• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 PARADIGMA PENELITIAN

Paradigma merupakan sebuah pandangan yang menjadi dasar dari suatu ilmu mengenai hal yang menjadi inti persoalan yang dipelajari. Mengutip Kuhn, paradigma dinyatakan sebagai cara untuk mengetahui realitas sosial yang dikonstruksi serta merupakan kumpulan dari asumsi dan konsep yang mengarahkan cara berpikir dalam penelitian (Nugroho, 2018).

Menurut Denzin dan Lincoln, paradigma penelitian dibagi menjadi lima, yaitu paradigma positivisme atau naturalisme, post-positivisme, teori kritik, konstruktivisme, dan partisipatoris (Denzin & Lincoln, 2009). Paradigma positivisme meyakini bahwa realitas sosial lahir dan berjalan menurut hukum alam.

Paradigma post-positivisme merupakan kritik dari paradigma positivisme dan berpandangan bahwa walaupun realitas memang bersifat objektif seperti hukum alam, peneliti tetap tidak dapat melihat sepenuhnya dengan benar karena individu tidak dapat didekati dengan memperlakukannya sebagai objek, tetapi harus sebagai subjek. Bertolak belakang dengan paradigma positivisme, paradigma konstruktivisme melihat bahwa realitas empiris bersifat dapat relatif dan konstruktif, artinya realitas ada dalam berbagai bentuk berdasarkan pengalaman, bersifat spesifik tergantung pada individu yang melakukannya, dan tidak dapat digeneralisasi. Sementara itu, teori kritik atau paradigma kritis menilai realitas tidak

63

(2)

dapat dilihat secara tepat oleh pengamatan manusia karena realitas yang tampak adalah realitas semu yang terbentuk oleh proses sejarah. Terakhir, paradigma partisipatoris melihat realitas yang melibatkan partisipasi subjek dan dapat bersifat subjektif-objektif karena diciptakan bersama-sama oleh pemikiran dunia sosial yang telah ada sebelumnya (Denzin & Lincoln, 2009).

Paradigma penelitian memengaruhi metodologi dan hasil penelitian karena menjadi perspektif atau posisi yang dipilih oleh peneliti dalam melakukan penelitiannya. Dalam penelitian ini, peneliti memilih untuk menggunakan paradigma konstruktivisme agar peneliti dapat mencoba memahami konstruksi yang sebelumnya sudah ada mengenai kehadiran kelompok LGBT dan fenomena pemberitaannya dalam media. Dengan paradigma konstruktivisme ini, peneliti tidak menciptakan generalisasi atas realitas yang tampak dari hasil penelitian, tetapi mencoba memahami realitas yang mungkin terlihat berbeda dari kelompok yang memiliki keragaman juga, yaitu khalayak pembaca The Jakarta Post.

Dengan mengangkat topik penelitian yang berfokus pada bagaimana sikap khalayak terhadap pemberitaan isu LGBT di The Jakarta Post, penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme karena sifat realitas yang diteliti bersifat relatif dan subjektif. Realitas yang sama dapat diinterpretasi secara berbeda oleh kelompok yang berbeda. Seperti khalayak pembaca The Jakarta Post yang memiliki latar belakang yang berbeda mempunyai kecenderungan untuk memiliki sikap yang cenderung beragam akan pemberitaan yang disajikan oleh The Jakarta Post, khususnya terkait isu LGBT.

(3)

Penggunaan paradigma konstruktivisme ini dilakukan dengan tujuan agar peneliti dapat lebih memahami keberagaman sikap khalayak terhadap pemberitaan LGBT di The Jakarta Post yang beragam. Dengan paradigma konstruktivisme ini, peneliti melihat realitas yang ada bersifat relatif dan akan berbeda-beda antara individu satu dengan lainnya sehingga bersifat. Dengan latar dan set prosedur metodologi yang natural, peneliti berusaha memahami realitas yang bersifat relatif dan subjektif menurut setiap khalayak pembaca The Jakarta Post yang dijadikan subjek penelitian.

