21 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian
Penelitian ini memanfaatkan beberapa perpustakaan, yaitu:
a. Perpustakaan Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
b. Perpustakaan Pusat Univesitas Sebelas Maret Surakarta.
c. Perpustakaan Pusat Universitas Muhammadiyah Surakarta.
d. Perpustakaan Monumen Pers Nasional Surakarta.
e. Perpustakaan Pusat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
f. Perpustakaan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta.
g. Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.
h. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
2. Waktu Penelitian
Waktu yang digunakan dalam penelitian ini adalah sejak pengajuan judul hingga penulisan laporan penelitian. Secara rinci waktu penelitian seperti pada table di bawah ini:
Tabel 3.1 Jadwal Penelitian
No Kegiatan Nov Des Jan Feb Mar April Mei Juni
1 Pengajuan Judul
2 Penyusunan Proposal 3 Ijin Penelitian
4 Pengumpulan Data 5 Analisis Data
6 Penyusunan Laporan
B. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode sejarah. Metode penelitian sejarah adalah prosedur dari cara kerja para sejarawan untuk menghasilkan kisah masa lampau berdasarkan jejak-jejak yang ditinggalkan oleh masa lampau (Kartodirdjo, 1992: 37). Peneliti melakukan penelusuran terhadap sumber- sumber sejarah yang kredibel. Peneliti melakukan pencarian sumber di berbagai bentuk, berupa arsip, jurnal berkala, majalah ataupun hasil penelitian tentang tema yang dikaji. Menurut Garraghan yang dikutip Abdurrahman (1999: 33) bahwa metode penelitian sejarah merupakan seperangkat aturan dan prinsip sistematis untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah secara efektif, menilainya secara kritis, dan mengajukan sintesis dari hasil-hasil yang dicapai dalam bentuk tulisan.
Langkah-langkah metode sejarah adalah heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi yang masing-masing saling berkaitan. Penelitian dan penulisan sejarah harus sesuai dengan cara yang sistematik dan sesuai dengan aturan ilmu sejarah. Abdulgani (1963 : 16-17) mengemukakan bahwa sejarah ialah ilmu yang meneliti dan menyelidiki secara sistematis keseluruhan perkembangan masyarakat serta kemanusiaan di masa lampau beserta kejadian-kejadiannya, dengan maksud untuk menilai secara kritis seluruh hasil penelitiannya, untuk dijadikan perbendaharaan pedoman bagi penilaian dan penentu keadaan masa sekarang serta arah progres masa depan. Ilmu sejarah ibarat penglihatan tiga dimensi yaitu penglihatan ke masa silam, ke masa sekarang, dan ke masa yang akan datang. Penyelidikan masa silam tidak dapat melepaskan diri dari kenyataan-kenyataan masa sekarang yang sedang dihadapi dan sedikit banyak tidak dapat melepaskan diri dari perspektif masa depan.
Metode historis digunakan karena penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi peristiwa masa lampau secara sistematis dan obyektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasi serta mensistensikan bukti- bukti untuk menegakkan fakta dan untuk memperoleh kesimpulan yang kuat.
Sejarah harus sesuai dengan fakta dan tidak subjektif, walaupun antara kejadian
dan penelitian mempunyai jarak waktu yang cukup panjang, akan tetapi peneliti harus mengungkapkannya sesuai dengan sumber-sumber yang telah ditemukannya. Fakta-fakta yang diperoleh dapat berasal dari dokumen, inskripsi, dan ilmu-ilmu bantu sejarah lainnya seperti arkeologi, epigrafi, numismatic, dan kronologi (Sjamsuddin, 2007: 23). Pengertian metode historis secara konvensional adalah telaah terhadap dokumen atau sumber lain yang berisi informasi tentang masa lampau dan dilaksanakan secara sistematis, peneliti yang melakukan seleksi terhadap data yang sudah didapatnya.
