KUALITAS PELAYANAN PADA PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA (USU)
SKRIPSI
THRESYA HOTPRITA BR. SIREGAR 170803097
PROGRAM STUDI S1 MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2021
KUALITAS PELAYANAN PADA PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA (USU)
SKRIPSI
Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Sains
THRESYA HOTPRITA BR. SIREGAR 170803097
PROGRAM STUDI S1 MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2021
PENERAPAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DALAM MENENTUKAN PRIORITAS PENINGKATAN
KUALITAS PELAYANAN PADA PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA (USU)
SKRIPSI
Saya menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.
Medan, 13 Desember 2021
Thresya Hotprita Br. Siregar 170803097
iii
iv
PENERAPAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DALAM MENENTUKAN PRIORITAS PENINGKATAN
KUALITAS PELAYANAN PADA PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA (USU)
ABSTRAK
Dalam penentuan prioritas peningkatan pelayanan di perpustakaan Universitas Sumatera Utara (USU) terdapat beberapa dimensi yang menjadi acuan dalam pelayanan. Dalam penelitian ini diperoleh 5 dimensi pelayanan yaitu Tangible, Reliability, Responsiveness, Empathy, dan Assurance. Persoalan dalam penentuan prioritas peningkatan kualitas pelayanan dapat ditentukan dengan berbagai metode keputusan, dan salah satunya yaitu metode Analytical Hierarchy Process (AHP).
Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) adalah metode pengambilan keputusan yang tepat dalam peningkatan pelayanan, karena pada metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dapat memecahkan masalah dengan cara perangkingan dan mengurutkan dari bilangan terbesar sampai bilangan terkecil. Hasil analisis pada metode AHP pada penelitian menyimpulkan bahwa kriteria Responsiveness merupakan kriteria yang prioritas tertinggi untuk menentukkan kualitas pelayanan dengan bobot 22.6 %. Kemudian kriteria Tangible dengan bobot 22.2 %, kriteria Reliability dengan bobot 20.1 %, kriteria Empathy dengan bobot 17.8 %, dan terakhir kriteria Assurance dengan bobot 17.3 %.
Kata Kunci: Kualitas Pelayanan, Metode Analytical Hierarchy Process (AHP), Uji Konsistensi
iii
APPLICATION OF THE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS METHOD IN DETERMINING PRIORITIES FOR SERVICE
QUALITY IMPROVEMENT AT THE UNIVERSITY OF NORTH SUMATRA (USU) LIBRARY
ABSTRACT
There are numerous dimensions that become references in service while prioritising service enhancement at the University of North Sumatra (USU) library. Tangible, Reliability, Responsiveness, Empathy, and Assurance are the five service aspects discovered in this study. Several decision procedures, including the Analytical Hierarchy Process (AHP), can be used to discover problems in increasing service quality. Because the Analytical Hierarchy Process (AHP) can solve problems by ranking and sorting from the largest number to the smallest number, it is a decision- making process in service improvement. The Responsive Criteria were the highest quality criteria for determining service, with a weight of 22.6 percent, according to the results of the AHP method analysis in the study. After that, Tangible criteria with a weight of 22.2%, Reliability criteria with a weight of 20.1%, Empathy criteria with a weight of 17.8%, and finally Assurance criteria with a weight of 17.3%.
Keywords : Service Quality, Analytical Hierarchy Process (AHP), Consistency Test
iv
PENGHARGAAN
Puji dan syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas nikmat dan karunia-Nya peneliti dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan judul “Penerapan Metode Analytical Hierarchy Process dalam Menentukan Prioritas Peningkatan Kualitas Pelayanan pada Perpustakaan Universitas Sumatera Utara (USU)”
Oleh karena itu dalam kesempatan ini peneliti dengan senang hati dan segala hormat menyampaikan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang turut mendukung dalam penyelesaian skripsi ini :
1. Ibu Dr. Esther Sorta Mauli Nababan, M.Sc selaku dosen pembimbing yang sudah meluangkan waktu, tenaga dan serta pikirannya selama proses penyusunan skripsi ini.
2. Ibu Dr. Mardiningsih, M.Si selaku dosen pembanding 1 saya dan Bapak Dr.
Zahedi, M.Si selaku dosen pembanding 2 saya yang sudah memberi masukan pada skripsi ini.
3. Ibu Dr. Nursahara Pasaribu, M. Sc selaku Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
4. Ibu Dr. Mardiningsih, M.Si selaku Ketua Departemen Matematika FMIPA USU.
5. Seluruh Dosen di Departemen Matematika FMIPA-USU yang sudah memberikan ilmunya selama proses perkuliahan serta pegawai yang ada di FMIPA-USU.
6. Teristimewa keluarga peneliti, orang tua peneliti Ayahanda Gomba Siregar dan Ibunda Nurhani Saragih, adik laki-laki peneliti Andri Fernido Siregar yang selalu mendukung peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.
7. Teman-teman seperjuanganku Miralda Saragih, Elsadday Easter, Priskila Trifosa dan Enda Surany, Uli Adelina yang memberi dukungan dan doa-doa yang memotivasi peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini.
v
8. Nia Sirait dan Anggun Sagala yang membantu memberikan dukungan dalam penyusunan skripsi ini.
9. Zakiah Nur Hasibuan, Mas Dewi, dan Intan Permata sebagai teman seperdopingan yang telah membantu peneliti dalam menyelesaikan skripsi.
10. Last but not least, I wanna thank me, for believing in me, for doing all this hard work, for having no days off, for never quitting, for just being me at all times.
Terima kasih peneliti ucapkan kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam pembuatan skripsi. Peneliti memohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membutuhkan.
Medan, 13 Desember 2021
Thresya Hotprita Br. Siregar 170803097
vi DAFTAR ISI
PENGESAHAN SKRIPSI i
ABSTRAK ii
ABSTRACT iii
PENGHARGAAN iv
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL viii
DAFTAR GAMBAR ix
DAFTAR LAMPIRAN xi
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 3
1.3 Batasan Masalah 3
1.4 Tujuan Penelitian 3
1.5 Manfaat Penelitian 3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perpustakaan Perguruan Tinggi 4
2.1.1 Tujuan Perpustakaan Perguruan Tinggi 4 2.1.2 Fungsi Perpustakaan Perguruan Tinggi 6
2.2 Kualitas Pelayanan Perpustakaan 7
2.2.1 Dimensi Kualitas Pelayanan Perpustakaan 7 2.2.2 Upaya Meningkatkan Kualitas Pelayanan Perpustakaan 9
2.3 Uji Validitas dan Reliabilitas 10
2.4 Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) 11
2.4.1 Landasan Aksiomatik AHP 13
2.4.2 Prinsip Dasar AHP 14
2.4.3 Penyusunan Prioritas 16
2.5 Menormalisasikan Matriks 17
2.6 Eigen Value dan Eigen Vector 18
2.7 Uji Konsistensi dan Rasio 19
BAB 3 METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian 21
3.2 Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian 21
3.3 Populasi dan Sampel 21
3.4 Jenis dan Sumber Data 22
3.5 Teknik Pengumpulan Data 23
vii
3.6 Tahap – Tahap Penelitian 24
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) 27 4.2 Uji Validitas dan Uji Reliabilitas pada Kriteria dan Subkriteria 29
4.2.1 Uji Validitas 29
4.2.2 Uji Reliabilitas 29
4.3 Menghitung Kriteria Pembobotan Hierarki untuk Semua Kriteria 31 4.4 Menghitung Kriteria Pembobotan Hierarki untuk Sub Kriteria
Tangible 33
4.5 Menghitung Kriteria Pembobotan Hierarki untuk Sub Kriteria
Reliability 35
4.6 Menghitung Kriteria Pembobotan Hierarki untuk Sub Kriteria
Responsiveness 37
4.7 Menghitung Kriteria Pembobotan Hierarki untuk Sub Kriteria
Empathy 39
4.8 Menghitung Kriteria Pembobotan Hierarki untuk Sub Kriteria
Assurance 41
4.9 Perhitungan Total Ranking/Prioritas Global 41 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan 46
5.2 Saran 47
DAFTAR PUSTAKA 48
LAMPIRAN 50
viii
DAFTAR TABEL
Nomor
