1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Pernikahan dini adalah pernikahan yang di lakukan remaja dibawah usia 20 tahun yang seharusnya belum siap untuk melaksanakan pernikahan. Pada masa remaja juga merupakan masa yang rentan akan resiko kehamilan karena pernikahan dini. Pernikahan dini atau pernikahan di bawah umur saat ini masih menjadi suatu fenomena yang sering terjadi dan sangat mengkhawatirkan karena banyak dampak yang akan di rasakan oleh pasangan yang melakukan pernikahan dini khususnya pada perempuan. Pada kalangan remaja pernikahan dini sendiri dianggap sebagai suatu jalan keluar dari perilaku seks bebas (Anwar &
Rahmah, 2016)
Pernikahan dini memberikan pengaruh bagi kesejahteraan keluarga dan dalam masyarakat secara keseluruhan. Perempuan yang kurang berpendidikan dan tidak siap menjalani perannya sebagai ibu akan kurang mampu untuk mendidik anaknya, sehingga anak akan bertumbuh dan berkembang secara kurang baik yang dapat merugikan masa depan anak tersebut (Yudisia, 2016)
Pernikahan dini adalah masalah besar karena memiliki dampak kesehatan yang besar.
Dampak dari pernikahan dini sendiri seperti meningkatnya kemungkinan kehamilan yang tidak di inginkan, terminasi kehamilan, lahir mati, keguguran, komplikasi selama kehamilan atau persalinan, gangguan pada kesehatan mental. Secara fisik remaja yang hamil kemudian melahirkan beresiko mengalami kematian saat melahirkan dan sangat rentan terhadap cedera terkait kehamilan. Selain itu pernikahan usia dini sering menyebabkan terganggunya kesehatan psikis atau mental wanita. Salah satunya adalah wanita yang berusia dini rentan menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan tidak memiliki pengetahuan
bagaimana cara terbebas dari kekerasan tersebut. Kekerasan dalam rumah tangga sering terjadi dalam pernikahan dini karena belum siapnya mental dari kedua pasangan yang menikah untuk menghadapi masalah-masalah yang muncul.
Data dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak (KPPPA) menyebutkan bahwa satu dari enam anak perempuan di Indonesia menikah sebelum umur 18 tahun. KPPA sendiri mencatat setiap tahun ada 340.000 anak yang menikah sebelum genap berusia 18 tahun di Indonesia. Kasus pernikahan dini yang terjadi di Indonesia meningkat tiap tahunnya. Menikah di usia dini merupakan sebuah realita yang harus dihadapi terutama di Indonesia, karena Indonesia sendiri merupakan negara berkembang.
Data dari Biro Pusat Statistik (BPS) juga menunjukan bahwa praktek pernikahan dini masih umum terjadi di Indonesia. Data ini ditunjukan melalui data statistik angka kelahiran menurut usia wanita berdasarkan periode waktu pada tahun 2009 untuk daerah perkotaan di Indonesia terdapat 29% wanita usia muda yang melahirkan di usia 15 sampai 19 tahun, sedangkan di daerah pedesaan justru menunjukan angka lebih tinggi yaitu 58% dan wanita yang melahirkan di usia 15 sampai 19 tahun. Data dari BKKBN menunjukan tingginya pernikahan di bawah usia 16 tahun di Indonesia, yaitu mencapai 25% dari jumlah pernikahan yang ada. Di daerah Jawa Timur sendiri memiliki jumlah presentasi pernikahan dibawah umur terbesar yaitu 39,43% jika dibandingkan dengan Jawa Barat sebesar 36% dan Jawa Tengah 27,84%.
Data dari Pusat Kajian Gender dan Seksualitas Indonesia tahun 2015 menyebutkan Indonesia berada pada peringkat kedua di kawasan Asia Tenggara dengan angka pernikahan dini yakni sekitar dua juta dari 7,3 juta perempuan Indonesia di bawah umur 15 tahun.
Sedangkan kasus perceraian di Pengadilan Agama di seluruh Indonesia sepanjang 2011
mencapai angka tertinggi. Jumlah suami dan istri yang mengajukan perceraian sebanyak 314.61. Sedangkan untuk tahun 2012 sebanyak 346.478 perkara. Perbandingan pada tahun 2013 hingga 2014 mengalami tingkat angka perceraian hampir mencapai 10% dibanding jumlah pernikahan. Dimana dari perkara-perkara yang ada salah satu penyebabnya yaitu pernikahan usia dini. Perceraian banyak terjadi pada pasangan muda dengan usia pernikahan kurang dari 10 tahun, hal ini dikarenakan pada pasangan yang menikah usia dini memiliki tingkat emosi atau mental yang masih labil.
