• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI Oleh: MUTMAINNA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI Oleh: MUTMAINNA"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH BENTUK DAN LAMA PENYIMPANAN RANSUM KOMPLIT TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN KASAR

DAN SERAT KASAR

SKRIPSI

Oleh:

MUTMAINNA I111 13 514

FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR 2018

(2)

ii PENGARUH BENTUK DAN LAMA PENYIMPANAN RANSUM

KOMPLIT TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN KASAR DAN SERAT KASAR

SKRIPSI

Oleh :

MUTMAINNA I111 13 514

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana pada Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin

FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR 2018

(3)

iii PERNYATAAN KEASLIAN

1. Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Mutmainna NIM : I111 13 514

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa:

a. Karya skripsi yang saya tulis adalah asli

b. Apabila sebagian atau seluruhnya dari karya skripsi ini, terutama Bab Hasil dan Pembahasan tidak asli atau plagiasi maka bersedia dibatalkan atau dikenakan sanksi akademik yang berlaku.

2. Demikian pernyataan keaslian ini dibuat untuk dapat dipergunakan seperlunya.

Makassar, Januari 2018

Mutmainna

(4)

iv

(5)

v KATA PENGANTAR

Puji syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat RahmatNya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Dalam penyelesaian skripsi ini saya haturkan terimakasih yang setulus – tulusnyakepada kedua orang tua sayaAyahandaMuh. Saleh dan IbundaDarna, saudaraku tercinta Hendri Saleh dan Hermawan Saleh, serta Keluarga Besaratas segala Doa, cinta, kasih, perhatian, daya dan upaya serta pengorbanan moril dan materi,dan telah menjadi inspirasi dalam hidup penulis hingga selalu termotivasi untuk terus belajar hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Kalian adalah orang-orang di balik kesuksesan penulis menyelesaikan pendidikan di jenjang (S1).

Pada kesempatan ini dengan segala keikhlasan dan kerendahan hati penulis juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setinggi tingginya kepada :

- Dr. Hj. Jamila, S. Pt, M. Si sebagai pembimbing utama dan Dr. Rinduwati, S. Pt, MP selaku pembimbing anggota atas bimbingan dan segala curahan ilmu, arahan, semangat mulai perencanaan penelitian hingga selesainya skripsi ini.

- Dr.Ir. Syamsuddin Nompo, MP, Dr. Ir. Hj. Rohmiyatul Islamiyati, MP, danDr. Hj. A. Mujnisa, S. Pt, MPselaku pembahas mulai dari seminar proposal hingga seminar hasil penelitian, terima kasih telah berkenan mengarahkan dan memberi saran dalam menyelesaikan skripsi ini.

- Prof. Dr. Ir. Ismartoyo, M. Agr, selaku penasehat akademik yang sangat membantu penulis dalam menyelesaikan pendidikan S1.

(6)

vi - Prof. Dr.Ir. H. Sudirman Baco, M.Sc, selaku Dekan Fakultas Peternakan

Universitas Hasanuddin.

- Prof. Dr. drh. Hj. Ratmawati Malaka, M.Sc selaku Ketua Program Studi Peternakan Universitas Hasanuddin.

- Prof. Dr. Dwia Aries Tina Palubuhu, M.A, selaku Rektor Universitas Hasanuddin.

- Dosen Pengajar Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin yang telah banyak memberi ilmu yang sangat bernilai bagi penulis.

- Seluruh Staf dalam lingkungan Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, yang selama ini telah banyak membantu dan melayani penulis selama menjalani kuliah hingga selesai.

- Terimakasih kepada Nurul Rizka dan Amir Mirzad Rahmatteman seperjuangan sampai sekarang mulai dari seminar usulan penelitian, penelitian, dan seminar hasil penelitian, teman yang paling mengerti dan selalu ada saat penulis membutuhkan pertolongan. Terima kasih buat kebersamaannya semoga selamanya.

- Temankelas D yang telah menjadi keluarga kecil di Kampus Universitas Hasanuddin terima kasih telah menemani penulis mulai dari mahasiswa baru hingga sekarang.

- Teman-teman LARFA 13 (Large Family Farm 2013) dan HUMANIKA UH (Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak Universitas Hasanuddin).

Terima kasih atas kenangan yang berawal dari mahasiswa baru hingga kita

(7)

vii semua meraih gelar S.Pt, meskipun kebersamaan ini singkat tapi kita mengawalinya bersama disini dan akan selamanya menjadi teman.

- Kepada Musdalipah, S. Pt, Eva Pertiwy Salempang, S. Pt,danIndah Sari Nur Utami, S. Pt, kasih sudah menjadi sahabat saya yang telah menemani, berbagi ilmu, memberi semangat dan tempat berkeluh kesah. Suka dan duka telah kita jalani bersama, semoga selamanya.

- KepadaHaryanti, S. Pt, Rafiah Jamaluddin, S. Pt, dan Kurniati, S. Pt, terima kasih telah banyak membantu dan menjadi teman yang baik selama proses perkuliahan.

- Terimakasih kepada Hendri, SHatas doa, saran, motivasi, kebersamaan dan semangat yang diberikan.

- Rekan-rekan seperjuangan di lokasi KKN 93 Kecamatan Takkalalla, Kabupaten Wajo, terutama Posko Desa Ajuraja Nur Indah Sari, S. Psi, Lilivia Herlina Ahmad, S. Hum, Yesmi Ramadhani, ST, Bagus Dwi Wicaksono, ST, Wahyu Armindo P, S. Hut,serta Fauzy, SHyang membantu saya menjalankan proker.Terimakasih atas kerjasamanya dan pengalaman saat KKN.

- Teman tim Praktek Kerja Lapangan Haryanti, S. Pt, Rafiah, S. Pt, dan Kurniati, S. Ptterimakasih atas bantuan dan kerja samanya selama PKL.

(8)

viii - Terimakasih kepada Semua pihak yang tidak dapat penulis ucapkan satu persatu yang selalu memberikan doa kepada penulis hingga selesai penyusunan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, karena itu penulis memohon saran untuk memperbaiki kekurangan tersebut. Saran dan kritik yang membangun dari pembaca akan membantu kesempurnaan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca.Amin.

Makassar, Januari 2018

Mutmainna

(9)

ix ABSTRAK

Mutmainna (I111 13 514) Pengaruh Bentuk dan Lama Penyimpanan Ransum Komplit Terhadap Kandungan Protein Kasar dan Serat Kasar. Dibawah Bimbingan Jamila (Pembimbing Utama) dan Rinduwati (Pembimbing Anggota)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bentuk dan lama penyimpanan terhadap kandungan protein kasar dan serat kasar pada ransum komplit. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola Faktorial. Terdiri dari 2 faktor, yaitu Faktor A (Bentuk ransum komplit, yaitu silase ransum komplit bentuk pellet, silase ransum komplit bentuk blok, dan silase ransum komplit), Faktor B (Lama penyimpanan, yaitu 0, 1, dan 2 bulan). Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa bentuk pakan tidak berpengaruh nyata (P>0.05) dan lama penyimpanan berpengaruh nyata (P<0.05), tidak ada interaksi antara bentuk silase ransum komplit dan lama penyimpanan terhadap kandungan protein kasar tetapi interaksi berpengaruh nyata terhadap kandungan serat kasar silase ransum komplit.

