• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Faktor Yang Dapat Menyebabkan Terjadinya Technostress pada Karyawan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Analisis Faktor Yang Dapat Menyebabkan Terjadinya Technostress pada Karyawan"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Fakultas Ilmu Komputer

Universitas Brawijaya 633

Analisis Faktor Yang Dapat Menyebabkan Terjadinya Technostress pada Karyawan

Rahadian Fitra Syakura1, Diah Priharsari2, Andi Reza Perdanakusuma3 Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya Email: 1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]

Abstrak

Technostress adalah salah satu efek negatif yang dialami oleh individu dikarenakan penggunaan teknologi dan didefinisikan sebagai penyakit adaptasi modern yang disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mengatasi teknologi komputer baru dengan cara yang sehat. Efek negatif penggunaan teknologi ini juga dirasakan oleh karyawan yang disebabkan oleh penggunaannya bertambah dikarenakan adanya pandemi Covid-19. Pekerja yang seharusnya datang ke kantor dan bertemu dengan rekan kerja, diharuskan mengkonversi seluruh kegiatannya melalui perangkat lunak komunikasi. Penggunaan teknologi sangat dibutuhkan untuk menunjang pekerjaan di masa pandemi seperti saat ini, akan tetapi kecenderungan ini menjadi hal baru yang dilakukan bagi beberapa orang. Apabila karyawan mengalami technostress maka kinerjanya akan menurun dan karyawan tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang dapat menyebabkan technostress pada karyawan dan cara mengurangi technostress dari sisi individu karyawan.

Pengumpulan data dilakukan secara kualitatif kepada karyawan suatu organisasi dengan melakukan wawancara semi terstruktur. Data yang diperoleh dari hasil wawancara dianalisis menggunakan metode analisis tematik. Hasil dari penelitian ini karyawan suatu organisasi mengalami lima faktor technostress.

Penelitian ini juga membahas terkait cara individu mengatasi technostress pada karyawan, yaitu efikasi diri dan mindfulness.

Kata kunci: Karyawan, Technostress, Analisis Tematik, Efikasi Diri, Mindfulness Abstract

Technostress is one of the negative effects experienced by individuals due to the use of technology defined as a disease of modern adaptation caused by the inability to cope with new computer technology healthily. The negative effects of the use of this technology are also felt by employees caused by the use of information technology well and its use is increasing due to the Covid-19 pandemic. Workers who are supposed to come to the office and meet with colleagues are required to convert all their activities through communication software. The use of technology is needed to support work during the current pandemic, but this trend is becoming a new thing for some people. If employees experience technostress, their performance will decrease and employees cannot complete their work well. The Study objectives were to know the factors that can cause technostress in employees and how to reduce technostress from the individual side of the employee. Data collection is done qualitatively to employees of an organization by conducting semi-structured interviews. Data obtained from interview results are analyzed using thematic analysis methods. There are six stages in thematic analysis, including understanding data, data coding, finding themes, reviewing themes, defining and naming themes, and creating analytical results.

The results of this study of employees of an organization experienced five technostress factors. The study also discusses how individuals deal with technostress in employees, namely self-efficacy and mindfulness.

Keywords: Employee, Technostress, Thematic Analysis, Self-Efficacy, Mindfulness

1. PENDAHULUAN

Corona Virus Disease 2019 atau COVID-

19 adalah virus yang dapat menyebabkan infeksi pada sistem pernafasan manusia. Sebagai salah satu cara mengurangi penyebaran COVID-19,

(2)

pemerintah menerapkan aturan pembatasan sosial yang mengakibatkan perubahan secara besar dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Melakukan pekerjaan dari rumah menjadi sebuah kebiasaan baru sebagai salah satu cara mengurangi penyebaran COVID-19 (Khuzaini

& Zamrudi, 2021).

Penggunaan teknologi sangat dibutuhkan untuk menunjang pekerjaan di masa pandemi seperti saat ini, akan tetapi kecenderungan ini menjadi hal baru yang dilakukan bagi beberapa orang. Diperlukan adaptasi oleh karyawan sebagai penunjang kinerja dan mempermudah akses dalam informasi terbaru. Penggunaan teknologi memiliki dampak positif dan negatif.

Dampak positif yang ditimbulkan berupa kemudahan akses informasi, sedangkan dampak negatif yang didapatkan berupa terhambatnya kinerja karena membutuhkan waktu untuk beradaptasi ketika menggunakan teknologi secara jarak jauh (Purnama, 2020).

Penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari berupa telepon cerdas dan komputer dapat menimbulkan kecemasan secara berlebihan yang disebabkan oleh berbagai faktor (Sholikhah, 2015). Salah satu faktor yang menyebabkan kecemasan secara berlebihan adalah bertambahnya beban kerja yang diterima karyawan secara terus menerus dalam satu waktu (Ahmad dan Ismail, 2009).

Kecemasan yang dirasakan secara berlebihan dapat menimbulkan stres, beberapa fenomena terjadi dikarenakan pengaruh penggunaan teknologi dikenal dengan technostress. Technostress adalah jenis stres yang disebabkan oleh tuntutan secara terus menerus dalam penggunaan teknologi yang mengakibatkan gangguan fisik maupun psikologi seseorang (Suryanto, 2017).

Salah satu cara untuk mengurangi kecemasan dan stres yang dialami oleh karyawan yaitu dengan menerapkan efikasi diri serta mindfulness. Efikasi diri adalah keyakinan individu dalam beradaptasi pada tantangan baru yang sedang dihadapi (Badura, 1997 dalam Cattelino dkk., 2021). Ketika karyawan mengalami penurunan efikasi diri, akan mudah mengalami putus asa dan kurangnya rasa percaya diri (Heslin dkk., 2006). Sedangkan pengertian mindfulness adalah suatu kondisi dimana individu memusatkan segala perhatian hanya pada satu titik fokus tanpa menghakimi dan menerima keadaan yang sedang dialami (Kabat-Zinn, 2013). Peran mindfulness dalam

penelitian Grossman dkk., (2004) yang menyatakan pelatihan mindfulness dapat membantu seseorang menghadapi stres dan penyakit kronis.

Setiap individu karyawan mengalami gejala technostress yang berbeda-beda, bergantung pada permasalahan yang sedang dihadapi. Oleh karena itu penelitian ini akan menghasilkan model secara utuh untuk menanggulangi technostress yang dialami individu dikarenakan beberapa faktor. Individu akan dibagi menjadi dua kelompok yaitu mindfulness dan efikasi diri melalui wawancara individu.

2. LANDASAN KEPUSTAKAAN

Penelitian pertama yang menjadi acuan penelitian ini berjudul “The effects of the technostress within the context of employee use of ICT” (Anna Mette Fuglseth dan Øystein Sørebø, 2014). Penelitian ini dipilih karena memiliki kesamaan topik yang membahas tentang technostress yang dialami oleh karyawan. Hasil pada penelitian ini ditunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang menyebabkan dan menghambat technostress mempengaruhi kepuasan karyawan dengan penggunaan TIK dan niat karyawan untuk memperluas penggunaan TIK.

Selanjutnya, penelitian oleh Jichang Ma dkk. (2021) dengan judul “The Impact of thecno- stressors on work-life balance: The moderation of job self-efficacy and the mediation of emotional exhaustion”. Penelitian ini dipilih karena menunjukkan bahwa efikasi diri karyawan dalam menyelesaikan pekerjaannya dapat mengurangi dampak negatif dari technostress. Selain itu penelitian ini juga menjelaskan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya technostress pada karyawan.

Pengambilan data penelitian ini menggunakan wawancara semi terstruktur.

Wawancara semistruktur (semistructured interview) adalah wawancara secara terbuka untuk mendapatkan suatu permasalahan dan meminta pendapat dan ide lainnya diluar dari pedoman wawancara yang telah dibuat. Pada wawancara tidak terstruktur, penyusunan pertanyaan dapat dilakukan modifikasi menyesuaikan jawaban dari narasumber ketika sedang dilakukan wawancara (Hikmawati, 2018 dalam Purnama, 2020). Teknik analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis

(3)

tematik. analisis tematik adalah sebuah metode yang digunakan untuk mengidentifikasi, menganalisis, serta melaporkan tema atau pola yang ada dalam data (Braun & Clarke, 2006).

Dalam proses analisis, peneliti melakukan proses coding. Coding adalah proses mengubah data wawancara, foto, video, maupun dokumen pengamatan ke dalam bentuk teks atau biasa disebut proses transkripsi, kemudian teks tersebut dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan persamaannya (Priharsari & Indah, 2021).