Menurut Nugroho dalam Gottschalk (1987: 18) prosedur penelitian dan penulisan sejarah bertumpu pada lima kegiatan pokok, antara lain:
a. Pengumpulan objek yang berasal dari suatu jaman dan pengumpulan bahan-bahan tertulis dan lisan yang relevan.
b. Menyingkirkan bahan-bahan yang tidak otentik.
c. Menyimpulkan kesaksian yang dapat dipercaya dari bahan-bahan yang otentik.
d. Penyusunan kesaksian yang dapat dipercaya itu menjadi suatu kisah atau suatu penyajian yang berarti.
e. Prosedur itulah yang disebut metode sejarah.
C. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data sejarah. Menurut Kuntowijoyo (1995: 94) sumber data membutuhkan pengolahan dan penyeleksian. Sumber data yaitu segala sesuatu yang langsung atau tidak langsung menceritakan kepada kita tentang sesuatu kenyataan atau kegiatan manusia pada masa lalu (past actuality). Sumber sejarah merupakan bahan-bahan mentah (raw materials) sejarah yang mencakup segala macam evidensi (bukti) yang telah ditinggalkan oleh manusia yang menunjukkan segala aktivitas mereka di masa lalu yang berupa kata-kata yang tertulis atau kata-kata yang diucapkan (lisan) (Sjamsuddin, 1994: 73).
Menurut Pranoto (2014: 32) untuk mengefektifkan sumber sejarah, maka sumber sejarah harus didefinisikan dan diklarifikasikan. Sumber sejarah (historical source) dapat dibedakan menjadi: Pertama, sumber material yaitu berupa benda yang secara fisik dapat dilihat dan dipegang seperti dokumen,
arsip, surat, catatan harian, foto, file, dan benda peninggalan berupa artefak.
Kedua, adalah sumber immaterial yaitu secara fisik tidak dapat dilihat dan dipegang, seperti tradisi, kepercayaan, dan agama. Ketiga, tidak dapat dilihat dan dipegang, seperti cerita, sage, balada, sumber lisan dapat diperoleh melalui sejarah lisan (oral history) yaitu ingatan tangan pertama yang dituturkan secara lisan oleh orang-orang yang diwawancarai sejarawan. Sumber lisan juga dapat diperoleh melalui tradisi lisan yaitu narasi tentang suatu peristiwa masa lalu yang disampaikan dari mulut ke mulut selama beberapa generasi. Keempat, sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer dalam penelitian sejarah adalah sumber yang disampaikan langsung oleh saksi mata atau catatan yang sezaman atau dekat dengan peristiwa kejadiannya. Berbeda dengan sumber sekunder yang tidak disampaikan langsung oleh saksi mata dan bentuknya dapat berupa buku- buku, artikel, koran, majalah. Kelima, depo sumber yaitu sumber sejarah yang sudah terkumpul disimpan di gedung arsip pusatt maupun di daerah. Sehingga sumber data yang digunakan dalam penelitian ini dapat digolongkan ke dalam kelompok nomor empat yakni sumber primer dan sekunder.
Menurut Notosusanto (1975: 35) sumber primer adalah kesaksian dengan mata kepala sendiri atau panca indra lainnya atau dengan alat mekanis yang ada pada saat peristiwa itu terjadi. Sedangkan sumber sekunder adalah informasi yang diberikan oleh orang yang tidak langsung mengamati atau orang yang tidak terlibat langsung dalam suatu kejadian, keadaan tertentu atau tidak langsung mengamati objek tertentu. Adapun jenis-jenis sumber pertama dalam penelitian historis ini antara lain kronik, otobiografi, memoir, surat kabar, publikasi pemerintah dan lembaga swasta, catatan harian dan surat kabar pribadi, karya sastra seperti novel sejarah (Pranoto, 2014: 33).
Peneliti menggunakan sumber data primer dan sumber data sekunder.
Sumber data primer berupa majalah Pandji Poestaka tahun 1943, arsip Algemeene Rijksarchief (ARA) nomor A11 Muhammadiyah, buku Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945 karya Muhammad Yamin yang diterbitkan oleh Jajasan Prapantja tahun 1959.
Sumber sekunder berupa buku yang berjudul Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang diterbitkan oleh Sekretariat negara Republik Indonesia pada tahun 1995. Buku karya Djarnawi Hadikusumo dengan judul Derita Seorang Pemimpin: Riwayat Hidup, Perjuangan dan Buah Pikiran Ki Bagus Hadikusumo, yang diterbitkan di Yogyakarta pada tahun 1979.
