3.1 Geomorfologi Daerah Penelitian 3.1.1 Morfologi Umum Daerah Penelitian
Secara umum morfologi daerah penelitian merupakan dataran dengan punggungan di bagian tengah daerah penelitian yang memanjang barattimur. Perbedaan ketinggian tidak terlalu besar yang berkisar dari 12,5 m di atas permukaan laut (dpl) hingga 62,5 dpl dengan pola kontur yang renggang. Bentukan morfologi yang dapat diamati antara lain berupa punggungan, dataran dan depresi yang merupakan danau buatan atau waduk.
Berdasarkan pengamatan di lapangan terhadap jenis litologi dan kedudukan lapisan, proses geologi yang berperan dalam pembentukan morfologi adalah struktur geologi berupa perlipatan dan sesar serta proses denudasi. Bentuk morfologi punggungan disusun oleh litologi batulempung, sedangkan morfologi dataran dibentuk oleh litologi batulempung dan batupasir.
Proses geomorfik yang terjadi sudah memasuki tahap geomorfik dewasa, diperlihatkan dengan morfologi struktur perlipatan yang sudah mengalami denudasi hingga membentuk morfologi dataran.
Tata guna lahan daerah penelitian adalah sebagai areal perkebunan, pemukiman dan kawasan industri. Morfologi dataran dan punggungan sebagian besar digunakan sebagai areal perkebunan, sedangkan areal pemukiman berada di utara dan selatan daerah penelitian memanjang ke arah barattimur mengikuti keberadaan litologi batupasir, hal ini erat kaitannya dengan keberadaan sumber air.
3.1.2 Pola Aliran Sungai dan Daerah Aliran Sungai
Pada daerah penelitian, kurang lebih terdapat 6 buah sungai yang mengalir, ditambah dengan saluran air dan saluran irigasi (Gambar 3.1). Sungaisungai tersebut dipisahkan oleh garis pemisah air berarah barattimur ditengah daerah penelitian, menjadi sungaisungai yang memiliki arah aliran ke utara, diantaranya Sungai Watupasang, Sungai Dukuh dan Sungai Balongjrambah dan sungaisungai yang memiliki arah aliran ke selatan diantaranya adalah Sungai Banyuurip, Sungai Banjaran dan Sungai Ngembes.
'
Keterangan :
Sungai Saluran air / Irigasi Danau Buatan / Waduk Garis Pemisah Air Batas Daerah Aliran Sungai S Pola Aliran Subdendritik P Pola Aliran Paralel
Gambar 3.1 Pola aliran sungai daerah penelitian
Sungaisungai yang berada di daerah penelitian, dapat dikelompokan menjadi 4 daerah aliran sungai (DAS). Masing masing DAS dibatasi oleh garis pemisah air dan kontrol morfologi.
Berdasarkan pola aliran sungai yang menyerupai ranting pohon serta sudut pertemuan anak sungai yang lancip, dan pola aliran sungai yang sejajar, maka menurut Howard (1967) dalam van Zuidam (1985) sungaisungai yang berada pada daerah penelitian termasuk ke dalam pola sungai subdendritik dan paralel. Sungai –sungai yang mengalir ke utara kemudian bermuara di Kali Lamong yang berada di luar daerah penelitian. Begitu pula dengan sungai
sungai yang berada di selatan kemudian bermuara di Kali Mas yang berada di luar daerah penelitian. Pertemuan sungai yang hampir tegak lurus antara anak sungai dan sungai utamanya tersebut kemudian membentuk pola aliran sungai trellis.
Pola aliran sungai dendritik merupakan manifestasi dari kemiringan lereng yang cukup landai, pola aliran sungai paralel merupakan manifestasi dari kemiringan lereng yang bertahap atau pola morfologi yang memanjang, sedangkan pola aliran trellis merupakan manifestasi dari morfologi yang terbentuk akibat batuan sedimen yang terlipat (Howard, 1967 dalam van Zuidam, 1985).
