• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

18 A. Pengertian Peran

Setiap manusia pasti mempunyai peran yang berbeda perannya tergantung dengan kedudukan dalam masyarakat tersebut.Oleh karena itu berbicara mengenai peran, tentu tidak terlepas dari pembincaraan mengenai kedudukan walaupun keduanya berbeda tetapi saling berhubungan dengan yang lainnya. Seperti dua sisi mata uang yang berbeda tetapi akan menentukan nilai bagi mata uang tersebut, itu semua karena peranan adalah aspek dinamis dari kedudukan manusia.

Dalam kamus Bahasa Indonesia, peran adalah beberapa tingkah laku yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di masyarakat dan dilaksanakan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998: 667).

Setiap manusia pasti mempunyai kegiatan yang dia ikut turut aktif dalam kegiatan tersebut karena apabila dia tidak turut aktif dalam kegiatan tersebut maka dia tidak mempunyai peranan yang baik dalam lingkungan masyarakatnya. Sedangkan peranan berarti tindakan yang dilakukan seseorang atau sesuatu yang terutama.

Selanjutnya menurut Abdul Syani dalam buku sosiologi: Skema Teori dan Terapi mengungkapkan bahwa “peran adalah salah satu perbuatan seseorang dengan cara tertentu dalam usaha menjalankan hak dan kewajibannya sesuai dengan status yang dimilikinya dan seseorang dapat dikatakan berperan jika ia telah melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan status sosialnya dalam masyarakat” (Abdul Syani, 2012: 94) Peranan juga didefinisikan sebagai kumpulan harapan yang terencana seseorang yang mempunyai status tertentu dalam masyarakat.

Dengan singkat peranan dapat dikatakan sebagai sikap dan tindakan seseorang sesuai dengan statusnya dalam masyarakat. Atas dasar definisi tersebut maka peranan dalam kehidupan masyarakat adalah aspek dinamis dari status.

(2)

Menurut Levinson, bahwa peranan itu mencakup tiga hal, yaitu pertama: peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaiian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan, kedua: peranan adalah suatu konsep perihal apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi; ketiga: peranan juga dapat dikatakan sebagai perikelakuan individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat.

Berbicara peran, tentunya tidak dapat dipisahkan dengan status atau kedudukan walaupun keduanya sama-sama berbeda, akan tetapi saling berhubungan erat antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu peran diartikan sebagai dua sisi mata uang yang berbeda akan tetapi kaitannya sangat berbeda sekali. Seseorang dapat dikatakan berperan atau memiliki peran dikatakan seseorang tersebut mempunyai status dalam masyarakat walaupun kedudukan ini berbeda antara satu dengan lainnya, akan tetapi masing-masing dirinya memiliki peran yang sesuai dengan statusnya.

Peranan seseorang lebih banyak menunjukkan suatu proses dari fungsi dan kemampuan mengadaptasi dari dalam lingkungan sosialnya.

Dalam pembahasan tentang aneka macam peranan yang melekat pada individu-individu dalam masyarakat. Soejono mengutip pendapat Marion J. Levy Jr., bahwa ada beberapa pertimbangan sehubungan dengan fungsinya, yaitu sebagai berikut:

a. Bahwa peranan-peranan tertentu harus dilaksanakan apabila struktur masyarakat hendak dipertahankan kelangsungannya.

b. Peranan tersebut seyogianya diletakkan pada individu yang oleh masyarakat dianggap mampu untuk melaksanakannya. Mereka harus terlebih dahulu terlatih dan mempunyai pendorong untuk melaksanakannya.

c. Dalam masyarakat kadang-kadang dijumpai individu-individu yang tak mampu melaksanakan perannya sebagaimana diharapkan oleh masyarakat, oleh karena itu mungkin pelaksanaannya memerlukan

(3)

pengorbanan yang terlalu banyak dari kepentingan-kepentingan pribadinya.

d. Apabila semua orang sanggup dan mampu melakasnakan peranannya, belum tentu masyarakat akan dapat memberikan peluang-peluang yang seimbang bahkan seringkali terlihat betapa masyarakat terpaksa membatasi peluang-peluang tersebut (Abdul Syani, 2012 : 45)

B. Pengertian Badan Penasehat Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4)

1. Badan Penasehat Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) merupakan singkatan dari Badan Penasehatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan adalah suatu organisasi yang bersifat semi resmi sebagai penunjang tugas Kementrian Agama dalam bidang perkawinan serta tujuan untuk mempertinggi mutu perkawinan dan mewujudkan keluarga atau rumah tangga bahagia, sejahtera dan kekal menurut agama Islam (Taufik, 2013: 4). Berdasarkan hasil Munas BP4 tahun 2009 menyatakan bahwa BP4 sebagai organisasi mandiri dan profesional yang bersifat sosial keagamaan sebagai mitra kerja kementrian Agama dalam mewujudkan keluarga sakinah, mawadah dan rahmah.

Dengan demikian BP4 merupakan salah satu organisasi yang berperan sebagai mitra keja kementrian agama yang bersifat profesional dan tidak resmi yang bertujuan untuk mempertinggi mutu perkawinan demi mewujudkan keluarga yang sakinah dan kekal menurut ajaran Islam.

Dengan adanya BP4 maka calon pasangan dipermudah untuk mengetahui atau mendapatkan ilmu pengetahuan tentang bagaimana cara keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.