Buku Ki Bagus Hadikusumo Hasil Karya dan Pengabdiannya yang ditulis oleh Suhatno pada tahun 1983. Buku Dari Muhammadiyah untuk Indonesia Pemikiran dan Kiprah Ki Bagus Hadikusumo, Mr. Kasman Singodimedjo, dan K.H. Abdul Kahar Mudzakkir yang diterbitkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Buku Lahirnya Pancasila Kumpulan Pidato BPUPKI yang diterbitkan oleh Media Pressindo pada tahun 2017.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standart untuk memperoleh data (Nazir, 1988: 211). Teknik pengumpulan data merupakan langkah strategis yang dilakukan karena tujuannya adalah menemukan data (Sugiyono, 2005: 62). Teknik pengumpulan data ditempuh dengan studi kepustakaan. Studi pustaka adalah suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh data atau fakta sejarah, dengan cara membaca buku-buku literature, majalah, dokumen atau arsip, surat kabar atau brosur yang tersimpan di dalam perpustakaan (Koentjoroningrat, 1989:3).
Teknik pengumpulan data atas sumber sejarah dalam studi pustaka diperlukan pecatatan yang sistematis.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan penulis dalam mengumpulkan data adalah sebagai berikut:
a) Mencari dan mengumpulkan sumber primer dan sekunder yang berkaitan dengan perjuangan Ki Bagus Hadikusumo. Peneliti berusaha mengumpulkan sumber-sumber sejarah yang berupa arsip, majalah, buku, dokumen maupun literature yang berkaitan dengan penelitian. Kegiatan mengumpulkan arsip dilakukan di Arsip Nasional Republik Indonesia. Sumber majalah, buku,
dokumen diperoleh di perpustakaan serta internet. Teknik studi pustaka dilakukan dengan mencatat beberapa sumber tertentu mengenai pengarang, judul buku, nama arsip dan subjek penelitian.
b) Mencatatat, membaca dan memfotokopi sumber primer dan sekunder yang berupa arsip maupun buku-buku literature yang dianggap penting dan relevan dengan tema penelitian yang tersimpan di perpustakaan.
E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data adalah teknik memeriksa dan menganalisis data sehingga akan menghasilkan data yang benar-benar dapat dipercaya. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis historis.
Menurut Kuntowijoyo yang dikutip oleh Abdurrahman (1999: 64), interpretasi atau penafsiran sejarah seringkali disebut analisis sejarah. Analisis sendiri berarti menguraikan dan secara terminologis berbeda dengan sintesis. Analisis dan sintesis dipandang sebagai metode-metode utama dalam interpretasi. Menurut Sjamsuddin (1996: 89), teknik analisis data historis adalah analisis data sejarah yang menggunakan kritik sumber sebagai metode untuk menilai sumber-sumber yang digunakan dalam penulisan sejarah.
Menurut Berkhofer yang dikutip Abdurrahman (1999: 64), analisis sejarah bertujuan melakukan sintesis atas sejumlah fakta yang diperoleh dari sumber-sumber sejarah dan bersama-sama dengan teori-teori disusunlah fakta itu ke dalam suatu interpretasi yang menyeluruh. Analisis sejarah ialah menyediakan suatu kerangka pemikiran atau kerangka referensi yang mencakup berbagai konsep dan teori yang akan dipakai dalam membuat analisis itu (Kartodirdjo, 1992: 2). Data yang telah diperoleh diinterpretasikan, dianalisis isinya dan analisis data harus berpijak pada kerangka teori yang dipakai sehingga menghasilkan fakta-fakta yang relevan dengan penelitian. Penelitian ini dilanjutkan dengan melakukan analisis data dan membandingkan data satu dengan data yang lain sesuai data yang diinginkan sehingga didapat fakta-fakta sejarah yang benar-benar relevan. Fakta-fakta itu kemudian diseleksi,
diklarifikasi dan ditafsirkan, baru kemudian merangkaikan fakta-fakta tersebut untuk dijadikan bahan penulisan penelitian yang utuh dalam sebuah karya ilmiah.
