• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERATURAN DAERAH : 2 TAHUN 1995

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERATURAN DAERAH : 2 TAHUN 1995"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PERATURAN

PERATURANPERATURANPERATURAN DAERAHDAERAHDAERAHDAERAH KABUPATEN

KABUPATEN KABUPATEN

KABUPATEN DAERAHDAERAHDAERAHDAERAH TINGKATTINGKATTINGKATTINGKAT IIIIIIII MUSIMUSIMUSIMUSI RAWASRAWASRAWASRAWAS NOMOR

NOMORNOMORNOMOR :::: 2222 TAHUNTAHUNTAHUNTAHUN 1995199519951995 TT

TT EEEE NNNN TTTT AAAA NNNN GGGG PEMBENTUKAN

PEMBENTUKANPEMBENTUKANPEMBENTUKAN DANDANDANDAN PEMBINAANPEMBINAANPEMBINAANPEMBINAAN PERKUMPULANPERKUMPULANPERKUMPULANPERKUMPULAN PETANIPETANIPETANIPETANI PEMAKAIPEMAKAIPEMAKAIPEMAKAI AIRAIRAIRAIR (P3A)(P3A)(P3A)(P3A) DIDIDIDI KABUPATENKABUPATENKABUPATENKABUPATEN DAERAHDAERAHDAERAHDAERAH TINGKATTINGKATTINGKATTINGKAT IIIIIIII MUSIMUSIMUSIMUSI RAWASRAWASRAWASRAWAS

DENGAN

DENGANDENGANDENGAN RAHMATRAHMATRAHMATRAHMAT TUHANTUHANTUHANTUHAN YANGYANGYANGYANG MAHAMAHAMAHAMAHA ESAESAESAESA BUPATI

BUPATI BUPATI

BUPATI KEPALAKEPALAKEPALAKEPALA DAERAHDAERAHDAERAHDAERAH TINGKATTINGKATTINGKATTINGKAT IIIIIIII MUSIMUSIMUSIMUSI RAWAS,RAWAS,RAWAS,RAWAS,

Menimbang : a. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 4 huruf a Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahandi Bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah, Pembentukan dan atau Pembinaan Perkumpulan Petani Pemakai Air menjadi tugas dan tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Musi Rawas ;

b. bahwa sebagai tindak lanjut dari ketentuan sebagaimana dimaksud butir a diatas, berdasarkan pasal 3 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 12 Tahun 1992 tentang Pembentukan dan atau Pembinaan Perkumpulan Petani Pemakai Air, harus diatur dalam Peraturan Daerah Tingkat II Musi Rawas;

c. bahwa sehubungan dengan hal tersebut diatas, dipandang peril untuk menetapkan Peraturan Daerah Tingkat II Musi Rawas tentang Pembentukan dan atau Pembinaan Perkumpulan Petani Pemakai Air.

Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara RI Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3037) ;

2. Undang-undang Nomor 28 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II dalam Daerah Tingkat I Sumatera Selatan;

3. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan (Lembaran Negara RI Tahun 1974 Nomor 65, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3046);

4. Peraturan Pemerintah RI Nomor 23 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa (Lembaran Negara RI Tahun 1979 Nomor 56, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3153);

5. Peraturan Pemerintah RI Nomor 23 Tahun 1982 tentang Irigasi (Lembaran Negara RI Tahun 1982 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3226);

6. Peraturan Pemerintah RI Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan di Bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah (Lembaran Negara RI Tahun 1987 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3353);

7. Peraturan Pemerintah RI Nomor 27 Tahun 1991 tentang Rawa ;

8. Keputusan Presiden Nomor 28 Tahun 1980 tentang Penyempurnaan dan peningkatan Lembaga Sosial Desa menjadi Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa ;

(2)

9. Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan Pengelolaan Pengairan (Pengaturan Air dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi) ;

10. Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 1984 tentang Pembinaan Perkumpulan Petani Pemakai Air ;

11. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 1992 tentang Iuran Pelayanan Irigasi ;

12. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 12 Tahun 1992 tentang Pembentukan dan Pembinaan Perkumpulan Petani Pemakai Air ;

13. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 42/PRT/1989 tentang Tata Laksana Penyerahan Jaringan Irigasi Kecil berikut Wewenang Pengurusannya kepada Perkumpulan Petani Pemakai Air ;

14. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 57/PRT/1991 tentang Pedoman Pelaksanaan Penyerahan sebagian urusan Pemerintahan di Bidang Pekerjaan Umum kepada Pemerintah Daerah Tingkat I dan Pemerintah Daerah Tingkat II ;

15. Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Selatan Nomor 15 tahun 1987 tentang Irigasi ;

16. Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Selatan Nomor 11 tahun 1988 tentang Pedoman, Pembinaan dan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) di Sumatera Selatan;

17. Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Selatan Nomor 345 tahun 1988 tentang Pembentukan Panitia Irigasi Kabupaten/Kotamadya Daerah Irigasi ;

18. Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Selatan Nomor 346 tahun 1988 tentang Pembentukan Panitia Irigasi Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Selatan.

