43-1
2016
Nuklir 2016IMPLEMENTASI LKF SEBAGAI ASSESSMENT INSTANSI PEMBERI KERJA KEPADA INSTANSI PENERIMA KERJA BIDANG PEMANFAATAN RADIOGRAFI INDUSTRY UNTUK MENINGKATKAN ASPEK KESELAMATAN DAN KEAMANAN
Deddy Rusdiana.S.Si
Direktorat Inspeksi Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif
(DIFRZR)-BAPETEN, Jl Gajah Mada No.8 Jakarta Pusat, 10120 [email protected]
ABSTRAK
IMPLEMENTASI LKF SEBAGAI ASSESSMENT INSTANSI PEMBERI KERJA KEPADA INSTANSI PENERIMA KERJA BIDANG PEMANFAATAN RADIOGRAFI INDUSTRY UNTUK MENINGKATKAN ASPEK KESELAMATAN DAN KEAMANAN. Pola kerja operator radiografi industry terutama untuk radiografi industry dengan menggunakan pesawat radiografi mobile yang sering beroperasi pada malam hari saat intensitas orang di sekitar pengerjaan radiografi sedang sepi. Hal ini menjadi titik rawan dalam pengawasan pengoperasian pesawat radiografi tersebut. Dari beberapa hasil inspeksi terdapat ketidaksesuaian prosedur pengoperasian peralatan radiografi sesuai peraturan yang berlaku. Antara lain : ketidaksesuaian pekerja antara di izin pemanfaatan dengan pelaksanaannya, ketidak sesuaian jenis dan type pesawat radiografi yang digunakan, bahkan beberapa aspek keselamatan pekerja radiasi tidak diikuti. Kegiatan pemanfaatan radiografi industri yang dilakukan oleh pemegang ijin pemanfaatan radiografi dengan pesawat portable melibatkan badan usaha pemilik pekerjaan yang akan dikerjakan oleh pemegang ijin radiografi industri. Untuk memaksimalkan pengawasan kegiatan radiografi industri di lingkungan perusahaan pemanfaat jasa radiografi industri bisa memaksimalkan peran manajemen Keamanan Keselamatan Kerja perusahaan pemanfaat jasa radiografi industri. Untuk membantu manajemen K3 melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan radiografi industri maka Manajeman K3 dapat menggunakan Form LKF yang telah di modifikasi untuk pengawasannya.
Kata Kunci : Radiografi industri, Manajemen K3, Laporan Keselamatan Fasilitas
ABSTRACT
IMPLEMENTATION AGENCIES LKF AS AN ASSESSMENT AGENCIES TO WORK RECIPIENTS RADIOGRAPHY INDUSTRY TO IMPROVE SAFETY AND SECURITY ASPECTS. Radiography industry operator working time mainly using a mobile radiographic device which often operate at night, when the intensity of people around workmanship radiographs were deserted. This becomes a vulnerable point in control the operation of the radiography device. From some of the results of the inspection there is a mismatch of operating procedures radiography equipment in accordance with applicable regulations. Among others: the mismatch between workers in the license to use with its implementation, mismatches types of radiography device, even some aspects of the safety of radiation workers are not followed. Utilization of radiography service activities undertaken by the permit holder utilization of radiography with portable device involving business entity owner of the work to be done by the license holder industrial radiography. To optimise control of radiography activities in an company wich utilizing industrial radiography services, can maximize the role of Work Safety Security management companies utilizing the services of radiography service. To assist management K3 supervising the implementation of the industrial radiography work management can use Form LKF K3 which has been modified use for supervision.
Keywords: Industrial radiography , K3 Management , Facility Safety Reports
I. PENDAHULUAN
Berdasar temuan hasil inspeksi inspektur BAPETEN yang menunjukkan tingginya dosis penerimaan paparan radiasi oleh pekerja Radiografi industri hasil pembacaan TLD. Menunjukkan pola kerja pemanfaatan radiografi industry belum mencapai aspek selamat dan aman. Kejadian tersebut mendasari perlunya didapatkan informasi tentang pola kerja dan budaya kerja operator radiografi industry saat bekerja [9].
