• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Jaminan

1. Pengertian Jaminan secara umum

Istilah jaminan berasal dari Bahasa Belanda yaitu “zekerheid” atau

“cautie” yang secara umum merupaka cara-cara kreditur menjamin dipenuhinya tagihannya, disamping pertanggungan jawab umum debitur terhadap barangnya. Pengertian jaminan terdapat dalam SK Direksi Bank No.

23/69/KEP/DIR tanggal 28 februari 1991, yaitu: “suatu keyakinan kreditur bank atas kesanggupan debitur untuk melunasi kredit seusai yang diperjanjikan”. Sedangkan pengertian agunan diatur dalam pasal 1 angka 23 UU No. 10 Tahun 1998 tentang jaminan yaitu: “jaminan pokok yang diserahkan debitur dalam rangka pemberian fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia”.1 Jaminan atau agaunan merupakan aset pihak peminjam yang dijanjikan kepada pemberi jaminan jika peminjam tidak dapat mengembalikan pinjaman tersebut. Jika peminjam gagal membayar, pihak pemberi peminjam dapat memiliki agunan tersebut. Dalam pemeringkatan kredit, jaminan sering menjadi faktor penting untuk meningkatkan nilai kredit perseorangan ataupun perusahaan. Bahkan dalam perjanjian kredit gadai, jaminan merupakan satu- satunya faktor yang dinilai dalam menentukan besarnya pinjaman.2

Selain istilah jaminan,3 dikenal juga dengan agunan. Istilah agunan dapat dibaca di dalam pasal 1 angka 23 Undang-undang nomor 10 tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-undang nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan. Agunan adalah “Jaminan tambahan diserakan nasabah debitur kepada bank dalam rangka mendapatkan fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah”.

1 Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, (Jakarta; Rajawali Pers, 2013), 78

2 Rahmadi Usman, Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia, (Jakarta: PT.

Gramedia Pustaka Utama, 2003), 53

3 Rizky Subekti, Hukum Perjanjian, Jakarta;internusa, 1990), 49

(2)

Jaminan secara umum berfungsi sebagai jaminan pelunasan kredit/pembiayaan. Jaminan kredit/pembiayaan berupa watak, kemampuan modal, dan prospek usaha yang dimiliki debitur maupun, modal, dan prospek usaha yang dimiliki debitur merupakan jaminan immateril yang berfungsi sebagai first way out.4

Agunan dalam kontruksi ini merupakan jaminan tambahan (accesoir).

Tujuan agunan adalah untuk mendapatkan fasilitas dari bank. Jaminan ini dserahkan oleh debitur kepada bank.Unsur-unsur agunan, yaitu:

a) Jaminan tambahan;

b) Diserahkan oleh debitur kepada bank

c) Untuk mendapatkan fasilitas kredit atau pembiayaan

Di dalam sumber Badan Pembinaan Hukum Nasional yang diselanggarakan di Yogyakarta, dari tanggal 20 s.d. 30 juli 1977 disimpulkan pengertian jaminan. Jaminan adalah “Menjamin dipenuhinya kewajiban yang dapat dinilai dengan uang yang timbul dari suatu perikatan hukum. Oleh karena itu, hukum jaminan erat sekali dengan hukum benda”.

Kontruksi jaminan dalam definisi ini ada kesamaan dengan yang dikemukakan Hartono Hadisoeparto dan M. Bahsan. Hartono Hadisoeprapto5 berpendapat bahwa jaminan adalah “sesuatu yang diberikan kepada kreditur untuk menimbulkan keyakinan bahwa debitur akan memenuhi kewajiban yang dapat dinilai dengan uang yang timbul dari suatu perikatan”.

Kedua definisi jaminan yang dipaparkan di atas, adalah:

1. Difokuskan pada pemenuhan kewajiban kepada kreditor (bank) 2. Ujudnya jaminan ini dapat dinilai dengan uang (jaminan

materil)

3. Timbulnya jaminan karena adanya perikatan antara kreditor dengan debitur.

4 Salim Haris, Perkembangan Hukum Jaminan di Indoesia, (Jakarta; Rajawali Pers, 2014), 78

5 Tan Kamelo, Hukum Jaminan dalam Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, (Bandung: PT.Alumni, 2004), 43

(3)

Istilah yang digunakan M. Bahsan6 adalah jaminan. Ia berpendapat bahwa jaminan adalah “Segala sesuatu yang diterima kreditur dan diserahkan debitur untuk menjamin suatu utang piutang dalam masyarakat”.

Alasan digunakan istilah jaminan karena:

1. Telah lazim digunakan dalam bidang ilmu Hukum dalam hal ini berkaitan dengan penyebutan-penyebutan, seperti hukum jaminan, lembaga jaminan kebendaan, jaminan perorangan, hak jaminan, dan sebagainya.

2. Telah digunakan dalam beberapa peraturan perundang-undangan tentang lembaga jaminan, seperti yang tercantum dalam Undang- undang Hak tanggungan dan jaminan Fidusia.

Pada prinsipnya penulis sepakat dengan apa yang dikemukakan oleh M.Bahsan, bahwa istilah yang lazim digunakan dalam kajian teoritis adalah jaminan. Istilah jaminan ini, mencakup jaminan materil dan jaminan perorangan.

2. Jenis-jenis jaminan

Jaminan dapat digolongkan menurut hukum yang berlaku di Indonesia dan yang berlaku di luar Negri. Dalam pasal 24 UU Nomor 14 Tahun 1967 tentang perbankan ditentukan bahwa “Bank dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:7

1. Jaminan materil (kebendaan), yaitu jaminan kebendaan, dan 2. Jaminan imateril (perorangan), yaitu jaminan perorangan.

Jaminan kebendaan mempunyai ciri-ciri “kebendaan” dalam arti memberikan hak mendahului di atas benda-benda tertentu dan mempunyai sifat melekat dan mengikuti benda yang bersangkutan. Sedangkan jaminan perorangan tidak memberikan hak mendahului atas benda-benda tertentu, tetapi hanya dijamin oleh harta kekayaan seseorang lewat orang yang menjamin pemenuhan perikatan yang bersangkutan (Hasil seminar Badan Pembinaan Hukum Nasional yang diselenggarakan di Yogyakarta, dari tanggal 20 sampai

6 Salim Haris, Perkembangan Hukum Jaminan di Indoesia, (Jakarta; Rajawali Pers, 2014), 79

7 Undang-undang Nomor 14 Tahun 1967 (tentang Perbankan), 3

(4)

dengan 30 Juli 1977). Sri Soedewi Masjchoen Sofwan,8 mengemukakan pengertian jaminan materil (kebendaan) dan jaminan perorangan. Jaminan materil adalah:

Jaminan yang berupa hak mutlak atas suatu benda, yang mempunyai ciri-ciri mempunyai hubungan langsung atas benda tertentu, dapat dipertahankan terhadap siapapun selalu mengikuti bendanya dan dapat dialihkan. Sedangkan jaminan materil (perorangan) adalah jaminan yang menimbulkan hubungan langsung pada perorangan tertentu, terhadap harta kekayaan debitur umumnya.9

Dari uraian di atas, maka dapat dikemukakan unsur-unsur yang tercantum pada jaminan materil yaitu:

1. Hak mutlak atas suatu benda

2. Cirinya mempunyai hubungan langsung atas benda tertentu 3. Dapat dipertahankan terhadap siapa pun

4. Dapat dialihkan kepada pihak lainnya Unsur jaminan perorangan, yaitu:

1. Mempunyai hubungan langsung pada orang tertentu 2. Hanya dapat dipertahankan terhadap debitur tertentu; dan 3. Terhadap harta kekayaan debitur umumnya

Jaminan kebendaan dapat digolongkan menjadi 4 macam, yaitu:

1. Gadai (pand), yang diatur di dalam Bab 20 Buk II KUH 2. Hipotek, yang diatur dalam Bab 21 Buku II KUH Perdata

3. Hak tanggungan, sebagaimana yang diatur dalam UU Nomor 4 Tahun 1996

4. Jaminan fidusia, sebagaimana yang diatur di dalam UU Nomor 42 Tahun 1999.

Yang termasuk jaminan perorangan, adalah:

1. Penanggung (borg) adalah orang lain yang dapat ditagih

8 Salim Haris, Perkembangan Hukum Jaminan di Indoesia, (Jakarta; Rajawali Pers, 2014), 80

9 Bambang Rianto Rustam, Manajemen Risikko Perbankan Syariah di Indonesia, Jakarta; Salemba Empat (9 oktober 2016), 32

(5)

2. Tanggung-menanggung, yang serupa dengan tanggung renteng;

dan

3. Perjanjian garansi

Dari kedelapan jenis jaminan di atas, maka yang masih berlaku adalah:

1. Gadai

2. Hak tanggungan 3. Jaminan fidusia

4. Hipotek atas kapal laut dan pesawat udara 5. Borg (Penanggungan)

6. Tanggung-menanggung; dan 7. Perjanjian garansi.10

3. Syarat-syarat dan manfaat benda jaminan

Pada prinsipinya tidak semua benda jaminan dapat dijaminkan pada lembaga perbankan atau lembaga keuangan nonbank, namun benda yang dapat dijaminkan adalah benda-benda yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat- syarat benda jaminan yang baik adalah:

1. Dapat secara mudah membantu perolehan kredit itu oleh pihak yang memerlukannya

2. Tidak melemahkan potensi (kekuatan) si pencari kredit untuk melakukan atau meneruskan usahanya.

3. Memberikan kepastian kepada si kreditur, dalam arti bahwa barang jaminan setiap waktu tersedia untuk dieksekusi, bila perlu dapat mudah diuangkan untuk melunasi hutangnya si penerima (pengambil) kredit.11

Jaminan mempunyai kedudukan dan manfaat yang sangat penting dalam menunjang pembangunan ekonomi. Karena keberadaan lembaga ini dapat memberikan manfaat bagi kreditur dan debitur. Manfaat bagi kreditur adalah:

1. Terujudnya keamanan terhadap transaksi dagang yang ditutup

10 Ikatan Bankir Indonesia, Bisnis Kredit Perbankan, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama 2015), 71-76

11 Ikatan Bankir Indonesia, Manajemen Risiko dan Kredit Bank, (Jakarta; PT gramedia Pustaka Utama, 2016), 67

(6)

2. Memberikan kepastian hukum bagi kreditur.

Bagi debitur dengan adanya benda jaminan itu dapat memperoleh fasilitas kredit dari bank dan tidak khawatir dalam mengembangkanusahanya.

Keamanan modal adalah dimaksudkan bahwa kredit atau modal yang diserahkan oleh kreditur kepada debitur tidak merasa takut atau khwatir tidak dikembalikannya modal tersebut. Memberikan kepastian hukum adalah memberikan kepastian bagi pihak kreditur dan debitur. Kepastian bagi kreditur adalah kepastian untuk menerima pengembalian pokok kredit dan bunga dari debitur. Sedangkan bagi debitur adalah kepastian untuk mengembalikan pokok kredit dan bunga yang ditentukan. Di samping itu, bagi debitur adalah adanya kepastian dalam berusaha. Karena dengan modal yang dimilikinya dapat mengembangkan bisnisnya lebih lanjut.12 Apabila debitur tidak mampu dalam mengembalikan pook kredit dan bunga, bank atau pemilik modal dapat melakukan eksekusi terhadap benda jaminan. Nilai benda jaminan itu biasanya pada saat melakukan taksiran nilainya lebih tinggi jika dibandingkan pokok dan bunga yang tertunggak.13

Namun, dalam kenyataannya seringkali nilai jamiannya lebih rendah dari hutang pokok dan bunga. Sehingga untuk melakukan eksekusi oleh pejabat lelang engalami kesulitan, karena nilai jual benda jaminan dibawah nilai hutang pokok dan bunga. Hutang pokok dan bunga sebanyak Rp 10.000.000, tetapi nilai benda jaminan pada saat lelang sebanyak Rp 5.000.000. apabila terjadi hal seperti itu, maka pejabat lelang melakukan penundaan terhadap eksekusi benda jaminan. Penundaan ini dilakukan sampai barang jaminan sesuai dengan jumlah barang yang seharunys dibayar oleh debitur.14

12 Malayu S.P Hasibun, Dasar-dasar Perbankan, (Jakarta: Bumi Kasara, 2006), 54-55

13 Kasmir, Dasar-dasar Perbankan , (Jakarta; PT Raja Grafindo Persada, 2005), 56

14 Antonio Muhammad Syafi‟i, Bank Syariah dari Teori ke Praktik. (jakarta: Gema Insani. 2001), 98

(7)

4. Sifat perjanjian jaminan

Pada dasarnya perjanjian kebendaan dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu perjanjian pokok dan perjanjian accesoir. Perjanjian pokok merupakan perjanjian untuk mendapatkan fasilitas kredit dari lembaga perbankan atau lembaga keuangan nonbank. Rutten berpendapat bahwa perjanjian pokok adalah perjanjian-perjanjian, yang untuk adanya mempunyai dasar yang mandiri. Contoh perjanjian kredit bank. Kredit adalah15 penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga (Pasal 1 angka 11 Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan). Unsur-unsur kredit, meliputi:16

1. Penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu 2. Didasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam 3. Para pihaknya, yaitu bank dan pihak lain (nasabah)

4. Kewajiban peminjam, yaitu untuk melunasi hutangnya;

5. Jangka waktu; dan 6. Adanya bunga.

Perjanjian accesoir adalah perjanjian yang bersifat tambahan dan dikaitkan dengan perjanjian pokok. Contoh perjanjian accesoir ini adalah perjanjian pembebanan jaminan, seperti perjanjian gadai, tanggungan, dan fidusia. Jadi, sifat perjanjian jaminan adalah perjanjian accesoir yaitu mengikuti perjanjian pokok.17

15 Ikatan Bankir Indonesia, Bisnis Kredit Perbankan, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama 2015), 90

16 Thomas Suyatno, Dasar-dasar Perkreditan edisi ke empat, (Jakarta; PT Gramedia Pustaka Utama), 89

17 Munir Fuady, Hukum Bisnis (Dalam Teori dan Praktek), (Bandung; PT Citra Aditya Bakti 2002), 87

(8)

5. Bentuk dan substansi perjanjian jaminan

Perjanjian pembebanan jaminan dapat dilakukan dalam bentuk lisan dan tertulis. Perjanjian pembebanan dalam bentuk lisan, biasayanya dilakukan dalam kehidupan masyarakat pedesaan, masyarakat yang satu membutuhkan pinjaman uang kepada masyarakat, yang ekonominya lebih tinggi. Biasanya pinjaman itu cukup dilakukan secara lisan. Misalnya, A ingin mendapatkan pinjaman uang dari B, maka A cukup menyerahkan surat tanahnya pada B.

Setelah tanah diserahkan, maka uang pinjaman diserahkan oleh B kepada A.

Sejak terjadinya konsensus kedua belah pihak, maka sejak saat itulah terjadinya perjanjian pembebanan jaminan.18

B. Dasar Hukum Jaminan

Dasar hukum jaminan dalam pemberian kredit adalah pasal 8 ayat (1) UU perbankan yang menyatakan bahwa:

“dalam pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, Bank wajib mempunyai keyakinan berdasarkan analisis yang mendalam atas itikad dan kemampuan serta kesanggupan nasabah debitur untuk melunasi utangnya atau mengembalikan pembiayaan dimaksud sesuai dengan yang diperjanjikan”.

Jaminan pemberian kredit menurut pasal 8 ayat (1) adalah bahwa keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan nasabah debitur untuk melunasi kewajibannya sesuai dengan yang diperjanjikan. Untuk memperoleh keyakinan tersebut, sebelum memberikan kredit, bank harus melakukan penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan dan prospek usaha dari nasabah debitur.19

18 Salim HS, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), 21-30

19 Salim HS, Perkembangan Hukum Jaminan di Indoesia, (Jakarta; Rajawali Pers, 2014), 40-41

(9)

C. Konsep Jaminan Dalam Hukum Ekonomi Syariah

Dalam Hukum Ekonomi Syariah berkaitan dengan jaminan utang dikenal 2 istilah yaitu kafalah dan rahn.

Kafalah adalah jaminan yang diberikan oleh penanggung (kafil) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajibannya pihak kedua atau yang ditanggung (makful‟anhu, ashil).20 Menurut Bank Indonesia, kafalah adalah aad pemberian jaminan (Makful alaih) yang diberikan satu pihak kepada pihak lain dimana pemberi jaminan (kafil) bertanggung jawab atas pembayaran kembali suatu hutang yang menjadi hak penerima jaminan (makful).

Sedangkan Rahn, secara terminologi yaitu “Ja‟lu „Ainin Laha Qimatun maliyah fi Nnadzari al-Syar‟i watsiqatan bidainin bihaitsu yumkinu akhdzu dzalika al-Dain au Akhdzu ba‟dhuhu mintika al-„aini (menjadikan barang yang mempunyai nilai harta menurut ajaran Islam sebagai jaminan utang, hingga orang yang bersangkutan dapat mengambil piutang atau mengambil sebagian manfaat barang itu). Menurut Dewan Syariah Nasional, Rahn yaitu menahan barang sebagai jaminan atas hutang. Sedangkan menurut Bank Indonesia, Rahn adalah akad penyerahan barang/hrta (marhun) dari nasabah (rahin) kepada Bank (murtahin) sebagai jaminan sebagian atau seluruh utang.21

Menurut para ulama kontemporer terkait konsep Hukum ekonomi Syariah kurang lebih ada 6 aspek, yaitu:

1. Shulhu

Menurut Sayyid Sabiq,22 shulhu adalah suatu akad untuk mengakhiri perlawanan/perselisihan antara dua orang yang berlawanan.

Menurut Habsi Al-Shiddieqi, shulhu adalah “akad yang disepakati oleh dua orang yang bertengkar dalam hak untuk melaksanakan sesuatu, dengan akad itu akan dapat hilang perselisihan.”

