• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI PENGHIMPUNAN DANA TABUNGAN MUDHARABAH PADA BMT AL-MA ARIF WAY KANAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "STRATEGI PENGHIMPUNAN DANA TABUNGAN MUDHARABAH PADA BMT AL-MA ARIF WAY KANAN"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

50 STRATEGI PENGHIMPUNAN DANA TABUNGAN MUDHARABAH

PADA BMT AL-MA’ARIF WAY KANAN

1Neng Hilmi Fitriani, 2Asmuni

1STAI AL-Ma’arif Way Kanan, 2STAI AL-Ma’arif Way Kanan

1[email protected], 2[email protected]

ABSTRAK

BMT Al-Ma'arif Way Kanan merupakan lembaga keuangan syariah dimana didalamnya terdapat produk Tabungan Mudharabah. Yang melatar belakangi penelitian ini adalah belum banyak masyarakat yang mengetahui penghimpunan dana tabungan mudharabah pada BMT Al-Ma'arif Way Kanan. Dengan menggunakan rumusan masalah “bagaimana strategi penghimpunan dana tabungan Mudharabah BMT Al-Ma'arif Way Kanan tahun 2021.

Adapun tujuan penelitian ini adalah mengetahui strategi Penghimpunan Dana Tabungan Mudharabah Pada BMT Al-Ma'arif Way Kanan. Dalam hal penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian lapangan yaitu mengenai fakta-fakta dan permasalahan yang ada dilapangan, dengan metode pengumpulan statistikmelalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Kemudian penulis menggunakan metode pendekatan deduktif yaitu suatu metode dengan menarik kesimpulan dari hal-hal atau suatu gejala yang bersifat umum yang baru saja dibuat khusus.

Berdasarkan penelitian dan analisis yang penulis lakukan pada BMT Al- Ma'arif Way Kanan dalam penghimpunan dana tabungan Mudharabah memiliki beberapa strategi, yaitu: Pembukaan Rekening Tabungan Mudharabah yang Mudah dan Murah, Penerimaan Setoran Tabungan Mudharabah Datang Langsung ataupun dengan layanan pengumpulan, Perhitungan Bagi Hasil Tabungan Mudharabah yang Menguntungkan, Penarikan Tabungan Mudharabah yang Mudah dan Bisa dengan Layanan Collecting, Penutupan Rekening Tabungan Mudharabah yang Mudah dan Bisa Diwakilkan dan dengan melalui strategi Advertising, Sales Promotion, Publicity.

Kata Kunci: Dana, Mudharabah, BMT.

A. Pendahuluan

Salah satu kunci keberhasilan lembaga keuangan manajemen adalah bagaimana lembaga keuangan mendapatkan kepercayaan masyarakat melalui penghimpunan dana masyarakat sehingga memanfaatkan sebagai perantara moneter berjalan dengan baik. Untuk mendukung hal tersebut lembaga keuangan harus dapat memberikan nilai lebih kepada nasabah, baik dari segi layanan, kualitas kerja, produk sampai pada tingkat kepercayaan disamping kondisi moneter dan organisasi yang sehat, selain itu dalam teknologiteknologi dewasa ini, persaingan teknologi juga menjadi satu tolak ukur yang penting.

Menurut SK Menkeu RI No. 792 Tahun 1990 yang dikutip oleh Andri

(2)

51 Soemitra, lembaga keuangan adalah “semua badan yang kegiatannya bidang keuangan, melakukan penghimpunan dan penyaluran dana kepada masyarakat terutama guna membiayai investasi”.1 Sedangkan bank adalah seluruh lembaga untuk meminjamkan uang, mengeluarkan uang kertas atau yang membantu menyimpan uang.2 Kedua badan tersebut sama-sama mempunyai fungsi utama yaitu menerima dana dari nasabah, mengelola dana/menghimpun data tersebut kemudian menyalurkan kembali kepada nasabah.

