• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN ANTARA SKOR IPSS DENGAN QUALITY OF LIFE PADA PASIEN BPH DENGAN LUTS DI RUMAH SAKIT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "HUBUNGAN ANTARA SKOR IPSS DENGAN QUALITY OF LIFE PADA PASIEN BPH DENGAN LUTS DI RUMAH SAKIT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA SKRIPSI"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA SKOR IPSS DENGAN QUALITY OF LIFE PADA PASIEN BPH DENGAN LUTS DI RUMAH SAKIT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

SKRIPSI

DiajukanSebagai Salah SatuSyaratuntukMemperolehGelarSarjana Kedokteran

Oleh:

Bulan Muqarramah 150100129

PROGRAMSTUDIPENDIDIKANDOKTER FAKULTASKEDOKTERAN

UNIVERSITASSUMATERAUTARA MEDAN

2018

(2)

HUBUNGAN ANTARA SKOR IPSS DENGAN QUALITY OF LIFE PADA PASIEN BPH DENGAN LUTS DI RUMAH SAKIT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

SKRIPSI

DiajukanSebagai Salah SatuSyaratuntukMemperolehGelarSarjana Kedokteran

Oleh:

Bulan Muqarramah 150100129

PROGRAMSTUDIPENDIDIKANDOKTER FAKULTASKEDOKTERAN

UNIVERSITASSUMATERAUTARA MEDAN

2018

(3)

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Penelitian : Hubungan Antara Skor IPSS dengan Quality of Life pada Pasien BPH dengan LUTS di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara

Nama : Bulan Muqarramah NIM : 150100129

Program Studi : Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Komisi Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran pada Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas

Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Pembimbing

(dr. Ginanda Putra Siregar, Sp.U) NIP: 198512202009121005

Ketua Penguji Anggota Penguji

(dr.M. Surya Husada, Sp.KJ) (dr.Bambang Prayugo, Sp.B)

NIP.198002032008011011 NIP.198002282005011003 Medan, 12 desember2018

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S(K) NIP: 196605241992031002

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan berkat-Nya penulis mampu menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya. Skripsi ini berjudul “Hubungan Antara Skor IPSS dengan Quality of Life pada Pasien BPH dengan LUTS di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara”

yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan sarjana kedokteran program studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Dalam penyusunan dan penyelesaian skripsi ini, penulis mendapat banyak dukungan dan bantuan baik secara moril maupun materil dari berbagai pihak.

Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih sebesar- besarnya kepada:

1. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S(K), yang banyak memberikan dukungan secara psikologi selama proses penyusunan skripsi.

2. Dosen Pembimbing, dr. Ginanda Putra Siregar,Sp.U yang memberikan arahan dan masukan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan sedemikian rupa.

3. Ketua Penguji,dr.M. Surya Husada, Sp.KJ dan Anggota Penguji, dr.Bambang Prayugo, Sp.B, untuk setiap kritik dan saran yang membangun selama proses pembuatan skripsi ini.

4. dr.Kharisma Prasetya Adhyatmadan dr. Alihusein yang memberikan arahan, masukan, ilmu dan dukungan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

5. Seluruh staf pengajar dan civitas akademika Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara atas bimbingan dan ilmu yang diberikan dari mulai awal perkuliahan hingga penulis menyelesaikan skripsi ini.

6. Seluruh pihakRumah Sakit Universitas Sumatera Utara yang banyak membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini.

(5)

7. Kedua orang tua, ayahanda, Mahadi Pinem, S.Hut. dan ibunda, Emiyati,S.E.,serta adik tercinta, M.Aditya Ramadhan yang selalu mendukung, memberikan semangat, kasih sayang, bantuan,motivasi dan dukungan tiada henti sampai penulis menyelesaikan skripsi ini.

8. Kepada Jeihan Alkhair Muthahari,S.ked. yang selama ini telah mendukung dan memberikan semangat kepada penulis sehingga skripsi ini bisa diselesaikan.

9. Semua pihak yang telah memberikan bantuan secara langsung maupun tidak langsung

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi konten maupun cara penulisannya. Oleh sebab itu, dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran agar penulis dapat menyempurnakan skripsi ini.

Akhir kata penulis berharap skirpsi ini dapat bermanfaat dan mampu memberikan sumbangsih bagi bangsa dan Negara terutama dalam bidang pendidikan terkhususnya ilmu kedokteran.

Medan, 12 November 2018 Penulis,

Bulan Muqarramah 150100129

(6)

DAFTAR ISI

Halaman Pengesahan ... i

Kata pengantar ... ii

Daftar Isi ... iv

Daftar Gambar ... vi

Daftar Tabel ... vii

Daftar Singkatan ... viiiD aftar Lampiran ... ix

Abstrak ... xAbst ract ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. LatarBelakang ... 1

1.2. RumusanMasalah ... 3

1.3. TujuanPenelitian ... 3

1.3.1. TujuanUmum ... 3

1.3.2. TujuanKhusus ... 3

1.4.Manfaat Penelitian ... 4

1.4.1. BidangPendidikan ... 4

1.4.2. BidangPelayanan Masyarakat ... 4

1.4.3. BidangPenelitian ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1.Benign Prostatic Hyperplasia ... 5

2.1.1. Definisi Benign Prostatic Hyperplasia ... 5

2.1.2. Epidemiologi Benign Prostatic Hyperplasia. ... 5

2.1.3. Etiologi Benign Prostatic Hyperplasia. ... 5

2.1.4. Faktor Resiko Benign Prostatic Hyperplasia. ... 6

2.1.5. Patofisiologi Benign Prostatic Hyperplasia. ... 8

(7)

2.1.6. Gejala Klinis Benign Prostatic Hyperplasia. ... 9

2.1.7. Diagnosa Benign Prostatic Hyperplasia. ... 9

2.1.8. Penatalaksanaan Benign Prostatic Hyperplasia. ... 12

2.2. Hubungan Benign Prostatic Hyperplasia dan International Prostate Symptom Score(IPSS) ... 15

2.3.Quality of Life pada pasien Benign Prostatic Hyperplasia ... 15

2.4. Hubungan International Prostate Symptom Score (IPSS) dengan Quality of Life ... 16

2.5. Kerangka Teori ... 17

2.6. Kerangka Konsep ... 18

2.7.Hipotesa ... 18

BAB IIIMETODE PENELITIAN ... 19

3.1. Rancangan Penelitian ... 19

3.2. Lokasi Penelitian ... 19

3.3. Populasi dan Sampel Penelitian ... 19

3.3.1 Populasi Penelitian ... 19

3.3.2 Kriteria Inklusi ... 19

3.3.3 Kriteria Eksklusi ... 19

3.3.4 Sampel ... 20

3.3.5 Besar Sampel ... 20

3.4. Metode Pengumpulan Data ... 21

3.5. Metode Analisis Data ... 21

3.6. Defenisi Operasional ... 21

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 23

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 27

5.1. Kesimpulan ... 27

5.2. Saran ... 27

DAFTAR PUSTAKA ... 29

LAMPIRAN

(8)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

2.1. Gambaran Pemeriksaan Colok Dubur ... 10 2.2. Kerangka Teori ... 17 2.3. Kerangka Konsep ... 18

(9)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

4.1

Gam baranKarakteristikUsiaPenderitaBPH...

... 23

4.2 GambaranSkor

IPSSPenderitaBPH...

... 24

4.3 GambaranQuality of

lifePenderitaBPH...

. 25

4.4 Hubungan Skor IPSS dengan kesehatan fisik Pasien

BPH... 26 4.5 Hubungan Skor IPSS dengan psikologi Pasien

BPH... 26 4.6 Hubungan Skor IPSS dengan hubungan sosial Pasien

BPH... 27 4.7 Hubungan Skor IPSS dengan lingkungan Pasien

BPH... 27

(10)

DAFTAR SINGKATAN

5ARI : 5α-reductaseInhibitor

AUASI : American Urological AssociationSymptom Index BPH : Benign ProstaticHyperplasia

cGMP : CyclicGuanosine Monophospate DHT : Dihidrotestosteron

HIFU : High Intensity Focused Ultrasound IPSS : InternationalProstate Symptoms Score LUTS : Lower Urinary Tract Symptoms

PDE-5 : Phospodiesterase 5

PPV : Positive predictive value PSA : Prostate SpecificAntigen

PVR : Post Voiding Residual

RSCM : Rumah Sakit CiptoMangunkusumo SPSS : Statistical Product andServiceSolutions TBP : Taksiran Berat Prostat

TUIP : Trans UrethralIncisionof Prostate

TUMT : Trans UrethralMicrowaveThermotherapy TUNA : Trans UrethralNeedle Ablation

TURP : Trans UrethralResiction of Prostate TwoC : TrialWithout Catether

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A Daftar Riwayat Hidup Lampiran B Pernyataan Orisinalitas

Lampiran C Lembar Penjelasan Subyek penelitian Lampiran D Lembar Persetujuan (Informed Consent) Lampiran E Lembar Kuesioner

Lampiran F Surat Izin Survey Awal penelitian Lampiran G Surat Izin Penelitian

Lampiran H Ethical Clearance Penelitian Lampiran I Data Induk (Master Data) Lampiran J Hasil ouput Software

(12)

ABSTRAK

Latarbelakang. Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) merupakan penyakit urologi yang paling sering terjadi dan paling sering dialami oleh pria berusia diatas50 tahun. Selain itu, kejadian dan gejalanya meningkat seiring bertambahnya usia.Pada penelitian disebutkan bahwa BPH memiliki efek buruk pada kualitas hidup pasien. Alat untuk menentukan derajat gejala pada penyakit BPH adalah kuesioner International Prostate Symptom Score (IPSS).

