• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbukitan Sinklin Taratakpauh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Perbukitan Sinklin Taratakpauh"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

29 3.1.4.2 Perbukitan Sinklin Taratakpauh

Satuan ini menempati 15% dari luas keseluruhan daerah penelitian. Satuan ini berada pada bagian tengah daerah p enelitian s eperti yang t erlihat p ada p eta geomorfologi ( lihat L ampiran A.2), da n di cirikan de ngan m orfologi punggungan yang m emanjang d ari u tara sampai selatan (Gambar 3 .11). S atuan i ni memiliki kemiringan lereng 2°-16° (2%-30%) yang t ermasuk k elas relatif landai hingga relatif terjal (berdasarkan klasifikasi van Zuidam, 1985), dengan ketinggian 200-400 m di atas pe rmukaan l aut. Litologi yang m enyusun s atuan i ni a dalah litologi y ang cenderung relatif keras s ampai lunak berupa perselingan ba tupasir da n batulempung. Sumbu sinklin terdapat p ada s atuan i ni yang d itandai dengan ad anya p erbedaan k emiringan l apisan batuan di bagian timur punggungan dan bagian barat punggungan dari satuan ini. (Gambar 3.12). Proses-proses eksogenik yang m empengaruhi satuan i ni adalah pelapukan dan l ongsoran (Gambar 3.1 3). T ahapan g eomorfik p ada s atuan ini b erada p ada t ahap dewasa yang d icirikan adanya pembalikan topografi berupa sinklin yang menjadi perbukitan dan proses pelapukan yang cukup intensif.

Gambar 3.11 Satuan perbukitan sinklin Taratakpauh yang memanjang dari utara-selatan. Foto diambil dari daerah tenggara dari daerah penelitian ke arah baratlaut.

(2)

30 3.1.4.3 Perbukitan Lipatan Kotopanjang

Satuan ini menempati 42% dari luas keseluruhan daerah penelitian. Satuan ini berada pada bagian tengah sampai timur daerah penelitian seperti yang terlihat pada peta geomorfologi (lihat Lampiran A.2), dan di cirikan de ngan m orfologi berupa d ataran r endah sampai pe rbukitan (Gambar 3.1 4). S atuan in i me miliki k emiringan le reng 0°-8° ( 0%-15%) yang t ermasuk ke las lereng datar hingga landai (berdasarkan klasifikasi van Zuidam, 1985) dengan ketinggian

162.5-Gambar 3.12. Perbedaan kemiringan batuan yang memperlihatkan satuan ini dipengaruhi oleh struktur geologi berupa lipatan sinklin. (a) Bagian barat punggungan memiliki kemiringan lapisan batuan yang berarah timur laut dan (b) bagian timur punggungan memiliki kemiringan lapisan batuan yang berarah barat daya. Gambar kiri diambil pada titik TR 7 dan gambar kanan diambil pada titik TR 1, kedua foto diambil ke arah selatan dari jalan raya Taratakpauh.

Gambar 3.13. Proses pelapukan dan longsoran yang terjadi pada satuan perbukitan sinklin Taratakpauh

TR 7 TR 1

TR 4

(3)

31 275 m di atas permukaan laut. Litologi yang menyusun satuan ini adalah litologi yang cenderung lunak berupa batulempung lanauan dan perselingan batupasir batulempung.

Sungai yang m elewati satuan i ni ad alah S ungai Buluhrotan yang memiliki p ola a liran sungai r ektangular. Pada S ungai Buluhrotan, s ecara u mum lembah s ungai be rbentuk “ U” da n lebar serta berarus tenang. Proses eksogenik yang mempengaruhi satuan ini adalah pelapukan, longsoran dan e rosi la teral yang in tensif ( Gambar 3.1 5). Tahapan ge omorfik pa da s atuan i ni berada pada tahap dewasa yang dicirikan oleh pelapukan dan erosi yang intensif.

Gambar 3.14. Satuan perbukitan lipatan Kotopanjang, dicirikan dengan morfologi berupa perbukitan. Foto menghadap ke arah tenggara dari daerah Parambahan.

Gambar 3.15 Proses eksogenik berupa pelapukan yang intensif pada satuan perbukitan lipatan Kotopanjang.