Tabel Judul Halaman
2.1 Skala Saaty untuk Perbandingan Berpasangan 17
2.2 Nilai Random Indeks (RI) 20
4.1 Kriteria dan Sub kriteria Faktor Pelayanan Perpustakaan 26
4.2 Matriks Perbandingan antar Kriteria 31
4.3 Normalisasi Matriks Perbandingan Berpasangan antar Kriteria 32 4.4 Matriks Perbandingan antar Sub kriteria Tangible 33 4.5 Normalisasi Matriks Perbandingan Berpasangan antar Sub
kriteria Tangible 34
4.6 Matriks Perbandingan antar Sub kriteria Reliability 35 4.7 Normalisasi Matriks Perbandingan Berpasangan antar Sub
kriteria Reliability 36
4.8 Matriks Perbandingan antar Sub kriteria Responsiveness 37 4.9 Normalisasi Matriks Perbandingan Berpasangan antar Sub
kriteria Responsiveness 38
4.10 Matriks Perbandingan antar Sub kriteria Empathy 39 4.11 Normalisasi Matriks Perbandingan Berpasangan antar Sub
kriteria Empathy 40
4.12 Matriks Perbandingan antar Sub kriteria Assurance 41 4.13 Normalisasi Matriks Perbandingan Berpasangan antar Sub
kriteria Assurance 42
4.14 Hasil Perhitungan Total Ranking 43
ix
DAFTAR GAMBAR
Nomor
Gambar Judul Halaman
2.1 Bentuk Struktur Decomposition 15
4.1 Kriteria dan Sub kriteria Faktor Pelayanan
Perpustakaan 27
4.2 Koefisien Reliabilitas 29
4.3 Uji Reliabilitas pada Semua Kriteria 30
4.4 Uji Reliabilitas pada Sub kriteria A 30
4.5 Uji Reliabilitas pada Sub kriteria B 30
4.6 Uji Reliabilitas pada Sub kriteria C 30
4.7 Uji Reliabilitas pada Sub kriteria D 30
4.8 Uji Reliabilitas pada Sub kriteria E 30
4.9 Normalisasi Matriks Perbandingan
Berpasangan antar Kriteria 32
4.10 Normalisasi Matriks Perbandingan
Berpasangan antar Sub kriteria Tangible 34 4.11 Normalisasi Matriks Perbandingan
Berpasangan antar Sub kriteria Reliability 36
4.12
Normalisasi Matriks Perbandingan Berpasangan antar Sub kriteria Responsiveness
38
4.13 Normalisasi Matriks Perbandingan
Berpasangan antar Sub kriteria Empathy 40 4.14 Normalisasi Matriks Perbandingan
Berpasangan antar Sub kriteria Assurance 42
x
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
Lampiran Judul Halaman
1 Kuesioner Pendahuluan 50
2 Kuesioner Perbandingan 52
3 Rekapitulasi Data Responden Mahasiswa USU untuk
semua Kriteria 57
4
Rekapitulasi Data Responden Mahasiswa USU untuk
semua Sub kriteria Tangible 62
5
Rekapitulasi Data Responden Mahasiswa USU untuk
semua Sub kriteria Reliability 65
6 Rekapitulasi Data Responden Mahasiswa USU untuk
semua Sub kriteria Responsiveness 68
7
Rekapitulasi Data Responden Mahasiswa USU untuk
semua Sub kriteria Empathy 71
8 Rekapitulasi Data Responden Mahasiswa USU untuk
semua Sub kriteria Assurance 74
9 Uji Validitas pada Kriteria dan Sub kriteria 77
10 Nilai Tabel R 82
BAB 1 PENDAHULUAN PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Informasi yaitu tuntutan utama dalam kehidupan manusia khususnya pada bidang pendidikan di era globalisasi ini. Perpustakaan merupakan salah satu pusat informasi yang berperan bagi pendidikan. Dengan perpustakan yang menjadi sumber informasi, menyimpan bentuk dan jenis informasi pembelajaran yang dapat digunakan masyarakat untuk memenuhi keperluan akan informasi seperti belajar, penelitian, mengisi waktu senggang untuk membaca dan lainnya. Perpustakaan perguruan tinggi adalah contoh perpustakaan yang dimiliki lembaga pendidikan. Perpustakaan perguruan tinggi yaitu perpustakaan yang berada di lingkungan lembaga pendidikan tinggi, seperti universitas, fakultas, akademi, dan perpustakaan sekolah tinggi (Sjahrial-Pamuntjak, Ny. Rusina, 100:4-5).
Perpustakaan Universitas Sumatera Utara (USU) adalah perpustakaan universitas yang dikelola oleh Universitas Sumatera Utara (USU). Perpustakaan Universitas Sumatera Utara (USU) memiliki beberapa layanan perpustakaan, antara lain layanan membaca untuk anggota dan non anggota perpustakaan di perpustakaan, dan layanan peminjaman buku yang dapat dibawa pulang. Selain itu, Perpustakaan USU juga menyediakan berbagai fasilitas, seperti ruang baca yang bebas dari kebisingan, akses internet, pencahayaan yang sangat baik untuk membaca buku di perpustakaan, dan sirkulasi udara yang baik. Pelayanan perpustakaan yang sangat baik dan ruang baca yang nyaman dapat meningkatkan minat pengunjung untuk mengunjungi perpustakaan dan menunjang prestasi belajarnya.
Namun pada faktanya masih ada pengguna yang mengeluhkan pelayanan yang diberikan oleh perpustakaan. Perpustakaan telah melakukan inventarisasi koleksi, namun masih sulit bagi pengguna untuk menemukan koleksi yang mereka butuhkan. Saat melakukan pencarian dengan Online Public Access Catalogue (OPAC), terdapat koleksi di perpustakaan, namun pada saat pengguna datang ke perpustakaan, pengguna tidak dapat menemukan koleksi tersebut. Selain itu, pengguna perpustakaan sering kali tidak dapat menemukan pustakawan yang beredar saat ini, sehingga membuat pengguna bingung saat ingin meminjam buku.
Dari masalah yang sedang dihadapi oleh Perpustakaan USU, yang sebenarnya Perpustakaan USU sudah mengetahui apa saja solusi atas permasalahan tersebut, akan tetapi pegawai perpustakaan USU tidak dapat menentukan prioritas perbaikan kualitas layanan mana yang terlebih dahulu harus diperbaiki, hal ini membuat pelayanan pada perpustakaan USU tersebut tidak dapat terselesaikan.
Thomas L. Saaty adalah seorang ahli matematika yang mengembangkan salah satu metode pengambilan keputusan yaitu Metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Menurut Saaty (1993) metode AHP dapat menyelesaikan masalah yang rumit dengan menyusun hierarki kriteria, pihak yang berkepentingan, dan menggunakan berbagai mempertimbangkan untuk menentukan bobot atau prioritas.
Metode AHP juga dapat disebut sebagai suatu metode pengambilan keputusan yang komprehensif dan terstruktur. Metode AHP dimulai dengan pembobotan kriteria untuk menentukan tingkat kepentingan setiap indikator, kemudian indikator yang menghasilkan bobot alternatif digunakan untuk menentukan nilai tertinggi di antara alternatif yang ada.
Kasman Makkasau (2013), meneliti tentang menentukan prioritas pada program kesehatan (Studi kasus program promosi kesehatan) dengan menggunakan metode AHP, menyimpulkan bahwa pada metode Analytical Hierarchy Process yang mendapat program utama di bidang promosi kesehatan yaitu pendampingan kelurahan siaga, disusul pembentukan kelurahan siaga dan yang terakhir yaitu pelayanan kesehatan jiwa.
Hariyanto, et al. (2020) meneliti tentang penggunaan metode Service Quality dan Analytical Hierarchy Process dalam menentukan prioritas pada perbaikan kualitas layanan jasa servis kendaraan, menyimpulkan bahwa bobot tertinggi yaitu kecepatan mekanik pada servis mobil sebesar 0.107 dan menjadi prioritas pertama yang perlu diperbaiki. Dan untuk prioritas terakhir yaitu pada atribut layanan peralatan dan perlengkapan sebesar 0.020 karena pelanggan yakin bahwa servis di dalam kendaraan yang tersedia sudah cukup lengkap.
Dari uraian-uraian diatas, maka peneliti menerapkan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dalam menentukan prioritas pelayanan mana yang terlebih dahulu yang harus diperbaiki, karena dalam metode AHP suatu prioritas dapat disusun dari berbagai pilihan yang berupa kriteria. Dan judul penelitian pada
skripsi ini berjudul “Penerapan Metode Analytical Hierarchy Process dalam Menentukan Prioritas Peningkatan Kualitas Pelayanan pada Perpustakaan Universitas Sumatera Utara (USU)”.
1.2 Rumusan Masalah
Metode AHP adalah teori umum pada pengambilan keputusan. Metode AHP juga digunakan untuk memecahkan permasalahan dan menyusun prioritas dari berbagai alternatif pilihan yang ada dan pilihan-pilihan tersebut bersifat kompleks atau multikriteria. Maka rumusan masalah pada penelitian yaitu bagaimana menerapkan metode AHP dalam menentukan prioritas pelayanan untuk meningkatkan kualitas pelayanan pada perpustakaan Universitas Sumatera Utara (USU).
