• Tidak ada hasil yang ditemukan

HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT"

Copied!
106
0
0

Teks penuh

(1)

B

B

u

u

m

m

i

i

t

t

a

a

m

m

a

a

G

G

u

u

n

n

a

a

j

j

a

a

y

y

a

a

A

A

g

g

r

r

o

o

O

Oiill PPaallmm PPllaannttaattiioonnss aanndd MMiillllss

HAMA DAN PENYAKIT

TANAMAN PERKEBUNAN

(2)

B

B

u

u

m

m

i

i

t

t

a

a

m

m

a

a

G

G

u

u

n

n

a

a

j

j

a

a

y

y

a

a

A

A

g

g

r

r

o

o

O

Oiill PPaallmm PPllaannttaattiioonnss aanndd MMiillllss

(3)

Defenisi Hama

Organisme yang mengganggu

tanaman secara Biologi karena

merusak bagian tanaman tertentu

yang mengakibatkan

terganggunya proses biologi dari

tanaman.

Misalnya, jika yang diserang

adalah bagian daun maka akan

mengganggu proses foto sintesa

dari tanaman

(4)

Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang merusak tanaman

inang (tanaman utama) sehingga merugikan secara ekonomi

karena mengakibatkan kehilangan hasil yang diharapkan. Hal ini

terjadi karena populasi hama telah melampaui batas Ambang

Ekonomi

Misalnya, Akibat Serangan hama tikus, akan membuat gagal

panen sehingga para petani akan merugi secara ekonomi.

2. Hama secara Ekonomi

(5)

Grafik Ambang Ekonomi

AKU

AE

ALE

ALE : Ambang Luka Ekonomi AE : Ambang Ekonomi

Keterangan :

Hama Biologi Hama Ekonomi

(6)

Early Warning Sistem

(1 bulan sekali) LAPORAN EWS 1. Riset Departemen 2. Asisten & manager

Verifikasi Hasil EWS (Oleh : Riset Dept.. Asis & Manager.

Kebun)

Sangsi/pinalti Dari Riset Deprt &

Adsisten Divisi Ke Pengamat KATEGORI RINGAN (R) Kondisi Serangan Sedang {S},Berat {B} Dilakukan Pengendalian Pengamatan EWS setelah aplikasi

Atau Deteksi Ulang Kondisi Serangan Sedang {S},Berat {B} Kondisi Ringan {R} BENAR SALAH

Early Warning System

(7)

Flow chart Sensus Hama dan Penyakit

Hama

Faktor Lingkungan :

• Penghambat (Musuh alami, dll) • Pendorong

Monitoring Populasi (Sensus)

Padat Populasi Ringan Sedang s/d Berat Pengendalian Rekomendasi Riset Evaluasi Sedang s/d Berat

(8)

Serangga Organisma lain

(9)

Tikus (Rattus-rattus sp.)

Merupakan Hama mamalia dari kelompok binatang pengerat. Tikus menyerang tanaman kelapa sawit pada semua umur tanaman.

TBM : Pada TBM tikus menggerek pangkal pelepah dan batang yang dapat menyebabkan tanaman mati.

TM : Pada TM tikus merusak bunga jantan, bunga betina, tandan buah segar, dan brondolan yang berakibat hilangnya produksi.

1. Rattus ratus tiomanicus (Tikus pohon)

2. Rattus ratus argentiventer (Tikus sawah)

3. Rattus ratus diardi (tikus rumah) 4. Rattus ratus exulans (T.Ladang) 5. Bandicota indica (Tikus wirok)

(10)

Tikus (Rattus-rattus sp.)

Kerugian yang dapat ditimbulkan oleh tikus cukup besar yaitu

kematian tanaman muda mencapai 20%, kehilangan produksi

sebesar 20%, penurunan kualitas buah, dan penurunan populasi

serangga penyerbuk Elaeidobius kamerunicus.

(11)

Kemampuan fisik tikus (Rattus-rattus sp.)

