1 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHSAN A. Hasil
Analisis yang dilakukan dengan 3 sampel buku ajar IPA terpadu yang diteliti yaitu terbitan Pusat perbukuan tahun terbit 2008, terbitan Yudistira tahun terbit 2008, dan terbitan Erlangga tahun terbit 2013. Analisis buku ini dilakukan yaitu berdasarkan ketepatan konsep, relevansi materi dan soal dengan indikator, tingkat kesulitan soal berdasarkan taksonomi bloom dan kesusaian isi buku teks dengan proses sains.
1. Analisis ketepatan konsep
Hasil analisis data ketepatan konsep buku teks IPA untuk ketiga buku dapat dilihat pada table berikut ini
Tabel 7: Prosentase Analisis Ketepatan Konsep
No Buku teks
Presentase ketepatan konsep Memadai Kurang
memadai
Tidak terakomodasi
1 Buku teks BSE 78% 10% 12%
2 Buku teks KTSP 88% 6% 6%
3 Buku teks
kurikulum 2013 92% 1% 7%
Berdasarkan hasil analisis table diatas ketepatan konsep pada buku analisis ketepatan konsep buku teks BSE terbitan pusat perbukuan untuk kategori kurang memadai yaitu sebesar 10% kategori memadai sebesar 78 dan kategori tidak terakomodasi sebesar 12%. Selanjutnya untuk ketepatan konsep buku teks KTSP terbitan Yudistira sebesar 6% untuk kategori kurang memadai, 88% untuk kategori memadai dan 6% untuk kategori tidak terakomodasi. Terakhir adalah buku teks kurikulum 2013 terbitan Erlangga adalah sebesar 1% untuk katrgori kurang memadai, 92% untuk kategori memadai dan 7% untuk kategori tidak terakomodasi.
2
2. Analisis relevansi materi dan tugas dengan indikator a. Relevansi materi
Hasil analisis data relevansi materi buku teks IPA untuk ketiga buku dapat dilihat pada table berikut ini
Tabel 8: Prosentase Analisis Relevansi Materi Dengan Indikator
No Buku teks
Prosentase analisis relevansi Kurang
memadai
Memadai Tidak terakomodasi
1 Buku teks BSE 43% 57% 0%
2 Buku teks KTSP 0% 91% 9%
3 Buku teks kurikulum
2013 0% 100% 0%
Berdasarkan tabel diatas relevansi materi dengan indikator untuk buku teks pada BSE, kategori kurang memadai memiliki prosentase yang lebih besar dibandingkan dengan buku yang lainnya, kategori memadai lebih kecil prosentasinya yaitu sebesar 57%, akan tetapi prosentase kategori tidak terakomodasi lebih baik dibandingkan dengan buku teks KTSP yaitu sebesar 0%. Selanjutnya pada buku teks KTSP untuk kategori kurang memadai memiliki prosentase sebesar 0%, untuk kategori memadai memiliki prosentase sebesar 91%, dan untuk kategori tidak terakomodasi memiliki prosentase sebesar 9%. Terakhir analisis relevansi buku teks kurikulum 2013 kualitasnya 100% untuk kategori memadai untuk kategori kurang memadai dan tidak memadai sebesar 0%
b. Relevansi tugas
Hasil analisis data relevansi tugas buku teks IPA untuk ketiga buku dapat dilihat pada table berikut ini.
Tabel 9: Prosentase Analisis Relevansi Tugas Dengan Indikator
No Buku teks
Prosentase Relevansi Tugas Kurang
memadai
Memadai Tidak terakomodasi
1 Buku teks BSE 28,8 71,4% 0%
2 Buku teks KTSP 27% 64% 9%
3 Buku teks kurikulum 2013 33% 67% 0%
3
Berdasarkan hasil analisis relevansi tugas dengan indikator pada buku teks BSE, kualitasnya lebih baik dibandingkan dengan kedua buku tersebut yakni prosentase prosentase kurang memadai sebesar 28,8% dan prosentase memadai sebesar 71,4%. Selanjutnya untuk buku teks KTSP prosentase memadai sebesar 64%, Prosentase kurang memadai sebesar 27% dan prosentase kategori tidak terakomodasi sebesar 9%. Analisis relevansi selanjutnya adalah buku teks kurikulum 2013 prosentase kategori kurang memadai sebesar 33%, sementara presentase memadai lebih besar dibandingkan dengan prosentase kurang memadai yaitu sebesar 67%, dan untuk prosentase tidak terakomodasi sebesar 0%.
3. Analisis Tingkat Kesulitan Soal Berdasarkan Taksonomi Bloom
Hasil analisis data tingkat kesulitan soal berdasarkan Taksonomi Bloom buku teks IPA untuk ketiga buku dapat dilihat pada table berikut ini
Tabel 10: Prosentase Analisis Tingkat Kesulitan Soal Berdasarkan Taksonomi Bloom
Buku teks
Jumlah soal
Frekuensi kemunculan jenjang soal
Presentase kemunculan jenjang soal
C1 C2 C3 C4 C5 C6 C1 C2 C3 C4 C5 C6
BSE 85 46 34 5 0 0 0 54 40 6 0 0 0
KTSP 28 9 18 1 0 0 0 32 64 4 0 0 0
Kurtilas 25 10 13 2 0 0 0 40 52 8 0 0 0
Berdasarkan tabel diatas prosentase jenjang soal untuk C1 didominasi oleh buku teks BSE sebesar 46 soal dari 85 jumlah total yang ada, sementara untuk jenjang soal C2 prosentase terbanyak terdapat pda buku teks KTSP sebesar 18 soal dari 28 jumah total soal yang ada, dan terakhir untuk jenjang soal C3 didominasi oleh buku teks Kurikuum 2013 dengan jumlah soal yaitu 8 dari 25 soal yang ada.
4. Analisis Tingkat Proses Sains
Hasil analisis data Analisis Tingkat Proses Sains buku teks IPA untuk ketiga buku dapat dilihat pada table berikut ini
4
Tabel 11: Prosentase Analisis Tingkat Proses Sains
Indikator Proses Sains
Buku teks
BSE KTSP Kurikulum 2013 1. Memiliki Tujuan Pembelajaran Yang Jelas
1.1 Menyampaikan Tujuan Pembelajaran Secara
Menyeluruh 3 4 4
1.2 Memuat tujuan pembelajaran (fokus pada
materi yang akan diajarkan) 3 3 3
1.3 Penyajian Materi Disajikan Secara Runtut 4 4 4 2 Menampung Ide Siswa Selama Proses
Pembelajaran
2.1 Memuat Pengetahuan Dan Keterampilan
Sebagai Prasyarat Dalam Proses Pembelajaran 3 3 3 2.2 Mengingatkan Guru Terhadap Gagasan
Siswanya berdasarkan kebenaran konsep 3 4 4 2.3 Membantu Guru dalam menstimulus
munculnya ide siswa 4 3 4
2.4 Mengarahkan ide yang sudah terkumpul 4 4 4 3 Melibatkan Siswa Dengan Fenomena Yang
Relevan
3.1 Mengkaitkan Satu Konsep Dengan Konsep
Lainnya Dalam Menjelaskan Suatu Fenomena 4 4 4 3.2 Menyediakan pengalaman yang lebih nyata 4 4 4 4 Mengembangkan Dan Menerapkan Konsep
pembelajaran secara Ilmiah
4.1 Terdapat Penjelasan Tentang Istilah Yang
Sulit 3 4 4
4.2 Gagasan materi dinyatakan efektif 3 3 3 4.3 Mendemonstrasikan Pengetahuan Yang
Didapat dari konsep pembelajaran 3 4 4
4.4 Materi pembelajaran memuat Praktek Atau
Latihan Dalam Pembelajaran 4 4 4
5. Materi mendorong siswa untuk Mengembangkan Pola Berpikir Siswa Dalam Mengkorelesikan antara Fenomena, Pengalaman Dan Pengetahuan
a. Mendorong Siswa Untuk menjelaskan
gagasanya 3 3 3
b. Mendorong Siswa Untuk menafsirkan dan
berfikir secara nalar 2 4 4
c. Mendorong siswa untuk berfikir tentang apa
yang sudah mereka pelajari 2 2 2
6. Menyusun Penilaian Terhadap Kemajuan Siswa selama Proses Pembelajaran
a. Penilaian sesuai dengan tujuan pembelajaran 3 4 4
b. Menguji Pemahaman Siswa 3 4 4
c. Menggunakan Penilaian Untuk
Menginformasikan pembelajaran 3 4 4
7. Meningkatkan Lingkungan Belajar Yang
5 Lebih Luas
a. Guru menyediakan konten yang dapat
membantu siswa untuk lebih memahami pelajaran 2 4 4 b. Mendorong rasa ingin tahu siswa kemudian
menanyakannya 2 4 4
c. Meningkatkan Motivasi Siswa 1 4 4
JUMLAH 66 80 81
RATA – RATA 3,1
0 3,68 3,70
Berdasarkan tabel diatas hasil analisis kesesuaian materi dengan indikator proses sains diperoleh untuk buku teks teks BSE terbitan Yudistira jumlah rata – ratanya adalah 3,10 jumlah tersebut diperoleh dari jumlah kategori sangat memuaskan dengan mendapatkan point 4, kategori memuaskan mendapatkan point 3, kategori kurang memuaskan mendapatkan point 2 dan untuk karegori tidak memuaskan sebesar 1 point. Analisis proses sains untuk kategori sangat memuaskan terdapat 6 indikator, untuk kategori memuaskan sebanyak 11 indikator, untuk kategori kurang memuaskan sebanyak 1 indikator, dan untuk kategori tidak memuaskan sebanyak 1 indikator.
