• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MEKANISME GCG TERHADAP NILAI PERUSAHAAN FAST MOVING CONSUMER GOODS YANG TERDAPAT PADA BURSA EFEK INDONESIA PERIODE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH MEKANISME GCG TERHADAP NILAI PERUSAHAAN FAST MOVING CONSUMER GOODS YANG TERDAPAT PADA BURSA EFEK INDONESIA PERIODE"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENGARUH MEKANISME GCG TERHADAP NILAI PERUSAHAAN FAST MOVING CONSUMER GOODS YANG TERDAPAT PADA BURSA

EFEK INDONESIA PERIODE 2016-2020

Ezra Putri Yufiani Nazara

Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana

[email protected]

PENDAHULUAN

Perusahaan saat didirikan memiliki berbagai macam tujuan yang ingin dicapai. Salah satu tujuan yang ingin dicapai perusahaan adalah mendapatkan keuntungan atau laba yang maksimal. Laba atau keuntungan yang maksimal ini akan membuat harga saham naik, sehingga meningkatkan nilai perusahaan dikarenakan banyak investor yang menanamkan modal di perusahaan. Nilai perusahaan juga merupakan alat ukur yang dapat mendeskripsikan atau menghitung keuntungan pemegang saham, karena semakin meningkatnya nilai perusahaan maka kesejahteraan atau keuntungan para pemegang saham juga akan meningkat (Yuliyanti, 2019)

Naik turunnya nilai perusahaan ini dipengaruhi oleh struktur kepemilikan perusahaan. Struktur kepemilikan perusahaan ini sangat penting dalam menentukan nilai perusahaan misalnya, kepada orang-orang yang berkompeten dalam bidangnya, seperti manajer maupun komisaris Dewi dan Nugrahanti (2014). Dalam meningkatkan nilai perusahaan juga akan mengalami masalah kepentingan antara agen (manager) dan prinsipal (pemegang saham). Perbedaan kepentingan ini mengakibatkan adanya konflik yang disebut dengan agensi konflik (agency problem), hal ini terjadi karena masing-masing struktur memiliki kepentingan sehingga dapat menyebabkan penurunan nilai perusahaan (Rita Susanti dan Budiasih, 2019).

Pemegang saham juga dapat menilai perusahaan untuk jangka panjang dan jangka pendek dengan melihat prospek bisnis. Industri manufaktur sendiri terbagi dalam beberapa sektor, yaitu sektor industri dasar dan kimia, sektor aneka industri,

(2)

2

dan sektor industri barang konsumsi. Industri manufaktur juga merupakan salah satu industri yang menjadi penopang utama perkembangan ekonomi secara nasional dan membuat nilai perusahaan menjadi mengalami kenaikan (Selfrianti, 2016).

Salah satunya, sektor manufaktur industri barang konsumsi atau Fast Moving Consumer Goods (FMCG) yang memiliki banyak peminatnya dan pangsa pasarnya sangat luas, serta melakukan produksi berbagai macam produk daripada sektor lainnya. Hal ini dapat berhubungan dengan kinerja mekanisme perusahaan dalam memproduksi berbagai macam produk dan memasarkan produknya (Ely, 2020).

Pada tahun 2020 terdapat permasalahan kinerja mekanisme perusahaan, salah satunya perusahaan industri barang konsumsi yang tidak melakukan pekerjaan sesuai peraturan yang sudah ada dan berdampak sangat besar pada perusahaan. Sehingga, perusahaan harus melakukan perbaikan dalam hal kinerja mekanisme perusahaan dengan menerapkan Good Corporate Governance (GCG) agar dapat mengatur peraturan atau regulasi dalam perusahaan (Utami, 2020).

Penerapan kinerja keuangan dilihat dari peraturan pelaksanaan keuangan dengan menggunakan keputusan investasi dan keputusan pendanaan perusahaan.

Sedangkan, kinerja non-keuangan dilihat dari mekanisme Good Corporate Governance (GCG) (Rifa’i et al., 2021).

Bentuk penerapan GCG ini membantu perusahaan dalam menilai struktur yang sudah ada atau menjadi pendorong dalam persaingan untuk dapat meningkatkan nilai perusahaan. Good Corporate Governance (GCG) memiliki konsep yang terkait dengan pengambilan sebuah keputusan. Konsep ini mengenai keputusan atau peraturan yang dilaksanakan secara transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, kewajaran dan kesetaraan terhadap para pemangku kepentingan (stakeholder). Selain itu, penerapan prinsip-prinsip ini dibantu dengan mekanisme Good Corporate Governance (GCG). Mekanisme GCG ini terdiri dari mekanisme internal dan mekanisme eksternal. Mekanisme internal memiliki tugas untuk mengendalikan perusahaan dengan menggunakan proses dan struktur internal, yang meliputi rapat umum pemegang saham (RUPS), komposisi dewan direksi, komposisi dewan komisaris dan pertemuan dengan board of director.

Sedangkan, mekanisme eksternal memiliki tugas untuk mempengaruhi perusahaan dengan menggunakan selain mekanisme internal, meliputi kualitas audit eksternal,

(3)

3

peraturan pemerintah, struktur kepemilikan manajerial, dan kepemilikan institusional. Mekanisme penerapan Good Corporate Governance yang digunakan dalam meningkatkan nilai perusahaan, antara lain Dewan Komisaris, Dewan Direksi, Dewan Komisaris Independen, Komite Audit dan lain-lainnya. Dalam penelitian ini menggunakan Dewan Komisaris, Komite Audit, dan Kepemilikan Institusional (KNKG, 2006).

Penelitian Sofiamira dan Haryono (2017) mengenai Good Corporate Governance (GCG) atau tata kelola perusahaan sebelumnya menjelaskan bahwa dua variabel GCG, yaitu kepemilikan manajerial berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan dan kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan industri pertambangan. Penelitian Pradana dan Astika (2019) menjelaskan bahwa penerapan GCG memiliki pengaruh positif pada nilai perusahaan. Mekanisme Good Corporate Governance (GCG) pada penelitian ini adalah pihak-pihak yang terkait dalam tata kelola perusahan, serta memiliki hak dan kewajiban dalam meningkatkan nilai perusahaan.

Perbedaan penelitian ini dengan sebelumnya adalah penelitian sebelumnya menggunakan industri manufaktur sektor pertambangan sebagai objek sedangkan penelitian ini menggunakan perusahaan industri barang konsumsi atau Fast Moving Consumer Goods (FMCG) tahun 2016-2020 sebagai objek penelitian dan periode tahun yang digunakan juga lebih lama. Perusahan industri barang konsumsi atau Fast Moving Consumer Goods (FMCG) dipilih karena perusahaan ini memiliki pangsa pasar yang luas dan sebagian besar produknya selalu digunakan oleh konsumen. Persaingan antara perusahaan sektor industri barang konsumsi ini sangat ketat dalam memasarkan produk mereka kepada para konsumen yang menjadi salah satu karakteristik dalam perusahaan ini. Sehingga, membuat para investor juga memiliki perhatian yang cukup tinggi untuk perusahaan ini karena jika ada masalah, misalnya kualitas produk menurun, penjualan menurun, dan lain-lain yang akan mempengaruhi perubahan harga saham.

Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah adalah apakah dewan komisaris berpengaruh terhadap nilai perusahaan, apakah komite audit berpengaruh terhadap nilai perusahaan, dan apakah kepemilikan institusional

(4)

4

berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Berdasarkan rumusan masalah tersebut terdapat tujuan untuk mengetahui pengaruh GCG terhadap nilai perusahaan bersifat signifikan atau tidak. Serta, bertujuan untuk melihat apakah berdasarkan faktor- faktor tersebut kinerja perusahaan dapat meningkat dan dapat memaksimalkan nilai perusahaan tersebut menjadi semakin baik pada saat kondisi sekarang. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat memberikan manfaat untuk mengetahui hal apa saja yang mempengaruhi nilai perusahaan sehingga dapat dijadikan acuan untuk meningkatkan nilai perusahaan. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat berkontribusi sebagai referensi dan pengembangan literatur dalam penelitian selanjutnya.

KAJIAN LITERATUR

Teori Keagenan (Agency Theory)

Teori keagenan menjelaskan hubungan pekerjaan antara principal (pemilk atau pemegang saham) dengan pihak agen (direksi atau manajemen). Teori ini berfokus pada penentuan pembagian pekerjaan sesuai dengan kontrak yang mungkin dapat mempengaruhi hubungan antara principal dan agen. Teori agensi ini menentukan pentingnya pemilik saham (principal) memberikan tugas pengelolaan perusahaan kepada orang-orang yang lebih profesional (agen) dan lebih mengerti serta paham menjalankan bisnis perusahaan yang dapat mendapatkan keuntungan atau profitabilitas untuk menaikkan nilai perusahaan.

Hubungan keagenan antara principal dan agen ini dapat terjadi pemisahan kepentingan masing-masing. Jika, agen tidak melakukan pekerjaan sesuai dengan kepentingan prinsipal, maka akan terjadi konflik keagenan sehingga membuat adanya biaya keagenan (agency cost) (Panda dan Leepsa, 2017).

Menurut Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa biaya keagenan (agency cost) ini yang akan dibayar oleh principal untuk mengukur, mengamati, dan mengontrol perilaku agen supaya tidak adanya penyimpangan. Biaya keagenan ini juga muncul karena adanya ketidakseimbangan dalam pembebanan informasi antara prinsipal dan agen (moral hazard). Masalah agensi ini muncul karena

(5)

5

konflik antara prinsipal (pemegang saham) dan agen (manajer). Konflik kepentingan yang terjadi ini disebut agency problem. Agency problem ini terjadi akibat pemisahan kepentingan masing-masing pihak. Pihak principal memiliki kepentingan untuk mendapatkan profit yang selalu meningkat. Sedangkan, agen memiliki kepentingan memaksimalkan kebutuhan ekonominya terpenuhi. Maka dari itu, muncul GCG sebagai salah satu cara untuk mengatur hubungan principal dan agen (Pohan dan Dwimulyani, 2017).

Tata kelola yang baik atau GCG merupakan hal penting dalam mengatur hubungan principal dan agen. Tata kelola yang baik pada dasarnya tergambar dalam prinsip-prinsip yang ada dalam konsep GCG. Prinsip-prinsip tersebut akan membantu GCG menjadi lebih baik dan dapat membuat perusahaan menjadi lebih bertanggung jawab dalam menyelesaikan masalah, seperti konflik keagenan (agency problem). Prinsip-prinsip ini akan terpenuhi dengan bantuan dari mekanisme GCG yang ada dalam perusahaan. Mekanisme GCG ini dapat membantu menerapkan prinsip-prinsip dengan kinerja yang ada dalam setiap mekanisme. Dengan adanya penerapan mekanisme GCG ini dapat meminimalisir hubungan antara principal (pemegang saham) dan agen (manajer) yang akan memenuhi tujuan perusahaan, yaitu memaksimalkan kesejahteraan nilai perusahaan (Yuliyanti, 2019).

Nilai Perusahaan

Menurut Indrarini (2019) nilai perusahaan merupakan kinerja perusahaan yang dicerminkan oleh harga saham yang dibentuk oleh permintaan dan penawaran di pasar modal yang menarik penilaian dari masyarakat. Kinerja perusahaan yang baik dapat menaikkan nilai perusahaan dan membuat investor atau calon pembeli saham bersedia membayar apabila perusahaan tersebut berhasil terjual dengan melihat nilai harga saham yang semakin tinggi, maka semakin besar kemakmuran yang akan diterima oleh pemilik perusahaan Citra Dewi dan Sanica (2017). Bagi perusahaan yang sudah go-public, nilai pasar saham ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran ada di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang terdapat dalam listing price. Sedangkan, perusahaan publik, nilai pasar sahamnya ditetapkan oleh

(6)

6

lembaga independen seperti perusahaan jasa penilai Made (2011). Ada beberapa rasio yang bisa digunakan untuk mengukur nilai perusahaan, salah satunya adalah Price to Book Value (PBV). PBV ini menggambarkan berapa besar pasar saham dalam memberikan harga nilai buku saham suatu perusahaan dengan membandingkan harga suatu saham dan nilai buku. Indikator PBV ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu menciptakan nilai perusahaan dengan jumlah modal yang diinvestasikan, sehingga semakin tinggi rasio PBV maka semakin besar kemakmuran yang akan diterima oleh pemilik perusahaan (Harmono, 2017).

Good Corporate Governance (GCG)

Menurut Forum for Corporate Governance ini Indonesia (FCGI) menjelaskan bahwa Good Corporate Governance (GCG) merupakan standar operasional prosedur yang ada di dalam perusahaan yang mengatur mengenai hubungan antara pemegang, pengelola perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban dalam sistem yang mengendalikan perusahaan. GCG dapat diartikan sebagai sebuah perangkat sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan untuk meniptakan nilai tambah (value added) bagi pemegang saham. Menurut KNKG (2021) terdapat empat prinsip Good Corporate Governance, yaitu prinsip pertama, transparansi (keterbukaan) dalam prinsip ini perusahaan harus memberikan informasi yang penting dan relevan secara akurat, tepat waktu, dan mudah dipahami serta diakses oleh stakeholders karena keyakinan dan kepercayaan stakeholders. Informasi yang didapat mengenai laporan keuangan, kinerja keuangan, kepemilikan, dan pengelolaan perusahaan yang disajikan oleh perusahaan harus mencerminkan keadaan yang sesungguhnya, tanpa rekayasa oleh pihak manapun.