Mata : kurang baik dan buta warna tetapi peka terhadap cahaya (mampu mengenal benda jarak 10 m)

Penciuman (smell), sangat tajam & berguna mengenali zona jelajah/jejak

kelompoknya, serta dapat mendeteksi tikus betina birahi (estrus) bagi tikus jantan

Pendengaran (hearing), sangat tajam mampu mendengar audible

frekuensi 40 khz & sinyal ultrasonik frekuensi 100 khz (2 puncak tanggap akustik = bimodal cochlear)

Perasa (taste), sensitif & mampu membedakan pakan yang steril & toksit atau enak & tidak enak

Bulu panjang (vibrissae) & kumis (misai) berfungsi meraba & mampu

bergerak di kegelapan)

Kemampuan fisik sangat baik (menggali/digging, memanjat/ climbing, meloncat/jumping, mengerat/gnawing, berenang/

(12)

Pengendalian

Untuk mencegah adanya

peledakan hama, maka pada

saat penanaman awal

dilakukan aplikasi rodentisida

(durat) secara campaign.

(13)

Pengendalian

Pelaksanaan Sensus

Januari April Juli Oktober

SENSUS

Pengendalian dengan Campaign

system

• Sensus dilakukan dengan sampel 10% jumlah pokok • Setiap 10 baris tanaman

(14)

Pengendalian

Pelaksanaan Sensus

(15)

Contoh Format Sensus

Catatan: Untuk menghitung persentase serangan untuk serangan lama dan serangan baru diperoleh dari:

(16)

Aplikasi racun tikus

Aplikasi tahap pertama 100% pokok diaplikasikan

+50 cm

4 hari setelah aplikasi

Aplikasi tahap kedua mengganti racun yang hilang

Racun hilang > 20%

Aplikasi tahap ketiga karena Sensus

Jika racun hilang

Racun hilang < 20%

< 20%

(17)

Contoh format aplikasi racun tikus

Keterangan : Aplikasi dan pengulangannya dicatat pada tabel diatas

Aplikasi durat dilakukan dengan menggunakan sarung tangan sehingga di

umpan durat tersebut tidak terdapat bau manusia sehingga tikus yang

mempunyai insting cepat tanggap terhadap bahaya tidak terpegaruh dengan

bau manusia di umpan tersebut.

(18)

Pengendalian hama tikus secara biologi

Kandang Pemikat Gupon

Tyto alba yang akan dilepaskan di lapangan, terlebih dahulu dirawat pada kandang pemikat selama + 21 hari, kemudian dipindahkan ke

(19)

Pengendalian hama tikus secara biologi

Sepasang Tyto alba pada kandang pemikat

1 pasang Tyto alba dapat mengendalikan tikus secara alami seluas + 25 Hektar

(20)

Kumbang tanduk Oryctes rhinoceros L.

Kumbang tanduk menyerang kelapa sawit

Mengakibatkan pupus tanaman kelapa sawit menjadi patah

(21)

Siklus Hidup Kumbang Tanduk

Imago (dewasa) 4-9 bulan Telur 9 -14 hari Larva 106-141 Hari

(22)

Kerugian Akibat Serangan Kumbang Tanduk

Efek Lanjutan

Pupus busuk akibat gerekan

Pokok menjadi mati

Menurunkan Produksi 1 - 2,5% atau 0,2

s/d 0,3 ton / Ha selama 18 bulan produksi.

(23)

Hama Utama Perkebunan BGA Group

Wilayah II :

PHRE; PNBE; KAGE; KRYE

Wilayah VI :

PAGE; SDME; SAGE; BKLE; SBHE

Wilayah V :

MUTE

Permasalahan

Kumbang tanduk Oryctes rhinoceros telah menjadi hama

utama di perkebunan BGA Group

(24)

Langkah Awal

Sensus

Pengendalian

Peta Isometrik Sebaran

serangan O.rhinocerso

(25)
(26)

Perilaku hidup Oryctes rhinoceros

Pemasangan Ferotrap berdasarkan Perilaku O.rhinoceros

Perilaku kumbang terbang lurus

(27)

Pelaksanaan Pengendalian

Pengendalian kumbang O.rhinocersos dengan Feromon

Alur Pemasangan Ferotrap

Kekurangan :

Kurang efektif

memerangkap kumbang karena posisi lubang ada diatas.

(28)

Kelebihan :

Lebih efektif memerangkap

kumbang tanduk karena posisi lubang ferotrap terdapat disamping

Kekurangan :

Biaya pembuatan lebih mahal dan pembuatannya lebih rumit dibanding ferotrap biasa

(29)

Kelebihan : Lebih efektif memerangkap kumbang tanduk karena posisi lubang ferotrap terdapat disamping Kekurangan :

Biaya pembuatan lebih mahal, meskipun pembuatannya lebih mudah

(30)

Tangkapan Kumbang tanduk pada masing-masing ferotrap

berdasarkan hasil penelitian

Catatan : Angka yang diiukuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% Uji Jarak Duncan (UJD)

Total Tangkapan kumbang Tanduk menggunakan pipa

paralon lebih tinggi dibandingkan ferotrap yang lain.

