• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

3.1 Geomorfologi Daerah Penelitian  3.1.1 Morfologi Umum Daerah Penelitian 

Secara umum morfologi daerah penelitian merupakan dataran dengan punggungan di  bagian  tengah  daerah  penelitian  yang  memanjang  barat­timur.  Perbedaan  ketinggian  tidak  terlalu besar yang berkisar dari 12,5 m di atas permukaan laut (dpl) hingga 62,5 dpl  dengan  pola  kontur  yang  renggang.  Bentukan  morfologi  yang  dapat  diamati  antara  lain  berupa  punggungan, dataran dan depresi yang merupakan danau buatan atau waduk. 

Berdasarkan  pengamatan  di  lapangan  terhadap  jenis  litologi  dan  kedudukan  lapisan,  proses  geologi  yang  berperan  dalam  pembentukan  morfologi  adalah struktur  geologi  berupa  perlipatan  dan  sesar  serta  proses  denudasi.  Bentuk  morfologi  punggungan  disusun  oleh  litologi  batulempung,  sedangkan  morfologi  dataran  dibentuk  oleh  litologi  batulempung  dan  batupasir. 

Proses  geomorfik  yang  terjadi  sudah  memasuki  tahap  geomorfik  dewasa,  diperlihatkan  dengan  morfologi  struktur  perlipatan  yang  sudah  mengalami  denudasi  hingga  membentuk morfologi dataran. 

Tata guna lahan  daerah penelitian adalah sebagai areal perkebunan, pemukiman  dan  kawasan industri. Morfologi dataran dan punggungan sebagian besar digunakan sebagai areal  perkebunan,  sedangkan  areal  pemukiman  berada  di  utara  dan  selatan  daerah  penelitian  memanjang ke arah barat­timur mengikuti keberadaan litologi batupasir, hal ini erat kaitannya  dengan keberadaan sumber air. 

3.1.2 Pola Aliran Sungai dan Daerah Aliran Sungai 

Pada daerah penelitian, kurang lebih terdapat 6 buah sungai yang mengalir, ditambah  dengan  saluran  air  dan  saluran  irigasi (Gambar  3.1). Sungai­sungai  tersebut  dipisahkan  oleh  garis pemisah air  berarah barat­timur ditengah daerah penelitian, menjadi sungai­sungai yang  memiliki  arah  aliran  ke  utara,  diantaranya  Sungai  Watupasang,  Sungai  Dukuh  dan  Sungai  Balongjrambah  dan  sungai­sungai  yang  memiliki  arah  aliran  ke  selatan  diantaranya  adalah  Sungai Banyuurip, Sungai Banjaran dan Sungai Ngembes. 

(2)

'  

Keterangan : 

Sungai  Saluran air / Irigasi  Danau Buatan / Waduk  Garis Pemisah Air  Batas Daerah Aliran Sungai  Pola Aliran Subdendritik  Pola Aliran Paralel 

Gambar 3.1 Pola aliran sungai daerah penelitian 

Sungai­sungai  yang  berada  di  daerah  penelitian,  dapat  dikelompokan  menjadi  4  daerah aliran sungai (DAS). Masing­ masing DAS dibatasi oleh garis pemisah air dan kontrol  morfologi. 

Berdasarkan  pola  aliran  sungai  yang  menyerupai  ranting  pohon  serta  sudut  pertemuan  anak  sungai yang lancip, dan pola aliran sungai yang sejajar, maka menurut Howard (1967) dalam  van  Zuidam  (1985)  sungai­sungai  yang  berada  pada  daerah  penelitian  termasuk  ke  dalam  pola  sungai  subdendritik  dan  paralel.  Sungai  –sungai  yang  mengalir  ke  utara  kemudian  bermuara di Kali Lamong  yang berada di luar daerah penelitian. Begitu pula dengan sungai­ 

sungai  yang  berada  di  selatan  kemudian  bermuara  di  Kali  Mas  yang  berada  di  luar  daerah  penelitian.  Pertemuan  sungai  yang  hampir  tegak  lurus  antara  anak  sungai  dan  sungai  utamanya tersebut kemudian membentuk pola aliran sungai trellis. 