20 Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, PT Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2006, Jilid 4, 90

21 Faturrahman Djamil, Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah di Bank Syariah, (Jakarta; Sinar Grafika, 2012), 44

22 Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah jilid 2, (Jakarta:Pena Pundi Aksara, 2007), 92

(10)

a. Dasar hukum Shulhu yaitu:

َُأ ٓبَََِٖۡٞيَػ َحبَُْج َلََف ب ٗضاَش ۡػِإ َۡٗأ اًصُ٘شُّ بَِٖي ۡؼَث ٍِِۢ ۡذَفبَخ ٌحَأَش ٍۡٱ ُِِإَٗ

ُِإَٗ ۚ خُّشىٱ ُظُفَّ ۡلۡٱ ِدَشِض ۡدُأَٗ ٞۗ شَۡٞخ ُخۡيُّصىٱَٗ ۚب ٗذۡيُص بََََُْٖۡٞث بَذِي ۡصُٝ

ِجَخ َُُ٘يََ ۡؼَر بََِث َُبَم َ للَّٱ ُِئَف ْاُ٘ق زَرَٗ ْاُِْ٘غ ۡذُر ا ٗشٞ

٨٢١

Artinya :“Dan jika seorang perempuan khawatir suaminya akan nusyuz atau bersikap tidak acuh, maka keduanya dapat mengadakan perdamaian yang sebenarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu memperbaiki (pergaulan dengan istrimu) dan memelihara dirimu (dari nusyuz, sikap tidak acuh dan bertindak tidak adil), maka sesungguhnya Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”(QS.

an-Nisaa: 128)23

بََُٕ َذْدِإ ْذَخَث ُِئف بََََُْٖٞث اُ٘ذِيْص َؤَف اُ٘يَزَزْقا َِٞ ٍِِْ ْؤَُْىا ٍَِِ ُِبَزَفِئ بَط ُاَٗ

اُ٘ذِي ْصَؤَفْرَءبَف ُِئَفِٖ يىا ِشٍَْأ َٚىِإ َء ِٚفَر ٚ زَد ِٚخْجَر ِٚز ىاا ُ٘يِزَقَف اَشْخ ُلاا َٚيَػ َِِٞطِغْقَُْىا ُّتِذُٝ َ للَّب ِّإ اُ٘طِغْقَأَٗ ِهْذَؼْيِثبََََُْْٖٞث

Artinya : “Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”. (QS al-Hujurat [49]:9)24

Hadits Nabi saw

َهبَق َهَبق َحَشَْٝشُٕ ِٜثَأ َِػ ٌصِإ بَج ُخْيُّصىا ٌَ يَعَٗ َِٔٞيَػ ُ اللَّ ٚ يَص ِ للَّ ُلاُ٘عَس

َوَيَد ًَ شَدَْٗأ بًٍاَشَد وَدَأ بًذْيُص هِإ ََِِِْٞيْغَُْىا ََِْٞث

Artinya : “Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda:

Perdamaian itu boleh antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal (HR. Abu Dawud).25

23 Bachtiar Surin, Az-Zikra Terjemah dan Tafsir Al-Qur‟an, (Bandung: Angkasa, 2004), 187

24Ahmad Mustafa Al-Maragi, Terjemah Tafsir Al-Maragi,...199

25Munzier Suprapta, Ilmu Hadits, (Jakarta: Grafindo Persada, 2006), 89

(11)

Yang dimaksud perdamaian atau shulhu disini adalah mengenahi hutang piutang yang rentan dengan perselisihan dan perlu dengan diantisipasi dengan cara perdamaian.

2. Sulhu Ibra‟

Shulhu Ibra yaitu melepaskan sebagian dari apa yang menjadi haknya, shulhu ibra‟ ini tidak terikat oleh akad. Dalam artian suatu cara menyelesaikan masalah hutang dengan melepaskan, mengikhlaskan, atau menghapuskan hutang seseorang oleh pemberi hutang.

3. Tasamuh

Dasar hukumnya adalah hadis Nabi Saw:

ٌَ يَعَٗ ِ اللَّ ٚ يَص ِ اللَّ َه ُْ٘عَس َُأ بَََُْْٖػ ُ اللَّ َِٜضَس ِ اللَّ ِذْجَػ ِِْث ِشِث بَج َِػ

َٚضَزْقاَرِإَٗ َٙشَزْش اَرِإَٗ َعبَث اَرِإ بًذََْع ًوُجس ُ اللَّ ٌَِدَس َهبَق

Artinya : “Dari Jabir bin Abdullah ra bahwa Rasulullah Saw bersabda:

Allah mengasihi orang orang yang bermurah hati ketika menjual, ketika membeli dan ketika menagih hutang )HR Bukhari).26

Dalam hal ini diharapkan pihak yang berpiutang agar memberikan kelonggaran atau bermurah hati dan tidak melakukan pemaksaan ketika melakukan penagihan karena hal inilah sikap luhur yang diajarkan agama Islam yang hendaknya dipraktekkan setiap muslim.

4. Wakalah

Menurut Hasbi Ash-Shiddiqie, wakalah adalah “akad penyerahan kekuasaan dimana pada akad itu seseorang menunjuk orang lain sebagai gantinya untuk bertindak”.

a) Dasar Hukum Wakalah

Ijma ulama membolehkan wakalah karena wakalah dipandang sebagai bentuk tolong menolong atas dasar kebaikan dan takwa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Allah SW berfirman dalam QS. al-Maidah ayat 2:

26 Muhammad Ahmad dan Muhammad Mudzakir, Ilmu Hadits, (Bandung: Pustaka Setia, 2000), 90

(12)

َلاَٗ َٛ ۡذَٖۡىٱ َلاَٗ ًَاَشَذۡىٱ َشٖۡ شىٱ َلاَٗ ِ للَّٱ َشِئٓ َؼَش ْاُّ٘يِذُر َلا ْاٍَُْ٘اَء َِِٝز ىٱ بََُّٖٝؤٓ َٝ

ٌِِّٖۡث س ٍِِّ ٗلَ ۡضَف َُُ٘غَزۡجَٝ ًَاَشَذۡىٱ َذَۡٞجۡىٱ ٍَِِّٞٓاَء ٓ َلاَٗ َذِئ ٓ َيَقۡىٱ اَرِإَٗ ۚبّٗ َ٘ ۡضِسَٗ

ََِش ٌُۡن ٍَِْش ۡجَٝ َلاَٗ ْۚاُٗدبَط ۡصٱَف ٌُۡزۡيَيَد ِذِج ۡغََۡىٱ َِِػ ٌُۡمُّٗذَص َُأ ًٍ َۡ٘ق ُُا َٔ ٔ

ٌِۡثِ ۡلۡٱ َٚيَػ ْاَُّ٘ٗبَؼَر َلاَٗ ٰۖ َٙ٘ۡق زىٱَٗ ِّشِجۡىٱ َٚيَػ ْاَُّ٘ٗبَؼَرَٗ ْْۘاُٗذَز ۡؼَر َُأ ًِاَشَذۡىٱ ْاُ٘ق رٱَٗ ُِۚ َٗ ۡذُؼۡىٱَٗ

ِةبَقِؼۡىٱ ُذِٝذَش َ للَّٱ ُِإ َٰۖ للَّٱ ٢

Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al Maidah [5]:2)27

Sedangkan dasar dalam hadis adalah riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw mewakilkan kepada Abu Rafi‟ dan seorang Anshar untuk mewakili beliau ketika mengawini Maimunah binti Harits.

(HR. Malik)28 5. Kafalah

Menurut Abdul Rahman Ghazaly, kafalah/dhaman adalah transaksi yang menggabungkan dua tanggungan (beban) untuk memenuhi kewajiban baik berupa utang, uang, barang, pekerjaan, maupun badan.

a. Landasan Hukum

ُوَِْد ِٔثَءبَج ََِِىَٗ ِلِيََْىا َع اَُ٘ص ُذِقْفَّ اُ٘ى بَق ٌٌِٞػَص ِِٔث بََّأَٗ ٍشِْٞؼَث

Artinya: “Penyeru-penyeru itu berkata: “Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya”. (QS. Yusuf [12]:72)29

b. Yang harus dipenuhi dalam transaksi kafalah yang harus dipenuhi dalam transaksi kafalah

1) Kafiil, yang dimaksud adalah orang yang berkewajiban melakukan tanggungan makful bihi) orang yang bertindak seagai kafil disyaratkan orang

27 Ahmad Mustafa Al-Maragi, Terjemah Tafsir Al-Maragi,...204

28 Munzier Suprapta, Ilmu Hadits, (Jakarta: Grafindo Persada, 2006), 93

29 Bachtiar Surin, Az-Zikra Terjemah dan Tafsir Al-Qur‟an,...191

(13)

dewasa baligh, berakal, berhak penuh untuk bertindak untuk urusan hartanya, dan rela dengan kafalah.

2) Ashil/makful anhu yaitu orang yang berutang yaitu orang ang di tanggung. Tidak disyaratkan baligh berkala kehadiran dan kerelaan dengan kafalah.