Perlakuan Ulangan Total

Rata-rata I II III Ferotrap biasa 23 21 22 66 b 22.000 Ferotrap parabola 39 34 39 112 a 37.333 Pipa paralon 48 37 33 118 a 39.333 Total 110 92 94 296 98.67

Pelaksanaan Pengendalian

(31)

0 1 2 3 4 5 6 Jumlah

I II III IV V VI VII VIII IX X

Pengamatan

Ferotrap Biasa Ferotrap Parabola Pipa paralon

Dari Grafik pengamatan diatas, tangkapan kumbang tanduk menggunakan ferotrap biasa jauh lebih rendah dibanding ferotrap

parabola dan pipa paralon

Pelaksanaan Pengendalian

(32)

• Penggunaan Insektisida Karbofuran

Tidak semua kumbang tanduk masuk kedalam

ferotrap

(33)

Kumbang yang tidak masuk ke dalam ferotrap pada

malam hari diberi warna merah dan pagi hari

dilakukan pengamatan terhadap kumbang tersebut

Pelaksanaan Pengendalian

(34)

Penggunaan Insektisida Karbofuran

Keterangan :

Pokok yang harus aplikasi

karbofuran Lakosi

pemasangan ferotrap

Pokok sawit yang tidak aplikasi

Pelaksanaan Pengendalian

(35)

Penggunaan Insektisida Karbofuran

Aplikasi Karbofuran pada pupus sawit

Kumbang yang mati pada pokok sawit

Kumbang yang mati setelah

Catatan: Dosis karbofuran yang digunakan adalah 10 gr/pokok (dari percobaan)

(36)

Kumbang tanduk mempunyai kecenderungan menyerang

pokok yang telah terserang sebelumnya (pokok yang sama)

berulang-ulang.

(37)

Pokok yang diserang lebih dari satu kali terlihat dari bekas serangan lama dan yang baru

Pokok disekitarnya tetapi tidak terdapat bekas

serangan sama sekali

(38)

Penggunaan Insektisida Karbofuran

Aplikasi dilakukan pada pokok yang terserang dan 6 pokok disekitarnya.

Pokok

Pokok terserang Pokok yang ikut diaplikasikan karbofuran

Pelaksanaan Pengendalian

(39)

Larva kumbang tanduk pada bahan

organik Kutip Manual larva

Larva yang telah dikumpulkan setelah dikutip manual

(40)

Untuk mencegah perkembangbiakan larva, maka aplikasi Janjangan kosong tidak boleh lebih dari 1 lapis dan percepatan penanaman LCC

(41)

Lokasi Pemasangan janjangan kosong untuk aplikasi

jamur O.rhynoceros.

(42)

Biakan Murni

M.anisopliae

Diaplikasikan

Janjangan Kosong denga ukuran 2 x 2 m

Aplikasi dengan cara

disemprot secara merata pada

(Dilakukan pada sore hari)

(43)

Pengendalian Pada Fase Larva dengan

Entomopatogen M.anisopliae

Larva yang terinfeksi M.anisopliae (a) dan Teknik Aplikasi

M.anisopliae di lapangan (b)

(44)

Hama rayap

Merupakan hama dari kelas serangga ordo isoptera. Hama ini terutama menyerang tanaman di areal gambut dan pasir

(45)

Jenis rayap yang menyerang tanaman kelapa sawit :

1. Coptotermes curvignatus

Merupakan jenis rayap yang utama menyerang kelapa

sawit karena kasta pekerjanya mampu merusak jaringan

mati dan jaringan hidup tanaman.

