BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada awal Maret 2020, pemerintah mengumumkan bahwa terdapat 2 pasien yang terpapar oleh virus covid-19 dan hingga saat ini jumlah pasien yang terpapar virus ini terus meningkat menjadi 200.035 kasus (Kompas.com, 2020). Penyebaran virus ini dapat berdampak pada beberapa sektor industri, yang akan mempengaruhi perekonomian negara dan menyebabkan terjadinya perlambatan aktivitas ekonomi.
Karena kegiatan ekonomi mengalami gangguan hal ini akan menyebabkan banyak perusahaan yang mengalami kerugian dan kebangkrutan, salah satunya Usaha Kecil Menengah (UKM). Menurut UU No 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro yang diatur dalam Undang-Undang. Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang. Sedangkan usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang yang
dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang. Kriteria usaha yang dapat digolongkan sebagai UMKM sebagai berikut:
Gambar 1.1
Sumber: UU No 20 tahun 2008
Terdapat 39,9% usaha kecil menengah (UKM) mumutuskan untuk mengurangi stok barang selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB) akibat covid-19.
Sementara itu sebanyak 16,1% UKM mengurangi karyawan akibat toko fisik ditutup. Kerugian dan kebangkrutan disebabkan oleh penurunan jumlah pembeli dan berubahnya frekuensi belanja masyarakat (Bisnis.com, 2020).
Untuk mengetahui seberapa jauh kinerja perusahaan terganggu akibat pandemi ini dapat dilihat dari laporan keuangan perusahaan. Menurut Ikatan Akuntan Indonesia dalam SAK ETAP (2009), laporan keuangan adalah bagian dari proses pelaporan keuangan, dan laporan keuangan yang lengkap meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan. Tujuan dari laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi mengenai kondisi keuangan perusahaan yang bertujuan untuk memberikan informasi yang benar dan berguna sehingga dapat
digunakan oleh berbagai pihak dalam proses pengambilan keputusan. Laporan keuangan juga menunjukkan hasil pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. PSAK ETAP adalah sistem akuntansi keuangan yang diterapkan dalam perusahaan yang tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan. Sedangkan PSAK umum digunakan oleh entitas dengan akuntabilitas publik signifikan. SAK ETAP oleh IAI (2009) menetapkan entitas tanpa akuntabilitas publik adalah:
1. Tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan
2. Menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement) bagi pengguna eksternal.
Entitas memiliki akuntabilitas publik jika:
1. Entitas telah mengajukan pernyataan pendaftaran, atau dalam proses pengajuan pernyataan pendaftaran, padatoritas pasar modal atau regulator lain untuk tujuan penerbitan efek di pasar modal
2. Entitas menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar masyarakat, seperti bank, entitas asuransi, pialang atau pedagang efek, dana pensiun reksa dana dan bank investasi.
Menurut Weygandt, et al. (2015), ada 2 pengguna informasi keuangan:
1. Internal Users (Pengguna Internal): Pengguna internal dari informasi akuntansi adalah manajer yang merencanakan, mengatur, dan menjalankan bisnis, termasuk manajer pemasaran, supervisor produksi, direktur keuangan, dan karyawan perusahaan.
2. External Users (Pengguna Eksternal): Pengguna eksternal adalah individu dan
organisasi diluar perusahaan yang menginginkan informasi keuangan tentang perusahaan tersebut. Dua jenis pengguna eksternal yang paling umum adalah investor dan kreditur menggunakan informasi akuntansi untuk membuat keputusan untuk membeli, menahan, atau menjual saham suatu perusahaan. Kreditor menggunakan informasi akuntansi untuk megevaluasi risiko pemberian kredit atau pemberian pinjaman uang.
Untuk menilai kewajaran dan kelayakan penyajian laporan keuangan, maka dibutuhkan pihak ketiga yaitu auditor. Tercantum dalam UU No. 40 tahun 2007 tentang perseroan terbatas menyebutkan bahwa direksi wajib menyerahkan laporan keuangan perseroan kepada akuntan publik untuk diaudit apabila kegiatan usaha perseroan adalah menghimpun atau mengelola dana masyarakat, perseroan menerbitkan surat pengakuan utang kepada masyarakat, perseroan merupakan Perseroan Terbuka, perseroan merupakan persero, perseroan mempunyai aset atau jumlah peredaran usaha dengan jumlah paling sedikit Rp 50 miliar, diwajibkan oleh peraturan perundang-udangan. Apabila memenuhi salah satu kriteria diatas, maka laporan keuangan perusahaan wajib diaudit.
Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) dalam SA 200 menyatakan bahwa tujuan suatu audit adalah untuk meningkatkan tingkat keyakinan penggunalaporan keuangan yang dituju. Menurut Arens (2017) Auditing adalah pengumpulan dan evaluasi bukti tentang informasi untuk menentukan dan melaporkan derajat kesesuaian antara informasi itu dan kriteria yang ditetapkan. Auditing harus dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen seperti akuntan publik.
Peraturan menteri keuangan No. 17/PMK.01/2008 menyatakan bahwa pekerjaan yang dapat dilakukan oleh akuntan publik adalah melakukan audit atau pemeriksaan terhadap laporan keuangan, perpajakan dan konsultasi manajemen.
Menurut Arens (2017) akuntan publik melakukan tiga jenis utama audit, yaitu:
1. Audit Operasional (Operational Audit)
Audit operasional adalah mengevaluasi efisiensi dan efektivitas setiap bagian dari prosedur dan metode operasi organisasi. Pada akhir audit operasional, manajemen biasanya mengharapkan saran-saran untuk memperbaiki operasi.
2. Audit Ketaatan (Compliance audit)
Audit ketaatan dilaksanakan untuk menentukan apakah pihak yang diaudit mengikuti prosedur, aturan, atau ketentuan tertentu yang ditetapkan oleh otoritas yang lebih tinggi.
3. Audit Laporan Keuangan (Financial Statement Audit)
Audit laporan keuangan dilakukan untuk menentukan apakah laporan keuangan telah dinyatakan sesuai dengan kriteria tertentu.