2. Tujuan BP4

Tujuan dibentuknya BP4 untuk mempertinggi dan penerangan mengenai mutu perkawinan guna mewujudkan keluarga sakinah menurut ajaran Islam untuk mencapai masyarakat dan bangsa yang maju, mandiri, bahagia, sejahtera maupun spiritual dengan:

(4)

a. Meningkatkan kualitas perkawinan dan kehidupan berkeluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.

b. Menurunkan angka perceraian dengan meningkatkan pelayanan terhadap keluarga bermasalah melalui kegiatan konseling, mediasi, dan advokasi.

c. Menguatkan kapasitas kelembagaan dan SDM (sumber daya manusia) BP4 dalam rangka mengoptimalkan program dan mencapai tujuan.

d. Memberikan penyuluhan tentang peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan keluarga.

e. Mengembangkan jaringan kemitraan dengan instansi atau lembaga yang memiliki misi dan tujuan yang sama.

3. Upaya dan Usaha BP4

Upaya dan usaha BP4 mewujudkan keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah adalah sebagai berikut:

a. Memberikan bimbingan, penasehatan dan penerangan mengenai nikah, talak, dan rujuk kepada masyarakat, baik perorangan maupun kelompok.

b. Memberikan bimbingan tentang peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan keluarga.

c. Memberikan bantuan mediasi kepada para pihak yang berperkara di pengadilan agama, dimulai bulan April 2014, sesuai memorandum kesepahaman penylenggaraan pelaksanaan mediator No.10.12.AI/189/KHK.05/IV/2014, No.04/D12/BP4/IV/2014.

d. Memberikan bantuan advokasi dalam mengatasi masalah perkawinan, keluarga dan perselisihan rumah tangga di peradilan agama.

e. Menyelenggarakan kursus calon atau pengantin, penataran atau pelatihan, diskusi seminar dan kegiatan-kegiatan sejenis yang berkaitan dengan perkawinan dan keluarga.

f. Meningkatkan upaya pemberdayaan ekonomi keluarga serta upaya lain yang dipandang bermanfaat untuk kepentingan organisasi serta bagi kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga.

(5)

Upaya dan usaha BP4 tersebut merupakan rangkaian upaya dan usaha yang dibakukan BP4 untuk mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah.Dalam pelaksanaanya upaya dan usaha tersebut dilaksanakan di berbagai program yang ada di BP4 itu sendiri.

(http://respository.uinbanten.ac.id. Diunduh pada hari Minggu pukul 12.37 WIB)

4. Tugas dan Wewenang BP4

Badan Penasehat, Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) merupakan badan semi pemerintah berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama Nomor 30 Tahun 1977 dan merupakan badan penunjang sebagian tugas-tugas Departemen Agama, Dirjen Bina Islam, dan Direktorat Urusan Agama Islam.

Adapun tugas dan wewenang BP4 adalah sebagai berikut:

a) Memberikan bimbingan dan pelayanan kepada masyarakat mengenai kehidupan keagamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

b) Memberikan bimbingan dan nasehat kepada masyarakat mengenai kehidupan rumah tangga yang ideal.

c) Memberikan penataran kepada calon pengantin dengan materi-materi:

1) Ibadah dan muamalah 2) Hukum pernikahan

3) Imunisasi, keluarga berencana dan kesehatan 4) Pancasila / P4

5) Undang-undang Perkawinan

d) Memberikan nasehat kepada suami istri yang melaporkan adanya perselisihan dalam rumah tangga sehingga tercipta keadaan yang diinginkan yaitu berbahagia, sejahtera dan terhindar dari perceraian.

C. Pengertian Bimbingan 1. Pengertian Bimbingan

Jika ditelaah dari berbagai sumber akan dijumpai pengertian- pengertian yang berbeda mengenai bimbingan, tergantung dari jenis sumbernya dan yang merumuskan pengertian tersebut. Perbedaan tersebut

(6)

disebabkan oleh perbedaan itu hanyalah perbedaan tekanan atau dari sudut pandang yang berbeda saja.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pembimbingan adalah orang membimbing, memimpin dan menuntun (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998: 152). Definisi bimbingan yang pertama dikemukakan dalam Year’s Book of Education 1955, yang menyatakan bahwa Bimbingan adalah suatu proses membantu individu melalui usahanya sendiri untuk menemukan dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial. (Samsul Munir Amin, 2015: 4)

Menurut Crow dan Crow, menyatakan bahwa bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang, baik pria maupun wanita yang memiliki pribadi yang baik dan berpendidikan yang memadai kepada seorang individu dari setiap usia dalam mengembangkan kegiatan- kegiatan hidupnya sendiri, mengembangkan arah pandangan sendiri, membuat pilihan sendiri dan memikul bebannya sendiri. (Ibid, hlm: 4-5)

Menurut Stoops dan Walquls menyatakan bahwa bimbingan adalah proses yang terus-menerus dalam membantu perkembangan individu untuk mencapai kemampuan secara maksimum dalam mengarahkan manfaat yang sebesar-besarnya baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat (Ibid, hlm. 5-6)

Menurut Rachman Nata Widjaja menyatakan bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan supaya individu tersebut dapat memahami dirinya sehingga ia sanggup mengarahkan dirinya sendiri dan dapat bertindak secara wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan sekolah, keluarga dan masyarakat, serta kehidupan umumnya. Dengan demikian ia dapat mengecap kebahagiaan hidup dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi kehidupan masyarakat umumnya. Bimbingan membantu individu mencapai perkembangan diri secara optimal sebagai makhluk sosial. (Ibid, hlm. 6) Dari berbagai pengertian di atas maka dapat diketahui beberapa komponen dalam bimbingan yang sangat mendukung dalam

(7)

pelaksanaan bimbingan yaitu pembimbing, terbimbing, materi, media, dan tujuan. Dengan adanya bimbingan bisa diartikan sebagai pemberian bantuan kepada seseorang agar dapat menentukan jalan hidupnya secara bertanggung jawab dan bimbingan tersebut bisa dilakukan secara terus menerus.

