BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Libya negeri terbesar ke-13 di dunia, sebagian besar tanahnya merupakan padang pasir dengan produktivitas pertaniannya yang sangat tinggi dan orang-orang Arab memberi julukan
“Kebun Allah”. Melihat produksi pertanian dan angka pertumbuhan pertanian Libya menempati posisi pertama di dunia, mengalahkan negara pertanian lainnya.Secara historis Libya adalah bagian dari Turki , kemudian berpisah setelah Italia berhasil menguasai Libya , akibat perang Turki-Italia tahun 1911. Setelah Perang Dunia II negara ini merdeka pada 24 September 1951 sebagai negara monarki, dengan lagu kebangsaan “Allahuakbar” dibawah kepemimpinan Raja Idris I. Adanya dukungan dari Inggris dan Soviet, Serta pengakuan dari PBB Libya pun mengangkat bendera hijau sebagai lambang kemerdekaannya.
Dimulai dari kepemimpinan Raja Idris inilah, Libya mulai memperkuat jaringan dan kerjasama dengan negara-negara tetangga, termasuk Barat maupun dunia Islam secara menyeluruh. Libya pun semakin memperluas jangkauan penjualan minyaknya ke Eropa sejak tahun 1967 yang berawal dari ditemukannya sumber ladang minyak pada tahun 1953 dan eksploitasi yang dimulai pada 1956. Sebagai negara penghasil minyak terbesar, Libya mendapatkan 52,8% dari penghasilan minyak. Namun keadaan tersebut tidak ditopang dengan membaiknya pemerintahan, justru korupsi lah yang semakin merajalela, serta menurunnya figur kepemimpinan Raja Idris. Tidak hanya itu, penguasaan eksploitasi dikuasai oleh perusahaan-perusahaan minyak asing. Mereka inilah yang berperan menentukan harga sesuai dengan kebutuhan konsumen dalam negeri mereka masing-masing. Selama itu pula mereka juga menikmati setengah dari hasil pendapatan. Adanya kecenderungan Raja Idris yang terlihat pro terhadap Barat melatarbelakangi ketidakpuasan terhadap pemerintahannya. Muammar Khadafi muda membaca adanya warisan ketidakadilan ekonomi yang didominasi oleh pihak asing.
Cacatnya keadilan telah dirasakan sejak masa kecil Khadafi, berasal dari suku Badui yang hidup secara berpindah-pindah di gurun pasir yang penuh kekerasan demi bertahan hidup.
Mengembara dan berperang demi memperoleh hasil rampasan membentuk karakter petarung dalam jiwa mereka, dan suku inipun terkenal dengan darah prajurit. Pahitnya kemiskinan membuat Khadafi semakin gigih menggeluti pendidikan, keadaan memperkokoh karakter
tegasnya yang ingin merombak ketidakadilan. Sang ayah sering menceritakan kepadanya tentang perjuangan kakeknya ketika melawan kolonialisme Italia di Libya yang masih dibawah penguasaan bangsa Turki. Mengetahui hal ini membuat ia semakin memandang bahwasanya dominasi asing dan penjajahan adalah penyebab rakyat dibelenggu kesengsaraan. Di atmosfer seperti inilah Khadafi terlahir.
Khadafi pun bergabung dalam pergerakan para perwira muda yang ingin mengugurkan Raja. Dengan balut dan kharisma yang dimiliknya, Khadafi terpilih menjadi pemimpin dalam kelompok pergerakan penggulingan pemerintahan dan pada 1 September 1969 , Raja Idris dilengserkan ketika dia berada di Turki untuk mendapat perawatan medis. Khadafi kemudian diangkat menjadi panglima tertinggi angkatan bersenjata sekaligus ketua Dewan Komando Revolusi yang memegang kekuasaan Libya yang baru. Pada usia 27 tahun, Khadafi pun menjadi penguasa Libya 1.
Muammar Khadafi pun tidak menyatakan diri sebagai presiden atau raja. Ia menyebut dirinya sebagai seorang Brother Leader dan sang pemandu revolusi. Ia pun sempat menjabat sebagai perdana menteri selama tahun 1970-1972. Sebagai pemimpin belia ia menunjukkan kepada bangsa Arab bahwa perubahan radikal sedang bergerak di Libya. Sistem pemerintahan di Libya pun dirombak. Setelah menyingkirkan kekuatan lama, pada awal berkuasa, rezim Muammar Khadafi melakukan perubahan besar. Kerajaan Libya dibubarkan, lantas ia membentuk Republik Sosialis Arab, dengan nama resmi Republik Rakyat Sosialis Agung Jamahiriyah Arab Libya. Bendera nasional pun diganti, dari gabungan warna merah, hitam, dan hijau dengan lambang bintang dan bulan sabit di tengah-tengah, menjadi warna hijau polos2.