(4)

32 3.1.4.4 Dataran Aluvial Tanjung Ampalu

Satuan ini menempati 4% dari luas keseluruhan daerah penelitian. Satuan ini memanjang dari b agian s elatan s ampai b agian timu r daerah p enelitian s eperti yang t erlihat p ada p eta geomorfologi (lihat Lampiran A.2) dan dicirikan oleh morfologi datar hingga relatif landai yang merupakan dataran aluvial dari Sungai Ombilin (Gambar 3.16). Satuan ini memiliki kemiringan lereng 0°-35° ( 0%-7%) yang t ermasuk k elas l ereng datar h ingga relatif landai ( berdasarkan klasifikasi van Zuidam, 1985) dengan ketinggian 162.5-200 m di atas permukaan laut. Litologi yang menyusun satuan ini berupa material lepas berukuran bongkah sampai lempung yang terdiri dari batuan beku granitik, dioritik, andesitik, batupasir dan batubara.

Pola al iran Sungai Ombilin b agian h ilir yang melewati s atuan in i adalah rektangular. Secara um um, l embah s ungai be rbentuk “ U” da n l ebar yang m erupakan s ungai ut ama pa da daerah penelitian, berarus cukup deras, adanya meander serta point bar. Tahapan geomorfik pada satuan i ni berdasarkan bentukan a liran s ungai y ang m elewati s atuan i ni berada p ada t ahap dewasa yang dicirikan oleh erosi sungai yang dominan bersifat lateral serta membentuk point bar dan meander.

Gambar 3.16. Satuan dataran aluvial Tanjung Ampalu yang dicirikan adanya meandering. Foto diambil dari titik OMS 4 ke arah utara.

(5)

33 3.2 Stratigrafi

Secara regional, p ada P eta Geologi Cekungan O mbilin (Koesomadinata d an M atasak, 1981), daerah p enelitian te rdiri d ari tig a formasi yaitu, F ormasi Sawahlunto, Formasi Sawahtambang dan Formasi Ombilin.

Berdasarkan jenis batuan, k eseragaman, penyebaran dan ci ri-ciri fisik batuan yang d apat diamati di lapangan, satuan batuan di daerah penelitian dapat dibagi menjadi lima satuan batuan tidak r esmi. S tratigrafi daerah pe nelitian di urutkan da ri t ua k e m uda adalah s ebagai be rikut (Gambar 3.17)

(6)

34 3.2.1 Satuan Batulempung Batupasir

Satuan batulempung batupasir merupakan s atuan t ertua yang t ersingkap d i d aerah penelitian dan terdiri dari litologi perselingan batulempung dan batupasir dengan sisipan serpih dan batubara (Gambar 3.18).

3.2.1.1 Penyebaran

Satuan batulempung batupasir menempati 12% dari luas k eseluruhan daerah p enelitian, dalam peta geologi (lihat Lampiran A.3) satuan ini diberi warna hijau tua. Satuan ini berada di bagian b arat laut da erah pe nelitian da n tersingkap pada m orfologi l embah dan pun ggungan dengan k etinggian 212,5-375 m d i atas p ermukaan l aut. S ecara u mum, s atuan in i me miliki kedudukan j urus l apisan r elatif be rarah ba rat-timur de ngan a rah ke miringan l apisan ke a rah selatan sebesar 15°-60°. Satuan ini tersingkap dengan baik di daerah Batang Parambahan.

3.2.1.2 Ciri Litologi

Satuan ini terdiri dari perselingan batulempung dan batupasir dengan sisipan batubara dan serpih dengan kondisi singkapan pada umumnya segar-lapuk.

Gambar 3.18 Satuan batulempung batupasir terdiri dari litologi perselingan batulempung dan batupasir dengan sisipan serpih dan batubara. Gambar diambil dari Batang Parambahan ke arah baratdaya.

(7)

35 Berdasarkan p engamatan l apangan, s ecara m egaskopis batulempung pa da satuan batulempung batupasir ini memiliki warna abu-abu gelap, getas dan non karbonatan. Batupasir berwarna abu-abu sampai abu-abu terang, ukuran butir pasir halus-kasar, bentuk butir menyudut sampai menyudut tanggung, terpilah baik, kemas tertutup, kompak, fragmen mineral terdiri dari kuarsa dan feldspar dan m atriks l empung non k arbonatan, terdapat s truktur s edimen la minasi sejajar, ripple lamination, gr aded be dding, bioturbasi, konvol ute dan n odul ba tubara (Gambar 3.19 dan Gambar 3.20). Sedangkan serpih memiliki warna abu-abu gelap, getas, menyerpih dan non karbotan.

