• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

1 A. Latar Belakang Masalah

Ekonomi Islam merupakan ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia yang perilakunya diatur berdasarkan aturan agama Islam dan didasari dengan tauhid sebagaimana dirangkum dalam rukun iman dan rukun Islam. Islam menganjurkan umatnya untuk melakukan kegiatan bisnis (berusaha) guna memenuhi kebutuhan sosial-ekonomi mereka.

Ilmu ekonomi Islam dapat didefinisikan sebagai cabang ilmu pengetahuan yang membantu mewujudkan kesejahteraan manusia melalui alokasi dan distribusi sumber daya yang langka yang sesuai dengan maqashid tanpa mengekang kebebasan individu secara berlebihan sehingga menimbulkan ketidak seimbangan makro ekonomi dan ekologi, atau melemahkan keluarga dan solidaritas sosial dan jalinan sosial dari masyarakat.

Ekonomi Islam dalam arti sistem ekonomi merupakan sebuah sistem yang telah terbukti dapat mengantarkan umat manusia kepada falah (kesejahteraan yang sebenarnya). Memang benar bahwa semua sistem ekonomi, baik yang telah terkubur oleh sejarah maupun yang sedang menuai pujian bertujuan untuk mengantarkan kesejahteraan kepada pemeluknya.1

Ilmu ekonomi Islam sebagai sebuah studi ilmu pengetahuan modern baru muncul pada tahun 1970-an, tetapi pemikiran tentang ekonomi Islam telah muncul sejak Islam itu diturunkan melalui Nabi Muhammad Saw.

karena rujukan utama pemikiran ekonomi Islam adalah Al-Qur’an dan hadist maka pemikiran ekonomi ini munculnya juga bersamaan dengan diturunkannya Al-Qur’an dan masa kehidupan Rasulullah Saw., pada abad

1Umer Chapra, Islam and The Economic Challenge diterjemahkan oleh Ikhwan Abidin Basri, Islam dan Tantangan Ekonomi,( Jakarta: Gema Insani Press, 2000), 7.

(2)

akhir 6 M hingga awal abad 7 M. Setelah masa tersebut banyak sarjana Muslim yang memberikan kontribusi karya pemikiran ekonomi. Karya- karya mereka sangat berbobot, yaitu memiliki dasar argumentasi relijius dan sekaligus intelektual yang kuat serta kebanyakan didukung oleh fakta empiris pada waktu itu. Banyak diantaranya juga sangat futuristik dimana pemikir-pemikir Barat baru mengkajinya ratusan abad kemudian. Pemikiran ekonomi di kalangan pemikir Muslim banyak mengisi khasanah pemikiran ekonomi dunia pada masa dimana Barat masih dalam kegelapan (dark age).

Pada masa tersebut dunia Islam justru mengalami puncak kejayaan dalam berbagai bidang.2

Para sejarawan Barat telah menulis sejarah ekonomi dengan sebuah asumsi bahwa periode antara Yunani dan Skolastik adalah steril dan tidak produktif. Sebagai contoh, sejarawan sekaligus ekonom terkemuka, Joseph Schumpeter, sama sekali mengabaikan peranan kaum Muslimin. Ia memulai penulisan sejarah ekonominya dari para filosof Yunani dan langsung melakukan loncatan jauh selama 500 tahun, dikenal sebagai The Great Gap ke zaman St. Thomas Aquinas (1225-1274 M).

Adalah hal yang sangat sulit untuk dipahami mengapa para ilmuwan Barat tidak menyadari bahwa sejarah pengetahuan merupakan suatu proses yang berkesinambungan, yang dibangun di atas fondasi yang diletakan para ilmuwan generasi sebelumnya. Jika proses evolusi ini disadari dengan sepenuhnya, menurut Chapra, Schumpeter mungkin tidak mengasumsikan adanya kesenjangan yang besar selama 500 tahun, tetapi mencoba menemukan fondasi di atas mana para ilmuwan Skolastik dan Barat mendirikan bangunan intelektual mereka.