Dari beberapa definisi yang dikutip di atas penulis menyimpulkan bahwa bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada seseorang yang berbentuk pengarahan yang diberikan kepada seseorang yang membutuhkan agar dapat memahami, mengarahkan dan suatu usaha yang dilakukan oleh pembimbing pada seseorang secara terencana terarah dan bertahap yang sesuai dengan kesulitan yang dihadapi kliennya. Seorang pembimbing diharapkan dapat membantu dalam mengarahkan dan memberikan tuntunan kepada masalah seseorang tersebut agar mereka memperkembangkan potensi-potensi yang dimilikinya sendiri dalam upaya mengatasi berbagai permasalahan, sehingga klien dapat menentukan sendiri jalan hidupnya sendiri secara bertanggung jawab tanpa bergantung hidupnya kepada orang lain dan bantuan tersebut dilakukan secara terus menerus sampai klien merasa dirinya kuat.

2. Pengertian Konseling

Konseling (counseling) biasanya dikenal dengan istilah penyuluhan, yang secara awam dimaknai sebagai pemberian sebagai pemberian penerangan, informasi, atau nasehat kepada pihak lain. Istilah penyuluhan sebagai padanan kata konseling, bisa diterima secara luas, tetapi dalam pembahasan ini, konseling tidak dimaksudkan dalam pengertian tadi.

Konseling sebagai cabang ilmu dan praktek pemberian bantuan kepada individu pada dasarnya memiliki pengertian yang spesifik sejalan dengan konsep yang dikembangkan dalam lingkup profesinya.

Konseling merupakan salah satu upaya untuk membantu mengatasi konflik, hambatan, dan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan kita, sekaligus sebagai upaya peningkatan kesehatan mental. Konseling merupakan satu diantara bentuk upaya bantuan yang secara khusus dirancang untuk menghadapi persoalan-persoalan yang kita hadapi.

(8)

(Ahmad Muh Diponegoro,2008 : 2) Menurut Rogers, konseling adalah serangkaian hubungan langsung dengan individu yang bertujuan untuk membantunya dalam mengubah sikap dan tingkah laku.

Menurut Hansen menyatakan bahwa konseling adalah proses bantuan kepada individu dalam belajar tentang dirinya, lingkungannya, dan metode dalam menangani peran dan hubungan meskipun individu mengalami masalah konseling ia tidak harus remedial. Konselor dapat membantu individu dengan proses pengambilan keputusan dalam hal pendidikan dan kejuruan serta menyelesaikan masalah interpersonal.

Kemudian menurut Hallen A menyatakan bahwa konseling adalah salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan dimana proses pemberian bantuan itu berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung dan tatap muka antara konselor dengan klien, dengan tujuan agar klien itu mampu memperoleh pemahaman yang lebih terhadap dirinya, mampu memecahkan masalah yang dihadapinya, dan mampu mengarahkan dirinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki ke arah perkembangan yang optimal, sehingga ia dapat mencapai kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa konseling adalah proses pemberian bantuan yang diberikan seorang ahli konselor kepada individu dalam memecahkan masalah kehidupannya dengan tatap muka atau dengan cara-cara yang sesuai dengan keadaan individu yang dihadapi untuk mencapai kesejahteraan hidup. Dalam memecahkan permasalahannya individu memecahkannya dengan kemampuan atau keputusannya sendiri. Dengan demikian, individu tetap dalam keadaan aktif, dan kesanggupannya dalam memecahkan setiap permasalahan yang mungkin akan dihadapi di dalam kehidupannya. (Samsul Munir, 2015: 12)

3. Tujuan Bimbingan

Tujuan umum bimbingan dan konseling menurut Shertier dan Stone merupakan mengupayakan perubahan perilaku pada diri klien sehingga

(9)

memungkinkan kehidupannya menjadi lebih produktif dan memuaskan.

Bila dirinci dalam lagi ke dalam area-area perkembangan individu pribadi- sosial maka tujuan bimbingan konseling adalah:

a) Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keamanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, tempat kerja maupun dalam kehidupan masyarakat pada umumnya.

b) Memiliki sikap toleran terhadap umat beragama lain dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajiban masing-masing.

c) Memiliki pemahaman tentang situasi kehidupan yang saling bergantian antara yang menyenangkan dengan yang tidak menyenangkan serta mampu yang dianutnya sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.

d) Memiliki pemahaman dan penerimaan dan secara objektif dan konstruktif baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan.

e) Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain serta tidak melecehkan martabat atau harga diri dan orang lain.

f) Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.

g) Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik, baik masalah dalam diri sendiri maupun masalah dengan orang lain.

h) Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat.

i) Memiliki rasa tanggung jawab yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas dan kewajibannya.

j) Memiliki kemampuan berinteraksi sosial yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan dan silaturahmi dengan sesama manusia (M. Fuad Anwar, 2014: 5-7)

Dalam kaitan ini bimbingan dan konseling membantu individu untuk menjadi manusia yang berguna dalam kehidupannya yang memiliki wawasan, pandangan, interpretasi pilihan, penyesuaian dan keterampilan yang tepat berkenaan dengan diri sendiri dan lingkungannya.Manusia seperti itu adalah manusia yang mandiri yang memiliki kemampuan untuk memahami diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis, serta

(10)

mampu mengambil keputusan secara baik dan kebijaksanaan, mengarahkan diri sendiri sesuai dengan keputusan yang diambilnya.

Adapun tujuan khusus bimbingan dan konseling merupakan penjabaran tujuan umum disebut yang dikaitkan secara langsung dengan permasalahan yang dialami oleh individu sesuai dengan permasalahannya.

