• Tidak ada hasil yang ditemukan

FORMULIR KONSULTASI SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "FORMULIR KONSULTASI SKRIPSI"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

LAMPIRAN I

(2)

157

FORMULIR KONSULTASI SKRIPSI

Nama Mahasiswa : Nora Dian Pratama

NIM : 00000026494

Nama Dosen Pembimbing : Samiaji Bintang Nusantara, S.T., M.A Tanggal

Konsultasi

Agenda/Pokok Bahasan

Saran Perbaikan Paraf Dosen

Pembimbing 2 Maret

2020

bimbingan seputar topik penelitian

Judul masih belum fokus

16 Maret 2020

bimbingan seputar topik penelitian

Ganti subjek, tidak boleh lagi

menggunakan media

kamibijak.com 25 Maret

2020

Konsultasi Bab 1 dan Bab II

revisi pada latar belakang,

penggunaan teori dan konsep

kurang tepat, alur penelitian

salah cara penulisan, latar

belakang kurang lengkap, bab 1

kurang fokus dan ada penulisan

salah

(3)

158

4 April 2020 Konsultasi Bab 1 Bab II, dan Bab III

revisi latar belakang untuk ditambah contoh kasus, revisi bab 2

28 April 2020

Konsultasi Bab 1 Bab II, dan Bab III

Perubahan mencakup penelitian yang lebih terfokus, penggunaan sumber lain dan sumber rekomendasi buku Blur dari Bill Kovach dan Tom Rosentiel, penambahan unit analisis data, dan penggunaan teori dan konsep baru yang lebih terfokus.

7 Mei 2020 Konsultasi Bab 1 Bab II, dan Bab III

Perubahan mencakup latar belakang penelitian yang lebih lengkap disertai contoh khusus yang mendukung penelitian ini, pengurangan penggunaan teori Information Seeking

21 Mei 2020 Konsultasi Bab 1 Bab II, Bab III, dan Bab IV

perubahan pada teori dan konsep penelitian, alur penelitian seperti yang sudah disarankan sebelumnya, dan latar belakang yang lebih lengkap.

1 Juni 2020 Konsultasi Bab IV

Perubahan mencakup perubahan alur penelitian seperti yang sudah disarankan serta penulisan BAB IV (notes: hasil wawancara belum dimasukkan).

14 Juni 2020

Konsultasi secara keseluruhan

Latar Belakang hapus bagian

Pemilu

(4)

159

Form ini wajib dibawa saat konsultasi dan dilampirkan di dalam bagian akhir skripsi.

Tangerang, 14 Juni 2020

Samiaji Bintang Nusantara, S.T., M.A

(5)

LAMPIRAN II

(6)

161

HASIL WAWANCARA

Wawancara I

Narasumber : Moerat Sitompul

Jabatan : Kepala Tim Media Lab Tempo Tanggal : 10 Juni 2020

Waktu : 16.00-16.40 Melalui pesan singkat WhatsApp

Penanya Halo selamat sore Mas Moerat, apa kabar?

Narasumber Selamat sore, baik kok

Penanya Kita langsung mulai wawancaranya saja ya, bagaimana peran dan posisi media Tempo.co dalam menjalankan praktek jurnalistiknya terutama di masa krisis COVID-19 seperti saat ini?

Narasumber Sama aja kerjaannya, karena yang berbeda itu paling ketika di, apa namanya ketika kita mau melakukan ketemu sumber lah

yang bedanya Ya paling sekarang kalau mau mengecek sumber ketemunya nggak langsung, digital saja, virtual kaya sekarang gini

Penanya Virtualnya itu video call atau telepon atau gimana?

Narasumber Ya seperti kalau kita kan biasanya hari-hari anu ya bisa nelpon bisa WhatsApp call jadi ketika di masa pandemi ini

ya mungkin kalau perlu apa perlu ketemu digantikan dengan video call kira- kira gitu

Penanya Lanjut ya, bagaimana sih penerapan fact-checking oleh media pengecekan fakta oleh media online Tempo.co dalam rubrik “cek fakta”?

Narasumber Penerapan Fact-checking itu apa namanya mungkin ini nanti ada kaitannya

dengan pertanyaan-pertanyaan kamu di bawah ya, Kalau penerapan fact-

checking tuh sebenarnya kan gini kalau yang namanya wartawan itu sehari-

harinya kan pekerjaannya juga fact-checking, Jadi ketika membuat liputan

kita misalnya liputan soal Wisma Atlet misalnya biasanya ada pemberitaan

dari pemerintah terhadap pasukan bahwa Wisma Atlet punya fasilitas ABC

(7)

162

seperti itu kan, namun sebagai wartawan itu namanya pengecekan fakta itu kita tetap harus lakukan seperti biasa.