3.2 JENIS DAN SIFAT PENELITIAN

Dalam melakukan penelitian, terdapat dua pendekatan yang dapat digunakan, yaitu pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif. Penelitian kuantitatif merupakan pendekatan yang bertujuan untuk pengujian teori atau konsep dengan memeriksa hubungan antara variabel. Sementara itu, pendekatan kualitatif merupakan pendekatan untuk mengeksplorasi dan memahami makna individu atau kelompok yang berkaitan dengan fenomena atau masalah sosial (Creswell, 2014).

Sifat penelitian terbagi menjadi tiga, yaitu eksplanatif, eksploratif, dan deskriptif. Penelitian eksplanatif merupakan penelitian mendasar yang bertujuan untuk memperoleh keterangan, informasi, dan data mengenai suatu fenomena untuk menguji teori atau hipotesis. Penelitian eksploratif adalah penelitian yang bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai konsep atau pola dalam penelitian terkait topik baru agar lebih dikenal masyarakat luas. Sementara itu, penelitian deskriptif

(4)

merupakan penelitian yang bertujuan untuk menyajikan gambaran mengenai latar atau setting sosial suatu fenomena dengan mendeskripsikan secara mendetail fenomena tersebut (Bhattacherjee, 2012).

Dalam penelitian ini, pendekatan yang akan digunakan adalah kualitatif.

Pusat perhatian peneliti pada penelitian berjenis kualitatif ini adalah mempelajari dan menggali informasi yang lebih detail, komprehensif, dan mendalam terkait bagaimana sikap khalayak terhadap pemberitaan LGBT yang dimuat di The Jakarta Post. Dengan pendekatan kualitatif, peneliti berharap akan mendapatkan data yang lebih detail dan komprehensif untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam terkait sikap khalayak yang beragam terhadap pemberitaan LGBT di The Jakarta Post. Melalui pendekatan kualitatif ini, peneliti dapat mengeksplorasi jawaban- jawaban dari subjek yang diteliti dan menginterpretasi makna yang disampaikan oleh tiap individu khalayak yang beragam tersebut.

Penelitian yang akan dilakukan ini bersifat deskriptif untuk menggambarkan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta dan sifat dari fenomena tertentu (Kriyantono, 2016) yang dalam hal ini adalah sikap khalayak terhadap pemberitaan LGBT di The Jakarta Post. Sifat penelitian ini adalah deskriptif agar fenomena mengenai keberagaman sikap khalayak terhadap pemberitaan isu LGBT di The Jakarta Post ini dapat digambarkan secara detail dan menyeluruh. Dengan gambaran yang detail, penelitian ini akan lebih mudah memberikan pemahaman atas sikap khalayak yang berbeda-beda terhadap pemberitaan isu LGBT di The Jakarta Post tersebut.

(5)

Peneliti memilih jenis dan sifat penelitian kualitatif deskriptif dengan alasan agar peneliti mendapatkan jawaban dalam bentuk penjelasan dengan komprehensif, detail, dan makna yang lebih mendalam mengenai bagaimana sikap khalayak yang beragam mengenai pemberitaan terkait LGBT di The Jakarta Post. Penelitian ini dapat memanfaatkan data kualitatif untuk menggambarkan atau mendeskripsikan fenomena mengenai bagaimana sikap khalayak dalam melihat pemberitaan yang menyangkut LGBT pada The Jakarta Post. Sifat deskriptif ini membuat penelitian akan menampilkan hasil data kualitatif berupa penjabaran yang rinci serta bersifat apa adanya dalam mengilustrasikan karakteristik, kualitas, serta sikap objek yang diteliti, yaitu khalayak pembaca The Jakarta Post.