1.3 Batasan Masalah
Agar penelitian ini tetap sistematis, peneliti melakukan batasan masalah yaitu : 1. Metode dalam penelitian yaitu metode AHP.
2. Peneliti hanya dilakukan di Perpustakaan USU.
3. Responden dalam penelitian ini merupakan mahasiswa – mahasiswa aktif USU yang pernah mengunjungi perpustakaan USU
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan peneliti yaitu penerapan Metode AHP dalam menentukan prioritas pelayanan untuk meningkatkan kualitas pelayanan pada perpustakaan Universitas Sumatera Utara (USU).
1.5 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian yaitu :
1. Sebagai bahan referensi Perpustakaan Universitas Sumatera Utara (USU) dalam menentukan prioritas peningkatan kualitas pelayanan.
2. Meningkatkan pemahaman pembaca tentang pendekatan pembelajaran dan penerapan metode AHP.
3. Melengkapi literatur universitas yang ada, terutama metode pendukung keputusan AHP.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perpustakaan Perguruan Tinggi
Menurut Trimo (2009:4) “Perpustakaan perguruan tinggi adalah salah satu lembaga yang mengumpulkan, mengolah/mengembangkan, menciptakan, dan menyebarluaskan pengetahuan dan gagasan manusia, dengan menggunakan buku atau bahan lain (seperti slide, slide, film, kaset, brosur, dll), yang dapat digunakan tidak hanya untuk individu di universitas terkait, tetapi juga untuk orang di luar lembaga, jika mereka memiliki kesempatan untuk menggunakannya".
Perpustakaan perguruan tinggi ialah perpustakaan yang berada di lingkungan universitas yang disediakan oleh universitas untuk menyimpan buku maupun bahan pustaka lainnya menyediakan dan menyebarkan informasi untuk membantu universita mencapai tujuan yaitu Tri Dharma perguruan tinggi.
2.1.1 Fungsi Perpustakaan Perguruan Tinggi
Darmanto (2018: 7) menyatakan perpustakaan perguruan tinggi memiliki fungsi yaitu :
1. Fungsi Administratif
Fungsi administratif, yaitu perpustakaan yang bertanggung jawab untuk menyimpan koleksi dan informasi yang diterima.
2. Fungsi Penelitian
Perpustakaan memiliki fungsi sebagai sarana untuk penelitian, karena perpustakaan menyediakan berbagai informasi, bahan referensi yang berguna untuk membantu kegiatan atau aktivitas penelitian.
3. Fungsi Informatif
Perpustakaan mempunyai fungsi informatif, yang artinya perpustakaan menyediakan bahan pustaka yang berisi informasi tentang kualitas berbagai cabang ilmu pengetahuan yang terkini.
4. Fungsi Pendidikan
Perpustakaan memiliki fungsi sebagai sarana atau untuk memperluas fungsi pengetahuan. Perpustakaan menyediakan berbagai informasi, termasuk
percetakan, catatan, atau koleksi lainnya, sebagai sarana untuk mencapai tujuan pendidikan
5. Fungsi Rekreasi
Perpustakaan mempunyai fungsi sebagai sarana rekreasi karena digunakan pembaca untuk mengisi waktu luang. Perpustakaan memiliki fungsi sebagai tempat dan sarana, yang dapat memberikan hiburan kepada penggunanya dengan mendekorasi ruangan semaksimal mungkin agar pengguna merasa nyaman saat menggunakan perpustakaan.
6. Fungsi Kebudayaan
Perpustakaan memiliki fungsi administratif karena menyediakan berbagai informasi, termasuk pencetakan, catatan, atau koleksi lainnya, dalam rangka menumbuhkan budaya baca di kalangan pengguna sebagai syarat penguasaan alih teknologi.
Buku Panduan Perpustakaan Perguruan Tinggi (2015:7) menyampaikan perpustakaan memiliki fungsi yaitu :
1. Fungsi Pendidikan
Perpustakaan adalah sumber belajar di dunia akademis. Oleh karena itu, koleksi yang disediakan adalah koleksi yang mendukung terwujudnya tujuan pembelajaran, mengorganisasikan materi pembelajaran untuk setiap program studi, dan mengumpulkan strategi dan materi belajar mengajar yang mendukung pelaksanaan evaluasi pembelajaran.
2. Fungsi Informasi
Perpustakaan adalah sumber informasi yang mudah diakses oleh pencari dan pengguna informasi.
3. Fungsi Rekreasi
Perpustakaan harus menyediakan koleksi hiburan yang bermakna untuk membangun dan mengembangkan kreativitas, minat dan daya kemampuan inovasi pengguna perpustakaan.
4. Fungsi Publikasi
Perpustakaan wajib menolong mempublikasi karya yang didapatkan pada setiap sivitas akademik dan staf non-akademik.
5. Fungsi Penelitian
Perpustakaan telah menyediakan bahan primer dan sekunder terbaru sebagai bahan penelitian dan evaluasi ilmiah, teknologi dan seni. Koleksi yang didukung oleh perpustakaan universitas untuk penelitian mutlak dimiliki, karena misi universitas adalah menghasilkan karya penelitian yang dapat diterapkan untuk pengembangan masyarakat di berbagai bidang.
6. Fungsi Interpretasi
Perpustakaan juga melakukan evaluasi dan memberikan nilai tambah terhadap sumber informasi yang dimilikinya untuk membantu pengguna dalam menjalankan dharmanya.
7. Fungsi Deposit
Perpustakaan sebagai sentra deposit segala karya dan ilmu yang didapatkan oleh dunia akademik.
Fungsi perpustakaan perguruan tinggi ialah menjadi pusat penyedia informasi yang mendukung civitas akademika untuk memperoleh sumber informasi baik pada aktivitas pendidikan/pembelajaran maupun aktivitas penelitian.
2.1.2 Tujuan Perpustakaan Perguruan Tinggi
Hasugian (2009: 80) “Tujuan perpustakaan perguruan tinggi adalah untuk memberikan layanan informasi untuk kegiatan belajar, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam rangka melaksanakan tri dharma perguruan tinggi”.
Darmanto (2018: 18) “Tujuan dari perpustakaan perguruan tinggi yaitu untuk mengumpulkan, memelihara, menyimpan, mengatur, dan mendayagunakan bahan- bahan pustaka untuk menunjang pendidikan, pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat”.
Pada penjelasan tersebut dapat kita disimpulkan tujuan perpustakaan perguruan tinggi yaitu memenuhi informasi untuk aktivitas pendidikan, pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam rangka melaksanakan tri dharma perguruan tinggi.
2.2 Kualitas Pelayanan Perpustakaan
Zein (2009: 226) mengemukakan bahwa pelayanan adalah sebuah kata, yang harus dilakukan dengan baik untuk penyedia layanan. Sedangkan Mahmoedin (2010: 2) mengemukakan bahwa pelayanan sebagai kegiatan yang memiliki sifat tidak terlihat dan sebagai akibatnya, terjadinya interaksi antara karyawan dan pelanggan yang bertujuan untuk memecahkan masalah pada pelanggan.
Darmono (1001:134) “Pelayanan perpustakaan adalah menyediakan berbagai bentuk koleksi kepada pengguna yang datang ke perpustakaan untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan”.
Pelayanan perpustakaan adalah aktivitas yang dimana perpustakaan membantu pelayanan kepada anggota perpustakaan. Dengan perpustakaan, masyarakat dapat menambah pengetahuan
Kualitas pelayanan mencakup setiap bentuk kegiatan yang dilakukan oleh penyelenggara untuk memenuhi harapan konsumen (Sari dan Jamil,2006). Kotler dan Keller (2009: 180) “Kualitas pelayanan adalah seluruh fitur dan sifat produksi atau pelayanan yang berpengaruh kepada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat”.
Rahayuningsih (2007:85) juga mengemukakan beberapa prinsip-prinsip dasar dalam memberikan layanan perpustakan. Prinsip dasar tersebut yaitu:
1. Layanan bersifat universal adalah layanan yang diberikan tidak hanya kepada orang tertentu namun juga kepada semua konsumen perpustakaan.
2. Layanan ini berpusat pada konsumen, yaitu melayani kepentingan konsumen, tidak pada kepentingan petugas pustaka.
3. Menggunakan disiplin, yaitu menanggung keamanan dan kenyamanan dalam menggunakan perpustakaan.
4. Pengembangan sistem sederhana, cepat dan akurat
Maka dapat disimpulkan bahwa jika kinerja pelayanan dapat memenuhi harapan pengguna, maka pelayanan perpustakaan dapat dikatakan berkualitas tinggi.