Sejarah mencatat, asal mula dikenalkannya perbankan adalah pada zaman kerajaan tempo dulu di daratan Eropa. Kemudian usaha perbankan ini berkembang ke Asia Barat oleh para pedagang. Perkembangan perbankan di Asia, Afrika dan Amerika dibawa oleh bangsa Eropa pada saat melakukan penjajahan ke Negara jajahannya, baik di Asia, Afrika maupun benua Amerika.3

Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, kegiatan operasional perbankan berkembang lagi menjadi tempat-tempat penyimpanan uang atau yang disebut sekarang ini kegiatan simpanan. Selanjutnya pengembangan kegiatan dengan peminjaman uang. Uang yang disimpan masyarakat kemudian oleh perbankan dipinjamkan kembali ke masyarakat yang membutuhkannya.

Lembaga keuangan jasa-jasalainnya menyusul sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat yang semakin beragam. Akibat dari kebutuhan masyarakat akan jasa keuangan semakin meningkat dan beragam, maka peranan dunia perbankan semakin dibutuhkan oleh seluruh lapisan masyarakat baik di Negara maju maupun Negara berkembang. Bahkan dewasa ini, perkembangan dunia perbankan semakin pesat dan modern, perbankan mendominasi perkembangan ekonomi dan bisnis satu Negara. Bahkan aktivitas dan keberadaan perbankan sangat menentukan kemajuan suatu Negara.4

Istilah bank memang tidak dikenal dalam khazanah keilmuan Islam.

Yang dikenal adalah istilah Jihbiz. Kata Jihbiz berasal dari bahasa Persia yang berarti penagih pajak. Istilah Jihbiz mulai dikenal pada zaman Mu’awiyah, yang ketika itu fungsinya sebagai penagih pajak dan penghitung pajak atas barang dan tanah. Di zaman Bani Abbasiyah, Jihbiz popular sebagai suatu profesi penukaran uang. Pada zaman itu, mulai diperkenalkan uang jenis baru yang disebut fulus yang terbuat dari tembaga. Sebelumnya uang yang digunakan adalah dinar (terbuat dari emas) dan dirham (terbuat dari perak).

Dengan munculnya fulus, timbul kecenderungan di kalangan para gubernur

1 Andri Soemitra, Bank & Lembaga Keuangan Syariah, (Jakarta: Kencana, 2014), h. 27

2 Safuan Alfandi & Nurmadi H. Sumarta, Kamus Ekonomi, (Solo: Sendang Ilmu, tt), h. 84

3 Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan lainnya, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013), h.

27

4 Ibid, h. 27-28

(3)

52 untuk mencetak fulus-nya masing-masing, sehingga beredar banyak jenis fulus dengan nilai yang berbeda-beda.5

Selanjutnya menurut Pasal 1 Ayat 2 Undang-Undang No. 10 tahun 1998 tentang perubahan Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan yang dimaksud dengan bank adalah badan usaha yang menghimpundari masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lain dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Secara umum, berdasarkan jenisnya, di Indonesia terdapat dua jenis bank yaitu bank konvensional atau bank yang melakukan usahanya dengan berdasarkan prinsip konvensional dan bank syariah atau bank yang melakukan usaha syariah.

Bank syariah adalah bank yang menggunakan prinsip bagi hasil secara adil, berbeda dengan bank konvensional yang bersandarkan pada bunga. Bank syariah juga dapat diartikan sebagai bank yang dalam prinsip, operasional, maupun produknya dikembangkan dengan berlandaskan pada nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.6

Bank syariah merupakan bank yang secara operasionalnya berbeda dengan bank konvensional. Salah satu ciri khas bank syariah yaitu tidak menerima atau membebani bunga kepada nasabah, akan tetapi menerima atau membebankan bagi hasil serta imbalan lain sesuai dengan akad-akad yang diperjanjikan. Konsep dasar bank syariah didasarkan pada Al-Qur’an dan hadits. Semua produk dan jasa yang ditawarkan tidak boleh bertentangan dengan isi kandungan Al-Qur’an dan hadits Rasulullah SAW.7

Menurut Sudarsono yang dikutip oleh Irham Fahmi berpendapat bahwa yang dimaksud dengan bank syariah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa lain dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang peroperasi dan prinsip-prinsip syariah.8 Ada banyak pendapat mengenai bank syariah semua didefinisikan berdasarkan konsep Al- Qur’an, hadits, ijma’ dan qiyas.

Berdasarkan pengertian di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Bank adalah suatu lembaga keuangan yang mengeluarkan uang, menciptakan uang dan menyalurkan uang kepada masyarakat.