Setelah berhasil berkuasa, langkah awal yang dilakukan adalah memblokir segala aktivitas pangkalan militer Amerika serikat dan Inggris di Libya. Sebagai salah satu bukti nyata sifat anti barat yang begitu melekat pada Muammar Khadafi. Kebijakan awal teresebut membuahkan hasil yaitu Libya menjadi negara berkembang pertama yang mendominasi perolehan pendapatan produksi minyak dalam negeri. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Libya untuk meraup keuntungan emas. Ketika itu tingkat produksinya sudah setara negaraegara
1Agni Vidya Perdana ( https://pemilu.kompas.com/read/2018/06/08/19195971/biografi-tokoh-dunia-muammar- gaddafi-diktator-libya-yang-digulingkan?page=all) diakses 18 Januari 2021, pukul 16.47
2 M.Agasatya.ABM (2013), Arab Spring : Badai Revolusi Timur Tengah yang Penuh Darah, hlm.96-97.
teluk, Libya kala itu adalah negara terkecil di Afrika dengan tiga juta penduduk, Libya berada di posisi paling strategis dalam menikmati keuntungan yang dimulai sejak tahun 1970-an ,di tahun yang sama ia juga menentang zionisme Israel, mengusir komunitas Yahudi,dan mengusir orang-orang Italia dari Libya.
Kekuasaan absolut dan cenderung otoriter Muammar Khadafi semakin terlihat pada tahun 1975 dengan penerbitan karya besar yang disebut The Green Book, yang mana dalam buku inilah berisi konsep pemikiran sosialisme Khadafi dituangkan dan diusahakan penerapannya di Libya, serta idelogi bagi pejabat dan rakyat Libya.
Mengenai partai politik, Khadafi menganggap partai sebagai bentuk kontemporer dari kediktatoran dan instrumen modern pemerintahan diktator. Partai bukan instrumen demokrasi, karena terdiri hanya dari orang-orang yang memiliki minat yang sama. Mereka terbentuk menjadi satu pihak untuk mencapai tujuan mereka, memaksakan kehendak mereka atau memperpanjang kekuasaan, nilai-nilai dan mengesampingkan kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Muammar Khadafi meyakini partai politik sebagai pemecah belah negara dalam berbagai lingkaran-lingkaran kepentingan. Pengkhianatan terhadap negara bagi setiap orang yang terlibat partai politik. Kebijakan yang dikeluarkan sejak tahun 1972, bahwa partai politik merupakan tindakan kriminal dan merupakan kegiatan yang membahayakan negara. Libya menjadi negara dengan aktivitas politik yang diawasi langsung oleh pemimpinnya. Muammar Khadafi kemudian menjalankan pemerintahan di Libya tanpa adanya partai politik atau kelompok kepentingan 3.
Kondisi ekonomi. Sebagian rakyat Libya berada dalam kondisi kehidupan yang sulit secara ekonomi, padahal mereka hidup di negara yang kaya dengan minyak. Mereka melihat kekayaan negara hasil dari minyak hanya dinikmati oleh para pejabat dan keluarganya, serta banyak tersedot untuk membantu negara-negara Afrika .4
Hubungan bilateral dan multilateral Libya selama di tampuk kekuasaan Khadafi menjadikan Libya sebagai negara pariah yang terdeskriminasi dari lingkaran komunitas
3 Jenni Irene, Conny Marpaung, Karina Septiani & Maulana Diki (2020), jurnal: Faktor-faktor Penyebab Kudeta
terhadap Kekuasaan Muammar Khadafi di Libya.hlm.340. (Https:
//ojs.uma.ac.id/index.php/prespektif/article/view/3654)
4M.Agasatya ABM (2013), Arab Spring : Badai Revolusi Timur Tengah yang Penuh Darah, hlm.108.
internasional, diisolasi oleh internasional, serta keberadaannya yang tidak dapat diterima dengan baik. Kebijakannya yang bersifat tertutup seperti menolak bekerjasama atau berinvestasi dengan pihak asing yang berdampak pada tekanan sosial maupun ekonomi rakyat.