Menurut Agoes (2012), berdasarkan luas pemeriksaannya audit dibedakan menjadi:
1. Pemeriksaan Umum (General Audit)
Suatu pemeriksaan umum atas laporan keuangan yang dilakukan oleh KAP independen dengan tujuan untuk bisa memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan. Pemeriksaan tersebut harus dilakukan sesuai dengan Standar Profesional Akuntan Publik atau International Standard on Auditing (ISA) atau Panduan Audit Entitas Bisnis Kecil dan memperhatikan Kode Etik Akuntan Indonesia, Kode Etik Profesi Akuntan Publik, serta Standar Pengendalian Mutu.
.
2. Pemeriksaan Khusus (Special Audit)
Suatu pemeriksaan terbatas (sesuai dengan permintaan auditee) yang dilakukan oleh KAP yang independen, dan pada akhir pemeriksaannya auditor tidak perlu memberikan pendapat terhadap kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan.
Pendapat yang diberikan terbatas pada pos atau masalah tertentu yang diperiksa, karena prosedur audit yang dilakukan juga terbatas.
Auditor juga perlu memperhatikan risiko yang dapat mempengaruhi opini auditor. Menurut Arens, et al. (2017), terdapat 4 komponen dalam risiko audityaitu:
1. Planned Detection Risk (Risiko Deteksi yang Direncanakan)
Risiko deteksi yang direncanakan adalah bukti audit untuk suatu segmen akan gagal mendeteksi salah saji yang melebihi salah saji yang melebihi kinerja materialitas.
2. Inherent Risk (Risiko Inheren)
Risiko inheren mengukur penilaian atas kemungkinan adanya salah saji yang material dalam segmen, sebelum memperhitungkan keefektifan pengendalian internal.
3. Control Risk (Risiko Pengendalian)
Risiko kontrol mengukur penilaian auditor mengenai apakah salah saji yang melebihi jumlah yang dapat ditoleransi dalam suatu segmen akan dicegah atau terdeteksi secara tepat waktu oleh pengendalian internal klien.
4. Acceptable Audit Risk (Risiko Audit yang Dapat Diterima)
Risiko audit yang dapat diterima adalah ukuran kesediaan auditor untuk menerima bahwa laporan keuangan mungkin mengandung salah saji yang material setelah audit selesai, dan pendapat wajar tanpa pengecualian telah dikeluarkan.
Untuk melakukan penilaian atas kewajaran dan kelayakan sebuah laporan keuangan, maka auditor harus mengumpulkan bukti pendukung yang dapat mendukung asersi tersebut. Asersi manajemen dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu (Arens, 2017):
1. Asersi tentang transaksi dan peristiwa a. Occurance
Asersi occurance memperhatikan tentang transaksi yang dicatat dalam laporan keuangan benar-benar terjadi selama periode akuntansi.
b. Completeness
Asersi completeness membahas apakah semua transaksi dan peristiwa telah dicatat di dalam laporan keuangan.
c. Accurancy
Asersi accurancy membahas apakah transaksi telah dicatat pada jumlah yang benar
d. Classification
Asersi classification membahas apakah transaksi dicatat dalam akun yang tepat.
e. Cut off
Asersi cut off membahas apakah transaksi dicatat dalam periode akuntansi yang tepat.
2. Asersi tentang account balances a. Existence
Asersi existence membahas apakah aset, liabilitas, dan ekuitas yang terdapat dalam neraca benar-benar ada pada tanggal neraca.
b. Completeness
Asersi completeness membahas apakah semua akun dan jumlah saldo telah dicatat semua dalam laporan keuangan.
c. Valuation and Allocation
Aset, liabilitas, dan ekuitas dalam laporan keuangan telah dinilai pada jumlah yang sesuai dengan fair value atau net realizable value dan hasil dari valuation adjustment harus dicatat dengan tepat.
d. Right and Obligations
Asersi ini membahas apakah aset adalah hak milik entitas dan apakah liabilitas adalah kewajiban dari entitas pada tanggal tertentu.
3. Asersi tentang penyajian dan pengungkapan a. Occurance and right and obligations
Asersi ini membahas apakah pengungkapan telah terjadi dan merupakan hak dan kewajiban milik entitas.
b. Completeness
Asersi ini membahas apakah semua pengungkapan yang diperlukan telah dicatat di dalam laporan keuangan.
c. Accurancy and valuation
Asersi ini membahas apakah informasi keuangan telah diungkapkan dengan jumlah yang tepat dan wajar.
d. Classification and understandability
Asersi ini berhubungan dengan jumlah yang diklasifikasikan tepat dalam laporan keuangan dan penjelasan neraca serta pengungkapan dapat dipahami.
Menurut Arens, et al. (2017), terdapat 5 jenis pengujian yang dapat dilakukan oleh auditor, untuk menentukan apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar, yaitu:
1. Risk Assessment Procedures
Risk assessment procedures merupakan prosedur yang dilakukan oleh auditor untuk memperoleh pemahaman atas suatu perusahaan dan lingkungannya, termasuk pengendalian internal perusahaan untuk menilai risiko salah saji yang terdapat di dalam laporan keuangan.
2. Test of Controls
Test of Controls merupakan prosedur yang dilakukan oleh auditor untuk menilai risiko pengendalian untuk setiap transaksi yang terkait.
3. Substantive Test of Transaction
Substantive test of transaction merupakan prosedur audit yang dilakukan oleh auditor untuk menguji adanya salah saji moneter yang berpengaruh terhadap laporan keuangan.
4. Substantive Analytical Procedures
Substantive Analytical Procedures merupakan prosedur yang dilakukan oleh auditor, dimana auditor membuat prediksi jumlah catatan atau rasio untuk menyediakan bukti pendukung atas jumlah suatu akun.
5. Test of Detail Balances
Test of Detail Balances merupakan prosedur yang dilakukan oleh auditor untuk menguji adanya salah saji moneter yang menentukan bahwa tujuan audit terkait saldo telah dilaksanakan untuk setiap saldo yang signifikan.
