13
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
3.1 Geomorfologi
Parameter dalam klasifikasi geomorfologi pada lokasi penelititan daerah Banjar Agung Ilir, Kabupaten Tanggamus ditentukan berdasarkan aspek geomorfik, bentuk lahan atau morfografi, tingkat kemiringan lereng atau morfometri, dan asal-usul terbentuknya atau morfogenesis berdasarka klasifikasi van Zuidam 1983.
3.1.1 Pola Aliran Sungai
Adapun hasil pengamatan pola aliran sungai, terdapat 2 pola aliran sungai yaitu pola pengaliran subparalel dan dendritik.
Pola pengaliran subparalel merupakan pola aliran ubahan dari pola pengaliran paralel yang di kontrol oleh adanya kemiringan lereng yang sedang dan di kontrol oleh bentuklahan subparalel. Pola aliran subparalel terdapat di bagian utara daerah penelitian yang menempati sekitar 40% dari lokasi penelitian. Pola pengaliran ini terdapat pada bentuk lembah V .
Pola pengaliran dendritik dikontrol oleh struktur kurang berkembang pada lapisan horizontal atau miring landai. Pola pengaliran dendritik terdapat pada bagian selatan daerah penelitian. Pola pengaliran dendritik menempati sekitar 60% dari lokasi penelitian yang dicirikan dengan adanya kelokan sungai yang dapat diinterpretasi bahwa bukti dari adanya kontrol struktur yang ada pada daerah penelitian. Pembagian pola pengaliran sungai dibagi menjadi dua pola pengaliran yang dapat dilihat pada Gambar III.1.
14
Gambar III. 1 Pola pengaliran sungai daerah penelitian.
3.1.2 Morfometri
Berdasarkan klasifikasi van Zuidam 1985 di daerah penelitian diklasifikasikan menjadi 4 kelas lereng yaitu kelas lereng datar ( 0°-2° ) disimbolkan dengan warna hijau tua. Lereng sangat landai ( 3°-7°) disimbolkan dengan warna hijau muda. Lereng Landai ( 8°-13°) disimbolkan dengan warna kuning muda. Lereng agak curam (14°-20°) disimbolkan dengan warna kuning tua. Morfometri pada daerah penelitian dikontrol oleh jenis litologi batuannya. Kemiringan lereng daerah penelitian ditunjukan pada Gambar III.2.
15
Gambar III. 2 Peta morfometri daerah penelitian.
3.1.3 Morfografi
Berdasarkan analisis dari data DEMNAS daerah penelitian terdiri dari 4 unsur morfografi yaitu dataran rendah (0 – 50 meter) disimbolkan dengan warna hijau tua. Dataran rendah pedalaman (50 – 100 meter) disimbolkan dengan warna hijau muda. Perbukitan rendah (100 – 200 meter) disimbolkan dengan warna kuning.
Perbukitan (200 – 500 meter) disimbolkan dengan warna kuning tua. Bentuk lahan pada daerah penelitian dikontrol oleh aktivias tektonik dan vulkanik yang menyebabkan adanya perbedaan bentuk lahan. Peta morfografi ditunjukan pada Gambar III.3, adapun dapat dilihat dalam bentuk gambar 3D (Gambar III.4)
16
Gambar III. 3 Peta morfografi daerah penelitian.
Gambar III. 4 Diagram blok 3D morfografi daerah penelitian.
3.1.4 Satuan Geomorfologi
Berdasarkan klasifikasi van Zuidam (1985), di daerah penelitian dibagi menjadi 4 satuan geomorfologi, yaitu Satuan Dataran Denudasional Datar, Satuan Lembahan Denudasional Agak Curam, Satuan Perbukitan Vulkanik Agak Curam dan Bukit Sisa Terisolasi Agak Curam.