Dengan Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Musi Rawas.

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURANPERATURANPERATURANPERATURAN DAERAHDAERAHDAERAHDAERAH KABUPATENKABUPATENKABUPATENKABUPATEN DAERAHDAERAHDAERAHDAERAH TINGKATTINGKATTINGKATTINGKAT IIIIIIII MUSIMUSIMUSIMUSI RAWAS

RAWAS

RAWASRAWAS TENTANGTENTANGTENTANGTENTANG PEMBENTUKANPEMBENTUKANPEMBENTUKANPEMBENTUKAN DANDANDANDAN PEMBINAANPEMBINAANPEMBINAANPEMBINAAN PERKUMPULAN

PERKUMPULAN

PERKUMPULANPERKUMPULAN PETANIPETANIPETANIPETANI PEMAKAIPEMAKAIPEMAKAIPEMAKAI AIRAIRAIRAIR (P3A)(P3A)(P3A)(P3A) KABUPATENKABUPATENKABUPATENKABUPATEN DAERAH

DAERAH

DAERAHDAERAH TINGKATTINGKATTINGKATTINGKAT IIIIIIII MUSIMUSIMUSIMUSI RAWASRAWASRAWASRAWAS.

BABBABBABBAB IIII KETENTUAN KETENTUAN KETENTUAN

KETENTUAN UMUMUMUMUMUMUMUM Pasal

Pasal Pasal Pasal 1111 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :

a.. Daerah adalah Kabupaten Daerah Tingkat II Musi Rawas.

b. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Musi Rawas.

c. Bupati Kepala Daerah adalah Bupati Kepala Daerah Tingkat II Musi Rawas.

(3)

d. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat II Musi Rawas ;

e. Irigasi adalah Usaha Penyediaan dan Pengaturan Air untuk menunjang pertanian ;

f. Daerah Irigasi adalah Kesatuan Wilayah yang mendapatkan air dari suatu jaringan irigasi.

g. Jaringan Irigasi adalah Saluran dan Bangunan yang merupakan satu kesatuan dan diperlukan untuk pengaturan air irigasi mulai dari penyediaan, pengambilan, pembagian, pemberian dan penggunaanya ;

h. Irigasi Pedesaan adalah Irigasi yang pembangunannya, pendayagunaan dan pemeliharaan jaringan dilaksanakan oleh para petani dibawah pembinaan pemerintah desa, dengan atau tanpa bantuan pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah;

I. Irigasi Pompa adalah Irigasi yang sumber airnya berasal dari air tanah atau air yang dinaikkan dengan menggunakan pompa beserta perlengkapannya.

j. Jaringan Tersier adalah Jaringan irigasi yang berfungsi sebagai prasarana pelayanan air dalam petak tersier yang terdiri dari saluran pembawa yang disebut saluran kwarter, dan saluran pembuang berikut saluran bangunan turutan serta perlengkapannya termasuk jaringan irigasi pompa.

k. Pengelolaan Air Irigasi adalah segala usaha pendayagunaan air irigasi termasuk pemeliharaan jaringannya.

l. Pengelolaan air di tingkat usaha tani adalah usaha pendayagunaan air pada petak-petak tersier, jaringan irigasi tehnis, jaringan irigasi pedesaan, irigasi pompa, melalui pemanfaataan jaringan irigasi yang langsung berhubungan dengan pertaniannya guna memenuhi optimasi pertanian, termasuk pemeliharaan jaringannya.

m. Petak/Blok tersier adalah bagian lahan dari suatu daerah irigasi atau daerah reklamasi rawa yang menerima air dari suatu pintu sedap tersier dan mendapat pelayanan dari jaringan tersier yang bersangkutan.

n. Petak/Blok Kwarter adalah bagian dari lahan didalam petak/blok tersier yang mendapat pelayanan irigasi dari satu saluran.

o. Tata Pengairan adalah susunan dan letak sumber-sumber air dan atau pengairan menurut ketentuan-ketentuan teknik pembinaan di suatu wilayah pengairan tertentu.

p. Rawa adalah lokasi genangan air secara alamiah yang terjadi terus menerus atau musiman akibat drainase alamiah yang terhambat serta mempunyai cirri-ciri khusus secara fisik kimiawi biologis.

