1 BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian 1.1.1 Profil Dinas UKM Kota Bekasi
Pada perkembangannya, Kota Bekasi mempunyai 12 kecamatan yang terdiri dari 56 kelurahan. Selain menjadi wilayah pemukiman, Kota Bekasi juga berkembang sebagai Kota Perdagangan, Jasa dan Industri. Industri kecil di Kota ini telah banyak yang melebarkan sayapnya hingga pasar Internasional. Komoditi unggulan dari Kota Bekasi, yaitu perdagangan ikan hias (jabarprov.go.id). Usaha mikro, kecil dan menengah merupakan salah satu jenis usaha yang banyak berkembang di Kota Bekasi. Jumlah UMKM terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Di tahun 2011, tercatat sebanyak 945 UMKM, sedangkan di tahun 2019 mengalami peningkatan, sehingga jumlahnya menjadi 2256 UMKM. Jumlah ini hanya jumlah UMKM yang menjadi binaan Dinas Koperasi dan UMKM, sedangkan jumlah sesungguhnya diperkirakan lebih banyak. Dinas Koperasi dan UMKM Kota Bekasi dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bekasi Nomor 01 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kota Bekasi. Dinas Koperasi dan UKM mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan Pemerintah Daerah Bidang Koperasi, Usaha Mikro dan Fasilitas UKM, dan Usaha Non Formal.
Tabel 1. 1 Rekapitulasi Data Usaha Kategori Mikro Kota Bekasi 2019
No. Jenis Usaha Jumlah
1 Makanan/Minuman 1285
2 Baju dan Aksesoris 352
3 Kerajinan Tangan 93
4 Budidaya dan Peternakan 22
5 Boneka 47
6 Jasa 69
2
2256 UMKM Sumber: Data Internal Dinas Koperasi dan UMKM Kota Bekasi, 2019 1.1.2 Struktur Organisasi
Gambar 1. 1 Struktur Organisasi Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kota Bekasi
Sumber: Situs Resmi Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah Kota Bekasi 1.1.3 Visi dan Misi
1.1.3.1 Visi
Maju dalam bidang koperasi dan UMKM dalam meningkatkan perekonomian di Kota Bekasi.
1.1.3.2 Misi
1. Mengembangkan koperasi dan UMKM sebagai pelaku utama ekonomi dalam meningkatkan perekonomian yang berbasis kreatif.
2. Menciptakan iklim usaha yang kondusif melalui pemberian peluang dan kepastian berusaha.
3. Menciptakan dan Mengembangkan SDM, sarana dan prasarana teknologi, permodalan, jejaring usaha, kemitraan, perluasan akses pemasaran, manajemen, dan organisasi koperasi dan UKM.
3
4. Meningkatkan penyerapan tenaga kerja melalui penciptaan wirausaha baru dan di verifikasi usaha.
5. Memberikan pelayanan prima yang cepat, tepat dan akurat. 1.2 Latar Belakang
Dewasa ini keberadaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu penggerak ekonomi yang perlu diperhitungkan. UMKM mengusai 99 persen aktivitas bisnis di Indonesia dengan lebih dari 98 persen berstatus usaha mikro. UMKM memiliki keunggulan di beberapa faktor, yaitu kemampuan fokus yang spesifik, fleksibilitas nasional, biaya rendah serta kecepatan inovasi (Gewati, 2018). Selain itu, berkembangnya UMKM tidak lepas dari beberapa faktor yang turut ikut mendorong pertumbuhan UMKM di Indonesia, yaitu diantaranya adalah pemanfaatan sarana teknologi, informasi dan komunikasi, serta kemudahan peminjaman modal usaha (Amalia, 2020).
Kehadiran media sosial dan marketplace juga memudahkan pelaku bisnis UMKM untuk memasarkan produk mereka. Pelaku bisnis dapat memperkenalkan produk mereka dengan mengunduh foto produk di sosial media. Menurut laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), populasi penduduk Indonesia pada tahun 2017 mencapai 262 juta orang dan lebih dari 50 persen telah terhubung jaringan internet (Bohang, 2018). Melihat data tersebut, pelaku bisnis di Indonesia memiliki kesempatan yang besar untuk memperluas pemasaran produk mereka. Menembus pasar nasional tentunya menjadi keinginan bagi para pelaku bisnis UMKM. Adanya teknologi digital dan media sosial seperti saat ini, bukan hanya pasar nasional saja tetapi pasar internasional pun dapat diraih. Cara yang paling sederhana untuk berpartisipasi di pasar internasional, yaitu dengan melakukan kegiatan ekspor (Firmansyah dan Fatihudin, 2017). Cara lain yang dapat dilakukan dengan memberikan lisensi, waralaba, membentuk usaha patungan serta membuat anak perusahaan (cerdasco.com, 2020).