Hasil analisis proses sains pada buku teks KTSP terbitan yudistira jumlah rata – ratanya adalah 3,70 jumlah tersebut diperoleh dari jumlah kategori sangat memuaskan dengan mendapatkan point 4, kategori memuaskan mendapatkan point 3, kategori kurang memuaskan mendapatkan point 2 dan untuk karegori tidak memuaskan sebesar 1 point. Analisis proses sains untuk kategori sangat memuaskan terdapat 17 indikator, untuk kategori memuaskan sebanyak 4 indikator dan kategori kurang memuaskan sebanyak 1 indikator.
Hasil analisis proses sains pada buku teks Kurtilas terbitan erlangga jumlah rata – ratanya adalah 3,68 jumlah tersebut diperoleh dari jumlah kategori sangat memuaskan denga mendapatkan point 4, kategori memuaskan mendapatkan poin 3, kategori kurang memuaskan mendapatkan poin 2 dan untuk karegori tidak memuaskan sebesar 1 poin. Analisis proses sains untuk kategori sangat memuaskan terdapat 16 indikator, untuk kategori memuaskan sebanyak 5 indikator dan kategori kurang memuaskan sebanyak 1 indikator.
6 B. Pembahasan
1. Analisis ketepatan konsep
Berdasarkan hasil analisis ketepatan konsep dari 3 buku teks IPA kelas VII yaitu buku teks IPA kurikulm 2013 terbitan Erlangga terbitan “ X “ , buku teks IPA KTSP terbitan Yudistira terbitan “ X “ dan buku teks IPA yang ketiga yaitu buku IPA KTSP BSE terbitan Pusat Perbukuan Karangan “ X “ yang penulis lakukan adalah mencocokan atribut kritis dengan mencocokannya dengan konsep – konsep yang ada dalam buku teks, maka diperoleh konsep memadai, konsep kurang atribut, dan konsep yang berpotensi miskonsepsi.
a. Analisis ketepatan konsep isi buku teks Biologi BSE terbitan pusat perbukuan karangan “ X “ kelas VII semester I
Konsep yang pertama adalah Makhluk hidup. Dalam kamus Biologi Makhluk hidup merupakan setiap satuan yang hidup tediri atas hewan, tumbuhan, dan jamur (372) Konsep ini tidak terdapat dalam buku teks sehingga dapat menimbulkan misskonsepsi pada siswa.
Konsep selanjutnya adalah Gerak, dalam buku teks dijelaskan gerak merupakan perubahan posisi, baik seluruh tubuh ataupun sebagian (hal 200).
Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Gerak merupakan perpindahan tempat atau kedudukan (Tim reality : 221).
Konsep selanjutnya adalah Iritabilitas, dalam buku teks dijelaskan bahwa iritabilitas merupakan makhluk hidup yang peka terhadap rangsang (hal 200). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Iritabilitas merupakan kepekaan makhluk hidup terhadap rangsangan (Tim reality : 295).
Konsep selanjutnya adalah Respirasi, dakam buku teks Respirasi merupakan proses pengambilan oksigen untuk oksidasi makanan sehingga memperoleh energi dan mengeluarkan karbondioksida sebagai zat sisa (hal 200). Definisi ini kurang sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Respirasi merupakan proses pengambilan oksigen dari udara bebas kemudian mengeluarkan karbondioksida dan uap air (Tim reality : 504).
Definisi ini kurang sejalan dengan definisi alternatif karena kurang atribut
7
kritis yaitu respirasi selain menghasilkan karbondioksida juga menghasilkan uap air.
Konsep selanjutnya adalah Pertumbuhan,dalam buku teks dijelaskan bahwa pertumbuhan merupakan proses bertambahnya volume atau ukuran makhlukhidup yang irreversibel (hal 201). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa pertumbuhan merupakan proses perubahan dalam makhluk hidup yang meliputi peningkatan kematangan sel, kenaikan massa, penambahan ukuran dan penambahan jumlah populasi (Tim reality : 461).
Konsep selanjutnya yaitu Perkembangan, dalam buku teks dijelaskan bahwa Perkembangan merupakan proses menuju kedewasaan yang dipengaruhi oleh hormon, nutrisi, dan lingkungan (hal 201). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Pertumbuhan merupakan proses pertambahan ukuran, volume, dan jumlah sel dan bersifat irreversibel (Tim reality : 461, Campbell : 370).
Konsep selanjutnya adalah Reproduksi, dalam buku teks Reproduksi adalah usaha memperbanyak diri untuk mempertahankan kelestarian jenisnya (hal 201). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Reproduksi merupakan proses penurunan individu-individu baru pada tumbuhan maupun hewan untuk melestarikan jenisnya (Tim reality : 503).
Konsep selanjutnya adalah Adaptasi, dalam buku teks dijelaskan bahwa adaptasi merupakan kemampuan makhluk hidup untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan untuk mempertahankan diri (hal 201). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Adaptasi merupakan perubahan suatu makhluk hidup sebagai akibat dari reaksi terhadap perubahan lingkungan (Tim reality : 16).
Konsep selanjutnya adalah Regulasi, dalam buku teks dijelaskan bahwa Regulasi merupakan proses pengaturan keserasian di dalam tubuh organism yang diatur oleh syaraf dan hormon (hal 201). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Regulasi merupakan perkembangan seluruh atau sebagian embrio binatang secara normal yang tetap berlangsung meskipun strukturnya mengalami gangguan (Tim reality : 500).
8
Konsep selanjutnya adalah Eksresi, dalam buku teks Eksresi adalah proses pegeluaran sisa – sisa metabolism tubuh. (hal 202). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Eksresi merupakan proses pengeluaran zat sisa yang tidak diperlukan lagi oleh tubuh melalui kulit dan ginjal; merupakan pembuangan metabolisme yang mengandung nitrogen (Tim reality : 163, Campbell : G 5).
Konsep selanjutnya adalah Protista dalam buku teks dijelaskan bahwa Protista adalah makhluk hidup yang bersifat eukariotik, yaitu memiliki membran inti, bersel tunggal dan multiseluler (Hal 207). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Protista merupakan makhluk hidup perintis dengan susunan biologi yang masih relatif sederhana dengan bentuk uniseluler dan multiseluler dan belum memiliki membran inti sel sehingga disebut eukariotik, protista memiliki kemiripan morfologi dan fisiologi dengan hewan, tumbuhan, dan jamur (Mien : 393, Campbell : 125 ).
Konsep selanjutnya adalah Protozoa dalam buku teks Protozoa adalah hewan yang bersel satu cara hidup bebas dan parasit pada makhluk hidup lain, selnya tidak memiliki plastida, bergerak dengan kaki semu, bulu cambuk, bulu getar, cara berkembang biak dengan membelah diri dan konjugasi (Hal 215). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Protozoa merupakan protista mirip hewan yang memiliki sel tunggal. Merupakan organisme renik yang bersifat heterotrof dengan cara menelan makanan (Mien : 395, Campbell : G 21 ).
Konsep selanjutnya adalah Sporozoa dalam buku teks dijelaskan bahwa Sporozoa adalah hewan yang berspora (Hal 208). Definisi ini kurang sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Sporozoa merupakan protista yang tidak memiliki alat gerak dan bersifat parasit (Tim Reality : 535, Campbell : 133). Definisi ini kurang sejalan dengan definisi alternatif karena pada atribut kritis tidak disebutkan bahwa Sporozoa adalah makhluk hidup yang tidak mempunyai alat gerak seperti Protozoa lainnya, dan parasit pada makhluk hidup yang lainnya.