Pola  aliran  sungai  dendritik  merupakan  manifestasi  dari  kemiringan  lereng  yang  cukup  landai,  pola  aliran  sungai  paralel  merupakan  manifestasi  dari  kemiringan  lereng  yang  bertahap  atau  pola  morfologi  yang  memanjang,  sedangkan  pola  aliran  trellis  merupakan  manifestasi dari morfologi yang terbentuk akibat batuan sedimen yang terlipat (Howard, 1967  dalam van Zuidam, 1985).

(3)

3.1.3 Satuan Geomorfologi Daerah Penelitian 

Berdasarkan  klasifikasi  van  Zuidam  (1985),  daerah  penelitian  dapat  dibagi  menjadi  dua  satuan  geomorfologi,  yaitu  :  Satuan  Punggungan  Antiklin  dan  Satuan  Dataran  Sayap  Antiklin 

3.1.3.1 Satuan Punggungan Antiklin 

Satuan  ini  berada  pada  bagian  tengah  dari  daerah  penelitian,  berupa  punggungan  dengan  arah  umum  barat­timur  dan  menempati  sekitar  12%  daerah  penelitian.  Satuan  ini  dicirikan oleh relief punggungan yang memiliki ketinggian relatif lebih tinggi daripada daerah  sekitarnya.  Satuan  ini  berada  pada  ketinggian  antara  25­50  m  di  atas  permukaan  laut. 

Berdasarkan  pengamatan  di  lapangan,  litologi  penyusun  satuan  ini  adalah  batulempung  dengan  sisipan  batugamping  dan  batulanau.  Satuan  ini  merupakan  puncak  dari  struktur  antiklin yang telah mengalami erosi, hingga inti antiklinnya tersingkap ke permukaan. Satuan  ini  termasuk  ke dalam  tahap  geomorfik  dewasa,  dicirikan  oleh  morfologi  struktur  antiklin  yang  telah  mengalami  erosi  hingga  hampir  membentuk  morfologi  dataran.  Tata  guna  lahan  pada  satuan  ini  adalah  sebagai  areal  perkebunan  dan  tempat  penambangan  bahan  galian  c  sebagai material urug (Foto 3.1). 

Foto 3.1 Punggungan yang dikupas oleh aktivitas penambangan  (foto diambil dari puncak punggungan di utara perumahan Kota Damai, 

menghadap ke arah barat) 

3.1.3.2 Satuan Dataran Sayap Antiklin 

Satuan  ini  berada  pada  bagian  Utara  dan  Selatan  dari  daerah  penelitian  dan  menempati sekitar  88%  daerah  penelitian.  Satuan  ini  dicirikan  oleh  relief  dataran  dengan  kemiringan yang  relatif  landai  dan  berada  pada  ketinggian  antara  12,5­25  m  dpl  (Foto  3.2). 

Berdasarkan  pengamatan  di  lapangan,  litologi penyusun  satuan  ini  adalah  batupasir  dengan  sisipan tuff serta batulempung dan konglomerat. Satuan ini  merupakan bagian sayap antiklin  yang telah  mengalami  erosi  hingga  membentuk dataran. Satuan ini termasuk ke  dalam tahap

(4)

geomorfik muda, dicirikan oleh morfologi sayap antiklin yang telah tererosi menjadi dataran. 

Tata guna lahan pada satuan ini adalah sebagai areal pertanian, pemukiman penduduk, tempat  penambangan bahan galian c (material urug) dan kawasan industri. 

Foto 3.2 Satuan geomorfologi dataran sayap antiklin 

(foto diambil dari puncak punggungan di baratlaut perumahan Kota Damai,  menghadap ke arah selatan) 

3.1.4 Analisis Citra Satelit dan Peta Topografi 

Pada citra satelit (Gambar 3.2) terlihat adanya perbedaan rona yang diinterpretasikan  sebagai perbedaan  jenis litologi. Rona  dengan  warna coklat ditafsirkan sebagai  litologi  yang  memiliki resistensi  yang  kuat karena  memiliki tekstur yang relatif  lebih  kasar dan  morfologi  yang  menonjol  (lihat  Gambar  3.3).  Rona  yang  berwarna  hijau,  ditafsirkan  sebagai  litologi  yang  memiliki  resistensi  yang  lemah  karena  memiliki  tekstur  yang  relatif  lebih  halus  dan  morfologi yang lebih datar (lihat Gambar 3.3).

