B
B
u
u
m
m
i
i
t
t
a
a
m
m
a
a
G
G
u
u
n
n
a
a
j
j
a
a
y
y
a
a
A
A
g
g
r
r
o
o
O
Oiill PPaallmm PPllaannttaattiioonnss aanndd MMiillllss
HAMA DAN PENYAKIT
TANAMAN PERKEBUNAN
B
B
u
u
m
m
i
i
t
t
a
a
m
m
a
a
G
G
u
u
n
n
a
a
j
j
a
a
y
y
a
a
A
A
g
g
r
r
o
o
O
Oiill PPaallmm PPllaannttaattiioonnss aanndd MMiillllss
Defenisi Hama
Organisme yang mengganggu
tanaman secara Biologi karena
merusak bagian tanaman tertentu
yang mengakibatkan
terganggunya proses biologi dari
tanaman.
Misalnya, jika yang diserang
adalah bagian daun maka akan
mengganggu proses foto sintesa
dari tanaman
Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang merusak tanaman
inang (tanaman utama) sehingga merugikan secara ekonomi
karena mengakibatkan kehilangan hasil yang diharapkan. Hal ini
terjadi karena populasi hama telah melampaui batas Ambang
Ekonomi
Misalnya, Akibat Serangan hama tikus, akan membuat gagal
panen sehingga para petani akan merugi secara ekonomi.
2. Hama secara Ekonomi
Grafik Ambang Ekonomi
AKU
AE
ALE
ALE : Ambang Luka Ekonomi AE : Ambang Ekonomi
Keterangan :
Hama Biologi Hama Ekonomi
Early Warning Sistem
(1 bulan sekali) LAPORAN EWS 1. Riset Departemen 2. Asisten & manager
Verifikasi Hasil EWS (Oleh : Riset Dept.. Asis & Manager.
Kebun)
Sangsi/pinalti Dari Riset Deprt &
Adsisten Divisi Ke Pengamat KATEGORI RINGAN (R) Kondisi Serangan Sedang {S},Berat {B} Dilakukan Pengendalian Pengamatan EWS setelah aplikasi
Atau Deteksi Ulang Kondisi Serangan Sedang {S},Berat {B} Kondisi Ringan {R} BENAR SALAH
Early Warning System
Flow chart Sensus Hama dan Penyakit
Hama
Faktor Lingkungan :
• Penghambat (Musuh alami, dll) • Pendorong
Monitoring Populasi (Sensus)
Padat Populasi Ringan Sedang s/d Berat Pengendalian Rekomendasi Riset Evaluasi Sedang s/d Berat
Serangga Organisma lain
Tikus (Rattus-rattus sp.)
Merupakan Hama mamalia dari kelompok binatang pengerat. Tikus menyerang tanaman kelapa sawit pada semua umur tanaman.
TBM : Pada TBM tikus menggerek pangkal pelepah dan batang yang dapat menyebabkan tanaman mati.
TM : Pada TM tikus merusak bunga jantan, bunga betina, tandan buah segar, dan brondolan yang berakibat hilangnya produksi.
1. Rattus ratus tiomanicus (Tikus pohon)
2. Rattus ratus argentiventer (Tikus sawah)
3. Rattus ratus diardi (tikus rumah) 4. Rattus ratus exulans (T.Ladang) 5. Bandicota indica (Tikus wirok)
Tikus (Rattus-rattus sp.)
Kerugian yang dapat ditimbulkan oleh tikus cukup besar yaitu
kematian tanaman muda mencapai 20%, kehilangan produksi
sebesar 20%, penurunan kualitas buah, dan penurunan populasi
serangga penyerbuk Elaeidobius kamerunicus.
Kemampuan fisik tikus (Rattus-rattus sp.)
Mata : kurang baik dan buta warna tetapi peka terhadap cahaya (mampu mengenal benda jarak 10 m)
Penciuman (smell), sangat tajam & berguna mengenali zona jelajah/jejak
kelompoknya, serta dapat mendeteksi tikus betina birahi (estrus) bagi tikus jantan
Pendengaran (hearing), sangat tajam mampu mendengar audible
frekuensi 40 khz & sinyal ultrasonik frekuensi 100 khz (2 puncak tanggap akustik = bimodal cochlear)
Perasa (taste), sensitif & mampu membedakan pakan yang steril & toksit atau enak & tidak enak
Bulu panjang (vibrissae) & kumis (misai) berfungsi meraba & mampu
bergerak di kegelapan)
Kemampuan fisik sangat baik (menggali/digging, memanjat/ climbing, meloncat/jumping, mengerat/gnawing, berenang/
Pengendalian
Untuk mencegah adanya
peledakan hama, maka pada
saat penanaman awal
dilakukan aplikasi rodentisida
(durat) secara campaign.