Konsep selanjutnya adalah Rhizopoda, dalam buku teks dijelaskan bahwa Rhizopoda adalah protista yang memiliki kaki semu (Hal 207).
Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa
9
Rhizopoda merupakan protozoa yang memiliki alat gerak berupa kaki semu, atau kaki yang bentuknya seperti akar yang digunakan untuk bergerak dan makan (Mien : 411, Campbell : 136).
Konsep selanjutnya adalah Ciliata dalam buku teks dijelaskan bahwa Ciliata adalah hewan berbulu getar (Hal 208). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Ciliata merupakan protozoa yang bergerak dengan menggunakan silia, hidup secara soliter diperairan air tawar maupun air laut ( Tim reality : 110 , Campbell : 134).
Konsep selanjutnya adalah Flagellata dalam buku teks dijelaskan bahwa Flagellata adalah hewan berbulu cambuk (Hal 208). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Flagellata merupakan protozoa yang bergerak dan makan dengan menggunakan flagel (Tim reaity : 205, Campbell : 131).
Konsep selanjutnya adalah Protista mirip tumbuhan / Alga dalam buku teks tidak dijelaskan konsep dari protista mirip alga, dalam definisi alternatif dijelaskan bahwa Alga merupakan suatu protista fotosintetik yang mirip tumbuhan dengan organ reproduksi yang terdiri atas satu sel dan ada juga yang memiliki banyak sel dengan berbentuk filamen (Mien : 137, Campbell : G 1).
Konsep selanjutnya adalah Alga merah / Rhodophyta dalam buku teks alga merah adalah alga yang memiliki pigmen fikoeritrin / pigmen merah (Hal 209). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Rhodophyta merupakan ganggang yang mempunyai pigmen fikoeritrin (Tim Reality : 216, Campbell : 145).
Konsep selanjutnya adalah Alga kersik / Crysophyta dalam buku teks adalah alga yang hidup dilaut, bangkainya didasar laut akan membentuk lapisan tanah yang disebut diatom (Hal 209). Definisi ini kurang sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Crysophyta merupakan ganggang yang memiliki pigmen xantofil dan merupakan organisme uniseluler (Tim Reality : 216, Campbell : 145). Definisi ini kurang sejalan karena pada atribut kritis kurang disebutkan bahwa krisophyta mengandung pigmen xantofil dan merupakan organisme uniseluler.
10
Konsep selanjutnya adalah Chlorophyta, dalam buku teks dijelaskan bahwa Chlorophyta merupakan alga yang memiliki pigmen hijau dan kuning (hal 209). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Chlorophyta merupakan ganggang bersel tunggal yang memiliki kloroplas berwarna hijau (Tim Reality : 216, Campbell : 149).
Konsep selanjutnya adalah Phaeophyta, dalam buku teks dijelaskan bahwa Phaeophyta merupakan alga yang memiliki warna cokelat kehijauan, banyak mengandung asam alginat yang digunakan untuk perindustrian (hal 209). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Phaeophyta merupakan ganggang yang memiliki pigmen fikosantin/ cokelat (Campbell : 141).
Konsep selanjutnya adalah Monera, dalam buku teks dijelaskan bahwa Monera adalah mikroorganisme tunggal yang memiliki inti tidak tetap, tidak memiliki selubung inti sehingga bersifat prokariotik (Hal 206).
Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Monera merupakan organisme yang bersel tunggal yang susunan selnya masih sederhana belum memiliki membran inti sel (Tim reality : 398, Campbell : 100).
Konsep selanjutnya adalah Bakteri dalam buku teks dijelaskan bahwa Bakteri adalah mikroorganisme yang strukturnya masih sangat sederhana, tidak memiliki klorofil dan bersifat heterotrof. Berdasarkan bentuk dibedakan menjadi 3 yaitu basil, coccus, dan spiral (Hal 206). Definisi ini dengan redaksi yang berbeda sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Bakteri merupakan mikroorganisme yang bersel tunggal, belum memiliki membran inti sel, berkembangbiak dengan cara membelah diri, berdasarkan bentuk dibedakan menjadi bakteri yang berbentuk bulat, batang, dan spiral (Tim reality : 65, Campbell : G 3).
Konsep selanjutnya adalah Bacillus dalam buku teks adalah bakteri yang berbentuk batang atau basil (Hal206). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Bacillus merupakan bakteri yang berbentuk batang (Tim reality : 216, Campbell : 107).
Konsep selanjutnya adalah Coccus dalam buku teks adalah bakteri yang berbentuk bola (Hal 206). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif
11
yang menjelaskan bahwa Coccus merupakan bakteri yang berbentuk tunggal dan bulat (Tim reality : 216, Campbell : 107).
Konsep selanjutnya adalah Spirillum dalam buku teks adalah bakteri yang berbentuk spiral (Hal 207). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Spirillum merupakan bakteri yang berbentuk spiral / helix (Tim reality : 216, Campbell : 107).
Konsep selanjutnya adalah Ganggang biru dalam buku teks ganggang biru adalah ganggang yang bersel satu, berbentuk koloni atau multiseluler, mempunyai hifa dan berkembang biak dengan spora (hal 208). definisi ini sejalan dnegan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa ganggang biru merupakan gangang hijau biru yang mempunyai klorofil dan merupakan alga yang bersel tunggal (Tim Reality : 127).
Konsep selanjutnya adalah Jamur / Fungi dalam buku teks dijelaskan bahwa Fungi adalah makhluk hidup uniseluler dan ada yang multiseluler, mempunyai hifa, dan berkembangbiak dengan spora. (Hal 208). Definisi ini kurang sejalan dengan definisi alternatif yang mengatakan bahwa Fungi merupakan jasad renik yang berinti sejati tapi tidak mampu melakukan fotosintesis, merupakan organisme heterotrof dan multiselulr mendapatkan makanan melalui penyerapan (Mien : 195, Campell : 101). Definisi ini kurang sejalan dengan definisi alternatif karena pada atribut kurang disebutkan bahwa fungi merupakan organisme heterotrof sehingga tidak mampu melakukan fotosintesis, bersifat eukariotik, dan mendapatkan makanan melalui penyerapan (bersifat saprofit).
Konsep selanjutnya adalah Zigomycetes Dalam buku teks tidak dijelaskan konsep zigomycetes, tapi dijelaskan konsep jamur ganggang yang mana Zigomycetes merupakan salah satu dari kelas ganggang tersebut, jamur ganggang dalam buku tersebut dijelaskan mempunyai hifa yang bersekat- sekat seharusnya jamur ganggang merupakan jamur yang tidak memiliki hifa yang bersekat(hal 208). Dalam kamus biologi ataupun Campbell konsep ini tidak dijelaskan.
Konsep selanjutnya adalah Ascomycetes dalam buku teks dijelasakan bahwa Ascomycetes adalah jamur yang membentuk spora pada sebuah alat seperti kantong yang disebut askus (Hal 209) Definisi ini sejalan dengan
12
definisi alternatif yang menyatakan bahwa Ascomycetes merupakan jamur benang yang menghasilkan spora seksual dalam aski yang mirip kantung, bereproduksi secara aseksual dengan menghasilkan spora yang tersebar oleh angin (Tim reality : 45, Campbell : 189).
Konsep selanjutnya adalah Basidiomycetes dalam buku teks dijelasakan bahwa Basidiomycetes adalah jamur yang membentuk spora pada sebuah alat seperti botol (Hal 209). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Basidiomycetes merupakan jamur yang menghsilkan spora pada basidium dalam basidiokarpus yang mirip dengan daging yang membusuk (Tim Reality : 69, Campbell : 192).
Konsep selanjutnya adalah Deuteromycetes dalam buku teks dijelasakan bahwa Deuteromycetes adalah jamur tidak sempurna yang tumbuh pada roti, sisa makanan, tongkol jagung, kotoran ternak dan manusia, biasanya jamur ini menyebabkan penyakit (Hal 209). Definisi ini kurang sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Deuteromycetes merupakan jamur yang tidak sempurna karena tidak ada pembiakan seksual seperti pada jamur yang umumnya, reproduksi aseksual dengan menghasilkan spora (Tim reality :142, Campbell : 193). Definisi ini kurang sejalan dengan definisi alternatif ditandai dengan kurang disebutkannya beberapa penjelasan pada atribut kritisnya yang menjelaskan bahwa Deuteromycetes adalah jamur yang reproduksinya menghasilkan spora.
