• Tidak ada hasil yang ditemukan

Katalog Dalam Terbitan. Kementerian Kesehatan RI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Katalog Dalam Terbitan. Kementerian Kesehatan RI"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Indonesia. Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit

Pedoman Surveilans Congenital Rubella Syndrome Jakarta : Kementerian Kesehatan RI.2018

ISBN 978-602-416-492-8 1. Judul I. RUBELLA VIRUS

II. RUBELLA SYNDROME, CONGENITAL III. COMMUNICABLE DISEASES

614.524 Ind p

(3)

KESEHATAN

REPUBLIK

INDONESIA

PEDOMAN

SURVEILANS

CONGENITAL RUBELLA SYNDROME

(CRS)

Subdit Surveilans

Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit

Kementerian Kesehatan RI Tahun 2019

(4)
(5)

BUKU PEDOMAN SURVEILANS CONGENITAL RUBELLA SYNDROME (CRS)

CETAKAN PERTAMA TAHUN 2018 CETAKAN KEDUA TAHUN 2019

Katalog Terbitan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2018

Pembina

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Pengarah

drg. R. Vensya Sitohang M.Epid, Direktur Surveilans dan Karantina

Kesehatan

Kontributor :

drh. Endang Burni P., M. Kes; Subdirektorat Surveilans dr. Triya Novita Dinihari; Subdirektorat Surveilans

Robert Mieson Saragih, SKM, M.Kes; Subdirektorat Surveilans dr. Elvieda Sariwati, MEpid; Subdirektorat Surveilans

dr. Ratna Budi Hapsari, MKM; Subdirektorat Imunisasi

Sri Handini, SH, MH, MKes; Kepala Bagian Hukum, Organisasi dan Hubungan

Masyarakat, P2P

dr. Nani H Widodo, SpM , MARS; Subdirektorat Pelayanan Medik dan

Keperawatan

dr. Wita Nursanthi; Subdirektorat Pelayanan Medik dan Keperawatan Prof. Dr. dr. Elisabeth Siti Herini, Sp.A(K); Komite Ahli Verifikasi Eliminasi

Campak dan Pengendalian Rubela/Congenital Rubella Syndrome (CRS)

Prof. Dr. dr. Ismoedijanto, Sp.A(K); Komite Ahli Verifikasi Eliminasi Campak

dan Pengendalian Rubela/Congenital Rubella Syndrome (CRS)

Prof. Dr. dr. Rita S. Sitorus, Sp.M; Komite Ahli Verifikasi Eliminasi Campak dan

Pengendalian Rubela/Congenital Rubella Syndrome (CRS)

Dr. dr. Hariadi Wibisono, MPH; Komite Ahli Verifikasi Eliminasi Campak dan

Pengendalian Rubela/Congenital Rubella Syndrome (CRS)

Dr.dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K),M.Trop; Komite Ahli Verifikasi Eliminasi

Campak dan Pengendalian Rubela/Congenital Rubella Syndrome (CRS)

Dr. dr. Nyilo Purnami, Sp.THT-KL(K); Komite Ahli Verifikasi Eliminasi Campak

dan Pengendalian Rubela/Congenital Rubella Syndrome (CRS)

Dr. dr. Fetty Karfiati, Sp.M; Komite Ahli Verifikasi Eliminasi Campak dan

Pengendalian Rubela/Congenital Rubella Syndrome (CRS)

Dr. dr. Novilia Sjafri Bachtiar, M.Kes; Komite Ahli Verifikasi Eliminasi Campak

dan Pengendalian Rubela/Congenital Rubella Syndrome (CRS)

Dr. dr. Tri Yunis Miko, M.Sc; Komite Ahli Verifikasi Eliminasi Campak dan

Pengendalian Rubela/Congenital Rubella Syndrome (CRS)

dr. Syarif Rohimi, Sp.A(K); Komite Ahli Verifikasi Eliminasi Campak dan

(6)

dr. Mulya Rahma Karyanti, Sp.A(K); Komite Ahli Verifikasi Eliminasi Campak

dan Pengendalian Rubela/Congenital Rubella Syndrome (CRS)

dr. Sholah Imari, M.Sc; Komite Ahli Verifikasi Eliminasi Campak dan

Pengendalian Rubela/Congenital Rubella Syndrome (CRS)

dr. Damayanti Soetjipto, Sp.THT-KL(K); Komite Ahli Verifikasi Eliminasi

Campak dan Pengendalian Rubela/Congenital Rubella Syndrome (CRS)

dr. Nina Dwi Putri, Sp.A; Komite Ahli Verifikasi Eliminasi Campak dan

Pengendalian Rubela/Congenital Rubella Syndrome (CRS)

dr. Cornelia Kelyombar; Subdirektorat Surveilans dr. Irma Gusmi Ratih; Subdirektorat Surveilans

Muammar Muslih, SKM,M.Epid; Subdirektorat Surveilans Vivi Voronika, SKM, M.Kes; Subdirektorat Surveilans dr. Devi Anisiska; Subdirektorat Imunisasi

Lulu Ariyantheny Dewi, SKM, MIPH; Subdirektorat Imunisasi dr. Mursinah, Sp.PK; PBTDK Litbangkes

Subangkit, SSI, M.Biomed; PBTDK Litbangkes dr. Eveline Irawan; BBLK Surabaya

Aris Wiji Utami, SSi, M.Kes; BBLK Surabaya dr. Woro Umi Ratih, M.Kes, Sp.PK; BLK Yogyakarta dr. Dyah Widhiastuti, M.Kes; PT Biofarma

Niprida Mardin, SKM, M.Kes; World Health Organization Indonesia dr. Rusipah, M.Kes; World Health Organization Indonesia

dr. Sidik Utoro, MPH; World Health Organization Indonesia dr. Fina Tams; World Health Organization Indonesia

Haditya Leorahmadi Mukri,S.Kom; Epidata WHO Indonesia Riza Danu Dewantara, SKM; Epidata WHO Indonesia Dede Mahmuda, SKM : Epidata WHO Indonesia

Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan, Dinkes Provinsi DKI Jakarta

PP – IDAI

Tim CRS 13 RS Sentinel: RSUP H. Adam Malik Medan; RSUP M. Hoesin

Palembang; RSUPN Cipto Mangunkusumo DKI Jakarta; RSAB Harapan Kita, DKI Jakarta; RSUP Hasan Sadikin Bandung; RS Mata Cicendo Bandung; RSUP Sardjito DI Yogyakarta; RSUP Kariadi Semarang; RSUD Soetomo Surabaya; RS Haji Surabaya; RSUP Sanglah Bali; RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar; RSUP Kandou Manado.

Editor

dr. Cornelia Kelyombar; Subdirektorat Surveilans Puhilan, SKM, M.Epid, Subdirektorat Surveilans

(7)

SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT

Puji syukur kehadiran Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas rahmat dan karuniaNya Buku Pedoman Surveilans Congenital Rubella Syndrome (CRS) ini telah selesai.

Dalam rangka mencapai target global eliminasi campak dan pengendalian rubella/CRS tahun 2020. Indonesia secara bertahap melakukan introduksi imunisasi rubella ke dalam program imunisasi rutin bertahap melakukan introduksi imunisasi rubella ke dalam program imunisasi rutin pada tahun 2017 - 2018, diawali dengan kampanye imunisasi MR pada sasaran usia 9 bulan - < 15 tahun. untuk melihat dampak jangka panjang pelaksanaan program imunisasi MR tersebut, maka dilakukan surveilans CRS. Buku ini dibuat sebagai pedoman bagi tim pelaksana surveilans CRS di rumah sakit dan Dinas Kesehatan Provinsi.

Kami sangat menghargai dan berterima kasih atas dukungan dan kontribusi semua pihak baik internal maupun eksternal yang terlibat dalam penyusunan buku pedoman ini. Semoga pelaksanaan surveilans CRS dapat berjalan optimal guna mendukung pencapaian eliminasi campak dan pengendalian rubella/CRS.

Jakarta, November 2018

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit

(8)
(9)

KATA PENGANTAR

Sejalan dengan target global maka Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai eliminasi campak dan pengendalian rubella/Congenital Rubella

Syndrome (CSR) tahun 2010. Surveilans CRS diperlukan untuk mengetahui

epidemiologi dan beban penyakit CRS di masyarakat. Data surveilans CRS juga dapat digunakan sebagai alat advokasi untuk mendapatkan dukungan yang kuat dari pemerintah dalam program pengendalian rubella di Indonesia. Untuk membangun sistem surveilans CRS, Indonesia telah mengembangkan surveilans sentinel CRS yang melibatkan Rumah Sakit dan petugas koordinator surveilans PD3I di 13 RS di 10 provinsi.

Surveilans CRS dilaksanakan secara lintas program dan melibatkan multi unit di Rumah Sakit, sehingga perlu harmonisasi yang diperkuat oleh suatu pedoman yang mengatur jejaring kerja surveilans CRS secara nasional.

Buku ini merupakan revisi dari buku pedoman surveilans CRS tahun 2014, yang diharapkan dapat menjadi referensi dalam pelaksanaan surveilans CRS agar dapat berjalan secara terpadu di semua unit pendukungnya.

Besar harapan kami atas adanya kritik dan saran yang akan lebih menyempurnakan buku ini kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang berjontribusi dalam penyusunan buku ini.