Berdasar hasil inspeksi didapatkan informasi pola kerja operator radiografi industry terutama untuk radiografi industry dengan menggunakan pesawat radiografi mobile, sering beroperasi pada malam hari atau pada saat intensitas orang di sekitar pengerjaan radiografi sedang sepi. Hal ini menjadi titik rawan dalam pengawasan pengoperasian pesawat radiografi tersebut. Berbekal surat ijin kerja yang dikeluarkan perusahaan operator radiografi dan pengetahuan yang kurang akan radiasi membuat pengawasan perusahaan
KESELAMATAN NUKLIR 2016
43- 2 pemberi kerja kepada operator radiografi kurang maksimal dalam melakukan pekerjaannya.
Dari beberapa hasil inspeksi terdapat ketidak sesuaian prosedur pengoperasian peralatan radiografi sesuai peraturan yang berlaku. Antara lain : ketidak sesuaian pekerja antara di izin pemanfaatan dengan pelaksanaannya, ketidak sesuaian jenis dan type pesawat radiografi yang digunakan, bahkan beberapa aspek keselamatan pekerja radiasi tidak diikuti [9].
Hal tersebut berimbas pada hasil inspeksi keselamatan nuklir bidang Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif tentang : tidak sesuainya data pekerja radiasi, pembacaan TLD yang melebihi Nilai Batas Dosis serta beberapa prosedur keselamatan radiasi yang tidak dilakukan.
Sebagai lembaga yang bertanggung jawab terhadap pengawasan pemanfaatan nuklir di Indonesia berdasarkan amanat dari Undang-Undang No. 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran, Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) harus memastikan bahwa pemanfaatan tenaga nuklir di seluruh wilayah Indonesia dapat terlaksana dengan aman dan selamat [1]. Kegiatan pengawasan terhadap pemanfaatan tenaga nuklir ini dilaksanakan melalui tiga pilar utama kegiatan, yaitu menyusun peraturan, menyelenggarakan perizinan, dan melaksanakan inspeksi [10], di mana pemanfaatan tenaga nuklir harus dilakukan secara tepat dan hati-hati serta ditujukan untuk maksud damai dan keuntungan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat serta memberikan jaminan bagi terpenuhinya aspek keselamatan, keamanan, ketenteraman, kesehatan pekerja dan anggota masyarakat, serta perlindungan terhadap lingkungan hidup. BAPETEN sebagai satu satunya lembaga yang bertanggung jawab terhadap gawasan pemanfaatan tenaga nuklir memiliki keterbatasan dalam sumber daya kuantitas manusia dan lokasi yang berada di Jakarta membuat pengawasan Pelaksanaaan pekerjaan radiografi industry terutama kegiatan inspeksi terbatas.
II. TUJUAN KAJIAN
Kajian ini dilakukan bertujuan agar pengawasan terhadap pelaksanaan operasional radiografi industry yang dilakukan oleh BAPETEN semakin baik dan optimal sehingga mampu menjamin terpenuhinya aspek keselamatan, keamanan, ketenteraman, kesehatan pekerja dan anggota masyarakat dari bahaya Radiasi.
III. METODOLOGI
Kajian implementasi lkf sebagai assessment instansi pemberi kerja kepada instansi penerima kerja bidang pemanfaatan radiografi industry untuk meningkatkan aspek keselamatan dan keamanan dilakukan dengan metode diskriptif melalui studi pustaka dengan tahapan langkah meliputi pengumpulan literatur dan informasi pendukung, ana- lisis, diskusi dan pembahasan, serta penyusunan laporan.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Prinsip keselamatan Radiografi industry Prinsip utama keselamatan radiasi dan keamanan sumber radioaktif yang harus dipenuhi oleh operator radiografi industri dalam kegiatan pengoperasian kamera radiografi industri, meliputi : persyaratan manajemen, proteksi radiasi, teknik dan verifikasi keselamatan [8].
Untuk memastikan prinsip keselamatan radiasi dan keamanan sumber radioaktif sebagaimana tersebut di atas terpenuhi, maka setiap kegiatan pengoperasian radiografi harus sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku.
IV.2 Pengawasan Kegiatan Radiografi Industri Kegiatan pemanfaatan radiografi industri yang dilakukan oleh pemegang ijin pemanfaatan radiografi dengan pesawat portable melibatkan badan usaha pemilik pekerjaan yang akan dikerjakan oleh pemegang ijin radiografi industri. Jenis pekerjaan semisal pengecekan kebocoran pipa, pengukuran ketebalan pipa dan pengujian kualitas pengelasan pipa biasa dimiliki oleh perusahaan yang menggunakan jasa radiografi industri.