(5)

Gambar 3.2 Citra satelit daerah penelitian (Google Earth, 2008) 

Gambar 3.3 Model elevasi digital daerah penelitian

(6)

Pola  yang  terlihat  pada  citra  satelit  berupa  kelurusan yang  berarah barat­timur  yang  ditafsirkan  sebagai  jurus  dari  lapisan.  Kemudian  pola  perulangan  jenis  litologi  pada  bagian  utara  dan  selatan,  pola  ini  diinterpretasikan  sebagai  struktur  perlipatan.  Sedangkan  pola  lembah  berarah  timur  laut  –  barat  daya  yang  memotong  punggungan  (lihat  Gambar  3.3),  ditafsirkan sebagai sesar. 

3.2 Lintasan Geologi 

Pengambilan data lapangan dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung pada  singkapan  yang berada di  daerah penelitian. Pengamatan dilakukan  dengan  membuat 5 buah  lintasan geologi berarah utara­selatan yang memotong jurus dari lapisan. 

Berdasarkan  hasil  pengamatan  di  lapangan,  lapisan  batuan  yang  tersingkap  di  lapangan  memiliki  jurus  relatif  barat­timur  dengan  arah  kemiringan  lapisan  batuan  ke  arah  selatan  di  bagian  selatan  daerah  penelitian  dan  kemiringan  lapisan  batuan  ke  arah  utara  di  bagian utara daerah penelitian. 

Pada  daerah  penelitian,  singkapan  yang  baik  tidak  berada  di  sungai,  namun  berupa  potongan  jalan  atau  bekas  penambangan.  Hal  ini  dikarenakan  sungai­sungai  pada  daerah  penelitian  memiliki  debit  aliran  yang  rendah  sehingga  pada  dasar  sungai  terjadi  sedimentasi  yang tebal. 

3.2.1 Lintasan A 

Lintasan  A  (Gambar  3.4)  merupakan  lintasan  yang  berada  paling  barat  dari  daerah  penelitian, lintasan ini kira­kira menempuh jarak ± 5 km. Pengamatan dilakukan dimulai dari  lokasi K­09 di selatan hingga berakhir di lokasi K­16 di utara daerah penelitian. 

K­17 

K­16  K­15 

K­12 

K­05  KX­08  KX­07  KX­06 

KX­05  KX­04 

KX­09 

K­03  K­02 

K­01 

K­11  KX­02 

KA­0 5  KA­06 

KA­01  KX­03 

K­10 

24 2

24 

3

20  32 4 41  2

34  34 

K­09 

Gambar 3.4 Sketsa Penampang Lintasan A

(7)

Dalam  lintasan  A  dapat  diamati  singkapan­singkapan  batuan  sedimen  berlapis,  dengan kedudukan lapisan batuan di selatan kurang lebih N85ºE/42ºS dan kedudukan lapisan  batuan di utara kurang  lebih  lebih N250ºE/20ºN. Singkapan batuan yang  dapat diamati pada  lintasan  ini  mulai  dari  selatan  hingga  ke  utara  adalah  berupa  perlapisan  batupasir– 

batulempung,  batupasir  sisipan  konglomerat,  batulempung  hitam,  batugamping  dan  batulempung biru. 

Lokasi  pengamatan  untuk  singkapan  perlapisan  batupasir­batulempung,  adalah  pada  lokasi  KX­03  (Foto  3.3).  Pada  lokasi  ini,  singkapan  berupa  torehan  bekas  aktivitas  pertambangan  yang  membentuk  potongan  bukit.  Pada  lokasi  ini  dapat  diamati  litologi  batupasir, batulempung dan coquina dengan kedudukan lapisan N89ºE/32ºS. 

Foto 3.3 Singkapan batuan pada lokasi KX­03 

Batupasir,  berwarna  putih  kecoklatan  atau  abu­abu  gelap,  ukuran  butir  pasir  sangat  halus  hingga  pasir  sedang,  semen  non­karbonatan  dan  setempat  karbonatan,  sering  dijumpai  sifat  tufaan,  kandungan  cangkang  moluska  atau  nodul  pada  bagian­bagian  tertentu,  dengan  struktur  sedimen  yang  berkembang  adalah:  paralel  laminasi,  ripple,  lenticular,  wavy,  flaser  dan graded bedding. 