2. Macrotermes gilvus

Rayap jenis ini mempunyai kasta pekerja hanya memakan

jaringan yang mati. Rayap ini akan sangat merugikan

tanaman jika koloninya membuat sarang di dekat batang

kelapa sawit karena dapat mengakibatkan batang menjadi

miring dan akhirnya tumbang. Jika pembentukan sarang

oleh koloni berada di gawangan, maka rayap ini tidak

(46)

Serangan Rayap jenis Coptotermes curvignatus pada pokok kelapa sawit

Serangan Rayap jenis Macrotermes gilvus pada pokok kelapa sawit

Hama rayap

(47)

Kasta Ratu dari rayap jenis Macrotermes gilvus yang dikelilingi oleh rayap pekerja pada saat dilakukan pembongkaran rayap

(48)

1. Dilakukan sensus sekaligus pengendalian pada areal yang terserang

dan diberi tanda pada kertas sensus dan pokok yang terserang

2. Pelaksanaan sensus dilakukan bersamaan dengan aplikasi termisida

dimana frekuensi sensus dilakukan berdasarkan volume serangan rayap

dan jenis tanahnya:

Pada Tanah Gambut:

- Serangan > 4 pohon per hektar, rotasi setiap 1 bulan

- Serangan < 4 pohon per hektar, rotasi setiap 2 bulan

pada tanah mineral sensus dilakukan jika terdapat serangan.

3. Pohon yang terserang dilakukan pembersikan serasah di sekitar pangkal

batang dan disemprot atau disiram dengan termisida.

4. Untuk mempermudah pengamatan,evaluasi dan penentuan rotasi

pengendalian, pokok yang terserang diberi tanda dengan cat dan pada

lembar sensus diberi tanda.

(49)

5. Aplikasi menggunakan Metode bariier

yaitu dengan cara menyemprot atau

menyiram secara merata pada pangkal

batang dan piringan pohon yang

terserang.

Piringan disemprot pada tanah radius

50 cm, dan pada pangkal batang

ketinggian 50 cm dari tanah, volume

aplikasi 2 ltr/pohon

aplikasi penyemprotan juga dilakukan

pada sekeliling pokok yang terserang

(mata lima)

Termisida yang dianjurkan adalah:

• Fipronil 50 g/l, konsentrasi 3-5 cc per

liter

• Chlorpyrifos 400 g/l, konsentrasi 7-10

Pengendalian hama rayap

Radius + 50 Cm

(50)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

a. Ulat Api Setothosea asigna Van Eecke

Larva sedang Larva kecil

Telur Ini merupakan salah satu jenis

ulat api terpenting pada kelapa sawit. Ulatnya berwarna hijau kekuningan dengan bercak khas di punggungnya,

panjangnya 30-36mm dan lebarnya 14mm.

(51)

Pupa 40 Hari Larva besar

Dewasa

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

a. Ulat Api Setothosea asigna Van Eecke

(52)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

b. Ulat Api Setora nitens Walker

Larva sedang Larva kecil

Ulatnya berwarna hijau, hingga kekuningan, panjangnya mencapai 40mm, mempunyai 2 rumpun bulu kasar di kepala dan 2 rumpun di

bagian ekor. Telurnya pipih dan bening, lebarnya 3 mm, diletakkan pada permukaan bawah daun dalam 3-5 deretan, kadang kala mencapai 20 deret. Ngengatnya coklat kelabu dengan garis hitam pada tepi sayap, yang betina panjangnya 20mm, dan yang jantan lebih kecil.

(53)

Larva kecil Dewasat

Pupa : hari ke 23

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

(54)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

b. Ulat Api Darna trima Moore

Telur : 3-5 hari

Larva sedang Larva kecil

Ulat berwarna coklat muda

dengan bercak-bercak jingga di punggungnya, panjangnya 13-15 mm. Stadium ulat 25-35 hari, umumnya menyerang daun tua pada tanaman muda dan dewasa.

(55)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

b. Ulat Api Darna trima Moore

26 – 33 hari

7 instar 10 -14 Hari Pupa

Larva besar

(56)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

d. Ulat Api Birthosea bisura Moore

Ulat jenis ini biasanya menyerang daun pada tanaman muda. Ulat instar terakhir panjangnya 15 mm, tubuhnya pipih, berwarna kuning kehijauan dengan garis ungu pada tengah punggungnya dan kuning di bagian ujungnya. Kepompong diletakkan pada pangkal anak daun atau pada ketiak-ketiak pelepah, bentuknya lonjong, panjangnya 10 mm dan lebar 8 mm, berwarna coklat tua dengan permukaan yang halus. Siklus hidupnya berlangsung 2 bulan. Tingkat populasi kritis 10-20 ulat per pelepah.