Jakarta, Agustus 2018

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan

(10)
(11)

DAFTAR ISI

SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL P2P ... iii

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR GRAFIK ... xiii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2. Tujuan ... 4

1.3. Kebijakan dan Strategi ... 5

1.3.1. Dasar Hukum ... 5

1.3.2. Kebijakan ... 5

1.3.3. Strategi CRS ... 5

1.4. Penetapan Daerah Sentinel ... 6

1.5. Pelaksana Surveilans CRS ... 7 BAB II ... 9 KEGIATAN SURVEILANS ... 9 2.1. Definisi kasus ... 9 2.1.1. Suspek CRS ... 11 2.1.2. CRS klinis ... 11 2.1.3. CRS Pasti ... 11

(12)

2.1.4. Bukan CRS (Discarded CRS) ... 11

2.1.5. CRI (Congenital Rubella Infection/ Infeksi rubella kongenital) ... 11

2.2. Algoritma Klasifikasi Kasus CRS ... 12

2.3. Clinical Pathway (Penegakan Diagnosis) Kasus CRS ... 14

2.4. Pelaksanaan Surveilans CRS ... 17

2.4.1. Penemuan Kasus ... 17

2.4.2. Tata Laksana Surveilans CRS ... 17

2.4.3. Surveilans Aktif Rumah Sakit ... 18

2.4.4. Pencatatan dan Pelaporan ... 19

2.4.5. Pemeriksaan Spesimen Kasus CRS ... 20

2.4.6. Pengolahan dan Analisis Data ... 23

2.5. Pelaksana (Organisasi) Surveilans CRS ... 23

2.5.1. Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI ... 23

2.5.2. Dinas Kesehatan Provinsi ... 23

2.5.3. Rumah Sakit Sentinel ... 23

2.5.4. Laboratorium Nasional Campak-Rubella ... 23

2.6. Peran Tim Surveilans CRS di RS ... 25

2.6.1. Peran Koordinator RS: ... 25

2.6.2. Peran Contact Person RS: ... 26

2.6.3. Peran Koordinator Data RS CRS: ... 26

2.6.4. Peran Dinas Kesehatan Provinsi ... 28

2.6.5. Peran Laboratorium Nasional Campak-Rubella ... 30

(13)

BAB III ... 33

PEMBERIAN NOMOR EPID ... 33

3.1. Tujuan pemberian nomor EPID ... 33

3.2. Pemberi nomor EPID ... 33

3.3. Tata Cara Pemberian Nomor EPID Kasus CRS ... 34

BAB IV ... 35

PEMANTAUAN DAN EVALUASI ... 35

4.1. Pemantauan ... 35

4.2. Evaluasi ... 35

4.3. Indikator Kinerja ... 36

BAB V ... 39

JEJARING KERJA LABORATORIUM ... 39

5.1. Peranan dan Fungsi Laboratorium... 39

5.2. Pengambilan, Penyimpanan dan Pengiriman Spesimen CRS ... 39

5.2.1. Pengambilan Spesimen ... 39

5.2.2. Penyimpanan Spesimen ... 40

5.2.3. Pengiriman Spesimen ... 40

5.3. Pemberian Nomor Spesimen CRS ... 42

5.4. Pelaporan Hasil ... 42

5.5. Laboratorium Nasional dan Wilayah Pelayanan Pemeriksaan Spesimen CRS... 43

5.6. Interpretasi Hasil Pemeriksaan Laboratorium ... 44

(14)
(15)

DAFTAR GRAFIK

Grafik 1. Ekskresi virus rubella pada bayi dan anak dengan CRS ... 2 Grafik 2. Distribusi Campak Pasti dan Rubella Pasti Berdasarkan Bulan Di

(16)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Manifestasi klinis CRS ... 10 Table 2. Jenis pemeriksaan untuk penetapan diagnosis suspek CRS ... 10 Tabel 3. Clinical Pathway (Penegakan Diagnosis) Kasus CRS ... 15

(17)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Respon imun infeksi rubella terhadap ibu dan bayi(Chantler et al.

1982) ... 12

Gambar 2. Diagram Alur Penentuan Kasus CRS pada Bayi Usia < 6 Bulan ... 13

Gambar 3. Diagram Alur Penentuan Kasus CRS pada Bayi Usia 6 - <12 bulan ... 14

Gambar 4. Diagram Alur Pelaksanaan Surveilans CRS di RS ... 18

Gambar 5. Diagram Alur Pelaporan Surveilans CRS ... 19

Gambar 6. Alur Pengambilan Spesimen Suspek CRS < 6 bulan ... 23

Gambar 7. Alur Pengambilan Spesimen Suspek CRS 6 - <12 bulan ... 23

Gambar 8. Pengepakan tabung serum dimana satu tabung serum dimasukkan ke dalam satu plastik ziplock yang sudah berisi absorban ... 41

Gambar 9. Kontainer plastik yang berisi tabung serum dimasukkan ke dalam specimen carrier dan formulir permintaan pemeriksaan dimasukkan ke dalam kantong plastik terpisah dengan spesimen dan diletakkan di bagian atas specimen carrier ... 42

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Formulir Investigasi Kasus Congenital Rubella Syndrome (Form.CRS1) ... 45 Lampiran 2. Formulir Pemantauan Dan Evaluasi Surveilans Congenital

Rubella Syndrome (Form. Crs2) ... 48 Lampiran 3. Form List Kasus CRS ... 53 Lampiran 4. Formulir Retrospektif Surveilans Congenital Rubella Syndrome

(CRS) ... 58 Lampiran 5. Formulir Pengiriman Spesimen Ke Laboratorium Nasional

(19)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Congenital Rubella Syndrome (CRS) adalah suatu kumpulan gejala akibat

infeksi virus rubella selama kehamilan. Virus rubella termasuk dalam famili

togaviridae dengan genus rubivirus. Virus rubella umumnya menyebabkan

penyakit yang ringan, 50% orang yang terinfeksi rubella tidak terdiagnosis. Namun bila infeksi rubella terjadi pada masa kehamilan, virus rubella dapat menembus sawar placenta dan menginfeksi janin. Akibat hal tersebut dapat terjadi gangguan pertumbuhan janin, antara lain: abortus, lahir mati atau cacat berat kongenital (birth defects) apabila bayi tetap hidup. Risiko infeksi dan cacat kongenital paling besar terjadi selama trimester pertama kehamilan. Bayi dengan CRS biasanya menunjukkan satu atau lebih gejala berupa gangguan pendengaran, kelainan mata, kelainan jantung, retardasi mental dan cacat seumur hidup lainnya. Gangguan pendengaran adalah kelainan tunggal yang paling sering. (WHO

Weekly Epidemiological Record, No. 29, 2011, 301-316)

Virus rubella ditularkan melalui droplet saluran pernapasan saat batuk atau bersin. Bayi dengan CRS masih dapat mengekskresi virus rubella melalui urin dan sekret nasofaring sampai usia 27 bulan, namun sebagian besar sudah habis sebelum usia 1 tahun (WHO, 2011). Virus bisa ditemukan di sekret nasofaring sebanyak 84% pada bayi dengan CRS pada bulan pertama kehidupannya, kemudian menurun menjadi sekitar 62% pada umur 1 – 4 bulan; 33% pada umur 5-8 bulan, 11% pada umur 9 – 12 bulan, dan hanya sekitar 3% pada tahun ke dua kehidupannya (Cooper 1967).

Bayi dengan CRS bersifat infeksius sehingga maka prosedur isolasi harus dipertimbangkan dengan seksama, terutama bagi bayi-bayi yang menjalani perawatan. (Benenson 1995). Perlu diwaspadai juga bagi petugas kesehatan yang merawat kasus CRS dapat tertular dan menularkan rubella kepada orang lain dan menyebabkan terjadinya KLB (WHO, 2011). Petugas kesehatan yang boleh

(20)

kontak dengan bayi-bayi ini sebaiknya adalah petugas yang telah dipastikan kebal terhadap infeksi rubella. Tindakan pencegahan ini sangat penting, khususnya terhadap wanita hamil yang tidak mempunyai kekebalan.

Grafik 1. Ekskresi virus rubella pada bayi dan anak dengan CRS

Kejadian CRS dapat dicegah dengan pemberian imunisasi rubella dan pengendalian penularan melalui isolasi. Kasus CRS pertama kali dilaporkan pada tahun 1941 oleh Norman Greg, dokter spesialis mata Australia, yang menemukan katarak bawaan pada 78 bayi yang ibunya mengalami infeksi rubella di awal kehamilannya. Ibu yang mengalami infeksi rubella pada minggu 1-10 kehamilan akan melahirkan 90% bayi dengan CRS. Risiko terjadinya CRS menurun dengan semakin meningkatnya usia kehamilan ibu, yaitu bila infeksi rubella terjadi pada minggu 11-12: 33% bayi terkena CRS, minggu 13-14: 11% bayi terkena CRS , minggu 15-16: 24% bayi terkena CRS dan minggu ≥ 17: 0%. (Miller E Lancet 1982)

Sebelum dilakukan imunisasi rubella, insidens CRS adalah 0,1-0,2/1000 kelahiran hidup. Estimasi tahun 2008 menunjukkan bahwa beban CRS tertinggi adalah di Asia Tenggara (sekitar 48%) dan Afrika (sekitar 38%). Berdasarkan data dari WHO, setiap tahun terjadi 236 kasus CRS di negara berkembang dan meningkat 10 kali lipat saat terjadi epidemi. (WHO, 2016) Hasil study cost benefit

10

Pedoman Surveilans CRS 2018 Grafik 1. Ekskresi virus rubella pada bayi dan anak dengan CRS

Kejadian CRS dapat dicegah dengan pemberian imunisasi rubella dan pengendalian penularan melalui isolasi. Kasus CRS pertama kali dilaporkan pada tahun 1941 oleh Norman Greg, dokter spesialis mata Australia, yang menemukan katarak bawaan pada 78 bayi yang ibunya mengalami infeksi rubella di awal kehamilannya. Ibu yang mengalami infeksi rubella pada minggu 1-10 kehamilan akan melahirkan 90% bayi dengan CRS. Risiko terjadinya CRS menurun dengan semakin meningkatnya usia kehamilan ibu, yaitu bila infeksi rubella terjadi pada minggu 11-12: 33% bayi terkena CRS, minggu 13-14: 11% bayi terkena CRS , minggu 15-16: 24% bayi terkena CRS dan minggu ≥ 17: 0%. (Miller E Lancet 1982)

Sebelum dilakukan imunisasi rubella, insidens CRS adalah 0,1-0,2/1000 kelahiran hidup. Estimasi tahun 2008 menunjukkan bahwa beban CRS tertinggi adalah di Asia Tenggara (sekitar 48%) dan Afrika (sekitar 38%). Berdasarkan data dari WHO, setiap tahun terjadi 236 kasus CRS di negara berkembang dan meningkat 10 kali lipat saat terjadi epidemi. (WHO, 2016) Hasil study cost benefit analysis yang dilakukan oleh Prof.Soewarta Koesen, Badan Litbangkes tahun 2015, tentang estimasi cost-effectiveness introduksi vaksin Rubella (Measles-Rubella/MR vaccine) ke dalam program imunisasi rutin nasional, diperkirakan insiden CRS per tahun 0,2 /1000 bayi lahir hidup. Pada tahun 2015 terdapat 979 kasus CRS baru (dari 4.89 juta bayi lahir hidup).