Nah pertanyaan-pertanyaan ini lalu apa bedanya antara wartawan biasa dengan para fact-checker? Kalau Fact-checker di tempo.co itu biasanya kita melakukan pengecekan fakta terhadap berita-berita yang bukan Running

news, jadi misalnya kalau misalnya Bagaimana misalnya kita cerita soal

kondisi Wisma Atlet itu yang mengecek biasanya bukan tim fact-checker tapi wartawan reguler, tapi kalau misalnya pengecekan fakta mengenai pandemi ini misalnya dengan Apakah benar minum air hangat membunuh virus? Nah itu karena beritanya nggak ada itu biasanya melakukan pengecekkan fakta.

Lalu kalau metode nya kita setiap kali setiap kali melakukan pengecekan itu beda-beda artinya tergantung sebuah informasi yang diklaim sebagai fakta itu bentuknya seperti apa tergantung bentuk dari sesuatu yang dianggap sebagai fakta yang diklaim sebagai fakta, kalau misalnya bentuknya Meme atau Mim Itunya pemeriksaannya melalui tool-tool namanya Image Reverser di Google ada.

kalau misalnya video kita pakai tools lain tapi biasanya kalau video ini lumayan menguras tenaga dan waktu karena videonya harus ditonton dari awal sampai akhir untuk mengetahui klaimnya, begitu, Lalu kita juga harus memeriksa setiap aspek dari informasi yang diklaim sebagai fakta Apakah dilihat dari elemen-elemen grafis nya, misalnya kalau teks doang Oke lebih mudah ya, tapi kalau misalnya meme itu yang menyertakan seolah-olah menyertakan situs berita tertentu kita harus cek satu per satu mulai dari fontnya, besar font, ciri khas logo apakah logonya seperti itu atau nggaknya itu harus di cek satu persatu.

Nah kalau video juga menggunakan tools yang berbeda, nanti mungkin kamu bisa cek dengan Mbak Angel atau Mbak Ika. nanti

kamu akan diberi akses juga ke wawancara kepada Mba Angelina sama Mbak

Ika kalau saya ini kan lebih kepada helikopter view aja karena saya yang

(8)

163

bertanggung jawab sebagai Pengelolaan fact-checking aja tapi kalau yang melakukan kegiatan sehari-harinya itu nanti Mbak Angel sama Mbak Ika oke ya nanti bisa tanya ke mereka lebih mendetil karena ceritanya bakal lebih seru dari mereka.

Lalu bagaimana dengan di sosial media, sosial media juga begitu kita mulai ngecek akunnya, kita mulai kapan mereka apa namanya ibaratnya mempost pertama kali tuh di mana? Kapan? Apa yang biasanya di post? Apakah konsisten atau tidak? Apakah ini akun memang sungguhan atau akun yang dibeli itu kan sering kejadian seperti itu jadi akun yang sudah banyak diambil alih oleh sebuah akun lain yang banyak seolah-olah memang resmi itu perlu dicek.

Penanya Mungkin kalau boleh tahu, bisa jelasin Bagaimana sih dari pengecekan fakta dari awal seperti memilih klaim sampai melakukan verifikasi fakta sampai menyebarkan itu seperti apa ya?

Narasumber Oke kita ini aja aku jelasin misalnya proses bagaimana kita mendapatkan informasi atau sesuatu yang dianggap sebagai fakta ini kita mau cek. Biasanya kalau dicek fakta itu kita punya sebuah grup WhatsApp, di grup WhatsApp itu biasanya tiap anggota fact-checker ataupun penanggung jawabnya itu memberikan usulan-usulan apa namanya itu tadi fakta-fakta yang ingin di cek, di mana datangnya fakta-fakta itu? Nah itu pekerjaan wartawan biasanya ya kita lihat dari WhatsApp grup kita sendiri yang beredar di keluarga, di teman, kalangan kerja, ataupun yang dilaporkan oleh teman-teman kita atau oleh pembaca misalnya.

Lalu kita juga ada namanya sosial media kita, sosial media kita juga biasanya ada yang DM minta diperiksain fakta, lalu tool yang ada canggih itu ada di Facebook.