Pengendalian
Pelaksanaan Sensus
Januari April Juli Oktober
SENSUS
Pengendalian dengan Campaign
system
• Sensus dilakukan dengan sampel 10% jumlah pokok • Setiap 10 baris tanaman
Pengendalian
Pelaksanaan Sensus
Contoh Format Sensus
Catatan: Untuk menghitung persentase serangan untuk serangan lama dan serangan baru diperoleh dari:
Aplikasi racun tikus
Aplikasi tahap pertama 100% pokok diaplikasikan
+50 cm
4 hari setelah aplikasi
Aplikasi tahap kedua mengganti racun yang hilang
Racun hilang > 20%
Aplikasi tahap ketiga karena Sensus
Jika racun hilang
Racun hilang < 20%
< 20%
Contoh format aplikasi racun tikus
Keterangan : Aplikasi dan pengulangannya dicatat pada tabel diatas
Aplikasi durat dilakukan dengan menggunakan sarung tangan sehingga di
umpan durat tersebut tidak terdapat bau manusia sehingga tikus yang
mempunyai insting cepat tanggap terhadap bahaya tidak terpegaruh dengan
bau manusia di umpan tersebut.
Pengendalian hama tikus secara biologi
Kandang Pemikat Gupon
Tyto alba yang akan dilepaskan di lapangan, terlebih dahulu dirawat pada kandang pemikat selama + 21 hari, kemudian dipindahkan ke
Pengendalian hama tikus secara biologi
Sepasang Tyto alba pada kandang pemikat
1 pasang Tyto alba dapat mengendalikan tikus secara alami seluas + 25 Hektar
Kumbang tanduk Oryctes rhinoceros L.
Kumbang tanduk menyerang kelapa sawit
Mengakibatkan pupus tanaman kelapa sawit menjadi patah
Siklus Hidup Kumbang Tanduk
Imago (dewasa) 4-9 bulan Telur 9 -14 hari Larva 106-141 HariKerugian Akibat Serangan Kumbang Tanduk
Efek Lanjutan
Pupus busuk akibat gerekan
Pokok menjadi mati
Menurunkan Produksi 1 - 2,5% atau 0,2
s/d 0,3 ton / Ha selama 18 bulan produksi.
Hama Utama Perkebunan BGA Group
Wilayah II :
PHRE; PNBE; KAGE; KRYE
Wilayah VI :
PAGE; SDME; SAGE; BKLE; SBHE
Wilayah V :
MUTE
Permasalahan
Kumbang tanduk Oryctes rhinoceros telah menjadi hama
utama di perkebunan BGA Group
Langkah Awal
Sensus
Pengendalian
Peta Isometrik Sebaran
serangan O.rhinocerso
Perilaku hidup Oryctes rhinoceros
Pemasangan Ferotrap berdasarkan Perilaku O.rhinocerosPerilaku kumbang terbang lurus
Pelaksanaan Pengendalian
Pengendalian kumbang O.rhinocersos dengan Feromon
Alur Pemasangan Ferotrap
Kekurangan :
Kurang efektif
memerangkap kumbang karena posisi lubang ada diatas.
Kelebihan :
Lebih efektif memerangkap
kumbang tanduk karena posisi lubang ferotrap terdapat disamping
Kekurangan :
Biaya pembuatan lebih mahal dan pembuatannya lebih rumit dibanding ferotrap biasa
Kelebihan : Lebih efektif memerangkap kumbang tanduk karena posisi lubang ferotrap terdapat disamping Kekurangan :
Biaya pembuatan lebih mahal, meskipun pembuatannya lebih mudah
Tangkapan Kumbang tanduk pada masing-masing ferotrap
berdasarkan hasil penelitian
Catatan : Angka yang diiukuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% Uji Jarak Duncan (UJD)
Total Tangkapan kumbang Tanduk menggunakan pipa
paralon lebih tinggi dibandingkan ferotrap yang lain.