Kegiatan ekspor memberikan banyak manfaat bagi pelaku UMKM, yaitu memperluas pasar bagi produk Indonesia, menambah devisa negara, memperluas lapangan kerja, serta pengembangan UMKM. Menjadi eksportir di Indonesia memiliki persyaratan tertertu, aturan ini didasari dari Peraturan Menteri
4
Perdagangan Republik Indonesia yang dapat berubah seiring dengan perkembangan bisnis. Jika seseorang/perusahaan ingin melakukan kegiatan ekspor, maka harus memiliki Nomor Identitas Kepabeanan, untuk mendapatkan NIP maka seseorang/perusahaan eksportir harus memiliki Tanda Daftar Usaha Bisnis serta Ijin Usaha Departemen Teknis, jika ekspor dilakukan secara perorangan maka harus memiliki NPWP dan membayar pajak (Gentari dan Sunaryo, 2019).
Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) membuat program bernama Coaching Program for New Exporter (CPNE), yaitu program khusus untuk pelaku UMKM yang ingin memulai melakukan eskpor. Program ini telah melatih 1500 UMKM dengan digelar tersebar di 27 provinsi. Marketplace yang dituju adalah Amazon, Alibaba hingga marketplace di Afrika, yaitu Jumia. LPEI mencatat 400 UMKM berhasil menembus pasar global setelah mengikuti program ini (Sukmana, 2018).
Beberapa UMKM di Indonesia yang telah memasuki pasar global, yaitu PT Ika Indo Industri Karbonik, UMKM ini bergerak di bidang karbon aktif yang banyak digunakan di pasar Amerika dan Eropa. Produk ini digunakan untuk pemurnian air dan berbagai proses industri. PT Ika Indo Industri Karbonik bahkan dijadikan percontohan oleh Kementrian Perdagangan Republik Indonesia. Selanjutnya adalah Usaha Dagang Bandar Mirna, UMKM ini melakukan jual dan beli ikan kerapu dan bebek, produk ini telah dipasarkan ke Hongkong, China, Jepang, Thailand, dan Amerika Serikat. Ikan yang di ekspor oleh Usaha Dagang Bandar Mirna berbentuk ikan segar maupun kemasan. Ikan akan dibekukan atau dikeringkan terlebih dahulu sebelum dikemas. UMKM ini dinilai berhasil membuka lapangan kerja bagi para nelayan dan penduduk Bali untuk memperoleh bibit ikan kerapu yang unggul (goukm.id, 2017).
Ditengah pandemi covid-19 yang melanda seluruh dunia, UMKM di Indonesia turut merasakan dampaknya. Beberapa sektor, seperti pariwisata dan perdagangan mengalami penurunan drastis terutama para pedagang kaki lima yang kesulitan berdagang karena pembatasan sosial. Meskipun begitu, ada beberapa faktor yang membuat UMKM dapat bertahan ditengah wabah covid-19, diantaranya adalah UMKM biasanya menghasilkan barang konsumsi dan jasa yang
5
dekat dengan kebutuhan masyarakat, umumnya UMKM tidak mengandalkan barang impor serta bisnis UMKM biasanya tidak ditopang oleh dana pinjaman bank melainkan dari dana sendiri (Intansari, 2020).
Selain itu, pemerintah juga bekerja sama dengan beberapa pihak untuk mengurangi dampak covid-19 pada UMKM. Ketika tahun 2019, sebanyak 1,2 juta wisatawan Australia datang ke Indonesia dan mencicipi kuliner Indonesia, pengalaman mencoba cita rasa Indonesia, menjadikan produk Indonesia banyak dicari di Australia. BUMN bekerja sama dengan house of Indonesia untuk mengekspor produk UMKM ke Australia. Produk yang biasa diekspor, yaitu kerupuk palembang, keripik kentang, gula aren, kopi, serta permen jahe. Produk tersebut dikirimkan ke supermarket dan toko Asia yang ada di Australia serta dijual secara online melalui IndonesiaStore.com.au dan IndonesiaInYourHand.com. Wabah covid-19 tidak menurunkan minat masyarakat Australia dalam berbelanja produk Indonesia (cnbcindonesia.com, 2020). Hal ini berarti bahwa produk Indonesia dapat diterima oleh pasar internasional. Ini pun bisa menjadi acuan bagi UMKM yang ingin memulai untuk memasarkan produknya di luar negeri tentunya dengan perencanaan produk dan target pasar yang matang.