q. Reklamasi Rawa adalah upaya meningkatkan fungsi dan pemanfaatan rawa untuk kepentingan masyarakat luas.

r. Jaringan Reklamasi Rawa adalah keseluruhan saluran baik pribadi, sekunder maupun tersier dan bangunan yang merupakan satu kesatuan beserta bangunan pelengkapnya yang diperlukan untuk pengaturan, pembangunan, pemberian, pembagian dan penggunaan air.

s. Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa atau disebut LKMD adalah Lembaga Masyarakat di Desa atau Kelurahan yang tumbuh dari, oleh, dan untuk masyarakat dan merupakan wahana partisipasi masyarakt dalam pembangunan yang memadukan pelaksanaan berbagai kegiatan pemerintah dan prakarsa serta swaadya gotong royong masyarakat dalam segala aspek kehidupan dalam rangka mewujudkan ketahanan nasional, yang meliputi aspek-aspek ideology politik, ekonomi, social, budaya, agama dan pertahanan keamanan.

(4)

t. Perkumpulan Petani Pemakai Air yang selanjutnya disingkat P3A adalah wadah untuk menampung kepentingan atau kegiatan petani secara bersama dalam mengelola pengairan, kegiatan petani secara bersama dalam mengelola pengairan dalam satu atau lebih petak tersier daerah irigasi reklamasi rawa pada khususnya serta usaha tani pada umumnya.

u. Usaha Tani adalah usaha manusia memanfaatkan proses biologis tanaman, hewan dan ikan untuk mendapatkan hasil guna yang l;ebih baik dalam memenuhi kebutuhan.

v. Forum Koordinasi P3A adalah koordinasi dari beberapa P3A yang terbentuk atas dasar kebutuhan dalam rangka penyusunan dan pelaksanaan program bersama.

w. Pelaksanaan teknis P3A adalah salah satu perangkat dari P3A sebagai pelaksana teknis sehari-hari dalam rangka pengelolaan air irigasi di wilayah kerjanya.

x. Jaringan Irigasi Kesil dan Jaringan Irigasi Luas arealnya kurang dari 500 hektar.

BABBAB BAB BAB IIIIIIII AZAS,

AZAS,

AZAS,AZAS, SIFATSIFATSIFATSIFAT DANDANDANDAN TUJUANTUJUANTUJUANTUJUAN Pasal

Pasal Pasal Pasal 2222

(1) P3A berazaskan gotong royong yang berdasarkan Pancasila;

(2) P3A merupakan perkumpulan yang bersifat social dengan maksud menuju kearah hasil guna pengelolaan air dan jaringan irigasi dalam satu atau lebih petak tersier di daerah irigasi teknis, irigasi pedesaan, irigasi reklamasi rawa dan irigasi pompa, untuk meningkatkan kesejahteraan para anggotanya.

(3) P3A bertujuan mendayagunakan potensi air irigasi secara tepat guna dan berhasil guna yang tersedia untuk kesejahteraan masyarakat tani.

BAB BAB BAB BAB IIIIIIIIIIII ORGANISASI ORGANISASIORGANISASIORGANISASI Bagian

Bagian Bagian

Bagian PertamaPertamaPertamaPertama Pembentukan Pembentukan Pembentukan Pembentukan

Pasal Pasal Pasal Pasal 3333

P3A dibentuk oleh, dari dan untuk petani pemakai air, pada petak tersier, jaringan irigasi teknis, jaringan irigasi pompa, daerah irigasi pedesaan dan reklamasi rawa berdasarkan kesadaran dan kepentingan bersama.

Pasal Pasal Pasal Pasal 4444

(1) Pembentukan P3A harus memenuhi syarat :

a. Mempunyai anggota yang terdiri dari pemilik sawah, pemilik penggarap sawah, penggarap/penyewa/penyakap, pemilik kolam ikan yang mendapat air dari irigasi/reklamasi rawa, badan usaha yang mengusahakan lahan dengan menggunakanair irigasi, pemakai air irigasi dan reklamasi rawa lainnya.

b. Mempunyai wilayah kerja berupa hamparan lahan yang mendapat air irigasi.

c. Mempunyai potensi jaringan irigasi tersier, jaringan irigasi tehnis, irigasi pedesaan, irigasi pompa dan jaringan reklamasi rawa.

(5)

(2) Pembentukan P3A harus memperhatikan : a. Tingkat kesiapan masyarakat petani.

b. Keadaan sosial budaya dengan memperhatikan lembaga kepengurusan air tradisional yang ada pada daerah yang bersangkutan.

Pasal Pasal Pasal Pasal 5555

(1) Petani Pemakai Air mengadakan musyawarah dan mufakat untuk membentuk P3A dan kepengurusannya.