Perlakuan Ulangan Total
Rata-rata I II III Ferotrap biasa 23 21 22 66 b 22.000 Ferotrap parabola 39 34 39 112 a 37.333 Pipa paralon 48 37 33 118 a 39.333 Total 110 92 94 296 98.67
Pelaksanaan Pengendalian
0 1 2 3 4 5 6 Jumlah
I II III IV V VI VII VIII IX X
Pengamatan
Ferotrap Biasa Ferotrap Parabola Pipa paralon
Dari Grafik pengamatan diatas, tangkapan kumbang tanduk menggunakan ferotrap biasa jauh lebih rendah dibanding ferotrap
parabola dan pipa paralon
Pelaksanaan Pengendalian
• Penggunaan Insektisida Karbofuran
Tidak semua kumbang tanduk masuk kedalam
ferotrap
Kumbang yang tidak masuk ke dalam ferotrap pada
malam hari diberi warna merah dan pagi hari
dilakukan pengamatan terhadap kumbang tersebut
Pelaksanaan Pengendalian
Penggunaan Insektisida Karbofuran
Keterangan :
Pokok yang harus aplikasi
karbofuran Lakosi
pemasangan ferotrap
Pokok sawit yang tidak aplikasi
Pelaksanaan Pengendalian
Penggunaan Insektisida Karbofuran
Aplikasi Karbofuran pada pupus sawit
Kumbang yang mati pada pokok sawit
Kumbang yang mati setelah
Catatan: Dosis karbofuran yang digunakan adalah 10 gr/pokok (dari percobaan)
Kumbang tanduk mempunyai kecenderungan menyerang
pokok yang telah terserang sebelumnya (pokok yang sama)
berulang-ulang.
Pokok yang diserang lebih dari satu kali terlihat dari bekas serangan lama dan yang baru
Pokok disekitarnya tetapi tidak terdapat bekas
serangan sama sekali
Penggunaan Insektisida Karbofuran
Aplikasi dilakukan pada pokok yang terserang dan 6 pokok disekitarnya.
Pokok
Pokok terserang Pokok yang ikut diaplikasikan karbofuran
Pelaksanaan Pengendalian
Larva kumbang tanduk pada bahan
organik Kutip Manual larva
Larva yang telah dikumpulkan setelah dikutip manual
Untuk mencegah perkembangbiakan larva, maka aplikasi Janjangan kosong tidak boleh lebih dari 1 lapis dan percepatan penanaman LCC
Lokasi Pemasangan janjangan kosong untuk aplikasi
jamur O.rhynoceros.
Biakan Murni
M.anisopliae
Diaplikasikan
Janjangan Kosong denga ukuran 2 x 2 m
Aplikasi dengan cara
disemprot secara merata pada
(Dilakukan pada sore hari)
Pengendalian Pada Fase Larva dengan
Entomopatogen M.anisopliae
Larva yang terinfeksi M.anisopliae (a) dan Teknik Aplikasi
M.anisopliae di lapangan (b)
Hama rayap
Merupakan hama dari kelas serangga ordo isoptera. Hama ini terutama menyerang tanaman di areal gambut dan pasir
Jenis rayap yang menyerang tanaman kelapa sawit :
1. Coptotermes curvignatus
Merupakan jenis rayap yang utama menyerang kelapa
sawit karena kasta pekerjanya mampu merusak jaringan
mati dan jaringan hidup tanaman.
2. Macrotermes gilvus
Rayap jenis ini mempunyai kasta pekerja hanya memakan
jaringan yang mati. Rayap ini akan sangat merugikan
tanaman jika koloninya membuat sarang di dekat batang
kelapa sawit karena dapat mengakibatkan batang menjadi
miring dan akhirnya tumbang. Jika pembentukan sarang
oleh koloni berada di gawangan, maka rayap ini tidak
Serangan Rayap jenis Coptotermes curvignatus pada pokok kelapa sawit
Serangan Rayap jenis Macrotermes gilvus pada pokok kelapa sawit
Hama rayap
Kasta Ratu dari rayap jenis Macrotermes gilvus yang dikelilingi oleh rayap pekerja pada saat dilakukan pembongkaran rayap
1. Dilakukan sensus sekaligus pengendalian pada areal yang terserang
dan diberi tanda pada kertas sensus dan pokok yang terserang
2. Pelaksanaan sensus dilakukan bersamaan dengan aplikasi termisida
dimana frekuensi sensus dilakukan berdasarkan volume serangan rayap
dan jenis tanahnya:
Pada Tanah Gambut:
- Serangan > 4 pohon per hektar, rotasi setiap 1 bulan
- Serangan < 4 pohon per hektar, rotasi setiap 2 bulan
pada tanah mineral sensus dilakukan jika terdapat serangan.