UMKM perlu fokus kepada pengukuran kinerja strategis agar dapat memanfaatkan peluang dan mempertahankan daya saing mereka di lingkungan bisnis saat ini yang peningkatannya lebih didorong oleh nilai dari produk dibanding biaya (Bismala et al, 2018). Bagi konsumen nilai produk merupakan salah satu alasan mereka untuk membeli suatu produk dibandingkan produk lainnya. Nilai (value) juga sangat penting bagi keberlangsungan perusahaan, bila kehadiran produk ditengah masyarakat tidak memiliki nilai maka ketiadaan produk tidak ada bedanya. Sebaliknya, jika produk memiliki nilai yang tinggi, kehadiran suatu produk akan selalu dinantikan (Kartajaya, 2020). Karena keterbatasan pengetahuan, tidak banyak UMKM yang menerapkan manajemen kinerja. Umumnya kinerja diukur dengan pengukuran keuangan, seperti laporan laba rugi, arus kas, dan laporan keuangan sederhana. Informasi kinerja tentang pasar dan pelanggan, posisi kompetitif, kinerja keuangan, pelanggan kinerja layanan, kinerja operasional, dan sebagainya perlu diintegrasikan untuk membantu perusahaan
6
mengambil keputusan yang cepat dan akurat (Bismala et al, 2018). Menurut Islami et al, (2017), pengukuran kinerja finansial hanya menitikberatkan pada keuntungan yang dinilai terlalu tertinggal karena hanya mengukur sesuatu yang telah dilalui dan tidak dapat dijadikan satu-satunya acuan untuk mengukur kinerja usaha secara harfiah.
Internasionalisasi UMKM mengacu pada upaya atau kondisi yang berhubungan dengan produk maupun kegiatan bisnis UMKM yang memasuki atau terintegrasi dengan pasar (Alamsyah, 2016). Proses Internasionalisasi merupakan proses yang bertahap dan bertambah seiring berjalannya waktu, karena para pelaku proses ini umumnya belum cukup paham mengenai pasar luar negeri dan cenderung untuk menghindari resiko kegagalan (Cahyadi, 2015). Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan UMKM berbeda-beda di berbagai kawasan. Di Indonesia dan Asia Tenggara secara umum, faktor utama yang mendorong pertumbuhan adalah pertumbuhan jumlah mitra, modal ventura, dan dukungan pemerintah. Sedangkan di Amerika Latin, yaitu pendidikan, pengalaman kewirausahaan, ukuran tim, dan ukuran pesaing merupakan faktor yang mendorong pertumbuhan UMKM. Faktor orientasi ekspor merupakan satu-satunya faktor universal yang mempengaruhi pertumbuhan UMKM baik di Amerika Latin, Eropa maupun di Asia Tenggara (Abduh, 2017).
Pendapat dari Sekretaris Kementerian Koperasi dan UMKM, masih banyak hambatan internasionalisasi UMKM di Indonesia, baik dari internal maupun eksternal. Faktor internal yang menjadi penghambat adalah keterbatasan SDM, akses ke sumber daya produktif, kemampuan dalam riset, serta legalitas. Sementara hambatan eksternal yang dihadapi adalah tidak stabilnya pasokan dan harga bahan baku, tarif barrier dan kurang meratanya infrastruktur (Alamsyah, 2016). Selain itu menurut pendapat Cahyadi (2015), tantangan lainnya yang dihadapi oleh UMKM dalam menghadapi internasionalisasi adalah kurangnya pengetahuan tentang pasar, kendala keuangan, keterbatasan teknologi dan inovasi serta kebijakan pemerintah. Pendapat lainnya Budiarto et al, (2015), mengatakan bahwa diluar masalah utama yang dihadapi UMKM, seperti permodalan, pemasaran, bahan baku, teknologi,
7
organisasi, dan manajemen ada hal lain yang menjadi tantangan bagi UMKM di Indonesia, yaitu lingkungan yang kurang kondusif.