Prinsip kedua, akuntabilitas dalam prinsip ini perusahaan dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar, sehingga pengelolaan dan keseimbangan kekuasaan antara principal dan terlaksana secara efektif yang memiliki integritas untuk menjalankan usaha sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku. Prinsip ketiga, pertanggungjawaban dalam prinsip ini

(7)

7

perusahaan menyesuaikan pengelolaan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip korporasi yang sehat. Prinsip ini menuntut agar seluruh organ perusahaan untuk melakukan tugasnya dengan bertanggungjawab dan mematuhi hukum yang ditetapkan. Prinsip keempat, kemandirian (independensi) dalam prinsip ini, suatu keadaan dalam perusahaan yang dikelola tanpa adanya konflik kepentingan dan pengaruh atau tekanan dari berbagai pihak manajemen yang tidak sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku dan berprinsip dari perusahaan yang baik. Prinsip kelima, kewajaran dan kesetaraan dalam prinsip ini, memenuhi hak-hak stakeholder yang ditimbulkan berdasarkan suatu perjanjian serta perundang-undangan yang berlaku.

Mekanisme Good Corporate Governance (GCG)

Dalam Good Corporate Governance (GCG) juga terdapat mekanisme GCG yang memiliki fungsi untuk membantu pengelola untuk mematuhi peraturan yang sudah disepakati. Corporate Governance merupakan seperangkat mekanisme yang menyeimbangkan antara setiap tindakan maupun pilihan manajer dengan kepentingan stakeholders. Mekanisme GCG ini terdiri dari mekanisme internal dan mekanisme eksternal. Mekanisme internal adalah mengendalikan perusahaan dengan menggunakan proses dan struktur internal, meliputi rapat umum pemegang saham (RUPS), komposisi dewan direksi, komposisi dewan komisaris dan pertemuan dengan board of director. Sedangkan, mekanisme eksternal adalah mempengaruhi perusahaan dengan menggunakan selain mekanisme internal, meliputi kualitas audit eksternal, peraturan pemerintah, struktur kepemilikan manajerial, dan kepemilikan institusional. Dengan adanya mekanisme ini dapat membantu mengatasi masalah keagenan dalam perusahaan dan dapat membantu meyakinkan para pemegang saham meningkatkan nilai perusahaan (Triyaningsih dan Rosdiana, 2021).

Berdasarkan dua pembagian mekanisme GCG tersebut, maka dalam penelitian ini menggunakan beberapa mekanisme GCG, menurut Wiyuda dan Pramono (2017), meliputi dewan komisaris merupakan kepala dari Good Corporate Governance (GCG) yang memiliki tugas sebagai penanggung jawab penetapan

(8)

8

strategi perusahaan, mengawasi manajemen, dan mengharuskan terlaksananya akuntabilitas pada perusahaan. Dewan komisaris dapat melakukan tugasnya sendiri maupun dengan memberikan kewenangan pada komite yang bertanggung jawab membantu dewan komisaris. Dewan komisaris harus melakukan pemantauan secara efektif dalam praktek pengelolaan perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) yang diterapkan oleh perusahaan. Peran dewan komisaris dalam suatu perusahaan ini untuk meminimalisir permasalahan agensi (agency conflict) antara dewan direksi dengan pemegang saham. Oleh karena itu, dewan komisaris seharusnya dapat mengawasi kinerja perusahaan yang disesuaikan dengan kepentingan pemegang saham. Selanjutnya, komite audit yang memiliki tugas untuk memberikan penilaian atau pendapat mengenai masalah akuntansi, laporan keuangan, sistem pengawasan internal dan auditor, serta membantu dewan komisaris untuk memenuhi tanggung jawab. Menurut Peraturan OJK Nomor 55/POJK.04/2015 Tentang Pembentukan dan Pedoman Kerja Komite Audit. Dalam pasal 1 ayat 1, komite audit dibentuk dan memiliki tanggung jawab kepada dewan komisaris dalam melaksanakan tugas dan fungsi dewan komisaris, yaitu untuk meninjau kualitas dan integritas pelaporan laporan keuangan dalam perusahaan.

Dalam pasal 4, Komite audit ini terdiri dari tiga orang anggota komisaris independen yang berasal dari pihak luar perusahaan dan memiliki latar belakang pengetahuan finansial yang baik. Serta, kepemilikan institusional merupakan kepemilikan saham yang dimiliki oleh investor luar atau institusional, misalnya pemerintah, bank, perusahaan asuransi, dan lain-lain. Adanya kepemilikan institusional akan membantu dalam pengawasan dan memonitoring terhadap kinerja manajemen. Selain itu, kepemilikan institusional juga memiliki kepentingan besar dalam mengelola investasi karena memiliki akses dan informasi yang lebih tepat waktu dan relevan sehingga dapat memprediksi laba perusahaan di masa depan daripada kepemilikan manajerial. Sehingga, dapat mengurang konflik antar manajemen dengan pemegang saham dengan cara memonitor manajemen secara efektif dan dapat meningkatkan nilai perusahaan.

(9)

9 PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Pengaruh Dewan Komisaris Terhadap Nilai Perusahaan

Laporan keuangan dalam sebuah perusahaan dapat mencerminkan profitabilitas atau keuntungan. Laporan keuangan dibuat oleh direksi yang kemudian akan direview oleh dewan komisaris, apabila laporan keuangan tersebut sudah sesuai maka akan disetujui oleh dewan komisaris. Keberadaan dewan komisaris ini dapat meningkatkan efektifitas pengawasan dan mengupayakan kualitas laporan keuangan, sehingga dengan pengawasan yang baik akan mengurangi adanya kecurangan dalam pelaporan laporan keuangan. Jika, kualitas laporan keuangan semakin baik maka akan membuat investor percaya untuk melakukan investasi dan membuat nilai perusahaan meningkat.

Dewi dan Nugrahanti (2014) yang menguji hubungan dewan komisaris berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, bahwa semakin banyak dewan komisaris dalam perusahaan maka dapat meningkatkan nilai perusahaan. Hasil penelitian Kartika et al. (2020) dan Purnama et al. (2020) menyatakan bahwa proporsi komisaris berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Adanya proporsi dewan komisaris akan membantu dalam pengawasan dalam meningkatkan laporan keuangan. Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H1: Dewan Komisaris berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

Pengaruh Komite Audit Terhadap Nilai Perusahaan

Komite audit memiliki peran sebagai pengontrol yang mengawasi kinerja para manajer dalam melaksanakan kegiatan operasional dan melakukan pemantauan sistem pengendalian internal perusahaan untuk meningkatkan nilai perusahaan. Semakin baik peran dari komite audit dalam melakukan pengawasan maka semakin baik kinerja perusahaan. Hasil penelitian Ramadhani dan Sulistyowati (2021) mengemukakan bahwa komite audit berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Hal ini juga sama dengan penelitian Wahyudi et al.