Tujuan.Tujuanpenelitianini adalahuntuk mengetahui hubungan antara skor IPSS dengan Quality of life pada pasien BPH dengan LUTS di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara.

Metode. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian analitik observasional dengan menggunakan studi cross sectional. Teknik Sampeldipilihdenganmenggunakan metodeconsecutive sampling dan disesuaikandengankriteria inklusi dan eksklusi.Datayangdiambilmenggunakan angket, dengan cara mengedarkan questionnaire (daftar pertanyaan) kepada pasien BPH yang ada di Poli Urologi Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara.

Hasil.Total 43 pasien menjadi sampel dalam penelitian ini dengan range usia terbanyak adalah 60-69 tahun (55.8%). Sebanyak34 pasien (79.1%) masuk kedalam klasifikasi gejala berat berdasarkan penilaian menggunakan IPSS. Penelitian menemukan terdapathubungan yang signifikan antara skor IPSS dengan Quality of life yaitu kesehatan fisik, psikologi, hubungan sosial, dan lingkungan secara berurutan adalah p= 0,043, p=0,017, p=0,022 dan p= 0,038.

Kesimpulan.Terdapat hubungan yang signifikan antara skor IPSS dengan Quality of life pada pasien BPH dengan LUTS di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara.

Katakunci:Benign Prostatic Hyperplasia, kualitas hidup, International Prostate Symptom Score (IPSS).

(13)

ABSTRACT

Background. Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) is the most common urological disease and mostly foun by men > 50 years old. Furthermore, the occurence and the symptoms increase with the grow of age. A study states that BPH has an adverse effect on the quality of patients' life. The tool for determining the degree of symptoms in BPH disease is International Prostate Symptom Score (IPSS) questionnaire.

Objective. The purpose of this study was to determined the relationship between IPSS scores and quality of life in BPH patients with LUTS at the University of North Sumatra Hospital.

Method. This study was conducted by observational analytic research design used cross sectional study.Sample were selected using the consecutive sampling method and adjusted for inclusion and exclusion criteria. Data was taken using questionnaire, by distributing a questionnaire (list of questions) to BPH patients in the Urology outpatient department at University of North Sumatra Hospital.

Result. Total 43 patients were become sampels in this study. The highest age range was 60-69 years (55.8%). Then 34 patients (79.1%) were the most patients with severe symptoms.This study showed thatthe significant relationship between IPSS scores and quality of life, including 4 domains, physical health, psychological, social relation and environment (p= 0,043, p=0,017, p=0,022 dan p= 0,038, respectively).

Conclusion.There is a significant relationship between IPSS scores and quality of life in BPH patients with LUTS at the University of North Sumatra Hospital.

Keywords: Benign Prostatic Hyperplasia, quality of life, International Prostate Symptom Score (IPSS)

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Benign prostate hyperplasia (BPH)adalah penyakit tumor jinak yang terjadi pada kelenjar prostat (Foster, 2008). Secara histologi, BPH dikarakteristikkan dengan peningkatan jumlah epitel dan sel stroma di area periuretra prostat (Vuichoud, 2015). BPH bisa menyebabkan kompresi fisik pada uretra. Kompresi ini akan menyebabkan obstruksi saluran kemih. Obstruksi saluran kemih akan menyebabkan lower urinary tract symptoms (LUTS) (Patel, 2014).

Gejala LUTS meliputi kesulitan untuk mulai berkemih, pancaran urin yang melemah dan terputus-putus, sensasi pengosongan kandung kemih yang tidak komplit, berkemih ganda (berkemih yang kedua kalinya dalam waktu 2 jam setelah berkemih sebelumnya), mengedan saat berkemih, dan menetes pada akhir miksi, kebutuhan mendesak untuk berkemih, frekuensi berkemih yang biasanya hanya dalam jumlah sedikit pada setiap episode, dan nokturia (Deters, 2015).

Laki-laki yang mengalami LUTS secara langsung akan menganggu kualitas hidup dan menjadi penyebab morbiditas(Arslantas et al., 2017).

BPH juga merupakan penyakit patologis kompleks yang progresif pada sebagian besar pria usia tua(Spataforaet al., 2012). BPH bisa timbul sejak usia 30 tahun dan menunjukkan bukti histologis hingga 50% pada pria berusia 50 tahun (Kapoor, 2012). Menurut sebuah penelitian, prevalensi BPH secara histologi adalah sekitar 10% pada pria berusia 30 tahun, 20% pada pria berusia 40 tahun, mencapai 50% - 60% pada pria berusia 60 tahun dan 80% - 90% pada pria berusia 70 tahun dan 90 tahun (Roehrborn, 2005). Kemudian menurut penelitian lain, prevalensi BPH adalah sekitar 20% pada pria berusia 40 tahun dan meningkat hingga 90% pada pria berusia 70 tahun (Edwards, 2008).Begitu juga sebuah

(15)

penelitian menyatakan bahwa sekitar 90% BPH terdapat pada pria berusia 85 tahun (Deters, 2016).

Sebanyak 14 juta pria di United States memiliki gejala BPH.

Kemudian,sekitar 30 juta pria diseluruh dunia memiliki gejala yang berhubungan denganBPH. Prevalensi BPH pada pria kulit putih dan pria Afrika - Amerika serupa.Namun, BPH cenderung lebih berat dan progresif pada pria Afrika - Amerika,kemungkinan hal ini disebabkan oleh karena kadar testosteron yang lebih tinggi aktivitas 5-alfa reduktase, ekspresi reseptor androgen, dan aktivitas pertumbuhan pada populasi ini.(Deters, 2016).

Menurut Clinical Pathway 10 Penyakit Urologi Tersering, BPHmerupakan penyakit yang paling sering terjadi(IAUI, 2015). Kemudian menurut Panduan Penatalaksanaan Pembesaran Prostat Jinak, angka kejadian BPH di Indonesia yang pasti belum pernah diteliti, tetapi gambaran hospital prevalence di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sejak tahun 1994-2013 ditemukan 3.804 kasus dengan rata-rata umur penderita berusia 66,61 tahun (Mochtar, 2015).

Suatu penelitian menyatakan bahwa BPH memiliki efek buruk pada kualitas hidup pasien, sebagaimana yang termanifestasi dalam uji coba komunitas dan klinis (Yee et al., 2014).

Untuk menentukan derajat berat ringannya BPH, maka dibuatlah suatu skoring, salah satunya skoring International Prostate Symptom Score (IPSS) (Matthew,2005). International Prostate Symptom Score (IPSS) adalah kuesioner yang dirancang untuk menentukan derajat gejala pada penyakit prostat seperti kanker prostat, prostatitis, dan BPH yang diambil dari American Urological Association Symptom Index (AUASI) (Van et al., 2011).

IPSS terdiri atas tujuh pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan LUTS yang masing-masing memiliki nilai 0 hingga 5 dengan total maksimum 35 dan satu pertanyaan mengenai kualitas hidup (Quality of Life atau QoL) yang terdiri atas tujuh kemungkinan jawaban. LUTS dibagi atas ringan (IPSS 0-7), sedang (IPSS 8-19) atau berat (IPSS 20-35) tergantung pada banyaknya gejala (Basuki,2009).

(16)

Sebuah penelitian menyatakan bahwa IPSS adalah alat yang berharga dalam memanajemen pasien dengan BPH(Amu et al., 2013).

Berdasarkan uraian-uraian di atas, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian Hubungan antara skor IPSS dengan Quality of life pada pasien BPH dengan LUTSdi Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara.

1.2. RUMUSAN MASALAH

Apakah terdapat hubungan antara skor IPSS dengan Quality of life pada pasien BPH dengan LUTSdi Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara?

1.3. TUJUAN PENELITIAN

1.3.1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan antara skor IPSS dengan Quality of life pada pasien BPH dengan LUTSdi Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Mengetahui kelompok usia yang paling sering menderita BPH di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara.

2. Mengetahui hubungan skor IPSS dengan domain kesehatan fisik pasien BPH di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara.

3. Mengetahui hubungan skor IPSS dengan domain psikologi pasien BPH di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara.

4. Mengetahui hubungan skor IPSS dengan domain hubungan sosial pasien BPH di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara.

5. Mengetahui hubungan skor IPSS dengan domain lingkungan pasien BPH di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara.