Secara m ikroskopis ba tupasir pada s atuan b atulempung b atupasir ini bertekstur k lastik, terpilah baik-sedang, kemas tertutup dengan point contact dan long contact. Butiran 60 % terdiri dari but iran kua rsa (45%), felspar (10%), da n mineral opak (5%), uku ran but ir 0, 3-0,02 mm, bentuk but ir m enyudut t anggung, m atriks be rupa l empung 10%, dan semen oksida be si 30 % (lihat Lampiran B.1).

a

TR 11

b

TR 11

c

BTB 1

d

BRT 1

Gambar 3.19. Struktur sedimen pada satuan batulempung batupasir berupa (a) nodul batubara, (b) bioturbasi, (c) graded bedding, (d) laminasi sejajar pada batupasir dengan sisipan batubara.

(8)

36 3.2.1.3 Lingkungan Pengendapan

Pada s atuan batulempung batupasir i ni, t idak di temukan f osil pe tunjuk um ur untuk membantu m enentukan l ingkungan pe ngendapan, s ehingga a nalisa l ingkungan pengendapan menggunakan analisa p rofil s edimentasi (lihat L ampiran C.1). Berdasarkan an alisa p rofil sedimentasi (lihat Lampiran C.1) yang dibuat secara berurutan dari bawah ke atas pada titik BRT 11, R BH 5, R BH 4, R BH 3 da n R BH 1, satuan b atuan in i me miliki siklus batupasir y ang menebal k e at as t erhadap l empung d an t erdapatnya l apisan b atupasir yang m engerosi b atuan yang l ebih ha lus lapisan di bagian ba wahnya yang be rupa batulempung. S ifat b atupasir yang mengerosi ini m erupakan pe nciri da ri a liran s ungai be rupa channel. Bila a nalisa p rofil sedimentasi dihubungkan dengan struktur-struktur sedimen yang ditemukan di daerah persebaran satuan ba tulempung batupasir i ni, yaitu s truktur s edimen be rupa gr aded be dding, ripple lamination, bi oturbasi, konvol ute dan la minasi s ejajar, ma ka d iinterpretasikan lin gkungan pengendapan i ni m erupakan l ingkungan pe ngendapan dataran b anjir, sesuai d engan ciri-ciri endapan banjir menurut Nichols (2009), yaitu :

1. Lapisan tipis yang umumnya mengkasar dari litologi batupasir ke batulempung

2. Terdapatnya bukti indikasi aliran awal berupa parallel lamination dan diikuti oleh aliran pengendapan yang pesat berupa climbing ripple lamination

3. Lapisan t ipis d ari s edimen d engan k etebalan yang h anya b eberapa centimeter yang kemudian berkembang menjadi 10 hingga 1000 meter

Gambar 3.20. Struktur sedimen pada satuan batulempung batupasir berupa (a) ripple lamination, (b) konvolute.

a

BRT 1 BDB 9

(9)

37 4. Lapisan erosional pada bagian bawah pasir umum terjadi untuk daerah yang dekat dengan

aliran utama dimana arus aliran lebih kuat.

3.2.1.4 Ketebalan, Hubungan Stratigrafi, Umur dan Kesetaraan Stratigrafi

Berdasarkan ci ri l itologi d ari s atuan i ni, m aka s atuan i ni d isetarakan d engan p erselingan batupasir, s erpih da n batubara Formasi S awahlunto yang di endapkan pa da l ingkungan pengendapan sungai berkelok dan dataran banjir (Koesomadinata dan Matasak, 1981).

Hubungan s tratigrafi s atuan i ni de ngan s atuan d ibawahnya t idak di ketahui, ka rena t idak tersingkapnya satuan batuan yang berada di bawah satuan ini, sedangkan untuk satuan yang lebih muda berupa kont ak sesar d engan s atuan batupasir dan s atuan batulempunglanauan. M enurut Koesomadinata dan Matasak (1981) satuan ini memiliki hubungan selaras dengan Formasi Brani yang berada dibawah satuan batulempung batupasir ini, sedangkan menurut Hastuti, dkk. (2001) dan Cameron, dkk. (1981) dalam Koning (1985) satuan ini memiliki hubungan yang tidak selaras dengan Formasi Brani yang berada dibawah satuan batulempung batupasir ini.