Dalam melakukan audit terdapat beberapa prosedur yang dilakukan diantaranya adalah Vouching dan Walkthrough. Vouching merupakan salah satu prosedur yang dapat digunakan untuk menilai apakah bukti audit yang akan digunakan sudah memenuhi asersi manajemen atau belum. Menurut Arens, et al (2017), vouching adalah proses dimana auditor melakukan dokumentasi untuk mendukung transaksi yang dicatat. Tujuan dari dilakukannya vouching adalah untuk mengetahui kebenaran terhadap suatu bukti transaksi. Auditor tidak memeriksa semua transaksi atau bukti yang dimiliki perusahaan, karena akan memerlukan waktu yang cukup lama dan biaya yang besar, maka biasanya pemeriksaan terhadap bukti akan dilakukan secara sampling (Agoes,2017).
Contohnya adalah melakukan vouching terhadap kas kecil dan pengeluaran bank.
Maka auditor memerlukan voucher pengeluaran kas kecil dan pengeluaran bank, memeriksa apakah voucher tersebut sudah disetujui oleh pihak yang berkepentingan, apakah bukti pendukungnya lengkap seperti bukti pengeluaran bank, bukti pengeluaran kas, invoice, slip setor, faktur pajak dan tanda terima.
Walkthrough merupakan salah satu prosedur dalam test of control, yang digunakan oleh auditor untuk memperoleh pemahaman tentang apakah suatu pengendalian sudah dilakukan. Walkthrough adalah prosedur audit yang dilakukan oleh auditor dengan cara menulusuri prosedur dalam sistem internal control (Tuanakotta, 2015). Terdapat 2 jenis walkthrough yaitu walkthrough sales dan walkthrough purchase. Dalam melakukan walkthrough sales dan purchase maka auditor perlu mengumpulkan dokumen transaksi yang berkaitan dengan proses penjualan dan pembelian seperti bukti order penjualan/pembelian, bukti masuk/keluarnya kas, bukti pembayaran, invoice, surat jalan, dan faktur pajak.
Setelah mendapatkan dokumen tersebut, auditor akan melakukan pemeriksaan apakah perusahaan sudah menerapkan prosedur yang ditetapkan untuk proses penjualan dan pembelian.
Menurut Agoes (2017), prosedur pemeriksaan yang dilakukan dalam substantive test salah satunya adalah melakukan subsequent event. Dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dalam SA 560, subsequent event adalah peristiwa atau transaksi yang terjadi setelah tanggal neraca tetapi sebelum diterbitkannya laporan audit, yang mempunyai akibat material terhadap laporan keuangan, sehingga memerlukan penyesuaian atau pengungkapan dalam laporan tersebut. Sedangkan menurut SAK ETAP (2009) peristiwa setelah akhir periode pelaporan adalah peristiwa-peristiwa, menguntungkan maupun tidak menguntungkan, yang terjadi setelah akhir periode pelaporan sampai dengan tanggal penyelesaian laporan keuangan. Menurut Weygandt (2015), terdapat dua jenis peristiwa pasca neraca yang harus diungkapkan yaitu:
1. Peristiwa yang memberikan bukti tambahan tentang kondisi yang ada pada
tanggal neraca yang memerlukan penyesuaian.
2. Peristiwa yang muncul setelah tanggal neraca, tidak memerlukan penyesuaian.
Tujuan dilakukannya subsequent event adalah untuk menentukan keberadaan kejadian penting sesudah tanggal neraca yang membutuhkan penyesuaian terhadap laporan keuangan atau memerlukan pengungkapan dalam catatan atas laporan keuangan agar tidak menyesatkan pengguna laporan keuangan, menentukan kemungkinan tertagihnya piutang, memastikan bahwa barang dalam perjalanan yang tercantum dineraca masih diperjalanan, untuk memastikan bahwa kewajiban yang ada pada neraca per tanggal neraca merupakan kewajiban perusahaan yang akan dilunasi pada saat jatuh temponya, dan memastikan bahwa tidak ada kewajiban perusahaan yang belum dicatat per tanggal neraca.
Subsequent event dilakukan terhadap account receivable dan account payable.
Menurut Hery (2018), piutang usaha adalah jumlah yang akan ditagih dari pelanggan sebagai akibat dari penjualan barang atau jasa secara kredit. Menurut Arens (2017), syarat pembelian atas penjualan secara non tunai (credit terms) memungkinkan pembeli untuk mengajukan diskon tunai atas pembayaran yang dilakukan secara tepat waktu. Kelebihan dari insentif ini adalah pembeli dapat menghemat uang dan penjual dapat mempersingkat siklus operasi. Dalam perjanjian jual beli barang dagangan, terdapat beberapa syarat pembayaran, antara lain sebagai berikut:
a. Tunai atau kontan
artinya pembayaran dilakukan saat terjadi transaksi, baik secara langsung (dengan uang tunai) maupun pembayaran dengan cek atau giro.
b. n/30 (n adalah singkatan dari netto)
artinya pembayaran akan dilakukan paling lambat 30 hari setelah terjadinya transaksi.
c. n/EOM
artinya pembayaran akan dilakukan paling lambat akhir bulan.
d. 2/10, n/30
artinya diskon 2% jika dibayar 10 hari dari tanggal faktur, dan jatuh tempo 30 hari dari tanggal faktur.