Gerakan revolusi rakyat Libya semakin diperkuat dengan usaha Tunisia yang bertekad mengubah keadaan negaranya menjadi lebih baik akhirnya berhasil menggulingkan Presiden Tunisia, Ben Ali. Dahsyatnya dampak Arab Spring terhadap revolusi Mesir tak butuh waktu lama, pemberontakan berlanjut ke Mesir sebagai satu-satunya negara Timur Tengah yang mengalami revolusi terbanyak (dua kali) dalam kurun waktu dua tahun. Seperti di Tunisia dan Mesir gelombang protes di kedua negara tersebut berhasil menyatukan rezim diktator yang lama dan memberikan kemenangan bagi rakyat Mesir dan Tunisia. Masyarakat Libya kemudian menggunakan momentum tersebut untuk menjatuhkan rezim diktator yang telah lama berkuasa di negara mereka. Berbagai aksi demonstrasi yang dilakukan oleh para pemuda dan masyarakat yang menginginkan perubahan pun terjadi. Perang sipil yang terjadi di Libya atau yang dikenal dengan gerakan Revolusi Libya merupakan perang yang terjadi di Libya antara tentara yang pro terhadap rezim Khadafi melawan masyarakat Libya yang anti terhadap rezim Khadafi. Kemelut antara masyarakat pro dan kontra di Libya dimulai dengan adanya protes damai pada tanggal 15 Februari 2011 yang kemudian mendapat perlawanan oleh militer Libya. Akhirnya gerakan protes tersebut meningkat dan terjadi di seluruh negeri. Hal tersebut kemudian berubah menjadi sebuah gerakan pemberontakan bersenjata untuk menurunkan rezim Khadafi .5
Merebaknya aksi demonstrasi anti pemerintah yang kemudian bertransformasi menjadi perang saudara inilah yang menarik perhatian sebuah negara maju yakni AS. AS sendiri memiliki sejarah panjang kebencian terhadap pemerintahan Qaddafi. Semenjak Qaddafi memegang tampuk kekuasaan di Libya tahun 1969 AS sudah menunjukkan kebencian terhadapnya dikarenakan rezim yang memerintah Libya sebelumnya dikenal dekat dengan AS.
Berbeda dengan pendahulunya, Qaddafi dikenal dengan sifatnya yang anti barat. Pertentangan dengan AS dan sejumlah negara barat lain memuncak setelah terjadinya sejumlah aksi terorisme yang diatributkan pada Qaddafi, seperti serangan Lockerbie di tahun 1988 yang menewaskan 189 warga AS. Selain serangan Lockerbie, Qaddafi juga dituduh mendanai Irish Republican Army (IRA) yang dinyatakan sebagai organisasi teroris oleh pemerintah Inggris.
5 Terry Irenewati dan Aman (2014), Jurnal: Dampak Teori Domino di Negara-negara Afrika Utara, hlm.82-83 (https://journal.uny.ac.id/index.php/humaniora/article/view/3522) diakses pada 11 November 2020 pukul 20.00 WIB.
Qaddafi juga dituduh bertanggung jawab atas pemboman klub malam di Berlin, Jerman yang menewaskan 3 orang dan melukai 200 orang lainnya.6
Weitheim, dalam bukunya “Gelombang Pasang Emansipasi”, membagi penyebab revolusi ke dalam dua hal, yaitu sebab internal dan sebab-sebab eksternal. Penyebab internal tentunya adalah kondisi sosial masyarakat yang melahirkan ketidakpuasan menggunung. Situasi seperti ini biasanya dimanfaatkan oleh pihak luar (eksternal) untuk membakar semangat dan segala tuntutan serta harapan khayal dan dengan demikian menciptakan ketidakpuasan tanpa dasar apapuun, yang dapat melahirkan kekacauandan ketidak-tenangan di dalam suatu masyarakat yang sebenarnya harmonis, masyarakat tidak demam.7 Dalam situasi seperti ini Barat memanfaatkan keadaan yang tengah kacau. Barat sangat berkepentingan siapa yang akan menjadi penguasa ladang minyak yang menghasilkan lebih dari 1,6 juta barrel perhari.8 Para penghasut begitu kuat membakar api revolusi, Khadafi ditargetkan sebagai musuh yang harus tumbang dengan menempuh cara apapun.