Sebaliknya, meskipun telah memberikan kontribusi yang besar, kaum Muslimin tidak lupa mengakui utang mereka kepada para ilmuwan Yunani,

2 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) Universitas Islam Indonesia Yogyakarta atas kerja sama dengan Bank Indonesia, Ekonomi Islam,(Jakarta:

PT RajaGrafindo Persada, 2012), 97.

(3)

Persia, India, dan Cina. Hal ini sekaligus mengindikasikan inklusivitas para cendekiawan Muslim masa lalu terhadap berbagai ide pemikiran dunia luar selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Sejalan dengan ajaran Islam tentang pemberdayaan akal pikiran dengan tetap berpegang teguh pada Al-Qu’ran dan hadist nabi, konsep dan teori ekonomi dalam Islam pada hakikatnya merupakan respon para cendekiawan Muslim terhadap berbagai tantangan ekonomi pada waktu- waktu tertentu. Ini juga berarti bahwa pemikiran ekonomi Islam seusia Islam itu sendiri.

Berbagai praktik dan kebijakan ekonomi yang berlangsung pada masa Rasulullah Saw. dan al-Khulafa al-Rasyidun merupakan contoh empiris yang dijadikan pijakan bagi para cendekiawan Muslim dalam melahirkan teori-teori ekonominya. Satu hal yang jelas, fokus perhatian mereka tertuju pada pemenuhan kebutuhan, keadilan, efisiensi, pertumbuhan, dan kebebasan yang tidak lain merupakan objek utama yang menginspirasikan pemikiran ekonomi Islam sejak masa awal.3

Pemikiran ekonomi Islam lahir dari kenyataan bahwa Islam adalah sistem yang diturunkan Allah kepada seluruh manusia untuk menata seluruh aspek kehidupannya dalam seluruh ruang dan waktu. Karakter agama Islam yang paling kuat adalah fungsi sistem dan penataan. Objek dari sistem ini adalah seluruh aspek kehidupan manusia; individu, keluarga, sosial, pendidikan, budaya, ekonomi, politik, militer, dan di atas itu semua, ia juga menata aspek yang terkait dengan kehidupan manusia, langsung atau tidak langsung, dan dibutuhkan oleh manusia, melainkan Islam telah memberikan penjelasan tertentu tentang masalah atau aspek itu.

Zat yang menurunkan sistem ini adalah zat yang juga menciptakan manusia sebagai perilaku kehidupan, serta bumi dan waktu sebagai

3 Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2012), 9.

(4)

landscape, ruang dan waktu di atas manusia bergerak menjalani kehidupannya. Kesatuan sumber ini telah melahirkan satu karakteristik tertentu yang membedakan antara Islam dan sistem lain, yaitu, bahwa sistem itu memiliki kesesuaian. Sistem ini serasi dengan struktur ruang dan waktu tempat manusia hidup.

Selain ciri keserasian itu, sistem ini juga masih memiliki ciri lain, yaitu bahwa ia juga memberi porsi pembahasan yang seimbang antara semua aspek kehidupan manusia. Ia memandang kehidupan manusia sebagai suatu kesatuan, dan bahwa aspek-aspek parsialnya bukanlah suatu yang berdiri sendiri dan tidak saling terkait. Ia adalah realitas yang sama dan saling terkait. Dengan posisinya masing-masing seluruh aspek itu membentuk kerangka kehidupan yang utuh bagi manusia. Itulah sebabnya Islam tidak mengenal ekstremisme dimensional, dalam arti bahwa Islam memberikan penekanan yang kuat terhadap satu dimensi kehidupan melebihi porsi yang sebenarnya dalam keseluruhan struktur kehidupan manusia. Islam memberikan hak pembahasan yang seimbang bagi semua aspek tersebut.