Batulempung,  berwarna  abu­abu  gelap  atau  putih  kusam,  non­karbonatan  dan  setempat karbonatan, sering dijumpai sifat tufaan pada bagian­bagian tertentu, kadang­kadang  mengandung cangkang moluska. 

Batugamping coquina, berupa sisipan, berwarna abu­abu terang, tersusun dari 

cangkang­cangkang moluska dalam matriks pasir, kemas tertutup, terpilah buruk, dan terdapat  lebih dari 3 genus moluska diantaranya Placuna sp. dan Anadara sp. 

Lokasi  pengamatan  untuk  singkapan  batupasir  sisipan  konglomerat,  adalah  pada  lokasi K­11. Pada lokasi ini, singkapan berupa torehan jalan (road cut). Pada lokasi ini dapat  diamati  litologi  batupasir,  konglomerat  dan  batulempung  dengan  kedudukan  lapisan  N85ºE/42ºS. 

Batupasir,  berwarna  putih  kecoklatan  atau  abu­abu  gelap,  ukuran  butir  pasir  sangat  halus  hingga  pasir  sedang,  semen  non­karbonatan  dan  setempat  kerbonatan,  sering  dijumpai 

S

(8)

sifat  tufaan,  kandungan  cangkang  moluska  atau  nodul  pada  bagian­bagian  tertentu,  dengan  struktur  sedimen  yang  berkembang  adalah:  paralel  laminasi,  ripple,  lenticular,  wavy,  flaser  dan graded bedding. 

Konglomerat,  warna  coklat  terang,  dengan  fragmen  polimik,  berupa  andesit  berukuran  kerikil  atau  setempat  dijumpai  cangkang  moluska,  matriks  pasir  sedang­kasar,  kemas  terbuka  dengan  setempat  kemas  tertutup, pemilahan buruk, rounded,  porositas  baik –  buruk, karbonatan, dijumpai pula struktur sedimen cross bedding. 

Batulempung,  berwarna  abu­abu  gelap  atau  putih  kusam,  non­karbonatan  dan  setempat karbonatan, sering dijumpai sifat tufaan pada bagian­bagian tertentu, kadang­kadang  mengandung cangkang moluska. 

Lokasi  pengamatan  untuk  singkapan  batulempung  hitam adalah  pada  lokasi  KX­06. 

Pada lokasi ini, singkapan berada pada dinding dari sungai kering berupa batulempung masif. 

Batulempung,  warna  abu­abu  kehitaman,  masif,  non­karbonatan,  karbonan,  mengandung  banyak formaninifera kecil. 

Lokasi  pengamatan  untuk  singkapan  batugamping  adalah  pada  lokasi  K­09.  Pada  lokasi  ini,  singkapan  berada  pada  dataran  yang  ditumbuhi  alang­alang  di  sebelah  selatan  perumahan  Kota  Damai.  Batugamping,  berwarna  putih  kusam,  klastik,  masif,  ukuran  butir  pasir kasar, pemilahan baik, kemas tertutup, kalkarenit (Grabau, 1962 dalam Koesoemadinata,  1985) 

Lokasi pengamatan untuk singkapan batulempung biru adalah pada lokasi K­05 (Foto  3.4). Pada lokasi ini, singkapan berada pada dinding punggungan yang dikupas oleh aktivitas  pertambangan  di  sebelah  utara  perumahan  Kota  Damai.  Pada  lokasi  ini  juga  dapat  diamati  perubahan  kedudukan  lapisan  batuan  yang  mengindikasikan  gejala  struktur  antiklin,  yaitu  N35ºE/35ºS dan N250ºE/20ºN. 

Foto 3.4 Singkapan batuan pada lokasi K­05 

Batulempung,  warna  abu­abu  kebiruan,  masif,  karbonatan,  mengandung  banyak  formaninifera kecil, kadang­kadang dijumpai cangkang moluska dari kelas pelecypoda, sering 

S

(9)

juga dijumpai nodul­nodul yang masif, sangat keras dan karbonatan. Sisipan batulanau, warna  abu­abu kebiruan, masif, karbonatan, mengandung banyak formaninifera kecil. 