Peneliti dalam proses analisis data sejarah dimulai dengan melakukan pengumpulan data atau heuristik, selanjutnya kritik dan pada tahap ini peneliti membandingkan data yang sudah diperolehnya untuk mengetahui peristiwa yang terjadi dalam waktu yang sama (Abdurrahman, 1999: 65). Peneliti dalam proses analisis data sejarah menggunakan teori sosilogi dan politik.
F. Prosedur Penelitian
Penelitian merupakan suatu proses, oleh karenanya harus ada tahapan- tahapan atau langkah-langkah yang harus dilakukan dari awal sampai akhir penelitian, adapaun langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Gambar 3.1 skema metode historis Sember: Gottshalk (1986: 17)
Keterangan:
1. Heuristik
Heuristik berasal dari bahasa Yunani yaitu heuriskein yang berarti proses mencari untuk menemukan sumber-sumber (Notosusanto, 1978: 11).
Dalam bahasa Latin, heuristik dinamakan sebagai ars inveniendi atau seni mencari (Daliman, 2012: 52). Menurut Gazalba (1981: 15) mengemukakan bahwa heuristik adalah kegiatan mencari bahan atau menyelidiki sumber
Heuristik Kritik Interpretasi Historiografi
Fakta Sejarah
sejarah untuk mendapatkan hasil penelitian. Bibliografis adalah kegiatan yang dilakukan untuk mencari dan mengumpulkan sumber. Perpustakaan dan katalog merupakan laboratorium bagi para peneliti, karena terdapat banyak sumber didalamnya.
Peneliti berusaha mengumpulkan sumber atau data-data yang berkaitan dengan tema yang dikaji, dengan mengadakan studi kepustakaan, penulis berusaha mendapatkan data-data tertulis berupa arsip, buku-buku, majalah, surat kabar dan sumber tertulis lainnya. Dalam hal ini penulis melakukan pengumpulan data dan sumber di Arisp Nasional dan beberapa perpustakaan.
Data yang ditemukan oleh peneliti kemudian dikumpulkan dengan cara di fotokopi maupun di catat. Sumber-sumber yang diperoleh yaitu sumber primer berupa majalah Pandji Poestaka tahun 1943, arsip Algemeene Rijksarchief (ARA) nomor A11 Muhammadiyah, buku Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945 karya Muhammad Yamin. Sumber sekunder yang digunakan berupa buku-buku pendukung yang berkaitan dengan penelitian, seperti buku Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
2. Kritik
Setelah data yang berkaitan dengan penelitian berhasil dikumpulkan, maka tahap selanjutnya adalah verifikasi untuk memperoleh otensitas (keaslian sumber) dan kredibilitas (tingkat kebenaran informasi) sumber. Data yang diperoleh harus melewati tahap seleksi terlebih dahulu. Menurut Suhartono (2014: 35) kritik merupakan kerja intelektual dan rasional yang mengikuti metodologi sejarah guna mendapatkan objektivitas suatu kejadian.
Kritik adalah produk proses ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan dan agar terhindar dari fantasi, manipulasi atau fabrikasi (Suhartono, 2014: 36).
Pada tahap ini kritik sumber dilakukan dengan dua cara yaitu kritik ekstern dan kritik intern. Kritik ekstern adalah usaha mendapatkan otentisitas sumber dengan melakukan penelitian fisik terhadap suatu sumber. Kritik ekstern menguji otentisitas atau keaslian sumber, supaya diketahui apakah
sumber yang didapat asli atau tiruan. Otentisitas mengacu pada materi sumber yang sezaman. Jenis-jenisnya adalah dokumen atau arsip, majalah yang ditulis sezaman dengan peristiwa. Usaha yang dilakukan didalam kritik ekstern lain yaitu dengan penyeleksian sumber-sumber pustaka berdasarkan cerita, seperti profesionalisme pengarang, ketebalan buku, tahun terbit, dan penerbit. Kritik ekstern yang dilakukan oleh peneliti misalnya dengan pengujian terhadap Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945, buku ini ditulis oleh Hadji Muhammad Yamin ketika ikut serta dalam sidang BPUPKI dan PPKI dengan ketebalan 671 halaman dan diterbitkan tahun 1959 oleh Jajasan Prapantja.