Islam dengan begitu merupakan konsep tentang sebuah proyek peradaban. Dan peradaban berdiri di atas empat kerangka ini; bumi (tanah), waktu, manusia, dan sistem. Jadi tanah merupakan landscape peradaban umat manusia sepanjang masa. Jika manusia berasal dari tanah dan seluruh kehidupan biologisnya untuk survive secara keseluruhan disuplai dari tanah, maka hubungan antara manusia dan tanah merupakan sesuatu yang azali dan primer. Dalam pengertiannya yang sangat natural, ekonomi sesungguhnya membahas hubungan antara manusia dan tanahnya dalam proses mempertahankan dan melanjutkan serta menikmati kehidupannya. Harta

(5)

kemudian menjadi hasil yang tercipta dari hubungan antara manusia dan tanahnya.4

Semua negara muslim masuk dalam kategori negara-negara berkembang meskipun diantaranya relatif kaya sementara sebagian yang lain sangat miskin. Mayoritas negeri-negeri ini, terutama yang miskin, seperti halnya negara-negara berkembang lainnya, dihadapkan pada persoalan-persoalan yang sangat sulit. Salah satu problemnya adalah ketidakseimbangan ekonomi makro yang dicerminkan dalam angka pengangguran dan inflasi yang tinggi, defisit neraca pembayaran yang sangat besar, depresi nilai tukar mata uang yang berkelanjutan, dan beban utang yang berat. Problem lainnya adalah kesenjangan pendapatan dan kekayaan yang sangat lebar diantara golongan-golongan yang sangat berbeda-beda dari setiap negara dan juga antara negara muslim.

Konsekuensinya, kebutuhan pokok bagi setiap penduduknya belum dapat dipenuhi, sementara golongan kaya dan menengah hidup dalam kemewahan. Hal ini cenderung merusak jaringan solidaritas sosial dan merupakan salah satu penyebab utama ketidakstabilan sosiopolitik.5

Banyaknya tokoh-tokoh ekonom dunia begitu banyak memberikan sumbangsih pemikirannya untuk perubahan perekonomian. Salah satunya ialah umer chapra yang mendefinisikan ekonomi Islam sebagai sebuah pengetahuan yang membantu upaya realisasi kebahagiaan manusia yang berada dalam koridor yang mengacu pada pengajaran Islam tanpa memberikan kebebasan individu atau tanpa perilaku makro ekonomi yang berkesinambungan dan tanpa ketidakseimbangan lingkungan.

Berkenaan dengan uraian di atas, penulis bermaksud mengkaji masalah ini dengan penelitian yang dituangkan dengan judul “Solusi Islam

4 Ahmad Izzan, Referensi Ekonomi Syariah Ayat-Ayat Al-Qur’an yang Bedimensi Ekonomi,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2006), 2.

5 Umer Chapra, Islam dan Pembangunan Ekonomi. Penerjemah IkhwanAbidin B. Judul asli “Islam and Economic Development”, (Jakarta: GemaInsani Press, 2000), 1.

(6)

terhadap Tantangan Ekonomi Kontemporer, Telaah Kritis Pemikiran Umer Chapra”.

B. Identifikasi Masalah

Dalam penelitian ini peneliti mengambil wilayah kajian Perbandingan Sistem Hukum dan Pemikiran.

C. Pembatasan Masalah

Dalam pembatasan skripsi ini akan dibatasi pada pemikiran Umer Chapra tentang solusi Islam terhadap tantangan ekonomi kontemporer.

D. Pertanyaan Penelitian

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana Biografi Sosial Intelektual Umer Chapra?

2. Bagaimana Tantangan Ekonomi Kontemporer menurut Umer Chapra?

3. Bagaimana Solusi yang ditawarkan Umer Chapra tentang Ekonomi Kontemporer?

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian a. Adapun tujuan penelitian ini adalah:

1. Mengetahui dan memahami Biografi Sosial Intelektual Umer Chapra.

2. Memahami Tantangan Ekonomi Kontemporer menurut Umer Chapra.

3. Mengetahui dan memahami Solusi yang ditawarkan Umer Chapra tentang Ekonomi Kontemporer.

b. Manfaat Penelitian

Dalam penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk :

1. Memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan Hukum pada umumnya dan Hukum Islam pada khususnya terutama mengenai

(7)

masalah yang berhubungan dengan solusi Islam terhadap tantangan ekonomi kontemporer telaah kritis pemikiran Umer Chapra.

2. Memberikan masukan kepada masyarakat berupa sumbangan pikiran yang berkaitan dengan solusi Islam terhadap tantangan ekonomi kontemporer telaah kritis pemikiran Umer Chapra.