Maka dari itu tujuan khusus bimbingan dan konseling untuk masing- masing individu bersifat berbeda tujuan bimbingan dan konseling untuk seseorang individu berbeda dari (dan tidak boleh dimasukkan dengan) tujuan bimbingan dan konseling untuk individu lainnya. ( Prayitno dan Erman Amti, 2004 : 114)

4. Fungsi Bimbingan dan Konseling

Secara teoretikal fungsi bimbingan dan konseling secara umum adalah fasilitator dan motivator klien dalam upaya mengatasi dan memecahkan problem kehidupan klien dengan kemampuan yang ada pada dirinya sendiri. Fungsi ini dapat dijabarkan dalam dalam tugas kegiatan yang bersifat pencegahan terhadap segala macam gangguan mental- spiritual dan lingkungan yang menghambat, mengancam, atau menantang proses perkembangan hidup klien.

Dalam kelangsungan perkembangan dan kehidupan manusia berbagai pelayanan diciptakan dan diselenggarakan. Masing-masing pelayanan itu berguna dan memberikan manfaat untuk memperlancar dan memberikan dampak positif terhadap kelangsungan perkembangan dan kehidupan itu. Dalam kegiatan pelayanan yang bersifat penyembuhan terhadap segala bentuk penyakit mental dan spiritual atau fiskal klien dengan cara melakukan kelimpahan kepada para ahlinya, misalkan ahli jiwa atau ahli psikoterapi.

Adapun tugas bimbingan dan konseling secara umum adalah memberikan pelayanan kepada klien agar mampu mengaktifkan potensi fisik dan psikisnya sendiri dalam menghadapi dan memecahkan berbagai kesulitan hidup yang dirasakan sebagai penghalang atau penghambat perkembangan lebih lanjut dalam bidang-bidang tertentu. (Samsul Munir, 2015: 44)

(11)

5. Metode Bimbingan

Adapun beberapa metode yang dapat digunakan dalam bimbingan untuk membentuk individu, Ainur Rahim Faqih menyatakan dalam bukunya “Bimbingan dan Konseling Islam” menyatakan bahwa metode biasanya dipadankan sebagai cara untuk mendekati masalah hingga bisa mencapatkan hasil yang diinginkan. Sementara teknik merupakan penerapan metode dalam tatanan praktis (Ainur Rahim Faqih, 2001: 54)

Kalau dilihat dari segi komunikasi, metode bimbingan dapat dibagi menjadi dua metode, yaitu metode langsung dan metode tidak langsung.

a. Metode Langsung

Yaitu metode dimana pelaksanaanya, pembimbing memberikan bantuan bimbingan secara langsung atau secara tatap muka dengan orang yang dibimbing. Metode ini dapat digunakan:

1) Metode individual, dengan teknik percakapan pribadi, kunjungan ke rumah, dan observasi kerja.

2) Metode kelompok dengan teknik diskusi kelompok, karya wisata, sosiodrama, psikodrama, dan group teaching.

b. Metode Tidak Langsung

Yaitu metode dengan menggunakan media komunikasi massa, metode ini dapat digunakan:

1) Metode individual, dengan teknik surat menyurat dan telepon.

2) Metode kelompok atau massal dengan teknik: papan bimbingan, surat kabar atau majalah, brosur, radio, dan televisi. (M. Arifin, 1998: 2)

D. Pengertian Nikah dan Pranikah

Menurut bahasa Arab berarti adh-dhamm, yakni menghimpun. Lafazh ini dimutlakkan untuk akad atau persetubuhan. Adapun menurut syariat, pengertiannya sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Qudamah: “Nikah menurut syariat adalah akad pernikahan ketika kata nikah diucapkan secara mutlak, maka ia bermakna demikian, selama tidak ada dalil yang memalingkan darinya”. (Yazid bin Abdul Qadir, 2011: 12) Adapun menurut syariat, nikah

(12)

juga berarti akad, sedangkan pengertian hubungan badan itu hanya merupakan metafora saja. Hujjah (argumentasi) atas pendapat ini adalah banyaklah pengertian nikah yang terdapat di dalam al-Qur‟an maupun al-hadits sebagai akad. Bahkan di katakan, bahwa nikah itu tidak disebutkan dalam al-Qur‟an melainkan diartikan dengan akad.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam sendiri menerangkan bahwa pada kenyataannya nikah itu tidak hanya sekedar akad, akan tetapi lebih dari itu setelah pelaksanaan akad si pengantin harus merasakan nikmatnya akad tersebut. Sebagaimana dimungkinkan terjadinya proses perceraian setelah dinyatakan akad tersebut. Kata pra dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah awalan yang bermakna “sebelum”. Pengertian nikah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami istri (dengan resmi). (Departemen Pendidikan Kebudayaan, 1998:

614).

Dalam Undang-Undang Dasar 1974 No.1 tentang Undang-undang Perkawinan sebagai berikut: perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia berdasarkan Tuhan Yang Maha Esa.

Menurut ensiklopedia Indonesia perkataan perkawinan yaitu nikah sedangkan menurut Purwa Darminta (1976) kawin yaitu perjodohan laki-laki dan perempuan menjadi suami-istri; nikah: perkawinan sama dengan pernikahan. Di samping itu menurut Homby (1957) yaitu bahwa perkawinan adalah bersatunya dua orang menjadi suami-istri. (Bimo Walgito, 2002: 11)

Menurut Rahmat Hakim, kata nikah berasal dari bahasa arab “nikhum”

yang merupakan masdar atau berasal dari kata kerja “nakoha”. Menurut bahasa kata nikah berarti “adh dhammu wattadakhul” (bertindak dan memasukkan), menurut istilah nikah adalah suatu akad yang menyebabkan kebolehan bergaul antara laki-laki dengan seorang wanita dan saling menolong diantara keduanya serta menentukan batas hak dan kewajiban antara keduanya. (Rahmat Hakim, 2000: 11 & 13)

Dari beberapa definisi di atas, penulis menyimpulkan nikah sebagai lantaran pokok dalam pembentukan keluarga. Mengapa nikah harus

(13)

didahulukan, karena nikah salah satu yang harus dilakukan manusia untuk mencapai tujuan syari‟at yakni kemaslahatan dalam kehidupan perkawinan.

Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia berdasarkan Tuhan Yang Maha Esa, maka alangkah baiknya sebelum menikah mengikuti program bimbingan pra nikah karena adanya program tersebut guna menambah bekal dalam membentuk keluarga yang bahagia. Di samping tujuan perkawinan itu membentuk keluarga yang bahagia, tetapi juga bersifat kekal.Ini berarti bahwa dalam perkawinan perlu diniati sekali kawin untuk seterusnya, berlangsung untuk seumur hidup, untuk selama-lamanya.

E. Pengertian Keluarga Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

Keluarga merupakan konsep yang bersifat multi dimensi, para ilmuwan sosial bersilang pendapat mengenai rumusan dimensi keluarga yang bersifat universal. Salah satunya menurut George Murdock menguraikan bahwa keluarga merupakan kelompok sosial yang memiliki karakteristik tinggal bersama, terdapat kerjasama ekonomi, dan terjadi proses reproduksi. (Sri Lestari, 2016: 3). Keluarga sendiri di sini adalah organisasi kecil dalam sebuah institusi. Dari keluarga yang kuat dan harmonis akan mampu mewujudkan masyarakat dan negara menjadi kuat. (H. Hasbiyallah, 2015: 1) Yang dimaksud keluarga ialah masyarakat terkuat, sekurang-kurangnya terdiri dari pasangan suami istri sebagai sumber intinya, berikut anak-anak yang terlahir dari mereka.Jadi setidak-tidaknya keluarga adalah pasangan suami istri, baik yang mempunyai anak atau tidak mempunyai anak.

Keluarga sakinah adalah keluarga dengan penuh kebahagiaan yang terlahir dari usaha keras pasangan suami istri dalam memenuhi semua kewajibannya, baik kewajiban perorangan maupun kewajiban bersama.

Hukum pernikahan disyariatkan untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin sebagaimana Allah dan Rasulullah telah menuntun kita untuk mencapai kebahagiaan tersebut. (Ibid, hlm. 70)

Sedangkan “sakinah” adalah rasa tentram, aman, dan damai. Seorang akan merasakan sakinah apabila terpenuhi unsur-unsur hajat hidup spiritual

(14)

dan material secara layak dan seimbang. Seorang yang sakinah hidupnya adalah orang yang terpelihara kesehatannya, cukup sandang, pangan dan papan, diterima dalam pergaulan masyarakat yang beradab, serta hak-hak asasinya terlindungi oleh norma agama, norma hukum dan norma asusila.

(BP4, 2011: 5)

Memang benar bahwa sewaktu-waktu manusia bisa merasakan senang dalam kesendiriannya, tetapi tidak untuk selamanya. Manusia telah menyadari bahwa hubungan yang dalam dan dekat dengan pihak lain akan membantunya mendapatkan kekuatan dan membuatnya lebih mampu menghadapi tantangan. Karena alasan-alasan inilah maka manusia butuh pasangan hidup dengan jalan menikah, berkeluarga, bahkan bermasyarakat dan berbangsa. Ketenangan hidup ini didambakan oleh suami istri setiap saat termasuk saat sang suami meninggalkan rumah dan anak istrinya.

Sakinah terlihat pada kecerahan, pada raut muka yang disertai kelapangan dada, budi bahasa yang halus, yang dilahirkan oleh ketenangan batin akibat menyatunya pemahaman dan kesucian hati, serta bergabungnya kejelasan pandangan dengan tekad yang kuat. Itulah makna sakinah secara umum dan makna-makna tersebut yang diharapkan dapat menghiasi setiap keluarga yang hendak menyandang keluarga sakinah.

Mawaddah mengandung arti rasa cinta. Mawaddah ini muncul karena di dalam pernikahan ada faktor-faktor yang bisa menumbuhkan dua perasaan tersebut. Dengan adanya seorang istri, suami dapat merasakan kesenangan dan kenikmatan, serta mendapatkan manfaat dengan adanya anak dan mendidik dan membesarkan mereka, di samping itu dia merasakan adanya ketenangan, kedekatan dan kecenderungan kepada istrinya. Sehingga secara umum tidak akan didapatkan mawaddah di antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Sebagaimana mawaddah (rasa cinta) yang ada diantara suami istri.Rasa cinta yang tumbuh diantara suami istri adalah anugerah dari Allah SWT kepada keduanya dan ini merupakan cinta yang sifatnya tabiat. Tidaklah tercela orang yang senantiasa memiliki rasa cinta asmara kepada pasangan hidupnya yang sah. Bahwa hal itu merupakan kesempurnaan yang semestinya disyukuri.

(15)

Allah SWT tumbuhkan mawaddah tersebut setelah pernikahan dua insan. Padahal mungkin sebelumnya pasangan itu tidak saling mengenal dan tidak ada hubungan yang mungkin menyebabkan adanya kasih sayang, apalagi rasa cinta. Mawaddah merupakan karunia Allah Ta‟ala sekaligus menjadi tanda kebesaran-Nya. Banyak diantara pasangan suami istri yang sebelumnya tidak saling mengenal, namun Allah karuniakan kepada mereka kecintaan dan kasih sayang. Dikatakan bahwa kecintaan dan kasih sayang adalah dari Allah sedangkan kebencian satu sama lain adalah dari syaitan. Al-Hassan, Mujahid, dan „Ikrimah menyatakan bahwa mawaddah adalah kata kiasan dari nikmah (jimaa) atau hubungan intim suami istri (Muhammad Salih al-Munajid, hlm.