Hasil penelitian diperoleh kandungan protein kasar yaitu 10,79% - 13,86% yang tertinggi pada 0 bulan, dan kandungan serat kasar yang diperoleh yaitu 14,24% - 18,93% yang tertinggi pada 2 bulan. Kesimpulan pada penelitian ini adalah semakin lama penyimpanan ransum komplit, maka kandungan protein kasar semakin menurun, dan kandungan serat kasar semakin meningkat. Silase ransum komplit dalam semua bentuk masih mempunyai kualitas yang baik pada penyimpanan 2 bulan.

Kata Kunci : Bentuk pakan, lama penyimpanan, ransum komplit, protein kasar dan serat kasar

(10)

x ABSTRACT

Mutmainna (I111 13 514) The Influence of Froms and The Length of Complete Ration Storage Against Crude Protein and Crude Fiber. Under The Guidance of Jamila (As The Principal Advisor) and Rinduwati (As The Member Advisor)

The study aims to determine the influence of forms and long storage of crude protein content and the rough on the ration is complete. The designs used which is the Random Complete (RAL) of Factorial. Consisting of two factors, which is Factor A (The ration is complete, which is silase the ration of complete the form of pellet, silase the ration of complete the form of blok, and silase the ration of complete), you know B (Length of storage, which is 0, 1, and 2 months).

Each treatment is repeated three times. The results of the analysis of diverse shows that this form of feed does not effect real (P>0,05) and long storage effect real (P<0,05), there is no interaction between the form of silase the ration of complete and long storage of crude protein content but interaction effect to the content of the rough silase a ransom is complete. Based on the results obtained by the crude protein content which is 10,79% - 13,86% of the highest at the moon, and fiber content is obtained, namely 14,24% - 18,93% of the highest in two months. The conclusion on this research is the storage of rations is complete, the crude protein content has declined, and fiber content is increasing . Silase the ration of complete in all forms of it still has a good quality in storage two months.

Keywords : Forms of feed, storage duration, complete ration, crude protein and crude fiber.

(11)

xi DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

ABSTRAK ... ix

ABSTRACT ... x

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Permasalahan ... 2

Tujuan dan Kegunaan ... 3

TINJAUAN PUSTAKA Penggunaan Pakan Komplit Sebagai Ransum Ruminansia ... 4

Penggunaan Berbagai Macam Bentuk Pakan Sebagai Ransum Ruminansia ... 4

Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Kualitas Ransum ... 8

Kandungan Protein Kasar dan Serat Kasar Pada Ransum ... 10

Hipotesis ... 11

METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat ... 12

Materi Penelitian ... 12

Metode Penelitian... 12

Pelaksanaan Penelitian ... 13

Parameter yang Diukur ... 14

Pengolahan Data... 16

(12)

xii HASIL DAN PEMBAHASAN

Kandungan Protein Kasar Ransum Komplit pada Berbagai Bentuk

dan Lama Penyimpanan ... 18

Kandungan Serat Kasar Ransum Komplit pada Berbagai Bentuk dan Lama Penyimpanan ... 20

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 23

Saran ... 23

DAFTAR PUSTAKA ... 24

LAMPIRAN ... 27

DOKUMENTASI ... 31 RIWAYAT HIDUP

(13)

xiii DAFTAR GAMBAR

No. Halaman

Teks

1. Kandungan Protein Kasar (Ransum Komplit Bentuk Pellet, Silase Ransum Komplit Bentuk Blok, dan Silase Ransum Komplit) pada

Lama Penyimpanan (0, 1, dan 2 bulan) ... 17 2. Kandungan Serat Kasar (Ransum Komplit Bentuk Pellet, Silase

Ransum Komplit Bentuk Blok, dan Silase Ransum Komplit) pada

Lama Penyimpanan (0, 1, dan 2 bulan) ... 19

(14)

xiv DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman

Teks

1. Hasil Analisis Sidik Ragam (Silase Ransum Komplit Bentuk Pellet, Silase Ransum Komplit Bentuk Blok, dan Silase Ransum Komplit) dan Lama Penyimpanan (0, 1, dan 2 bulan) Terhadap Kandungan

Protein Kasar (PK) Menggunakan Statistik SPSS ... 26 2. Hasil Analisis Sidik Ragam (Silase Ransum Komplit Bentuk Pellet,

Silase Ransum Komplit Bentuk Blok, dan Silase ransum Komplit) dan Lama Penyimpanan (0, 1, dan 2 bulan) Terhada Kandungan

Serat Kasar (SK) Menggunakan Statistik SPSS ... 28 3. Dokumentasi Kegiatan ... 30

(15)

15 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Salah satu faktor keberhasilan suatu peternakan adalah ketersediaan hijauan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pakankhususnya pada ternak ruminansia. Hijauan memegang peranan penting pada produksi ternak ruminansia karena pakan yang dikonsumsi oleh ternak tersebut sebagian besar dalam bentuk hijauan, akan tetapi ketersediaan hijauan sangat bervariasi. Pada musim hujan ketersediaan cukup melimpah, namun sebaliknya pada musim kemarau ketersediaan hijauan masih sangat terbatas. Sehingga peternak kesulitan untuk mendapatkan hijauan dengan kualitas yang baik. Pemanfaatan limbah pertanian dan perkebunan menjadi salah satu opsi untuk mengatasi hal tersebut.

Pakan komplit merupakan pakan yang mengandung nutrien yang cukup untuk memenuhi kebutuhan ternak pada berbagai tingkat fisiologis tertentu yang diberikan sebagai satu-satunya pakan yang mampu memenuhi kebutuhan hidup pokok. Semua bahan pakan baik hijauan (pakan kasar) maupun konsentrat dicampur menjadi satu. Pembuatan pakan komplit berbahan limbah pertanian dan limbah industri pertanian merupakan salah satu alternatif pemecahan masalah untuk mengatasi penyediaan pakan secara kontinu.

Pakan komplit dalam bentuk campuran berbagai bahan pakan yang sudah terfermentasi dapat menjadi solusi dalam pemberian pakan ruminansia dalam berbagai kondisi. Kelebihan pakan komplit adalah nilai nutrisi dapat diatur dengan menentukan jumlah dan jenis campuran, ternak tidak berkesempatan memilih

(16)

16 pakan sehingga memperkecil sisa pakan yang tidak dimakan, praktis, dan dapat disimpan dalam waktu lama. Pakan komplit dapat diproduksi dalam skala kecil, yaitu untuk peternak rumah tangga maupun dalam skala besar, yaitu untuk ternak dalam skala industri. Pakan komplit dapat menjadi solusi persoalan terbuangnya waktu peternak karena setiap hari harus mencari rumput untuk menyediakan pakan. Hal itu disebabkan pakan komplit dapat dibuat sekali saja untuk stok dalam waktu lama.