3. Pohon yang terserang dilakukan pembersikan serasah di sekitar pangkal
batang dan disemprot atau disiram dengan termisida.
4. Untuk mempermudah pengamatan,evaluasi dan penentuan rotasi
pengendalian, pokok yang terserang diberi tanda dengan cat dan pada
lembar sensus diberi tanda.
5. Aplikasi menggunakan Metode bariier
yaitu dengan cara menyemprot atau
menyiram secara merata pada pangkal
batang dan piringan pohon yang
terserang.
Piringan disemprot pada tanah radius
50 cm, dan pada pangkal batang
ketinggian 50 cm dari tanah, volume
aplikasi 2 ltr/pohon
aplikasi penyemprotan juga dilakukan
pada sekeliling pokok yang terserang
(mata lima)
Termisida yang dianjurkan adalah:
• Fipronil 50 g/l, konsentrasi 3-5 cc per
liter
• Chlorpyrifos 400 g/l, konsentrasi 7-10
Pengendalian hama rayap
Radius + 50 Cm
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
a. Ulat Api Setothosea asigna Van EeckeLarva sedang Larva kecil
Telur Ini merupakan salah satu jenis
ulat api terpenting pada kelapa sawit. Ulatnya berwarna hijau kekuningan dengan bercak khas di punggungnya,
panjangnya 30-36mm dan lebarnya 14mm.
Pupa 40 Hari Larva besar
Dewasa
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
a. Ulat Api Setothosea asigna Van EeckeUlat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
b. Ulat Api Setora nitens WalkerLarva sedang Larva kecil
Ulatnya berwarna hijau, hingga kekuningan, panjangnya mencapai 40mm, mempunyai 2 rumpun bulu kasar di kepala dan 2 rumpun di
bagian ekor. Telurnya pipih dan bening, lebarnya 3 mm, diletakkan pada permukaan bawah daun dalam 3-5 deretan, kadang kala mencapai 20 deret. Ngengatnya coklat kelabu dengan garis hitam pada tepi sayap, yang betina panjangnya 20mm, dan yang jantan lebih kecil.
Larva kecil Dewasat
Pupa : hari ke 23
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
b. Ulat Api Darna trima Moore
Telur : 3-5 hari
Larva sedang Larva kecil
Ulat berwarna coklat muda
dengan bercak-bercak jingga di punggungnya, panjangnya 13-15 mm. Stadium ulat 25-35 hari, umumnya menyerang daun tua pada tanaman muda dan dewasa.
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
b. Ulat Api Darna trima Moore26 – 33 hari
7 instar 10 -14 Hari Pupa
Larva besar
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
d. Ulat Api Birthosea bisura MooreUlat jenis ini biasanya menyerang daun pada tanaman muda. Ulat instar terakhir panjangnya 15 mm, tubuhnya pipih, berwarna kuning kehijauan dengan garis ungu pada tengah punggungnya dan kuning di bagian ujungnya. Kepompong diletakkan pada pangkal anak daun atau pada ketiak-ketiak pelepah, bentuknya lonjong, panjangnya 10 mm dan lebar 8 mm, berwarna coklat tua dengan permukaan yang halus. Siklus hidupnya berlangsung 2 bulan. Tingkat populasi kritis 10-20 ulat per pelepah.
Gambar :
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
e. Ulat Kantong Mahasena corbetti TamsLarva sedang Larva kecil
Hama ini menyerang daun pada semua tingkat umur tanaman. Ulat hidup di
dalam kantong yang terbuat dari potongan dedaunan diikat dengan
benang-benang air liurnya. Panjang ulat bisa mencapai 30mm, berwarna coklat
kemerahan. Ulat muda berada di permukaan atas daun, selanjutnya
merambat ke permukaan bawah daun. Serangan biasanya pada daun-daun
bagian atas. Ngengat betina tetap berbentuk ulat dan tidak pernah
meninggalkan kantongnya, panjangnya 50 mm. Ngengat jantan berupa
kupu-kupu berwarna coklat, rentang sayapnya 30 mm.