3.3 METODE PENELITIAN

Metode penelitian merupakan proses atau cara ilmiah dalam memperoleh data yang nantinya akan digunakan untuk penelitian (Sugiyono, 2010). Menurut Creswell, metode penelitian merupakan prosedur yang dengan karakterisasi secara induktif dan dibentuk berdasarkan pengalaman peneliti dalam mengumpulkan dan menganalisis data. Creswell menyebutkan bahwa terdapat lima metode penelitian yang biasa dilakukan, yaitu narrative research, fenomenologi, etnografi, grounded theory, dan studi kasus (Creswell, 2014).

Narrative research merupakan salah satu metode penelitian kualitatif yang dilakukan dengan mengumpulkan cerita secara terperinci, misalnya dengan menulis narasi pengalaman individu dan mendiskusikan makna pengalaman dengan individu. Fenomenologi merupakan metode yang memiliki tujuan untuk

(6)

memperoleh interpretasi akan pemahaman manusia sebagai subjek atas fenomena yang terlihat dan makna di balik fenomena tersebut. Etnografi merupakan metode penelitian kualitatif untuk mendapatkan penjelasan dan penafsiran suatu budaya atau sistem kelompok sosial. Grounded theory merupakan metode penelitian kualitatif yang menekankan bahwa teori harus dibangun beralaskan data. Terakhir, studi kasus merupakan metode penelitian kualitatif yang mengeksplorasi, menyelidiki dan mempelajari secara terperinci satu atau beberapa kasus (Creswell, 2014).

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode studi kasus untuk menyelidiki dan mempelajari secara cermat sekelompok individu, yaitu khalayak pembaca The Jakarta Post. Terdapat beberapa jenis studi kasus yang dapat digunakan sebagai metode penelitian kualitatif. Menurut Stake, terdapat tiga jenis studi kasus, yaitu studi kasus instrumen tunggal, studi kasus kolektif atau majemuk, dan studi kasus intrinsik. Studi kasus instrumen tunggal merupakan metode studi kasus yang hanya berfokus pada satu isu yang menjadi pusat perhatian dan menggunakan satu kasus terbatas untuk mengilustrasikannya. Sementara itu, studi kasus kolektif berpusat pada suatu isu, tetapi menggunakan beberapa kasus terkait untuk mengilustrasikan fenomena tersebut. Berbeda dengan studi kasus instrumen tunggal dan kolektif, studi kasus intrinsik lebih berfokus pada kasus itu sendiri dan bertujuan untuk memahami lebih baik dan mendalam (Yazan, 2015).

Pembagian jenis studi kasus menurut Stake berbeda dengan Yin. Studi kasus menurut Yin memiliki struktur desain yang lebih rigid, ketat, dan tidak fleksibel apabila dibandingkan dengan studi kasus oleh Stake (Prihatsanti,

(7)

Suryanto, & Hendriani, 2018). Studi kasus menurut Yin dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu studi kasus eksplanatoris, eksploratoris, dan deskriptif. Studi kasus eksplanatoris bertujuan untuk menjelaskan hubungan kausal atau menguji untuk memperkuat suatu teori. Studi kasus eksploratoris lebih mengeksplorasi atau menggali untuk memperoleh keterangan, informasi, dan data untuk mengetahui situasi yang belum diketahui sebelumnya. Sementara itu, studi kasus deskriptif lebih berfokus untuk memperoleh ilustrasi atau gambaran lengkap mengenai suatu fenomena tertentu (Yazan, 2015).

Penelitian ini menggunakan metode studi kasus menurut Yin dengan jenis deskriptif untuk memperoleh gambaran secara lengkap dan menyeluruh terhadap bagaimana sikap khalayak terhadap pemberitaan LGBT di The Jakarta Post. Studi kasus deskriptif dengan struktur desain yang lebih ketat ini dilakukan agar penelitian dapat memberikan penjelasan yang lengkap dan spesifik mengenai fenomena beragamnya sikap khalayak terhadap pemberitaan kelompok LGBT ini.