Penggunaan pakan komplit diharapkan mampu meningkatkan kualitas pakan dan mengatasi keterbatasan pakan, serta meningkatkan konsumsi dan kecernaan terhadap pakan. Berdasarkan hal tersebut,penelitian ini dilakukan untuk melihat seberapa besar pengaruh bentuk dan lama penyimpanan pada ransum komplit terhadap kandungan protein kasar dan serat kasar.

Permasalahan

Kendala yang sering dihadapi oleh peternak adalah ketersediaan lahan yang semakin berkurang sehingga pemenuhan ketersediaan pakan hijauan sangat terbatas. Salah satu alternatif pemenuhan hijaun pakan dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi sederhana yaitu pembuatan silase ransum komplit berbentuk pellet, silase ransum komplit berbentuk blok, dan silase ransum komplit sebagai pemenuhan kebutuhan nutrisi ternak. Sudah banyak penelitian tentang penggunaan pakan komplit tapi belum diketahui pengaruh bentuk ransum dan daya simpan yang dapat mempengaruhi kandungan protein kasar dan serat kasar pakan komplit.

(17)

17 Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bentuk dan lama penyimpanan terhadap kandungan protein kasar dan serat kasar pada ransum komplit.

Kegunaan penelitian ini adalah agar dapat memberikan informasi kepada masyarakat khusus peternakan tentang bentuk ransum yang dapat disimpan dalam waktu yang lama dan tidak menurunkan kualitas pakan komplit.

(18)

18 TINJAUAN PUSTAKA

Penggunaan Pakan Komplit Sebagai Ransum Ruminansia

Ransum merupakan gabungan dari beberapa bahan yang disusun sedemikian rupa dengan formulasi tertentu untuk memenuhi kebutuhan ternak dan tidak mengganggu kesehatan ternak. Ransum dapat dinyatakan berkualitas apabila mampu memberikan seluruh kebutuhan nutrien secara tepat, baik jenis, jumlah, serta imbangan nutrien tersebut bagi ternak (Lendrawati, 2008). Siregar (1994) menambahkan bahwa ransum merupakan campuran dari dua atau lebih bahan pakan yang diberikan untuk seekor ternak selama sehari semalam.

Menurut Fachiroh dkk (2012) menyatakan bahwa pakan komplit dapat disusun dari bahan campuran limbah agroindustri, limbah pertanian yang belum dimanfaatkan optimal sehingga ternak tidak perlu diberi hijauan.

Pakan komplit merupakan campuran dari bahan pakan ternak berupa silase dan kosentrat (pakan penguat) melalui proses fermentasi anaerob (kedap udara, kedap air dan kedap sinar matahari) yang lengkap dengan nutrien sesuai dengan kebutuhan berat badan. Pakan diperlukan untuk pertumbuhan ternakkarena mengandung zat gizi yang dibutuhkan oleh ternak. Oleh karena itu pakan harus tersedia terus menerus. Pakan umumnya diberikan pada ternak berupa hijauan dan makanan penguat/konsentrat (Masyadi, 2010).

Penggunaan Berbagai Macam Bentuk Pakan Sebagai Ransum Ruminansia Asupan nutrien bagi tubuh ternak berperan penting untuk mencukupi kebutuhan pokok, perkembangan tubuh dan bereproduksi. Akibatnya tak jarang dijumpai ternak dengan pertambahan bobot badan yang masih sangat jauh dari

(19)

19 harapan baik di tingkat peternakan rakyat maupun industri. Dua masalah utama yang menyebabkan pakan ternak khususnya ternak ruminansia yang diberikan tidak memenuhi kebutuhan jumlah dan asupan nutrient. Masalah pertama adalah bahan pakan pada umumnya berasal dari limbah pertanian yang mengandung kadar protein yang rendah dan sebaliknya serat kasar tinggi. Tingginya kadar serat ini yang umumnya didominasi komponen lignosellulose (karbohidrat komplek) yang sulit dicerna (McDonald et al. 2002). Masalah lainnya adalah ketersediaan pakan yang tidak kontinyu karena dipengaruhi oleh musim, sehingga terjadi kekurangan pakan pada musim kemarau. Pembuatan hijauan kering (hay), penambahan urea (amoniasi) dan pengawetan hijauan (silase) merupakan sejumlah terobosan yang telah dilakukan untuk mengatasi masalah ketersediaan pakan (Hanafi, 2008).

Pakan komplit mempunyai pengertian sebagai suatu jenis pakan yang dirancang untuk produk komersial bagi ternak ruminansia dan di dalamnya sudah mengandung bahan hijauan maupun konsentrat dalam imbangan memadai (Lammers et. al., 2003). Menurut Sartini (2003) ransum komplit merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan pemanfaatan limbah pertanian yaitu dengan cara mencampurkan limbah pertanian dengan tambahan pakan (konsentrat) dengan mempertimbangkan kebutuhan nutrisi ternak maupun zat makanan lainnya.

Dewasa ini ada kecenderungan pakan diberikan kepada ternak dalam bentuk komplit karena dinilai sangat efektif, apalagi pakan tersebut dikemas dalam bentuk pelet. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pakan komplit

(20)

20 berbentuk pelet lebih bisa diterima bagi ternak, disamping pemberiannyapun relatif lebih mudah dan tidak berabu (Krisnan dan Ginting, 2009). Pembuatan pelet adalah proses mengkompresikan pakan berbentuk tepung dengan bantuan uap panas untuk menghasilkan bentuk pakan yang silindris. Peleting memberikan keuntungan: pakan tidak berdebu, kandungan gizi seragam, kepadatan tinggi, mengurangi sisa pakan, memaksa ternak tidak memilih pakan yang disukai saja dan pada akhirnya akan meningkatkan performans ternak yang bersangkutan (Sutardi, 1980).

Kualitas fisik pakan pelet seperti kekerasan (hardness) dan daya tahan (durability) dipengaruhi oleh komposisi kimiawi bahan seperti lemak, pati, protein dan serat. Terkait dengan penggunaan roughagedalam pakan komplit pelet, maka unsur serat akan memiliki pengaruh dominan dibandingkan dengan unsur lain.

Pengaruh unsur serat terhadap kualitas fisik pelet ditentukan oleh sifat kimiawi unsur penyusun serat. Unsur serat yang larut dalam air, seperti glukan, arabinoxylan dan pektin memiliki sifat viskositas yang tinggi, sehingga cenderung meningkatkan daya tahan pelet, sedangkan unsur serat (NDF) yang tidak mudah larut seperti selulosa, hemiselulosa dan lignin dapat menurunkan daya tahan pelet (Thomas et al. 1998). Namun demikian, dengan teknologi mesin pembuatan pelet yang semakin maju, faktor kandungan serat di dalam bahan kelihatannya saat ini tidak menjadi kendala serius. Knaus et al (1999) misalnya dapat memproses tanaman jagung atau leguminosa menjadi pelet dengan sifat fisik yang baik pada kandungan NDF sebesar 45-51% dan kandungan ADF sebesar 24–32%.