F. Penelitian Terdahulu

Setelah penulis menelusuri penelitian terdahulu penulis menemukan hasil penelitian yang pembahasannya berkaitan dengan judul penelitian yang penulis angkat, yaitu sebagai berikut:

Pada penelitian yang pertama, yaitu skripsi Nur Zaini yang berjudul

“Hubungan Sistem Ekonomi Islam dengan Peranan Bank Sentral dalam Sistem Moneter Islam Menurut Muhamamd Umer Chapra”. Penulis skripsi tersebut dalam temuannya mengungkapkan bahwa karena bank sentral Islam akan menjadi kemudi dari sebuah sistem yang secara keseluruhan beda dan menantang, ia tidak dapat menjadi penonton pasif atau pengikut jinak teknik konvensional. la harus memberikan peran keteladanan dan aktif dalam keseluruhan proses islamisasi dan evolusi yang berkelanjutan sistem perbankan, paling tidak sampai sistem itu menjadi baik dan kuat. Persis seorang ibu, ia harus memahami, menyiapkan kelahiran, menyuapi, mendidik, dan membantu sistem perbankan Islam berkembang.6

Yang kedua, yaitu skripsi yang ditulis oleh Isnu Taufiq mahasiswa IAIN Walisongo Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam pada tahun 2005

“Pemikiran Umer Chapra tentang Tiga Sumber Utama Ekspansi Moneter”.

Penulis skripsi tersebut dalam temuannya mengungkapkan bahwa dalam menciptakan kebijakan moneter yang berorientasi pada stabilitas ekonomi, M.

Umer Chapra berorientasi pada moral. Moral dalam pengertian M.Chapra

6 Nur Zaini, “Hubungan Sistem Ekonomi Islam dengan Peranan Bank Sentral dalam Sistem Moneter Islam Menurut Muhamamd Umer Chapra”, (Skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Semarang, Perpustakaan IAIN Walisongo Semarang, 2013)

(8)

menyangkut tanggung jawab para pembuat kebijakan. Makna yang terkandung dari pemikirannya adalah agar para pembuat policy bertanggung jawab pada Tuhan bahwa setiap kebijakan akan diminta tanggung jawab ole Tuhan. Di sini M.Chapra mengajak para ekonom dan pemerintah berpijak pada ajaran Islam. Dalam perspektif M.Umer Chapra bahwa untuk menciptakan iklim pertumbuhan moneter yang memadai dalam arti mencukupi, dan tidak "berlebihan", perlu memonitor secara hati-hati tiga sumber utama ekspansi moneter. Dua di antaranya adalah domestik. Pertama, membiayai defisit anggaran pemerintah dengan meminjam dari bank sentral.

Kedua, ekspansi deposito melalui penciptaan kredit pada bank-bank komersial. Ketiga, bersifat eksternal, yaitu "menguangkan" surplus neraca pembayaran luar negeri.7

Sementara itu pada penelitian yang ketiga, yaitu skripsi yang ditulis oleh Siti Saifiyatun Nasikhah yang berjudul “Studi Analisis Pemikiran Umer Chapra Tentang Riba”. Dalam kesimpulannya, penyusun skripsi ini mengungkapkan, konsep riba Umer Chapra ini lebih ditekankan pada apa yang sesungguhnya dituntut dibalik pelarangan riba, yaitu untuk menegakkan sebuah sistem ekonomi di mana semua bentuk eksploitasi dan ketidakadilan dihapuskan. Dengan kata lain, eksploitasi dan ketidakadilan merupakan esensi utama riba.8

Sedangkan pada penelitian yang keempat, yaitu skripsi yang ditulis oleh Arif Sholeh mahasiswa UIN Syarif Hidayatulah Jakarta yang berjudul

“Konsep Pembangunan Ekonomi: Studi Komparatif Terhadap Pemikiran Mubyarto dan Umar Chapra”. Dari penelitian yang dilakukan, penulis menyimpulkan bahwa adanya perbedaan dan persamaan dalam hal urgensi, relevansi, implementasi, baik dimensi ke-Indonesiaan maupun ke-Islaman,