Pernikahan untuk wanita di perbolehkan oleh Undang-Undang No 1 tahun 1974 tentang perkawinan Bab 2 pasal 7 ayat 1 diperbolehkan jika sudah berusia 16 tahun, akan tetapi pada undang-undang perkawinan tersebut juga mengamanatkan pendewasaan pernikahan sebagaimana tertuang dalam Bab 2 pasal 6 ayat 2 bahwa untuk melangsungkan pernikahan seorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapatkan izin kedua orangtua.
Rata-rata usia pernikahan adalah 25 tahun untuk perempuan dan 27 tahun untuk laki- laki. Usia ideal menikah ini dapat mengurangi tingkat kejadian perceraian. Sedangkan pernikahan dini atau pernikahan yang dilakukan pada usia muda dimana usia pasangan tersebut belum siap secara medis dan psikologi. Faktor – faktor penyebab pernikahan dini adalah pergaulan bebas yang dilakukan oleh remaja, selain itu adanya faktor dorongan dari keluarga juga faktor pendidikan yang rendah yang di sebabkan oleh kondisi ekonomi keluarga (Naibaho, 2013: 72 dalam Khaparistia & Edward, 2015)
Pernikahan pada usia dini menyebabkan dampak pada kehidupan. Dampak yang sering terjadi adalah perubahan pada kehidupan sosial individu, ekomoni, fisiologi dan khususnya pada psikologi perempuan. Secara psikologis pernikahan seseorang yang masih
belum cukup usia atau masih di bawah umur memberikan dampak yang berpotensi menjadi sebuah trauma terhadap individu tersebut. Hal ini di akibatkan ketidaksiapan menjalankan tugas yang muncul setelah adanya perkawinan, sementara hal ini tidak didukung dengan kemampuan dan kematangan diri yang dimiliki. Di usia remaja dimana di yakini sebagai periode penting dalam perkembangan fisik dan psikis yang sama cepat juga memerlukan remaja untuk menyesuaikan diri didalam sikap dan mental remaja. Dampak lain dari pernikahan dini adalah rentan terkena kanker. Perempuan yang menikah di bawah umur 20 tahun beresiko terkena kanker leher rahim (Khaparistia & Edward, 2015)
Selain itu pasangan yang menikah pada usia dini juga mengalami gangguan mental.
Ciri dari gangguan mental yang terjadi pada remaja yang menikah pada usia dini biasanya cenderung menutup diri dari lingkungan sekitar dan menutup kondisi yang sedang di alami.
Gejala tersebut muncul saat mental remaja belum berkembang secara matang dan mulai merasa cemas.
Pernikahan dini sendiri masih menjadi salah satu fenomena yang sangat mengkhawatirkan di dunia. Remaja perempuan menjadi kelompok yang paling terkena dampak. Setidaknya terdapat 51 juta remaja perempuan berumur 15 – 19 tahun yang telah menikah di area Asia Selatan dan Afrika (Mathur, Greene, Malhotra dalam ICRW, 2012).
Pernikahan pada remaja menimbulkan dampak pada setiap aspek kehidupan. Dampak yang sering terlihat adalah perubahan pada aspek sosial individu, aspek ekonomi, fisiologi dan pada aspek psikologis perempuan. Secara psikologis dampak dari pernikahan dini ini adalah seseorang yang masih belum cukup usia atau di bawah umur dapat berpotensi menjadi sebuah trauma. Kemunculan trauma ini diakibatkan oleh ketidaksiapan menjalankan tugas- tugas setelah menikah. Pada remaja yang melakukan pernikahan rentan terhadap kegagalan
dalam meraih kesejahteraan psikologis. Hal ini berkaitan dengan kematangan emosional dalam menyelesaikan konflik rumah tangga.
Menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) usia perempuan untuk hamil dan melahirkan adalah 20 sampai 30 tahun, lebih atau kurang dari usia tersebut adalah beresiko. Kesiapan seorang perempuan untuk hamil dan melahirkan atau mempunyai anak ditentukan oleh kesiapan dalam tiga hal yaitu kesiapan fisik, kesiapan mental, dan kesiapan sosial dan ekonomi. Selain itu pernikahan pada usia remaja dapat berdampak pada ketidakharmonisan dalam rumah tangga hal ini di karenakan secara psikologi pasangan yang menikah pada usia dini tidak memiliki kesiapan emosi atau mental. Karena belum adanya kematangan mental tersebut bisa menyebabkan terjadinya perceraian pada pasangan yang menikah usia dini.