Kota Bekasi merupakan salah satu kota di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Jawa Barat menjadi salah satu penyumbang ekspor terbesar di Indonesia. Bahkan merujuk pada data BPS Jawa Barat menempati peringkat pertama provinsi pengekspor terbesar di Indonesia pada tahun 2020 (Sarasa, 2020). Adapun jumlah penjualan ekspor tertinggi selama 10 tahun terakhir di Kota Bekasi mencapai USD 983.515.065,83 (Sihotang, 2017). Kota Bekasi memiliki UMKM binaan dengan total sebanyak 2256 UMKM. Selain menjadi wilayah pemukiman, Kota Bekasi juga berkembang sebagai Kota Perdagangan, Jasa dan Industri. Industri kecil di Kota ini telah banyak yang melebarkan sayapnya hingga pasar Internasional. Berdasarkan data, Komoditi unggulan dari Kota Bekasi, yaitu perdagangan ikan hias (jabarprov.go.id, 2018). Namun, berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu staf Dinas UMKM Kota Bekasi, mengatakan bahwa UMKM binaan mereka sedikit yang bergerak di komoditi ikan hias karena komoditi tersebut biasanya sudah skala besar dan tidak membutuhkan binaan lagi. UMKM binaan berfokus kepada Usaha Mikro dan Kecil. UMKM binaan Kota Bekasi yang telah memasuki pasar Internasional bergerak di bidang mode dan boneka. Hasil produk mereka banyak yang telah dipasarkan hingga ke negara ASEAN.
Keterbatasan dana membuat peningkatan kualitas produk UMKM sulit untuk dilakukan. Kondisi itu juga menyulitkan pelaku UMKM untuk meningkatkan kreativitas dalam mengembangkan produk untuk bersaing dengan produk luar negeri (Hana, 2014). Selain permasalahan tersebut, berdasarkan hasil wawancara dengan Sekretaris Dinas UMKM Kota Bekasi permasalahan lainnya yang dihadapi adalah pelaku usaha UMKM sulit untuk mendapatkan kemitraan serta kurangnya inovasi produk yang dipasarkan terbukti dari banyak usaha sejenis. Hal tersebut, dapat menghambat pelaku UMKM untuk memperluas pasarnya ke ranah internasional. Berbagai cara telah dilakukan oleh Dinas UMKM kota Bekasi untuk meningkatkan kualitas UMKM, salah satunya dengan cara memberi fasilitas dan memberikan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan berjualan bagi para pelaku UMKM, seperti cara memasarkan dan mempromosikan suatu produk
8
dengan memanfaatkan teknologi internet serta memberi kemudahan UMKM untuk sertifikasi halal (dakta.com, 2018).
Internasionalisasi menjadi penting bagi UMKM karena dapat membuat peluang bagi UMKM untuk meningkatkan skala ekonomi, memperluas pangsa pasar serta peningkatan produktivitas (Arudchelvan dan Winagraja, 2015). Selain itu internasionalisasi juga memiliki peran pada keberhasilan usaha kecil dalam jangka panjang (Coad dan Tamvada, 2011). Berdasarkan hal tersebut maka sangat dirasa penting untuk mengembangkan UMKM yang memiliki daya saing secara internasional. Orientasi kewirausahaan dan hubungan kemitraan yang dimiliki oleh pemilik UMKM merupakan beberapa faktor yang dianggap penting untuk mengembangkan UMKM. Lumpkin dan Dess (1996) dalam Wardoyo et al. (2015) memaparkan bahwa pemilik usaha yang memiliki sifat orientasi kewirausahaan yang tinggi akan memiliki sifat pengambilan resiko yang lebih berani serta tidak hanya mengandalkan strategi bisnis yang lama. Selain itu, menurut Lukiastuti (2012) melalui orientasi kewirausahaan yang tinggi, perusahaan dapat mencapai posisi yang lebih unggul dibandingkan pesaingnya.
Kemitraan secara berkelanjutan penting bagi UMKM untuk meningkatkan kinerja, UMKM dapat bermitra dengan UMKM lain maupun Usaha Besar (Herawati, 2011). Hal ini juga disampaikan oleh Presiden Joko Widodo bahwa perlunya kemitraan agar UMKM dapat terjun ke pasar global, meningkatkan peluang untuk UMKM naik kelas serta meningkatkan kualitas usaha UMKM menjadi lebih kompetitif (kominfo.go.id,2021). Brouther et al. (2014) menemukan bahwa UMKM yang memiliki Orientasi Kewirausahaan lebih tinggi cenderung mampu untuk bersaing pada pasar internasional karena memiliki kemampuan yang lebih sesuai. Lebih lanjut, Yoon et al. (2018) mengatakan bahwa orientasi kewirausahaan yang baik serta hubungan kemitraan yang erat dapat meningkatkan kinerja internasional pada UMKM. Berdasarkan pemaparan diatas, maka penulis tertarik untuk mengambil judul “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Internasionalisasi UMKM di Kota Bekasi”
9 1.3 Perumusan Masalah
UMKM merupakan salah satu bentuk usaha yang perlu diperhitungkan. UMKM perlu fokus kepada pengukuran kinerja strategis agar dapat memanfaatkan peluang dan mempertahankan daya saing mereka di lingkungan bisnis saat ini yang peningkatannya lebih didorong oleh nilai dari produk dibanding biaya. Kendala maupun hambatan pada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dalam menuju pasar internasional pun kini dapat diatasi melalui pengukuran ini, sehingga pemilik usaha dapat memiliki gambaran untuk masa yang akan datang. Penelitian ini akan membahas lebih lanjut bagaimana tingkat variabel orientasi kewirausahaan dan kemitraan terhadap kinerja internasionalisasi serta pengaruh orientasi kewirausahaan terhadap kinerja internasionalisasi dan pengaruh orientasi kewirausahaan terhadap kinerja internasionalisasi dengan kemitraan sebagai variabel moderat.