2.2.1 Dimensi Kualitas Pelayanan Perpustakaan
Penjelasan Sviokla pada buku Lupiyoadi (2001:146) ada beberapa dimensi untuk mengukur kualitas pelayanan, yaitu :
1. Kinerja (Performance), yaitu kinerja yang mengacu pada karakteristik inti produk, termasuk merek, atribut yang dapat diukur, aspek kinerja individu.
2. Kehandalan (Reliability), dimensi ini berkaitan dengan kemungkinan produk mengalami keadaan tidak berfungsi pada waktu tertentu. Keadaan suatu produk yang menandakan tingkat kualitas sangat berarti bagi konsumen dalam memilih produk.
3. Keseragaman Produk (Features), Features suatu produk biasanya diukur secara subjektif oleh setiap orang, yang menunjukkan adanya perbedaan kualitas pelayanan. Oleh karena itu, pengembangan kualitas produk memerlukan fleksibilitas untuk beradaptasi dengan tuntutan pasar.
4. Kesesuaian (Confarmance), Kesesuaian pada suatu produk industri jasa diukur berdasarkan akurasi juga saat penyelesaian, termasuk perhitungan kesalahan, penundaan tidak terduga, dan juga kesalahan lainnya.
5. Ketahanan (Durability), berukuran ketahanan produk yang mencakup pada segi teknis.
6. Kemampuan Pelayanan (Serviceability) yaitu bahwa konsumen tidak hanya memperhatikan penurunan kualitas tetapi juga memperhatikan waktu sebelum produk dimasukkan ke dalam penyimpanan, penjadwalan pelayanan, proses komunikasi dengan karyawan, dan frekuensi pelayanan perbaikan kerusakan produk.
7. Estetika (Aesthetics), estetika suatu produk tercermin dari bagaimana produk terdengar oleh konsumen, bagaimana tampak luar suatu produk, rasa, maupun bau. Oleh karena itu, estetika merupakan penilaian dan refleksi yang dirasakan konsumen.
8. Kualitas yang dipersepsikan (Perceived Quality), konsumen tidak selalu memiliki informasi yang lengkap tentang atribut produk dan jasa.
Menurut Alma (2003:31-32) kualitas pelayanan memiliki beberapa faktor yaitu :
1. Reliability (Kehandalan)
Kemampuan pustakawan untuk memberikan layanan yang dijanjikan secara akurat, cepat dan memuaskan. Perpustakaan memiliki standar operasional di setiap layanan, misalnya berapa hari yang dibutuhkan dari buku hingga proses
yang dapat dipinjam oleh pengguna. Standar tersebut dikomunikasikan kepada pengguna.
2. Assurance (Jaminan)
yaitu pengetahuan, kesopansantunan dan kemampuan pegawai untuk menumbuhkan rasa percaya para pelanggan perusahaan (organisasi). Dimana jaminan ini terdiri dari beberapa komponen yaitu memastikan kemampuan komunikasi, kesopanan, keamanan dan kredibilitas pustakawan sehingga pustakawan merasa nyaman saat menggunakan layanan perpustakaan.
3. Responsiveness (Daya Tanggap)
Salah satu ciri seorang yang profesional adalah memiliki respon yang cepat atau responsive. Pengguna akan menyukai respon cepat pustakawan terhadap kebutuhan yang dihadapinya.
4. Tangible (Berwujud)
yaitu kemampuan penyedia jasa dalam menunjukkan eksistensinya pada pihak eksternal.Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik organisasi dan keadaan lingkungan sekitarnya adalah bukti nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa. Ini meliputi fasilitas fisik (gedung), perlengkapan dan peralatan yang dipergunakan (teknologi), serta penampilan pegawainya.
5. Emphaty (Empati)
Yaitu memberikan kepada pelanggan perhatian yang tulus yang bersifat pribadi untuk memenuhi keinginan pelanggan.
Untuk mengukur kualitas pelayanan berdasarkan beberapa sudut pandang di atas, maka harus mengetahui dimensi kualitas pelayanan. Semua layanan di perpustakaan dapat menggunakan dimensi kualitas layanan sebagai indikator untuk mengukur kualitas layanannya.
2.2.2 Upaya Meningkatkan Kualitas Pelayanan Perpustakaan
Dwijati (2006,61), upaya pengelola perpustakaan melakukan beberapa upaya guna meningkatkan kualitas pelayanan yaitu :
1. Menambah koleksi buku dan jurnal baru dengan format digital.
2. Memperkuat kerjasama layanan tiap perpustakaan.
3. Mengembangkan layanan baru berupa paket informasi atau informasi terkini tentang topik tertentu.
4. Meningkatkan kualitas SDM dengan memberikan pelatihan TI untuk layanan pendukung.
Kurniawati (2007, 5-6) mengemukakan bahwa ada cara untuk meningkatkan kualitas layanan perpustakaan, yaitu:
1. Melalui peningkatan SDM (Sumber Daya Manusia), yakni dengan diikut sertakannya petugas dalam berbagai pendidikan, kegiatan dan keterampilan.
2. Dengan meningkatkan sarana dan prasarana, yaitu menambah semua barang atau peralatan yang disediakan oleh perpustakaan.
2.3 Uji Validitas dan Reliabilitas
Validitas uji merupakan tingkat keandalan dan kesahihan ukur alat yang digunakan.
Valid instrumen merupakan alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data yang valid atau dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2012:137).
∑ (∑ (∑ ))
√* ∑ (∑ ) + * ∑ (∑ ) +
(2.1)
dimana :
r = koefisien korelasi antara skor item dengan skor total x = jumlah tiap-tiap item
y = jumlah skor item
xy = Jumlah nilai kali skor tiap-tiap item dengan skor total item x2 = jumlah kuadrat nilai skor tiap-tiap item
y2 = jumlah kuadrat nilai total item n = subyek yang diteliti
Nilai r yang telah dihitung kemudian dinamakan rhitung. Untuk mengetahui valid atau tidaknya masing-masing item pertanyaan maka nilai rhitung dibandingkan dengan nilai rtabel dengan . Apabila nilai rhitung lebih besar dari nilai rtabel
maka dapat disimpulkan bahwa item tersebut adalah valid.
Menurut Ghozali (2012:47 dalam Prabowo dan Fathoni (2017) uji reliabilitas adalah sebuah indikator dari variabel atau kontruk yang berupa data yang dapat
digunakan untuk suatu kuesioner. Hasil dari suatu kuesioner dapat disebut reliabel atau handal apabila jawaban responden terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil. Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan metode Cronbach’s Alpha. Rumus Cronbach’s Alpha.yaitu :
[
] [
∑∑
]
(2.2)dimana :
= Reliabilitas instrumen k = Jumlah butir pertanyaan
∑ = Varians total
∑ = Jumlah Varians butir
Suatu data akan disebut reliabel jika besarnya nilai Cronbach’s Alpha lebih besar dari 0,6 (Ghozali,2012).
2.4 Metode Analytical Hierarchy Process (AHP)
Saaty, T.L. (1993) mengatakan bahwa AHP adalah sebuah teori penilaian yang digunakan untuk menurunkan skala rasio dari perbandingan berpasangan diskrit dan kontinu. Hierarki sangat penting ketika mendefinisikan masalah dengan menggunakan AHP dan hubungan dalam struktur menggunakan perbandingan berpasangan. Struktur hierarki disajikan dalam diagram pohon yang berisi tujuan, kriteria, sub kriteria dan alternatif. Perbandingan berpasangan digunakan untuk membangun hubungan dalam suatu struktur. Hasil dari perbandingan berpasangan ini akan berbentuk matriks yang skala rasionya diturunkan dalam bentuk vektor eigen atau eigen utama.
Metode AHP sering digunakan untuk mengambil keputusan, pemecahan masalah, perencanaan, mengidentifikasi alternatif, menetapkan prioritas, memilih kebijakan, mengalokasikan sumber daya, mengidentifikasi kebutuhan, memproyeksikan hasil, perencanaan hasil, perencanaan sistem, pengukuran kinerja, optimasi, dan resolusi konflik.
Menurut Supriadi (2018:11) keunggulan AHP dalam memecahkan masalah dan pengambilan keputusan yaitu :
1. Kesatuan (Unity)
AHP mengubah isu-isu yang luas dan tidak terstruktur menjadi model yang fleksibel dan mudah dipahami.
2. Struktur Hierarki (Hierarchy Structuring)
AHP memiliki pemikiran alamiah, yang cenderung mengelompokkan elemen- elemen sistem ke dalam level yang berbeda, dengan setiap level memiliki elemen yang sama.