7 Isnu Taufiq, “Pemikiran Umer Chapra tentang Tiga Sumber Utama Ekspansi Moneter”, (Skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Semarang, Perpustakaan IAIN Walisongo Semarang, 2005)

8 Siti Saifiyatun Nasikhah, “Studi Analisis Pemikiran Umer Chapra Tentang Riba”, (Skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Semarang, Perpustakaan IAIN Walisongo Semarang, 2012)

(9)

perbedaan ini dinyatakan dalam bentuk hasil ANN dan himpunan dengan menggunakan diagram Venn.9

Serta pada penelitian yang kelima, yaitu tesis yang ditulis oleh Yuni Darlah yang berjudul“Pemikiran Ekonomi Islam Sektor Moneter Menurut M.Umer Chapra”, membahas tentang sistem moneter yang ditawarkan Chapra. Karya ini menekankan kajiannya pada keadilan sisial dan ekonomi bebas bunga yang sesuai dengan ajaran Islam. Penulis tesis ini meyimpulkan, dengan tujuan stabilitas nilai uang, maka kesejahteraan ekonomi umat, banyaknya lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi optimum dan keadilan ekonomi bagi setiap individu dapat ditingkatkan.10

Pada penelitian ini, terdapat perbedaan dengan penelitian terdahulu, walaupun bidang yang dibahas adalah sama dalam hal pemikiran Umer Chapra. Dalam penelitian ini, penulis lebih menekankan pada permasalahan mengenai solusi Islam terhadap tantangan ekonomi kontemporer telaah kritis pemikiran Umer Chapra. Sehingga penelitian yang penulis angkat mempunyai sudut pandang yang berbeda dengan penelitian yang terdahulu.

Berdasarkan penelitian terdahulu di atas, penelitian tentang “Solusi Islam terhadap Tantangan Ekonomi Kontemporer Telaah Kritis Pemikiran Umer Chapra” belum pernah dilakukan dan ditulis oleh siapapun.

G. Kerangka Berpikir

Dewasa ini dalam pemikiran ekonomi Islam kontemporer, banyak tokoh bermunculan menawarkan gagasannya masing-masing dalam rangka menangani kebuntuan sistem ekonomi konvensiaonal. Dalam hal ini, yang dimaksud adalah ekonomi sistem kapitalisme maupun system sosialisme- komunisme.

9 Arif Sholeh,” Konsep Pembangunan Ekonomi: Studi Komparatif Terhadap Pemikiran Mubyarto dan Umar Chapra”,(Skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Jakarta, Perpustakaan UIN Syarif Hidayatulah Jakarta, 2011)

10 Yuni Darliah, Pemikiran Ekonomi Islam Sektor Moneter Menurut M. Umer Chapra, Tesis koleksi UII Yogyakarta tahun 2002.

(10)

Kelemahan dan kebobrokan sistem kapitalisme setidaknya telah terpampang dalam rentang sejarah kehidupan manusia melalui krisis ekonomi yang dimulai pada tahun 1866 dan 1890, 1929, 1985, 1987, 1998, dan 2000.

Melihat fenomena-fenomena yang tragis tersebut, maka tidak mengherankan apabila sejumlah pakar ekonomi terkemuka, mengkritik dan mencemaskan kemampuan ekonomi kapitalisme dalam mewujudkan kemakmuran ekonomi di muka bumi ini. Bahkan cukup banyak klaim yang menyebutkan bahwa kapitalisme telah gagal sebagai sistem dan model ekonomi.

Perkembangan Islam pada masa awal ternyata bukan hanya perkembangan politik militer, perkembangan ekonomi memiliki peranan yang signifikan dalam menopang peradaban Islam itu sendiri. Lingkup bahasan kelangkaan tentang kajian sejarah pemikiran ekonomi dalam Islam sangat tidak menguntungkan. Karena sepanjang sejarah Islam, para pemikir dan pemimpin muslim sudah mengembangkan berbagai gagasan ekonominya sedemikian rupa sehingga mengharuskan kita menganggap mereka sebagai para pencetus ekonomi Islam.