3. METODOLOGI

Gambar 1. Metodologi Penelitian

Tahap pertama yang dilakukan pada penelitian ini adalah identifikasi permasalahan yang sedang terjadi. Kedua, akan dilakukan studi literatur untuk menyelesaikan permasalahan yang ada melalui media buku, jurnal, serta penelitian terdahulu. Ketiga, melakukan penyusunan instrumen penelitian yang digunakan dalam mengumpulkan data penelitian berupa penyusunan kualitas penelitian, penentuan narasumber dan penyusunan pedoman wawancara. Keempat, melakukan pengumpulan data penelitian dengan menggunakan metode wawancara terhadap narasumber. Hasil wawancara yang sebelumnya telah dilakukan akan diubah menjadi transkrip wawancara menggunakan coding. Tahap terakhir dari penelitian yang telah dilakukan adalah membuat kesimpulan serta memberikan saran berdasarkan hasil analisis data penelitian.

Harapannya kesimpulan dan saran yang dihasilkan pada penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk dilakukannya penelitian lebih lanjut.

4. ANALISIS DATA 4.1. Data Narasumber

Pengambilan data kualitatif diakukan melalui wawancara kualitatif semi terstruktur.

Narasumber dalam penelitian ini adalah karyawan yang bekerja pada suatu organisasi dan mengalami technostress. Penentuan jumlah narasumber berdasarkan kejenuhan data, tingkat kejenuhan ini diukur melalui tidak adanya wawasan baru dari narasumber (Priharsari, 2019). Oleh karena itu, pengambilan data yang dilaksanakan melalui wawancara semi terstruktur melibatkan 6 karyawan yang bersedia menjadi narasumber.

Durasi pelaksanaan wawancara berlangsung selama 20 – 40 menit dengan rata- rata waktu 29 menit. Narasumber berasal dari karyawan yang bidang pekerjaannya berhubungan dengan teknologi pada berbagai organisasi di Indonesia. Hasil rekaman yang telah didapatkan dari kegiatan wawancara dengan narasumber dilakukan transkrip setiap kata untuk diubah dalam bentuk teks kemudian dilakukan pengolahan data.

4.2. Hasil Analisis

Tahap analisis data dilakukan berdasarkan tahapan analisis tematik yang berisikan pemahaman terhadap data, pengkodean data, pencarian tema, peninjauan tema, mendefinisikan dan memberi nama tema, serta pembuatan hasil analisis. Dalam proses analisis tematik, peneliti melakukan penyusunan beberapa kode ke dalam satu kategori dan tema yang diperoleh dari data hasil wawancara dengan narasumber (Braun & Clarke, 2006).

Hasil analisis sudah memenuhi kualitas penelitian kualitatif yang berkaitan dengan kebenaran hasilnya. Kualitas penelitian ini memiliki nilai truth value dan dependability &

confirmatory.

(4)

5. PEMBAHASAN

Gambar 2. Temuan Penelitian

Peneliti mendapatkan dua tema utama yaitu faktor technostress dan keterkaitan individu dalam mengurangi technostress. Kedua tema utama ini memiliki beberapa kategori dan kode yang memuat beberapa kode sebagai hasil temuan penelitian. Temuan dari analisis tematik dapat membantu mengidentifikasi faktor terjadinya technostress dan cara mengatasi technostress pada karyawan.

Pada tema faktor technostress ditemukan lima kategori. Kategori pertama adalah techno- overload dengan total dua kode yaitu mengikuti orang yang memimpin dan beban kerja meningkat. Kategori kedua adalah techno- invasion dengan total tiga kode yaitu kelelahan, tuntutan pekerjaan, dan meeting tiba-tiba.

Kategori ketiga adalah techno-complexity dengan total tiga kode yaitu fitur yang membingungkan, waktu belajar kurang, dan pemahaman. Kategori keempat adalah techno- insecurity dengan total satu kode yaitu takut tergantikan. Kategori yang kelima adalah techno-uncertainty dengan dua kode yaitu perkembangan teknologi dan teknologi kurang mendukung.

Kemudian pada tema keterkaitan individu dalam mengurangi technostress ditemukan dua kategori. Kategori pertama adalah efikasi diri mempengaruhi technostress dengan total empat kode yaitu pengetahuan tentang teknologi, percaya diri, sesuai dengan bidang, dan keinginan untuk belajar. Kategori kedua adalah mindfulness mempengaruhi technostress dengan total tiga kode yaitu menyediakan alternative, pembagian waktu, dan prioritas pekerjaan.