42)

Rahmah mengandung arti kasih sayang. Rasa sayang kepada pasangannya merupakan bentuk kesetiaan dan kebahagiaan yang dihasilkannya, sedangkan rahmah adalah kondisi psikologis yang muncul dalam hati akibat menyaksikan ketidakberdayaan, sehingga mendorong yang bersangkutan untuk memberdayakannya, karena itu dalam kehidupan rumah tangga, masing-masing suami istri akan bersusah payah demi mendatangkan kebaikan bagi pasangannya, serta menolak segala yang mengganggu dan menganugerahkannya. Banyak pasangan suami istri mengharapkan kebahagiaan pernikahan mereka seakan-akan kebahagiaan itu suatu keberuntungan yang pasti datang pada saatnya. (H. Hasbiyallah, 2015: 10).

Rahmah mengharuskan setiap pasangan memiliki sifat penyayang dan murah hati ketika melihat pasangannya tidak berdaya.Juga mengharuskan sabar, tidak pemarah dan tidak mendendam ketika pasangannya terpeleset pada kesalahan. Akan tetapi sekaligus menuntut seseorang memiliki ketegasan, kekuatan dan keteguhan ketika harus melindungi pasangannya dari keburukan dan kejahatan orang lain. Keharmonisan sejati yang dilandasi rahmah membuat pasangan suami istri atau antar anggota keluarga saling menaruh iba dan belas kasih, saling menaruh empati dan perhatian, saling memaafkan, saling menjaga, saling mengawasi dan saling melindungi.

(Muhammad Shalih Al Munajjab, hlm. 45)

(16)

Perlu digaris bawahi bahwa sakinah mawaddah dan rahmah tidak datang begitu saja, tetapi ada syarat bagi kehadirannya. Ia harus diperjuangkan dan lebih utama adalah menyiapkan kalbu sakinah, mawaddah, dan rahmah bersumber dari dalam kalbu, lalu terpancar keluar dalam bentuk aktifitas sehari-hari, baik di dalam keluarga maupun dalam masyarakat.

(http://www.akhlaqulkharimah.com/2011/05/02/keluarga-sakinah-mawaddah- warahmah, diakses pada hari Minggu, 8 Juli 2018)

Pasangan suami istri pula memerlukan mawaddah dan rohmah sekaligus, yakni perasaan cinta yang melahirkan keinginan untuk membahagiakan dirinya sendiri, sekaligus pasangannya dalam suka maupun duka. Adapun empat pilar yang menjadikan perkawinan kokoh sebagai berikut:

a. Berpasangan (Zawaj)

Pergaulan dalam perkawinan disebut dengan Zawaj (berpasangan).

Suami istri itu laksana sepasang sayap yang bisa membuat seekor burung terbang tinggi untuk hidup dan mencari kehidupan. Keduanya penting, saling melengkapi, saling menopang, dan slaing kerjasama.

Dalam ungkapan al-Qur‟an, suami adalah pakaian bagi istri dan istri adalah pakaian bagi suami (Qs. al-Baqarah : 187).

b. Janji Kokoh (Mitsaqan ghalizhan)

Suami istri sama-sama menghayati perkawinan sebagai ikatan yang kokoh (Qs. an-nisa : 21) agar bisa menyanggah seluruh sendi-sendi kehidupan rumah tangga. Keduanya diwajibkan menjaga ikatan ini dengan segala upaya yang dimiliki. Tidak bisa yang satu menjaga dengan erat, sementara yang lainnya melemahkannya.

c. Saling memperlakukan pasangan dengan baik (Mu’asyaroh bil-Ma’ruf) Ikatan perkawinan harus dipelihara dengan cara saling memperlakukan pasangannya dengan baik (Qs, an-nisa : 19). Seorang suami harus saling berfikir, berupaya, dan melakukan segala yang terbaik untuk istri. Begitupun istri pada suami. Kata mu’asyaroh bil ma’ruf adalah bentuk kata kesalingan sehingga perilaku berbuat baik harus bersifat timbal balik, yakni suami kepada istri dan istri kepada suami.

(17)

d. Musyawaroh

Pengelolaan rumah tangga terutama jika menghadapi persoalan harus diselesaikan bersama (Qs. al-Baqarah : 23). Musyawarah adalah cara yang sehat untuk berkomunikasi, meminta masukan, menghormati pandangan pasangan, dan mengambil keputusan yang terbaik.

(Direktorat bina KUA dan keluarga sakinah, 2017 : 26-27)

F. Ciri-ciri Keluarga Sakinah

Masyarakat indonesia mempunyai istilah yang beragam terkait dengan keluarga yang ideal. Ada yang menggunakan istilah keluarga sakinah, keluarga sakinah mawaddah warahmah (keluarga samara), keluarga sakinah mawaddah warahmah dan berkah, keluarga maslahah, keluarga sejahtera, dan lain-lain. Semua konsep keluarga ideal dengan nama yang berbeda ini sama- sama mensyaratkan terpenuhinya kebutuhan batiniyah dan lahiriyah dengan baik. Berikut ini disajikan tiga pendapat tentang ciri-ciri keluarga yang ideal tersebut.