Maka dalam skripsi ini akan diperdalam pembahasan mengenai hal utama yang saling mempengaruhi terjadinya gejolak politik Libya yaitu terjadinya revolusi Libya yang memanas hingga berujung pada perang saudara yang terbagi menjadi kubu pro Khadafi dan kontra terhadapnya, kemudian hal tesebut berlanjut pada pembahasan mengenai pihak asing yang memanfaatkan keadaan pelik tersebut menjadi semakin kacau dengan kepentingan terselubung yang mengatasnamakan intervensi kemanusiaan, dalam skripsi ini pula juga menjelaskan akibat dari rentetan kekacauan yang telah terjadi yaitu dampaknya terhadap Libya pasca revolusi yang berhasil menumbangkan pemimpin diktator fenomenal Muammar Khadafi.
6 Lansford, T. (2007), Historical Dictionary of U.S Diplomacy Since the Cold War. (scarecrow.press) diakses pada 29 November 2020 pukul 13.02 WIB.
7 Ahmad Sahide (2017), Gejolak Politik Timur Tengah (Dinamika, Konflik,dan Harapan), hlm.30.
8Danu Eko Agustinova (2013), Jurnal UNY: Latar Belakang dan Masa Depan Libya Pasca Arab Spring, hlm.121 (https://journal.uny.ac.id/index.php/sosia/article/download/5348/4651) diakses pada 23 September 2019 pukul 12.00 WIB.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, maka peneliti merumuskan masalah utama yang akan dikaji yaitu mengapa Intervensi Kemanusiaan Dewan Keamanan PBB Gagal Menyelesaikan Konflik Revolusi Arab Spring Libya Era Muammar Khadafi ?
C. Kerangka Pemikiran
Dalam membahas “Kegagalan Intervensi Kemanusiaan Dewan Keamanan PBB Terhadap Konflik Revolusi Arab Spring Libya Era Muammar Khadafi” maka penulis menggunakan Konsep Intervensi Kemanusiaan.
Konsep Intervensi Kemanusiaan
Para sarjana Barat umumnya sepakat mengenai definisi dari intervensi kemanusiaan.
Intervensi kemanusiaan dipahami sebagai “pengerahan pasukan militer ke negara lain demi tujuan melindungi warga negara lain dari kekerasan”9. Definisi yang lebih komprehensif dikemukakan oleh Holzgrefe yakni “ancaman atau penggunaan kekuatan militer di wilayah kedaulatan negara lain oleh satu negara (atau sekelompok negara) yang dimaksudkan untuk mencegah dan menghentikan kekerasan terhadap hak asasi manusia individu ketimbang warga negaranya sendiri dengan tanpa seizin negara yang diberikan tindakan militer tersebut”10. Definisi ini tampak sejalan dengan definisi yang dikemukakan oleh Heinze yakni “penggunaan kekuatan militer oleh satu atau sekelompok negara di dalam wilayah yurisdiksi negara lain, tanpa seizin negara yang bersangkutan, untuk tujuan mencegah atau menghentikan penindasan terhadap warga negara yang dilakukan oleh negara itu.
Sedangkan Welsh mendefinisikan intervensi kemanusiaan sebagai tindakan “campur tangan koersif dalam urusan internal negara lain yang melibatkan penggunaan kekuatan militer untuk mencegah kekerasan terhadap hak asasi manusia atau mencegah meluasnya penderitaan yang dialami warga”11.
9 Finnemore, Martha, 2003. The Purpose of Intervention: Changing Beliefs about the Use of Force. Ithaca:
Cornell University Press.
10 Heinze, Eric, 2009. Waging Humanitarian War: The Ethics, Law, and Politics of Humanitarian Intervention.
Albany: State University of New York Press.
11Welsh, Jennifer (ed), 2004. Humanitarian Intervention and International Relations.
New York: Oxford University Press.