Hasil respons khalayak dalam setiap kasusnya akan dianalisis untuk memberikan ilustrasi yang dapat menjelaskan secara lengkap mengenai bagaimana perbedaan atau ragam sikap yang khalayak miliki terhadap pemberitaan kelompok LGBT di The Jakarta Post dan faktor yang berperan dalam menentukan sikap tersebut.

Dengan menggunakan metode studi kasus, penelitian ini akan berfokus menggali dan mengembangkan deskripsi mendalam dan analisis atas kasus-kasus yang menarik dan spesifik terkait beragamnya sikap khalayak terhadap pemberitaan LGBT di The Jakarta Post. Deskripsi mendalam tersebut meliputi bagaimana dan sikap seperti apa yang dimiliki khalayak terhadap pemberitaan LGBT di The

(8)

Jakarta Post tersebut, apa yang melatarbelakangi sikap tersebut, serta faktor-faktor yang berperan dalam menentukan sikap yang dipaparkan secara rinci agar penelitian dapat menghasilkan pemahaman yang utuh atas kasus tersebut.

3.4 INFORMAN

Dalam memperoleh data untuk penelitian kualitatif, peneliti membutuhkan informan yang dapat memberikan informasi terkait topik penelitian yang akan dilakukan. Menurut Hendarsono dalam Suyanto, informan dalam penelitian meliputi informan kunci (key informan), informan utama, dan informan tambahan.

Informan kunci merupakan orang yang dapat memberikan informasi pokok yang sangat penting terkait isu yang diteliti dan biasanya memiliki posisi atau kompetensi yang tinggi (Suyanto, Bagong, & Sutinah, 2005). Informan utama merupakan orang yang terlibat secara langsung dalam fenomena, peristiwa, atau interaksi sosial yang akan diteliti dan memiliki pengalaman serta pemahaman sesuai topik. Sementara itu, informan tambahan merupakan orang yang tidak terlibat secara langsung, tetapi memiliki informasi penting yang dibutuhkan untuk melengkapi penelitian (Suyanto, Bagong, & Sutinah, 2005).

Teknik penentuan informan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik purposive sampling. Menurut Sugiyono, teknik purposive sampling merupakan cara mengambil sampel sebagai sumber data dengan pertimbangan atau kriteria tertentu (Sugiyono, 2010). Peneliti menggunakan teknik purposive sampling dalam menentukan informan karena dalam menggali informasi, tidak sembarang informan dapat memberikan keterangan yang tepat dan

(9)

dibutuhkan terkait topik penelitian. Oleh karena itu, peneliti harus mempertimbangkan kriteria informan sebagai sumber informasi untuk kepentingan penelitian ini.

Kriteria informan yang harus dipertimbangkan dalam penelitian kualitatif menurut Spradley (Moleong L. J., 2004) adalah sebagai berikut.

1. Informan yang intensif menyatu dengan suatu kegiatan yang menjadi sasaran atau perhatian penelitian.

2. Informan masih terikat secara penuh serta aktif pada lingkungan dan kegiatan yang menjadi sasaran penelitian.

3. Informan memiliki cukup banyak waktu dan kesempatan untuk dimintai informasi.

4. Informan yang dalam memberikan informasi tidak cenderung diolah atau dikemas terlebih dahulu dan mereka relatif masih lugu dalam memberikan informasi.

Dalam penelitian ini, informan yang akan memberikan informasi pokok terkait isu yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah khalayak pembaca The Jakarta Post yang dapat memberikan pandangannya terkait pemberitaan isu LGBT di media. Berikut merupakan kriteria informan dalam penelitian ini.