3) Makful anhu yaitu orang yang memberi utang (berpiutang). Disyaratkan dketahui dan dikenal oleh orang yang menjamin. Hal ini supaya lebih udah dan disiplin.

4) Makful bihi yaitu sesuatu yang dijamin berupa orang atau barang atau pekerjaan yang wajib dipenuhi oleh orang yang keadaannya ditanggung.

5) Lafal yaitu lafal yang menunjukkan arti menjamin.

c. Macam-macam kafalah

1) Kafalah Jiwa (Kafalah bi Al-Wajhi) disebut juga jaminan muka,.yaitu keharusan bagi si kafil untuk menghadirkan orang yang ia tanggung kepada orang yang ia janjikan tanggungan (makful lahu/orang yang berpiutang). Kafalah Jiwa (Kafalah bi Al-Wajhi) disebut juga jaminan muka . yaitu keharusan bagi si kafil untuk menghadirkan orang yang ia tanggung kepada orang yang ia janjikan tanggungan (makful lahu/orang yang berpiutang).

2) Kafalah Harta (Kafalah bil Maal) adalah kewajiban yang harus dipenuhi kafil dengan pemenuhan berupa harta.

Dalam Kafalah harta terdapat tiga jenis, yaitu Kafalah bi Al-Dayn, Kafalah dengan penyerahan benda, dan Kafalah dengan „aib. Berikut penjelasannya:

(a) Kafalah bi Al-Dayn adalah kewajiban membayar hutang yang menjadi tanggungan orang lain. Hal ini didasari oleh hdits Nabi yang artinya “Shalatkanlah dia dan saya

(14)

akan membayar hutangnya, Rasulullah kemudian menshalatkannya” (HR Bukhari).30

Disyaratkan dalam utang tersebut sebagai berikut:

1. Hendaknya nilai tang tersebut tetap pada waktu terjadi transaksi jaminan.

2. Barangnya diketahui.

(b) Kafalah dengan menyerahkan materi

Kewajiban menyerahkan benda tertentu yang ada di tangan orang lain, seperti menyerahkan barang jualan kepada pembeli, mengembalikan barang yang dighasab dan sebagainya.

(c) Kafalah dengan aib

Yaitu menjamin barang dikhawatirkan benda yang akan dijual tersebut terdapat masalah atau aib dan cacat (bahaya) karena waktu yang terlalu lama atau karena hal- hal lain.

6. Hiwalah

Hiwalah adalah pemindahan hak berupa utang dari orang yang yang berutang al-Muadin kepada orang lain yang dibebani tanggungan pembayaran utang tersebut.

a) Dasar hukum

Yang menjadi dasar dari akad hiwalah adalah hadits Nabi Muhammad SAW.

َِٜضَس ُحَشَْٝشُٕ ِٚثَأ َِْػ ٌَ يَعَٗ َِْٔٞيَػ ُ اللَّ َه ُ٘عَس َُأ َُْْٔػ ُ اللَّ

ْغَجْزَْٞيَف ٚيٍَ َٚيَػ ٌُْمُذَدَأ َغِجْرُأ َرِئَف ٌٌْيُظ َِّْٜخْىا ُوْطٍَ َهبَق

Artinya : “Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw

bersabda: Penundaan pembayaran utang oleh orang kaya (mampu) merupakan penganiayaan, dan apabila seseorang

30 Nawir Yuslem, Ulumul Hadits, (Jakarta: PT Mutyara Sumber Widya,2000), 89

(15)

diantara kamu utangnya dialihkan kepada orang kaya (mampu) maka hendaklah ia menerimanya.”31

Ajaran Islam yang bersandarkan kepada al-Qur‟an dan Hadis Nabi SAW mengakui kemungkinan terjadinya utang-piutang dalam usaha (muamalah) atau karena kebutuhan mendesak untuk memenuhi kebutuhannya. Allah SWT memerintahkan kita untuk berkomitmen terhadap akad yang sudah disepakati bersama sebagaimana firman-Nya:

ُن َۡٞيَػ َٚي ۡزُٝ بٍَ لاِإ ٌِ َؼَّۡ ۡلۡٱ ُخَََِٖٞث ٌُنَى ۡذ يِدُأ ِۚدُ٘قُؼۡىٱِث ْاُ٘ف َۡٗأ ْآٍَُْ٘اَء َِِٝز ىٱ بََُّٖٝؤٓ َٝ

َش ََۡٞ ٌۡ

ُذِٝشُٝ بٍَ ٌُُن ۡذَٝ َ للَّٱ ُِإ ًٌُٞۗشُد ٌُۡزَّأَٗ ِذۡٞ صىٱ ِّٜيِذٍُ

٨

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu.

Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya."

(QS. al-Maidah: 1)32

Berdasarkan ayat di atas, dapat dipahami bahwa para pihak yang terkait dalam suatu perjanjian (akad) wajib memenuhi klausul-klausul yang telah disepakati dalam perjanjian. Karena itu pihak yang berutang (debitur) wajib memenuhi kewajibannya, yaitu membayar lunas utangnya sebagaimana yang telah disepakati dalam perjanjian (akad) utang piutang yang telah dibuatnya.

Dalam mengatasi kredit macet atau bermasalah, toko bangunan Sumber Makmur Pegandon Kendal melakukan penyelamatan dengan langkah penjadwalan kembali (rescheduling) bagi konsumen yang mengalami penunggakan piutang. Ketika nasabah mengalami ingkar janji phak toko telah melakukan pemberian tangguh untuk konsumen yang menunggak piutang.

Pemberian tangguh itu sesuai dengan firman Allah SWT:

31Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Utsman,Mushtalah Al Hadits, (Yogyakarta:

Media Hidayah, 2011), 87

32Bachtiar Surin, Az-Zikra Terjemah dan Tafsir Al-Qur‟an,...178

(16)

َََُُ٘ي ۡؼَر ٌُۡزُْم ُِإ ٌُۡن ى شَۡٞخ ْاُ٘ق ذَصَر َُأَٗ ٖۚحَشَغٍَۡٞ َٚىِإ ٌحَشِظََْف ٖحَش ۡغُػ ُٗر َُبَم ُِإَٗ

Artinya; “Jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan”. (QS. Al- Baqarah [2]:280)33

Dilihat dari cara yang dilakukan Bank BRI Syariah Kota Cirebon dalam menangani kredit macet, dapat diketahui bahwan penanganan kredit macet di Bank BRI Syariah Kota Cirebon tersebut menggunakan beberapa cara diantaranya memberikan toleransi kepada nasabah, dari pemberian toleransi yang berupa mempertimbangkan komitmen dari nasabah yang akan membayar piutangnya pada hari atau tanggal tertentu, dan dibuktikan dengan ditulis kembali pada nota baru (rescheduling).34 Hal ini sesuai dengan konsep Islam tentang toleransi (tasamuh) sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut ini:

ٌَ يَعَٗ َِْٔٞيَػ ُّوىا وَص ِّوىا َه ُ٘ع َس َُأ َبََُْٖػ ِ اللَّ َِٜضَس ِ اللَّ ِذْجَػ ِِْث ِشِثَبج َِْػ اَرِإَٗ َٙشَزْش اَرِإَٗ َع َبث َرِإ بًذََع ًوُجَس ُ اللَّ ٌَِدَس هَبق

َٚضَزْقا

Artinya : “Dari Jabir bin Abdullah ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: Allah mengasihi orang orang yang bermurah hati ketika menjual, ketika membeli dan ketika menagih hutang (HR Bukhari).35

Kemudian setelah pihak bank memberikan toleransi, tahapan berikutnya yaitu musyawarah. Dalam prakteknya, Bank BRI Syariah Kota Cirebon setelah adanya pemberian toleransi kepada nasabah bermasalah, pihak bank langsung mendatangi pihak yang bermasalah untuk melakukan pembicaraan mengenahi masalah piutang yang tak kunjung dibayarkan. Di dalam pembicaraan tersebut terdapat pihak konsumen dan keluarga lain, biasanya istri konsumen serta pemilik dengan juru tagih dalam hal ini biasanya supir untuk membicarakan bagaimana solusi atas masalah kredit macet tak tertagih yang harus diselesaiakan secepatnya sampai terjadinya kesepakatan antara kedua pihak kemudian ditulis kembali pada nota (reconditioning). hal ini sesuai dengan konsep ekonomi Islam yaitu shulhu,

33 Ahmad Mustafa Al-Maragi, Terjemah Tafsir Al-Maragi,...191

34 Hasil Observasi dari Bapak Muchtadi Refriyanto Selaku Operation Manager Bank BRI Syariah Kantor Cabang Kota Cirebon Pada Pukul 24 Januari Pukul 09:15 WIB

35 Munzier Suprapta, Ilmu Hadits, (Jakarta: Grafindo Persada, 2006), 95

(17)

yaitu suatu akad untuk mengakhiri perlawanan atau perselisihan antara dua orang yang berlawanan Yang di maksud disini adalah akad untuk menyelesaikan suatu masalah utang piutang atau penyelesaian sehingga menjadi perdamaian, dengan cara melakukan shulhu (keringanan) tanpa penyelesaian melalui jalur hukum.36