(2021) yang menjelaskan bahwa komite audit berpengaruh positif pada nilai perusahaan dengan kualitas laba sebagai variabel pemoderasi. Semakin baik peran

(10)

10

dari komite audit dalam melakukan pengawasan maka semakin baik kinerja perusahaan. Dengan baiknya kinerja perusahaan akan menarik banyak investor dan membuat nilai perusahaan semakin meningkat juga. Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H2: Komite Audit berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

Pengaruh Kepemilikan Institusional Terhadap Nilai Perusahaan

Kepemilikan institusional memiliki peran mengawasi manajemen secara efektif sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan. Semakin besar kepemilikan institusional maka semakin efisien pemanfaatan aktiva perusahaan serta dengan adanya pengawasan efektif yang dilakukan institusi terhadap perusahaan berguna sebagai pencegahan atas pemborosan yang merugikan. Hasil penelitian Purba (2021) dan Sawitri dan Wahyuni (2021) yang menguji kepemilikan institusional berpengaruh positif. Hasil penelitian Astuti et al. (2019) yang menguji kepemilikan institusional berpengaruh positif pada nilai perusahaan. Hal tersebut dapat meminimalisir biaya-biaya yang mungkin keluar untuk kepentingan pribadi sehingga dengan adanya pencegahan dapat menguntungkan perusahaan. Adanya keuntungan ini dapat menarik banyak investor sehingga membuat nilai perusahaan meningkat. Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H3: Kepemilikan Institusional berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

Gambar 1. Model Kerangka Penelitian Dewan

Komisaris (X1)

Komite Audit (X2)

Kepemilikan Institusional

(X3)

Nilai Perusahaan

(Y)

(11)

11 METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang mengumpulkan data- data untuk dijadikan pengujian. Pengujian ini dilakukan dengan mengumpulkan informasi-informasi dari indikator yang mempengaruhi nilai perusahaan.

Pengumpulan datanya berdasarkan laporan tahunan perusahaan dan akan dikaji untuk menghasilkan data-data sekunder. Hasil pengujian dan analisis dalam penelitian ini akan menjadi faktor penentu untuk menjadi bahan pertimbangan yang mempengaruhi nilai perusahaan, serta menilai pengaruh indikator GCG terhadap nilai perusahaan. Hasil ini akan berguna untuk meningkatkan dan memaksimalkan nilai perusahaan barang konsumsi (FMCG).

Populasi dan Sampel

Penelitian ini menetapkan populasi dan sampel secara kuantitatif. Populasi penelitian adalah keseluruhan objek penelitian yang memiliki karakteristik tertentu dalam penelitian. Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahan barang konsumsi yang terdapat dalam BEI pada tahun 2016-2020, serta yang memiliki kelengkapan data terkait dengan variabel yang digunakan dalam penelitian. Dalam menentukan sampel terdapat metode pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling, yang merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.

Berikut tabel kriteria sampel yang digunakan dalam penelitian ini.

Tabel 1. Kriteria Pengambilan Sampel

No. Keterangan Jumlah

Populasi : Perusahaan manufaktur sektor barang konsumsi (FMCG) yang terdaftar di BEI

54 1 Perusahaan yang tidak mengalami keuntungan di BEI

selama lima tahun berturut-turut (2016-2020)

(12) 2 Perusahaan yang tidak melakukan pencatatan min. 15

tahun dan maks. 25 tahun

(13) 3 Perusahaan yang tidak memiliki variabel terkait

dengan penelitian

(2)

Sampel Penelitian 27

Total Sampel selama periode 2016-2020 135

(12)

12 Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini menggunakan jenis data kuantitatif dengan pengujian hipotesis (explanatory research). Pengumpulan data menggunakan data sekunder, yaitu dengan melakukan dokumentasi yang diperoleh dari laporan tahunan dan laporan keuangan dalam website BEI.

Definisi dan pengukuran variabel

Penelitian ini diukur pada setiap variabelnya dengan menggunakan skala pengukuran rasio persentase. Berdasarkan data yang ada dan untuk mendapatkan hasil data yang dapat di analisis, maka definisi operasional variabel yang digunakan penelitian ini, sebagai berikut:

Tabel 2. Definisi Operasional

Variabel Definisi Operasional Indikator Dewan

Komisaris (X1)

Dewan Komisaris

merupakan penjumlahan dari semua komisaris yang memiliki kepentingan.

semakin banyak dewan komisaris dalam perusahaan maka dapat meningkatkan nilai perusahaan.

(Ramadhani dan

Sulistyowati, 2021)

∑ 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑑𝑒𝑤𝑎𝑛 𝑘𝑜𝑚𝑖𝑠𝑎𝑟𝑖𝑠

Komite Audit (X2)

Komite audit merupakan sekumpulan orang yang dipilih dari anggota dewan komisaris yang bertanggung jawab untuk mengawasi proses pelaporan keuangan dan memiliki peran sebagai pengontrol yang mengawasi kinerja para manajer dalam melaksanakan kegiatan operasional untuk meningkatkan nilai perusahaan (Purwitaningsari dan Fidiana, 2020).

∑ 𝐾𝑜𝑚𝑖𝑡𝑒 𝑎𝑢𝑑𝑖𝑡

(13)

13

Tabel 2. Definisi Operasional (Lanjutan)

Teknik Analisis Data

Penelitian ini menggunakan teknik analisis data yang berbentuk pengumpulan data kuantitatif dengan mengumpulkan, mencatat, dan mengkaji data sekunder. Data sekunder ini diperoleh dari laporan keuangan atau annual report yang didapat dalam website BEI. Data yang diperoleh akan diolah berdasarkan

Variabel Definisi Operasional Indikator Kepemilikan

Institusional (X3)

Kepemilikan saham yang dimiliki oleh investor luar atau institusional, misalnya pemerintah, bank, perusahaan asuransi dll.

Untuk meningkatkan Kepemilikan

Institusional dengan meminimalkan biaya keagenan (agency cost).

Pendekatan keagenan

ini dapat

memaksimalkan nilai perusahaan dan memakmurkan pemilik perusahaan (Anggraini dan Fidiana, 2021).

∑ 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑚𝑖𝑙𝑖𝑘𝑖 𝑖𝑛𝑠𝑡𝑖𝑡𝑢𝑠𝑖

∑ 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟 𝑥 100%

Nilai Perusahaan (Y)

Nilai Perusahaan merupakan nilai pasar perusahaan yang dapat memberikan

keuntungan dan kemakmuran bagi pemegang saham secara maksimum. Semakin tinggi harga saham yang didapatkan, maka semakin tinggi keuntungan yang di dapat oleh pemegang saham (Susanto dan Ardini, 2016).

𝑃𝐵𝑉 = ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑝𝑎𝑠𝑎𝑟 𝑝𝑒𝑟 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑏𝑢𝑘𝑢 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑏𝑖𝑎𝑠𝑎

(14)

14

skala rasio untuk mengukur pengaruh GCG terhadap nilai perusahaan. Metode analisis data yang digunakan adalah pengujian asumsi klasik menggunakan SPSS.