Konsep selanjutnya adalah Plantae, dalam buku teks tidak dijelaskan konsep plantae sehingga besar kemungkinan akan terjadi misskonsepsi pada siswa, pada definisi alternatif dijelaskan bahwa Plantae merupakan salah satu kingdom yang termasuk kelompok tumbuhan dengan ciri – ciri berklorofil, berfotosintesis, eukariotik dan mempunyai dinding sel. (Tim relity : 469, Campbell : 100).
Konsep selanjutnya adalah Tumbuhan Talus, dalam buku teks tidak dijelaskan konsep dari tumbuhan talus sehingga memungkinkan terjadi misskonsepsi pada siswa, konsep tumbuhan talus dalam definisi alternatif Merupakan tumbuhan vegetatif yang tubuhnya tidak terbagi atas akar, batang dan daun, digunakan bagi tumbuhan lumut (bryophyta) ( Mien : 462, Campbell : 143).
13
Konsep selanjutnya adalah Bryophyta/Lumut dalam buku teks dijelasakan bahwa Bryophyta adalah tumbuhan talus artinya memiliki akar, batang, daun yang bukan sejati. Mengalami pergiliran keturunan, akarnya berupa rhizoid yang berfungsi untuk menempelkan tubuh lumut dan hidup ditempat yang lembab(Hal210). Definisiini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Bryophyta Merupakan tumbuhan non vaskuler berasal dari bahasa Yunani” Bryon” yang berarti lumut, yaitu sejenis tumbuhan kecil yang menyerupaibeludru pada batu/ kayu, berklorofil, tidak mempunyai akar, batang, dan daun sejati serta tidak mempunyai pembuluh (Tim reality : 88, Campbell : 159).
Konsep selanjutnya adalah Tumbuhan Vaskuler, dalam buku teks tidak dijelaskan konsep Tumbuhan Vaskuler sehingga dapat menimbulkan misskonsepsi pada siswa, definisi alternatif membahas bahwa Tumbuhan Vaskuler adalah tumbuhan yang telah memiliki akar, batang, dan daun sejati, melakukan fotosintesis (Tim reality: 568, Campbell : 162).
Konsep selanjutnya adalah Pteridophyta / Tumbuhan paku dalam buku teks dijelaskan bahwa Pterydophyta merupakan tumbuhan kormus, mengalami pergiliran keturunan, mempunyai spora (Hal 211). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Pteridophyta merupakan tumbuhan vaskuler yang tidak memiliki biji, mempunyai akar, batang dan daun, akar berupa rhizoma, generasi sporofit lebih dominan dibanding dengan gametofit (Tim reality : 492, Campbell :163).
Konsep selanjutnya adalah Tumbuhan biji (Spremathophyta) dalam buku teks dijelaskan bahwa Spermatophyta adalah tumbuhan yang menghasilkan biji yang digunakan sebagai alat perkembangbiakan.
Berdasarkan letak bakal biji dibagi menjadi dua macam yaitu Gymnospermae dan Angiospermae (Hal 213). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Spermatophyta merupakan tumbuhan berpembuluh, berbiji yang terdiri atas gymnospermae dan angiospermae (Tim reality :533).
Konsep selanjutnya adalah Angiospermae dalam buku teks dijelaskan bahwa Angiospermae adalah tumbuhan yang bakal bijinya tersimpan dalam daun buah terdiri atas dikotil dan monokotil (Hal 213). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Angiospermae merupakan
14
tumbuhan berbunga dengan biji tertutup/ biji belah (memiliki 2 keping) terdiri dari monokotil dan dikotil (Tim relity : 147, Cambell : 176).
Konsep selanjutnya adalah Dikotil dalam buku teks merupakan tumbuhan biji berkeping dua, memiliki akar tunggang, batang bercabang, daun tersebar berhadap – hadapan, tulang, memiliki dua daun lembaga (Hal 214). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Dikotil merupakan tumbuhan berbunga yang memiliki dua keping biji (Tim Reality :145, Campbell : G 4).
Konsep selanjutnya adalah Monokotil dalam buku teks merupakan tumbuhan biji berkeping satu, akar berupa serabut, daun berseling, tulang daun sejajar, biji memiliki satu daun lembaga (Hal 215). Definisi ini sejalan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Monokotil merupakan tumbuhan berbunga yang memiliki satu kotiloden (Tim Reality : 399, Campbell : G 16).
Konsep selanjutnya adalah Gymnospermae dalam buku teks dijelaskan bahwa Gymnospermae adalah tumbuhan yang bakal bijinya tidak terlindung oleh daun buah , tetapi menempel pada daun buah (Hal 213).
Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Gymnospermae merupakan tumbuhan vaskuler dengan biji terbuka yang tidak memiliki ovarium, kelompok tumbuhan yang bakal bijinya tidak terlindungi oleh daun buah, tetapi menempel pada daun buah (Tim reality : 238, Campbell : 173).
Konsep selanjutnya adalah Animalia, dalam buku teks tidak dijelaskan konsep animalia sehingga dapat menimbulkan misskonsepsi pada siswa, dalam definisi alternatif Animalia adalah Salah satu kingdom hewan yang memiliki ciri – ciri tidak memiliki dinding sel, eukariotik, bersel banyak dan bersifat heterotrof (Tim reality : 40, Campbell : 202)
Konsep selanjutnya adalah Avertebrata dalam buku teks dijelaskan bahwa Avertebrata adalah kelompok hewan yang tidak memiliki ruas tulang belakang.(Halaman 215). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Avertebrata merupakan Kelompok hewan yang tidak memiliki ruas – ruas tulang belakang / tulang punggung (Tim reality : 61, Campbell : G 10).
15
Konsep selanjutnya adalah Porifera dalam buku teks dijelaskan bahwa Porifera merupakan hewan yang hidup di air, seluruh permukaan tubuh berpori, mempunyai rangka dari zat tanduk. (Hal 215). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa porifera merupakan hewan koanosit yang memiliki tubuh berpori, memiliki bentuk tubuh dan spikula yang beranekaragam (Tim reality : 479, Campbell : 213).
Konsep selanjutnya adalah Coelenterata dalam buku teks dijelaskan bahwa Coelenterata merupakan hewan yang hidupnya diair, tubuhnya berongga, mempunyai tentakel untuk menangkap makanan dan sebagai alat peraba, mempunyai dua bentuk tubuh yaitu polip menempel pada tempat hidup dan medusa seperti payung yang melayang – layang di air (Hal 215).
Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Coelenterata Merupakan hewan karnivora yang memiliki rongga tubuh menyatu dengan usus, menggunakan tentakel untuk menangkap dan mendorong makanan kedalam rongga gastrovaskuler, tempat pencernaan dimulai, hidup melekat pada batuan didalam air (Tim reality : 114, Campbell : 216).
Konsep selanjutnya adalah Platyhelminthes dalam buku teksdijelaskan bahwa Platyhelminthes adalah cacing pipih yang tidak memiliki rongga dan anus, akan tetapi hanya memiliki satu lubang yaitu mulut untuk memasukan makanan dan mengeluarkan sisa makanan (Hal 216). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Platyhelminthes merupakan hewan aselomata yang pipih secara dorsoventral (Tim realiti : 471, Campbell :218).
Konsep selanjutnya adalah Nemathelminthes dalam buku teks adalah cacing gilig yang tubuhnya panjang, tidak bersegmen, memiliki mulut dan anus, berkembangbiak dengan kawin (Hal 216). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Nemathelminthes merupakan cacing yang berbentuk gilig dengan ujung meruncing (Tim Reality : 408, Campbell : 221).
Konsep selanjutnya adalah Annelida dalam buku teks adalah cacing gilig yang tubuhnya beruas – ruas, tersusun seperti cincin, memiliki mulut dan anus, antara kulit badan dan dinding terdapat rongga badan (Hal 216).
16
Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Annelida merupakan cacing yang berbentuk gelang / bersegmen (Tim Reality : 41, Campbell : 227).
Konsep selanjutnya adalah Athropoda dalam buku teks dijelaskan bahwa Athropoda adalah hewan berbuku – buku yang tubuhnya dibedakan antara kepala, dada dan perut(Hal216). Definisi ini kurang sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Athropoda Merupakan fhylum hewan yang kakinya beruas/bersendi, eksoskeletonnya mengandung protein dan zat kitin yang keras (Tim reality : 52, campbell : 230). Definisi ini kurang sejalan ditandai dengan kurang disebutkannya penjelaskan pada atribut kritis bahwa Athropoda mempunyai eskoskeleton yang mengandung protein dan zat kitin yang keras.