1.4 Pertanyaan Penelitian
Adapun pertanyaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana tingkat orientasi kewirausahaan pada UMKM di Kota Bekasi? 2. Bagaimana tingkat kemitraan pada UMKM di Kota Bekasi?
3. Bagaimana tingkat kinerja internasionalisasi pada UMKM di Kota Bekasi? 4. Bagaimana hubungan antara orientasi kewirausahaan dengan kinerja
internasionalisasi?
5. Bagaimana pengaruh kemitraan sebagai variabel moderat antara variabel orientasi kewirausahaan terhadap kinerja internasionalisasi UMKM Kota Bekasi?
1.5 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini, sebagai berikut:
1. Mengetahui tingkat orientasi kewirausahaan pada UMKM di Kota Bekasi. 2. Mengetahui tingkat kemitraan pada UMKM di Kota Bekasi.
3. Mengetahui tingkat kinerja internasionalisasi pada UMKM di Kota Bekasi. 4. Mengetahui bagaimana hubungan antara orientasi kewirausahaan dengan kinerja
10
5. Mengetahui bagaimana pengaruh variabel orientasi kewirausahaan terhadap kinerja internasionalisasi UMKM Kota Bekasi dengan kemitraan sebagai variable moderat.
1.6 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan oleh penulis dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.6.1 Aspek Teoritis
Hasil dari temuan penelitian terkait analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja internasionalisasi UMKM di Kota Bekasi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi serta wawasan baru mengenai menjalankan usaha yang baik. Selain itu, penelitian ini dapat dijadikan referensi dan dapat dijadikan acuan untuk penelitian selanjutnya berkaitan dengan pengukuran kinerja internasionalisasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
1.6.2 Aspek Praktis
Manfaat penelitian jika dilihat dari segi praktis, yaitu dengan mengetahui pengukuran kinerja internasionalisasi UMKM yang ada di Kota Bekasi melalui kemitraan yang diukur dengan orientasi kewirausahaan yang diharapkan dapat mengoptimalkan kinerja usaha pada waktu yang akan datang, memperbaiki kelemahan dalam upaya mengoptimalkan kinerja usaha UMKM di Kota Bekasi menjadi go internasional.
1.7 Ruang Lingkup Penelitian 1.7.1 Lokasi dan Objek Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Dinas Koperasi dan UKM Kota Bekasi yang berada di Jl. Jendral Ahmad Yani RT 01/RW 05, Kayuringin Jaya, Kec. Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Jawa Barat 17114.
1.7.2 Waktu dan Periode Penelitian
Waktu penelitian ini dimulai pada bulan September 2019 sampai dengan bulan Februari 2021.
11 1.8 Sistematika Penulisan Tugas Akhir BAB I PENDAHULUAN
Bab ini penulis menjelaskan tentang gambaran umum objek penelitian, latar belakang terkait penelitian, perumusan masalah yang berdasarkan latar belakang, tujuan penelitian, manfaat penelitian yang dijelaskan dari dua aspek, yaitu aspek teoritis dan aspek praktis, ruang lingkup penelitian yang terdiri dari variabel penelitian, lokasi dan obyek penelitian, waktu dan periode penelitian serta sistematika penelitian.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LINGKUP PENELITIAN
Bab ini menjelaskan teori yang digunakan sebagai dasar penelitian, menjelaskan penelitian-penelitian terdahulu yang digunakan sebagai acuan penelitian serta kerangka pemikiran.
12 BAB III METODE PENELITIAN
Pada bab ini akan menguraikan mengenai jenis penelitian, pendekatan penelitian, identifikasi variabel dependen dan variabel independen, definisi operasional variabel, tahapan penelitian dan teknik analisa data.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini dijelaskan mengenai pembahasan dan analisa yang dilakukan, sehingga terlihat gambaran permasalahan secara jelas dan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini terdapat kesimpulan akhir dari analisa dan saran-saran yang dapat dimanfaatkan untuk penelitian selanjutnya.