Virus bisa ditemukan di sekret nasofaring :

• Usia 1 bln : 84% • Usia 1 – 4 bln : 62 % • Usia 5 – 8 bln : 33 % • Usia 9 – 12 bln : 11 % • Usia > 12 bln : 3% (Cooper 1967).

Wanita hamil tidak boleh terpapar bayi dengan CRS

(21)

analysis yang dilakukan oleh Prof.Soewarta Koesen, Badan Litbangkes tahun 2015, tentang estimasi cost-effectiveness introduksi vaksin Rubella (Measles-Rubella/MR vaccine) ke dalam program imunisasi rutin nasional, diperkirakan insiden CRS per tahun 0,2 /1000 bayi lahir hidup. Pada tahun 2015 terdapat 979 kasus CRS baru (dari 4.89 juta bayi lahir hidup).

Kasus CRS dapat dicegah dengan imunisasi rubella. Tujuan utama pemberian imunisasi rubella adalah untuk mencegah terjadinya CRS. Imunisasi yang tersedia saat ini adalah MR atau MMR. Jenis virus vaksin MR dan MMR adalah virus hidup yang dilemahkan (live attenuated) RA 27/3 strain virus rubella. Saat ini belum tersedia jenis inactivated vaccine, oleh karena itu tidak boleh diberikan pada ibu hamil. Secara teori, ibu hamil tidak boleh diberikan imunisasi rubella, tetapi belum pernah ada data yang menunjukkan efek teratogenik (mempunyai risiko yang berdampak kerusakan pada janin). Advisory Committee on

Immunization Practices (ACIP) merekomendasikan untuk menunda kehamilan

dalam kurun waktu 28 hari setelah menerima imunisasi rubella.

Pada tahun 2016, sebanyak 152 negara telah mengintegrasikan imunisasi rubella ke dalam program imunisasi rutin. Vaksin yang tersedia saat ini pada program imunisasi rutin di Indonesia adalah Measles Rubella (MR) yang diberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan dan kelas 1 SD/Madrasah/ Sederajat. Cakupan imunisasi rutin MR harus tinggi yaitu minimal 95% dan merata agar terbentuk kekebalan kelompok sehingga kelompok usia lainnya, termasuk ibu hamil pun turut terlindungi. Pemberian satu dosis imunisasi rubella dapat memberikan kekebalan serupa dengan infeksi rubella secara alamiah, yaitu diasumsikan akan bertahan seumur hidup (WHO Fact Sheet 2018). Kekebalan akan terbentuk dalam waktu 21 – 28 hari setelah pemberian imunisasi rubella dengan efikasi vaksin lebih dari 95%.

Hasil study cost benefit analysis yang dilakukan oleh Badan Litbangkes tahun 2015 tentang estimasi cost-effectiveness introduksi vaksin Rubella

(Measles-Rubella/MR vaccine) ke dalam program imunisasi rutin nasional menunjukkan

bahwa pemberian imunisasi MR sangat cost- effective (Koesen, 2015). Studi ini menemukan bahwa kerugian makro ekonomi akibat penyakit CRS diperkirakan mencapai Rp 1.09 triliun dan biaya per DALY imunisasi MR dibandingkan dengan tidak imunisasi sebesar Rp 26.598.238 (Koesen, 2015).

(22)

Berdasarkan Rencana Jangka Menengah Program Imunisasi di Indonesia (2015 – 2019), imunisasi rubella mulai diintegrasikan secara bertahap ke dalam program imunisasi rutin pada tahun 2017 - 2018, diawali dengan kampanye imunisasi MR pada sasaran usia 9 bulan – <15 tahun. (Petunjuk Teknis Kampanye dan Introduksi Imunisasi Measles dan Rubella, 2017). Hasil kampanye imunisasi MR fase pertama di 6 provinsi

di Pulau Jawa mencapai cakupan 100,98% dan dampak dari cakupan tersebut menunjukkan adanya korelasi terhadap penurunan kasus campak-rubella di Pulau Jawa.

Grafik 2. Distribusi Campak Pasti dan Rubella Pasti Berdasarkan Bulan

Di Provinsi Jawa Barat, 2017

Untuk melihat dampak jangka panjang pelaksanaan program imunisasi MR maka dilakukan Surveilans CRS. Buku ini dibuat sebagai pedoman bagi tim pelaksana surveilans CRS di RS dan Dinas Kesehatan Provinsi.

1.2. Tujuan

1.2.1. Tujuan Umum

Diketahuinya gambaran kejadian kasus CRS di Indonesia.

1.2.2. Tujuan Khusus

(23)

- Terlaksananya deteksi dan isolasi bayi dengan CRS secara cepat dan terintegrasi;

- Tersedianya analisis data CRS untuk melengkapi base line data sebagai bahan advokasi pelaksanaan imunisasi rubella; - Tersedianya analisis data CRS untuk mengetahui dampak

imunisasi rubella;

- Terdiseminasinya hasil analisis/informasi kepada unit terkait;

1.3. Kebijakan dan Strategi

1.3.1. Dasar Hukum

- Undang- Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular

- Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan - Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991 tentang

Penanggulangan Wabah Penyakit Menular

- Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1501/Menkes/

Per/X/2010 tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu yang Dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangan

- Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 45 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Surveilans Kesehatan

- Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2014 tentang Penyakit Tidak Menular

- Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 12 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Imunisasi

1.3.2. Kebijakan

Melaksanakan surveilans CRS sentinel di RS.

1.3.3. Strategi CRS

- Menetapkan RS sentinel CRS - Menetapkan tim CRS di RS sentinel

- Menetapkan koordinator data di RS sentinel - Menetapkan clinical pathway CRS di RS

(24)

campak-rubella atau laboratorium RS yang telah terakreditasi (ISO atau JCI)

- Pelaporan CRS berbasis Web

1.4. Penetapan Daerah Sentinel

Untuk mengetahui beban penyakit (disease burden) CRS maka dibangun sistem surveilans CRS yang dilakukan melalui pelaksanaan surveilans di RS pada bayi dengan cacat kongenital dan dilakukan di bagian Anak (jantung, tumbuh kembang, neonatologi, neurologi, infeksi), bagian mata, dan bagian THT.

Kriteria pemilihan lokasi surveilans sentinel CRS adalah sebagai berikut: - Provinsi yang dipilih mayoritas adalah provinsi dengan jumlah

penduduk yang cukup besar sehingga diharapkan kunjungan penderita CRS cukup bermakna;

- Rumah sakit yang dipilih adalah rumah sakit yang memiliki kriteria sebagai berikut:

l Rumah Sakit Umum Pusat dan/atau RS pendidikan, yang merupakan rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan.

l Memiliki SDM yang dapat mendukung pelaksanaan surveilans CRS (tim pelaksana surveilans CRS minimal terdiri dari: Divisi Anak, Divisi Kardiologi Anak, Divisi THT, Divisi Mata, Divisi Mata Anak dan Laboratorium)

l Memiliki fasilitas pelayanan kesehatan yang dapat mendukung pelaksanaan surveilans CRS dan dapat melakukan pemeriksaan yang diperlukan untuk skrining dan diagnosis kasus CRS (lihat tabel 2).

Penyelenggaraan surveilans CRS dilakukan melalui sistem surveilans sentinel di RS yang telah ditentukan untuk mendapatkan signal masalah beban penyakit (disease burden) CRS. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi adanya masalah CRS tersebut dan kecenderungannya berdasarkan waktu. Data surveilans CRS juga dapat digunakan sebagai alat advokasi untuk

(25)

mendapatkan dukungan yang kuat dari pemerintah dalam program pengendalian rubella di Indonesia. Pada saat ini telah ditetapkan 13 RS sentinel berdasarkan kriteria tersebut (terlampir), jumlah RS sentinel dapat berubah sesuai perkembangan.

1.5. Pelaksana Surveilans CRS

- Tim pelaksana surveilans CRS di RS yaitu dokter Spesialis Anak, Spesialis Jantung Anak, Spesialis Infeksi dan Penyakit Tropik Anak, Spesialis Neonatologi, Spesialis Neurologi Anak, Spesialis Tumbuh Kembang Anak, Spesialis THT, Spesialis Mata (terutama Spesialis Mata Anak), Spesialis Patologi Klinik, perawat RS, petugas laboratorium RS, petugas rekam medis RS, dan koordinator data CRS RS;

- Petugas surveilans PD3I di provinsi;

(26)
(27)

BAB II

KEGIATAN SURVEILANS

Kegiatan surveilans CRS dilakukan melalui dua kelompok yaitu: 1. Bayi (dengan cacat kongenital);

2. Ibu hamil, melalui pemantauan ibu hamil yang terinfeksi atau dicurigai terinfeksi rubella

Namun saat ini pelaksanaan surveilans CRS hanya dilakukan pada bayi (dengan cacat bawaan lahir).

Saat ini surveilans CRS yang dilaksanakan di Indonesia

baru melalui deteksi pada bayi usia <12 bulan

2.1. Definisi kasus

(WHO-recommended standards for surveillance of selected VPDs,2008) Klasifikasi kasus CRS dibedakan menjadi:

1. Suspek CRS 2. CRS klinis 3. CRS pasti

Untuk mendiagnosis kasus CRS perlu diketahui kumpulan manifestasi klinis yang dibagi dalam dua kelompok besar yaitu kelompok A dan kelompok B.

(28)

Tabel 1. Manifestasi klinis CRS

KELOMPOK A KELOMPOK B

Gangguan pendengaran Purpura

Splenomegali

Mikrosefali Retardasi mental Meningoensefalitis Kelainan “Radiolucent bone”

Ikterik yang muncul dalam waktu 24 jam setelah lahir Penyakit jantung kongenital*

Katarak atau Glaukoma kongenital**

Pigmentary retinopathy

Catatan:

*Penyakit jantung kongenital yang termasuk ke dalam kriteria suspek CRS adalah minimal salah satu dari:

1. Patent Ductus Arteriosus (PDA),

Khusus PDA pada bayi prematur jika PDA tidak menutup spontan sampai bayi berusia 2 bulan, maka dikategorikan suspek CRS.