(2) Pengurus P3A mengadakan rapat anggota untuk menyusun Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART).

(3) Pedoman penyusunan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran Peraturan Daerah ini.

Pasal Pasal Pasal Pasal 6666

(1) Pembentukan P3A ditetapkan dengan Keputusan Bupati Kepala Daerah setelah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga mendapat persetujuan dari Kepala Desa/Kelurahan dan Camat serta disahkan oleh Bupati Kepala Daerah.

(2) Pengurus P3A wajib mendaftarkan Anggaran Dasar tersebut kepada Ketua Pengadilan Negeri setempat.

(3) Dengan terdaftarnya Anggaran Dasar P3A di Pengadilan Negeri setempat, maka P3A yang bersangkutan berstatus sebagai Badan Hukum.

(4) Sebagai Badan Hukum, P3A berhak melakukan hal-hal sebagai berikut :

a. Menerima asset berupa jaringan irigasi kecil dan jaringan irigasi tersier dari Pemerintah.

b. Membuat ikatan kerjasama atau perjanjian dengan pihak lain yang bersifat ekonomi dalam rangka mencapai tujuan P3A.

c. Menerima Hak Guna Air Irigasi dan mengatur pemanfaatannya sesuai pola dan tata tanam yang telah ditetapkan oleh panitia irigasi.

d. Menerima bantuan baik berupa uang, sarana dan prasarana atau fasilitas fisik lainnya secara langsung dari lembaga/instansi pemerintah atau swasta.

Bagian Bagian Bagian

Bagian KeduaKeduaKeduaKedua Susunan

Susunan Susunan

Susunan OrganisasiOrganisasiOrganisasiOrganisasi Pasal

Pasal Pasal Pasal 7777

Anggota P3A adalah semua masyarakat yang mendapat nikmat dan manfaat pelayanan air irigasi tersier, irigasi pedesaan, irigasi tambak, irigasi pompa dam irigasi rawa yang mencakup pemilik, pemilik penggarap, penggarap/penyakap/penyewa sawah, kolam ikan dan atau tambak yang mendapat air dari irigasi, badan usaha yang mengusahakan lahan dengan menggunakan air irigasi dan pemakai air irigasi lainnya, baik untuk keperluan sosial maupun komersil.

(6)

Pasal Pasal Pasal Pasal 8888

(1) Susunan Organisasi P3A terdiri dari Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara, Pelaksana Teknis, Ketua-ketua Petak/Blok Kwarter dan sekurang-kurangnya terdiri atas Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara, Pelaksana Teknis sesuai dengan kondisi dan kebutuhan daerah setempat.

(2) Ketua Petak/Blok Kwarter sebagaimana dimaksud ayat (1) adalah seorang pemimpin dalam blok kwarter yang bersangkutan, yang dipilih/diangkat langsung oleh para anggota bloknya.

(3) Dalam hal wilayah kerja P3A meliputi lebih dari satu desa/kelurahan, maka anggota pengurus dipilih dari anggota P3A yang berdomisili pada desa yang memiliki wilayah kerja P3A terbesar, kecuali wakil ketua dipilih dari anggota-anggotanya yang berdomisili pada desa atau desa-desa yang memiliki wilayah kerja P3A lebih kecil.

(4) Periode kepengurusan diatur lebih lanjut dalam Anggaran Dasar P3A.

Pasal Pasal Pasal Pasal 9999 (1) Rapat Organisasi P3A terdiri dari :

a. Rapat Anggota b. Pengurus.

(2) Rapat Anggota merupakan kekuasaan tertinggi didalam P3A.

Pasal Pasal Pasal Pasal 10101010

(1) Dengan memperhatikan tata pengelolaan air pada jaringan yang meliputi dua wilayah kerja P3A atau lebih, dapat dibentuk forum koordinasi P3A.

(2) Forum koordinasi P3A sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini dilengkapi dengan ketentuan-ketentuan untuk mengatur kepentingan bersama.

(3) Forum koordinasi P3A dipimpin oleh seorang Ketua dan dipilih oleh Anggota-anggota forum yang terdiri dari wakil masing-masing P3A.