(17)

1.4 MANFAAT PENELITIAN

1.4.1.Bidang Pendidikan

Sebagai media untuk melatih berfikir kritis, logis dan sistematis serta mampu melakukan penelitian dengan menggunakan metode yang baik dan benar.

1.4.2. Bidang Pelayanan Masyarakat

Memberikan informasi yang jelas terkait Benign Prostat Hyperplasia (BPH) sehingga dapat menjadi pengetahuan dalam masyarakat untuk membangun kesehatan masyarakat yang lebih baik dan membantu masyarakat dalam melakukan pencegahan terhadap permasalahan BPH.

1.4.3 Bidang Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai data dasar untuk penelitian-penelitian selanjutnya.

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA

2.1.1 Definisi

Benign prostatic hyperplasia (BPH) merupakan kelainan urologi yang paling sering terjadi pada pria (Presti et al., 2008). Secara histologi, BPH mengarah ke proliferasi otot polos dan sel epitelial di zona transisional prostat (AUA, 2010). Kemudian, BPH sering didiagnosis dengan adanya pembesaran prostat dan obstruksi saluran kemih yang menyebabkan lower urinary tract symptoms (LUTS) (Giri et al., 2015).

2.1.2 Epidemiologi

Benign prostate hyperplasia merupakan penyakit yang paling umum terjadi pada pria, dan insidensinya berhubungan dengan usia. Prevalensi BPH dari studi otopsi histologi meningkat sekitar 20% pada pria di usia 41 - 50 tahun, menjadi 50% pada pria berusia 51 - 60 tahun, dan lebih dari 90% pada pria berusia di atas 80 tahun (Presti et al., 2008).

2.1.3 Etiologi

Secara histologi, BPH dikarakteristikkan dengan peningkatan jumlah epitel dan sel stroma di area periuretra prostat. Etiologi molekular yang tepat dari proses hiperplastik ini tidak pasti. Peningkatan jumlah sel yang diamati mungkin disebabkan oleh proliferasi epitel dan stroma atau oleh karena gangguan program apoptosis yang mengarah ke akumulasi sel (Vuichoud, 2015). Androgen, estrogen, interaksi stroma-epitel, growth factor, dan neurotransmiter mungkin memiliki peran, baik secara tunggal ataupun kombinasi dalam etiologi BPH (Roehrborn, 2008).

(19)

a. Peran Androgen

Kadar androgen yang tinggi dalam sirkulasi kemungkinan memiliki peran penting dalam etiologi BPH. Kadar testosteron dan dihidrotestosteron (DHT) endogen dan eksogen yang tinggi berhubungan dengan ukuran prostat selama peningkatan stroma dan proliferasi sel epitel, juga dalam menghambat kematian sel (Trumble et al., 2015).

Testosteron diubah menjadi DHT oleh enzim 5-alfa reduktase (5AR).

Enzim ini terbagi menjadi dua subtipe, yaitu 5AR tipe 1 dan tipe 2. Subtipe primer pada prostat adalah 5AR tipe 2. Pria yang defisiensi tipe ini tidak dapat mengkonversi testosteron intraprostat menjadi DHT (Lepor, 2004).

Data diatas menunjukkan bahwa sel stroma memiliki peran penting dalam pertumbuhan prostat dan bahwa enzim 5AR tipe 2 merupakan kunci dari langkah amplifikasi androgen (Roehrborn, 2008).

b. Peran Growth Factor

Growth factor merupakan molekul peptida kecil yang menstimulasi atau dalam beberapa kasus menghambat proses pembelahan dan diferensiasi sel.

Interaksi antara growth factor dan hormon steroid dapat mengubah keseimbangan proliferasi sel dibandingkan kematian sel dalam menyebabkan BPH. Ada kemungkinan bahwa growth factor memainkan peran penting dalam patogenesis BPH (Roehrborn, 2008).

2.1.4 Faktor Risiko

Dalam populasi, ada lima kategori besar faktor risiko BPH. Disamping usia, kategori lainnya adalah genetik, hormon seks steroid, faktor gaya hidup yang bisa dimodifikasi, dan inflamasi (Parsons, 2010).

1. Genetik

Sebuah analisis case-control, dimana partisipannya adalah pria dengan usia di bawah 64 tahun yang menjalani operasi BPH, mencatat peningkatan risiko empat kali lipat dan enam kali lipat dari operasi BPH antar kerabat dan saudara pada masing-masing kasus. Penelitian lebih lanjut memperkirakan bahwa 50%

pria yang menjalani operasi BPH dengan usia di bawah 60 tahun memiliki

(20)

kecenderungan untuk menurun. Temuan ini menunjukkan sifat autosomal dominan. Pria dengan BPH turunan cenderung memiliki prostat yang lebih besar dan onset usia yang lebih muda (Parsons, 2010).

2. Hormon Seks Steroid

Pada kejadian BPH, proliferasi sel mengarah ke peningkatan volume prostat dan peningkatan stroma tonus otot polos. Peningkatan proliferasi sel dan peningkatan stroma otot polos selanjutnya menyebabkan kompresi fisik terhadap uretra dan obstruksi mekanis terhadap jalan keluar saluran kemih. Di dalam sel sekretori prostat, hormon 5AR mengubah testosteron menjadi DHT. DHT memiliki peran penting dalam patogenesis BPH (Parsons, 2010).

3. Pola Hidup

a. Sindroma Metabolik dan Penyakit Kardiovaskular

Pada sebuah penelitian kohort, pria yang didiagnosa dengan komponen dari sindroma metabolik memiliki peningkatan prevalensi LUTS sebanyak 80%

dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki komponen tersebut. Penelitian lain menunjukkan bahwa pria dengan penyakit jantung secara signifikan meningkatkan risiko klinis BPH dan LUTS.(Parsons, 2010). Penelitian terkini juga menunjukkan bahwa faktor risiko vaskular memiliki peran penting dalam perkembangan LUTS dan sebuah hipotesa menyatakan bahwa aterosklerosis merupakan faktor risiko dalam patogenesis BPH (Nandeesha, 2008).

b. Obesitas

Penelitian sebelumnya mengobservasi bahwa peningkatan adiposa memiliki hubungan positif dengan volume prostat, yaitu semakin besar jumlah adiposa, semakin besar pula volume prostat. Berat badan, indeks masa tubuh, dan ukuran pinggang semuanya memiliki hubungan positif dengan volume prostat pada banyak studi populasi (Parsons, 2010)

c. Diabetes dan Gangguan Homeostasis Glukosa

Gangguan dalam homeostasis glukosa pada tingkatan berbeda, mulai dari perubahan konsentrasi serum insulin growth factor untuk diagnosis klinis diabetes, berhubungan dengan kemungkinan pembesaran prostat, BPH, dan LUTS. Konsentrasi serum insulin-like growth factor-1 dan insulin-like

(21)

growthfactor binding protein-3 berhubungan dengan risiko BPH dan operasi BPH. Peningkatan serum insulin, dan peningkatan kadar gula darah puasa dinyatakan berhubungan dengan peningkatan ukuran prostat dan peningkatan risiko pembesaran prostat, klinis BPH, operasi BPH, dan LUTS pada beberapa studi kohort berbeda yang dikumpulkan dari puluhan ribu orang (Parsons, 2010).

Diabetes juga dilaporkan berhubungan dengan keparahan gejala BPH yang lebih besar (Nandeesha, 2008).

d. Diet

Ada beberapa indikasi pada makronutrisi dan mikronutrisi dapat mempengaruhi risiko BPH dan LUTS. Pada makronutrisi, peningkatan asupan total energi, daging merah, lemak, susu dan produk susu, sereal, roti, daging unggas, dan pati memiliki potensial untuk meningkatkan risiko klinis BPH dan operasi BPH; buah-buahan, sayuran, asam linoleat dan vitamin D memiliki potensial dalam menurunkan risiko BPH dan LUTS. Kemudian pada mikronutrisi, sirkulasi konsentrasi vitamin E yang tinggi, selenium, dan karoten memiliki hubungan terbalik dengan BPH dan LUTS; zinc berhubungan dalam peningkatan dan penurunan risiko (Parsons, 2010).

e. Aktivitas Fisik

Peningkatan aktivitas fisik dan olahraga memiliki hubungan yang konsisten dengan penurunan risiko operasi BPH, klinis BPH, histologi BPH dan LUTS (Parsons, 2010).

4. Inflamasi

Kebanyakan penelitian observasional menunjukkan bahwa inflamasi berhubungan dengan perkembangan BPH dan LUTS. Dalam sebuah studi kohort komunitas, pria yang dilaporkan mengonsumsi NSAIDs setiap hari secara signifikanmenurunkan risiko LUTS, laju aliran urin rendah, peningkatan volume prostat, dan peningkatan PSA (Parsons, 2010).