17 3.1.4. 1 Satuan Dataran Denudasional Datar (D5)
Pada lokasi penelitian satuan ini menepati luas berkisar 45% dari seluruh luas total area penelitian. Satuan ini memiliki ketinggian elevasi 0- 50 meter dan berdasarkan klasifikasi van Zuidam 1985 satuan ini berada pada kemiringan lereng 0-2° (datar). Satuan ini secara keseluruhan membentang mulai dari Utara, Timur, Barat dan Selatan pada lokasi penelitian. Pada peta geomorfologi daerah penelitian satuan ini ditandai dengan warna coklat muda. Berdasarkan pengamatan lapangan satuan ini ditunjukan oleh adanya dataran landai yang diakibatkan oleh faktor erosi dan pelapukan yang sangat tinggi. Satuan ini memiliki tahapan geomorfik tua yang dicirikan dengan adanya bentuk lembah U pada sungai utama. Litologi yang ada pada satuan ini yaitu batuan tuf litik, tuf gelas dan lava andesit. Pada satuan ini dominan memiliki bentuk pola aliran sungai subparalel-paralel yang disebabkan oleh erosi air sungai. Adapun dokumetasi lapangan Satuan Dataran Denudasional Datar ditunjukan pada Gambar III.5.
Gambar III. 5 Satuan Dataran Denudasional Datar (D5).
18
3.1.4. 2 Satuan Lembahan Denudasional Agak Curam (D2)
Satuan ini menempati 20% dari seluruh lokasi penelitian. Satuan ini berada di bagian utara lokasi penelitian yang ditandai dengan simbol warna coklat tua.
Berdasarkan klasifikasi van Zuidam 1885, satuan ini memiliki ketinggian elevasi 50-100 meter dan kemiringan lereng 14-20°. Pola aliran sungai yang ada pada satuan ini yaitu pola aliran paralel yang memiliki bentuk lembah U yang tergolong pada tahapan geomorfik muda dimana pola aliran tersebut dipengaruhi oleh resistensi batuan. Pada lokasi penelitian secara pengamatan lapangan terdapat bukit-bukit bergelombang yang merupakan kontrol dari aktivitas vulkanik.
Litologi yang ada pada satuan ini yaitu batuan tuf gelas. Adapun dokumentasi lapangan Satuan Lembahan Denudasional Agak Curam ditunjukan pada Gambar III.6.
Gambar III. 6 Satuan Lembahan Denudasional Agak Curam (D2).
19
3.1.4. 3 Satuan Perbukitan Vulkanik Agak Curam (V3)
Satuan ini menempati 25% dari seluruh lokasi penelitian. Satuan ini berada di bagian selatan lokasi penelitian yang ditandai dengan symbol warna merah.
Berdasarkan klasifikasi van Zuidam 1985, satuan ini memiliki ketinggian elevasi 100-200 meter dan kemiringan lereng 14-20°. Pola aliran sungai yang ada pada satuan ini yaitu pola aliran paralel yang memiliki bentuk lembah V yang tergolong pada tahapan geomorfik muda dimana pola aliran tersebut dipengaruhi oleh resistensi batuan. Pada lokasi penelitian secara pengamatan lapangan terdapat bukit-bukit yang merupakan kontrol dari aktivitas vulkanik tersebut. Litologi yang ada pada satuan ini yaitu tuf litik dan basalt. Adapun dokumtasi lapangan Satuan Perbukitan Vulkanik Agak Curam ditunjukan pada Gambar III.7.
Gambar III. 7 Satuan Perbukitan Vulkanik Agak Curam (V3).
3.1.4. 4 Satuan Bukit Sisa Terisolasi Curam (D4)
Satuan ini menempati 10% dari seluruh lokasi penelitian. Satuan ini berada di bagian barat laut lokasi penelitian yang ditandai dengan simbol warna jingga.
Berdasarkan klasifikasi van Zuidam 1985, satuan ini memiliki ketinggian elevasi 200-300 meter dan kemiringan lereng 21-55°. Pola aliran sungai yang ada pada satuan ini yaitu pola aliran paralel yang memiliki bentuk lembah V yang tergolong
20
pada tahapan geomorfik muda dimana pola aliran tersebut dipengaruhi oleh resistensi batuan. Pada lokasi penelitian secara pengamatan lapangan terdapat bukit tersendiri yang terbentuk akibat endapan sedimen pada cekungan busur regional kemudian terangkat kepermukaan dan tererosi tinggi. Litologi pada satuan ini yaitu batupasir kuarsa, batulempung, dan batubara. Adapun dokumtasi lapangan Satuan Lembahan Bukit Sisa Terisolasi Curam ditunjukan pada Gambar III.8.
Gambar III. 8 Satuan Bukit Sisa Terisolasi Curam (D4).