Tabel 3.1 Kriteria Informan

No. Kriteria Informan

1. Bersedia diwawancara

2. Merupakan khalayak pembaca The Jakarta Post

3. Mengikuti perkembangan berita di The Jakarta Post khususnya mengenai isu LGBT

4. Memiliki latar belakang agama yang kuat (religius) dan tidak religius

(10)

5. Merupakan generasi milenial dan generasi X

6. Memiliki latar belakang pendidikan SMA dan minimal S1

Kriteria dasar informan yang akan menjadi sumber data kualitatif dalam penelitian ini adalah bersedia diwawancara, merupakan khalayak pembaca The Jakarta Post, dan mengikuti perkembangan berita LGBT di media tersebut. Selain itu, peneliti juga akan melihat latar belakang agama, usia, dan pendidikan untuk dapat mengamati bagaimana faktor latar belakang tersebut berperan dalam membentuk sikap mereka.

Dengan informan yang sesuai dengan kriteria tersebut, peneliti akan mendapatkan informasi yang tepat untuk dibahas dan dipelajari lebih lanjut dalam memahami ragam sikap khalayak terhadap pemberitaan LGBT di di The Jakarta Post dan menganalisis faktor-faktor yang berperan dalam menentukan sikap tersebut. Informan yang tepat akan memberikan informasi dan data kualitatif yang lebih detail dan lengkap sehingga dapat memberikan pemahaman yang cukup jelas dan mendalam terhadap kasus yang diteliti, yaitu sikap khalayak terhadap pemberitaan LGBT di The Jakarta Post.

3.5 TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Dalam melakukan penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan dengan natural setting atau latar tempat dan waktu penelitian yang alamiah dengan mementingkan kualitas sumber data (Bachri, 2016). Menurut Sugiyono, terdapat empat jenis teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif, yaitu wawancara, observasi, focus group discussion (FGD), dan studi dokumen (Sugiyono, 2010).

(11)

Observasi atau pengamatan merupakan salah satu teknik penggalian data yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran realistis atas suatu perilaku atau fenomena tertentu (Sugiyono, 2010). Focus Group Discussion (FGD) merupakan teknik pengumpulan data yang bertujuan untuk mencari makna atas sebuah topik tertentu menurut pemahaman sebuah kelompok berdasarkan hasil diskusi (Sugiyono, 2010). Studi dokumen merupakan teknik pengumpulan data dengan menganalisis dokumen-dokumen terkait topik penelitian. Bahan dokumen yang dianalisis dapat berupa autobiografi, buku catatan harian, kliping, surat-surat pribadi, dokumen pemerintah atau swasta, atau data yang tersimpan dalam website (Moleong L. J., 2007).

Penelitian ini sendiri menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara. Menurut Sutopo, wawancara merupakan salah satu upaya pengumpulan data dengan mengajukan sejumlah pertanyaan untuk menggali keterangan dan informasi dari informan terkait topik yang ditanyakan. Ciri utama dari wawancara adalah tatap muka antara pencari informasi (interviewer) dengan informan atau sumber informasi (interviewee) (Sutopo, 2006). Namun, dengan kemajuan teknologi, wawancara juga dapat dilakukan melalui telepon.

Ada dua jenis wawancara menurut Sugiyono, yaitu wawancara terstruktur dan tidak terstruktur. Dalam wawancara terstruktur, peneliti telah mengetahui dengan pasti mengenai informasi atau keterangan apa yang akan diperoleh.

Pewawancara juga memiliki pedoman wawancara berupa pertanyaan-pertanyaan secara terstruktur dan dapat menggunakan alat bantu seperti alat perekam, catatan, gambar, dan material lain untuk membantu dalam melakukan wawancara.

(12)

Sementara itu, dalam wawancara tidak terstruktur, peneliti lebih bebas melakukan wawancara tanpa berpegang pada pedoman yang rinci dan sistematis. Pedoman wawancara yang digunakan dalam wawancara tidak terstruktur hanya berupa garis besar permasalahan yang akan ditanyakan (Sugiyono, 2010).