3. Kompleksitas (Complexity)
AHP memecahkan masalah yang kompleks melalui pendekatan sistematis dan integrasi deduktif.
4. Pengukuran
AHP mempunyai skala pengukuran dan metode pengambilan prioritas.
5. Saling Ketergantungan (Interdependence)
AHP dapat digunakan dengan elemen sistem yang independen satu sama lain dan tidak memerlukan hubungan linier.
6. Konsistensi (Consistency)
AHP mempertimbangkan konsistensi logis pada penilaian yang digunakan untuk menetapkan prioritas.
7. Trade Off
AHP memungkinkan orang untuk memilih alternatif berdasarkan tujuan mereka, dengan mempertimbangkan prioritas relatif dari elemen-elemen dalam sistem.
8. Penilaian dan Konsensus (Judgement and Consensus).
AHP tidak memerlukan konsensus, tetapi menggabungkan hasil beberapa evaluasi.
9. Sintesis (Synthesis)
AHP mengacu pada perkiraan keseluruhan seberapa banyak anda menginginkan setiap alternatif.
10. Pengulangan Proses (Process Repetition)
AHP memungkinkan orang untuk memperbaiki masalah, meningkatkan penilaian dan pemahaman mereka melalui proses berulang.
Adapun kelemahan dalam penerapan metode AHP ialah :
1. Ketergantungan metode AHP pada input pertamanya. Input utama merupakan persepsi seorang ahli sehingga melibatkan subjektifitas sang ahli, dan juga metode menjadi tidak berarti jika ahli tersebut memberikan penilaian yang keliru.
2. Metode AHP juga adalah metode matematis tanpa ada pengujian secara statistik sehingga tidak ada batas dari kebenaran model yang terbentuk.
2.4.1 Landasan Aksiomatik AHP
Aksioma adalah suatu yang tidak bisa disangkal validitasnya dan pasti terjadi.
Pengguna model AHP harus mempertimbangkan empat aksioma. Dan pelanggaran tiap aksioma akan mengakibatkan model yang dipakai tidak valid.
Menurut Brodjonegoro & Utama dalam Fatmawati (2007), ada empat aksioma pada metode AHP yaitu :
1. Aksioma 1
Reciprocal comparison artinya pengambil keputusan harus dapat membuat perbandingan dan menyatakan preferensinya. Preferensinya itu sendiri harus memenuhi syarat timbal balik yaitu kalau A lebih disukai dari B dengan skala x, maka B lebih disukai A dengan skala 1/x.
2. Aksioma 2
Homogenity, artinya preferensi seseorang harus dinyatakan dalam skala terbatas atau dengan kata lain elemen-elemennya dapat dibandingkan satu sama lain. Jika aksioma ini tidak dapat dipenuhi, makan elemen yang dibandingkan tidak homogen, dan kumpulan elemen baru harus dibentuk.
3. Aksioma 3
Independence, artinya preferensi dinyatakan dengan mengasumsikan bahwa kriteria tidak dipengaruhi oleh alternatif yang ada tetapi oleh tujuan keseluruhan.
Hal ini menunjukkan bahwa pola ketergantungan atau pengaruh dalam 58 model AHP adalah searah ke atas. Artinya perbandingan antara elemen-elemen dalam satu level dipengaruhi atau tergantung oleh elemen dalam level di atasnya.
4. Aksioma 4
Expectations, artinya untuk tujuan pengambilan keputusan, asumsikan bahwa hierarki sudah lengkap. Jika asumsi ini tidak terpenuhi, pengambil keputusan tidak akan menggunakan semua standar atau target yang tersedia atau diperlukan, sehingga keputusan yang diambil tidak lengkap.
2.4.2 Prinsip Dasar AHP
Saaty (1993) dalam (Tantyonimpuno 2006:80), menyatakan bahwa menyelesaikan masalah dengan menggunakan metode AHP memiliki prinsip dasar, yaitu:
1. Penyusunan Hierarki Masalah
Decomposition merupakan prinsip pertama pada proses hierarki analitik. Pada prinsip ini menetapkan konsep yaitu mendeskripsikan atau menyelesaikan suatu masalah secara utuh ke dalam bagian-bagian yang terwujud dalam bentuk hierarki setelah masalah tersebut didefinisikan. Untuk memperoleh hasil yang akurat, unsur-unsur tersebut dipecahkan sampai tidak dapat lagi, diselesaikan, sehingga diperoleh beberapa tingkatan masalah yang harus diselesaikan. Ada dua jenis hierarki, yaitu lengkap (complete) dan tidak lengkap (incomplete).Dalam hierarki lengkap, semua unsur dari satu tingkat terkait dengan semua unsur tingkat berikutnya. Sementara hierarki tidak lengkap adalah kebalikan dari hierarki lengkap. Tahapan dalam menyusun struktur hierarki yaitu :
a. Menentukan tujuan keseluruhan dan sub-tujuan,
b. Menemukan kriteria untuk mendapatkan sub-tujuan dari tujuan keseluruhan, c. Membuat sub kriteria untuk setiap kriteria. Setiap kriteria dan sub kriteria
bersifat spesifik dan menunjukkan tingkat nilai dari parameter atau nilai intensitas verbal,
d. Menentukan pelaku yang terlibat, e. Kebijakan dari pelaku,
f. Menentukan alternatif sebagai tujuan kinerja prioritas.
Struktur decomposition yaitu :
1. Level Pertama : Tujuan keputusan (goal) 2. Level Kedua : Kriteria
3. Level Ketiga : Alternatif
Gambar 2. 1 Bentuk Struktur Decomposition Sumber: Thomas L. Saaty, 1993
2. Penilaian Perbandingan Berpasangan
Penilaian ini mengacu pada kepentingan yang relatif dari dua faktor sampai batas tertentu dalam kaitannya dengan kriteria di atasnya. Dalam penelitian ini sangat penting bagi metode AHP, karena akan mempengaruhi penentuan prioritas dari faktor yang mendasari pengambilan keputusan. Kesimpulan dari penilaian akan ditunjukan dalam sebuah matriks yang dikenal dengan matriks perbandingan berpasangan.
3. Sintesis Prioritas
Sintesis prioritas diawali dengan menggunakan metode vektor eigen untuk memperoleh bobot relatif pada elemen pengambilan keputusan. Proses yang dilakukan yaitu dengan mengalikan prioritas lokasi dengan prioritas kriteria yang relevan pada tingkat yang lebih tinggi dan menambahkan ke setiap elemen dari tingkat kriteria yang relevan. Kemudian hasilnya digunakan untuk menetapkan bobot ke prioritas dari elemen pada tingkat terendah menurut kriteria.
4. Konsistensi Logis
Konsistensi mempunyai dua makna. Yang pertama adalah bahwa objek yang sama bisa dikelompokkan menurut konsistensi dan relevansi. Dan kedua yaitu pada tingkat hubungan antar objek berdasarkan kriteria tertentu. Konsistensi data diperoleh dari rasio konsistensi (CR) yang merupakan hasil bagi antara indeks konsistensi (Ci) dan indeks random (Ri).
Dengan menerapkan empat prinsip dasar, maka AHP dapat menggabungkan dua aspek pengambilan keputusan sebagai berikut :
1. Sebagai kualitatif : AHP mendeskripsikan masalah dan mengevaluasi untuk memperoleh solusi dari setiap masalah.
2. Sebagai kuantitatif : AHP membuat perbandingan dan evaluasi dengan numerik untuk memperoleh solusi dari setiap masalah.
2.4.3 Penyusunan Prioritas
Langkah awal dalam memprioritaskan yaitu setiap elemen yang dipasangkan akan dibandingkan. Perbandingan tersebut berbentuk matriks, sehingga dikenal dengan matriks perbandingan berpasangan.
Bentuk matriks perbandingan berpasangan :
[
]
(2.3)
dimana :
= 1
Jika maka
Dalam kelompok besar, penentuan prioritas lebih mudah dikelola dengan membagi para anggota menjadi kelompok-kelompok kecil yang terspesialisasi, yang masing-masing memecahkan masalah di bidang tertentu dimana anggota memiliki keahlian khusus. Jika subkelompok digabungkan, nilai setiap matriks harus diperdebatkan dan dikoreksi. Namun, debat dapat dibatalkan dan pendapat individu diambil melalui kuesioner untuk mencapai skor akhir menggunakan geomean dibawah ini.