Menurut K oesomadinata da n M atasak ( 1981) F ormasi S awahlunto berumur E osen, sedangkan menurut Batram dan Nugrahaningsih (1991) dalam Situmorang, dkk. (1991) Formasi Sawahlunto be rumur O ligosen A wal da n m enurut Y armanto da n F letcher ( 1993) Formasi Sawahlunto be rumur Eosen A khir. Berdasarkan ha sil a nalisis ke terdapatan f osil polen ( Lihat lampiran D), fosil petunjuk yang ditemukan pada satuan ini adalah Zonocostites ramonae yang menunjukkan umur tidak lebih tua dari Eosen Akhir.

Berdasarkan i risan d ari para p eneliti terdahulu s erta analisis pol en yang t elah di lakukan satuan ini diperkirakan berumur Eosen Akhir.

Berdasarkan rekonstruksi penampang geologi, ketebalan satuan ini sekitar ± 737 m. 3.2.2 Satuan Batupasir

Satuan batupasir t erdiri dari h anya s atu litologi, y aitu batupasir yang b ersifat ma sif dan setempat terdapat sisipan tipis laminasi batulempung (Gambar 3.21).

(10)

38 3.2.2.1 Penyebaran

Satuan batupasir me nempati 34% dari l uas ke seluruhan daerah p enelitian, dalam peta geologi ( lihat L ampiran A.3) satuan i ni di beri w arna kuni ng terang. S atuan i ni be rada pada bagian b arat daerah pe nelitian dan t ersingkap pada m orfologi l embah da n pe rbukitan pa da ketinggian 200-575 m di atas permukaan laut. Secara umum, kedudukan jurus lapisan berarah barat laut-tenggara dengan arah kemiringan lapisan ke arah timur laut sebesar 10°-60°. Satuan ini tersingkap baik di Bukit Barlago, Sungai Ombilin bagian hulu dan sungai-sungai kecil cabang dari Sungai Ombilin bagian hulu.

3.2.2.2 Ciri Litologi

Satuan in i te rdiri d ari batupasir masif d an s etempat terdapat s isipan tip is laminasi batulempung dengan kondisi singkapan pada umumnya agak lapuk sampai cukup baik.

Berdasarkan pengamatan lapangan, secara megaskopis batupasir ini berwarna coklat terang – coklat kemerahan, ukuran butir pasir sedang-kasar, bentuk butir membundar tanggung sampai Gambar 3.21 Satuan batupasir terdiri dari litologi (a) batupasir masif dan setempat (b) terdapat laminasi batulempung pada satuan batupasir.

a

b

OMB 5

(11)

39 menyudut, t erpilah buruk, k emas t erbuka, kompak, dengan mineral te rdiri d ari k uarsa dan feldspar d engan m atriks l empung non k arbonatan, terdapat s truktur sedimen c ross be dding, channel, graded bedding dan amalgamated sand (Gambar 3.22). Sedangkan, sisipan batulempung pada batupasir ini berwarna abu-abu gelap, getas dan non karbonatan.

Secara mikroskopis batupasir pada satuan batupasir ini bertekstur klastik, terpilah buruk, kemas t erbuka dengan long contact dan point contact, butiran 60% t erdiri da ri but iran kua rsa (30%), felspar (15%), fragmen batuan (10%) dan mineral opak (5%), ukuran butir 0,5- 0,125 mm, bentuk butir menyudut tanggung-membundar tanggung, matriks berupa lempung 15 % dan semen oksida besi 25% (lihat Lampiran B.2).

3.2.2.3 Lingkungan Pengendapan

Pada s atuan ba tupasir i ni, t idak di temukan f osil pe tunjuk u mur untuk m embantu menentukan lingkungan pengendapan, sehingga analisa lingkungan pengendapan menggunakan analisa p rofil s edimentasi. Berdasarkan an alisa profil s edimentasi (lihat L ampiran C.2) satuan batuan in i me miliki s iklus batupasir t ebal yang menerus d engan s truktur cross b edding. S ifat batupasir i ni m erupakan pe nciri da ri a liran s ungai dari t ipe s ungai t eranyam, di mana p enciri endapan sungai berpasir (sandy bar) pada lingkungan pengendapan sungai teranyam terdiri dari siklus endapan pasir yang membentuk suksesi dari pasir berstruktur silangsiur (Nichols, 2009).