(21)

21 Menurut Sutigno (1994), perekat adalah suatu bahan yang dapat menahan dua buah benda berdasarkan ikatan permukaan.Adapun keuntungan wafer menurut Trisyulianti (1998) adalah : (1) kualitas nutrisi lengkap, (2) bahan baku bukan hanya dari hijauan makanan ternak seperti rumput dan legum, tetapi juga dapat memanfaatkan limbah pertanian, perkebunan, atau limbah pabrik pangan, (3) tidak mudah rusak oleh faktor biologis karena mempuyai kadar air kurang dari 14%, (4) ketersediaannya berkesinambungan karena sifatnya yang awet dapat bertahan cukup lama sehingga dapat mengantisipasi ketersediaan pakan pada musim kemarau serta dapat dibuat pada saat musim hujan ketika hasil hijauan makanan ternak dan produk pertanian melimpah, dan (5) kemudahan dalam penanganan karena bentuknya padat kompak sehingga memudahkan dalam penyimpanan dan transportasi.

Beberapa penelitian telah dilakukan di Indonesia dengan tujuan mencari cara untuk memanfaatkan limbah pertanian sebagai pakan. Upaya ini meliputi penggunaan langsung dalam pakan, pengolahan untuk mempertinggi nilai pakannya, dan pengawetan agar dapat mengatasi fluktuasi penyediaan (Lebdosukoyo, 1983).

Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Kualitas Ransum

Penyimpanan merupakan salah satu bentuk tindakan pengamanan yang selalu terkait dengan waktu yang bertujuan untuk mempertahankan dan menjaga komoditi yang disimpan dengan cara menghindari dan menghilangkan berbagai faktor yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas komoditi tersebut (Syamsu,

(22)

22 2003). Penyimpanan yang terlalu lama akan berakibat buruk pada bahan makanan yang selanjutnya dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas ransum (Hall, 1980).

Menurut Cho et al. (1982) semakin lama penyimpanan maka akan dihasilkan suatu komponen cita rasa (flavor) yang lain sebagai akibat dari kegiatan biologis, misalnya pemecahan lemak yang menyebabkan ketengikan.

Penyimpangan bau selama penyimpanan diakibatkan oleh oksidasi lemak yang terjadi karena kehadiran asam-asam lemak tidak jenuh, oksidasi protein dan berkembangnya organisme pembusuk.

Bahan makanan yang berkadar air tinggi relatif tahan disimpan daripada yang berkadar air rendah. Kandungan air yang tinggi pada bahan makanan merupakan lingkungan yang baik untuk pertumbuhan jamur, sehingga dapat menambah besarnya kerusakan (Wijandi, 1995). Penyimpanan dalam jangka waktu panjang dapat menyebabkan pertumbuhan Saccharomyces cerevisiae pada hijauan (Hausler, 2007) dan Aspergillus flavus pada beras (Winarno, 1992)

Waktu penyimpanan cenderung meningkatkan kadar air bahan makanan ternak, hal ini akan menunjang pertumbuhan jamur dan akan lebih mempercepat kerusakan bahan makanan ternak. Selain dari pengaruh lama penyimpanan dan kadar air, perbedaan jumlah koloni jamur yang dihasilkan dapat pula dipengaruhi oleh faktor lingkungan terutama temperatur dan kelembaban ruang tempat penyimpanan (Nangudin, 1982). Menurut Sofyan dan Abunawan (1993), syarat umum untuk suatu kamar penyimpanan antara lain temperatur 18-24oC, bersih dan terang, mempunyai ventilasi yang baik untuk sirkulasi udara, bebas dari serangga dan tikus yang dapat merusak.

(23)

23 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kerusakan bahan makanan ternak selama penyimpanan antara lain faktor fisik seperti temperatur dan kelembaban relatif; faktor biologis seperti jamur, kutu, serangga, bakteri, binatang pengerat;

dan faktor kimiawi seperti perubahan komposisi zat-zat makanan dengan tersedianya oksigen (Hall, 1980). Ketiga faktor tersebut saling berinteraksi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi selama proses penyimpanan. Selama proses penyimpanan, terjadi perubahan karakteristik dan sifat protein yang ditandai dengan terjadinya senyawa amonia (Pomeranz, 1989).

Kandungan Protein Kasar dan Serat Kasar Pada Ransum

Protein merupakan zat organik yang tersusun dari unsur karbon, nitrogen, oksigen dan hidrogen. Fungsi protein untuk hidup pokok, pertumbuhan jaringan baru, memperbaiki jaringan rusak, metabolisme untuk energi dan produksi (Anggorodi, 1994). Molekul protein adalah sebuah polimer dari asam-asam amino yang digabung dalam ikatan peptida (Tillman et al., 1998). Kecernaan protein kasar tergantung pada kandungan protein di dalam ransum. Ransum yang kandungan proteinnya rendah, umumnya mempunyai kecernaan yang rendah pula dan sebaliknya. Tinggi rendahnya kecernaan protein tergantung pada kandungan protein bahan pakan dan banyaknya protein yang masuk dalam saluran pencernaan (Tillman et al., 1991).

Protein kasar adalah nilai hasil bagi dari total nitrogen ammonia dengan factor 16% (16/100) atau hasil kali dari total nitrogen amonia dengan faktor 6,25 (100/16). Nitrogen yang terdapat di dalam pakan tidak hanya berasal dari protein saja tetapi ada juga nitrogen yang berasal dari senyawa bukan protein atau

(24)

24 nitrogen nonprotein (non-protein/NPN). Nilai yang diperoleh dari perhitungan di atas merupakan nilai dari apa yang disebut protein kasar (Kamal, 1998). Kadar protein suatu bahan pakan secara umum dapat diperhitungkan dengan analisis kadar protein kasar. Analisis kadar protein ini merupakan usaha untuk mengetahui kadar protein bahan baku pakan. Analisis kadar protein digunakan untuk menguji kadar protein, ditentukan kadar nitrogennya secara kimiawi kemudian angka yang diperoleh dikalikan dengan factor 6,25 = (100 : 16). Faktor tersebut digunakan sebab nitrogen mewakili sekitar 16% dari protein (Murtidjo, 1987).

Serat kasar merupakan residu dari bahan makanan atau hasil pertanian setelah diperlakukan dengan asam atau alkali mendidih, dan terdiri dari selulosa, dengan sedikit lignin dan pentosa. Serat kasar juga merupakan kumpulan dari semua serat yang tidak bias dicerna, komponen dari serat kasar ini yaitu, terdiri dari selulosa, pentosa, lignin, dan komponen-komponen lainnya. Komponen dari serat kasar ini serat ini tidak mempunyai nilai gizi akan tetapi serat ini sangat penting untuk proses memudahkan dalam proses pencernaan di dalam tubuh agar proses pencernaan tersebut lancer (peristaltic) (Hermayanti dkk, 2006).

Analisis kadar serat kasar adalah usaha untuk mengetahui kadar serat kasar bahan baku pakan. Zat-zat yang tidak larut selama pemasakan bias diketahui karena terdiri dari serat kasar dan zat-zat mineral, kemudian disaring, dikeringkan, ditimbang dan kemudian dipijarkan lalu didinginkan dan ditimbang sekali lagi.

Perbedaan berat yang dihasilkan dari penimbangan menunjukkan berat serat kasar yang ada dalam makanan atau bahan baku pakan (Murtidjo, 1987).