3.1.3 Satuan Geomorfologi Daerah Penelitian
Berdasarkan klasifikasi van Zuidam (1985), daerah penelitian dapat dibagi menjadi dua satuan geomorfologi, yaitu : Satuan Punggungan Antiklin dan Satuan Dataran Sayap Antiklin
3.1.3.1 Satuan Punggungan Antiklin
Satuan ini berada pada bagian tengah dari daerah penelitian, berupa punggungan dengan arah umum barattimur dan menempati sekitar 12% daerah penelitian. Satuan ini dicirikan oleh relief punggungan yang memiliki ketinggian relatif lebih tinggi daripada daerah sekitarnya. Satuan ini berada pada ketinggian antara 2550 m di atas permukaan laut.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, litologi penyusun satuan ini adalah batulempung dengan sisipan batugamping dan batulanau. Satuan ini merupakan puncak dari struktur antiklin yang telah mengalami erosi, hingga inti antiklinnya tersingkap ke permukaan. Satuan ini termasuk ke dalam tahap geomorfik dewasa, dicirikan oleh morfologi struktur antiklin yang telah mengalami erosi hingga hampir membentuk morfologi dataran. Tata guna lahan pada satuan ini adalah sebagai areal perkebunan dan tempat penambangan bahan galian c sebagai material urug (Foto 3.1).
Foto 3.1 Punggungan yang dikupas oleh aktivitas penambangan (foto diambil dari puncak punggungan di utara perumahan Kota Damai,
menghadap ke arah barat)
3.1.3.2 Satuan Dataran Sayap Antiklin
Satuan ini berada pada bagian Utara dan Selatan dari daerah penelitian dan menempati sekitar 88% daerah penelitian. Satuan ini dicirikan oleh relief dataran dengan kemiringan yang relatif landai dan berada pada ketinggian antara 12,525 m dpl (Foto 3.2).
Berdasarkan pengamatan di lapangan, litologi penyusun satuan ini adalah batupasir dengan sisipan tuff serta batulempung dan konglomerat. Satuan ini merupakan bagian sayap antiklin yang telah mengalami erosi hingga membentuk dataran. Satuan ini termasuk ke dalam tahap
geomorfik muda, dicirikan oleh morfologi sayap antiklin yang telah tererosi menjadi dataran.
Tata guna lahan pada satuan ini adalah sebagai areal pertanian, pemukiman penduduk, tempat penambangan bahan galian c (material urug) dan kawasan industri.
Foto 3.2 Satuan geomorfologi dataran sayap antiklin
(foto diambil dari puncak punggungan di baratlaut perumahan Kota Damai, menghadap ke arah selatan)
3.1.4 Analisis Citra Satelit dan Peta Topografi
Pada citra satelit (Gambar 3.2) terlihat adanya perbedaan rona yang diinterpretasikan sebagai perbedaan jenis litologi. Rona dengan warna coklat ditafsirkan sebagai litologi yang memiliki resistensi yang kuat karena memiliki tekstur yang relatif lebih kasar dan morfologi yang menonjol (lihat Gambar 3.3). Rona yang berwarna hijau, ditafsirkan sebagai litologi yang memiliki resistensi yang lemah karena memiliki tekstur yang relatif lebih halus dan morfologi yang lebih datar (lihat Gambar 3.3).
'
Gambar 3.2 Citra satelit daerah penelitian (Google Earth, 2008)
'
Gambar 3.3 Model elevasi digital daerah penelitian
Pola yang terlihat pada citra satelit berupa kelurusan yang berarah barattimur yang ditafsirkan sebagai jurus dari lapisan. Kemudian pola perulangan jenis litologi pada bagian utara dan selatan, pola ini diinterpretasikan sebagai struktur perlipatan. Sedangkan pola lembah berarah timur laut – barat daya yang memotong punggungan (lihat Gambar 3.3), ditafsirkan sebagai sesar.
3.2 Lintasan Geologi
Pengambilan data lapangan dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung pada singkapan yang berada di daerah penelitian. Pengamatan dilakukan dengan membuat 5 buah lintasan geologi berarah utaraselatan yang memotong jurus dari lapisan.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, lapisan batuan yang tersingkap di lapangan memiliki jurus relatif barattimur dengan arah kemiringan lapisan batuan ke arah selatan di bagian selatan daerah penelitian dan kemiringan lapisan batuan ke arah utara di bagian utara daerah penelitian.
Pada daerah penelitian, singkapan yang baik tidak berada di sungai, namun berupa potongan jalan atau bekas penambangan. Hal ini dikarenakan sungaisungai pada daerah penelitian memiliki debit aliran yang rendah sehingga pada dasar sungai terjadi sedimentasi yang tebal.
3.2.1 Lintasan A
Lintasan A (Gambar 3.4) merupakan lintasan yang berada paling barat dari daerah penelitian, lintasan ini kirakira menempuh jarak ± 5 km. Pengamatan dilakukan dimulai dari lokasi K09 di selatan hingga berakhir di lokasi K16 di utara daerah penelitian.