Gambar :

(57)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

e. Ulat Kantong Mahasena corbetti Tams

Larva sedang Larva kecil

Hama ini menyerang daun pada semua tingkat umur tanaman. Ulat hidup di

dalam kantong yang terbuat dari potongan dedaunan diikat dengan

benang-benang air liurnya. Panjang ulat bisa mencapai 30mm, berwarna coklat

kemerahan. Ulat muda berada di permukaan atas daun, selanjutnya

merambat ke permukaan bawah daun. Serangan biasanya pada daun-daun

bagian atas. Ngengat betina tetap berbentuk ulat dan tidak pernah

meninggalkan kantongnya, panjangnya 50 mm. Ngengat jantan berupa

kupu-kupu berwarna coklat, rentang sayapnya 30 mm.

(58)

Larva besar

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

Pupa 30 Hari Instar larva 80 Hari

(59)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

f. Ulat Kantong Metisa plana Walker Panjang ulat jenis ini 12 mm,

berwarna coklat kemerahan, hidup dalam kantong yang panjangnya 15-17 mm. kantong-kantong

terkait menggantung pada

permukaan bawah daun. Ngengat jantan berupa kupu-kupu, rentang sayapnya 17-20 mm, Ngengat betina berbentuk seperti ulat

(60)

Crematopsyche pendula

Siklus hidup terdiri dari 80 Hari yang menyerang bagian epidermis daun dan berbentuk ulat yang

terbungkus dalam kantong.

50 days for 4-5 larval instars

17 days for pupation

(61)

• LUAS SERANGAN.

TUJUAN DETEKSI

DETEKSI

• ADA TIDAKNYA HAMA DAN JENISNYA.

• TINGKAT SERANGAN.

(62)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

Petugas berjalan pada pasar pikul dan mengamati

secara visual hama-hama yang terlihat pada separuh

lingkaran kanopi kiri kanan pasar panen tersebut.

• Hama yang nampak dicatat pada kertas deteksi menurut jenis dan kriteria serangan yang telah ditentukan.

(63)

INTENSITAS DETEKSI

Tidak ada serangan = Setiap 5 pasar pikul. (kelang 4 pasar pikul)

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

(64)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

Serangan Ringan = Setiap 3 pasar pikul. (kelang 2 pasar pikul)

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2 1 2 1 2 1 2

(65)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

Serangan Sedang/Berat = Kelang 1 pasar pikul. (kelang 2 pasar pikul)

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1

(66)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

TINGKAT SERANGAN

RINGAN 1-5 larva per pokok

SEDANG 5-10 larva per pokok

(67)

• % HIDUP DAN MATI.

TUJUAN SENSUS :

SENSUS

• BESAR POPULASI HAMA.

• STADIA HAMA.

(68)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

Berdasarkan pada tingkat serangan :

BERAT - SEDANG - RINGAN

Letaknya harus cukup mewakili pokok - pokok yang

ada disekitarnya.

LOKASI TITIK SENSUS

• 5 pokok untuk luas < 10 Ha • 7 pokok untuk luas 10 - 20 Ha • 10 pokok untuk luas > 20 Ha

(69)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

Hitung semua : TELUR - LARVA - PUPA

Hidup atau mati.

PELAKSANAAN

• Dengan mengambil sample sebanyak 3 pelepah yang akan

mewakili pelepah bagian atas, tengah dan bawah.

(70)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

KRITERIA STADIA

Kecil Sedang Besar

ULAT KANTONG Mahasena corbetti < 15 15 – 25 > 25 Metisa plana < 5 5 – 10 > 10 Chremastopsyche pendula < 3 3 - 6 > 6 ULAT API Thosea asigna < 15 15 – 25 > 25 Thosea bisura < 10 10 – 15 > 15 Setora nitens < 10 10 – 20 > 20 Darna trima < 5 5 – 8 > 8 Ploneta diducta < 5 5 - 8 > 8 Ukuran Larva (mm) Jenis hama

(71)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

PENGENDALIAN

ERADIKASI ATAU MENURUNKAN POPULASI SAMPAI DI BAWAH AMBANG EKONOMI.

BIOLOGICAL INSECTICIDES

Bacillus thuringiensis

: THURICIDE HP, DIPEL WP

CONDOR 70 F.

Virus

: Mahasena corbetti, Thosea asigna dll.

Jamur

:

Cordyceps sp.