2. Pulmonary Stenosis (PS) 3. Atrial Septal Defect (ASD) 4. Ventricular Septal Defect (VSD)

***Satu atau keduanya dihitung sebagai satu

Table 2. Jenis pemeriksaan untuk penetapan diagnosis suspek CRS

JANTUNG MATA THT

Ekokardiografi Slit Lamp OAE

Jika pada bayi risiko tinggi pemeriksaan OAE menunjukkan hasil “refer” maka langsung dikategorikan suspek CRS dan dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium.

Jika bukan pada bayi risiko tinggi, perlu dilakukan pemeriksaan OAE kedua dengan jarak minimal 1 bulan kemudian. Jika pemeriksaan OAE kedua menunjukkan hasil “refer” maka dikategorikan suspek CRS dan dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium

EKG Funduskopi indirek

(atau wide field Retinal Imaging/RetCam, bila tersedia)

(29)

2.1.1. Suspek CRS

Bayi berusia <12 bulan dan memiliki minimal satu manifestasi klinis dari kelompok A.

2.1.2. CRS klinis

Bayi berusia <12 bulan dengan:

- Dua (2) manifestasi klinis dari kelompok A; atau

- Satu (1) manifestasi klinis dari kelompok A dan satu (1) manifestasi klinis dari kelompok B Yang tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium.

2.1.3. CRS Pasti

Kasus suspek CRS dengan pemeriksaan laboratorium menunjukkan hasil salah satu diantara berikut:

- jika usia bayi <6 bulan: IgM rubella positif - jika usia bayi 6 bulan - <12 bulan:

l IgM dan IgG rubella positif; atau

l IgG dua kali pemeriksaan (dengan selang waktu 1 bulan) positif sesuai standar laboratorium yang terakreditasi (WHO atau ISO atau JCI)

2.1.4. Bukan CRS (Discarded CRS)

Suspek CRS yang tidak memenuhi kriteria CRS klinis dan tidak memenuhi kriteria CRS pasti.

2.1.5. CRI (Congenital Rubella Infection/ Infeksi rubella kongenital)

Bayi berusia <12 bulan tanpa gejala klinik CRS, dalam pemeriksaan laboratorium positif IgM rubella.

Jika pada RS sentinel ditemukan bayi berusia <12 bulan tanpa gejala klinik CRS, dalam pemeriksaan laboratorium positif IgM rubella, maka selanjutnya dilakukan pemantauan hingga bayi berusia 12 bulan. Apabila didapatkan minimal satu manifestasi klinis dari kelompok A maka bayi dikategorikan sebagai CRS pasti dan dilaporkan.

(30)

100 100 50 50 0 0 Immunology of Rubella Ma te rna l Ant ibody (%) (% of Ma ternal) Fetal and In fan t An tibody TRISMESTER 1 st 2 nd 3 nd 6 12 MONTHS Birth Mat erna l Ig G Ig M Infant Ig G Inf IgM

Mat IgG Inf IgM Inf IgM Inf IgG OR No Ab Tg G Ig M

2.2. Algoritma Klasifikasi Kasus CRS

Mekanisme respon kekebalan pada CRS berbeda dengan yang terjadi pada rubella atau penyakit virus lain. Saat dilahirkan serum bayi dengan CRS mengandung IgG spesifik yang dibawa dari ibunya disamping antibodi IgG dan IgM yang dibentuk dari tubuhnya sendiri. IgG spesifik rubella maternal ini juga bisa ditemukan pada bayi normal yang dilahirkan dari ibu yang telah kebal terhadap rubella. Karenanya, untuk mendiagnosis infeksi rubella congenital pada bayi, dipakai IgM spesifik rubella. Produksi IgM oleh bayi paling cepat timbul pada trimester kedua saat usia kehamilan 20 minggu (Murray 2007). Pada bayi dengan CRS, IgM spesifik rubella bisa dideteksi hampir 100% pada umur 0 – 5 bulan; sekitar 60% pada umur 6 – 12 bulan; dan sekitar 40% pada umur 12 – 18 bulan; IgM jarang terdeteksi lagi bila anak telah berusia 18 bulan atau lebih (Chantler et al. 1982).

Gambar 1. Respon imun infeksi rubella terhadap ibu dan bayi(Chantler et al. 1982)

Karena timbulnya reaksi imunitas pada bayi dengan CRS mempunyai karakteristik yang khas (seperti dijelaskan di sub bab imunologi), diagram alur penentuan kasus CRS dibedakan menurut umur saat kasus itu ditemukan, yaitu: <6 bulan dan umur 6 bulan - <12 bulan

IgM spesifik rubella pada bayi dengan CRS : • Umur 0 – 5 bulan = 100% • Umur 6 – 12 bulan = 60% • Umur 12 – 18 bulan = 40% • Umur >18 bulan, jarang ditemukan IgM Chantler et al. 1982)

(31)

Gambar 2. Diagram Alur Penentuan Kasus CRS pada Bayi Usia < 6 Bulan * Sangat dicurigai CRS bila :

- Ibu penderita pernah terinfeksi rubela selama kehamilan (klinis atau lab positif)

- Ibu penderita pernah kontak dg penderita rubela selama kehamilan - Dokter meyakini sebagai rubela

Bayi berusia < 1 bulan dengan manifestasi CRS yang pemeriksaan laboratoriumnya negatif maka harus dilakukan pemeriksaan IgM kedua dengan jarak 1 bulan atau maksimal sampai bayi berusia 6 bulan, karena setidaknya pada 20% bayi yang terinfeksi, IgM rubella tidak dapat terdeteksi sampai usia 1 bulan (CDC, 2012 )

Selama spesimen kedua belum diperiksa, maka kasus dinyatakan pending maksimal sampaibayi berusia <6 bulan. Bila sampai batas waktu tersebut spesimen darah kedua belum diperiksa, maka kasus diklasifikasikan sesuai alur pada gambar 3.

Sedangkan bila suspek kasus CRS ditemukan pada usia 6 - <12 bulan, maka diagram alur penentuan klasifikasinya adalah sebagai berikut:

CRS pasti jika IgG dua kali pemeriksaan (dengan selang

waktu minimal 1 bulan

)

memiliki hasil positif

19

Pedoman Surveilans CRS 2018

Gambar 2. Diagram Alur Penentuan Kasus CRS pada Bayi Usia < 6 Bulan

Bayi berusia < 1 bulan dengan manifestasi CRS yang pemeriksaan laboratoriumnya negatif maka harus dilakukan pemeriksaan IgM kedua dengan jarak 1 bulan atau maksimal sampai bayi berusia 6 bulan, karena setidaknya pada 20% bayi yang terinfeksi, IgM rubella tidak dapat terdeteksi sampai usia 1 bulan (CDC, 2012 )

Selama spesimen kedua belum diperiksa, maka kasus dinyatakan pending maksimal sampai bayi berusia <6 bulan. Bila sampai batas waktu tersebut spesimen darah kedua belum diperiksa, maka kasus diklasifikasikan sesuai alur pada gambar 3.

Sedangkan bila suspek kasus CRS ditemukan pada usia 6 - <12 bulan, maka diagram alur penentuan klasifikasinya adalah sebagai berikut:

*Sangat dicurigai CRS bila :

- Ibu penderita pernah terinfeksi rubela selama kehamilan (klinis atau lab positif)

- Ibu penderita pernah kontak dg penderita rubela selama kehamilan - Dokter meyakini sebagai rubela

(32)

Suspect CRS Usia 6-12 bulan

Tidak memenuhi kriteria CRS

Sampel darah ke-2 tidak diambil Sampel darah ke-2

tidak diambil

IgG+ dan

IgM-Sampel darah ke-2 diambil

IgG+ dan IgM+

Sampel darah diambil IgG- dan

IgM+/IgM-CRS pasti Bukan CRS IgG-Bukan CRS IgG+ Memenuhi Kriteria klinis CRS Bukan CRS CRS klinis Sampel darah tidak diambil

Bayi berusia 6 - <12 bulan dengan hasil IgM negatif (IgM -) dan IgG

positif (IgG +) harus dilakukan pemeriksaan IgG kedua dengan jarak

minimal 1 bulan

Bila sampai bayi berusia 12 bulan sampel darah kedua belum diperiksa, maka kasus diklasifikasikan sesuai alur pada gambar 4.

2.3. Clinical Pathway (Penegakan Diagnosis) Kasus CRS

Clinical Pathway (CP) kasus CRS dibuat untuk menentukan diagnosis

dan memberikan rincian rencana tata laksana hari demi hari dengan standar pelayanan yang dianggap sesuai yang harus dilakukan pada kondisi klinis tertentu.

Berikut adalah CP untuk kasus CRS yang secara keseluruhan perjalanan penyakitnya sangat bervariasi, namun pada pelaksanaannya CP dapat disesuaikan oleh masing- masing RS sentinel.