√
(2.4)dimana :
Penilaian gabungan Penilaian responden ke-i Penilaian gabungan
Pada penentuan prioritas, ada dua langkah penilaian, ialah perbandingan kriteria dan perbandingan pilihan untuk setiap kriteria. Perbandingan kriteria bertujuan untuk menetapkan bobot masing-masing kriteria. Dan perbandingan pilihan untuk setiap kriteria bertujuan untuk melihat bobot suatu pilihan terhadap suatu kriteria. Dengan kata lain, penilaian bertujuan untuk memperkirakan pentingnya suatu pilihan berlandaskan kriteria tertentu. Dan untuk mengisi matriks berpasangan digunakan skala perbandingan berpasangan yang sudah ditetapkan.
Tabel 2. 1 Skala Saaty untuk Perbandingan Berpasangan Tingkat
Kepentingan
Definisi
1 Dua elemen yang sama pentingnya.
3 Elemen yang satu sedikit lebih penting daripada elemen yang lainnya atau 5 Elemen yang satu lebih penting daripada
elemen yang lainnya.
7 Satu elemen jelas lebih mutlak penting daripada elemen yang lainnya.
9 Satu elemen mutlak lebih disukai dibandingkan dengan pasangannya, pada tingkat keyakinan tertinggi
2, 4, 6, 8 Nilai diantara dua pilihan yang berdekatan
2.5 Menormalisasikan Matriks
Normalisasi matriks merupakan usaha buat menyatukan tiap elemen matriks sehingga matriks mempunyai skala nilai yang sama. Normalisasi matriks dilakukan setelah matriks perbandingan berpasangan ditetapkan. Normalisasi matriks dapat dihitung menggunakan metode membagi elemen pada matriks perbandingan berpasangan dengan total kolom elemen pada matriks perbandingan berpasangan.
Bentuk persamaannya yaitu :
(2.5)
dimana :
Jumlah kolom setiap elemen 2.6 Eigen Value dan Eigen Vector
Bila merupakan sebuah matriks × , hingga suatu vektor tidak nol 𝒙 pada ℝ dikatakan vektor eigen (vektor karakteristik) dari bila 𝒙 merupakan suatu kelipatan skalar dari 𝒙; jelasnya:
𝒙 = 𝜆𝒙 (2.6)
untuk skalar sebarang 𝜆. Skalar 𝜆 ini disebut nilai eigen (nilai karakteristik) dari , dan 𝑥 disebut sebagai vektor eigen (vektor karakteristik) dari yang terkait dengan 𝜆.
Untuk mendapatkan nilai eigen dari suatu matriks berdimensi × , persamaan 𝒙 = 𝜆𝒙 bisa dituliskan sebagai berikut.
𝒙 = 𝜆𝐼𝒙 𝒙 − 𝜆𝐼𝒙 = 𝟎
− 𝜆𝐼 𝒙 = 𝟎 (2.7)
Agar 𝜆 dapat menjadi nilai eigen, harus terdapat satu solusi tak nol dari persamaan ini. Persamaan ini memiliki solusi tak nol jika dan hanya jika :
det − 𝜆𝐼 = 0 (2.8)
Persamaan di atas dikenal sebagai persamaan karakteristik dari matriks ; skalar-skalar yang memenuhi persamaan ini merupakan nilai-nilai eigen dari matriks .
Dalam menghitung nilai eigen vektor pada matriks perbandingan berpasangan yaitu dengan membagikan jumlah baris matriks yang sudah dinormalisasikan dengan jumlah kolom setiap elemen. Bentuk persamaannya yaitu :
∑ , - (2.9)
dimana :
Nilai Eigen Vector pada elemen Baris elemen
Jumlah kolom setiap elemen
Eigen value maksimum ( ) didapat dengan menjumlahkan hasil perkalian jumlah kolom dengan nilai eigen vector. bentuk persamaannya yaitu :
( ) ∑ ( ) (2.10) 2.7 Uji Konsistensi dan Rasio
Cara utama membedakan pada metode AHP dengan cara pengambilan keputusan yang lain yaitu terdapatnya ketentuan konsistensi yang absolut. Pengumpulan pendapat antara satu aspek dengan aspek lainnya adalah bebas satu sama lain, dan hal ini dapat mengarah pada ketidak konsistenan juga tidak diinginkan. Pengulangan wawancara pada beberapa responden yang sama kadang dibutuhkan apabila derajat tidak konsistensinya besar.
Thomas L Saaty telah membuktikan bahwa Indeks Konsistensi dari matriks berordo n dapat diperoleh dengan rumus:
𝐼
(2.11)
dimana :
CI = Rasio Penyimpangan (deviasi) konsistensi (consistency ratio) 𝑥 = Eigen value maksimum
n = Ordo matriks
jika CI adalah nol, maka matriks perbandingan berpasangan adalah konsisten.
Batas ketidakkonsistenan yang telah ditetapkan oleh Thomas L. Saaty ditentukan dengan menggunakan Rasio Konsistensi (CR), yaitu perbandingan indeks konsistensi dengan nilai random index (RI) yang diperoleh dari suatu uji coba yang dilakukan
oleh Oak Ridge National Laboratory, selanjutnya dikembangkan oleh Wharton School dan ditunjukan pada tabel 2.3. Nilai ini tergantung pada ordo matriks n. Oleh karena itu, rasio konsistensi dapat dirumuskan sebagai berikut :
(2.12)
dimana :
CR = consistency ratio RI = Random index
Nilai CI tidak ada artinya jika tidak terdapat acuan untuk menunjukkan apakah CI suatu matriks yang konsisten atau tidak konsisten. Thomas L.Saaty mendapatkan nilai Random Indeks (RI) seperti berikut:
Tabel 2. 2 Nilai Random Indeks (RI) Ukuran Matriks
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Indeks
Random (RI) 0,00 0,00 0,58 0,90 1,12 1,24 1,32 1,41 1,45 1,49
BAB 3 METODE PENELITIAN METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian
Pada penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif yaitu penelitian yang menguraikan permasalahan sampai ke pangkal masalah, yang dapat diketahui sebab-sebab permasalahan yang terjadi. Permasalahan yang telah didefinisikan kemudian dapat digunakan sebagai dasar dalam memberikan rekomendasi perbaikan yang tepat. Dalam penelitian ini, peneliti bertujuan memperoleh gambaran pelayanan mana yang harus diprioritaskan untuk meningkatkan kualitas pelayan pada perpustakaan Universitas Sumatera Utara (USU).
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di perpustakaan USU yang berada di JL. Perpustakaan No. 1 Padang Bulan, Kec. Medan Baru. Penelitian dilakukan pada bulan Maret hingga bulan Juli 2021.
3.3 Populasi dan Sampel
Untuk mendapatkan data secara utuh, maka harus diketahui populasi dan sampel yang akan diteliti. Sugiyono (2012:117) “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya”.
Maka pada penelitian ini yang menjadi populasi yaitu mahasiswa aktif USU.
Dari data Badan Pusat Statistika (BPS), jumlah mahasiswa aktif di Universitas Sumatera Utara (USU) pada 2019/2020 sejumlah 46.921 mahasiswa.
Mengingat jumlah penelitian yang besar, maka peneliti membatasi jumlah populasi untuk dijadikan sampel. Sampel merupakan bagian dari populasi yang akan dijadikan objek pada penelitian. Metode yang dipakai pada penarikan sampel ini yaitu teknik accidental sampling. Accidental sampling yaitu pengambilan sampel secara aksidental dengan mengambil responden yang kebetulan ada atau bersedia mengisi angket (kuesioner) dari peneliti.
Cara menentukan jumlah sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan Rumus Slovin.
Rumus Slovin
:
(3.1)
dimana :
n = Ukuran sampel N = Ukuran populasi
e = Standar error, sebesar 10%
Berdasarkan rumus slovin pada persamaan 3.1 maka sampel pada penelitian yaitu :
( )
Pengambilan sampel dilakukan selama dua minggu dari tanggal 12 hingga 26 Juli 2021. Sampel pada penelitian ini yaitu berjumlah 100 mahasiswa.
3.4 Jenis Data
1. Data Primer ialah informasi yang didapatkan dengan pengamatan dan pengukuran secara langsung terhadap objek riset. Pada riset ini, data primer yang digunakan adalah data hasil pengisian kuesioner yang diberikan peneliti kepada responden (Mahasiswa-mahasiswi aktif USU).
2. Data Sekunder yaitu informasi yang menunjang data primer yang bersumber dari jurnal, buku, dan dokumentasi lain yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti. Pada penelitian ini data sekunder diperoleh Dari Laporan Kajian Kepuasan Pemustaka Terhadap Perpustakaan Nasional RI : Kajian Kualitatif Dan Kuantitatif (2017:13) yang berupa kriteria dan sub kriteria yang digunakan sebagai indikator prioritas pelayanan perpustakaan.