Selama ini Bank BRI Syariah Kota Cirebon belum sekalipun membawa masalah – malash piutangnya ke dalam jalur hukum.37 Karena menyelesaikan masalah dengan perdamaian itu lebih baik, sesuai dengan firman Allah SWT:

بَذِي ۡصُٝ َُأ ٓبَََِٖۡٞيَػ َحبَُْج َلََف ب ٗضاَش ۡػِإ َۡٗأ اًصُ٘شُّ بَِٖي ۡؼَث ٍِِۢ ۡذَفبَخ ٌحَأَش ٍۡٱ ُِِإَٗ

ُِئَف ْاُ٘ق زَرَٗ ْاُِْ٘غ ۡذُر ُِإَٗ ۚ خُّشىٱ ُظُفَّ ۡلۡٱ ِدَشِض ۡدُأَٗ ٞۗ شَۡٞخ ُخۡيُّصىٱَٗ ۚب ٗذۡيُص بََََُْٖۡٞث ِجَخ َُُ٘يََ ۡؼَر بََِث َُبَم َ للَّٱ ا ٗشٞ

٨٢١

Artinya:“Dan jika seorang perempuan khawatir suaminya akan nusyuz atau bersikap tidak acuh, maka keduanya dapat mengadakan perdamaian yang sebenarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu memperbaiki (pergaulan dengan istrimu) dan memelihara dirimu (dari nusyuz, sikap tidak acuh dan bertindak tidak adil), maka sesungguhnya Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-nisaa:128)38

Kemudian dari syarat dan rukun shulhu, penanganan piutang tak tertagih atau kredit macet yang dilakukan Bank BRI Syariah Kota Cirebon bila dicermati dan diamati juga mengikuti syarat shulhu yaitu:

a) Syarat yang berhubungan dengan mushalih (orang yang berdamai) yaitu pihak bank dan pihak nasabah)

b) Syarat yang berhubungan dengan mushalih bih yaitu objek yang dijadikan jaminan

36 Hasil wawancara dengan Bapak Hendra Gunawan, Financing Support Assistant Manager/Manager BRI Syariah Kantor Cabang kota Cirebon, Wawancara, 19 Januari 2017

37 Hasil wawancara dengan Bapak Uus Kusnawan selaku Micro Karketing Manager Bank BRI Syariah Kantor Cabang Kota Cirebon pada tanggal 22 Januari 2017 Pukul 13:00 WIB

38 Bachtiar Surin, Az-Zikra Terjemah dan Tafsir Al-Qur‟an,...172

(18)

c) Syarat yang berhubungan dengan mushalih „anhu yaitu sesuatu yang diperkirakan termasuk hak manusia yang boleh dijadwalkan (diganti).

Yaitu masalah kredit macet dari nasabah.39 D. Kredit

1. Pengertian Kredit

Kredit berasal dari kata credere yaitu baha italia yang artinya percaya, jadi orang yang mendapat kredit dari bank berarti orang tersebut dipercaya oleh bank untuk mendapat jaminan.

Pengertian kredit, menurut Veithzal Rivai dan Perata Veithzal kredit adalah penyerahan barang, jasa atau uang dari satu pihak (kreditor atau pemberi pinjaman) atas dasar kepercayaan kepada pihak lain (nasabah atau pengutang/ borrower) dengan janji membayar dari penerima krredit kepada pemberi kredit pada tanggal yang telah disepakati kedua belah pihak.

Menurut syamsu Iskandar, kredit merupakan piutang bagi bank atau lembaga keuangan bukan bank, maka pelunasannya merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh debitur terhadap utangnya, sehingga resiko kredit macet dapat dihindarkan.40

Pengertian kredit menurut pasal 1 ayat 11 UU No 10 kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjaman meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.41

2. Unsur-unsur kredit

Ada beberapa unsur yang terkandung dalam pemberian suatu fasilitas kredit:

39 Hasil wawancara dengan Bapak Annas Riezki R selaku Marketing Manager Bank BRI Syariah Kantor Cabang Kota Cirebon pada tanggal 20 Januari 2017 Pukul 10.00 WIB

40 Muhammad Abdul Kadir dan Murniati, Lembaga Keuangan dan Pembiayaan, (Bandung: PT Citra aditya Bakti), 78

41 Munir Fuady, Hukum Bisnis (Dalam Teori dan Praktek), (Bandung; PT Citra Aditya Bakti 2002), 45

(19)

1) Kepercayaan

Di mana pihak perbankan memiliki kepercayaan terhadap pihak penjamin, kepercayaan ini dapat diperoleh pihak bank bila telah melakukan analisis pada saat mengajukan proposal, sesuai dengan prosedur terhadap pihak peminjam.

2) Kesepakatan

Pada saat proposal pengajuan kredit telah disetujui oleh pihak bank yang bersangkutan bank yang bersangkutan selanjutnya dilakukan kotrak kesepakatan dan ditandatangani oleh pihak bank dan pihak peminjam.

3) Jangka waktu

Setiap kredit yang diajukan pasti terdapat jangka waktu tertentu, hal ini akan disesuaikan dengan jangka waktu yang telah disepakati pada saat kontrak kesepakatan. Jangka waktu dapat berbentuk jangka pendek, jangka menengah, atau pun jangka panjang.42

4) Risiko

Semakin panjang waktu pinjaman maka akan membuat pengembalian pokok dan bunganya jauh lebih besar bila kita memilih jangka pendek karena hal ini akan berkaitan dengan risiko tidak tertagihnya kredit. Sebab sejauh ini yang menanggung risiko adalah pihak bank.

5) Balas jasa

Balas jasa di dalam bank umum adalah berupa bunga dan biaya administrasi. Hal ini merupakan keuntungan yang dapat diperoleh oleh pihak bank.43

42 Ikatan Bankir Indonesia, Bisnis Kredit Perbankan, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama 2015), 55

43 Arie Iindra, Bank dan Lembaga Keuangan, Yogyakarta; Leutika Prioa 2014, 58

(20)

3. Jenis-jenis kredit

Ada beberapa macam kredit yang diberikan oleh bank umum, bank umum syariah, maupun bank perkreditran rakyat untuk masyarakat terdiri dari beberapa jenis:

a) Dilihat dari jenis kegunaannya

1. Kredit investasi. Kredit ini diberikan kepada perusahaan yang baru akan berdiri untuk keperluan membangun pabrik baru. Yaitu, merupaka kredit yang diberikan kepada pengusaha yang melakukan investasi atau penanaman modal. Biasanya kredit jenis ini memiliki jangka waktu yang relatif panjang yaitu diatas 1 tahun. Contoh jenis kredit ini adalah kredit untuk membangun pabrik atau menambah kredit menambah pabrik atau menambah peralatan pabrik seperti mesin-mesin.44

2. Kredit modal kerja. Kredit ini diberikan kepada perusahaan yang telah berdiri, namun membutuhkan dana untuk meningkatkan produksi dalam operasionalnya. Misalny dalam hal membayar gaji pegawai untuk membeli bahan baku. Kredit modal kerja merupakan kredit yang digunakan sebagai modal usaha. Biasanya kredit ini adalah untuk memberli bahan baku, membayar gaji karyawan. Dan modal kerja lainnya.

3. Kredit perdagangan, merupakan kredit yang diberikan kepada para pedagang dalam rangka memperlancar atau memperluas atau memperbesar kegiatan perdagangannya. Contoh jenis kredit ini adalah untuk

44 Teguh Pudjono Muljono, Manajemen Perkreditan bagi Bank Komersial cetakan ke tiga, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), 78

(21)

membeli barang dagangan yang diberikan kepada para suplier atau agen.45

4. Kredit produktif, merupaka kredit yang dapat berupa investasi, modal kerja, atau perdagangan. Dalam arti kredit ii diberikan untuk diusahakan kembali sehingga pengembalian kredit diharapkan dari hasil usha yang dibiayai.

5. Kredit konsumtif, merupakan kredit yang digunakan untuk keperluan pribadi misalnya keperluan konsumsi, baik pangan, sandang, maupun papan.