(33)

Tabel 3. Clinical Pathway (Penegakan Diagnosis) Kasus CRS KEGIATAN

HARI 1 1 MINGGU 2 MINGGU - DST

Dokter Spesailis

Anak - diagnosisKonfirmasi

- Edukasi Awal

- Pemeriksaan lab

- Pelacakan kelainan yang ada,

melakukan konsultasi ke: * Poli Jantung Anak, dan atau * Poli Mata Anak, dan atau * Poli THT

dan

* Poli Infeksi Anak

- Skrining tumbuh kembang - Konsultasi dan program fisioterapi

- Kontrol Dokter Spesialis Anak Subspesialis Neonatologi - Konfirmasi diagnosis - Edukasi Awal - Pemeriksaan lab

- Pelacakan kelainan yang ada, melakukan konsultasi ke: * Poli Jantung Anak, dan atau * Poli Mata Anak, dan atau * Poli THT

dan

* Poli infeksiAnak

- Skrining tumbuh kembang - Konsultasi dan program fisioterapi

- Kontrol Dokter Spesialis Anak Subspesialis CardioloqiAnak - Konfirmasi diagnosis - Edukasi Awal - Pemeriksaan lab

- Melakukan skrining kelainan jantung :

px foto thorax dan EKG - Melakukan ekokardiografi - Pelacakan kelainan yang ada, melakukan konsultasi ke: * Poli Mata Anak, dan atau * Poli THT

dan

* Poli infeksiAnak

- Skrining tumbuh kembang - Konsultasi dan program fisioterapi

- Perencanaan operasi jantung

jika ada indikasi dan memungkinkan Dokter Spesai lis Anak Subspesialis Infeksi dan Penyakit Tropis - Konfirmasi diagnosis - Edukasi Awal

- Pemeriksaan lab

- Pelacakan kelainan yang ada, melakukan konsultasi ke: * Poli Jantung Anak, dan atau * Poli Mata Anak, dan atau * Poli THT

- Skrining tumbuh kembang - Konsultasi dan program fisioterapi

- Kontrol Dokter Spesialis Anak Subspesialis Neurologi Anak - Konfirmasi diagnosis - Edukasi Awal - Pemeriksaan lab - Pelacakan kelainan yang ada, melakukan konsultasi ke: * Poli Jantung Anak,dan atau * Poli Mata Anak, dan atau * Poli THT dan * Poli infeksi Anak - Kontrol

(34)

Dokter Spesialis Anak Subspesialis Neurologi Anak - Konfirmasi diagnosis - Edukasi Awal - Pemeriksaan lab - Skrining tumbuh kembang

- Konsultasi dan program fisioterapi - Pelacakan kelainan yang ada, melakukan konsultasi ke: * Poli Jantung Anak,dan atau * Poli Mata Anak,dan atau * Poli THT dan * Poli infeksi Anak - Skrining tumbuh kembang

- Konsultasi dan program fisioterapi

- Kontrol Dokter Spesialis Anak Subspesialis Tumbuh Kembang - Konfirmasi diagnosis - Edukasi Awal - Pemeriksaan lab - Pelacakan kelainan yang ada, melakukan konsultasi ke: * Poli Jantung Anak, dan atau * Poli Mata Anak, dan atau * Poli THT dan * Poli infeksi Anak - Skrining tumbuh kembang - Konsultasi dan program fisioterapi - Kontrol Dokter Spesialis Mata - dKiaognfirmnosisasi - Edukasi Awal - Pemeriksaan lab - Melakukan skrining kelainan mata : pemeriksaan segmen anterior (kejernihan lensa,tanda klinis glaucoma kongenital), dan pemeriksaan fundus memakai oftalmoskop indirek untuk

mendeteksipigmentary retinopathy

(gambaran salt pepper appearance) - Pelacakan kelainan yang ada, melakukan konsultasi ke: * Poli Jantung Anak, dan atau * Poli THT dan * Poli infeksi Anak - Perencanaan operasi mata (bedah katarak atau glaukoma, bergantung kelainan mata yang ada.) - Rehabilitasi visual pasca bedah, mencapai visus seoptimal mungkin - jika ada indikasi dan memungkinkan Dokter Spesialis THT - dKiagonfirmnosisasi - Edukasi Awal - Pemeriksaan lab - Melakukan skrining pendengaran (OAE)

atau refleks primitif (jika OAE tidak ada)

- Pelacakan kelainan yang ada, melakukan konsultasi ke: * Poli Jantung Anak,dan atau * Poli Mata Anak dan * Poli infeksi Anak - Perencanaan terapi gangguan pendengaran Dokter Spesialis Patologi Klinik - Konfirmasi

(35)

2.4. Pelaksanaan Surveilans CRS

2.4.1. Penemuan Kasus

Pada umumnya kasus CRS datang ke RS sesuai keluhan yang ada ke divisi Anak (jantung, tumbuh kembang, neurologi, neonatologi, infeksi), divisi THT dan divisi Mata (mata anak). Dokter yang ada di divisi tersebut bertanggung jawab melaporkan setiap suspek CRS ke koordinator di masing-masing unit.

2.4.2. Tata Laksana Surveilans CRS

Semua suspek CRS akan dilakukan tata laksana surveilans CRS yang meliputi :

l Dokter yang pertama menemukan kasus melakukan : 1. Pencatatan pada form CRS1

2. Mengambil spesimen darah 1 cc (merujuk ke laboratorium RS) 3. Melakukan pemeriksaan adanya kelainan pada jantung, mata,

THT atau kelainan minor lainnya (konsultasi kasus ke divisi/KSM Anak, THT dan Mata)

4. Menghubungi Koordinator Data dan atau Koordinator Tim CRS RS

l Koordinator data melakukan :

1. Memastikan kasus telah diperiksa di setiap divisi Anak, THT dan Mata

2. Memastikan form CRS1 telah dilengkapi

3. Memastikan kasus telah diambil spesimen serum

4. Memastikan spesimen serum telah diperiksa serologi di laboratorium RS (jika laboratorium RS telah terakreditasi)

5. Berkoordinasi dengan petugas surveilans PD3I provinsi untuk pengiriman spesimen serum ke laboratorium nasional campak-rubella (jika belum diperiksa di laboratorium RS) dan pengambilan dan pemeriksaan spesimen darah kedua (jika diperlukan)

6. Pelaporan menggunakan web PD3I atau form list CRS1

7. Berkoordinasi dengan Koordinator Tim CRS RS untuk klasifikasi kasus

(36)

18

Pada umumnya kasus CRS datang ke RS sesuai keluhan yang ada ke divisi Anak (jantung, tumbuh kembang, neurologi, neonatologi, infeksi), divisi THT dan divisi Mata (mata anak).

Setiap suspek CRS dilakukan tata laksana surveilans CRS

Gambar 4. Diagram Alur Pelaksanaan Surveilans CRS di RS

2.4.3. Surveilans Aktif Rumah Sakit

Surveilans Aktif RS bertujuan untuk mengantisipasi kasus CRS yang lolos dari pemantauan, dengan melakukan pengecekan tehadap register di unit yang berpotensi menemukan kasus.

Surveilans CRS di rumah sakit dapat dilakukan secara tersendiri atau terintegrasi dengan surveilans AFP & PD3I lainnya.

- Lokasi pengamatan

Pengumpulan data Surveilans Aktif RS khusus CRS dilakukan di semua bagian rumah sakit yang merawat anak berusia <12 bulan, seperti: Instalasi Rawat Inap dan Instalasi Rawat Jalan Anak; Instalasi Rawat Inap dan Instalasi Rawat Jalan Syaraf; Instalasi NICU/PICU; Instalasi Rawat Darurat; dan Instalasi lainnya yang merawat anak usia <12 bulan.

24

Pedoman Surveilans CRS 2018

Gambar 4. Diagram Alur Pelaksanaan Surveilans CRS di RS

2.4.3. Surveilans Aktif Rumah Sakit

Surveilans Aktif RS bertujuan untuk mengantisipasi kasus CRS yang lolos dari pemantauan,

dengan melakukan pengecekan tehadap register di unit yang berpotensi menemukan kasus.

Surveilans CRS di rumah sakit dapat dilakukan secara tersendiri atau terintegrasi dengan

surveilans AFP & PD3I lainnya.

 Lokasi pengamatan

Pengumpulan data Surveilans Aktif RS khusus CRS dilakukan di semua bagian rumah sakit

yang merawat anak berusia <12 bulan, seperti: Instalasi Rawat Inap dan Instalasi Rawat

Jalan Anak; Instalasi Rawat Inap dan Instalasi Rawat Jalan Syaraf; Instalasi NICU/PICU;

Instalasi Rawat Darurat; dan Instalasi lainnya yang merawat anak usia <12 bulan.

 Pelaksana

Surveilans Aktif RS dilaksanakan oleh:

 Petugas surveilans provinsi

 Koordinator data dan contact persons surveilans CRS RS.

Petugas surveilans provinsi berkewajiban melakukan review register minimal 1 bulan

sekali. Tanggung jawab pelaksanaan Surveilans Aktif RS sepenuhnya berada di

(37)

- Pelaksana

Surveilans Aktif RS dilaksanakan oleh: l Petugas surveilans provinsi

l Koordinator data dan contact persons surveilans CRS RS.

Petugas surveilans provinsi berkewajiban melakukan review

register minimal 1 bulan sekali. Tanggung jawab pelaksanaan

Surveilans Aktif RS sepenuhnya berada di provinsi

- Frekuensi pengamatan/pengumpulan data l Setiap bulan bagi petugas surveilans provinsi

l Setiap hari bagi koordinator data surveilans CRS RS.

2.4.4. Pencatatan dan Pelaporan

Semua suspek CRS dicatat dalam formulir CRS1 (lampiran 1). Semua variable dalam formulir tersebut harus terisi secara lengkap. Selanjutnya jika formulir CRS sudah terisi dengan lengkap, koordinator data memasukkan data ke web PD3I. Bila sistem web PD3I tidak berfungsi, data CRS yang telah diinput ke dalam form list CRS dan dilaporkan ke petugas surveilans PD3I dinas kesehatan provinsi pada tanggal 15 setiap bulannya (termasuk laporan nihil), dan ditembuskan ke petugas surveilans PD3I Pusat melalui email [email protected].

Gambar 5. Diagram Alur Pelaporan Surveilans CRS

 Frekuensi pengamatan/pengumpulan data

 Setiap bulan bagi petugas surveilans provinsi

 Setiap hari bagi koordinator data surveilans CRS RS.

2.4.4. Pencatatan dan Pelaporan

Semua suspek CRS dicatat dalam formulir CRS1 (lampiran 1). Semua variable dalam formulir tersebut harus terisi secara lengkap. Selanjutnya jika formulir CRS sudah terisi dengan lengkap, koordinator data memasukkan data ke web PD3I. Bila sistem web PD3I tidak berfungsi, data CRS yang telah diinput ke dalam form list CRS dan dilaporkan ke petugas surveilans PD3I dinas kesehatan provinsi pada tanggal 15 setiap bulannya (termasuk laporan nihil), dan ditembuskan

ke petugas surveilans PD3I Pusat melalui email [email protected].

