1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam perkembangan usaha industri di Indonesia tidak lepas dari persaingan bisnis, dari persaingan tersebut banyak variasi untuk mencapai keuntungan yang diperoleh perusahaan. Keuntungan merupakan pendapatan yang diperoleh dari produsen yang mana menjalankan kegiatan bisnis yang memiliki barang yang dapat meningkatkan nilai produksi serta bermanfaat dalam perkembangan usaha industrinya. Pembangunan sendiri memiliki tujuan yang dimana menjadi sumber yang dapat meningkatkan pendapatan, akan tetapi hal itu harus didukung pula oleh ketersediaan sumber daya ekonomi, baik sumber daya alam, sumber daya manusia, maupun sumber daya modal yang produktif.
Oleh karena itu, tanpa adanya daya dukung yang cukup kuat dari sumber daya ekonomi yang produktif maka pengembangan dalam kegiatan industri pun mengalami kesulitan dalam miningkatkan pendapatannya (Hajar 2015).
Untuk mamajukan perekonomian indonesia, UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) memegang peranan yang sangat besar dalam kebijakan menanggulangi pengangguran dan kemiskinan. Tidak hanya itu UMKM juga berperan dalam mendorong maju pertumbuhan ekonomi pasca krisis moneter pada tahun 1997 disaat perusahaan-perusahaan besar mengalami kesulitan dalam menjalankan usahannya (Triadi, Susilowati, and Hadi 2018).
Dengan hadirnya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) didalam kehidupan masyarakat dapat membantu menyelamatkan perekonomian masyarakat
terutama pada masyarakat kalangan bawah. Oleh karena itu, ketika berdirinya UMKM di berbagai wilayah telah mampu menyerap tenaga kerja sehingga tingkat pengangguran mulai berkurang, seperti halnya yang terjadi pada Desa Bulurejo Kecamatan Tempursari di Kabupaten Lumajang. Salah satu sektor yang telah menunjang perekonomian para pelaku usaha di Kecamatan Tempursari Kabupaten Lumajang adalah industri pembuatan gula merah. Dimana merupakan salah satu usaha yang hanya membutuhkan teknik ketrampilan, kecermatan, ketelitian, ketekunan untuk membuat masyarakat atau konsumen tertarik untuk memesan gula merah yang mana banyak mengandung khasiatnya (Ramazani 2015).
Home industri berawal dari usaha keluarga yang turun temurun dan pada akhirnya meluas dan dapat menjadi bermanfaat untuk mata pencaharian penduduk yang ada di desa. Industri ini juga termasuk salah satu unsur penting dalam mengembangkan ekonomi lokal. Dapat dilihat dari segi tenaga kerja, industri ini banyak dimasuki oleh tenaga kerja pedesaan yang secara umum tidak mengharuskan untuk memiliki pendidikan yang tinggi namun memerlukan keterampilan, kecermatan, ketelitian, ketekunan dan faktor penunjang lainnya.
Sebagian masyarakat juga menjadikan home industri sebagai media yang dapat berkembang serta tumbuh sendiri dengan kontribusi yang besar dengan cara yang startegis untuk pembangunan ekonomi (Fawaid and Fatmala 2020).
Desa Bulurejo merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Tempursari Kabupaten Lumajang yang berada di Provinsi Jawa Timur. Sebagian besar masyarakat Desa Bulurejo bekerja sebagai petani dan juga nelayan. Selain bekerja menjadi petani dan nelayan, masyarakat Desa Bulurejo juga mendirikan
salah satu industri rumahan yaitu home industri gula merah. Gula merah yang ada di Desa Bulurejo ini merupakan salah satu penghasilan masyarakat yang ada disana, dikarenakan di Desa Bulurejo ini banyak ditemukan pohon kelapa, sehingga masyarakat disana memanfaatkan bunga pohon kelapa yang masih muda tersebut untuk diambil air niranya dan digunakan sebagai salah satu bahan baku pembuatan gula merah.
Gula merah merupakan pemanis alami yang terbuat dari air nira yang berasal dari bunga pohon kelapa. Gula merah menjadi salah satu produk subtitusi dari pada gula pasir. Di Indonesia gula merah biasanya di gunakan untuk bahan pemanis beberapa makanan, tidak hanya itu gula merah juga memiliki beberapa maanfaat untuk kesehatan seperti nutrisi relatif tinggi, memiliki indeks glikemis rendah, elektrolit lebih baik sehingga dapat mengatur air dalam tubuh, mengandung serat yang dapat memperlambat penyerapan glukosa dan memiliki kandungan fruktosa redah.
Ada beberapa hambatan dalam melakukan produksi gula merah salah satunya adalah faktor cuaca yang tidak menentu, ini bisa menyebabkan produksi gula merah tidak maksimal atau bisa jadi lembek dan bisa mengurangi harga jual.
Proses pemasaran gula merah masyarakat Desa Bulurejo bekerja sama dengan pengepul, sehingga pengepul sendiri yang memasarkannnya ke pabrik-pabrik, pasar dan lain sebagainya.
Tabel 1.1. Jumlah Usaha Industri Kecil/Kerajinan Rumah Tangga Menurut Jenisnya dirinci per Desa Tahun 2020
No Desa Huller Krupuk Gula
Merah Roti Mebel Tahu
1 Tegalrejo 4 1 - 1 1 -
2 Bulurejo 2 1 10 1 2 -
3 Purorejo 4 1 - 3 2 -
4 Tempurejo 3 1 - - 1 -
5 Tempursari 3 1 - 3 3 4
6 Pundungsari - - - 4 4 -
7 Kaliuling - 1 - 1 2 -
Kecamatan 2019 16 6 10 13 15 4
Sumber: Badan Pusat Statistik 2021
Tabel 1.1 diatas merupakan tabel perbandingan jumlah usaha industri kecil di Desa Bulurejo dengan desa yang lainnya. Dimana Desa Bulurejo merupakan desa yang memiliki tingkat industri gula merah yang paling tinggi yaitu 10 unit.