12
Konsep intervensi kemanusiaan tidak sama dengan konsep operasi kemanusiaan atau kegiatan kemanusiaan (humanitarian action). Kegiatan Kemanusiaan adalah kegiatan yang bersifat meringankan penderitaan sesama manusia yang dengan tidak membedakan agama atau kepercayaan, suku, jenis kelamin, kedudukan sosial, atau kriteria lain yang serupa13. Intervensi militer di definisikan sebagai penggunaan kekuatan lintas batas negara oleh kelompok negara dan organisasi regional dengan pembenaran dan alasan untuk aksi mereka guna memulihkan perdamaian dan keamanan sebagaimana mengakhiri penderitaan dan pelanggaran HAM yang meluas melalui bantuan multilateral tanpa persetujuan dari negara mana intervensi tersebut terjadi14.Intervensi militer juga diwujudkan dalam bentuk pengiriman ekspedisi militer untuk menunjang suatu pemerintahan yang sedang berkuasa ataupun membantu suatu kelompok pemberontak15. konsep intervensi militer dimana negara menggunakan cara koersif – kekuatan militer, sebagaimana namanya – untuk menghukum negara lain karena dianggap membahayakan keamanan internasional tanpa disertai dengan upaya-upaya kemanusiaan (humanitarian relief). Di sini penekanan intervensi militer hanya pada metode yang ditempuh, bukan tujuan yang hendak dicapai16.
Berbagai pemaknaan intervensi kemanusiaan tersebut mengandung persamaan antara lain:
pertama, bahwa keterlibatan dimensi militer adalah fakta yang muncul sejak berbagai kelompok yang bertikai melakukan kekerasan, mereka selalu menggunakan kekuatan militer dan tindakan kekerasan itu hanya dapat dicegah oleh aksi militer juga. Kedua, ijin dari negara target tidak diperlukan, bahkan hal ini merupakan hal utama yang menjadikannya intervensi
12 Mohamad Rosyidin,2016, Intervensi Kemanusiaan dalam Studi Hubungan Internasional: Perdebatan Realis Versus Konstruktivis, hlm.59. (https://e-journal.unair.ac.id/JGS/article/view/6996).
13 Portal Hukum dan Peraturan Indonesia (https://paralegal.id/pengertian/kegiatan-kemanusiaan/).
14 Foreignpolicyjurnal website, 2012, The Role of The West and Military Intervention in Libya, available at URL http://www.foreignpolicyjournal.com/2012/04/07/the-role-of-the-westand-military-intervention-in-libya/.
15 Budiono Kusumohamidjojo, 1987, Hubungan Internasional, Kerangka Studi Analitis, Binacipta, Bandung, hlm.
72.
16 Mohamad Rosyidin, op.cit, hlm.59.
Cara: koersif Cara: non koersif Cara: koersif Tujuan: politis Tujuan: non politis Tujuan: non-politis
Humanitarian Action Military
Intervention
Humanitarian Intervention
kemanusiaan dan yang membedakannya dengan peace keeping. Hal ini pula yang memaknai intervensi kemanusiaan pada umumnya dilaksanakan karena alasan adanya kejahatan kemanusiaan yang dilakukan negara itu sendiri atau karena negara mengalami colapse yang di dalamnya tidak ada suatu otoritas pun yang mampu sebagai pengendali keadaan tersebut.
Ketiga, adanya perwakilan intervensi karena dilakukan di bawah payung hukum PBB17. Dengan demikian, dalam intervensi kemanusiaan terkandung penggunaan kekuataan, dalam hal ini intervensi militer. Untuk itu terdapat suatu komisi internasional yang dikenal dengan sebutan ICISS18. Dalam laporannya komisi ini memfokuskan pada adanya perdebatan mengenai intervensi kemanusiaan dengan kedaulatan Negara untuk melindungi penduduk sipilnya. Secara lengkap laporan komisi tersebut menyatakan: Prinsip normative dari laporan ICISS adalah bahwa “kedaulatan Negara merupakan tanggung jawab dan dimanapun setiap Negara mempunyai tanggung jawab terhadap perlindungan penduduk sipilnya dari pembunuhan massal dan pelanggaran kasar lain atas hak-hak mereka.”Jika Negara tidak bisa melindungi penduduk sipilnya dari pelanggaran tersebut, maka tanggung jawab melindungi tersebut beralih kepada masyarakat internasional.”19.