(25)

25 Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah diduga bahwa bentuk pakan dan lama penyimpanan dapat mempengaruhi kandungan protein kasar dan serat kasar ransum komplit.

(26)

26 METODOLOGI PENELITIAN

Waktu dan Tempat

Penelitian dilaksanakan pada bulan September sampai November 2017.

Penelitian ini terdiri dari 2 tahap, tahap pertama yaitu pembuatan dan penyimpanan pakan komplit dilaksanakan di Laboratorium Valorisasi Pakan dan Limbah, tahap kedua yaitu analisis protein kasar dan serat kasar di Laboratorium Kimia Pakan, Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makassar.

Materi Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan, mesin gilingan, cetakan pellet dan wafer, baskom, terpal, sekop, karung goni, dan alat- alat yang digunakan untuk analisis protein kasar dan serat kasar.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput gajah (dengan kandungan protein kasar 8,69% dan serat kasar 3,23%), konsentrat (Protein Kasar 13,29% dan serat kasar 13,78%) dan bahan-bahan yang digunakan untuk analisis protein kasar dan serat kasar.

Metode Penelitian

Penelitian ini di susun berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola Faktorial. Adapun perlakuannya sebagai berikut :

A = Bentuk Ransum

1. Silase Ransum komplit berbentuk pellet 2. Silase Ransum komplit berbentuk blok 3. Silase Ransum komplit

(27)

27 B = Lama Penyimpanan

0 bulan 1 bulan 2 bulan

Pelaksanaan Penelitian Pembuatan Pakan Komplit

Pembuatan ransum komplit didahului dengan mencampur, rumput gajah yang telah dipotong-potong (2 – 3 cm) dan konsentrat ditimbang dengan perbandingan 50% : 50% dan dicampur sampai homogen, kemudian dibuat silase yang difermentasi terlebih dahulu selama 15 hari. Setelah itu dicetak menggunakan cetakan pellet dan blok. Disimpan sesuai perlakuan bersama silase ransum komplit. Setiap bentuk pakan dianalisis kandungan protein kasar dan serat kasar. Perlakuan terdiri dari 2 faktor yaitu bentuk dan lama penyimpanan, dan diulang sebanyak 3 kali setiap perlakuan. Perlakuan tersebut yaitu :

A1 = Silase ransum komplit bentuk pellet dengan lama penyimpanan : B1= 0 bulan

B2= 1 bulan B3= 2 bulan

A2 = Silase ransum komplit bentukblok dengan lama penyimpanan : B1= 0 bulan

B2= 1 bulan B3= 2 bulan

(28)

28 A3 = Silase ransum komplit dengan lama penyimpanan :

B1= 0 bulan B2= 1 bulan B3= 2 bulan

Parameter yang Diukur 1. Protein Kasar

Penentuan kadar protein kasar dan serat kasar melalui metode Kjeldahl dengan tahapan sebagai berikut:

- Destruksi : 0,2 gram sampel (x) ditimbang dan dimasukkan kedalam labu destruksi atau labu kjeldahl dan ditambahkan katalis (3 sendok teh campuran selen) dan 20 ml H2SO4 pekat teknis. Kemudian dicampurdengan cara menggoyang-goyangkan labu tersebut. Kemudian campuran dipanaskan dengan pembakaran bunsen dengan nyala api secara bertahap. Sampel terus dipanaskan (destruksi) hingga larutan menjadi jernih dan berwarna hijau kekuning-kuningan dan kemudian didinginkan.

- Destilasi : setelah proses destruksi didinginkan, larutan dimasukkan kedalam labu penyuling (destilasi) yang telah diisi dengan batu didih dan diencerkan dengan aquades sebanyak 300 ml. Kemudian dipasangkan pada rak destilasi yang ditambahkan kurang lebih 90 ml NaOH 33% dan dihubungkan dengan pipa destilasi. Hasil destilasi berupa NH3 dan air, ditangkap dengan Erlenmeyer yang telah diisi dengan 10 ml H2SO4 0,3 N dan 2 tetes indikator campuran merah metal (MM) dan biru metal (BM). Proses destilasi ini dilakukan hingga semua N yang ada dalam labu telah tertangkap

(29)

29 oleh H2SO4 dan proses destilasi berakhir setelah ada letupan pada labu destilasi.

- Titrasi : labu Erlenmeyer yang berisi hasil sulingan diambil dan kelebihan H2SO4 0,3 N dititiar dengan larutan NaOH 0,3 N. proses titrasi dihentikan setelah terjadi perubahan warna dari biru kehijauan yang menandakan titik akhir titrasi. Kadar protein kasar dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Kadar protein kasar (%) = (V x N x 14 x 6,25 x P)

Berat Sampel (mg) x 100%

Keterangan :

V = Volume titrasi contoh (0,0103 N)

N = Normalitas larutan HCl atau H2SO4 sebagai penitar P = Faktor pengencer 100/5

2. Serat Kasar

- Timbang sampel 0,5 g lalu masukkan ke dalam tabung reaksi - Tambahkan 30 ml H2SO4 0,3 N dan direfluks selama 30 menit

- Tambahkan 15 ml NaOH 1,5 N kemudian direfluks selama 30 menit dan disaring menggunakan sintered glass no.1 sambil di isap dengan pompa vakum.

- Cuci dengan menggunakan 50 cc air panas, 50 cc H2SO4 0,3 N, 50 cc alkohol.

- Keringkan pada oven suhu 1050C, selama 8 jam atau biarkan bermalam lalu dinginkan dalam desikator selama 30 menit kemudian di timbang.

- Tanurkan selama 3 jam lalu dimasukkan kedalam desiktor selama 30 menit kemudian ditimbang.

(30)

30 Kadar serat kasar dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Kadar Serat Kasar (%) = (a−b)

Berat Sampel 100%

Keterangan :

a = Barat sampel setelah di oeven b = Berat sampel setelah di tanur Pengolahan Data

Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola Faktorial dengan Faktor A (Bentuk ransum komplit), Faktor B (Lama penyimpanan). Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali, jadi total unit percobaan adalah 27 unit. Model matematika sebagai berikut :

Yijk = π + Pi + Wj + (KW)ij + Eijk ; i = 1,2,3 j = 1,2,3 k = 1,2,3 Keterangan :

Yijk :Pengaruh parameter terhadap bentuk pakan ke-i dengan lama penyimpanan ke-j pada ulangan ke-k

π :Nilai rata-rata (parameter yang diukur)

Pi :Pengaruhbentuk pakan ke-i terhadap parameter Wj :Pengaruhlama penyimpanan ke-j terhadap parameter

(PW)ij :Pengaruh interaksi dari bentuk pakan ke-i dengan lama penyimpanan ke- j terhadap parameter

Eijk :Pengaruh galat penarikan contoh pengamatan ke-k pada bentuk pakan ke-i dan lama penyimpanan ke-j

Pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diukur, dianalisis secara statistik dengan bantuan software SPSS Vers. 21. Jika memperlihatkan pengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (Gomez dan Gomez, 2010).