Gambar 3.22 Struktur sedimen pada satuan batupasir: (a) trough cross bedding dan (b) tabular cross bedding

a

b

(12)

40 3.2.2.4 Ketebalan, Hubungan Stratigrafi, Umur dan Kesetaraan Stratigrafi

Berdasarkan c iri l itologi da ri s atuan i ni, m aka satuan i ni di setarakan de ngan ba tupasir Formasi S awahtambang yang di endapkan p ada l ingkungan pe ngendapan s ungai t eranyam (Koesomadinata dan Matasak, 1981).

Menurut K oesomadinata da n M atasak ( 1981) s atuan i ni be rumur O ligosen, s edangkan menurut H imawan ( 1991) f ormasi i ni b erumur O ligosen A wal ( Himawan, 1991 dalam Situmorang., dkk, 1991 ) da n m enurut Y armanto da n Fletcher ( 1993) f ormasi i ni b erumur Oligosen. Berdasarkan hasil analisa keterdapatan fosil polen (Lihat lampiran D), fosil petunjuk yang di temukan pa da s atuan i ni a dalah Meyeripollis nharkotensis yang m enunjukkan um ur bagian atas dari Eosen Akhir sampai Oligosen.

Berdasarkan i risan d ari para p eneliti terdahulu s erta analisis pol en yang t elah di lakukan satuan ini diperkirakan berumur Oligosen.

Kontak satuan batuan ini dengan satuan yang lebih tua yaitu dengan satuan batulempung batupasir m erupakan kont ak s esar. B erdasarkan ke dudukan u mum da ri s atuan b atulempung batupasir yang b erarah relatif barat d aya da n k edudukan s atuan b atupasir yang b erarah r elatif timur laut, maka hubungan satuan batuan batupasir dan satuan batuan batulempung batupasir ini ditafsirkan tidak selaras.

Berdasarkan rekonstruksi penampang geologi, ketebalan satuan ini sekitar ± 1327 m. 3.2.3 Satuan Batulempung lanauan

Satuan batulempung lanauan terdiri dari litologi batulempung lanauan dengan di beberapa tempat terdapat sisipan batupasir (Gambar 3.23).

(13)

41 3.2.3.1 Penyebaran

Satuan batulempung lanauan menempati 35% dari luas keseluruhan daerah penelitian, pada peta geologi (lihat Lampiran A.3) satuan i ni di beri warna hi jau m uda. Satuan i ni berada pada bagian tengah sampai bagian timur dari daerah penelitian dan tersingkap pada morfologi dataran rendah dengan ketinggian 162.5-275 m di atas permukaan laut. Secara umum, kedudukan jurus lapisan relatif berarah barat laut-tenggara dengan arah kemiringan lapisan relatif ke arah timur laut s ebesar 2 4°-67° dibagian t engah da erah p enelitian da n ke dudukan j urus l apisan r elatif berarah b arat l aut-tenggara d engan ar ah k emiringan l apisan r elatif k e ar ah b arat d aya s ebesar 20°-35° dibagian t imur da erah pe nelitian yang m enunjukan a danya l ipatan pa da da erah penelitian. Pada satuan ini terdapat sumbu sinklin dan antiklin yang relatif berarah utara-selatan. Satuan i ni t ersingkap baik di sepanjang Sungai Ombilin bagian h ilir, Sungai Buluhrotan dan daerah Tarataklubuk.

3.2.3.2 Ciri Litologi

Satuan ini terdiri dari litologi b atulempung lanauan d engan d i b eberapa t empat t erdapat sisipan batupasir dengan kondisi singkapan pada umumnya sangat lapuk sampai cukup baik.

Gambar 3.23. Batulempung lanauan pada satuan batulempung lanauan.