Bagian Bagian Bagian

Bagian KetigaKetigaKetigaKetiga Tugas

TugasTugasTugas dandandandan WewenangWewenangWewenangWewenang Pasal

Pasal Pasal Pasal 11111111

Tugas P3A adalah sebagai berikut :

a. Mengelola air dan jaringan irigasi didalam petak tersier, saluran jaringan teknis atau daerah irigasi pedesaan, daerah irigasi pompa dan reklamasi rawa agar dapat diusahakan untuk dimanfaatkan oleh para anggotanya secara tepatguna dan berhasilguna dalam memenuhi unrur pemerataan diantara sesama anggota.

b. Membangun, merehabilitasi dan memelihara jaringan tersier, jaringan tekhnis, irigasi pedesaan, irigasi pompa dan reklamasi rawa sehingga jaringan tersebut dapat tetap terjaga kelangsungan fungsinya.

c. Menentukan dan mengatur iuran dari anggota yang berupa uang , hasil panen atau tenaga untuk pendayagunaan air irigasi dan pemeliharaan jaringan tersier, jaringan teknis,

(7)

irigasi pompa dan reklamasi rawa serta usaha-usaha pengembangan perkumpulan sebagai suatu organisasi.

d. Membimbing dan mengawasi para anggotanya agar memenuhi semua peraturan yang ada hubungannya dengan pemakaian air yang dikeluarkan pleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah daerah dan P3A.

e. Menerima penyerahan asset jaringan irigasi kecil dari pemerintah dan mengelolanya secara bertanggung jawab.

Pasal Pasal Pasal Pasal 12121212

(1) Rapat anggotanya mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut :

a. Membuat dan mengubah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.

b. Membentuk dan membubarkan pengurus.

c. Mengangkat dan memberhentikan anggota-anggota pengurus.

d. Menentukan dan menetapkan program kerja P3A.

(2) Pengurus mempunyai wewenang :

a. Melaksanakan ketentuan-ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, Keputusan-keputusan yang ditetapkan oleh rapat anggota serta kebijaksanaan lainnya termasuk menyelesaikan sengketa anggotanya.

b. Bertindak atas nama perkumpulan sesuai dengan pasal 1655 KUH Perdata.

(3) Pelaksanaan teknis P3A melaksanakan kegiatan sehari-hari dalam hal pendayagunaan air serta pemeliharaan jaringan irigasi diwilayah kerjanya.

(4) Ketua petak/blok kwarter, melaksanakan kegiatan sehari-hari dalam hal pendayagunaan air irigasi serta pemeliharaan jaringan kwarter diwilayah bloknya.

Bagian

BagianBagianBagian KeempatKeempatKeempatKeempat Hak

Hak Hak

Hak dandandandan KewajibanKewajibanKewajibanKewajiban Pasal

Pasal Pasal Pasal 13131313 Hak dan kewajiban P3A adalah :

a. Setiap anggota berhak mendapatkan pelayanan air irigasi sesuai dengan ketentuan pembagian air yang telah ditetapkan.

b. Setiap anggota wajib turut menjaga kelangsungan fungsi sarana dan prasarana jaringan irigasi, jaringan irigasi tekhnis, jaringan irigasi pedesaan, jaringan irigasi pompa dan jaringan reklamasi rawa, serta membayar iuran organisasi dan mematuhi ketentuan- ketentuan lain yang ditetapkan oleh rapat anggota.

c. Setiap anggota ikut menanggung biaya operasi dan pemeliharaan jaringan utama yang dikelola pemerintah melalui IPAIR dan atau iuran operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi, jaringan reklamasi rawa pada lokasi yang ditetapkan.

BABBAB BABBAB IVIVIVIV WILAYAH

WILAYAH

WILAYAHWILAYAH KERJAKERJAKERJAKERJA PERKUMPULANPERKUMPULANPERKUMPULANPERKUMPULAN PETANI

PETANI PETANI

PETANI PEMAKAIPEMAKAIPEMAKAIPEMAKAI AIRAIRAIRAIR Pasal

Pasal Pasal Pasal 14141414

(8)

(1) Wilayah kerja P3A yang ditetapkan berdasarkan prinsip tata pengairan (hidrologis) pada suatu petak tersier, daerah irigasi tehnis, daerah irigasi pedesaan, daeah irigasi pompa dan reklamasi rawa.

(2) Apabila terdapat satu atau beberapa petak tersier, daerah irigasi tehnis, daerah irigasi pedesaan, daerah irigasi pompa dan reklamasi rawa berukuran kecil dan memperoleh air dari sumber yang sama, maka petak tersier, daerah irigasi tehnis, daerah irigasi pedesaan, daerah irigasi pompa dan reklamasi rawa tersebut dapat digabungkandalam satu wilayah kerja P3A.

(3) Apabila terdapat satu petak tersier, daerah irigasi tehnis, daerah irigasi pedesaan, daerah irigasi pompa dan reklamasi rawa tersebut digabungkan menjadi satu P3A.

(4) Apabila petani anggota P3A menghendaki, wilayah kerja P3A dapat ditetapkan berdasarkan bebas wilayah administrasi Pemerintah Desa/Kelurahan.