CHEMICAL INSECTICIDES

(72)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

Hubungan antara musuh alami

dan beneficial plants

Setora nitens

Berkembang

Menetas

Telur

Parasitoid

(73)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

Hubungan antara musuh alami

dan beneficial plants

NEKTAR

PERKAWINAN

RE-GENERASI

(74)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

(75)

Tanaman berguna Turnera sp (Kiri) dan Antigonon leptocus (kanan) yang ditanam di sepinggir jalan

(76)

• ENTOMOPHAGOUS PREDATORS • ENTOMOPHAGOUS PARASITOIDS • VIRAL DEISEASES

• FUNGAL DISEASES

MUSUH ALAMI

(77)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

HEMIPTERA

EOCANTHECONA FURCELLATA

Jenis yang dimangsa :

Semua jenis ulat pemakan daun

Stadia

Ulat.

(78)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

HEMIPTERA

SYCANUS SPP

Jenis yang dimangsa :

Semua jenis ulat pemakan daun dan ulat kantung

Stadia

Ulat.

(79)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

ENTOMOPHAGOUS PARASITOIDS

TACHINIDAE GONIINAE

Chaetoxorista javana

Jenis yang diparasit :

Setora nitens, Setothosea asigna, B. bisura, Darna trima, Susica malayana.

(80)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

TACHINIDAE GONIINAE

Eozenillia equatorialis

Jenis yang diparasit :

Mahasena corbetti

Stadia

Ulat instar terakhir

BOMBYLIIDAE

Systropus roepkei

Jenis yang diparasit :

Birthamula chara, Darna trima,

Setora nitens.

Stadia

Ulat instar terakhir

(81)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

TRICHOGRAMMATOIDAE

Trichogrammatoidae thoseae Nag.

Jenis yang diparasit :

Setora nitens, Setothosea asigna, Darna trima, Darna bradleyi.

Stadia

(82)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

BRACONIDAE BRACONINAE

Spinaria spinator

Jenis yang diparasit :

Setora nitens

Stadia

(83)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

BRACONIDAE Micrograterine

Apenteles aluella

Jenis yang diparasit :

Setora nitens, Setothosea asigna,

Darna trima, Darna bradleyi.

Stadia

Ulat

BRACONIDAE Micrograterine

Apenteles metisae

Jenis yang diparasit :

Mahasena corbetti, Metisa plana, C.

pendula.

(84)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

BRACONIDAE Microgasterinae

SYSTROPUS ROEPKEI

BOMBYLIIDAE

HOST

Birthamula chara, Darna trima, Setora nitens.

Parasit : PUPA

Fornicia sp

Jenis yang diparasit :

Setora nitens, Setothosea asigna,

Birthamula chara.

Stadia

(85)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

Cordyceps

(86)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

VIRAL DISEASE BETA NUDAURELIA Thosea asigna CYTOPLASMIC POLYHEDROSIS Thosea asigna

(87)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

VIRAL DISEASE

VIRUS GRANULOSIS DAN BETA.N

Darna trima

PICORNAVIRUS

(88)

Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

VIRAL DISEASE

VIRUS BETA NUDAURELIA

Birthosea bisura

VIRUS MC

(89)

Babi hutan

Jenis babi hutan yang paling sering merusak di perkebunan

kelapa sawit adalah Sus scrofa. Babi hutan mempunyai berat

badan sekitar 210 kg dengan bagian-bagian tubuhnya yang

tampak kurang proporsional. Hewan ini mampu hidup dalam

berbagi kondisi dan hidup secara berkelompok antara 20-30

ekor, dan mencari makan pada malam hari. Masa kehamilan

babi hutan sekitar 115 hari dan satu induk betina dapat

(90)

Pengendalian babi hutan

1. Pengamatan secara kolektif umumnya dilakukan pada areal

dengan populasi babi hutan yang tinggi, dengan

menggunakan jerat kawat ataupun sling.

2. Pengamatan individu, umumnya dilakukan pada areal

sisipan dengan menggunakan kawat duri.

3. Pengamatan secara koletif maupun individu harus tetap

dilakukan sampai tanaman memasuki periode TM.

4. Penggunaan racun atau memburu babi

Pengendalian dengan menggunakan racun adalah dengan

menggunakan durat dosis tinggi yang diaplikasikan 10-20

bite per titik aplikasi di jalan-jalan yang sering dilalui babi.