Pertama, ada yang berpendapat bahwa ciri keluarga sakinah mencakup hal-hal sebagai berikut:

 Berdiri di atas fondasi keimanan yang kokoh

 Menunaikan misi ibadah dalam kehidupan

 Mentaati ajaran agama

 Saling mencintai dan menyayangi

 Saling menjaga dan menguatkan dalam kebaikan

 Saling memberikan yang terbaik untuk pasangan

 Musyawarah menyelesaikan permasalahan

 Membagi peran secara berkeadilan

 Kompak mendidik anak-anak

 Berkontribusi untuk kebaikan masyarakat, bangsa, dan negara

Kedua, Organisasi Muhammadiyah menggunakan istilah keluarga sakinah yang dipahami sebagai keluarga yang setiap anggotanya senantiasa mengembangakan kemampuan dasar fitrah kemanusiaanya, dalam rangka menjadikan dirinya sendiri sebagai manusia yang memiliki tanggung jawab

(18)

atas kesejahteraan sesama manusia dan alam, sehingga anggota keluarga tersebut selalu merasa aman, tentram, damai, dan bahagia. Lima cirinya adalah sebagai berikut:

a) Kekuatan/kekuasaan dan keintiman (power and intimacy). Suami dan istri memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Ini adalah dasar penting untuk kedekatan hubungan.

b) Kejujuran dan kebebasan berpendapat (honesty and freedom of expression). Setiap anggota keluarga bebas mengeluarkan pendapat, termasuk pendapat yang berbeda-beda. Walaupun berbeda pendapat tetap diperlakukan sama.

c) Kehangatan, kegembiraan, dan humor (warmth, joy and humor). Ketika kegembiraan dan humor hadir dalam hubungan keluarga, setiap anggota keluarga akan merasakan kenyamanan dalam berinteraksi. Keceriaan dan rasa saling percaya di antara seluruh komponen keluarga merupakan sumber penting kebahagiaan rumah tangga.

d) Keterampilan organisasi dan negosiasi (organization and negotiating).

Mengatur berbagai tugas dan melakukan negosiasi (bermusyawara) ketika terdapat bermacam-macam perbedaan pandangan mengenai banyak hal untuk dicarikan solusi terbaik.

e) Sistem nilai (value system) yang menjadi pegangan bersama. Nilai moral keagamaan yang dijadikan sebagai pedoman seluruh komponen keluarga merupakan acuan pokok dalam melihat dan memahami realitas kehidupan serta sebagai rambu-rambu dalam mengambil keputusan.

Ketiga, Nahdlatul Ulama menggunakan istilah keluarga maslahah (Mashalihul Usrah), yaitu keluarga yang dalam hubungan suami-istri dan orang tua-anak menerapkan prinsip-prinsip keadilan (i’tidal), keseimbangan (tawazzun), moderat (tawasuth), toleransi (tasamuh) dan amar ma’ruf nahi munkar; berakhak karimah; sakinah mawaddah wa rahmah; sejahtera lahir batin, serta berperan aktif mengupayakan kemaslahatan lingkungan sosial dan alam sebagai perwujudan islam rahmatan lil‟alamin.

Keluarga Maslahah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

(19)

1) Suami dan istri yang saleh, yakni bisa mendatangkan manfaat dan faedah bagi dirinya, anak-anaknya, dan lingkunagannya sehingga darinya tercermin prilaku dan perbuatan yang bisa menjadi teladan (uswatun hasanah) bagi anak-anaknya maupun orang lain,

2) Anak-anaknya baik (abrar), dalam arti berkualitas, berakhlak mulia, sehat ruhani dan jasmani, produktif dan kreatif sehingga pada saatnya dapat hidup mandiri dan tidak menjadi beban orang lain atau masyarakat,

3) Pergaulanya baik, maksudnya pergaulan anggota keluarga itu terarah, mengenal lingkungan yang baik, dan bertetangga dengan baik tanpa mnegorbankan prinsip dan pendirian hidupnya,

4) Berkecukupan rizki (sandang, pangan, dan papan). Tidak harus kaya atau berlimpah harta, yang penting bisa membiayai hidup dan kehidupan keluarganya, drai kebutuhan sandang, pangan, dan papan, biaya pendidikan dan ibadahnya. (Subdit Bina Keluarga Sakinah Direktorat Bina KUA & Keluarga Sakinah Ditjen Bimas Kemeg RI, 2017 : 12-14)

G. Upaya Membina Keluarga Sakinah

Setelah suami istri memahami hak dan kewajibannya, kedua belah pihak masih harus melakukan berbagai upaya yang dapat mendorong ke arah tercapainya cita-citan mewjudkan keluarga sakinah. Secara singkat dapat dikemukakan di sini beberapa upaya yang perlu ditempuh guna mewujudkan cita-cita kearah tercapainya cita-cita keluarga sakinah. Upaya tersebut antara lain:

a. Mewujudkan Harmonisasi Hubungan antara Suami Istri

Upaya mewujudkan harmonisasi hubungan suami istri dapat dicapai antara lain melalui:

1) Adanya saling pengertian

Di antara suami istri hendaknya saling memahami dan mengerti tentang keadaan masing-masing, baik secara fisik maupun secara mental. Perlu diketahui bahwa suami istri sebagai manusia, masing- masing memiliki kelebihan dan kekurangannya.

(20)

2) Saling menerima kenyataan

Suami istri hendaknya sadar bahwa jodoh, rezeki dan mati itu dalam kekuasaan allah, tidak dapat dirumuskan secara matematis. Namun kepada kita manusia diperintahkan untuk melakukan ikhtiar.

3) Saling melakukan penyesuaian diri

Penyesuaian diri dalam keluarga berarti setiap anggota keluarga berusaha untuk dapat saling mengisi kekurangan yang ada pada dri masing-masing serta mau menerima dan mengakui kelebihan yang ada pada orang lain dalam lingkungan keluarga.