2.1.5 Patofisiologi

BPH memiliki patofisiologi yang kompleks. Usia diasumsikan saling berhubungan dengan BPH (Ross, 2016). Hiperplasia prostat meningkatkan

(22)

resistensi uretra yang menyebabkan terjadinya mekanisme kompensasi pada fungsi kandung kemih. Perubahan fungsi detrusor pada kandung kemih ini disebabkan oleh obstruksi, ditambah lagi oleh karena perubahan fungsi kandung kemih dan fungsi sistem saraf yang berhubungan dengan usia sehingga menimbulkan keluhan frekuensi berkemih, urgensi dan nokturia. Keluhan-keluhan ini merupakan keluhan yang paling mengganggu sehubungan dengan BPH, sehingga patofisiologi BPH membutuhkan informasi yang lebih rinci mengenai disfungsi kandung kemih yang disebabkan oleh obstruksi (Ross, 2016).

2.1.6 Gejala Klinis

BPH bisa menyebabkan kompresi fisik pada uretra. Kompresi ini akan menyebabkan obstruksi saluran kemih melalui dua cara, yaitu dengan meningkatkan volume prostat, yang disebut sebagai komponen statis dan dengan meningkatkan tonus otot polos, yang disebut sebagai komponen dinamis.

Obstruksi saluran kemih akan menyebabkan lower urinary tract symptoms (LUTS) (Patel, 2014).

Gejala klinis BPH dapat dibagi menjadi gejala obstruktif dan gejala iritatif.

Gejala obstruktif meliputi hesistensi atau kesulitan untuk mulai berkemih, pancaran urin yang melemah dan terputus-putus, sensasi pengosongan kandung kemih yang tidak komplit, berkemih ganda (berkemih yang kedua kalinya dalam waktu 2 jam setelah berkemih sebelumnya), mengedan saat berkemih, dan menetes pada akhir miksi. Kemudian, gejala iritatif meliputi urgensi atau kebutuhan mendesak untuk berkemih, frekuensi berkemih yang biasanya hanya dalam jumlah sedikit pada setiap episode, dan nokturia (Deters, 2015).

2.1.7 Diagnosa

Diagnosa BPH dapat ditegakkan melalui anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang dan pencitraan (Imaging).

a. Anamnesa

Perhatian khusus pada fitur berikut ini penting untuk membuat diagnose yang benar:

(23)

• Onset dan durasi gejala

• Masalah kesehatan umum (termasuk riwayat seksual)

• Kebugaran untuk beberapa kemungkinan intervensi operasi

• Keparahan gejala dan bagaimana gejala mempengaruhi kualitas hidup

• Medikamentosa

• Usaha pengobatan sebelumnya ( Deters, 2015).

LUTS dievaluasi menggunakan International Prostate Symptoms Score (IPSS). Berdasarkan IPSS, LUTS dikategorikan menjadi ringan dengan skor antara 0 - 7, sedang dengan skor antara 8 - 19, dan berat dengan skor antara 20 -35 (Yelselet al., 2015).

Gejala yang sering dikaitkan dengan BPH bisa disebabkan oleh proses penyakit lain. Jadi, anamnesa dan pemeriksaan fisik dibutuhkan untuk mengesampingkan etiologi LUTS lainnya.(Deters, 2015).

b. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan colok dubur merupakan bagian integral dari evaluasi pria yang diduga mengalami BPH. Selama pemeriksaan ini, ukuran prostat dan kontur dapat dinilai, nodul dapat dievaluasi, dan area sugestif keganasan dapat dideteksi.

Prostat diperiksa menggunakan jari telunjuk tangan yang dominan. Jari ditempatkan melalui anus setelah sfingter anus relaksasi, dan prostat diraba secara melingkar. Hasil BPH biasanya merupakan pembesaran prostat yang lembut, tegas dan elastis.(Deters, 2015).

Gambar 2.1 Gambaran Pemeriksaan Colok Dubur (Ylitato et al., 2015).

Volumetrik yang lebih tepat dapat dibuat dengan menggunakan transrectal ultrasonography (TRUS) prostat. Penurunan tonus sfingter anus atau kurangnya refleks otot bulbokavernosus mungkin mengindikasikan gangguan neurologis yang mendasarinya (Deters, 2015).

(24)

c. Pemeriksaan Penunjang

• Urinalisis – periksa urin dengan menggunakan metode dipstick atau via evaluasi sedimen yang disentrifugasi untuk menilai adanya darah, leukosit, bakteri, protein atau glukosa.

• Kultur Urin – hal ini mungkin berguna untuk menyingkirkan penyebab infeksi dari gejala iritatif dan biasanya dilakukan jika ditemukan indikasi abnormal pada urinalisis.

• Prostate-Specific Antigen (PSA) - meskipun BPH tidak menyebabkan kanker prostat, pria dengan risiko BPH juga berisiko terhadap kanker prostat dan seharusnya diskrining. Pasien dengan prostat yang membesar mungkin memiliki kadar PSA sedikit lebih tinggi.

• Elektrolit, BUN, dan Kreatinin – evaluasi ini merupakan alat skrining yang berguna untuk pasien gagal ginjal kronis dengan volume Post voiding residual urine (PVR) tinggi. Pengukuran serum kreatinin rutin tidak diindikasikan untuk evaluasi awal terhadap pria dengan LUTS yang disebabkan oleh BPH.

• Uroflowmetry – pemeriksaan pancaran urin selama proses berkemih.

Pemeriksaan ini ditujukan untuk mendeteksi gejala obstruksi saluran Kemih.(Deters, 2015).

d. Pencitraan (Imaging)

• Ultrasonography (abdomen, renal, transrektal) dan intravenous urography berguna untuk membantu menentukan ukuran kandung kemih dan ukuran prostat dan derajat hidronefrosis (jika ada) pada pasien retensi urin atau dengan gejala gagal ginjal. Secara keseluruhan, pemeriksaan ini tidak diindikasikan untuk evaluasi awal uncomplicated LUTS.

• Transrectal ultrasonography (TRUS) prostat direkomendasikan pada pasien tertentu, untuk menentukan dimensi dan volume kelenjar prostat.

Pada pasien dengan peningkatan kadar PSA, mungkin diindikasikan biopsy TRUS-guided.

(25)

• Foto pada saluran atas diindikasikan pada pasien dengan dijumpainya hematuria bersamaan riwayat urolitiasis, peningkatan kadar kreatinin atau riwayat infeksi saluran kemih atas.

• Pemeriksaan foto lain seperti CT scanning dan MRI tidak memiliki peran penting terhadap evaluasi dan terapi uncomplicated BPH (Deters, 2015).

2.1.8 PenatalaksanaanBenign Prostatic Hyperplasia

Tujuan terapi pada pasien BPH adalah memperbaiki kualitas hidup pasien.

Pilihannya adalah: konservatif (watchful waiting), medikamentosa, pembedahan, dan lain-lain (Mochtar et al., 2015).

1. Konservatif (Watchful Waiting)

Pilihan terapi ini ditujukan untuk pasien dengan skor IPSS < 7, yaitu keluhan ringan yang tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Pada terapi ini, pasien dapat diberikan penjelasan mengenai segala sesuatu hal yang mungkin dapat memperburuk keluhan, misalnya:

a. Jangan banyak minum dan mengkonsumsi kopi atau alkohol setelah makan malam.

b. Kurangi konsumsi makanan atau minuman yang menyebabkan iritasi pada kandung kemih (kopi atau cokelat),

c. Batasi penggunaan obat influenza yang mengandung fenilpropanolamin, d. Jangan menahan kencing terlalu lama,

e. penanganan konstipasi.

Pasien diminta untuk datang kontrol berkala (3-6 bulan) untuk menilai perubahan keluhan yang dirasakan, IPSS, uroflowmetry, maupun volume residu urin (Mochtar et al., 2015).

2. Medikamentosa

Terapi ini diberikan pada pasien dengan skor IPSS >7. Jenis obat yang digunakan adalah:

a. α1-blocker

(26)

Pengobatan dengan α1-blocker bertujuan untuk menghambat kontraksi otot polos prostat sehingga mengurangi resistensi tonus leher kandung kemih dan uretra. Beberapa obat yang tersedia, yaitu terazosin, doksazosin, alfuzosin, dan tamsulosin yang cukup diberikan sekali sehari (Mochtar et al., 2015).

b. 5α-reductase inhibitor (5ARI)

5ARI bekerja dengan cara menginduksi apoptosis sel epitel prostat yang kemudian mengecilkan volume prostat hingga 20 - 30%. Saat ini terdapat 2 jenis 5ARI yang dipakai untuk mengobati BPH, yaitu finasteride dan dutasteride (Mochtar et al., 2015).

c. Antagonis Reseptor Muskarinik

Pengobatan dengan menggunakan obat-obatan antagonis reseptor muskarinik bertujuan untuk menghambat atau mengurangi stimulasi reseptor muskarinik sehingga akan mengurangi kontraksi sel otot polos kandung kemih.

Beberapa obat antagonis reseptor yang terdapat di Indonesia adalah fesoterodine fumarate, propiverine HCL, solifenacin succinate, dan tolterodine I-tartrate (Mochtar et al., 2015).

d. Phospodiesterase 5 Inhibitor (PDE 5-inhibitor)

PDE 5-inhibitor meningkatkan konsentrasi aktivitas dan cyclic guanosine monophosphate (cGMP) intraseluler, sehingga dapat mengurangi tonus otot polosdetrusor, prostat, dan uretra. Saat ini di Indonesia terdapat 3 jenis PDE 5- inhibitor yang tersedia, yaitu sildenafil, vardenafil, dan tadalafil (Mochtar et al., 2015).

e. Terapi Kombinasi

α1-blocker + antagonis reseptor muskarinik.