Konsep selanjutnya adalah Mollusca dalam buku teks dijelaskan bahwa Mollusca adalah hawan yang bertubuh lunak yang banyak mengandung lendir dan terbungkus oleh mantel, cangkang terbuat dari zat kapur (Hal 217). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Mollusca merupakan hewan berbadan lunak yang tubuhnya terlindungi oleh cangkang yang keras yang mengandung kalsium karbonat (Tim reality : 398, Campbell : 224).
Konsep selanjutnya adalah Echinodermata dalam buku teks dijelaskan bahwa Echinodermata adalah hewan berkulit duri, terdapat lempeng dari zat kapur memiliki alat gerak berupa kaki ambulakral (Hal 218). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Echinodermata merupakan hewan berkulit duri yang mempunyai kulit yang tipis menutupi eskoskeleton yang terbuat dari lempengan kapur yang keras, dan bergerak lamban (Tim reality :159, Campbell : 240).
Konsep selanjutnya adalah Vertebrata dalam buku teks dijelaskan bahwa Vertebrata yaitu kelompok hewan yang memiliki ruas tulang belakang (Hal218). Konsep ini sejalan dengan definisi alternatif yang manyatakan bahwa Vertebrata merupakan kelompok hewan yang memiliki tengkorak dan tulang punggung / ruas – ruas rulang belakang (Tim reality : 61, Campbell : 247).
17
Konsep selanjutnya adalah Pisces dalam buku teks Pisces adalah hewan yang hidup diair, bernafas dengan insang, memiliki saraf dan gurat, merupakan hewan poikiloterm, berkembangbiak dengan cara bertelur (Hal 218). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Pisces merupakan golongan ikan yang bernafas dengan insang, memiliki sisik diseluruh tubuhnya dan merupakan hewan poikiloterm (Tim reality : 467).
Konsep selanjutnya adalah Amfibi dalam buku teks dijelaskan bahwa Amfibi adalah hewan yang hidup didua tempat, bernafas dengan insang dan paru – paru, merupakan hewan poikiloterm, berkembangbiak dengan cara bertelur dan pembuahan diluar tubuh (eksternal) (Hal 218). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Amfibi merupakan hewan vertebrata berdarah dingin yang dapat hidup didua alam, yaitu diair dan didarat, dapat menyesuaikan diri (Tim reality :33, Campbell : G 1).
Konsep selanjutnya adalah Reptilia dalam buku teks dijelaskan bahwa Reptil adalah hewan melata yang memiliki kulit keras, kering dan bersisik, merupakan hewan poikiloterm, berkembangbiak dengan cara bertelur, pembuahan didalam tubuh betina (hal 218). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Reptil adalah binatang melata yang merupakan salah satu kelas vertebrata yang memiliki sisik, bernafas dengan paru – paru dan termasuk hewan poikiloterm (Tim Reality :503, Campbell : 262).
Konsep selanjutnya adalah Aves dalam buku teks dijelaskan bahwa Aves merupakan hewan yang memiliki tubuh berbulu untuk terbang dan melindungi tubuh, tulang berongga supaya ringan, suhu badan homoiterm, berkembangbiak dengan cara bertelur dan pembuahan terjadi didalam tubuh betina (hal 219). Definisi ini sejalan dengan dedinisi alternatif yang menyatakan bahwa Aves merupakan kelas pada vertebrata yang mencakup hewan – hewan unggas yang ditandai dengan adanya bulu dan adaptasi terbang lainnya, mempunyai 1 pasang kaki ada yang dapat terbang dan ada yang tidak dapat terbang (Tim reality : 61, Campbell : G 3).
18
Konsep selanjutnya adalah Mammalia, dalam buku teks dijelaskan bahwa Mammalia adalah hewan yang memiliki kelenjar susu, berkembangbiak dengan cara melahirkan anak dan ada beberapa yang bertelur, berambut, suhu badan homoiterm dan bernafas dengan menggunakan paru – paru (hal 219). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Mammalia merupakan kelas hewan vertebrata yang ditandai dengan rambut badan dan kelenjar susu yang menghasilkan susu (pada betina) untuk makanan anaknya yang lahir (Tim reality : 347, Campbell : G 14).
Konsep selanjutnya adalah Sel, dalam buku teks dijelaskan bahwa Sel adalah unit terkecil dari makhluk hidup yang untuk melihanya harus memakai mikroskop, terdiri dari membran plasma, nukleus, dan sitoplasma.(hal 221). Definisi ini sejalan dengan defiisi alternatif yang menyatakan bahwa Sel merupakan kumpulan materi yang paling sederhana dari makhluk hidup yang terdiri dari nukleus, sitoplasma yang diselimuti oleh membran plasma (Mien : 421, Campbell : 102).
Konsep selanjutnya adalah Ribosom, dalam buku teks Ribosom Merupakan organela yang berfungsi sebagai tempat sintesis protein atau pembentukan protein (hal 221). Definisiini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Ribosom merupakan organel yang dibangun didalam nucleolus, berfungsi sebagai sintesis protein, tersusun atas RNA dan protein didalam sel (Mien : 409, Campbell : G22).
Konsep selanjutnya adalah Mitokondria, dalam buku teks Mitokondria merupakan organella yang berfungsi untuk melakukan respirasi sel atau pernafasan sel untuk mendapatkan energi (hal 221). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Mitokondria merupakan organel berbentuk granul dan filamen didalam sitoplasma yang berfungsi sebagai tempt respirasi seluler (Tim reality: 397, Campbell : G 15).
Konsep selanjutnya adalah Lisosom, dalam buku teks definisi ini tidak dijelaskan hal ini dapat menyebabkan misskonsepsi pada siswa, dalam definisi alternatif sendiri dijelaskan bahwa Lisosom merupakan butiran didalam sitoplasma yang mengandung enzim hidrolitik berfungsi untuk
19
menguraikan polisakarida, lemak, asam nukleat, dan protein (Tim reality : 369, Campbell : G 14).
Konsep selanjutnya adalah Badan Golgi, dalam buku teks Badan golgi merupakan organela yang berfungsi sebagai tempat pengeluaran (hal 221). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Badan Golgi merupakan organel berbentuk kantung pipih yang terdapat didalam sitoplasma tumbuhan maupun hewan, berfungsi sebagai tempat pengeluaran produk-produk endoplasma (Mien : 42, Campbell : A 3).
Konsep selanjutnya adalah Retikulum Endoplasma, dalam buku teks Retikulum Endoplasma Merupakan organella yang berfungsi untuk melakukan respirasi sel atau pernafasan sel untuk mendapatkan energi, didalamnya terdapat RE kasar dan RE halus (hal 221). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Retikulum Endoplasma merupakan kumpulan sekat didalam sitoplasma setiap sel didalamnya terdapat RE kasar dan RE halus (Tim reality : 505, Campbell : G 22).
Konsep selanjutnya adalah Vakuola, dalam buku teks Vakuola merupakan rongga sel yang berfungsi untuk pengeluaran dan tempat pencernaan makanan (hal 221). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Vakuola merupakan ruangan didalam sitoplasma yang dikelilingi oleh selaput; organela yang hanya terdapat pada tumbuhan, berfungsi untuk reproduksi, pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan (Tim reality: 576, Campbell: G29).
Konsep selanjutnya adalah Kloroplas, dalam buku teks Kloroplas adalah zat warna hijau daun (hal 221). Definisi ini kurang sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa kloroplas merupakan butiran didalam sel tumbuhan yang mengandung klorofil dan pigmen lain yang sangat penting untuk proses fotosintesis (Tim reality : 336). Definisi ini kurang sejalan dengan definisi alternatif karena pada atribut kritis kurang disebutkan bahwa kloroplas mengandung klorofil yang yang penting untuk fotosintesis.
Konsep selanjutnya adalah Nukleus, dalam buku teks Nukleus Merupakan bagian terpenting yang mengatur seluruh kegiatan sel, didalamnya terdapat kromosom yang merupakan benang – benang pembawa
20
sifat keturunan ( hal 221). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Nukleus merupakan organel yang berisi kromosom berbentuk bulat dengan membran yang relatif tetap bentuknya (Tim Reality:
415, Campbell G 16).