Facebook itu memberikan sebuah dasbor kepada tim Cek Fakta Tempo yang

isinya itu berbagai fakta yang perlu diperiksa, di situ ada yang namanya

viralitas ya jadi ini sudah di-share berapa kali, lalu yang baca berapa, sudah

berapa lama beredar. Nah, berdasarkan pertimbangan itu biasanya kita lalu

(9)

164

memilih mana nih yang perlu lebih dahulu di cek fakta, biasanya yang kita pilih pertama itu adalah yang satu Viralitasnya tinggi, artinya sudah menyebar kemana-mana, yang kedua yang sedang hangat dibicarakan artinya kalau ada dua yang sama-sama penyebarannya besar tapi satu sekarang misalnya tentang pandemi COVID-19 dan satu lagi tentang kecelakaan di jalan tol di Jawa Barat misalnya yang sudah berkejadian kira-kira 2 tahun sebelumnya, itu biasanya kita tentu akan pilih yang sedang hangat yang sekarang lebih relevan.

Nah setelah itu kita harus pilih, misalnya Siapa ini yang menyatakan ini yang menyatakan fakta tersebut? Apakah orang biasa atau justru lembaga-lembaga yang seharusnya memberikan informasi yang benar, misalnya presiden ngomong sesuatu tentang COVID-19 atau wakil presiden atau Kementerian Kesehatan tentunya itu yang lebih dulu diperiksa dibandingkan kalau yang bicara misalnya seorang pengunjung warung kopi nongkrong di warung kopi itu apa namanya kalah abunya jadi dipilih.

Nah setelah itu setelah memenuhi kriteria-kriteria yang kita tentukan itu baru mulai dicek, di rapat itu kan kita ada anggota-anggotanya, Nah biasanya yang Mengatur lalu lintas hoaks mana atau fakta mana yang mau diperiksa itu Mbak Angelina Anjar atau panggilan sehari-harinya Mbak Army. Nah Mbak Army ini akan membagikan fakta-fakta atau hoaks-hoaks yang mau diperiksa kepada tiga fact-checker lain, tiga fact-checker ini kebetulan tiga-tiganya wartawan tapi kalau di beberapa tempat fact-checker itu enggak perlu harus wartawan, tapi bisa juga kalangan akademisi atau pengamat politik atau ya tidak perlu wartawan atau bahkan anak sekolah dan Mahasiswa juga bisa andai kata terkait dengan pendidikan.

Lalu, selain dari itu, selesai, sudah ada faktanya bahwa kita harus tahu hoaks

ini pertama kali tersebar bagaimana, penyebarannya bagaimana, kepada

siapa. Nah, lalu kita memeriksa sumber-sumber kita yang tentunya bisa

ditanggungjawabkan kredibilitasnya baru dijelaskan bahwa menurut lembaga

A faktanya begini, menurut lembaga B faktanya begini hal tersebut selaras

(10)

165

atau entah bertentangan. Nah, setelah itu harus dijelaskan bahwa misalnya kita membuat di hoaks itu misalnya menyertakan foto atau menyertakan video kita harus bisa menunjukkan bahwa foto atau video itu aslinya apa?

Contoh misalnya, ada foto tentang orang Cina rame-rame shalat karena takut virus Corona, ada itu semua, apa namanya semua videonya lengkap. Namun kita nggak tahu tuh sebenernya video apa? Nah, itu fact-checker akan memeriksa video itu asalnya dari mana dan apa isi sebenarnya, dari situ dijelaskan bahwa Oh ternyata video ini mengenai salat Idul Fitri dan memang benar di Cina, tahu dari mana di Cina? kita minta bantuan fact-checker kita di Taiwan yang mengerti bahasa dan tulisan Cina. Nah dia itu yang memeriksa lokasi dan pembicaraan yang ada di dalam video itu.

Lalu dari situ kita juga mengecek apakah benar nih misalnya salat Jumat itu kan di masjid ya. Nah Masjid itu di mana? posisinya gimana? Apakah benar seperti itu? Nah dari situ sudah ketahuan bahwa Hoaks ini salah, Lembaga ABC menyatakan klaim ini tidak cocok, video yang benar ternyata tentang salat Idul Fitri bukan salat takut Corona.