Larva besar
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
Pupa 30 Hari Instar larva 80 Hari
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
f. Ulat Kantong Metisa plana Walker Panjang ulat jenis ini 12 mm,
berwarna coklat kemerahan, hidup dalam kantong yang panjangnya 15-17 mm. kantong-kantong
terkait menggantung pada
permukaan bawah daun. Ngengat jantan berupa kupu-kupu, rentang sayapnya 17-20 mm, Ngengat betina berbentuk seperti ulat
Crematopsyche pendula
Siklus hidup terdiri dari 80 Hari yang menyerang bagian epidermis daun dan berbentuk ulat yang
terbungkus dalam kantong.
50 days for 4-5 larval instars
17 days for pupation
• LUAS SERANGAN.
TUJUAN DETEKSI
DETEKSI
• ADA TIDAKNYA HAMA DAN JENISNYA.
• TINGKAT SERANGAN.
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
Petugas berjalan pada pasar pikul dan mengamati
secara visual hama-hama yang terlihat pada separuh
lingkaran kanopi kiri kanan pasar panen tersebut.
• Hama yang nampak dicatat pada kertas deteksi menurut jenis dan kriteria serangan yang telah ditentukan.
INTENSITAS DETEKSI
Tidak ada serangan = Setiap 5 pasar pikul. (kelang 4 pasar pikul)
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
Serangan Ringan = Setiap 3 pasar pikul. (kelang 2 pasar pikul)
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2 1 2 1 2 1 2
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
Serangan Sedang/Berat = Kelang 1 pasar pikul. (kelang 2 pasar pikul)
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
TINGKAT SERANGAN
RINGAN 1-5 larva per pokok
SEDANG 5-10 larva per pokok
• % HIDUP DAN MATI.
TUJUAN SENSUS :
SENSUS
• BESAR POPULASI HAMA.
• STADIA HAMA.
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
Berdasarkan pada tingkat serangan :
BERAT - SEDANG - RINGAN
Letaknya harus cukup mewakili pokok - pokok yang
ada disekitarnya.
LOKASI TITIK SENSUS
• 5 pokok untuk luas < 10 Ha • 7 pokok untuk luas 10 - 20 Ha • 10 pokok untuk luas > 20 Ha
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
Hitung semua : TELUR - LARVA - PUPA
Hidup atau mati.
PELAKSANAAN
• Dengan mengambil sample sebanyak 3 pelepah yang akan
mewakili pelepah bagian atas, tengah dan bawah.
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
KRITERIA STADIA
Kecil Sedang Besar
ULAT KANTONG Mahasena corbetti < 15 15 – 25 > 25 Metisa plana < 5 5 – 10 > 10 Chremastopsyche pendula < 3 3 - 6 > 6 ULAT API Thosea asigna < 15 15 – 25 > 25 Thosea bisura < 10 10 – 15 > 15 Setora nitens < 10 10 – 20 > 20 Darna trima < 5 5 – 8 > 8 Ploneta diducta < 5 5 - 8 > 8 Ukuran Larva (mm) Jenis hama
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
PENGENDALIAN
ERADIKASI ATAU MENURUNKAN POPULASI SAMPAI DI BAWAH AMBANG EKONOMI.
BIOLOGICAL INSECTICIDES
Bacillus thuringiensis
: THURICIDE HP, DIPEL WP
CONDOR 70 F.
Virus
: Mahasena corbetti, Thosea asigna dll.
Jamur
:
Cordyceps sp.
CHEMICAL INSECTICIDES
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
Hubungan antara musuh alami
dan beneficial plants
Setora nitens
Berkembang
Menetas
Telur
Parasitoid
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
Hubungan antara musuh alami
dan beneficial plants
NEKTAR
PERKAWINAN
RE-GENERASI
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
Tanaman berguna Turnera sp (Kiri) dan Antigonon leptocus (kanan) yang ditanam di sepinggir jalan
• ENTOMOPHAGOUS PREDATORS • ENTOMOPHAGOUS PARASITOIDS • VIRAL DEISEASES
• FUNGAL DISEASES
MUSUH ALAMI
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
HEMIPTERA
EOCANTHECONA FURCELLATA
Jenis yang dimangsa :
Semua jenis ulat pemakan daun
Stadia
Ulat.
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
HEMIPTERA
SYCANUS SPPJenis yang dimangsa :
Semua jenis ulat pemakan daun dan ulat kantung
Stadia
Ulat.