(31)

31 HASIL DAN PEMBAHASAN

Kandungan Protein Kasar Ransum Komplit pada Berbagai Bentuk dan Lama Penyimpanan

Kandungan protein kasar pada (silase ransum komplit bentuk pellet, silase ransum komplit bentuk blok, dan silase ransum komplit) dan lama penyimpanan (0, 1, dan 2 bulan) dapat dilihat pada Gambar 1. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa bentuk pakan tidak berpengaruh nyata (P>0,05), lama penyimpanan berpengaruh nyata (P<0.05), tidak ada interaksi antara bentuk dan lama penyimpanan terhadap protein kasar. Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa kandungan protein kasar tidak berbeda antara pakan yang disimpan selama 1 dan 2 bulan tetapi berbeda dengan penyimpanan 0 bulan.

Gambar 1. Kandungan Protein Kasar (Silase Ransum Komplit Bentuk Pellet, Silase Ransum Komplit Bentuk Blok, dan Silase Ransum Komplit) pada Lama Penyimpanan (0, 1, dan 2 bulan).

14.36

10.79 11.19

13.82

12.21

13.29 13.40

12.81

11.11

0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00

0 1 2

Protein Kasar (%)

Lama Penyimpanan (Bulan)

Silase pakan komplit bentuk Pellet Silase Pakan Komplit Bentuk Blok

Silase Pakan Komplit

(32)

32 Gambar 1 terlihat bahwa pada masa penyimpanan 0 bulan kandungan protein kasar pada silase ransum komplit bentuk pellet dan blok berkisar 13,86%

±0,45 perbedaan ini disebabkan oleh proses pengolahan pakan sebelum penyimpanan. Pada lama penyimpanan 1 bulan yang tertinggi kandungan protein kasarnya adalah bentuk silase tetapi menurun drastis pada penyimpanan 2 bulan bahkan lebih rendah kandungan protein kasarnya dibanding bentuk pellet dan block, hal ini kemungkinan disebabkan karena tidak ada lagi proses fermentasi pada penyimpanan silase ransum komplit sehingga terdapat aktivitas mikroorganisme yang mengubah asam amino. Menurut Wallace dan Chesson (1995), clostridia proteolitik akan menfermentasi asam amino menjadi bermacam- macam produk termasuk amonia, amina dan asam organik yang mudah menguap.

Fermentasi juga berperan penting dalam proses peningkatan protein, karena dalam proses fermentasi terdapat mikroba yang berperan dalam meningkatkan kandungan protein kasar silase. Hal ini sesuai dengan pendapat Zakariah, (2012) yang menyatakan bahwa Fermentasi merupakan proses pemecahan senyawa organik menjadi sederhana yang melibatkan mikroorganisme. Proses fermentasi dapat meningkatkan ketersediaan zat-zat makanan seperti protein dan energi metabolis serta mampu memecah komponen kompleks menjadi komponen sederhana. Selain itu fermentasi juga dapat meningkatkan nilai gizi bahan berkualitas rendah serta berfungsi dalam pengawetan bahan pakan dan merupakan suatu cara untuk menghilangkan zat anti nutrisi atau racun yang terkandung dalam suatu bahan pakan. Kandungan protein kasar yang diperoleh pada penelitian ini yaitu 10,79-14,36% lebih tinggi jika

(33)

33 dibandingkan dengan penelitian Fitriani dan Asyari (2017) yang memperoleh kandungan protein kasar yaitu 9,45-10,50% pada pakan komplit yang berbahan dasar tongkol jagung.

Kandungan Serat Kasar Ransum Komplit pada Berbagai Bentuk dan Lama Penyimpanan

Kandungan serat kasar pada (silase ransum komplit bentuk pellet, silase ransum komplit bentuk blok, dan silase ransum komplit) dan lama penyimpanan (0, 1, dan 2 bulan) dapat dilihat pada Gambar 2. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa bentuk pakan dan interaksi tidak berpengaruh nyata (P>0,05), tetapi lama penyimpanan dan interaksi antara bentuk dan lama penyimpanan berpengaruh nyata (P<0,05). Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa lama penyimpanan 1 bulan tidak berbeda dengan penyimpanan 2 bulan tetapi berbeda dengan penyimpanan 0 bulan.

Gambar 2. Kandungan Serat Kasar (Silase Ransum Komplit Bentuk Pellet, Silase Ransum Komplit Bentuk Blok, dan Silase Ransum Komplit), pada Lama Penyimpanan (0, 1, dan 2 bulan)

14.69

15.98

15.59 14.03

17.11

17.21

14.00

16.03

18.93

0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00 18.00 20.00

0 1 2

Serat Kasar (%)

Lama Penyimpanan (Bulan)

Silase pakan komplit bentuk pellet Silase pakan komplit bentuk blok

Silase pakan komplit

(34)

34 Gambar 2 terlihat bahwa lama penyimpanan 0 bulan antara bentuk pakan berbeda dengan serat kasarnya, perbedaan tersebut disebabkan oleh proses pengolahan. Pada gambar 2 terlihat juga semakin lama penyimpanan maka semakin tinggi kandungan serat kasar dari ransum komplit pada semua bentuk.

Hal ini menunjukkan bahwa akan terjadi kerusakan pada bahan pakan jika disimpan lebih lama dalam bentuk apapun. Proses yang terjadi dalam penyimpanan dipengaruhi oleh beberapa faktor, menurut Hall (1980) penyimpanan yang terlalu lama akan berakibat buruk pada bahan makanan yang selanjutnya dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas ransum. Semakin lama penyimpanan maka akan dihasilkan suatu komponen cita rasa (flavor) yang lain sebagai akibat dari kegiatan biologis, misalnya pemecahan lemak yang menyebabkan ketengikan. Perubahan bau selama penyimpanan diakibatkan oleh oksidasi lemak yang terjadi karena kehadiran asam-asam lemak tidak jenuh, oksidasi protein dan berkembangnya organisme pembusuk (Cho et al, 1982).

Ditambahkan pula oleh Soesarsono (1988) bahwa penyimpanan pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain jenis pakan, periode atau lama penyimpanan, metode penyimpanan, temperatur, kandungan air dan kelembaban udara. Kerusakan bahan pakan yang dapat terjadi dalam penyimpanan pakan yaitu kerusakan fisik dan kerusakan kimiawi. Penyimpanan yang melebihi waktu tertentu dan dalam kondisi yang kurang baik, dapat menyebabkan kualitas pakan mengalami penurunan (Syamsu, 2002).

(35)

35 Penyimpanan dalam jangka waktu panjang dapat menyebabkan pertumbuhan Saccharomyces cerevisiae pada hijauan (Hausler, 2007) dan Aspergillus flavus pada beras (Winarno, 1992). Kandungan serat kasar yang

diperoleh pada penelitian ini yaitu 14,00-18,93% lebih rendah jika dibandingkan dengan penelitian Fitriani dan Asyari (2017) yang memperoleh kandungan serat kasar yaitu 20,79-21,01% pada pakan komplit berbahan dasar tongkol jagung, ini menunjukkan bahwa pakan komplit pada penelitian ini mempunyai kualitas yang baik sampai masa penyimpanan 2 bulan.