Foto 3.5 Singkapan batuan pada lokasi K­12 

3.2.2 Lintasan B 

Lintasan  B (Gambar  3.5)  berada  di  sebelah  timur  dari  Lintasan  A,  lintasan  ini  kira­ 

kira  menempuh  jarak  ±  5  km.  Pengamatan  dilakukan  dimulai  dari  lokasi  KB­10  di  selatan  hingga berakhir di lokasi KB­18 di utara daerah penelitian. 

KB­10  KB­1 1 

KB­12  KB­13  KB­01  KB­14 

KB­1 5  KB­16  KB­03  KB­02 

KB­0 6  KB­08 

KB­09 

KB­07  KB­17 

KB­18 

KB­04  KB­05 

K­07  K­08  KA­03 

KA­04  KA­02 

42 

42 

24 41 41 

40 

33 

32 32 

32  21 

28  28 

KX­01 

Gambar 3.5 Sketsa Penampang Lintasan B 

Dalam  lintasan  B  dapat  diamati  singkapan­singkapan  batuan  sedimen  berlapis,  dengan kedudukan lapisan batuan di selatan kurang lebih N85ºE/42ºS dan kedudukan lapisan  batuan di utara kurang  lebih  lebih N250ºE/20ºN. Singkapan batuan yang  dapat diamati pada  lintasan  ini  mulai  dari  selatan  hingga  ke  utara  adalah  berupa  perlapisan  batupasir– 

batulempung, batupasir sisipan konglomerat dan batulempung biru. 

Lokasi pengamatan untuk singkapan perlapisan batupasir­batulempung dan batupasir  sisipan  konglomerat,  adalah  pada  lokasi  KX­01.  Pada  lokasi  ini,  singkapan  terdapat  pada  kupasan lahan bekas aktivitas pertambangan dan proyek pembangunan pabrik. Pada lokasi ini 

S

(10)

dapat  diamati  litologi  batupasir,  batulempung  dan  konglomerat  dengan  kedudukan  lapisan  N85ºE/42ºS. 

Batupasir,  berwarna  putih  kecoklatan  atau  abu­abu  gelap,  ukuran  butir  pasir  sangat  halus  hingga  pasir  sedang,  semen  non­karbonatan  dan  setempat  kerbonatan,  sering  dijumpai  sifat  tufaan,  kandungan  cangkang  moluska  atau  nodul  pada  bagian­bagian  tertentu,  dengan  struktur  sedimen  yang  berkembang  adalah:  paralel  laminasi,  ripple,  lenticular,  wavy,  flaser  dan graded bedding. 

Konglomerat,  warna  coklat  terang,  dengan  fragmen  polimik,  berupa  andesit  berukuran  kerikil  atau  setempat  dijumpai  cangkang  moluska,  matriks  pasir  sedang­kasar,  kemas  terbuka  dengan  setempat  kemas  tertutup,  pemilah  buruk,  rounded,  porositas  baik  –  buruk, karbonatan, dijumpai pula struktur sedimen cross bedding. 

Batulempung,  berwarna  abu­abu  gelap  atau  putih  kusam,  non­karbonatan  dan  setempat karbonatan, sering dijumpai sifat tufaan pada bagian­bagian tertentu, kadang­kadang  mengandung cangkang moluska. 

Pada lokasi ini juga dilakukan pengambilan data struktur berupa shear fracture (lihat  lampiran C) dan pengamatan gejala struktur geologi berupa flexure di sebelah barat lokasi ini  (lihat analisis struktur geologi). 

Lokasi pengamatan untuk singkapan batulempung biru adalah pada lokasi K­05. Pada  lokasi  ini,  singkapan  berada  pada  dinding  punggungan  yang  dikupas  oleh  aktivitas  pertambangan.  Batulempung,  warna  abu­abu  kebiruan,  masif,  karbonatan,  mengandung  banyak  formaninifera  kecil,  kadang­kadang  dijumpai  cangkang  moluska  dari  kelas  pelecypoda,  sering  juga  dijumpai  nodul­nodul  yang  masif,  sangat  keras  dan  karbonatan. 

Sisipan  batulanau,  warna  abu­abu  kebiruan,  masif,  karbonatan,  mengandung  banyak  formaninifera kecil. 