Terapi kombinasi ini bertujuan untuk memblok α1-adrenoreceptor dan cholinoreceptors muskarinik (M2 dan M3) pada saluran kemih bawah.

Terapikombinasi ini dapat mengurangi frekuensi berkemih, nokturia, urgensi, episode inkontinensia, skor IPSS dan memperbaiki kualitas hidup dibandingkan dengan α1-blocker atau plasebo saja (Mochtar et al., 2015).

f. Fitofarmak

(27)

Beberapa ekstrak tumbuh-tumbuhan tertentu dapat dipakai untuk memperbaiki gejala, tetapi data farmakologis tentang kandungan zat aktif yang mendukung mekanisme kerja obat fitoterapi sampai saat ini belum diketahui dengan jelas. Diantara fitoterapi yang banyak dipasarkan adalah: Pygeum africanum, Serenoa repens, Hypoxis rooperi, Radix urtica, dan masih banyak lainnya (Mochtar et al., 2015).

3. Pembedahan

Indikasi tindakan pembedahan, yaitu pada BPH yang sudah menimbulkan komplikasi, seperti: retensi urin akut, gagal Trial Without Catheter (TwoC), infeksi saluran kemih berulang, hematuria makroskopik berulang, batu kandung kemih, penurunan fungsi ginjal yang disebabkan oleh obstruksi akibat BPH, dan perubahan patologis pada kandung kemih dan saluran kemih bagian atas (Mochtar et al., 2015). Indikasi relatif lain untuk terapi pembedahan adalah keluhan sedang hingga berat, tidak menunjukkan perbaikan setelah pemberian terapi non bedah, dan pasien yang menolak pemberian terapi medikamentosa (Mochtar et al., 2015).

a. Invasif Minimal

- Transurethral Resection of the Prostate (TURP)

TURP merupakan tindakan baku emas pembedahan pada pasien BPH dengan volume prostat 30 - 80 ml. Secara umum, TURP dapat memperbaiki gejala BPH hingga 90% dan meningkatkan laju pancaran urin hingga 100%

(Mochtar et al., 2015).

- Laser Prostatektomi

Terdapat 5 jenis energi yang dipakai untuk terapi invasif BPH, yaitu:

Nd:YAG, Holmium:YAG, KTP:YAG, Green Light Laser, Thulium:YAG (Tm:YAG), dan diode. Penggunaan laser pada terapi pembesaran prostat jinak dianjurkan pada pasien yang terapi antikoagulannya tidak dapat dihentikan (Mochtar et al., 2015).

Tindakan invasif minimal lainnya adalah: Transurethral Incision of theProstate (TUIP) atau insisi leher kandung kemih (bladder neck insicion), termoterapi kelenjar prostat dengan gelombang panas yang dihasilkan dari berbagai cara, seperti Transurethral Microwave Thermotherapy (TUMT),

(28)

Transurethral Needle Ablation (TUNA), dan High Intensity Focused Ultrasound (HIFU), dan stent(Mochtar et al., 2015).

b. Operasi Terbuka

Pembedahan terbuka dapat dilakukan melalui transvesikal (Hryntschack atau Freyer) dan retropubik (Millin). Pembedahan terbuka dianjurkan pada prostat yang volumenya lebih dari 80 ml. Prostatektomi terbuka adalah cara operasi yang paling invasif dengan morbiditas yang lebih besar (Mochtar et al., 2015).

2.2 HUBUNGAN ANTARA BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA DAN INTERNATIONAL PROSTATE SYMPTOM SCORE (IPSS)

International Prostate Symptom Score (IPSS) adalah kuesioner yang dirancang untuk menentukan derajat gejala pada penyakit prostat seperti kanker prostat, prostatitis, dan BPH yang diambil dari American Urological Association Symptom Index (AUASI) (Van et al., 2011). IPSS digunakan di seluruh dunia dalam penelitian klinis dan praktik sebagai alat ukur tingkat keparahan gejala LUTS pada laki-laki (O’ learyet al., 2008).

IPSS terdiri atas tujuh pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan LUTS yang masing-masing memiliki nilai 0 hingga 5 dengan total maksimum 35 dan satu pertanyaan mengenai kualitas hidup (Quality of Life atau QoL) yang terdiri atas tujuh kemungkinan jawaban. LUTS dibagi atas ringan (IPSS 0-7), sedang (IPSS 8-19) atau berat (IPSS 20-35) tergantung pada banyaknya gejala (Basuki,2009).International Prostate Symptom Score (IPSS) juga dapat di gunakan sebagai alat modalitaspengobatan, evaluasi pengobatan, dan tidak lanjut pada pasien BPH (Amu et al., 2013). Oleh karena itu, ada hubungan yang kuat antara BPH dan IPSS.

2.3 QUALITY OF LIFE PADA PASIEN BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA

(29)

Kualitas hidup (Quality of life) merupakan persepsi individu dalam hidupnya yang ditinjau dari konteks budaya, perilaku dan sistem nilai dimana mereka tinggal dan berhubungan dengan standar hidup, harapan, kesenangan, dan penilaian individu terhadap posisi mereka dalam kehidupan. Menurut WHO, pengukuran kualitas hidup mencakup kesehatan fisik, kesehatan psikologis, tingkat kebebasan, hubungan sosial, dan hubungan dengan lingkungan mereka.

WHO mempunyai instrumen dalam menggukur kualitas hidup seseorang, yaitu WHOQOL-100 danWHOQOL-BREF. Instrumen WHOQOL-BREF telah banyak diterjemahkan kedalam berbagai bahasa termasuk dalam bahasa indonesia.

Instrumen WHOQOL-BREF merupakan ringkasan dari WHOQOL-100 yang lebih praktis terdiri dari 4 domain, yaitu aspek kesehatan fisik, aspek kesehatan psikologis, aspek hubungan sosial, dan aspek kondisi lingkungan. Dikemas kedalam 26 pertanyaan yang mewakili keempat domain tersebut, sehingga menjadi ringkas di bandingkan dengan WHOQOL-100. Instrumen WHOQOL- BREF tersebut mampu menjelaskan variasi dari data yang dikumpulkan sebesar 52,9% - 61,4% (WHO, 2004).

BPH telah menjadi masalah kesehatan utama bagi pria usia lanjut karena berhubungan dengan gejala dan komplikasi. Meskipun bukan kondisi yang mengancam jiwa , BPH memiliki efek buruk pada kualitas hidup pasien, sebagaimana yang termanifestasi dalam uji coba komunitas dan klinis (Yee et al.,2014).

Tidak semua pria merasa terganggu dengan gejala LUTS, dan akhirnya mereka tidak mencari pengobatan medis. Dalam beberapa kasus, gejala ini dapat diterima sebagai hal yang wajar terjadi seiring penuaan dan belajar untuk hidup dalam kondisi itu. Pasien BPH yang mencari pengobatan medis biasanya datang pada saat dirinya merasa bahwa gejala yang dirasakan sudah cukup menggangu aktivtas sehari-hari atau dengan kata lain, mengganggu kualitas hidupnya (Roehrborn,2005).

2.4 HUBUNGAN INTERNATIONAL PROSTATE SYMPTOM SCORE (IPSS) DENGAN QUALITY OF LIFE

(30)

Sebuah penelitian dilakukan di Nigeria untuk menentukan nilai IPSS dalam memanajemen pasien BPH. Dengan menggunakan IPSS pretreatment, pasien dibagi menjadi 3 kelompok : kelompok gejala ringan, sedang, dan berat.

Pasien dengan gejala ringan dirawat dengan watchful waiting. Kelompok gejala sedang menerimadoxazosin (α-blocker), sedangkan kelompok gejala berat dengan prostatektomi. Kuesioner diberikan 3 bulan kemudian. Ada peningkatan besar dalam skor IPSS pada kelompok pasien gejala sedang dan berat pada 3 bulan posttreatment. Positive predictive value (PPV) perbaikan gejala pasca perawatan ditemukan menjadi 87%untuk kelompok berat dan 52% untuk kelompok sedang yang di ukur dengan IPSS/QOL (Amu et al., 2013). Studi ini menyimpulkan bahwa IPSS adalah alat yang berharga dalam memanajemen pasien dengan BPH.

2.5 KERANGKA TEORI

Berdasarkan judul penelitian di atas, maka kerangka teori dalam penelitian ini adalah:

Gambar 2.2 Kerangka Teori

(31)

2.6 KERANGKA KONSEP

Berdasarkan judul penelitian di atas, maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah:

Variabel Independen Variabel Dependen

bar

Gambar 2.3 Kerangka Konsep

2.7 HIPOTESA

Ada hubungan antara skor IPSS dengan Quality of life pada pasien BPH dengan LUTSdi Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara

International Prostate Symptom Score (IPSS)

Quality of life pada pasien Benign Prostatic Hyperplasia dengan LUTS

(32)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 RANCANGAN PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian analitik observasionaldengan menggunakan studi cross sectional, yaitu peneliti melakukan observasi

atau pengukuran variabel pada satu saat tertentu.