Konsep selanjutnya adalah jaringan, dalam buku teks Jaringan merupakan kumpulan sel – sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama (hal 222). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Jaringan merupakan kumpulan sel – sel yang mempunyai struktur dan fingsi yang sama (Tim reality : 299, Campbell : G 10).
Konsep selanjutnya adalah Jaringan Meristem dalam buku teks Jaringan Meristem merupakan jaringan yang tersusun atas sel yang selalu membelah. Terdapat pada embrio diujung akar, ujung batang dan kambium ( hal 223). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Jaringan meristem merupakan jaringan yang sel-selnya aktif melakukan pembelahan secara mitosis (Tim reality : 384, Campbell jilid 2 :303).
Konsep selanjutnya adalah Jaringan Parenkim dalam buku teks Jaringan Parenkim Merupakan jaringan dasar yang terdapat diantara jaringan – jaringan lainnya, berfungsi sebagai tempat menyimpan makanan (hal 223).
Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Jaringan parenkim merupakan jaringan yang berfungsi menopang jaringan lain, sel belum terspesialisasi, melakukan metabolisme,sintesis, menyimpan hasil organik (Mien : 197, Campbell : G 17).
Konsep selanjutnya adalah Jaringan Epidermis dalam buku teks Jaringan epidermis merupakan jaringan yang melapisis permukaan tubuh tubuh tumbuhan, baik pada akar, batang dan daun, jaringan ini tersusun rapat yang berfungsi untuk sebagai jaringan pelindung (hal 223). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Jaringan epidermis merupakan lapisan kulit terluar, tersusun atas sel – sel yang yang rapat dan melapisi organ tubuh yang lainnya (Tim reality : 180, Campbell : A 16).
Konsep selanjutnya adalah jaringan penguat, dalam buku teks Jaringan penguat merupakan jaringan yang sel – sel dindingnya mengalami penebalan sehingga menjadi keras (hal 223). Definisi ini sejalan dengan
21
definisi alternatif yang menyatakan bahwa Jaringan penguat merupakan jaringan yang sel-selnya mengalami penebalan, terdiri atas sklerenkim dan kolenkim (Tim reality : 301).
Konsep selanjutnya adalah Kolenkim, dalam buku teks tidak dijelaskan konsep ini sehingga dapat menyebabkan misskonsepsi pasa siswa.
Konsep kolenkim menurut definisi alternatif adalah jaringan tumbuhan yang memiliki dinding primer yang tebal sehingga aktif melakukan pertumbuhan sel, berfungsi sebagai penyokong tumbuhan yang masih muda (Tim reality : 338, Campbell : 300).
Konsep selanjutnya adalah Sklerenkim, dalam buku teks tidak dijelaskan konsep ini sehingga dapat menyebabkan misskonsepsi pada siswa.
Konsep Sklerenkim menurut definisi alternatif Sklerenkim merupakan jaringan tumbuhan yang mengalami penebalan sehingga sel pembuluh keras dan sklereid berfungsi sebagai penyokong (Tim reality : 530, Campbell : 300).
Konsep selanjutnya adalah Jaringan Pengangkut, dalam buku teks Jaringan Pengangkut merupakan jaringan pembuluh yang mengangkut air dan zat – zat makanan, terdiri dari xilem dan fleom (hal 222 ). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Jaringan Pengangkut merupakan jaringan yang berfungsi sebagai penghantar pada tanaman tingkat tinggi yang mengangkut air dan nutrien keseluruh tubuh tumbuhan, terdiri atas xylem dan floem (Mien : 197, Campbell : G10).
Konsep selanjutnya adalah Xilem, dalam buku teks Xilem merupakan jaringan yang berfungsi untuk mengangkut air dan hasil fotosintesis dari daun (hal 222). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Xylem merupakan jaringan pembuluh berbentuk pipa, yang berfungsi menghantarkan air dan garam-garam mineral yang diserap oleh akar menuju daun (Mien : 504, Campbell : G29).
Konsep selanjutnya adalah Floem, dalam buku teks Floem Merupakan jaringan yang berfungsi mengangkut air dan garam – garam mineral dari akar ( hal 222). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Floem merupakan jaringan pembuluh yang berfungsi mengangkut
22
gula dan unsur hara dari daun keseluruh tubuh tumbuhan (Mien : 150, Campbell : G 7).
Konsep selanjutnya adalah jaringan epitel, dalam buku teks Jaringan epitel Merupakan jaringan yang melapisi permukaan tubuh atau organ baik permukaan dalam maupun permukaan luar ( hal 223 ). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Jaringan epitel merupakan jaringan yang melapisi seluruh permukaan dalam dan luar dari tubuh serta organ tubuh (Tim reality : 300, Campbell : G 10).
Konsep selanjutnya adalah jaringan pengikat, dalam buku teks Jaringan pengikat Merupakan jaringan yang menghubungkan bagian tubuh dengan bagian tubuh yang lain (hal 223). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Jaringan pengikat merupakan jaringan yang berfungsi mengikat dan menunjang jaringan yang lainnya, susunan selnya renggang dan tersebar diantara matriks ekstraseluler (Mien : 197, Campbell : G 10).
Konsep selanjutnya adalah jaringan otot, dalam buku teks Jaringan otot merupakan jaringan yang tersusun atas sel – sel otot dan bersifat lentur (hal 223). Definisi ini kurang sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Jaringan Otot merupakan jaringan yang tersusun atas sel – sel serat yang dapat berkontraksi saat dirangsang oleh impuls syaraf. (Mien : 197,Campbell : A 16). Definisi ini kurang sejalan karena kurang disebutkan pada atribut kritis bahwa jaringan otot dapat berkontraksi saat dirangsang oleh impuls syaraf.
Konsep selanjutnya adalah otot lurik, dalam buku teks Otot lurik merupakan otot yang terdapat pada rangka (hal 223). Definisi ini dengan kurang sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Otot lurik merupakan otot yang terdapat pada rangka tubuh yang bertanggung jawab atas pergerakan sadar tubuh (Tim reality : 223, Campbell : A 26). Definisi ini kurang sejalan dengan definisi alternatif karena pada atribut kritis kurang disebutkan bahwa otot lurik kerja dibawah kesadaran.
Konsep selanjutnya adalah Otot Polos, dalam buku teks Otot Polos merupakan jaringan yang terdapat pada dinding alat – alat dalam ( hal 223 ).
Definisi ini kurang sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan
23
bahwa Otot Polos merupakan jaringan yang terdapat pada dinding alat – alat bagian dalam dan bertanggung jawab atas aktifitas tubuh tak sadar (Tim reality : 223, Campbell : A 26). Definisi in kurang sejalan dengan definisi alternatif karena pada atribut kritis kurang disebutkan bahwa otot polos bekerja tidak dibawah kesadaran.
Konsep selanjutnya adalah Otot Jantung, dalam buku teks dijelaskan bahwa otot jantung merupakan jaringan yang terdapat pada dinding jantung (hal 223). Definisi ini tidak sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Otot Jantung merupakan otot yang berstruktur melintang dan bekerja tidak dibawah kesadaran. Definisi ini tidak sejalan dengan definisi alternatif karena tidak dijelaskan pada atribut kritis bahwa otot jantung berstruktur melintang dan bekerja tidak dibawah kesadaran.
Konsep selanjutnya adalah Jaringan Syaraf, dalam buku teks dijelaskan bahwa Jaringan saraf Merupakan jaringan yang tersusun atas sel – sel syaraf (hal 223). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Jaringan Syaraf merupakan jaringan yang tersusun dari sel saraf(neuron) dan jaringan pembantu / penyokong(neuroglia) (Mien:198, Campbell: A 16).
Konsep selanjutnya adalah Organ, dalam buku teks dijelaskan bahwa Organ adalah kumpulan jaringan – jaringan yang sama bentuk dan fungsi (hal 225). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Organ Merupakan kumpulan jaringan yang diadaptasikan untuk fingsi tertentu (Mien : 326, Campbell : G17).
Konsep selanjutnya adalah Sistem Organ, dalam buku teks dijelaskan bahwa Sistem Organ adalah kumpulan dari beberapa organ yang membentuk suatu system (hal 225). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menyatakan bahwa Sistem Organ merupakan kumpulan organ yang bekerja bersama – sama untuk melaksanakan fungsi vital tubuh (Campbell : A 37).
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan tentang ketepatan konsep pada buku teks BSE konsep keanekaragaman makhluk hidup dpat diketahui bahwa konsep memadai lebih dominan dibandingkan dengan konsep yang kurang memadai ataupun misskonsepsi, adapun prosentase antara konsep
24
memadai, kurang memadai dan misskonsepsi adalah sebesar 78%, 10% dan 12%.