ICSS, kemudian mengidentifikasikan ada 2 aspek kunci RtoP; kedaulatan Negara sebagai tanggung jawab dan tanggung jawab internasional terhadap lingkungan sekitar20. Prinsip mendasar dari RtoP adalah bahwa kedaulatan negara mengindikasikan sebuah kewajiban (sovereignty as responsibility), yaitu kewajiban untuk melindungi rakyatnya dari kejahatanmassalakibatkonflik internal, penindasan, kejahatan kemanusiaan atau genosida. Dan jika negara tersebut tidak mau atau tidak mampu menghentikannya maka prinsip non intervensi tidak dapat digunakan sebagai tameng untuk melaksanakan konsep RtoP21.Munculnya konsep RtoP tidak lepas dari doktrin kedaulatan sebagai tanggung jawab (Sovereignty as Responsibility) yang dikemukakan oleh Francis Deng. Konsep kedaulatan sebagai tanggung jawab yang dikemukakan oleh Deng mengandung kedaulatan sebagai tanggung jawab mengharapkan
17 Anna Erliyana, 2006, Jurnal Hukum Internasional: Penegakan Rasa Aman Melalui Intervensi Kemanusiaan, hlm.406. (https://media.neliti.com/media/publications/39110-EN-penegakan-rasa-aman-melalui-intervensi- kemanusiaan.pdf)
18 ICISS singkatan dari International Commission on Intervention and State Soveregn
19 Dapat dilihat pada http://www.iciss.ca/report-en.asp
20 http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/116473-T%2023482-Benturan%20intervensi-Tinjauan%20literatur.pdf
21 Report of the International Commission on Intervention and State Sovereignty, 2001,Op.cif,hlm. xi.;
International Coalition for the RtoP (ICRtoP). A Toolkit on the Responsibility to Protect,hlm. 6. Dapat diakses di www.responsibilitytoprotect.org/index.php/ component/content/article/35-r2pcs-topics/4718-icrtop-launches- new-toolkit-on-the-responsibility-to-protect
negara-negara lemah untuk bekerjasama dengan aktor-aktor internasional dalam membangun kapasitasnya untuk memenuhi tanggungjawabnya terhadap rakyatnya22. Berdasarkan laporan ICSS, RtoP memuat tiga elemen dasar, yaitu tanggungjawab untuk mencegah (the responsibility to prevent), tanggungjawab untuk bereaksi (rhe responsibility to react), dan tanggungjawab untuk membangun kembali (the responsibility to rebuild)23.
Tanggungjawab untuk mencegah mengindikasikan tanggungjawab untuk penanganan akar penyebab dan penyebab langsung konflik yang menjadikan populasi tertentu beresiko tinggi menjadi korban kejahatan24.Berdasarkan laporan ICSS, dalam rangka mengemban tanggungjawab untuk mencegah setidaknya tiga unsur yang harus dilakukan. Pertama yaitu mengembangkan sistem peringatan dini (early warning system) dan analisis dari sumber yang lebih resmi25. Unsur kedua dari tanggungjawab untuk mencegah adalah menemukan akar masalah atau sebab utama konflik (root causes of conflict). Harus ada upaya baik ditingkat nasional maupun internasional untuk menemukan sebab-sebab utama konflik yang berpotensi menjadi kejahatan kemanusiaan, seperti misalnya marginalisasi kelompok minoritas, kemiskinan atau penindasan politik dan HAM26. Dan elemen terakhir tanggungjawab untuk mencegah adalah pencegahan langsung (direct prevention). Mekanisme untuk pencegahan langsung dapat melalui diplomatik (memfasilitasi negosisasi dan tekanan internasional dari badan-badan regional dan internasional), ekonomi (peningkatan bantuan asing atau transaksi perdagangan yang menguntungkan), hukum (pemebentukan pidana peradilan internasional) dan militer (sebagai upaya terakhir), yang tujuannya adalah untuk menghindari penggunaan tindakan koersif atau paksaan untuk menghentikan krisis27.
Tanggungjawab untuk bereaksi yaitu tanggungjawab untuk merespon situasi-situasi ketika pembunuhan massal terjadi dengan langkah-langkah yang diperlukan, termasuk didalamnya adalah tindakan-tindakan dengan paksaan seperti pemberian sanksi dan penuntutan internasioanal, bahkan untuk kasus yang sangat ekstrem elemen ini membolehkan
22 Jennifer M welsh, 2010,”Implementing The “ Responsibility to Protect”: Where Expectations Meet Reality, Ethics and Internasional, Vol.24, No.4, hlm.419-420; David Chandler, 2009, Unravelling the Paradox of the Responsibility to Protect, Irish Studies in Internasional Affairs, Vol: 20, hlm.27-30.
23 Sasmini Sasmini, 2015,Jurnal: Justifikasi Doktrin Responsibility to Protect (Rtop) Dalam Bingkai Ilmu Hukum Berparadigma Pancasila, hlm.61. (https://ejournal.undip.ac.id/index.php/mmh/article/view/11424).
24Report of the International Commission on Intervention and State Sovereignty, 2001, The Responsibility to Protect, Canada.
the International Development Research Centre. hlm. xi, 19-27.