(14)

42 Berdasarkan pengamatan lapangan secara megaskopis, batulempung lanauan ini berwarna abu-abu, ukuran but ir l empung-lanau, getas, f ragmen kua rsa de ngan matriks le mpung karbonatan, s ecara s etempat t erdapat cangkang fosil, lensa batugamping dan la minasi karbon. Sedangkan, s isipan p asir b erwarna ab u gelap sampai t erang, ukuran butir pasir halus-sedang, bentuk butir menyudut – menyudut tanggung, terpilah buruk, kemas tertutup, kompak, dengan mineral t erdiri da ri f ragmen kua rsa da n m atriks be rupa l empung ka rbonatan de ngan s truktur sedimen flaser (Gambar 3.24 dan Gambar 3.25).

Berdasarkan hasil analisis kalsimetri (lihat Lampiran E), pada contoh batuan JLN 21, JLN 24, O MS , O MS 7 da n OMS 3 m enunjukkan ba hwa ba tulempunglanauan mengandung ka dar CaCO3 dari 6,17% - 29.09 % tiap gram sampel sehingga termasuk ke dalam lempung napalan-napal lempungan (Klasifikasi Pettijohn, 1957 dalam Koesoemadinata, 1985).

Secara mikroskopis, batulempung lanauan pada satuan batulempung lanauan ini bertekstur klastik. Butiran 25 % terdiri dari foraminifera (20%), butiran kuarsa (3%), mineral opak (2%), ukuran butir 0,03 - 0,25 mm, bentuk butir membundar tanggung - menyudut tanggung, lempung 65%, semen oksida besi 10%, sedangkan sisipan batupasir pada satuan batulempunglanauan ini bertekstur klastik, terpilah baik-sedang, kemas t erbuka dengan point contact dan long contact. Butiran 60 % terdiri dari butiran kuarsa (20%), foraminifera (20%), Glaukonit (5%), Kalsit (5%) dan mineral opak (10%), ukur an but ir 0,125 -0,25 m m, bentuk but ir m enyudut-menyudut tanggung, matriks berupa lempung 15%, semen kalsit 13% dan oksida besi 10%, porositas 2% (lihat Lampiran B.3).

b

AIC 13

a

AIC 13

Gambar 3.24 Karakteristik satuan batu lempunglanauan di lapangan, setempat terdapat (a) lensa batugamping pada batulempung lanauan dan (b) cangkang fosil.

Gambar

Gambar 3.11 Satuan perbukitan sinklin Taratakpauh yang memanjang dari utara-selatan. Foto diambil                         dari daerah tenggara dari daerah penelitian ke arah baratlaut
Gambar 3.13. Proses pelapukan dan  longsoran yang terjadi pada satuan perbukitan                           sinklin Taratakpauh
Gambar 3.14. Satuan perbukitan lipatan Kotopanjang, dicirikan dengan morfologi berupa perbukitan
Gambar 3.16.   Satuan dataran aluvial Tanjung Ampalu yang dicirikan adanya meandering
+7

Referensi

Dokumen terkait

Batupasir Formasi Nanggulan memiliki karakteristik utama seperti: (i) mayoritas memiliki kontak antar butir tangensial; (ii) memiliki ukuran butir pasir kasar (sekuen

Pada sumur bor APET 12 interval kedalaman 2401,00 - 2413, 80 m (gambar 3.2) terdiri dari batupasir, berwarna cokelat terang, butir sangat halus-sedang, dengan bentuk butir

Batupasir,  berwarna  putih  kecoklatan  atau  abu­abu  gelap,  ukuran  butir  pasir  sangat  halus  hingga  pasir  sedang,  semen  non­karbonatan  dan 

Permukaan bawah daun kering berwarna coklat kekuningan, coklat kemerahan atau coklat lembayung, kusam atau mengkilap, dengan indumentum pendek warna coklat

Ciri-ciri batupasir pada satuan ini adalah berwarna abu-abu kecoklatan dan krem kecoklatan, berukuran pasir halus hingga pasir kasar, grain supported, sortasi baik, dengan

batupasir sedang, coklat terang, ukuran butir sedang, pemilahan baik, sub-rounded, kemas tertutup, karbonatan, porositas baik, getas dan berlapis tipis, mineralogi : kuarsa ,

Batupasir di bagian bawah berwarna kelabu, berbutir kasar sampai halus, menyudut tanggung, sampai membulat tanggung, gampingan, serpihan, kadang-kadang bersifat lanauan,

Monasit adalah coklat kemerahan, mineral fosfat yang berwarna coklat kemerahan mengandung sedikit logam dan merupakan sumber penting dari