Apabila hasilnya dibuat dalam bentuk diagram akan diperoleh diagram sebagai berikut :
Gambar 3: Diagram Ketepatan konsep buku teks BSE
Berdasarkan diagram diatas menunjukan analisis konsep pada buku teks BSE dinilai cukup baik dengan prosesntase konsep memadai sebesar 78%, sementara konsep kurang memadai sebesar 10% dan konsep yang dapat menimbulkan misskonsepsi yaitu sebesar 12%.
b. Analisis ketepatan konsep isi buku teks Biologi KTSP terbitan yudistira karangan “ X “ kelas VII semester I
Konsep pertama adalah Makhluk hidup, dalam buku dijelaskan makhluk hidup merupakan setiap satuan yang hidup yang terdiri dari tumbuhan dan hewan dan tidak dapat dilihat dengan kasat mata seperti virus (167). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Makhluk hidup merupakan setiap satuan yang hidup tediri atas hewan, tumbuhan, dan jamur (Tim reality : 372).
Konsep selanjutnya adalah Gerak, dalam buku teks dijelaskan gerak merupakan proses perpindahan tubuh atau bagian tubuh makhluk hidup sebagai respon terhadap rangsangan (hal 167). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa gerak merupakan perpindahan tempat atau kedudukan (Tim reality : 221).
Konsep selanjutnya adalah Iritabilitas, dalam buku teks dijelaskan bahwa Iritabilitas merupakan kemampuan makhluk hidup dalam
78%
10%
12%
memadai kurang memadai miskonsepsi
25
menanggapi suatu rangsangan (hal 171). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatifyang menjelaskan bahwa Iritabilitas merupakan kepekaan makhluk hidup terhadap rangsangan (Tim reality : 295).
Konsep selanjutnya adalah Respirasi, dalam buku teks dijelaskan bahwa Respirasi merupakan proses pengambilan oksigen dari udara dan dan mengeluarkan zat sisa berupa uap air dan karbondioksida (hal 167). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Respirasi merupakan proses pengambilan oksigen dan pengeluaran berupa karbondioksida dan uap air (Tim reality : 504).
Konsep selanjutnya adalah Pertumbuhan, dalam buku teks dijelaskan bahwa pertumbuhan merupakan proses bertambahnya jumlah dan ukuran sel yang bersifat irreversibel (hal 170). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Pertumbuhan merupakan proses pertambahan ukuran, volume, dan jumlah sel (Tim reality : 461).
Konsep selanjutnya adalah Perkembangan, dalam buku teks dijelaskan bahwa perkembangan merupakan proses menuju kedewasaaan pada makhluk hidup dan bersifat kualitatif (hal 170). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Perkembangan merupakan pertumbuhan teratur individu menuju kedewasaan dan bersifat kualitatif (Tim reality : 458).
Konsep selanjutnya adalah Reproduksi, dalam buku teks dijelaskan bahwa reproduksi merupakan salah satu cara makhluk hidup untuk mempertahankan kelestariannya agar tidak mengalami kepunahan (hal 170) Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa reproduksi merupakan suatu proses menghasilkan individu baru yang bertujuan untuk melestarikan jenisnya agar tidak punah (Tim reality : 503).
Konsep selanjutnya adalah Adaptasi, dalam buku teks dijelaskan bahwa adaptasi merupakan kemampuan makhluk hidup untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya (hal 171). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelskan bahwa adaptasi merupakan perubahan suatu makhluk hidup sebagai akibat dari reaksi terhadap perubahan lingkungan (Tim reality : 16).
26
Konsep selanjutnya adalah Regulasi, pada buku teks tidak dijelaskan konsep regulasi, hal ini dapat menyebabkan misskonsepsi pada siswa.
Menurut definisi yang terdapat di kamus Biologi, regulasi merupakan perkembangan seluruh atau sebagian embrio binatang secara normal yang tetap berlangsung meskipun strukturnya mengalami gangguan (Tim reality : 500).
Konsep selanjutnya adalah Eksresi, dalam buku teks dijelaskan bahwa eksresi merupakan proses pengeluaran zat sisa dari tubuh makhluk hidup yang sudah tidak digunakan lagi oleh tubuh misalnya urin dan keringat (hal 170). Definisi ini dengan redaksi yang berbeda sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Eksresi merupakan proses pengeluaran zat sisa metabolisme melalui kulit dan ginjal (Tim reality : 163).
Konsep selanjutnya adalah Nutrisi, dalam buku teks tidak dijelaskan konsep dari Nutrisi hal ini dapat menimbulkan miss konsepsi pada siswa.
Dalam kamus biologi menjelaskan bahwa Nutrisi merupakan jenis makanan yang mengandung gizi (Tim reality : 416).
Konsep selanjutnya adalah Protista, dalam buku teks dikelaskan bahwa protista merupakan makhluk hidup bersel satu (uniseluler) atau bersel banyak (multiseluler) dan telah memiliki membran inti (eukariotik) protista memiliki kemiripan morfologi dan fisiologi dengan hewan,tumbuhan,dan jamur (Hal 179). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa protista merupakan makhluk hidup perintis dengan susunan biologi yang masih relatif sederhana dengan bentuk uniseluler dan multiseluler dan belum memiliki membran inti sel sehingga disebut eukariotik, protista memiliki kemiripan morfologi dan fisiologi dengan hewan, tumbuhan, dan jamur (Mien : 393, Campbell : 125).
Konsep selanjutnya adalah Protozoa, dalam buku dijelaskan bahwa Protozoa merupakan makhluk hidup uniseluler yang menyerupai hewan serta hidup di air tawar, air laut, permukaan tanah yang lembap, dan didalam makhluk hidup lain atau didalam jasad yang mati (hal 180). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Protozoa merupakan protista mirip hewan yang memiliki sel tunggal, merupakan
27
organisme renik yang bersifat heterotrof dengan cara menelan makanan (Mien : 395, Campbell : G 21).
Konsep selanjutnya adalah Sporozoa, dalam buku teks dijelaskan bahwa Sporozoa adalah Protozoa yang tidak memiliki alat gerak dan hidup sebagai parasit pada makhluk yang lain (hal 181). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Sporozoa merupakan protista yang tidak memiliki alat gerak dan bersifat parasit (Tim reality : 535, Campbell : 133).
Konsep selanjutnya adalah Rhizopoda, dalam buku teks dijelaskan bahwa Rhizopoda merupakan Protozoa yang mempunyai alat gerak berupa kaki semu (Pseudopodia) dengan kaki semunya dapat menangkap dan menelan makanan (hal 180). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif, dalam definisi tersebut dijelaskan bahwa Rhizipoda merupakan protozoa yang memiliki alat gerak berupa kaki semu, atau kaki yang bentuknya seperti akar yang digunakan untuk bergerak dan makan (Mien : 411, Campbell : 136).
Konsep selanjutnya adalah Ciliata dalam buku teks dijelaskan bahwa Ciliata merupakan Protozoa yang mempunyai alat gerak berupa rambut getar (silia) rambut getar berupa bulu – bulu halus yang melekat pada membran sel (hal 181). Definisi sejalan dengan definisi alternatif, yang menjelaskan bahwa Ciliata merupakan protozoa yang bergerak dengan menggunakan silia, hidup secara soliter diperairan air tawar maupun air laut (Tim reality : 110,Campbell : 134).
Konsep selanjutnya adalah Flagellata dalam buku teks dijelaskan bahwa Flagellata merupakan Protozoa yang mempunyai alat gerak berupa bulu cambuk (flagella), hidup bebes didalam air (hal 180). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Flagellata merupakan protozoa yang bergerak dan makan dengan menggunakan flagel (Tim reaity : 205, Campbell : 131).
Konsep selanjutnya adalah konsep ganggang / alga, dalam buku teks dijelaskan bahwa ganggang merupakan protista yang menyerupai tumbuhan karena mengandung klorofil dan dapat berfotosintesis, organ reproduksi ada yang uniseluler dan multiseluler dengan bentuk filamen (hal 179). Definisi
28
ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa alga / ganggang merupakan suatu protista fotosintetik yang mirip tumbuhan dengan organ reproduksi yang terdiri atas satu sel dan ada juga yang memiliki banyak sel dengan berbentuk filamen (Mien : 137, Campbell : G 1).