(5) Apabila petani menghendaki, dalam satu Desa/Kelurahan dapat dibentuk lebih dari satu P3A.

BABBAB BABBAB VIVIVIVI WILAYAH

WILAYAH

WILAYAHWILAYAH KERJAKERJAKERJAKERJA PERKUMPULANPERKUMPULANPERKUMPULANPERKUMPULAN PETANI

PETANI PETANI

PETANI PEMAKAIPEMAKAIPEMAKAIPEMAKAI AIRAIRAIRAIR Pasal

Pasal Pasal Pasal 14141414

(1) Wilayah kerja P3A yang ditetapkan berdasarkan prinsip tata pengairan (hidrologis) pada suatu petak tersier, daerah irigasi tehnis, daerah irigasi pedesaan, daerah irigasi pompa dan reklamasi rawa.

(2) Apabila terdapat satu atau beberapa petak tersier, daerah irigasi tehnis, daerah irigasi pedesaan, daerah irigasi pompa dan reklamasi rawa berukuran kecil dan memperoleh air dari sumber yang sama, maka petak tersier, daerah irigasi tehnis, daerah irigasi pedesaan, daerah irigasi pompa dan reklamasi rawa tersebut dapat digabungkan dalam satu wilayah kerja P3A.

(3) Apabila terdapat satu petak tersier, daerah irigasi tehnis, daerah irigasi pedesaan, daerah irigasi pompa, dan reklamasi rawa tersebut digabungkan menjadi satu P3A.

(4) Apabila petani anggota P3A menghendaki, wilayah kerja P3A dapat ditetapkan berdasarkan batas wilayah administrasi Pemerintah Desa/Kelurahan.

(5) Apabila petani menghendaki, dalam satu Desa/Kelurahan dapat dibentuk lebih dari satu P3A.

BABBAB BABBAB VIIVIIVIIVII HUBUNGAN HUBUNGAN

HUBUNGANHUBUNGAN KERJAKERJAKERJAKERJA Pasal

Pasal Pasal Pasal 15151515

Untuk mewujudkan asas, sifat dan tujuannya, P3A melakukan hubungan kerja dengan : a. Instansi terkait.

b. Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD).

c. P3A lainnya dan organisasi-organisasi lain yang ada di Desa/Kelurahan.

Pasal Pasal Pasal Pasal 16161616

Hubungan kerja dengan instansi terkait sebagaimana dimaksud dalam pasal 12 huruf a bersifat fungsional dan konsultatif, mencakup hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan bidang organisasi, bidang keteknikan irigasi dan bidang keteknikan pertanian.

(9)

Pasal Pasal Pasal Pasal 17171717

(1) Hubungan dengan LKMD sebagaimana dimaksud pasal 13 huruf b bersifat koordinatif dalam rangka penyusunan rencana, pelaksanaan program kerja, serta peningkatan dan pengembangan P3A.

(2) Petunjuk pelaksanaan hubungan LKMD sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini, diatur lebih lanjut dengan Keputusan Bupati Kepala Daerah.

Pasal Pasal Pasal Pasal 18181818

Hubungan P3A dengan organisasi lainnya sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 huruf c bersifat kerjasama dalam rangka mengelola air irigasi pada petak tersier, daerah irigasi tehnis, daerah irigasi pedesaan, daerah irigasi pompa dan reklamasi rawa untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapai bersama.

BABBAB BABBAB VIIIVIIIVIIIVIII PEMBINAAN PEMBINAAN PEMBINAANPEMBINAAN

Pasal Pasal Pasal Pasal 19191919

(1) Pembinaan P3A merupakan tugas,wewenang dan tanggungjawab semua aparat pembina mulai dari tingkat Kabupaten Daerah Tingkat II sampai dengan Tingkat Desa/Kelurahan secara berjenjang.

(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini dilaksanakan secara terkoordinir, terpadu dan berkesinambungan dengan tujuan membangkitkan dan menumbuhkan pengertian, kesadaran, kepercayaan, kemampuan dan rasa tanggung jawab anggota P3A dalam upaya meningkatkan dan mengembangkan P3A menjadi organisasi mandiri dalam pengelolaan air.

Pasal Pasal Pasal Pasal 20202020

(1) Kegiatan Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 17 meliputi 2 (dua) aspek yaitu:

a. Pembinaan keorganisasian.

b. Pembinaan teknis.