3.2 LOKASI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara.

Penelitian ini juga akan dilakukan pada bulan Juli 2018.

3.3 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN

3.3.1 Populasi Penelitian

Populasi yang dimaksudkan dalam penelitian adalah subyek yang inginditeliti dan memiliki karakteristik tertentu. Dalam penelitian ini, populasi nya adalah seluruh pasien BPH dengan LUTS di Poli Urologi di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara pada bulan Juli 2018.

3.3.2 Kriteria Inklusi

1. Pasien BPH dengan gejala LUTS yang berobat di Poli Urologi Rumah sakit USU

2. Berusia di atas 50 tahun

3.3.3 Kriteria Eksklusi

1. Tidak bersedia menjadi responden dalam penelitian ini 2. Tidak mengisi kuesioner secara lengkap

3. Pasien LUTS dengan striktur uretra, ISK, prostatitis, keganasan bulu-buli, klinis curiga keganasan prostat, dan batu saluran kemih

(33)

4. Pasien klinis BPH yang sudah mengalami retensi urin dan gagal ginjal 5. Pasien dengan DM dan gangguan penyakit neurologis

6. Pasien sedang dalam menggunakan obat antikolinergik dan antidepressant.

7. Pasien pernah terapi medikamentosa BPH sebelumnya 8. Pasien pernah operasi BPH sebelumya

3.3.4 Sampel

Pengambilan sampel dilakukan dengan metode consecutive sampling yaitu semua subyek yang datang dan memenuhi kriteria di masukan dalam penelitian sampai semua subyek yang diperlukan terpenuhi.

3.3.5 Besar sampel

Besar sampel minimal yang diperlukan untuk penelitian ini menggunakan rumus:

Perkiraan besar sampel:

Proporsi penyakit BPH berdasarkan data RS Haji Adam Malik dan RS Pringadi Medan di dapatkan pasien terbanyak berada pada kelompok usia 60-70 tahun adalah sebesar 27 pasien (51,9%).

Besar sampel memakai rumus:

Dimana:

Zα : nilai normal berdasarkan α = 0,05 dan Zα = 1,96 P : proporsi penyakit BPH (0,519)

Q : 1-P = 1-0,519 = 0,481

d : ketepatan absolut yang dikehendaki (ditentukan peneliti 15%) n : jumlah sampel minimal

𝑛𝑛 =(1,962)(0,519)(0,481)

(0,15)2 = 42,62

(34)

Jadi, sampel minimum yang diteliti adalah 43 orang dengan metode consecutive sampling.

3.4 METODE PENGUMPULAN DATA

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan angket, dengan cara mengedarkan questionnaire (daftar pertanyaan) kepada pasien BPH yang ada di Poli Urologi Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara.

3.5 METODE ANALISA DATA

Data yang telah dikumpulkan akan dianalisismenggunakan sistem komputerisasi dengan program Statistical Product andService Solution (SPSS) yang kemudian disajikan dalam bentuk tabel disertai penjelasan dalam bentuk narasi.Pada data ini akan dilakukan analisis bivariat dan uji hipotesis menggunakan uji korelasi Chi square.

3.6 DEFINISI OPERASIONAL

Definisi operasional untuk penelitian ini meliputi:

a. Pasien Benign Prostatic Hyperplasia

Definisi : Pasien yang didiagnosis mengalami pembesaran prostat jinak yang dibuktikan dengan TBP >20 gram dan hasilhistopatologi jaringan prostat

Cara ukur : Hasil diagnosa dan data dilihat dari rekam medis pasien Alat ukur : Rekam medis

Hasil ukur : BPH atau tidak BPH Skala ukur : Nominal

b. International Prostate Symptom Score (IPSS)

Definisi : Kuesioner yang dirancang untuk menentukan derajat gejala pada penyakit prostat seperti kanker prostat, prostatitis, dan BPH

Cara ukur : Pengisian kuesioner

Alat ukur : IPSS terdiri atas tujuh pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan LUTS yang masing-masing memiliki nilai 0 hingga 5 dengan total maksimum 35 dan satu pertanyaan mengenai kualitas hidup (Quality of Life atau QoL) yang terdiri atas tujuh kemungkinan jawaban

(35)

Hasil ukur : Masing-masing seluruh skor kemudian dijumlahkan dan diinterpretasikan menurut skala:ringan (IPSS 0-7), sedang (IPSS 8-19) atau berat (IPSS 20-35)

Skala ukur : Ordinal c. Quality Of Life

Definisi : Persepsi individu yang ditinjau dari konteks budaya, sistem nilai tempat mereka tinggal, hubungan kesenangan, dan perhatian mereka yang mencakup kesehatan fisik, psikologis, hubungan sosial dan lingkungan.

Cara ukur : Pengisian kuesioner WHO-Qol BREF dengan item pertanyaan.

Alat ukur : Kuesioner. Dengan cara memilih jawaban yang nilainya 1,2,3,4,5.

Hasil ukur : Cut of point< 50 = kualitas hidup buruk, Cut of point > 50 = kualitas hidup baik.

Skala ukur : Kategorik

(36)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan di Poliklinik Bedah Urologi Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara, yang beralamat di JalanDR. T. Mansyur No 66, Merdeka, Medan Baru, Kota Medan, Provinvi Sumatera Utara.

Rumah Sakit Universitas Sumatera Utaratelah diresmikan olehMenteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasirpada tanggal 9 Januari 2017. Rumah sakit ini berdiri sebagai rumah sakit tipeC berdasarkan SK Kepmenkes RI Nomor HK.02.03/I/0396/2015. Rumah Sakit ini juga merupakan rumah sakit pendidikan di Sumatera utara.

Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2018 di Poliklinik Bedah Urologi Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara dengan jumlah sampel 43 orang. Data diperoleh dengan cara mengedarkan questionnaire (daftar pertanyaan) kepada pasien BPH. Berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan,maka dapat disimpulkan hasil penelitian dalam paparan dibawah ini.

Tabel 4.1 GambaranKarakteristikUsiaPenderitaBPH

No. KelompokUsia Frekuensi Persentase(%)

1. 50-59 4 9,3

2. 60-69 24 55,8

3. 70-79 13 30,2

4. 80-89 2 4,7

Total 43 100,0

Responden dalam penelitian ini berjumlah 43 orang yang merupakan pasien BPH yang menjalani rawat jalan di Poliklinik Bedah Urologi Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara. Semua responden tersebut telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan.Data responden diambil dengan cara mengedarkan questionnaire (daftar pertanyaan) dan data identitas kepada pasien BPH yang menjalani rawat jalan di Poliklinik tersebut.

Berdasarkan tabel 4.1, dijumpai kelompok usia yang palingsering menderitaBPH adalahkelompok usia 60-69 tahun,yaitu sebanyak 24orang (55,8%).Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan prevalensi

(37)

BPH mencapai 50-60% pada pria berusia 60 tahun dan meningkat hingga 90%

padapria berusia 70 tahun (Edwards, 2008).

Namun,dijumpaipenurunanjumlahkejadianBPHpadakelompokusia75-

90tahun.HalinitidaksesuaidenganpernyataanDetersyangmenyatakankejadian BPH meningkathingga 90% pada pria berusiadiatas 80tahun (Deters, 2015).Hal ini karena angka harapan hidup masyarakat Indonesia adalah 69 tahun.

Tabel 4.2 GambaranSkor IPSSPenderitaBPH

No. Jenis gejala Frekuensi Persentase(%)

1. Ringan 0 0

2. Sedang 9 20,9

3. Berat 34 79,1

Total 43 100,0

International Prostate Symptom Score (IPSS) adalah kuesioner yang dirancang untuk menentukan derajat gejala pada penyakitBPH yang diambil dari American Urological Association Symptom Index (AUASI) (Van et al., 2011).

Berdasarkantabel4.2,dijumpaiSkor IPSSyangpalingbanyakpada penderitaBPH adalah Berat,yaitu sebanyak34 orang(79,1%).Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan Pasien BPH yang mencari pengobatan medis biasanya datang pada saat dirinya merasa bahwa gejala yang dirasakan sudah cukup menggangu aktivitas sehari-hari atau dengan kata lain, mengganggu kualitas hidupnya (Roehrborn,2005).

Tabel 4.3 GambaranQuality of lifePenderitaBPH

(38)

Quality of life Frekuensi Persentase(%) Kesehatan Fisik

Baik 3 7,0

Buruk 40 93,0

Psikologi

Baik 23 53.5

Buruk 20 46,5

Hubungan Sosial

Baik 5 11,6

Buruk 38 88,4

Kesehatan Lingkungan

Baik 12 27,9

Buruk 31 72,1

Berdasarkantabel4.3,dijumpai pasien dengan kesehatan fisik buruk 40 0rang (93,0%), pasien dengan psikologi buruk 20 orang (46,5%), pasien dengan hubungan sosial buruk38 orang (88,4%) pasien dengan kesehatan lingkungan buruk 31 orang (72,1%). Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan BPH telah menjadi masalah kesehatan utama bagi pria usia lanjut.