Sedangkan di Desa Tegalrejo terdapat usaha industri kecil yaitu huller, krupuk, roti dan mebel, sedangkan Desa Purorejo terdapat usaha industri huller, krupuk, roti dan mebel, sedangkan Desa Tempurejo terdapat usaha industri kecil yaitu huller, krupuk, dan mebel, sedangkan Desa Tempursari terdapat usaha industri kecil yaitu huller, krupuk, roti, mebel dan tahu, sedangkan Desa Pundungsari terdapat usaha industri kecil seperti roti, mebel dan tahu, dan Desa Kaliuling terdapat usaha industri kecil seperti krupuk, roti, dan mebel. Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa usaha industri kecil gula merah memiliki potensial dan daya
tarik mampu bersaing dengan usaha industri kecil lain di Desa Bulurejo Kecamatan Tempursari Kabupaten Lumajang.
Setiap industri rumahan maupun perusahaan pada umumnya memiliki tujuan untuk meningkatkan suatu pendapatan dan juga untuk memperoleh keuntungan, dimana pendapatan tersebut yang dapat menentukan maju atau mundurnya suatu perusahan. Menurut Sukirno (2000) pendapatan merupakan suatu unsur yang sangat penting dalam usaha perdagangan, karena dalam melakukan suatu usaha pastinya ingin mengetahui nilai atau jumlah pendapatan yang diperoleh selama melakukan usaha tersebut.
Pendapatan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti, upah tenaga kerja yang menjadi pekerja untuk mengelola bahan mentah menjadi barang jadi sehingga akan mendapatkan timbal balik seperti upah. Menurut Fauzi and Handoko (2018) yang dapat mempengaruhi pendapatan UMKM yaitu tingkat upah. Dimana sering timbul masalah dalam hal pengupahan yaitu dengan adanya perbedaan pengertian dan kepentingan mengenai upah antara karyawan dengan pengusaha.
Dalam pemberian upah diharapkan dapat memenuhi kebutuhan hidup bagi para pekerja, sehingga agar dapat meningkatkan produktivitas. Namun jika ditinjau dari teori ekonomi klasik dan neoklasik bahwa penetapan upah bukan dianggap kebijakan yang tepat.
Tidak hanya upah tenaga kerja biaya bahan baku juga merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi jumlah pendapatan yang diterima oleh perusahan maupun industri-industri rumahan lainnya. Biaya bahan baku merupakan harga
perolehan dari bahan baku yang dipakai dalam mengelolah suatu produk. Setiap industri rumahan maupun perusahaan yang melakukan kegiatan produksi akan memerlukan persediaan bahan baku. Menurut Mulyadi (2016 : 275) biaya bahan baku yaitu bahan utama bagian menyeluruh produk jadi. Untuk memperoleh bahan baku biasaanya perusahaan tidak hanya mengeluarkan biaya seharga beli bahan baku saja, namun ada biaya tambahan lain agar bahan baku tersebut sampai pada gudang perusahaan. Semakin banyak jumlah bahan baku yang dimiliki, maka semakin besar jumlah produksi yang dihasilkan, sehingga dapat memperoleh pendapatan yang semakin besar dari hasil penjualan produksi begitupun juga sebaliknya, biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan baku juga semakin banyak untuk memenuhi kelancaran produksi.
Selain upah tenaga kerja dan biaya bahan baku, terdapat jumlah produksi yang dapat mempengaruhi pendapatan. Jumlah produksi bergantung pada bahan baku yang tersedia jika bahan baku yang tersedia hanya sedikit maka produksi akan juga sedikit begitupun juga sebaliknya, jika banyaknya jumlah bahan baku yang tersedia maka jumlah produksi yang dihasilkan semakin besar. Menurut Hasan (2013) Produksi merupakan suatu kegiatan yang dikerjakan untuk menambah nilai guna suatu benda atau menciptakan benda baru sehingga lebih bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan. Produksi tidak hanya terbatas pada pembuatannya saja tetapi juga penyimpanan, distribusi, pengangkutan, pengeceran, dan pengemasan kembali atau yang lainnya.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka penelitian ini berfokus pada “Analisis Pendapatan Home Industri Gula Merah Di Desa Bulurejo Kecamatan Tempursari Kabupaten Lumajang”.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh upah tenaga kerja, biaya bahan baku dan jumlah produksi terhadap pendapatan home indutri gula merah di Desa Bulurejo, Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang?
C. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, penelitian ini dibatasi pada variabel pendapatan di Desa Bulurejo Kecamatan Tempursari Kabupaten Lumajang.
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah upah tenaga kerja , biaya bahan baku, dan jumlah produksi.
D. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh upah tenaga kerja, biaya bahan baku dan jumlah produksi terhadap pendapatan home indutri gula merah di Desa Bulurejo, Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang
E. Manfaat Penelitian
Dalam penelitian ini diharapkan memberikan manfaat yang berguna dan dapat dijadikan sebagai informasi dan referensi baru bagi peneliti sejenisnya mengenai faktor yang mempengaruhi pendapatan.