Gambar 5. Diagram Alur Pelaporan Surveilans CRS

KEMENKES RI PROVINSI KOORDINATOR CRS KOORDINATOR DATA RS LAB NAS MR Divisi/KSM THT Rujuk Lab RS, isi form CRS1 Divisi/KSM ANAK Rujuk Lab RS, isi form CRS1 Divisi/KSM MATA Rujuk Lab RS, isi form CRS1 KONSUL KONSUL SUSPEK CRS KONSUL FORM CRS1 SERUM & FORM CRS1 SERUM & FORM CRS1 SERUM & FORM CRS1 HASIL LAB HASIL LAB

(38)

Penemuan suspek CRS melibatkan banyak divisi di RS, sehingga sebaiknya di setiap divisi tersedia form investigasi CRS1. Apabila ada penderita suspek CRS, maka dokter di divisi dimana kasus tersebut ditemukan langsung mengisi form investigasi CRS1. Pengisian form berkoordinasi dengan koordinator data CRS. Sementara itu kasus dirujuk ke laboratorium RS untuk pengambilan spesimen dengan menggunakan form pengiriman spesimen (form spesimen). Jika laboratorium RS telah terakreditasi maka pemeriksaan spesimen dapat dilakukan di laboratorium di RS. Jika laboratorium RS belum terakreditasi maka untuk kepentingan klinisi sebagian spesimen dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium di RS, namun sisa spesimen serum disimpan di suhu 2-8oC sebelum diambil oleh petugas surveilans PD3I provinsi untuk dikirimkan ke laboratorium nasional campak – rubella.

Selanjutnya koordinator data memastikan kasus tersebut dikonsultasikan ke semua divisi lain ( Anak, THT dan Mata) sampai form CRS1 terisi lengkap. Jika spesimen diperiksa di laboratorium RS maka koordinator data juga memastikan hasil laboratorium telah diinput ke dalam form CRS1. Kemudian koordinator data menyerahkan form CRS1 tersebut ke Koordinator tim CRS. Koordinator tim CRS memverifikasi dan mengklasifikasi suspek kasus yang ditemukan pada form CRS1. Kemudian data diinput ke dalam web PD3I oleh koordinator data CRS.

Sementara itu, jika spesimen akan diperiksa di laboratorium nasional campak-rubella, maka koordinator data berkoordinasi dengan petugas surveilans PD3I provinsi untuk mengirimkan spesimen ke laboratorium nasional. Hasil pemeriksaan di laboratorium nasional akan langsung diinput ke dalam web PD3I dan dikirimkan melalui email ke koordinator data RS dan ditembuskan ke petugas surveilans PD3I provinsi dan Pusat ([email protected] ).

2.4.5. Pemeriksaan Spesimen Kasus CRS

l Anak usia <6 bulan hanya dilakukan pemeriksaan terhadap IgM l Anak usia 6 - <12 bulan pemeriksaan dilakukan terhadap IgM dan

IgG

Dilakukan pengambilan spesimen darah sebanyak minimal 1 cc agar mendapatkan serum untuk pemeriksaan IgM rubella. Spesimen diambil oleh laboratorium RS sesuai kesepakatan yang ditetapkan oleh masing-masing RS. Jika laboratorium RS telah

(39)

terakreditasi maka pemeriksaan spesimen dapat dilakukan di laboratorium di RS. Jika laboratorium RS belum terakreditasi maka untuk kepentingan klinisi sebagian spesimen dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium di RS, sementara sisanya disimpan pada suhu 2-80C. Spesimen yang telah disimpan akan dikirim ke laboratorium nasional campak-rubella untuk dilakukan pemeriksaan untuk kepentingan surveilans CRS. Pengiriman tersebut dapat dilakukan langsung oleh koordinator data RS atau diambil oleh petugas surveilans PD3I dinas kesehatan provinsi. Pengiriman spesimen ke laboratorium nasional campak-rubella disertai dengan formulir pengiriman spesimen (lampiran 5).

Pemeriksaan spesimen kedua dilakukan apabila: l Anak usia <6 bulan:

Jika spesimen serum diambil saat bayi berusia <1 bulan namun sangat dicurigai CRS dan hasil menunjukkan IgM negatif (IgM-), maka dilakukan pengambilan spesimen serum untuk pemeriksaan IgM kedua dengan jarak 1 bulan atau maksimal sampai bayi berusia 6 bulan. Pengambilan spesimen kedua ini menjadi tanggung jawab petugas surveilans PD3I dinas kesehatan provinsi berkoordinasi dengan koordinator data RS dan petugas laboratorium setempat. Spesimen yang telah diambil sebagian dapat diperiksa di laboratorium RS yang telah terakreditasi atau sebagian dikirim ke laboratorium nasional campak-rubella.

l Anak Usia 6 - <12 bulan:

Jika hasil menunjukkan IgM negatif (IgM-) dan IgG positif (IgG+), maka dilakukan pengambilan spesimen serum untuk pemeriksaan IgM dan IgG kedua untuk pemeriksaan IgG dengan jarak 1 bulan atau maksimal sampai bayi berusia <12 bulan. Pengambilan spesimen kedua ini menjadi tanggung jawab petugas surveilans PD3I dinas kesehatan provinsi berkoordinasi dengan koordinator data RS dan petugas laboratorium setempat. Spesimen yang telah diambil sebagian dapat diperiksa di laboratorium RS yang telah terakreditasi atau sebagian dikirim ke laboratorium nasional campak-rubella.

Semua spesimen kasus CRS harus diperiksa di laboratorium RS yang

terakreditasi ATAU di laboratorium campak-rubela nasional

Cara pengambilan dan penanganan spesimen, lihat Bab VI: Jejaring Kerja

Laboratorium

(40)

ATAU

Suspek CRS Usia <6 bulan

DIVISI / KSM PERTAMA YANG MENEMUKAN KASUS

Rujuk Lab RS

Hubungi Koordinator Data

Koordinator Provinsi

Seluruh serum diperiksa IgM (Lab RS terakreditasi) Sebagian serum diperiksa IgM (untuk kepentingan klinisi)

Sebagian serum disimpan di suhu 2-8 C (untuk kepentingan surveilans CRS) Ambil spesimen Kirim spesimen LAB NAS CAMPAK -RUBELA Koor dinasi Ambil darah 1cc

Suspek CRS Usia 6 - <12 bulan

DIVISI / KSM PERTAMA YANG MENEMUKAN KASUS

Rujuk Lab RS

Hubungi Koordinator Data

Koordinator Provinsi

Seluruh serum diperiksa IgM & IgG (Lab RS terakreditasi)

Sebagian serum diperiksa IgM (untuk kepentingan klinisi)

Sebagian serum disimpan di suhu 2-8 C (untuk kepentingan surveilans CRS) Ambil spesimen Kirim spesimen LAB NAS CAMPAK -RUBELA Koor dinasi Ambil darah 1cc ATAU

Gambar 6. Alur Pengambilan Spesimen Suspek CRS < 6 bulan

Gambar 7. Alur Pengambilan Spesimen Suspek CRS 6 - <12 bulan

Flow Pengambilan Spesimen Suspek CSR, 6 bulan

(41)

ATAU

Suspek CRS Usia <6 bulan

DIVISI / KSM PERTAMA YANG MENEMUKAN KASUS

Rujuk Lab RS

Hubungi Koordinator Data

Koordinator Provinsi

Seluruh serum diperiksa IgM (Lab RS terakreditasi) Sebagian serum diperiksa IgM (untuk kepentingan klinisi)

Sebagian serum disimpan di suhu 2-8 C (untuk kepentingan surveilans CRS) Ambil spesimen Kirim spesimen LAB NAS CAMPAK -RUBELA Koor dinasi Ambil darah 1cc

Suspek CRS Usia 6 - <12 bulan

DIVISI / KSM PERTAMA YANG MENEMUKAN KASUS

Rujuk Lab RS

Hubungi Koordinator Data

Koordinator Provinsi

Seluruh serum diperiksa IgM & IgG (Lab RS terakreditasi)

Sebagian serum diperiksa IgM (untuk kepentingan klinisi)

Sebagian serum disimpan di suhu 2-8 C (untuk kepentingan surveilans CRS) Ambil spesimen Kirim spesimen LAB NAS CAMPAK -RUBELA Koor dinasi Ambil darah 1cc ATAU

2.4.6. Pengolahan dan Analisis Data

Analisis data CRS sama halnya dengan analisis data rutin, prinsip orang, tempat dan waktu yang akan menjawab pertanyaan siapa, kapan, dimana, mengapa dan bagaimana suatu kasus CRS akan dapat memberikan masukan kepada program imunisasi. Oleh sebab itu tidak boleh ada dari komponen diatas yang tidak bisa dijawab agar hasil investigasi secara tepat dapat mengarahkan program dalam upaya penanggulangan. Dengan penyajian data dalam bentuk tabel, grafik dan spotmap akan membantu analisis yang akan dilakukan.

Analisis data dilakukan terhadap:

1. Jumlah insidens CRS per 1000 kelahiran hidup 2. Kelengkapan dan ketepatan laporan bulanan CRS

3. Distribusi kasus CRS berdasarkan jenis kelamin, bulan, tahun dan tempat

4. Klasifikasi final seluruh suspek CRS yang ditemukan di RS sentinel 5. Status imunisasi rubella ibu dari penderita CRS

6. Golongan umur Ibu dari penderita CRS

2.5. Pelaksana (Organisasi) Surveilans CRS

2.5.1. Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes

RI Sebagai koordinator dalam pelaksanaan surveilans CRS di

tingkat nasional

2.5.2. Dinas Kesehatan Provinsi Sebagai koordinator dalam

pelaksaaan surveilans sentinel CRS di tingkat provinsi

2.5.3. Rumah Sakit Sentinel

Sebagai pelaksana surveilans sentinel CRS yang mempunyai organisasi tersendiri dengan dibentuknya tim CRS RS.

2.5.4. Laboratorium Nasional Campak-Rubella

Sebagai pelaksana surveilans sentinel CRS dalam pemeriksaan spesimen kasus CRS melalui koordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Penemuan kasus CRS di RS melibatkan banyak divisi, sehingga diperlukan banyak divisi yang terlibat di dalam tim CRS RS.