Contoh jenis kredit ini adalah kredit perumahan dan kredit kendaraan bermotor, yang kesemuanya untuk dipakai sendiri.46

6. Kredit profesi, merupakan kredit yang diberikan kepada para kalangan profesional seperti dosen, dokter, atau pengacara.47

b) Diliat dari segi sektor usaha

a. Kredit pertanian, diberikan untuk membiayai sektor perkebunan atau pertanian rakyat.

b. Kredit peternakan, diberikan untuk jangka pendek misalnya untuk pternakan ayam; dan jangka panjang misalnya untuk kambing ataupun sapi.

c. Kredit industri, diberikan untuk membiayai pembangunan atau pembelian rumah.48

45 Dicki Hartanto, Bank dan Lembaga Keuangan lain, (Yogyakarta: Aswaja Pressido, 2012), 67

46 Muhammad Djumhana, Hukum Perbankan di Indonesia, (Bandung; PT Citra Aditya Bakti, 1993), 65

47 Arie Iindra, Bank dan Lembaga Keuangan, (Yogyakarta; Leutika Prioa 2014), 59

48 Muhammad Abdul Kadir dan Murniati, Lembaga Keuangan dan Pembiayaan, (Bandung: PT Citra aditya Bakti), 80

(22)

4. Fungsi kredit

Veitzhal Rivai dan Andria Permata Veitzhal kredit mempunyai peran yang sangat dalam perekonomian. Secara garis besar fungsi kredit di dalam perekonomian, perdagangan, dan keuangan dapat dikemukakakn sebagai berikut:

1. Kredit dapat meningkatkan utility (daya guna) dari modal/uang 2. Kredit meningkatkan utility (daya guna) suatu barang

3. Kredit meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang 4. Kredit menimbulkan kegairahan masyaratakat 5. Kredit sebagai alat stabilitas ekonomi

6. Kredit sebagai jembatan untuk peningkatan pendapatan nasional 7. Kredit sebagai alat hubungan ekonomi internasional

5. Jaminan Kredit

Dalam melakukan peminjaman, pihak peminjam dapat membeikan jaminan atau tanpa jaminan. Namun di Indonesia pihak bank selama ini masih memberikan pinjaman dengan jaminan sedangkan untuk pinjaman tanpa jaminan belum lazim diterapkan di Indonesia. Adapun jaminan yang dapat dijadikan jaminan kredit leh calon bank yang akan memberikan pinjaman adalah sebagai berikut:49

a. Jaminan benda berwujud yaitu barang-barang yang dapat dijadikan jaminan seperti:50

1) Tanah 2) Bangunan

3) Kendaraan bermotor 4) Barang dagangan, dan 5) Tanaman51

49 Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, (Jakarta; kencana Media Group Kasmir, PT Raja Grafindo Persada, 2008), 62

50 Dahlan Siamat, Manajemen Lembaga Keuangan, (Jakarta; Intermedia, 1997), 87

51 Antonio Muhammad Syafi‟i, Bank Syariah dari Teori ke Praktik. (jakarta: Gema Insani. 2001), 67

(23)

b. Jaminan benda tidak berwujud yaitu benda yang merupakan sura-surat yang dijadikan jaminan seperti:

1. Sertifikat saham 2. Sertifikat obligasi 3. Sertifikat deposito, dan 4. Wesel.52

6. Prosedur pemberian kredit

Menurut Rachmat Firdaus dan Maya Arianti, langkah-langkah yang umum dalam prosedur perkreditan yaitu:

a) Persiapan kredit

Kegiatan tahap permulaan dengan maksud untuk saling mengetahui informasi dasar antara calon debitur dengan bank, terutama calon debitur yang baru pertama kali akan mengajukan kredit kepada bank yang bersangkutan, biasanya dilakukan wawancara atau lain- lain.

b) Analisis kredit atau penilaian kredit

Dalam tahap ini diadakan penilaian yang mendalam tentang keadaan usaha atau proyek permohon kredit.

c) Keputusan kredit

Atas dasar laporan hasil analisis kredit, maka pihak melalui pihak pemutus kredit, baik berupa seorang pejabat yang ditunjuk atau pimpinan bank tersebut maupun berupa satu komite dengan anggota lebih dari satu orang pejabat seseuai dengan yang tertuang dalam kebiajaka perkreditan bank masing-masing dapat memutuskan apakah permohonan kredit tersebut layak untuk diberi kredit atau tidak.53

d) Pelaksanaan dan administrasi kredit

Setelah calon peminjam mempelajari dan menyetujui isi keputusan keredit serta bank telah menerima dan meneliti semua persyaratan

52 Arie Iindra, Bank dan Lembaga Keuangan, Yogyakarta; Leutika Prioa 2014, 61

53 Muhammad Djumhana, Hukum Perbankan di Indonesia, (Bandung, PT Citra Aditya Bakti, 1993), 87

(24)

kredit dari calon peminjaman terutama surat-surat asli bukti jaminan, fotocopy izin usaha dan tempat usaha, fotocopy NPWP dan bukti pembayaran pajak tahun terakhir dan sebagainya, maka kedua belah pihak menandatangani perjanjian kredit serta syarat- syarat umum pemberian kredit, beserta lampiran-lampiran.54

7. Syarat-syarat Pemberian Kredit

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, pemberia kredit didasarkan atas kepercayaan. Selain kepercayaan syarat-syarat pemberian kredit adalah sebagai berikut:55

a. Karakter (character)

Suatu keadaan yang berhubungan dengan sifat, kejujuran, dan itikad baik ari kredit dalam kehidupan ekonomi atau usahanya.

Pemberian kredit perlu meneliti kebiasaan dan kepribadian pemohon sebelum memutuskan untuk memberikan kredit.

b. Kemampuan (capacity)

Keharusan yang berhubungan dengan kemampuan, kepandaian, dan keahlian pemohon kredit untuk mengelola usahanya. Dari penelitian tersebut, pemberi kredit dapat mengambil kesimpulan apakah pemohon mampu atau tidak mampu untuk mengembalikan kredit.

c. Modal (capital)

Penerima kredit harus mememiliki modal sendiri. Pinjaman atau kredit hanya digunakan sebagai pendorong untuk perkembangan usahanya.

d. Jaminan (collaterol)

Si peminjam harus menyediakan jaminan untuk mendapat kredit. Kalau kredit tidak dapat dikembalikan, maka jaminan ini akan dijual untuk mengembalikan kredit yang dipakai.

54 Ikatan Bankir Indonesia, Bisnis Kredit Perbankan, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama 2015), 89

55 Dicki Hartanto, Bank dan Lembaga Keuangan Lain, (Yogyakarta; Aswaja Pressindo, 2012), 99

(25)

Jaminan ini bisa berupa harta tetap seperti tanah, rumah, ataupun surat-surat berharga.

e. Kondisi ekonomi (condition of economy)

Suatu keadaan ekonomi yang sedang berlangsung dan ramalan keadaan ekonomi pada masa mendatang. Jika pemberi kredit memperkirakan bahwa perekonomian baik maka kredit akan diberikan. Begitu pun sebaliknya.56

Disamping kelima syarat diatas, prinsip 3R dalam pemberian kredit. Prinsip 3R:57

a. Returns. Prinsip ini berkaitan dengan kemampuan yang mendatangkan keberhaslan dari kredit yang diberikan.

b. Repayment. Prinsip ini berkaitan dengan kemampuan mengembalikan kredit.

c. Risk. Prinsip ini berkaitan dengan kemampuan peminjam dalam menanggug risiko ketidakmampuan pengembalia kredit.

Hal-hal yang diperjanjikan dalam perjanjian kredit:

1. Jangka waktu kredit 2. Suku bunga,

3. Cara pembayaran, 4. Agunan/jaminan kredit 5. Biaya administrasi, dan 6. Asuransi jiwa dan tagihan.58 8. Prinsip-prinsip pemberian kredit

Dalam memberikan kredit agar masing-masing pihak merasa aman maka ada hal-hal yang perlu diperhatikan oleh masing-masing pihak.59 Pihak perbankan akan melakukan penilaian pada calon peminjaman dengan kriteria 7p, berikut penjelasannya:60

56 Kasmir, Dasar-dasar Perbankan , (Jakarta; PT Raja Grafindo Persada, 2005), 75

57 Dahlan Siamat, Manajemen Lembaga Keuangan, (Jakarta; Intermedia, 1997), 87

58 Arie Iindra, Bank dan Lembaga Keuangan, Yogyakarta; Leutika Prioa 2014, 61-62

59 Andi Soemitra, Bank dan Lembaga keuangan Syariah, (Jakarta; Kencana, Juni 2009)

60 Arie Indra, Bank dan Lembaga Keuangan, (Yogyakarta; Leutika Prioa, 2014)

(26)

1) Personality

Personality merupakan sikap, emosi, tingkah laku, dan tindakan nasabah dalam menghadapi suatu masalah.

2) Party

Menggolongkan nasabh berdasarkan klasifikasinya masing- masing, misalnya nasabah yang loyal secara karakter atau modal.

3) Purpose

Hal ini untuk mengetahui tujuan nasabah dalam mengambil kredit, tujuan pengembalian kredit misalnya untuk modal kerja atau investasi.

4) Prospect

Pihak bank dalam hal ini akan menilai seberapa mengutungkan prospek ushaa nasabah yang mengajukan kredit.

5) Payment

Merupakan ukuran bagaimana cara nasabah mengembalikan kredit yang telah diambiol atau dari mana saja dana untuk pengembalian kredit.

6) Profitabilitas

Tujuannya adalah bagaimana menjaga agar usaha dan jaminan mendapatkan perlindungan. Perlindungan dapat berupa jaminan atau jaminan asuransi.

7) Protection

Tujuannya adalah bagaimana menjaga agar usaha dan jaminan mendapakan perlindungan. Perlindungan dapat berupa jaminan barang atau jaminan asuransi.61

61 Arie Iindra, Bank dan Lembaga Keuangan, Yogyakarta; Leutika Prioa 2014, 63-64

(27)

9. Ananlisis Kredit

Menurut Lukman Dendawijaya analisis kredit yaitu suatu proses yang dimaksudkan untuk menganalisis atau menilai suatu permohonan kredit yang diajukan oleh calon debitur kredit sehingga dapat memberikan keyakinan kepada phak bank bahwa proyek yang aka dibiayai dengan kredit bank cukup layak.