Sebelumnya data akan diuji dengan uji asumsi klasik, sehingga hasil olah data akan disajikan secara kuantitatif beserta narasi penjelasan. Tahapan uji asumsi klasik yang pertama ada uji normalitas, pada penelitian ini uji normalitas digunakan untuk mengetahui model regresi, variabel dependen dan independen, serta keduanya berdistribusi normal atau tidak. Untuk mengetahui apakah data tersebut berdistribusi normal diuji dengan metode kolmogorov smirnov maupun pendekatan grafik. data Berdasarkan uji normalitas, jika memiliki nilai probabilitas (> 5%) maka data tersebut berdistribusi normal, sedangkan jika data yang memiliki nilai probabilitas (< 5%) maka data tersebut tidak berdistribusi normal.

Tahap selanjutnya, uji multikolinearitas pada penelitian ini digunakan untuk mengetahui korelasi antar variabel bebas (independen) yang ada dalam pembentukan model regresi. Artinya jika terjadi multikolinearitas, maka kondisi tersebut tidak sesuai dengan konsep asumsi regresi. Tahap selanjutnya, uji heteroskedastisitas ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain.

Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Tahap selanjutnya, uji linearitas digunakan untuk mengetahui apakah model atau dua variabel mempunyai hubungan yang linear atau tidak secara signifikan, dan untuk mengkonfirmasikan apakah sifat linear antara dua variabel yang diidentifikasikan secara teori sesuai atau tidak dengan hasil observasi yang ada. Dua variabel dikatakan mempunyai hubungan yang linear bila signifikansinya kurang atau di bawah 5%.

Tahap selanjutnya melakukan analisis regresi linier berganda merupakan analisis yang memiliki variabel bebas lebih dari satu. Teknik regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh signifikan dua atau lebih variabel bebas (X1, X2 atau seterusnya) terhadap variabel terikat (Y).

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e

(15)

15 Keterangan:

Y = Nilai Perusahaan

X1 = Dewan Komisaris Independen X2 = Komite Audit

X3 = Kepemilikan institusional E = Kesalahan atau error

Tahap selanjutnya melakukan uji hipotesis, yaitu uji F dilakukan untuk menunjukkan apakah semua variabel independen dan variabel bebas memiliki pengaruh terhadap variabel dependen atau terikat. Dalam uji F terdapat tingkat signifikannya, yaitu H1 ditolak jika angka signifikan lebih kecil dari 5%, sedangkan H1 diterima jika angka signifikan lebih besar dari 5%. Tahap selanjutnya, pada uji T atau bisa dikenal dengan uji parsial dilakukan untuk menguji pengaruh dari masing-masing variabel bebas secara tersendiri terhadap variabel terikatnya. Uji T ini dapat dilakukan dengan membandingkan t hitung dengan t tabel atau dengan melihat kolom signifikansi yang ada pada masing-masing t hitung bisa dengan menggunakan aplikasi perhitungan dari SPSS. Uji T bisa juga dilihat pada tingkat signifikansinya, yaitu jika tingkat signifikansi < 5% maka H0 ditolak dan H1

diterima, sedangkan jika tingkat signifikansi > 5% maka H0 diterima dan H1 ditolak.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Objek Penelitian

Penelitian ini menggunakan populasi perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2016- 2020. Penelitian ini menggunakan tahun 2016-2020 atau jangka waktu pengamatan selama lima tahun berturut-turut sehingga peneliti dapat menganalisis perkembangan perusahaan tersebut. Sampel yang dipilih menggunakan metode purposive sampling dengan seleksi kriteria pada tabel. Berikut tabel profil perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2016-2020. Dari populasi sebanyak 195

(16)

16

perusahaan dan berdasarkan kriteria pemilihan sampel diperoleh sampel sebanyak 27 perusahaan yang digunakan dalam penelitian ini.

Tabel 3. Profil Perusahaan No Kode Nama perusahaan

1 ADES Akasha Wira International Tbk 2 BTEK Bumi Teknokultura Unggul Tbk 3 CEKA Wilmar Cahaya Indonesia Tbk.

4 DLTA Delta Djakarta Tbk.

5 ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tbk 6 INDF Indofood Sukses Makmur Tbk 7 MLBI Multi Bintang Indonesia Tbk.

8 MYOR Mayora Indah Tbk.

9 ROTI Nippon Indosari Corpindo Tbk.

10 SKBM Sekar Bumi Tbk.

11 SKLT Sekar Laut Tbk.

12 STTP Siantar Top Tbk.

13 TBLA Tunas Baru Lampung Tbk.

14 ULTJ Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk.

15 GGRM Gudang Garam Tbk

16 HMSP Handjaya Mandala Sampoerna Tbk 17 DVLA Darya Variao Laboratoria Tbk 18 KAEF Kimia Farma Tbk.

19 KLBF Kalbe Farma Tbk.

20 MERK Merck Tbk.

21 PYFA Pyridam Farma Tbk

22 SCPI Merck Sharp Dohme Pharma

23 SIDO PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk 24 TSPC Tempo Scan Pacific Tbk

25 KINO PT Kino Indonesia Tbk 26 TCID Mandom Indonesia Tbk 27 UNVR Unilever Indonesia Tbk.

Sumber : www.idx.co.id

Total perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2016-2020 pada periode tersebut berjumlah 54 perusahaan. Dari 54 perusahaan tersebut terdapat 12 perusahaan yang tidak mengalami keuntungan pada periode 2016-2020, terdapat 13 perusahaan yang tidak melakukan pencatatan laporan keuangan minimal 15 tahun, dan terdapat dua perusahaan yang tidak memiliki kelengkapan data yang terkait dengan variabel

(17)

17

penelitian. Berdasarkan data tersebut maka perusahaan yang memenuhi kriteria untuk dijadikan sampel adalah sebanyak 27 perusahaan dengan periode lima tahun sehingga jumlah sampel penelitian sebanyak 135. Adapun daftar perusahaan yang menjadi sampel penelitian dapat dilihat dalam tabel diatas.

Analisis Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif merupakan gambaran data yang ada pada setiap variabel penelitian. Data penelitian tersebut meliputi rata-rata (mean), nilai tengah (median), standar deviasi (standard deviation), minimum, dan maksimum. Berikut ini adalah hasil statistik deskriptif dari variabel dewan komisaris, komite audit, kepemilikan institusional, dan nilai perusahaan.

Tabel 4. Hasil Analisis Statistik Deskriptif

Sumber: Data sekunder diolah (2022)

Berdasarkan tabel diatas menjelaskan bahwa sampel penelitian ini sebanyak 135 sampel. Dilihat dari variabel dewan komisaris mempunyai nilai terendah 2 dan nilai tertinggi 4 dengan nilai rata-rata 3,41 serta memiliki standar deviasi 0,52.