3.1.5 Tahapan Geomorfik
Tahapan Geomorfik ditentukan berdasarkan analisis dan pengamatan lapangan terhadap saluran sungai, bentuk lembah sungai, erosi dan kaitannya dengan air tanah (Lobeck, 1931). Tahapan geomorfik seperti yang telah dijelaskan sebelumnya dapat menyebabkan perubahan bentukan lahan seperti yang ada saat ini. Berdasarkan pengamatan lapangan pada lokasi penelitian terdapat bentukan sungai yang berkelok pada sungai utama dominan memiliki bentuk lembah U-V, sedangkan pada anak sungai dominan memiliki bentuk lembah V. Tahapan erosi terdapan pada pinggiran sungai yang banyak terjadi pelapukan yang sangat tinggi sehingga hal tersebut memicu untuk longsor ringan di lokasi penelitian. Adapun dokumentasi lapangan tahapan geomorfik muda ditunjukan pada Gambar III.9 dan tahapan geomorfik dewasa pada Gambar III.10.
21
Gambar III. 9 Bentuk Lembah V.
Gambar III. 10 Bentuk Lembah U.
22 3.2 Stratigrafi
Pembagian satuan batuan daerah penelitian dilakukan berdasarkan pengamatan singkapan di lapangan dan analisis uji sayatan tipis, kemudian data yang didapatkan akan dibandingkan dengan Peta Geologi Regional Lembar Kota Agung (Amin dkk., 1993). Urutan satuan batuan dari tua ke muda yaitu Satuan Batupasir, Satuan Lava Andesit dan Satuan Tuf ( Gambar III.11).
Gambar III. 11 Korelasi stratigrafi daerah penelitian.
3.2.1 Satuan Batupasir
Satuan ini terdapat di bukit terisolasi daerah Tangkit Serdang. Satuan ini merupakan satuan tertua di lokasi penelitian. Satuan ini terdapat pada morfologi dengan ketinggian 150 – 350 m. Pada peta geologi satuan ini ditandai dengan warna kuning. Satuan batuan ini terdiri dari beberapa litologi antara lain batupasir kuarsa, batulempung, dan batubara dengan ciri litologi yang berbeda. Batupasir kuarsa memiliki warna abu-abu terang, terdapat mineral kuarsa, ukuran butir sangat kasar (1-2 mm), kondisi segar, terpilah baik, membundar, dan kemas
23
terbuka. Batulempung berwarna abu-abu, memiliki ukuran butir lempung (0.0039 mm), kemas tertutup. Batubara berwarna hitam, masif, kekompakan sedang.
Adapun dokumentasi lapangan Satuan Batupasir ditunjukan pada Gambar III.12.
Gambar III. 12 Singkapan RM. 7.4 daerah penelitian.
Berdasarkan proses terbentuknya, batuan ini terbentuk akibat endapan cekungan busur depan atau busur belakang regional yang menghasilkan endapan sedimen kemudian terangkat ke permukaan akibat adanya tektonisme.
3.2.2 Satuan Lava Andesit
Satuan batuan lava andesit berada dibagian selatan lokasi penelitian. Singkapan terbaik sampel batuan ini ditemukan di cabang sungai daerah Tanjungheran yaitu pada RM. 1.2. Satuan batuan ini terdapat pada elevasi 150 – 250 m. Singkapan batuan ini secara megaskopis memiliki warna abu-abu terang, kondisi segar, struktur masif, hipokristalin dan memiliki tekstur afanitik. Singkapan batuan ini secara mikrokopis memiliki warna abu-abu, memiliki tekstur trakhitik, struktur masif, tingkat kristalisasi hipokristalin, keseragaman butir inekuigranular, bentuk kristal anhedral, tersusun atas mineral plagioklas 70%, kuarsa 20 %, alkali feldspar 4% dan mineral opak 6%. Adapun dokumentasi lapangan Satuan Lava Andesit ditunjukan pada Gambar III.13 dan sampel petrografi ditunjukan pada Gambar III.14.
24
Gambar III. 13 Singkapan RM. 1.2 daerah penelitian.
Gambar III. 14 Petrografi sampel RM. 1.2.