Meskipun bukan kondisi yang mengancam jiwa , BPH memiliki efek buruk pada kualitas hidup pasien (Yee et al.,2014).

Hubungan antara skor IPSS dengan Quality of life pada pasien BPH dengan LUTSdiujimenggunakanujichi-square.

Tabel 4.4Hubungan Skor IPSS dengan kesehatan fisik Pasien BPH

(39)

Dari hasilanalisisdengan menggunakan ujichi-square didapatkan nilaip valuesebesar 0,043.Berdasarkannilaipvalue,makapada

penelitianiniterdapathubunganyang signifikanantaraHubungan Skor IPSS dengan Quality of lifeyaitu kesehatan fisik Pasien BPH.

Tabel 4.5Hubungan Skor IPSS dengan psikologi Pasien BPH

Dari hasilanalisisdengan menggunakan ujichi-square didapatkan nilaip valuesebesar 0,0017.Berdasarkannilaipvalue,makapada

penelitianiniterdapathubunganyang signifikanantaraHubungan Skor IPSS dengan Quality of lifeyaitu psikologi Pasien BPH.

Tabel 4.6Hubungan Skor IPSS dengan hubungan socialPasien BPH

Kesehatan fisik Skor IPSS P value

Ringan Sedang Berat Total

Buruk 0 7 33 40 0,043

Baik 0 2 1 3

Total 0 9 34 43

Psikologi Skor IPSS P value

Ringan Sedang Berat Total

Buruk 0 1 19 20 0,017

Baik 0 8 15 23

Total 0 9 34 43

(40)

Dari hasilanalisisdengan menggunakan ujichi-square didapatkan nilaip valuesebesar 0,022.Berdasarkannilaipvalue,makapada

penelitianiniterdapathubunganyang signifikanantaraHubungan Skor IPSS dengan Quality of lifeyaitu hubungan sosial Pasien BPH.

Tabel 4.7Hubungan Skor IPSS dengan lingkungan Pasien BPH

Dari hasilanalisisdengan menggunakan ujichi-square didapatkan nilaip valuesebesar 0,038.Berdasarkannilaipvalue,makapada penelitianiniterdapathubunganyang signifikanantaraHubungan Skor IPSS dengan Quality of lifeyaitu lingkungan Pasien BPH.

Pada penelitian ini di dapatkan hasil Kualitas hidup menunjukkan ada hubunganyang signifikan pada 4domain, yakni domain fisik, domain psikologi, domain sosial dan domain lingkungan dengan Skor IPSS pada pasien BPH dengan LUTS. Hal ini sesuai dengan penelitian Rohmah,dkkdi manado pada tahun 2012 menunjukkan bahwa faktor fisik berpengaruh terhadap kualitas hidup (p=0.001), faktor psikologis berpengaruh terhadap kualitas hidup (p=0.001), factor sosial

Hubungan Sosial

Skor IPSS P value

Ringan Sedang Berat Total

Buruk 0 6 32 38 0,022

Baik 0 3 2 5

Total 0 9 34 43

Lingkungan Skor IPSS P value

Ringan Sedang Berat Total

Buruk 0 4 27 31 0,038

Baik 0 5 7 12

Total 0 9 34 43

(41)

berpengaruh terhadap kualitas hidup (p=0.001), dan faktor lingkungan berpengaruh terhadap kualitas hidup (p=0.004). Pada penelitian lain yang dilakukan Prayoga di Jember pada tahun 2017, ke empat domain pada kualitas hidup dalam questionnaire WHO juga terbukti secara signifikan berpengaruh terhadap score IPSS pada pasien BPH. Pengaruh pada masing-masing domain dikatakan berbeda dilihat dari nilai r pada hasil uji statistik. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa faktor fisik, faktor psikologis, faktor sosial, dan faktor lingkungan di dapatkan nilai p berturut-turut 0,001; 0,001; 0,001 dan 0,375 berpengaruh pada kualitas hidup dan faktor psikologis menjadi faktor yang paling dominan.

Kekurangan dalam penelitian ini adalah tidak menilai Tingkat Pendidikan dari subjek.Saran Kepada Peneliti Selanjutnya Diharapkan Tingkat Pendidikan dan Penyakit penyerta dapat di masukkan kedalam penelitian.

(42)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dengan judulHubungan antara skor IPSS dengan Quality of life pada pasien BPH dengan LUTSdi Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara:

1. Berdasarkan karakteristik penderita BPH, pada penelitian ini dijumpai kelompok usia yang palingseringmenderitaBPHadalahusia60-69 tahun,yaitu sebanyak 24orang (55,8%).

2. Hasil analisis dengan menggunakan uji chi square pada penelitian ini menunjukkanbahwaterdapathubunganyangsignifikanantaraskor IPSS dengan Quality of lifeyaitu kesehatan fisik pada pasien BPH dengan LUTSdi Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara(pvalue=0,043).

3. Hasil analisis dengan menggunakan uji chi square pada penelitian ini menunjukkanbahwaterdapathubunganyangsignifikanantaraskor IPSS dengan Quality of lifeyaitu psikologi pada pasien BPH dengan LUTSdi Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara(pvalue=0,017).

4. Hasil analisis dengan menggunakan uji chi square pada penelitian ini menunjukkanbahwaterdapathubunganyangsignifikanantaraskor IPSS dengan Quality of lifeyaitu hubungan sosial pada pasien BPH dengan LUTSdi Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara(pvalue=0,022).

5. Hasil analisis dengan menggunakan uji chi square pada penelitian ini menunjukkanbahwa terdapathubunganyangsignifikanantaraskor IPSS dengan Quality of lifeyaitu lingkungan pada pasien BPH dengan LUTSdi Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara(pvalue=0,038).

5.2 SARAN

(43)

Beberapa hal yang dapat disarankan berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan antara lain :

1. Bagi Masyarakat

Kepada masyarakatyang mengalami gejala tidak mampu menahan kencing, frekuensi kencing yang tidak normal, pancaran kencing yang lemah, pancaran kencing yang terputus-putus, perasaan yang tidakpuas setelah selesai berkemih, mengejan saat memulai berkemih, disarankan untuk sesgera memeriksakan diri ke dokter atau rumah sakit setempat.

2. Bagi Tenaga Kesehatan

Melakukan program edukasi tentang penyakit BPH dengan LUTS dan memberikan penyuluhan pencegahan BPH dengan LUTS atau kertas selebaran tentang tindakan pencegahan BPH.

3. Bagi Pemerintah

Mengambil langkah yang lebih proaktif dengan meningkatkan lagi program pencegahan BPH dengan LUTS di lingkungan masyarakat.

4. Bagi Penelitian Selanjutnya

Kepada peneliti selanjutnya agar bisa mengembangkan lagi penelitian ini supaya bisa menjadi pembelajaran yang lebih baik.

(44)

DAFTAR PUSTAKA

American Urological Association. American Urological Association Guideline:

Management of Benign Prostatic Hyperplasia (BPH). American Urological Association Education and Research, Inc.; 2010. Available from:

https://www.auanet.org/common/pdf/education /clinicalguidance/Benign- Prostatic-Hyperplasia.pdf

Afiyanti, Yati, 2010. Analisis Konsep Kualitas Hidup. Jurnal Keperawatan Volume 13 Nomor 2; 81-86.

Amu O, Udeh E, Ugochukwu A, Dakum N, Ramyil V. The value of intenational prostate symptom scoring system in the management of BPH in Jos, Nigeria.

Nigeria journal of Clinical Practice. 2013;16(3):273-8

Arslantas D, Gokler ME, Unsal A, Baseskioglu B. 2017. Prevalence of Lower Urinary Tract Symptoms Among Individuals Aged 50 Years and Over and Its Effect on the Quality of Life in a Semi-Rural Area of Western Turkey. LUTS:

Lower Urinary Tract Symptoms. 9(1):5–9.

Basuki B Purnomo. Dasar-dasarUrologi. Edisikedua. Jakarta: SagungSeto; 2009.

Chughtai B, Lee R, Te A., Kaplan S. 2011. Role of inflammation in benign prostatic hyperplasia. Reviews in urology. 13(3):47–50.

Deters LA. Benign Prostatic Hypertrophy: Practice Essentials, Background, Anatomy [Internet]. Emedicine.medscape.com. 2015 [cited 30 April 2016].

Available from: http://www.emedicine.medscape.com/article/437359- Overview

Edwards J. Diagnosis and Management of Benign Prostatic Hyperplasia – American Family Physician. Aafp.org. 2008.

Foster CS. 2008. Pathology of benign prostatic hyperplasia. Prostate. 45(Suppl. 9):4–

14.