Analisis kredit dilakukan agar kredit yang diberikan mencapai sasaran, yaitu aman. Artiya kredit tersebut harus diterima kembali pengembaliannya secara tertib, teratur dan tepat waktu sesuai dengan perjanjian antara bank dengan nasabah sebagai penerima dan pemakai kredit. Selain itu, dengan tujuan terarah, artinya kredit yang diberikan tersebut akan digunakan akan untuk tujuan seperti yang dimaksud dalam permohonan kredit dan sesuai dengan peraturan dan kesepakatan ketika disayaratkan dalam akad kredit.62

Analisis kredit amat penting, karena analisis kredit dapat untuk:

1. Menentukan berbagai risiko yang akan dihadapi oleh bank dalam memberikan kredit kepada seseorang atau badan usaha.

2. Mengantisipasi kemungkinan pelunasan kredit.

3. Mengetahui jenis kredit, jumlah kredit, dan jangka waktu kredit yang dibutuhkan oleh usaha debitur.

4. Mengetahui kemampuan dan kemauan debitur untuk melunasi kreditnya.63

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa analisis kredit merupakan peralatan yang sangat penting untuk pengambilan keputusan yang tepat apakah kredit diberikan atau tidak. Analisis kredit yang baik haruslah menemui persayaratan:

1. Analisis hendaknya lengkap meliputi semua aspek dari pemohon.

62 Kasmir, Dasar-dasar Perbankan , (Jakarta; PT Raja Grafindo Persada, 2005), 81

63 Dicki Hartanto, Bank dan Lembaga Keuangan Lain, (Yogyakarta; Aswaja Pressindo, 2012), 54

(28)

2. Semua aspek tersebut hendaknya dianalisis secara objektif dalam arti semua aspek kekuatan dan kelemahan dari pemohon dapat dianalisis.

3. Analisis mengandung penilaian yang tegas dan jelas, sehingga memudahkan untuk pengembalian keputusan.64 E. Penyelamatan dan Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah/Macet

1. Pengertian kredit bermasalah

Ada beberapa pengertian kredit bermasalah, yaitu sebagai berikut:

a. Kredit yang di dalam pelaksanaannya belum mecapai/memenuhi target yang diinginkan bank.

b. Kredit yang memiliki kemungkinan timbulnya risiko di kemudian hari bagi bank dalam arti luas.

c. Mengalami kesulitan di dalam penyelesaian kewajiban-kewajibannya, baik dalam bentuk pembayaran kembali pokoknya dan atau pembayaran bunga, denda keterlambatan, serta ongkos-ongkos bank yang menjadi beban debitur.

d. Kredit di mana pembayaran kembalinya dalam bahaya, terutama apabila sumber-sumber pembayaran kembali yang diharapkan diperkirakan tidak cukup membayar kembali kredit sehingga belum mencapai/memenuhi target yang diinginkan oleh bank.

e. Kredit di mana terjadi cedera janji dalam pembayaran kembali sesuai perjanjian sehingga terdapat tunggakan, atau ada potensi kerugian diperusahaan debitur sehingga memiliki kemungkinan timbulnya risiko dikemudian hari bagi bank dalam arti luas.65

f. Mengalami kesulitan di dalam penyelesaian kewajiban-kewajibannya terhadap bank, baik dalam bentuk pembayaran kembali pokoknya, pembayaran bunga maupun pembayaran ongkos-ongkos bank yang menjadi beban nasabah debitur yang bersangkutan

64 Antonio Muhammad Syafi‟i, Bank Syariah dari Teori ke Praktik. (jakarta: Gema Insani. 2001), 71

65 Thomas Suyatno, Dasar-dasar Perkreditan edisi ke empat, (Jakarta; PT Gramedia Pustaka Utama), 77

(29)

g. Kredit golongan perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet serta golongan lancar yang berpotensi menunggak.

Bagi bank, semakin dini menganggap kredit yang diberikan menjadi bermasalah, semakin baik karena akan berdampak semakin dini pula dalam upaya penyelamatannya sehingga tidak terlanjur parah yang berakibat semakin sulit penyelesaiannya.66

2. Sebab-sebab pembiayaan bermasalah

Dalam penjelasan pasal 8 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 jo. UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan maupun dalam Penjelasan Pasal 37 UU No. 21 Tahun 2008 tentang perbankan Syariah antara lain dinyatakan bahwa kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah yang diberikan oleh bank mengandung risiko, sehingga dalam pelaksanaannya bank harus memperhatikan asa-asas perkreditan atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah yang sehat.

Apabila bank tidak memperhatikan asas-asas pembiayaan yang sehat dalam menyalurkan pembiayaan, maka akan timbul berbagai risiko yang harus ditanggung oleh bank antara lain berupa:

a) Utang/kewajiban pokok pembiayaan tidak dibayar.

b) Margin/bagi hasil/fee tidak dibayar.

c) Membengkaknya biaya yang dikeluarkan.

d) Turunnya kesehatan pembiayaan.67 3. Sebab-sebab terjadinya kredit bermasalah

Dalam penyaluran kredit, tidak selamanya kredit yang diberikan bank kepada debitur akan berjalan lancar sesuai dengan yang diharapkan di dalam perjanjian kredit. Kondisi lingkungan eksternal dan internal dari sisi nasabah/debitur da sisi bank), dapat mempengaruhi kelancaran kewajiban debitur kepada bank sehingga kredit yang telah disalurkan kepada debitur berpotensi atau menyebabkan kegagalan.

66 Ikatan Bankir Indonesia, Bisnis Kredit Perbankan, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama 2015),55

67 Ikatan Bankir Indonesia, Bisnis Kredit Perbankan, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama 2015), 60

(30)

Kondisi lingkungan eksternal yang dapat mempengaruhi kegagalan dalam pemberian kredit, antara lain sebagai berikut:

a. Perubahan kondisi ekonomi dan kebijakan/peraturan yang mempengaruhi segmen/bidang usaha debitur. Perubahan tersebut merupakan tantangan terus menerus yang dihadapi oleh pemilik dan pengelola perusahaan. Kunci sukses dari usaha adalah kemampuan menganalisa perubahan dan fleksibel dalam mengelola usahanya b. Tingkat persainga yang tinggi, perubahan teknologi, dan perubahan

preferensi pelanggan sehingga mengganggu prospek usaha debitur atau menyebabkan usaha debitur sulit untuk tumbuh sesuai dengan target bisnisnya.

c. Faktor risiko geografis terkait dengan bencana alam yang mempengaruhi usaha debitur.68

Terkait dengan kondisi internal, kegagal debitur dalam memenuhi kewajibannya kepada bank yang menyebabkan kredit menjadi bermasalah (NPL), dapat dilihat dari dua sisi (dari sisi debitur dan dari sisi bank), yaitu berikut ini:69

a. Dari sisi debitur

1) Sikap kooperatif debitur menurun dan adanya itikad yang kurang baik dari debitur atau manajemen perusahaan.

2) Kredit yang diterima tidak digunakan untuk tujuan yang seharusnya sebagaimana yang diperjanjikan dengan bank.

3) Strategi usaha tidak tepat

4) Konflik di dalam manajemen, organisasi dan kepegawaian (untuk debitur yang merupakan badan usaha) yang berpengaruh terhadap aktivitas bisnis perusahaan.

b. Dari sisi bank

68 Bambang Rianto Rustam, Manajemen Risikko Perbankan Syariah di Indonesia, Jakarta; Salemba Empat (9 oktober 2016), 78

69 Thomas Suyatno, Dasar-dasar Perkreditan edisi ke empat, (Jakarta; PT Gramedia Pustaka Utama), 88

(31)

1) Analisis kredit yang kurang memadai dari bank sehingga terjadinya ketidaktepatan dalam penilaian risiko dan mitigasinya, serta timbulnya ofer financing (kredit yang diberikan lebih besar dari kebutuhan debitur).

2) Pemantauan terhadap fasilitas kredit yang telah diberikan kepada debitur kurang memadai (lemah)

3) Adanya fraud yang dilakukan oleh karyawan bank terkait dengan penyaluran kredit kepada debitur.

4) Penguasaan agunan yang lemah, baik dari objek/fisik agunan maupun pengikatannya.70

4. Pembinaan kredit bermasalah

Upaya awal pengelolaan kredit bermasalah, agar diperoleh hasil yang optimal, maka perlu dilakukan penagihan secara intensif terhadap debitur bermasalah oleh bank yang juga dapat dikategorikan sebagai upaya pembinaan, sebelum masuk dalam langkah penyelamatan.