Piutang usaha biasanya diperkirakan akan dapat ditagih dalam jangka waktu yang relatif pendek, biasanya dalam kurun waktu 30 sampai dengan 60 hari. Piutang diklasifikasikan menjadi dua, yaitu piutang lancar dan tidak lancar. Piutang lancar meliputi semua piutang yang diperkirakan akan ditagih dalam jangka waktu satu tahun, atau sepanjang siklus normal operasional. Sedangkan untuk unsur piutang non-trade receivable memerlukan analisis lebih lanjut untuk menentukan apakah dapat ditagih dalam jangka waktu satu tahun atau lebih. Terdapat dua metode yang digunakan untuk menilai, mencatat, atau menghapus piutang usaha yang tidak dapat ditagih, yaitu:
a. Metode hapus langsung (Direct Write-off Methods) b. Metode pencadangan (Allowance Method)
Sepanjang periode penjualan kredit dilakukan, estimasi mengenai besarnya piutang usaha yang tidak dapat ditagih dibuat. Perusahaan tidak dapat menentukan mana dari pelanggannya yang tidak bisa membayar piutangnya, maka perusahaan tidak akan menghapus piutang usaha secara langsung. Kebanyakan perusahaan besar menggunakan metode pencadangan untuk megestimasi bagian dari piutang usahanya yang tidak dapat ditagih. Dari pada perusahaan menentukan mana pelanggannya yang tidak dapat melunasi utangnya, perusahaan lebih baik
mengurangi jumlah piutang usahanya ke nilai bersih yang dapat direalisasi (Nerealizeable value). Perusahaan akan menentukan besarnya estimasi piutang tidak tertagih ke dalam akun khusus yang dinamakan cadangan kredit macet (allowance for bad debts), cadangan piutang ragu-ragu (allowance for doubtful accounts), atau cadangan piutang yang tidak dapat ditagih (allowance for uncollectible accounts). Dokumen yang digunakan untuk subsequent account receivable adalah bukti penerimaan bank dan daftar piutang. Menurut Hery (2018), untuk tujuan pembukuan, metode pencadangan diharuskan menurut prinsip akuntansi, karena metode ini sesuai dengan:
a. Matching Principle ( Prinsip Penandingan) – dimana besarnya estimasi atas beban piutang tidak tertagih dicatat dalam periode yang sama sebagaimana pendapatan penjualan dicatat.
b. Conservatism Principle (Prinsip Konservatisme) – dimana piutang usaha dilaporkan dalam neraca sebesar jumlah yang lebih realistis sehingga mencerminkan jumlah piutang yang sesungguhnya yang dapat ditagih.
Menurut Hery (2018), barang atau jasa yang diterima sebelum melakukan pembayaran akan menimbulkan adanya utang. Utang diklasifikasikan menjadi dua, yaitu utang lancar dan utang tidak lancar. Utang lancar (jangka pendek) adalah kewajiban keuangan perusahaan yang pelunasannya atau pembayarannya akan dilakukan dalam jangka pendek (1 tahun sejak tanggal neraca) dengan menggunakan aset lancar yang dimiliki perusahaan. Yang termasuk utang lancar antara lain, yaitu utang usaha, utang wesel jangka pendek, beban yang masih harus dibayar, dan utang gaji dan upah. Suatu utang dapat dikatakan utang lancar jika (IAI, 2020):
a. Entitas memperkirakan akan menyelesaikan liabilitas tersebut dalam siklus operasi normal;
b. Entitas memiliki liabilitas tersebut untuk tujuan diperdagangkan;
c. Liabilitas tersebut jatuh tempo untuk diselesaikan dalam jangka waktu dua belas bulan setelah periode pelaporan;
d. Entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menangguhkan penyelesaian liabilitas sekurang-kurangnya dua belas bulan setelah periode pelaporan.
Dokumen yang digunakan untuk subsequent account payable adalah bukti pengeluaran bank dan daftar utang.
Dalam menjalankan proses audit, auditor harus memperoleh bukti audit yang cukup untuk mendukung opini yang akan dikeluarkan. Menurut Arens, et al.
(2017), bukti audit adalah kumpulan informasi yang digunakan oleh auditor untuk mengevaluasi apakah informasi yang telah di audit sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Berikut merupakan prosedur audit untuk memperoleh bukti audit yang cukup:
1. Physical Examination (Pemeriksaan Fisik)
Pemeriksaan fisik adalah inspeksi atau perhitungan yang dilakukan auditor atas aset berwujud oleh auditor. Contohnya adalah stock opname.
2. Confirmation (Konfirmasi)
Konfirmasi menggambarkan penerimaan respons tertulis atau lisan dari pihak ketiga yang independen yang memverifikasi keakuratan informasi yang diajukan oleh auditor. Karena konfirmasi berasal dari sumber yang independen terhadap
klien, jenis bukti audit ini sangat dipercaya dan merupakan jenis audit yang sering digunakan. Contohnya adalah konfirmasi terhadap piutang dan utang.
3. Inspection (Inspeksi)
Inspeksi adalah pengujian auditor pada dokumen dan pencatatan klien untuk memperkuat informasi yang harus ada dan dicantumkan dalam laporan keuangan. Contohnya adalah bukti pemesanan, penjualan, dan pengiriman untuk setiap transaksi yang dilakukan oleh perusahaan klien, bukti tersebut akan digunakan oleh auditor sebagai bukti, agar dapat memverifikasi kebenaran dari transaksi perusahaan.
4. Analytical Procedures (Prosedur Analitikal)
Prosedur analitikal adalah evaluasi dari informasi keuangan melalui analisis hubungan yang dapat diterima antara data keuangan dan non keuangan.
Contohnya adalah analisis rasio.
5. Inquiries of the Client ( Penyelidikan Klien)
Penyelidikan klien adalah perolehan informasi secara tertulis ataupun lisan dari klien dalam rangka menjawab pertanyaan dari auditor. Contohnya adalah wawancara dengan klien.
6. Recalculation (Perhitungan Ulang)
perhitungan ulang meliputi memeriksa kembali perhitungan yang dilakukan oleh klien. Contohnya adalah tied up atas laporan keuangan, perhitungan pada rekonsiliasi bank, dan piutang.
7. Reperformance (Pelaksanaan Ulang)
Pelaksanaan ulang adalah pengujian prosedur akuntansi klien dan kontrol yang dibuat sebagai bagian dari akuntansi entitas dan sistem internal kontrol.
8. Observation (Observasi)
Observasi meliputi pengelihatan pada proses atau prosedur yang dilakukan pihak lain yang bersangkutan. Contohnya adalah melakukan pengamatan terhadap fasilitas atau aset perusahaan.
Stock opname dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keakuratan pencatatan dalam pembukuan perusahaan. Melalui prosedur ini auditor akan mengetahui peristiwa yang terjadi antara catatan pembukuan dan pemeriksaan fisik. Stock opname biasanya dilakukan untuk menghitung persediaan barang. Menurut IAI (2018), persediaan adalah aset yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha, dalam kegiatan produksi untuk penjualan, atau dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa.