3.2.3 Satuan Tuf
Satuan batuan tuf berada di bagian utara hingga tengah lokasi penelitian. Satuan ini tersusun atas litologi tuf gelas dan tuf litik. Secara megaskopis litologi tuf gelas memiliki ciri abu-abu terang, kondisi segar sampai lapuk, ukuran butir debu halus – kasar (<2mm), terpilah sedang, struktur masif. Secara mikrokopis memiliki warna abu-abu kecoklatan, tersusun atas fragmen litik 20%, gelas 75%
dan kristal 5%. Litologi tuf litik secara megaskopis berwarna abu-abu terang, kondisi segar sampai lapuk, ukuran butir lapilli (2-15 mm), pemilahan buruk, kemas terbuka, derajat kebundaran menyudut – membundar tanggung. Secara
25
mikropkopis memiliki warna abu-abu, tersusun atas fragmen litik 60%, gelas 25%
dan kristal 15%. Adapun dokumtasi lapangan Satuan Tuf ditunjukan pada Gambar III.15 dan adapun sampel petrografi ditunjukan pada Gambar III.16 merupakan litologi tuf gelas, dan Gambar III.17 dan Gambar III.18 merupakan litologi tuf litik.
Gambar III. 15 Singkapan RM. 4.5 daerah penelitian.
Gambar III. 16 Petrografi sampel RM. 4.5.
26
Gambar III. 17 Singkapan RM. 6.1 daerah penelitian.
Gambar III. 18 Petrografi sampel RM. 6.1.
3.3 Struktur Geologi
Tahap awal pada analisis struktur geologi daerah penelitian dengan analisis data kelurusan citra SRTM dan dilanjutkan dengan analisis data lapangan. Pola kelurusan ditentukan berdasarkan intrepretasi citra SRTM. Kelurusan yang diolah berupa kelurusan punggunga dan lembahan dengan jumlah 123 kelurusan.
Kelurusan punggungan ditandai dengan warna merah sedangkan kelurusan lembahan ditandai dengan warna kuning. Berdsarkan kelurusan yang didapat bahwa kelurusan daerah penelitian secara umum berarah Timurlaut-Baratdaya.
Interpretasi tersebut dianalisis menggunakan penarikan pola kelurusan dan akan
27
divalidasi dengan struktur geologi berupa kekar. Pola kelurusan dapat dilihat pada gambar III.19.
Gambar III. 19 Peta pola kelurusan daerah penelitian.
Berdasarkan penarikan data kelurusan dan dianalisis menggunakan diagram roset, maka didapatkan bahwa pad alokasi penelitian bearah timurlaut-baratdaya yang dapat diperkirakan akibat adanya gaya kompresional yang dicirikan dengan adanya struktur berupa kekar.
3.3.2 Analisis Struktur Geologi
Analisis struktur geologi dapat dianalisis menggunakan data kekar yang terdapat pada sebagian titik stasiun darah penelitian.
3.3.2.1 Kekar
Kekar atau rekahan merupakan salah satu struktur geologi yang terdapat pada batuan akibat adanya gaya-gaya tertentu sehingga membuat batuan menjadi pecah. Struktur ini juga bersifat memisahkan suatu singkapan batuan menjadi beberapa bagian. Oleh karena itu struktur ini sering disebut debagai bidang lema suatu batuan karena dengan adanya kekar dapat menjadi jalannya fluida kedalam
28
batuan sehingga batuan mudah menjadi lapuk atau hancur banyaknya struktur kekar dapat disebabkan oleh berkembangnya struktur sesar pada daerah tertentu sehingga menyebabkan batuan disekitarnya menjadi terkekarkan. Berdasarkan hasil data lapangan ditemukan kemunculan dominan kekar dibeberapa stasiun pengamatan yaitu:
1. Pada stasiun RM. 2.1 ditemukan kekar gerus berlitologikan lava andesit. Pada singkapan batuan ini dilakukan pengukuran sebanyak 20 kekar. Data kekar yang didapatkan akan dianalisis menggunakan perangkat lunak Dips 7.0 untuk mengetahui analisis kinematik dan analisis dinamik dari kekar tersebut. Adapun dokumentasi kekar di lapangan pada stasiun RM. 2.1 ditunjukan pada Gambar III.20.
Gambar III. 20 (a) Foto singkapan RM. 2.1. (b) Kekar gerus singkapan RM. 2.1.