Giri A, Edwards TL, Motley SS, Byerly SH, Fowke JH. Genetic Determinants of Metabolism and Benign Prostate Enlargement: Associations with Prostate Volume. PLOS ONE. 2015;10(7):e0132028.

Ikatan Ahli Urologi Indonesia. Clinical Pathway 10 Penyakit Urologi Tersering [Internet]. Ikatan Ahli Urologi Indonesia;2015. Available from:http://www.iaui.or.id/ast/file/CLINICAL_PATHWAY_(CP%20IAUI).p df

(45)

Lepor H. Pathophysiology, Epidemiology, and Natural History of Benign Prostatic Hyperplasia. Rev Urol. 2004;6(Suppl 9):S3.

Matthew BG, Alan W Partin, David YC. Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS) and Benign Prostatic Hyperplasia (BPH). In: Robert G Moore, Jay T Bishoff, StefanLoenig, Steven G Docimo, eds. Minimally Invasive Urological Surgery.

USA: Taylor and Francis Group plc; 2005. p.545.

Mochtar C, Umbas R, Soebadi D, Rasyid N, Nugroho B, Purnomo B et al. Panduan Penatalaksanaan Klinis Pembesaran Prostat Jinak (Benign Prostatic Hyperplasia/BPH) [Internet]. Jakarta: Ikatan Ahli Urologi Indonesia; 2015.

Available from: http://www.iaui.or.id/ast/file/Guideline_BPH_(2015).pdf Nandeesha H. Benign prostatic hyperplasia: Dietary and metabolic risk factors. Int

Urol Nephro. 2008;40(3):649-56.

O’ leary MP, Wei JT, Roehrborn CG, Miner M. Correlation of the International Prostate Symptom Score bother question with the Benign Prostatic Hyperplasia Impact Index in a clinical practice setting. BJU International.

2008; 101(12):1531-5.

Parsons J. Benign Prostatic Hyperplasia and Male Lower Urinary Tract Symptoms:

Epidemiology and Risk Factors. Curr Bladder Dysfunct Rep. 2010;5(4):212- 218.

Patel ND, Parsons JK. Epidemiology and etiology of benign prostatic hyperplasia and bladder outlet obstruction. Indian J Urol. 2014;30(2):170.

Prayoga.T. K. Putra. (2017). Analisis Perbedaan Derajat Keparahan Dan Kualitas Hidup Pasien BPH Diabetes Dengan BPH Non-Diabetes. Jember.

Roehrborn CG. Benign prostatic hyperplasia: an overview. Rev Urol. 2005;7(Suppl 9):S3

Roehrborn Claus G. Benign Prostatic Hyperplasia: An Overview. The University of Texas Southwestern Medical Center. Dallas, Tx, 2005.

Roehrborn CG. Pathology of benign prostatic hyperplasia. Int J Impot Res.2008;20:S11-S18.

Rohmah. A. I. N.,Purwaningsih., Bariyah. K (2012).Kualitas Hidup Lanjut Usia.

Malang: Jurnal Keperawatan, ISSN 2086-3071

(46)

Ross AE, Rodriguez R. Development, Molecular Biology, and Physiology of the Prostate. In: Wein A, Kavoussi L, Partin A, Peters C, ed. by. Campbell-Walsh Urology. 11th ed. Philadelphia: Elsevier, Inc.; 2016. p. 2393-2396.

Sinaga UM, B Harry, L Aznan. Majalah Kedokteran Nusantara. Volume 39;

September 2016.

Spatafora S, Casarico A, Fandella A, Galetti C, Hurle R, Mazzini E, et al. Evidence- based guidelines for the treatment of lower urinary tract symptoms related to uncomplicated benign prostatic hyperplasia in Italy: updated summary from AURO.it.- PubMed – NCBI. Ncbi.nlm.nih.gov. 2012.

Trumble BC, Stieglitz J, Rodriguez DE, Linares EC, Kaplan HS, Gurven MD.

Challenging the Inevitability of Prostate Enlargement: Low Levels of Benign Prostatic Hyperplasia Among Tsimane Forage-Horticulturalist. J Gerontol A Biol Sci Med Sci. 2015;70(10):1262-8.

Van der Walt CL, Heyns CF, Groeneveld AE, Edlin RS, Van Vuuren SP.

Prospective comparison of a new visual prostate symptom score versus the international prostate symptom score in men with lower urinary tract symptom. Urology. 2011;78(1):17-20

Vuichoud C, Loughlin KR. Benign prostatic hyperplasia: epidemiology, economics and evaluation. Can J Urol. 2015;22(5 Suppl 1):1-6.

WHO. 2004. Programme on Mental Health WHOQOL Measuring Quality of Life.

Division of mental Health and Prevention of Subtance Abuse.

Yee Ch, Li JK, Lam HC, Chan ES, Hou SSM, Ng CF. The prevalence of lower urinary tract symptoms in a chinese population, and the correlation with uroflowmetry and disease perception. International Urology and Nephrology.

2014;46(4):703-10.

Yelsel K, Alma E, Eken A, Gulum M, Ercil H, Ayyildiz A. Effect of obesity on International Prostate Symptom Score and prostate volume. Urol Ann. 2015.

Ylitalo AW, Santucci RA, Roberts KE. Digital Rectal Examination[Internet].

Emedicine.medscape.com. 2015 [cited 16 May 2016]. Available from:

http://www.emedicine.medscape.com/article/1948001-overview.

Yee Ch, Li JK, Lam HC, Chan ES, Hou SSM, Ng CF. The prevalence of lower urinary tract symptoms in a chinese population, and the correlation with uroflowmetry and disease perception. International Urology and Nephrology.

2014;46(4):703-10.

(47)

LAMPIRAN Lampiran A

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama Lengkap : Bulan Muqarramah

NIM : 150100129

Tempat/Tanggal Lahir : Kutacane, 03 Mei 1997

Agama : Islam

Nama Ayah : Mahadi Pinem,S.Hut Nama Ibu : Emiyati, S.E.

Alamat : Jalan kenari no 9, kel. Kota Kutacane, Kec.

Babussalam, Aceh tenggara.

Riwayat Pendidikan :

1. SDMIN Kutacane(2003 - 2009) 2. SMP Negeri 1 Kutacane(2009-2012) 3. SMA Negeri PERISAI(2012 -2015)

4. FakultasKedokteran USU (2015 –sekarang) Riwayat Pelatihan :

1. Peserta Manajemen Mahasiswa Baru (MMB) FK USU 2015

2. Peserta Seminar Kesehatan Jantung & Workshop “Save Your Heart, Save Your Life” SCOPH PEMA FK USU 2016

Prestasi Akademik :

1. Juara II Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Tingkat SMP 2011/2012 2. Juara I Duta Wisata Aceh Tenggara 2013

3. Juara II Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Tingkat SMA 2014/2015

(48)

Lampiran B

Pernyataan Orisinalitas

PERNYATAAN

Hubungan Antara Skor IPSS dengan Quality of Life pada Pasien BPH dengan LUTS di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara

Dengan ini penulis menyatakan bahwa skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh Sarjana Kedokteran pada Program Studi Pendidikan Dokter pada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.

Adapun pengutipan yang penulis lakukan pada bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan skripsi ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penelitian ilmiah.

Apabila dikemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian skripsi ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Medan, 20 November 2018 Penulis,

Bulan Muqarramah NIM.150100129

Gambar

Gambar 2.1 Gambaran Pemeriksaan Colok Dubur (Ylitato et al., 2015).
Gambar 2.2 Kerangka Teori

Referensi

Dokumen terkait

Adalah hasil karya saya dan dalam naskah Tesis/Disertasi*) ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar akademik di suatu Perguruan Tinggi dan tidak

Dalam penulisan ilmiah ini penulis akan menjelaskan tentang pembuatan tes IQ yang diletakkan di Jaringan Internet dengan menggunakan ASP, Dreamweaver dan Photoshop. Situs ini

SEMESTER GENAP TAHUN AKADEMIK 2014/2015 PROGRAM STUDI : KOMPUTERISASI AKUNTANSI.

Bila dibandingkan dengan capaian rumah tangga yang berperilaku hidup bersih dan sehat di kecamatan Bulu pada tahun 2013 sebesar 85,8%, angka ketiga desa tersebut juga masih

Pengaruh Faktor Internal Mahasiswa Program Studi Sastra Arab USU Dalam Belajar Muhadaṡah Bahasa Arab pada Program Studi Sastra.. Skripsi mahasiswa Departemen Sastra Arab

Selain dalam menghadirkan value tambahan, tingkat tersebut menunjukan bahwa stasiun radio tersebut belum memiliki standar operasional yang jelas terkait penggunaan

Pendekatan analisa teknikal belum tentu cocok bagi semua investor, pembaca disarankan untuk melakukan penilaian terhadap diri sendiri mengenai analisa investasi yang cocok dengan

Pada siklus I, Untuk siklus I jumlah yang tuntas sebanyak 16 siswa (50%) dan yang tidak tuntas sebanyak 16 siswa (50%), sedangkan pada siklus II meningkat jumlah siswa yang