Sedangkan yang dimaksud dengan bank syariah adalah bank yang dalam operasionalnya menggunakan prinsip bagi hasil yang konsep dasarnya berdasarkan Al-Qur’an dan hadits.

5 Buchari Alma & Donni Juni Priansa, Manajemen Bisnis Syariah, (Bandung: Alfabeta:

2009), h. 6-7

6 Ibid, h. 7

7 Ismail, Perbankan Syariah, (Jakarta: Kencana. 2013), h. 29

8 Irham Fahmi, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya; Teori dan Aplikasi, (Bandung:

Alfabeta. 2014), h. 21

(4)

53 Adapun tujuan didirikannya lembaga keuangan syariah untuk mempromosikan dan mengembangkan penerapan prinsip-prinsip Islam, syariah dan tradisinya ke dalam transaksi keuangan dan perbankan serta bisnis lain yang terkait. Sistem ekonomi Islam telah berkembang seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu bentuk perwujudan mesin ekonomi syariah adalah berdirinya lembaga-lembaga keuangan syariah baik berupa lembaga keuangan maupun non-lembaga keuangan. Lembaga keuangan syariah dianggap sangat penting, khususnya dalam pengembangan sistem ekonomi kerakyatan. Mudharabah merupakan kesepakatan bagi hasil ketika pemilik modal menyediakan modal sepenuhnya untuk pengusaha untuk melakukan aktivitas sebelumnya dengan syarat keuntungan yang dihasilkan akan dibagi dua menurut kesepakatan yang ditentukan sebelumnya.

Dalam Al-Qur’an juga telah dijelaskan tentang mudharabah yaitu dalam Al-Qur’an surat al-Muzammil: 20 sebagai berikut:

... ِالله ِلْضَف ْنِم َن ْوُغَتْبَي ِض ْرَلأْا يِف َن ْوُب ِرْضَي َن ْو ُرَخَأ َو ...

Artinya: “…dan yang berjalan di bumi mencari sebagian karunia Allah…” (QS. Al-Muzammil: 20)9

Dengan adanya produk mudharabah ini diharapkan dalam transaksi bagi hasil antara bank syariah dengan nasabah akan terjalin dengan mudah, transparan, dan saling ikhlas. Karena dengan produk mudharabah keuntungan dan kerugian akan dibagi hasil bersama sesuai dengan kesepakatan antara bank dan nasabah yang melakukan akad perjanjian bagi hasil/mudharabah ini.

B. Metode Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian lapangan (field research). Sifat penelitian ini yaitu deskriptif analisis. Deskriptif adalah menggambarkan prilaku seseorang yang diamati dengan kata atau ucapan. Sedangkan analisis merupakan menyelidiki masalah yang belum diketahui kebenarannya. Jadi, deskriptif analisis adalah menggambarkan suatu peristiwa yang sedang diamati dengan apa adanya untuk mengetahui keadaan yang terjadi pada lapangan.

Adapun yang sebagai subyek penelitian adalah BMT Al-Ma’arif Way Kanan.

Metode pengumpulan data menggunakan Observasi, Wawancara (interview), dan Dokumentasi.

9Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, 2012), h.

847

(5)

54 C. Kajian Teori

1. Pengertian Penghimpunan Dana

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Penghimpunan ialah “proses, cara, perbuatan menghimpun”.10 Sedangkan dana ialah “uang yang disediakan untuk suatu keperluan; biaya”11.

Manajemen dana bank syariah adalah upaya yang dilakukan oleh lembaga bank syariah dalam mengelola atau mengatur posisi dana yang diterima dari aktivitas funding untuk disalurkan kepada aktivitas financing, dengan harapan bank yang bersangkutan tetap mampu memenui criteria- kriteria likuiditas, rentabilitas dan solvabilitasnya.12

Berdasarkan pendapat di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa penghimpunan dana adalah serangkaian tujuan dan sasaran, kebijakan dan aturan yang memberikan arah kepada usaha-usaha dalam menghimpun dan menerima dana dari nasabah oleh bank syariah berupa tabungan, deposito dan pembiayaan yang diterima serta dana sosial berupa zakat, infaq, shadaqah, waqaf dan hibah.