(42)

Dalam pembentukan tim CRS RS perlu dilakukan tahap-tahap sebagai berikut:

1. Pembentukan tim CRS RS melalui Surat Keputusan (SK) Direktur RS.

Anggota tim CRS RS melibatkan seluruh divisi terkait termasuk laboratorium RS. Beberapa hal yang perlu ditentukan dalam SK adalah:

l Menetapkan satu dokter di divisi/KSM anak sebagai koordinator tim CRS di RS sentinel;

l Menetapkan satu dokter sebagai kontak person dokter di setiap divisi/KSM di dalam tim CRS di RS sentinel;

l Divisi yang diharapkan ada dalam tim CRS : 1. Divisi/KSM Anak

2. Divisi/KSM THT 3. Divisi/KSM Mata

4. Divisi/KSM Kardiologi Anak 5. Divisi/KSM Neonatologi

6. Divisi/KSM Infeksi dan Tropik Anak 7. Divisi/KSM Neurologi Anak

8. Divisi/KSM Tumbuh Kembang Anak 9. Divisi/KSM Mata Anak

10. Laboratorium 11. Rekam Medis;

12. Divisi lainnya sesuai kebutuhan RS.

l Menetapkan petugas RS sebagai koordinator data CRS.

2. Membuat Clinical Pathway disesuaikan dengan fasilitas yang tersedia di masing-masing rumah sakit.

3. Bekerja sama dengan petugas surveilans PD3I di Dinas Kesehatan Provinsi

(43)

2.6. Peran Tim Surveilans CRS di RS

2.6.1. Peran Koordinator RS:

1. Bersama petugas surveilans PD3I dinas kesehatan provinsi melaksanakan pelatihan terhadap tenaga kesehatan di divisi-divisi yang terkait dengan CRS di RS masing-masing;

2. Memastikan bahwa pelaksanaan surveilans CRS di RS telah sesuai dengan OP;

3. Mengidentifikasi suspek CRS dan memastikan semua kasus CRS telah tercatat dan terlaporkan;

4. Melakukan koordinasi dan komunikasi segera dengan koordinator data dan kontak person di setiap divisi terkait setelah ditemukan suspek CRS;

5. Memastikan semua informasi klinis dan epidemiologis serta data lainnya yang ada di form investigasi CRS (form CRS1) telah diisi dengan lengkap oleh semua divisi terkait;

6. Memastikan pengambilan, pemeriksaan dan pengiriman spesimen sudah dilaksanakan sesuai SOP termasuk kelengkapan dokumen pelaporan;

7. Menentukan perlu tidaknya pengambilan spesimen kedua;

8. Menetapkan klasifikasi kasus berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium;

9. Memberi penjelasan kepada petugas RS dan keluarga yang kontak langsung dengan penderita CRS agar mendapatkan imunisasi rubella;

10. Bersama dengan kontak person dan koordinator data melakukan pertemuan rutin evaluasi surveilans CRS RS.

Koordinator CRS RS harus memastikan semua suspek CRS telah

tercatat & terlaporkan serta memastikan semua suspek CRS telah

diambil specimen & diperiksa di laboratorium RS yang terakreditasi

(44)

2.6.2. Peran Contact Person RS:

1. Bersama petugas surveilans PD3I dinas kesehatan provinsi dan koordinator tim CRS RS melaksanakan pelatihan terhadap tenaga kesehatan di divisi-divisi yang terkait dengan CRS di RS masing-masing;

2. Melakukan koordinasi dan komunikasi segera dengan koordinator data dan koordinator RS setelah ditemukan kasus CRS;

3. Memastikan form investigasi CRS di divisi terkait sudah terisi; 4. Memastikan pengambilan spesimen sudah dilaksanakan sesuai

SOP;

5. Mengkonsultasikan kasus suspek CRS ke divisi terkait;

6. Memberi penjelasan kepada petugas RS dan keluarga yang kontak langsung dengan penderita CRS agar mendapatkan imunisasi rubella;

7. Bersama dengan koordinator melakukan sosialisasi di unit masing – masing dan pertemuan rutin evaluasi surveilans CRS RS.

Kontak Person CRS RS harus memastikan form CRS1 di divisi terkait

sudah terisi serta memastikan semua suspek CRS telah diambil

specimen di laboratorium RS

2.6.3. Peran Koordinator Data RS CRS:

1. Melakukan koordinasi dan komunikasi segera dengan koordinator RS setelah menerima informasi kasus CRS;

2. Memastikan semua kasus CRS telah tercatat dan terlaporkan; 3. Memastikan semua informasi klinis, epidemiologis serta data

lainnya yang ada di form investigasi CRS telah diisi dengan lengkap dan benar;

4. Memastikan semua kasus CRS telah dikonsultasikan ke setiap bagian terkait;

5. Memastikan semua kasus CRS telah dilakukan pengambilan spesimen;

(45)

6. Melakukan koordinasi dengan laboratorium RS dan petugas surveilans PD3I dinas kesehatan provinsi dalam pengiriman spesimen ke laboratorium nasional campak-rubella;

7. Mencatat hasil pemeriksaan laboratorium ke dalam formulir investigasi CRS dan input ke web PD3I;

8. Melakukan koordinasi dengan koordinator RS atau petugas surveilans PD3I dinas kesehatan provinsi dalam pengambilan spesimen kedua;

9. Menginput data form investigasi CRS ke dalam format list kasus CRS atau web PD3I, termasuk hasil laboratorium bila telah ada; 10. Bila web PD3I tidak berfungsi, melaporkan format list kasus

CRS kepada petugas surveilans PD3I dinas kesehatan provinsi pada tanggal 15 setiap bulannya (termasuk laporan nihil), dan ditembuskan ke petugas surveilans PD3I Pusat melalui email [email protected];

11. Melakukan validasi data yang dikirimkan tim data PD3I pusat, paling lambat tanggal 15 setiap bulannya;

12. Mengarsipkan data surveilans CRS.

13. Setiap bulan data yang telah diinput dalam web PD3I akan dieksport ke excel dan diemail/diprint untuk disampaikan ke semua tim CRS RS dan Petugas Surveilans PD3I provinsi;

14. Membuat laporan bulanan ke dinas kesehatan provinsi.

Koordinator data CRS RS harus memastikan semua suspek CRS telah

tercatat & terlaporkan dengan lengkap dan benar serta melakukan

input data suspek CRS ke dalam web PD3I segera (maksimal 2x24 jam)

setelah diagnosa suspek CRS ditegakkan

Koordinator data CRS RS harus melakukan koordinasi dengan

petugas surveilans PD3I dinas kesehatan provinsi dalam pengambilan

spesimen dan pemeriksaan spesimen di laboratorium nasional

campak-rubella

(46)

2.6.4. Peran Dinas Kesehatan Provinsi

1. Penemuan kasus

Petugas surveilans PD3I dinas kesehatan provinsi melakukan surveilans aktif di RS sentinel setiap minggu dengan melakukan: - review register untuk mencari kemungkinan adanya kasus yang

lolos;

- melakukan koordinasi dengan koordinator data RS untuk memastikan form CRS 1 telah terisi dengan lengkap;

- mengkoordinasikan pengambilan spesimen darah kedua (jika diperlukan). Kegiatan ini diintegrasikan dengan kegiatan surveilans aktif AFP dan PD3I lainnya.

Tata cara review register surveilans CRS di RS :

a. Identifikasi kasus CRS melalui register di bagian Anak (jantung, tumbuh kembang, neurologi, perinatologi, unit infeksi), bagian THT dan bagian Mata;

b. Apabila ditemukan kasus minimal dengan gejala /diagnosa dari kelompok A, ambil buku rekam medis penderita untuk di konsultasikan dengan koordinator di RS tersebut;

c. Jika memenuhi kriteria suspek CRS, maka berkoordinasi dengan tim CRS RS untuk dilakukan tata laksana surveilans CRS.

d. Hasil review register dilaporkan mingguan termasuk laporan nihil (zero report), yang terintegrasi dengan Surveilans AFP dan Campak. Mengingat kasus CRS sangat jarang, maka perlu dibangun komunikasi yang intensif antara petugas surveilans PD3I dinas kesehatan provinsi dengan tim CRS RS agar kasus CRS di RS tidak ada yang lolos.

2. Berkoordinasi dengan koordinator data CRS RS terkait pencatatan dan pelaporan kasus CRS;

3. Memastikan form investigasi CRS sudah terisi secara lengkap dan benar;

(47)

4. Memberi nomor EPID, setelah memeriksa kelengkapan pengisian form investigasi CRS;

5. Bertanggung jawab terhadap pengambilan dan pengiriman spesimen pertama dan kedua ke laboratorium nasional campak-rubella berkoordinasi dengan koordinator data CRS RS. Jika RS tidak dapat mengambil spesimen penderita, maka pengambilan spesimen dilakukan oleh petugas surveilans PD3I dinas kesehatan provinsi, berkoordinasi dengan labkesda atau lab puskesmas yang mampu;

6. Bila spesimen kedua perlu diambil, provinsi memastikan bahwa spesimen kedua tersebut telah diambil berkoordinasi dengan koordinator data RS;

7. Memastikan bahwa koordinator data RS telah menerima hasil laboratorium jika spesimen diperiksa di laboratorium nasional campak-rubella;

8. Memastikan hasil laboratorium kasus CRS telah dimasukkan dalam format list kasus CRS atau web PD3I;

9. Bila web PD3I tidak berfungsi, laporan CRS dikirim setiap bulan dengan email ke [email protected] bersama dengan laporan campak dan PD3I lainnya.