Tujuan dari pemeriksaan persediaan yaitu (Agoes, 2017):
1. Untuk mengetahui apakah terdapat Internal Control yang cukup baik atas persediaan.
2. Untuk mengetahui apakah persediaan yang tercantum di laporan posisi keuangan (neraca) betul-betul ada dan dimiliki oleh perusahaan pada tanggal neraca.
3. Untuk mengetahui apakah metode penilaian persediaan dan sistem pencatatan persediaan sesuai dengan standar akuntansi keuangan di Indonesia (SAK/ETAP/IFRS).
4. Untuk mengetahui apakah sistem pencatatan persediaan sesuai dengan standar akuntansi keuangan di Indonesia (SAK/ETAP/IFRS).
5. Untuk mengetahui apakah terdapat barang-barang yang rusak, bergerak lambat, dan ketinggalan mode sudah dibuatkan allowance yang cukup.
6. Untuk mengetahui apakah ada persediaan yang dijadikan jaminan kredit.
7. Untuk mengetahui apakah persediaan diasuransikan dengan nilai pertanggungan yang cukup.
8. Untuk mengetahui apakah ada perjanjian pembelian atau penjualan persediaan yang mempunyai pengaruh besar terhadap laporan keuangan.
9. Untuk memeriksa apakah penyajian persediaan dalam laporan keuangan sudah sesuai dengan standar akuntansi keuangan di Indonesia (SAK/ETAP/IFRS).
Pemeriksaan yang dilakukan terhadap rekonsiliasi bank, rekonsiliasi piutang, dan tied up merupakan salah satu contoh dari prosedur audit, yaitu recalculation.
Menurut Weygandt (2015), bank dapat memberikan peran serta yang signifikan terhadap pengendalian internal yang baik atas kas perusahaan. Rekonsiliasi bank adalah proses membandingkan saldo rekening dari bank dengan saldo perusahaan.
Rekening koran atau giro adalah laporan bank setiap bulan yang diberikan kepada pemegang rekening giro yang berisikan informasi mengenai transaksi yang dilakukan oleh bank terhadap rekening tersebut selama satu bulan dan saldo kas di bank. Rekening koran dapat memberikan informasi mengenai saldo awal bulan, mutasi debit dan mutasi kredit, dan saldo akhir bulan pada periode tertentu. Seluruh aktivitas transaksi akan tercantum dengan lengkap beserta dengan tanggal, jam, dan rincian transksi yang dicantumkan oleh nasabah saat akan melakukan transfer dana antar rekening. Menurut Weygandt (2015), rekonsiliasi bank dilakukan dengan
tujuan untuk mencapai saldo kas yang sebenarnya menurut pembukuan perusahaan dengan saldo menurut bank. Item -item yang direkonsiliasi adalah:
1. Deposits In Transit (Setoran yang belum diterima)
Setoran yang telah diperhitungkan dalam catatan perusahaan sebagai penambah saldo cash in bank, tetapi belum masuk dalam catatan rekening koran.
2. Outstanding Checks (Cek yang masih beredar)
Pihak perusahaan di dalam pembukuannya sudah mengurangi besarnya saldo cash in bank sebagai pembayaran utang ke kreditur/supplier dengan menggunakan cek, namun sampai dengan akhir bulan kreditur/supplier belum mecairkannya ke bank sehingga saldo cash in bank menurut rekening koran bank belum mencerminkan pembayaran tersebut.
3. Errors (Kesalahan)
Kesalahan dalam pencatatan bisa saja terjadi baik dilakukan ole bank maupun perusahaan. Perusahaan hanya akan membuat jurnal koreksi dalam pembukuannya, apabila kesalahan pencatatan dilakukan oleh pihak perusahaan sendiri.
4. Bank Memoranda (Memo Bank)
Menelusuri memorandum bank ke catatan deposan.
Biasanya rekonsiliasi bank yang dipergunakan adalah rekonsiliasi empat kolom, sebagai pembuktian atas saldo akhir cash in bank periode berjalan. Empat kolom yang dimaksud adalah merinci masing-masing saldo akhir cash in bank dengan cara menambahkan jumlah total setoran atau pemasukan kas selama periode berjalan ke masing-masing saldo awal cash in bank bersangkutan serta
mengurangkan masing-masing saldo awal cash in bank bersangkutan dengan jumlah total penarikan atau pengeluaran kas selama periode berjalan.
Sedangkan rekonsiliasi piutang adalah proses pencocokan transaksi antara general ledger perusahaan dengan subsidiary ledger. Menurut Arens (2017) general ledger adalah pembukuan yang merupakan kumpulan akun-akun yang digunakan dalam perusahaan. General ledger berisikan semua akun aset, liabilitas, dan ekuitas. Sedangkan subsidiary ledger adalah sekelompok akun dengan karakteristik umum. Subsidary ledger adalah tambahan, dan perluasan dari general ledger. Dua jenis subsidiary ledger adalah:
1. Subsidiary ledger piutang usaha (atau pelanggan), yang mengumpulkan data transaksi nasabah individu.
2. Subsidary ledger utang (atau kreditor), yang terkumpul di setiap buku besar pembantu ini, perusahaan biasanya mengatur rekening individu sesuai dengan abjad.
General ledger merupakan ringkasan data rinci dari subsidiary ledger. Sebagai contoh data rinci dari subsidary ledger piutang dagang diringkas dalam piutang usaha di general ledger.
Menurut Agoes (2017), tujuan dari pemeriksaan piutang adalah:
1. Untuk mengetahui apakah terdapat pengendalian internal yang baik atas piutang dan transaksi penjualan, piutang, dan penerimaan kas.
2. Untuk memeriksa validity dari piutang.
3. Untuk memeriksa collectibility (kemungkinan tertagih) piutang dan cukup tidaknya perkiraan allowance for bad debts (penyisihan piutang tak tertagih).