K17
K16 K15
K12
K05 KX08 KX07 KX06
KX05 KX04
KX09
K03 K02
K01
K11 KX02
KA0 5 KA06
KA01 KX03
K10
24 21
24
35
20 32 41 41 25
34 34
U S
K09
U S
Gambar 3.4 Sketsa Penampang Lintasan A
Dalam lintasan A dapat diamati singkapansingkapan batuan sedimen berlapis, dengan kedudukan lapisan batuan di selatan kurang lebih N85ºE/42ºS dan kedudukan lapisan batuan di utara kurang lebih lebih N250ºE/20ºN. Singkapan batuan yang dapat diamati pada lintasan ini mulai dari selatan hingga ke utara adalah berupa perlapisan batupasir–
batulempung, batupasir sisipan konglomerat, batulempung hitam, batugamping dan batulempung biru.
Lokasi pengamatan untuk singkapan perlapisan batupasirbatulempung, adalah pada lokasi KX03 (Foto 3.3). Pada lokasi ini, singkapan berupa torehan bekas aktivitas pertambangan yang membentuk potongan bukit. Pada lokasi ini dapat diamati litologi batupasir, batulempung dan coquina dengan kedudukan lapisan N89ºE/32ºS.
Foto 3.3 Singkapan batuan pada lokasi KX03
Batupasir, berwarna putih kecoklatan atau abuabu gelap, ukuran butir pasir sangat halus hingga pasir sedang, semen nonkarbonatan dan setempat karbonatan, sering dijumpai sifat tufaan, kandungan cangkang moluska atau nodul pada bagianbagian tertentu, dengan struktur sedimen yang berkembang adalah: paralel laminasi, ripple, lenticular, wavy, flaser dan graded bedding.
Batulempung, berwarna abuabu gelap atau putih kusam, nonkarbonatan dan setempat karbonatan, sering dijumpai sifat tufaan pada bagianbagian tertentu, kadangkadang mengandung cangkang moluska.
Batugamping coquina, berupa sisipan, berwarna abuabu terang, tersusun dari
cangkangcangkang moluska dalam matriks pasir, kemas tertutup, terpilah buruk, dan terdapat lebih dari 3 genus moluska diantaranya Placuna sp. dan Anadara sp.
Lokasi pengamatan untuk singkapan batupasir sisipan konglomerat, adalah pada lokasi K11. Pada lokasi ini, singkapan berupa torehan jalan (road cut). Pada lokasi ini dapat diamati litologi batupasir, konglomerat dan batulempung dengan kedudukan lapisan N85ºE/42ºS.
Batupasir, berwarna putih kecoklatan atau abuabu gelap, ukuran butir pasir sangat halus hingga pasir sedang, semen nonkarbonatan dan setempat kerbonatan, sering dijumpai
U S
sifat tufaan, kandungan cangkang moluska atau nodul pada bagianbagian tertentu, dengan struktur sedimen yang berkembang adalah: paralel laminasi, ripple, lenticular, wavy, flaser dan graded bedding.
Konglomerat, warna coklat terang, dengan fragmen polimik, berupa andesit berukuran kerikil atau setempat dijumpai cangkang moluska, matriks pasir sedangkasar, kemas terbuka dengan setempat kemas tertutup, pemilahan buruk, rounded, porositas baik – buruk, karbonatan, dijumpai pula struktur sedimen cross bedding.
Batulempung, berwarna abuabu gelap atau putih kusam, nonkarbonatan dan setempat karbonatan, sering dijumpai sifat tufaan pada bagianbagian tertentu, kadangkadang mengandung cangkang moluska.
Lokasi pengamatan untuk singkapan batulempung hitam adalah pada lokasi KX06.
Pada lokasi ini, singkapan berada pada dinding dari sungai kering berupa batulempung masif.
Batulempung, warna abuabu kehitaman, masif, nonkarbonatan, karbonan, mengandung banyak formaninifera kecil.
Lokasi pengamatan untuk singkapan batugamping adalah pada lokasi K09. Pada lokasi ini, singkapan berada pada dataran yang ditumbuhi alangalang di sebelah selatan perumahan Kota Damai. Batugamping, berwarna putih kusam, klastik, masif, ukuran butir pasir kasar, pemilahan baik, kemas tertutup, kalkarenit (Grabau, 1962 dalam Koesoemadinata, 1985)
Lokasi pengamatan untuk singkapan batulempung biru adalah pada lokasi K05 (Foto 3.4). Pada lokasi ini, singkapan berada pada dinding punggungan yang dikupas oleh aktivitas pertambangan di sebelah utara perumahan Kota Damai. Pada lokasi ini juga dapat diamati perubahan kedudukan lapisan batuan yang mengindikasikan gejala struktur antiklin, yaitu N35ºE/35ºS dan N250ºE/20ºN.