(2) Pembinaan keorganisadian P3A sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a pasal ini, dilakukan oleh :

a. Bupati Kepala Daerah bertanggungjawab atas pelaksanaan pembinaan dan pengembangan P3A.

b. Camat melaksanakan koordinasi dan pengawasan atas pelaksanaan pembinaan dan pengembangan P3A.

c. Kepala Desa melaksanakan pembinaan P3A sesuai dengan tanggungjawab dan wewenangnya.

(3) Pembinaan teknis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b pasal ini, para pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) pelaksanaannya dibantu oleh instansi teknis terkait sebagai berikut :

a. Bidang keteknikan irigasi oleh Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Tingkat I atau Cabang Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Tingkat II dengan tugas melaksanakan pembinaan, bimbingan serta penyuluhan kepada P3A dalam hal yang berhubungan

(10)

dengan survey dan desain, konstruksi serta operasi dan pemeliharaan jaringan tersier, jaringan irigasi tehnis, jaringan irigasi pedesaan, jaringan irigasi dan jaringan irigasi reklamasi rawa.

b. Bidang keteknikan pertanian oleh Dinas dalam lingkup pertanian dengan tugas melaksanakan bimbingan dan penyuluhan kepada P3A dalam hal yang berhubungan dengan pemanfaatan air irigasi yang meilupti rekomendasi kebutuhan air, penerapan pola tanam dan teknik pemanfaatan air untuk pertanian dalam arti luas, sesuai dengan kondisi serta peningkatan pengetahuan dan ketrampilan para petani dalam bidang tersebut.

Pasal Pasal Pasal Pasal 21212121

Pembinaan sebagaimana dimaksud pasal 17 dan pasal 18 mencakup kegiatan : a. Pada tahap sebelum pembentukan P3A.

1). Inventarisasi jaringan irigasi.

2). Inventarisasi jumlah petani pemakai air

3). Identifikasi Lembaga kepengurusan air tradisional.

4). Identifikasi batas-batas petak tersier 5). Penyuluhan.

b. Pada tahapan pengembangan P3A.

Peningkatan dan pengembangan P3A melalui kegiatan motivasi penyuluhan, pelatihan, bimbingan teknis, pengelolaan jaringan irigasi, pengelolaan organisasi dan menggerakkan partisipasi masyarakat.

c. Kegiatan motivasi dan penyuluhan sebagaimana dimaksud dalah huruf a pasal ini dilakukan melalui :

1). Penyuluhan melalui media cetak dan media elektronik.

2). Wisata karya.

3). Pertemuan/sarasehan antara pembina dengan pengurus P3A untuk Tingkat Kabupaten Daerah Tingkat II dan Tingkat Kecamatan.

4). Penyelenggaraan lomba P3A teladan Tingkat Kecamatan dan Tingkat Kabupaten serta Tingkat Propinsi.

Pasal Pasal Pasal Pasal 22222222

Dalam upaya tercapainya sarana pembinaan, Bupati Kepala Daerah menetapkan pedoman praktis berupa buku saku untuk pengurus P3A dengan materi sebagai berikut :

a. Teknis pengaturan dan pemberian air ditingkat usaha tani.

b. Pengaturan teknik tentang sapta usaha tani.

c. Pengembangan dinamika kelompok P3A d. Pengamanan jaringan irigasi

e. Teknik operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi.

Pasal Pasal Pasal Pasal 23232323

(1) Panitia irigasi Kabupaten Daerh Tingkat II dan panitia pelaksana irigasi Kecamatan secara berjenjang turut bertanggung jawab dalam pembinaan dan pengembangan P3A.

(2) Pelaksanaan kegiatan ketatausahaan, pemantauan perkembangan dan permasalahan dalam pembinaan P3A dilakukan oleh Sekretariat tetap panitia irigasi Kabupaten Daerah Tingkat II.

Pasal Pasal Pasal Pasal 24242424

(11)

Bentuk kegiatan, tata cara dan tekhnis pelaksanaan pembinaan P3A ditetapkan lebih lanjut dengan Keputusan Bupati Kepala Daerah.

BAB BAB BAB BAB IXIXIXIX PEMBIAYAAN PEMBIAYAAN PEMBIAYAAN PEMBIAYAAN

Pasal Pasal Pasal Pasal 25252525

(1) Segala kegiatan yang dilakukan oleh P3A dibioayai oleh P3A yang bersangkutan.

(2) Sumber dana P3A terdiri dari : a. Iuran anggota

b. Sumbangan atau bantuan yang tidak mengikat.

c. Usaha-usaha lain yang sah menurut hukum.

(3) P3A berwenang menentukan bentuk dan besarnya iuran anggota sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.

(4) Dalam hal P3A tidak mampu secara tehnis dan finansial, dengan mempertimbangkan kemampuan dari Pemerintah Daerah dalam batas-batas tertentu, dapat memberi bantuan pembiayaan pembangunan jaringan irigasi.