4. Untuk mengetahui apakah ada kewajiban bersyarat (contingent liability) yang timbul karena pendiskontoan wesel tagih.
5. Untuk memeriksa apakah penyajian piutang dineraca sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/Standar Akuntansi Keuangan/SAK ETAP.
Tied up dilakukan dengan tujuan untuk mencocokkan catatan atas laporan keuangan dengan nomor catatan laporan keuangan yang tertera dalam laporan keuangan. Tied up dapat dilakukan dengan cara footing dan cross footing.
Setiap prosedur audit yang telah dilakukan, beserta temuan auditnya harus didokumentasikan di dalam kertas kerja pemeriksaan. Menurut Agoes (2017), kertas kerja pemeriksaan adalah semua berkas yang dikumpulkan oleh auditor dalam menjalankan proses pemeriksaan, yang berasal dari klien, analisis yang dibuat oleh auditor, dan pihak ketiga. Terdapat 3 jenis kertas kerja pemeriksaan, yaitu (Agoes, 2017):
1. Current File
Berisi kertas kerja yang mempunyai kegunaan untuk tahun berjalan, contohnya neraca saldo, berita acara kas opname, rekonsiliasi bank, rincian piutang, rincian persediaan, rincian liabilitas, rincian biaya, dan lain-lain.
2. Permanent File
Berisi kertas kerja yang mempunyai kegunaan untuk beberapa tahun, contohnya akta pendirian, buku pedoman akuntansi, kontrak, dan notulen rapat.
3. Correspondence File
Berisi korespondensi dengan klien, berupa surat-menyurat, faksimile, e-mail, dan lain-lain.
Salah satu contoh dari current file adalah WBS dan WPL. Menurut Agoes (2017), di dalam laporan WBS dan WPL berisikan angka per-book yang diambil dari Trial Balance klien, audit judgement, saldo per audit, dan saldo tahun lalu yang diambil dari audit report atau kertas kerja pemeriksaan tahun lalu. Setiap angka yang terdapat di dalam WBS dan WPL akan didukung oleh angka-angka dalam top schedule dan supporting schedule, maka itu harus dilakukan cross index. Angka dalam top schedule diambil dari angka pada supporting schedule sehingga perlu dilakukan cross index. Top schedule berisikan saldo per book, penyesuaian audit, saldo per audit, saldo tahun lalu, dan kesimpulan. Sedangkan supporting schedule berisikan sifat perkiraan, prosedur audit beserta tick mark, penyesuaian yang diusulkan dan diterima klien. Semua schedule harus terdapat index working paper.
WBS terbagi menjadi WBS untuk pos aset, pos liabilitas, dan ekuitas. Sedangkan WPL berisikan pos laba rugi.
Tujuan dari dibuatnya kertas kerja, yaitu (Agoes,2017):
1. Mendukung opini auditor mengenai kewajaran laporan keuangan
2. Sebagai bukti bahwa auditor telah melakukan pemeriksaan sesuai dengan Standar Profesional Akuntan Publik
3. Sebagai referensi dalam hal ada pertanyaan dari pihak pajak, pihak bank dan klien 4. Sebagai salah satu dasar penilaian asisten (seluruh tim audit), sehingga dapat dibuat evaluasi mengenai kemampuan asisten sampai dengan partner, sesudai selesai suatu penugasan.
5. Sebagai pegangan untuk audit tahun berikutnya.
Akuntan publik juga memberikan layanan jasa lainnya seperti jasa akuntansi, jasa perpajakan, dan jasa konsultan. Dalam UU No. 28 tahun 2007, pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar- besarnya kemakmuran rakyat. Menurut Waluyo (2017), pajak berdasarkan golongan dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Pajak langsung adalah pajak yang pembebanannya tidak dapat dilimpahkan pihak lain, tetapi harus menjadi beban langsung Wajib Pajak yang bersangkutan.
2. Pajak tidak langsung adalah pajak yang pembebanannya dapat dilimpahkan kepada pihak lain.
Salah satu contoh dari pajak tidak langsung adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Pajak Pertambahan Nilai merupakan pajak yang dikenakan atas transaksi terhadap Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak. Terdapat dua jenis PPN, yaitu PPN Masukan dan PPN Keluaran. Menurut Waluyo (2016), Pajak Masukan adalah Pajak Pertambahan Nilai yang seharusnya sudah dibayarkan oleh Pengusaha Kena Pajak karena perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak atau pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar daeah Pabean atau Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean. Sedangkan Pajak Keluaran adalah Pajak Pertambahan Nilai Terutang yang wajib dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak, Penyerahan Jasa Kena Pajak, ekspor Barang Kena Pajak Berwujud, ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau
ekspor Jasa Kena Pajak. Jika nilai pajak keluaran lebih besar dibanding pajak masukan, maka selisihnya merupakan Pajak Pertambahan Nilai yang harus dibayar atau disetor.
Undang-Undang Nomor 42 tahun 2009, menyatakan bahwa PPN dikenakan atas:
1. Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) di dalam daerah pabean yang dilakukan oleh pengusaha.
2. Impor Barang Kena Pajak (BKP).
3. Penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP) yang dilakukan di dalam daerah pabean oleh pengusaha.
4. Pemanfaatan Barang Kena Pajak (BKP) tidak berwujud dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean.
5. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak (JKP) dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean.
6. Ekspor Barang Kena Pajak (BKP) oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP)
7. Ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) 8. Ekspor Jasa Kena Pajak (JKP) oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP).
PKP wajib membuat faktur pajak dan pembeli berhak menerima faktur pajak yang sudah dibuat pada setiap penyerahan BKP maupun JKP. Menurut Waluyo (2016), faktur pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak atas penyerahan Barang Kena Pajak atau penyerahan Jasa Kena Pajak atau bukti pungutan pajak karena impor Barang Kena Pajak digunakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Terdapat 2 jenis faktur pajak, yaitu faktur pajak keluaran
dan faktur pajak masukan. Faktur pajak keluaran adalah faktur pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak saat melakukan penjualan terhadap Barang Kena Pajak, Jasa Kena Pajak, dan Barang Kena Pajak yang tergolong dalam barang mewah.