Foto 3.4 Singkapan batuan pada lokasi K05
Batulempung, warna abuabu kebiruan, masif, karbonatan, mengandung banyak formaninifera kecil, kadangkadang dijumpai cangkang moluska dari kelas pelecypoda, sering
U S
juga dijumpai nodulnodul yang masif, sangat keras dan karbonatan. Sisipan batulanau, warna abuabu kebiruan, masif, karbonatan, mengandung banyak formaninifera kecil.
Foto 3.5 Singkapan batuan pada lokasi K12
3.2.2 Lintasan B
Lintasan B (Gambar 3.5) berada di sebelah timur dari Lintasan A, lintasan ini kira
kira menempuh jarak ± 5 km. Pengamatan dilakukan dimulai dari lokasi KB10 di selatan hingga berakhir di lokasi KB18 di utara daerah penelitian.
KB10 KB1 1
KB12 KB13 KB01 KB14
KB1 5 KB16 KB03 KB02
KB0 6 KB08
KB09
KB07 KB17
KB18
KB04 KB05
K07 K08 KA03
KA04 KA02
42
42
24 41 41
40
33
32 32
32 21
28 28
KX01
U S
U
S
Gambar 3.5 Sketsa Penampang Lintasan B
Dalam lintasan B dapat diamati singkapansingkapan batuan sedimen berlapis, dengan kedudukan lapisan batuan di selatan kurang lebih N85ºE/42ºS dan kedudukan lapisan batuan di utara kurang lebih lebih N250ºE/20ºN. Singkapan batuan yang dapat diamati pada lintasan ini mulai dari selatan hingga ke utara adalah berupa perlapisan batupasir–
batulempung, batupasir sisipan konglomerat dan batulempung biru.
Lokasi pengamatan untuk singkapan perlapisan batupasirbatulempung dan batupasir sisipan konglomerat, adalah pada lokasi KX01. Pada lokasi ini, singkapan terdapat pada kupasan lahan bekas aktivitas pertambangan dan proyek pembangunan pabrik. Pada lokasi ini
U S
dapat diamati litologi batupasir, batulempung dan konglomerat dengan kedudukan lapisan N85ºE/42ºS.
Batupasir, berwarna putih kecoklatan atau abuabu gelap, ukuran butir pasir sangat halus hingga pasir sedang, semen nonkarbonatan dan setempat kerbonatan, sering dijumpai sifat tufaan, kandungan cangkang moluska atau nodul pada bagianbagian tertentu, dengan struktur sedimen yang berkembang adalah: paralel laminasi, ripple, lenticular, wavy, flaser dan graded bedding.
Konglomerat, warna coklat terang, dengan fragmen polimik, berupa andesit berukuran kerikil atau setempat dijumpai cangkang moluska, matriks pasir sedangkasar, kemas terbuka dengan setempat kemas tertutup, pemilah buruk, rounded, porositas baik – buruk, karbonatan, dijumpai pula struktur sedimen cross bedding.
Batulempung, berwarna abuabu gelap atau putih kusam, nonkarbonatan dan setempat karbonatan, sering dijumpai sifat tufaan pada bagianbagian tertentu, kadangkadang mengandung cangkang moluska.
Pada lokasi ini juga dilakukan pengambilan data struktur berupa shear fracture (lihat lampiran C) dan pengamatan gejala struktur geologi berupa flexure di sebelah barat lokasi ini (lihat analisis struktur geologi).
Lokasi pengamatan untuk singkapan batulempung biru adalah pada lokasi K05. Pada lokasi ini, singkapan berada pada dinding punggungan yang dikupas oleh aktivitas pertambangan. Batulempung, warna abuabu kebiruan, masif, karbonatan, mengandung banyak formaninifera kecil, kadangkadang dijumpai cangkang moluska dari kelas pelecypoda, sering juga dijumpai nodulnodul yang masif, sangat keras dan karbonatan.
Sisipan batulanau, warna abuabu kebiruan, masif, karbonatan, mengandung banyak formaninifera kecil.
Sedangkan pada bagian utara dari daerah penelitian, singkapan batuan dapat diamati pada lokasi KB08 (Foto 3.6). Pada lokasi ini, singkapan berada pada potongan jalan desa yang berarah utaraselatan. Kedudukan lapisan batuan pada singkapan ini adalah N272ºE/21ºN dengan litologi berupa perlapisan batupasir dan batulempung.