6. KESIMPULAN DAN SARAN

Penelitian analisis faktor yang dapat

karyawan menggunakan metode wawancara semi terstruktur dan analisis tematik. Penelitian ini mendapati faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya technostress pada karyawan dan keterkaitan individu dalam mengurangi terjadinya technostress pada karyawan.

Saran untuk penelitian selanjutnya dengan topik sejenis dapat dikembangkan menggunakan metode penelitian yang lain, misalnya seperti melakukan observasi secara langsung kepada narasumber untuk mengumpulkan data penelitian. Penelitian ini dapat digunakan sebagai pembelajaran serta referensi bagi karyawan agar tidak mengalami technostress dikarenakan penggunaan teknologi secara berlebihan saat menyelesaikan pekerjaannya.

7. DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, U. N. U., Amin, S. M., & Ismail, W. K.

W. (2009). The impact of technostress on organisational commitment among Malaysian academic librarians. Singapore Journal of Library & Information Management, 38.

Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative research in psychology, 3(2), 77-101.

Cattelino, E., Testa, S., Calandri, E., Fedi, A., Gattino, S., Graziano, F., ... & Begotti, T.

(2021). Self-efficacy, subjective well- being and positive coping in adolescents with regard to Covid-19 lockdown.

Current Psychology, 1-12.

Fuglseth, A. M., & Sørebø, Ø. (2014). The effects of technostress within the context of employee use of ICT. Computers in Human Behavior, 40, 161-170.

Grossman, P., Niemann, L., Schmidt, S., &

Walach, H. (2004). Mindfulness-based stress reduction and health benefits: A meta-analysis. Journal of psychosomatic research, 57(1), 35-43.

Heslin, P. A., & Klehe, U. C. (2006). Self- efficacy. Encyclopedia Of Industrial/Organizational Psychology, SG Rogelberg, ed, 2, 705-708.

Kabat-Zinn, J., & Zinn, J. K. (2013).

Mindfulness meditation in everyday life.

BettterListen! LLC.

(5)

Technostress among marketing employee during the COVID-19 pandemic:

Exploring the role of technology usability and presenteeism. JEMA: Jurnal Ilmiah Bidang Akuntansi dan Manajemen, 18(1), 36-60.

Priharsari, D. (2019). Value Co-Creation in Firm Sponsored Online Communities of Interest: Enablers, Constraints, and Shaper. Doctoral Dissertation, 79.

Priharsari, D., & Indah, R. (2021). Coding untuk menganalisis data pada penelitian kualitatif di bidang kesehatan. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, 21(2).

Purnama, P. (2020). Analisis Gejala Technostress pada Pustakawan dalam Penggunaan Teknologi di Perpustakaan Utsman Bin Affan Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar).

Sholikhah, Aswi Malik. "Analisis gejala technostress pada pustakawan".

Yogyakarta: Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Jurnal Fihris 10, No.2: h. 27-40. 2015.

Suryanto, dan Twista Rama Sasi. (2017).

Technostress: Pengertian, Penyebab dan Koping Pustakawan. Pustabiblia: Journal of Library and Information Science.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Praktik Pengalaman Lapangan meliputi semua kegiatan kurikuler yang harus dilakukan oleh mahasiswa praktikan, sabagai pelatihan untuk menerapkan teori yang diperoleh

Berdasarkan hasil penelitian ini ternyata hara N, P, K, dan bahan organik menjadi pembatas pertumbuhan tanaman jagung di tanah Inceptisols dari Sukabumi karena kadar

[r]

Berdasarkan Surat Penetapan Penyedia Nomor :09a/PPBJ-PngL/BAPPEDA/2012 tanggal 04 Juli 2012, dengan ini kami mengumumkan penyedia barang dengan pengadaan langsung

Misi penting dari inisiatif Nabi membuat Piagam Madinah adalah satu sisi Nabi berhasil menyatukan penduduk Madinah dalam perjanjian damai, sedang sisi lain menguntungkan Nabi

Model Komponen Adaptif Pencapaian dari gameplay akan menjadi ukuran yang digunakan oleh komponen adaptif dalam melakukan penyesuaian aktivitas pembelajaran dan skenario

32 Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Desember 2012 Di samping isu kerja sama FTA, para Menteri Ekonomi ASEAN dan India sepakat untuk meningkatkan hubungan kemitraan strategis