Konsep selanjutnya adalah Rhodophyta, menurut buku teks dijelaksan bahwa ganggang merah merupakan makhluk hidup yang multiseluler, mengandung klorofil, mengandung zat warna merah (fikoeritrin) (179).
Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Rhodophyta merupakan ganggang yang mempunyai pigmen warna merah (fikoeritrin) (Tim Reality : 216, Campbell : 145).
Konsep selanjutnya adalah Phaeophyta, dalam buku teks dijelasakan bahwa Phaeophyta adalah ganggang yang mengandung klorofil, dan memiliki warna cokelat. Ganggang ini hidup di air laut, mempunyai tubuh yang multiseluler, berbentuk seperti lembaran atau tumbuhan tingkat tinggi, serta digunakan sebagai bahan pakan ternak, obat – obatan, dan bahan cat (79). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Phaeophyta merupakan ganggang yang memiliki pigmen fikosianin.
Konsep selanjutnya adalah ganggang hijau (Clorophyta) dalam buku teks dijelaskan bahwa ganggang hijau merupakan alga yang bersel tunggal, mempunyai klorofil dan mengandung zat warna kuning / karoten (180).
Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Chlorophyta merupakan ganggang yang bersel tunggal dengan bentuk seperti bola atau mangkok dan memiliki pigmen hijau (Tim Reality : 216, Campbell : 149).
Konsep selanjutnya adalah ganggang pirang (Chrysophyta). Definisi ganggang pirang menurut buku teks Chrysophyta merupakan ganggang yang berwarna kuning kecoklatan, mengandung klorofil, merupakan organism penyusun plankton terbesar (Hal 179). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelakan bahwa Chrysophyta merupakan ganggang yang dapat hidup di air tawar dan air payau, memiliki pigmen klorofil, karoten , dan xantofil (Tim Reality :216).
29
Konsep selanjutnya adalah adalah Monera, dalam buku teks dijelaskan bahwa Monera merupakan makhluk hidup yang struktur sel penyusun tubuhnya belum mempunyai membran inti dan intinya masih tercampur didalam sitoplasma sehingga disebut dengan prokariot ( hal 177).
Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Monera merupakan organisme yang bersel tunggal yang susunan selnya masih sederhana belum memiliki membran inti sel (Tim reality : 398, Campbell: 100).
Konsep selanjutnya adalah Bakteri, dalam buku teks dijelaskan bahwa Bakteri merupakan makhluk hidup bersel satu yang berukuran sangat kecil, kira – kira berukuran antara 4 – 10 mikron, merupakan organisme prokariotik, berdasarkan bentuk dibedakan menjadi bakteri berbentuk bulat, batang dan spiral, reproduksi dengan cara membelah diri ( hal 177). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Bakteri merupakan mikroorganisme yang bersel tunggal, belum memiliki membran inti sel, berkembangbiak dengan cara membelah diri, berdasarkan bentuk dibedakan menjadi bakteri yang berbentuk bulat, batang, dan spiral (Tim Reality : 65, Campbell : G 3).
Konsep selanjutnya adalah Bacillus, dalam buku teks dijelaskan bahwa Bacillus merupakan bakteri yang berbentuk batang (hal 177).
Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Bacillus merupakan bakteri berbentuk batang (Tim Reality :216, Campbell : 107).
Konsep selanjutnya Coccus, dalam buku teks dijelaskan bahwa Coccus merupakan bakteri yang berbentuk bola (hal 177). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Coccus merupakan sejenis bakteri yang memiliki bentuk tubuh tunggal dan bulat (Tim Reality : 216, Campbell : 107).
Konsep selanjutnya adalah Spirilium, dalam buku teks dijelaskan bahwa Spirillum merupakan bakteri yang berbentuk spiral (hal 177).
Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif Spirillum merupakan bakteri yang berbentuk spiral / helix (Tim Reality :216, Campbell : 107).
30
Konsep selanjutnya adalah Cyanophyta, dalam buku teks dijelaskan bahwa Cyanophyta merupakan ganggang yang bersel tunggal, mengandung klorofil, berkembang biak dengan membelah diri dan fragmentasi (hal 178). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Cyanophyta merupakan ganggang yang mempunyai klorofil dan merupakan alga yang bersel tunggal (Tim reality : 127).
Konsep yang selanjutnya adalah Jamur (Fungi) dalam buku teks dijelaskan bahwa Jamur merupakan makhluk hidup eukariotik yang tidak dapat membuat makanan sendiri karena tidak memiliki klorofil, memperoleh makanannya dari lingkungan disekitarnya, ada yang bersifat uniseluler dan ada yang multiseluler (Hal 182). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang mengatakan bahwa Fungi merupakan organisme yang bersel tunggal yang susunan selnya masih sederhana belum memiliki membran inti sel (Tim reality : 398, Campbell: 100).
Konsep selanjutnya adalah Zygomycetes, Dalam buku teks tidak dijelaskan konsep Zigomycetes akan tetapi dijelaskan konsep jamur ganggang dimana Zigomycetes merupakan salah satu kelasnya, jamur ganggang dijelaskan memiliki hifa yang bersekat sehingga terlihat seperti pipa atau buluh (hal 183), definisi ini tidak dijelaskan pada kamus biologi ataupun Campbell.
Konsep selanjutnya adalah Ascomycetes, dalam buku teks dijelaskan bahwa Ascomycetes adalah kelompok jamur yang berkembang biak dengan membentuk spora pada selnya yang disebut askus, berkembang biak dengan cara kawin dan tak kawin (Hal 183). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Ascomycetes merupakan jamur benang yang menghasilkan spora seksual dalam aski yang mirip kantung, bereproduksi secara aseksual dengan menghasilkan spora yang tersebar oleh angin (Tim reality : 45, Campbell : 189).
Konsep selanjutnya adalah Basidiomycetes, dalam buku teks dijelaskan bahwa Basidiomycetes merupakan jamur yang berukuran kecil dan berkembang biak dengan basidiospora dan dengan konidium, bentuknya ada yang seperti payung dan seperti kuping (Hal 183), definisi tersebut sejalan dengan definisi alternatif meskipun dengan redaksi yang
31
berbeda definisi alternatif menjelaskan bahwa Basidiomycetes merupakan jamur yang menghasilkan spora pada basidium dalam basidiokarpus yang mirip dengan daging yang membusuk (Tim Reality : 69, Campbell : 192).
Konsep selanjutnya adalah Deuteromycetes, dalam buku teks dijelaskan bahwa Deuteromycetes adalah jamur yang belum diketahui alat perkembangannya sehingga jamur ini disebut jamur yang tidak sempurna (halaman 184). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Deuteromycetes merupakan jamur yang tidak sempurna karena tidak ada pembiakan seksual seperti pada jamur yang umumnya, reproduksi aseksual dengan menghasilkan spora (Tim reality : 142, Campbell : 193).
Konsep selanjutnya adalah Plantae, dalam buku teks tidak dijelasakan konsep plantae sehingga siswa akan mengalami kesulitan memahami konsep plantae. Dalam definisi alternatif dijelaskan bahwa plantae salah satu kingdom yang termasuk kelompok tumbuhan dengan ciri - ciri berklorofil, berfotosintesis, eukariotik dan mempunyai dinding sel (Tim relity :469, Campbell : 100).
Konsep selanjutnya adalah Tallophyta, dalam buku teks dijelaskan bahwa Tallophyta adalah tumbuhan yang tidak memiliki akar , batang dan daun sejati sehingga tumbuhan ini tidak mempunyai saluran atau pembuluh yang khusus untuk mengalirkan zat makanan, air, garam, dan mineral keseluruh bagian tubuh (Hal 184). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelaskan bahwa Tallophyta merupakan tumbuhan vegetatif yang tubuhnya tidak terbagi atas akar, batang dan daun dan digunakan bagi tumbuhan lumut (bryophyta) (Mien : 462, Campbell : 143).
Konsep selanjutnya adalah Bryophyta.Dalam buku teks dijelaskan bahwa Brypohyta adalah tumbuhan talus artinya memiliki akar, batang, daun yang bukan sejati. Mengalami pergiliran keturunan, akarnya berupa rhizoid yang berfungsi untuk menempelkan tubuh lumut dan hidup ditempat yang lembab (Hal 184). Definisi ini sejalan dengan definisi alternatif yang menjelasakan bahwa tumbuhan lumut merupakan tumbuhan non vaskuler berasal dari bahasa Yunani” Bryon” yang berarti lumut, yaitu sejenis tumbuhan kecil yang menyerupai beludru pada batu/ kayu, berklorofil, tidak