4) Memupuk rasa cinta

Setiap pasangan suami istri menginginkan hidup bahagia. Kebahagiaan hidup adalah bersifat relatif sesuai dengan cita rasa dan keperluanya.

5) Melaksanakan asas musyawarah

Dalam kehidupan berkeluarga, sikap bermusyawara, terutama antara suami dan istri merupakan sesuatu yang perlu diterapkan. Hal tersebut sesuai dengan prinsip bahwa tak ada masalah yang tidak dapat dipecahkan selama prinsip musyawara diamalkan.

6) Suka memaafkan

Diantara suami istri harus ada sikap kesediaan untuk saling memaafkan atas kesalahan masing-masing.

7) Berperan-serta untuk kemajuan bersama

Masing-masing suami istri harus berusaha saling membatu pada setiap usaha untuk peningkatan dan kemajuan bersama yang pada giliranya menjadi kebahagiaan keluarga.

b. Membina Hubungan antara Anggota Keluarga dan Lingkungan Keluarga dalam lingkupyang lebih besar tidak hanya terdiri dari ayah, ibu dan anak akan tetapi tetap menyangkut hubungan persaudaraan yang lebih besar lagi, baik hubungan antara anggota kleuarga maupun hubungan dengan lingkungan masyarakat.

a) Hubungan Antara Anggota Keluarga

Karena hubungan persaudaraan yang lebih luas menjadi ciri dari masyarakat kita, hubungan antara bersama keluarga besar harus terjalin

(21)

dengan baik antara keluarga dari kedua belah pihak. Suami harus baik dengan pihak keluarga istri, demikian juga istri harus baik dengan keluarga pihak suami.

b) Hubungan Dengan Tetangga dan Masyarakat

Tetangga merupakan orang-orang yang terdekat yang umumnya merekalah orang-orang yang pertama tahu dan dimintai pertolongan.

Begitu pentingnya hubungan baik dengan semua pihak, karena pada dasarnya manusia itu saling membutuhkan dan kebutuhan-kebutuhan seorang merupakan tingkatan dan mata rantai yang semakin memanjang.

c. Melaksanakan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga

Dalam membina kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga ada beberapa upaya yang dapat ditempuh, antara lain dengan cara melakukan:

1. Sepuluh Program Pokok Pembinaan Kesejahteraan Keluarga:

 Penghayatan dan Pengalaman Pancasila

 Sandang

 Pangan

 Perumahan dan tata laksana rumah tangga

 Pendidikan dan keterampilan

 Kesehatan

 Mengembangkan kehidupan berkoperasi

 Kelestarian lingkungan hidup

 Perencanaan sehat 2. Keluarga Berencana

Keluarga berencana merupakan salah satu upaya mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga. Tujuan utama dari KB adalah untuk lebih meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak.

3. Usaha Perbaikan Gizi Keluarga

Dalam upaya mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga, gizi memegang peranan yang sangat penting. Sehubungan dengan itu, Islam mengajarkan kepada umatnya agar dapat mewariskan keturunan

(22)

yang baik dan menjaga kesehatan tubuh dengan memakan makanan yang halal.

d. Membina Kehidupan Beragama Dalam Keluarga

Setiap anggota keluarga, terutama orang dituntut untuk senantiasa bersikap dan berbuat sesuai garis-garis yang diterapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian diharapkan setiap anggota keluarga memiliki sifat dan budi pekerti yang luhur yang sangat diperlukan dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan diamalkan dalam kaitanya dengan pembinaan kehidupan beragama dalam keluarga, antara lain:

 Melaksanakan shalat lima waktu dan membiasakan shalat berjamaah dalam keluarga atau mengajak keluarga mengikuti shalat berjamaah di masjid

 Membiasakan berzikir (mengingat) dan berdoa kepada allah dalam keadaan suka dan duka

 Membudayakan ucapan atau kalimat thoyyibah

 Membiasakan mengucapkan salam dan menjawabnya

 Jika terjadi perselisihan antara suami istri atau anggota keluarga, segeralah mengambil air wudhu dan beribadah (shalat atau membaca Al-quran)

 Menghiasi rumah dengan hiasan yang bernafaskan islam

 Berpakaian yang sopan sesuai dengan ketentuan islam

(Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji, 2003: 25-48)

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini disebabkan ketidaktahuan masyarakat terhadap pentingnya hidup bersih dan sehat, yang tercermin dari perilaku masyarakat yang hingga sekarang masih banyak yang buang

• Menyanyikan lagu dengan kosakata sesuai tema (irama lagu Apuse) Tugas individu Bentuk : membaca nyaring Tes praktik Buku gambar, kaset, yang memuat tentang tema

Hasil penelitian ini dapat memperluas dan memperkuat teori manajemen sumber daya manusia khususnya tentang bahasan analisis penerapan talent management dan

Truk dengan kereta gandengan dan truk dengan kereta tempelan juga mempunyai kelemahan dalam melihat kaca sepion terutama pada saat membelok,

Tujuan penelitian adalah mendapatkan dan membandingkan kemampuan beban maksimum, defleksi dan kapasitas lentur yang terjadi pada balok beton normal (BN-1),

Pada Gambar 8 terlihat ada tiga variasi pengukuran kecepatan linier solution shaker yaitu pengukuran kecepatan ketika tanpa beban, pengukuran kecepatan dengan beban 50 g dan

Tradisi bapenteh yang dilakukan oleh masyarakat Hiang merupakan representasi pola bagi (pattern of) sebagai wujud dari tindakan yang dilakukan ketika hendak

Harga sahamnya diperkirakan berpeluang ditransaksikan dengan rata-rata PE 17x dalam kondisi pasar bullish atau mencapai Rp9528 untuk setahun ke depan atau punya