25 Ibid. hlm.21.
26 Ibid. hlm.22-23.
27 Ibid. hlm.23-24.
dilakukannya intervensi militer28. Sanksi dapat berupa sanksi ekonomi (sanksi ekonomi,larangan penerbangan pembatasan perdagangan), sanksi politik (penarikan wakil diplomatik, larangan perjalanan, penskoran atau pengeluaran dengan paksa dari keanggotaan organisasi internasional, maupun sanksi militer (embargo)29.ICSS menentukan bahwa keputusan untuk mengintervensi hanya untuk kasus-kasus yang sangat ekstrim. ICSS menentukan dua kondisi yang luas untuk kasus ekstrim tersebut: 1).hilangnya kehidupan dalam skala luas, dengan niat genosida atau bukan, dalam situasi negara mengabaikan, tidak mampu untuk bertindak atau negara gagal; 2).pemusnahan etnis (ethnic cleansing) dalam skala luas entah yang dilakukan dengan pembunuhan, pengusiran paksa, tindakan teror atau pemerkosaan30.ICSS memberikan penilaian dalam rangka melakukan intervensi militer harus memiliki enam syarat, yaitu otoritas yang tepat (right authority), sebab yang sah (just cause), niat benar (right intention), upaya atau langkah terakhir (last resort), cara-cara yang proporsional (proportional means) dan prospek yang wajar (reasonable prospects)31.Tanggungjawab untuk bereaksi ini yang paling kontroversial dari RtoP yang menimbulkan perdebatan yang sulit untuk diatasi karena berhubungan dengan isu-isu sensitif seperti kedaulatan negara, prinsip non intervensi maupun larangan penguunaan kekuatan/paksaan sebagaimana yang telah diatur dalam piagam PBB32.
Unsur ketiga dari RtoP yaitu tanggungjawab untuk membangun kembali yang diterima secara luas oleh masyarakat internasional. Elemen ini mensyaratkan komunitas internasional untuk memberikan bantuan penuh, khususnya pasca intervensi militer, yang bertujuan untuk memulihkan, membangun dan berdamai kembali setelah konflik terjadi. ICSS menguraikan tiga bidang yang perlu ditangani dalam upaya membangun kembali, yaitu bidang keamanan, proses peradilan, dan pembangunan33. Membangun kembali adalah proses yang sulit yang membutuhkan waktu dan dana34.
Berdasarkan laporan ICISS, tanggungjawab untuk mencegah adalah unsur terpenting dari RtoP. Hal ini karena tanggungjawab untuk mencegah dibebankan kepada negara berdaulat dimana kejahatan berpotensi terjadi, sehingg mengeliminasi intervensi dari asing ketika negara
28 Ibid. hlm.xi, 29-37.
29 Ibid. hlm.30-31.
30 Ibid. hlm.32.
31 Ibid.
32 Sasmini, Op.Cit, hlm.62.
33 Report of the International Commission on Intervention and State Sovereignty, 2001, Op.Cit. hlm. xi, 39-45.
34 Sasmini, loc.cit, hlm.62.
tersebut mampu mencegah. Namun demikian, ketika diperlukan masyarakat internasional seharusnya menawarkan bantuan untuk mendukung upaya pencegahan tersebut35.
D. Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran terori di atas penulis mengajukan hipotesis bahwa kegagalan intervensi kemanusiaan Dewan Keamanan PBB di Libya adalah karena Dewan Keamanan PBB gagal menjalankan ketiga elemen R To P. Yaitu Responsibility to Prevent, Respnsibility to React dan Responsibility to Rebuild.
E. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui latar belakang Muammar Khadafi.
2. Mengetahui Kebijakan dan keadaan Libya pada masa kepemimpinan Muammar Kahadafi.
3. Mengetahui bentuk intervensi yang dilakukan pihak asing terhadap Libya.
4. Mengetahui dampak intervensi tersebut terhadap keadaan Libya hingga pasca revolusi Arab spring.
F. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Berdasarkan maksud suatu penelitian dilaksanakan, penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif (descriptive research), yaitu menggambarkan secara tepat sifat-sifat individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu. Atau untuk menentukan ada tidaknya hubungan antara suatu gejala dengan gejala lain dalam masyarakat.36 Bertujuan untuk menggambarkan ciri tertentu dari suatu fenomena dan berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasikan apa yang ada (bisa mengenai kondisi atau hubungan yang ada pendapat yang sedang tumbuh, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang sedang terjadi, atau kecenderungan yang tengah berkembang.