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
ENTOMOPHAGOUS PARASITOIDS
TACHINIDAE GONIINAE
Chaetoxorista javana
Jenis yang diparasit :
Setora nitens, Setothosea asigna, B. bisura, Darna trima, Susica malayana.
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
TACHINIDAE GONIINAE
Eozenillia equatorialisJenis yang diparasit :
Mahasena corbetti
Stadia
Ulat instar terakhir
BOMBYLIIDAE
Systropus roepkeiJenis yang diparasit :
Birthamula chara, Darna trima,
Setora nitens.
Stadia
Ulat instar terakhir
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
TRICHOGRAMMATOIDAE
Trichogrammatoidae thoseae Nag.
Jenis yang diparasit :
Setora nitens, Setothosea asigna, Darna trima, Darna bradleyi.
Stadia
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
BRACONIDAE BRACONINAE
Spinaria spinatorJenis yang diparasit :
Setora nitens
Stadia
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
BRACONIDAE Micrograterine
Apenteles aluellaJenis yang diparasit :
Setora nitens, Setothosea asigna,
Darna trima, Darna bradleyi.
Stadia
Ulat
BRACONIDAE Micrograterine
Apenteles metisaeJenis yang diparasit :
Mahasena corbetti, Metisa plana, C.
pendula.
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
BRACONIDAE Microgasterinae
SYSTROPUS ROEPKEI
BOMBYLIIDAE
HOST
Birthamula chara, Darna trima, Setora nitens.
Parasit : PUPA
Fornicia sp
Jenis yang diparasit :
Setora nitens, Setothosea asigna,
Birthamula chara.
Stadia
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
Cordyceps
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
VIRAL DISEASE BETA NUDAURELIA Thosea asigna CYTOPLASMIC POLYHEDROSIS Thosea asignaUlat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
VIRAL DISEASE
VIRUS GRANULOSIS DAN BETA.N
Darna trima
PICORNAVIRUS
Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)
VIRAL DISEASEVIRUS BETA NUDAURELIA
Birthosea bisura
VIRUS MC
Babi hutan
Jenis babi hutan yang paling sering merusak di perkebunan
kelapa sawit adalah Sus scrofa. Babi hutan mempunyai berat
badan sekitar 210 kg dengan bagian-bagian tubuhnya yang
tampak kurang proporsional. Hewan ini mampu hidup dalam
berbagi kondisi dan hidup secara berkelompok antara 20-30
ekor, dan mencari makan pada malam hari. Masa kehamilan
babi hutan sekitar 115 hari dan satu induk betina dapat
Pengendalian babi hutan
1. Pengamatan secara kolektif umumnya dilakukan pada areal
dengan populasi babi hutan yang tinggi, dengan
menggunakan jerat kawat ataupun sling.
2. Pengamatan individu, umumnya dilakukan pada areal
sisipan dengan menggunakan kawat duri.
3. Pengamatan secara koletif maupun individu harus tetap
dilakukan sampai tanaman memasuki periode TM.
4. Penggunaan racun atau memburu babi
Pengendalian dengan menggunakan racun adalah dengan
menggunakan durat dosis tinggi yang diaplikasikan 10-20
bite per titik aplikasi di jalan-jalan yang sering dilalui babi.
Jarak satu titik
aplikasi + 10 m. Selain menggunakan
durat tersebut, aplikasi
dilakukan bersama-sama
dengan brondolan yang telah direndam Bromadiolon 1
malam agar menimbulkan aroma memikat.
Pengendalian babi hutan
Aplikasi durat bersama brondolan yang telah direndam Bromadiolon (Kiri) dan bekas titik aplikasi setelah umpan habis dimakan babi
Landak (Hytrix javanicus)
Landak merupakan hama
tanaman perkebunan
terutama perkebunan kelapa
sawit khususnya di daerah
pengembangan.
Hama Landak merusak tanaman kelapa sawit muda dengan
cara mengerat kelapa sawit tersebut.