Pembinaan kredit bermasalah merupakan upaya awal yang dilakukan terhadap debitur kredit bermasalah merupakan upaya awal yang dilakukan terhadap debitur kredit bermasalah sehingga dapat menjaga dan mengamankan kepentingan bank atas fasilitas kredit yang telah disalurkan, serta dapat memperoleh hasil yang optimal sebagaimana yang diharapkan sesuai dengan tujuan awal pemberian kredit. Langkah yang dapat dilakukan dalam tahapan pembinaan kredit. Langkah yang dapat dilakukan dalam tahapan pembinaan kredit bermasalah ini antara lain melalui:71

a. Melakukan pendampingan kepada debitur bermasalah. Pendampingan ini bertujuan untuk mengetahui apakah permasalahan kredit yang terjadi murni karena aktivitas usaha (risiko bisnis) atau karena kecurangan yang dilakukan debitur terhadap fasilitas kredit yang telah diterimanya (tidak sesuai dengan tujuan diberikannya kredit). Jika terkait permasalahan aktiitas usaha, pendampinganyang dilakukan

70 Bambang Rianto Rustam, Manajemen Risikko Perbankan Syariah di Indonesia, Jakarta; Salemba Empat (9 oktober 2016), 82

71 Kasmir, Dasar-dasar Perbankan , (Jakarta; PT Raja Grafindo Persada, 2005), 90

(32)

bank dengan memberikan alternatif masukan/solusi yang dapat membantu debitur keluar permasalahan usaha yang dialaminya.

Sebagai contoh, jika berdasarkan hasil analisis bank permasalahan yang dihadapi debitur adalah karena ketidakefisienan dalam proses produksi, bank dapat memberikan masukan untuk melakukan efisiensi dalam proses produksi, seperti efisiensi dalam pos persediaan dengan melakukan strategi just in time, dan sebagainya. Dari aktivitas pendampingan tersebut, bank dapat menetapkan debitu mana yang dapat dilakukan penyelamatan terhadap fasilitas kreditnya, dan mana yang harus dilakukan penyelesaian terhadap fasilitas kreditnya.72 b. Selain itu, aktivitas pembinaan juga termasuk dalam hal melakukan

aktivitas penagihan secara intensif terhadap debitur bermasalah.

5.Upaya-upaya untuk Mengantisipasi Risiko Pembiayaan Bermasalah/Macet Secara garis besar, penanggulangan pembiayaan bermasalah dapat dilakukan melalui upaya-upaya yang bersifat preventif dan upaya-upaya yang bersifat respresif/kuratif.73

Upaya-upaya yang bersifat preventif (pencegahan) dilakukan oleh bank sejak permohonan pembiayaan diajukan nsabah, pelaksanaan analisa yang akurat terhadap data pembiayaan, pembuatan perjanjian pembiayaan yang benar, pengikatan agunan yang menjamin kepentingan bank, sampai dengan pemantauan atau pengawasan terhadap pembiayaan yang diberikan.

Sedangkan upaya-upaya yang bersifat represif/kuratif adalah upaya- upaya penanggulangan yang bersifat penyelamatan atau penyelesaian terhadap pembiayaan bermasalah (non performing financings/NPFs).

6. Penyelematan kredit bermasalah

Penyelamatan kredit bermasalah adalah serangkaian tindakan yang dapat dilakukan bank terhadap debitur bermasalah untuk dapat memperbaiki kinerja usaha debitur yang bersangkutan dan kualitas kreditnya, yang di dasarkan atas hasil analisis bank, debitur tersebut masih mempunyai prospek

72 Thomas Suyatno, Dasar-dasar Perkreditan edisi ke empat, (Jakarta; PT Gramedia Pustaka Utama), 89

73 Herman Darwani, Manajemen Perbankan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), 91

(33)

terkait aktivitas usaha yang dijalaninyada dapat melaksanakan kewajibannya kepada bank sehingga dapat menjaga kepentingan bank dan melindungi bank dari potensi risiko yang lebih besar.

Tindakan yang dapat dilakukan bank dalam penyelamatan kredit bermasalah, anatara lain sebagai berikut:

a. Rescheduling, Reconditioning, dan Restructuring (R3)74 1) Rescheduling

Recheduling,75 yaitu perubahan syarat kredit hanya menyangkut jadwal pembayaran dan atau jangka waktu termasuk masa tenggang (grace peroid) dan perubahan besarnya angsuran kredit. Tentu tidak kepada semua debitur yang menunjukkan itikad dan karakter yang jujur dan memiliki kemauan untuk membayar atau melunasi kredit. Di samping itu, usaha debitur juga tidak memerlukan tambahan dan atau likuiditas.76

a) Bentuk Rescheduling

1. Perpanjangan jangka waktu kredit

2. Perpanjangan jangka waktu pelunasan tunggakan bunga 3. Perpanjangan jangk waktu pelunasan utang pokok dan

atau tunggakan angsuran kredit.

4. Perpanjangan jangka waktu pelunasan utang pokok dan atau tunggakan angsuran, tunggakan bunga, serta perubahan jumlah angsuran.

5. Perpanjangan jangka waktu pelunasan utang pokok dan tunggakan bunga kredit.

b) Syarat Rescheduling

Perubahan persyaratan kredit yang hanya menyangkut jadwal pembayaran dan jangka waktu dan memperoleh

74 Yohanes Benny Apriyanto, Jurnal Penyelesaian Kredit Bermasalah Pada Bank DKI Jakarta Cabang Solo Melalui jalur non lititgasi, Fakultas Hukum Atma Jaya Yogyakarta 2015, di akses pada tanggal 18 Februari jam 23:00 WIB

75 Sigit Triandaru dan Totok Budisantoso, Bank dan Lembaga Keuangan Lain, (Jakarta:

Kencana Media Group Kasmir, PT Raja Grafindo Persada, 2006), 52

76 Herman Darwani, Manajemen Perbankan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), 87

(34)

fasilitas rescheduling hanyalah debitur yang memenuhi persyaratan tertentu, antara lain sebagai berikut:

1. Usaha debitur memiliki prospek untuk bangkit kembali 2. Debitur menunjukkan itikad baik, yaitu memiliki keinginan untuk membayar dan adanya keyakinan bahwa debitur tetap berminat dan atau berniat untuk terus mengelola usahanya.

3. Agunan yang dikuasai bank cukup meng-cover dan memenuhi syarat yuridis.77

Dengan demikian, dasar melakukan rescheduling adalah 1. Hanya kesulitan likuidasi sementara

2. Nasabah kooperatif dan beritikad baik 3. Sarana produksi masih ada

4. Memiliki dana cukup

5. Perpanjangan jangka waktu tidak melebihi umur teknis/ekonomi sarana produksi

Dalam proses rescheduling, tunggakan pokok dan bunga dijumlah (dikapitalisasi) untuk kemudian dijadwalkan kembali pembayaran nya untuk dibuat perjanjian rescheduling tersendiri.

2) Reconditioning (persyaratan ulang)

Reconditioning78 ialah perubahan sebagian atau seluruh syarat kredit yang tidak terbatas pada perubahan jadwal pembayaran, jangka waktu tingkat suku bunga, penundaan pembayaran sebagian atau seluruh bunga dan persayaratan lainnya.79 Perubahan syarat kredit tersebut tidak termasuk penambahan dana atau injeksi dan konversi sebagian atau seluruh kredit menjadi „equity‟ perusahaan. Debitur yang bersifat jujur, terbuka, dan cooperative yang usahanya sedang mengalami kesulitan keuangan dan diperkirakan masih dapat beroperasi dengan

77 Thomas Suyatno, Dasar-dasar Perkreditan edisi ke empat, (Jakarta; PT Gramedia Pustaka Utama), 95

78 Herman Darwani, Manajemen Perbankan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), 90

79 Herman Darwani, Manajemen Perbankan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), 89

Referensi

Dokumen terkait

Kelalaian account officer Bank BRI menyebabkan kredit macet adalah pihak Bank BRI tidak melakukan pengecekan atas dokumen atau informasi yang berkaitan dengan debitur

Dalam istilah teknis perbankan syari’ah, murabahah ini diartikan sebagai suatu perjanjian yang disepakati antara Bank Syariah dengan nasabah, dimana Bank menyediakan

Dari berbagai pengertian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kredit bermasalah yaitu kredit yang telah disalurkan oleh bank kepada debiturnya namun dalam hal

Salah satu bentuk jasa pelayanan keuangan bank syariah adalah membantu masyarakat untuk mengalihkan transaksi yang sesuai dengan syariah. Dalam hal ini, atas

Penghimpunan dana di bank syariah dapat berbentuk giro, tabungan dan deposito. Prinsip operasional syariah yang diterapkan dalam penghimpunan dana masyarakat adalah

10/16/PBI/2008 tentang pelaksanaan prinsip syariah dalam kegiatan penghimpunan dana dan penyaluran dana serta pelayanan jasa bank syariah, musyarakah adalah

Perbedaan Bank Konvensional dengan Bank Syariah dalam praktik perbankan dapat terlihat lebih jelas ketika diterapkannya kebijakan uang ketat, yaitu sebagai berikut. Bank

Rasio NIM juga digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam menghasilkan pendapatan dari bunga dengan melihat kinerja bank dalam menyalurkan kredit,