Kritik intern adalah kritik yang mengacu pada kreadibilitas sumber, artinya apakah isi dokumen ini terpercaya, tidak dimanipulasi, mengandung bias, atau dikecohkan. Kritik ekstern menguji keaslian dokumen, sedang kritik intern lebih menguji makna isi dokumen menurut Shafer dalam bukunya Daliman (2012: 68). Kritik intern dilakukan dengan pemahaman terhadap lingkungan dan budaya penulisnya, sehingga untuk memahami yang tersirat diperlukan pemahaman dari dalam (Pranoto, 2014: 37). Kritik intern dalam penelitian ini dilakukan dengan membandingkan isi dari satu sumber dengan sumber yang lainnya. Misalnya membandingkan isi buku Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945 dengan buku yang ditulis oleh Bahar Saafroedin dan Nannie Hudawati yang berjudul Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha- usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang memiliki persamaan isi mengenai sidang di dalam BPUPKI serta PPKI. Setelah dilakukan kritik ekstern dan kritik intern maka hasilnya ialah fakta yang merupakan unsur-unsur bagi penyusunan atau rekonstruksi sejarah yang peneliti kaji. Setelah dilakukan kritik, maka langkah selanjutnya adalah melakukan interpretasi.
3. Interpretasi
Tahap yang ketiga adalah interpretasi, setelah melewati heuristik dan kritik yang berfungsi menyeleksi sumber-sumber data yang dikumpulkan sehingga didapatkan fakta sejarah yang valid. Interpretasi sering disebut sebagai analisis sejarah. Analisa sendiri berarti menguraikan, dan secara
terminologis berbeda dengan sintesis yang berarti menyatukan. Namun keduanya, analisa dan sintesis dipandang sebagai metode-metode utama dalam interpretasi (Kuntowijoyo, 1995: 100). Dari data yang bervariasi dapat dianalisis setelah ditarik secara induktif sehingga dapat disimpulkan (Pranoto, 2014: 56). Sedangkan menurut Abdurrahman, Interpretasi bertujuan untuk melakukan sintesis atas sejumlah fakta yang diperoleh dari sumber-sumber sejarah dan bersama-sama dengan teori-teori disusunlah fakta itu ke dalam suatu interpretasi yang menyeluruh, jadi interpretasi juga biasa dikatakan sebagai analisa. Tugas dari interpretasi adalah memberikan penafsiran dalam kerangka memugar suatu rekonstruksi masa lampau (Daliman, 2012: 83).
Data yang telah terkumpul kemudian diseleksi dan ditafsirkan dengan cara membandingkan antara sumber yang satu dengan yang lainnya.
Selanjutnya dipilih data yang relevan sehingga data yang terpilih, diseleksi dan ditafsirkan akan menghasilkan fakta sejarah. Interpretasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah untuk menghubungkan antara fakta yang satu dengan yang lain sehingga dapat diketahui perjuangan Ki Bagus Hadikusumo tahun 1922-1953 yang menjadi titik objek penelitian.
4. Historiografi
Historiografi merupakan cara penulisan, pemaparan, atau pelaporan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan. (Abdurrahman, 1999: 67).
Historiografi merupakan puncak dari metode penelitian dan pada tahap ini peneliti harus memahami histoire ralite atau sejarah sebagaimana terjadinya (Hamid, 2014: 53). Historiografi merupakan sarana mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian yang sudah diungkap, diuji dan telah diinterpretasikan (Daliman, 2012: 99). Penulisan sejarah harus sesuai fakta yang kritis dan objektif.
Historiografi dalam penelitian ini diwujudkan dalam bentuk karya ilmiah berupa skripsi dengan judul “Perjuangan Ki Bagus Hadikusumo Tahun 1922-1953 dan Relevansinya Sebagai Pengembangan Sumber Materi Sejarah Indonesia Baru”, penulis berusaha menghasilkan suatu cerita sejarah yang dapat dipercaya kebenarannya sekaligus menarik untuk dibaca.