Konsep ekonomi para cendekiawan muslim berakar pada hukum Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadist nabi. Ia merupakan hasil interpretasi dari berbagai ajaran Islam yang bersifat abadi dan universal, mengandung sejumlah perintah dan prinsip umum bagi perilaku individu dan masyarakat serta mendorong umatnya untuk menggunakan kekuatan akal pikiran mereka.

Kajian yang khusus tentang sejarah pemikiran ekonomi Islam adalah tulisan Muhammad Nejatullah Ash-Shiddiqi yang berjudul Muslim Economic Thinking, A Survey of Contemporary Literature dan Artikelnya berjudul History of Islamic Economics Thought. Buku dan artikel tersebut ditulis pada tahun 1976. Paparannya tentang studi historis ini lebih banyak bersifat deskriptif. Ia belum melakukan analisa kritik, khususnya terhadap

“kejahatan” intelektual yang dilakukan ilmuwan Barat yang

(11)

menyembunyikan peranan ilmuwan Islam dalam mengembangkan pemikiran ekonomi, sehingga kontribusi pemikiran ekonomi Islam tidak begitu terlihat pengaruhnya terhadap ekonomi modern.

Menurut Muhammad Nejatullah Ash-Shiddiqy pemikiran ekonomi Islam adalah respon para pemikir muslim terhadap tantangan-tantangan ekonomi pada masa mereka. Pemikiran ekonomi Islam tersebut diilhami dan dipandu oleh ajaran Al-Qur’an dan Sunnah juga oleh ijtihad (pemikiran) dan pengalaman empiris mereka.

Pemikiran adalah sebuah proses kemanusiaan, namun ajaran Al- qur’an dan sunnah bukanlah pemikiran manusia. Yang menjadi objek kajian dalam pemikiran ekonomi Islam bukanlah ajaran Al-qur’an dan sunnah tentang ekonomi tetapi pemikiran para ilmuwan Islam tentang ekonomi dalam sejarah atau bagaimana mereka memahami ajaran Al-qur’an dan Sunnah tentang ekonomi.11

Dalam konsep Islam, harus dibedakan antara konsep dasar dengan hukum-hukum terperinci dan proses aplikasi hukum tersebut dalam konteks kehidupan ekonomi masyarakat. Konsep dasar yang ditawarkan Al-Qur’an dan hadist merupakan wacana global tentang kehidupan ekonomi yang berfungsi sebagai frame atas kebijakan dan langkah yang ingin direalisasikan.

Sebuah konsep yang mengatur gerak langkah pelaku ekonomi dalam menjalankan kegiatan ekonomi. Sebagai contoh; larangan Allah terhadap transaksi ribawi merupakan konsep dasar dan obyektif yang harus diaplikasikan dalam setiap perubahan waktu dan kegiatan ekonomi.

11 Arif Hoetoro, Missing Link Dalam Sejarah Pemikiran Ekonomi, (Unibraw: BPFE, 2007), 39.

(12)

اَب ِّرلا َم َّرَح َو َعْيَبْلا ُ َّللَّا َّلَحَأ َو...

“...Dan Aku halalkan jual beli dan Aku haramkan riba...”(QS. Al-Baqarah:

275)12

Adapun hukum, metode, mekanisme dan alat ekonomi untuk merealisasikan konsep dasar pelarangan riba tidak dituliskan dalam kitab ini.

Dengan alasan, banyaknya perbedaan hasil ijtihad para ulama dalam proses aplikasi konsep tersebut untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat tanpa harus keluar dari bingkai syariah.

Seiring dengan ekspansi dakwah Islam, kawasan regional yang berada di bawah kekuasaan Islam menjadi semakin luas. Fenomena tersebut tentunya akan memicu perubahan terhadap kegiatan ekonomi masyarakat. Kegiatan ekonomi yang ada mengalami perkembangan atas jenis dan bentuk transaksi yang dilakukan, sehingga kegiatan yang ada menjadi semakin kompleks.

Pada pertengahan abad ke-15 upaya pengembangan dan elaborasi pemikiran ekonomi berdasarkan nilai dan prinsip syariah telah dilakukan.