Jarak satu titik

aplikasi + 10 m. Selain menggunakan

durat tersebut, aplikasi

dilakukan bersama-sama

dengan brondolan yang telah direndam Bromadiolon 1

malam agar menimbulkan aroma memikat.

(91)

Pengendalian babi hutan

Aplikasi durat bersama brondolan yang telah direndam Bromadiolon (Kiri) dan bekas titik aplikasi setelah umpan habis dimakan babi

(92)

Landak (Hytrix javanicus)

Landak merupakan hama

tanaman perkebunan

terutama perkebunan kelapa

sawit khususnya di daerah

pengembangan.

(93)

Hama Landak merusak tanaman kelapa sawit muda dengan

cara mengerat kelapa sawit tersebut.

Landak Aktif pada malam hari dan bersembunyi di dalam

lorong-lorong di dalam tanah,

Pengendalian

1. Jerat (Penangkapan manual dengan perangkap).

2. Racun (menggunakan buah-buahan yang diberi racun)

3. Memasang kawat pada saat awal penanaman

4. Pengasapan dengan Belerang pada lubang-lubang yang menjadi

Sarang dari landak

(94)

Landak (Hytrix javanicus)

Contoh pemasangan kawat pengait

Pemasangan kawat individu untuk mengurangi tingkat kematian pokok karena serangan landak

(95)

Penyakit Tanaman

Penyakit tanaman secara sederhana didefenisikan sebagai

kerusakan pada tumbuhan yang diakibatkan oleh

mikroorganisme (patogen)

Mikroorganisme yang umum menyerang tumbuhan :

Virus

Jamur

Bakteri

(96)

Penyakit ini pada umumnya dijumpai menyerang tanaman

menghasilkan berumur 5-15 tahun, biasanya muncul pada awal

musim hujan setelah mengalami kemarau (Kering). Penyebab

utamanya adalah bakter, diduga Erwinia yang berasosiasi dengan

beberapa genera jamur.

Gejala awal dimulai dengan daun-daun pupus menguning,

mengering dan berwarna coklat. Awalnya pupus masih berdiri tegak,

makin lama makin condong dan selanjutnya patah pada pengkalnya.

Selanjutnya jaringan akan menjadi busuk dan mati dan

mengeluarkan aroma yang tidak sedap.

(97)

Busuk pada pupus yang mudah dicabut tampak berlendir

(98)

Busuk pupus

Efek dari pupus yang busuk akan mengakibatkan tanaman menjadi mati dan kering sampai terjadi pembusukan pada akar

(99)

Pengendalian

1. Membuang bagian daun (pupus) yang busuk dan

membiarkan terkena sinar matahari sehingga bagian

yang busuk menjadi kering.

2. Untuk penyemprotan, dilakukan pencampuran

formulasi fungisida dan bakterisida (antibiotik)

3. Penyemprotan juga dilakukan pada tanaman sekitar

agar tidak terjadi penyebaran penyakit semakin luas

(100)

Busuk pupus

Tanaman yang telah mati dna kering, dibongkar sampai semua bongkol akar tercabut, kemudian ditaburi dengan fungisida

(101)

Gejala, berupa benang-benang jamur yang berwarna putih

mengkilat meluas di permukaan tandan buah. Pada tingkatan ini

jamur belum menimbulkan kerugian pada tandan. Miselium

lebih banyak terdapat pada pangkal tandan yang melekat pada

pangkal pelepah daun yang mendukungnya, karena disini

kelembabannya sangat tinggi. Keadaan ini dapat dilihat pada

buah-buah yang masih mentah. Pada tingkatan berikutnya

miselium yang berada di permukaan buah itu mengadakan

penetrasi masuk ke dalam daging buah (mesocarp) yang

menyebabkan busuk basah. Buah berawarna cokelat muda,

berbeda jelas dari buah yang sehat. Jika buah yang sakit tidak

diambil, miselium dapat meluas dalam tajuk (mahkota) tanaman

sehingga semua tandan yang berkembang akan terserang.

Penyebab penyakit, Penyakit disebabkan oleh jamur Marasmius

(102)

Penyebaran busuk buah yang mengakibat busuk buah disekitar buah yang terserang dan dapat mengakibatkan semua buah pada pokok menjadi

busuk.