(5) Apabila dalam pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud ayat (4) pasal ini, Pemerintah Daerah tidak dapat membantu, maka Pemerintah Daerah dapat mengajukan permintaan bantuan kepada Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Selatan dan atau Pemerintah Pusat.

Pasal Pasal Pasal Pasal 26262626

Pembiayaan untuk kegiatan pembinaan dan pengembangan P3A sebagaimana dimaksud dalam pasal 17 sampai dengan pasal 22 Peraturan Daerah ini dibebankan pada Anggaran dan Belanja daerah (APBD) Kabupaten Daerah Tingkat II, Anggaran Dinas/instansi yang terkait serta dana lain yang sah berdasarkan ketentuan yang berlaku.

BABBAB BABBAB XXXX KETENTUAN

KETENTUANKETENTUANKETENTUAN PERALIHANPERALIHANPERALIHANPERALIHAN Pasal

Pasal Pasal Pasal 27272727

P3A yang sudah dibentuk berdasarkan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Selatan atau Keputusan Bupati Kepala Daerah disesuaikan dengan Peraturan Daerah ini secara bertahap.

Pasal Pasal Pasal Pasal 28282828

(1) Lembaga kepengurusan air tradisional yang sudah ada pada saat berlakunya Peraturan Daerah ini, tetap diakui keberadaannya.

(2) Lembaga sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini secara bertahap disesuaikan dengan syarat-syarat dam ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Daerah ini sepanjang tidak menghilangkan ikatan tradisional yang sudah ada dan diperlakukan sama dengan P3A dalam hal kewajiban pembinaan dan pengembangannya.

(12)

BAB BAB BABBAB XIIXIIXIIXII KETENTUAN KETENTUAN KETENTUAN

KETENTUAN PENUTUPPENUTUPPENUTUPPENUTUP Pasal

Pasal Pasal Pasal 29292929

Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut dengan Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Musi Rawas.

Pasal Pasal Pasal Pasal 30303030

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkannya.

Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Musi Rawas.

Ditetapkan di Lubuk Linggau Pada tanggal 18 Juli 1995 DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH BUPATI KEPALA DAERAH

KABUPATEN DAERAH TINGKAT II TINGKAT II MUSI RAWAS, MUSI RAWAS

KETUA,

Cap.- dto Cap.- dto

DRS. ISHAK SANI. H. NANG ALI SOLICHIN, S.H D I S A H K A N :

Dengan Surat Keputusan Gubernur KDH Tingkat I Sumatera Selatan Tanggal : 30 April 1996 Nomor : 245/SK/IV/1996

Sekretaris Wilayah / Daerah Ub. Kepala Biro Hukum

Cap. dto

BUSTAM ABUNAWAR, S.H PEMBINA TINGKAT I NIP. 440000191.

D I U N D A N G K A N :

Dalam Lembaran Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Musi Rawas

Nomor : 5 pada tanggal 5 Agustus 1996 Seri : D Nomor : 5

SEKRETARIS WILAYAH / DAERAH PELAKSANA TUGAS,

Cap.- dtoH. LUKMAN NAWI, SH PEMBINA TK. I

NIP. 440016239.

(13)

Referensi

Dokumen terkait

Kontrasepsi sesuai dengan makna asal katanya dapat didefinisikan sebagai tindakan atau usaha yang bertujuan untuk mencegah terjadinya konsepsi atau pembuahan. Pembuahan dapat

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Noma, dkk (2016) model pembelajaran yang didasarkan pada konstruktivisme dan pembelajaran aktif

Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 2 dan Pasal 4 ayat (2) huruf a, Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 7 Tahun 2006 tentang Sumber Pendapatan Desa,

Hal ini tidak mendukung dari penelitian Esti Rusdiana Kurniawan, Rina Arifati dan Rita Andini (2016) yang menyatakan firm size memiliki hubungan terhadap deviden payout

Data Kuantitatif Data kuntitatif adalah data yang dapat diukur secara langsung.9 Adapun yang di maksud dengan data kuantitatif dalam penelitian ini adalah data yang dapat diukur

Pada Gambar 3, tingkat mood untuk 14 ibu hamil yang diperoleh dari mood chart pada hari 1 − 28 memiliki suasana hati yang cenderung sedih, suasana hati dalam keadaan tidak baik

bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1979 tentang Penyerahan Sebagian Usaha Pemerintahan dalam Bidang Kepariwisataan kepada Daerah Tingkat I, disebutkan urusan

bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 4 Peraturan Daerah Kabupaten Pekalongan Nomor 4 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Perangkat Daerah