Fenomena tersebut, ditandai dengan adanya elaborasi pemikiran ekonomi yang diartikulasikan oleh para ulama dalam kitab-kitab fiqh, ushul fiqh, tafsir, hadist, dan lain sebagainya. Langkah tersebut dilakukan, sebagai upaya harmonisasi inteligensi seorang muslim terhadap perubahan kegiatan ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat.

Kontekstualisasi pemikiran ekonomi tersebut, telah berhasil diaktualisasikan oleh kaum muslimin dengan membentuk sebuah peradaban dalam kegiatan ekonomi. Bukti sejarah mengatakan, empat abad pertama

12 Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahnya, (Bandung: Penerbit Diponegoro, 2007), 47.

(13)

sebelum runtuhnya peradaban Islam, masyarakat muslim telah mengembangkan konsep asset and financial system.13

Umer Chapra mendefenisikan ekonomi Islam sebagai suatu cabang pengetahuan yang membantu merealisasikan kesejahteraan manusia melalui suatu alokasi dan distribusi sumber-sumber daya langka yang seirama dengan maqasid, tanpa mengekang kebebasan individu, menciptakan ketidakseimbangan makro ekonomi dan ekologi yang berkepanjangan, atau melemahkan solidaritas keluarga dan sosial serta jaringan moral masyarakat.

Ekonomi Islam di tetapkan bertujuan untuk memelihara kemaslahatan umat manusia, kemaslahatan hidup tersebut berkembang dan dinamis mengikuti perkembangan dan dinamika hidup umat manusia, formulasi ekonomi yang tersurat di dalam al-qur’an dan al-hadist, tidak mengatur seluruh persoalan hidup umat manusia yang berkembang tersebut secara eksplisit. Oleh karena itu, dalam rangka mengakomodir sebagai persoalan hidup termasuk persoalan ekonomi disetiap tempat dan masa, sehingga kemaslahatan umat manusia terpelihara.

Oleh karena itu tugas yang akan dipikul oleh ilmu ekonomi Islam jauh lebih besar dari pada yang diemban oleh ilmu ekonomi konvensional, tugasnya yaitu:

1. mempelajari prilaku aktual individu dan kelompok, perusahaan, pasar dan pemerintah.

2. ilmu ekonomi Islam adalah menunjukan jenis perilaku yang diperlukan untuk mewujudkan sasaran yang di kehendaki.

3. ilmu ekonomi Islam adalah memberikan penjelasan mengapa para agen ekonomi bertindak seperti itu dan tidak sesuai dengan yang diharuskan.

4. mengajukan suatu strategi bagi perubahan sosio ekonomi dan politik suatu strategi yang dapat membantu membawa perilaku semua pemain di

13 Said Sa’ad Marthon, Ekonomi Islam Di Tengah Krisis Ekonomi Global, (Jakarta: Zikrul Hakim, 2001), 20-22.

(14)

pasar yang mempunyai pengaruh pada lokasi dan distribusi sumber- sumber daya sedekat mungkin dengan kondisi yang di perlukan untuk merealisasikan tujuan.

Dengan demikian, ilmu ekonomi Islam harus bergerak melebihi batas- batas fungsi deskriptif, penjelasan (explanatory) dan prediktif seperti dalam ilmu ekonomi konvensional kepada suatu analisis semua variable yang relevan dan kebijakan-kebijakan yang diperlukan untuk merealisasikan maqashid.14

H. Metode Penelitian 1. Pendekatan Penelitian

Penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) yakni mengumpulkan bahan dengan membaca buku-buku jurnal dan bentuk-bentuk bahan lain atau lazim disebut dengan penyelidikan kepustakaan.15

Untuk memahami permasalahan yang akan dibahas, penulis akan menggunakan pendekatan Sejarah Intelektual (Intellectual History) seperti sejarah pemikir ekonomi Islam. Dalam pendekatan ini, penulis mendeskripsikan secara ringkas Sejarah Intlektual berikut karakteristik yang menandainya sebagai sebuah paradigma yang berbeda dari sub-seksi keilmuan sejarah dan disiplin-disiplin lainnya yang terkait.