Dan dalam penelitian ini, peneliti memilih 5 Kriteria dan 18 sub kriteria.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Teknik dalam pengumpulan data sebagai berikut : 1. Observasi
Observasi menurut Sutrisno Hadi dalam Sugiyono (2012:203) mengemukakan bahwa, observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis.
Peneliti mengamati langsung ke Perpustakaan USU secara rinci untuk melihat keadaan perpustakaan secara keseluruhan, khususnya tentang pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan pemustaka. Teknik ini digunakan untuk melengkapi data dari hasil kuesioner.
2. Kuesioner
Kuesioner adalah metode dalam mengumpulkan dengan cara menyajikan serangkaian pertanyaan atau pernyataan tertulis untuk dijawab oleh responden (Sugiyono, 2012:199).
Data dikumpulkan dengan memakai google form. Kemudian membuat kuesioner yang berisi pertanyaan dan pernyataan, peneliti memberikan kuesioner secara online kepada responden.
Penyebaran kuesioner dilakukan melalui nomor handphone masing- masing responden dan dibantu beberapa teman peneliti dengan menyebarkan link kuesioner ke grup organisasi atau grup kumpulan mahasiswa aktif USU.
Responden dapat menjawabnya baik Via Smartphone atau Laptop
Data yang diperoleh dari responden sebanyak 105 responden dengan 3 data yang salah dikarenakan responden memilih kedua indikator yang seharusnya dipilih salah satu angka antara kriteria A atau kriteria B. Dan kriteria yang tidak dipilih seharusnya dipilih pada bagian Tidak. Tetapi, 3 responden tersebut memilih angka di kedua kriteria dengan angka yang berbeda.
3. Studi Kepustakaan dan Berkas
Ialah mencari referensi dari berbagai sumber baik pada buku, jurnal, ataupun dokumen yang berkaitan dengan yang diteliti.
3.6 Tahapan Penelitian 1. Studi Pustaka
Pada tahap ini penelitian dimulai dengan mencari referensi yang didapat dari jurnal, buku, artikel ilmiah, dan makalah dari berbagai sumber yang berhubungan dengan pelayanan, perpustakaan perguruan tinggi, dan Metode AHP.
2. Mengkaji apakah metode AHP dapat diterapkan pada masalah menentukan prioritas peningkatan kualitas pelayanan.
3. Pengumpulan Data
Data yang digunakan adalah mahasiswa – mahasiswi aktif USU dan dengan menggunakan angket (Kuesioner).
4. Pengolahan Data
a. Merumuskan masalah dan menentukan solusi b. Menentukan kriteria dan sub kriteria
c. Membentuk struktur hierarki yang dimulai tujuan, kriteria dan sub kriteria d. Mengumpulkan data yang didapat secara online yang telah dibagikan
kepada mahasiswa-mahasiswi aktif USU.
e. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
Pengujian validitas dilakukan dengan menganalisis unsur-unsur dari setiap nilai pertanyaan yang berkorelasi dengan nilai keseluruhan pertanyaan. Jika nilai r hitung lebih besar dari nilai r tabel (r hitung > r tabel) maka hasil pengisian kuesioner dikatakan valid. Sementara itu, pengujian reliabilitas bertujuan mengetahui apakah hasil dari kuesioner dapat diandalkan apabila dilakukan berulang-ulang. Hasil kuesioner dianggap reliabel apabila nilai hitung menunjukkan nilai yang lebih besar dari 0,8 (nilai hitung > 0,8), dan nilai akan dianggap kurang baik jika berada dibawah 0,6 (nilai hitung < 0,6) (Sekaran, 2000). Pada penelitian ini, peneliti menggunakan software SPSS untuk menguji Validitas dan Reliabilitas.
f. Mengidentifikasikan perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap setiap kriteria.
Perbandingan dilakukan berdasarkan pilihan pengambil keputusan dengan
menilai pentingnya suatu elemen dibandingkan elemen lainnya berdasarkan skala Saaty.
g. Menormalisasikan matriks.
Normalisasi ialah membagikan nilai dari tiap elemen pada matriks berpasangan dengan nilai total dari tiap kolom. Untuk menghitung normalisasi matriks dapat menggunakan persamaan 2.5
h. Menghitung nilai eigen vector dan eigen value maksimum pada matriks.
Perhitungan nilai eigen vector dapat dilakukan dengan rumus persamaan 2.9. dan untuk menghitung nilai eigen maksimum yaitu dengan persamaan 2.10
i. Melakukan pengujian/perhitungan indek konsistensi (CI).
Untuk menguji indek konsistensi dapat menggunakan persamaan 2.11.
j. Menghitung kekonsistenan ratio maka dapat menggunakan persamaan 2.12. Dan jika CR < 0,100 tidak memenuhi, maka disarankan untuk melakukan perhitungan ulang kembali.
k. Jika CR < 0,100 sudah memenuhi, langkah selanjutnya yang dilakukan yaitu untuk mendapatkan hasil urutan prioritas. Untuk mendapatkan hasil urutan prioritas yaitu dari perkalian antara eigen vektor kriteria dengan eigen vector masing-masing sub kriteria.
l. Lalu urutkan prioritas dari nilai bobot terbesar sampai nilai bobot terkecil.
5. Penarikan kesimpulan dan saran.
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dibahas urutan prioritas pelayanan perpustakaan USU menggunakan metode Analytical Hierarchy Process. Diperlihatkan pada Tabel 4.1 Kriteria dan Sub kriteria Faktor pelayanan Perpustakaan dan Gambar 4.1 untuk struktur hierarki Kriteria dan Sub kriteria faktor pelayanan perpustakaan
Tabel 4. 1 Kriteria dan Sub kriteria Faktor Pelayanan Perpustakaan
Kriteria Sub kriteria
A1
Bukti Langsung (Tangible)
Sarana Komputer dan jumlahnya memadai untuk kebutuhan yang diperlukan
A2 Ruangan perpustakaan yang nyaman dan tenang
A3 Fasilitas penggandaan dokumen (fotokopi,printer) memadai dan harganya terjangkau
A4 Koleksi perpustakaan terpelihara dengan baik, bersih dan rapi B1
Kehandalan (Reliability)
Petugas perpustakaan mampu memberikan informasi yang akurat B2 Tersedia sarana untuk mengajukan keluhan atau usulan perbaikan B3 Akses/ Jaringan internet di perpustakaan cepat
B4 Pustakawan dapat membimbing pengguna perpustakaan C1 Tanggung
Jawab (Responsive ness)
Pustakawan mampu membantu pelayanan dengan cepat C2 Kemudahan peminjaman dan pengembalian buku
C3 Pustakawan memahami kebutuhan saya dan siap membantu D1 Empati
(Empathy)
Katalog/Fasilitas penelusuran mudah digunakan D2 Pustakawan bersikap ramah dan sopan
D3 Pustakawan berada ditempat selama jam kerja E1
Jaminan (Assurance)
Informasi mengenai fasilitas dan prosedur layanan perpustakaan jelas dan memadai
E2 Pustakawan dapat membantu Anda menemukan inventaris perpustakaan yang Anda butuhkan
E3 Pustakawan mampu menunjukkan bagaimana menggunakan fasilitas perpustakaan (Misalnya : komputer)
E4 Ketersediaan buku di OPAC USU dan di perpustakaan sama adanya
Gambar 4. 1 Kriteria dan Sub kriteria Faktor pelayanan Perpustakaan 4.1 Analisis Metode Analytical Hierarchy Processs (AHP)
Metode Analytical Hierarchy Processs (AHP) adalah sistem pengambilan keputusan yang menyelesaikan masalah yang kompleks dalam kondisi dimana komponen- komponennya tidak terstruktur. Menyusun variabel menjadi suatu hierarki, kemudian memberikan nilai numerik untuk penilaian subjektif dari kepentingan relatif setiap variabel dan menggabungkan penilaian untuk variabel mana yang memiliki tingkat kepentingan relatif yang lebih tinggi. AHP menghubungkan pertimbangan dan penilaian pribadi yang logis yang terdorong oleh imajinasi, pengalaman, dan pengetahuan untuk membangun hierarki masalah yang berdasarkan logika, intuisi dan pengalaman untuk membuat penilaian. AHP adalah metode yang mengidentifikasi, memahami dan memberikan perkiraan interaksi di seluruh sistem (Mutholib dan Febrina, 2017).
Tahapan dalam penerapan metode AHP yaitu : 1. Pengolahan Data
a. Menentukan kriteria dan sub kriteria
b. Membentuk struktur hierarki yang dimulai tujuan, kriteria dan sub kriteria c. Mengidentifikasikan perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap setiap kriteria.