(103)

Alternatif Pengendalian

Mengurangi kelembaban kebun seperti tidak terlambat dalam

melakukan pemangkasan daun (Penunasan), pengaturan

jarak tanam yang sesuai, dan sebagainya.

Tandan yang lewat masak jangan dibiarkan tetap berada di

pohon, khususnya untuk kebun muda. Tandan-tandan yang

belum mencapai ukuran tertentu dipotong dengan teratur.

Kastrasri dilakukan dengan tepat, meskiupun buah belum

layak untuk diolah di pabrik, tandan buah yang masak harus

dipotong.

Sebagai langkah pengendalian terakhir dilakukan dengan

penyemprotan menggunakan fungisida. Bekas pemotongan

tandan yang terserang busuk buah disemprot dengan

fungisida Benomyl atau Mankozeb atau Kloratalonil

konsentrasi 3% volume semprot 1 liter larutan per pohon

(104)

Penyakit ini disebabkan oleh jamur Fusarium spp yang bersimbiosis

dengan patogen jenis lain.

Gejalanya dimulai dengan ujung daun muda yang tampak

menguninng dan layu, dalam waktu singkat layu tersebut akan

semakin meluas menuju titik tumbuh sehingga mengakibatkan

pokok tiba-tiba layu dan mati. Gejala yang paling khas adalah

pelepah yang tampah menguning ketika dipotong melintang akan

tampak bercak coklat muda sampai coklat tua sepanjang pelepah.

Kondisi daun yang tampak layu (kiri) dan bagian dalam pelepah yang busuk (Kanan)

(105)

Melakukan sensus tanaman yang terserang penyakit Fusarium dan

memberi tanda, Memangkas pelepah yang terinfeksi pada

tanaman. Pemangkasan dilakukan dengan hati-hati, bagian

yang dipotong pada pelepah adalah bagian yang telah terinfeksi

yaitu yang terdapat bercak-bercak coklat hingga bagian yang

masih segar (tidak terdapat bercak-bercak coklat).

Pada bagian pelepah yang terluka akibat dipotong diolesi larutan

fungisida.

Potongan pelepah yang terinfeksi dikumpulkan di suatu tempat

tersendiri dan kemudian dibakar.

Pada tanaman yang titik tumbuhnya telah terserang dan mengalami

pembusukan, tanaman harus dibongkar, bekas lubang tanamnya

dibersihkan dengan membuat lubang berukuran 1 x 1 x 1 m.

Tanah galiannya yang bercampur dengan perakarannya

dikumpulkan ke tempat tersendiri dan kemudian dibakar.

Dilakukan pemantauan berkala tehadap tanaman yang telah

dipangkas untuk menjaga kemungkinan masih terdapat pelepah

(106)

Gambar

Grafik Ambang Ekonomi
Grafik populasi hama di alam

Referensi

Dokumen terkait

Gejala : Daun menguning dan menggulung, lalu layu dan kering. Pada bagian tanaman yang berada dalam tanah terdapat bercak – bercak berwarna coklat. Infeksi akan

Pemangkasan dilakukan pada bag ian batang yang telah cukup berkayu (warna coklat keabu-abuan). Pad a batang yang dipotong akan tumbuh cabang-cabang baru dan

IF Terdapat gejala bercak putih yang merata pada permukaan daun AND Pada jaringan nekrosa bagian tengah berwarna putih dan tepi berwarna cokelat / gelap AND

Gejala penyakit antraknosa dapat dilihat secara visual pada daun yang terinfeksi dengan penciri adanya bercak yang meluas keseluruh bagian daun dan terdapat

Bibit  yang  tertahan  di  pembibitan  selama  lebih  dari  4  bulan  biasanya  sudah  berbunga  dan  bunga  ini  harus  pangkas  pada  saat  pemangkasan 

KUTU HIJAU DAN KUTU COKLAT Gejala serangan  Kutu hijau menyerang seluruh bagian tanaman kopi yang masih muda yaitu bunga, buah, daun, cabang dan batang yang masih berwarna hijau

Bakteri adalah salah satu jenis mahluk kecil (organisme) yang sebagian besar termasuk saprofit (numpang hidup di dalam tubuh mahluk lain, tidak merugikan dan menguntungkan

Ciri serangan jamur ini dapat dilihat dari munculnya bercak coklat pada batang cabai, awalnya kecil, kemudian membesar, dan dilokasi serangan akan muncul benang hitam putih, bercak