Dari situ dia akan masuk ke dalam kategori yang dibuat oleh Tempo, kamu bisa cek di cek Fakta Tempo.co itu ada kategori-kategori. Misalnya dia masuk ke kategori keliru, itu kita harus jelaskan bahwa ini keliru. Setelah selesai dinyatakan keliru nah itu akan kita tulis dalam website tempo.co alamatnya ada di Cek Fakta Tempo.co lalu kita juga membagikan atau menyebarkan hasil verifikasi kita ke Instagram itu @tempo.cekfakta. Mungkin kamu bisa cek di situ. Nah itu yang mengelola Mbak Army, dari situ biasanya sih kita kalau dari website itu responnya bagus ya terutama kalau misalnya kita kan bekerjasama dengan Facebook.

Nah apabila artikel itu dipromosikan oleh Facebook atau dipromosikan dalam

Facebook ya. Jadi bisa kita promosiin sendiri atau Facebook sendiri

promosiin, itu pembacanya bagus dan responnya juga baik dan sering

dijadikan ya sering dimention lah sama temen-temen, terutama itu terlihat

(11)

166

yang jelas itu di instagram-nya Tempo Cek Fakta. Maka tadi saya cerita bahwa dari situ juga banyak input-input dari pembaca yang misalnya minta dicek Tolong dong cek berita ini, tolong

dicek berita itu, kira-kira begitu ya untuk pengecekan fakta.

Penanya Apakah pakai sumber anonim?

Narasumber Nggak bisa, karena ini kan ya sejauh ini sih sumber anonim itu kan selemah- lemahnya sumber ya, intinya kalau kita sih selama ini kita nggak pernah lihat cek fakta itu dari kita yang menggunakan sumber anonim karena enggak bisa dipertanggungjawabkan, gitu lah ya kalau untuk alasan perlindungan dan segala macam baiknya kita menggunakan sumber anonim, karena kalau misalnya gini ketika sebuah fakta tidak bisa dibuktikan itu bisa masuk dalam kategori tidak terbukti ataupun kita hold ini-nya rilisnya sampai kita cukup mendapatkan bukti. Nah, itulah kesulitan yang kita hadapi seringkali kita tidak mendapatkan cukup bukti untuk merilis berita berita itu misalnya datanya nggak ada, sumber yang bisa diandalkan nggak ada, pun kalau ada yang ngomong dia tidak punya landasan, Misalnya kalau dia seorang peneliti tidak pernah menuliskan soal jurnal ilmiah soal COVID misalnya, soal apa namanya virologi atau epidemiologi itu Ya kita nggak bisa pakai agak berat itu dari saya sih gitu aja sih.

Penanya Alat yang biasa sering dipakai tim pengecekkan fakta apa saja?

Narasumber Mungkin nanti aku share ini ya presentasi, Aku, di situ biasanya ada tool-tool yang biasa kita gunakan di situ, kamu baca baca dulu aja presentasi itu nanti bisa tanya-tanya via WhatsApp atau Zoom lagi, jadi tool-nya itu macam- macam ya kalau yang mungkin standar diketahui sama Mas Nora ini misalnya Google Maps.

Kalau misalnya video atau lokasi ya misalnya gini ada sebuah gambar yang menyatakan bahwa ini sebuah banjir di alun-alun Tegal, Siapa yang tahu ini?

pada saat latihan itu kebetulan ada yang dari Tegal, betul itu apa namanya

lokasinya di Tegal.

(12)

167

Oke yuk bilang bahwa lokasi Tegal, Mana buktinya? Mana buktinya itu dia membuktikan dengan menggunakan Google Map lalu dia mengetik lokasi yang dia katakan bahwa itu benar, pada saat itu misalnya banjir di Tegal itu ternyata banjirnya di depan Masjid Agung, Masjid Agung kita Mas Tuh kan tuh kamu tahu kan ada orang-orangan kuning itu yang bisa di drop di Google Map, dia itu ditaruh di situ muncul kita bandingkan Ini Masjid yang ada di Google Maps lalu bandingkan juga dengan kondisi banjirnya, Oh ya benar kita cek lagi, ini banjirnya tahun 2019, kenapa kok bisa tahu nih banjirnya 2019? Google Map itu ketika memotret lokasi Dia itu ada beberapa kali memoto lokasi, biasanya ada tahun-tahunnya gitu. Oh iya nih tahun 2020 ini , tahun 2019 ini belum ada ya belum ada tiang BTS telekomunikasi ini misalnya ya, tahun 2020 udah ada itu di Google Maps bisa cari misalnya seperti itu.