2. Penghimpunan dana yang sehat

Setiap para pejabat bank yang berhubungan dengan penghimpunan dana harus menempuh prosedur penerimaan dana yang sehat dan benar menurut prosedur persetujuan, dokumentasi, administrasi, serta pengawasan penghimpunan dana. Prosedur penerimaan dana yang sehat adalah sebagai berikut:

a. Setiap para calon nasabah harus melalui proses penilaian yang dilakukan secara objektif.

b. Penghimpunan dana yang diperoleh dari nasabah yang dinilai secara objektif, diyakini bahwa dana tersebut benar-benar diperoleh dari sumber yang halal.

3. Penghimpunan dana yang dihindari

Penghimpunan dana yang dihindari meliputi penghimpunan dana yang tidak sesuai syariah Islam dan kebijakan pemerintah diantaranya hasil korupsi dan perjudian. Adapun jenis penghimpunan dana yang berdasarkan tujuan yaitu:

a. Keamanan, dengan menggunakan akad titipan (wadi’ah)

b. Investasi, yaitu dengan menggunakan akad bagi hasil (mudharabah muqayyadah dan mudharabah mutlaqah)

c. Sosial, ini dalam bentuk zakat, infaq dan shadaqah, waqaf dan hibah.

10 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), h. 402

11 Ibid, h. 234

12 Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2015), h.

109

(6)

55 Beberapa jenis penghimpunan dana tersebut merupakan suatu opsi atau pilihan bagi nasabah, akan disalurkan kepada dana yang dimiliki. Dalam bentuk penghimpunan dana titipan untuk menjamin keamanan dana nasabah, atau dalam bentuk investasi guna kebutuhan masa depan nasabah, ataupun dana tersebut ditujukan untuk kepentingan social yaitu dengan cara zakat, infaq, shodaqoh dan lain sebagainya.

4. Macam-Macam Penghimpunan Dana

Prinsip operasional syariah ditetapkan dalam penghimpunan dana masyarakat adalah prinsip wadiah dan mudharabah.

a. Prinsip wadi’ah

Tabungan wadiah merupakan tabungan yang dijalankan berdasarkan akad wadiah, yaitu titipan murni yang harus dijaga dan dikembalikan setiap saat sesuai dengan kehendak pemiliknya. Berkaitan dengan produk tabungan wadiah, bank syariah menggunakan akad wadiah yad adh- dhamanah. Dalam hal ini nasabah bertindak sebagai penitip yang memberikan hak kepada Bank Syariah untuk menggunakan atau memanfaatkan uang atau barang titpannya, sedangkan Bank Syariah bertindak sebagai pihak yang dititipi dana atau barang yang disertai hak untuk menggunakan atau memanfaatkan dana atau barang tersebut.13 b. Prinsip mudharabah

Dalam hal ini Bank Syariah bertindak sebagai mudharib (pengelola dana), sedangkan nasabah bertindak sebagai shahibul mal (pemilik dana).

Bank Syariah dalam kapasitasnya sebagai mudharib, mempunyai kuasa untuk melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah serta mengambangkannya, termasuk melakukan akad mudharabah dengan pihak lain.14

D. Hasil dan Pembahasan

BMT Al-Ma'arif Way Kanan memiliki beberapa produk investasi salah satunya adalah produk Mudharabah yang merupakan produk unggulan dari BMT Al-Ma'arif Way Kanan. Tabungan Mudharabah merupakan Penarikan dan penyetorannya dapat dilakukan setiap saat selama jam kerja. Bagi hasil keuntungan yang diberikan setiap bulan di atas saldo rata-rata harian dan langsung menambahkan simpanan tersebut. Tabungan tersebut adalah simpanan yang menggunakan akad mudharabah. Dalam hal penghimpunan dana tabungan Mudharabah, BMT Al-Ma'arif Way Kanan memiliki beberapa strategi dalam memberikan pelayanan terhadap nasabahnya, yaitu dengan menerapkan strategi Marketing Mix diantaranya dalam hal:

13 Adiwarman A. Karim, Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010), h. 345

14 Ibid, h. 347

(7)