10. Bila pada bulan bersangkutan tidak ditemukan kasus CRS maka laporan tetap harus dikirim dengan menuliskan “Nihil”.

11. Memastikan semua kasus CRS telah dilakukan klasifikasi final sesuai diagram alur klasifikasi kasus, berkoordinasi dengan tim CRS RS;

12. Melakukan analisa data CRS di masing-masing provinsi. 13. Menerima laporan kasus CRS dari koordinator data RS

Petugas surveilans PD3I dinas kesehatan provinsi harus berkoordinasi

dengan koordinator data tim CRS RS untuk melakukan Surveilans Aktif RS,

melalui review register (HRR) sekaligus supervisi kegiatan CRS minimal 1

bulan sekali

(48)

Petugas surveilans PD3I dinas kesehatan provinsi harus berkoordinasi

dengan koordinator data tim CRS RS sentinel dalam hal melakukan tindak

lanjut terhadap spesimen yang belum diambil dan berkoordinasi dengan

dinas kesehatan kabupaten kota dan puskesmas

2.6.5. Peran Laboratorium RS

1. Bertanggung jawab terhadap pengambilan spesimen serum di RS; 2. Jika laboratorium RS telah terakreditasi, maka pemeriksaan

spesimen serum dilakukan di RS;

3. Jika laboratorium RS belum terakreditasi, maka sebagian spesimen serum dapat diperiksa di RS (untuk kepentingan klinisi), sementara sisanya disimpan pada suhu 2-80C. Spesimen yang telah disimpan akan dikirim ke laboratorium nasional campak-rubella untuk dilakukan pemeriksaan untuk kepentingan surveilans CRS;

4. Berkoordinasi dengan Koordinator Data RS terkait pemeriksaan spesimen kasus CRS.

2.6.6. Peran Laboratorium Nasional Campak-Rubella

1. Bertanggung jawab terhadap pemeriksaan serologi spesimen kasus CRS yang dikirimkan dari RS sentinel melalui petugas surveilans PD3I provinsi;

2. Berkoordinasi dengan petugas surveilans PD3I Provinsi terkait pemeriksaan spesimen kasus CRS;

3. Mengirimkan hasil pemeriksaan serologi dalam waktu 4 hari;

4. Mengisi hasil pemeriksaan CRS pada web PD3I setelah data kasus CRS diinput oleh koordinator data tim CRS RS;

5. Bila web PD3I tidak berfungsi atau data kasus CRS belum diinput oleh koordinator data tim CRS R, maka hasil pemeriksaan serologi dikirim setiap bulan dengan email melalui email ke Koordinator Data RS dan ditembuskan ke Koordinator Tim CRS RS dan Petugas Surveilans PD3I provinsi;

(49)

6. Jika ada hasil laboratorium yang memerlukan pengambilan spesimen ulang, maka laboratorium nasional campak-rubela akan memberikan catatan/keterangan dibawah hasil yang dikirim.

Laboratorium Nasional Campak-Rubella akan mengeluarkan hasil

pemeriksaan serologi CRS dalam waktu empat (4) hari

Semua spesimen kasus CRS harus diperiksa di laboratorium RS yang

terakreditasi ATAU di laboratorium

campak-rubela nasional

2.6.7. Peran Pusat (Ditjen P2P Kemenkes RI)

1. Pengolahan dan kajian data di tingkat Pusat dilakukan oleh Tim Data PD3I.

Secara rutin Tim Data PD3I melakukan pengecekan setiap data yang dilaporkan dan mengirimkan umpan balik laporan ke seluruh RS sentinel dan dinas kesehatan provinsi setiap tanggal 5 pada setiap bulannya.

2. Secara berkala bersama WHO dan UNICEF (HQ, Regional maupun Perwakilan Indonesia) dilakukan review perkembangan pengendalian rubella/CRS. Berdasarkan kajian data surveilans dan kajian cakupan imunisasi rubella, ditetapkan strategi imunisasi lebih lanjut.

3. Mengirimkan umpan balik dan kajian data ke seluruh RS sentinel dan dinas kesehatan provinsi setiap triwulan.

Tim Data PD3I mengirimkan umpan balik laporan ke seluruh RS

sentinel dan dinas kesehatan provinsi setiap tanggal 5 pada setiap

(50)
(51)

BAB III

PEMBERIAN NOMOR EPID

Nomor EPID adalah suatu nomor-kode yang khas bagi setiap penderita CRS dan ditentukan sesuai dengan tata-cara penentuan nomor EPID.

3.1. Tujuan pemberian nomor EPID

- Memberikan kode identitas yang khas bagi setiap penderita CRS untuk kepentingan pencatatan pelaporan dan pengelolaan spesimen.

- Untuk menghubungkan data klinis, epidemiologis, demografis dan laboratorium.

- Menghindari kemungkinan duplikasi dalam pencatatan dan pelaporan kasus CRS.

3.2. Pemberi nomor EPID

- Pemberian nomor EPID muncul secara otomatis pada sistem web PD3I.

- Jika web PD3I tidak berfungsi maka nomor EPID dapat diberikan manual oleh Dinas Kesehatan Provinsi yang membawahi wilayah dimana rumah sakit sentinel berada.

- Daftar nomor EPID harus disimpan di provinsi yang membawahi wilayah tempat rumah sakit sentinel berada. Bila nomor EPID sudah digunakan atau salah diberikan, nomor tersebut tidak boleh dipakai lagi.

(52)

3.3. Tata Cara Pemberian Nomor EPID Kasus CRS

Setiap kasus CRS diberi nomor EPID. Tata cara penomoran EPID pada kasus CRS sama dengan tatacara pemberian nomor EPID AFP, tetapi didahului dengan huruf CRS.(Lihat Pedoman AFP).

Tata cara pemberian nomor EPID CRS sebagai berikut:

CRS-PP-DD-TT-NNN

- digit ke I-II : kode provinsi

- digit ke III-IV : kode kabupaten/kota - digit ke V-VII : kode RS

- digit ke VII-IX : tahun terjadinya kasus - digit ke X-XII : nomor urut kasus

Kode penderita dimulai dengan “nomor 001” pada setiap tahun. Contoh:

1. Kasus CRS pertama ditemukan pada tahun 2014 di RS Adam Malik Medan. Kasus berasal dari Kota Medan. Maka nomor EPID-nya adalah: CRS020114001

2. Kasus CRS ke dua ditemukan pada tahun 2014 di RS Adam Malik Medan. Kasus berasal dari Kab. Karo. Maka nomor EPID-nya adalah: CRS021014001

3. Kasus CRS ke tiga ditemukan pada tahun 2014 di RS Adam Malik Medan. Kasus berasal dari Kota Lhokseumawe Provinsi Aceh. Maka nomor EPID-nya adalah: CRS011414001

(53)

BAB IV

PEMANTAUAN DAN EVALUASI

4.1. Pemantauan

Pemantauan terhadap pelaksanaan surveilans CRS harus dilakukan untuk menjaga kualitas pelaksanaan surveilans CRS. Tujuan utama pemantauan surveilans CRS adalah untuk melihat apakah sistem yang ada berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Pemantauan ini harus diikuti dengan upaya mengidentifikasikan dan memecahkan masalah yang dihadapi bila pelaksanaan surveilans CRS tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Kapan dan bagaimana pemantauan harus dilakukan?

Pemantauan harus dilakukan secara rutin sehingga dapat mengidentifikasi masalah yang menghambat pelaksanaan surveilans CRS sedini mungkin. Pemantauan dilakukan terhadap:

- Jejaring tim surveilans CRS RS dan dinas kesehatan provinsi - Penemuan kasus di semua rumah sakit sentinel.

- Pencatatan dan pelaporan kasus sampai dengan klasifikasi final. - Adekuasi spesimen dan penyebab spesimen tidak adekuat.

Berdasarkan identifikasi masalah dilakukan upaya perbaikan agar kinerja surveilans CRS dapat ditingkatkan.

4.2. Evaluasi

Evaluasi terhadap surveilans CRS dilakukan secara berkala untuk melihat keberhasilan surveilans CRS dalam mencapai tujuannya. Indikator yang digunakan adalah indikator kinerja surveilans dan sejauh mana surveilans CRS dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan. Evaluasi di rumah sakit sentinel dapat dilakukan dengan:

(54)

- Menelaah register RS pada suatu periode tertentu (hospital record review = HRR). Untuk menilai sensitifitas penemuan kasus di RS dengan cara mengecek ada atau tidaknya kasus CRS yang dilaporkan.(Lihat tata cara surveilans aktif RS pada BAB II).

- Mengecek keteraturan dan konsistensi kunjungan surveilans aktif rumah sakit (SARS) untuk mencari kasus.

- Identifikasi penyebab rendahnya sensitifitas penemuan kasus di RS. Pemantauan dan Evaluasi dilakukan dengan menggunakan Formulir Pemantauan dan Evaluasi Kasus CRS (Form. CRS2).

4.3. Indikator Kinerja

Kriteria Indikator Batas Minimal

Pelaporan kasus

Pelaporan tahunan kasus suspek CRS di

RS Sentinel kelahiran hidup ≥1 per 10 .000 (di provinsi RS

sentinel) Investigasi

adekuat

Investigasi menyeluruh dengan

menggunakan form CRS1 yang diisi data lengkap:

1. nama kasus,

2. tempat tinggal,]]]]]]]]]]]]]]

3. jenis kelamin,

4. tanggal lahir,

5. tanggal kunjungan pertama kali,

6. tanggal ditetapkan sebagai suspek

CRS,

7. tanggal pengumpulan spesimen,

8. nama ibu,

9. usia ibu,

10. riwayat penyakit ruam ibu, 11. riwayat perjalanan ke daerah endemis,

12. riwayat imunisasi ibu;

13 pemeriksaan klinis untuk: gangguan pendengaran, katarak kongenital, dan penyakit jantung kongenital, 14. hasil klinis kasus CRS (hidup

atau mati) yang dilakukan di RS

Gambar

Grafik 2. Distribusi Campak Pasti dan Rubella Pasti Berdasarkan Bulan  Di Provinsi Jawa  Barat, 2017
Table 2. Jenis pemeriksaan untuk penetapan diagnosis suspek CRS
Gambar 1. Respon imun infeksi rubella terhadap ibu dan bayi(Chantler et al. 1982)
Gambar 2. Diagram Alur Penentuan Kasus CRS pada Bayi Usia &lt; 6 Bulan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sistem kekebalan menggunakan banyak mekanisme efektor kuat yang memiliki kemampuan untuk menghancurkan berbagai sel mikroba dan untuk membersihkan berbagai zat beracun

Keamanan dan keselamatan hayati yang baik ketika bekerja di laboratorium sangat diperlukan untuk mencegah penularan penyakit infeksi terhadap petugas laboratorium

16) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja sejak rekomendasi teknis diterima, penerbit izin (Badan/Dinas Pelayanan Terpadu Satu Pintu Bidang Kesehatan) harus

Penetapan Pejabat Pengelola Keuangan Satuan Kerja dan Tim Pengelola TP BOK dilakukan setelah Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota menerima Surat Keputusan Menteri Kesehatan

Dalam upaya pencegahan penularan HIV dan sifilis dari ibu ke anak, layanan PPIA dan pencegahan sifilis kongenital diintegrasikan dengan layanan kesehatan ibu dan anak (KIA). Hal

Lembar balik Alat Bantu Pengambilan Keputusan ber- KB (ABPK) adalah sebuah alat bantu kerja interaktif, yang diperuntukkan bagi penyedia layanan (dokter atau bidan) dalam