Sedangkan pada bagian utara dari daerah penelitian, singkapan batuan dapat diamati  pada  lokasi  KB­08  (Foto  3.6).  Pada  lokasi  ini,  singkapan  berada  pada  potongan  jalan  desa  yang  berarah  utara­selatan.  Kedudukan  lapisan  batuan  pada  singkapan  ini  adalah  N272ºE/21ºN dengan litologi berupa perlapisan batupasir dan batulempung. 

Foto 3.6 Singkapan batuan pada lokasi KB­08 

S

(11)

Batupasir,  berwarna  putih  kecoklatan  atau  abu­abu  gelap,  ukuran  butir  pasir  sangat  hingga  pasir  sedang,  semen  non­karbonatan  dan  setempat  kerbonatan,  sering  dijumpai  sifat  tufaan, kandungan cangkang moluska atau nodul pada bagian­bagian tertentu, dengan struktur  sedimen  yang  berkembang  adalah:  paralel  laminasi,  ripple,  lenticular,  wavy,  flaser  dan  graded bedding. 

Batulempung,  berwarna  abu­abu  gelap  atau  putih  kusam,  non­karbonatan  dan  setempat karbonatan, sering dijumpai sifat tufaan pada bagian­bagian tertentu, kadang­kadang  mengandung cangkang moluska. 

3.2.3 Lintasan C 

Lintasan  C  (Gambar  3.6)  berada  di  sebelah  timur  dari  Lintasan B,  lintasan  ini  kira­ 

kira  menempuh  jarak  ±  5  km.  Pengamatan  dilakukan  dimulai  dari  lokasi  KC­06  di  selatan  hingga berakhir di lokasi KB­14 di utara daerah penelitian. 

KC­06 

KC­01  KC­02  KC­03  KC­08 

KC­09  KC­10 

KC­11 

KC­12  KC­04  KC­05  KC­13  KC­14 

KC­07 

31 

31 

25 

21 

26 

Gambar 3.6 Sketsa Penampang Lintasan C 

Dalam  lintasan  C  dapat  diamati  singkapan­singkapan  batuan  sedimen  berlapis,  dengan  kedudukan  lapisan batuan diselatan kurang  lebih N85ºE/25ºS dan kedudukan  lapisan  batuan di utara kurang  lebih  lebih N275ºE/21ºN. Singkapan batuan yang  dapat diamati pada  lintasan  ini  mulai  dari  selatan  hingga  ke  utara  adalah  berupa  perlapisan  batupasir– 

batulempung dan batupasir sisipan konglomerat. 

Lokasi pengamatan untuk singkapan perlapisan batupasir­batulempung dan batupasir  sisipan konglomerat, adalah pada lokasi KC­03 (Foto 3.7 dan 3.8). Pada lokasi ini, singkapan  terdapat pada kupasan lahan oleh aktivitas pembangunan komplek perumahan. Pada lokasi ini  dapat  diamati  litologi  batupasir,  batulempung  dan  konglomerat  dengan  kedudukan  lapisan  N85ºE/25ºS.

(12)

Foto 3.7 Singkapan batuan pada lokasi KC­03 

Batupasir,  berwarna  putih  kecoklatan  atau  abu­abu  gelap,  ukuran  butir  pasir  sangat  halus  hingga  pasir  sedang,  semen  non­karbonatan  dan  setempat  kerbonatan,  sering  dijumpai  sifat  tufaan,  kandungan  cangkang  moluska  atau  nodul  pada  bagian­bagian  tertentu,  dengan  struktur  sedimen  yang  berkembang  adalah:  paralel  laminasi,  ripple,  lenticular,  wavy,  flaser  dan graded bedding. 

Konglomerat,  warna  coklat  terang,  dengan  fragmen  polimik,  berupa  andesit  berukuran  kerikil  atau  setempat  dijumpai  cangkang  moluska,  matriks  pasir  sedang­kasar,  kemas  terbuka  dengan  setempat  kemas  tertutup,  pemilah  buruk,  rounded,  porositas  baik  –  buruk, karbonatan, dijumpai pula struktur sedimen cross bedding. 

Batulempung,  berwarna  abu­abu  gelap  atau  putih  kusam,  non­karbonatan  dan  setempat karbonatan, sering dijumpai sifat tufaan pada bagian­bagian tertentu, kadang­kadang  mengandung cangkang moluska. 