56 1. Product

a. Pembukaan Rekening Tabungan Mudharabah

Berdasarkan pengalaman penulis saat penelitian di BMT Al- Ma’arif Way Kanan, pembukaan rekening BMT Al-Ma’arif Way Kanan setoran awal minimal Rp 10.000. Dari pengalaman tersebut penulis memberikan analisa bahwa setoran awal pada BMT Al-Ma’arif Way Kanan ataupun Lembaga Keuangan Syariah lainnya berbeda, karena setoran awal untuk pembukaan rekening disesuaikan dengan kebijakan yang ditentukan oleh masing-masing Lembaga Keuangan Syariah tersebut. Tabungan Mudharabah sebesar Rp 25.000 sudah menjadi ketetapan dari pihak BMT Al-Ma’arif Way Kanan dan produk Tabungan Mudharabah tidak dikenakan biaya pemeliharaan rekening dan biaya administrasi bulanan.

b. Penerimaan Setoran Tabungan Mudharabah

Setoran Tabungan Mudharabah dilakukan dengan cara setoran tunai. Penyetoran bisa dilakukan dengan layanan jemput bola (collecting) atau mitra datang langsung ke kantor BMT Al-Ma’arif Way Kanan selama jam pelayanan masih buka. Layanan jemput bola atau collecting ini menjadi salah satu kelebihan yang diberikan oleh BMT Al-Ma’arif Way Kanan. Layanan jemput bola ini dapat mempermudah mitra untuk melakukan transaksi penyetoran. Dalam penerimaan setoran Tabungan Mudharabah ini mempunyai setoran minimal yaitu sebesar Rp 2.000 dan tidak mempunyai batas maksimal dalam penerimaan setoran.

c. Penarikan Tabungan Mudharabah

Dalam Penarikan Tabungan Mudharabah ini sama halnya dengan penerimaan setoran yang dapat dilakukan dengan langsung datang ke kantor BMT Al-Ma'arif Way Kanan maupun mengumpulkan. Jika mitra ingin melakukan penarikan tetapi tidak memiliki waktu untuk ke kantor BMT Al-Ma'arif Way Kanankemudian memberikan layanan terakumulasi untuk penarikan.

Dari sini dapat dianalisis bahwa BMT Al-Ma'arif Way Kanan tidak membatasi jumlah penarikan tabungan mudharabah. Tetapi BMT Al- Ma'arif Way Kanan mewajibkan mitra untuk menyimpan saldo minimum sebesar Rp 10.000 untuk tabungan mudharabah. Hal ini bertujuan, agar rekening tabungan mudharabah tetap memperoleh bagi hasil walaupun rekening tersebut tidak ada disetor. Selain itu saldo minimaljuga berguna sebagai dana cadangan untuk biaya penutupan rekening, apabila mitra yang bersangkutan tidak menggunakan lagi rekening tabungan tersebut.

(8)

57 d. Penutupan Rekening Tabungan Mudharabah

Dalam mekanisme penutupan Tabungan Mudharabah memiliki kebijakan penutupan tabungan yang tidak dapat diwakilkan. Sebenarnya kebijakan ini menjadi kendala bagi mitra, contohnya mitra yang berada di luar kota memberikan amanat kepada orang lain atau saudara untuk menutup rekening di BMI KCP Kota M BMT Al-Ma'arif Way Kanan.

Namun BMT Al-Ma'arif Way Kanan memberikan solusi dalam permasalahan ini, penutupan buku dapat diwakilkan dengan syarat adanya surat kuasa bermaterai dari pemilik buku rekening, identitas diri asli dari mitra pemilik buku rekening, hubungan antara yang diberi amanat dengan pemilik buku rekening dan mitra harus mengkonfirmasi kepada pemilik buku rekening apakah benar buku rekening tersebut akan dilakukan penutupan. Dapat diliat dari tujuan BMT Al-Ma'arif Way Kanan mengeluarkan kebijakan tersebut adalah upaya untuk mencegah terjadinya penipuan. Penipuan ini bisa terjadi bila ada seseoarang mengaku sebagai yang diberi amanat oleh pemilik rekening tabungan tersebut.