Sedangkan faktur pajak masukan adalah faktur pajak yang didapatkan oleh Pengusaha Kena Pajak ketika melakukan pembelian terhadap Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak dari PKP lainnya. Faktur pajak dapat dijadikan sebagai bukti bahwa PKP telah melakukan penyetoran, pemungutan hingga pelaporan SPT Masa PPN sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Pajak yang terutang dapat dihitung menggunakan Tarif Pajak dan Dasar Pengenaan Pajak (DPP). Menurut Waluyo (2016), Dasar Pengenaan Pajak adalah jumlah harga jual atau penggantian atau nilai impor/ekspor, atau nilai lain yang di tentukan oleh keputusan menteri keuangan yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang. Berikut merupakan tarif PPN:
1. Tarif Pajak Pertambahan Nilai sebesar 10%
2. Tarif Pajak Pertambahan Nilai sebesar 0%
Tarif Pajak Pertambahan Nilai sebesar 0%, dikenakan terhadap:
a. Barang Kena Pajak Berwujud yang diekspor.
b. Barang Kena Pajak tidak berwujud dari dalam Daerah Pabean yang dimanfaatkan di luar daerah pabean.
c. Jasa Kena Pajak yang diekspor termasuk Jasa Kena Pajak yang diserahkan oleh pengusaha kena pajak yang menghasilkan dan melakukan ekspor barang kena pajak atas dasar pesanan atau permintaan dengan bahan atas petunjuk dari pemesanan di luar daerah pabean.
Salah satu contoh dari pajak langsung adalah PPh pasal 23. Undang-Undang No.
36 tahun 2008 menyatakan bahwa Pajak Penghasilan 23 merupakan pajak yang dikenakan atas penghasilan, penyerahan jasa atau hadiag dan penghargaan, selain yang telah di potong oleh PPh 21. Penghasilan ini terjadi saat terdapat transaksi antara pihak yang memberi penghasilan dan menerima penghasilan. Pihak pemberi penghasilan atau pembeli akan memotong, dan melaporkan PPh pasal 23 kepada kantor pajak.
Tarif PPh 23 dikenakan atas nilai dasar pengenaan pajak (DPP), atau jumlah bruto dari penghasilan. Terdapat 2 jenis tarif yang dikenakan pada penghasilan ini yaitu sebesar 15% dan 2%, tergantung dari objek pajak. Tarif yang dikenakan berdasarkan objek:
1. Tarif 15% dari jumlah bruto atas:
a. Dividen, kecuali pembagian dividen kepada orang pribadi dikenakan final bunga dan royalti;
b. Hadiah, penghargaan, bonus dan sejenisnya selain yang telah dipotong PPh pasal 21;
2. Tarif 2% dari jumlah bruto atas:
a. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta, kecuali sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta yang telah di kenakan pajak penghasilan sebagaimana di maksud dalam pasal 4 ayat 2;
b. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik, manajemen, kontruksi, konsultan, dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong oleh pajak penghasilan PPh 21;
3. Wajib Pajak yang tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), akan dipotong 100% lebih tinggi dari tarif PPh 23;
Tidak semua pihak dapat dikenakan atau memotong PPh pasal 23. Pihak yang termasuk dalam pihak pemotong adalah badan pemerintah, subjek pajak badan dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap (BUT), perwakilan perusahaan luar negeri lainnya, dan wajib pajak orang pribadi dalam negeri yang ditunjuk direktur jenderal pajak yaitu akuntan, arsitek, dokter, notaris. Sedangkan pihak yang termasuk dalam penerima penghasilan yang dipotong adalah wajib pajak dalam negeri, dan bentuk usaha tetap (BUT).
1.2 Maksud dan Tujuan Kerja Magang
Proses kerja magang dilaksanakan dengan tujuan untuk:
1. Menambah pengalaman untuk mempraktikkan ilmu yang di peroleh selama masa perkuliahan seperti walkthrough, vouching, stock opname, menyusun laporan posisi keuangan dan laba rugi, subsequent event, tied-up atas laporan keuangan, rekapitulasi faktur pajak, dan membuat indeks akun WBS dan WPL.
2. Menambah pengalaman mengenai pelaksanaan prosedur audit dan praktiknya di KAP.
3. Meningkatkan kerja sama dalam tim, kemampuan untuk berkomunikasi, disiplin, dan tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas secara tepat waktu di lingkungan kerja.
1.3 Waktu dan Prosedur Pelaksanaan Kerja Magang
1.3.1 Waktu Pelaksanaan Kerja Magang
Pelaksanaan kerja magang dilakukan pada tanggal 2 Juni 2020 sampai dengan 2 September 2020 di Kantor Akuntan Publik Susianto Arona yang berlokasi di Ruko Glaze 2 Blok D No. 18, Gading Serpong-Tangerang, sebagai junior auditor. Jam kerja magang dilaksanakan pada hari Senin- Jumat pukul 08.00-17.00 WIB.
1.3.2 Prosedur Pelaksanaan Kerja Magang
1. Tahap Pengajuan
Prosedur dalam tahap pengajuan kerja magang adalah:
a. Mahasiswa mengajukan permohonan dengan mengisi formulir pengajuan kerja magang (form- KM01) sebagai acuan pembuatan surat pengantar kerja magang yang ditujukan kepada perusahaan yang dimaksud untuk ditanda tangani oleh ketua progam studi.
b. Surat pengantar dianggap sah apabila dilegalisir oleh Ketua Progam Studi.
c. Progam studi menunjuk seorang dosen pada progam studi yang bersangkutan sebagai pembimbing kerja magang.
d. Mahasiswa diperkenankan untuk mengajukan usulan tempat kerja magang kepada Ketua Progam Studi.
e. Mahasiswa menghubungi calon perusahaan tempat kerja magang dengan di bekali surat pengantar kerja magang, Curriculum Vitae, dan transkrip nilai.
f. Jika permohonan untuk memperoleh kesempatan magang ditolak, mahasiswa mengulang prosedur dari a, b, c, dan d, dan izin baru akan diterbitkan untuk mengganti izin lama. Jika permohonan diterima, mahasiswa melaporkan penerimaan kepada Koordinator Magang.
g. Mahasiswa dapat melaksanakan kerja magang apabila telah menerima surat balasan bahwa mahasiswa yang bersangkutan diterima kerja magang pada perusahaan yang dimaksud, yang ditujukan kepada Koordinator Magang.
h. Apabila mahasiswa telah memenuhi semua persyaratan kerja magang, mahasiswa akan memperoleh: kartu kerja magang, formulir kehadiran magang, formulir realiasi kerja magang, dan formulir laporan penilaian kerja magang.