Berdasarkan hasil pengolahan menggunakan bantuan perangkat lunak Dips 7.0, maka dapat diketahui bahwa pada singkapan ini memiliki tegasan utama (σ1) berupa trend/plunge sebesar N41°E/78°, dari timurlaut-baratdaya, arah tegasan berupa trend/plunge (σ2) sebesar N244°E/10°, arah tegasan berupa trend/plunge (σ3) sebesar N154°E/4° (Gambar III.21). Struktur geologi ini ditemukan di lapangan memiliki ciri-ciri terbuka, bidang kekar tidak merata. Jika direkontruksikan bahwa struktur kekar gerus yang ada pada stasiun RM. 2.1 indikasi dari adanya struktur sesar yang dicirikan pada lokasi penelitian memiliki pola aliran sungai yang tajam seperti patahan. Akan tetapi pada lokasi penelitian tidak ditemukan adanya indikasi sesar, hal tersebut dikarenakan pada lokasi penelitian struktur tersebut kemungkinan sudah tererosi.
29
Gambar III. 21 (a) Proyeksi stereografi data kekar singkapan RM. 2.1. (b) Diagram roset data kekar RM. 2.1.
2. Pada lokasi kedua yaitu pada stasiun RM. 2.6 ditemukan kekar gerus berlitologikan batuan lava andesit yang secara megaskopis merupakan batuan yang memiliki litologi yang sama dengan batuan yang tersesarkan. Pada singkapan batuan ini dilakukan pengukuran sebanyak 19 data kekar. Adapun dokumentasi kekar di lapangan pada stasiun RM. 2.6 ditunjukan pada Gambar III.22.
Gambar III. 22 (a) Foto singkapan RM. 2.6. (b) Kekar Gerus singkapan RM. 2.6.
Berdasrkan hasil pengolahan menggunakan batuan perangkat lunak Dips 7.0, maka dapat diketahui bahwa pada singkapan ini memiliki tegasan utama (σ1) berupa trend/plunge sebesar N46°E/55°, timurlaut-baratdaya, arah tegasan berupa (σ2) berupa trend/plunge sebesar N222°E/32°, dan arah tegasan (σ3) berupa trend/plunge sebesar N318°E/9°(Gambar III.23). Struktur geologi ini ditemukan di lapangan memiliki ciri-ciri terbuka dan memiliki bidang kekar tidak merata.
30
Jika diinterpretasikan bahwa struktur kekar gerus yang ada pada stasiun RM. 2.6 merupakan indikasi dari adanya struktur sesar yang dicirikan pada lokasi penelitian memiliki pola aliran yang memiliki kelokan tajam seperti patahan.
Akan tetapi pada lokasi penilitian tidak ditentukan adanya indikasi sesar, hal tersebut dikarenakan pada lokasi penelitian struktur tersebut kemungkinan sudah tererosi.
Gambar III. 23 (a) Proyeksi stereografi data kekar singkapan RM. 2.6. (b) Diagram roset data kekar RM. 2.6.
3. Sama seperti pada pengamatan dilokasi pertama dan kedua, pada stasiun RM. 3.5 ditemukan kekar gerus berlitologikan batuan lava andesit. Pada singkapan ini dilakukan pengkuran sebanyak 20 data kekar. Data kekar yang didapatkan akan dianalisis menggunakan perangkat lunak Dips 7.0 untuk mengetahui analisis kinematic dan analisis dinamik dari kekar tersebut. . Adapun dokumentasi kekar di lapangan pada stasiun RM. 3.5 ditunjukan pada Gambar III.24.
Gambar III. 24 (a) Foto singkapan RM. 3.5. (b) Kekar gerus singkapan RM. 3.5.
31
Berdasarkan hasil pengolahan menggunakan batuan perangkat lunak Dips 7.0, maka dapat diketahui bahwa pada singkapan ini memiliki tegasan utama (σ1) berupa trend/plunge sebesar N47°E/76°, timurlaut-baratdaya, arah tegasan berupa (σ2) berupa trend/plunge sebesar N236°E/13°, dan arah tegasan (σ3) berupa trend/plunge sebesar N145°E/2° (Gambar III.25). Struktur geologi ini ditemukan di lapangan memiliki ciri-ciri terbuka dan memiliki bidang kekar tidak merata.
Jika diinterpretasikan bahwa struktur kekar gerus yang ada pada stasiun RM. 3.5 merupakan indikasi dari adanya struktur sesar yang dicirikan pada lokasi penelitian memiliki pola aliran yang memiliki kelokan tajan seperti patahan. Akan tetapi pada lokasi penilitian tidak ditentukan adanya indikas sesar, hal tersebut dikarenakan pada lokasi penelitian struktur tersebut kemungkinan sudah tererosi.
Gambar III. 25 (a) Proyeksi stereografi data kekar singkapan RM. 3,5. (b) Diagram roset data kekar RM. 3.5.