2. Price

a. Perhitungan Bagi Hasil Tabungan Mudharabah

Sistem bagi hasil adalah suatu sistem yang meliputi tata cara pembagian bagi hasil usaha antara penyedia dana dan pengelola dana.

pembagian hasil usaha ini dapat terjadi antara lembaga keuangan dengan penyimpan dana maupun antara lembaga keuangan dengan mitra penerima dana. Bagi hasil merupakan karakteristik umum dan landasan bagi operasional lembaga keuangan Islam secara keseluruhan. syariah, prinsipnya berdasarkan prinsipnya Secara al-mudharabah. Sarana untuk melakukan untuk melakukan perhitungan bagi hasil usaha antara pemilik dana dan pengelola dana, yang lazimnya disebut dengan “Perhitungan distribusi hasil usaha. BMT Al-Ma'arif Way Kanan menentukan proporsi bagi hasil sebesar 25%: 75%, 25% untuk mitra penyimpan dana dan yang 75% untuk pihak BMT Al-Ma'arif Way Kanan. Bagi hasil tersebut diberikan setiap bulan. Pada bulan pertama mitra sudah memperoleh bagi hasil, sebab perhitungan sistem bagi hasil berdasarkan saldo rata-rata harian yang dihitung setiap akhir bulan di BMT Al-Ma'arif Way Kanan.

Penerapan pemberian bagi kepada nasabah penyimpan dana dalam produk Tabungan Mudharabah sudah sesuai dengan ketentuan syari'ah, karena bagi hasil yang diberikan itu berdasarkan pada pendapatan yang diperoleh BMT Al-Ma'arif Way Kanan pada setiap bulannya. Dalam hal ini perhitungan harus dilakukan dengan cermat, sebab setiap keadaan yang membuat ketidakjelasan perhitungan akan menunjukkan suatu kontrak yang tidak sah.

(9)

58 3. Place

Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan dan penentuan lokasi BMT Al-Ma’arif Way Kanan adalah dengan pertimbangan sebagai berikut:

a. Dekat dengan lokasi pasar

b. Dekat dengan lokasi perumahan atau masyarakat

c. Mempertimbangkan jumlah pesaing yang ada dalm suatu lokasi.

Secara khusus ada dua faktor yan menjadi pertimbangan dalam penentuan lokasi BMT Al-Ma’arif Way Kanan, yaitu:

a. Faktor utama (primer)

Pertmbangan dalam faktor primer dalam penentuan lokasi BMT Al- Ma’arif Way Kanan adalah:

1) Tersedianya tenaga kerja, baik jumlah kualifikasi yang diinginkan.

2) Terdapat fasilitas pengangkutan seperti jalan raya, dan pusat keramaian.

3) Tersedianya sarana dan prasarana seperti listrik, telepon, dan sarana lainnya.

4) Sikap masyarakat.

b. Faktor sekunder

Pertimbangan dalam faktor sekunder dalam penentuan lokasi bank adalah:

1) Prospek perkembangan harga tanah, gedung, atau kemajuan di lokasi tersebut.

2) Kemungkinan untuk perluasan lokasi.

3) Terdapat fasilitas penunjang lain seperti pusat perbelanjaan atau perumahan.

4) Masalah pajak dan peraturan perburuhan di daerah setempat.

4. Promotion

Promosi merupakan kegiatan terakhir marketing mix yang terakhir.

Dalam kegiatan ini setiap bank berusaha untuk mempromosikan seluruh produk dan jasa yang dimilikinya baik langsung maupun tidak langsung.

Salah satu tujuan promosi bank adalah menginformasikan segala jenis produk yang ditawarkan dan berusaha menarik calon nasabah yang baru.

Bentuk-bentuk promosi yang digunakan BMT Al-Ma’arif Way Kanan untuk menarik nasabah antara lain:

a. Periklanan (Advertising)

b. Promosi Penjualan (Sales Promotion) c. Publisitas (Publicity)

d. Penjualan Pribadi (Personal Selling)

(10)

59 E. Kesimpulan

Disimpulkan bahwa dalam hal penghimpunan dana tabungan Mudharabah terdapat beberapa strategi yang dijalankan oleh BMT Al-Ma’arif Way Kanan. Adapun strategi yang dijalankan BMT Al-Ma’arif Way Kanan berprinsip kepada Marketing Mix yaitu:

1. Product

Adapun Strategi Product BMI KCP Kota Metro ialah sebagai berikur:

a. Pembukaan Rekening Tabungan Mudharabah yang Mudah dan Murah b. Penerimaan Setoran Tabungan Mudharabah Datang Langsung ataupun

dengan layanan collecting

c. Penarikan Tabungan Mudharabah yang Mudah dan Bisa dengan Layanan Collecting

d. Penutupan Rekening Tabungan Mudharabah yang Mudah dan Bisa Diwakilkan

2. Price

Perhitungan Bagi Hasil Tabungan Mudharabah BMT Al-Ma’arif Way Kanan menentukan proporsi bagi hasil sebesar 25% : 75%, 25%

untuk mitra penyimpan dana dan yang 75% untuk pihak BMT Al-Ma’arif Way Kanan.

3. Place

Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan dan penentuan lokasi BMT Al-Ma’arif Way Kanan adalah dengan pertimbangan sebagai berikut:

d. Dekat dengan lokasi pasar

e. Dekat dengan lokasi perumahan atau masyarakat

f. Mempertimbangkan jumlah pesaing yang ada dalm suatu lokasi.

4. Promotion

Bentuk-bentuk promosi yang digunakan BMT Al-Ma’arif Way Kanan untuk menarik nasabah antara lain:

a. Periklanan (Advertising)

b. Promosi Penjualan (Sales Promotion) c. Publisitas (Publicity)

d. Penjualan Pribadi (Personal Selling)

DAFTAR PUSTAKA

Adiwarman A. Karim, Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010)

Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, (Jakarta: Kencana, 2008) Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013)

Asep Mulyana, Kamus Lengkap Ekonomi, (Jakarta: Mega Aksara, 2009)

(11)

60 Buchari Alma & Donni Juni Priansa, Manajemen Bisnis Syariah, (Bandung:

Alfabeta: 2009)

Cholid Narbuko dan Abu Ahmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013)

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007)

Hendi Suhendi, Fiqih Muamalah, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013)

Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah Deskripsi dan Ilustrasi, (Yogyakarta: Ekonisia. 2007)

Irham Fahmi, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya;; Teori dan Aplikasi, (Bandung: Alfabeta. 2014)

Ismail, Perbankan Syariah, (Jakarta: Kencana. 2013)

Kasmir, Manajemen Perbankan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010)

, Bank dan Lembaga Keuangan lainnya, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013)

Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, 2012)

Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, (Jakarta: Bumi Aksara.

2004)

Mardani, Ayat-Ayat Ekonomi Syariah, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012)

Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, (Jakarta: PT. Midas Surya Grafindo, 1997) Muhammad, Sistem dan Prosedur Operasional Bank Syariah, (Yogyakarta: UII Rachmat Syafe’I, Fiqih Muamalah, (Bandung: Pustaka Setiap, 2001)

Referensi

Dokumen terkait

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah apakah karakteristik teknologi dan karakteristik pengguna berpengaruh secara signifikan terhadap persepsi kemudahan

Mengenai analisa, KOHATI PB produk Munas I menyusun Analisa Tujuan KOHATI untuk lebih memahami dalam upaya pencapaian tujuan HMI dalam kerangka tatanan HMI yang sudah

( Sertifikat/Laporan ) Prosedur Pelayanan Informasi Digabung dengan permohonan pengambilan data Prosedur Pengajuan Pembuatan Benda Pamer Pengadaan Barang dan Jasa.. Prosedur

Hasil analisis menunjukkan bahwa (1) proporsi rumah tangga rawan pangan di provinsi-provinsi luar Jawa khususnya wilayah Kawasan Timur Indonesia dan daerah

Karakteristik responden yang mengalami ISK berdasarkan paritas paling banyak terdapat pada ibu dengan multipara yaitu sebanyak 30 ibu hamil (73,2%). Analisa hubungan paritas

Dalam hasil p enelitiannya Swee-Sim Fong dan Kim-Leng Goh (2013) menjelaskan bahwa Current ratio, Total Asset Turnover ratio, Market to Book ratio, dan Firm Size pada

menggunakan sistem manual dikarenakan dalam pengelolahaan arsip dalam bentuk digital belum memenuhi izin dari lembaga yang menaungi nya karena Pemerintah

Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dengan Judul Program Sumur Resapan Biopori Jumbo Sebagai Solusi Mengatasi banjir di Kelurahan Sumur Pancing