Misi utama dari setiap sistem pengawasan adalah untuk memastikan kepatuhan dengan peraturan perundang - undangan yang berlaku [2]. Sebagaimana telah diatur di dalam peraturan perundang-undangan, salah satu kegiatan pengawasan pemanfaatan tenaga nukir di indonesia dilakukan dengan kegiatan inspeksi terhadap kegiatan pemanfaatan tenaga nuklir, dapat dilaksanakan secara berkala atau sewaktu-waktu, baik dengan atau tanpa pemberitahuan oleh inspektur keselamatan nuklir BAPETEN [10].
Pelaksanaan inspeksi radiografi industri sangat efektif dilakukan pada periode saat operator radiografi beroperasi. Namun yang terjadi adalah sebagian besar pekerjaan radiografi industri dilakukan pada malam hari hal tersebut dilakukan untuk meminimalisir paparan radiasi agar tidak banyak orang disekitar daerah kerja pengambilan gambar. Inspeksi kegiatan radiografi industri jarang sekali dilakukan malam hari terutama untuk pekerjaan yang melibatkan perusahaan pemanfaat jasanya, dikarenakan pekerjaan dilakukan di lingkungan perusahaan bukan objek inspeksi.
Untuk memaksimalkan pengawasan kegiatan radiografi industri di lingkungan perusahaan pemanfaat jasa radiografi industri bisa memaksimalkan peran manajemen Keamanan Keselamatan Kerja perusahaan pemanfaat jasa radiografi industri.
IV.3 Struktur Organisasi Perusahaan Pemberi Kerja
Keselamatan kerja adalah keselamatan tang bertalian dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara cara melakukan pekerjaan [7]. Keselamatan kerja sebagai salah satu unsur perlindungan tenaga kerja yang bertujuan untuk menjamin keselamatan dan kesehatan para tenaga kerja, orang lain yang berada di tempat kerja dan
KESELAMATAN NUKLIR 2016
43- 3 menjamin agar sumber sumber produksi digunakan secara aman.
Secara filosofi Keselamatan dan kesehatan kerja didefinisikan sebagai upaya dan pemikiran untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan jasmani maupun rohani manusia pada umumnya dan tenaga kerja pada khususnya [7]. Perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen K3 untu memastikan keamanan dan keselamatan kerja termasuk didalamnya pemanfaatan zat radioaktif di instansinya dengan pelaksanaan audit sistem manajemen K3.
Audit sistem manajemen K3 yang di amanatkan sistem manajemen K3 terdapat 12 unsur eleman audit dimana didalamnya antara lain :
1. Komitmen pembangunan dan pemeliharaan 2. Strategi pendokumentasian
3. Peninjauan ulang desain dan kontrak 4. Pengendalian dokumen
5. Pembelian
6. Keamanan bekerja berdasar SMK3 7. Standar pemantauan
8. Pelaporan dan perbaikan kekurangan 9. Pengelolaan material dan pemindahananya 10. Pengumpulan dan penggunaan data 11. Pemeriksaan sistem manajemen K3
12. Pengembangan keterampilan dan kemampuan [6]
Dari ke duabelas elemen tersebut terdapat beberapa unsur yang bisa digunakan dasar unhtuk melakukan pengawasan terhadap kegiatan radiografi industri di instansinya. Oleh sebab itu pengawasan pekerjaan radiografi industri di perusahaan pemilik pekerjaan, wajib dilakukan oleh manajemen perusahaan pemberi pekerjaan radiografi industri dikarenakan, pemanfaatan radiografi industri mengandung bahaya yang bisa mengakibatkan keamanan dan keselamatan kerja di lingkungan perusahaan pemberi kerja. Oleh sebab itu pengawasan terhadap bahaya radiasi yang dihasilkan oleh pemanfaatan radiografi industri wajib berada dalam pengawasan manajemen perusahaan pemberi kerja.
IV.4 Laporan Keselamatan Fasilitas Radiografi Industri
Pemegang izin memiliki tanggung jawab melaporkan kepada kepala BAPETEN mengenai pelaksanaan program proteksi dan keselamatan radiasi, dan verifikasi keselamatan [8]. Laporan yang berisi implementasi program proteksi dan keselamatan radiasi dan verifikasi keselamatan berbentuk formulir lang bernama Foml Laporan keselamatan fasilitas yang wajib diisi oleh pemegang izin pemanfaatan sumber radiasi pengion sesuai dengan kondisi sebenarnya yang ada di fasilitas sebagai self assessment [5]. Masa berlaku izin pemanfaatan radiografi industri yang hanya 1(satu) tahun maka Direktorat inspeksi mengirimkan form LKF setiap tahun kepada pemegang izin. Form Laporan Keselamatan Fasilitas Radiografi industry dikirimkan bersamaan dengan surat pemberitahuan inspeksi.