Variabel komite audit menunjukkan nilai terendah 2 dan nilai tertinggi 3 dengan nilai rata-rata 2,83 serta memiliki standar deviasi 0,37. Variabel kepemilikan institusional menunjukkan nilai terendah 0,44 dan nilai tertinggi 0,89 dengan nilai rata-rata 0,69 serta memiliki standar deviasi 0,12. Selanjutnya, variabel nilai perusahaan yang menunjukkan nilai terendah dan nilai tertinggi berturut-turut adalah 1,66 dan 3,34 pada besaran rata-rata sebesar 2,85 dan standar deviasi 0,37.

No Variabel

Banyak Data

(N)

Minimum Maksimum Mean Standar Deviasi

1 Dewan

Komisaris 135 2 4 3,41 0,523

2 Komite Audit 135 2 3 2,83 0,377

3 Kepemilikan

Institusional 135 0,44 0,89 0,6874 0,11709

4 Nilai

Perusahaan 135 1,66 3,34 2,8475 0,37705

(18)

18 Uji Asumsi Klasik

Uji Normalitas”

Berikut merupakan tabel yang menyajikan pengujian normalitas pengaruh dewan komisaris, komite audit, kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan.

Tabel 5. Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 135

Normal Parametersa,b Mean ,0000000

Std. Deviation ,33331625

Most Extreme Differences

Absolute ,065

Positive ,026

Negative -,065

Test Statistic ,065

Asymp. Sig. (2-tailed) ,200c,d

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

c. Lilliefors Significance Correction.

d. This is a lower bound of the true significance.

Sumber: Data sekunder diolah (2022)

Teknik Kolmogrov-Smirnov digunakan untuk uji normalitas dimana hasil yang terdapat pada gambar diatas menggambarkan bahwa data berdistribusi normal. Hal tersebut dilihat dari adanya titik-titik ploting yang menyebar disekitar garis dan mengikuti arah garis, sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi ini layak untuk dipakai sebab memenuhi nilai normalitas.

Uji Multikolinearitas

Berikut merupakan tabel yang menyajikan uji multikolineritas pengaruh dewan komisaris, komite audit, dan kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan.

(19)

19

Tabel 6. Hasil Uji Multikolinearitas

Variabel Tolerance VIF

Dewan Komisaris 0, 905 1,105

Komite Audit 0,922 1,085

Kepemilikan Institusional 0,850 1,177 Sumber: Data sekunder diolah (2022)

Berdasarkan tabel diatas didapatkan hasil dari uji multikolineritas yang memperlihatkan nilai VIF dari ketiga variabel, yaitu <10. Selain itu, nilai tolerance dari ketiga variabel yang ada, yaitu >0,1. Sehingga, bisa disimpulkan bahwa model regresi ini tidak terdapat dari multikolineritas.

Uji Heterokedastisitas

Berikut merupakan tabel yang menyajikan uji heterokedastisitas pengaruh dewan komisaris, komite audit, dan kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan.

Tabel 7. Hasil Uji Heterokedastisitas

Variabel Sig.

Dewan Komisaris 0,209

Komite Audit 0,287

Kepemilikan Institusional 0,154 Sumber: Data sekunder diolah (2022)

Berdasarkan tabel didapatkan hasil dari pengujian heterokedastisitas menggunakan metode glejser yang memperlihatkan bahwa nilai signifikansi untuk ketiga variabel >0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi ini tidak terjadi adanya heterokedastisitas.

Uji Autokorelasi

Berikut merupakan tabel yang menyajikan uji autokorelasi pengaruh dewan komisaris, komite audit, dan kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan.

(20)

20

Tabel 8. Hasil Uji Autokorelasi Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 .467a .219 .201 .33711

a. Predictors: (Constant), Kepemilikan Institusional , Komite Audit (X2), Dewan Komisaris (X1)

b. Dependent Variable: Nilai Perusahaan

Berdasarkan tabel didapatkan hasil dari pengujian autokorelasi yang memperlihatkan bahwa nilai signifikansi untuk ketiga variabel >0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi ini tidak terjadi adanya autokorelasi.

Pengujian Hipotesis dan Pembahasan

Untuk membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan digunakan analisis regresi berganda, hasil analisis dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 9. Hasil Uji Simultan F F Sig.

Dewan Komisaris 12,211 0,000

Komite Audit 12,211 0,000

Kepemilikan Institusional 12,211 0,000 Sumber: Data sekunder diolah (2022)

Tabel 10. Hasil Nilai R Square

R Square R Square Adjustment

Mekanisme GCG 0,219 0,201

Sumber: Data sekunder diolah (2022)

Berdasarkan tabel diatas uji simultan F menunjukkan bahwa pengaruh variabel dewan komisaris, komite audit, dan kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan berpengaruh simultan dengan nilai signifikan 0,000 < 0,05.

Sehingga, model regresi yang dibuat sudah tepat. Selanjutnya, dilakukan uji koefisien determinasi (R2) untuk menguji hipotesis dalam penelitian. Hasil dari uji

(21)

21

koefisien determinasi menunjukkan bahwa nilai adjusted R2 sebesar 0,201. Hal ini menunjukkan bahwa 20,1% variabel nilai perusahaan dipengaruhi oleh variabel dewan komisaris, komite audit, dan kepemilikan institusional. Sedangkan, sebesar 79,9% dipengaruhi oleh variabel lainnya yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini.

Tabel 11. Hasil Uji Hipotesis

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std.

Error

Beta

1 (Constant) 1,291 ,284 4,554 ,000

Dewan Komisaris (X1)

,240 ,059 ,333 4,102 ,000

Komite Audit (X2)

,114 ,080 ,114 1,421 ,158

Kepemilikan Institusional

,603 ,270 ,187 2,234 ,027

a. Dependent Variable: Nilai Perusahaan Sumber: Data sekunder diolah (2022)

Berdasarkan hasil pengujian nilai t pada tabel, maka dapat diperoleh model regresi linier berganda sebagai berikut:

Y = 1,291 + 0,240X1 + 0,114X2 + 0,603X3

Berdasarkan hasil Uji t maka pembahasan hipotesis adalah sebagai berikut:

Dewan Komisaris terhadap Nilai Perusahaan

Berdasarkan hasil pengujian diperoleh bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000 kurang dari 0,05 dan nilai t sebesar 4,102. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa hipotesis pertama (H1) yang menyatakan bahwa dewan komisaris berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan diterima. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Dewi & Nugrahanti (2014), Kartika et al. (2020), dan Purnama et al. (2020) yang menyatakan bahwa dewan komisaris berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Hal ini menjelaskan bahwa dewan komisaris yang meningkatkan efektifitas pengawasan dan mengupayakan kualitas laporan

(22)

22

keuangan dan mengurangi kecurangan pelaporan yang ada dalam laporan keuangan. Adanya pengawasan yang baik akan meminimalisir tindakan kecurangan yang dilakukan oleh manajemen dalam melakukan pelaporan keuangan. Dengan begitu maka kualitas laporan keuangan akan semakin baik dan menyebabkan investor percaya untuk melakukan investasi dalam perusahaan, sehingga akan menyebabkan harga saham lebih tinggi dan nilai perusahaan semakin meningkat.