Foto 3.8 Singkapan batuan pada lokasi KC­03 

Sedangkan pada bagian utara dari daerah penelitian, singkapan batuan dapat diamati  pada  lokasi  KB­08  (Foto  3.9).  Pada  lokasi  ini,  singkapan  berada  pada  potongan  jalan  desa  yang  berarah  utara­selatan.  Kedudukan  lapisan  batuan  pada  singkapan  ini  adalah  N272ºE/21ºN dengan litologi berupa batupasir berlapis. 

S

(13)

Foto 3.9 Singkapan batuan pada lokasi KB­08 

Batupasir, abu­abu, ukuran butir pasir sedang – pasir kasar, kompak, sub­angular,  pemilahan baik, kemas tertutup, porositas baik, karbonatan. 

Batupasir konglomeratan, abu­abu terang, pasir kasar – kerikil, kompak, sub­rounded,  pemilahan sedang, kemas terbuka, porositas baik, karbonatan. 

3.2.4 Lintasan D 

Lintasan  D  (Gambar  3.7)  berada  di  sebelah  timur  dari  Lintasan  C,  lintasan  ini  kira­ 

kira  menempuh  jarak  ±  5  km.  Pengamatan  dilakukan  dimulai  dari  lokasi  KD­02  di  selatan  hingga berakhir di lokasi KD­12 di utara daerah penelitian. 

KD­01 

KD­02  KD­03  KD­04  KD­05  KD­10 

KD­07  KD­12 

KD­11 

KD­09  KD­08 

36 

36 

36 

36 

36 

41 

37 

Gambar 3.7 Sketsa penampang Lintasan D 

Dalam  lintasan  D  dapat  diamati  singkapan­singkapan  batuan  sedimen  berlapis,  dengan kedudukan lapisan batuan di selatan kurang lebih N85ºE/36ºS dan kedudukan lapisan  batuan di utara kurang  lebih  lebih N270ºE/37ºN. Singkapan batuan yang  dapat diamati pada  lintasan  ini  mulai  dari  selatan  hingga  ke  utara  adalah  berupa  batupasir  konglomeratan,  batupasir sisipan konglomerat dan batupasir–batulempung. 

Lokasi  pengamatan  untuk  singkapan  perlapisan  batupasir    konglomeratan,  adalah  pada lokasi KD­01 dan KD­02 (Gambar 3.11). Pada lokasi ini singkapan berada pada dinding

(14)

dan  dasar  dari  sungai  kecil  yang  berada  di  pinggir  jalan.  Singkapan  berupa  batupasir  dan  batupasir konglomeratan (Foto 3.10). 

Foto 3.10 Singkapan batuan pada lokasi KD­02 

Batupasir konglomeratan, berwarna coklat, lapuk­getas, pasir kasar – kerikil, rounded  –  sub  rounded,  pemilahan  buruk,  kemas  tertutup, porositas  baik,  non­karbonatan,  komposisi 

litik (batuan beku andesitis) 30%, kuarsa 25%, mineral mafik 25%. 

Batupasir,  berwarna  coklat,  lapuk­getas,  ukuran  butir  pasir  sangat  halus,  pemilahan  baik, kemas tertutup, porositas baik, non­karbonatan, fragmen litik. 

Lokasi pengamatan untuk singkapan perlapisan batupasir sisipan konglomerat, adalah  pada  lokasi  KD­05  (Gambar  3.12).  Pada  lokasi  ini  dapat  diamati  litologi  batupasir,  batulempung dan konglomerat dengan kedudukan lapisan N85ºE/36ºS (Foto 3.11). 

Foto 3.11 Singkapan batuan pada lokasi KD­05 

Batupasir,  berwarna  putih  kecoklatan  atau  abu­abu  gelap,  ukuran  butir  pasir  sangat  halus  hingga  pasir  sedang,  semen  non­karbonatan  dan  setempat  kerbonatan,  sering  dijumpai 

(15)

struktur  sedimen  yang  berkembang  adalah:  paralel  laminasi,  ripple,  lenticular,  wavy,  flaser  dan graded bedding. 

Konglomerat,  warna  coklat  terang,  dengan  fragmen  polimik,  berupa  andesit  berukuran  kerikil  atau  setempat  dijumpai  cangkang  moluska,  matriks  pasir  sedang­kasar,  kemas  terbuka  dengan  setempat  kemas  tertutup,  pemilah  buruk,  rounded,  porositas  baik  –  buruk, karbonatan, dijumpai pula struktur sedimen cross bedding. 