Form LKF tersebut berfungsi sebagai acuan
pelaksanaan kegiatan inspeksi, self assessment bagi pemegang izin apakah telah memenuhi segala aspek keselamatan radiasi dan keamanan sumber radiasi pada bidang radiografi industry.
Form Laporan Keselamatan Fasilitas Radiografi industry merupakan form ringkas rangkuman Form isian Hasil Inspeksi yang berisi :
1. Data Izin Pemanfaatan dan Inventarisasi sumber radiasi
2. Ketersediaan Sumber Daya Manusia Berkompeten
3. Pemantauan dosis radiasi 4. Pemantauan paparan radiasi
5. Pemantauan kesehatan pekerja radiasi 6. Peralatan
6.1 Peralatan keselamatan radiasi
6.2 Peralatan keamanan sumber radioaktif 7. Ketersediaan prosedur keselamatan 8. Ketersediaan Dokumen dan Rekaman 9. Data Rekaman penggantian sumber radiasi 10. Data personil lain yang memiliki akses ke
sumber radiasi
11. Data rekaman pengangkutan sumber radioaktif 12. Data penanggung jawab kendali kunci [4]
3.5. Pengembangan LKF
Seluruh perusahaan radiografi industry pada tahun 2015 telah menerima Form LKF dan sebanyak 80% dari seluruh pemegang ijin pemanfaat radiografi industri telah mengirimkan kepada Direktorat Inspeksi Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif [3]. Dibutuhkan Form LKF yang lebih sederhana agar pengisian dan pengawasan kegiatan pelaksanaan radiografi industry untuk dapat dilakukan assessment setiap pengoperasian radiografi industry, pengembangan LKF tersebut secara rinci dapat dilihat melalui table dibawah ini
Tabel 1. Pengembangan LKF No Data Administratif/ Teknis
1. Kesesuaian Data Izin
a. Kesesuaian No.Seri Kamera b. Kesesuaian Pekerja Radiasi c. Kesesuaian Lokasi Pemanfaatan 2. Peralatan / Perlengkapan
2.1. Peralatan Keselamatan
a. Ketersediaan TLD/ Personil Dosimetri
b. Ketersediaan Surveymeter yang telah di kalibrasi
c. Go No Go Gauge
d. Kontener Pb untuk keadaaan darurat e. Penahan Radiasi (Plat Pb)
f. Tang penjepit tangkai panjang 1 m g. Tang potong tangkai panjang 1 m h. Kolimator
i. Lampu Merah j. Tanda Radiasi
KESELAMATAN NUKLIR 2016
43- 4 k. Tanda bahaya yang bersuara dan
bercahaya l. Tali kuning
m. Statif dengan ketinggian 1 m 3. Pengukuran Paparan Radiasi Daerah Kerja
dan Daerah Publik
Strategi Pengawasan
Sesuai dengan peraturan perundang undangan, pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir melalui inspeksi dilakukan secara berkala dan sewaktu waktu yang dilakukan oleh BAPETEN [10]. Meskipun Bapeten dapat melaksanakan inspeksi melaui dua strategi pengawasan tersebut. tetapi cara tersebut belum optimal dalam pelaksanaannya dikarenakan saat dilakukan inspeksi terutama dengan pemberitahuan (berkala). Inspeksi lebih banyak dilakukan tidak pada saat pengoperasian alat sehingga keseuaian izin dengan : kamera, pekerja radiasi, penggunaan peralatan keselamatan radiasi dan keamanan sumber radioaktif pada saat operasional pengoperasian radiografi sehingga informasi tidak diketahui secara lengkap. dikarenakan setiap dilakukan inspeksi dengan pemberitahuan jarang sekali pemegang izin mengoperasikan alat.
