIP/NIDN : 195511151985030110

Fakultas/P.S :Ilmu Budaya/Antropologi Status dalam Tim : Peneliti II

Menyatakan bahwa kami secara bersama-sama telah menyusun proposal penelitian yang berjudul “JUDUL : FAKTOR RASIONALITAS EKONOMI PADA MIGRAN DALAM PEMBUANGAN SAMPAH DI DESA PADANGSAMBIAN KLOD DENPASAR dengan biaya Rp 5.000.000,00. Apabila proposal ini disetujui maka kami bersama-sama akan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan penelitian ini sampai tuntas sesuai dengan persyaratan yang dituangkan dalam surat perjanjian pelaksanaan penelitian.

Demikian surat pernyataan ini kami buat dan ditandatangai bersama sehingga dapat digunakan sebagaimana mestinya

(NAMA PENELITI) Dr. Industri Ginting Suka, M.S………..

(NAMA PENELITI) Dr. I Ketut Darmana,M.Hum ………

Biodata Pernyataan Mahasiswa yang dilibatkan dalam penelitian

No Nama Mahasiswa dan NIM Program Studi Tugas Tanda Tangan 1. Calvin Damasemil S2 Kajian Mengumpulkan

(40)

1880211017 Budaya data dan

menganalisisnya 2. Ida Bagus Oka Wedasantara

1880211021

S2 Kajian Budaya

Mengumpulkan data dan

menganalisisnya

Referensi

Dokumen terkait

Apabila terpidana tidak mau membayar uang pengganti dalam waktu satu bulan sesudah purusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap, padahal terpidana masih mempunyai harta

Oleh karena itu, kami berinisiatif untuk melakukan penelitian mengenai hubungan antara ETS dengan status kontrol asma, yang dalam hal ini kami cari dari serangan

Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution(TOPSIS) merupakan suatu metode yang memiliki konsep dimana alternatif terpilih yang terbaik tidak

Kegiatan KBPK dilaksanakan oleh unit khusus di bawah naungan LPM dengan lingkup pekerjaan (1) identifikasi program konsultasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar masyarakat lokal

• Tahap ini meletakkan dasar-dasar kerangka umum latihan fisik, teknik, taktik, dan mental sebagai persiapan tahap pertandingan yang akan datang.. • Dalam Program Latihan Tahunan,

Berdasarkan penelitian sebagian besar responden yang mengalami mual sebanyak 9 responden (81.8%) dengan frekuensi mual yang berkurang yaitu 1 – 3 kali setelah mengkonsumsi

Ekosistem hutan mangrove adalah suatu sistem di alam tempat berlangsungnya kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya dan

Untuk menjaring calon Ketua Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN) Palangka Raya Periode 2019-2023 yang memiliki persyaratan dan kriteria sesuai dengan