2. Tahap Pelaksanaan
a. Sebelum mahasiswa melakukan Kerja Magang di perusahaan, mahasiswa diwajibkan menghadiri perkuliahan kerja magang yang dimaksudkan sebagai pembekalan. Perkuliahan pembekalan yang
dilakukan sebanyak 3 kali tatap muka. Jika mahasiswa tidak dapat memenuhi ketentuan kehadiran tersebut tanpa alasan yang dapat dipertanggung-jawabkan, mahasiswa akan di kenakan pinalti dan tidak diperkenankan melaksanakan praktik kerja magang di perusahaan pada semester berjalan, serta harus mengulang untuk mendaftar kuliah pembekalan magang pada periode berikutnya.
b. Pada perkuliahan kerja Magang, diberikan materi kuliah yang bersifat petunjuk teknis kerja magang, termasuk di dalamnya perilaku mahasiswa di perusahaan. Adapun rincian materi kuliah adalah sebagai berikut;
Pertemuan 1: Sistem dan prosedur kerja magang, perilaku dan komunikasi mahasiswa dalam perusahaan.
Pertemuan 2: Struktur organisasi perusahaan, pengumpulan data (sistem dan prosedur administrasi, operasional perusahaan, sumber daya); analisis kelemahan dan keunggulan (sistem, prosedur dan efektivitas administrasi dan operasional, efisiensi penggunaan sumber daya, pemasaran perusahaan, dan keuangan perusahaan).
Pertemuan 3: Cara penulisan laporan, ujian kerja magang dan penelitian, cara presentasi dan tanya jawab.
c. Mahasiswa bertemu dengan dosen pembimbing untuk pembekalan teknis di lapangan. Mahasiswa melaksanakan kerja magang di perusahaan di bawah bimbingan seorang karyawan tetap di
perusahaan/instansi tempat pelaksanaan kerja magang yang selanjutnya disebut sebagai pembimbing lapangan. Dalam periode ini mahasiswa belajar bekerja dan menyelesaikan tugas yang diberikan pembimbing lapangan. Untuk menyelesaikan tugas yang diberikan, mahasiswa berbaur dengan karyawan dan staf perusahaan agar mahasiswa ikut merasakan kesulitan dan permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan tugas di tempat kerja magang. Jika di kemudian hari ditemukan penyimpangan-penyimpangan (mahasiswa melakukan kerja magang secara fiktif), terhadap mahasiswa yang bersangkutan dapat dikenakan sanksi diskualifikasi dan sanksi lain sebagai mana aturan universitas, serta mahasiswa yang bersangkutan dapat dikenakan sanksi diskualifikasi dan sanksi lain sebagaimana aturan universitas, serta mahasiswa di haruskan mengulang proses kerja magang dari awal.
d. Mahasiswa harus mengikuti semua peraturan yang berlaku di perusahaan/instasi tempat pelaksanaan kerja magang. Mahasiswa bekerja minimal di satu bagian peraturan yang berlaku di perusahaan/instansi tempat pelaksanaan kerja magang.
e. Mahasiswa bekerja minimal di satu bagian tertentu di perusahaan sesuai dengan bidang studinya. Mahasiswa menuntaskan tugas yang diberikan oleh pembimbing lapangan di perusahaan atas dasar teori, konsep, dan pengetahuan yang diperoleh di perkuliahan. Mahasiswa
mencoba memahami adaptasi penyesuaian teori dan konsep yang diperolehnya di perkuliahan dengan terapan praktisnya.
f. Pembimbing lapangan memantau dan menilai kualitas dan usaha kerja magang mahasiswa.
g. Sewaktu mahasiswa menjalani proses kerja magang, koordinator Kerja Magang beserta dosen pembimbing kerja magang memantau pelaksanaan kerja magang mahasiswa dan berusaha menjalin hubungan baik dengan perusahaan. Pemantauan dilakukan baik secara lisan maupun tertulis.
3. Tahap Akhir
a. Setelah kerja magang di perusahaan selesai, mahasiswa menuangkan temuan serta aktivitas yang dijalankannya selama kerja magang dalam laporan kerja magang dengan bimbingan dosen Pembimbing Kerja Magang.
b. Laporan kerja magang di susun sesuai dengan standar format dan struktur laporan kerja magang Universitas Multimedia Nusantara.
c. Dosen pembimbing memantau laporan final sebelum mahasiswa mengajukan permohonan ujian kerja magang. Laporan kerja magang harus mendapat pengesahan dari dosen pembimbing dan di ketahui oleh ketua progam studi. Mahasiswa menyerahkan laporan kerja magang kepada pembimbing lapangan dan meminta pembimbing lapangan mengisi formulir penilaian pelaksanaan kerja magang.
d. Pembimbing lapangan mengisi formulir kehadiran kerja magang terkait dengan kinerja mahasiswa selama melaksanakan kerja magang.
e. Hasil penilaian yang sudah diisi dan ditandatangani oleh pembimbing lapangan di perusahaan/instansi dan surat keterangan yang menjelaskan bahwa mahasiswa yang bersangkutan telah menyelesaikan tugasnya, dikirim secara langsung kepada koordinator magang.
f. Setelah mahasiswa melengkapi persyaratan ujian kerja magang, koordinator kerja magang menjadwalkan ujian kerja magang.
g. Mahasiswa menghadiri ujian kerja magang dan mempertanggung- jawabkan laporannya pada ujian kerja magang.