Dalam penelitian yang akan dilakukan ini, peneliti menggunakan metode wawancara dengan beberapa kelompok khalayak pembaca The Jakarta Post yang dikategorikan dalam kriteria tertentu sebagai informan untuk membahas lebih dalam mengenai bagaimana sikap mereka terhadap pemberitaan LGBT di The Jakarta Post. Wawancara yang dilakukan akan bersifat terstruktur dengan pedoman pertanyaan yang secara sistematis akan ditanyakan untuk memperoleh gambaran lengkap mengenai bagaimana sikap khalayak terhadap pemberitaan LGBT di The Jakarta Post dan faktor yang berperan dalam menentukan sikap tersebut.

Dari teknik pengumpulan data wawancara ini, peneliti berharap akan mendapatkan hasil mendalam yang berfokus dari sisi khalayak, yaitu bagaimana sikap khalayak terhadap pemberitaan isu LGBT di media The Jakarta Post. Peneliti berharap jawaban-jawaban yang disampaikan informan atas pertanyaan yang disampaikan dalam wawancara akan mendalam dan cukup menggambarkan bagaimana sikap mereka terhadap pemberitaan isu LGBT di The Jakarta Post tersebut. Dengan jawaban yang serius dan mendalam, peneliti juga dapat memperoleh pemahaman mengenai latar belakang atau faktor-faktor yang berperan dalam menentukan sikap mereka tersebut.

3.6 KEABSAHAN DATA

(13)

Dalam penelitian kualitatif, kualitas penelitian sangat tergantung dengan kualitas penelitinya. Karena bersifat relatif dan interpretatif, hasil penelitian akan memiliki unsur subjektif (Fusch, Fusch, & Ness, 2018). Untuk menguji keabsahan data dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan triangulasi untuk membuat penelitian lebih objektif dengan data yang valid diambil dari beberapa sudut pandang.

Mengutip Denzin, triangulasi merupakan pendekatan dengan beberapa metode yang membuat peneliti menganalisis data yang melibatkan berbagai metode dan menggunakan banyak data eksternal untuk dianalisis dalam memahami fenomena umum. Denzin membagi triangulasi menjadi empat kategori, yaitu triangulasi data (data triangulation), triangulasi peneliti (investigator triangulation), triangulasi teori (theory triangulation), dan triangulasi metode atau teknik (methodological triangulation) (Fusch, Fusch, & Ness, 2018, p. 21).

Triangulasi sumber data adalah metode triangulasi yang membandingkan data terkait orang, ruang, dan waktu yang saling terhubung. Artinya, sumber perolehan data harus lebih dari satu. Triangulasi peneliti adalah metode triangulasi dengan lebih dari satu peneliti yang meneliti fenomena yang sama untuk mengurangi bias. Sementara itu, triangulasi teori mengaplikasikan beberapa teori berbeda dan teori alternatif ke dalam data dan melihat data melalui “kacamata”

teori. Terakhir, triangulasi metode atau teknik adalah penggabungan beberapa metode dan penggalian data (Fusch, Fusch, & Ness, 2018, p. 22).

Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan teknik triangulasi teknik atau metode studi kasus dengan menggabungkan beberapa teknik penggalian atau

(14)

pengumpulan data, yaitu wawancara mendalam yang digabung dengan studi dokumen untuk mempelajari dokumen atas fenomena pemberitaan LGBT di The Jakarta Post. Metode triangulasi ini dilakukan untuk mendapatkan data dan informasi yang lebih objektif sekaligus mendapatkan konfirmasi mengenai jawaban-jawaban yang disampaikan oleh informan terkait pemberitaan LGBT di The Jakarta Post dengan mengecek langsung dokumen pemberitaan tersebut.

Dari teknik pengumpulan data wawancara, peneliti berharap memperoleh penjelasan secara mendalam dan menyeluruh mengenai sikap khalayak terhadap pemberitaan isu LGBT di The Jakarta Post, baik dari kelompok khalayak pembaca The Jakarta Post yang beragam. Dengan menggabungkan teknik pengumpulan data wawancara tersebut dengan studi dokumen, peneliti berharap memperoleh informasi berupa data kualitatif yang lebih kaya dan objektif.