Selain itu, pengawasan yang dilakukan oleh dewan komisaris secara efektif terhadap manajemen dan akuntabilitas dewan komisaris terhadap perusahaan serta pemegang saham dapat membantu meminimalisir agency conflict yang pada akhirnya akan berdampak pada meningkatnya nilai perusahaan.

Komite Audit Terhadap Nilai Perusahaan

Berdasarkan hasil pengujian diperoleh hasil, bahwa nilai signifikansi sebesar 0,158 lebih dari 0,05 dan nilai t sebesar 1,421. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa hipotesis kedua (H2) yang menyatakan bahwa komite audit tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Ramadhani & Sulistyowati (2021) dan Wahyudi et al. (2021) yang mengatakan bahwa komite audit berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Hal ini dikarenakan komite audit merupakan bagian yang dibentuk oleh dewan komisaris yang memiliki tugas untuk membantu dewan komisaris. Sehingga, kemungkinan pengaruhnya terhadap peningkatan nilai perusahaan tidak secara langsung, akan tetapi tetap melalui dewan komisaris. Selain itu, komite audit juga bukan salah satu faktor penentu untuk meningkatkan efektifitas perusahaan, seperti hubungan dengan benturan kepentingan perusahaan, perbuatan yang merugikan perusahaan, dan kecurangan yang dapat menyebabkan menurunnya nilai perusahaan.

Kepemilikan Institusional Terhadap Nilai Perusahaan

Berdasarkan hasil pengujian diperoleh hasil bahwa nilai signifikansi sebesar 0,027 kurang dari 0,05 dan nilai t sebesar 2,234. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa hipotesis ketiga (H3) yang menyatakan bahwa kepemilikan institusional

(23)

23

berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Astuti et al. (2019), Purba (2021), dan Sawitri dan Wahyuni (2021) yang menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Hal ini menjelaskan bahwa semakin besar kepemilikan institusional maka, semakin efisien pemanfaatan aktiva perusahaan, serta dengan adanya pengawasan efektif yang dilakukan institusi terhadap perusahaan berguna sebagai pencegahan atas pemborosan yang merugikan. Hal tersebut dapat meminimalisir biaya-biaya yang mungkin keluar untuk kepentingan pribadi sehingga dengan adanya pencegahan dapat menguntungkan perusahaan. Sehingga, adanya keuntungan ini dapat menarik banyak investor untuk melakukan investasi dan membuat nilai perusahaan meningkat

PENUTUP Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan bisa ditarik beberapa kesimpulan, yaitu; Pertama, dewan komisaris berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Kedua, komite audit tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Ketiga kepemilikan institusional berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Adanya penelitian ini dapat bermanfaat untuk mengukur faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan dan dapat menjadi salah satu faktor untuk meningkatkan nilai perusahaan. Selain itu, penelitian ini juga dapat menjadi gambaran penelitian selanjutnya dengan mencari faktor lain yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan.

Keterbatasan dan Saran

Berdasarkan hasil penelitian, keterbatasan dalam penelitian ini adalah tidak adanya variabel kontrol untuk mengontrol data yang dikumpulkan. Dengan demikian, berakibat pada kurangnya menjamin mekanisme GCG yang digunakan secara statistik yang berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Maka dari itu, penelitian selanjutnya dapat menambahkan variabel kontrol seperti ukuran

(24)

24

perusahaan, usia perusahaan atau jenis perusahaan dan lain-lain. Selain itu, nilai perusahaan tidak hanya ditentukan oleh variabel dewan komisaris, komite audit, dan kepemilikan institusional. Namun, terdapat mekanisme GCG lainnya yang dapat menjadi faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya diharapkan untuk menggunakan mekanisme GCG lainnya yang selain variabel yang digunakan dalam penelitian ini.

(25)

25 DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, R., & Fidiana. (2021). Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance Dan Struktur Modal Terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal Ilmu Dan Riset Akuntansi, 10(7).

http://jurnalmahasiswa.stiesia.ac.id/index.php/jira/article/view/4100 Astuti, T. T., Amboningtyas, D., & Seputra, A. (2019). Pengaruh Kepemilikan

Manajerial, Kepemilikan Kelembagaan Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Kinerja Perusahaan Sebagai Intervening. Journal of Management, 7(1), 1–12.

http://jurnal.unpand.ac.id/index.php/MS/article/view/1774

Citra Dewi, K. R., & Sanica, I. G. (2017). Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility, Profitabilitas, Dan Kepemilikan Manajerial Terhadap Nilai Perusahaan Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2012. Jurnal Riset Mahasiswa Akuntansi Unikama, 2(1). https://doi.org/https://doi.org/10.38043/jiab.v2i1.175 Dewi, L. C., & Nugrahanti, Y. W. (2014). Pengaruh Struktur Kepemilikan Dan

Dewan Komisaris Independen Terhadap Nilai Perusahaan (Studi Pada Perusahaan Industri Barang Konsumsi Di Bei Tahun 2011-2013). Kinerja, 18(1), 64. https://doi.org/10.24002/kinerja.v18i1.518

Ely, M. (2020). Perbedaan Industri Proses dan Manufaktur.

https://kimia.unimudasorong.ac.id/artikel/perbedaan-industri-proses-dan- manufaktur

Harmono. (2017). Manajemen Keuangan: Berbasis Balanced Scorecard Pendekatan Teori, Kasus, dan Riset Bisnis (R. Rachmatika (ed.)). Bumi Aksara.

Indrarini, S. (2019). Nilai Perusahaan Melalui Kualitas Laba (Good Corporate Governance & Kebijakan Perusahaan) (N. Azizah (ed.)). Scopindo Media Pustaka.

https://books.google.co.id/books?id=4wTFDwAAQBAJ&printsec=frontcove r&hl=id&source=gbs_ge_summary_r&cad=0#v=onepage&q&f=false Jensen, M. C., & Meckling, W. H. (1976). Theory Of The Firm: Managerial

Behavior, Agency Cost And Ownership Structure. Journal of Financial Economics, 3(4), 305–360. https://doi.org/10.1177/0018726718812602 Kartika, R., Ibrohim, I., & Sona, S. (2020). Pengaruh Pertumbuhan Perusahaan,

Kebijakan Dividen, Good Corporate Governance Terhadap Nilai Perusahaan Pada Perusahaan Industri Barang Konsumsi Yang Terdaftar Di BEI.

Financial: Jurnal Akuntansi, 6(2), 227–236.

https://doi.org/10.37403/financial.v6i2.175

KNKG. (2006). Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia.

https://knkg.or.id/publikasi/

KNKG. (2021). Pedoman ini diterbitkan oleh Komite Nasional Kebijakan Governansi. https://knkg.or.id/publikasi/#

(26)

26

Made, S. I. (2011). Manajemen Keuangan. Erlangga.