Lalu ada satu video misalnya itu ada yang bisa memeriksa frame by frame Bener video ini editan atau bukan itu ada juga toolnya. Jadi tergantung dari itu Fakta apa yang diperiksa maka toolnya juga akan macam-macam. Nah, macam-macam tool ini seiring dengan waktu itu terus bertambah dan biasanya ada updating dari Mafindo Masyarakat Anti Fitnah Indonesia kalau pernah dengar turn back hoax itu websitenya dari situ isinya macam-macam oleh wartawan, ahli data, mahasiswa itu ada di situnya kamu bisa cek juga ke mereka, itu biasanya kita komunikasi juga mereka biasanya suka share ini ada cara baru untuk mengecek bahwa ini Fakta atau bukan, ini lo ada cara-cara bikin hoaks baru yang perlu diperhatikan.

Misalnya yang terakhir yang lagi ngetren itu ada soal tipe yaitu muka kamu dipindahin ke muka saya lalu kamu ngomong seolah-olah saya itu, karena teknologi itu makin mudah di mana contohnya tuh kayak pakai di

teknologi di Instagram itu kalau misalnya bikin Instagram Story kan muka

kita bisa berubah jadi apa. Nah ini diubah jadi tokoh masyarakat bentuknya

kayak gitu. Nah itu tool-toolnya kirimkan waktu ya berkembang terus lah jadi

kamu mesti cek juga ada Mungkin kamu bisa update sama mbak Armi sama

Mbak Ika, itu aja.

(13)

168

Penanya Makasih atas waktunya, nanti bisa chat lagi ke Mas kalo ada pertanyaan ya

Narasumber Oke boleh

(14)

169

Wawancara II

Narasumber : Angelina Anjar Sawitri

Jabatan : Koordinator Cek Fakta Tempo Tanggal : 12 Juni 2020

Waktu : 08.00-08.10 Melalui pesan singkat WhatsApp

Penanya Bagaimana struktur tim melakukan

pengecekkan fakta? Mulai dari memilih klaim hingga penyebaran?

Narasumber Yang nomor satu maksudnya tahapan ya,

bukan struktur, kalo tahapannya ya pertama milih, nyari dulu klaimnya apa, nyari dulu hoaksnya apa, itu bisa dari berbagai macam media ya. Ini sekaligus menjawab nomor dua juga.

Untuk mendapatkan informasi yang hendak diverifikasi itu bisa lewat WhatsApp, facebook, twitter, instagram, terus juga situs abal-abal biasanya bahkan ada juga beberapa sumbernya dari situs media yang informasinya salah jadi macem-macem media.

Setelah mendapatkan klaimnya nanti

langsung di bagiin aja ke fact-checker siapa

memeriksa apa, siapa memeriksa apa habis

itu mereka mengerjakan, mengerjakannya

bisa dengan berbagai cara, kalo misalnya

dalam bentuk teks ya paling simpel Googling

narasinya.

(15)

170

Biasanya sih udah ada beritanya yang menjelaskan hoaks itu, atau misalnya kalo belum ada kita harus konfirmasi entah ke ahli, pihak berwenang pihak berwajib, penegak hukum kaya begitu, atau kementerian terkait.

Kalo foto pake Google Reverse Image tool, video bisa di-capture di reverse image tool.

Nah, setelah selesai dikerjakan nanti dimasukkan ke pengeditan. Setelah di edit di cek semua kelengkapannya bukti-buktinya sudah kuat atau belum, jika sudah baru diupload.

Setelah diupload ya udah naik ke media sosial dan disebarkan begitu.

Penanya Bagaimana cara tim mendapatkan informasi

yang hendak diverifikasi faktanya?

Narasumber Yang nomor dua ini tadi sudah dijawab ya,

intinya kita dari mana aja hoaksnya itu yang penting dari klaimnya aja di sebut sebagai fakta padahal itu belum tentu fakta, pas ada yang keliru, ada yang misleading dan sebagainya.

Kalo dari WA kita mengandalkan grup-grup

yang kita ikuti, biasanya kan ada yang nyebar

pesan berantai di WA, karena itu yang bisa

dicek. Atau paling sering ya Facebook dan

Instagram, terus twitter, youtube, dan situs

abal-abal. Biasanya sih situs abal-abal sih

(16)

171

nemuinnya di Facebook karena ada yang ngirim berita melalui link ke Facebook.

Penanya Bagaimana cara tim memantau informasi

yang tengah berkembang? Alat yang digunakan apa saja? apakah menggunakan alat seperti Facebook Signal, Tweetdeck, atau sebagainya?