3.7 TEKNIK ANALISIS DATA

Analisis data secara kualitatif perlu dilakukan untuk mendapatkan pemahaman secara mendalam mengenai realitas sosial yang diteliti seperti bagaimana realitas sosial tersebut dipahami oleh subjek penelitian. Menurut Prastowo, teknik analisis data kualitatif meliputi seluruh bahan, keterangan, informasi, dan fakta yang tidak dapat diukur atau dihitung secara matematis karena berwujud verbal dan data yang memiliki sifat proses (Prastowo, 2011). Dalam hal ini, peneliti menganalisis menggunakan data-data seperti transkrip wawancara, gambar, foto, dan dokumen pemberitaan dalam media The Jakarta Post terkait isu LGBT.

(15)

Menurut Bogdan dan Biklen, terdapat empat tahapan dalam melakukan analisis data kualitatif, yaitu pengumpulan data, reduksi dan kategorisasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keempat komponen tersebut saling berkaitan dengan ditunjukkan secara interaktif dalam pengumpulan data (Bogdan

& Biklen, 2007).

Setelah melakukan proses pengumpulan data, tahap selanjutnya dalam menganalisis data kualitatif adalah mengolah data dengan reduksi dan kategorisasi data. Dalam tahap ini, data disederhanakan dan diklasifikasi. Menurut Prastowo, proses reduksi ini disebut juga editing yang bertujuan untuk menghaluskan data yang akan dipakai selanjutnya, misalnya perbaikan kalimat, membuang keterangan yang tidak penting, dan transkrip wawancara (Prastowo, 2011, p. 238).

Data yang telah disunting selanjutnya dikategorisasi menurut indikator tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam mengelompokkan, data dapat diberi coding atau label yang membuat data tersebut lebih mudah dikelola dan mempermudah peneliti mencari jawaban atas pertanyaan penelitian. Menurut Blair, terdapat tiga jenis coding, yaitu open coding, axial coding, dan selective coding (Blair, 2015). Open coding melibatkan penerapan kode yang berasal dari teks sesuai kategori pada tiap sumber informasi. Axial coding adalah penerapan kode sesuai konsep atau kategori interaksi yang tergolong mirip atau dapat dikelompokkan bersama. Terakhir, selective coding adalah penerapan kode secara selektif pada tiap kategori yang diorganisir sesuai konsep penjelasan utama (Blair, 2015, p. 18).

Setelah melakukan kategorisasi dengan memberi coding pada data, langkah selanjutnya adalah penyajian data yang merupakan suatu proses menampilkan data

(16)

yang telah disederhanakan dan dikelompokkan dalam matriks berdasarkan kriteria tertentu. Menurut Prastowo, penyajian data dilakukan dalam bentuk pemaparan naratif hasil penafsiran data tersebut, misalnya pemaparan atau gambaran terkait situasi dan gejala dalam konteks lingkungannya. Dari penafsiran data tersebut, peneliti dapat menarik kesimpulan yang dikaitkan dengan konsep dan teori yang relevan dengan penelitian (Prastowo, 2011, p. 239).

Dalam penelitian ini, tahap pertama yang dilakukan adalah pengumpulan data dengan teknik wawancara mendalam dengan informan yang sesuai kriteria untuk memperoleh data kualitatif yang tepat, kaya, komprehensif, dan mendalam.

Wawancara dilakukan secara terstruktur dengan mengikuti pedoman pertanyaan yang sebelumnya telah dirancang agar sistematis dan dapat menggali jawaban informan lebih dalam mengenai sikap mereka terhadap pemberitaan LGBT di The Jakarta Post dan faktor yang berperan dalam menentukan sikap tersebut. Teknik pengumpulan data melalui wawancara terstruktur tersebut akan direkam dan dicatat untuk kemudian memudahkan proses analisis data kualitatif tersebut.