Panda, B., & Leepsa, N. M. (2017). Agency theory: Review of theory and evidence on problems and perspectives. Indian Journal of Corporate Governance, 10(1), 74–95. https://doi.org/10.1177/0974686217701467

Pohan, C. D., & Dwimulyani, S. (2017). Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan, Good Corporate Governance Dan Corporate Social Responsibility Terhadap Nilai Perusahaan Pada Perusahaan Pertambangan Di Bursa Efek Indonesia.

Jurnal Magister Akuntansi Trisakti, 4(1), 37–54.

https://doi.org/10.25105/jmat.v4i1.4986

Pradana, R., & Astika, I. B. P. (2019). Pengaruh Ukuran Perusahaan, Penerapan Good Corporate Governance, dan Pengungkapan Corporate Social

Responsibility pada Nilai Perusahaan. E-Jurnal Akuntansi, 28(3), 1920–

1933. https://doi.org/10.24843/eja.2019.v28.i03.p18

Purba, I. (2021). Pengaruh Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional dan Kepemilikan Publik Terhadap Nilai Perusahaan Pada Perusahaan Properti dan Real Estate Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2016-2018. Jurnal Riset Akuntansi Dan Keuangan, 7(1), 18–29.

https://doi.org/https://doi.org/10.54367/jrak.v7i1.1168

Purnama, D., Apriyanti, E., & Nurhayati, E. (2020). Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Dan Mekanisme Tata Kelola Terhadap Nilai Perusahaan.

Financial: Jurnal Akuntansi, 6(2), 213–226.

https://doi.org/10.37403/financial.v6i2.178

Purwitaningsari, A. I., & Fidiana. (2020). Pengaruh Mekanisme Corporate Governance Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Kinerja Keuangan Sebagai Variabel Moderasi. Current: Jurnal Kajian Akuntansi Dan Bisnis Terkini, 1(1), 52–67. https://doi.org/10.31258/jc.1.1.52-67

Ramadhani, A. P., & Sulistyowati, E. (2021). Good Corporate Governance Dan Kinerja Keuangan. Jurnal Ilmu Dan Riset Akuntansi, 10(3).

https://doi.org/10.37715/mapi.v2i2.1724

Rifa’i, M. H., Junaidi, & Sari, A. F. K. (2021). Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan, Good Corporate Governance, Corporate Social Resposibility Terhadap Nilai Perusahaan LQ-45 Di Masa Pandemi COVID-19. Jurnal Ilmiah Riset Akuntansi, 10(06), 84–91.

http://riset.unisma.ac.id/index.php/jra/article/view/12797

Rita Susanti, G. A. M., & Budiasih, I. G. A. N. (2019). Pengaruh Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dan Profitabilitas pada Nilai Perusahaan.

E-Jurnal Akuntansi, 28(3), 1767.

https://doi.org/10.24843/eja.2019.v28.i03.p09

Sawitri, N. K. U., & Wahyuni, M. A. (2021). Pengaruh Good Corporate

Governance, dan karakteristik. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Akuntansi, 12(2), 601–614. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.23887/jimat.v12i2.32378 Selfrianti, T. D. (2016). Pengaruh Mekanisme Good Corporate Governance

(27)

27

Terhadap Nilai Perusahaan Properti dan Real Estate Yang Terdaftar di Bursa Efek.

Sofiamira, N. A., & Haryono, N. A. (2017). Capital Expenditure, Leverage, Good Corporate Governance, Corporate Social Responsibility: Pengaruhnya Terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal Ekonomi Dan Bisnis, 20(2), 191.

https://doi.org/10.24914/jeb.v20i2.691

Susanto, C. M., & Ardini, L. (2016). Pengaruh Good Corporate Governance, Corporate Social Responsibility, Dan Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal Ilmu Dan Riset Akuntansi, 5(7), 1–17.

http://jurnalmahasiswa.stiesia.ac.id/index.php/jira/article/view/1846

Triyaningsih, D., & Rosdiana, Y. (2021). Pengaruh Mekanisme Good Corporate Governance Terhadap Nilai Perusahaan. 500–503.

Utami, D. N. (2020). Kinerja IHSG Kuartal I/2020 : Sektor Barang Konsumsi Pimpin Kinerja Sektoral. Bisnis.Com.

https://market.bisnis.com/read/20200403/7/1222199/kinerja-ihsg-kuartal- i2020-sektor-barang-konsumsi-pimpin-kinerja-sektoral-

Wahyudi, I., Muawanah, U., & Setia, K. A. (2021). Mekanisme Good Corporate Governance terhadap Nilai Perusahaan yang Dimediasi Kualitas Laba dan Kinerja Keuangan ( Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Listing di Bursa Efek Indonesia ( BEI ) tahun 2015 – 2017 ). Jurnal Akuntansi Dan Perpajakan, 7(1), 1–16. https://doi.org/https://doi.org/10.26905/ap.v7i1.5566 Wiyuda, A., & Pramono, H. (2017). Pengaruh Good Corporate Governance,

Karakteristik Perusahaan Terhadap Luas Pengungkapan Corporate Social Responsibility Pada Perusahaan Terdaftar di BEI. KOMPARTMEN : Jurnal Ilmiah Akuntansi, XV(1), 12–25.

https://doi.org/10.30595/kompartemen.v15i1.1376

Yuliyanti, L. (2019). Pengaruh Good Corporate Governance Dan Pengungkapan Corporate Social Responsibility Terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal

Pendidikan Akuntansi & Keuangan, 2(2), 21.

https://doi.org/10.17509/jpak.v2i2.15464

Referensi

Dokumen terkait

Hal lain yang menarik dari organisasi yakni bahwa organisasi merupakan sistem. terbuka yang terdiri dari subsistem-subsistem yang saling terkait dan

Chapter 1 , Quick Start – Our First 3D Scene , introduces some of the main Studio features by creating a simple scene, showing how to position the camera and how to render the

Shared attributes are the ones defined in the Tiles definitions file, while attributes specific to a called JSP page are defined on that page. This makes sense, because you might

Kalo ada produk baru dari masjid, speaker buat masjid, jadi yang kita undang orang-orang masjid kayak pengurus-pengurus masjid gitu.. Terus kalo TOA mengadakan

Pada bab sebelumnya dibahas mengenai penghematan biaya pemakaian listrik untuk mengurangi total biaya listrik yang dibayarkan dengan menganti sistem penerangan yang

Berdasarkan pada hasil pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) Persepsi mahasiswa akuntansi FEB Unib untuk berkarir di bidang perpajakan berpengaruh

Berdasarkan hasil survey pada Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) yang dilakukan oleh penulis telah terdata bahwa tingkat Kekerasan

Contoh-contoh yang menggambarkan bahwa para Nabi berijtihad dalam urusan duniawiy adalah ijtihad yang dilakukan Nabi Yunus yang memutuskan untuk lari dari kaummnya