Landak Aktif pada malam hari dan bersembunyi di dalam
lorong-lorong di dalam tanah,
Pengendalian
1. Jerat (Penangkapan manual dengan perangkap).
2. Racun (menggunakan buah-buahan yang diberi racun)
3. Memasang kawat pada saat awal penanaman
4. Pengasapan dengan Belerang pada lubang-lubang yang menjadi
Sarang dari landak
Landak (Hytrix javanicus)
Contoh pemasangan kawat pengait
Pemasangan kawat individu untuk mengurangi tingkat kematian pokok karena serangan landak
Penyakit Tanaman
Penyakit tanaman secara sederhana didefenisikan sebagai
kerusakan pada tumbuhan yang diakibatkan oleh
mikroorganisme (patogen)
Mikroorganisme yang umum menyerang tumbuhan :
Virus
Jamur
Bakteri
Penyakit ini pada umumnya dijumpai menyerang tanaman
menghasilkan berumur 5-15 tahun, biasanya muncul pada awal
musim hujan setelah mengalami kemarau (Kering). Penyebab
utamanya adalah bakter, diduga Erwinia yang berasosiasi dengan
beberapa genera jamur.
Gejala awal dimulai dengan daun-daun pupus menguning,
mengering dan berwarna coklat. Awalnya pupus masih berdiri tegak,
makin lama makin condong dan selanjutnya patah pada pengkalnya.
Selanjutnya jaringan akan menjadi busuk dan mati dan
mengeluarkan aroma yang tidak sedap.
Busuk pada pupus yang mudah dicabut tampak berlendir
Busuk pupus
Efek dari pupus yang busuk akan mengakibatkan tanaman menjadi mati dan kering sampai terjadi pembusukan pada akar
Pengendalian
1. Membuang bagian daun (pupus) yang busuk dan
membiarkan terkena sinar matahari sehingga bagian
yang busuk menjadi kering.
2. Untuk penyemprotan, dilakukan pencampuran
formulasi fungisida dan bakterisida (antibiotik)
3. Penyemprotan juga dilakukan pada tanaman sekitar
agar tidak terjadi penyebaran penyakit semakin luas
Busuk pupus
Tanaman yang telah mati dna kering, dibongkar sampai semua bongkol akar tercabut, kemudian ditaburi dengan fungisida
Gejala, berupa benang-benang jamur yang berwarna putih
mengkilat meluas di permukaan tandan buah. Pada tingkatan ini
jamur belum menimbulkan kerugian pada tandan. Miselium
lebih banyak terdapat pada pangkal tandan yang melekat pada
pangkal pelepah daun yang mendukungnya, karena disini
kelembabannya sangat tinggi. Keadaan ini dapat dilihat pada
buah-buah yang masih mentah. Pada tingkatan berikutnya
miselium yang berada di permukaan buah itu mengadakan
penetrasi masuk ke dalam daging buah (mesocarp) yang
menyebabkan busuk basah. Buah berawarna cokelat muda,
berbeda jelas dari buah yang sehat. Jika buah yang sakit tidak
diambil, miselium dapat meluas dalam tajuk (mahkota) tanaman
sehingga semua tandan yang berkembang akan terserang.
Penyebab penyakit, Penyakit disebabkan oleh jamur Marasmius
Penyebaran busuk buah yang mengakibat busuk buah disekitar buah yang terserang dan dapat mengakibatkan semua buah pada pokok menjadi
busuk.
Alternatif Pengendalian
Mengurangi kelembaban kebun seperti tidak terlambat dalam
melakukan pemangkasan daun (Penunasan), pengaturan
jarak tanam yang sesuai, dan sebagainya.
Tandan yang lewat masak jangan dibiarkan tetap berada di
pohon, khususnya untuk kebun muda. Tandan-tandan yang
belum mencapai ukuran tertentu dipotong dengan teratur.
Kastrasri dilakukan dengan tepat, meskiupun buah belum
layak untuk diolah di pabrik, tandan buah yang masak harus
dipotong.
Sebagai langkah pengendalian terakhir dilakukan dengan
penyemprotan menggunakan fungisida. Bekas pemotongan
tandan yang terserang busuk buah disemprot dengan
fungisida Benomyl atau Mankozeb atau Kloratalonil
konsentrasi 3% volume semprot 1 liter larutan per pohon
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Fusarium spp yang bersimbiosis
dengan patogen jenis lain.
Gejalanya dimulai dengan ujung daun muda yang tampak
menguninng dan layu, dalam waktu singkat layu tersebut akan
semakin meluas menuju titik tumbuh sehingga mengakibatkan
pokok tiba-tiba layu dan mati. Gejala yang paling khas adalah
pelepah yang tampah menguning ketika dipotong melintang akan
tampak bercak coklat muda sampai coklat tua sepanjang pelepah.
Kondisi daun yang tampak layu (kiri) dan bagian dalam pelepah yang busuk (Kanan)