(36)

36 KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwasemakin lama penyimpanan ransum komplit, maka kandungan protein kasar semakin menurun, dan kandungan serat kasar semakin meningkat. Silase ransum komplit dalam semua bentuk masih mempunyai kualitas yang baik pada penyimpanan 2 bulan.

Saran

Sebaiknya pakan komplit yang diberikan pada ternak disimpan tidak lebih dari 2 bulan dan dilakukan penelitian waktu penyimpanan yang lebih lama.

(37)

37 DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, 1994. Ilmu Makanan Ternak Unggas. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Cho, K. Y., K. H. Yung, & S. T. Chang. 1982. Preservation of cultivated mushrooms In : Chang, S. T. and Quimio, T. H., (Eds).

TropicalMushrooms : biological natureand cultivation method. The Chinese University Press, Hongkong. Page 7.

Fachiroh, L., B.W.H.E. Prasetiyono dan A. Subrata. 2012. Kadar Protein Dan Urea Darah Kambing Perah Peranakan Etawa Yang Diberi Wafer Pakan Komplit Berbasis Limbah Agroindustri Dengan Suplementasi Protein Terproteksi. Animal Agriculture Journal, Vol. 1. No. 1, 2012, p 443 – 451.

Fitriani dan Hasyim, A. 2017. Kandungan Protein Kasar dan Serat Kasar Pakan Komplit Berbasis Tongkol Jagung Dengan Penambahan Azolla sebagai Pakan Ruminansia. Jurnal Galung Tropika, Vol 6 (1), Hlm 16-17.

Gomez, K.A.,A. Gomez. 2010. Prosedur Statistik untuk Penelitian Pertanian (Terjemahkan) Endang Sjamsuddin dan J.S. Baharsjah. Edisi Kedua. UI Press. Jakarta.

Hall, C.W. 1980. Drying and Storage of Agricultural Crops. The AVI publishing co., Inc Westport. Connecticut.

Hermayanti, Yeni, Eli Gusti. 2006. Modul Analisa Proksimat. Padang: SMAK 3 Padang.

Hausler, A. 2007. Fungi. www.microbeworld.org. [20 Juli 2017].

Hanafi, N.D., 2008, Teknologi Pengawetan Pakan Ternak. DepartemenPeternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Kamal, M. 1998. NutrisiTernak I Rangkuma. Lab Makanan Ternak. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, UGM. Yogyakarta.

Krisnan, Rantan dan Ginting, S. P. 2009. Penggunaan solid ex-decanter sebagai perekat pembuatan pakan komplit berbentuk pelet: evaluasi fisik pakan komplit berbentuk pelet.Loka penelitian kambing potong.Wartazoa vol.

19 no. 2 th. 2009. 64-75.

Knaus, W., K.Luger, W.Zollitsch, H. Gufler, L.Gruber, C. Murauerand, F.

Lettner. 1999. Effect sofgrass clobber-pellets and wholeplantmaize- pellets on the feed in take and performance of dairy cows. Anim. Feed Sci. Technol. 81: 265 – 277.

(38)

38 Lebdosukoyo, S. 1983. Pemanfaatan limbah pertanian untuk menunjang

kebutuhan pakan ruminansia. Pros.Pertemuan Ilmiah Ruminansia Besar. Fakultas Peternakan. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Hal 22-23

Lammers, B. P., A. J. Heinrichs and V. A. Ishler. 2003. Use of total mixed rations for diary cows. Departement of Dairy and Animal Science, The Pennsyl vania State University. http://www.das.psu.edu~dairynutritiod documents. (24 Maret 2013).

Lendrawati, M. 2008. Kualitas fermentasi dan nutrisi silase ransum komplit berbasis jagung, sawit dan ubi kayu in vitro. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2008. Hlm. 212-219.

Murtidjo. 1987. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Yogyakarta: Kanisius.

Masyadi. 2010. Pakan Lengkap Silase Komplit.

http://masyadikumpulanartikelkuliah.blogspot.com/2010/05/pakan lengkap-silasekomplit.html. Diakses pada tanggal 15 Juli 2017.

Mc Donald, P. R., A. Edwards, J. F. D. Greenhalg dan C. A. Morgan. 2002.

Animal Nutrition 6th Edition. Longman Scientific and Technical Co.

Published in The United States with John Willey and Sons Inc, New York.

Nangudin, B. 1982. Pengaruh lama penyimpanan bahan makanan dalam beberapa macam pembungkus terhadap pertumbuhan jamur dan hubungannya dengan aflatoksin. Karya Ilmiah. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Hlm 7.

Pomeranz, Y. 1989. Biochemical, Functional and Nutritive Changes During Storage. Journal.In : C. M. Christensen (ed). Storage of Cereal Chemist, St. Paul, Minnesota. Vol 1:P. 5-7

Sofyan, L. A. Dan L. Aboenawan. 1993. Kimia Makanan Ternak. Proyek Peningkatan Mutu Perguruan Tinggi. Penerbit. Institut Pertanian Bogor.

Bogor.

Sutardi, T. 1980. Peningkatan mutu hasil limbah lignoselulosa sebagai makanan ternak.Fakultas Peternakan IPB. Bogor.

Siregar, S. B., 1994. Ransum Ternak Ruminansia. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sutigno, P. 1994. Teknologi papan partikel. Jurnal.Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan dan Sosial Ekonomi Kehutanan. Bogor.

Hlm 9.

Soesarsono. 1988. Teknologi Penyimpanan Komoditas Pertanian. Penerbit: Sinar Tani, Bogor.

(39)

39 Syamsu, J. A. 2002. Pengaruh waktu penyimpanan dan jenis kemasan terhadap kualitas dedak padi. Buletin Nutrisi dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan.Universitas Hasanuddin. Makassar.Vol 1(2) : 75-83.

. 2003. Daya dukung limbah pertanian sebagai sumber pakan ternak ruminansia di Indonesia. Bulletin. Wartazoa 13(1) :Hlm 30-37.

Sartini. 2003. Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik In Vitro Silase Rumput Gajah pada Umur Potong dan Level Aditif yang Berbeda. J.

Pengembangan Peternakan Tropis.

Thomas, M. T. Van Vliet and A. F. B. Van Der Poel. 1998. Physical quality of pelleted animal feed 3. Contribution offeed stuffcomponents. Anim.

Feed Sci. Technol. 70 : 59 – 78.

Trisyulianti, E. 1998. Pembuatan wafer rumput gajah untuk pakan ruminansia besar. Pros.Seminar Hasil-hasil Penelitian Institut Pertanian Bogor.

Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Hlm 87-99.

Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S.

Lebdosoekojo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

. .1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Penerbit: Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Wallace, J. dan A. Chesson. 1995. Biotechnology in Animal Fedds and Animal Feeding. Nutrition Division Rowett Research Institute Bucksburn.

Aberdeen.

Winarno. 1992. Kimia Pangan dan Gizi. Penerbit P.T Gramedia Pustaka Utama.

Jakarta.

. .1997. Kimia Pangan Gizi. Edisi Kedua. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Wijandi, S. 1995. Teknik pengolahan dan penyimpanan hasil panen. Skripsi.

Departemen Teknologi Hasil Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Bogor. Hlm 8.

Zakariah, M .A, 2012. Fermentasi Asam Laktat Pada Silase. Fakultas Peternakan.