Narasumber Kita juga pake tools dari Facebook karena Facebook punya program Facebook Journalism Project habis itu mereka memang bermitra dengan newsroom di seluruh dunia untuk mengecek fakta, klaim yang menyebar di platform mereka yaitu Facebook dan Instagram. Itu nanti platformnya bentuknya toolsnya kaya mirip, kaya apa ya? Jadi kaya list postingan yang berpotensi hoaks yang berpotensi viral yang isinya klaimnya apa, keviralannya kaya gimana, dan tanggal postingannya.

Itu nanti dari situ kita mantaunya, itu yang utama. Kalo WA sih ya dari mulut ke mulut aja, masing-masing aja, fact-checker misalnya nemuin hoaks di WA terus ngirim hoaks ke Tempo untuk cek fakta. Dari Youtube dan Twitter pun juga seperti itu.

Jadi memang sejauh ini Cuma alat itu yang digunakan.

Penanya Apa saja tools yang tersedia di internet yang

biasa digunakan tim dalam melakukan

pengecekkan fakta? (Apakah seperti Google

Reverse Image, Tineye.com, Google Maps?)

(17)

172

Narasumber Banyak banget, tapi yang paling umum ya

Google Search, atau kalo misalnya Reverse Image ada Google, Tineye, Yandex, ada juga source yang merupakan tools kerjasama Google sama salah satu organisasi cek fakta ya, lupa namanya apa, tapi intinya dia sama sih kaya Reverse Image yang lain.

Terus ada Google Maps, Street View, kalo video bisa pake invid, terus Google Earth, macem-macem sih, apa aja yang penting kita bisa nemuin buktinya, tapi kalo paling umum sih ya itu tadi.

Penanya Bagaimana cara tim pengecekkan fakta

menyebarkan hasil pemeriksaan fakta?

Melalui platform apa saja?

Narasumber Yang nomor 5 ya menyebarkan hasilnya Ya

kalau di biasnaya kita di Facebook Twitter sama Instagram yaitu itu 3 platform yang kita punya itu. Nah, gimana caranya kalau di Instagram memang beda karena dia kan bentuknya foto Image jadi menarik harus menarik itu maka ya kita ada desain khusus gitu untuk di instagram. Bisa juga dalam bentuk video karena video ini yang bikin sebenarnya karena lain karena multimedia di Tempo tapi memang mereka kerja sama, sama kita gitu jadi bikin video cek fakta. Nah kalau di Facebook sama IG stories itu ya link aja Link

Link artikel dan fakta kita itu ketika

dimasukin ke Facebook atau Twitter itu kan

(18)

173

pasti akan berubah kan tampilannya jadi ya

tampilan link gitu Jadi dengan kayak gitu

sebenarnya udah cukup sih menurut kita gitu

(19)

LAMPIRAN III

(20)

175

(21)

176

Referensi

Dokumen terkait

Internet dan web (halaman informasi) adalah salah satu contoh teknologi informasi yang banyak memberikan fasilitas dan kemudahan dalam menyelesaikan

Hasil analisis didapatkan karir adalah faktor yang paling mempenga- ruhi kinerja perawat sebesar 30 kali lebih tinggi dibandingkan dengan karir yang kurang baik

Dalam skripsi ini pembahasan akan difokuskan pada penerbit buku-buku Islam, baik penerbit yang secara khusus berkonsentrasi dalam menerbitkan buku dengan tema-tema

Manajemen sebagai pihak yang diberi wewenang untuk mengelola perusahaan lebih banyak memiliki informasi tentang perusahaan dari pada pemilik saham, sehingga manajemen

Gunakan bahan yang tidak mudah terbakar seperti vermikulit, pasir atau tanah untuk menyerap produk ini dan.. tempatkan dalam kontainer untuk

Peningkatan ini disebabkan karena peningkatan IB pada kelima subsektor yaitu subsektor Tanaman Pangan naik sebesar 0,60 persen, subsektor Hortikultura naik sebesar 0,70

Pseudomonas aeruginosa sering kali merupakan flora normal yang melekat pada tubuh kita dan tidak akan menimbulkan penyakit selama pertahanan tubuh normal. Karena itu, upaya

1. Siswa, dapat dicermati objeknya ketika siswa yang bersangkutan sedang asyik mengikuti proses pembelajaran di kelas/lapangan/laboratorium/ bengkel, ketika sedang asyik mengerjakan