Pengawasan pelaksanaan operasi radiografi industri akan lebih efektif jika melibatkan manajemen K3 dari perusahaan pemberi kerja. Pengawasan bisa dilakukan oleh Manajemen K3 pada saat penunjukan operator radiografi apakah sudah sesuai izinnya, lokasi pemanfaatannya serta pekerja radiasinya dan pada saat pekerjaan radiografi dilakukan. Untuk meningkatkan pengawasan strategi inspeksi yang dilakukan oleh BAPETEN adalah dengan melakukan pengawasan melalui inspeksi terhadap pemegang izin radiografi industry di tempat instansi yang menggunakan jasa radiografi industry tersebut, dengan melibatkan manajemen K3 instansi pengguna jasa akan memberikan informasi kepada manajemen K3 untuk dapat melakukan pengawasan saat pelaksanaan radiografi di instansinya.
Pelaksanaan inspeksi radiografi industri juga diharapkan selalu melibatkan manajemen K3 perusahaan tempat dilakukan pekerjaan radiografi industri. Hal tersebut berguna sebagai perpanjangan tangan pengawas (inspektur ) bapeten dalam melakukan pengawasan pekerjaan radiografi industri.
Untuk membantu manajemen K3 melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan radiografi industri maka Manajeman K3 dapat menggunakan Form LKF yang telah di modifikasi untuk pengawasannya.
V. KESIMPULAN
Pengawasan terhadap pemanfaatan radiografi industri harus dilaksanakan lebih intensif untuk memastikan semua peraturan perundang undangan dipatuhi dan untuk dapat memastikan keselamatan radiasi dan keamanan sumber radioaktif menjadi lebih baik lagi.
Pengawasan pemanfaatan radiografi industri selain dilakukan oleh BAPETEN selaku badan pengawas juga harus melibatkan pihak instansi pemberi kerja dalam hal ini bisa memanfaatkan fungsi manajemen K3 dari perusahaan pengguna jasa pemanfaatan radiografi industri.
Untuk membantu pengawasan yang dilakukan oleh manajemen K3 perusahaan pemberi kerja pemanfaatan radiografi industri, pihak manajemen K3 bisa menggunakan Form Laporan Keselamatan Fasilitas yang telah di kembangkan sesederhana mungkin tanpa mengurangi esensi setiap poin yang bisa dibuat sebagai assesment pada operator radiografi sebelum melaksanakan pekerjaan.
VI. SARAN
Untuk memaksimalkan pengawasan terhadap pemanfaatan radiografi industri perlu kiranya pada pelaksanaan inspeksi Radiografi industi agar melakukan :
1. Inspeksi Radiografi industry diharapkan dilaksanakan di instansi pengguna jasa radiografi industry.
2. Inspeksi dengan melibatkan manajeman SMK3 pihak pemberi kerja radiografi ndustri.
3. Sosialisasi proteksi radiasi dan dasar pengawasan pemanfaatan radiografi industri kepada manajemen SMK3 pihak pemberi kerja radiografi industri
DAFTAR PUSTAKA
1. Republik Indonesia (1997); Undang Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang ketenaganukliran; Setneg, Jakarta
2. International Labour Organisation (2011);
pengawasan ketenagakerjaa : apa dan bagaimana;Jakarta
3. Direktorat Inspeksi Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif BAPETEN (2015); Laporan Hasil pengiriman LKF Fasilitas Industri dan Penelitian DIFRZR; Jakarta
4. Direktorat Inspeksi Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif BAPETEN (2015); form Laporan Keselamatan Fasilitas Radiografi Industri;
Jakarta.
5. Sumbarjo (2015); Policy Paper Form Laporan Keselamatan Fasilitas;Jakarta,
6. Republik Indonesia (1996); Peraturan menteri tenaga kerja Nomor 5 tahun 1996 Tentang sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja, Jakarta.
7. Nugraheni (2011); penerapan keselamatan dan kesehatan kerja dengan standar WISE; UNS, Jogjakarta, 2011.
8. Republik Indonesia (2009); Peraturan Kepala BAPETEN Nomor 7 tahun 2009 Tentang keselamatan radiasi dalam penggunaan radiografi industri, Jakarta
9. Direktorat Inspeksi FRZR (2016); Laporan Hasil Inspeksi PT.Nutrindo Pratama; Jakarta 2016
KESELAMATAN NUKLIR 2016
43- 5 10. Republik Indonesia (2007); Peraturan
Pemerintah Nomor 33 tahun 2007 Tentang keselamatan radiasi pengion dan keamanan sumber radioaktif, Jakarta