Batulempung,  berwarna  abu­abu  gelap  atau  putih  kusam,  non­karbonatan  dan  setempat karbonatan, sering dijumpai sifat tufaan pada bagian­bagian tertentu, kadang­kadang  mengandung cangkang moluska. 

Lokasi  pengamatan  untuk  singkapan  perlapisan  batupasir­batulempung,  adalah  pada  lokasi  KD­06  (Gambar  3.16).  Pada  lokasi  ini  singkapan  berada  pada  dinding  tebing  akibat  kupasan  alat  berat.  Pada  lokasi  ini  (Foto  3.12)  dapat  diamati  litologi  batupasir  dan  batulempung dan dengan kedudukan lapisan N69ºE/41ºS. 

Foto 3.12 Singkapan batuan pada lokasi KD­06 

Batupasir,  berwarna  putih  kecoklatan  atau  abu­abu  gelap,  ukuran  butir  pasir  sangat  halus  hingga  pasir  sedang,  semen  non­karbonatan  dan  setempat  kerbonatan,  sering  dijumpai  sifat  tufaan,  kandungan  cangkang  moluska  atau  nodul  pada  bagian­bagian  tertentu,  dengan  struktur  sedimen  yang  berkembang  adalah:  paralel  laminasi,  ripple,  lenticular,  wavy,  flaser  dan graded bedding. 

Batulempung,  berwarna  abu­abu  gelap  atau  putih  kusam,  non­karbonatan  dan  setempat karbonatan, sering dijumpai sifat tufaan pada bagian­bagian tertentu, kadang­kadang  mengandung cangkang moluska. 

Sedangkan  pada  bagian  utara  dari  daerah  penelitian,  singkapan  dapat  diamati  pada  lokasi  KD­07.  Pada  lokasi  ini,  singkapan  berada  pada  paritan  di  halaman  belakang  rumah  penduduk. Kedudukan lapisan batuan pada singkapan ini adalah N270ºE/37ºN dengan litologi  berupa perlapisan batupasir­batulempung.

Gambar

Foto 3.1 Punggungan yang dikupas oleh aktivitas penambangan  (foto diambil dari puncak punggungan di utara perumahan Kota Damai, 
Gambar 3.3 Model elevasi digital daerah penelitian
Foto 3.3 Singkapan batuan pada lokasi KX­03 
Foto 3.4 Singkapan batuan pada lokasi K­05 
+7

Referensi

Dokumen terkait

Lapisan batupasir (putih; pasir halus; kuarsa, fragmen karbon; silika; perlapisan) dalam Satuan batulanau Warukin yang berwarna putih di LP 27 .... Contoh komparator

Satuan ini mencakup sekitar 5% dari daerah penelitian dan ditandai dengan warna abu-abu pada Peta Geomorfologi (Lampiran G-2).. Satuan ini menempati sungai-sungai lebar seperti

Fasies ini tersingkap pada interval atas satuan batulempung-batupasir A, berupa batupasir kerakal (Gambar 3.22) dicirikan oleh penyebaran secara lateral tidak menerus dan

Formasi Duri merupakan formasi teratas dari Grup Sihapas, diperkirakan berumur N9 yang tersusun oleh batupasir berukuran halus sampai medium dan di beberapa tempat berselang-seling

Satuan yang membentuk Satuan Geomorfologi Punggungan Bergelombang ini terdiri dari perselingan batupasir tufan dan breksi dengan sisipan batupasir glaukonit, batulanau dan

Breksi, berwarna segar abu- abu kehitaman, warna lapuk abu-abu kecoklatan, kekompakan keras dan padat, terpilah buruk, kemas terbuka,permeabilitas sedang, komponen berukuran

Berdasarkan pengamatan lapangan, secara megaskopis batupasir ini berwarna coklat terang – coklat kemerahan, ukuran butir pasir sedang-kasar, bentuk butir membundar tanggung sampai

Pada stasiun CR 18 terdapat singkapan batupasir dengan warna lapuk abu – abu kehitaman, warna segar abu – abu kecokelatan, ukuran butir pasir halus – sangat