Foto 3.6 Singkapan batuan pada lokasi KB08
U S
Batupasir, berwarna putih kecoklatan atau abuabu gelap, ukuran butir pasir sangat hingga pasir sedang, semen nonkarbonatan dan setempat kerbonatan, sering dijumpai sifat tufaan, kandungan cangkang moluska atau nodul pada bagianbagian tertentu, dengan struktur sedimen yang berkembang adalah: paralel laminasi, ripple, lenticular, wavy, flaser dan graded bedding.
Batulempung, berwarna abuabu gelap atau putih kusam, nonkarbonatan dan setempat karbonatan, sering dijumpai sifat tufaan pada bagianbagian tertentu, kadangkadang mengandung cangkang moluska.
3.2.3 Lintasan C
Lintasan C (Gambar 3.6) berada di sebelah timur dari Lintasan B, lintasan ini kira
kira menempuh jarak ± 5 km. Pengamatan dilakukan dimulai dari lokasi KC06 di selatan hingga berakhir di lokasi KB14 di utara daerah penelitian.
KC06
KC01 KC02 KC03 KC08
KC09 KC10
KC11
KC12 KC04 KC05 KC13 KC14
KC07
31
31
25
21
26
U S
S U
Gambar 3.6 Sketsa Penampang Lintasan C
Dalam lintasan C dapat diamati singkapansingkapan batuan sedimen berlapis, dengan kedudukan lapisan batuan diselatan kurang lebih N85ºE/25ºS dan kedudukan lapisan batuan di utara kurang lebih lebih N275ºE/21ºN. Singkapan batuan yang dapat diamati pada lintasan ini mulai dari selatan hingga ke utara adalah berupa perlapisan batupasir–
batulempung dan batupasir sisipan konglomerat.
Lokasi pengamatan untuk singkapan perlapisan batupasirbatulempung dan batupasir sisipan konglomerat, adalah pada lokasi KC03 (Foto 3.7 dan 3.8). Pada lokasi ini, singkapan terdapat pada kupasan lahan oleh aktivitas pembangunan komplek perumahan. Pada lokasi ini dapat diamati litologi batupasir, batulempung dan konglomerat dengan kedudukan lapisan N85ºE/25ºS.
Foto 3.7 Singkapan batuan pada lokasi KC03
Batupasir, berwarna putih kecoklatan atau abuabu gelap, ukuran butir pasir sangat halus hingga pasir sedang, semen nonkarbonatan dan setempat kerbonatan, sering dijumpai sifat tufaan, kandungan cangkang moluska atau nodul pada bagianbagian tertentu, dengan struktur sedimen yang berkembang adalah: paralel laminasi, ripple, lenticular, wavy, flaser dan graded bedding.
Konglomerat, warna coklat terang, dengan fragmen polimik, berupa andesit berukuran kerikil atau setempat dijumpai cangkang moluska, matriks pasir sedangkasar, kemas terbuka dengan setempat kemas tertutup, pemilah buruk, rounded, porositas baik – buruk, karbonatan, dijumpai pula struktur sedimen cross bedding.
Batulempung, berwarna abuabu gelap atau putih kusam, nonkarbonatan dan setempat karbonatan, sering dijumpai sifat tufaan pada bagianbagian tertentu, kadangkadang mengandung cangkang moluska.
Foto 3.8 Singkapan batuan pada lokasi KC03
Sedangkan pada bagian utara dari daerah penelitian, singkapan batuan dapat diamati pada lokasi KB08 (Foto 3.9). Pada lokasi ini, singkapan berada pada potongan jalan desa yang berarah utaraselatan. Kedudukan lapisan batuan pada singkapan ini adalah N272ºE/21ºN dengan litologi berupa batupasir berlapis.
U S
Foto 3.9 Singkapan batuan pada lokasi KB08
Batupasir, abuabu, ukuran butir pasir sedang – pasir kasar, kompak, subangular, pemilahan baik, kemas tertutup, porositas baik, karbonatan.
Batupasir konglomeratan, abuabu terang, pasir kasar – kerikil, kompak, subrounded, pemilahan sedang, kemas terbuka, porositas baik, karbonatan.
3.2.4 Lintasan D
Lintasan D (Gambar 3.7) berada di sebelah timur dari Lintasan C, lintasan ini kira
kira menempuh jarak ± 5 km. Pengamatan dilakukan dimulai dari lokasi KD02 di selatan hingga berakhir di lokasi KD12 di utara daerah penelitian.