1. Sumber Data

a. Sumber Primer, yaitu berupa buku-buku karya Umer Chapra antara lain:

 Toward a Just Monetary System (diterbitkan oleh The Islamic Foundation, Leicester, 1985), dan diterjemahkan ke dalam Bahasa

14 M. Umer Chapra, The Future of Economics An Islamic Perspective diterjemahkan oleh Ikhwan Abidin Basri, Masa Depan Ilmu Ekonomi,( Jakarta: Gema Insani Press, 2000), 111.

15 Hadi Sutrisno, Metode Penelitian Research (Yogyakarta: Andi Offset, 1990), 42.

(15)

Indonesia dengan judul Sistem Moneter Islam, (Jakarta; Gema Insani Press, 2000).

 Islam and Economic Development (diterbitkan oleh International Institute of Islamic Thought and Islamic Research Institute, Herndan, 1989) dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul Islam dan Pembangunan Ekonomi (Jakarta; Gema Insani Press, 2000).

 Islam and The Economic Challenge (diterbitkan oleh the Islamic Foundation and the International Institute of Islamic Thought, Herndan, 1995) dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul Islam dan Tantangan Ekonomi (Jakarta: Gema Insani Press, 2000).

 The Future of Economic: An Islamic Perspective (diterbitkan oleh The Islamic Foundation, Laicester, 2000) dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul Masa Depan Ilmu Ekonomi: Sebuah Tinjauan Islam (Jakarta: Gema Insani Press, 2001).

b. Sumber Sekunder/ komplementer, yaitu karya-karya yang secara implisit menyinggung tentang karya Umer Chapra , baik dalam bentuk buku, jurnal dan sumber lainnya.16

2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data berupa teknik dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel berupa catatan, transkip, buku, surat kabar.17 Dengan meneliti sejumlah kepustakaan (library research), kemudian memilah-milahnya dengan memprioritaskan keunggulan pengarang.

3. Teknik Analisis Data

Dalam menganalisis data, penulis menggunakan analisis data kualitatif, yaitu data yang tidak bisa diukur atau dinilai dengan angka secara

16 Anton Bakker dan Achmad Charis Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat (Yogyakarta:

Kanisius, 1990), 107.

17 Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002), 206.

(16)

langsung. Sebagai pendekatannya, digunakan metode analisis isi (Content Analysis)18, Analisis ini adalah suatu teknik penelitian untuk membuat rumusan kesimpulan dengan mengidentifikasikan karakteristik spesifik akan pesan-pesan dari suatu teks secara sistematik dan objektif.19

18 Abbudin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Grafindo Persada, 2001) , 141.

19 Hadari Nawawi, Metode Penelitian Sosial, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1998), 69.

(17)

Referensi

Dokumen terkait

Perumusan masalah pada penelitian diungkap dalam bentuk sebuah pertanyaan besar peneliatian yang menagacu kepada pembatasan masalah di atas adalah “bagaimana dan berapa

Perlu diketahui juga, dikarenakan penulisan ini merupakan penulisan yang bersifat kontemporer, maka penulis menggunakan sumber-sumber lisan sebagai sumber primer (utama) dengan

Dalam peristiwa-peristiwa konflik sosial yang terjadi terutama kasus yang mengatasnamakan agama, peneliti memandang bahwa pemikiran- pemikiran Nurcholis Madjid (Cak

Sanksi dapat berupa sanksi ekonomi (sanksi ekonomi,larangan penerbangan pembatasan perdagangan), sanksi politik (penarikan wakil diplomatik, larangan perjalanan,

Kerangka pemikiran ini akan menjadi landasan untuk penyusunan penelitian yang membahas pemikiran Nurcholis Madjid tentang Masyarakat Madani dan bagaimana

Skripsi ini didasarkan pada pentingnya kehadiran cinta dalam hidup manusia. Pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang tidak bisa lepas dari cinta. Salah satu

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian skripsi ini adalah ingin mengetahui bagaimana tinjauan Islam terhadap pendidikan karakter lebih khusus pada buku

Dalam Islam valuta asing disebut dengan Al-sharf dan dalam ekonomi Islam tidak boleh adanya tujuan untuk spekulasi, tetapi jika perdagangan valas asing tersebut dilakukan dengan