Setelah data terkumpul, peneliti akan melakukan transkrip wawancara sehingga lebih mudah memahami secara utuh. Dalam bentuk transkrip wawancara yang lengkap, peneliti akan lebih mudah menganalisis. Bentuk bacaan dapat dilihat dan dibaca berulang kali sehingga proses analisis akan lebih mudah.

Langkah selanjutnya setelah melakukan transkrip wawancara adalah menyunting isi transkrip wawancara tersebut. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menyederhanakan data dengan mereduksi atau membuang keterangan yang tidak penting atau kurang relevan dengan topik penelitian.

(17)

Data yang telah disunting tersebut akan dikelompokkan berdasarkan tema tertentu. Kategorisasi ini merupakan bagian dari selective coding yang merupakan penerapan kode secara selektif untuk tiap kategori yang diorganisir sesuai konsep penjelasan utama. Dalam penelitian ini, topik mengenai sikap khalayak terhadap pemberitaan LGBT di The Jakarta Post akan dibagi berdasarkan komponen sikap menurut Azwar, yaitu sebagai berikut.

1. Komponen Kognitif, terkait kepercayaan, ide-ide, dan asumsi dasar.

2. Komponen Afektif, terkait aspek perasaan dan menyangkut pengalaman pribadi, keluarga, ajaran agama, serta lingkungan sekitar.

3. Komponen Konatif, terkait sikap terhadap pemberitaan LGBT di The Jakarta Post.

Setelah data kualitatif yang diperoleh dikelompokkan berdasarkan tema tersebut, data disajikan dalam bentuk pemaparan naratif untuk memberikan gambaran secara lengkap dan menyeluruh terhadap jawaban yang diberikan oleh para informan. Kemudian, data tersebut dianalisis dan diinterpretasi berdasarkan teori dan konsep yang relevan, yaitu teori perbedaan individual dan konsep sikap khalayak yang menjadi teori dan konsep utama dalam penelitian ini. Dari hasil analisis dan penafsiran data kualitatif tersebut, peneliti dapat menarik kesimpulan yang memberikan pemahaman atas fenomena yang diteliti dengan dikaitkan teori dan konsep utama yang digunakan dalam penelitian.

Gambar

Tabel 3.1 Kriteria Informan

Referensi

Dokumen terkait

Kebutuhan air selalu meningkat sesuai dengan pertambahan penduduk, mengakibatkan terjadinya penyedotan air tanah termasuk sumur bor secara besar-besaran yang

Dari hasil optimasi dengan sebuah pembangkit terdistribusi yang diinstal, rugi daya nyata yang terdapat dalam sistem menjadi 15,942 MW dan rugi daya reaktif sebesar

Metode Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu proses pembelajaran yang menekankan kepada peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam menemukan

Dalam tabel program acara dan deskripsi acara di atas dapat dilihat bahwa dari keseluruhan jadwal acara selama seminggu di Radio Elisa Fm terdapat format siaran yang mayoritas adalah

Sebagaimana kita tau pasar adalah sebuah tempat bertemunya pembeli dengan penjual guna melakukan transaksi ekonomi yaitu untuk menjual atau membeli suatu barang

Dalam penelitian ini, peneliti melakukan survei dengan bentuk menyebarkan kuesioner dan melakukan wawancara kepada pelanggan terkait kepuasan dan perasaan yang dirasakan atas

Variasi dari kelima jenis fluida pendingin ini yang nantinya akan dianalisa mana jenis fluida pendingin yang memberikan dampak paling baik terhadap kualitas hasil

63 tanggal 11 September 2007, pemegang saham menyetujui perubahan Anggaran Dasar Perusahaan berkenaan dengan peningkatan modal dasar Perusahaan sebesar Rp 7,2 triliun yang terdiri