Universits Gajah Mada. Yogyakarta.

(40)

40 Lampiran 1. Hasil Analisis Sidik Ragam (Silase Ransum Komplit Bentuk Pellet, Silase Ransum Komplit Bentuk Blok, dan Silase Ransum Komplit) dan Lama Penyimpanan (0, 1, dan 2 bulan) Terhadap Kandungan Protein Kasar (PK)Menggunakan Statistik SPSS.

Between-Subjects Factors

Value Label N

Bentukpakan

1.00 Pellet 9

2.00 Block 9

3.00 Silase 9

LamaPenyimpanan

1.00 0 bulan 9

2.00 1 bulan 9

3.00 2 bulan 9

Ulangan

1.00 Ulangan 1 9

2.00 Ulangan 2 9

3.00 Ulangan 3 9

Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Proteinkasar

Source Type III Sum

of Squares

df Mean Square F Sig.

Corrected Model 75.268a 10 7.527 4.071 .006

Intercept 6762.102 1 6762.102 3657.755 .000

Bentukpakan 6.447 2 3.224 1.744 .207

LamaPenyimpanan 55.579 2 27.790 15.032 .000

Ulangan .553 2 .276 .150 .862

Bentukpakan * LamaPenyimpanan 12.688 4 3.172 1.716 .196

Error 29.579 16 1.849

Total 6866.949 27

Corrected Total 104.847 26

a. R Squared = .718 (Adjusted R Squared = .542)

(41)

41

Homogeneous Subsets

Proteinkasar Duncana,b

Bentukpakan N Subset

1

Pellet 9 15.1456

Block 9 16.0589

Silase 9 16.2722

Sig. .114

Means for groups in homogeneous subsets are displayed.

Based on observed means.

The error term is Mean Square(Error) = 1.849.

a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 9.000.

b. Alpha = 0.05.

Homogeneous Subsets

Proteinkasar Duncana,b

LamaPenyimpanan N Subset

1 2

0 bulan 9 13.8600

1 bulan 9 16.3722

2 bulan 9 17.2444

Sig. 1.000 .192

Means for groups in homogeneous subsets are displayed.

Based on observed means.

The error term is Mean Square(Error) = 1.849.

a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 9.000.

b. Alpha = 0.05.

(42)

42 Lampiran 2. Hasil Analisi Sidik Ragam (Silase Ransum Komplit Bentuk Pellet, Silase Ransum Komplit Bentuk Blok, dan Silase ransum Komplit) dan Lama Penyimpanan (0, 1, dan 2 bulan) Terhadap Kandungan Serat Kasar (SK)Menggunakan Statistik SPSS.

Between-Subjects Factors

Value Label N

Bentukpakan

1.00 Pellet 9

2.00 Block 9

3.00 Silase 9

LamaPenyimpanan

1.00 0 bulan 9

2.00 1 bulan 9

3.00 2 bulan 9

Ulangan

1.00 Ulangan 1 9

2.00 Ulangan 2 9

3.00 Ulangan 3 9

Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: SeratKasar

Source Type III Sum of

Squares

df Mean Square F Sig.

Corrected Model 50.355a 10 5.036 7.782 .000

Intercept 4340.364 1 4340.364 6707.970 .000

Bentukpakan 6.217 2 3.108 4.804 .023

LamaPenyimpanan 32.924 2 16.462 25.442 .000

Ulangan 1.815 2 .908 1.403 .275

Bentukpakan * LamaPenyimpanan 9.399 4 2.350 3.632 .027

Error 10.353 16 .647

Total 4401.072 27

Corrected Total 60.708 26

a. R Squared = .829 (Adjusted R Squared = .723)

(43)

43

Homogeneous Subsets

SeratKasar Duncana,b

Bentukpakan N Subset

1 2

Pellet 9 12.0722

Silase 9 12.7189 12.7189

Block 9 13.2456

Sig. .107 .184

Means for groups in homogeneous subsets are displayed.

Based on observed means.

The error term is Mean Square(Error) = .647.

a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 9.000.

b. Alpha = 0.05.

Homogeneous Subsets

SeratKasar Duncana,b

LamaPenyimpanan N Subset

1 2

2 bulan 9 11.8622

1 bulan 9 11.9344

0 bulan 9 14.2400

Sig. .851 1.000

Means for groups in homogeneous subsets are displayed.

Based on observed means.

The error term is Mean Square(Error) = .647.

a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 9.000.

b. Alpha = 0.05.

(44)

44 Lampiran 4. Dokumentasi

1. Pencacahan Rumput Gajah

2. Pencampuran Pakan Komplit

(45)

45 3. Pembuatan Pellet, Blok, dan Silase

4. Analisis Kandungan Protein Kasar dan Serat Kasar

(46)

46 RIWAYAT HIDUP

Mutmainna (I111 13 514)Lahir di Enrekang pada Tanggal 28November 1995, Penulis adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Anak dari pasangan Muh. Saleh dan Darna.

Mengenyam pendidikan tingkat dasar pada SDN 106 Panette (2007), kemudian melanjutkan pendidikan lanjutan pertama pada SMP Negeri 2 Enrekang (2010). Dan melanjutkan pendidikan menegah SMK-SPP Negeri Rappang (2013), setelah menyelesaikan pendidikan SMK penulis melanjutkan pendidikan pada salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin melalui jalur POSK pada tahun 2013. Selama kuliah penulis pernah aktif menjadi pengurus dilembaga kemahasiswaan Humanika UH (Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak Universitas Hasanuddin Makassar) periode 2015-2016.

Referensi

Dokumen terkait

Keuntungan basis dari bahan ini adalah penampilan yang baik, mudah dalam pembuatannya, permukaan akhir yang baik, dan ikatan kimia yang sangat baik. Namun disamping keuntungan,

Jika dua buah permukaan benda saling bersentuhan dan kedua benda itu saling bergerak satu sama lain atau salah satunya diam, maka terjaidi sebuah gaya pada permukaan

Menurut Lodang (1994), penggunaan pestisida disamping dapat memberikan keuntungan juga dapat menimbulkan kerugian. Keuntungan yang didapat antara lain: 1) dapat meningkatkan

Sedangkan dari kemampuan menahan beban maksimum SAMI berupa wire mesh mampu menahan beban 5,7 kali lebih baik dari pada jika di bandingkan dengan benda uji

Benda uji pengujian lentur berjumlah 15 buah yang terdiri dari 6 buah balok pengujian lentur masing-masing kayu, 3 buah balok pengujian lentur laminasi dengan penghubung geser

Kadar air wafer adalah jumlah air yang masih tinggal di dalam rongga sel, rongga intraseluler dan antar partikel selama proses pengerasan perekat Bahan pakan yang

GeckskinTM adalah produk bahan kain perekat tipis yang hanya dengan seukuran kartu nama saja bahan ini mampu menahan beban lebih dari 300 kg jika ditempelkan pada permukaan

Menurut Packham (http://people.bath.ac.uk/mssdep/dep70yrs.htm), pada saat perekat tidak dapat membasahi permukaan sirekat secara sempurna (terjadi karena termodinamika