Perbandingan dilakukan berdasarkan pilihan pengambil keputusan dengan Tangible
Dimensi Pelayanan Perpustakaan
Reliability Responsiveness Empathy Assurance B1
B2 B3 B4
C1 C2 C3
E1 E2
1 E3 1 E4 A1
A2 A3 A4
D1 D2 D3
menilai pentingnya suatu elemen dibandingkan elemen lainnya berdasarkan skala Saaty.
d. Menormalisasikan matriks.
Normalisasi ialah membagikan nilai dari tiap elemen pada matriks berpasangan dengan nilai total dari tiap kolom. Untuk menghitung normalisasi matriks dapat menggunakan persamaan 2.5
e. Menghitung nilai eigen vector dan eigen value maksimum pada matriks.
Perhitungan nilai eigen vector dapat dilakukan dengan rumus persamaan 2.9. dan untuk menghitung nilai eigen maksimum yaitu dengan persamaan 2.10
f. Melakukan pengujian/perhitungan indek konsistensi (CI).
Untuk menguji indek konsistensi dapat menggunakan persamaan 2.11.
g. Menghitung kekonsistenan ratio maka dapat menggunakan persamaan 2.12. Dan jika CR < 0,100 maka disarankan untuk melakukan perhitungan ulang kembali.
h. Jika CR < 0,100 sudah memenuhi, langkah selanjutnya yang dilakukan yaitu untuk mendapatkan hasil urutan prioritas. Untuk mendapatkan hasil urutan prioritas yaitu dari perkalian antara eigen vektor kriteria dengan eigen vector masing-masing sub kriteria.
i. Lalu urutkan prioritas dari nilai bobot terbesar sampai nilai bobot terkecil.
4.2 Uji Validitas dan Uji Reliabilitas pada Kriteria dan Subkriteria 4.2.1 Uji Validitas
Uji validitas dilakukan untuk menunjukkan sejauh mana ketepatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini yaitu kuesioner. Uji validitas terhadap kuesioner dilakukan agar diketahui apakah hasil pengukuran suatu atribut berdasarkan respon individu menghasilkan hasil yang tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.
Pada uji validitas dikatakan valid apabila nilai rhitung > rtabel, berlaku pula untuk sebaliknya apabila nilai rhitung ≤ rtabel maka atribut tersebut dinyatakan tidak valid. Taraf signifikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebesar 5%, dengan jumlah sampel awal adalah sebesar 100 responden. Maka nilai R tabel yang dapat dilihat pada lampiran 10 , dengan N=100 dan taraf signifikansi 5%
adalah 0,1966.
Pada lampiran 9, dapat dilihat output uji validitas pada kriteria dan semua sub kriteria. Pada Uji validitas kriteria X1 memiliki rhitung > rtabel yaitu 0.594 >
0.1966. Dan nilai rhitung pada semua atribut baik pada kriteria dan subkriteria memiliki nilai yang lebih dari nilai rtabel. Hal ini menyatakan bahwa pernyataan dalam kuesioner adalah valid.
4.2.2 Uji Reliabilitas
Setelah uji validitas selesai dilakukan dan atribut dinyatakan valid, maka selanjutnya melakukan uji reliabilitas. Uji reliabilitas dilakukan agar dapat mengetahui alat ukur suatu penelitian dapat diandalkan dan terhindar dari kesalahan pengukuran. Untuk uji reliabilitas dapat menggunakan metode Cronbach Alpha.
Kategori koefisien reliabilitas (Guilford, 1956: 145) dapat lihat pada Gambar 4.2 :
Gambar 4. 2 Koefisien Reliabilitas
Pada penelitian ini, uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan bantuan software SPSS. Berikut hasil perhitungan untuk hasil uji reliabilitas kuesioner pada Kriteria dan sub kriteria A, sub kriteria B, sub kriteria C, sub kriteria D, sub kriteria E.
Gambar 4. 3 Uji Reliabilitas pada Semua Kriteria
Gambar 4. 4 Uji Reliabilitas pada Sub kriteria A
Gambar 4. 5 Uji Reliabilitas pada Sub kriteria B
Gambar 4. 6 Uji Reliabilitas pada Sub kriteria C
Gambar 4. 7 Uji Reliabilitas pada Sub kriteria D
Gambar 4. 8 Uji Reliabilitas pada Sub kriteria E
Berdasarkan hasil pengujian reliabilitas menggunakan bantuan software SPSS, dapat terlihat bahwa data kriteria dan data sub kriteria diatas menunjukkan reliabel karena pada nilai Cronbach Alpha > 0.6.
Berikut contoh : Pada Gambar 4.2 Uji Reliabilitas pada kriteria menunjukkan Cronbach Alpha > 0.6 atau (0.737>0.6).
4.3 Menghitung Kriteria Pembobotan Hierarki untuk Semua Kriteria
Untuk menghitung nilai matriks kriteria dilakukan beberapa langkah yaitu sebagai berikut :
1. Menyusun data pada penilaian pelayanan perpustakaan Universitas Sumatera Utara (USU) pada matriks perbandingan berpasangan sebagai tabel berikut :
Tabel 4. 2 Matriks Perbandingan antar Kriteria
Kriteria Tangible Reliability Responsiveness Empathy Assurance
Tangible 1 1.35 1.01 1.22 1.10
Reliability 0.74 1 0.89 1.31 1.24
Responsiveness 1.25 1.12 1 1.31 1.09
Empathy 0.82 0.76 0.76 1 1.11
Assurance 0.91 0.81 0.92 0.9 1
Total 4.72 5.04 4.58 5.74 5.54
2. Setelah proses pembuatan matriks berpasangan, kemudian dilakukan normalisasi matriks. Berikut contoh perhitungan normalisasi pada kriteria Assurance dengan menggunakan persamaan 2.5.
Menghitung nilai eigen vector dengan menggunakan persamaan 2.9 :
∑ , -
Tabel 4. 3 Normalisasi Matriks Perbandingan Berpasangan antar Kriteria
Kriteria Tangible Reliability Responsiveness Empathy Assurance Eigen vector
Tangible 0.212 0.268 0.220 0.213 0.199 0.222
Reliability 0.157 0.198 0.194 0.228 0.224 0.201
Responsiveness 0.265 0.223 0.218 0.228 0.197 0.226
Empathy 0.174 0.151 0.167 0.174 0.200 0.173
Assurance 0.193 0.160 0.200 0.157 0.181 0.178
Gambar 4. 9 Normalisasi Matriks Perbandingan Berpasangan antar Kriteria 3. Dan dengan menggunakan persamaan 2.10, maka didapatkan
*( ) ( ) ( ) ( ) ( )+
4. Menghitung nilai indeks konsistensi. Dalam penelitian ini memiliki 5 kriteria, maka matriks berordo 5. Dengan menggunakan persamaaan 2.11 maka diperoleh indeks konsistensi yaitu :
𝐼 ( )
( )
0
0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 0,3
Tangible Reliability Responsiveness Empathy Assurance
Untuk maka RI = 1.12 (Tabel 2.3) , dan dengan menggunakan persamaan 2.12 maka diperoleh konsistensi rasio yaitu :
𝐼
Hasil perhitungan untuk semua kriteria yaitu konsisten karena 0.04165 < 0,100 ( ).
4.4 Menghitung kriteria Pembobotan Hierarki untuk Sub Kriteria Tangible Elemen dari kriteria tangible terdiri dari:
A1 = Sarana komputer dan jumlahnya memadai untuk kebutuhan yang diperiksa
A2 = Ruangan perpustakaan yang nyaman dan tenang
A3 = Fasilitas penggandaan dokumen (fotokopi,printer) memadai dan harganya terjangkau
A4 = Koleksi perpustakaan terpelihara dengan baik, bersih dan rapi.
Untuk menghitung nilai matriks kriteria dilakukan beberapa langkah yaitu sebagai berikut :
1. Menyusun data pada penilaian pelayanan perpustakaan Universitas Sumatera Utara (USU) pada matriks perbandingan berpasangan antar sub kriteria Tangible sebagai tabel berikut :
Tabel 4. 4 Matriks Perbandingan antar Sub Kriteria Tangible
Tangible A1 A2 A3 A4
A1 1 0.700 1.260 0.900
A2 1.429 1 0.800 0.630
A3 1.250 1.250 1 0.610
A4 1.111 1.587 1.639 1 Total 4.790 4.537 4.699 3.140
2. Setelah proses pembuatan matriks berpasangan, kemudian dilakukan normalisasi matriks. Berikut contoh perhitungan normalisasi pada kriteria sub kriteria A3 dengan menggunakan persamaan 2.5.