KD01
KD02 KD03 KD04 KD05 KD10
KD07 KD12
KD11
KD09 KD08
36
36
36
36
36
41
37
U S
U S
Gambar 3.7 Sketsa penampang Lintasan D
Dalam lintasan D dapat diamati singkapansingkapan batuan sedimen berlapis, dengan kedudukan lapisan batuan di selatan kurang lebih N85ºE/36ºS dan kedudukan lapisan batuan di utara kurang lebih lebih N270ºE/37ºN. Singkapan batuan yang dapat diamati pada lintasan ini mulai dari selatan hingga ke utara adalah berupa batupasir konglomeratan, batupasir sisipan konglomerat dan batupasir–batulempung.
Lokasi pengamatan untuk singkapan perlapisan batupasir konglomeratan, adalah pada lokasi KD01 dan KD02 (Gambar 3.11). Pada lokasi ini singkapan berada pada dinding
dan dasar dari sungai kecil yang berada di pinggir jalan. Singkapan berupa batupasir dan batupasir konglomeratan (Foto 3.10).
Foto 3.10 Singkapan batuan pada lokasi KD02
Batupasir konglomeratan, berwarna coklat, lapukgetas, pasir kasar – kerikil, rounded – sub rounded, pemilahan buruk, kemas tertutup, porositas baik, nonkarbonatan, komposisi
litik (batuan beku andesitis) 30%, kuarsa 25%, mineral mafik 25%.
Batupasir, berwarna coklat, lapukgetas, ukuran butir pasir sangat halus, pemilahan baik, kemas tertutup, porositas baik, nonkarbonatan, fragmen litik.
Lokasi pengamatan untuk singkapan perlapisan batupasir sisipan konglomerat, adalah pada lokasi KD05 (Gambar 3.12). Pada lokasi ini dapat diamati litologi batupasir, batulempung dan konglomerat dengan kedudukan lapisan N85ºE/36ºS (Foto 3.11).
Foto 3.11 Singkapan batuan pada lokasi KD05
Batupasir, berwarna putih kecoklatan atau abuabu gelap, ukuran butir pasir sangat halus hingga pasir sedang, semen nonkarbonatan dan setempat kerbonatan, sering dijumpai
struktur sedimen yang berkembang adalah: paralel laminasi, ripple, lenticular, wavy, flaser dan graded bedding.
Konglomerat, warna coklat terang, dengan fragmen polimik, berupa andesit berukuran kerikil atau setempat dijumpai cangkang moluska, matriks pasir sedangkasar, kemas terbuka dengan setempat kemas tertutup, pemilah buruk, rounded, porositas baik – buruk, karbonatan, dijumpai pula struktur sedimen cross bedding.
Batulempung, berwarna abuabu gelap atau putih kusam, nonkarbonatan dan setempat karbonatan, sering dijumpai sifat tufaan pada bagianbagian tertentu, kadangkadang mengandung cangkang moluska.
Lokasi pengamatan untuk singkapan perlapisan batupasirbatulempung, adalah pada lokasi KD06 (Gambar 3.16). Pada lokasi ini singkapan berada pada dinding tebing akibat kupasan alat berat. Pada lokasi ini (Foto 3.12) dapat diamati litologi batupasir dan batulempung dan dengan kedudukan lapisan N69ºE/41ºS.
Foto 3.12 Singkapan batuan pada lokasi KD06
Batupasir, berwarna putih kecoklatan atau abuabu gelap, ukuran butir pasir sangat halus hingga pasir sedang, semen nonkarbonatan dan setempat kerbonatan, sering dijumpai sifat tufaan, kandungan cangkang moluska atau nodul pada bagianbagian tertentu, dengan struktur sedimen yang berkembang adalah: paralel laminasi, ripple, lenticular, wavy, flaser dan graded bedding.
Batulempung, berwarna abuabu gelap atau putih kusam, nonkarbonatan dan setempat karbonatan, sering dijumpai sifat tufaan pada bagianbagian tertentu, kadangkadang mengandung cangkang moluska.
Sedangkan pada bagian utara dari daerah penelitian, singkapan dapat diamati pada lokasi KD07. Pada lokasi ini, singkapan berada pada paritan di halaman belakang rumah penduduk. Kedudukan lapisan batuan pada singkapan ini adalah N270ºE/37ºN dengan litologi berupa perlapisan batupasirbatulempung.