35 Report of the International Commission on Intervention and State Sovereignty, 2001, Op.Cit. hlm. xi, 19.
36 Amiruddin, Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Rajawali Pers,2006), hlm.25 (http://digilib.uinsby.ac.id/8902/6/Bab3.pdf)
2. Teknik Analisa Data
Analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan-satuan yang dapat dikelola, mensistensikannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.37
Beranjak dari pendapat di atas, maka penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif : 1) Reduksi data
2) Penyajian Data
3) Penarikan Kesimpulan
Untuk lebih memahaminya, akan dijelaskan sebagai berikut :
1) Reduksi Data Menurut Miles dan Huberman sebagaimana yang dikutip oleh Andi Prastowo, reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa hingga kesimpulan kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi.38 Reduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok , memfokuskan pada hal-hal yang penting.39
2) Menurut Sugiono, display data yaitu data di urutkan sesuai dengan kategorinya, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, grafik, matrik, sehingga data tersebut dapat dengan mudah dipahami.40
3) Penarikan Kesimpulan (Condusion Drawing) Langkah selanjutnya penarikan kesimpulan/verifikasi. Menurut Miles dan Huberman sebagaimana yang dikutip oleh Andi Prastowo, mulai mencari arti benda-benda, mencatat keteraturan, pola-pola, penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin, alur sebab-akibat, dan proposisi.
Kemudian menarik kesimpulan, akan tetapi kesimpulan yang sudah disediakan, mula-mula belum jelas kemudian meningkat menjadi lebih rinci dan mengakar dengan jelas.41
37 Lexy J. Moleong, Metodelogi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), hal. 248
38 Andi Prastowo, Metode Penelitian Kualitatif Dalam Perspektif Rancangan Penelitian. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), hal.243
39 Sugiyono, Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2015) hal 247
40 Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan RnD, (Bandung: Alfabeta, 2014), hal.249.
41 Andi Prastowo, Metode Penelitian Kualitatif Dalam Perspektif Rancangan Penelitian. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), hal.248-249.
3. Metode Pengumpulan Data
Dilihat dari sumbernya maka pengumpulan data pada skripsi ini menggunakan sumber sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subjek penelitiannya. Data sekunder biasanya berwujud data dokumentasi atau data laporan yang tersedia.42 Menurut Suharsimi Arikunto data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen-dokumen grafis (tabel, catatan, notulen rapat, SMS, dan lain-lain), foto-foto, film, rekaman video, benda-benda dan lain-lain yang dapat memperkaya data primer.43
Selanjutnya bila dilihat dari segi cara atau metode pengumpulan data maka metode pengumpulan dilakukan dengan dokumentasi. Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, cerita, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa, dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film, dan lain-lain. Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif.44
G. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat ilmu pengetahuan bagi pembaca.Adapun manfaat lain yang diharapkan dari penulisan :
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya referensi dan literatur kepustakaan mengenai gejolak politik yang terjadi di Libya sehingga membuka pintu bagi pihak asing untuk melakukan intervensi dan dampak yang diakibatkannya.
2. Sebagai sumbangan ilmiah terhadap perkembangan ilmu Hubungan Internasional dan menambah wawasan mengenai konflik yang terjadi di Libya.
3. Diharapkan dapat memberikan wawasan bagi akademisi khususnya mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional dalam meningkatkan kemampuan menggunakan metode dan teknik penelitian serta kemampuan untuk menerapkan teori-teori yang telah diperoleh selama menjalankan studi.
42 Syaifuddin Anwar, Metode Penelitian, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1991), hal.91.
43 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hal. 22.
44 Sugiyono, Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2015) hal.329.
H. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pemahaman terhadap permasalahan dalam skripsi ini, maka sistematika penulisan akan dibagi dalam lima bab, perinciannya sebagai berikut:
BAB I
Merupakan bagian pendahuluan, yang menjelaskan latar belakang permasalahan, kerangka pemikiran.
BAB II
Legalitas intervensi kemanusiaan DK PBB terhadap penyelesaian konflik Libya.
BAB III
Menjelaskan sebab-sebab kegagalan intervensi kemanusiaan Dewan Keamanan PBB di Libya.
BAB IV
Bab ke-empat merupakan bab penutup dalam skripsi yang berisi kesimpulan dan saran dari skripsi.