Berdasarkan latar belakang dan hasil studi pendahuluan diatas, menunjukan bahwa ada beberapa dampak yang terjadi akibat melakukan pernikahan usia dini salah satunya yaitu dampak terhadap psikologis perempuan, maka dari itu disusunlah penelitian tentang gambaran kesehatan mental wanita yang melakukan pernikahan usia dini.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan penelitiannya itu
“Apa gambaran kesehatan mental wanita yang melakukan pernikahan usia dini”
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kesehatan mental wanita yang melakukan pernikahan usia dini.
1.3.2. Tujuan Khusus
a. Melihat gambaran kondisi mental wanita yang melakukan pernikahan usia dini
1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan tambahan materi khususnya dalam pengetahuan kepada remaja tentang dampak psikologi dari pernikahan dini dalam kehidupan.
1.4.2. Manfaat Praktis 1. Bagi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi institusi pendidikan, yaitu untuk menjadikan ilmu baru dalam pengetahuan tentang dampak kesehatan mental wanita yang melakukan pernikahan dini.
2. Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat memberikan pengalaman dalam melakukan riset keperawatan dan menambah ilmu pengetahuan tentang gambaran-gambaran kesehatan mental wanita yang melakukan pernikahan usia cukup.
3. Bagi Masyarakat
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan mengenai dampak dari pernikahan usia dini atau pernikahan di bawah usia.
4. Bagi Profesi Keperawatan
Hasil Penelitian ini dapat dijadikan menjadi informasi baru bagi peneliti selanjutnya.
1.5. Keaslian Penelitian
Judul skipsi Perbandingan psikologis wanita dengan pernikahan usia dini dan psikologi wanita dengan pernikahan usia cukup belum ada, Adapun jenis penelitian yang berhubungan :
1. Menurut Rizka Oktaviana Wulan Dewi, Ratna Sari Hardiani, dan Erti Ikhitiarini Dewi (2014), yang berjudul “The Correlation Berween History of Marriage Age to Mother’s in Newborn
Care in Work Area Public Health Center of Silo Jember Regency”. Pada penelitian ini di jelaskan
kesiapan dalam berkeluarga biasa di pengaruhi oleh usia pernikahan. Bayi yang lahir dari seorang remaja beresiko lebih tinggi yang dapat menyebabkan kematian ibu. Dalam penelitian ini di bagi menjadi dua kelompok yaitu ibu dengan riwayat usia dini dan ibu dengan riwayat usia pernikahan cukup. Setelah di lakukan intervensi pada saat penelitian ada hubungan yang signifikan antara pernikahan dengan sikap ibu dalam perawatan bayi baru lahir. Perawatan bayi baru lahir yang di lakukan oleh ibu dengan riwayat pernikahan usia dini mempunyai dampak negatif pada tingkat kepercayaan empat kali lebih besar di bandingkan dengan pernikahan usia cukup. Pada jurnal pembanding di bagi menjadi dua kelompok yaitu ibu dengan riwayat usia dini dan ibu dengan riwayat usia pernikahan cukup. Perbedaan penelitian saya dengan peelitian diatas adalah metode yang saya gunakan adalah metode studi literature/literature review dan penelitian yang saya lakukan adala berfokus pada perbandingan psikologi wanita yang menikah usia dini dengan wanita yang menikah usia cukup
2. Menurut Gimba Victor Kyari PhD (2014), yang berjudul “The Socio-Economic Effect of Early Marriage in North Western Nigeria”. Dari hasil penelitian yang di lakukan pada seratus orang
responden dengan menggunakan metode sampling acak dan stratified sederhana. Kuisoner diberikan kepada responden yang tinggal di Zaria dan kuisoner tersebut diambil melalui koleksi langsung dari responden. Dari penelitian di dapatkan tiga hipotesis terpisah yang diuji. Hipotesis pertama menyatakan tidak ada hubungan yang signifikan antara perkawinan dini dan pendidikan anak perempuan. Hipotesis kedua menyatakan bahwa tidak ada konsekuensi dari pernikahan dini pada anak perempuan. Pada jurnal pembanding melakukan pemberian kuisioner dan mendapatkan hasil hipotesis yang menjelaskan tidak ada hubungan antara pernikahan dini dengan pendidikan anak perempuan. Pada penelitian
yang akan saya lakukan adalah menggunakan metode studi literature/literature review untuk mengetahui perbandingan psikologi wanita yang melakukan pernikahan dini dengan wanita yang melakukan pernikahan cukup usia.